Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam meningkatkan hasil belajar akidah akhlak: penelitian tindakan kelas di MA Nihayatul Amal Karawang

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DALAM
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AKIDAH AKHLAK
(Penelitian Tindakan Kelas di MA Nihayatul Amal Karawang)

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
(S.Pd.I)

Oleh:
RIZKI FAUZAN HASAN
NIM: 109011000016

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

ABSTRAK

Rizki Fauzan Hasan (109011000016). Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) Dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Akidah Akhlak di MA Nihayatul Amal
Karawang.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat
efektivitas pembelajaran akidah akhlak dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) untuk
meningkatkan hasil belajar siswa MA Nihayatul Amal dan mengetahui respon
siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Divisions (STAD). Penelitian ini dilakukan dengan subyek
penelitian siswa kelas XI IPS MA Nihayatul Amal Karawang tahun ajaran
2013/2014. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan.
Pengumpulan data dilakukan melalui pretes dan posttes, observasi, catatan
lapangan, dan wawancara.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa penerapan model
pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dilihat dari hasil posttes yang
meningkat dibandingkan pretes dan juga tercapainya nilai seluruh siswa di atas
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Berdasarkan wawancara kepada beberapa
siswa, respon siswa setelah belajar akidah akhlak dengan model pembelajaran
Kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) sebagian besar
baik. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)
sangat efektif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar akidah akhlak siswa.
Siswa berharap agar model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Divisions (STAD) dapat digunakan pada materi lainnya.
Kata Kunci: Model Student Teams Achievement Divisions (STAD), Hasil
Belajar, Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul
“Penerapan

Model

Pembelajaran

Kooperatif

Tipe

Student

Teams

Achievement Divisions (STAD) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Akidah
Akhlak”.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada kekasih Allah,
pejuang agama Islam dan teladan yang terbaik yaitu Nabi Muhammad SAW
berserta keluarga, dan sahabatnya yang telah memberikan petunjuk kepada umat
manusia kejalan yang benar.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak dapat terselesaikan
tanpa adanya dukungan, bantuan, dan bimbingan dari semua pihak. Untuk itu
penulis mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta staf-stafnya.
3. Bapak Bahrissalim, MA sebagai dosen pembimbing skripsi sekaligus
penasehat akademik yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk
membimbing, memberikan petunjuk dan nasehat kepada penulis dengan sabar
dan ikhlas demi keberhasilan penulis.
4. Segenap bapak dan ibu dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan
pengalamannya kepada penulis selama kuliah di Jurusan Pendidikan Agama
Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Ir. Fitri Gumulya, M.M, selaku kepala sekolah MA Nihayatul Amal
Karawang, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan
penelitian di madrasah yang dipimpinnya.

iv

6. Bapak Nanang Ali Nawawi, S,Ag, sebagai guru Akidah Akhlak kelas XI IPS
MA Nihayatul Amal Karawang, terima kasih atas bantuan dan waktunya
selama penulis melakukan penelitian di madrasah tersebut.
7. Kepada kedua orang tua, ayahanda tercinta Bapak Hasan Padili M.Pd, dan
ibunda tersayang Ibu N.Nurbaeti, M.Pd.I, adik-adik ku tercinta Fikri Humaedi
Hasan, Fakhri Husaeni Hasan dan Lulu Nurfadilah. Serta keluarga besar yang
telah menunggu penyelesaian skripsi ini. Tidak ada kata yang pantas lagi
ananda ucapkan selain ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas
segala pengorbanan, kasih sayang, dukungan dan do’a kalian serta kesabaran
yang tak terhingga.
8. Kepada yang tercinta Siti Patimah, S. Keb yang telah membantu dan
menyemangati dalam pembuatan skripsi ini, semoga Allah SWT membalas
dan memudahkan dalam semua urusannya.
9. Kepada teman-teman seperjuangan PAI angkatan 2009 terkhusus kelas
peminatan Sejarah dan kelas A PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah mengisi buku hati penulis dengan kenangan yang tiada pernah terhapus
selama mengikuti perkuliahan dan semoga tali silaturahim kita tetap terjalin.
10. Kepada Adi Jaya, S.Sains yang telah membantu dalam pembuatan skripsi.
11. Kepada segenap keluarga besar jacopend yang telah meluangkan waktu untuk
menyemangati pembuatan skripsi ini.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu dalam pembuatan skripsi ini, semoga Allah SWT membalas
kebaikan kalian semua.
Akhir kata, besar harapan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca. Amin Jazakumullah Khairan Katsiro ...
Jakarta, Juli 2014

Rizki Fauzan Hasan

v

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ..........................................................................

i

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI .............................................

ii

ABSTRAK .....................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR ...................................................................................

iv

DAFTAR ISI .................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL .........................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR .....................................................................................

ix

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

x

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .........................................................................

1

B. Identifikasi Masalah .................................................................

5

C. Pembatasan Masalah ...............................................................

6

D. Perumusan Masalah .................................................................

6

E. Tujuan Penelitian .....................................................................

6

F. Manfaat Penelitian ....................................................................

7

LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN
HIPOTESA TINDAKAN
A. Deskripsi Teoritik ....................................................................
1.

Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD .....

8

a.

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif .............

8

b.

Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif...................

13

c.

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD .........................................................................

d.
e.

13

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAD .................................................................

2.

8

14

Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD ...............................................

16

Hasil Belajar Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah ...........

18

a.

Pengertian Hasil Belajar ............................................

18

b.

Pengertian Akidah Akhlak ........................................

20

c.

Fungsi Studi Pembelajaran Akidah Akhlak ..............

