Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lambatnya Pertumbuhan Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di Kabupaten Dairi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem perbankan yang baik dalam suatu negara adalah salah satu
indikator bahwa negara tersebut telah memiliki suatu manajemen tata kelola
pemerintahan yang baik (Good Government Governance). Sebagaimana dapat
dilihat bahwa hampir semua negara baik negara maju ataupun negara berkembang
memberikan perhatian yang sangat besar untuk menciptakan sistem perbankan
yang tangguh.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa sistem perbankan suatu negara
adalah sangat vital. Apabila sistem perbankan tidak berfungsi, maka bukan saja
industri perbankan itu saja yang “collaps” tetapi juga akan memiliki multiflier
effect yang sangat negatif terhadap kinerja sistem - sistem ekonomi yang lain
seperti terhambatnya pertumbuhan sektor riil, tingkat pengangguran yang tinggi,
dan rendahnya pertumbuhan ekonomi.
Sektor perbankan sebagai sektor vital dalam perekonomian
untuk melakukan fungsi

bertujuan

intermediasi keuangan, menjamin sistem pembayaran

yang mendukung dalam proses pembangunan ekonomi. Dalam hal ini, sektor
perbankan memiliki peran strategis dalam mengurangi biaya transaksi
(transaction cost), melakukan pembagian resiko (risk sharing). Hal inilah yang
diharapkan dari peran vital perbankan tersebut yaitu bahwa fungsi intermediasi
keuangan bank dalam ekonomi dapat secara optimal di manfaatkan bagi
kebutuhan masyarakat baik oleh surplus unit maupun deficit unit.

Universitas Sumatera Utara

Dalam konteksnya secara nasional, globalisasi keuangan terutama untuk
sektor perbankan didalam peranannya untuk kegiatan produksi, investasi dan
perdagangan

sebenarnya belum cukup berkembang khususnya untuk beberapa

daerah tertentu. Dan oleh karena beberapa kelemahan mendasar yang ada dan
karena kebijaksanaan yang kurang tepat, maka pada tahun 1997 terjadi krisis
perbankan yang parah. Namun sektor perbankan di Indonesia pernah mengalami
masa boom, baik dalam jumlahnya maupun dalam peranannya yang cukup
signifikan hingga pertengan tahun 1997.
Hal ini dapat dilihat pada 1 Juni 1983, pemerintah mengeluarkan kebijakan
deregulasi perbankan yang menandai era liberalisasi di sektor perbankan.
Kebijakan ini dan serangkaian kebijakan deregulasi di bidang perbankan dan
sektor keuangan lainnya dalam periode sesudahnya telah mendorong

begitu

pesatnya perkembangan sektor perbankan dan keuangan di Indonesia baik dari
segi jumlah bank yang beroperasi dan juga besarnya dana masyarakat yang dapat
di mobilisasi .
Dalam perkembangan selanjutnya untuk mendorong kegiatan ekonomi
dalam negeri, maka pada tahun 1988 pemerintah mengeluarkan kebijakan Paket
Oktober. Paket Oktober tahun 1988 merupakan penyempurnaan kebijakan di
bidang keuangan, moneter dan perbankan. Dalam hubungannya dengan upaya
peningkatan efektivitas pengendalian moneter, maka langkah-langkah yang di
tempuh antara lain adalah penurunan reserve requirment dari 15% menjadi 2%.
Selain itu dilakukan penciptaan iklim persaingan yang lebih kondusif melalui
kemudahan izin untuk pendirian bank-bank baru dan bank campuran.

Universitas Sumatera Utara

Setelah itu beberapa tahun kemudian, sektor perbankan mulai mengalami
krisis berkepanjangan bahkan hingga saat ini. Ada banyak faktor sebagai sumber
penyebabnya, baik oleh karena persoalan intern

maupun eksternal sektor

perbankan itu sendiri. Namun karena disadari bahwa peranan sektor perbankan ini
sangat penting

dalam perekonomian negara, maka berbagai upaya untuk

mengatasi persoalan-persoalan dilakukan pemerintah, Bank Indonesia dan juga
oleh pelaksana-pelaksana perbankan sendiri.
Dalam kondisi yang sulit seperti itu, sektor perbankan juga harus
berhadapan dengan wacana baru yang tidak dapat ditolak yaitu besarnya tuntutan
daerah untuk berotonomi dan semakin mendesaknya era pasar bebas (liberalisasi)
atau globalisasi ekonomi. Dengan adanya implementasi daerah dan desentralisasi
fiskal yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2001, maka timbul beberapa
permasalahan mendasar yang timbul dari implementasi daerah dan desentralisasi
fiskal tersebut. Salah satu permasalahan utama dari penerapan otonomi daerah
adalah keterbatasan pembiayaan pembangunan.
Keterbatasan ini tidak saja terjadi di daerah-daerah yang tidak memiliki
sumber daya alam, tetapi juga di daerah yang kaya akan sumber daya alam.
Keterbatasan sumber-sumber pembangunan daerah selain disebabkan oleh belum
optimalnya pemerintah daerah untuk menggali semua potensi penerimaan daerah,
juga ketidakmampuan pemerintah pusat sepenuhnya untuk menjalankan
pembagian dana baik dana alokasi umum maupun dana alokasi khusus.

Universitas Sumatera Utara

Dengan keterbatasan sumber-sumber penerimaan, maka akan sulit untuk
mengharapkan bahwa pemerintah daerah dapat memainkan peranannya sebagai
pendorong utama pembangunan di daerah secara optimal . Oleh sebab itu, sangat
wajar bila pemerintah daerah di era otonomi dan desentralisasi fiskal sangat
mengharapkan sektor swasta dapat lebih berperan melaksanakan pembangunan
daerah. Dalam kaitan itu, maka sumber-sumber pembiayaan bagi sektor swasta
menjadi sangat perlu di kembangkan. Salah satu sumber pembiayaan bagi sektor
swasta tersebut adalah perbankan .
Dalam rangka untuk mengembangkan dan mempertahankan kegiatan
usahanya, bank dapat memilih cara dengan melalui penambahan kantor cabang.
Perkembangan penduduk atau kegiatan ekonomi dapat mengubah struktur
nasabah sehingga suatu bank harus selalu mengikutinya, di antaranya melalui
pendirian

jaringan

kantor

baru

agar

dapat

melayani

pasar

tertentu.

Itulah sebabnya, penambahan jaringan kantor cabang baru dapat dipandang
sebagai cara untuk mengembangkan daya cakup geografis agar dapat melayani
lebih masyarakat .
Namun terdapat pro dan kontra dalam pengembangan jaringan kantor
cabang ( Julius, 1996 : 152 ). Bagi yang setuju memiliki argumentasi bahwa :
1. Jaringan kantor cabang yang luas memungkinkan suatu bank menjual
lebih banyak jasa kepada masyarakat pada lokasi yang berbeda.
2. Jaringan cabang yang luas memungkinkan bank mendiversifikasikan
sumber dan penggunaan dana .

