Analisis Perbandingan Kinerja Antara Bank Syariah Dan Bank Konvensional Dengan Menggunakan Rasio Camels (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bank Indonesia)

(1)

S K R I P S I

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA ANTARA BANK SYARIAH DAN BANK KONVENSIONAL DENGAN MENGGUNAKAN RASIO CAMELS

(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BANK INDONESIA)

O l e h :

RAHMA UKHTY

070503107

PROGRAM STUDI STRATA I AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis Perbandingan Kinerja Anatar Bank Syariah dan Bank Konvensional dengan Menggunakan Rasio CAMELS (Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul ini belum pernah dimuat, dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi untuk program S1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas, benar, apa adanya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.

Medan, 21 Maret 2011 Yang Membuat Pernyataan,

Nama : Rahma Ukhty


(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil‘alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT Rabb

semesta alam, yang telah melimpahkan berbagai nikmat, hidayah dan kasih sayangNya kepada penulis, sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Perbandingan Kinerja antara Bank Syariah dan Bank Konvensional dengan Menggunakan Rasio CAMELS (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bank Indonesia)” dapat diselesaikan dengan baik dan lancar dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Program S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penyusunan skripsi ini, saya telah memperoleh bimbingan, semangat, nasihat, dan bantuan baik secara moril maupun materiil dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak

MM, Ak selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak

meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.


(4)

4. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si., Ak. selaku Dosen Penguji I dan Bapak segala masukan dan saran yang telah diberikan.

5. Kedua orang tua saya, (alm) H.Muhammad Saleh Husein dan Hj.Baiyati, dan saudara-saudara saya yang selama ini senantiasa melimpahkan cinta dan kasih sayangnya serta selalu mendoakan dan mendukung saya dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Medan, 21 Maret 2011 Peneliti

Rahma Ukhty NIM 070503107


(5)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kinerja perbankan syariah dan perbankan konvensional yang terdaftar di Bank Indonesia.

Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian perbandingan dua rata-rata dari dua populasi. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 80 perusahaan perbankan konvensional dan perbankan syariah yang terdaftar di BI pada periode 2005-2009 dan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 7 perusahaan. Metode purposive sampling digunakan dalam pemilihan sampel. Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari website BI yaitu Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, LDR, PDN, dan Kinerja. Penelitian ini menggunakan analisis perbandingan

independent sample t-test untuk analisis statistik dan uji hipotesis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, PDN, tidak berbeda secara signifikan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional, hanya variable LDR yang menunjukkan perbedaan signifikan antara perbankan syariah dan perbankan konvensional. Pengujian secara kesuluruhan yang diwakili oleh variabel Kinerja menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara perbankan syariah dan perbankan konvensional.

Kata kunci : kinerja keuangan, rasio keuangan, bank syariah, bank konvensional


(6)

ABSTRACT

This research aims to analyze the comparative performance of Islamic banking and conventional banking which are listed in Bank of Indonesia.

The design of this research is comparative research design which compare two averages from two populations. The population in this research is 80 companies Islamic banking and conventional banking which are listed Bank of Indonesia during the period of 2005-2009 while the amount of the research samples are 7 enterprises. Purposive sampling method used in sample selection. Type of data in this research are secondary data obtained from the Bank of Indonesia website www.bi.go.id and from Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Data collection method used is the documentation study. The variables used in this research are CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, LDR, PDN, and Performance. This research uses comparative analysis of independent sample t-test for statistical analysis and hypothesis t-testing.

The results showed that CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, NOP, do not differ significantly between Islamic banks and the conventional banks, only LDR that showed significant differences between Islamic bank and conventional bank. The simultaneous test represented by the performance variable shows that there are significant differences between Islamic bank and conventional bank.

Key word : financial performance, financial ratio, Islamic bank, conventional bank


(7)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ... i

KATA PENGANTAR ... ii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

1. Tujuan Penelitian ... 7

2. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis ... 8

1. Bank Konvensional ... 8

2. Bank Syariah ... 9

3. Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional ... 9


(8)

5. Kinerja Keuangan ... 13

6. Analisis Rasio Keuangan ... 14

a. Rasio Permodalan (Solvabilitas) ... 14

b. Rasio Kualitas Aktiva Produktif ... 16

c. Rasio Efisiensi (Rasio Biaya Operasional) ... 17

d. Rasio Rentabilitas (Earning) ... 18

e. Rasio Likuiditas (Liquidity) ... 20

f. Rasio Sensitivitas Terhadap Risiko Pasar ... 21

B. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 22

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis ... 27

1. Kerangka Konseptual ... 27

2. Hipotesis ... 28

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 30

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 30

1. Populasi Penelitian ... 30

2. Sampel Penelitian ... 31

C. Jenis dan Sumber Data ... 35

D. Teknik Pengumpulan Data ... 35

E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 35


(9)

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Penelitian ... 44

B. Uji Homogenitas ... 48

C. Pengujian Hipotesis ... 49

1. Pengujian Hipotesis Rasio CAR ... 53

2. Pengujian Hipotesis Rasio NPL ... 54

3. Pengujian Hipotesis Rasio ROA ... 55

4. Pengujian Hipotesis Rasio ROE ... 56

5. Pengujian Hipotesis Rasio BOPO ... 56

6. Pengujian Hipotesis Rasio LDR ... 57

7. Pengujian Hipotesis Rasio PDN ... 58

8. Pengujian Hipotesis Kinerja Keseluruhan ... 59

D. Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian ... 59

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN A. Kesimpulan ... 64

B. Keterbatasan ... 66

C. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 69


(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 2.1 Perbandingan Bank Syariah dan Bank Konvensional... 11

Tabel 2.2 Perbandingan Produk Bank Syariah dan Bank Konvensional .... 12

Tabel 2.3 Ringkasan Tinjauan Terdahulu ... 26

Tabel 3.1 Proses Seleksi sampel Berdasarkan Kriteria Untuk Bank Konvensional ... 32

Tabel 3.2 Proses Seleksi sampel Berdasarkan Kriteria Untuk Bank Konvensional ... 34

Tabel 3.3 Perusahaan yang Menjadi Sampel Penelitian ... 34

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Statistik Deskriptif ... 44

Tabel 4.2 Hasil Uji Lavene’s Test ... 49


(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1 Daftar Perusahaan Perbankan yang Terdaftar

di BEI (Populasi dan Sampel) ... 72 Lampiran 2 Data Penelitian 2007-2009 ... 75 Lampiran 3 Hasil Ouput SPSS 18.0 ... 78


(13)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kinerja perbankan syariah dan perbankan konvensional yang terdaftar di Bank Indonesia.

Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian perbandingan dua rata-rata dari dua populasi. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 80 perusahaan perbankan konvensional dan perbankan syariah yang terdaftar di BI pada periode 2005-2009 dan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 7 perusahaan. Metode purposive sampling digunakan dalam pemilihan sampel. Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari website BI yaitu Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, LDR, PDN, dan Kinerja. Penelitian ini menggunakan analisis perbandingan

independent sample t-test untuk analisis statistik dan uji hipotesis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, PDN, tidak berbeda secara signifikan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional, hanya variable LDR yang menunjukkan perbedaan signifikan antara perbankan syariah dan perbankan konvensional. Pengujian secara kesuluruhan yang diwakili oleh variabel Kinerja menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara perbankan syariah dan perbankan konvensional.

Kata kunci : kinerja keuangan, rasio keuangan, bank syariah, bank konvensional


(14)

ABSTRACT

This research aims to analyze the comparative performance of Islamic banking and conventional banking which are listed in Bank of Indonesia.

The design of this research is comparative research design which compare two averages from two populations. The population in this research is 80 companies Islamic banking and conventional banking which are listed Bank of Indonesia during the period of 2005-2009 while the amount of the research samples are 7 enterprises. Purposive sampling method used in sample selection. Type of data in this research are secondary data obtained from the Bank of Indonesia website www.bi.go.id and from Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Data collection method used is the documentation study. The variables used in this research are CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, LDR, PDN, and Performance. This research uses comparative analysis of independent sample t-test for statistical analysis and hypothesis t-testing.

The results showed that CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, NOP, do not differ significantly between Islamic banks and the conventional banks, only LDR that showed significant differences between Islamic bank and conventional bank. The simultaneous test represented by the performance variable shows that there are significant differences between Islamic bank and conventional bank.

