Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga Di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

AIDA SRI RAHAYU NIM: 1112015000004

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKUTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA


(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Sukabumi Jawa Barat. SKRIPSI. Jakarta: Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2016.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan apa saja yang dilakukan oleh istri petani di sektor domestik dan publik dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat, dengan jumlah sampel sebanyak delapan istri petani. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Peneliti mengambil data dengan teknik wawancara dan studi dokumentasi. Pemilihan sampel dengan menggunakan non probality sampling dengan teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Hasil penelitian ini menunjukan peranan istri petani dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat, baik secara langsung maupun tidak langsung peran istri petani sangat kuat, semangat para istri bekerja sangat besar walaupun dengan penghasilan yang kecil para istri petani telah ikut ambil bagian dalam menambah pendapatan keluarga dengan melakukan pekerjaan di sektor publik untuk membantu suami. Dengan bekerjanya istri secara otomatis peran nya menjadi ganda, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan sebagai istri yang bekerja.


(7)

Java. Skripsi. Jakarta: of Education Social Sciences the Faculty of Tarbiyah and Teaching State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2016.

The research examines the role of the farmer’s wife on increasing the

household incomes. The purpose of this research is to find out the famer’s wife’s

roles in the domestic sector and in the public on increasting the household incomes of Bojonggenteng village, Sukabumi, West Java. This research was conducted in Bojonggenteng with a total sample of 8 famer’s wifes. The research methode is using qualitative methode. The researcher get the data by using the interview techniques and observation. The selection of the sample is using non-probality sampling by purposive sampling techique, which is sample determining techniqu with a certain consideration. The result of the research shows the roles

of the farmer’s wifes an increasing the household incomes in Bojonggenteng

either directly or indirectly, the voles of the farmer’s wifes are very strong. The wifes the enthusiasin on working are very strong, even though the incomes are pretty low. They have parcipated on increasing the household incomes by working in the public sector so they can help their husbands. Because of the that the roles of the wifes are doubled, the wifes as houswife and wifes as the working wifes.


(8)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Peranan Istri Petani Dalam

Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga Di Desa Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi Jawa Barat“.

Shalawat serta salam tidak lupa penulis panjatkan kepada pemimpin umat Islam Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya menjadi umat yang berakhlakul karimah, berpengetahuan dan berintelektual.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan S1 (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Konsentrasi Sosiologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan rasa syukur atas rahmat dan karunia Allah SWT dan berbagai pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun material baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap penulis dalam menyelesaikan skripsi ini hingga selesai. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Dr. Iwan Purwanto, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (P.IPS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


(9)

bimbingan, petunjuk, serta motivasi untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan IImu Pengetahuan (P.IPS) yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta pengalamannya kepada penulis, sehingga penulis mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan sangat berguna.

5. Seluruh Civitas Akademik dan Staf Administrasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6. Seluruh staf Perpustakaan Utama Perpustkaan Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam mencari referensi yang terkait dengan skripsi ini.

7. Teristimewa kedua orangtuaku, Almarhumah Mamah Iis Kholisoh dan Bapak Syaprudin. yang telah mencurahkan cinta, kasih sayang, do’a, kesabaran, semangat, nasihat, motivasi, pengorbanan baik dari segi moril, maupun material kepada penulis tiada henti dan tiada lelah sampai pada saat ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga mereka diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah. Aamiin. Love you more dad and mom!

8. Bapak Dedi Sudirman selaku Kepala Desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat beserta Stafnya, yang telah mengizinkan dan menerima penulis dengan baik untuk melakukan penelitian, sehingga penulis memperoleh data-data yang dapat mendukung dalam penulis skripsi ini.

9. Kakak dan Adik penulis tersayang, Azis Abduh Al-Muzahid, Ade Irma, Muhamad Amirudin, Anissa Stamrotul Jannah, Aminatus Sa’diyah, dan Ana Uswatun Hasanah, terima kasih untuk do’a dan dukungannya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.


(10)

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga persahabat ini selalu terjalin. Aaamiin yah Beeh..

11.Kalian Nita Chairunnisa, Sheila Muria Prihartini, Mega Dhaniswara Arifa, Nurits Nadia Khafiyah, Ardhana Erviani, Fikri Kautsar Afdholi, Hanni Khairunisa, Muhamad Fadilah, dan Ikhsan Tila Mahendra. Terima kasih kalian yang selalu memberikan motivasi dan dukungan serta bantuan. Semoga silahturrahmi kita terjalin hingga akhir hayat.

12.Fakhurrozi teman laki-laki yang selalu menawarkan dirinya untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi maupun tugas sekolah dan selalu memberikan semangat. Terima kasih Bee.

13.Sahabat seperjuangan “Laskar Skripsi Tujuh Bab”, Rika Widya Risyadi, Qq Presika Jati Putri, Nurul Pratiwi, dan Muhamad Rais Fauzi. Terima kasih kalian selalu memberikan semangat, memotivasi dan bantuan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi. Semoga kebersamaan ini selalu terjalin. Aaamiin.

14.Winda Agnes, Febriani Ramadhana, Amar Rasyidillah, dan Amry Al Mursalaat. Terima kasih untuk kalian atas semangat, dukungan dan motivasi yang diberikan.

15.Silvy, dan Firda adik kosan yang selalu memberikan semangat tak henti, motivasi dan dukungan. Makasih adek emessskuuu.

16.Dessy, Laelatul Sa’diyah, Wulan Permatsari, Dina Khairunnisa. Terima kasih telah menghadirkan canda tawa yang kalian hadirkan, semoga kita selalu seperti ini.

17.Nurwinda Septiana, Anisa Rahayu Bahtiar. Terima kasih atas doa dan motivasinya.

18.Teman-teman seperjuangan Pendidikan IPS angkatan 2012, Sosiologi- Antropologi 2012.


(11)

yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan. Oleh karena itu penulis sangat terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.

Atas do’a, bantuan, dan semangat yang sangat berharga. Penulis

mengucapkan terima kasih, semoga Allah senantiasa membalas kebaikan kepada kalian. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan mempunyai nilai yang beguna bagi pembacanya.

Wa’alalaikum sallam Wr.Wb

Jakarta, 28 November 2016

Aida Sri Rahayu


(12)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI... ii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI... iii iv ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... DAFTAR LAMPIRAN... xiv xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan... 1

B. C. D. E. F. Identifikasi Masalah... Pembatasan Masalah... Perumusan Masalah... Tujuan Penelitian... Manfaat Penelitian 6 6 6 6 7 BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL A. Deskripsi Teoritis ... 8

1. Peranan... 2. Motif Istri Bekerja... 3. Petani... 4. Pendapatan... 5. Teori Fungsionalisme Struktural... 8 16 19 20 21 B. Hasil Penelitian yang Relevan... 23

C. Kerangka Konseptual ... 29

BAB III METODE PENELITIAN YANG DIGUNAKAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 30

B. Populasi dan Sampel Penelitian... 31

C. Metode Penelitian dan Data yang Diinginkan... 32


(13)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Bojonggenteng... 42

B. Deskripsi Data ... 50

C. Hasil Wawancara... 51

D. Pembahasan ... 58

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 65

B. Saran... 65

DAFTAR PUSTAKA...

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 67 70


(14)

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pemerintah Desa Bojonggenteng ... 43


(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Tabel 3.1

Penelitian Yang Relevan... Jadwal Penelitian ...

25 30

Tabel 3.2 Tabel 3.3

Tabel 3.4

Jenis dan Sumber data Penelitian... Pedoman Wawancara ... Pedoman Dokumentasi...

35 36 37

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Desa Bojoggenteng ... 47

Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Bojonggenteng ... 48

Tabel 4.3

Tabel 4.4

Tabel 4.5

Jumlah Usia Penduduk Desa Bojonggenteng ... Jenis Mata Pencaharian Penduduk... Profil Informan...

48 49 50


(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara... 70

Lampiran 2 Transkip Wawancara... 72

Lampiran 3 Dokumentasi Penelitian... 88

Lampiran 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Lampiran 7

Lampiran 8

Lampiran 9

Daftar Uji Referensi... Surat Bimbingan Skripsi... Surat Permohonan Izin Penelitian... Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian... Surat Keterangan Wawancara... Biodata Penulis...

92 98 99 100 101 109


(17)

A.

Latar Belakang Masalah

Keluarga adalah tempat terpenting bagi seseorang karena merupakan tempat pendidikan yang pertama kali, dan di dalam keluarga pula seseorang paling banyak bergaul serta mengenal kehidupan.1 Keluarga pada umumnya tersusun dari ikatan darah dan atau melalui perkawinan. Menurut Soerjono Soekanto keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak nya yang belum menikah, pada umumnya keluarga seperti ini disebut dengan keluarga batih. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan suatu keluarga terbentuk melalui perkawinan, yaitu suatu ikatan lahir batin seorang laki-laki sebagai suami dan seorang wanita sebagai istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang utuh, bahagia dan kekal sejahtera.