Universitas Sumatera Utara

Dan bagi yang tidak setuju memiliki beberapa alasan yakni :
1. Sarana bank koresponden memungkinkan suatu bank melayani nasabah
pada daerah geografis yang berbeda melalui bank korespondennya.
2. Penambahan jaringan kantor cabang bank justru akan menambah biaya
overhead (biaya tetap) yang belum jelas potensi usaha yang dapat
diraihnya.
Dan mengacu kepada laporan Bank Indonesia, sampai dengan bulan Maret
2006, jumlah bank yang beroperasi di Indonesia tercatat sebanyak 131 bank
umum dan 2066 BPR. Total aset perbankan nasional adalah Rp 1.465,3 triliun
dengan total DPK yang di himpun perbankan telah mencapai Rp 1.270,6 triliun.
Jumlah dana tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menaruh
kepercayaan terhadap perbankan sebagai alternatif investasi dan sebagai institusi
penyimpanan dana. Oleh karena itu pertumbuhan sektor perbankan di Indonesia
dapat dilihat dari tingkat DPK, jumlah kredit yang disalurkan dan juga jumlah
kantornya .
Demikian juga dengan propinsi Sumatera Utara yang menduduki posisi
pertama di luar pulau Jawa yang memiliki 99 perusahaan bank umum dan 57
Bank Perkreditan Rakyat. Jika dihitung berdasarkan jumlah kantor, maka terdapat
422 kantor perbankan yang terdiri dari 337 unit kantor bank umum dan 85
kantor BPR. Namun kondisi ini

berbanding terbalik dengan kondisi

sektor

perbankan yang terjadi di kabupaten Dairi .
Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten yang telah terbentuk
cukup lama dan merupakan sebuah kabupaten induk sebelum adanya pemekaran
dengan Kabupaten Pakpak Barat. Namun hingga saat ini jumlah kantor cabang

Universitas Sumatera Utara

bank umum di Kabupaten Dairi yang berfungsi dalam intermediasi perbankan
adalah 2 unit yaitu Bank BRI dan Bank Sumut (tidak termasuk kantor pembantu
cabang unit bank BRI dan kantor kas bank BTPN) dan 2 Bank Perkreditan
Rakyat. (BPS, Dairi Dalam Angka 2008).
Hal ini berbeda dengan kabupaten-kabupaten lainnya seperti Kabupaten
Tanah Karo, Kabupaten Tanjung Balai, Kabupaten Toba Samosir dan kabupaten
lainnya. Padahal berdasarkan studi potensi pendirian kantor bank umum dan BPR
di Sumatera Utara, Kabupaten Dairi merupakan kabupaten kedua dalam kategori
daerah cukup berpotensi setelah Kabupaten Asahan diurutan pertama (Jhon Tafbu
Ritonga, dkk 2005 : 6). Dan berikut perbandingan jumlah jaringan kantor cabang
bank umum yang terdapat di beberapa kabupaten di Sumatera Utara.
Tabel 1.1 Distribusi Jaringan Kantor Cabang Bank Umum
Di Beberapa Kabupaten Sumatera Utara
No
1
2
3
4
5
6
7

Kabupaten
Langkat
Tanah Karo
Simalungun
Nias
Asahan
Mandailing Natal
Tobasa

Jumlah Jaringan Kantor Cabang Bank Umum
8
8
7
4
10
6
5

Sumber : Kantor Bank Indonesia Medan 2005
Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan, penulis mengambil
fokus penelitian ditinjau dari jumlah kantor bank umum, dan yang menjadi judul
skripsi

penulis

adalah

”Analisis

Faktor-Faktor

yang

Mempengaruh

Lambatnya Pertumbuhan Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di
Kabupaten Dairi” .

Universitas Sumatera Utara

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian
ini adalah :
1.

Faktor-faktor apa yang menjadi permasalahan mendasar yang
mengakibatkan lambatnya pertumbuhan sektor perbankan di Kabupaten
Dairi jika ditinjau dari jumlah jaringan kantor cabang bank umum?

2.

Bagaimana solusi penyelesaiannya yang dapat dilakukan oleh
pemerintah daerah Kabupaten Dairi dalam mendorong peningkatan
pendirian kantor cabang bank umum di masa yang akan datang?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas maka secara
umum tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi faktor–faktor yang menjadi permasalahan yang mendasar
yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan sektor perbankan di
Kabupaten Dairi jika di tinjau dari jumlah kantor cabang bank umum.
2. Merekomendasikan solusi penyelesaian yang dapat digunakan dalam
membuat kebijakan untuk mendorong peningkatan pendirian kantor
cabang bank umum di Kabupaten Dairi.

Universitas Sumatera Utara

1.4 Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah penulis dalam disiplin penerapan ilmu
selama kuliah dan juga sebagai syarat untuk menyelesaikan jenjang
pendidikan Strata satu (S-1).
2. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi para pengambil kebijakan
khususnya Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Dairi.
3. Dari hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan bagi
ilmu pengetahuan khususnya ekonomi pembangunan sehingga dapat
memperkaya penelitian sejenis yang telah ada dan juga sebagai bahan
referensi dan informasi bagi penelitian-penelitian selanjutnya dengan topik
yang sama .

