Perceraian Dan Akibat Hukumnya Pada Masyarakat Batak Toba Yang Beragama Kristen Protestan (Studi: Di Desa Martoba (Bius Tolping), Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir)

PERCERAIAN DAN AKIBAT HUKUMNYA PADA MASYARAKAT BATAK TOBA YANG BERAGAMA KRISTEN PROTESTAN (STUDI: DI DESA MARTOBA (BIUS TOLPING),
KECAMATAN SIMANINDO, KABUPATEN SAMOSIR)
TESIS
Oleh: JUNJUNGAN MOSES SIALLAGAN
097011107 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

PERCERAIAN DAN AKIBAT HUKUMNYA PADA MASYARAKAT BATAK TOBA YANG BERAGAMA KRISTEN PROTESTAN (STUDI: DI DESA MARTOBA (BIUS TOLPING),
KECAMATAN SIMANINDO, KABUPATEN SAMOSIR) TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh: JUNJUNGAN MOSES SIALLAGAN
097011107 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis
Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi

: PERCERAIAN DAN AKIBAT HUKUMNYA PADA MASYARAKAT BATAK TOBA YANG BERAGAMA KRISTEN PROTESTAN (STUDI : DI DESA MARTOBA (BIUS TOLPING), KECAMATAN SIMANINDO, KABUPATEN SAMOSIR)
: Junjungan Moses Siallagan : 097011107 : Kenotariatan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Sanwani Nasution, SH)

Pembimbing

Pembimbing

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

(Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, MHum)

Ketua Program Studi,

Dekan,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum) Tanggal lulus : 24 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada : Tanggal : 24 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Prof. Sanwani Nasution, SH

Anggota

: 1. Prof. DR. Runtung, SH, MHum

2. DR. Idha Aprilyana Sembiring, SH, MHum

3. Prof. DR. Muhammad Yamin, SH, MS, CN

4. DR. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Dalam perkembangannya, perceraian dalam sebuah ikatan perkawinan tidak dapat dihindari. Alasan pengajuan perceraian sangat bervariasi seperti: masuknya orang ketiga dalam perkawinan, adanya perbedaan pandangan mengenai kewajiban suami isteri dalam rumah tangga dan seringnya isteri ditinggal suami, perubahan peran suami isteri, serta pertengkaran dan konflik yang berkepanjangan sehingga tidak mungkin lagi kerukunan dan kebahagiaan rumah tangga itu dapat dipertahankan.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaturan mengenai perceraian dalam agama Kristen berdasarkan hukum perkawinan dan peraturan lain, untuk mengetahui alasan perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen dan untuk mengetahui akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang beragama Kristen.
Kerangka teori ini memakai teori perbandingan hukum, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hall menegaskan, ”to be sapiens is to be a comparatist’, melalui sejarah yang panjang, teknik perbandingan ternyata telah memberikan kontribusi yang teramat penting dan berpengaruh di seluruh bidang ilmu alam dan ilmu sosial. Dalam hal ini, perbandingan hukum mempunyai signifikansi terhadap aplikasi yang sistematis dari teknik perbandingan terhadap bidang hukum.
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Untuk tercapainya penelitian ini, sangat ditentukan dengan metode yang dipergunakan dalam memberikan gambaran dan jawaban atas masalah yang dibahas, yaitu penelitian deskripsi analistis. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan mengenai perceraian dalam agama Kristen tidak ada diatur, tetapi UU Perkawinan mengatur tata cara perkawinan. Peraturan perceraian terhadap masyarakat adat Batak Toba tidak ada yang tertulis hanya secara tersirat saja dapat dilakukan perceraian. Yang dapat melakukan perceraian adalah pengetua adat dan kedua belah pihak serta pihak keluarga kedua belah pihak. Sedangkan perceraian bagi masyarakat adat Batak Toba yang beragama Kristen yang menjadi warga Negara Indonesia dapat melakukan perceraian sesuai dengan UU Perkawinan yang walaupun di dalam Alkitab dikatakan tidak ada perceraian kecuali karena kematian. Alasan perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen dapat dilihat dari dua sisi, yaitu alasan perceraian masyarakat adat Batak Toba menurut Adat Batak Toba, alasan perceraian masyarakat adat Batak Toba menurut gugatan pengadilan negeri, yaitu harus sesuai dengan Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan untuk dapat dijadikan sebagai alasan mengajukan perceraian. Akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang beragama Kristen
i
Universitas Sumatera Utara

