Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014

SIKAP POLITIK PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (PPP)
DALAM SUKSESI KEPEMIMPINAN NEGARA PADA PEMILU 2014

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syari’ah (S.sy)

Disusun Oleh :
ADE HIKMATUL FAUZIAH
NIM. 1110045200006

KONSENTRASI KETATANEGAARAN ISLAM
PROGRAM STUDI JINAYAH SIYASAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H/2015 M

ABSTRAK
Ade Hikmatul Fauziah, 1110045200006. Sikap Politik Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014.
Konsentrasi Ketatanegaraan Islam Program Studi Jinayah Siyasah, Fakultas Syariah dan
Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 1435 H/2015 M. 1x
76 Halaman + 15 Lampiran.
Skripsi ini berjudul Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dalam
Suksesi Kepemimpinan Pada Tahun 2014, ini merupakan hasil penelitian yang
menggambarkan arah sikap politik Partai PPP dalam suksesi kepemimpinan pada pemilu
2014. Metode pedekatan yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah
deskriptif –kualitatif. Fokusnya adalah penggambaran secara menyeluruh tentang partai
Persatuan Pembangunan (PPP) dalam pemilu 2014, sikap politik partai PPP serta konflik
yang terjadi di internal partai. Hal ini sejalan dengan pendapat Bogdan dan Taylor dalam
Moleong (2000;3) yang menyatakan “metodelogi kualitatif” sebagai prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
dan perilaku yang dapat diamati. Dengan kata lain, penelitian kualitatis karena merupakan
penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang partai PPP dalam pemilu 2014,
Sikap PPP dalam suksesi kepemimpinan pada pemilu 2014, serta konflik internal partai
yang ada pada saat karya tulis ini dibuat.
Dalam hal ini berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh suatu kesimpulan,
bahwa dalam pemilu 2014 perolehan suara PPP naik dibandingkan dengan pemilu 2009 .
pada pemilu 2014 semua anggota Partai PPP resmi mendukung koalisi merah putih yang
dipimpin oleh Prabowo saat itu, bagi PPP suksesi kepemimpinan pada pemilu 2014 sudah
berjalan dengan lancar dan dijadikannya pembelajaran untuk masa yang akan datang.
Sebelum adanya konflik internal PPP, suara PPP bersatu untuk memilih koalisi merah
putih namun setelah pelantikan presiden terpilih Jokowi-JK maka sebagian anggota PPP
memilih untuk mendukung pemerintahan.

Kata kunci

: Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014.

Pembimbing

: 1. Masyrofah, M.Si.
2. Atep Abdurofiq, M.Si

Daftar Pustaka

: Tahun 1976 s.d Tahun 2014

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT penulis panjatkan atas
segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat serta
salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW,
Rasul yang berjasa besar kepada kita semua dalam membuka gerbang ilmu
pengetahuan.
Setulus hati penulis sadari bahwa tidak akan sanggup menghadapi dan
mengatasi berbagai macam hambatan dan rintangan yang mengganggu lancarnya
penulisan skripsi ini, tanpa adanya bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, dalam kesempatan yang berharga ini perkenankan penulis untuk
menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Dr. Phil. Asep Saepuddin Jahar, MA, selaku Dekan Fakultas Syariah
dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Ketua Program Studi Jinayah Siyasah, Dra. Hj. Maskufa, MA., dan
Sekretaris Program Studi Jinayah Siyasah Ibu Rosdiana, MA., yang
telah membantu penulis secara tidak langsung dalam menyiapkan
skripsi ini.
3. Prof. Dr. Zaitunah Subhan, sebagai Pembimbing Akademik yang juga
senantiasa mengingatkan penulis semasa mengikuti perkuliahan hingga
penulis menyelesaikan skripsi ini.

ii

4. Kepada Ibu Masyrofah, M.Si, dan Bapak Atep Abdurofiq, M.Si.,
selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan
perhatiannya kepada penulis dalam memberikan pengarahannya
hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Segenap Bapak / Ibu Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu
pengetahuannya kepada penulis selama duduk dibangku perkuliahan.
6. Segenap jajaran karyawan akademik Perpustakaan Syariah dan Hukum
dan Perpustakaan Utama yang telah membantu penulis dalam
pengadaan referensi-referensi sebagai bahan rujukan skripsi.
7. Kepada semua jajaran pengurus DPP PPP Bapak Akhmad Gozali
Harahap S.Ag, M.Si dan Bapak Nur Salam AS, S.IP yang telah
bersedia untuk penulis wawancarai, Saya ucapkan terimakasih untuk
beliau semua, karena tanpa bantuan beliau-beliau skripsi ini tidak akan
mungkin terselesaikan.
8. Kepada Ayahanda dan Ibunda penulis, Bpk. H. Nawin Hs. Dan Ibu Hj.
Aminah Hs. yang telah membesarkan dan membimbing penulis dari
kecil hingga saat ini dengan penuh kesabaran dan pengertian. Serta
tiada henti memberikan doa dan dukungan kepada penulis baik secara
moril maupun materil.
9. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan teruntuk kakak Muniroh
H.N, S.Ag dan Abang Bastari yang sudah penulis anggap sebagai
orangtua, terima kasih mereka telah sampai membawaku hingga pada

iii

jenjang Strata Satu, penulis hanya bisa mengucapkan terimakasih atas
segalanya yang telah mereka berikan, semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka..
10. Kepada Ibu mertua Djariah H.S dan Bapak mertua H. Saman H.R, D1
Meteo, terimakasih telah memberikan doa dan semangatnya kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
11. Teruntuk Suami tercinta Jamaludin A.Md, terimakasih karena atas
dorongan dan semangat yang tak kenal henti dari mu, skripsi ini dapat
terselesaikan dalam waktu yang telah kita harapkan.
12. Terimakasih penulis sampaikan kepada kakak-kakak ku Naiyam
Khairul Umma H.N, Muniroh H.N. S.Ag, Eni Rustini H.N, Imron
Rosyadi H.N. S.Ag, Nur Jannah H.N.S.Pd M.Pd, Ridwan H.N,
Raudhatul Jannah H.N. A.Mk, Ahmad Fauzan H.N. S.E, Tety Syafitri
H.S. S.Ak dan adik ipar ku yang ganteng-ganteng Zaenal Arifin H.S.
S.I, Rizky Ferdiansyah H.S. yang telah senantiasa dan tak henti untuk
memberikan semangatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
13. Kepada sahabat-sahabat terbaikku, Eli Rinawati S.Sy, Rifanny Fathia
Caesa Putri S.Sy, Ihda Raudhotul Ihsaniah, Luluk Husnawati, Siti
Nurhilaliyah S.Sy, Hafidz, M. Arifin Saleh, Siti Nurlaela,Wardah
Susanti, Cicih Susanti yang telah membantu penulis dalam berjalannya
skripsi ini, selalu mengingatkan akan kesabaran dan mendengarkan
keluhan penulis hingga memberikan solusi dalam pembuatan skripsi.

iv

14. Kepada sahabat seperjuangan SS Angkatan 2010 yang tidak bisa
disebutkan satu persatu, terimakasih atas kebaikan kalian, yang selalu
memberikan semangat, motivasi, dan do’anya kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
15. Kepada sahabat-sahabat KKN BERDIKARI 2013 dan sahabat-sahabat
seperjuangan dari Alumni MAN 4 Jakarta 2009 terutama yang berada
di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang selalu memberikan motivasi,
selama penulis menyelesaikan skripsi ini.
Semoga amal baik mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang
berlipat ganda. Sungguh hanya Allah SWT yang dapat membalas kebaikan
mereka dengan kebaikan yang berlipat ganda pula. Penulis berharap skripsi ini
dapat memberkan manfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada
umumnya.