Key word : financial performance, financial ratio, Islamic bank, conventional bank


(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bisnis perbankan di Indonesia era tahun 60-an dan 70-an merupakan bisnis yang belum begitu terkenal, di mana bank tidak perlu mencari nasabah tetapi sebaliknya nasabahlah yang datang mencari bank. Kemudian era tahun 80-an dan 90-an kesan dunia perbankan menjadi terbalik, karena di era ini justru perbankan mulai aktif mengejar nasabah. Keaktifan bank dalam mengejar nasabahnya ini dikarenakan pada era ini sangat banyak bank-bank baru yang bermunculan dan berusaha mencari pangsa pasarnya. Kemunculan bank-bank ini dipicu oleh peraturan pemerintah tentang definisi perbankan itu sendiri, peraturan ini dibuat agar bank yang berada di Indonesia tidak menyimpang dari fungsinya. Peraturan ini dimaninvestasikan dalam Pasal 1 ayat 2 UU No. 10 tahun 1998, tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan adalah badan yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Undang-undang ini pula yang membuat bank Islam lahir di Indonesia dalam bentuk bank syariah. Bank syariah di Indonesia sebenarnya sudah ada sebelum Undang-undang No.7 tahun 1992 direvisi menjadi Undang-undang No.10 tahun 1998, yaitu dipelopori oleh Bank Muamalat Indonesia. Apabila hanya melihat pada undang-undang No.7 tahun


(16)

1992 memang tidak ada aturan tentang bank syariah, karena dalam undang-undang tersebut hanya menjelaskan tentang perbankan konvensional, bahkan tidak ada satu katapun yang menyinggung tentang bank syariah. Bank Muamalat Indonesia berdiri pada tahun 1992 didasarkan pada Undang-undang N0.7 tahun 1992 sebagai landasan hukumnya dan Peraturan Pemerintah N0.72 tahun 1992 tentang penjelasan bank umum yang berdasarkan prinsip bagi hasil, karena pada dasarnya bank syariah adalah bank yang menerapkan system bagi hasil dalam setiap kegiatannya sesuai dengan syariat Islam. Seiring dengan direvisinya Undang-undang No.7 tahun 1992 tersebut,maka ketentuan tentang prinsip syariah kemudian dijelaskan pada pasal 1 butir 13 Undang-undang No. 10 tahun 1998 dimana pada undang-undang sebelumnya belum dijelaskan secara terperinci. Ketentuan Bank Indonesia ini merangsang munculnya beberapa bank umum syariah, BPR syariah, dan juga bank konvensional yang membuka unit usaha syariah.

Kemunculan bank-bank syariah ataupun unit usaha syariah inilah yang menjadi fenomena menarik di Indonesia sekarang. Bank syariah ini berdiri pada awalnya hanya untuk memenuhi keinginan sebagian dari masyarakat yang ingin menerapkan sistem yang syar’i dan tidak memiliki unsur riba sesuai dengan syariat Islam dimana agama Islam merupakan agama mayoritas dari masyarakat Indonesia.

Fenomena kemunculan bank-bank syariah ini akan menimbulkan persaingan dalam dunia perbankan. Persaingan ini akan semakin ketat antara bank konvensional dan bank syariah, karena hingga akhir 2010 jumlah Bank umum


(17)

Syariah (BUS) telah ada 11 perusahaan, jumlah Unit Usaha Syariah (UUS) 26 unit, dan jumlah Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) telah mencapai 132 perusahaan sedangkan asset kelolaan perbankan syariah per Februari 2009 telah berjumlah Rp 52,152 Triliyun, dimana perkembangan aset perbankan syariah dalam periode lima tahun terakhir pada 2004 - 2008 terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 34,1% per tahun. Penghimpunan dana dari masyarakat atau disebut dana pihak ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Tingkat pertumbuhan DPK tercatat rata-rata 32,8% per tahun dalam periode 2004 - 2008, yaitu melonjak menjadi Rp 36,8 triliun pada 2008 dari Rp 11,8 triliun pada 2003. Dari segi pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan syariah mengalami pertumbuhan rata-rata 35,0% per tahun.

Penilaian kinerja keuangan dapat dianalisis dengan menggunakan analisis rasio yang menitikberatkan pada faktor-faktor : permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar. Penilaian kinerja keuangan dalam dunia perbankan sangat penting untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan manajerial di segala aspek. Hal ini berpengaruh pada kepercayaan pihak lain di luar perbankan , misalnya saja investor. Dengan adanya kinerja keuangan yang baik, maka investor tidak akan ragu-ragu dalam menanamkan modalnya baik pada bank konvensional maupun bank syari’ah.

Pola bagi hasil pada bank syariah memungkinkan nasabah untuk mengawasi langsung kinerja bank syariah melalui monitoring atas jumlah bagi hasil yang diperoleh. Jumlah keuntungan bank semakin besar maka semakin besar pula bagi


(18)

hasil yang diterima nasabah, demikian juga sebaliknya. Jumlah bagi hasil yang kecil atau mengecil dalam waktu cukup lama menjadi indikator bahwa pengelolaan bank merosot. Keadaan itu merupakan peringatan dini yang transparan dan mudah bagi nasabah. Berbeda dari perbankan konvensional, nasabah tidak dapat menilai kinerja hanya dari indikator bunga yang diperoleh (Wulandari, 2004).

Sebagai lembaga keuangan, bank perlu menjaga kinerjanya agar dapat beroperasi secara optimal. Terlebih lagi bank syariah harus bersaing dengan bank konvensional yang dominan dan telah berkembang pesat di Indonesia. Persaingan yang semakin tajam ini harus dibarengi dengan manajemen yang baik untuk bisa bertahan di industri perbankan. Salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh bank untuk bisa terus bartahan hidup adalah kinerja (kondisi keuangan) bank. Banyak cara untuk menilai kinerja (kondisi keuangan) suatu bank, maka peneliti dalam penelitian ini menggunakan rasio CAMELS (Capital, Asset, Management, Earning, Liabillity, Sensitivity to market risk) dalam menilai kinerja keuangan bank sesuai dengan surat edaran Bank Indonesia No 6/23/DPNP.

Adapun rasio yang digunakan adalah Capital Adequacy Ratio (mewakili rasio permodalan), Non Performing Loan (mewakili rasio kualitas aktiva produktif),

Return on Asset dan Return on Equity (mewakili rasio rentabilitas), Beban

Operasional dibagi Pendapatan Operasional (mewakili rasio efisiensi), Loan to

Deposit Ratio (mewakili rasio likuiditas), serta Posisi Devisa Neto (mewakili

rasio sensitivitas terhadap risiko pasar). Capital Adequacy Ratio, aspek ini menilai permodalan yang dimiliki bank yang didasarkan kepada kewajiban penyediaan


(19)

modal minimum bank. Penilaian tersebut didasarkan pada CAR (Capital Adequacy Ratio) yang ditetapkan BI, yaitu perbandingan antara Modal dengan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko.

Non Performing Loan (mewakili rasio kualitas aktiva produktif), merupakan

aktiva produktif dengan kualitas aktiva kurang lancar, diragukan, dan macet.

Return on Asset dan Return on Equity (mewakili rasio rentabilitas), ROA

digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset. ROE mengukur besar pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis (pemegang saham) atas modal yang dia setorkan untuk bisnis tesebut. ROE merupakan indikator yang tepat untuk mengukur keberhasilan bisnis dalam memperkaya pemegang sahamnya. Beban Operasional dibagi Pendapatan Operasional (mewakili rasio efisiensi), rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya dengan membandingkan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional.

Loan to Deposit Ratio (mewakili rasio likuiditas), adalah rasio antara seluruh

jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dananya dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya. Semakin tinggi rasionya semakin tinggi tingkat likuiditasnya.


(20)

Posisi Devisa Neto (mewakili rasio sensitivitas), adalah rasio perbandingan selisih antara aktiva valuta asing dengan pasiva valuta asing terhadap modal bank. Rasio ini digunakan untuk meminimalkan risiko pasar ataupun untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) nilai tukar. Semakin rendah rasionya maka semakin mampu bank meminimalkan risiko kerugian terhadap fluktuasi nilai tukar.

Berdasarkan fenomena dan masalah yang telah diuraikan secara ringkas ini, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai perbandingan kinerja antara bank syariah dan bank konvensional dengan menggunakan rasio CAMELS yang meliputi Capital Adequacy Ratio (mewakili rasio permodalan), Non Performing

Loan (mewakili rasio kualitas aktiva produktif), Return on Asset dan Return on Equity (mewakili rasio rentabilitas), Beban Operasional dibagi Pendapatan

Operasional (mewakili rasio efisiensi), dan Loan to Deposit Ratio (mewakili rasio likuiditas), serta Posisi Devisa Neto (mewakili rasio sensitivitas).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : adakah capital adequacy ratio,

non performing loan, return on asset , return on equity, beban operasional dibagi

pendapatan operasional, loan to deposit ratio, serta posisi devisa neto berbeda signifikan antara bank syariah dan bank konvensional baik secara parsial maupun secara keseluruhan yang diwakili oleh variabel kinerja?


(21)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah perbandingan kinerja antara bank konvensional dan bank syariah dengan menggunakan rasio CAMELS.

2. Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis, dengan melakukan penelitian ini penulis memperoleh pengalaman dan ilmu pengetahuan baru mengenai perbankan syariah. 2. Bagi Bank syariah, dapat dijadikan sebagai catatan/koreksi untuk

mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya, sekaligus memperbaiki apabila ada kelemahan dan kekurangan.

3. Bagi bank konvensional, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan atau pertimbangan untuk membentuk atau menambah Unit Usaha Syariah atau bahkan mengkonversi menjadi bank syariah. 4. Bagi Peneliti Lain, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

tambahan wawasan dan referensi bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh rasio-rasio CAMELS yang berkaitan dengan penilaian kinerja perbankan, seperti memasukkan rasio sensitivitas ataupun rasio CAMELS lainnya.


(22)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis 1. Bank Konvensional

Pengertian bank menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Di Indonesia, menurut jenisnya bank terdiri dari Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 menyebutkan bahwa bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Bank konvensional dapat didefinisikan seperti pada pengertian bank umum pada pasal 1 ayat 3 Undang-Undang No. 10 tahun 1998 dengan menghilangkan kalimat “dan atau berdasarkan prinsip syariah”, yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.