dapat dilihat dari 3 (tiga) sisi, yaitu: terhadap hubungan suami istri, terhadap orang tua/anak dan Terhadap harta benda perkawinan.
Adapun saran dalam tesis ini adalah dalam hal pengaturan mengenai perceraian Pemerintah dan DPR dalam merubah atau merombak undang-undang yang mengatur tentang perceraian lebih memperketat peraturan mengenai perceraian, agar tidak dengan begitu mudahnya perceraian di Indonesia, hendaknya Pengetua Adat, Pendeta, bahkan Pengadilan Negeri memberikan masukan-masukan kepada keluarga muda yang bermasalah dalam rumah tangga agar tidak terjadi perceraian. Sebab alasan apapun mengenai perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen tidak dapat dilakukan kecuali dengan kematian dan hendaknya Pengetua Adat, Pendeta, bahkan Pengadilan Negeri memberikan masukan-masukan mengenai hal akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang beragama Kristen baik itu mengenai hubungan persaudaraan, anak bahkan harta kekayaan yang timbul dalam perkawinan
Kata Kunci: Perceraian, Batak Toba, Kristen Protestan
ii
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
In its development, a divorce in a marriage cannot be avoided. There are various reasons for a divorce application such as the involvement of third party in a marriage, different point of view about the obligations of husband and wife in their family and the husband frequently leaves his wife, the changing roles of husband and wife, endless quarrel and conflict that they cannot maintain the happiness and harmony in their family.
The purpose of this study was to find out the regulation of divorce in Christianity based on Law on Marriage and other regulations, to examine the reasons for divorce in the Christian Batak Toba community, and to analyze the legal consequence of a divorce in the Christian Batak Toba community.
The theoretical framework used in this study was legal comparative theory referring to Hall’s statement,” to be sapiens is to be a comparatist”, through a long history, comparative technique has given an important contribution and had influence on all fields of natural and social sciences. In this case, legal comparative has its significance towards the systematic application of the comparative technique in the field of law.
Legal research is a scientific activity based on method, systematic and certain thought intended to study one or several certain legal symptoms by analyzing them. The success in this analytical descriptive study is very determined by the method used to describe the problems being studied and the answers to them. This study employed the empirical juridical approach.
The result of this study showed that there was no regulation regulating the divorce in Christianity, but the Law on Marriage does regulate the procedure of marriage. There is no written regulation on divorce in the Batak Toba community, and the divorce can only be implicitly done. Those who had an authority to divorce husband and wife are the adat leader, the husband and wife concerned and their family members. While the Christian Batak Toba who have become Indonesian citizens can do the divorce in accordance with Law on Marriage even though the Bible says there is no divorce but by death. The reasons for divorce in the Christian Toba Batak community can be seen from two sides; according to Batak Toba customs/adat and according to the state court lawsuit based on Article 39 paragraph (2) of Law on Marriage. The legal consequences of divorce in the Christian Batak Toba community are to the relationship of husband and wife, to their parents/children, and to their marital property.
The Government of Indonesia in this case the Indonesian Legislative Assembly is expected to make a regulation especially about the procedure or process of divorce in Christianity that there will be no more overlapping regulations like what exists today. The religious institutions or adat associations of Batak Toba clans are expected to give inputs to their members, especially Batak Toba community, to
iii
Universitas Sumatera Utara

keep maintaining the advices given by our ancestors saying that the marriage is a sacred and holy unification of life between a man and a woman which is not just to build a household and family. Therefore, a Batak Toba husband who divorced his wife or all of his family and relatives including his grandfather and brothers must always maintain what has been advised by our ancestors, namely, not to change the responsibility of the husband’s family and relatives to his children and divorced wife. Keywords: Divorce, Batak Toba, Protestant Christian
iv Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, oleh rahmat dan kasih karunia-Nya sehingga dapat melakukan dan menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis ini dengan baik. Banyak hal yang terjadi dialai saat menyelesaikan tesis ini.
Adapun tujuan dibuat penulisan tesis ini untuk memenuhi sebagian syaratsyarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan Dalam Program Studi Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Adapun judul tesis ini adalah: “PERCERAIAN DAN AKIBAT HUKUMNYA PADA MASYARAKAT BATAK TOBA YANG BERAGAMA KRISTEN PROTESTAN (Studi: Di Desa Martoba (Bius Tolping), Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir)”.
Penulis menyadari dalam penulisan tesis ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat masukan yang membangun demi melengkapi kesempurnaan dalam penulisan tesis ini.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan penyelesaian tesis ini terutama kepada yang terhormat : l. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.AK) selaku
Rektor atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pada program studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Univenitas Sumatera Utara; 2. Bapak Prof. DR. Runtung, S.H, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Anggota Komisi Pembimbing pembuatan dan penyelesaian tesis ini yang telah memberikan saran dan kritik dalam penelitian tesis ini, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan;
v
Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Prof. DR. Muhammad Yamin, S.H, M.S, C.N, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Ketua Komisi Penguji yang telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.
4. Ibu DR. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Anggota Komisi Penguji yang telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.
5. Bapak Prof. Sanwani Nasution, SH, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dukungan, serta saran dan kritik dari awal penelitian, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan;
6. Ibu DR. Idha Aprilyana Sembiring. SH, M.Hum, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dukungan, serta saran dan kritik dari awal penelitian, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan;
7. Bapak Prof. DR. Muhammad Yamin, SH, MS, CN selaku Ketua Komisi Penguji yang telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.
8. Bapak J. Silalahi selaku Kepala Desa Martoba (Bius Tolping) Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Bapak K. Limbong Hakim di Pengadilan Negeri Balige, Amang Jobar Siallagan selaku Pengetua Adat Batak di Desa Martoba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dan Pendeta Agama Kristen, yaitu antara lain Pdt. Balosan Rajagukguk, STh, MS, selaku Pendeta HKBP Resort P. Siantar, Pdt. Asbon Salomon Manurung, STh, Pendeta di Gereja Bethel Injil Penuh Pematang Siantar yang telah memberikan masukan serta data-data sehingga penelitian tesis ini dapat diselesaikan.
9. Para Guru Besar serta seluruh Dosen Staf Pengajar Progran Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis selama mengikuti proses perkuliahan;
vi
Universitas Sumatera Utara