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
As one financial institution, the bank is very important to enhance the
economic growth of a country. Bank is as a mediator between surplus and deficit
units in the function units to perform the intermediation function. Therefore,
banks are expected to establish branch offices
As for the objectives of this research focused to know the factors that
affect the slow growth of bank branch networks common in Dairi District. And
the second is to recommend that the settlement solution can be implemented by
local government in the Dairi encourage the establishment of branches of
commercial banks in the future
In this study uses primary data and secondary data. Primary data in the
form of interviews, observations, and also distribute a questionnaire to 100
respondents. The respondents consisted society, businessmen, goverment officers
, and also the bank. As for the secondary data obtained from the BPS and Bank
Indonesia (BI). From the results of this study show that low income is still owned
by the community is one of the factors that affect the slow growth new brach of
network of offices in Dairi District.
This is a great effect on the utilization of bank products both savings,
loans, and other banking services. In addition Dairi economic conditions less
supportive as the placement of funds for banks as economic growth is another
important rendah. One of the finding of this study is that expected the
government's attention in improving the service of public utilities and the role of
banks in improving their marketing strategies to the publicat Dairi.
Keywords: Banking Habits and Entrepreneur Society, Role of Local
Government, The Bank, economic potential Dairi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Sebagai salah satu lembaga keuangan, bank sangat penting untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bank adalah sebagai mediator
antara unit surplus dan defisit unit dalam fungsinya untuk menjalankan fungsi
intermediasi. Maka dari itu, bank sangat diharapkan dapat mendirikan kantor
cabangnya.
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini difokuskan untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi lambatnya pertumbuhan jaringan kantor cabang
bank umum di Kabupaten Dairi. Dan kedua adalah merekomendasikan solusi
penyelesaiannya yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Dairi
dalam mendorong peningkatan pendirian kantor cabang bank umum di masa yang
akan datang.
Dalam penelitian ini mempergunakan data primer dan data sekunder. Data
primer berupa wawancara, observasi dan juga menyebarkan kuesioner kepada 100
responden. Para responden terdiri masyarakat, pengusaha, pejabat pemrintah, dan
juga pihak bank. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari BPS dan Bank
Indonesia (BI)
Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya pendapatan yang
masih dimiliki oleh masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
lambatnya pertumbuhan jaringan kantor cabng di Kabupaten Dairi. Hal ini sangat
berpengaruh terhadap pemanfaatan produk-produk bank baik simpanan, pinjaman,
dan jasa bank lainnya. Selain itu kondisi perekonomian Kabupaten Dairi kurang
mendukung sebagai penempatan dana bagi pihak bank karena pertumbuhan
ekonomi yang rendah.Penemuan penting lainnya adalah diharapkan adanya
perhatian pemerintah dalam meningkatkan pelayanan terhadap sarana dan
prasarana umum serta peranan dari pihak bank dalam meningkatkan strategi
pemasarannya kepada masyarakat di Kabupaten Dairi.
Kata kunci: Habits Banking Masyarakat dan Pengusaha, Peranan
Pemerintah Daerah, Pihak Bank, Potensi Ekonomi Kabupaten Dairi.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem perbankan yang baik dalam suatu negara adalah salah satu
indikator bahwa negara tersebut telah memiliki suatu manajemen tata kelola
pemerintahan yang baik (Good Government Governance). Sebagaimana dapat
dilihat bahwa hampir semua negara baik negara maju ataupun negara berkembang
memberikan perhatian yang sangat besar untuk menciptakan sistem perbankan
yang tangguh.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa sistem perbankan suatu negara
adalah sangat vital. Apabila sistem perbankan tidak berfungsi, maka bukan saja
industri perbankan itu saja yang “collaps” tetapi juga akan memiliki multiflier
effect yang sangat negatif terhadap kinerja sistem - sistem ekonomi yang lain
seperti terhambatnya pertumbuhan sektor riil, tingkat pengangguran yang tinggi,
dan rendahnya pertumbuhan ekonomi.
Sektor perbankan sebagai sektor vital dalam perekonomian
untuk melakukan fungsi

bertujuan

intermediasi keuangan, menjamin sistem pembayaran

yang mendukung dalam proses pembangunan ekonomi. Dalam hal ini, sektor
perbankan memiliki peran strategis dalam mengurangi biaya transaksi
(transaction cost), melakukan pembagian resiko (risk sharing). Hal inilah yang
diharapkan dari peran vital perbankan tersebut yaitu bahwa fungsi intermediasi
keuangan bank dalam ekonomi dapat secara optimal di manfaatkan bagi
kebutuhan masyarakat baik oleh surplus unit maupun deficit unit.

Universitas Sumatera Utara

Dalam konteksnya secara nasional, globalisasi keuangan terutama untuk
sektor perbankan didalam peranannya untuk kegiatan produksi, investasi dan
perdagangan

sebenarnya belum cukup berkembang khususnya untuk beberapa

daerah tertentu. Dan oleh karena beberapa kelemahan mendasar yang ada dan
karena kebijaksanaan yang kurang tepat, maka pada tahun 1997 terjadi krisis
perbankan yang parah. Namun sektor perbankan di Indonesia pernah mengalami
masa boom, baik dalam jumlahnya maupun dalam peranannya yang cukup
signifikan hingga pertengan tahun 1997.
Hal ini dapat dilihat pada 1 Juni 1983, pemerintah mengeluarkan kebijakan
deregulasi perbankan yang menandai era liberalisasi di sektor perbankan.
Kebijakan ini dan serangkaian kebijakan deregulasi di bidang perbankan dan
sektor keuangan lainnya dalam periode sesudahnya telah mendorong

begitu

pesatnya perkembangan sektor perbankan dan keuangan di Indonesia baik dari
segi jumlah bank yang beroperasi dan juga besarnya dana masyarakat yang dapat
di mobilisasi .
Dalam perkembangan selanjutnya untuk mendorong kegiatan ekonomi
dalam negeri, maka pada tahun 1988 pemerintah mengeluarkan kebijakan Paket
Oktober. Paket Oktober tahun 1988 merupakan penyempurnaan kebijakan di
bidang keuangan, moneter dan perbankan. Dalam hubungannya dengan upaya
peningkatan efektivitas pengendalian moneter, maka langkah-langkah yang di
tempuh antara lain adalah penurunan reserve requirment dari 15% menjadi 2%.
Selain itu dilakukan penciptaan iklim persaingan yang lebih kondusif melalui
kemudahan izin untuk pendirian bank-bank baru dan bank campuran.

Universitas Sumatera Utara

Setelah itu beberapa tahun kemudian, sektor perbankan mulai mengalami
krisis berkepanjangan bahkan hingga saat ini. Ada banyak faktor sebagai sumber
penyebabnya, baik oleh karena persoalan intern

maupun eksternal sektor

perbankan itu sendiri. Namun karena disadari bahwa peranan sektor perbankan ini
sangat penting

dalam perekonomian negara, maka berbagai upaya untuk

mengatasi persoalan-persoalan dilakukan pemerintah, Bank Indonesia dan juga
oleh pelaksana-pelaksana perbankan sendiri.
Dalam kondisi yang sulit seperti itu, sektor perbankan juga harus
berhadapan dengan wacana baru yang tidak dapat ditolak yaitu besarnya tuntutan
daerah untuk berotonomi dan semakin mendesaknya era pasar bebas (liberalisasi)
atau globalisasi ekonomi. Dengan adanya implementasi daerah dan desentralisasi
fiskal yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2001, maka timbul beberapa
permasalahan mendasar yang timbul dari implementasi daerah dan desentralisasi
fiskal tersebut. Salah satu permasalahan utama dari penerapan otonomi daerah
adalah keterbatasan pembiayaan pembangunan.
Keterbatasan ini tidak saja terjadi di daerah-daerah yang tidak memiliki
sumber daya alam, tetapi juga di daerah yang kaya akan sumber daya alam.
Keterbatasan sumber-sumber pembangunan daerah selain disebabkan oleh belum
optimalnya pemerintah daerah untuk menggali semua potensi penerimaan daerah,
juga ketidakmampuan pemerintah pusat sepenuhnya untuk menjalankan
pembagian dana baik dana alokasi umum maupun dana alokasi khusus.