22

vi

B. Kerangka Berpikir ....................................................................

23

C. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................

23

D. Hipotesis ..................................................................................

25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................

26

B. Metode Penelitian ....................................................................

26

C. Pihak yang Terkait dalam Penelitian .......................................

27

D. Desain Penelitian Tindakan .....................................................

27

E. Tahapan Intervensi ...................................................................

29

F. Hasil Intervensi yang Diharapkan ............................................

31

G. Jenis Sumber dan Data..............................................................

31

H. Instrumen Penelitian ................................................................

31

I.

Teknik Pengumpulan Data .......................................................

35

J.

Teknik Pemeriksaan Kepercayaan ...........................................

35

1. Validitas ...............................................................................

35

2. Reliabilitas ...........................................................................

36

3. Daya Pembeda .....................................................................

37

4. Tingkat Kesukaran ...............................................................

38

K. Analisis Data dan Intervensi Hasil Analisis Data ....................

38

L. Pengembangan Perencanaan Tindakan ....................................

40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V

A. Deskripsi Data ..........................................................................

42

1. Siklus I ..............................................................................

42

2. Siklus II ............................................................................

49

B. Analisis Data ............................................................................

55

C. Keterbatasan Penelitian ............................................................

59

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpilan ................................................................................

60

B. Saran .........................................................................................

61

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

62

vii

DAFTAR TABEL-TABEL
Tabel 3.1

Data dan Sumber Data ..............................................................

31

Tabel 3.2

Lembar Catatan Lapangan .......................................................

33

Tabel 3.3

Tingkat Hasil Belajar ...............................................................

39

Tabel 4.1

Presentase Kemampuan Psikomotorik Siswa Siklus I .............

45

Tabel 4.2

Nilai Siklus I ............................................................................

47

Tabel 4.3

Presentase Kemampuan Psikomotorik Siswa Siklus II ...........

52

Tabel 4.4

Nilai Siklus II ...........................................................................

53

Tabel 2

Kisi-kisi Instrumen ..................................................................

82

Tabel 5

Catatan Lapangan .................................................................... 115

Tabel 6

Skor Kemajuan Siswa .............................................................. 122

Tabel 8

Observasi Siswa ....................................................................... 123

viii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Siklus Kegiatan PTK ...................................................................

ix

29

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 RPP Siklus 1 Pertemuan Pertama ................................................

65

Lampiran 2 RPP Siklus 1 Pertemuan kedua ...................................................

69

Lampiran 3 RPP Siklus 2 Pertemuan Pertama ................................................

74

Lampiran 4 RPP Siklus 2 Pertemuan kedua ...................................................

77

Lampiran 5 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ....................................................

81

Lampiran 6 Soal Pretest dan Posttes ..............................................................

94

Lampiran 7 Lembar Kerja Siswa .................................................................... 109
Lampiran 8 Pedoman Wawancara .................................................................. 113
Lampiran 9 Catatan Lapangan ....................................................................... 115
Lampiran 10 Tabel Skor Kemajuan Siswa ..................................................... 121

x

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mewarnai dunia pendidikan
dewasa ini dan menjadi bagian utama dalam isi pengajaran. Pendidikan merupakan
aspek yang sangat penting dalam menunjang kemajuan bangsa di masa depan.
Malalui pendidikan, manusia sebagai subjek pembangunan dapat dididik, dibina serta
dikembangkan potensi-potensinya. Sehingga dalam menunjang kamajuan pendidikan,
pemerintah pun memberikan perhatian besar terhadap pelaksanaan program
pendidikan di Indonesia. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan nasional yang
tertuang dalam Undang-undang Dasar No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Bab II pasal 4 yang berbunyi:
“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki

1

2

pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.1
Pencapaian

tujuan pendidikan tersebut

menjadi tantangan

termasuk

peningkatan mutu, relevansi dan efektifitas pendidikan sebagai tuntunan nasional
sejalan dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat, berimplikasi secara nyata
dalam program pendidikan dan kurikulum sekolah. Oleh sebab itu proses
pembelajaran yang diselenggarakan dalam lembaga pendidikan haruslah berjalan
secara komprehensif serta memperhatikan berbagai aspek yang menunjang
tercapainya tujuan pendidikan tersebut, salah satunya adalah dengan menggunakan
sistem pembelajaran yang baik guna mendapatkan hasil yang baik pula, baik dalam
tenaga kependidikan maupun sistem pendidikan yang berlangsung.
Modal menjadi guru di sekolah berbeda dengan modal profesi sopir angkot
di kota, yaitu: bermodal keahlian menyopir, memiliki surat izin mengemudi
(SIM), mengetahui rambu-rambu lalu lintas dan menghafal rute jalan. Sedangkan
bagi seorang guru, dia harus mempu mengajar dan mendidik siswanya dengan
menguasai materi pelajaran, memiliki wawasan pendidikan, memiliki pengalaman
mengajar, dan lain-lain. Guru tidak saja bermodal pengalaman, pengetahuan
akademis, akan tetapi juga keterampilan (skill).2
Peran seorang guru yang merupakan pusat utama yang mengatur seluruh
pembelajaran didalam kelas, baik dalam menyiapkan dan mengatur pembelajaran dan
sekaligus menjadi fasilitator atau sumber utama pengetahuan bagi para siswa serta
mengatur berjalannya proses pembelajaran dalam menyampaikan materi dan tujuan
pembelajaran menggunakan metode maupun strategi pembelajaran yang disiapkan
dengan baik.
Banyak penyebab pasifnya siswa dalam kegiatan belajar mengajar, antara
lain: banyaknya guru yang menggunakan metode “tradisional” dalam mengajar,
1

