Pengaruh Panglima Laot Terhadap Peningkatan Pendapatan Nelayan (Studi Kasus : Nelayan Pemilik : Perahu Tanpa Motor, Perahu Motor Dan Kapal Motor Di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan)

PENGARUH PANGLIMA LAOT TERHADAP
PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN

(Studi Kasus : Nelayan Pemilik : Perahu Tanpa Motor, Perahu Motor dan
Kapal Motor di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan
Kabupaten Aceh Selatan)
SKRIPSI
OLEH :
YESSI EKA SARTYKA
040309024/PKP

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Universitas Sumatera Utara

PENGARUH PANGLIMA LAOT TERHADAP
PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN

(Studi Kasus : Nelayan Pemilik : Perahu Tanpa Motor, Perahu Motor dan
Kapal Motor di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan
Kabupaten Aceh Selatan)
OLEH :
YESSI EKA SARTYKA
040309024/PKP

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Gelar Kesarjanaan
di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui Oleh :
Komisi Pembimbing
Ketua

(Ir. H. Hasman Hasyim, MSi)
NIP. 130 936 323

Anggota

(Dr. Ir. Tavi Supriana,MS)
NIP. 131 836 671

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Universitas Sumatera Utara

RINGKASAN

YESSI EKA SARTYKA ( 040309024 ) dengan judul PENGARUH
PANGLIMA LAOT TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN
NELAYAN (Studi Kasus : Nelayan Pemilik Kapal Motor, Perahu Motor
dan Perahu Tanpa Motor di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan
Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan). Penelitian

ini dibimbing oleh

Bapak Ir. H. Hasman Hasyim, MSi dan Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS.
Metode penentuan sampel yang digunakan adalah secara simple
random sampling. Jumlah populasi nelayan pemilik di daerah penelitian
sebanyak 123 orang dan diambil sebagai sampel 30 orang nelayan pemilik.
Metode analisis yang digunakan yaitu dengan metode deskriptif, regresi
berganda dan uji t (dengan menggunakan program SPSS 13).
Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Belum terdapat perkembangan yang signifikan dari Panglima Laot
selama 3 tahun terakhir di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan
Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan, baik perkembangan secara
kualitas maupun kuantitas dari Panglima Laot tersebut.
2. Tidak ada pengaruh Panglima Laot terhadap peningkatan pendapatan
nelayan di derah penelitian.
3. Terdapat perbedaan pendapatan antara nelayan pemilik : kapal motor,
perahu motor dan perahu tanpa motor.

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tapaktuan, pada tanggal 03 Januari 1986.
Penulis merupakan anak tunggal dari Bapak Herliswan (alm.) dan Ibu
Afnita. Pendidikan yang ditempuh Penulis adalah sebagai berikut :
1. Tahun 1992 masuk Sekolah Dasar di SDN 9 Tapaktuan, tamat
tahun 1998
2. Tahun 1998 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di MTsN 1
Tapaktuan, tamat tahun 2001
3. Tahun 2001 masuk Sekolah Menengah Umum di SMUN 1
Tapaktuan, tamat tahun 2004
4. Tahun 2004 diterima di Universitas Sumatera

Utara, Fakultas

Pertanian Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi
Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, melalui jalur SPMB
5. Bulan Maret s/d April 2008 melakukan penelitian di Kelurahan
Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan
6. Tanggal 20 Juni s/d 20 Juli 2008 melaksanakan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) di Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten
Simalungun
Selama mengikuti perkuliahan Penulis juga aktif di organisasi kampus :
1. Badan Kenaziran Mushalla (BKM) Al-Mukhlisin FP USU
2. KAM RABBANI FP USU

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT.
kemurahan

dan

kemudahan

yang

diberikanNya,

Penulis

Atas
dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Salawat dan salam selalu tercurah
kapada Rasulullah saw, para sahabat dan keluarga beliau.
Ungkapan terima kasih yang tulus Penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Ir. H. Hasman Hasyim, MSi, selaku ketua komisi
pembimbing sekaligus ketua Program Studi Penyuluhan dan
Komunikasi Pertanian FP USU yang telah mencurahkan ilmunya
kepada Penulis
2. Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS, selaku anggota komisi pembimbing
yang juga telah berkenan memberikan ilmunya kepada Penulis
3. Bapak Ir. Luhut Sihombing, MP, selaku ketua Departemen
Agribisnis beserta seluruh dosen, staff dan pegawai di departemen
Sosial Ekonomi Pertanian yang telah mencurahkan ilmunya dan
bersedia membantu Penulis dalam segala urusan akademis
4. Bapak Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh
Selatan beserta seluruh staff yang telah banyak memberikan
keterangan-keterangan

dan

membantu

Penulis

dalam

mengumpulkan data-data yang dibutuhkan

Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Saiful Amri, selaku Panglima Laot Lhok Tapaktuan II, yang
telah

bersedia

memberikan

keterangan-keterangan

yang

dibutuhkan oleh Penulis
6. Seluruh nelayan sampel, yang juga telah bersedia meluangkan
waktu untuk membantu Penulis dalam melengkapi data-data yang
dibutuhkan selama penelitian
7. Ibunda tercinta, yang telah banyak berkorban (pikiran, materi,
tenaga, dukungan dan semangat yang luar biasa) dalam kehidupan
Penulis, khususnya dalam meneyelesaikan skripsi ini
8. Keluarga besar tersayang, yang juga telah banyak membantu dan
memberi dukungan.
Terima kasih juga buat sahabat-sahabat tercinta (mimi, leny, nisa,
iis, syam, bintun, dian, siti, rini, erdina, adrina, nelly) dan adik-adik
tersayang (unul, miranda, ipum, adel, lia, ariani, sitha, laras, prisni) serta
seluruh pengurus BKM Al-Mukhlisin, yang telah turut membantu dan
memberikan semangat serta dukungan kepada Penulis selama ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya,
Amin.

Medan,

2008

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN

i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR LAMPIRAN

x

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah..................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 3
1.4 Kegunaan Penelitian .................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 5
2.1 Nelayan dan Desa Pantai ............................................................ 5
2.2 Pengaruh Panglima Laot............................................................. 6
2.3 Kilas Balik Panglima Laot Pra Kemerdekaan ........................ 10
2.4 Panglima Laot pada Masa Reformasi..................................... 11
2.5 Landasan Teori ........................................................................... 12
2.6 Kerangka Pemikiran .................................................................. 14
2.7 Hipotesis Penelitian ................................................................... 17

BAB III METODE PENELITIAN .......................................................... 18
3.1 Penentuan Daerah Penelitian ................................................... 18
3.2 Metode Penarikan Sampel ........................................................ 19
3.3 Metode Pengumpulan Data...................................................... 20
3.4 Metode Analisis Data ................................................................ 20

Universitas Sumatera Utara

3.5 Definisi dan Batasan Operasional............................................ 22

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN................................... 25
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian...................................... 25
4.1.1 Keadaan Fisik dan Geografi ............................................ 25
4.1.2 Keadaan Sosisal Ekonomi ................................................ 25
4.2 Karakteristik Nelayan Sampel.................................................. 27
4.2.1 Umur ................................................................................... 27
4.2.2 Pendidikan ......................................................................... 27
4.2.3 Jumlah Tanggungan ......................................................... 28
4.2.4 Lama Melaut ...................................................................... 28
4.2.5 Luas Wilayah Tangkapan ................................................ 28
4.2.6 Jenis Pancing dan Armada............................................... 29
4.2.7 Pendapatan......................................................................... 29