(23)

2. Bank Syariah

Bank syariah adalah bank umum atau bank perkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syari’ah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Algaoud dan Lewis (2005) menyatakan:

Perbankan Islam memberikan layanan bebas bunga kepada nasabahnya. Pembayaran dan penarikan bunga dilarang dalam semua transaksi. Islam melarang kaum muslimin menarik atau membayar bunga (riba). Pelarangan inilah yang membedakan sistem perbankan Islam dengan sistem perbankan konvensional. Bank syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam, syariah dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis lain yang terkait. Prinsip utama yang diikuti bank Islam adalah: pelarangan riba, melakukan kegiatan usaha dan perdagangan berdasarkan keuntungan yang sah dan memberikan zakat.

3. Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional

Bank konvensional dan bank syariah dalam beberapa hal memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, persyaratan umum pembiayaan, dan lain sebagainya. Perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja.

1. Akad dan Aspek Legalitas

Akad yang dilakukan dalam bank syariah memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Nasabah seringkali berani melanggar kesepakatan/perjanjian yang telah


(24)

dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti. Setiap akad dalam perbankan syariah, baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad.

2. Lembaga Penyelesai Sengketa

Penyelesaian perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabah pada perbankan syariah berbeda dengan perbankan konvensional. Kedua belah pihak pada perbankan syariah tidak menyelesaikannya di peradilan negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai tata cara dan hukum materi syariah. Lembaga yang mengatur hukum materi dan atau berdasarkan prinsip syariah di Indonesia dikenal dengan nama Badan Arbitrase Muamalah Indonesia atau BAMUI yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.

3. Struktur Organisasi

Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat membedakan antara bank syariah dan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah yang berfungsi mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah. Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakkan pada posisi


(25)

setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dari setiap opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah.

4. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai

Bisnis dan usaha yang dilaksanakan bank syariah, tidak terlepas dari kriteria syariah. Bank syariah tidak akan mungkin membiayai usaha yang mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Terdapat sejumlah batasan dalam hal pembiayaan. Tidak semua proyek atau objek pembiayaan dapat didanai melalui dana bank syariah, namun harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.

Secara garis besar perbandingan bank syariah dengan bank konvensional dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1

Perbandingan Bank Syariah dengan Bank Konvensional

Bank Syariah Bank Konvensional

1. Melakukan investasi-investasi yang halal saja

2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa

3. Berorientasi pada keuntungan (profit oriented) dan kemakmuran dan kebahagian dunia akhirat

4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan

5. Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah

1. Investasi yang halal dan haram 2. Memakai perangkat bunga 3. Profit oriented

4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kreditur-debitur

5. Tidak terdapat dewan sejenis


(26)

4. Perbandingan Produk Bank Syariah dan Bank Konvensional

Pada dasarnya produk-produk yang ada di perbankan syariah tidak jauh berbeda dengan produk-produk yang ada di perbankan konvensional, yang membedakan diantara keduanya yaitu akad ataupun perjanjian yang digunakan untuk menentukan harga dan mencari keuntungan. Pada perbankan syariah segala perjanjian berdasarkan hukum Islam sedangkan perbankan konvensional berdasarkan hukum yang berlaku secara umum. Dalam penentuan harga perbankan syariah menentukan biaya sesuai syariat Islam yaitu prinsip bagi hasil, sedangkan perbankan konvensional menetukan harga dengan penetapan bunga tertentu yang diharamkan pada prinsip syariah.

Secara ringkas perbandingan produk diantara kedua populasi ini yaitu:

Tabel 2.2

Perbandingan Produk Bank Syariah dan Bank Konvensional Bank Syariah Bank Konvensional Prinsip Simpanan

dan Titipan

Wadiah Yad Al-Amanah

Al-Wadiah Yad Adh-Dhamanah

Safe deposit box Giro dan Tabungan

Prinsip Sewa Ijarah Murni

Ijarah Al-Muntahiya

Operating Lease Capital Lease Prinsip Jasa

(Fee-Based Service)

Al-wakalah Al-Kafalah Al-Hawalah Ar-Rahn Al-Qardh

Transfer, Kliring, Inkaso • Bank Garansi dan Bank

Referensi

• Anjak Piutang, dan

Post-date Check Letter of Credit -

Prinsip

Penyaluran Dana (Pembiayaan)

Bagi Hasil/Profit Sharing Bunga

Al-Mudharabah Al-Murabahah Al-Musyarakah Dll.

Kredit Investasi

Kredit Perdagangan

Kredit Modal Kerja

Dll. Sumber: Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik (2001)


(27)

5. Kinerja Keuangan Bank

Kinerja keuangan merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan di manapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya. Bank sebagai sebuah perusahaan wajib mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja bank yang bersangkutan, oleh karena itu diperlukan transparansi atau pengungkapan informasi laporan keuangan bank yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan, serta sebagai dasar pengambilan keputusan (Gunawan dan Dewi, 2003).

Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu, di mana informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan di masa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja di masa depan. Penilaian kinerja keuangan bank dapat dinilai dengan pendekatan analisa rasio keuangan dari semua laporan keuangan yang dilaporkan di masa depan (Febryani dan Zulfadin, 2003).

Kinerja keuangan dapat dianalisis dengan menggunakan analisis rasio likuiditas (seperti misalnya dengan cash ratio, reserve requirement, loan to

deposit ratio, loan to asset ratio, dan rasio kewajiban bersih call money),

analisis rasio rentabilitas (seperti misalnya ROA, ROE, BOPO, dan NPM atau

Net Profit Margin), dan yang terakhir adalah dengan analisis rasio solvabilitas

(CAR, Debt to Equity Ratio, dan Long Term Debt to Asset Ratio), (Dendawijaya:2009).


(28)

Penilaian kinerja keuangan perbankan dimaksudkan untuk menilai keberhasilan manajemen di dalam mengelola suatu badan usaha. Penilaian ini dapat diproksi dengan (Achmad dan Kusuno:2003):

1. Indikator Financial Ratio.

2. Ketentuan penilaian kesehatan perbankan (peraturan Bank Indonesia). 3. Fluktuasi harga saham dan return saham (bank publik).

Dalam penelitian ini digunakan indicator financial ratio dalam menilai kinerja keuangan bank. Indicator financial ratio yang digunakan terdiri dari

Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Return on Asset

(ROA), Return on Equity (ROE), BOPO (Biaya Operasional/Pendapatan Operasional), Loan to Deposit Ratio LDR), dan Posisi Devisa Netto (PDN) sebagai variabel-variabel yang mengukur perbandingan kinerja antara kedua populasi.

6. Analisis Rasio Keuangan

a. Rasio Permodalan (Solvabilitas)

Modal merupakan salah satu faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko kerugian. Besarnya modal suatu bank akan berpengaruh pada mampu atau tidaknya suatu bank secara efisien menjalankan kegiatannya, dan dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat (khususnya untuk masyarakat peminjam) terhadap kinerja bank. Penggunaan modal bank juga dimaksudkan untuk memenuhi segala kebutuhan bank guna menunjang kegiatan operasi bank,


(29)

dan sebagai alat untuk ekspansi usaha. Kepercayaan masyarakat akan terlihat dari besarnya dana giro, deposito, dan tabungan yang melebihi jumlah setoran modal dari para pemegang sahamnya. Unsur kepercayaan ini merupakan masalah penting dan merupakan faktor keberhasilan pengelolaan suatu bank (Sinungan, 2000).

Dalam penelitian ini dari sisi permodalan digunakan rasio CAR. Rasio CAR digunakan untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. Semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit atau aktiva produktif yang berisiko. Jika nilai CAR tinggi berarti bahwa bank tersebut mampu membiayai operasi bank.

Rasio kecukupan modal ini dihitung dengan cara membandingkan antara modal bank dan total Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Hasil perhitungan rasio ini kemudian dibandingkan dengan kewajiban penyediaan modal minimum yakni sebesar 8% sesuai ketentuan CAR yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia melalui Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut (Dendawijaya:2009):


(30)

b. Rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP)

Tingkat kelangsungan usaha bank berkaitan erat dengan aktiva produktif yang dimilikinya, oleh karena itu manajemen bank dituntut untuksenantiasa dapat memantau dan menganalisis kualitas aktiva produktif yang dimilikinya. Kualitas aktiva produktif menunjukkan kualitas aset sehubungan dengan risiko kredit yang dihadapi oleh bank akibat pemberian kredit dan investasi dana bank. Aktiva produktif yang dinilai kualitasnya meliputipenanaman dana baik dalam rupiah maupun dalam valuta asing, dalam bentukkredit dan surat berharga (Siamat, 2005).

Setiap penanaman dana bank dalam aktiva produktif dinilai kualitasnya dengan menentukan tingkat kolektibilitasnya. Kolektibilitas dapat diartikan sebagai keadaan pembayaran kembali pokok, angsuran pokok atau bunga kredit oleh nasabah serta tingkat kemungkinan diterima kembali dana yang ditanamkan dalam surat berharga atau penanaman lainnya. Sedangkan tingkat kolektibilitas dapat dibedakan menjadi empat tingkat, yaitu apakah lancar, kurang lancar, diragukan, atau macet. Pembedaan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya suatu kerugian yang diakibatkan oleh adanya kredit yang tidak terbayarkan atau kredit bermasalah.