Universitas Sumatera Utara

Dengan keterbatasan sumber-sumber penerimaan, maka akan sulit untuk
mengharapkan bahwa pemerintah daerah dapat memainkan peranannya sebagai
pendorong utama pembangunan di daerah secara optimal . Oleh sebab itu, sangat
wajar bila pemerintah daerah di era otonomi dan desentralisasi fiskal sangat
mengharapkan sektor swasta dapat lebih berperan melaksanakan pembangunan
daerah. Dalam kaitan itu, maka sumber-sumber pembiayaan bagi sektor swasta
menjadi sangat perlu di kembangkan. Salah satu sumber pembiayaan bagi sektor
swasta tersebut adalah perbankan .
Dalam rangka untuk mengembangkan dan mempertahankan kegiatan
usahanya, bank dapat memilih cara dengan melalui penambahan kantor cabang.
Perkembangan penduduk atau kegiatan ekonomi dapat mengubah struktur
nasabah sehingga suatu bank harus selalu mengikutinya, di antaranya melalui
pendirian

jaringan

kantor

baru

agar

dapat

melayani

pasar

tertentu.

Itulah sebabnya, penambahan jaringan kantor cabang baru dapat dipandang
sebagai cara untuk mengembangkan daya cakup geografis agar dapat melayani
lebih masyarakat .
Namun terdapat pro dan kontra dalam pengembangan jaringan kantor
cabang ( Julius, 1996 : 152 ). Bagi yang setuju memiliki argumentasi bahwa :
1. Jaringan kantor cabang yang luas memungkinkan suatu bank menjual
lebih banyak jasa kepada masyarakat pada lokasi yang berbeda.
2. Jaringan cabang yang luas memungkinkan bank mendiversifikasikan
sumber dan penggunaan dana .

Universitas Sumatera Utara

Dan bagi yang tidak setuju memiliki beberapa alasan yakni :
1. Sarana bank koresponden memungkinkan suatu bank melayani nasabah
pada daerah geografis yang berbeda melalui bank korespondennya.
2. Penambahan jaringan kantor cabang bank justru akan menambah biaya
overhead (biaya tetap) yang belum jelas potensi usaha yang dapat
diraihnya.
Dan mengacu kepada laporan Bank Indonesia, sampai dengan bulan Maret
2006, jumlah bank yang beroperasi di Indonesia tercatat sebanyak 131 bank
umum dan 2066 BPR. Total aset perbankan nasional adalah Rp 1.465,3 triliun
dengan total DPK yang di himpun perbankan telah mencapai Rp 1.270,6 triliun.
Jumlah dana tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menaruh
kepercayaan terhadap perbankan sebagai alternatif investasi dan sebagai institusi
penyimpanan dana. Oleh karena itu pertumbuhan sektor perbankan di Indonesia
dapat dilihat dari tingkat DPK, jumlah kredit yang disalurkan dan juga jumlah
kantornya .
Demikian juga dengan propinsi Sumatera Utara yang menduduki posisi
pertama di luar pulau Jawa yang memiliki 99 perusahaan bank umum dan 57
Bank Perkreditan Rakyat. Jika dihitung berdasarkan jumlah kantor, maka terdapat
422 kantor perbankan yang terdiri dari 337 unit kantor bank umum dan 85
kantor BPR. Namun kondisi ini

berbanding terbalik dengan kondisi

sektor

perbankan yang terjadi di kabupaten Dairi .
Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten yang telah terbentuk
cukup lama dan merupakan sebuah kabupaten induk sebelum adanya pemekaran
dengan Kabupaten Pakpak Barat. Namun hingga saat ini jumlah kantor cabang

Universitas Sumatera Utara

bank umum di Kabupaten Dairi yang berfungsi dalam intermediasi perbankan
adalah 2 unit yaitu Bank BRI dan Bank Sumut (tidak termasuk kantor pembantu
cabang unit bank BRI dan kantor kas bank BTPN) dan 2 Bank Perkreditan
Rakyat. (BPS, Dairi Dalam Angka 2008).
Hal ini berbeda dengan kabupaten-kabupaten lainnya seperti Kabupaten
Tanah Karo, Kabupaten Tanjung Balai, Kabupaten Toba Samosir dan kabupaten
lainnya. Padahal berdasarkan studi potensi pendirian kantor bank umum dan BPR
di Sumatera Utara, Kabupaten Dairi merupakan kabupaten kedua dalam kategori
daerah cukup berpotensi setelah Kabupaten Asahan diurutan pertama (Jhon Tafbu
Ritonga, dkk 2005 : 6). Dan berikut perbandingan jumlah jaringan kantor cabang
bank umum yang terdapat di beberapa kabupaten di Sumatera Utara.
Tabel 1.1 Distribusi Jaringan Kantor Cabang Bank Umum
Di Beberapa Kabupaten Sumatera Utara
No
1
2
3
4
5
6
7

Kabupaten
Langkat
Tanah Karo
Simalungun
Nias
Asahan
Mandailing Natal
Tobasa

Jumlah Jaringan Kantor Cabang Bank Umum
8
8
7
4
10
6
5

Sumber : Kantor Bank Indonesia Medan 2005
Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan, penulis mengambil
fokus penelitian ditinjau dari jumlah kantor bank umum, dan yang menjadi judul
skripsi

penulis

adalah

”Analisis

Faktor-Faktor

yang

Mempengaruh

Lambatnya Pertumbuhan Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di
Kabupaten Dairi” .

Universitas Sumatera Utara

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian
ini adalah :
1.

Faktor-faktor apa yang menjadi permasalahan mendasar yang
mengakibatkan lambatnya pertumbuhan sektor perbankan di Kabupaten
Dairi jika ditinjau dari jumlah jaringan kantor cabang bank umum?

2.

Bagaimana solusi penyelesaiannya yang dapat dilakukan oleh
pemerintah daerah Kabupaten Dairi dalam mendorong peningkatan
pendirian kantor cabang bank umum di masa yang akan datang?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas maka secara
umum tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi faktor–faktor yang menjadi permasalahan yang mendasar
yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan sektor perbankan di
Kabupaten Dairi jika di tinjau dari jumlah kantor cabang bank umum.
2. Merekomendasikan solusi penyelesaian yang dapat digunakan dalam
membuat kebijakan untuk mendorong peningkatan pendirian kantor
cabang bank umum di Kabupaten Dairi.

Universitas Sumatera Utara

1.4 Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah penulis dalam disiplin penerapan ilmu
selama kuliah dan juga sebagai syarat untuk menyelesaikan jenjang
pendidikan Strata satu (S-1).
2. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi para pengambil kebijakan
khususnya Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Dairi.
3. Dari hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan bagi
ilmu pengetahuan khususnya ekonomi pembangunan sehingga dapat
memperkaya penelitian sejenis yang telah ada dan juga sebagai bahan
referensi dan informasi bagi penelitian-penelitian selanjutnya dengan topik
yang sama .