M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2003), h. 36
2
Martinis Yamin, Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia, (Jakarta: Gaung Persada Press,
2007), h. 65

3

banyaknya guru yang belum menguasai secara penuh metode dan strategi
pembelajaran, banyak juga yang menjadi guru padahal tidak mempunyai kompetensi
di bidangnya, dan lain sebagainya.
Pada dasarnya guru telah membuat dan merencanakan metode dan strategi
yang akan digunakan dalam mengajar, namun kenyataannya di lapangan sangat
berbeda dengan yang diharapkan. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, mungkin
metode dan strategi yang diterapkan belumlah maksimal, atau justru metode dan
strategi yang direncanakan tidak sesuai dengan kondisi kelas yang dihadapi.
Guru harus memiliki kopentensi dalam mengajar agar dapat bertindak sebagai
tenaga pengajar yang efektif. Terlebih dahulu guru harus mengenal dan mengakui
harkat dan potensi dari setiap individu atau siswa yang diajarkannya, kemudian cakap
dalam menyampaikan materi sehingga memudahkan siswa untuk mempelajari
pelajaran yang diterimanya dibantu dengan mengembangkan dan mempergunakan
metode-metode mengajar yang tepat sehingga terjadilah kombinasi-kombinasi dan
variasinya yang efektif.
Seiring berkembangnya zaman dan pemikiran manusia semakin maju,
metode-metode dan strategi-strategi baru terus dikembangkan, banyak bermunculan
teori-teori baru yang dibuat dengan tujuan mengefektifkan kegiatan belajar mengajar
yang saat ini sering disebut dengan pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).
Karena pada saat ini pemahaman para pelaku pendidikan, guru bukanlah satu-satunya
sumber ilmu, banyak sumber bisa dimanfaatkan anak didik untuk memperoleh ilmu.
Hal tersebut merekonstruksi pemikiran para pelaku pendidikan bahwa siswa juga
merupakan subyek dalam kegiatan pendidikan.
Salah satu model pembelajaran yang sering digunakan adalah pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang memfokuskan pada
belajar tim agar siswa saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari meteri
pembelajaran. Fungsi dari pembelajaran kooperatif adalah menumbuhkan kesadaran

4

bahwa

siswa

perlu

belajar

untuk

berpikir,

menyelesaikan

masalah

mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka.

dan

3

Model Student Teams Achievement Divisions (STAD) ini merupakan salah
satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model
yang paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan pendekatan
kooperatif. STAD adalah satu pendekatan yang mengutamakan siswa untuk aktif
melalui tim tertentu. STAD mewajibkan individu untuk memberikan yang terbaik
untuk timnya. Pada pendekatan ini terdapat beberapa komponen yakni presentasi
kelas, kerja tim, kuis, skor kemajuan individual dan penghargaan tim.4
Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengadakan observasi langsung ke
lingkungan sekolah MA Nihayatul Amal dan mengamati proses belajar mengajar di
kelas dan data nilai yang akan diteliti yaitu XI-IPS. Dari hasil pengamatan, ternyata
siswa di kelas XI IPS ini terdapat banyak permasalahan dalam pendidikan, misalnya
rendahnya hasil belajar siswa pada suatu bidang tertentu yaitu akidah akhlak yang
terjadi di MA Nihayatul Amal. Hal ini terlihat dari data nilai ulangan harian kelas
yang rata-rata siswanya masih mendapatkan nilai di bawah KKM. Selain itu, masih
banyak masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran akidah akhlak.
Diantaranya adalah motivasi belajar siswa yang rendah, interaksi antar siswa tidak
ada karena guru masih mendominasi sehingga proses belajar yang berlangsung masih
monoton, kemampuan menghafal juga rendah, dan tidak ada dukungan dari orang tua
untuk belajar. Dalam melakukan pendekatan kepada siswa maupun guru bidang studi,
peneliti melakukan wawancara supaya lebih mengetahui seluk beluk dan problema
apa saja yang dirasakan guru maupun siswa. Setelah melakukan wawancara kepada
siswa maupun guru, peneliti bisa lebih mendalami atau bahkan menemukan
permasalahan-permasalahan yang sebelumnya tidak diketahui. Setelah data-data yang
3

Robert E. Slavin, Cooperative Learning: Teori, Riset dan Prakti, Penerjemah: Nurulita
Yusron, (Bandung: Nusa Media, 2005), hal .5
4
Ibid., hal.143

5

diperoleh dari lapangan kemudian berusaha untuk mencari jalan keluar untuk
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di dalam kelas tersebut.
Berdasarkan permasalahan yang ada di MA Nihayatul Amal Karawang, siswa
perlu diberi suatu strategi belajar mengajar yang dapat meningkatkan keaktifan
mereka di dalam proses belajar mengajar. Dari informasi yang diperoleh, peneliti
menyimpulkan bahwa dalam mengajarkan konsep-konsep akidah akhlak, guru
membutuhkan suatu model atau strategi pembelajaran yang disusun secara sistematis.
Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mencoba untuk menggunakan Model
pembelajaran kooperatif, lebih khususnya adalah metode Student Teams Achievement
Divisions (STAD) karena strategi pembelajaran ini dirasakan dapat menjadi solusi
terhadap permasalahan yang ada di MA Nihayatul Amal. Dengan menggunakan
STAD, aktivitas siswa terfokus kepada suatu tim dan saling membantu satu sama lain
dalam memahami materi memecahkan masalah yang berhubungan dengan materi
tersebut, sehingga dapat mencapai suatu tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian yang
berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams
Achievement Divisions (STAD)

dalam Meningkatkan Hasil Belajar Akidah

Akhlak”
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang dikemukakan di atas dapat diidentifikasikan masalah
sebagai berikut:
1. Masih rendahnya hasil belajar akidah akhlak pada siswa kelas XI IPS
2. Kurangnya variasi model pembelajaran dalam proses belajar mengajar
3. Proses pembelajaran yang berlangsung masih monoton
4. Kurangnya kerja sama antara sesama siswa saat belajar
5. Rendahnya motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran akidah akhlak