Ciputat, 01 April 2015

Ade Hikmatul Fauziah

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... vi
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1
B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah ...................................... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................. 8
D. Tinjauan Pustaka ...................................................................... 9
E. Metode Penelitian ..................................................................... 12
F. Sistematika Penulisan ............................................................... 14

BAB II

PARTAI POLITIK ISLAM DALAM SUKSESI
KEPEMIMPINAN NEGARA
A. Pengertian Suksesi dan Kepemimpinan ................................. 16
B. Jenis – jenis Kepemimpinan ................................................... 18
C. Sekilas Mengenai Partai Politik Islam di Indonesia
1. Partai Politik Islam Pada Era Orde Lama (1945 – 1965) ... 20
2. Partai Politik Islam Pada Era Orde Baru (1967 – 1998) .... 23
3. Partai Politik Islam Pada Era Reformasi (1999 – 2014) .... 31

BAB III PROFIL PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (PPP)
A. Sejarah Berdirinya Partai Persatuan Pembangunan ............... 41

vi

B. Visi dan Misi PPP ................................................................... 46
C. Ideologi Politik PPP ............................................................... 51
BAB IV

ANALISIS DATA DAN TEMUAN
A. Partai Persatuan Pembangunan Dalam Pemilu 2014 ............. 54
B. Sikap Politik PPP Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara ..... 57
C. Konflik Internal dan Kelompok Kepentingan ........................ 61

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................. 70
B. Saran – Saran .......................................................................... 71

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 73
LAMPIRAN – LAMPIRAN .......................................................................... 76

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Lengsernya Soeharto sebagai ‘icon’ Orde Baru menandai lahirnya Era
Reformasi, hal ini telah melambungkan harapan masyarakat bahwa bangsa
Indonesia

akan

segera

meninggalkan

kekelaman

politik

yang

berkepanjangan dan memasuki era baru yang dilandasi oleh semangat
demokratisasi.1 Hal ini dapat membuka kesempatan bagi berlangsungnya
reformasi demokratis di Indonesia. Untuk memenuhi aspirasi rakyat yang
digemakan oleh gerakan reformasi, perubahan–perubahan mendasar harus
ditegakkan, termasuk perubahan menyeluruh pada semua pranata politik,
sosial, ekonomi, dan perubahan pada basis hubungan antara rakyat dan
negara.
Perubahan-perubahan semacam ini hanya dapat diwujudkan melalui
penyusunan satu agenda reformasi yang menyeluruh, sebagai hasil dari
proses dialog yang terbuka, inklusif dan partisipatif. Keruntuhan rezim Orde
Baru pada pertengahan tahun 1998 merupakan babak baru dalam kehidupan
perpolitikan di Indonesia yaitu berakhirnya era otoriter dan lahirnya era
demokratisasi.2

1
Zainal Abidin Amir, Peta Islam Politik: Pasca Soeharto (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2003),
Hal. 282
2

Dede Rosyada, Pendidikan Kewargaan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia
Dan Masyarakat Madani, (Jakarta: Prenada Media, 2003), Hal. 13

1

2

Peluang semakin besar di Era Reformasi khususnya di bidang politik,
yang diwujudkan dengan lahirnya banyak partai politik Islam. Sebelumnya
dizaman Orde Baru partai Islam telah habis setelah Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) menetapkan asas pancasila dan menghilangkan asas
Islam dalam muktamarnya yang pertama tahun 1984.3
Secara resmi PPP didirikan pada 5 Januari 1973, menurut undangundang ditetapkan pada tahun 1975 partai ini mempunyai dua tujuan yakni
mewujudkan cita-cita bangsa seperti dimaksud dalam UUD 1945 dan Islam,
menciptakan masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah berdasarkan
pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Pada mulanya partai ini mempunyai tiga asas, yaitu ; Pancasila,
UUD 1945, dan Islam dan penggunaan Ka’bah sebagai lambang partai.
Sesuai dengan asas, tujuan dan usaha diatas salah satu diantara program
utama PPP digariskan pada tahun 1973 untuk memelihara persatuan umat
Islam untuk memperkukuh persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia dalam
segala kegiatan kemasyarakatan dan kenegaraan.4
Dengan sosok seperti itu, PPP mempunyai kejelasan basis pendukung
dari kalangan Islam. Dalam menggunakan

ukuran hasil pemilu 1955,

dukungan yang bisa diperoleh PPP sebenarnya berkisar 43,5%. Sebagian
besar dari jumlah itu berasal dari Masyumi dan NU sebagai dua sumber
konstituen politik Islam terbesar. Akan tetapi, pada kenyataannya dengan
3

Sudirman, Tebba.,Islam Orde Baru : Perubahan Politik Dan Keagamaan. (Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya, 1993), Cet.1, Hal. ii
4

M. Rusli Karim., Negara Dan Peminggiran Islam Politik, (Yogyakarta: Tiara Wacana
Yogya, 1999) Cet.1, Hal. 144

3

diberlakukannya sistem dan praktik politik yang hegemoni dan tidak
kompetitif, pemerintah berhasil menggembosi suara PPP, antara lain karena
sejak kelahirannya PPP hanya mampu meraih peralihan suara dibawah 28%.
Dalam hal perolehan suara ini, guncangan hebat dialami PPP ketika partai
ini memperoleh suara 15% lebih sedikit pada tahun 1987.
Secara umum dapat dikatakan bahwa konfigurasi perolehan suara
sudah pasti akan berubah, dengan munculnya banyak partai dan secara
teoretis hal itu akan memekarkan pola distribusi pemberian suara. Jelas
dalam hal ini partai-partai lama akan mengalami perubahan besar, dan
cenderung mengarah pada penurunan perolehan suara. Demikian hal dengan
PPP seperti telah diisyaratkan, partai ini menjadi korban pemerintah lama
dalam suasana kemarahan yang sangat mencolok terhadap kehidupan politik
lama.5
Meskipun bertahun-tahun menjadi penurut terhadap rezim Orde Baru,
partai PPP berhasil mempertahankan hidup hingga kemasa reformasi
dengan keluarnya sebagai partai yang memiliki suara terbanyak keempat
dan jumlah kursi ketiga terbesar pada pemilu 1999. Keuntungan PPP adalah
namanya yang sudah dikenal dengan pemilih yang terbiasa memilih PPP,
sebuah organisasi nasional, dan legitimasi reformasi karena posisinya
sebagai partai oposisi paling dinamis di akhir zaman Orde Baru.6
Dalam bahan-bahan kampanye pemilu 1999, PPP menekankan sifat
moderatnya. Mereka mengatakan mendukung reformasi, namun ketua partai
5