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian bank
Bank menurut Undang-Undang No 10 Tahun 1998 adalah suatu badan
usaha yang menghimpun dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga kegiatan
pokok bank yaitu :
1. Menghimpun dana (funding) dari masyarakat dalam bentuk simpanan.
Dalam hal ini bank sebagai tempat menyimpan uang atau berinvestasi bagi
masyarakat. Secara umum, jenis simpanan yang ada di bank adalah terdiri
dari simpanan giro (demand deposit), simpanan tabungan ( saving deposit)
dan simpanan deposito (time deposit). Tujuan utama masyarakat
menyimpan uangnya di bank adalah :
 Untuk keamanan uangnya.
 Untuk melakukan investasi dengan harapan memperoleh bunga
dari hasil simpanannya
 Untuk memudahkan melakukan transaksi pembayaran.
2. Menyalurkan dana (lending) kepada masyarakat, dalam hal ini bank
memberikan pinjaman (kredit) kepada masyarakat. Dengan kata lain bank
menyediakan dana bagi masyarakat yang membutuhkannya. Pinjaman atau

Universitas Sumatera Utara

kredit yang diberikan dibagi dalam berbagai jenis sesuai dengan keinginan
nasabah..
3. Memberikan jasa-jasa bank lainnya (services ) seperti pengiriman uang
(transfer) , penagihan surat-surat yang berharga yang berasal dari luar kota
dan luar negeri (inkaso), letter of credit (L/C) , safe deposit box , bank
garansi , bank notes , traveler cheque , dan jasa lainnya .
Perputaran uang yang ada dibank dari masyarakat dan kembali ke
masyarakat, dengan bank sebagai perantara adalah sebagai berikut:

Fungsi bank
Masyarakat yang
Kelebihan Dana

Beli dana Jual Dana

Masyarakat
yang

Giro
Kredit
Tabungan (Pinjaman )
Deposito

Gambar 2.1 Peredaran Uang di Bank.
Keterangan:
1. Nasabah (masyarakat) yang kelebihan dana menyimpan uangnya di bank
dalam bentuk simpanan giro, tabungan dan deposito. Bagi bank dana yang
disimpan oleh masyarakat adalah sama artinya dengan membeli dana.
Dalam hal ini nasabah sebagai penyimpan dan bank sebagai penerima
titipan simpanan. Nasabah dapat memilih sendiri untuk menyimpan dana
sendiri apakah dalam bentuk giro, tabungan atau deposito.
2. Nasabah penyimpan akan memperoleh balas jasa dari bank berupa bunga
bagi bank konvensional dan bagi hasil bagi bank yang berdasarkan prinsip

Universitas Sumatera Utara

syariah. Besarnya jasa bunga dan bagi hasil tergantung dari besar kecilnya
dana yang disimpan dan faktor lainnya.
3. Kemudian oleh bank dana yang disimpan oleh nasabah di bank yang
bersangkutan disalurkan kembali (dijual) kepada masyarakat yang
kekurangan atau membutuhkan dana dalam bentuk pinjaman/ kredit.
4. Bagi masyarakat yang memperoleh pinjaman atau kredit dari bank, di
wajibkan kembali untuk mengembalikan pinjaman tersebut beserta bunga
yang telah di tetapkan sesuai perjanjian antar bank dengan nasabah.
2.1.1 Jenis - Jenis Bank.
Adapun jenis-jenis perbankan dewasa ini jika ditinjau dari berbagai segi
antara lain :
1. Dilihat dari segi fungsinya.
Menurut Undang-Undang RI No. 10 tahun 1998, maka jenis perbankan
berdasarkan fungsinya terdiri dari :
 Bank Umum
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sifat jasa yang diberikan adalah
umum, dalam arti dapat memberikan seluruh jasa perbankan.
 Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah. Dalam kegiatannya BPR
tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Universitas Sumatera Utara

2. Dilihat dari Segi Kepemilikannya.
Jenis bank dilihat dari segi kepemilikannya adalah:
 Bank Milik Pemerintah
Bank milik pemerintah adalah bank yang akta pendirian maupun modal
bank ini sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank
ini dimiliki oleh pemerintah pula seperti BNI 46 , BRI.
 Bank Milik Swasta Nasional.
Bank milik swasta nasional adalah bank yang seluruh atau sebagian besar
sahamnya dimiliki oleh swasta nasional seperti Bank Central Asia (BCA), Bank
Danamon dan lain-lain.
 Bank Milik Koperasi
Bank milik koperasi adalah bank yang kepemilikan saham-sahamnya
dimiliki oleh perusahaan yang berbadan hukum koperasi seperti Bank Umum
Koperasi Indonesia.
 Bank Milik Asing.
Bank Milik asing adalah bank yang kepemilikannya 100% oleh pihak
asing (luar negeri). Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar
negeri, baik milik swasta asing ataupun pemerintah asing seperti Bangkok bank,
City bank.
 Bank Milik Campuran
Bank milik campuran adalah bank yang sahamnya dimiliki oleh dua belah
pihak, yaitu dalam negeri dan luar negeri seperti Bank Sakura Swadarma, Inter
Pacifik Bank.

Universitas Sumatera Utara

3. Dilihat dari Segi Statusnya.
Jenis bank dilihat dari segi statusnya adalah sebagai berikut:
 Bank Devisa
Bank devisa adalah bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri
atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan.
 Bank Nondevisa.
Bank nondevisa adalah bank yang belum mempunyai izin untuk
melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan
transaksi seperti halnya bank devisa.
4. Dilihat dari Segi Cara menentukan Harga
Jenis bank jika dilihat dari segi cara menentukan harga, baik harga jual
maupun harga beli, terbagi dalam dua kelompok, yaitu :
 Bank yang Berdasarkan Prinsip Konvensional
Dalam mencari keuntungan dan menentukan harga kepada para
nasabahnya, bank yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua
metode, yaitu:
1. Menetapkan bunga sebagai harga untuk produk simpanan seperti giro,
tabungan dan deposito. Demikian pula harga untuk produk pinjaman
(kredit) yang ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu.
2. Untuk jasa - jasa bank lainnya pihak perbankan konvensional
menggunakan atau menerapkan berbagai biaya – biaya dalam nominal
atau persentase.

Universitas Sumatera Utara

 Bank yang Berdasarkan Prinsip Syariah
Dalam menentukan harga atau mencari keuntungan bagi bank yang
berdasarkan prinsip syariah adalah sebagai berikut:
1. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudarabah)
2. Pembiayaannya berdasarkan prinsip penyertaan modal ( musyarakah)
3. Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah)
4. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan
(ijarah)
5. Dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang di
sewa dari pihak bank oleh pihak lain ( ijarah wa igtina)
5. Dilihat dari Struktur Organisasinya.
Jika dilihat struktur oranisasinya maka bank dibedakan atas :
 Bank Unit (unit bank)
Bank unit adalah bank yang menggunakan satu kantor saja untuk melayani
semua jasa keuangan (one full- services office )
 Bank cabang (branch bank)
Bank cabang adalah bank yang melayani beberapa alokasi sehingga ada
satu kantor pusat atau beberapa kantor cabang.
 Holding Company Bank (HCB)
Holding Company Bank adalah sebuah bank yang memiliki satu atau lebih
bank.