Di masyarakat manapun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu.2 Seorang laki-laki sebagai ayah maupun seorang perempuan sebagai ibu di dalam suatu keluarga memiliki kewajiban serta tanggung jawab bersama untuk merawat dan menjaga keutuhan keluarga. Untuk itu kedudukan ayah dan ibu di dalam keluarga memiliki hak yang sama untuk ikut melakukan perlindungan, menciptakan kebahagiaan, dan kesejahteraan keluarga. Adapun perbedaan antara suami dan istri di dalam suatu keluarga dibedakan oleh faktor biologisnya.

Perbedaan secara biologis terbentuk pada akhirnya menghasilkan perbedaan tugas di dalam keluarga. Wanita dainggap yang cenderung lebih emosional atau lebih melihat segala sesuatu dari sudut perasaan dinilai sangat sesuai dengan tugasnya untuk merawat, mengasuh, dan mendidik

1

Elly M. Setiadi, Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), Cet. 1, h. 880.

2

J.Dwi Narwoko, Bagong Suyanto (ed.), Sosiologi Teks Suatu Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), Cet. 3, h. 227.


(18)

anak. Wanita memang dilahirkan dengan naluri keibuan yang sering disebut dengan nurturing instinc, dengan naluri seorang istri disertai tanggung jawab untuk mengasuh anak.3

Dengan demikian, keberhasilan suatu keluarga dalam membentuk suatu rumah tangga dan sejahtera tidak lepas dari peran seorang ibu yang begitu besar. Baik dalam membimbing dan mendidik anak mendampingi suami, membantu pekerjaan suami. Namun demikian kebanyakan dari masyarakat masih menempatkan seorang ayah sebagai subjek, sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Sedangkan ibu lebih ditempatkan sebagai objek yang dinomor duakan dengan kewajiban mengurus anak di rumah.

Dengan melihat faktor biologis tentang kodrat perempuan, maka dalam suatu keluarga peran perempuan cenderung hanya di area yang sempit yaitu hanya di sektor domestik saja hanya berkutat di lingkungan rumah, sedangkan peranan laki-laki yaitu di sektor publik adalah sesuatu yang bersifat luar seperti bekerja mencari nafkah.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yakni mayoritas mata pencaharian penduduknya dengan mengendalikan bercocok tanam. Sebagaian besar pertanian Indonesia dikelola oleh masyarakat perdesaan. Sama halnya dengan daerah Kabupaten Sukabumi, dalam struktur perekonomian nya sektor pertanian masih menjadi sektor yang paling dominan, selain itu sektor ini masih menyerap jumlah tenaga kerja yang besar pula, karena masih banyak penduduk Sukabumi yang menggantungkan hidupnya melalui usaha pertanian.4

Bagi mereka yang tinggal di pedesaan dan memiliki perekonomian yang rendah peran ganda bukanlah sesuatu hal yang baru. Bagi perempuan di desa bekerja merupakan hal yang sudah biasa, bahkan sejak anak usia

3Malik, “Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga di Desa

Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone”, Skripsi pada Universitas Hasanudin,

Makasar, 2012, h. 2. dipublikasikan.

4

http:Sukabumi/Pertanian-situs-resmi-kabupaten-sukabumi.htm. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2015. Pukul 19:00 WIB.


(19)

muda mereka belajar bekerja dengan cara membantu orang tua dengan cara membantu berdagang, berladang ke sawah, membantu menjaga warung, membantu pekerjaan rumah. Para perempuan di desa khususnya bagi keluarga miskin bekerja tidak harus di perkantoran yang mewah, mereka tidak terlalu memperdulikan pekerjaan apa yang mereka kerjakan yang terpenting adalah upah yang di terimanya. Sebagian dari mereka bekerja sebagai buruh dengan gaji yang tidak terlalu besar seperti bekerja sebagai buruh tani, buruh di perusahaan asing, buruh cuci, pembantu rumah tangga yang upah nya kecil.

Kurangnya pendapatan keluarga memicu bagi para istri untuk turut mendampingi suami mencari nafkah. Melalui bekerja sebagai petani di ladang peran istri menjadi semakin penting, karena hal ini berarti para istri harus bertanggungjawab dalam mengurus anak dan rumah tangga mereka agar selalu tercukupi selama ditinggal suami bekerja diluar.

Dalam UU Perkawinan ditegaskan dalam Pasal 31 butir 1 dan 2, Pasal 33, dan dalam Penjelasan Umum butir 4 yang berbunyi:5

Untuk itu suami-istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya, membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material.

Kemudian Pasal 31 yang terdiri dari tiga ayat, yaitu:

Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Suami adalah kepala rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga.

Adanya ketentuan formal yuridis bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga. Berarti, secara legal kedudukan suami lebih penting dan lebih tinggi dari pada peran istri. Ini disebabkan karena peran suami ditentukan berada di sektor publik, yang sekaligus berarti bahwa yang menentukan status dan kedudukan keluarga adalah laki-laki.

Dalam hal menentukan peran istri sebagai ibu rumah tangga, berarti bahwa tempat dan kewajiban istri adalah di sektor domestik. Artinya di

5

Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian Perempuan, (Jakarta:Buku Kompas, 2010), h. 171.


(20)

dalam rumah, sektor privat, tanpa mempunyai kedudukan formal di masyarakat. Di dalam masyarakat, kedudukan resmi perempuan sebagai istri.6

Masyarakat yang melangkah maju ke zaman baru seperti jaman kita, antara lain mengalami masa emansipasi wanita, yaitu usaha melepaskan diri dari peranan wanita yang terbatas dari sistem kekerabatan untuk mendapatkan status baru, sesuai dengan jaman baru, dalam keluarga dan dalam masyarakat besar. Perubahan pada sistem perekonomian dalam masyarakat tersebut membawa perubahan pada alokasi ekonomi keluarga. Dalam hal ini perempuan berubah karena peranan perempuan dalam bidang ekonomi berubah pula.

Keterlibatan istri dalam dunia kerja dikarenakan banyak faktor, mulai dari ekonomi, pendidikan, keadaan sosial hingga budaya. Partisipasi wanita dalam dunia kerja banyak memberikan kontribusi yang besar terhadap kesejahteraan keluarga, bahkan dapat mendorong kemajuan ekonomi bangsa. Angka pekerja wanita di Indonesia mengalami pergerakan yang signifikan. Jumlah wanita pekerja di Indonesia saat ini mencapai 54,44 persen dari total angkatan kerja wanita, ini di sampaikan oleh Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Endang Sihprati, MA dalam diskusi Economics Talk yang bertajuk “Wanita dan Kemiskinan”.7 Semua ini terindikasi dari beberapa faktor seperti meningkatnya kesempatan belajar bagi wanita, keberhasilan program keluarga berencana, banyaknya tempat penitipan anak dan kemajuan teknologi yang memungkinkan wanita dapat mengerjakan masalah keluarga dan masalah pekerja sekaligus.

Berbeda dengan anggapan umum masyarakat, seorang wanita dianggap tabuh atau menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita apabila terlalu sering keluar rumah. Terlebih lagi apabila keluar rumah tanpa memperhatikan alasan mengapa dan untuk apa perbuatan itu dilakukan.

6

Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian Perempuan, h. 172.

7

http:Jumlah Pekerja Wanita di Indonesia 54,44 %25 _ Media Release Indonesia.htm. Di akses pada tanggal 18 Agustus 2016. Pukul 16:00 WIB.


(21)

Namun jika kita mau melihat dari fakta yang di lapangan sering kali kaum wanita menjadi penyelamat perekonomian keluarga. Fakta ini terutama dapat terlihat pada keluarga-keluarga yang perekonomian nya tergolong rendah, banyak dari kaum perempuan yang ikut menjadi pencari nafkah tambahan bagi keluarga. Pada keluarga yang tingkat perekonomiaannya kurang atau prasejahtera peran perempuan tidak hanya dalam area pekerja domestik tetapi juga area publik. Ini memungkinkan terjadi karena penghasilan suami sebagai pencari nafkah utama tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

Perempuan ternyata memiliki peranan yang penting dalam menyiasati serta mengatasi kemiskinan yang di alaminya. Salah satu bukti nyata ada pada masyarakat desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mengenai peranan istri dalam upaya meningkatkan pendapatan rumah tangga. Di desa Bojonggenteng tidak sedikit para istri yang bekerja untuk membantu suami dalam meningkatkan pendapatan keluarga dan membantu kesejahteraan keluarganya. Para istri ini bekerja sebagai buruh, kebanyakan dari istri bekerja sebagai buruh tani, buruh cuci, pengasuh anak, membuka warung sayuran, untuk membantu pekerjaan yang dilakukan suami.

Berdasarkan preliminary research (penelitian awal) yang di lakukan, maka pandangan dan anggapan-anggapan yang memandang rendah kedudukan dan peranan istri dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga tidak berlaku di masyarakat desa Bojonggenteng. Pada keluarga pekerja, istri bertugas mengurus pembagian hasil panen dengan pemilik lahan, sedangkan pada keluarga pemilik lahan istri bertugas untuk menjual hasil panen mereka.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan judul: “Peranan Istri Petani

dalam Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga di Desa Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi Jawa Barat”.