Risiko kredit yang diterima oleh bank merupakan salah satu risiko usaha bank, yang diakibatkan dari tidak dilunasinya kembali kredit yang diberikan oleh pihak bank kepada debitur. Oleh karena itu kemampuan pengelolaan kredit sangat diperlukan oleh bank yang bersangkutan


(31)

(Sinungan, 2000). Dalam penelitian ini digunakan rasio NPL dalam menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan bank tersebut. NPL yang tinggi akan memperbesar biaya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank. Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar, dan oleh karena itu bank harus menanggung kerugian dalam kegiatan operasionalnya.

Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004, besarnya NPL yang baik adalah di bawah 5%. Rumus yang digunakan adalah:

c. Rasio Efisiensi (Rasio Biaya Operasional)

Rasio biaya operasional adalah perbandingan antara biaya operasional dan pendapatan operasional. Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.


(32)

Biaya operasional dihitung berdasarkan penjumlahan dari total beban bunga dan total beban operasional lainnya. Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total pendapatan bunga dan total pendapatan operasional lainnya. Standar terbaik BOPO menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 adalah 92%. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (Dendawijaya: 2009) :

d. Rasio Rentabilitas (Earning)

Analisis rasio rentabilitas bank adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Rasio rentabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

1. Return on Asset (ROA)

Return On Asset (ROA) adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas

yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan atas keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktivitas yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan.


(33)

Return On Asset (ROA) diperoleh dengan cara membandingkan net income terhadap total asset. Net Income merupakan pendapatan bersih

sesudah pajak. Total asset merupakan rat-rata total assets awal tahun dan akhir tahun. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat pengembalian yang semakin besar.

Manfaat Return On Asset (ROA) Menurut Halim dan Supomo (2001) adalah :

a) Perhatian manajemen dititik beratkan pada maksimalisasi laba atas modal yang diinvestasikan.

b) ROA dapat dipergunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh setiap divisinya dan pemanfaatan akuntansi divisinya. Selanjutnya dengan ROA akan menyajikan perbandingan berbagai macain prestasi antar divisi secara obyektif. ROA akan mendorong divisi untuk menggunakan dana dalam memperoleh aktiva yang diperkirakan dapat meningkatkan ROA tersebut.

c) Analisis ROA dapat juga digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produksi yang dihasilkan oleh perusahaan.

Kelemahan Return On Asset (ROA) menurut Munawir (2001) adalah :

a) ROA sebagai pengukur divisi sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi aktiva tetap.

b) ROA mengandung distorsi yang cukup besar terutama dalam kondisi inflasi. ROA akan cenderung tinggi akibat penyesuaian (kenaikan) harga jual, sementara itu beberapa komponen biaya masih dinilai dengan harga distorsi.

Rumus yang digunakan adalah (Mabruroh:2004):


(34)

2. Return On Equity (ROE)

Analisis Return On Equity (ROE) merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap penyertaan modal saham sendiri yang berarti juga merupakan penilaian seberapa besar tingkat pengembalian (prosentase) dari saham sendiri yang ditanamkan dalam bisnis. Rumus yang digunakan adalah:

ROE = x 100%

e. Rasio Likuiditas (Liquidity)

Suatu bank dikatakan likuid apabila bank bersangkutan dapat memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, dapat membayar kembali semua depositonya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Rasio likuiditas ini dilakukan untuk menganalisis kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban-kewajiban tersebut. Dalam penelitian ini, rasio likuiditas yang digunakan adalah Loan to Deposit Ratio (LDR).

Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dananya dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya. Standar terbaik LDR menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 adalah 85%-110%. Rumus yang digunakan menurut Lampiran surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP/2004 adalah:


(35)

LDR =

x 100%

f. Rasio Sensitivitas terhadap Risiko Pasar (Sensitivity to Market Risk)

Penilaian sensitivitas atas risiko pasar dimaksudkan untuk menilai kemampuan keuangan bank dalam mengantisipasi perubahan risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar. Penilaian sensitivitas atas risiko pasar dilakukan dengan menilai besarnya kelebihan modal yang digunakan untuk menutup risiko bank dibandingkan dengan besarnya risiko kerugian yang timbul dari pengaruh perubahan risiko pasar.

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP, rasio sensitivitas dapat dinilai melalui pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor sensitivitas terhadap risiko pasar antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen berikut:

1) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga;

2) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse

movement) nilai tukar; dan


(36)

Rasio sensitivitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio Posisi Devisa Neto (PDN). Bank Indonesia dalam rangka pelaksanaan pengaturan perbankan mendasarkan pada prinsip kehati-hatian, yang salah satunya menetapkan adanya kewajiban untuk memelihara Posisi Devisa Netto (PDN).

PDN merupakan rasio perbandingan selisih bersih antara aktiva dan pasiva valuta asing setelah memperhitungkan rekening-rekening administratifnya terhadap modal bank (Kuncoro dan Suhardjono: 2002).

Rasio PDN ini digunakan untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potensial loss sebagai akibat fluktuasi (adverse

movement) nilai tukar. Menurut Peraturan Bank Indonesia

No.6/20/PBI/2004, bank umum wajib memelihara Posisi Devisa Netonya secara keseluruhan setinggi-tingginya 20%. Rumus yang digunakan:

PDN = x 100%

B. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Pada dasarnya penelitian mengenai perbandingan kinerja bank syariah dan bank konvensional ini bukanlah penelitian yang pertamakali dilakukan. Penelitian ini dilakukan karena terinspirasi oleh beberapa peneliti sebelumnya, namun dengan scope yang berbeda. Peneliti-peneliti sebelumnya antara lain:


(37)

1. Penelitian yang dilakukan oleh Samad dan Hassan pada tahun 1999 dengan judul ”The Performance of Malaysian Islamic Bank During 1984-1997: An

Exploratory Study”. Penelitian ini menggunakan tiga belas rasio keuangan

yang digolongkan menjadi empat kategori, yaitu: a) Profitabilitas, rasio yang mewakilinya adalah ROA, ROE, PER (Profit Expense Ratio), b) Likuiditas, rasio yang mewakilinya adalah Cash Deposit Ratio (CDR), LDR, Current Ratio (CR), Current Asset Ratio (CAR), c) Risiko dan Solvabilitas, rasio yang mewakilinya adalah Debt to Equity Ratio (DER), Debt to Total Asset Ratio (DTAR), Equity Multiplier (EM), d) Komitmen dan Komunitas Muslim, rasio yang mewakilinya adalah Long Term Loan Ratio (LTA), Government Bond Investment (GBD), Mudharaba-Musharaka Ratio (MM/L). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa selama tahun 1984 hingga 1997 dilihat dari sisi profotabilitas antara bank syariah dengan bank konvensional, ROA, ROE, maupun PER dari keduanya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Jika dilihat dari sisi likuiditas, CDR, LDR, CR, CAR menunjukkan perbedaan yang signifikan yang artinya bank syariah lebih likuid jika dibandingkan dengan bank konvensional. Jika dilihat dari sisi risiko dan solvabilitas, DER, DTAR, EM juga terdapat perbedaan yang signifikan yang artinya bank syariah lebih tahan terhadap risiko pasar dan lebih sanggup menutupi hutang-hutangnya. Namun, jika dilihat dari sisi komitmen dan kamunitas muslim, LTA, GBD, MM/L tidak ada perbedaan yang signifikan antara bank syariah dan bank konvensioanal.


(38)

Adapun yang menjadi perbedaan antara penelitian penulis dengan penelitian Samad dan Hassan adalah: 1) Rasio yang digunakan berbeda, peneliti menggunakan Rasio CAMELS, sedangkan Samad dan Hassan menggunakan rasio profitabilitas, likuiditas, risiko dan solvabilitas, serta komitmen dan komunitas muslim. 2) Ruang lingkup dan objek penelitian (scope) berbeda, Samad dan Hassan meneliti bank Islam dan bank konvensioanal yang ada di Malaysia, sedangkan peneliti meneliti bank syariah dan bank konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 3) Tahun penelitian yang berbeda. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Rindawati pada tahun 2007 dengan judul

”Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan antara Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional”. Penelitian ini menggunakan rasio CAR, NPM, ROA, ROE, BOPO, LDR. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa hanya rasio CAR yang tidak memiliki perbedaan signifikan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional.

Adapun yang menjadi perbedaan antara penelitian penulis dengan Rindawati adalah: 1) Rasio yang digunakan, walaupun sama-sama menggunakan rasio CAMEL Rindawati tidak memasukkan faktor sensitivitas dalam penelitiannya, maka penulis dalam penelitian ini menambahkan faktor sensitivitas yang diwakili oleh rasio PDN. 2) Ruang lingkup dan objek penelitian (scope) berbeda, Rindawati meneliti bank yang sebagian besar tidak go public, penulis meneliti bank-bank yang telah go public dengan kriteria lain yang telah ditentukan oleh penulis. 3) Tahun penelitian yang berbeda, Rindawati meneliti


(39)

kinerja keuangan dari tahun 2001-2007, penulis meneliti kinerja keuangan dari tahun 2005-2009.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi pada tahun 2005 dengan judul ”Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Syariah Menggunakan Pendekatan Laba Rugi dan Nilai Tamabah”. Pnelitian ini menggunakan rasio ROA, ROE, Laba Bersih pertotal Aktiva Produktif, Total Nilai Tambah per Total Aktiva Produktif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kinerja keuangan yang dihitung dengan menggunakan pendekaan nilai tambah menghasilkan nilai rasio yang lebih besar jika dibandingkan dengan menggunakan pendekatan Laba Rugi.