Universitas Sumatera Utara

2.1.2 Izin Pendirian Bank
Untuk memperoleh izin usaha bank, persyaratan yang wajib di penuhi
menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 sekurang-kurangnya adalah :
1. Susunan organisasi dan kepengurusannya
2. Permodalan
3. Kepemilikan
4. Keahlian dalam perbankan
5. Kelayakan rencana kerja.
2.1.3 Bentuk Badan Hukum Bank.
Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, bentuk badan hukum
bank umum dapat berupa salah satu dari alternative di bawah ini :
1. Perseroan terbatas (PT)
2. Koperasi
3. Perseroan daerah (PD)
2.1.4 Jenis- Jenis Kantor Bank :
1. Kantor Pusat
Kantor pusat merupakan kantor untuk

semua kegiatan perencanaan

sampai kepada pengawasan terdapat di kantor ini. Setiap bank memiliki satu
kantor pusat dan kantor pusat tidak melakukan kegiatan operasional sebagaimana
kantor bank lainnya tetapi mengendalikan jalannya kebijaksanaan kantor pusat
terhadap cabang-cabangnya. Dengan demikian bahwa kantor pusat hanya
melayani cabang-cabangnya dan tidak melayani jasa bank kepada masyarakat
umum.

Universitas Sumatera Utara

2. Kantor Wilayah.
Kantor wilayah merupakan kantor yang membawahi beberapa cabang
untuk beberapa wilayah.Tujuannya adalah untuk memudahkan koordinasi antar
cabang dalam wilayah tertentu tersebut.
3. Kantor Cabang Penuh
Kantor cabang penuh merupakan salah satu kantor cabang yang
memberikan jasa bank paling lengkap. Dengan kata lain, semua kegiatan
perbankan ada di kantor cabang penuh dan biasanya kantor cabang penuh
membawahi kantor cabang pembantu.
4. Kantor Cabang Pembantu.
Kantor cabang pembantu merupakan kantor cabang yang berada di bawah
kantor cabang penuh dan kegiatan jasa bank yang dilayani hanya dari kegiatan
cabang penuh.
5. Kantor Kas
Kantor kas merupakan kantor bank yang paling kecil di mana kegiatannya
hanya meliputi teller/kasir saja. Kantor kas hanya melakukan sebagian kecil dari
kegiatan perbankan dan berada di bawah cabang pembantu atau cabang penuh.

2.1.5 Jaringan Kantor Cabang Bank Umum
2.1.5.1 Alasan Untuk Membuka Kantor Cabang
Menurut Julius, (1996:150), alasan mendirikan suatu cabang adalah:
1. Pertama, dalam upaya meningkatkan span of business (jangkauan bisnis).
Secara keseluruhan span of

busisness itu bisa dilihat dari sisi aktiva

maupun pasiva. Apabila suatu bank mempunyai kemampuan menarik/

Universitas Sumatera Utara

mengumpulkan dana secara baik, sedangkan kondisi perekonomian
disuatu daerah kurang mendukung untuk melakukan penempatan dana
secara tepat, biasanya bank tersebut berupaya membuka cabang-cabang di
daerah yang menjadi pusat peredaran uang.
2. Kedua, di kaitkan dengan rencana pengenalan suatu produk yang tepat di
daerah tersebut. Biasanya cabang yang didirikan dengan tujuan tersebut
akan ditutup apabila bisnisnya tidak mendukung, atau tenaga kerja yang
ada kurang mendukung aktivitasnya sehingga cabang selalu rugi.
3. Ketiga, cabang didirikan adalah sebagai salah satu bagian dari global
marketing strategy (strategi pemasaran global). Biasanya cabang didirikan
dengan tujuan sebagai bagian dari rencana pemasaran.
2.1.5.2 Pertimbangan Dasar dalam Merumuskan Strategi Pengembangan
Jaringan Kantor Cabang.
Lokasi kantor cabang yang menyenangkan dan menarik sering disebut
sebagai salah satu alasan terpenting bagi nasabah memilih bank untuk membuka
rekening. Ada dua cara klasik yang dipakai oleh bank atau lembaga keuangan
lainnya untuk menawarkan jasa keuangan yaitu :
1. Bank mendirikan jaringan cabang yang luas sehingga mempunyai banyak
kantor yang dekat kepada nasabahnya. Jaringan kantor cabang yang luas
mempunyai berbagai keuntungan yaitu :
 Hubungan antara kantor cabang dan nasabah menjadi dekat.
 Menjanjikan tingkat pelayanan yang lebih baik kepada nasabah.
Karena nasabah dapat memperoleh pelayanan bank di hampir semua
tempat bisnisnya.

Universitas Sumatera Utara

 Memberikan layanan dalam bentuk lokasi kantor yang lebih dekat
dengan nasabahnya.
2. Bank dapat beroperasi di satu tempat terpusat dengan menggunakan sistem
agen sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan nasabah.
Menurut Buckingham (1989) bahwa terdapat tiga sasaran utama yang
perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan jaringan kantor bank, yaitu :
1. Pertama,

pengembangan

meningkatkan
dikombinasikan

volume
dengan

jaringan
bisnis.

kantor

Dukungan

kebijakan

lain

bank

hendaknya

jaringan

cabang

memungkinkan

dapat
yang
adanya

peningkatan volume transaksi. Kombinasi kebijakan tersebut anatara lain
menyangkut penetapan harga yang kompetitif dan variasi produk yang
ditawarkan dapat memenuhi kebutuhan nasabah disekitar kantor cabang.
2. Kedua, yang perlu dicanangkan dalam rangka pengembangan jaringan
kantor bank adalah peningkatan pendapatan non bunga (fee income). Hal
ini dapat dilaksanakan dengan menawarkan produk baru (fee-basis). Sifat
yang efektivitas penjualannya dipengaruhi oleh besar kecilnya jaringan
cabang
3. Ketiga., pengembangan jaringan kantor bank hendaknya justru dapat
menurunkan biaya rata-rata per transaksi. Hal ini dapat terjadi melalui
program efesiensi. Program ini dimungkinkan dapat terlaksana dengan
bantuan teknologi seperti otomasi cabang dan sentralisasi pengelolan
administrasi (back office). Walaupun jaringan kantor bank bertambah,
biaya operasional per kantor cabang harus menurun karena adanya

