Analisis Prospektif Model Penggunaan Lahan untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan (Studi Kasus Daerah Aliran Sungai Gumbasa, Donggala)

DOKUMENTASI DISERTASI DANANG WIDJAJANTO P 062020261 PSL IPB Perbedaan nilai MPE yang relatif rendah antara tipe penggunaan lahan kacang tanah, jagung, dan ubikayu mengindikasikan bahwa minat masyarakat untuk membudidayakan ke tiga tipe penggunaan lahan tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa minat mayarakat untuk membudidayakan kacang tanah, jagung, dan ubikayu tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang spesifik. Rendahnya nilai MPE pada penetapan prioritas penggunaan lahan untuk pengembangan vanili, kelapa, cengkeh, dan hutan mengindikasikan bahwa sebenarnya minat masyarakat untuk membudidayakan tipe penggunaan lahan tersebut relatif rendah.

5.2. Analisis Prospektif

Untuk mempelajari faktor-faktor yang mempunyai pengaruh penting dalam penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa digunakan pendekatan analisis prospektif. Hardjomidjojo 2005 menyatakan analisis prospektif bertujuan untuk menentukan tindakan strategis dalam membuat perencanaan dengan cara menentukan faktor-faktor penting yang mempengaruhi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan. Tahapan-tahapan yang diperlukan dalam analisis prospektif adalah: 1 mengidentifikasi faktor-faktor penting, 2 menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama, 3 mendeskripsikan evolusi kemungkinan yang dapat terjadi di masa mendatang yang sekaligus menentukan strategi prioritas sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki oleh pelaku utama stakeholder dan implikasinya. Berdasarkan hasil diskusi stakeholder pada kondisi aktual existing condition terdapat 16 gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa. Faktor-faktor tersebut meliputi kepentingan dari setiap dimensi dalam pembangunan berkelanjutan. Secara lebih rinci penjelasan dari setiap dimensi tersebut adalah sebagai berikut: I. Dimensi Ekologi a. Konservasi Tanah b. Kesesuaian Lahan DOKUMENTASI DISERTASI DANANG WIDJAJANTO P 062020261 PSL IPB II. Dimensi Ekonomi a. Pendapatan Petani b. Pemasaran c. Modal d. Sarana Produksi III. Dimensi Sosial a. Tipe Penggunaan Lahan b. Penyerapan Tenaga Kerja c. Bimbingan dan Penyuluhan IV. Dimensi Teknologi a. Infrastruktur b. Teknologi Budidaya c. Teknologi Pasca Panen V. Dimensi Kelembagaan Hukum a. Penegakan Hukum b. Dukungan Organisasi Non Pemerintah c. Dukungan Pemerintah Daerah d. Kerjasama Pengelolaan DAS Gambaran tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh pada penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa disajikan pada Gambar 10. Berdasarkan penilaian pengaruh langsung antar faktor pada sistem yang dikaji terhadap terdapat 6 faktor penting yang perlu dikaji sebagai arahan kebijakan penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa, yaitu: tipe penggunaan lahan, kesesuaian lahan, pendapatan petani, kerjasama lintas sektoral dalam pengelolaan DAS, konservasi tanah, dan teknologi pasca panen. Berdasarkan 6 aspek penting yang dapat digunakan sebagai arahan kebijakan penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan terdapat 2 faktor penting yang mempunyai pengaruh diantara faktor tinggi dan ketergantungan rendah, yaitu: konservasi tanah dan teknologi pasca panen. Selain itu terdapat 4 faktor penting yang mempunyai pengaruh antar faktor dan ketergantungan antar faktor yang tinggi, yaitu: kesesuaian lahan, pendapatan petani, tipe penggunaan lahan, dan kerjasama lintas sektoral dalam pengelolaan DAS. DOKUMENTASI DISERTASI DANANG WIDJAJANTO P 062020261 PSL IPB KERJASAMA PENGELOLAAN DAS BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DUKUNGAN ORNOP DUKUNGAN PEMDA PENYERAPAN