Adapun yang menjadi perbedaan antara penelitian penulis dengan Wahyudi adalah: 1) Rasio yang digunakan berbeda, Wahyudi menggunakan pendekatan laba rugi dan nilai tambah dalam menilai kinerja keuangan bank, sedangkan penulis menggunakan rasio CAMELS dalam menilai kinerja bank. 2) Ruang lingkup dan objek (scope), Wahyudi hanya menggunakan satu objek penelitian, sedangkan penulis membandingkan kinerja antara bank syariah dan bank konvensional yang terdaftar di BEI dengan kriteria tertentu. 3) Tahun penelitian, Wahyudi meneliti kinerja keuangan Bank Syariah Mandiri pada tahun 2003 dan 2004, sedangkan penulis meneliti kinerja keuangan bank syariah dan bank konvensional dari tahun 2005-2009.

Secara lebih ringkas, tinjauan peneliti terdahulu dilampirkan dalam tabel berikut:


(40)

Tabel 2.3

Ringkasan Tinjauan Penilitian Terdahulu

No Peneliti/ Tahun

Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian 1 Rindawati/

2007

Analisis Perbandingan

Kinerja Keuangan antara Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional CAR, BOPO, LDR, NPM, ROA, ROE

Hasil penelitian tersebut menunjukkan rasio CAR perbankan syariah tidak berbeda secara signifikan

dengan perbankan konvensional. Rasio

NPM, ROA, ROE, BOPO, LDR perbankan

syariah berbeda signifikan dengan perbankan konvensional.

2 Wahyudi/ 2005 Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Syariah Menggunakan Pendekatan Laba Rugi dan Nilai Tamabah ROA, ROE, Laba Bersih pertotal Aktiva Produktif, Total Nilai Tambah per Total Aktiva Produktif

Kinerja keuangan yang

dihitung dengan menggunakan pendekaan

nilai tambah menghasilkan nilai rasio

yang lebih besar jika dibandingkan dengan menggunakan

pendekatan Laba Rugi.

3 Samad, Hassan/ 1999

The Performance of Malaysian Islamic Bank During

1984-1997: An Exploratory Study ROA,ROE, PER,CDR, LDR, CR, CAR,DER, DTAR,EM, LTA,GBD, MM/L

Hasil penelitian ini menunnjukkan rasio ROA, ROE, PER, LTA, GBD, MM/L tidak

berbeda secara signifikan. Rasio LDR,

CR, CAR, DER, DTAR, EM menunjukkan perbedaan signifikan antara bank syariah dan konvensional.


(41)

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual

Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah penting. Berdasrkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dibuat kerangka konseptual sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Sumber : Peneliti 2011

BANK

Bank Konvensional

Bank Syariah

Laporan Keuangan:

• CAR

• NPL

• ROA dan ROE

• BOPO

• LDR

• PDN

Dibandingkan Laporan

Keuangan:

• CAR

• NPL

• ROA dan ROE

• BOPO

• LDR

• PDN

Kinerja Kinerja


(42)

Kerangka konseptual ini merupakan gambaran perbandingan yang akan dilakukan antara bank konvensional dengan bank syariah. Pada penelitian ini bank dibedakan menjadi dua, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Kemudian masing-masing bank akan menghasilkan laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan alat untuk menilai kinerja bank. Penilaian kinerja ini menggunakan beberapa elemen yang terdapat di dalam laporan keuangan bank diantaranya yaitu CAR, NPL, ROA dan ROE, BOPO, LDR serta PDN. Setelah nilai ini didapatkan dari masing-masing bank, maka nilai tersebut dibandingkan antara kedua jenis bank tersebut.

2. Hipotesis

Hipotesis dapat didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji (Sekaran:2006). Berdasarkan kerangka konseptual yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

H0 : capital adequacy ratio (CAR), non performing loan (NPL), return on asset (ROA), return on equity (ROE), beban operasional dibagi

pendapatan operasional (BOPO), loan to deposit ratio (LDR), serta posisi devisa neto (PDN) tidak berbeda signifikan antara bank syariah dan bank konvensional baik secara parsial maupun secara keseluruhan yang diwakili oleh variabel kinerja.


(43)

Ha : capital adequacy ratio (CAR), non performing loan (NPL), return on asset (ROA), return on equity (ROE), beban operasional dibagi

pendapatan operasional (BOPO), loan to deposit ratio (LDR), serta posisi devisa neto (PDN) berbeda signifikan antara bank syariah dan bank konvensional baik secara parsial maupun secara keseluruhan yang diwakili oleh variabel kinerja.


(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Erlina (2008) menyatakan bahwa ”desain penelitian merupakan rencana induk yang berisi metode dan prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi yang dibutuhkan, menetapkan sumber-sumber informasi, teknik yang digunakan, metode sampling sampai dengan analisis dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan”. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan desain perbandingan dua rata-rata dari dua populasi yang independen.

B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono:2005). Berdasarkan pengertian diatas maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah perusahaan perbankan baik konvensional maupun syariah yang terdaftar di Bank Indonesia periode 2005-2009 dengan jumlah 80 bank.


(45)

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi (Erlina:2008). Menurut Erlina (2008), secara umum ada dua metode pengambilan sampel yang digunakan, yaitu:

a. Probability sampling, metode pengambilan sampel dimana setiap

elemen populasi mempunyai peluang atau kemungkinan yang sama untuk tepilih sebagai sampel. Metode ini dibedakan atas:

1) Simple random sampling 2) Complex random sampling

b. Non probability sampling, metode pengambilan sampel dimana

tidak semua elemen populasi mempunyai kemungkinan atau peluang untuk terpilih sebagai sampel penelitian. Metode ini terdiri atas:

1) Convenience sampling, yaitu pengambilan sampel secara

nyaman dimana peneliti mengambil sampel sekehendak hatinya.

2) Purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan

suatu kriteria tertentu.

3) Judgement sampling, yaitu pengambilan berdasarkan suatu

pertimbangan tertentu.

Peneliti memutuskan untuk menggunakan purposive sampling dalam penelitian ini. Adapun kriteria penentuan sampel yang dipertimbangkan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Bank umum syariah yang dipilih dalam penelitian ini adalah bank syariah yang telah berdiri lebih dari lima tahun dan memiliki nilai aktiva yang setara. Bank umum konvensional yang dipilih untuk dibandingkan dengan bank umum syariah adalah bank konvensional dengan total aktiva sebanding dengan bank umum syariah yang telah dipilih.

2. Bank umum konvensional yang dipilih adalah bank umum yang telah go


(46)

3. Jumlah total aktiva yang dianggap setara adalah antara 14.000.000 hingga 23.000.000 (dalam jutan rupiah)

4. Informasi yang digunakan untuk mengukur kinerja bank adalah berdasar Laporan Publikasi Keuangan Bank selama periode Tahun 2005 hingga Tahun 2009.

Berdasarkan kriteria yang dikemukakan di atas, maka perusahaan perbankan konvensionalyang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah7 perusahaan dari total 75 perusahaan perbankan konvensional yang terdaftar di BI dan 5 perusahaan perbankan syariah dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. (Lampiran 1)

Tabel 3.1

Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria Untuk Bank Konvensional

No Nama Perusahaan Kriteria Sampel

(S) 1 2 3 4

1 Bank Central Asia Tbk - √ √ √

2 Bank Nusantara Parahyangan Tbk - √ - √

3 PT Bank Eksekutif Internasional Tbk - √ - √

4 PT Bank CIMB Niaga Tbk - √ - √

5 PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk

√ √ √ √ S1

6 PT Bank Pan Indonesia Tbk - √ - √

7 PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk - √ √ √

8 PT Bank Dai-Ichi Kang Yo Indonesia √ - - √

9 PT Bank Rakyat Indonesia Tbk - √ √ √

10 PT Bank Kesawan Tbk - √ - √

11 PT Bank Internasional Indonesia Tbk - √ - √ 12 PT Bank Victoria Internatioanal Tbk - √ - √

13 PT Bank Multicor Tbk - √ - √

14 PT Bank Himpunan Saudara Tbk - √ - √

15 PT Bank Capital Indonesia Tbk - √ - √

16 PT Bank Bukopin Tbk - √ - √

17 - - - √

18 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk - √ - √

19 PT Bank Permata Tbk - √ - √

20 PT Bank Agris √ - - √


(47)