Bahtiar Effendy, (RE)Politisasi Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 2000), Cet. 1, Hal. 255

6

Panduan Parlemen Indonesia (Jakarta: Yayasan API, 2001), Hal. 128

4

Hamzah Haz pada saat itu menyakinkan, ia tidaklah fanatik dalam
pendekatan kepada Islam. Contoh, ia tidak mendukung implementasi hukum
syari’ah Islam, namun dengan prinsip-prinsip Islam.
Seiringan dengan berjalannya waktu pemilu 2014 telah berlangsung.
Sebelumnya partai-partai politik telah mempersiapkan diri untuk bersaing.
Survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia tentang nasib dan masa
depan partai Islam menarik untuk dicermati. Popularitas dan elektabilitas
mereka berada dibawah partai politik yang berhaluan Nasionalis. Hasil
survei tersebut menjadi peringatan bagi partai Islam untuk berbenah,
survei-survei yang dilansir belakangan ini masih menempatkan partai-partai
Islam dibawah partai Nasionalis. Sebagaimana diketahui, survei LSI itu
dilakukan pada 1-8 Oktober 2012, melibatkan 1.200 responden di 33
provinsi, dengan tingkat kesalahan sekitar 2,9 persen. Dari bukti-bukti
empiris, memang menjadi trend penurunan perolehan suara partai Islam.
Pada pemilu pertama tahun 1955 partai Islam menjadi kampium di
Indonesia dengan perolehan suara sebesar 43,7 persen, kemudian menurun
pada pemilu tahun 1999 menjadi 35,95 persen, naik sedikit menjadi 37,74
persen pada pemilu tahun 2004, pemilu 2009 kembali menurun menjadi
28,62 persen, dan pemilu 2014 partai Islam kembali meraih suara 31,41
persen.7
Dalam sistem demokratis, pergantian kekuasaan suksesi ditentukan
melalui cara yang demokratis, berupa pemilihan umum. Pelaksanaan pemilu
7
Muhammad Ridwan, Elektabilitas Partai Dan Kompatibilitas Demokrasi. 2013. Diakses
Tanggal 26 Agustus 2014 Dari Http://M.Kompasiana.Com/Post/Read/529097/2/ElektabilitasPartai-Islam-Dan-Kompatibilitas-Demokrasi.Html

5

sendiri

merupakan

ajang

pertarungan

bagi

parpol-parpol

dalam

menempatkan kader-kader yang terbaik untuk dapat menempati kursi di
lembaga legislasi. Hal ini tentunya dapat terealisasi apabila masyarakat
percaya ikut memberikan suaranya untuk memberi mandat kepada kader
partai yang akan duduk di lembaga perwakilan tersebut.8
Adanya pergantian kepemimpinan dalam suatu negara, maka kita
mengenal

istilah

suksesi.

Singkatnya

suksesi

adalah

penggantian

kepemimpinan dari suatu negara, suksesi menjadi hal yang mutlak dalam
sebuah organisasi, dewasa ini suksesi hanyalah dimaknai sebagai ajang
perebutan kekuasaan saja. Akan tetapi, dibalik itu tersirat makna akan
kehadiran setitik sinar yang dapat membawa pada benderangnya lautan
gulita. Langkah dan sikap yang bijak diperlukan dengan tujuan
mengkonstruk

organisasi

yang

lebih

baik.

Egoisitas

hendaknya

dikesampingkan demi kepentingan bersama, terkhusus dalam setiap suksesi
di sebuah organisasi dan lembaga manapun agar terciptanya kebersamaan,
dan kedamaian yang dinantikan oleh khalayak dalam kelompok atau
organisasi tersebut.9
Suksesi presiden tahun 2014 menjadi sangat penting ketika bangsa ini
memasuki era baru. Indonesia terus menjalani proses konsolidasi demokrasi,
yaitu membangun demokrasi yang kokoh dan menyelesaikan sejumlah
masalah dalam beragam bidang kehidupan. Suksesi menjadi sangat penting
8
Ahmad Budiman, Eksistensi Parpol Islam Dalam Pemilu 2004, Dalam Sali, Ed., Susiana,
Pemilu 2004 : Analisis Politik, Hukum Dan Ekonomi (Jakarta: Tiga Putera Utama, 2003), Hal. 57
9

Artikel Diakses Pada Tanggal 16 Mei 2014 Pukul 23.00
Http://Andreysubiantoro.Viviti.Com/Entries/Rekiblik/Suksesi-Kepemimpinan

Wib

Dari

6

karena transisional dari era lama (era baru hingga reformasi) menuju era
yang benar-benar baru dengan generasi yang terlepas dari beban masa lalu.
Sebagai salah satu lembaga yang berfungsi menciptakan kader pemimpin
nasional, menjadi tugas partai politik mencari pemimpin baru yang bisa
mempin Indonesia di era baru.10
Kepemimpinan adalah tingkah manusia yang mengadung unsur
kemampuan, melebihi kemampuan orang lain dalam suatu lingkungan kerja
sama, guna untuk mempengaruhi orang lain untuk bekerja sesuai dengan
rencana, demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.11
Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi kelompok menuju
tercapainya tujuan dalam suatu organisasi.12
Dari

penjelasan

latar

belakang

tersebut,

penulis

bermaksud

mengadakan penelitian ilmiah dan akan dibahas dalam skripsi dengan judul:
“Sikap Politik Partai Persatuan Pembanguan (PPP) dalam Suksesi
Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014.”

10

Artikel Diakses Pada Tanggal 12 Mei 2014 Pukul 16.15 Wib
Http://Nasional_Kompas_Com/Read/2013/08/26/0833212/Pentingnya_Suksesi_2014

Dari

11
Alex Gunur, Manajemen; Kerangka-Kerangka Pokok (Jakarta: Bhratara Karya Aksara,
1982), Cet. 4, Hal. 55
12

Stephen P.Robbins, Marry Coulter, Manajemen (Jakarta: PT Indeks Gramedia Grup,
2005), Jilid 2, Cet. 7, Hal. 128

7

B.

Pembatasan Dan Perumusan Masalah
Studi tentang Partai Persatuan Pembangunan berangkat dari sebuah
kenyatan politik, berupa sebagai Partai Politik yang ikut mewarnai dinamika
demokrasi di Indonesia keterlibatan PPP dalam dinamika demokrasi
tersebut, dapat dilihat dengan keikutsertaan menjadi kontestan dan
berkompetisi dalam pemilu di era reformasi yang dianggap sebagai pemilu
yang demokratis. Dalam hal ini, PPP telah ikut berpartisipasi dalam
mewujudkan demokrasi dipentas politik nasional bersama partai-partai
lainnya. Disisi lain, reformasi dianggap sebagai masa pencarian jati diri
setelah terbebas dari tekanan Orde Baru selama hampir 32 Tahun.
Berdasarkan acuan tersebut, agar pembahasan skripsi ini tidak terlalu
melebar dan terjebak pada kurang terfokusnya pembahasan serta
kesimpulan, maka penulis membatasi permasalah pada aktifitas politik
Partai Persatuan Pembangunan yang dilakukan mulai pada saat pemilu 1999
sampai pada tahun 2014. Dalam hal itu, Partai Persatuan Pembangunan ikut
berpartisipasi aktif dalam pemerintahan sebagai bentuk aktifitas bagian dari
gerakan politik Islam di Indonesia yang begitu aktual dan menghegemoni.
Beberapa pertanyaan

yang dirumuskan dan

permasalahan dalam skripsi sebagai berikut :

menjadi

fokus

8

1. Bagaimanakah sikap politik PPP dalam pemilu 2014 ?
2. Bagaimanakah suksesi kepemimpinan Negara pada Pemilu 2014
menurut PPP?
3. Bagaimanakah strategi PPP dalam menyikapi konflik internal dan
kelompok kepentingan yang terjadi pada PPP ?

C.

Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian yang dilakukan pasti untuk mencapai suatu
tujuan, maksud dan manfaatnya. Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah:
1) Mengidentifikasi, mendeskripsikan dan menganalisa sikap politik
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam pemilu 2014
2) Untuk menambah wacana perpolitikan nasional.
3) Untuk mengetahui strategi yang dijalankan dalam menyikapi konflik
yang terjadi pada PPP
4) Untuk mengetahui suksesi kepemimpinan Negara pada pemilu 2014
menurut PPP.
2. Manfaat Penelitian
Salah satu hal terpenting di dalam kegiatan penelitian ini adalah
mengenai manfaat dari penelitian tersebut, adapun manfaat tersebut
diantaranya :

9

1) Menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam suksesi kepemimpinan
Negara
2) Agar dapat dipahami dan dimengerti oleh khalayak umum terutama
civitas

akademika

bahwa

terdapat

beberapa

jenis

mengenai

kepemimpinan.
3) Karya ilmiah ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat
Indonesia mengenai bagaimana sikap politik PPP dalam suksesi
kepemimpinan Negara pada pemilu 2014.

D.

Tinjauan Pustaka
Sejumlah penelitian dengan bahasan tentang suksesi kepemimpinan
yang mengarah pada upaya formalisasi syari’at Islam telah dilakukan, baik
yang mengkaji secara spesifik topik tersebut maupun yang bersinggungan
secara umum dengan bahasan penelitian. Berikut ini merupakan paparan
atas sebagian karya karya penelitian tersebut.
Untuk melihat pembahasan yang mendekati dengan kajian skripsi,
maka diperlukan kajian atau studi terdahulu, seperti skripsi M. Septiadi
Fadli dengan judul Muhammadiyyah dan Suksesi Kepemimpinan Nasional.
Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa konsep suksesi kepemimpinan yang
telah lama pada masa Soeharto akan menimbulkan penyimpanganpenyimpangan kedudukan dan tidak jalannya sistem demokrasi untuk
regenerasi pemimpin selanjutnya.

10

Penelitian juga dilakukan oleh, disertasi milik Sihabudin Noor yang
berjudul: “Politik Islam Studi Tentang Artikulasi Politik PPP1973-2004”.
Dalam

penelitiannya

menyimpulkan

bahwa

artikulasi

politik PPP

disepanjang menyangkut kepentingan penyelenggaraan Islam, hampir selalu
diakomodir oleh rezim. Sedangkan menyangkut kepentingan status
kekuasaan, sebagaimana dimasa Orde Baru upaya yang ditempuh PPP harus
dilalui jalan panjang.
Buku pertama disunting dalam bentuk tesis yang pernah ditulis oleh
Imam Ibnu Hajar (1999) yang berjudul :“Suksesi Dalam Pemerintahan
Islam: Telaah Historis Atas Sistem Peralihan Kekuasaan Pada Masa AlKhula’ Al-Rasyidun”. Tesis rotasi kepemimpinan yang bukan atas dasar
hubungan darah yang memungkin suksesi mendapatkan pilihan terbaik dari
para calon, serta terwadahinya pilihan bebas umat dalam bai’at, kiranya
menjadi benang merah yang menjadi titik temu dari cara-cara peralihan
kekuasaan pada masa khalifah.Sehingga kaum muslimin dapat menerima
cara-cara itu semua dengan lapang dada, dan tentu implikasi langsungnya
adalah bahwa mereka semua dapat diterima oleh umat dengan suara bulat.
Buku kedua disunting dari penjelasan sederhana oleh Kartini
Kartono

(2006).Dalam

Kepemimpinan”,

yang

bukunya

yang

menjelaskan

berjudul

tentang

“Pemimpin

pentingnya

Dan

ketertiban.

Menurutnya dalam kompleksitas masyarakat, manusia harus hidup bersama
dan bekerja sama dalam sauna yang tertib dan terbimbing oleh seorang
pemimpin, dan tidak hidup menyendiri. Demi efisiensi kerja dalam upaya

11

mencapai tujuan bersama, dan untuk mempertahankan hidup bersama,
diperlukan kerja kooperatif yang perlu dipandu oleh seorang pemimpin.
Selain ketertiban, kata kunci lain yang perlu diperhatikan adalah panutan,
suatu komunitas memerlukan panutan, yakni sosok yang dianggap mampu
mengayomi dan melindungi mereka, serta bisa diandalkan untuk
berdiplomasi dengan komunitas lain.
Buku ketiga disunting oleh M. Alfan Alfian (2009), dalam bukunya
yang berjudul “Menjadi Pemimpin Politik (Perbincangan Kepemimpinan
dan Kekuasaan)” ia menyimpulkan definisi dari beberapa pendapat para
ahli kepemimpinan, yang menjelaskan bahwa kepemimpinan : (1)
Kepemimpinan itu proses leadership is a process, (2) dalam kepemimpinan
ada pengaruh leadership involves influences, (3) konteks konteks
kepemimpinan adalah kelompok leadership occurs within a group context,
(4) ada unsur pencapaian tujuan leadership involves goal attainment. Dapat
disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang
punya pengaruh dalam satu kelompok (organisasi) untuk menggerakkan
individu lain untuk dapat meraih tujuan bersama. Dengan demikian,
pemimpin bukan saja orang yang memiliki sifat utama kepemimpinan
(potensial), tetapi juga mampu mengaktualisasikannya.
Dari judul di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa suksesi
presiden tahun 2014 menjadi sangat penting ketika bangsa ini memasuki era
baru, Indonesia terus menjalani proses konsolidasi demokrasi dengan

12

membangun demokrasi yang kokoh dan menyelesaikan sejumlah masalah
dalam beragam bidang kehidupan.
Maka dalam hal ini penulis menambahkan bagaimana partai PPP
dalam pemilu 2014, dengan adanya arah sikap partai PPP dalam suksesi
kepemimpinan Negara pada pemilu 2014, serta akan mengkaitkan adanya
konflik internal partai PPP yang ada pada saat karya tulis ini dibuat.

E.