10. Seluruh Rekan Staf dan Pegawai Sekretariat Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara atas bantuan dan informasinya yang diberikan kepada penulis dalam proses penyelesaian perkuliahan hingga penelitian tesis ini;
11. Kedua orang tua, yaitu ayahanda Drs. Cornelius Siallagan dan ibunda tercinta Tiominar Matondang, SH, SpN, yang telah memberikan DOA, dorongan dan motivasi baik secara lahiriah dan batiniah, serta didikan yang amat sangat berguna sehingga dapat menyelesaikan program studi ini dengan baik.
12. Kepada kedua keluarga Tulang saya, keluarga Benny Matondang dan keluarga Tigor matondang yang telah memberi motifasi hidup dalam langkah – langkah yang berguna untuk kedepan harinya.
13. Ketiga saudari saya serta abang ipar saya, Lisbeth Siallagan, SE dan dr. Morrison Sihite, Mamitta Siallagan, SH, MKn dan dr. Feeter Suryanto, SpOG serta Try Yanthy Siallagan, SE. Rasa terima kasih yang sungguh luar biasa atas DOA dan dorongan yang tak henti-hentinya baik secara moral dan materiil, dukungan yang ngak putus dan memberikan motivasi yang menguatkan bagi penulis. Serta kepada kekasih penulis dr. Theodora Yosevangelika Hutabarat yang memberikan arahan-arahan yang berguna bagi penulis.
14. Kepada keponakan – keponakan saya Louise Sihite, Betris Sihite, Lauren Sihite, Zita Ginting dan Zahira Ginting yang selalu memberikan senyuman dan kegembiraan terhadap penulis.
15. Para sahabat seperjuangan Kelas Reguler Khusus, Kelas Regular A, B dan C Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara terutama Doni Kartien, Epi Sulastri, Amelia Silvany, Alnasril, Dessy Mellaroza dan Lisa Harahap yang memberikan motivasi dan dukungan baik secara moril dan spiritual dalam penyelesaian tesis ini.
16. Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.
vii
Universitas Sumatera Utara

Akhir kata penulis mengembalikannya dan berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa, agar kita selalu mendapat rahmat-Nya, penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya pada bidang Kenotariatan terlebih pada penulis sendiri dan orang lain.
Medan, Agustus 2011 Penulis, JUNJUNGAN MOSES SIALLAGAN
viii Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Data Pribadi
Nama Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Kewarganegaraan Agama Alamat
Email Nama Ayah Nama Ibu Anak ke No Handphone

: JUNJUNGAN MOSES SIALLAGAN : Pematangsiantar, 05 Febuari 1986 : Laki-Laki : Indonesia : Kristen Protestan : Jalan Parsoburan No. 4 Pematangsiantar
Kelurahan Kampung kristen Kecamatan Siantar Selatan Kotamadya Pematangsiantar, 21124 : cortio_sima@yahoo.com : Drs.Cornelius Badiaman Siallagan : Tiominar Matondang, SH, SpN : 4 (empat) dari 4 (empat) bersaudara : 08116206744, 081385733304

B. Pendidikan
1992 – 1998 1998 – 2001 2001 – 2004 2004 – 2008
2009 – 2011

: SD Swasta Budi Mulia No.02 Pematangsiantar : SLTP Swasta Bintang Timur Pematangsiantar : SLTA Swasta Bintang Kejora Jakarta Barat : Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas
Satyagama Jakarta Barat : Strata Dua (S2) Magister Kenotariatan Universitas
Sumatera Utara Medan

ix Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman ABSTRAK............................................................................................................. i ABSTRACT............................................................................................................ iii KATA PENGANTAR ........................................................................................... v DAFTAR RIWAYAT HIDUP .............................................................................. ix DAFTAR ISI ......................................................................................................... x BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A. Latar Belakang................................................................................ 1 B. Perumusan Masalah........................................................................ 10 C. Tujuan Penelitian............................................................................ 10 D. Manfaat Penelitian .......................................................................... 10
1. Manfaat teoritis......................................................................... 11 2. Manfaat praktis ....................................................................... 11 E. Keaslian Penelitian.......................................................................... 11 F. Kerangka Teori dan Konsepsi ........................................................ 13 1. Kerangka teori .......................................................................... 13 2. Konsepsi .................................................................................... 17 G. Metode Penelitian............................................................................ 20 1. Spesifikasi penelitian................................................................. 20 2. Lokasi penelitian....................................................................... 21 3. Populasi dan sampel ................................................................. 22
3.1 Pupulasi ........................................................................... 22 3.2 Sampel.............................................................................. 22 4. Sumber data .............................................................................. 23 5. Teknik pengumpulan data........................................................ 24 6. Alat pengumpulan data ............................................................ 24 7. Analisis Data ............................................................................. 25 BAB II PENGATURAN MENGENAI PERCERAIAN DALAM AGAMA KRISTEN BERDASARKAN HUKUM PERKAWINAN DAN
x
Universitas Sumatera Utara