Universitas Sumatera Utara

program efesiensi yang berjalan bersama dengan program pengembangan
jaringan kantor bank.
2.1.5.3 Pola Pengelolaan Jaringan Kantor Cabang.
Terdapat dua pola manajemen yang dapat diterapkan dalam jaringan
kantor bank. Kedua pola manajemen tersebut adalah:
1. Sentralisasi (centralized)
Dalam pola ini, kantor pusat mengatur hanpir semua aspek kegiatan usaha
yang dapat di laksanakan oleh kantor cabang melalui berbagai instrument seperti
peraturan, buku pedoman, dan anggaran.Tingkat otonomi pada sistem sentralisasi
relative rendah.
2. Desentralisasi
Pada pola desentralisasi kantor cabang cenderung mempunyai otonomi
dan kewenangan yang lebih banyak. Perbedaan lingkungan usaha yang dihadapi
setiap kantor karena faktor-faktor tertentu seperti kondisi alamiah geografis, adat
istiadat masyarakat dan budaya memerlukan seni strategi manajemen yang
berbeda untuk setiap kantor. Dalam pola sistem desentralisasi terdapat batasanbatasan tertentu. Batasan – batasan tersebut adalah :
1. Kewenangan kebijaksanaan yang diberikan bank induknya kepada cabang
tersebut dalam pengambilan keputusan yang bersifat operasional, pola
penataan administrasi cabang, pola kebijaksanaan harian, dan pola
hubungan kekayaan.
2. Strategi harga (pricing) yang diambil oleh cabang. Kebijaksanaan harga
akan melakukan penyesuain terhadap naik turunnya permintaan akan uang,

Universitas Sumatera Utara

naik turunnya penawaran dana, posisi persaingan di suatu daerah, dan
tekanan-tekanan bisnis lainnya
2.1.6 Alokasi Dana Bank
Dana–dana bank yang diperoleh dari pihak kesatu, kedua dan ketiga
akan dialokasikan melalui 2 metode cara:
1. Gabungan dana (pool of funds approach)
Semua dana yang masuk di gabung menjadi satu, kemudian
dialokasikan tanpa memperhatikan jenis, sifat sumber dana, jangka waktu serta
biaya dana. Dana-dana tersebut dialokasikan ke berbagai bentuk berdasarkan
prioritas dan strategi penggunaan dana bank

Cadangan
Primer

Giro

Cadangan
Sek nder

Tabungan
Pools of

Kredit
Deposito

fund
Investasi lain

Modal

Aset Tetap

Gambar 2.2 Pendekatan Gabungan Dana
2. Alokasi Aset ( Asset Allocation Approach )
Masing – masing sumber dana memiliki sifat tersendiri sehingga harus
diperlakukan secara individu dengan mempertimbangkan karakteristik masingmasing. Dana yang likuiditasnya tinggi (giro) sebagian besar di alokasikan ke
cadangan primer dan sekunder. Dana yang likuiditasnya rendah (deposito)
sebagian besar dialokasikan ke kredit dan investasi lainnya.

Universitas Sumatera Utara

Giro

Cadangan Primer

Tabungan

Cadangan Sekunder

Deposito

Kredit

Modal

Investasi Lain

Aset Lain
Gambar 2.3 Pendekatan Alokasi Aset

2.2. Peranan Pemerintah Daerah Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah
Menurut Koncoro ( 2004), dalam pembangunan ekonomi daerah terdapat
peranan pemerintah daerah yang mencakup :
1. Wirausaha
Sebagai wirausaha, pemerintah daerah bertanggung jawab untuk
menjalankan suatu usaha bisnis. Pemerintah daerah dapat memanfaatkan potensi
tanah dan bangunan untuk tujuan bisnis.Tanah atau bangunan dapat dikendalikan
oleh pemerintah daerah untuk tujuan konversi atau alasan-alasan lingkungan dan
perencanan pembangunan yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang bersifat
ekonomi.
Pantai, jalan raya dan pusat hiburan rakyat dapat dimanfaatkan untuk
berbagai macam tujuan yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Organisasi
kemasyarakatan memainkan peran penting dalam menjalankan kewirausahaan
Sebagai pencipta peluang kerja yang tidak dapat dilakukan oleh perusahaan

Universitas Sumatera Utara

swasta atau untuk menjamin tersedianya jasa yang tidak mampu disediakan oleh
perusahaan swasta.
2. Koordinator
Pemerintah

daerah

dapat

bertindak

sebagai

koordinator

untuk

menetapkan kebijakan atau mengusulkan strategi-strategi. Sebagai koordinator
untuk

menetapkan

kebijakan

atau

mengusulkan

strategi-strategi

bagi

pembangunan di daerahnya. Lebih jauh lagi, peran koordinator pemerintah dalam
pembangunan ekonomi dapat melibatkan kelompok-kelompok masyarakat dalam
mengumpulkan dan mengevaluasi informasi-informasi ekonomi seperti tingkat
ketersedian pekerjaan, angkatan kerja, pengangguran dan jumlah perusahaan.
Dapat juga bekerja sama dengan lembaga pemerintah, badan usaha dan kelompok
masyarakat lain untuk menyusun tujuan, perencanaan dan strategi ekonomi.
Perencanaan pengembangan pariwisata daerah atau perencanaan
pengembangan ekonomi daerah yang telah dipersiapkan di wilayah tertentu
mencerminkan kemungkinan pendekatan dalam sebuah perencanaan disusun
sebagai suatu kesepakatan bersama antara pemerintah, pengusaha dan kelompok
masyarakat lainnya. Pendekatan regional biasanya lebih efektif karena perhatian
pemerintah dapat terpusat pada perekonomian daerah dan hal tersebut juga dapat
menciptakan pengelolaan daerah yang lebih baik dan hasil kerja sama antara
pemerintah yang lebih tinggi dengan pemerintah daerah.
3. Fasilitator
Pemerintah daerah dapat mempercepat pembangunan melalui perbaikan
lingkungan didaerah. Peran ini dapat meliputi pengefisienan proses pembangunan,
perbaikan prosedur perencanaan dan penetapan peraturan. Kelompok masyarakat

Universitas Sumatera Utara

yang berbeda dapat membawa kepentingan yang berbeda dalam proses penentuan
kebijakan pembangunan ekonomi.Oleh karena itu, yang diperlukan adalah
tersedianya suatu tujuan yang jelas agar pemerintah daerah dapat terfokus dalam
memanfaatkan sumber daya dan tenaga yang dimilikinya. Adanya tujuan yang
jelas juga memberikan dasar berpijak pada penentuan program-program tambahan
yang lain.
4. Stimulator
Pemerintah daerah dapat menstimulus penciptaan dan pengembangan
usaha melalui tindakan khusus yang akan mempengaruhi perusahaan-perusahaan
untuk masuk ke daerah tersebut dan menjaga perusahaan – perusahaan yang ada
tetap berada di daerah tersebut. Berbagai macam fasilitas dapat disediakan untuk
menarik para investor untuk melakukan investasinya misalnya dengan
menyediakan bangunan-bangunan yang dapat disewa untuk menjalankan usaha
dengan potongan biaya sewa pada beberapa tahun pertama.
Dan beberapa pemerintah daerah telah melakukan beberapa langkah untuk
menarik PMA dan PMDN. Hal ini dipandang sebagai fenomena positif untuk
meningkatkan investasi daerah. Beberapa inisiatif yang dilakukan adalah dengan :
 Reformasi pelayanan investasi
Otonomi daerah dan desentralisasi yang dilaksanakan sejak 1 Januari 2001
telah memberikan peranan yang lebih besar kepada kabupaten dan kota yang
berarti bahwa pemerintah daerah harus melayani konstituennya, termasuk
investor. Salah satu kebijakan yang populer di daerah yaitu perizinan. Beberapa
pemerintah daerah telah menerapkan sistem Unit Pelayanan Terpadu (UPT) dalam
pelayanan perizinan. Dan beberapa pemerintah daerah menerapakan Sistem