Metode Penelitian
Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan secara rinci tentang halhal yang terkait dengan metode penelitian dari proposal skripsi ini, yaitu :
1. Jenis Penelitian
Dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan metode yang
bersikap deskriptif kualitatif, yaitu suatu penelitian yang bertujuan
memberikan gambaran terhadap keadaan seseorang, lembaga, atau
masyarakat sekarang ini. Berdasarkan faktor-faktor dan latar belakang
pendidikan yang nampak dalam situasi yang diselidiki. Penelitian ini
terbatas pada usaha untuk mengungkapkan suatu masalah dan keadaan
sebagaimana keadaan, sehingga hanya merupakan penyingkapan fakta.13
2. Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian ini adalah sikap politik PPP
dalam suksesi kepemimpinan negara pada pemilu 2014.

13

Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT.Gramedia Pusaka
Utama, 1992, Hal.10

13

3. Tahapan Penelitian
a. Sumber Data
 Data Primer
Teknik pengumpulan data primer yaitu berupa wawancara
secara langsung untuk mendapatkan informasi yang actual kepada
objek yang akan dijadikan permasalaha dalam pembahasan ini.
Adapun yang dimaksud wawancara adalah percakapan antara
penulis dengan seseorang yang berharap mendapat informasi dari
seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi langsung dari
sumbernya. Misalnya antara penulis dengan tokoh yang ada pada
Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
 Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder yaitu berupa studi
dokumentasi, yang artinya pengumpulan data tersebut sering
digunakan dalam berbagai pengumpulan data. Dokumentasi dapat
terbentuk dokumen publik atau dokumen privat melalui bukubuku, makalah-makalah dan rekaman yang berhubungan dengan
judul yang peneliti angkat.14
b. Analisis Data
Data hasil penelitian yang telah dikumpulkan sepenuhnya
dianalisis secara kualitatif. Analisis data dilakukan setiap saat
pengumpulan data dilapangan secara berkesinambungan. Diawali

14

Esti Ismawati, Metode Penelitian, (Surakarta:Pustaka Cakra, 2003), Hal.7

14

dengan proses klarifikasi data agar tercapai konsistensi dilapangan
dengan langkah abstraksi-abstraksi teoritis terhadap informasi
lapangan, dengan menghasilkan pernyataan-pernyataan yang sangat
memungkinkan dianggap mendasar dan universal.15
4. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sekretariat pusat PPP yang bertempat
di Jl. Diponegoro No. 60, Jakarta Pusat. Waktu penelitian dimulai sejak
bulan September 2014.
5. Teknik Penulisan
Adapun metode penulisan dalam skripsi ini, penulis mengacu
pada buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012, dengan menggunakan ejaan
yang disempurnakan.

F.

Sistematika Penulisan
Adapun penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. Masing-masing
bab berisi sub-sub bab, secara sistematis, bab-bab tersebut adalah sebagai
berikut :
Tulisan didahulukan dengan Bab I, yaitu merupakan bab
pendahuluan yang berfungsi sebagai acuan pembahasan dalam bab-bab
selanjutnya, sekaligus mencerminkan isi skripsi ini secara global. Bab ini
mencakup latar belakang masalah, batasan dan rumusan pokok masalah,
15

Burhan Bagin, Metode Penelitian KualitaTif (Akutualisasi Metodologis Ke Arah Ragam
Farian Kontemporer), (Jakarta: PT. Grafindo, 2004), Cet. 3, Hal.101

15

metode penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika
penulisan.
Dilanjutkan Bab II, bab ini berisi tentang penjelasan suksesi
kepemimpinan. Pada bab ini, penulis akan coba menjelaskan perjalanan
partai politik Islam di Indonesia pada saat dan sebelum era reformasi.berupa
perjalanan PPP dalam pemilu pada masa era reformasi yang mengalami
penurunan suara akan dikaji lebih jauh. Dan kepemimpinan terbagi menjadi
tiga bagian juga akan penulis kaji dalam bab ini.
Sedangkan Bab III, akan membahas gambaran umum tentang profil
dari Partai Persatuan Pembangunan(PPP), sejarah berdirinya Partai
Persatuan Pembangunan, visi dan misi Partai Persatuan Pembangunan
(PPP). Serta Ideologi politik PPP sebagai salah satu indikator dari
demokrasi akan dibahas juga dalam bab tiga ini.
Sementara Bab IV, adalah fokus dari pembahasan penulis. Fokus
dari penelitian dan pembahasan dalam bab ini adalah bagaimana perjalanan
Partai Persatuan Pembangunan dalam pemilu 2014, sikap politik PPP dalam
suksesi kepemimpinan negara pada pemilu 2014. Dalam pembahasan ini,
penulis akan mengeksplorasi lebih jauh bagaimana strategi PPP dalam
menyikapi konflik internal dan kelompok kepentingan yang terjadi di dalam
partai PPP pada saat karya tulis ini dibuat.
Penulisan ini diakhiri Bab V, dalam bab penutup ini berisikan
kesimpulan dan sara dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

BAB II
PARTAI POLITIK ISLAM DALAM SUKSESI KEPEMIMPINAN
NEGARA

A.

Pengertian Suksesi dan Kepemimpinan
Adanya pergantian kepemimpinan dalam suatu negara, maka
terdapat istilah mengenai suksesi, yang biasa diartikan sebagai suatu proses
perubahan yang berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi didalam
suatu negara dalam jangka waktu tertentu sehingga terbentuk negara baru
yang berbeda dengan negara semula. Singkatnya, suksesi ialah penggantian
kepemimpinan dari suatu negara. Sedangkan seorang pemimpin adalah
seorang yang mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain, dalam
pekerjaan untuk mencapai tujuan sebuah organisasi memerlukan bantuan
orang lain.
Istilah suksesi diambil dari kata bahasa Inggris succession atau
bahasa latin succieo, yang berarti penggantian, urutan dan pewarisan.
Suksesi yang diartikan sebagai suatu proses perubahan yang berlangsung
satu arah secara teratur terjadi didalam suatu negara dalam jangka waktu
tertentu sehingga terbentuk negara baru yang berbeda dengan negara
semula.1

1

Andi Hamzah, Kamus Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), Hal. 553

16

17

Kepemimpinan berasal dari kata dasar “Pimpin” yang berarti
dibimbing atau dituntun.2 Kepemimpinan mendapatkan awalan “ke” dan
sisipan “em” serta akhiran “an”. Menurut tata bahasa awalan ke- dan ke-an
berfungsi sebagai pembentuk, kata benda abstrak yang mengandung arti
menjadi atau peristiwa. Sedangkan sisipan “em” pada kata pemimpin
berfungsi membentuk kata baru yang artinya tidak berbeda dengan kata
dasar. Arti sisipan “em” disini mengandung sifat, jika pemimpin berasal dari
kata “pimpin” yang dapat awalan “pe” mempunyai arti orang yang
melakukan. Jadi, pemimpin adalah orang yang memimpin.3
Dalam Negara Indonesia masalah suksesi ini sering disebut sebagai
masalah estafet kepemimpinan. Yang berarti penyerahan kepemimpinan dari
generasi tua kepada generasi muda. masalah suksesi pada dasarnya ialah
masalah memilih pemimpin yang diperkirakan akan mampu membawa
suatu dinasti suatu negara, suatu organisasi politik atau suatu perusahaan
mengarungi kehidupan yang terbentang dimasa kini dan dimasa depan
masalah ini pada umumnya timbul pada waktu seorang pemimpin atau
sekelompok pemimpin kelihatan menua dan menurun kemampuannya untuk
menyelesaikan

dengan

baik

persoalan-persoalan

yang

dihadapi

organisasinya, dan menurun pula kemampuannya untuk menangkap
peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam zamannya. Masalah suksesi mulai