PERATURAN LAIN ............................................................................. 27 A. Perkawinan Di Kalangan Masyarakat Batak Toba ....................... 27 B. Perceraian Dikalangan Masyarakat Batak Toba Beragama
Kristen ............................................................................................ 34 C. Perceraian Dikalangan Masyarakat Batak Toba Kristen
Menurut Hukum Adat Batak Toba ................................................ 41 D. Perceraian Masyarakat Batak Toba Yang Beragama Kristen
Menurut UU 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ........................... 45 BAB III ALASAN PERCERAIAN DALAM MASYARAKAT BATAK
TOBA DAN AGAMA KRISTEN.......................................................... 57 A. Gambaran Umum Desa Martoba (Bius Tolping)........................... 57 B. Alasan dan Syarat Perceraian Secara Adat Batak Toba Yang
Beragama Kristen di Desa Martoba (Siallagan Tolping) .............. 60 1. Alasan perceraian pada masyarakat Batak Toba yang
beragama Kristen .................................................................... 60 2. Syarat-syarat perceraian di masyarakat Batak Toba ..... yang
Beragama Kristen ..................................................................... 81 C. Tata Cara Perceraian Masyarakat Batak Toba Yang Beragama
Kristen di Desa Martoba atau Siallagan Tolping........................... 90 D. Perkara Perceraian Masyarakat Batak Toba Beragama Kristen
di Kabupaten Samosir.....................................................................101 BAB IV AKIBAT HUKUM PERCERAIAN DALAM MASYARAKAT
HUKUM BATAK TOBA DAN KRISTEN..........................................111 A. Terhadap Hubungan Suami istri....................................................113 B. Terhadap Hubungan Orang Tua dan Anak...................................114 C. Terhadap Harta perkawinan ..........................................................118 D. Peranan Gereja dan Lembaga Adat Batak Toba dalam
Menanggulangi Perceraian .............................................................124 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................130
A. KESIMPULAN ...............................................................................130 B. SARAN ............................................................................................133 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
xi
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Dalam perkembangannya, perceraian dalam sebuah ikatan perkawinan tidak dapat dihindari. Alasan pengajuan perceraian sangat bervariasi seperti: masuknya orang ketiga dalam perkawinan, adanya perbedaan pandangan mengenai kewajiban suami isteri dalam rumah tangga dan seringnya isteri ditinggal suami, perubahan peran suami isteri, serta pertengkaran dan konflik yang berkepanjangan sehingga tidak mungkin lagi kerukunan dan kebahagiaan rumah tangga itu dapat dipertahankan.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaturan mengenai perceraian dalam agama Kristen berdasarkan hukum perkawinan dan peraturan lain, untuk mengetahui alasan perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen dan untuk mengetahui akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang beragama Kristen.
Kerangka teori ini memakai teori perbandingan hukum, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hall menegaskan, ”to be sapiens is to be a comparatist’, melalui sejarah yang panjang, teknik perbandingan ternyata telah memberikan kontribusi yang teramat penting dan berpengaruh di seluruh bidang ilmu alam dan ilmu sosial. Dalam hal ini, perbandingan hukum mempunyai signifikansi terhadap aplikasi yang sistematis dari teknik perbandingan terhadap bidang hukum.
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Untuk tercapainya penelitian ini, sangat ditentukan dengan metode yang dipergunakan dalam memberikan gambaran dan jawaban atas masalah yang dibahas, yaitu penelitian deskripsi analistis. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan mengenai perceraian dalam agama Kristen tidak ada diatur, tetapi UU Perkawinan mengatur tata cara perkawinan. Peraturan perceraian terhadap masyarakat adat Batak Toba tidak ada yang tertulis hanya secara tersirat saja dapat dilakukan perceraian. Yang dapat melakukan perceraian adalah pengetua adat dan kedua belah pihak serta pihak keluarga kedua belah pihak. Sedangkan perceraian bagi masyarakat adat Batak Toba yang beragama Kristen yang menjadi warga Negara Indonesia dapat melakukan perceraian sesuai dengan UU Perkawinan yang walaupun di dalam Alkitab dikatakan tidak ada perceraian kecuali karena kematian. Alasan perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen dapat dilihat dari dua sisi, yaitu alasan perceraian masyarakat adat Batak Toba menurut Adat Batak Toba, alasan perceraian masyarakat adat Batak Toba menurut gugatan pengadilan negeri, yaitu harus sesuai dengan Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan untuk dapat dijadikan sebagai alasan mengajukan perceraian. Akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang beragama Kristen
i
Universitas Sumatera Utara

dapat dilihat dari 3 (tiga) sisi, yaitu: terhadap hubungan suami istri, terhadap orang tua/anak dan Terhadap harta benda perkawinan.
Adapun saran dalam tesis ini adalah dalam hal pengaturan mengenai perceraian Pemerintah dan DPR dalam merubah atau merombak undang-undang yang mengatur tentang perceraian lebih memperketat peraturan mengenai perceraian, agar tidak dengan begitu mudahnya perceraian di Indonesia, hendaknya Pengetua Adat, Pendeta, bahkan Pengadilan Negeri memberikan masukan-masukan kepada keluarga muda yang bermasalah dalam rumah tangga agar tidak terjadi perceraian. Sebab alasan apapun mengenai perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen tidak dapat dilakukan kecuali dengan kematian dan hendaknya Pengetua Adat, Pendeta, bahkan Pengadilan Negeri memberikan masukan-masukan mengenai hal akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang beragama Kristen baik itu mengenai hubungan persaudaraan, anak bahkan harta kekayaan yang timbul dalam perkawinan
Kata Kunci: Perceraian, Batak Toba, Kristen Protestan
ii
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
In its development, a divorce in a marriage cannot be avoided. There are various reasons for a divorce application such as the involvement of third party in a marriage, different point of view about the obligations of husband and wife in their family and the husband frequently leaves his wife, the changing roles of husband and wife, endless quarrel and conflict that they cannot maintain the happiness and harmony in their family.
The purpose of this study was to find out the regulation of divorce in Christianity based on Law on Marriage and other regulations, to examine the reasons for divorce in the Christian Batak Toba community, and to analyze the legal consequence of a divorce in the Christian Batak Toba community.
The theoretical framework used in this study was legal comparative theory referring to Hall’s statement,” to be sapiens is to be a comparatist”, through a long history, comparative technique has given an important contribution and had influence on all fields of natural and social sciences. In this case, legal comparative has its significance towards the systematic application of the comparative technique in the field of law.
Legal research is a scientific activity based on method, systematic and certain thought intended to study one or several certain legal symptoms by analyzing them. The success in this analytical descriptive study is very determined by the method used to describe the problems being studied and the answers to them. This study employed the empirical juridical approach.
The result of this study showed that there was no regulation regulating the divorce in Christianity, but the Law on Marriage does regulate the procedure of marriage. There is no written regulation on divorce in the Batak Toba community, and the divorce can only be implicitly done. Those who had an authority to divorce husband and wife are the adat leader, the husband and wife concerned and their family members. While the Christian Batak Toba who have become Indonesian citizens can do the divorce in accordance with Law on Marriage even though the Bible says there is no divorce but by death. The reasons for divorce in the Christian Toba Batak community can be seen from two sides; according to Batak Toba customs/adat and according to the state court lawsuit based on Article 39 paragraph (2) of Law on Marriage. The legal consequences of divorce in the Christian Batak Toba community are to the relationship of husband and wife, to their parents/children, and to their marital property.
The Government of Indonesia in this case the Indonesian Legislative Assembly is expected to make a regulation especially about the procedure or process of divorce in Christianity that there will be no more overlapping regulations like what exists today. The religious institutions or adat associations of Batak Toba clans are expected to give inputs to their members, especially Batak Toba community, to
iii
Universitas Sumatera Utara