TENAGA KERJA TEKNOLOGI PASCA PANEN TEKNOLOGI BUDIDAYA SARANA PRODUKSI PENDAPATAN PETANI PEMASARAN KONSERVASI TANAH INFRASTRUKTUR TIPE PENGGUNAAN LAHAN KESESUAIAN LAHAN MODAL PENEGAKAN HUKUM - 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 2.00 - 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 Ketergantungan Peng ar uh Gambar 10. Gambaran tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh pada penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan Di DAS Gumbasa . Kesesuaian lahan berkaitan erat dengan produktivitas lahan yang terdapat pada areal pengembangan pertanian. Semakin meningkat kelas kesesuaian lahan maka terdapat kecenderungan semakin meningkatnya produktivitas lahan pada suatu wilayah yang direncanakan. Sys et al 1985 dan Gaiser dan Graef 2001 mengemukakan bahwa kelas kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman tertentu dapat ditingkatkan melalui perbaikan faktor-faktor pembatas yang terdapat pada suatu wilayah yang direncanakan. Sebagai akibat perbaikan faktor- faktor pembatas utama yang terdapat pada lahan yang direncanakan maka kelas kesesuaian lahan menjadi dapat ditingkatkan. Meninjau hasil diskusi stakeholder yang menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu jangka menengah mendatang 5 – 10 tahun belum ada perencanaan jaringan irigasi, maka pengembangan pertanian di daerah penelitian di titik beratkan pada lahan kering. Tipe penggunaan lahan yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan pertanian adalah tanaman perkebunan dan palawija. Kerjasama lintas sektoral dalam pengelolaan DAS merupakan kebijakan yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus untuk mencapai tujuan pembangunan DOKUMENTASI DISERTASI DANANG WIDJAJANTO P 062020261 PSL IPB pertanian yang efektif. Pendanaan dan administrasi seringkali merupakan faktor penghambat utama dalam berbagai kegiatan pembangunan, sehingga kerjasama lintas sektoral baik yang dilakukan antara institusi pemerintah maupun antara institusi pemerintah dan lembaga non pemerintah diperlukan sebagai upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembangunan. Pengembangan pertanian melalui budidaya kakao merupakan kebijakan sektor pertanian yang telah mendapatkan perhatian utama bagi stakeholder, baik dari instansi pemerintah maupun organisasi non pemerintah. Peningkatan kualitas produksi dan teknologi budidaya kakao merupakan satu kesatuan yang telah mendapatkan penanganan dalam upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat pendapatan petani di DAS Gumbasa. Skenario yang dapat dikembangkan dalam mendukung kebijakan penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa ditentukan berdasarkan faktor-faktor penting yang mempunyai pengaruh di antara faktor tinggi akan tetapi mempunyai ketergantungan di antara faktor rendah. Hasil analisis prospektif menunjukkan bahwa faktor-faktor penting yang mempunyai pengaruh tinggi dan ketergantungan rendah adalah teknologi konservasi tanah dan teknologi pasca panen. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang konservasi tanah dan teknologi pasca panen perlu mendapatkan perhatian secara mendalam sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan kelas kesesuaian lahan, dan menetapkan penggunaan lahan prioritas dalam pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa. Peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap teknologi konservasi tanah dapat dilakukan melalui pembinaan kelompok tani konservasi, penelitian pada lahan milik petani on farm research dengan mengikutsertakan petani dalam kegiatan penelitian, dan pemberian penghargaan bagi petani yang berprestasi. Mappatoba dan Laapo 2001 menyatakan bahwa pengembangan sistem usahatani terpadu antara tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan dapat disarankan sebagai alternatif pengembangan model sistem usahatani pada daerah di sekitar Taman Nasional Lore-Lindu. Selanjutnya Rahman 2002 menyebutkan bahwa pengelolaan hutan di Kabupaten Donggala yang dilakukan secara konvensional DOKUMENTASI DISERTASI DANANG WIDJAJANTO P 062020261 PSL IPB telah menyebabkan semakin memburuknya kondisi ekosistem dan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. Pengembangan model agroforestry diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan dari Rp 477.100 ,- jiwa -1 tahun -1 melalui usahatani tanaman pangan menjadi Rp 733.667,- jiwa -1 tahun -1 melalui pengembangan penggunaan lahan campuran antara hutan dengan tanaman perkebunan kakao dan kopi. Alih teknologi industri pakan ternak pada skala rumah tangga merupakan upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pengetahuan petani terhadap teknologi pemanfaatan sisa hasil usahatani yang belum dapat dimanfaatkan. Pendanaan dan pendampingan yang bersifat keproyekan untuk pengadaan peralatan fermentasi buah kakao dan pelatihan kewirausahaan pada sektor usahatani kakao merupakan aspek yang penting untuk dikembangkan untuk mempertahankan pendapatan petani dan memotivasi kesadaran petani terhadap aspek kelestarian sumberdaya lahan. 5.3. Perancangan Skenario Model Penggunaan Lahan untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan di DAS Gumbasa Mengacu pada hasil analisis skala prioritas penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa maka untuk tujuan pengembangan budidaya pertanian dititik beratkan pada penggunaan lahan yang mempunyai urutan prioritas tertinggi, yaitu: kakao, kacang tanah, jagung, dan ubi kayu. Kebiasaan masyarakat menanam komoditas kacang tanah, jagung, dan ubikayu secara tumpang gilir maka dalam perencanaan skenario kebijakan penggunaan lahan tidak dilakukan perencanaan komoditas tersebut secara monokultur, akan tetapi direncanakan sebagai penggunaan lahan palawija dengan pola tanam tumpang gilir Walaupun berdasarkan diskusi pakar menunjukkan bahwa penggunaan lahan padi beririgasi merupakan prioritas ke dua yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan pertanian di DAS Gumbasa, akan tetapi berdasarkan hasil diskusi stakeholder dinyatakan bahwa dalam jangka menengah pembangunan fasilitas irigasi dan pencetakan sawah baru belum merupakan prioritas dalam perencanaan pengembangan pertanian di DAS Gumbasa sehingga skenario DOKUMENTASI DISERTASI DANANG WIDJAJANTO P 062020261 PSL IPB pengembangan budidaya padi beririgasi tidak dilakukan dalam perencanaan penggunaan lahan. Sebagai konsekuensinya maka dalam skenario kebijakan penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di daerah penelitian usahatani padi beririgasi hanya dititik beratkan pada unit lahan yang pada kondisi aktual telah digunakan sebagai areal budidaya padi beririgasi. Selanjutnya unit lahan tersebut tidak diubah pemanfaatannya menjadi tipe penggunaan lain. Berdasarkan atas kriteria klasifikasi kemampuan lahan untuk penggunaan pertanian Sitorus, 1998; Arsyad, 2000 penggunaan lahan yang terletak pada kelerengan yang lebih besar dari 35 tidak dapat diperuntukkan penggunaannya sebagai areal budidaya pertanian sehingga dalam penelitian skenario penggunaan lahan yang diterapkan adalah unit lahan yang terletak pada kelerengan lebih kecil dari 35 , kecuali unit lahan yang pada kondisi aktual berada pada kelerengan di atas 35 akan tetapi sedang digunakan sebagai areal budidaya pertanian. Diskusi stakeholder untuk menentukan arahan tipe penggunaan lahan telah mempertimbangkan bahwa usahatani yang menjadi prioritas jangka menengah di Kabupaten Donggala adalah pengembangan komoditas kakao dan palawija. Oleh sebab itu, mengacu pada hasil diskusi kebijakan tersebut