6

C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan dalam penelitian ini, maka
permasalahan ini

dibatasi

pada

penerapan

pembelajaran

kooperatif untuk

meningkatkan hasil belajar akidah akhlak. Sedangkan tipe yang digunakan pada
model pembelajaran kooperatif dibatasi pada tipe Student Teams Achievement
Division (STAD). Hasil belajar akidah akhlak yang menjadi penelitian ini adalah
hasil pembelajaran akidah akhlak kelas XI IPS semerter II (genap).

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi dan dibatasi sebagaimana di
atas, maka perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar akidah
akhlak pada pokok bahasan akhlak menghindari perilaku tercela?
2. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan psikomotorik siswa dalam
pelajaran akidah akhlak pada pokok bahasan menghindari perilaku tercela?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk meningkatkan hasil belajar akidah akhlak pada pokok pembahasan
menghindari perilaku tercela menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
2. Untuk meningkatkan psikomotorik siswa akidah akhlak pada pokok
pembahasan menghindari perilaku tercela menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD)

7

F. Manfaat Penalitian
Penelitian ini penting untuk dilakukan karena diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut:
1. Bagi siswa
Siswa lebih aktif, berani dalam mengungkapkan pendapat dan
mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran, sehingga siswa mendapatkan
pengalaman dalam belajarnya
2. Bagi guru
Membantu guru untuk memperbaiki kinerjanya, mengetahui pola dan
strategi pembelajaran yang tepat dalam meningkatkan proses belajar mengajar
dengan hasil belajar yang lebih maksimal.
3. Bagi sekolah
Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi sekolah untuk
memperbaiki atau meningkatkan kualitas dalam proses pembelajaran.
4. Bagi peneliti
Memperluas wawasan dan pengalaman tentang hasil belajar akidah
akhlak siswa dengan pembelajaran yang diberikan metode Student Teams
Achievement Divisions (STAD).

BAB II
LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESA
TINDAKAN
A. Deskripsi Teoritik
1. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Mills dalam Agus Suprijono berpendapat bahwa “model adalah bentuk
representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau
kelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”. Model
merupakan interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukuran yang
diperoleh dari beberapa sistem.5
Model pembelajaran merupakan landasan praktis pembelajaran hasil
penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang
berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada
tingkat oprasional di kelas. Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai
5

Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem, (Surabaya, Pustaka
Pelajar, 2009), h. 45

8

9

pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan
memberi petunjuk kepada guru.
Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman
dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Arends
dalam Agus Suprijono, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang
akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahaptahap

dalam

kegiatan

pembelajaran,

lingkungan

pembelajaran

dan

6

pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Ada beberapa istilah untuk
menyebut pembelajaran berbasis sosial yaitu pembelajran kooperatif
(cooperative learning) dan pembelajaran kolaborasi.
Pembelajaran kolaboratif didefinisikan sebagai falsafah mengenai
tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Siswa bertanggung
jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha mengemukakan informasi
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru
bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak mengarahkan
kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentu-bentuk
assesment oleh sesama siswa digunakan untuk melihat hasil prosesnya.
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua
jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru
atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap
lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaanpertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang
untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru
biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

6

Ibid., h. 46

10

Menurut Lie, pembelajaran kooperatif adalah “sistem pembelajaran
yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama
siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, dan dalam sistem ini guru bertindak
sebagai fasilitator”.7 Made Wena menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah “sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat
sebagai sumber belajar, disamping guru dan sumber belajar yang lainnya”.8
Slavin dalam Isjoni mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja
dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif
sehingga dapat membuat siswa lebih bergairah dalam belajar.9
Sedangkan Johnson mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam mencapai
tujuan bersama.10 Dalam kegiatan kooperatif, siswa mencari hasil yang
menguntungkan bagi seluruh anggota kelompok dengan pemanfaatan
kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota
lainnya dalam kelompok itu.
Kelompok bukanlah semata-mata sekumpulan orang. Kumpula disebut
kelompok apabila ada interaksi, mempunyai tujuan, berstruktur, groupness.
Interaksi adalah saling memengaruhi individu satu dengan individu lain.
Interaksi dapat berlangsung sacara fisik, non-verbal, emosional dan
sebagainya. Tujuan dalam kelompok dapat bersifat intrinsik dan ekstrinsik.
Tujuan intrinsik adalah tujuan yang didasarkan pada alasan bahwa dalam
kelompok perasaan menjadi senang. Tujuan ekstrinsik adalah tujuan yang
didasarkan pada alasan bahwa untuk mencapai sesuatu tidak dapat dicapai
7

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta, PT. Bumi Aksara,
2010), Cet.IV, h. 190
8
Ibid
9
Isjoni, Cooperative Learning, (Bandung: Alfabet, 2009), h. 15.
10
Isjoni, Cooperative……, h. 15-16.