keep maintaining the advices given by our ancestors saying that the marriage is a sacred and holy unification of life between a man and a woman which is not just to build a household and family. Therefore, a Batak Toba husband who divorced his wife or all of his family and relatives including his grandfather and brothers must always maintain what has been advised by our ancestors, namely, not to change the responsibility of the husband’s family and relatives to his children and divorced wife. Keywords: Divorce, Batak Toba, Protestant Christian
iv Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Sesuai dengan kodrat alam manusia sejak lahir sampai meninggal dunia hidup
bersama-sama dengan manusia lain atau tidak dapat hidup menyendiri, terpisah dari kelompok lainnya.1 Sejak dahulu kala pada diri manusia terdapat hasrat untuk berkumpul dengan sesamanya dalam suatu kelompok. Di samping itu, manusia juga punya hasrat untuk bermasyarakat.
Manusia sebagai mahluk individu biasa saja mempunyai sifat untuk hidup menyendiri tetapi manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat hidup menyendiri. Manusia sebab ia lahir, hidup berkembang, dan meninggal dunia di dalam masyarakat.2
Pola hidup tersebut merupakan susunan daripada kaidah-kaidah yang mencakup kaidah-kaidah kepercayaan, kesusilaan, sopan santun dan hukum. Tidak jarang bahwa suatu kepentingan manusia dilindungi oleh keempat macam kaidah tersebut. Untuk menelaah perbedaan-perbedaannya, maka kaidah-kaidah tersebut perlu dihubungkan dengan adanya dua aspek hidup, yaitu pribadi dan hidup antar pribadi.
1 Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2004, hal. 1. 2 Ibid.
1
Universitas Sumatera Utara

2
Setelah dewasa, keinginan untuk melakukan perkawinan telah terbayang di dalam pikirannya. Kemauan ini semakin terasa apabila manusia tersebut telah mempunyai penghasilan dan mampu untuk membiayai kehidupan rumah tangga sendiri.3
Perkawinan adalah hubungan hukum yang merupakan pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan seorang wanita yang telah memenuhi syarat-syarat perkawinan untuk jangka waktu selama mungkin.4
Di samping itu perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang perempuan yang telah dewasa menurut ketentuan perundangundangan yang berlaku dan bersifat kekal dan abadi menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera.
Perkawinan menyangkut banyak segi yang melibatkan kedua belah pihak (suami-isteri), keturunan mereka dalam garis lurus ke bawah dan ke atas, harta benda, menyangkut hubungan masyarakat melalui kontak sosial, hubungan hukum melalui kontak negara. Tidak mengherankan bila perkawinan melahirkan berbagai masalah hukum baik perdata maupun pidana yang tidak mungkin dicakup secara keseluruhan pada saat sekarang ini.
Bagi suku bangsa yang memiliki adat dan budaya, perkawinan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi manusia dalam kehidupan yang dilaksanakan
3 Purnadi Purbacaraka, Pengantar Ilmu Hukum, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Indonesia, Jakarta, 1989, hal 3.
4 Rien G. Kartasapoetra, Pengantar Ilmu Hukum Lengkap, Penerbit Bina Aksara, Jakarta, 1988, hal. 97.
Universitas Sumatera Utara

3
dalam suatu upacara yang terhormat serta mengandung unsur sakral di dalamnya. Upacara tersebut biasanya diselenggarakan secara khusus, menarik perhatian dan disertai penuh kenikmatan. Selain itu, upacara ini juga menggunakan benda-benda maupun tingkah-laku yang mempunyai kaitan makna khusus yang tidak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya itu bertujuan untuk menyatakan agar kedua pengantin senantiasa selamat dan sejahtera dalam mengarungi kehidupan bersama, terhindar dari segala rintangan, gangguan, dan malapetaka.
Bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi pegangan hidup mereka sejak dahulu bahwa mengenai perkawinan, kelahiran dan kematian adalah sangat dipengaruhi oleh ketentuan-ketentuan agama.5 Orang yang taat pada agamanya tidak mudah berbuat sesuatu yang melanggar larangan agamanya dan kepercayaannya. Selain larangan-larangan, agamanya juga mempunyai peraturan-peraturan yang memuat perintah-perintah yang wajib dan harus ditaati.6
Perkawinan merupakan suatu peristiwa yang besar dalam kehidupan seseorang, juga bagi orang tua anak gadis, perkawinan anaknya itu sangat mengharukan, orang tua tersebut melepaskan anak mereka yang dicintainya itu, lalu berangkat menempuh hidup baru bersama suaminya.7 Dalam peraturan perkawinan yang mengatakan bahwa perkawinan merupakan sebuah kontrak berdasarkan persetujuan sukarela yang bersifat pribadi antara seorang pria dan wanita untuk
5 Rusdi Malik, Peranan Agama Dalam Hukum Perkawinan di Indonesia, Penerbit Universitas Trisakti, Jakarta, 1990, hal 11.
6 Chainur Arrasjid, Op Cit, hal 5. 7 Retnowulan Sutanto, Wanita dan Hukum, Himpunan Karangan Hukum yang Penting Bagi Kaum Wanita, Penerbit Alumni, Bandung, 1979, hal. 35.
Universitas Sumatera Utara