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................... 31
5.1 Hasil Penelitian........................................................................... 31
5.1.1 Panglima Laot .................................................................... 31
5.1.2 Waktu dan Persiapan Penangkapan .............................. 33
5.1.3 Jarak Tangkap dan Jenis Ikan Tangkapan ..................... 33
5.1.4 Armada dan Alat-alat yang Digunakan ........................ 34
5.1.5 Penjualan Hasil Tangkapan............................................. 37
5.1.6 Diskusi Nelayan ................................................................ 38
5.2 Pembahasan ................................................................................ 39
5.2.1 Lembaga Hukom Adat Laot/Panglima Laot................ 39
5.2.2 Mekanisme Pemilihan Panglima Laot ........................... 41
5.2.3 Fungsi dan Tugas Panglima Laot ................................... 42
5.2.4 Perkembangan Panglima Laot Selama 3 (Tiga) Tahun
Terakhir .............................................................................. 44

Universitas Sumatera Utara

5.2.5 Pengaruh Panglima Loat terhadap Peningkatan
Pendapatan Nelayan......................................................... 47
5.2.6 Perbedaan Rata-rata Pendapatan Nelayan Pemilik ..... 48

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ................................................ 51
6.1 Kesimpulan ................................................................................. 51
6.2 Saran............................................................................................. 51
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No
Tabel
2.1

Judul

Halaman

Jumlah Panglima Laot di Kabupaten Aceh Selatan,

9

2.2

2006

9

3.1

Jumlah Panglima Laot di Kecamatan Tapaktuan,
2006

18

3.2

Jumlah Nelayan Pemilik dan Nelayan Buruh di

19

3.3

Kabupaten Aceh Selatan, 2006

18

Jumlah Nelayan Pemilik di Kecamatan Tapaktuan,
2006
4.1

20

Populasi dan Sampel Nelayan Pemilik di Kelurahan
Lhok

Tapaktuan

26

Keadaaan Sosial Ekonomi Penduduk Kelurahan

27

5.2

Lhok Bengkuang, 2008

40

5.3

Rekapitulasi Karakteristik Nelayan Pemilik di

50

4.2

Bengkuang,

Kecamatan

Kabupaten Aceh Selatan

Daerah Penelitian Tahun 2008
Susunan Panglima Laot
Perbedaan Rata-rata Pendapatan Nelayan Sampel

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No
Gambar
2.1

Keterangan

Halaman

Skema Kerangka Pemikiran Pengaruh Panglima
Laot terhadap Peningkatan Pendapatan Nelayan

16

5.1

Jenis Alat GPS (fishfinder)

35

5.2

Rumpon Sederhana

36

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No
Keterangan
Lampiran
1
Karakteristik Nelayan Sampel (Responden)
2

Frekuensi Pertemuan Nelayan Sampel dengan Panglima Laot

3

Pengaruh Panglima Laot terhadap Peningkatan Pendapatan
Nelayan

4

Jawaban Responden

5

Gambar Alat GPS dan Rumpon

6

Sketsa Peta Wilayah Kelurahan Lhok Bengkuang

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Letaknya yang
berada di antara dua samudera (Pasifik dan Hindia) tersebut, memungkinkan
Indonesia memiliki kesempatan untuk menggali berbagai manfaat ekonomi yang
dapat diangkut dari laut (Mulyadi, 2005).
Indonesia mempunyai potensi lestari sumber daya ikan yang dapat
ditangkap, yaitu sekitar 6,2 juta ton/tahun dan baru dimanfaatkan sebesar 40%.
Sedangkan luas lahan perairan umum di Indonesia adalah sekitar 54 juta ha, terdiri
atas: 39,4 juta ha rawa, 12 juta ha sungai, luas waduk dan danau sekitar 2,6 juta ha
(Prosiding Puslitbang Perikanan, 1993).
Pondasi ekonomi negara didukung oleh membaiknya tingkat pendapatan
nelayan (tradisional) yang sangat banyak jumlahnya, dengan membaiknya
kesejahteraan mereka, maka akan menuntaskan kemiskinan dalam masyarakat
nelayan (Abdullah, dkk., 2006).
Data-data selama ini telah menunjukkan bahwa pembangunan perikanan
telah mampu meningkatkan produksi, devisa dan tingkat konsumsi ikan
masyarakat Indonesia. Akan tetapi, pembangunan perikanan nasional masih
belum berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan, terutama nelayan
tradisional dan buruh nelayan (Kusnadi, 2004).
Penyerahan wilayah laut kepada pemerintah daerah, diyakini akan
memungkinkan terselenggaranya sistem pengelolaan dan pemanfaatan sumber

Universitas Sumatera Utara

daya yang berkeadilan. Secara historis, sejumlah daerah pesisir di Indonesia
memang menyediakan laut sebagai wilayah kekuasaan daerah setempat. Di Aceh
sejak dahulu dipraktekkan sistem Panglima Laot

untuk mengatur sistem

pemanfaatan sumber daya laut dan menyelesaikan konflik (Nasution, 2005).
Dalam UU No. 6 tahun 1996, sesungguhnya sudah dicantumkan masalah
wilayah laut, yakni dengan perluasan laut sejauh 12 mil laut (pasal 3 dan pasal
10). Secara spesifik, ditentukan bahwa dalam wilayah laut tersebut, pemerintah
daerah memiliki kewenangan yang mencakup : eksplorasi, eksploitasi dan
konservasi sumber daya laut, pengaturan administratif, tata ruang, penegakan
hukum serta bantuan penegakan keamanan negara (Nasution, 2005).
Di wilayah perairan laut Aceh, terdapat sejumlah aturan penangkapan ikan
dan bagi hasil ikan. Aturan tersebut merupakan hukum adat bagi nelayan yang
melakaukan penangkapan ikan di daerah operasinya. Untuk mendukung tetap
tegaknya hukum adat laot (sebagai pengisi kekosongan hukum positif nasional)
dalam bidang keperdataan laut, maka keikutsertaan pemerintah sangat diperlukan
untuk melindungi Panglima Laot pada saat menetapkan sanksi-sanksi adat
(Abdullah, dkk., 2006).
Di Kabupaten Aceh Selatan, Panglima Laot mempunyai peran yang cukup
berarti, yaitu sebagai mitra kerja Dinas Kelautan dan Perikanan. Dinas Kelautan
dan Perikanan terus berupaya agar kerja sama itu dapat terus dipertahankan dalam
mengambil suatu kebijakan daerah, yaitu tentang penangkapan ikan serta masalah
sosial ekonomi nelayan (Dzumairi, 2006).