2

WJS.Pooerwadinata, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1982).
Cet.4, Hal.754
3

Abdullah Ambari, Intisari Tata Bahasa Indonesia, (Bandung: Djatnika), Hal.70

18

menjadi pembicaraan, apabila orang mulai meragukan kemampuan suatu
pimpinan untuk mengemudikan jalan bahtera organisasi yang dipimpinnya.4
Setiap tipe kepemimpinan efektif yang mampu bertahan, merupakan
hasil dari ikhtiar budaya yang dilakukan oleh suatu masyarakat atau bangsa.
Negara melahirkan kepemimpinan politik yang terdiri dari tokoh-tokoh
politik, para pemimpin partai. Kepemimpinan politik di Indonesia lahir dari
sejarah, budaya, dan harapan-harapan masyarakat.Kepemimpinan politik
sesudah proklamasi cenderung bersifat ideologis pada zaman orde lama,
bergerak menuju kepemimpinan yang bersifat pragmatis pada Orde Baru
disebabkan oleh perubahan harapan masyarakat.
Kepemimpinan politik bergeser dari politik ideologi menuju
pragmatism bersifat karismatik. Sudah saatnya untuk kita meninggalkan
kepemimpinan karismatis menuju kepemimpinan legal-rasional karena
kepemimpinan politik karismatik tidak baik untuk dalam jangka panjang,
sedangkan kepemimpinan rasional berdasarkan hukum dan bukan
berdasarkan wibawa perorangan.

B.

Jenis - jenis Kepemimpinan
1. Kepemimpinan Partisipatif dan Pendelegasian
Kepemimpinan partisipatif adalah suatu kepemimpinan yang
memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan
banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam situasi-situasi
4

Muchtar Buchori, Suksesi Dan Masalah Masalah Demokrasi (Jakarta: Ikip
Muhammadiyah), 1994. Hal.147

19

yang berlainan. Pemimpin meminta dan mempergunakan saran-saran
dari bawahan, tetapi masih membuat keputusan. Kebanyakan studi
dalam organisasi industri manufaktur, terdapat bahwa dalam tugas-tugas
yang tidak rutin, seperti karyawan lebih puas dibawah pimpinan yang
pertisipatif

daripada

kepemimpinan

yang

non

partisipatif.

Kepemimpinan partisipatif memberikan suatu perangkat urutan aturan
yang seharusnya diikuti untuk menentukan ragam dan banyaknya
partisipasi yang diinginkan dalam pengambilan keputusan, sebagaimana
ditentukan oleh jenis situasi yang berlainan.
2. Kepemimpinan karismatik
Kepemimpinan karismatik merupakan perpanjangan dari teori
atribusi. Teori ini mengemukakan bahwa para pengikut membuat
atribusi dari kemampuan kepemimpinan yang luar biasa bila mereka
mengamati prilaku-prilaku tertentu.
3. Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional adalah tipe kepemimpinan yang
memadu atau memotivasi pengikut mereka dalam arah tujuan yang
ditegakkan dengan memperjelas peran dan tuntutan tugas. Pemimpin
jenis ini yang memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual
yang di individualkan, dan yang memiliki karisma. Pemimpin
transformasional

mencurahkan

perhatian

pada

keprihatinan

dan

kebutuhan pengembangan dari pengikut individual, mereka mengubah
kesadaran para pengikut akan persoalan-persoalan dengan membantu

20

mereka memandang masalah lama dengan cara-cara baru dan mereka
mampu menggairahkan, membangkitkan, dan mengilhami para pengikut
untuk mengeluarkan upaya ekstra untuk mencapai tujuan kelompok.5

C.

Sekilas Mengenai Partai Politik Islam Di Indonesia
1. Partai Politik Islam Pada Era Orde Lama (1945-1965)
Setelah proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945,
kelahiran partai politik di Indonesia diawali dengan keluarnya Maklumat
pemerintah pada tanggal 3 November 1945, yang memuat “Pemerintah
menyukai timbulnya partai-partai politik karena dengan adanya partaipartai itulah dapat di pimpin ke jalan teratur segala aliran paham yang
ada dalam masyarakat. Pemerintah berharap supaya partai-partai itu
telah tersusun, sebelumnya dilangsungkan pemilihan anggota badanbadan perwakilam rakyat pada bulan Januari 1946”.6
Sejak dikeluarkan Maklumat pemerintah, setiap kelompok dan
organisasi dalam masyarakat mempunyai kesempatan yang luas dalam
membentuk partai politik. Partai politik yang pertama terbentuk adalah
Partai Nasional Indonesia (PNI), kemudian diikuti dengan Majelis Syuro
Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan
partai-partai kecil lainnya.

5
Kuntowijoyo, Identitas Politik Islam, Penerbit Mizan (Anggota IKAPI) Bekerjasama
Dengan Majalah UMMAT, (Bandung: 40124), Cet. 1, Hal. 186
6

Wilopo, Zaman Pemerintahan Parai-Partai Dan Kelemahan-Kelamahannya, (Jakarta:
Yayasan Idayu, 1976), Hal.8

21

Sejalan dengan pembentukan partai-partai politik terjadi
perubahan fungsi komite nasional Indonesia pusat (KNIP). KNIP yang
sebelumnya berfungsi sebagai dewan penasihat pemerintah berubah
menjadi dewan yang mempunyai kekuasaan legislatif. Selanjutnya
melalui badan pekerja KNIP diajukan usul kepada Presiden agar
mempertimbangkan

perubahan

sistem

pemerintahan

Presidential

menurut UUD 1945 menjadi sistem pertanggungjawaban Menteri
kepada Badan Perwakilan Rakyat (pada waktu itu adalah Badan Pekerja
KNIP). Melalui Maklumat pemerintahan tanggal 14 November 1945,
Presiden menyatakan persetujuannya atas usul tersebut, sambil
mengumumkan susunan kabinet Syahrir yang pertama.7
Kelahiran partai yang didorong oleh kebutuhan pemerintah untuk
menjaga kedaulatan negara, membuat proses terbentuknya partai tidak
melalui tahap-tahap tertentu yang dapat mematangkan dirinya. Hal ini
akan berimplikasi pada kualitas pemimpin partai dalam wawasan
politiknya, yang mungkin lebih berorientasi pada nilai primordial
daripada ideologi nasional. Keadaan politik seperti yang disebutkan
diatas, dapat ditemui pada partai Masyumi. Sekalipun Masyumi
berlandaskan pada ideologi Islam bahkan dapat dikatakan sudah
menghimpun seluruh aspirasi kelompok Islam di Indonesia.8

7
A. Dahlan Ranuwihardjo, Pergerakan Pemuda Setelah Proklamasi Beberapa Catatan,
(Jakarta: Yayasan Idayu, 1979), Hal.17
8