(22)

B.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di atas. Maka masalah-masalah yang terkait dengan hal tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Meningkatnya jumlah perempuan (istri) yang bekerja.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi istri bekerja, meliputi pendapatan keluarga yang rendah dan kebutuhan yang semakin meningkat.

3. Peranan istri di sektor publik dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga

4. Presentase tingkat istri bekerja di sektor publik tidak di iringi dengan peningkatan penghasilan suami.

C.

Pembatasan Masalah

Mengingat keterbatasan penulis dalam penelitian ini dan luasnya permasalahan yang hendak dibahas, serta untuk lebih terarahnya penelitian

ini, maka pembatasan masalah sebagai berikut: “Bagaimana peranan istri

petani dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di desa Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi Jawa Barat?”

D.

Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, agar tidak terjadi perbedaan interpretasi dan pemahaman, maka masalah ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana peranan istri petani di sektor publik dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di desa Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi Jawa Barat?

2. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi istri bekerja? 3. Apa saja motif istri bekerja?

4. Berapakah pendapatan istri petani?

E.

Tujuan Penelitian

Secara akademis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja konsep-konsep dan teori serta filsafat yang terkait dengan peranan istri


(23)

dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di desa Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Secara terapan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk peranan istri yang bekerja di sektor publik, dalam meningkatkan pendapatan rumah tangganya di Desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

F.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian bagi para akademisi untuk mengkritisi hasil penelitian atau meneliti bagian yang bisa lebih diteliti dari setting penelitian ini dan menjadi bahan acuan untuk penelitian selanjutnya, dan diharapkan pihak terkait dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga agar tidak meningkatnya istri yang bekerja.


(24)

A.

Deskripsi Teoritik

1. Peranan

a. Definisi Peranan

Kata peran dan peranan dalam sosiologi sering dianggap sama karena tidak ada pembatasan secara jelas antara peran dan peranan hanya pada sudah atau tidaknya sebuah peran itu dijalankan. Peranan adalah peran yang telah dapat dilaksanakan individu yang bersangkutan sesuai dengan kedudukannya, sehingga untuk mempermudah dalam pendefinisian kata peranan dalam penelitian ini dianggap sama dengan kata peran.

Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan. Perbedaan antara kedudukan dan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya tidak ada peranan tanpa kedudukan.8

Peran adalah pola perilaku normatif yang diharapkan pada status tertentu. Dengan kata lain, sebuah status memiliki peran yang harus dijalani sesuai aturan (norm) yang berlaku.9

Dalam ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial peranan adalah tingkah laku individu yang mementaskan suatu kedudukan tertentu.10

8

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 2002), Cet. 4, h.243.

9

M. Amin Nurdin, Mengerti Sosiologi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), Cet. 1, h. 47.

10


(25)

Livinson dalam Soerjono Soekanto, peranan meliputi norma-norma yang diungkapkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi, Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting sebagai struktur sosial masyarakat. 11

Alvin L. Bertran dalam Soeleman B. Taneko menyatakan peran adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari orang yang memangku status atau kedudukan tertentu.12

Gross, Mason dan McEachern dalam David Berry mendefinisikan peranan sebagai perangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu.13

Suatu peranan mencakup paling sedikit tiga hal berikut ini:14 1) Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi

atau tempat seseorang dalam masyarakat.

2) Peranan merupakan suatu konsep perihal yang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi. 3) Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang

penting bagi struktur sosial.

Pentingnya peranan adalah karena ia mengatur perilaku seseorang. Peranan menyebabkan seseorang pada batas-batas tertentu dapat meramalkan perbuatan-perbuatan orang lain. Peranan diatur oleh norma-norma yang berlaku. Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat (yaitu social-position) merupakan unsur statis yang menunjukan pada fungsi,

11

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1990), h.221.

12

Soeleman B. Taneko, 1986, h. 220.

13

David Berry, Pokok-Pokok Pemikiran Dalam Sosiologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 99.

14


(26)

penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi, seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan.15

Di dalam peranan terdapat dua macam harapan, yaitu:16 1) harapan-harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran atau kewajiban-kewajiban dari pemegang peran, dan 2) harapan-harapajn yang dimiliki oleh si pemegang peran terhadap masyarakat atau terhadap orang-orang yang berhubungan dengannya dalam menjalankan peranannya atau kewajiban-kewajibannya.

Peranan yang berhubungan pekerjaan, seseorang diharapkan menjalankan kewajiban yang berhubungan dengan peranan yang di pegangnya. Peranan didefinisikan sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenal pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Peranan ditentukan oleh norma-norma dalam masyarakat di dalam pekerjaan kita, di dalam keluarga dan di dalam peranan-peranan yang lain.17

Dari berbagai definisi yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan merupakan suatu aspek yang dilandasi keinginan yang kuat dalam keikutsertaan dalam mewujudkan harapan-harapan yang muncul sebagai bentuk partisipasi dalam kedudukan sosial.

b. Teori Peran

Teori peran (role theory) merupakan penekanan sifat individual sebagai pelaku sosial yang mempelajari perilaku yang sesuai dengan posisi yang ditempati di masyarakat. Peran (role)

adalah konsep sentral dari teori peran. Dengan demikian kajian mengenai teori peran tidak lepas dari definisi peran dan berbagai istilah perilaku di dalamnya.

15

Soeleman B. Taneko, 1986, h. 243.

16

David Berry, Pokok-Pokok Pemikiran Dalam Sosiologi, h. 101.

17


(27)

Peran mencerminkan posisi seseorang dalam sistem sosial dengan hak dan kewajiban, kekuasaan dan tanggung jawab yang meyertainya. Untuk dapat berinteraksi satu sama lain, orang-orang memerlukan cara tertentu guna mengantisipasi perilaku orang lain. Peran melakukan fungsi ini dalam sistem sosial.

Seseorang memiliki peran, baik dalam pekerjaan maupun di luar. Masing-masing peran menghendaki perilaku yang berbeda-beda. Dalam lingkungan pekerjaan itu sendiri seorang karyawan mungkin memiliki labih dari satu peran, seorang karyawan bisa berperan sebagai bawahan, penyedia, anggota serikat pekerja, dan wakil dalam panitia keselamatan kerja.18

Teori peran (role theory) adalah teori yang merupakan perpaduan antara teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran berawal dari sosiologi dan antropologi. Dalam

ketiga ilmu tersebut, istilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam

teater, seorang aktor harus bermain sebagai tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berprilaku secara tertentu. Posisi aktor dalam teater (sandiwara) itu kemudian dianologikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat. Sebagaimana halnya dalam teater, posisi orang dalam masyarakat sama dengan posisi aktor dalam teater, yaitu bahwa perilaku yang diharapkan daripadanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam kaitan dengan adanya orang-orang lain yang berhubungan dengan orang atau aktor tersebut. Dari sudut pandang inilah disusun teori-teori peran.19

18Lidya Agustina, “Pengaruh Konflik Peran, Ketidakjelasan Peran, dan Kelebihan Peran

terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Auditor”, Jurnal Akuntansi, Vol. 1, 2009, h.42.

19

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: CV. Rajawali, 1984), Cet 1, h. 233.


(28)

Dalam teorinya Biddle & Thomas membagi peristilahan dalam teori peran dalam 4 golongan, yaitu istilah-istilah yang menyangkut:20

1) Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial. 2) Perilaku yang muncul dalam interaksi.

3) Kedudukan orang-orang dan perilaku. 4) Kaitan antara orang dan perilaku.

Linton dalam Cahyono, seorang antropolog, telah mengembangkan teori peran. Teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa yang diterapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun individu untuk berprilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempenyui peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berprilaku sesuai dengan peran tersebut ditentukan oleh peran sosialnya.21

Kemudian sosiolog yang bernama Elder membantu memperluas penggunaan teori peran dengan menggunkan

pendekatan yang dinamakan “life course” yang artinya bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tertentu.

Dari berbagai deskripsi teori di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang memiliki peran masing-masing yang menghendaki perilaku yang berbeda-beda. Peran merupakan perilaku yang diharapkan dari seseorang berdasarkan fungsi sosialnya. Seseorang dikatakan menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan

20

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, h. 234.

21

Gartiria Hutami, Pengaruh Konflik Peran dan Ambiguitas Peran Terhadap Komitmen Independensi Auditor Internar Pemerintahan Daerah, Skripsi Universitas Diponegoro.


(29)

kewajiban yang merupakan bagaian tidak terpisah dari status yang disandangnya.

c. Peranan Istri

Menurut teori gender, peran dan kedudukan yang terpenting bagi perempuan dalam keluarga adalah sebagai istri dan ibu yang mengatur jalannya rumah tangga serta memelihara anak. Tugas istri di harapkan dapat memasak, menjahit, memelihara rumah, serta melahirkan. Sehubungan dengan tugas ini idealnya tempat istri yakni di rumah, istri berperan di sektor domestik.