11

secara sendiri, melainkan harus dikerjakan secara bersama-sama. Sruktur
kelompok menunjukkan bahwa dalam kelompok ada peran. Peran dari tiaptiap anggota kelompok, berkaitan dengan posisi individu dalam kelompok.
Peran masing-masing anggota kelompok akan bergantung pada posisi maupun
kemampuan individu masing-masing. Setiap anggota kelompok berinteraksi
berdasarkan peran-perannya sebagai norma yang mengatur perilaku anggota
kelompok. Groupness menunjukkan bahwa kelompok merupakan satu
kesatuan. Kelompok bukanlah semata-mata kumpulan orang yang saling
berdekatan. Kelompok adalah kesatuan yang bulat di antara anggotanya.
Dari beberapa pengertian tentang pembelajaran kooperatif, dapat
disimpulkan bahwa dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat
saling membantu,, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah
kemampuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam
pemahaman masing-masing. Sehingga pembelajaran kooperatif dapat
memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan.
Dalam menjalankan metode kooperatif ini guru sering kali tidak
memahami langkah yang benar dan prosedur model pembelajaran yang
harusnya diterapkan, sehingga metode kooperatif ini tidak berjalan dengan
baik. Pembagian kerja yang kurang adil dalam kelompok dan memberikan
tugas kepada kelompok tanpa memberikan pedoman yang perlu dikerjakan,
membuat siswa tidak tahu harus bekerja sama dan membuat kondisi kelas
gaduh. Supaya hal ini tidak terjadi, guru wajib memahami sintak model
pembelajaran kooperatif.
Sintak model pembelajaran kooperatif terdiri dari 6 (enam) fase, yaitu;
Fase pertama, guru mengklarifikasi maksud pembelajaran kooperatif.
Hal ini penting untuk dilakukan karena peserta didik harus memahami dengan
jelas prosedur dan aturan dalam pembelajaran. Fase kedua, guru

12

menyampaikan informasi, sebab informasi ini merupakan isi akademik. Fase
ketiga, kekacauan bisa terjadi pada fase ini, oleh sebab itu transisi
pembelajaran dari dan ke kelompok-kelompok belajar harus di orkestrasi
dengan

cermat.

Sejumlah

emen

perlu

dipertimbangkan

dalam

menstrukturisasikan tugasnya. Guru harus menjelaskan bahwa peserta didik
harus bekerja sama didalam kelompok. Penyelesaian tugas kelompok
merupakan tujuan kelompok, setiap anggota memiliki peran demi
kelompoknya masing-masing. Fase keempat, guru perlu mendampingi timtim belajar, mengingatkan tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik dan
waktu yang dialokasikan.pada tahap ini, guru harus meengarahkan,
memberikan petunjuk dan membimbing siswa. Fase kelima, guru melakukan
evaluasi dengan menggunakan strategi evaluasi yang konsisten dengan tujuan
pembelajaran. Fase keenam, guru mempersiapkan struktur reward yang akan
diberikan kepada peserta didik.11
Dalam semua kelompok berkesempatan memperoleh sertifikat atau
penghargaan jika mereka mencapai kriteria yang telah ditentukan sebelumnya.
Tanggung jawab perseorangan yaitu bahwa dalam semua kelompok belajar
siswa, keberhasilan kelompok tergantung pada pembelajaran perseorangan
dari semua anggota kelompok. Ini memfokuskan kepada aktivitas anggota
kelompok pada pengajaran tutorial satu sama lain dan memastikan bahwa
siapa saja yang ada dalam kelompok itu siap untuk menjawab kuis atau ujian
lain yang akan dijalani para siswa tanpa bantuan teman sekelompoknya.
Kesempatan yang sama untuk berhasil berarti bahwa apa yang
disumbangkan siswa untuk kelompok mereka berdasarkan pada kemajuan
mereka atas kemanpuan mereka sendiri yang sebelumnya. Hal ini menjamin
bahwa anak-anak yang pintar, sedang dan kurang pintar sama-sama

11

Ibid, hal. 64-66

13

tertantang untuk melakukan yang terbaik, dan peran serta dari semua anggota
kelompok akan dinilai.
b. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif
Stahl dalam Tukiran Taniredja, ciri-ciri model pembelajaran
kooperatif adalah:
1) Belajar bersama dengan teman
2) Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman
3) Saling mendengarkan pendapat diantara anggota kelompok
4) Belajar dari teman sendiri dalam kelompok
5) Belajar dalam kelompok kecil
6) Produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat
7) Keputusan tergantung pada siswa sendiri
8) Siswa aktif (Stahl, 1994).12

c. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang
paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan
bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.13
Ide utama dari STAD adalah memotivasi siswa untuk mendorong dan
untuk saling membantu di antara siswa dalam menguasai keterampilan atau
pengetahuan yang disajikan oleh guru. Jika siswa-siswa mengizinkan agar
team memperoleh penghargaan (reward) maka mereka harus membantu
teman-teman mereka mempelajari bahan yang disajikan guru. Mereka harus
saling mendorong satu sama lain agar belajar dan bekerja secara sungguh-

12

Tukiran Taniredja, dkk., Model-model Pembelajaran Inovatif, (Bandung: ALFABETA,
2011), h. 59
13
Robert E. Slavin, Op Cit, h.143