Satu-Satunya Partai Politik Islam Yang Berada Di Luar Masyumi Adalah Perti Yang
Didirikan Pada Tanggal 30 November 1945, Karena Ia Lahir Dan Berkembang Di Sumatera Barat,

22

Pemilu yang diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955
tersebut,

kelompok

Islam

mampu

memenangkan

kompetisi

dibandingkan aliran politik lainnya dengan klasifikasi suara aliran Islam
sebesar 45,2%, aliran Nasionalis 27,6%, aliran sosialis 17,2% serta
sisanya dibagi antara golongan Kristen dan partai-partai kecil lainnya
yang beraliran Nasionalis maupun Marxis. Secara lebih spesifik, pemilu
1955 mengantarkan Masyumi menduduki urutan kedua setelah PNI
dengan memperoleh 57 kursi di parlemen sedangkan NU memperoleh
45 kursi di parlemen.
Dengan pembagian suara tersebut, pemilu 1955 menghasilkan
Masyumi sebagai kekuatan Islam yang dominan di Majelis Konstituante
mendapatkan 112 kursi dengan perolehan suara sebesar 7.903.886 suara
atau 20,9%, sedangkan partai Islam lainnya NU mendapatkan 91 kursi
dengan perolehan suara sebesar 6.955.141 suara atau 18,4%, PSII 16
kursi dan Perti 7 kursi. 14 kursi lainnya diperoleh oleh partai Islam
kecil.9
Dapat dilihat dari pemilu 1955 memberikan suara sebagai
berikut: aliran Islam 45,2% (116 dari 217 kursi dalam DPR hasil
pemilu), aliran Nasionalis 27,6% (71 dari 257 kursi), sedang Sosialis

Maka Pengaruhnya Tidak Begitu Besar. Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam : PokokPokok Pikiran Tentang Islam Dan Umatnya, (Bandung: Perpustakaan Salman ITB, 1983), H.221
9

Ahmad Budiman, Eksistensi Parpol Islam Dalam Pemilu 2004, Dalam Sali Susiana. Ed.,
Pemilu 2004: Analisis Politik, Hukum Dan Ekonomi, Hal.59

23

Kanan 2% (5 dari 257 kursi), aliran Sosialis Kiri (Komunis) 15,2% (39
dari 257 kursi), golongan Kristen Katolik 4,6% (14 dari 257 kursi).10
Keutuhan Masyumi sebagai partai politik umat Islam tidak
berlangsung lama, perbedaan kultur dan tahap perkembangan masingmasing

unsur

pendukungnya

jauh

lebih

berperan

daripada

memperjuangkan kepentingan partai. Masyumi akhirnya mengalami
keretakan karena terjadi perebutan kekuasaan di dalam partai. Dengan
alasannya sendiri, pemimpin unsur membawa pengikutnya keluar untuk
membangun partai baru atau mengubah sifat organisasinya menjadi
politik tersendiri. PSII keluar karena ajakan Amir Syarifuddin untuk
membentuk kabinet diluar Masyumi. NU megubah dirinya menjadi
partai politik, setelah mengenal kursi Menteri Agama.11
2. Partai Politik Islam Pada Era Orde Baru (1967-1998)
Ketika Orde Baru berkuasa, Indonesia telah menyelenggarakan
pemilu sebanyak 6 (enam) kali, yaitu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan
1997. Meskipun demikian, pelaksanaan pemilu dibawah Orde Baru
memiliki karakter yang berbeda dengan pemilu yang dikenal negaranegara demokrasi pada umumnya. Jika dinegara demokrasi karakter
pemilu dibangun atas prinsip free and fair baik dalam struktur dan
proses pemilu sebaiknya, Orde Baru menghindari penerapan prinsip
tersebut. Yang terjadi kemudian adalah ketidakseimbangan kontestasi

10

Sumarno, Megawati Dan Aspirasi Politik Islam, Dalam Rusdi Muhtar et.all, Megawati
Soekarno Putri : Presiden Republik Indonesia (Jakarta: Rumpun Dian Nugraha, 2002) Hal.64
11

Herbert Feith, The Decline Of Constitutional Democracy In Indonesia.

24

antar peserta pemilu dan hasil pemilu tidak mencerminkan aspirasi dan
kedaulatan rakyat.Pelaksanaan pemilu diatur melalui cara-cara tertentu
untuk kelanggengan kekuasaan Orde Baru itu sendiri. Kenyataan ini
disebabkan beberapa faktor utama , yakni :
1) Banyak anggota parlemen yang diangkat, dari 460 orang anggota
DPR hanya 360 kursi yang dipilih melalui pemilu, 75 kursi lainnya
diangkat

dari unsur

ABRI (Angkatan Bersenjata Republik

Indonesia), dan 25 lainnya dari Golkar (Golongan Karya).
2) Kontrol Rezim terhadap partai dilakukan lewat upaya :
a) Fusi (paksaan bergabung) partai-partai berasaskan Islam (NU,
Parmusi, PSII, dan Perti) menjadi PPP (Parai persatuan
pembangunan) pada 5 Januari 1973 dan partai-partai Nasionalis
(PNI, IPKI, Murba, Parkindo, dan Partai Katolik) menjadi PDI
(Partai demokrasi Indonesia) pada 10 Januari 1973. Fusi diatur
dalam UU No. 3/1975 Tentang Partai Politik dan Golongan
Karya dalam satu konsideran.
b) Meminimalkan citra parpol dengan cara mewajibkan seluruh
organisasi kemasyarakatan dan parpol menerapkan pancasila
sebagai satu-satunya asas pada tahun 1985, melalui UU No.
3/1985 Tentang Perubahan atas UU No. 3 Tahun 1975 Tentang
partai politik dan Golongan Karya, diundangkan tanggal 19
Februari 1985. Ketentuan pasal 2 diganti dengan ketentuan pasal
1 ayat (2) yang berbunyi: “(1) Partai Politik dan Golongan Karya

25

berasaskan pancasila sebagai satu-satunya asas, (2) asas
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah asas dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”Kewajiban
tersebut dirasa berat oleh parpol yang memiliki basis dikalangan
agama seperti PPP.Sehingga mengakibatkan perolehan suara
PPP dari pemilu ke pemilu semakin merosot.
Sistem kepartaian dizaman Orde Baru tersebut dinamakan sistem
kepartaian yang hegemonic, yaitu dimana sistem kepartaian yang mana
tingkat kompetensi antara parpol dibuat seminimal mungkin oleh parpol.
Daniel Dhakidae menyebutnya sebagian sistem partai tunggal (Golkar)
dengan dua partai satelit (PPP dan PDI), sebagai rekayasa rezim
Soeharto tentu saja menjauhkan pemilu sebagai sarana bagi rakyat untuk
memastikan politisi yang terpilih dapat bertindak atas nama dan berdasar
preferensi serta mewakili rakyat. Akibatnya : 1). Lemahnya parpol
sebagai representasi politik rakyat terutama karena partai dibuat
tergantung dan tunduk pada kekuasaan, kelemahan terjadi tidak saja
pada partai PDI dan PPP, tetapi juga Golkar. 2). Hilangnya ikatan
ideologis yang membawa banyak orang pada pragmatisme dalam
berpolitik. 3). Dalam kerangka hubungan antara rakyat dengan
wakilnya, menjadikan pemilu bukan lagi sebagai sarana yang efektif
bagi rakyat untuk menyatakan keinginannya, apalagi sebagai ekspresi
kedaulatan rakyat.

