Analisis Besar Keuntungan Usahatani

mempengaruhi tingkat produksipenerimaan secara nyata diterima H ditolak. - t hitung X 4 sebesar 0,149 sedangkan t tabel sebesar 2,14. Hal ini berarti t hitung t tabel , yang menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan pemakaian pupuk dalam usahatani aglaonema akan mempengaruhi tingkat produksipenerimaan usahatani tanaman hias aglaonema dapat ditolak H diterima. 3. Nilai R 2 sebesar 0,987 menunjukkan bahwa sebanyak 98,7 adanya keeratan hubungan antara semua variabel dependen luas lahan, tenaga kerja, bibit, dan pupuk terhadap tingkat produksipenerimaan.

5.3. Analisis Finansial Tanaman Hias Agalonema

Analisis finansial suatu usahatani diperlukan untuk mengetahui sejauh mana keadaan keuangan dari usahatani yang nantinya akan berkaitan dengan prospek pengembangan usahatani tersebut di masa mendatang. Aspek finansial yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah besar keuntungan usahatani, tingkat keuntungan usahatani RC ratio, dan tingkat pengembalian modal Return on Investment.

5.3.1. Analisis Besar Keuntungan Usahatani

Besar keuntungan usahatani dapat dilihat dari pendapatan bersih yang diperoleh petani. Dimana besarnya pendapatan bersih petani tergantung dari penerimaan dan biaya produksi selama 1 periode. Biaya produksi pada usahatani tanaman hias aglaonema di Kota Medan terdiri dari: biaya sarana produksi, tenaga kerja, penyusutan, sewa lahan, Novita Rahma Pulungan : Prospek Pengembangan Tanaman Hias Aglaonema Di Kota Medan, 2008 USU Repository © 2008 transportasi yang diukur dalam satuan rupiah. Berikut rataan biaya produksi usahatani tanaman hias aglaonema selama 3 tahun: Tabel 10. Rataan Biaya Produksi Rp Tanaman Hias Aglaonema selama 3 Tahun Uraian 2004 2005 2006 Rataan Biaya Saprodi Rp 206.739.180 264.111.820 74.552.250 181.801.080 Biaya Tenaga Kerja Rp 8.344.290 8.344.290 8.344.290 8.344.290 Penyusutan Alat Rp 55.570 55.570 55.570 55.570 Sewa Lahan Rp 5.228.570 5.228.570 5.228.570 5.228.570 Transportasi Rp 3.342.860 3.342.860 3.342.860 3.342.860 Jumlah Biaya Produksi Rp 3.342.860 281.083.110 91.523.540 198.772.370 Sumber:Analisis Data Primer Lampiran 8 Untuk biaya sarana produksi terdiri dari biaya bibit, pupuk pupuk NPK, NASA, B1, dan dekastar, dan biaya obat-obatan matador dan perfektan. Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa rataan biaya sarana produksi selama 3 tahun adalah Rp 181.801.080 per petani. Dimana biaya produksi tertinggi terdapat pada tahun 2005 sebesar Rp 264.111.820 sedangkan biaya produksi yang terendah terdapat pada tahun 2006 sebesar Rp 74.552.250 per petani. Untuk biaya tenaga kerja besarnya biaya didasarkan pada banyaknya orang yang bekerja. Dimana kegiatan yang dilakukan adalah pemeliharaan terhada tanaman hias aglaonema seperti: penyiraman tanaman, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Dari tabel 10 diketahui bahwa rataan biaya tenaga kerja pada usahatani tanaman hias aglaonema dapat dikatakan konstan dari tahun ke tahun. Artinya tidak ada penambahan ataupun pengurangan biaya tenaga kerja secara signifikan. Rataan biaya tenaga kerja sebesar Rp 8.344.290 per petani. Untuk biaya penyusutan, diukur dari total nilai penyusutan alat-alat pertanian yang digunakan pada usahatani tanaman hias aglaonema di Kota Medan yang nilainya dipengaruhi oleh harga beli dan pemakaian ekonomis lamanya peralatan dipakai. Adapun alat-alat yang digunakan pada usahatani tanaman hias Novita Rahma Pulungan : Prospek Pengembangan Tanaman Hias Aglaonema Di Kota Medan, 2008 USU Repository © 2008 aglaonema adalah gunting, cutter, sarung tangan, handsprayer, dan