4
menjadi suami-istri. Dalam hal ini, perkawinan selalu dipandang sebagai dasar bagi unit keluarga, yang mempunyai arti penting bagi penjagaan moral atau akhlak dalam pembentukan peradaban di dalam masyarakat.
Mulai secara tradisional, suami dalam semua sistem tersebut bertugas menyiapkan tempat tinggal, memenuhi kebutuhan rumah tangga dan melindungi keluarga secara umum. Sementara itu isteri berkewajiban mengurus rumah tangga, tinggal di rumah, melakukan hubungan seksual dengan suami dan memelihara anak-anak. Konsep perkawinan sebagai kontrak yang sah seperti ini sampai sekarang belum berubah, tetapi karena perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat mengikuti hukum kehidupan maka kewajiban-kewajiban pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak tersebut tidak lagi persis seperti pada masa lalu.8 Melangsungkan suatu perkawinan, undang-undang telah menentukan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para pihak. Di dalam undang-undang perkawinan ditetapkan beberapa azas untuk mempersulit terjadinya penyimpangan, karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Dalam suasana di mana masyarakat menghadapi perubahan sosial ekonomi yang serba cepat, perhatian tidak lagi diarahkan pada seputar penggarapan hukum sebagai suatu sistem peraturan yang logis dan konsisten, akan tetapi hukum lebih dikaitkan dengan perubahan-perubahan sosial. Dalam sebuah keluarga, suami wajib melindungi dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya dan isteri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya, karena suami adalah kepala keluarga dan tugas isteri adalah sebagai ibu rumah tangga dalam keluarga.9
8 Ibid., hal 7. 9 Bambang Sunggono, Hukum dan Kebijaksanaan Publik, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 1994, hal. 1.
Universitas Sumatera Utara

5
Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.10 Akan tetapi pembagian peran sebagaimana terdapat dalam ketentuan Pasal 31 ayat (3) dan Pasal 34 ayat (1) dan (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya ditulis UU Perkawinan) bahwa hak dan kedudukan laki-laki dan perempuan adalah seimbang.
Menurut Soerjono Soekanto bahwa hukum dengan tegas mengatur perbuatanperbuatan manusia yang bersifat lahiriah dan hukum mempunyai sifat untuk menciptakan keseimbangan antar kepentingan-kepentingan para warga masyarakat.11
Dari kenyataan tersebut, maka pembuat UU Perkawinan menyatakan perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu (Pasal 2 ayat (1)). Agama yang dimaksud adalah merujuk kepada Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yang mengatakan bahwa: negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk, untuk memeluk agamanya dan kepercayaannya masing-masing.12
Pembagian tugas sebagaimana diatur secara jelas dalam undang-undang tersebut nampaknya memang mengkekalkan apa yang selama ini dianut oleh sebagian besar masyarakat dan justru pembagian tugas inilah yang sedang mengalami proses perubahan dalam ruang lingkup yang luas. Banyak rumah tangga sekarang ini suami bukan satu-satunya pencari nafkah, isteri bekerja
10 Ibid. 11 Retnowulan Sutanto, Op.Cit, hal. 35. 12 Soerjono Soekanto, Beberapa Permasalahan Hukum dalam Kerangka Pembangunan di Indonesia, Penerbit UI-Press, Jakarta, 1983, hal 4.
Universitas Sumatera Utara

6

dan karena itu mempunyai waktu lebih sedikit atau bahkan tidak punya waktu sama sekali untuk mengurus rumah tangga.13 Beragamnya kepentingan antar manusia dapat terpenuhi secara damai, tetapi juga menimbulkan konflik jika tata cara pemenuhan kepentingan tersebut dilakukan tanpa ada keseimbangan sehingga akan melanggar hak-hak orang lain.14 Dalam perkembangannya, perceraian dalam sebuah ikatan perkawinan tidak dapat dihindari. Alasan pengajuan perceraian sangat bervariasi seperti: masuknya orang ketiga dalam perkawinan, adanya perbedaan pandangan mengenai kewajiban suami isteri dalam rumah tangga dan seringnya isteri ditinggal suami, perubahan peran suami isteri, serta pertengkaran dan konflik yang berkepanjangan sehingga tidak mungkin lagi kerukunan dan kebahagiaan rumah tangga itu dapat dipertahankan. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan nilai-nilai yang mengatur hubungan antara suami isteri dalam keluarga mulai berubah. Jika memang ada kecenderungan pergeseran nilai, maka formulasi nilai-nilai tersebut dalam bentuk undang-undang perlu ditinjau kembali. Oleh karena itu nampaknya perlu dilihat proses itu benar-benar terjadi dan kalau seandainya terjadi hanya bersifat sementara saja atau sesuatu yang semakin lama semakin cenderung meningkat. Setiap pasangan tidak selamanya dapat menyelesaikan konflik-konflik yang mereka alami dan mengundang orang-orang yang dianggap lebih tua, perceraian

hal 8.