14

sungguh dan menjelaskan bahwa belajar adalah suatu hal yang amat penting,
bermanfaat dan menyenangkan.14
Siswa bekerja sama setelah guru menyajikan bahan ajar. Mereka dapat
bekerja secara berpasangan dan saling membandingkan jawaban, membahas
tiap perbedaan, dan saling menolong manakala terdapat kesalahan pengertian.
Mereka dapat membahas strategi atau pendekatan yang digunakan dalam
menyelesaikan masalah, atau mereka dapat saling mengajukan soal atau kuis
mengenai materi yang mereka pelajari. Mereka bekerja dengan teman-teman
sekelompok, coba menilai kekuatan dan kelemahan mereka sendiri sehingga
dapat membantu mereka berhasil baik dalam kuis.15

d. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Langkah-langkah/pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD adalah sebagai berikut:16
a. Siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat atau lima orang
yang beragam kemampuan jenis kelamin dan sukunya.
b. Guru memberikan pelajaran.
c. Siswa-siswa di dalam kelompok itu memastikan bahwa semua anggota
kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut.
d. Semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang meteri tersebut.
Mereka tidak dapat membantu satu sama lain.
e. Nilai-nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata
mereka sendiri yang sebelumnya.
f. Nilai-nilai itu diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi
peningkatan yang bisa mereka capai atau seberapa tinggi nilai itu
melampaui nilai mereka yang sebelumnya.
14

Robert E. Slavin, Op Cit, h.12
Isjoni, Op Cit, h.70-71
16
Tukiran Taniredja, op. cit., h. 64

15

15

STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu presentasi kelas, tim,
kuis, skor kemajuan individual, rekognisi tim.17
a. Presentasi kelas
Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di
dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang seringkali
dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga
memasukkan presentasi audiovisual. Perbedaan presentasi kelas dengan
pengajaran biasa hanyalah harus benar-benar berfokos pada unit STAD.
Dengan cara ini, para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benarbenar member perhatian penuh selam persentasi kelas, kerena dengan
demikian akan sangat membantu mereka dalam mengerjakan kuis, dan
skor kuis mereka membantu skor tim mereka.
b. Tim
Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian
dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, etnisitas. Fungsi
utama dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benarbenar belajar, dan lebih khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan
anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru
menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar
kegiatan atau materi lainnya.
c. Kuis
Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan
presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktek tim, para siswa akan
mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling

17

Robert E. Slavin, Op Cit, h.143

16

membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga, tiap siswa bertanggung
jawab secara individu untuk memahami materinya
d. Skor kemajuan individual
Skor yang diperoleh setiap anggota dalam kuis akan berkontribusi
pada kelompok mereka, dan ini didasarkan pada sejauh mana skor mereka
telah meningkat dibandingkan dengan skor rata-rata awal yang mereka
capai pada kuis yang lalu. Jika guru menggunakan STAD setelah guru
melakukan tiga kuis atau lebih, gunakanlah skor rata-rata sebagai skor
awal.

Berdasarkan

skor

awal

setiap

individu

ditentukan

skor

peningkatan/perkembangan. Rata-rata skor peningkatan/perkembangan
dari tiap individu dalam suatu kelompok akan digunakan untuk
menentukan penghargaan bagi kelompok yang berprestasi. Pedoman
untuk memberikan skor perkembangan individu disajikan pada Tabel 2
berikut.

e. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Kelebihan pembelajaran koperatif menurut Jarolimek & Parker
(1993) adalah sebagai berikut:18
1) Adanya saling ketergantungan yang positif antar siswa
2) Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu
3) Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas
4) Tercipta suasana kelas yang menyenangkan sehingga membuat siswa
merasa rileks
5) Terjalinnya hubungan hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru
6) Siswa

memiliki

banyak

kesempatan

pengalaman emosi yang menyenangkan.

18

Isjoni, Cooperative ……… , h. 24.

untuk

mengekspresikan

17

Selain berbagai kelebihan, model STAD ini juga memiliki kelemahan.
Semua model pembelajaran memang diciptakan untuk memberi manfaat yang
baik atau positif pada pembelajaran, tidak terkecuali model STAD ini.
Namun, terkadang pada sudut pandang tertentu, langkah-langkah model
tersebut tidak menutup kemungkinan terbukanya sebuah kelemahan, seperti
yang dipaparkan di bawah ini.
1) Berdasarkan karakteristik STAD jika dibandingkan dengan pembelajaran
konvensional (yang hanya penyajian materi dari guru), pembelajaran
menggunakan model ini membutuhkan waktu yang relatif lama, dengan
memperhatikan tiga langkah STAD yang menguras waktu seperti
penyajian materi dari guru, kerja kelompok dan tes individual/kuis.
Penggunaan waktu yang lebih lama dapat sedikit diminimalisir dengan
menyediakan lembar kegiatan siswa (LKS) sehingga siswa dapat bekerja
secara efektif dan efisien. Sedangkan pembentukan kelompok dan
penataan ruang kelas sesuai kelompok yang ada dapat dilakukan sebelum
kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Dengan demikian, dalam kegiatan
pembelajaran tidak ada waktu yang terbuang untuk pembentukan
kelompok dan penataan ruang kelas.

2) Model ini memerlukan kemampuan khusus dari guru. Guru dituntut
sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator (Isjoni, 2010:62).
Dengan asumsi tidak semua guru mampu menjadi fasilitator, mediator,
motivator dan evaluator dengan baik. Solusi yang dapat di jalankan adalah
meningkatkan mutu guru oleh pemerintah seperti mengadakan kegiatankegiatan akademik yang bersifat wajib dan tidak membebankan biaya
kepada guru serta melakukan pengawasan rutin secara insindental.

18

Disamping itu, guru sendiri perlu lebih aktif lagi dalam mengembangkan
kemampuannya tentang pembelajaran.