sprayer bag. Dari tabel 10 menunjukkan bahwa rataan biaya penyusutan selama 3 tahun per petani sebesar Rp 55.570. Dimana untuk setiap tahunnya tidak mengalami perubahan konstan. Sewa lahan merupakan biaya produksi yang dihitung berdasarkan luasnya lahan uasahatani. Rataan biaya sewa lahan selama 3 tahun dapat dilihat pada tabel 10. Dari tabel 10 diketahui bahwa rataan biaya sewa lahan selama 3 tahun per petani adalah Rp 5.228.570. Dimana untuk setiap tahunnya biaya sewa tetap konstan. Artinya biaya sewa lahan tidak ada penambahan ataupun pengurangan untuk setiap tahunnya. Dari tabel 10 juga dapat diketahui bahwa rataan biaya transportasi selama 3 tahun adalah Rp 3.342.860 per petani. Dimana biaya transportasi juga tidak mengalami perubahan untuk setiap tahunnya sehingga dapat dianggap tetap konstan. Untuk biaya produksi itu sendiri juga dapat dilihat pada tabel 10. Dari tabel 10 tersebut dapat diketahui bahwa rataan biaya produksi selama 3 tahun sebesar Rp 198.772.370 per petani. Dimana biaya produksi tertinggi terdapat pada tahun 2005 sebesar Rp 281.083.110 sedangkan biaya produksi terendah terdapat pada tahun 2006 Rp 91.523.540. Penerimaan merupakan hasil perkalian jumlah produksi dalam satuan pot dengan harga jual yang berlaku di Kota Medan. Rataan penerimaan yang diperoleh petani selama 3 tahun adalah Rp 258.728.573 per petani lihat tabel 11. Dimana penerimaan tertinggi yang diterima oleh petani terdapat pada tahun 2005 sebesar Rp 376.971.430. Sedangkan penerimaan terendah yang diperoleh petani Novita Rahma Pulungan : Prospek Pengembangan Tanaman Hias Aglaonema Di Kota Medan, 2008 USU Repository © 2008 terdapat pada tahun 2006 sebesar Rp 104.142.860. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa tinggi rendahnya penerimaan dipengaruhi oleh harga jual dan jumlah produksi. Semakin mahal harga jual tanaman hias aglaonema dan semakin banyak jumlah produksi maka semakin besar pula penerimaan usahatani tanaman hias aglaonema yang diperoleh petani. Begitu juga sebaliknya. Dari penerimaan dikurangi dengan biaya produksi maka di dapat pendapatan bersih. Rataan pendapatan bersih yang diperoleh petani tanaman hias aglaonema selama 3 tahun dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11. Rataan Pendapatan Bersih Rp Usahatani Tanaman Hias Aglaonema Selama 3 Tahun. Uraian 2004 2005 2006 Rataan Penerimaan Rp 295,071,430 376,971,430 104,142,860 258,728,573 Biaya Produksi Rp 223,710,460 281,083,110 91,523,540 198,772,370 Jlh Pend. Bersih Rp 71,360,970 95,888,320 12,619,320 59,956,203 Sumber: Analisis Data Primer Lampiran 9 Dari tabel 11 dapat diketahui pendapatan bersih pada tahun 2004 dikategorikan tinggi yaitu Rp 71.360.970. Hal ini karena pendapatan bersih per petani untuk setiap bulan lebih besar dari Upah Minimum Regional Rp 820.000 sebesar Rp 5.946.747,5. Pada tahun 2005 pendapatan bersih petani mengalami peningkatan yaitu Rp 95.888.320 per petani dan setiap bulan petani memperoleh pendapatan bersihsebesar Rp 7.990.693,33 sehingga dikategorikan tinggi karena lebih besar dari Upah Minimum Regional. Pada tahun 2006 pendapatan bersih petani mengalami penurunan yaitu Rp 12.619.320 per petani dan setiap bulan petani memperoleh pendapatan bersih sebesar Rp 1.051.610. Pendapatan bersih yang diterima pada tahun 2006 masih dikategorikan tinggi walaupun tidak begitu besar pendapatannya jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi masih diatas Upah Minimum Regional. Novita Rahma Pulungan : Prospek Pengembangan Tanaman Hias Aglaonema Di Kota Medan, 2008 USU Repository © 2008

5.3.2. Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani RC ratio