Universitas Sumatera Utara

Untuk melihat sampai sejauh mana pengaruh Panglima Laot terhadap
peningkatan pendapatan nelayan di daerah penelitian, maka dapat dirumuskan
suatu identifikasi masalah sebagai berikut.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan
beberapa masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan Panglima Laot selama 3 tahun terakhir di daerah
penelitian?
2. Bagaimana pengaruh Panglima Laot terhadap peningkatan pendapatan nelayan
di daerah penelitian?
3. Bagaiman perbedaan pendapatan nelayan pemilik : perahu tanpa motor,
perahu motor dan kapal motor di daerah penelitian?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Menganalisis perkembangan Panglima Laot selama 3 tahun terakhir di daerah
penelitian
2. Menganalisis pengaruh Panglima Laot terhadap peningkatan pendapatan
nelayan di daerah penelitian
3. Menganalisis perbedaan pendapatan nelayan pemilik : perahu tanpa motor,
perahu motor dan kapal motor di daerah penelitian

Universitas Sumatera Utara

1.4 Kegunaan Penelitian
1. Sebagai bahan acuan bagi Panglima Laot dan nelayan untuk meningkatkan
produktivitas dan pendapatan
2. Sebagai bahan masukan untuk membuat kebijakan bagi Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Aceh Selatan
3. Sebagai

bahan

referensi/sumber

informasi

bagi

pihak-pihak

yang

membutuhkan, baik pihak akademis maupun nonakademis

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nelayan dan Desa Pantai
Pembangunan masyarakat nelayan dan desa pantai tidak bisa lepas dari
pembangunan masyarakat desa pada umumnya. Strategi pada pembangunan
masyarakat desa harus diterapkan juga pada pembangunan masyarakat pantai,
yaitu membantu masyarakat untuk dapat berkembang atas kemampuan dan
kekuatan sendiri, dengan mendasarkan pada pengembangan potensi alam
lingkungan

desa.

Kebijakan

yang

digariskan

di

dalam

melaksanakan

pembangunan masyarakat desa meliputi beberapa hal, salah satu di antaranya
adalah dengan meningkatkan dan memanfaatkan peranan lembaga-lembaga
masyarakat yang berfungsi sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam
pembangunan (Mulyadi, 2005).
Data-data selama ini telah menunjukkan bahwa pembangunan perikanan
telah mampu meningkatkan produksi, devisa dan tingkat konsumsi ikan
masyarakat Indonesia. Akan tetapi, pembangunan perikanan nasional masih
belum berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan, terutama nelayan
tradisional dan buruh nelayan (Kusnadi, 2004).
Charles (2001) telah membagi kelompok nelayan dalam empat kelompok,
yaitu :
1. Nelayan Subsisten, yaitu nelayan yang menangkap ikan hanya untuk
memenuhi kebutuhan sendiri

Universitas Sumatera Utara

2. Nelayan Asli, yaitu nelayan yang sedikit banyak memiliki karakter yang
sama dengan kelompok pertama, namun juga memiliki hak untuk
melakukan aktivitas secara komersial walaupun dalam skala yang sangat
kecil
3. Nelayan Rekreasi, yaitu orang-orang yang secara prinsip melakukan
kegiatan penangkapan hanya sekedar untuk kesenangan/berolahraga
4. Nelayan Komersial, yaitu mereka yang menangkap ikan untuk tujuan
komersial/dipasarkan baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor,
kelompok nelayan ini juga dapat dibagi dua ; nelayan skala kecil dan skala
besar

2.2 Pengaruh Panglima Laot
Panglima Laot merupakan suatu struktur adat di kalangan masyarakat
nelayan, di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Panglima Laot ini bertugas
memimpin persekutuan adat pengelola Hukum Adat Laot, mengatur tata cara
penangkapan ikan di laut, menetapkan waktu penangkapan ikan di laut,
melaksanakan ketentuan-ketentuan adat dan mengelola upacara-upacara adat
kenelayanan, menyelesaikan perselisihan antarnelayan serta menjadi penghubung
antara nelayan dengan penguasa
(Wikipdia Indonesia, 2006).
Hukum Adat Laot dan adat istiadat merupakan hukum-hukum adat yang
diperlukan oleh masyarakat nelayan, yaitu untuk menjaga ketertiban dalam
penangkapan ikan, menyelesaikan persengketaan antarnelayan serta mengatur
kehidupan masyarakat nelayan di pantai (Lembaga Hukum Adat Laot, 2006).

Universitas Sumatera Utara

Sengketa diselesaikan Panglima Laot di tingkat desa (lhok), bila belum
selesai maka dibawa di tingkat kabupaten. Berbagai studi seperti Untung
Wahyono dkk (1992) dan Basuki dkk (1996) sebagaimana dikutip (Satria, 2005)
menggambarkan bahwa ada aturan aturan seperti :
1. Larangan pemasangan alat tangkap semi atau permanen di wilayah yang
dijadikan alur navigasi
2. Semua nelayan wajib mengikuti sistem bagi hasil yang telah disepakati
3. Orang dari daerah luar bisa melakukan kegiatan penangkapan atas izin
Panglima Laot, termasuk verifikasi jenis dan metoda penangkapan ikan
yang akan dipakai
Ada juga aturan mekanisme hubungan manusia dengan alam, berupa larangan
pengeboman ikan, penebangan vegetasi pantai yang merusak ekosistem pantai
serta pelarangan untuk melaut pada hari-hari tertentu.
Hal ini juga mendorong pemerintah untuk melibatkan masyarakat adat
serta hukum-hukumnya dalam mengelola sumber daya perikanan. Seperti yang
tetuang dalam pasal 6 ayat 2 UU No. 31 tahun 2004 tentang perikanan (sebagai
pengganti UU No. 9 tahun 1985) yang berbunyi pengelolaan perikanan untuk
kepentingan

penangkapan

ikan

dan

pembudidayaan

ikan

harus

mempertimbangkan adat/kearifan lokal serta memperhatikan peran serta
masyarakat (Dzumairi, 2006).
Selanjutnya dalam kerangka hukum nasional, setiap nelayan harus
mengajukan izin resmi berlayar dan menangkap ikan. Izin ini dikeluarkan oleh
Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dengan rekomendasi dari Panglima Laot.
Walaupun demikian, nelayan yang ingin menangkap ikan di wilayah lhok tertentu,

Universitas Sumatera Utara

tetap harus mengikuti aturan-aturan hukum adat laut yang menaungi wilayah
tersebut (Wikipdia Indonesia, 2006).
Dalam suatu wilayah lhok, di mana nelayan berpangkalan dan masyarakat
nelayan berdomisili dipimpin oleh seorang Panglima Laot. Wilayah lhok yang
dimaksud adalah suatu wilayah di pesisir pantai, di mana nelayan berdomisili dan
melakukan kegiatan usaha penangkapan ikan. Wilayah tersebut dapat berorientasi
untuk satu desa pantai, beberapa desa (satu pemukiman), kecamatan atau satu
kepulauan (Lembaga Hukum Adat Laot, 2006).
Mengenai susunan Panglima Laot, dapat dibagi ke dalam tiga tingkatan,
yakni Panglima Laot Propinsi, Panglima Laot Kabupaten/Kota dan Panglima Laot
Lhok. Adapun jumlah Panglima Laot di Kabupaten Aceh Selatan dapat dilihat
pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Jumlah Panglima Laot di Kabupaten Aceh Selatan, 2006
NO

KECAMATAN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

JUMLAH PANGLIMA LAOT (ORG)

Labuhanhaji Barat
Labuhan Haji
Labuhanhaji Timur
Meukek
Sawang
Samadua
Tapaktuan
Pasie Raja
Kluet Utara
Kluet Selatan
Bakongan
Bakongan Timur
Trumon
TOTAL
Sumber Data : Dinas Kalautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Selatan, 2006