Secara biologis (kodrat) kaum perempuan dengan organ reproduksinya bisa hamil, melahirkan, dan menyusui dan kemudian mempunyai peran gender sebagai perawat pengasuh, dan pendidik anak.22

Peran perempuan dapat dilakukan dari perspektif posisi mereka dalam berurusan dengan pekerjaan produktif tidak langsung (domestik) dan pekerjaan produktif langsung (publik), yaitu sebagai berikut:23

1) Peran tradisi menempatkan perempuan dalam fungsi reproduksi (mengurus rumah tangga, melahirkan dan mengasuh anak, serta mengayomi suami). Hidupnya 100% untuk keluarga. Pembagian kerja sangat jelas, yaitu perempuan di rumah dan lelaki di luar rumah.

2) Peran transisi mempolakan peran tradisi lebih utama dari peran yang lain. Pembagain tugas mengikuti aspirasi gender, tetapi eksistensi mempertahankan keharmonisan dan urusan rumah tangga tetap tanggung jawab perempuan.

3) Dwiperan memposisikan perempuan dalam kehidupan dua dunia, yaitu menempatkan peran domestik dan publik dalam posisi

22

M.Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: INSISTPress, 2008), h. 75.

23

Hubies, S.A.V, Pemberdayaan Perempuan Dari Masa ke Masa, (Bogor: PT Penerbit IPB Press, 2010).


(30)

sama penting. Dukungan moral suami pemicu ketegaran atau sebaliknya keengganan suami akan memicu keresahan atau bahkan menimbulkan konflik terbuka atau terpendam.

4) Peran egalitarian menyita waktu dan perhatian perempuan untuk kegiatan di luar. Dukungan moral dan tingkat kepedulian lelaki sangat hakiki untuk menghindari konflik kepentingan pemilahan dan pendistribusian peranan. Jika tidak, yang terjadi adalah masing-masing akan saling berargumentasi untuk mencari pembenaran atau menumbuhkan ketidaknyamanan suasana kehidupan berkeluarga.

5) Peran kontemporer adalah dampak pilihan perempuan untuk mandiri dalam kesendirian. Jumlahnya belum banyak. Akan tetapi benturan demi benturan dari dominasi lelaki atas perempuan yang belum terlalu peduli pada kepentingan perempuan mungkin akan meningkatkan populasinya.

Adanya anggapan dalam masyarakat bahwa kaum istri bersifat memelihara, rajin, dan tidak cocok menjadi kepala rumah tangga, maka akibatnya semua pekerjaan di bidang domestik menjadi tanggung jawab kaum istri. Oleh karena itu beban kerja istri yang berat dan alokasi waktu yang lama untuk menjaga kebersihan, dan kerapian rumah tangga, mulai dari mengepel lantai, memasak, merawat anak.24

Dalam pandangan islam, hubungan suami istri diibaratkan sebagai pakaian antara yang satu bagi yang lain. Suami merupakan pakaian bagi istri dan istri merupakan pakaian bagi suami. Laki-laki merupakan kepala dan rumah merupakan pelabuhannya. Dalam kehidupan modern, peran suami istri dalam gambaran di atas masih dimungkinkan. Meskipun mereka memiliki mobilitas yang lebih tinggi dibanding dengan kehidupan keluarga tradisional, keluarga

24

J.Dwi Narwoko, Bagong Suyanto (ed.), Sosiologi Teks Suatu Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), Cet. 3, h. 344.


(31)

modern masih didasarkan pada pandangan romantis, maternal, dan domestik. Cinta romantis adalah konsep yang menunjang prinsip modernisme keteraturan, untuk tiap pria ada satu orang perempuan yang menjadi pasangannya, demikian pula yang sebaliknya. Cinta material dipandang sebagai perwujudan tugas seorang ibu dalam mencintai dan merawat anak-anaknya. Persepsi cinta, romantis, material, dan domestic dapat diartikan sebagai suatu kehidupan keluarga yang dapat berada dalam satu nilai kebersamaan.

Dalam kehidupan pasca modern, tampaknya ada perbedaan, kekhususan, dan ketidakberaturan yang mendasari kehidupan keluarga mereka. Konsep tentang keluarga inti dengan satu bapak yang bekerja mencari nafkah dan satu ibu yang yang mengayomi anak-anak dirumah sudah sulit dipertahankan sebagai realitas kehidupan. Keluarga pasca modern diwarnai dengan kehidupan kedua orang tua yang sama-sama bekerja mencari nafkah di luar rumah, akibatnya angka perceraian semakin tinggi, banyak keluarga dengan satu orang tua saja sehingga anak-anak harus bertahan dan berjuang di jalan.

Dalam hal menentukan peran istri sebagai ibu rumah tangga, berarti bahwa tempat dan kewajiban istri adalah di sektor domestik. Artinya pula, di dalam rumah, sektor privat, tanpa mempunyai kedudukan formal di masyarakat. Di dalam masyarakat, kedudukan resmi perempuan sebagai istri adalah istri suaminya. Semua keadaan ini cenderung memperkuat stereotip seperti istri (wajib) menjadi ibu yang bijak dan menyenangkan, pandai menjaga kehormatan keluarga, harus memberikan ketenangan kepada suami, mampu mengatur kehidupan berkeluarga, dan menciptkan suasana bahagia dalam keluarga.

Kalaupun istri bekerja, istri tidak boleh melupakan tugasnya sebagai ibu dan penyelenggara rumah tangga bahagia, ia cenderung


(32)

diperlakukan sebagai pencari nafkah kedua (membantu suami). Sebagai pekerja, istri mendapatkan imbalan yang lebih rendah dari laki-laki untuk jenis pekerjaan yang sama nilainya. Perempuan bekerja pun sering kali diperlakukan sebagai perempuan lajang (meskipun telah kawin).25

Perempuan dengan kodratnya mempunyai potensi untuk mengembangkan sifat-sifat yang diperlukan sesuai dengan pilihannya tentang berkeluarga dan berkarya. Oleh karena itu, kurang relevan untuk mempertentangkan antara karier dan keluarga. Keduanya sebagai suatu pilihan membawa sebuah tanggung jawab. Keduanya juga perlu di dukung oleh pengembangan diri lelaki dan perempuan yang sesuai dengan tuntutan khusus keluarga dan lingkungan kerja masing-masing. Konsekuensi konkret dari pilihan ini ialah perempuan perlu memiliki sifat-sifat untuk lebih asertif. Sementara laki-laki perlu menjadi lebih progresif dengan mau mengembangkan sifat-sifat yang dapat mewujudkan aspirasi

bersama, yaitu agar suami dan istri menjadi “mitra sejajar”26

Dalam masyarakat modern tidak jarang terjadi kaum perempuan berperan ganda, baik ia perempuan karier maupaun sebagai ibu rumah tangga. Peran ganda kaum perempuan memungkinkan timbulnya kondisi kritis dan situasi krisi dalam kehidupan rumah tangga modern. Hubungan antara anggota keluarga dapat terjadi diskomunitas komunikasi sehingga dapat mengganggu perkembangan jiwa dan kepribadian anak-anaknya.

2. Motif Istri Bekerja

Ada beberapa hal yang menyebabkan istri berperan dalam perekonomian keluarga, yaitu istri bekerja karena faktor ekonomi, di samping itu untuk mensejahterakan keluarga, istri juga mendapatkan

25

Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian Perempuan, (Jakarta:Buku Kompas, 2010), h. 172.

26


(33)

dukungan dari pihak suami karena gajinya tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga, faktor budaya, dan faktor sosial.

Peningkatan partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi karena: pertama, adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat tentang sama pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan pria, serta makin disadarinya perlunya kaum wanita ikut berpartisipasi dalam pembangunan, kedua, adanya kemauan wanita untuk bermandiri dalam bidang ekonomi yaitu berusaha membiayai kebutuhan hidupnya dan mungkin juga kebutuhan hidup dari orang-orang yang menjadi tanggungannya dengan penghasilan sendiri. Kemungkinan lain yang menyebabkan peningkatan partisipasi wanita dalam angkatan kerja adalah makin luasnya kesempatan kerja yang bisa menyerap pekerja wanita, misalnya munculnya kerajinan tangan dan industri ringan.

Wanita mempunyai potensi dalam memberikan kontribusi pendapatan rumah tangga, khususnya rumah tangga miskin. Dalam rumah tangga miskin anggota rumah tangga wanita terjun ke pasar kerja untuk menambah pendapatan rumah tangga yang dirasakan tidak cukup. Pendapatan para pekerja wanita pada industri sandang mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan keluarga. Kontribusi perempuan dapat dikatakan sebagai katup pengaman (savety valve) atau penopang bagi rumah tangga miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Wanita Indonesia terutama di pedesaan sebagai sumber daya manusia cukup nyata partisipasinya khususnya dalam memenuhi fungsi keluarga dan rumah tangga bersama pria. Beberapa hasil penelitian menunjukkan peran serta wanita dalam berbagai industri di beberapa daerah cukup besar dan menentu-kan, dengan pengelolaan usaha yang bersifat mandiri.27

27Sugeng Heryanto, “Peran Aktif Wanita Dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga

Miskin: Studi Kasus Pada Wanita Pemecah Batu Di Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek”, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, 2008, h. 218.