13 Rifyal Ka’bah, Permasalahan Perkawinan, Varia peradilan No. 271, Makalah Juni, 2008, 14 SP. Wasis, Pengantar Ilmu Hukum, Penerbit UMM Press, Malang , 2002, hal. 7.

Universitas Sumatera Utara

7
dihindarkan karena berakibat luas, apabila keluarga tersebut telah mempunyai keturunan (anak).
Tetapi apabila usaha dan upaya itu gagal, maka dengan terpaksa gugatan tentang perceraian harus diputus dengan beberapa pertimbangan-pertimbangan. Masalah perceraian ini di dalam peraturan perundang-undangan telah mengatur tentang lembaga-lembaga yang berwenang menerima, memeriksa dan memutus perkara tersebut. Bagi warga masyarakat yang beragama Kristen, Budha, dan Hindu peradilan yang berhak memeriksa dan memutuskannya adalah Pengadilan Negeri.
UU Perkawinan dan PP Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya di sebut PP Nomor 9 Tahun 1975) merupakan hasil produk perundang-undangan nasional, yang telah disesuaikan dengan perkembangan jaman dan kepribadian bangsa Indonesia. Maka hukum agama dan hukum adat yang merupakan hukum yang hidup dan dapat dipertahankan oleh bangsa Indonesia yang sesuai dengan kepribadian nasional dimana hukum adat yang dapat diterima untuk dimasukkan ke dalam undang-undang perkawinan tersebut adalah hukum adat yang dapat menyesuaikan diri serta dapat mengikuti perkembangan zaman menuju kepada negara yang maju dan modern.15 Di dalam undang-undang tersebut memang tidak tegas digunakan istilah hukum adat, namun tidak berarti bahwa undang-undang ini terlepas sama sekali dari hukum adat. Hal ini dapat dilihat misalnya pada Bab VII Pasal 35-37 UU Perkawinan tentang
15 Ibid., hal. 9
Universitas Sumatera Utara

8
harta benda di dalam perkawinan masih juga digunakan istilah Harta bersama dan Harta Bawaan. Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama itu diatur menurut hukumnya masing-masing ialah hukum agama, hukum adat dan hukumhukum lainnya. Secara keseluruhan undang-undang perkawinan maupun aturan pelaksanaannya hanya mengenal dua jenis proses perceraian dengan talak dan cerai gugat.
Selanjutnya dalam Pasal 16 PP Nomor 9 Tahun 1975 dikatakan bahwa tujuan sidang pengadilan dimaksud dalam Pasal 14 hanyalah untuk menyaksikan perceraian tersebut. Dalam Pasal 17 PP Nomor 9 Tahun 1975 dikatakan bahwa sesaat setelah dilakukan sidang pengadilan untuk menyaksikan perceraian. Ketua Pengadilan membuat surat keterangan tentang terjadinya perceraian.
Dari ketentuan tersebut diatas jelaslah bahwa yang diajukan suami bukanlah surat permohonan, akan tetapi, surat pemberitahuan bahwa ia akan bercerai (menceraikan) isterinya dan untuk itu ia meminta kepada pengadilan di tempat tinggalnya untuk mengadakan sidang menyaksikan perceraian itu. Dan jika sudah terjadi perceraian di muka pengadilan, maka ketua pengadilan membuat surat keterangan tentang terjadinya perceraian (bukan surat penetapan atau putusan).
Ketentuan mengenai akibat perceraian, maka suami yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan untuk itu, jika suami dalam kenyataan tidak dapat memberi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa istri ikut memikul biaya tersebut. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.16
16 Pasal 41 butir b dan c UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Universitas Sumatera Utara

9
Bila dilihat dari ajaran Kristen terkhusus agama Kristen Protestan bahwa perceraian itu jelas dilarang oleh agama Kristen. Dalam agama Kristen, perceraian itu jelas ditolak seperti yang tertulis pada: ”Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Markus 10 - 10:9 dan Matius 19 - 19:6).17
Beban akibat perceraian terutama yang bersifat finansial yang sekarang ini terutama menjadi kewajiban suami, nampaknya perlu juga dipertimbangkan. Dalam kenyataan cukup banyak isteri yang berpenghasilan lebih banyak atau sama dengan suami. Undang-Undang perkawinan mengantisipasi perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat saat ini, salah satunya perceraian. Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anakanaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya;
b. Bapak yang bertanggung-jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut;
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.18
Oleh karena itu mempersulit prosedur tidak menjadi alasan untuk mengurangi angka perceraian. Undang-Undang perkawinan yang mengatur antara lain soal peran suami isteri dan prosedur perceraian sudah perlu dipertimbangkan kembali setidaktidaknya didalam penerapannya.
17 Rusdi Malik, Op. Cit., hal. 15 18 Pasal 41 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Universitas Sumatera Utara

10
B. Permasalahan Berdasarkan pada uraian latar belakang tersebut di atas, maka dapat
dirumuskan pokok permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut, yaitu: 1. Bagaimana pengaturan mengenai perceraian dalam agama Kristen berdasarkan
hukum perkawinan dan peraturan lain? 2. Bagaimana alasan perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama
Kristen? 3. Bagaimana akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang
beragama Kristen?
C. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah:
1. Untuk mengetahui pengaturan mengenai perceraian dalam agama Kristen berdasarkan hukum perkawinan dan peraturan lain.
2. Untuk mengetahui alasan perceraian dalam masyarakat Batak Toba yang beragama Kristen.
3. Untuk mengetahui akibat hukum perceraian dalam masyarakat hukum Batak Toba yang beragama Kristen.
D. Manfaat Penelitian Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis
maupun secara praktis, yaitu:
Universitas Sumatera Utara