22 PT Bank Ekonomi Raharja Tbk √ √ √ √ S2

23 PT Bank Negara Indonesia Tbk - √ - √

24 PT Bank Danamon Tbk - √ - √

25 PT Bank Bumi Arta Tbk - √ - √

26 PT Bank Swadesi Tbk - √ - √

27 PT Bank Lippo Tbk - √ - √

28 PT Bank NISP Tbk - √ - √

29 PT Bank Agroniaga Tbk - √ - √

30 PT Bank Mayapada Tbk - √ - √

31 PT Bank Ekspor Indonesia - - - √

32 PT Bank Tabungan Negara - - - √

33 PT Arta Media Bank √ - √ √

34 PT Bank Arta Niaga Kencana √ - √ √

35 PT Bank Bumi Arta √ - √ √

36 PT Bank Hagakita - - - √

37 PT Bank ICBC Indonesia - - - √

38 PT Bank UOB Buana Tbk √ √ √ √ S3

39 PT Bank Index Selindo - - - √

40 PT Bank Maspion Indonesia - - √

41 PT Bank Mestika Dharma - - - √

42 Prima Express Bank - - - √

43 PT ANZ Panin Bank - - - √

44 PT Bank Commonwealth - - - √

45 PT Bank Mizuho Indonesia √ - √ √

46 Centratama Nasional Bank - - √ √

47 PT Bank Artha Graha Internasioanal Tbk

√ √ √ √ S4

48 Bank Yudha Bhakti - - - √

49 Global International Bank - - - √

50 Liman International Bank - - - √

51 National Nobu Bank - - - √

52 Prima Master Bank - - - √

53 PT Bank DBS Indonesia - - - √

54 PT Bank IBJ Indonesia - - - √

55 PT Bank KEB Indonesia - - - √

56 PT Bank Merin Corp - - - √

57 PT Bank Mutiara Tbk √ √ √ √ S5

58 Anglomas Internsional Bank - - - √

59 Dipo Internasional Bank √ - √ √

60 Bank Jasa Jakarta √ - √ √

61 Bank Mitra Niaga - - - √

62 Bank Multi Arta Sentosa - - - √

63 Bank Artos Indonesia - - - √


(48)

65 Harmoni International Bank - - - √

66 PT Bank Sakura Swadharma - - - √

67 PT Bank Societe General Indonesia - - - √

68 PT Bank UOB Indonesia - - - √

69 PT Bank Inggris Indonesia - - - √

70 Fama International Bank - - - √

71 China Trust Indonesia Bank - - - √

72 Keppel Tatlee Buana Bank - - - √

73 Bank Prashida Utama - - - √

74 Bank Asiatic - - - √

75 Bank sinar Mas - - - √

Sumber : Bank Indonesia

Tabel 3.2

Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria Untuk Bank Syariah

No Nama Perusahaan Kriteria Sampel

(S) 1 2 3 4

1 PT Bank Muamalat Indonesia √ √ √ √ S6

2 PT Bank Syariah Mandiri √ √ √ √ S7

3 PT Bank Syariah Mega Indonesia - - - √

4 PT Bank Rakyat Indonesia Syariah - - - -

5 PT Bank Bukopin Syariah - - - -

Sumber: Bank Indonesia

Berdasarkan teknik pengambilan sampel tersebut, maka sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:

Tabel 3.3

Perusahaan yang Menjadi Sampel Penelitian

No Nama Perusahaan Jumlah Total Aktiva

(dalam juataan Rupiah)

1 Bank Muamalat Indonesia 15.061.159

2 Bank Syariah Mandiri 20.101.340

3 PT. Bank UOB Buana 21.937.000

4 PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional 22.272.246

5 PT. Bank Arta Graha Internasional 15.432.374

6 PT. Bank Ekonomi Raharja 21.391.300

7 PT. Bank Mutiara 14.509.632


(49)

C. Jenis dan Sumber Data

Sumber data penelitian adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain ( Umar:2001). Data sekunder tersebut diperoleh dengan cara mengunduh dari situs Bank Indonesia berasal dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD).

Menurut waktu pengumpulannya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pooling data. Menurut Jogiyanto (2004) “Panel data atau pooling data adalah gabungan dari data yang melibatkan satu waktu tertentu (cross sectional) dan data yang melibatkan urutan waktu (time series)”.

D. Teknik Pengumpulan Data

Tahap ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data sekunder berupa Laporan Keuangan Tahunan Publikasi Bank selama periode 2005-2009. Data yang diperoleh diambil melalui beberapa website dari bank yang bersangkutan dan website Bank Indonesia. Jenis laporan yang digunakan antara lain Neraca Keuangan, Laporan Laba-Rugi, Laporan Kualitas Aktiva produktif, Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum dan Ikhtisar keuangan.

E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel-variabel yang digunakan yaitu rasio keuangan yang meliputi Capital

Adequacy Ratio (mewakili rasio permodalan), Non Performing Loan (mewakili


(50)

rasio rentabilitas), Beban Operasional dibagi Pendapatan Operasional (mewakili rasio efisiensi), dan Loan to Deposit Ratio (mewakili rasio likuiditas). Untuk mengetahui kinerja bank secara keseluruhan dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh rasio yang sebelumnya telah diberi bobot nilai tertentu.

a. Rasio permodalan, yang diwakili oleh variabel rasio CAR (Capital

Adequacy Ratio)

CAR = x 100%

b. Rasio kualitas aktiva produktif, yang diwakili oleh NPL (Non Performing

Loan).

NPL = x 100%

c. Rasio Rentabilitas, yang diwakili oleh variabel rasio ROA (Return on

Asset) dan ROE (Return on Equity)

ROA = x 100%

ROE = x 100%

d. Rasio biaya/efisiensi bank, yang diwakili oleh variabel rasio BOPO.


(51)

e. Rasio Likuiditas, yang diwakili oleh variabel rasio LDR (Loan to Deposit

Ratio).

LDR = x 100%

f. Rasio Sensitivitas , yang diwakili oleh variabel rasio PDN (Posisi Devisa Neto)

PDN = x 100%

g. Kinerja bank secara keseluruhan Kinerja bank secara keseluruhan diketahui dengan cara menjumlahkan seluruh rasio keuangan, yaitu rasio CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO, dan LDR yang sebelumnya telah diberi bobot nilai tertentu. Perhitungan presentase dan bobot rasio-rasio tersebut adalah:

1. CAR

Menurut ketentuan Bank Indonesia suatu bank umum sekurang-kurangnya harus memiliki CAR 8%, hal ini didasarkan kepada ketentuan yang ditetapkan oleh BIS (Bank for Interntional

Settlement). Variabel ini mempunyai bobot nilai 15%. Skor nilai

CAR ditentukan sebagai berikut; Jika CAR bernilai :

a. Kurang dari 8%, skor nilai = 0 b. Antara 8% - 12%, skor nilai = 30 c. Antara 12%- 20%, skor nilai = 70 d. Lebih dari 20%, skor nilai = 100


(52)

Misalnya suatu bank memiliki nilai CAR 33,84%, maka skor akhir CAR adalah 15%*100 = 15

2. NPL

Standar terbaik NPL menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 adalah bila NPL berada dibawah 5%. Variabel ini mempunyai bobot nilai 15%. Skor nilai NPL ditentukan sebagai berikut;

Jika NPL bernilai :

a. Lebih dari 8%, skor nilai = 0 b. Antara 5% - 8%, skor nilai = 30 c. Antara 3% - 5%, skor nilai = 70 d. Kurang dari 3%, skor nilai = 100

Misalnya suatu bank memiliki NPL 0,52%, maka skor akhir NPL adalah 15%* 100 = 15

3. ROA

Standar terbaik ROA menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 adalah 1,5%. Variabel ini mempunyai bobot nilai 15%. Skor nilai ROA ditentukan sebagai berikut;

Jika ROA bernilai :

a. Kurang dari 0%, skor nilai = 0 b. Antara 0% - 1%, skor nilai = 30 c. Antara 1% - 2%, skor nilai = 70 d. Lebih dari 2%, skor nilai = 100


(53)

Misalnya suatu bank memiliki nilai ROA 1,87%, maka skor akhir ROA adalah sebesar 15%* 100 = 15

4. ROE

Standar ROE menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 adalah 12%. Variabel ini mempunyai bobot nilai 15%. Skor nilai ROE ditentukan sebagai berikut;

Jika ROE bernilai :

a. Kurang dari 8%, skor nilai = 0 b. Antara 8% - 10%, skor nilai = 30 c. Antara 10% - 12%, skor nilai = 70 d. Lebih dari 12%, skor nilai = 100

Misalnya suatu bank memiliki nilai ROE 27,67%, maka skor akhir ROE adalah sebesar 15%* 100 = 15

5. BOPO

Standar terbaik BOPO menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 adalah 92%. Variabel ini mempunyai bobot nilai sebesar 15%. Skor nilai BOPO ditentukan sebagai berikut;

Jika BOPO bernilai :

a. Lebih dari 125%, skor nilai = 0 b. Antara 92% - 125%, skor nilai = 30 c. Antara 85% - 92%, skor nilai = 70 d. Kurang dari 85%, skor nilai = 100


(54)

Misalnya suatu bank memiliki BOPO 86,44%, maka skor akhir BOPO adalah 15%* 100 = 15

6. LDR

Standar terbaik LDR menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/9/PBI/2004 adalah 85%-110%. Variabel ini diberi bobot nilai 15%. Skor nilai LDR ditentukan sebagai berikut;

Jika LDR bernilai :

a. Kurang dari 50%, skor nilai = 0 b. Antara 50% - 65%, skor nilai = 30 c. Antara 65% - 85%, skor nilai = 70 d. Antara 85% - 110%, skor nilai = 100

Misalnya suatu bank memiliki nilai LDR 86,93%, maka skor akhir LDR adalah sebesar 15%* 100 = 15

7. PDN

Standar terbaik yang ditentukan Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/20/PBI/2004 untuk penilaian PDN adalah maksimal 20%. Variabel ini diberi bobot nilai 10%. Skor nilai PDN ditentukan sebagai berikut;

Jika PDN bernilai:

a. Lebih dari 20%, skor nilai = 0 b. Antara 10% - 20%, skor nilai = 30 c. Antara 5% - 10%, skor nilai = 70 d. Kurang dari 5%, skor nilai = 100


(55)

Misalnya suatu bank memiliki nilai PDN 2,7%, maka skor akhir PDN adalah sebesar 10%*100 = 10

Selanjutnya dengan menggunakan Microsoft Exel 2007, skor masing-masing variabel tersebut dijumlahkan. Berdasarkan contoh diatas maka total skornya adalah 15 + 15 + 15 + 15 + 15 +15 + 10 = 100.

Setelah itu data-data tersebut dikonversi ke dalam SPSS 18 untuk selanjutnya dianalisa dengan menggunakan independent samples T-test.

F. Metode Analisis Data

Penelitian ini merupakan penelitian perbandingan dari data dua populasi yaitu bank syairah dan bank konvensional, maka dari itu pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik statistik yang berupa uji beda dua rata-rata (independent sample t-test). Pada pengujian jenis ini kita tidak memerlukan uji asumsi klasik, karena distribusi data telah dianggap normal. Pada penelitian ini hanya digunakan uji homogenitas dengan menggunakan Lavene’s

Test. Uji ini dimaksudkan hanya untuk melihat kesamaan varians, jika ternyata

variansnya berbeda antara kedua kelompok populasi maka akan digunakan asumsi varians yang berbeda pada uji hipotesis.

Asumsi dasar pada independent sample t-test menurut Field (2009) adalah:

1. Both the independent sample t-test and the dependent t-test are parametric test based on the normal distribution

2. Data are measured at least at the interval level 3. Variance in the populations are roughly equal 4. Scores are independent


(56)

1. Uji Homogenitas

Tujuan dari uji homogenitas ini adalah untuk melihat apakah dalam dua grup atau populasi terdapat kesamaan varians. Uji ini diperlukan untuk menentukan alat statistik yang dilakukan dengan asumsi populasi yang sama atau berbeda pada uji hipotesis. Proses uji homogenitas data dilakukan dengan menggunakan uji Lavene’s Test. Data dikatakan homogen jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

a) Jika –Ftabel > Fhitung >+Ftabel

b) Jika –Ftabel < Fhitung < +Ftabel, pada α = 5% dan nilai probabilitas > level of significant sebesar 0,05, maka dikatakan kedua populasi memiliki

varians yang sama, dan untuk uji hipotesis juga akan digunakan asumsi varians populasi yang sama (equal variance assumed).

, pada α = 5% dan nilai probabilitas < level of significant sebesar 0,05angka maka dikatakan kedua populasi

memiliki varians yang berbeda, dan untuk uji hipotesis akan digunakan asumsi varians populasi yang berbeda (equal variance not assumed).

2. Uji Hipotesis

Tujuan dari uji hipotesis yang berupa uji beda dua rata-rata pada penelitian ini adalah untuk menentukan menerima atau menolak hipotesis yang telah dibuat. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji beda t-test. Uji ini digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda.


(57)

Tujuan uji beda t-test adalah membandingkan rata-rata (mean) yang sama atau tidak sama secara signifikan. Hipotesis statistik yang diajukan adalah :

Ha : µ1≠ µ2 : ada perbedaan.

Kriteria yang digunakan dalam menerima atau menolak hipotesis (dua arah) adalah :

a) Ha diterima atau H0 ditolak apabila –ttabel > thitung >+ttabel, pada α = 5%

dan nilai probabilitas < level of significant sebesar 0,05.

b) Ha ditolak atau H0 diterima apabila –ttabel < thitung < +ttabel, pada α = 5%


(58)

BAB IV

ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Penelitian

Data cross section yang digunakan berjumlah 7 perusahaan dengan time series selama 5 tahun pengamatan sehingga diperoleh sampel sebanyak 35. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), Non

Performing Loan (NPL), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), Beban

Operasional dibagi Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR), Posisi Devisa Neto (PDN).

Deskripsi data penelitian secara statistik dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1

Hasil Perhitungan Statistik Deskriptif

Group Statistics

Prinsip

N Mean Std. Deviation

Std. Error Mean

CAR Konvensional 25 15.6440 10.24641 2.04928

Syariah 10 12.5110 1.70342 .53867

NPL Konvensional 25 3.0864 2.42296 .48459

Syariah 10 3.0500 1.30088 .41137

ROA Konvensional 25 .0324 11.00536 2.20107

Syariah 10 1.8470 .66948 .21171

ROE Konvensional 25 -10.7392 217.04732 43.40946

Syariah 10 26.8790 12.00564 3.79652

BOPO Konvensional 25 130.0888 228.64499 45.72900

Syariah 10 80.9510 6.24067 1.97347

LDR Konvensional 25 73.3684 23.72484 4.74497

Syariah 10 90.0520 7.11929 2.25132

PDN Konvensional 25 .6440 50.18572 10.03714

Syariah 10 9.8840 14.36864 4.54376

Kinerja Konvensional 25 69.3800 27.27456 5.45491

Syariah 10 82.4000 9.85957 3.11787


(59)

Berikut ini merupakan penjelasan dari data deskriptif yang telah diolah, yaitu : 1. Pada Tabel 4.1 dapat terlihat bahwa Bank Syariah mempunyai rata-rata

(mean) rasio CAR sebesar 12.5110%, lebih kecil dibandingkan mean

rasio CAR Bank Konvensional yang sebesar 15.6440%. Hal ini berarti bahwa selama periode 2005-2009 perbankan konvensional memiliki CAR lebih baik dibandingkan dengan perbankan syariah, karena semakin tinggi nilai CAR maka semakin bagus kualitasnya. Akan tetapi, jika mengacu pada ketentuan BI yang menyatakan bahwa standar terbaik CAR adalah 8%, maka perbankan syariah masih berada pada kondisi ideal karena memiliki nilai CAR diatas ketentuan BI. 2. Pada Tabel 4.1 dapat terlihat bahwa Bank Syariah mempunyai rata-rata

(mean) rasio NPL sebesar 3.0500%, lebih kecil dibanding dari mean

rasio NPL Bank Konvensional yang sebesar 3.0864%. Walaupun demikian, perbedaan rasio NPL antara bank konvensional dan bank syariah tidak terlalu besar sehingga bisa dianggap keduanya mempunyai rata-rata rasio NPL yang sama. Kualitas NPL bank konvensional maupun bank syariah masih berada pada kondisi ideal jika dilihat dari ketentuan BI yang menyatakan bahwa standar terbaik NPL adalah dibawah 5%.

3. Pada Tabel 4.1 dapat terlihat bahwa Bank Syariah mempunyai rata-rata

(mean) rasio ROA sebesar 1.8470%, lebih besar dibanding dari mean

rasio ROA Bank Konvensional yang sebesar 0.324%. Hal ini berarti bahwa selama periode 2005-2009 perbankan konvensional memiliki


(60)

kualitas ROA lebih rendah dibanding dengan perbankan syariah, karena semakin tinggi nilai ROA maka semakin bagus kualitasnya. Jika mengacu pada ketentuan BI yang menyatakan bahwa standar terbaik ROA adalah 1.5%, maka perbankan konvensioanal berada pada kondisi yang kurang ideal.

4. Pada Tabel 4.1 dapat terlihat bahwa Bank Syariah mempunyai rata-rata

(mean) rasio ROE sebesar 26.8790%, lebih besar dibanding dari mean

rasio ROE Bank Konvensional yang sebesar -10.7392%. Hal ini berarti bahwa selama periode 2005-2009 perbankan konvensional memiliki kualitas ROE lebih rendah dibanding dengan perbankan syariah, karena semakin tinggi nilai ROE maka semakin bagus kualitasnya. Jika mengacu pada ketentuan BI yang menyatakan bahwa standar terbaik ROE adalah 12%, maka perbankan konvensioanal berada pada kondisi yang kurang ideal.

5. Pada Tabel 4.1 dapat terlihat bahwa Bank Syariah mempunyai rata-rata

(mean) rasio BOPO sebesar 80.9510%, lebih kecil dibanding dari mean rasio BOPO Bank Konvensional yang sebesar 130.0888%. Hal

ini berarti bahwa selama periode 2005-2009 perbankan konvensional memiliki kualitas BOPO lebih rendah dibanding dengan perbankan syariah, karena semakin rendah nilai BOPO maka semakin bagus kualitasnya. Jika mengacu pada ketentuan BI yang menyatakan bahwa standar terbaik BOPO adalah 92%, maka perbankan konvensioanal berada pada kondisi yang kurang ideal.