(34)

Menurut Rozalinda dalam artikelnya menyebutkan bahwa motif tingginya keterlibatan perempuan bekerja adalah:28

a. Kebutuhan Finansial

Kondisi ekonomi keluarga seringkali memaksa perempuan untuk ikut bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan mendesak, membuat suami dan isteri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat sang istri tidak mempunyai pilihan lain kecuali ikut mencari pekerjaan di luar rumah.

b. Kebutuhan Sosial-Relasional

Perempuan memilih untuk bekerja karena mempunyai kebutuhan sosial relasional yang tinggi. Tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan mereka tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan akan penerimaan sosial, akan adanya identitas sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor menjadi agenda yang lebih menyenangkan dari pada tinggal di rumah.

c. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Bekerja adalah salah jalan yang dapat digunakan oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya. Dengan berkarya, berkreasi, mencipta, mengekspresikan diri, mengembangkan diri, membagikan ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu serta mendapatkan penghargaan, penerimaan, prestasi adalah bagian dari proses penemuan dan pencapaian pemenuhan diri melalui profesi atau pun karir. Ia merupakan suatu pilihan yang banyak diambil oleh para perempuan di zaman sekarang terutama dengan makin terbukanya kesempatan yang sama

28

http:bwi.or.id/index.php/in/artikel/1123-peran-wakaf-dalam-pemberdayaan-ekonomi-perempuan-1. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2016. Pukul 22:00 WIB.


(35)

pada perempuan untuk meraih jenjang karir yang tinggi.

3. Petani

Petani adalah orang yang menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian sebagai mata pencaharian utamanya. Secara garis besar terdapat tiga jenis petani, yaitu petani pemilik lahan, petani pemilik yang sekaligus juga penggarap, dan buruh tani. Secara umum, petani bertempat tinggal dipedesaan dan sebagian besar di antaranya, terutama yang tinggal di daerah-daerah.

Pengertian petani diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi

farmer yang sebenernya sangat berbeda sekali dengan petani yang dalam arti peasent. Farmer adalah petani pengusaha, yang menjalankan usaha pertanian sebagai suatu perusahaan, sehingga untung rugi senantiasa menjadi pertimbangan di dalam menjalankan usahanya dan memproduksi hasil pertanian, menguasai lahan pertanian dengan orientasi pasar. Preasent yaitu petani kecil sebagai produsen pertanian, menguasai lahan sempit dengan orientasi produk untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bersifat subsistem.

Pertanian sebagai kegiatan manusia dalam membuka lahan dan menanaminya dengan berbagai jenis tanaman yang termasuk tanaman semusim maupun tanaman tahunan dan tanaman pangan maupun tanaman non-pangan serta digunakan untuk memelihara ternak maupun ikan.29

Pertanian dapat mengandung dua arti yaitu: 1) dalam arti sempit atau sehari-hari diartikan sebagai kegiatan bercocok tanam dan 2) dalam arti luas diartikan sebagai kegiatan yang menyangkut proses produksi menghasilkan bahan-bahan kebutuhan manusia yang dapat berasal dari tumbuhan maupun hewan yang disertai dengan usaha untuk memperbaharui, memperbanyak (reproduksi) dan mempertimbangkan faktor ekonomis.30

29

Suratiyah, Ilmu Usahatani, (Jakarta: Penebar Swadaya, 2006), h. 23.

30


(36)

Menurut Benowidjojo pertanian adalah mengusahakan tanaman dan hewan guna memenuhi kebutuhan pertanian, dalam arti luas meliputi semua kegiatan usaha dalam reproduksi flora dan fauna yang dibedakan ke dalam beberapa sektor, yaitu pertanian rakyat, perkebunan, perternakan, perikanan.31

Dalam penelitian ini petani yang dimaksud adalah orang yang memilik lahan pertanian dan menggarap lahan tersebut sendiri maupun dikerjakan kepada orang lain, dan buruh tani.

4. Pendapatan

Pendapatan adalah pengahasilan yang diterima oleh para anggota masyarakat dalam waktu tertentu sebagai balas jasa atas faktor-faktor produksi nasional.32

Pendapatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hasil kerja (usaha), jadi dapat disimpulkan jumlah penghasilan yang diterima oleh seorang sebagai balas jasa atas hasil.

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) pendapatan adalah seluruh penghasilan yang diterima baik secara sektor formal maupun non formal yang terhitung dalam jangka waktu tertentu. Biro Pusat Statistik merinci pendapatan yaitu pendapatan berupa uang adalah segala hasil kerja atau usahanya.33

Menurut Boserup Easter dalam Gunawan pendapatan rumah tangga adalah jumlah pendapatan keseluruhan/riil dari seluruh anggota rumah tangga yang disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun perseorangan dalam rumah tangga.

Sumber utama pendapatan bagi pekerja wanita adalah upah dan tunjangan-tunjangan kesejahteraan lain yang diperoleh oleh pekerja.

31

M. Benowidjojo, Pembangunan Pertanian,(Surabaya: Opini Malang dan Usaha Tani, 1983), h. 48.

32

Soedyono, 1992, h.99.

33

https://www.bps.go.id/Subjek/view/id/5#subjekViewTab3|accordion-daftar-subjek1. Diakses pada tanggal 30 November 2016. Pukul 21:36 WIB.


(37)

Sebagaimana diketahui regulasi pemerintah untuk mengatur UMR tetapi kondisi demikian tentunya akan sangat sulit diterapkan pada industri-industri kecil atau menengah dimana jam kerja dalam sehari masih jauh di bawah standar jam kerja. Upah dalam industri kecil dan menengah semata.

Konsep rumah tangga menunjuk pada arti ekonomi dari satuan keluarga, seperti bagaimana keluarga itu mengolah kegiatan ekonomi keluarga, pembagian kerja dan fungsi, kemudian berapa jumlah pendapatan yang diperoleh atau konsumsinya serta jenis produksi dan jasa yang dihasilkan. Jika keluarga semakin besar, membuka kesempatan bagi pencari pendapatan (income earner) akan memberikan kontribusinya terhadap pendapatan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif menunjukan adanya korelasi positif yang erat antara banyaknya pencari pendapatan dengan tingkat pendapatan.

Kontribusi pendapatan dari satu jenis kegiatan terhadap total pendapatan rumah tangga tergantung pada produktivitas faktor produksi yang digunakan dari jenis kegiatan yang bersangkutan. Stabilitas pendapatan rumah tangga cenderung dipengaruhi dominasi sumber-sumber pendapat. Jenis-jenis pendapatan yang berasal dari luar sektor pertanian umumnya tidak terkait dengan musim dan dapat dilakukan setiap saat sepanjang tahun.34

5. Teori Fungsionalisme Struktural

Teori ini dikembangkan oleh Robert Merton dan Talcot Parson. Teori ini sesungguhnya sangat sederhana, yakni bagaimana memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri atas bagian yang berkaitan (agama, pendidikan, struktur politik, sampai rumah tangga). Masing-masing secara terus-menerus mencari keseimbangan (equilibrium) dan

34M.Th. Handayani, Ni Wayan Putu Artini, “Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga

Pembuat Makanan Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga”. Jurnal Sosial Ekonomi, Vol.5, 2009, h. 9.


(38)

harmoni. Adapun interelasi tejadi karena adanya konsensus. Pola yang non-normatif dianggap akan melahirkan gejolak.35

Teori fungsionalisme struktural menyoroti bagaimana terjadinya persoalan itu mengarah kepada pemikiran bagaimana gender dipermasalahkan. Teori ini memandang bahwa masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang salin berkaitan.

Teori ini memang tidak secara langsung dan khusus menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan, tetapi akhirnya teori ini pun berkesimpulan perlu adanya pimilihan peran antara laki-laki dan perempuan dalam rangka terciptanya keteraturan sosial. Dengan pemeliharaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, pimilihan peran antara suami dan istri dalam keluarga inti akan melahirkan harmoni dan memberikan rasa tentang keduanya. Keluarga merupakan bagian penting dalam masyarakat, harmoni dan ketenangan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Talcott Parson berpendapat bahwa sang suami mengembangkan kariernya di luar rumah, istri bekerja di dalam rumah tangganya merupakan pengaturan yang jelas yang kemungkinannya meniadakan terjadinya persaingan antara suami-istri, karena persaingan suami-istri akan merusak keserasian kehidupan perkawinan, oleh sebab itu teori ini berpendapat bahwa perempuan harus tinggal dalam kehidupan rumah tangga karena ini merupakan pengaturan yang paling baik dan berguna bagi keuntungan masyarakat secara keseluruhan.36

35

M.Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, h. 32.

36 Pandu, Maria, ”Perempuan dan Pelestarian Nilai Budaya”

, Tesis pada Universitas Jakarta, Jakarta: tesis Doktor Universitas Indonesia, 2006. h. 18.


(39)

B.

Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian sejenis yang telah dilaksanakan dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini antara lain adalah:

1. Juwita Deca Ryanne, yang telah melakukan penelitian dengan judul:

“Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Melalui Home Industri Batik di dusun Karangkulon Desa

Wukisari Imogiri Bantu” dengan hasil penelitian sebagai berikut:

kegiatan membatik yang dilakukan oleh ibu rumah tangga melalui kelompok home industri batik mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga, dilihat dari kegiatan ketika mereka berperan menjadi ibu rumah tangga dan ketika berperan menjadi ibu rumah tangga yang bekerja dalam kelompok home industri batik. Dengan menjalankan peran yang mereka lakukan, keadaan sosial ekonominya menjadi meningkat, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mendapatkan nilai kebudayaan dalam kearifan lokal melalui bentuk kerajian batik. Faktor penghambat yang mereka hadapi yaitu delam bentuk pemasaran dikarenakan lokasi di desa berbukit sehingga membutuhkan waktu yang lama.37

2. Anisa Sujarwati, yang telah melakukan penelitian dengan judul:

“Peran perempuan Dalam Perekonomian Rumah Tangga di Dusun Pantog Kulon, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo”. dengan hasil

penelitian sebagai berikut: Hasil dari penelitian tersebut terlihat bahwa peran perempuan sangat kuat, semangat para perempuan bekerja sangat besar walaupun dengan penghasilan yang kecil. Perempuan pekerja gula merah dapat mengisi sektor-sektor penting dalam keluarga, yaitu sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Upah yang minimum inilah yang dipergunakan para perempuan untuk memenuhi sektor-sektor dalam mensejahterakan

37

Juwita Deca Ryanne, Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Melalui Home Industri Batik di dusun Karangkulon Desa Wukisari Imogiri Bantu,

(Jakarta: Skripsi Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Islam Negeri Ayarif Hidayatullah Jakarta, 2015).


(40)

keluarga mereka. Dengan bekerjanya perempuan secara otomatis peran perempuan menjadi ganda, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan sebagai perempuan pekerja. Sisi sosiologis dalam penelitian ini yaitu peran dan semangat bekerja para perempuan dalam mensejahterakan keluarga mereka. Peran yang di mana para perempuan secara otomatis mengabdi kepada keluarga dan peran perempuan yang menghasilkan interaksi sosial kepada keluarga ataupun masyarakat. Peran perempuan dalam keluarga tidak dapat dipisahkan dengan msyarakat sekitar agar tercipta masyarakat yang harmonis.38

3. Abdul Malik, yang telah melakukan penelitian dengan judul: “Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga Di

Desa Tawaroe Kecamatan Dua Beccoe Kabupaten Bone”. dengan

hasil penelitian sebagai berikut: Hasil penelitian ini menunjukkan peranan istri dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani di Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, baik secara langsung maupun tidak langsung istri petani di Desa ini maksudnya 8 informan telah ikut ambil bagian dalam menambah pendapatan keluarga dan bentuk peranan istri petani dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya di Desa ini banyak para istri petani yang kemudian melakukan pekerjaan sampingan untuk membantu suami.39

4. M.Th Handayani, Ni Wayan Putu Artini, dalam jurnal yang berjudul,

“Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Pembuat Makanan

Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga”. Dengan hasil penelitian

sebagai berikut: Hasil penelitian ini menunjukkan motivasi ibu rumah tangga dalam menambah pendapatan keluarga, yaitu untuk mengisis

38

Anisa Sujarwati, Peran Perempuan Dalam Perekonomian Rumah Tangga Di Dusun Pantog Kulon, Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo, (Yogyakarta: Skripsi Program Studi Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.)

39 Malik, “Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga di

Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone”, Skripsi pada Universitas Hasanudin,


(41)

waktu luang dengan kegiatan positif dan untuk mencari pengalaman. Sebagaian besar ibu rumah tangga mengalami hambatan dalam bekerja dan sebagain tidak mengalami hambatan, dan tidak dapat membagi waktu untuk keluarga.40

5. Sugeng Haryanto, dalam jurnal yang berjudul, “Peran Aktif Wanita Dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus Pada Wanita Pemecah Batu Di Puncanganak Kecamatan Tugu

Trenggalek”. Dengan hasil penelitian sebagai berikut: pendapatan

yang diperoleh oleh pekerja wanita tersebut menurut mereka dirasakan sudah cukup. Kontribusi pendapatan pekerja wanita terhadap pedapatan suami cukup signifikansi.41

Tabel 2.1

Penelitian Yang Relevan

No Penelitian Relevan

1. Nama : Juwita Deca Ryanne

Judul : Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Melalui Home Industri Batik Di Dusun Karangkulon Desa Wukisari Imogiri Bantu. Hasil : Kegiatan membatik yang dilakukan oleh ibu rumah

tangga melalui kelompok home industri batik mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga, dilihat dari kegiatan ketika mereka berperan menjadi ibu rumah tangga dan ketika berperan menjadi ibu rumah tangga yang bekerja dalam kelompok home industri batik. Dengan menjalankan peran yang mereka lakukan, keadaan sosial ekonominya menjadi meningkat, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan

40

M.Th Handayani, Ni Wayan Putu Artini, “Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga

Pembuat Makanan Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga”, Jurnal Sosial Ekonomi Fakultas

Pertanian pada Universitas Udayana.

41Sugeng Haryanto, “Peran Aktif Wanita Dalam Peningkatan Pendapatan R

umah Tangga

Miskin: Studi Kasus Pada Wanita Pemecah Batu Di Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek”,


(42)

hari dan mendapatkan nilai kebudayaan dalam kearifan lokal melalui bentuk kerajian batik. Faktor penghambat yang mereka hadapi yaitu delam bentuk pemasaran dikarenakan lokasi di desa berbukit sehingga membutuhkan waktu yang lama.

Persamaan : Persamaan penelitian Juwita Deca dengan skripsi penulis ialah sama-sama meneliti mengenai peran istri.

Perbedaan : Yang membedakan dengan skripsi penulis ialah: 1) Peranan istri terhadap kesejahteraan rumah tangga 2) Lokasi tempat penelitian penulis berbeda.

2 Nama : Anisa Sujarwati Tahun : 2013

Judul : Peran Perempuan Dalam Perekonomian Rumah Tangga Di Dusun Pantog Kulon, Kalibawang, Kulon Progo Hasil : Hasil dari penelitian tersebut terlihat bahwa peran

perempuan sangat kuat, semangat para perempuan bekerja sangat besar walaupun dengan penghasilan yang kecil. Perempuan pekerja gula merah dapat mengisi sektor-sektor penting dalam keluarga, yaitu sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Upah yang minimum inilah yang dipergunakan para perempuan untuk memenuhi sektor-sektor dalam mensejahterakan keluarga mereka. Dengan bekerjanya perempuan secara otomatis peran perempuan menjadi ganda, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan sebagai perempuan pekerja. Sisi sosiologis dalam penelitian ini yaitu peran dan semangat bekerja para perempuan dalam mensejahterakan keluarga mereka. Peran yang di mana para perempuan secara otomatis mengabdi kepada keluarga dan peran perempuan yang menghasilkan interaksi sosial kepada keluarga


(43)

ataupun masyarakat. Peran perempuan dalam keluarga tidak dapat dipisahkan dengan msyarakat sekitar agar tercipta masyarakat yang harmonis

Persamaan : Persamaan penelitian Anisa Sujarwati dengan skripsi penulis ialah sama-sama meneliti mengenai peran perempuan dalam hal perekonomian.

Perbedaan : Yang membedakan skripsi penulis ialah:

1) Lokasi penelitian yang dilakukan Anisa Sujarwati dilakukan di kota Jogyakarta.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Anisa Sujarwati lebih menekankan hasilnya kepada sektor dalam rumah tangga bukan pada hasil pendapatan istri.

3. Nama : Abdul Malik Tahun : 2012

Judul : Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga Di Desa Tawaroe Kecamatan Dua Beccoe Kabupaten Bone.

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan peranan istri dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani di Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, baik secara langsung maupun tidak langsung istri petani di Desa ini maksudnya delapan informan telah ikut ambil bagian dalam menambah pendapatan keluarga dan bentuk peranan istri petani dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya di Desa ini banyak para istri petani yang kemudian melakukan pekerjaan sampingan untuk membantu suami

Persamaan : Persamaan penelitian Abdul Malik dengan skripsi penulis ialah sama meneliti peranan istri petani.

Perbedaan : Yang membedakan skripsi penulis ialah:

1) Lokasi yang diteliti oleh Abdul Malik dilakukan di Bone.

2) Variabel penelitian yang dilakukan oleh Abdul Karib yaitu dalam meningkatkan kesejahteraan sedangkan penulis lebih terfokus kepada pendapatan.


(44)

4. Nama : M.Th Handayani

Judul : Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Pembuat Makanan Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan motivasi ibu rumah tangga dalam menambah pendapatan keluarga, yaitu untuk mengisis waktu luang dengan kegiatan positif dan untuk mencari pengalaman. Sebagaian besar ibu rumah tangga mengalami hambatan dalam bekerja dan sebagain tidak mengalami hambatan, dan tidak dapat membagi waktu untuk keluarga.