2. Hasil Belajar Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang
membentuknya, yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil menunjukkan kepada
“suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara
fungsional. Belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi
dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan yang menjadi hasil
belajar.”19
Proses belajar dapat melibatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
“Pada belajar kognitif, prosesnya mengakibatkan perubahan dalam aspek
kemampuan berfikir (cognitive), pada belajar afektif mengakibatkan
perubahan dalam aspek kemampuan merasakan (afektif), sedang belajar
psikomotorik memberikan hasil belajar berupa pengetahuan.”20
“Hasil belajar merupakan perubahan perilaku mahasiswa akibat belajar.
Perubahan itu diupayakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai
tujuan tertentu.”21
Menurut Briggs hasil belajar adalah “sebagai perubahan tingkah laku yang
meliputi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.”22

19

Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Dosenan DEPDIKNAS, Jurnal Teknologi
(Ciputat: 2005), h. 155
20
Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Dosenan DEPDIKNAS, h. 154
21
Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Dosenan DEPDIKNAS, h. 147
22
Badan Peneitian dan Pengembangan Departemen Dosenan Nasional, Jurnal Dosenan dan
Kebudayaan, (Jakarta: 1995), h. 130

19

Menurut Gronlund hasil belajar adalah “suatu hasil yang diharapkan dari
pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rumusan prilaku tertentu.”23
Menurut Bloom hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang
didapat setelah proses belajar. Klasifikasi hasil belajar secara garis besar
terdiri dari:
1) Ranah kognitif yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
dari enam aspek, yaitu : 1)Pengetahuan atau ingatan, 2) Pemahaman, 3)
Aplikasi, 4) Analisis, 5) Sintesis dan 6) Evaluasi
2) Ranah afektif yang berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek,
yaitu : 1) Penerimaan, 2) Jawaban, 3) Penilaian, 4) Organisasi dan 5)
Interaksi.
3) Ranah Psikomotorik yang berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak.24
Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah “kemampuan-kemampuan
yang dimiliki mahasiswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Menurut Ngalim Purwanto hasil belajar adalah hasil tes yang digunakan untuk
menilai hasil-hasil mata kuliah yang digunakan untuk menilai hasil-hasil mata
kuliah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa dalam waktu tertentu.”25
Jadi menurut para ahli yang telah disebutkan di atas bahwa hasil belajar
adalah perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah, yakni ranah kognitif,
afektif dan psikomotor dan juga merupakan wujud perubahan perilaku yang
terjadi atas suatu objek tertentu sebagai akibat dari proses balajarnya.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah perubahan perilaku mahasiswa akibat belajar. Perubahan
perilaku disebabkan karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan
yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Pencapaian itu didasarkan atas
23

Badan Peneitian dan Pengembangan Departemen Dosenan Nasional, h. 130
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Dosenan Nasional, h. 130
25
Ngalim Purwanto, Psikologi Dosenan, h. 84
24

20

tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Hasil itu dapat berupa perubahan
dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.
b. Pengertian Akidah Akhlak
1) Pengertian Aqidah
Secara etimologi, aqidah berakar dari kata „aqada-ya’qidu-aqdan,
„aqidatan. „aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh.26 Beberapa
tokoh lain memberikan pengertian seperti berikut, dimana pengertian itu
tidak jauh berbeda seperti:
Mahmud al-Khalidi, lafaz al-„aqidah, berarti al-ma’qudah, yaitu
sesuatu yang diikat. Sementara menurut Lu’ayyi Safi, mengikat dan
mengokokohkan perjanjian, yang juga berarti pembenaran (al-tasdik),
keyakinan (al-taykin) dan kepastian (al-jazm).27
Menurur, Hamzah Ya’qub memberikan definisi aqidah menurut
bahasa artinya: simpulan atau ikatan.28 Sedangkan menurut Mohammad
Daud Ali, aqidah adalah ikatan, sangkutan. Disebut demikian, karena ia
mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu. Dalam
pengertian teknisnya adalah iman atau keyakinan. Akidah Islam (Akidah
Islamiyah), karena itu, ditautkan dengan rukun iman yang menjadi asas
seluruh ajaran Islam.29
Sedangkan secara terminologis diartikan sebagai kepercayaan dan
keyakinan.30 Dan menurut Fathi Salim, kata “aqidah” berarti qolbu yang
dibenarkan akal. Maksud keyakinan qolbu adalah keyakinan wijdan (hati).

26

Yunahar, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam,
1995), Cet. 3 h. 1
27
Muhammad Maghfur, Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam,
(Bagil-Jatim: Al-Izzah, 2002), Cet. 1, h. 244.
28
Hamzah Ya’qub, Pemurnian Aqidah dan Syari’ah Islam, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya,
1988), h. 46
29
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2008), h. 199
30
Hamzah Ya’qub, Pemurnian Aqidah dan Syari’ah Islam……, h. 46

21

Hati (qolbu) dinyatakan yakin jika pembenaran (tasdik), tanpa ada
sedikitpun penefian (nafy). Inilah yang oleh Mahmud Syaltut disebut alI’tiqad al-jazim (keyakinan bulat).31
Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami aqidah merupakan
sesuatu yang sangat mendasar, karena bahasanya mengenai pokok-pokok
dalam ajaran Islam dalam hal keimanan, seperti: iman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan
iman kepada Qada dan Qadar. Kesemuanya itu menyangkut masalah
keyakinan yang tidak boleh bercampur dengan keraguan.