Universitas Sumatera Utara

Perizinan Satu Atap (SINTAP). Dengan menciptakan layanan perizinan dan
investasi, permohonan perizinan dapat diproses di satu tempat sehingga birokrasi
menjadi lebih pendek, cepat dan efisien.
 Sistem informasi potensi investasi
Pemerintah daerah yang telah menggunakan berbagai cara dan strategi
tertentu untuk menarik PMA dan PMDN dapat melakukan dengan pameran
produk dan potensi investasi melalui internet yang berupa situs web dengan
berbagai macam informasi mengenai potensi investasi dan prosedur layanan untuk
investor.
 Peningkatan dan provisi infrastruktur fisik
Ketersedian infrastruktur pendukung dirasakan sangat penting untuk
kegiatan usaha. Memperbaiki iklim investasi dan bisnis merupakan penentu
penting dalam investasi. Pemerintah daerah harus mendorong kemajuan di
berbagai sektor untuk mempromosikan investasi di daerahnya. Untuk itu
pemerintah daerah dapat melakukan empat strategi dalam mempromosikan
daerahnya untuk menarik investasi, orang ,dan industri ke suatu daerah. Hal itu
adalah :
1.Image Marketing
Image (citra) adalah sejenis kepercayaan, ide, ekspresi yang dimiliki oleh
orang terhadap suatu daerah. Citra adalah implikasi dari begitu banyak informasi
yang berhubungan dengan suatu daerah seperti Madura dengan karapan
sapi.Untuk mengkomunikasikan citra suatu daerah dapat digunakan dengan slogan
yang merupakan pernyataan singkat yang merefleksikan visi menyeluruh tentang

Universitas Sumatera Utara

sutu daerah tersebut yang bermanfaat untuk menumbuhkan antusias, optimisme,
momentum dan ide-ide baru.
Pemasaran daerah dapat dilakukan dengan image positioning ,yaitu
menempatkan daerah dalam konteks regional, nasional dan internasional, pada
suatu aktivitas, lokasi, daya tarik tertentu dibanding dengan daerah lain yang
memiliki posisi yang lebih kuat.
2. Attraction Marketing
Atraksi merupakan alasan penting untuk seseorang dan investor datang
kesuatu daerah. Atraksi dapat di bagi menjadi sumber daya alam dan buatan
manusia. Klasifikasi tersebut di bagi menjadi dua yaitu atraksi berdasarkan lokasi
dan atraksi yang nyata karena merupakan peristiwa. Atraksi yang menjadi sumber
daya alam berdasarkan klasifikasi tempat seperti sungai, gua dan pantai dan
berdasarkan peristiwa seperti festival daerah. Dan atraksi dari buatan manusia
berdasarkan lokasi seperti monumen dan bangunan historis serta berdasarkan
peristiwa yaitu kesenian tradisional.
3. Infrastructure Marketing
Infrastruktur merupakan dasar utama dalam memasarkan daerah. Slogan
dan image – positioning tidak ada artinya tanpa diikuti oleh tersedianya prasarana
dan sarana yang mampu menarik orang dan investor yang terutama dalam
mempromosikan infrastruktur adalah:
 Aksesibilitas yaitu kemudahan untuk didatangi yang mencakup jalan,
kereta api, bandara, transportasi umum dan telekomunikasi.
 Kualitas infrastruktur yaitu seberapa jauh sumber daya modal, fisik,
dan prasarana yang mendukung aktivitas ekonomi telah tersedia.

Universitas Sumatera Utara

4. People Marketing
Strategi memasarkan daerah yang lain adalah memasarkan orang. Bentuk
pemasaran dapat dilakukan melalui orang-orang terkenal seperti pemimpin daerah
,orang-orang kompeten dan wirausaha serta sikap masyarakat yang mencerminkan
keterbukaan masyarakat lokal terhadap unsur-unsur dari luar.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan
dalam pengumpulan data atau informasi dalam memecahkan permasalahan dan
menguji hipotesa penelitian. Adapun metode penelitian yang dilakukan adalah
sebagai berikut

3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Kabupaten Dairi yang terdiri dari tiga
kecamatan yaitu Kecamatan Sidikalang, Kecamatan Sumbul, dan Kecamatan
Tigalingga. Adapun yang menjadi kriteria pemilihan

kecamatan ini adalah

memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan kecamatan
lainnya, memiliki kantor kas bank umum, dan juga kondisi infrastruktur yang
lebih baik.

3.2 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah mengamati dan menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi lambatnya pertumbuhan jaringan kantor cabang di
Kabupaten Dairi .

3.3 Populasi dan Sampel
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat yang
bertempat tinggal di Kabupaten Dairi yang berprofesi sebagai pengusaha,

Universitas Sumatera Utara

masyarakat, pejabat di instansi pemerintah dan bankir dengan jumlah sampel
sebanyak 100 orang. Dalam menentukan sampel, penulis menggunakan metode
pengambilan cluster sampling (area sampling). Teknik sampling ini dilakukan
melalui dua tahap yaitu, tahap pertama menentukan sampel kecamatan dan tahap
berikutnya menentukan jumlah sampel dari kecamatan yang telah ditentukan.
Teknik ini digunakan karena obyek penelitian yang akan diteliti atau sumber data
sangat luas. Sampel dihitung dengan menggunakan rumus Solvin (Sugyono,2005)
yaitu :
n=

N
Nd 2 + 1

Dimana :
n = jumlah sampel kecamatan
N = jumlah populasi kecamatan
d = presesi (5 %)
Dengan rumus tersebut, maka jumlah kecamatan yang menjadi sampel
dalam penelitian ini adalah :
n=

15
15(0.5) 2 + 1

n=

15
4.75

n = 3,15 = 3
Dari ketiga kecamatan tersebut, maka tahap kedua menentukan jumlah
sampel rumah tangga menurut kecamatan dengan rumus Solvin tersebut. Jadi
jumlah sampelnya adalah :
n=

N
Nd 2 + 1

Universitas Sumatera Utara

Dimana :
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
d = presesi (10%)
Maka jumlah sampel rumah tangga dalam penelitian ini adalah:
n=

103653
103653(0.1) 2 + 1

n=

103653
1037,53

n = 100
Dari 100 rumah tangga (RT) sampel, didistribusikan ke tiga kecamatan
tersebut dengan proporsional random sampling. Jumlah sampel populasi dan
sam