26

Pelaksanaan pemilu yang tidak demokratis tersebut, bukan tanpa
alasan. Orde Baru menginginkan adanya pemenang tunggal yang
menyokong dalam segala kebijakan yang telah mereka buat.Hal ini
berangkat dari pengalaman era demokrasi liberal, pluralitas kekuatan
politik menjadikan pemerintah tidak dapat berjalan efektif. Paradigma
Orde Baru “ekonomi sebagai panglima” atau juga dikenal dengan
ideologi pembangunanisme menuntut stabilitas politik yang dalam
rancang pembangunan Orde Baru, hanya bisa dilakukan apabila ada
kekuatan politik dominan dan menjauhkan rakyat dari aktivitas dan isuisu politik penting. Dengan demikian pemilu bagi Ode Baru adalah
bukan merupakan suatu alat atau saran untuk mengubah pemerintahan
atau negara, dan keterlibatan masyarakat didalam pemilu lebih
merupakan kewajiban daripada hak warganya.12
Pemilu pertama pada masa Orde Baru diadakan pada tahun 1971,
selama kampanye pemilu, para pemimpin Islam tetap mengingatkan
sesama muslim bahwa suatu kewajiban secara agama untuk memberikan
suara kepada partai Islam. Usaha itu tidak berlangsung secara efektif
ketika diadakan pemungutan suara partai Islam hanya mampu
memperoleh 20,44% suara atau 94 kursi dari 460 kursi yang
diperebutkan di DPR.
Partai Islam terdiri dari Perti, NU, Permusi, dan lainnya
sebagainya menyatakan berfusi menjadi satu partai yang diberi nama
12

Fernita Darwis, Pemilihan Spekulatif Mengungkap Fakta Seputar Pemilu 2009,
(Bandung: Alfabeta Cv, 2011), Cet. 1, Hal.15

27

dengan Partai Persatuan Pembangunan pada bulan Januari tahun 1973,
dengan menggunakan Islam sebagai asas dan Ka’bah sebagai
lambangnya. Dengan harapan bahwa partai ini terdapat dihati pemilih
Indonesia yang mayoritas beragama Islam.
Setelah pemilu 1971 secara berkala pemerintahan Orde Baru
berhasil mempertahankan kalender lima tahun penyelenggaraan pemilu,
walaupun pemilu kedua terjadi keterlambatan selama satu tahun yaitu
pada 2 Mei 1977, akibat keterlambatan pelantikan anggota MPR hasil
pemilu 1971 baru dilantik 1 oktober 1972. Pada pemilu tahun 1977
partai Islam hanya mampu mampu memperoleh 21,52% atau 99 kursi
dari 460 kursi di parlemen, serta pemilu tahun 1982 hanya mampu
memperoleh 20,44% dari jumlah suara atau kursi 94 kursi13.
Tabel.1.1

Hasil Pemilu 1977.
No
1
2
3

Partai
Politik

Perolehan
Suara

Golkar
PPP
PDI
Jumlah

39.750.096
18.743.491
5.504.757
63.998.344

Kursi
DPR
232
99
29
360

Sumber : Biro Humas KPU

Pemilu 1982 dilaksanakan pada 4 Mei 1982 untuk memilih
anggota DPR yang berjumlah 360 orang. Pemilu tahun 1982 dengan
landasan hukumnya adalah UU No. 2/1980 Tentang Pemilu.
Sebagaimana dalam UU sebelumnya, sistem pemilu yang digunakan
13

Bahtiar Effendy, Islam Politik Pasca Soeharto Di Indonesia, Refleksi: Jurnal Kajian
Agama Dan Filsafat III, No. 5 (Agustus 2003), Hal. 17

28

yaitu dengan sistem pemilihan proporsional. Pada pemilu saat itu jumlah
penduduk Indonesia adalah 146.532.407 jiwa, dan jumlah pemilih
82.134.195 orang atau 56.05% dan suara sah 75.126.306 orang atau
91.47%, hasil pemilu tahun 1982 ini adalah
Tabel.1.2

Hasil Pemilu 1982

No
1
2
3

Partai
Politik

Perolehan
Suara

Golkar
PPP
PDI
Jumlah

48.334.724
20.871.800
5.919.702
75.126.306

Kursi
DPR
242
94
24
360

Sumber : Biro Humas KPU

Pemilu 1987, yaitu ketika PPP tidak lagi memakai asas Islam dan
diubahnya lambang dari Ka’bah kepada Bintang dan terjadinya
penggembosan oleh tokoh-tokoh unsur NU, terutama Jawa Timur, dan
Jawa Tengah, sehingga terjadinya penurunan suara PPP yang
mencerminkan sebagai partai Islam. Akibat berbagai kebijakan yang
tidak mengakui hak-hak dan etika dalam berdemokrasi, khususnya
ketika kepartaian, kekuatan politik umat Islam terbesar pada masa Orde
Lama, yaitu dengan hilangnya Masyumi dari peredaran politik. Namun
pada waktu pertengahan tahun 80-an sebetulnya ada keinginan dari
tokoh-tokoh Masyumi untuk kembali mendirikan sebuah partai.
Keinginan mereka itu bisa terlaksana mengingat iklim demokrasi yang

29

tidak mendukung untuk itu keinginan mereka baru terealisir pada era
reformasi.14
Kebijakan politik yang menghapus legal formal Islam adalah
politik dan lebih menekankan dimensi substansif Islam menandai telah
tertutupya partai Islam untuk hidup dan bersaing dalam dinamika
demokrasi di Indonesia serta partai Islam tidak bisa lagi untuk
berkompetisi dalam pemilu, sehingga dalam pemilu 1987 PPP hanya
mampu memperoleh 12,20% atau 61 kursi dari 500 kursi.
Pemilu 1992 dilaksanakan pada 9 Juni 1992, pemilu ini
dilakukan dengan landasan hukum yaitu UU No. 1/1985 Tentang
Pemilu. Pada pemilu 1992 jumlah penduduk Indonesia mencapai
177.489.747 jiwa, sementara pemilih terdaftar adalah 107.565.569 jiwa
atau 60,60%. Pemilu pada saat itu adalah untuk memilih 400 anggota
DPR, suara sah nasional pada saat itu ialah 97.789.534 suara atau
90.91%. Hasil pemilu saat itu adalah Golkar memperoleh 66.599.331
suara dan mendapat 282 kursi DPR, PPP memperoleh 16.624.647 suara
dan mendapat 62 kursi DPR, PDI memperoleh 14.565.556 suara dan
mendapat 56 kursi DPR, dengan hasil keseluruhan 97.789.534 jumlah
suara, dan 400 kursi DPR.

14

Arsekal Salim, Partai-Partai Islam Dan Relasi Agama Negara, (Jakarta: Puslit IAIN,
1999), Hal

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2947 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 650 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 422 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 578 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 969 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 881 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 536 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 792 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 955 23