Persamaan : Persamaan penelitian yang dilakukan oleh M.Th Handayani yaitu membahas tentang kontribusi dalam peningkatakan pendapatan rumah tangga.

perbedaan : Yang membedakan skripsi penulis ialah:

1) Penelitian yang dilakukan M.Th Handayani menggunakan metode penelitian kuantitatif sedangkan penulis menggunakan penelitian kualitatif.

2) Penelitian yang dilakukan oleh M.Th Handayani berfokus pada pendapatan pembuat makanan olahan.

5. Nama : Sugeng Haryanto Tahun : 2008

Judul : Peran Aktif Wanita Dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus Wanita Pemecah Batu Di Puncanganak Kecamatan Tugu Trenggalek Hasil : Dengan hasil penelitian sebagai berikut:

pendapatan yang diperoleh oleh pekerja wanita tersebut menurut mereka dirasakan sudah cukup. Kontribusi pendapatan pekerja wanita terhadap pedapatan suami cukup signifikansi.

Persamaan : Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Sugeng yaitu sama-sama membahas tentang kontribusi


(45)

perempuan dalam peningkatakan pendapatan rumah tangga.

perbedaan : Lokasi penelitian Sugeng dilakukan di Trenggalek


(46)

A.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di desa Bojonggenteng, Desa Bojonggenteng merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Alasan peneliti melakukan penelitian di tempat tersebut, karena responden sesuai dengan kriteria penelitian bahwa banyak istri petani yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga dilakukan penelitian ini dan ingin mengetahui bagaimana peran istri petani dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga dalam hal ini bagaimana istri petani bekerja di sektor domestik dan berperan di sektor publik dalam hal mencari nafkah tambahan bagi keluarga.

Waktu penelitian dilaksanakan bertahap mulai dari kegiatan pendahuluan, pelaksanaan, sampai kegiatan akhir penelitian. Peneliti nantinya datang langsung ke lapangan dengan maksud untuk wawancara serta studi dokumentasi terhadap objek yang diteliti. Penelitian ini dilaksanakan dalam rentang waktu antara bulan Juli-Oktober 2016. Tetapi batas waktu tersebut masih bersifat sementara, sehingga jika sewaktu-waktu masih memerlukan data, penulis dapat mengunjungi lokasi penelitian. Berikut ini jadwal kegiatan penelitian.

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan

Juli Agust Sept Okt Nov Des

1. Penyusunan Proposal


(47)

2. Observasi Penelitian

3. Pengumpulan Data

√ 4. Analisis dan

Pengolahan Data

5. Penyusunan Laporan

6. Bimbingan Akhir Skripsi

7. Sidang Skripsi

Sumber: Catatan Schadule Penelitian

B.

Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan dan mengumpulkan data.42 Populasi terdiri atas sekumpulan objek yang menjadi pusat perhatian, yang dari padanya terkandung informasi yang ingin diketahuinya. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh istri dari petani di Desa Bojonggenteng, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat tahun 2015.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama, sehingga betul-betul mewakili populasi.43 Menurut Suharsimi Arikunto sampel adalah sebagian atau wakil dari

42

P. Joko Subagjo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999), Cet. 3, h.23

43

Nana Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru, 1989), h. 84.


(48)

populasi yang diteliti.44 Sampel bersifat memberikan suatu gambaran tentang populasi.

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yakni teknik pemilihan informasi yang dilakukan serta di pilih berdasarkan pertimbangan tertentu, oleh karena itu sampel di tentukan dengan purposive (sengaja) sehingga sampel penelitian tidak perlu mewakili populasi, tetapi lebih kepada kemampuan sampel (informan) untuk memberikan informasi selengkap mungkin kepada peneliti.45 Berdasarkan atas kriteria yang di maksud adalah delapan istri petani yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan pendapatan rumah tangganya. Informan di pilih berdasarkan pertimbangan tertentu yakni mereka yang dianggap berkompeten untuk menjawab pertanyaan peneliti.

C.

Metode Penelitian dan Data yang Diinginkan

Pendekatan dan metode penelitian yang digunakan ini adalah metode kualitatif. Hal ini di ambil karena dalam penelitian ini berusaha menelaah fenomena sosial dalam suasana yang berlangsung secara wajar atau ilmiah, bukan dalam kondisi terkendali atau laboratoris. Metode penelitian ini dimunculkan karena adanya perubahan dalam memandang realita atau kenyataan serta fenomena atau gejala sosial yang di pandang sebagai sesuatu yang utuh tidak dapat dipisahkan dan penuh makna. Metode kualitatif ini sering disebut sebagai penelitian naturalistic karena penelitian nya dilakukan dalam kondisi yang alamiah (natural setting).46

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif adalah metode analisis deskriptif kualitataif, yaitu dengan menentukan dan menafsirkan data yang ada, misal nya tentang situasi yang dialami sehubungan dengan peranan istri petani dalam meningkatkan

44

Nana Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, h. 104.

45

M. Djunaedi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodelogi Penilaian Kualitatif, h. 35.

46


(49)

pendapatan rumah tangga atau proses yang sedang terjadi, kecenderungan, kelainan yang muncul, pertentangan, dan lain-lain.

Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling, dan purposive sampling. Seperti yang telah dipaparkan bahwa purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misal nya orang tersebut yang di anggap paling tahu tentang apa yang kita harap kan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang di teliti.47 Sedangkan

purposive sampling yakni teknik pemilihan informasi yang dilakukan serta dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu, oleh karena itu sampel ditentukan dengan purposive (sengaja) sehingga sampel penelitian tidak perlu mewakili populasi, tetapi lebih kepada kemampuan sampel (informan) untuk memberikan informasi selengkap mungkin kepada peneliti.48

D.

Jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

Data merupakan sumber yang paling penting untuk menyikap suatu permasalahan yang ada dan data jugalah yang akan menjawab permasalahan yang diteliti oleh peneliti. Maka yang dimaksud dengan dengan sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data diperoleh.49

Dalam penelitian ini data yang digunakan meliputi dua jenis data, yaitu data primer, dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung oleh sumbernya dan diolah sendiri oleh suatu organisasi suatu

47

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Sugiyono, h. 219

48

M. Djunaedi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodelogi Penilaian Kualitatif, h. 35.

49

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rinerka Cipta, 2010), h. 102.


(50)

perorangan.50 Data primer merupakan data utama yang diperoleh secara langsung yang dilakukan melalui wawancara. Dalam hal ini data yang diperlukan untuk memenuhi penelitian ini yaitu: (1) data tentang peranan istri petani di sektor domestik, (2) data tentang peranan istri di sektor publik, (3) data tentang motif istri bekerja, (4) data tentang perolehan pendapatan istri petani.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan. Sumber sekunder meliputi komentar, interpretasi, atau pembatasan tentang materi original. Data sekunder juga dapat dikatakan sebagai “second-hand information”.

Pengumpulan data sekunder didasarkan pada data yang tersedia dikantor desa, yaitu demografi, sarana, prasarana, dan dokumen-dokumen lain yang terkait.

2. Sumber Data

Sumber data dimaksudkan semua informasi baik yang merupakan benda nyata, sesuatu yang abstrak, peristiwa/gejala baik secara kuantitaif dan kualitatif.51 Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. Dalam memilih responden peneliti memilih responden yang mempunyai peran yakni 8 orang istri petani. Hal ini dapat diperjelas dengan tabel sebagai berikut:

50

J. Suprapto, Metode Ramalan Kuantitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), h. 8.

51

Sukandar Rumidi, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2012), h. 44.


(51)

Tabel 3.2

Jenis dan Sumber data Penelitian

No Jenis Data Sumber Data

1. Peranan Istri petani dalam sektor Domestik

Istri Petani 2. Peranan Istri Petani dalam

Sektor Publik 3. Motif Istri Bekerja 4. Pendapatan Istri Petani

E.

Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian

Teknik merupakan alat bantu atau cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi data. Banyak terdapat teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian. Namun, untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan beberapa teknik pengumpulan data saja, yaitu melalui wawancara sebagai sumber informasi utama dan dokumentasi sebagai informasi pelengkap. Berikut ini adalah pemaparan dari teknik yang digunakan untuk pengumpulan data:

1. Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menentukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondenya sedikit atau kecil.52

Dalam memilih responden peneliti memilih responden yang mempunyai peranan dalam meningkatkkan pendapatan rumah tangga.

52

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009), h.194.


(52)

Peneliti melakukan wawancara, istri petani yang bekerja di sektor publik di desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Untuk wawancara pedoman wawancara yang digunakan dapat dijabarkan melalui tabel berikut:

Tabel 3.3 Pedoman Wawancara

No Jenis Data yang di

Kumpulkan Sumber Data Pertanyaan

1. Peranan Istri Petani di Sektor Domestik

Istri Petani di desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat

Bagaimana peranan istri di rumah tangga jika

dibarengi dengan bekerja?