2) Pengertian Akhlak
Sedangkan pengertian akhlak menurut etimologis adalah perkataan
“akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari “khulukun” yang menurut
loghat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat
tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan “khalkun”
yang berarti: kejadian, serta erat hubungannya dengan “khaliq” yang
berarti pencipta, dan “makhluq” yang berarti: yang diciptakan.32
Perumusan

pengertian

akhlak

timbul

sebagai

media

yang

memungkinkan adanya hubungan baik antara Khalik dengan makhluk.
Secara terminologi, kata akhlak mempunyai beberapa pengertian, di
antaranya:
a. Ibnu Maskawaih memberikan definisi sebagai berikut:
“Keadaan

jiwa

seseorang

yang

mendorongnya

untuk

melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran
(lebih dahulu).”33

Muhammad Maghfur, Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam……., h. 244
Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlakulkarimah (Suatu Pengentar), (Bandung:
CV. Diponegoro: 1988), Cet. 4 h. 11
33
Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005), Cet. 3, h. 12
31

32

22

b. Imam al-Ghazali mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah,
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”34
c. Ahmad Amin memberikan definisi, bahwa yang disebut akhlak
ialah:
“Kebiasaan kehendak”. Berarti bahwa kehendak itu bila
membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak. Dan
bila kehendak itu membiasakan memberi, kebiasaan kehendak ini
ialah akhlak dermawan.35
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak
merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa manusia kemudian muncul
secara spontan apabila diperlukan untuk melakukan perbuatan atau
berkehendak tanpa adanya dorongan dari luar.
c. Fungsi Studi Pembelajaran Akidah Akhlak
fungsi mempelajari Akidah Akhlak yaitu:
a. Mendorong agar siswa meyakini dan mencintai akidah Islam.
b. Mendorong siswa untuk benar-benar yakin dan taqwa kepada
Allah.
c. Mendorong siswa untuk mensyukuri nikmat Allah SWT
d. Menumbuhkan pembentukan kebiasaan berakhlak mulia dan
beradat kebiasaan yang baik.36

34

Cet. 1 h. 2

Yunahar, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam, 1999),

Ahmad Amin, Ethika “Ilmu Akhlak”, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), Cet. 1 h. 74
Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta,
Motodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam, 1984/1985), Cet. 2, h. 135
35

36

23

B. Kerangkan Berpikir
Akidah akhlak adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang keyakinan dan
tingkah laku manusia. Akidah akhlak adalah suatu ilmu yang berurutan dan
berjenjang. Untuk mempelajari ilmu akidah akhlak harus menggunakan disiplin dan
cara-cara atau metode yang tepat. Langkah-langkahnya yaitu menemukan masalah,
membuat hipotesis, melakukan eksperimen, menarik kesimpulan, dan menyusun
teori.
Dalam pembelajaran yang dilakukan di kelas harus diupayakan mampu
menuntut siswa untuk dapat berpikir, mengadakan analisis, membentuk sikap positif,
memecahkan

masalah,

merangsang

dan

memungkinkan

siswa

untuk

mengorganisasikan belajarnya sendiri, berpikir secara mendiri serta bekerja secara
koopertaif untuk mengembangkan kemampuan.
Untuk itu diperlukan proses pembelajaran yang dapat mengembangkan
berbagai kemampuan siswa. Hal ini dapat dibantu dengan proses belajar bersama
dengan teman sebaya dan guru berperan sebagai fasilitator sekaligus moderator dan
pembimbing, melalui penerapan kooperatif tipe STAD. Dalam model pembelajaran
ini siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya bersama dengan
teman-temannya dan bekerja sama dalam proses pembelajaran. Melalui model ini
siswa bukan saja diberi kesempatan belajar tetapi mengajarkan satu sama lain
sehingga diharapkan siswa mampu mengungkapkan kemampuannya dan berpikir
sendiri untuk memberikan ilmu kepada yang lain yang belum mengerti. Disamping
itu siswa dapat mengembangkan kepekaan sosial tanpa menghambat dirinya sendiri
karena siswa lebih leluasa untuk menghargai pendapat orang lain, memotivasi, sikap
positif sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar.

C. Hasil Penelitian yang Relevan
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Frida Maryati H. yusuf dengan judul
“Pe

Dokumen yang terkait

The Effectiveness Of Using Student Teams-Achievement Divisions (STAD) Techniques in Teaching Reading

1 16 116

Penerapan model pembelajaran kooperatif dengan teknik Student Teams Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar fiqih di MTs Nurul Hikmah Jakarta

0 9 145

Penerapan model pembelajaran kooperatif student teams achievement division dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih: penelitian tindakan kelas VIII-3 di MTs Jami'yyatul Khair Ciputat Timur

0 5 176

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (Stad) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Sd/Mi (Penelitian Tindakan Kelas Di Sdn Cengkareng Timur 01 Pagi - Jakarta Barat)

0 4 165

The Effectiveness Of Using The Student Teams Achievement Divisions (STAD) Technique Towards Students’ Understanding Of The Simple Past Tense (A Quasi-Experimental Study at the Eighth Grade Students of SMP Trimulia, Jakarta Selatan)

1 8 117

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe (Student Team Achievement Divisions) STAD Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SD

1 6 165

Peningkatan hasil belajar siswa melalui model kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran IPS Kelas IV MI Al-Karimiyah Jakarta

0 5 158

Upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Stad (Student Teams Achievement Division) pada pembelajaran IPS kelas IV MI Miftahul Khair Tangerang

0 13 0

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Student Teams Achievement Division dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih (Penelitian Tindakan Kelas VIII-3 di Mts. Jam'yyatul Khair Ciputat Timur)

0 5 176

Peningkatan hasil belajar PKN siswa kelas IV MI Attaqwa Bekasi Utara melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)

0 5 152

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23