1
1
1
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
20

Sedangkan jumlah Panglima Laot di Kecamatan Tapaktuan dapat dilihat
pada Tabel 2.2

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2 Jumlah Panglima Laot di Kecamatan Tapaktuan, 2006
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9

KELURAHAN
JUMLAH PANGLIMA LAOT (ORG)
Gunung Kerambil
Air Berudang
1
Air Pinang
Lhok Rukam
Panjupian
Batu Itam
Lhok Keutapang
1
Lhok Bengkuang
Pasar Tapaktuan
TOTAL
2
Sumber Data : Dinas Kalautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Selatan, 2006

Di laut ada sebuah institusi lokal bernama Panglima Laot, yakni orang
yang memimpin adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di bidang
penangkapan ikan di laut, termasuk mengatur tempat/areal penangkapan ikan, dan
penyelesaian sengketa. Institusi Panglima Laot merupakan bagian dari produk
hukum yang dikeluarkan kesultanan di Aceh masa lalu. Tentu, Panglima Laot
dulu berbeda dengan saat ini, mengingat adanya perubahan sistem politik maupun
modernisasi perikanan (Satria, 2005).

2.3 Kilas Balik Panglima Laot Pra Kemerdekaan
Panglima Laot adalah lembaga pemimpin adat nelayan/pesisir, yang telah
ada sejak zaman kerajaan samudera pasai abad XIV. Pada masa itu, Panglima
Laot adalah perpanjangan tangan sultan dalam rangka memungut cukai dari kapalkapal dagang di pelabuhan, serta memobilisasi rakyat dalam peperangan. Namun,
seiring dengan perubahan zaman peran ini terus mengalami pergeseran.
Pergeseran peran ini terutama terjadi pada zaman kolonial Belanda, seperti yang
dijelaskan oleh Snouck Hurgronje dalam bukunya Aceh di Mata Kolonial
bahwa Panglima Laot tidak lagi merupakan perpanjangan tangan sultan, tetapi

Universitas Sumatera Utara

lebih merupakan pemimpin adat kaum nelayan. Panglima Laot mengatur segala
kegiatan nelayan dan kehidupan sosial yang terkait di sebuah wilayah. Saat ini di
seluruh NAD tercatat ada 147 lhok, masing-masing lhok dipimpin oleh Panglima
Laot Lhok. Seiring dengan kebutuhan dan makin luasnya jangkauan wilayah, para
panglima kemudian membentuk organisasi di tingkat kecamatan, kabupaten dan
propinsi (Lembaga Hukum Adat Laot, 2006).
Secara politik, dahulu Panglima Laot adalah kuasa raja, namun kini
mereka menjadi representasi masyarakat sipil yang independen, karena mereka
dipilih di kalangan nakhoda dan pemuka masyarakat. Pada masa itu, Panglima
Laot berfungsi untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya di tingkat desa, kini
cakupannya lebih luas, seiring dengan perubahan karakteristik perikanan dari
subsisten (tanpa motor) ke komersial (kapal motor) (Satria, 2005).

2.4 Panglima Laot pada Masa Reformasi
Pembangunan yang dilakukan pada masa orde baru (yang mengabaikan
hak ulayat masyarakat adat setempat), telah menimbulkan bencana terhadap
kelestarian sumber daya perairan di Indonesia. Sehingga sering menimbulkan
konflik antarnelayan. Hal ini tidak hanya terjadi pada Lembaga Adat Laot yang
berhubungan dengan nelayan, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya alam
lainnya. Pada akhirnya, pemerintah dan pemerhati masalah sosial mengakui
bahwa adat istiadat yang selama ini dijaga oleh masyarakat, ternyata lebih handal
dalam

menjaga kelestarian sumber daya

alam

serta menjaga

konflik

antarmasyarakat (Dzumairi, 2006).

Universitas Sumatera Utara

Kelembagaan pengelolaan bersama secara adaptif merupakan suatu badan
organisasi pengelolaan yang sangat penting. Tanpa adanya kelembagaan tersebut,
upaya untuk melestarikan sumber daya ikan dan usaha penangkapan ikan di
perairan yang bersangkutan mustahil akan berhasil dengan baik. Penegakan
hukum akan jauh lebih mudah dilaksanakan apabila pengelolaan sumber daya
perikanan tersebut di lakukan bersama-sama dengan nelayan, masyarakat
setempat, serta pelaku perikanan lainnya ( Hardjamulia, 2001 ).
Pada masyarakat nelayan/pesisir, pola adaptasinya berbeda dengan
masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan atau daratan. Bagi masyarakat
yang bekerja di tengah-tengah lautan, lingkungan fisik laut sangatlah mengandung
banyak bahaya dan sarat dengan resiko. Karena pekerjaan nelayan adalah
memburu ikan, maka hasilnya tidak dapat ditentukan kepastiannya, semuanya
hampir serba spekulatif. Masalah resiko dan ketidakpastian terjadi karena laut
adalah wilayah yang dianggap bebas untuk di eksploitasi (Acheson, 1981).

2.5 Landasan Teori
Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat

yang kehidupannya

tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan
ataupun budidaya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah
lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatan (Imron, 2003).
Upaya peningkatan pendapatan nelayan tidak terlepas dari pola
penguasaan unit penangkapan dan pola bagi hasil dalam kegiatan usaha
penangkapan ikan, status penguasaan alat seperti perahu biasanya menentukan

Universitas Sumatera Utara

besarnya bagi hasil yang diterima, baik bagi nelayan maupun oleh pemilik perahu
dan alat tangkap (Silaen, 1994).
Usahatani (bidang perikanan) dalam operasinya bertujuan untuk
memperoleh pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan serta dana
untuk kegiatan luar usahatani. Untuk memperoleh tingkat pendapatan yang
diinginkan, maka seorang petani/nelayan seharusnya mempertimbangkan harga
jual dari produksinya. Melakukan perhitungan terhadap semua unsur biaya dan
selanjutnya menentukan harga pokok hasil usahataninya (Fedoli, 1998).
Berdasarkan teori ekonomi makro, usaha nelayan pada prinsipnya dapat
digolongkan ke dalam bentuk perusahaan karena untuk memproduksi secara
umum diperlukan modal, tenaga kerja, teknologi dan kekayaan alam. Penggunaan
teknologi yang efisien dipengaruhi oleh keterampilan/pendidikan yang dimiliki
(Ramli, 1988).
Teknologi canggih dapat kita manfaatkan untuk menunjang aktifitas kita
sehari-hari.

GPS

(Global

Positioning

System),

sebagai

alat

yang

menginformasikan posisi kita di bumi ini, banyak aplikasi yang diciptakan tidak
hanya sekedar untuk mengetahui dimana saya , namun telah beranjak menuju
suatu sistem yang mengeksploitasi informasi itu untuk kemudahan penggunanya,
dalam hal ini seorang nelayan dapat menentukan posisi mereka dan dapat secara
mudah mengetahui keberadaan ikan di laut (Kresnamurti, 2008).
Pendidikan yang minim mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam
memanfaatkan sumber-sumber alam yang tersedia. Akibatnya pada setiap usahausaha penduduk hanya mampu menghasilkan pendapatan yang rendah
(Kartasapoetra, 1994).

Universitas Sumatera Utara

2.6 Kerangka Pemikiran
Hakikatnya, Panglima Laot (PL) merupakan individu yang terpilih sebagai
pemimpin adat dalam masyarakat nelayan di Nanggroe Aceh Darussalam.
Seorang Panglima Laot yang telah terpilih dengan beberapa ketentuan tersebut
diharapkan mampu memelihara, melaksanakan dan menyebarkan pengetahuan
dari hukum adat yang berlaku di laut pada wilayah kekuasaannya (yang biasa
disebut lhok).
Secara bersamaan, Panglima Laot bekerja dalam bidang perikanan laut.
Sebab, keberadaan Panglima Laot di lhok tidak dapat dipisahkan dari aktivitas
nelayan yang ada di wilayah tersebut. Panglima Laot sebagai lembaga adat laut
mempunyai kedudukan penting dalam mengatur hukum adat laut di wilayah
tangkapan nelayan. (Lembaga Hukum Adat Laot, 2006) menyatakan bahwa
Panglima Laot Lhok sebagai pemilik hak ulayat laut ini, mempunyai kewenangan
adat untuk : mengatur jalur-jalur penangkapan ikan, mengatur bahan dan alat
penangkapan ikan, mengatur waktu dan lokasi yang terlarang bagi kegiatan
penangkapan ikan, mengatur tingkat pemanfaatan sumber daya perikanan dan
menyelesaikan sengketa secara adat di wilayah hak ulayat laut.
Sasaran operasi Panglima Laot Lhok adalah seluruh nelayan yang ada di
wilayah lhok, yaitu nelayan pemilik yang menggunakan armada : Perahu Tanpa
Motor (PTM), Perahu Motor (PM) dan Kapal Motor (KM).
Pengaruh yang diberikan oleh Panglima Laot terhadap ketiga kategori
nelayan pemilik ini harus dilakukan secara adil agar tidak terjadi konflik, dan
pengaruh-pengaruh tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan para
nelayan di daerah penelitian

Universitas Sumatera Utara

Secara singkat, skema kerangka pemikiran mengenai pengaruh Panglima
Laot terhadap peningkatan pendapatan nelayan dapat dilihat pada Gambar 2.1

NPPTM

Panglima Laot

NPPM

Pendapatan

NPKM

Keterangan :
NPPTM
NPPM

NPKM

: Nelayan Pemilik Perahu Tanpa Motor

: Nelayan Pemilik Perahu Motor

: Nelayan Pemilik Kapal Motor
: Pengaruh

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Pengaruh Panglima Laot terhadap
Peningkatan Pendapatan Nelayan

Universitas Sumatera Utara

2.7 Hipotesis Penelitian
1. Terdapat perkembangan Panglima Laot selama 3 tahun terakhir di daerah
penelitian
2. Terdapat pengaruh Panglima Laot terhadap peningkatan pendapatan nelayan
di daerah penelitian
3. Untuk tujuan 3 :
a. Pendapatan rata-rata nelayan pemilik kapal motor lebih besar dari pada
pendapatan rata-rata nelayan pemilik perahu motor
b. Pendapatan rata-rata nelayan pemilik kapal motor lebih besar dari pada
pendapatan rata-rata nelayan pemilik perahu tanpa motor
c. Pendapatan rata-rata nelayan pemilik perahu motor lebih besar dari pada
pendapatan rata-rata nelayan pemilik perahu tanpa motor

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian ditentukan secara purposive sampling, maksudnya
daerah dipilih berdasarkan tujuan tertentu yang dipandang sesuai dengan tujuan
penelitian. Data sekunder yang diperoleh menunjukkan penelitian dilakukan di
Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan.
Alasan penentuan daerah ini adalah karena Kelurahan Lhok Bengkuang,
Kecamatan Tapaktuan

merupakan daerah

yang mayoritas penduduknya

bermatapencaharian sebagai nelayan di Kabupaten Aceh Selatan.
Tabel 3.1 Jumlah Nelayan Pemilik dan Nelayan Buruh di Kabupaten Aceh
Selatan, 2006
NO

KECAMATAN

NELAYAN

Pemilik (Org)
Buruh (Org)
Labuhanhaji Barat
94
243
Labuhan Haji
141
591
Labuhanhaji Timur
73
137
Meukek
225
817
Sawang
162
583
Samadua
103
180
Tapaktuan
435
818
Pasie Raja
104
200
Kluet Utara
94
231
Kluet Selatan
126
185
Bakongan
111
435
Bakongan Timur
207
409
Trumon
144
325
TOTAL
2.019
5.154
Sumber Data : Dinas Kalautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Selatan, 2006
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

TOTAL
(ORG)

337
732
210
1042
745
283
1253
304
325
311
546
616
469
7.173

Adapun jumlah nelayan pemilik yang ada di Kecamatan Tapaktuan pada
taun 2006 dapat dilihat pada tabel 3.2

Universitas Sumatera Utara

Tabel 3.2 Jumlah Nelayan Pemilik di Kecamatan Tapaktuan, 2006
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9

KELURAHAN
JUMLAH NELAYAN PEMILIK (ORG)
Gunung Kerambil
Air Berudang
Air Pinang
Lhok Rukam
Panjupian
Batu Itam
Lhok Keutapang
Lhok Bengkuang
Pasar Tapaktuan
TOTAL
Sumber Data : Dinas Kalautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Selatan, 2006

12
47
10
72
18
69
32
123
52
435

3.2 Metode Penarikan Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat nelayan
pemilik yang ada di Kelurahan Lhok Bengkuang Kecamatan Tapaktuan,
Kabupaten Aceh Selatan. Agar populasi nelayan pemilik tetap terwakili oleh
sampel, maka nelayan pemilik di bagi menjadi beberapa kelompok/kategori
berdasarkan tingkat motorisasinya.
Penarikan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling
(penarikan sampel acak sederhana) dari setiap kategori, di mana setiap nelayan
pemilik mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Dari
123 populasi nelayan pemilik di Kelurahan Lhok Bengkuang Kecamatan
Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan diambil 30 sampel nelayan pemilik, yaitu 10
nelayan pemilik perahu tanpa motor, 10 nelayan pemilik perahu motor dan 10
nelayan pemilik kapal motor. Agar lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 3.3

Universitas Sumatera Utara

Tabel 3.3 Populasi dan Sampel Nelayan Pemilik di Kelurahan Lhok
Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan,
2006
NO

NELAYAN PEMILIK

1 Perahu Tanpa Motor
2 Perahu Motor
3 Kapal Motor
TOTAL

POPULASI

Sumber Data : Diolah

35
17
71
123

SAMPEL

10
10
10
30

Apabila subjeknya (populasinya) kurang dari 100, lebih baik diambil
semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Namun demikian,
sampel yang dikehendaki juga dapat diambil secara sembarang (acak) saja. Jika
jumlah populasinya besar (asumsi >100) maka sampel dapat diambil antara 1015% atau 20-25% atau lebih (Arikunto, 2005).

3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh dari nelayan responden melalui wawancara
dengan menggunakan quisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data
sekunder diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Selatan
dan dari instansi terkait lainnya.

3.4 Metode Analisis Data
Data yang diperoleh terlebih dahulu ditabulasikan, kemudian dianalisis
dengan alat uji yang sesuai dengan hipotesis.
- Hipotesis 1 dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif
- Hipotesis 2 dianalisis dengan menggunakan alat uji regresi berganda, yang
dapat dinyatakan dalam bentuk :

Universitas Sumatera Utara

Y = a + b1X1 + b2X2
Keterangan :
Y = Pendapatan nelayan
X1 = Frekuensi pertemuan Panglima Laot dengan nelayan/tahun
X2 = Frekuensi pelatihan/tahun
n = Banyak sampel
(Wibisono, 2005).
Dengan Ketentuan :
H0 :

Tidak terdapat pengaruh Panglima Laot terhadap peningkatan pendapatan
nelayan

H1 :

Terdapat pengaruh Panglima Laot terhadap peningkatan pendapatan
nelayan

Jika Fhitung Ftabel maka terima H0, tolak H1
Jika Fhitung > Ftabel maka tolak H0, terima H1
Untuk menguji hipotesis regresi berganda dapat juga digunakan metode
statistik penelitian dengan program SPSS 13.
- Untuk menguji hipotesis 3 : a, b dan c maka digunakan analisis Compare
Means One-Way ANOVA dari program SPSS 13
(Trihendradi, 2005).
Dengan ketentuan :
H0 :

Tidak terdapat perbedaan rata-rata pendapatan dari ketiga nelayan sampel

H1 :

Terdapat perbedaan rata-rata pendapatan dari ketiga nelayan sampel

Jika Fhitung Ftabel maka terima H0, tolak H1
Jika Fhitung > Ftabel maka tolak H0, terima H1

Universitas Sumatera Utara

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

Definisi
Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam menafsiran
penelitian ini, maka perlu dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut :
1. Panglima Laot merupakan suatu struktur adat di kalangan masyarakat nelayan
di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang bertugas memimpin
persekutuan adat pengelola Lembaga Hukum Adat Laot
2. Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi
penangkapan ikan dengan tujuan sebagian/seluruh hasilnya dijual
3. Nelayan pemilik adalah nelayan yang memiliki bahan dan alat untuk
menangkap ikan, seperti alat pancing (pukat, jaring) dan armada (perahu tanpa
motor, perahu motor, kapal motor)
4. Nelayan Pemilik Perahu Tanpa Motor (NPPTM) adalah nelayan pemilik yang
menggunakan/mengoperasikan armada perahu tanpa motor untuk menangkap
ikan (termasuk nelayan tradisional), dengan batas wilayah tangkapannya
adalah sejauh 0-3 mil
5. Nelayan Pemilik Perahu Motor (NPPM) adalah

nelayan pemilik yang

menggunakan/mengoperasikan armada perahu motor untuk menangkap ikan
(termasuk nelayan umum), dengan batas wilayah tangkapannya adalah sejauh
3-6 mil
6. Nelayan Pemilik Kapal Motor (NPKM) adalah

nelayan pemilik yang

menggunakan/mengoperasikan armada kapal motor untuk menangkap ikan

Universitas Sumatera Utara

(termasuk nelayan modern), dengan batas wilayah tangkapannya adalah sejauh
6 mil ke atas
7. Frekuensi pertemuan (X1) adalah banyaknya pertemuan yang dilakukan oleh
nelayan dengan Panglima Laot di balai pertemuan, dan dapat dihitung/tahun
8. Frekuensi pelatihan (X2) adalah banyaknya kegiatan pelatihan yang
dilaksanakan Panglima Laot di mana sasarannya adalah para nelayan, dan
dapat dihitung/tahun
9. Pendapatan nelayan (Y) adalah penerimaan yang diperoleh nelayan atas hasil
penjualan tangkapan mereka dalam bentuk rupiah

Batasan Operasional
1. Daerah penelitian adalah di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan
Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan
2. Waktu penelitian (pra-survey) dilaksanakan pada Desember 2007
3. Nelayan sampel yang akan diteliti adalah nelayan pemilik yang menggunakan
armada : perahu tanpa motor, perahu motor dan kapal motor dan masingmasing sampel berjumlah 10 orang

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian
4.1.1 Keadaan Fisik dan Geografi
Penelitian dilakukan di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan
Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan. Luas Kelurahan Lhok Bengkuang adalah 422
ha2. Kelurahan Lhok Bengkuang terdiri dari 7 lingkungan, yaitu; Hilir, Gambir,
Hulu, Gunung Durian, Sebrang, Ujung Pasir dan Batu Merah. Adapun batas-batas
wilayah Kelurahan Lhok Bengkuang adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Bukit Barisan
Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia
Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Batu Itam
Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Pasar Tapaktuan

4.1.2 Keadaan Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi penduduk di Kelurahan Lhok Bengkuang pada
tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 4.1

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.1 Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk Kelurahan Lhok Bengkuang,
2008
NO

KETERANGAN

JUMLAH (JIWA)

1.
2.

Jumlah Penduduk
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
a. Laki-laki
b. Perempuan

3.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama yang Dianut
a. Islam
b. Kristen
c. Hindu
d. Budha

4.

5.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan
a. Buta Huruf
b. Tidak Tamat SD
c. Tamat SD/Sederajat
d. Tamat SLTP/Sederajat
e. Tamat SLTA/Sederajat
f. Tamat D1
g. Tamat D2
h. Tamat D3
i. Tamat S1
j. Tamat S2
k. Tamat S3
Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
a. Buruh Tani
b. Petani
c. Nelayan
d. PNS/Pegawai Pemerintahan
e. Swasta/Pengusaha/Pedagang
f. Penjahit
g. Montir
h. Supir
i. Kontraktor
j. Tukang Kayu
k. Tukang Batu

Sumber : Kantor Kelurahan Lhok Bengkuang, 2008

4.768
2.330
2.438
4.600
168
10
75
1.361
637
499
3
16
115
15
5
75
200
200
589
100
20
15
20
4
100
100

Universitas Sumatera Utara

4.2 Karakteristik Nelayan Sampel
Nelayan yang dijadikan sebagai sampel di Kelurahan Lhok Bengkuang
adalah nelayan pemilik , yang memiliki armada : kapal motor, perahu motor dan
perahu tanpa motor. Masing-masing sampel berjumlah 10 (sepuluh) orang.
Sehingga secara keseluruhan sampelnya adalah 30 orang.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Karakteristik Nelayan Pemilik di Daerah Penelitian
Tahun 2008
Uraian

Umur

Pendidikan

Jumlah tanggungan

Satuan
Tahun
Tahun
Orang

Rataan

47.73
7.90

3.43

Range
29-64
1-12
1-8

Lama Melaut

Tahun

22.23

4-40

Jenis Pancing

Unit

1.23

1-3

Luas Wilayah Tangkapan
Jenis Armada
Pendapatan

Sumber Data : Diolah

Mil

Unit

Rupiah

4.23
1.00

1,862,000

1-6
1-3

180,000-6jt

4.2.1 Umur

Dilihat dari tingkat umur, rata-rata umur nelayan sampel adalah 47.73
tahun dengan range 29-64 tahun. Usia ini masih terbilang produktif, sebab para
nelayan masih kuat fisiknya dalam mengarungi wilayah tangkapan mereka.
4.2.2 Pendidikan
Karakteristik terpenting yang mempengaruhi pengambilan keputusan
masyarakat nelayan sampel adalah tingkat pendidikan. Pendidikan yang minim
mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam memanfaatkan sumber-sumber
alam yang tersedia. Nelayan sampel memiliki pendidikan formal yang relatif
rendah, yakni hanya sebatas tingkat dasar. Rata-rata para nelayan sampel
mendapatkan pendidikan formal selama 7.9 tahun dengan range 1-12 Hal ini