pengembangan komoditas yang tergolong urutan prioritas 6, 7, dan 8 vanili, kelapa, dan cengkeh tidak ditentukan sebagai skenario dalam membuat arahan kebijakan pengembangan pertanian di daerah penelitian. Hasil analisis prospektif menunjukkan bahwa faktor-faktor penting yang perlu dikembangkan dalam perencanaan penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan adalah konservasi tanah dan teknologi pasca panen. Skenario yang dapat dikembangkan dalam pengembangan teknologi konservasi tanah secara mekanik di daerah penelitian adalah guludan, guludan bersaluran, dan teras kredit. Pengembangan teknologi konservasi tanah secara vegetatif yang dapat diterapkan pada areal budidaya palawija adalah pola tanam tumpang gilir. Kombinasi antara konservasi tanah secara vegetatif dan mekanik dapat direncanakan apabila penerapan salah satu teknik konservasi tanah tidak dapat mengurangi laju erosi tanah hingga berada di bawah TSL. DOKUMENTASI DISERTASI DANANG WIDJAJANTO P 062020261 PSL IPB Pengembangan teknologi pasca panen pada penggunaan lahan kakao dilakukan melalui teknologi fermentasi, sedangkan pada penggunaan lahan kacang tanah, jagung, dan ubikayu palawija di lakukan melalui pengolahan hasil pertanian yang berasal dari sisa panen untuk tujuan produksi pakan ternak. Mengacu pada hasil diskusi pakar dalam penentuan skala prioritas penggunaan lahan dan analisis prospektif untuk analisis kebijakan penggunaan lahan maka dapat dirancang skenario model penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Gumbasa Tabel 10. Tabel 10. Skenario model penggunaan lahan untuk pengembangan pertanian Berkelanjutan di DAS Gumbasa . Skenario Unit Lahan Luas Lahan ha Kelerengan 1 2 3 4 5 6 7 3 262,20 6 KPT PPK0 KPT KPK2-TP PPK1-TP PPK1-TP PPK3-TP 5 300,00 7 KPT PPK0 KPT KPK2-TP PPK1-TP PPK1-TP PPK3-TP 6 279,88 11 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 7 305,25 25 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 8 279,88 9 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 9 1.566,81 12 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 10 473,38 18 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 11 289,30 36 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 12 423,27 6 PPK0 PPK0 KPT KPK2-TP PPK1-TP PPK1-TP PPK3-TP 14 908,48 11 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 15 3.977,84 14 H KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 16 1.314,95 17 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 17 1.057,63 5 KPT PPK0 KPT KPK2-TP PPK1-TP PPK1-TP PPK3-TP 18 1.274,78 5 KPT PPK0 KPT KPK2-TP PPK1-TP PPK1-TP PPK3-TP 22 531,34 9 KPT KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 25 1.269,74 12 H KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP 26 317,85 34 H KPT KPT KPK2-TP PPK1-TP KPK2-TP KPK3-TP H : Hutan; KPT: Budidaya kakao pola pengelolaan pertanian tradisional; KPK2-TP : Budidaya kakao dengan menerapkan pola pengelolaan pertanian konservasi menggunakan guludan bersaluran dan penerapan teknologi pasca panen; KPK3-TP : Budidaya kakao dengan menerapkan pola pengelolaan pertanian konservasi menggunakan teras kredit dan penerapan teknologi pasca panen; PPK0: Budidaya palawija dengan menerapkan pola pengelolaan pertanian konservasi menggunakan teknologi pola tanam tumpang gilir dan penggunaan mulsa; PPK1-TP : Budidaya palawija dengan menerapkan pola pengelolaan pertanian konservasi menggunakan teknologi pola tanam tumpang gilir, mulsa, guludan dan penerapan teknologi pasca panen; PPK3-TP: Budidaya palawija dengan menerapkan pola pengelolaan pertanian konservasi menggunakan teknologi pola tanam tumpang gilir, mulsa, teras kredit, dan teknologi pasca panen

5.4. Perancangan Model Penggunaan Lahan untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan