Waktu dan Lokasi Penelitian Alat Bahan .1 Bahan uji Cara kerja

23 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan januari 2014 hingga bulan November 2014. Lokasi penelitian di laboratorium Farmakognosi Fitokimia FKIK dan Laboratorium Pusat Laboratorium Terpadu Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.2 Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah blender, peralatan maserasi botol coklat, erlenmeyer SCHOT Duran, corong, kertas saring, kapas, aluminium-foil klin pak, label, lemari pendingin SANYO, gelas kimia SCHOT Duran, gelas ukur YZ, vakum rotari evaporator EYELA, alat-alat gelas, timbangan analitik AND GH-202 dan Wigen Hauser, ose, pinset, inkubator, laminar air flow, hot plate Wigen Hauser, autoklaf dan tabung reaksi Pyrex. 3.3 Bahan 3.3.1 Bahan uji Sampel yang digunakan sebagai bahan uji adalah simplisia kering daun Garcinia benthami Pierre yang diperoleh dari Kebun Raya Bogor dan determinasi oleh ahli botani Hebarium Bogoriense, LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor . 3.3.2 Bahan Kimia Pelarut organik n-heksana non polar, etil asetat semi polar, dan metanol polar, pereaksi Mayer, Bauchardat, Dragendorff, asam sulfat pekat, asam klorida pekat HCl P, serbuk Mg, etanol 96, besi III klorida FeCl 3 , kloroform, natrium hidroksida NaOH, NaCl fisiologis dan DMSO Dimetil Sulfoksida merck. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 3.3.3. Bahan uji antimikroba Mikroba uji yang digunakan adalah Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25922. Adapun antibiotik pembanding adalah kloramfenikol. Media yang digunakan adalah Nutrient Agar NA dan Nutrient Broth NB.

3.4 Cara kerja

3.4.1 Penyiapan Bahan Amelia, 2011 Sampel yang digunakan adalah daun Garcinia benthami Pierre didapatkan dalam keadaan sampel kering diproleh dari kebun raya Bogor yang sebelumnya telah dilakukan dengan pengumpulan bahan berupa daun segar sebanyak 2 kilogram pada bulan Februari 2014 dan identitas biologi tumbuhan ini ditentukan oleh ahli botani Hebarium Bogoriense, LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor. Selanjutnya dilakukan sortasi basah serta dicuci untuk menghilangkan pengotor yang masih menempel pada bahan. Sortasi dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing sehingga dapat mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan uji, setelah itu dikeringkan di Balai Peneliti Tanaman Rempah dan Obat Bogor dengan mengunakan Oven suhu 40ºC selama 5 hari. Daun yang sudah kering didapatkan sebanyak 1 kilogram. Simplisia yang telah kering disortasi kembali dari kotoran-kotoran yang tertinggal. Simplisia yang telah disortir, dipotong menjadi bagian kecil dan diblender menjadi serbuk halus. 3.4.2 Pembuatan Ekstrak Amelia, 2011 Serbuk simplisia daun Garcinia benthami Pierre yang digunakan dalam percobaan sebanyak 700 gram dimasukkan kedalam alat maserasi botol coklat. Ekstrak dibuat dengan metode remaserasi bertingkat dengan mengunakan pelarut yang memiliki kepolaran meningkat yaitu pelarut n-heksana non-polar, etil asetat semi polar, dan metanol polar. Proses remaserasi didiamkan selama 2-3 hari sambil sesekali dilakukan pengadukan. Setelah 2-3 hari maserat disaring menggunakan corong yang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dilapiskan dengan kapas selanjutnya disaring dengan menggunakan kertas saring agar tersaring sempurna. Maserat pertama yang didapatkan adalah maserat n-heksana. Ampas kemudian diangin-anginkan agar bebas dari pelarut n-heksana lalu dimaserasi kembali dengan etil asetat, setelah didapatkan maserat etil asetat, ampas dimaserasi kembali menggunakan pelarut metanol sampai didapatkan maserat metanol. Masing-masing maserat yang didapatkan kemudian diuapkan pelarutnya mengunakan vakum rotary evaporator dengan suhu 40ºC dan didapatkan ekstrak kental dari masing-masing pelarut. Ekstrak yang didapatkan kemudian disimpan di dalam lemari pendingin dibagian refrigerator. Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana, sedangkan kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama, membutuhkan pelarut yang banyak dan penyarian kurang sempurna. 3.4.3 Rendemen Total Ekstrak Garcinia benthami Pierre Rendemen ekstrak daun Garcinia benthami Pierre total dihitung dengan membandingkan berat awal serbuk simplisia dengan berat akhir ekstrak daun Garcinia benthami Pierre total yang diperoleh Depkes, 2002. Rendemen : bobot ekstrak total yang diperoleh x 100 Bobot serbuk simplisia yang diekstraksi 3.4.4 Penapisan Fitokimia Penapisan fitokimia dilakukan untuk melihat kandungan golongan senyawa yang terdapat didalam ekstrak daun Garcinia benthami Pierre. Pengujian fitokimia meliputi : a. Alkaloid Untuk mengidentifikasi alkaloid, ekstrak dilarutkan dengan etanol 96 kemudian ditambahkan asam klorida encer 2 N. Filtrat yang diperoleh disaring kemudian diidentifikasi menggunakan pereaksi Mayer, Bouchardat, Dragendorff. Pada penambahan Mayer, hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna putih atau kuning. Hasil positif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dragendorff ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. Penambahan Bouchardat memberikan hasil positif jika terbentuk endapan coklat sampai hitam Materia Medika, 1980. b. Saponin Ekstrak ditambahkan 5 mL aquadest panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 menit. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya buih yang stabil selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm dan pada penambahan 1 tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang Materia medika, 1980. c. Tanin Sebanyak 0,5 gram ekstrak dimasukan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan dengan FeCl 3 0,1 . Terbentuknya warna biru- hitam, hijau atau biru hijau dan endapan menunjukan adanya tanin Fanswoth, 2012. d. Flavonoid Ekstrak dilarutkan dalam 1 mL etanol 96 kemudian ditambahkan sebanyak 0,1 gram serbuk Mg dan 5 tetes asam klorida pekat. Jika terbentuk warna merah jingga sampai merah ungu, menunjukkan adanya flavonoid. Jika terbentuk warna kuning jingga menunjukkan adanya flavon, kalkon dan auron Materia Medika, 1980. e. Kuinon Sejumlah lebih kurang 5 mL larutan ekstrak ditambah natrium hidroksida 1N, adanya kuinon ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah Fanswoth, 1969. f. Steroid Terpenoid Sejumlah 1 mL larutan ekstrak ditambah 0,5 mL anhidrida asetat dan 0,5 mL CHCl 3 selanjutnya ditambah H 2 SO 4 pekat setetes demi setetes sebanyak 0,2 mL ke dasar tabung dan diamati terjadinya warna ungu Materia medika, 1980. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 3.4.5 Pengujian Aktivitas Antimikroba ekstrak n-heksana, etil asetat dan ekstrak metanol Daun Garcinia benthami Pierre dengan Metode Dilusi. 3.4.5.1 Sterilisasi Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian uji aktivitas antimikroba ini disterilkan terlebih dahulu. Alat-alat gelas dan media disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit, ose dan pinset dibakar dengan pembakaran diatas api langsung Deby et al., 2012. 3.4.5.2 Pembuatan Medium Deby et al., 2012. a. Medium Nutrient Agar NA NA ditimbang sebanyak 2,3 gram dilarutkan dalam 1 liter aquades. Setelah semua bahan tercampur, medium dipanaskan hingga larut sempurna, lalu disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. b. Medium Nutrient Broth NB Sebanyak 8 gram serbuk NB ditambah 1 liter aquades dipanaskan sampai mendidih kemudian disterilkan di autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit, setelah agak dingin disimpan dalam lemari pendigin dan dapat digunakan. 3.4.5.3 Persiapan Inokulum Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. a. Peremajaan Bakteri Uji Bakteri uji diremajakan pada medium Nutrient Agar NA miring steril. Mikroba uji diinokulasi sebanyak satu ose ke dalam medium NA dan inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Peremajaan dilakukan dalam kondisi steril didalam Laminar Air Flow LAF Deby et al., 2012. b. Pembuatan Suspensi Bakteri Dwyana, et al., 2012. 1. Pembuatan suspensi bakteri Staphylococcus aureus Bakteri uji yang telah diremajakan selama 24 jam, masing-masing diambil satu ose kemudian disuspensikan kedalam larutan NaCl fisiologis 0,9 steril, setelah itu dihomogenkan. Kemudian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta suspensi diukur dengan menggunakan spektrofotometer, sebagai blanko digunakan NaCl 0,9 pada panjang gelombang 625 nm. 2. Pembuatan suspensi bakteri Escherichia coli Bakteri uji yang telah diremajakan pada suhu 37°C selama 24 jam, masing-masing diambil satu ose kemudian disuspensikan kedalam larutan NaCl 0,9 steril, setelah itu dihomogenkan. Kemudian suspensi diukur asorbansinya menggunakan spektrofotometer, sebagai blanko digunakan NaCl 0,9 pada panjang gelombang 625 nm. 3.4.5.4 Penyiapan larutan induk uji ekstrak n-heksana, ekstrak etil asetat dan metanol. Larutan uji dibuat dengan melarutkan ekstrak Garcinia benthami Pierre dengan pelarut DMSO 100 dengan cara ditimbang 0,02 gram ekstrak dilarutkan dalam 10 mL DMSO 100 Larutan induk 2000 µgmL. Konsentrasi larutan uji yang digunakan adalah 1000µgmL, 500µgmL, 250µgmL; 125µgmL, dan 62,5µgmL Paturusi et al., 2011. 3.4.5.5 Pembuatan Larutan kloramfenikol Wardani et al., 2012. Ditimbang 1 mg kloramfenikol. Dilarutkan dalam 1 mL aquades steril. Kemudian diambil dengan cara : Sebamyak 0,5 mL larutan kloramfenikol ditambahkan 0,1 mL bakteri uji 10 6 CFUMl dan di ad 0,4 mL nutrient broth. 3.4.5.8 Pembuatan Larutan Kontrol Negatif Wardani et al., 2012. Sebanyak 0,5 mL NB dalam tabung reaksi ditambahkan 0,5 mL larutan DMSO vortex diambil 0,5 mL dibuang ditambahkan 0,1 bakteri uji 10 6 CFUmL dan di ad 0,4 mL NB. 3.4.5.9 Penentuan Aktivitas Antimikroba Daun Garcinia benthami Pierre terhadap Mikroba Uji Metode Dilusi Cair Wardani et al., 2012. Metode dilusi cair dilakukan dengan menyiapkan beberapa tabung rekasi yang sudah steril, larutan uji dan bakteri uji sebagai kontrol negatif, larutan antibiotik pembanding dan bakteri uji sebagai kontrol positif. Selanjutnya tiap-tiap tabung diisi dengan 0,5 mL medium NB. Selanjutnya ditambahkan 0,5 mL larutan uji pada tabung reaksi pertama di vortex. dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tabung pertama diambil 0,5 mL dipindahkan kedalam tabung kedua dan seterusnya sampai konsentrasi 62,5. Lalu diambil 0,5 mL larutan pada tabung terakhir dan dibuang, sehingga masing-masing tabung berisi 0,5 mL. Kemudian masing-masing tabung ditambahkan 0,1 mL suspensi bakteri dan 0,4 mL Nutrient Broth dengan volum total masing- masing tabung adalah 1 mL dan di vortex. Selanjutnya diinkubasi dalam inkubator pada suhu 37ºC selama 24 jam. Diamati kekeruhan dan dibandingkan dengan kontrol positif kloramfenikol, kontrol negatif DMSO dan kontrol media. Kosentrasi paling rendah yang tidak menunjukan kejernihan adalah KHM. Aktivitas antimikroba dari ekstrak tanaman diklasifikasikan kuat jika nilai KHM 100 µgmL, sedang jika 100 KHM ≤ 625 µgmL dan lemah jika nilai KHM 625 µgmL Kuete et al., 2011. Untuk mengetahui KBM, dilakukan penggoresan dari tabung larutan 1000 µgmL, 500 µgmL, 250 µgmL, 125 µgmL, 62,5 µgmL dari KHM pada media padat, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Setelah 24 jam, Kosentrasi paling rendah yang tidak menunjukan adanya pertumbuhan koloni bakteri pada media padat adalah KBM. 30 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2974 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 758 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 655 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 427 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 582 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 976 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 891 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 541 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 799 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 965 23