Universitas Sumatera Utara

memberi pemahaman kepada kita bahwa kondisi tersebut tercipta oleh berbagai
faktor, diantaranya adalah faktor ekonomi keluarga dan faktor kemauan dari
dalam diri nelayan yang bersangkutan.
4.2.3 Jumlah Tanggungan
Sebagian besar nelayan sampel tidak mempraktekan program Keluarga
Berencana (KB). Sebab, rata-rata masyarakat nelayan memiliki jumlah
tanggungan lebih dari 3 orang. Akibatnya, penghasilan yang mereka peroleh dari
aktivitas menangkap ikan terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga
mereka sehari-hari.
4.2.4 Lama Melaut
Lamanya melautpun juga relatif lama, rata-rata selama 22.23 tahun,
dengan range 4-40 tahun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengetahuan teknis
nelayan sampel di lapangan lebih teruji dan terbukti.
4.2.5 Luas Wilayah Tangkapan
Untuk lokasi yang boleh dilalui adalah berdasarkan jalur-jalur yang sudah
ditetapkan :
a. Untuk jalur penangkapan 0-3 mil dikuasai oleh nelayan tradisional (nelayan
pengguna perahu tanpa motor)
b. Untuk jalur penangkapan 3-6 mil dikuasai oleh nelayan umum (nelayan
pengguna perahu motor)
c. Untuk jalur penangkapan 6 mil ke atas dikuasai oleh nelayan modern
(nelayan pengguna kapal motor)

Universitas Sumatera Utara

4.2.6 Jenis Pancing dan Armada
Adapun jenis pancing yang biasa digunakan oleh para nelayan adalah mata
pancing, jaring dan timah. Sedangkan armada yang dipakai untuk mencari ikan di
laut ada tiga kategori armada laut yaitu Perahu Tanpa Motor, Perahu Motor dan
Kapal Motor.
4.2.7 Pendapatan
Pendapatan rata-rata nelayan sampel pemilik perahu tanpa motor setiap
bulannya diperkirakan sebesar Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 400.000. Dengan
catatan, nelayan pemilik pengguna perahu tanpa motor menangkap ikan secara
sendiri/tidak berkelompok, dan mereka berlayar tidak jauh dari tempat tinggal,
hanya sejauh 1-2 mil laut dan dalam jangka waktu setengah atau satu hari saja,
kemudian pulang ke rumah (tidak sampai bermalam di laut).
Pendapatan rata-rata nelayan sampel pemilik perahu motor setiap bulannya
diperkirakan berkisar antara Rp. 1.000.000 sampai dengan Rp.4.000.000. Dengan
catatan, nelayan yang menggunakan perahu motor terdiri dari 3 orang nelayan dan
mereka juga secara berkelompok berlayar sejauh 3-6 mil laut dalam jangka waktu
3-5 hari di laut, kemudian baru kembali ke rumah.
Sedangkan pendapatan rata-rata nelayan sampel pemilik kapal motor
setiap bulannya diperkirakan berkisar antara Rp. 2.000.000 sampai dengan
Rp.6.000.000. Dengan catatan, nelayan yang menggunakan kapal motor terdiri
dari 3 orang nelayan dan mereka secara berkelompok berlayar sejauh 6 mil laut
dalam jangka waktu lima hari atau bahkan satu minggu di laut, kemudian baru
kembali ke rumah.

Universitas Sumatera Utara

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa masyarakat yang bekerja di
tengah-tengah lautan sangatlah mengandung banyak bahaya dan sarat denga
resiko. Karena pekerjaaan nelayan adalah memburu ikan, maka hasilnya tidak
dapat ditentukan kepastiannya, semuanya hampir serba spekulatif (bersifat
untung-untungan).
5.1.1 Panglima Laot
Panglima Laot juga merupakan seorang nelayan yang melakukan aktivitas
menangkap ikan, lalu menjualnya. Kegiatan yang dilakukannya tidak ada beda
dengan masyarakat nelayan lainnya. Karenanya, tidak menutup kemungkinan
hasil yang diperolehnya lebih sedikit ataupun lebih banyak dibandingkan dengan
nelayan lainnya. Hanya saja Panglima Laot memiliki posisi dan kedudukan yang
lebih tinggi di tengah-tengah masyarakat nelayan, karena dia diberikan
kepercayaan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mengatur hukum adat laut
di wilayah tangkapan nelayan.
Panglima Laot di Kelurahan Lhok Bengkuang hanya berjumlah

satu

orang, bernama Saiful Amri. Bapak Saiful Amri merupakan seorang Panglima
Laot yang diberi kewenangan untuk mengatur hukum adat laut di wilayah Lhok
Tapaktuan II sejak tahun 1998. Lhok Tapaktuan II terdiri dari 5 (lima) kelurahan :
1. Kelurahan Air Pinang
2. Kelurahan Lhok Rukam
3. Kelurahan Panjupian

Universitas Sumatera Utara

4. Kelurahan Batu Itam
5. Kelurahan Lhok Bengkuang
Sepanjang Panglima Laot ini masih ada/masih berkuasa, maka segala apa
yang terjadi di wilayah Lhok Tapaktuan II akan menjadi tanggung jawabnya.
Apabila terjadi perselisihan antarnelayan, maka Panglima Laot bertanggung jawab
menyelesaikan/mendamaikannya.
Aktivitas Panglima Laot di setiap kelurahan berbeda-beda. Hal ini
tergantung pada beberapa keadaan, diantaranya adalah:
1. Keadaan daerah di mana Panglima Laot bertugas
2. Keadaan nelayan yang ada di daerah tersebut, dapat dilihat dari kedekatan
emosional antarnelayan dan antara nelayan dengan Panglima Laot.
Khususnya di Kelurahan Lhok Bengkuang, Panglima Laot wajib
melakukan pengawasan terhadap kegiatan nelayan, baik di laut maupun di Tempat
Pelelangan Ikan (TPI). Walaupun demikian, Panglima Laot lebih sering atau
bahkan melakukan pengawasan/kontrol di Tempat Pelelangan Ikan dari pada di
tengah laut, sebab hal tersebut cukup sulit dilakukan.
Kemudian, segala aktivitas yang ada di lapangan/Tempat Pelelangan Ikan
akan dilaporkan oleh Panglima Laot ke Dinas Kelautan dan Perikanan, sesuai
dengan fakta dan keadaan yang sesungguhnya.
5.1.2 Waktu dan Persiapan Penangkapan
Pada umumnya, para nelayan melaut pada hari yang tidak dapat
ditentukan. Ada yang setengah hari, satu hari, bahkan ada yang berhari-hari di
laut. Tergantung pada terget yang mereka inginkan. Namun demikian, pada hari
Jum at para nelayan dilarang melaut. Sebab, hari itu mesti diisi dengan melakukan