Para istri secara otomatis mempunyai peran ganda, sebagai ibu rumah tangga dan ibu pekerja. Apakah hal tersebut menjadi beban tersendiri? 2. Motif Istri Bekerja Istri Petani di desa

Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat

Apa motif ibu bekerja?

3. Peranan Istri Petani di Sektor Publik

Istri Petani di desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat

Sejak kapan ibu mulai bekerja?

4. Pendapatan Istri Petani

Istri Petani di desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat

Bagaimana kontribusi ibu

dalam peningkatan

pendapatan keluarga?

Berapa pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan ibu dalam perhari atau perbulan?

Apakah pendapatan

tersebut cukup


(53)

sehari-hari keluarga? Sumber: Data Instrumen Wawancara Peneliti

2. Dokumentasi

Dokumentasi diartikan sebagai catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau foto, atau karya-karya dari seseorang. Dokumen gambar merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian ini. Hasil dari observasi atau wawancara akan lebih dipercaya jika didukung oleh gambar berupa foto-foto yang diambil oleh peneliti dengan responden pada saat observasi maupun saat wawancara berlangsung.

Dokumentasi yang dapat digunakan dalam penelitian ini dapat dijabarkan memalui tabel berikut:

Tabel 3.4

Pedoman Dokumentasi

No Jenis Data Sumber Data Ket

1.

Data demografi desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Sekretaris Desa

2.

Foto peta administrasi desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Sekretaris Desa

3.

Visi dan Misi desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Sekretaris Desa

4. Surat Pengantar Penelitian

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah


(54)

5. Transkip Wawancara

Masyarakat (Istri Petani di Desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

F.

Pengecekan Keabsahan Data

Dalam bahasa sehari-hari tringulasi dikenal dengan istilah cek dan ricek yaitu pengecekan data menggunakan beragam sumber, teknik, dan waktu.53

1. Tringulasi

Tringulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat tringulasi sumber, tringulasi pengumpulan data dan waktu.

a. Tringulasi Sumber

Tringulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan car mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan beberapa sumber data tersebut. Dalam hal ini sumber datanya adalah istri petani di desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat.

b. Tringulasi Teknik

Tringulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Data yang diperoleh dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data

53


(55)

yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar. Atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda. Dalam penelitian ini yaitu dengan wawancara dan studi dokumentasi.

G.

Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang di peroleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang akan di pelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah di pahami oleh diri sendiri dan orang lain.54

Miles dan Huberman yang di kutip oleh Sugiyono, mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif di lakukan secara interaktif dan di lakukan secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu: data reduction, data display, data

conclusion drawing/verification.55

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif mengikuti konsep yang diberikan oleh Miles and Hubermen dan Spradley.

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dari lapangan. Tentu saja proses reduksi data ini tidak harus menunggu hingga data terkumpul banyak konsep ini berbeda dengan model kuantitatif yang mengharuskan peneliti menunggu data terkumpul semuanya dahulu baru mengadakan analisis namun dapat dilakukan

54

Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,. h. 335.

55

Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,.. h. 337-345.


(56)

sejak data masih sedikit sehingga selain meringankan kerja peneliti, juga dapat memudahkan peneliti dalam melakukan kategorisasi data yang telah ada. Jika hal tersebut telah dilakukan, data akan secara mudah dimasukkan kedalam kelompok-kelompok yang dibuat peneliti.

Tahapan reduksi data merupakan bagian kegiatan analisis sehingga pilihan-pilihan peneliti tentang bagian data yang mana dikode, dibuang, pola-pola mana yang meringkas sejumlah bagian yang tersebut, cerita-cerita apa saja yang dikembangkan, merupakan pilihan-pilihan analisis. Dengan begitu proses reduksi data dimaksudkan untuk lebih menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang bagian data yang tidak diperlukan, serta mengorganisasi data sehingga memudahkan untuk dilakukan penarikan kesimpulan yang kemudian akan dilanjutkan dengan proses verifikasi.56

Untuk mempermudah peneliti dalam mereduksi data, peneliti menggunakan alat bantu berupa peralatan elektronik seperti handphone untuk memotret dan merecord.

2. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data di reduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori,

flowcart, dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles dan Huberman yang di kutip oleh Sugiyono, menyatakan yang paling sering digunakan untuk penyajian data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifar naratif. Dengan mendisplaykan data, maka akan mempermudah untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.57 Dalam penelitian ini,

56

Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu sosial, (Yogyakarta : Erlangga, 2009), h 150.

57


(57)

peneliti melakukan penyajian data melalui transkip wawancara yang telah dilampirkan.

3. Verivikasi dan Penarikan Kesimpulan

Tahap akhir dari pengumpulan data adalah verifikasi dan pengambilan kesimpulan, yang dimaknai sebagai penarikan arti data yang telah ditampilkan. Pemberian makna ini tentu saja sejauh pemahaman peneliti dan interprestasi yang dibuatnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam proses ini adalah dengan melakukan pencatatan untuk pola-pola dan tema yang sama, pengelompokan dan pencarian kasus-kasuk negatif (kasus khas, berbeda, mungkin pula penyimpangan dari kebiasaan yang ada di masyarakat).

Menurut Milles and Huberman menyatakan bahwa dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin ada, alur sebab akibat, dan proposisi.

Dalam penelitian kualitatif ini, penarikan kesimpulan dapat saja berlangsung saat proses pengumpulan data berlangsung, baru kemudian melakukan reduksi dan penyajian data. hanya saja ini perlu disadari bahwa kesimpulan yang dibuat itu bukanlah hasil dari kesipulan final. Hal ini karena setelah proses penyimpulan tersebut, peneliti dapat saja melakukan verifikasi hasil temuan ini kembali kelapangan.

Proses verifikasi hasil temuan ini dapat saja berangsung singkat dan dilakukan oleh peneliti tersendiri, yaitu dilakukan secara selintas dengan mengingat hasil-hasil temuan terdahulu dan melakukan cek silang (cross check) dengan temuan lainnya.58

58


(58)

A.

Gambaran Umum Desa Bojonggenteng

1. Sejarah Desa Bojonggenteng

Kampung Bojonggenteng asal mula namanya diambil dari nama tempat, di mana dulunya ada seorang yang mempunyai sebidang tanah yang dikelilingi oleh sawah. Tanah tersebut bernama Bojojong yang terjepit oleh sawah, seperti benda yang terjepit hingga di tengah-tengah kebun tersebut yang sangat terpencil, hingga orang Sunda bilang kejepit lalu disebut genteng, padahal sebelumnya tempat itu belum mempunyai nama kampung dan dengan adanya tanah Bobojong yang terjepit sawah hingga genteng dan pada saat itu pula orang tua dulu menamai daerah ini dengan kampung Bojonggenteng.

Awal berdirinya Desa Bojonggenteng tidak dapat dipaparkan secara jelas, namun dapat terlihat dari masa jabatan kepala desa yang pernah memimpinnya. Namun tidak menutup kemungkinan masih adanya kepala desa kepala desa lain yang menjabat sebelumnya.59

2. Visi Desa Bojonggenteng

Mewujudkan masyarakat desa Bojonggenteng yang maju, sejahtera, berdaya saing dan berakhlakul kharimah.

3. Misi Desa Bojonggenteng

a. Peningkatan pembangunan infrastruktur perdesaan yang mendukung perekonomian desa.

b. Peningkatan prasarana di bidang kesehatan dan kualitas layanan kesehatan dasar masyarakat.

59


(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

109

BIODATA PENULIS

AIDA SRI RAHAYU, adalah mahasiswi Program Studi Sosiologi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Lahir di Sukabumi, 06 Agustus 1994. Merupakan anak ke enam dari tujuh bersaudara, dari pasangan Ayahanda Syaprudin dan Ibunda Iis Kholisoh. Bertempat tinggal di Kp. Caringin-Cicurug Rt 02/06, Nyangkowek, Sukabumi, Jawa Barat.

Riwayat pendidikan penulis; penulis pernah mengenyam pendidikan di RA. Al-Masturiyah Cisaat

Sukabumi pada tahun 1998-1999, kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SDN 2 Nyangkowek Caringin-Cicurug Sukabumi tahun 2000, kemudian melajutkan jenjang pendidikan menengah pertama pada tahun 2006 di SMPN 1 Cicurug Sukabumi, kemudian melanjutkan pendidikan menengah atasnya pada tahun 2009 di MAN Cibadak Sukabumi hingga akhir lulus tahun 2012, setelah itu melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan (FITK) Hingga sekarang sejak tahun 2012.

Pengalaman organisasinya diawali dengan menjadi pengurus MPK MAN Cibadak Sukabumi 2009-2010, tercatat telah aktif menjadi pengurus di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Masa Jabatan 2012-2015 sebagai anggota divisi kemahasiswaan, anggota Paduan Suara Tarbiyah di POSTAR 2012-2015.

Skripsi yang berjudul “Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga Petani Di Desa Bojonggenteng, Kabupaten


(6)

dan dunia pendidikan, serta masyarakat. Semoga karya tulis yang sederhana ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.