11
1. Manfaat Teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan
keilmuan khususnya yang berkaitan dengan perceraian yang terjadi pada Batak Toba terlebih pada Batak Toba yang beragama Kristen. 2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literature kajian terhadap perkembangan dalam lapangan hukum keperdataan. Sekaligus menjadi acuan bagi penelitian berikutnya khususnya kajian yang berhubungan dengan perceraian dalam Batak Toba yang beragama Kristen.
E. Keaslian Penelitian Dari hasil penelusuran kepustakaan yang ada dilingkungan Universitas
Sumatera Utara, khususnya dilingkungan Pascasarjana Kenotariatan Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa penelitian dengan judul Perceraian adat batak toba ditinjau dari hukum perkawinan,hukum adat batak dan agama Kristen protestan belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun penelitian tentang perceraian pernah dilakukan oleh: 1. Edi Sucipto, Nim 002105006, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program
Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Hadhanah Setelah Terjadi Perceraian Kompilasi Hukum Islam Dan Penerapannya Di Pengadilan Agama Medan 2. Syaifuddin, Nim 002105018, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Tinjauan Yuridis Terhadap Eksistensi
Universitas Sumatera Utara

12
Talak Sebagai Perjanjian Perkawinan Dalam Kompilasi Hukum Islam Dalam Kaitannya Sebagai Alasan Perceraian. 3. Yusriana, Nim 047005016, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Akibat Hukum Perceraian Terhadap Harta Bersama Di Pengadilan Agama Lubuk Pakam Dan Pelaksanaannya Pada Masyarakat (Studi Di Kecamatan Percut Sei Tuan) 4. Yakup Ginting, Nim 002111052, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Penerapan Nilai-Nilai Hukum Yang Hidup Dalam Masyarakat Oleh Hakim Dalam Perkara Perceraian Dari Perkawinan Yang Tidak Dicatatkan Di Kantor Catatan Sipil (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Kabanjahe) 5. Lusinda Maranatha Siahaan, Nim 027011037, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Pembagian Harta Bersama Dalam Hal Putusnya Perkawinan Karena Perceraian (Studi Pada Masyarakat Batak Toba Kristen Di Kota Medan) 6. Jonson, Nim 027005015, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Dalihan Natolu Sebagai Suatu Lembaga Hukum Dalam Sistem Kemasyarakatan Adat Batak (Suatu Studi Dalam Upacara Perkawinan Jujur Adat Batak Toba) 7. Gideon Harunta, Nim 067011036, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Akibat Perkawinan Poligami Pada Masyarakat Batak Karo Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo.
Universitas Sumatera Utara

13
8. Fatma Novida Matondang, Nim 077011021, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Konsep Nusyuz Suami Dalam Persektif Hukum Perkawinan Islam
9. Fransiska, Nim 087011007, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program Pasca Sarjana USU, Medan, dengan Judul Persintuhan Hukum Perkawinan Adat Minangkabau Dengan Hukum Perkawinan Islam Dikaitkan Dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Apabila dihadapkan dengan judul penelitian sebelumnya maka judul yang
diteliti adalah berbeda oleh karenanya tesis ini dapat dipertanggung jawabkan keasliannnya.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi 19, dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.20 Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan
19 J.J.J M. Wuisman dengan Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Penerbit FE -UI, Jakarta, 1996, hal. 203.
20 Ibid , hal. 16.
Universitas Sumatera Utara

14
teoritis21 bagi peneliti yuridis empiris tentang Perceraian dan Akibat Hukumnya Pada Masyarakat Batak Toba yang Beragama Kristen Protestan. Kerangka teori bertujuan menjadi kepastian hukum dari perbandingan yang dilakukan. Dengan demikian dalam kerangka teori ini memakai teori perbandingan hukum, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hall menegaskan, ”to be sapiens is to be a comparatist’.22 Melalui sejarah yang panjang, teknik perbandingan ternyata telah memberikan kontribusi yang teramat penting dan berpengaruh di seluruh bidang ilmu alam dan ilmu sosial. Dalam hal ini, perbandingan hukum mempunyai signifikansi terhadap aplikasi yang sistematis dari teknik perbandingan terhadap bidang hukum. Artinya, perbandingan hukum mencoba untuk mempelajari dan meneliti hukum dengan menggunakan perbandingan yang sistematik dari dua atau lebih sistem hukum, bagian hukum, cabang hukum, serta aspek-aspek yang terkait dengan ilmu hukum.
Perceraian merupakan penghapusan perkawinan dengan putusan hakim, atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu. Undang-undang tidak membolehkan perceraian dengan pemufakatan saja antara suami isteri, tetapi harus ada alasan yang sah.
21 M. Solly Lubis , Filsafat Ilmu dan Penelitian, Penerbit Mandar Maju, Bandung , 1994 , hal. 80.
22 Hall, Comparative Law and Social Theory, Baton Rouge, 1963, hal. 9. Sebagaimana dikutip oleh Doddi Panjaitan dalam web sitenya, yaitu http://doddipanjaitan. blogspot.com / feeds / 6463358296405325399/comments/default, Friday, January 25, 2008 mengenai Perbandingan Hukum (3)