Universitas Sumatera Utara

ibadah sholat Jum at di mesjid. Tetapi, tidak semua nelayan mau mematuhi
peraturan yang telah ditetapkan.
Dalam penentuan kapan hari yang bagus untuk melaut, terkadang para
nelayan meminta saran dari pawang laot. Pawang Laot mempunyai kemampuan
mengetahui perubahan cuaca yang terjadi. Misalnya, kapan hari yang baik pergi
melaut, cuaca cerah atau cuaca buruk, akan ada banyak ikan atau tidak, dan lain
sebagainya.
Banyaknya persiapan penangkapan tergantung pada armada yang
digunakan nelayan. Bagi nelayan pengguna kapal motor mesti mempersiapkan
bekal yang cukup, bahan dan segala alat yang digunakan. Seperti : bahan bakar
mesin kapal, lampu/senter/penerangan lainnya, mata pancing/alat pancing, fiber
(tong ikan), dan lain-lain.
5.1.3 Jarak Tangkap dan Jenis Ikan Tangkapan
Nelayan pemilik perahu tanpa motor, hanya memiliki kesempatan berlayar
lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Mereka berlayar sejauh 1-3 mil laut atau
hanya sampai batas kecamatan yang telah ditentukan. Jenis ikan yang diperoleh
sebagian besar adalah teri dan ikan-ikan kecil lainnya.
Nelayan pemilik pengguna perahu motor (berukuran 9-10 m) memiliki
kesempatan berlayar sejauh 4-6 mil laut, hampir menempati wilayah kekuasaan
kapal motor. Jenis ikan yang ditangkap juga bervariasi. Seperti tongkol, tuna,
bawal dengan harga yang bervariasi juga.
Sedangkan nelayan pemilik pengguna kapal motor (berukuran 0-5 GT/12
m) memiliki kesempatan untuk berlayar lebih jauh. Sejauh 6 mil laut yaitu sampai
ke pulau-pulau, seperti pulau Sinabang. Bahkan sampai ke perbatasan yang telah

Universitas Sumatera Utara

ditentukan. Jenis ikan yang mereka peroleh juga bervariasi. Seperti, ikan karang,
tongkol, kepiting, udang dan ikan-ikan besar liannya. Sehingga harganya juga
bervariasi.
5.1.4

Armada dan Alat-alat yang digunakan untuk Mempermudah
Penangkapan Ikan
Adapun armada yang digunakan oleh nelayan sampel adalah perahu tanpa

motor, perahu motor dan kapal motor, yang jalur penangkapannya telah
ditentukan.
Banyak alat-alat yang dapat digunakan oleh nelayan untuk mengetahui
keberadaan ikan dan makhluk hidup lainnya yang ada di laut, sehingga mereka
dapat secara langsung menentukan wilayah tujuan mereka. Alat ini dapat juga
membantu nelayan untuk mengurangi biaya produksi, waktu dan tenaga mereka,
sebab dengan menggunakan alat ini nelayan dapat dengan mudah melakukan
aktivitas penangkapan ikan.
Global Posotioning System (GPS)
Sebagai alat yang menginformasikan posisi kita di bumi ini (Global
Positioning System), banyak aplikasi yang diciptakan tidak hanya sekedar untuk
mengetahui dimana saya , namun telah beranjak menuju suatu sistem yang
mengeksploitasi informasi itu untuk kemudahan penggunanya (gambar terlampir).

Gambar 5.1 Jenis alat GPS (fishfinder)

Universitas Sumatera Utara

Rumpon
Rumpon merupakan salah satu alat bantu operasi penangkapan ikan.
Fungsi rumpon yaitu sebagai tempat tumbuh makanan, tempat berlindung dan
tempat mencari makan bagi ikan. Sebab, pada rumpon tersebut terdapat sumber
makanan alami bagi phytoplankton dan zooplankton. Hal inilah yang
menyebabkan ikan kecil banyak berkumpul di rumpon, sehingga memudahkan
bagi nelayan dalam operasi penangkapan ikan.
Untuk memudahkan pengoperasian rumpon, maka rumpon harus ditata
dengan rapidi atas kapal secara berurutan, bagian pemberat sebelah bawah
dilanjutkan dengan pemikat dan pelampung sebelah atas, sedangkan tali tambang
digulung dengan rapi.
Untuk efisiensi dalam pembuatan rumpon, hal yang perlu diketahui adalah
kedalaman laut di mana rumpon akan dioperasikan. Hal ini akan memudahkan
dalam menghitung bahan-bahan yang dibutuhkan. Adapun langkah kerja
pembuatan rumpon secara sederhana adalah sebagai berikut :
a. Membuat pelampung, ikat 5 (lima) batang bambu menjadi sebuah
pelampung
b. Sisipkan tali utama sepanjang kedalaman laut di mana rumpon akan
dioperasikan, salah satu ujungya diikatkan pada pelampung
c. Pasang pemikat pada tali cabang tersebut. Jarak ikatan antara pemikat
yang satu dengan pemikat yang lian 1,5 m. Satu ikatan pemikat terdiri dari
2-3 pelepah daun pinang/daun kelapa
d. Siapkan pemberat lebih kurang 75 kg

Dokumen yang terkait

Analisis Faktor-Faktor Yangmempengaruhi Pendapatan Serta Persepsi Nelayan Terhadap Program Peningkatan Pendapatan Nelayan Oleh Pemerintah (Studi Kasus : Kelurahan Bagan Deli, Kec.Medan Belawan, Kota Madya Medan)

2 61 74

Analisis Pendapatan Nelayan Ditinjau Dari Garis Kemiskinan Di Kabupaten Asahan (Studi Kasus : Desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Asahan)

6 31 90

Pengaruh Panglima Laot Terhadap Peningkatan Pendapatan Nelayan (Studi Kasus : Nelayan Pemilik : Perahu Tanpa Motor, Perahu Motor Dan Kapal Motor Di Kelurahan Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan)

2 47 57

Analisis Perbedaan Usaha Penangkapan Ikan Menggunakan Perahu Motor Dan Perahu Tanpa Motor di Kabupaten Serdang Bedagai (Studi Kasus: Desa Pesisir, Kec. Tanjung Beringin)

4 84 58

Analisis Karakteristik Nelayan Dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Di Kabupaten Nias (Studi Kasus Desa Fowa Kabupaten Nias)

2 42 85

Motorisasi Sebagai Upaya Peningkatan Produksi Dan Pendapatan Nelayan (Studi Kasus Di Kecamatan...

0 29 3

Analisis Masalah Kemiskinan Dan Tingkat Pendapatan Nelayan Tradisional Di Kelurahan Nelayan Indah...

0 57 4

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan dan Persepsi Nelayan Terhadap Program Peningkatan Pendapatan ( Studi Kasus : Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat)

4 76 92

Difusi Inovasi Penangkapan Ikan dan Peningkatan Pendapatan Nelayan (Studi Korelasional Pada Nelayan Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara)

1 36 102

Analisis Upah Sistem Bagi Hasil Anak Buah Kapal pada Perahu Penangkap Ikan di Kabupaten Lamongan (Studi Kasus Perahu Jenis Ijon-Ijon Payangan pada Masyarakat Nelayan di Kelurahan Brondong dan Kelurahan Blimbing)

0 0 9

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1823 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 474 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 429 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 255 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 377 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 557 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 490 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 317 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 485 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 573 23