(1)

Lampiran 2

Data Penelitian

Bank Konvensional

CAR

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

8.07

11.45

12.20

-22.29

10.02

Bank Ekonomi Raharja

13.03

14.00

13.13

14.03

11.72

Bank Arta Graha

Internasional

11.14

11.38

12.24

14.93

13.87

Bank BTPN

20.70

29.46

24.00

23.67

18.50

Bank UOB Buana

19.90

30.4

27.2

23.49

24.86

NPL

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

4.99

4.94

3.33

10.42

9.53

Bank Ekonomi Raharja

0.89

2.52

2.45

1.07

1.11

Bank Arta Graha

Internasional

2.83

2.70

2.55

4.85

3.61

Bank BTPN

3.40

2.42

1.31

0.59

0.51

Bank UOB Buana

1.7

2.7

2.7

2.07

1.97

ROA

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

0.22

0.38

-1.43

-52.09

3.84

Bank Ekonomi Raharja

2.04

1.62

1.87

2.26

2.21

Bank Arta Graha

Internasional

0.34

0.40

0.29

0.34

0.44

Bank BTPN

4.25

4.57

6.14

4.48

3.42

Bank UOB Buana

3.1

3.5

3.40

2.38

2.84

ROE

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

7.49

10.10

-27.89

-981.63

402.86

Bank Ekonomi Raharja

24.36

19.51

20.32

18.06

19.42

Bank Arta Graha

Internasional

5.22

5.67

3.01

4.13

4.60

Bank BTPN

17.49

19.57

36.27

28.44

25.89


(2)

BOPO

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

122.69

93.65

112

1226.28

92.66

Bank Ekonomi Raharja

79.47

86.26

80.27

75.63

77.75

Bank Arta Graha

Internasional

82.75

79.30

81.13

77.54

76.73

Bank BTPN

79.22

79.82

73.44

77.53

84.06

Bank UOB Buana

85.53

87.45

83.12

79.99

77.95

LDR

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

23.84

21.35

38.49

93.16

81.66

Bank Ekonomi Raharja

52.75

42.40

52.05

61.42

43.34

Bank Arta Graha

Internasional

85.4

79.52

82.22

93.47

84.04

Bank BTPN

93.19

96.43

89.18

91.61

84.92

Bank UOB Buana

80.0

83.0

95.2

91.65

93.92

PDN

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

14.32

14.80

13.15

-206.85

131.63

Bank Ekonomi Raharja

7.23

3.28

2.61

3.60

2.14

Bank Arta Graha

Internasional

3.32

2.92

1.01

1.76

1.9

Bank BTPN

2.72

2.65

2.93

3.17

2.87

Bank UOB Buana

1.12

0.67

0.6

0.71

0.84

Kinerja

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Mutiara

27

31.5

28.5

15

49.5

Bank Ekonomi Raharja

82

71.5

80.5

85

74.5

Bank Arta Graha Internasional

49

44.5

50.5

50.5

46

Bank BTPN

95.5

100

100

100

91


(3)

Bank Syariah

CAR

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Muamalat Indonesia

16.33

14.23

10.69

10.83

11.10

Bank Syariah Mandiri

11.88

12.56

12.44

12.66

12.39

NPL

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Muamalat Indonesia

2.00

4.84

1.33

3.85

4.10

Bank Syariah Mandiri

2.68

4.64

3.39

2.73

1.34

ROA

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Muamalat Indonesia

2.53

2.10

2.27

2.26

0.45

Bank Syariah Mandiri

1.83

1.10

1.53

1.83

2.23

ROE

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Muamalat Indonesia

18.10

21.99

23.24

33.14

8.03

Bank Syariah Mandiri

23.39

18.27

32.22

46.21

44.20

BOPO

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Muamalat Indonesia

81.59

84.69

82.75

78.94

95.50

Bank Syariah Mandiri

77.19

82.13

74.25

78.71

73.76

LDR

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Muamalat Indonesia

89.08

83.60

99.16

104.41

85.82

Bank Syariah Mandiri

83.09

90.21

92.96

89.12

83.07

Kinerja

2005

2006

2007

2008

2009

Bank Muamalat Indonesia

92.5

79.5

82

75

59.5


(4)

Lampiran 3

Hasil Output SPSS 18.0

Statistik Deskriptif

Group Statistics

Prinsip N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

CAR Konvensional 25 15.6440 10.24641 2.04928

Syariah 10 12.5110 1.70342 .53867

NPL Konvensional 25 3.0864 2.42296 .48459

Syariah 10 3.0500 1.30088 .41137

ROA Konvensional 25 .0324 11.00536 2.20107

Syariah 10 1.8470 .66948 .21171

ROE Konvensional 25 -10.7392 217.04732 43.40946

Syariah 10 26.8790 12.00564 3.79652

BOPO Konvensional 25 130.0888 228.64499 45.72900

Syariah 10 80.9510 6.24067 1.97347

LDR Konvensional 25 73.3684 23.72484 4.74497

Syariah 10 90.0520 7.11929 2.25132

PDN Konvensional 25 .6440 50.18572 10.03714

Syariah 10 9.8840 14.36864 4.54376

Kinerja Konvensional 25 69.3800 27.27456 5.45491


(5)

Uji Homogenitas

Test of Homogeneity of Variance

Levene Statistic df1 df2 Sig.

CAR Based on Mean 5.670 1 33 .023

Based on Median 4.680 1 33 .038

Based on Median and with adjusted df

4.680 1 24.426 .041

Based on trimmed mean 6.287 1 33 .017

NPL Based on Mean .813 1 33 .374

Based on Median .361 1 33 .552

Based on Median and with adjusted df

.361 1 25.429 .553

Based on trimmed mean .493 1 33 .488

ROA Based on Mean 1.381 1 33 .248

Based on Median .833 1 33 .368

Based on Median and with adjusted df

.833 1 24.030 .371

Based on trimmed mean .842 1 33 .365

ROE Based on Mean 1.164 1 33 .288

Based on Median .668 1 33 .420

Based on Median and with adjusted df

.668 1 24.029 .422

Based on trimmed mean .656 1 33 .424

BOPO Based on Mean 1.540 1 33 .223

Based on Median .430 1 33 .516

Based on Median and with adjusted df

.430 1 24.006 .518

Based on trimmed mean .448 1 33 .508

LDR Based on Mean 14.424 1 33 .001

Based on Median 4.118 1 33 .051

Based on Median and with adjusted df

4.118 1 25.145 .053

Based on trimmed mean 11.428 1 33 .002

PDN Based on Mean .243 1 33 .626

Based on Median .319 1 33 .576

Based on Median and with adjusted df

.319 1 25.510 .577

Based on trimmed mean .281 1 33 .599

Kinerja Based on Mean 18.754 1 33 .000

Based on Median 7.574 1 33 .010

Based on Median and with adjusted df

7.574 1 26.432 .011


(6)

UJI HIPOTESIS

Independent Samples Test

Levene's

Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df

Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference

95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper CAR Equal variances

assumed

5.670 .023 .953 33 .347 3.13300 3.28642 -3.55328 9.81928 Equal variances

not assumed

1.479 27.086 .151 3.13300 2.11890 -1.21397 7.47997 NPL Equal variances

assumed

.813 .374 .045 33 .965 .03640 .81386 -1.61940 1.69220 Equal variances

not assumed

.057 29.794 .955 .03640 .63566 -1.26216 1.33496 ROA Equal variances

assumed

1.381 .248 -.516 33 .609 -1.81460 3.51413 -8.96416 5.33496 Equal variances

not assumed

-.821 24.441 .420 -1.81460 2.21123 -6.37401 2.74481 ROE Equal variances

assumed

1.164 .288 -.543 33 .591 -37.61820 69.29727 -178.60455 103.36815 Equal variances

not assumed

-.863 24.365 .396 -37.61820 43.57517 -127.48173 52.24533 BOPO Equal variances

assumed

1.540 .223 .673 33 .505 49.13780 72.96843 -99.31759 197.59319 Equal variances

not assumed

1.074 24.089 .294 49.13780 45.77156 -45.31154 143.58714 LDR Equal variances

assumed

14.424 .001 -2.168 33 .038 -16.68360 7.69711 -32.34348 -1.02372 Equal variances

not assumed

-3.177 31.733 .003 -16.68360 5.25197 -27.38503 -5.98217 PDN Equal variances

assumed

.243 .626 -.568 33 .574 -9.24000 16.25801 -42.31717 23.83717 Equal variances

not assumed

-.839 31.335 .408 -9.24000 11.01772 -31.70104 13.22104 Kinerja Equal variances

assumed

18.754 .000 -1.461 33 .154 -13.02000 8.91372 -31.15510 5.11510 Equal variances

not assumed


Dokumen yang terkait

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Antara Bank Syariah Dengan Bank Konvensional Yang Terdaftar Di Bank Indonesia

1 82 81

Analisis Perbandingan Kinerja Antara Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat Indonesia dengan Rasio CAMELS

3 76 122

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PERBANKAN SYARIAH DAN PERBANKAN KONVENSIONAL DENGAN METODE CAMELS (Studi Empiris pada Bank Umum Swasta Nasional)

0 2 16

Analisis Perbandingan Kinerja Perbankan Syariah dan Perbankan Konvensional dengan Metode CAMELS (Studi Empiris pada Bank Umum Swasta Nasional)

0 2 16

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PERBANKAN SYARIAH DAN PERBANKAN KONVENSIONAL DENGAN METODE CAMELS (Studi Empiris pada Bank Umum Swasta Nasional)

0 5 16

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PERBANKAN SYARIAH DAN PERBANKAN KONVENSIONAL DENGAN METODE CAMELS (Studi Empiris pada Bank Umum Swasta Nasional)

0 3 16

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PERBANKAN SYARIAH DENGAN PERBANKAN KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BANK INDONESIA.

0 0 25

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PADA PERBANKAN KONVENSIONAL DAN SYARIAH Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Pada Perbankan Konvensional Dan Syariah Dengan Menggunakan Rasio Keuangan Bank (Studi Kasus: Bank Mandiri dan Bank Syariah Mandiri).

0 0 16

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PADA PERBANKAN KONVENSIONAL DAN SYARIAH Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Pada Perbankan Konvensional Dan Syariah Dengan Menggunakan Rasio Keuangan Bank (Studi Kasus: Bank Mandiri dan Bank Syariah Mandiri).

0 1 17

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Antara Bank Syariah Dengan Bank Konvensional Yang Terdaftar Di Bank Indonesia

0 0 16