Identitas Budaya Dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara)

IDENTITAS BUDAYA DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
(Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada
Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat
di Universitas Sumatera Utara)

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Diajukan oleh:
Surita Lestari Zulham
070904056

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama

: SURITA LESTARI ZULHAM

NIM

: 070904056

Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul

: IDENTITAS BUDAYA DAN KOMUNIKASI
ANTARBUDAYA (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam
Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau
Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara)

Medan, Juli 2011

Dosen Pembimbing

Ketua Departemen
Ilmu Komunikasi

Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm
NIP: 197711062005011001

Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A
NIP: 196208281987012001
Dekan

Prof. Dr. Badaruddin, M.Si
NIP: 196805251992031002

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Identitas Budaya dan Komunikasi Antarbudaya
(Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada
Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera
Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran identitas
budaya dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa etnis
Minangkabau di Universitas Sumatera Utara, dalam hal ini juga untuk mengetahui
identitas budaya yang terbentuk dan mengetahui perubahan identitas budaya yang
mungkin terjadi di kalangan mahasiswa etnis Minangkabau Universitas Sumatera
Utara.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang
memusatkan diri secara intensif terhadap suatu objek tertentu dengan
mempelajarinya sebagai suatu kasus. Penelitian ini menggunakan metode analisis
kualitatif yang melakukan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang
menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub
kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan
diambil kesimpulannya yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek
penelitian adalah mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat di
Universitas Sumatera Utara angkatan 2008-2010.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan identitas budaya yang
dialami oleh mahasiswa etnis Minangkabau dipengaruhi oleh lingkungan asal
mereka. Adapun identitas budaya yang dimunculkan dalam interaksi antarbudaya
pada mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat antara lain dengan
menggunakan bahasa daerah yang masih mereka gunakan ketika berinteraksi
dengan sesama, menunjukkan sikap yang ramah dan santun dalam berinteraksi.
Identitas budaya sebagai orang Minang kemudian memunculkan rasa
kekeluargaan antara mereka sebagai sesama orang perantauan. Adanya rasa
kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnis sehingga mereka
cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya
yang sama. Faktor personal seperti watak/kepribadian, pengetahuan dan motivasi
serta intensitas interaksi juga mempengaruhi proses adaptasi dan keefektifan
komunikasi dengan lingkungan yang baru. Pada umumnya perubahan yang
dialami adalah perubahan logat dan bahasa Indonesia yang mereka gunakan
karena dipengaruhi oleh bahasa lokal orang Medan. Dengan memahami identitas
budaya mereka sendiri, mereka dapat mengidentifikasi orang lain dari kelompok
etnis lain. Hal ini ternyata membantu mereka dalam menempatkan diri sesuai
dengan situasi dan kondisi dimana mereka berinteraksi dan bagaimana harus
bersikap sehingga dapat membangun komunikasi antarbudaya yang efektif.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti ucapkan kepada Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan
penelitian dan dapat menyempurnakan penulisan skripsi ini dengan baik. Adapun
penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi syarat utama dalam kelulusan di
perkuliahan Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara.
Skripsi

ini

berjudul

“Identitas

Budaya

Dan

Komunikasi

Antarbudaya”. Di mana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis
Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penelitian dan penyelesaian skripsi ini peneliti
menghadapi begitu banyak hambatan dan tanpa bantuan dari rekan sekalian,
tentulah sangat sulit bagi peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih
yang sebesar-besarnya peneliti sampaikan kepada orang tua tercinta Papa Suriandi
dan Mama Ermita S.Sos, yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik
peneliti dari kecil hingga saat ini, serta yang telah memberikan semangat dan
dukungan baik moril maupun materil, serta seluruh doa yang tiada putusputusnya. Terima kasih juga kepada Ibuk Gusnimar atas dukungannya selama
hidup peneliti. Semoga Allah SWT selalu memberi segala kebaikan atas jasa-jasa
beliau.

Universitas Sumatera Utara

Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada:
1) Bapak Prof. Dr. Badarudin, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara.
2) Ibu Dra Fatma Wardy Lubis, MA selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi
serta Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi
atas segala bantuan yang diberikan.
3) Bapak Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberi banyak masukan, arahan serta bimbingan selama pengerjaan skripsi
ini.
4) Terima kasih pula kepada segenap Staf Pengajar FISIP USU yang telah
memberikan banyak bekal ilmu, nasehat, bimbingan serta arahan kepada
peneliti selama menimba ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
5) Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada seluruh Staf Pegawai FISIP
USU, yang juga telah membantu peneliti baik selama penulisan skripsi
maupun selama perkuliahan.
6) Kakanda tersayang Sucita Lestari Natalina, SKM yang telah banyak
membantu peneliti selama perkuliahan dan tetap sabar menghadapi berbagai
masalah. Semoga kita selalu dapat membahagiakan orang tua kita.
7) Kakanda Hafizh Er-razaq, S.Sos yang banyak memberikan bantuan pada
peneliti, terima kasih telah mendampingi dan menampung keluh kesah peneliti
selama penulisan skripsi ini, serta dukungan, doa dan semangatnya. Semoga
sukses selalu.

Universitas Sumatera Utara

8) Terima kasih juga kepada sahabat peneliti, Suci Andarini, Rika Hapsari, Rini
Yunika Andalia, Kumari Dewi Puri, Kak Rani Indah Komala, yang telah
mengisi 4 tahun kebersamaan dalam menimba ilmu di FISIP USU. Terima
kasih untuk tawa, canda, dan juga haru yang pernah kita alami bersama.
Mudah-mudahan kita menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Amin.
9) Terima kasih kepada Gusmiati, SE dan Randi Kendra Putra yang telah
membantu peneliti dalam penulisan skripsi ini.
10) Terima kasih juga kepada Keluarga Besar IMIB USU, yang tidak dapat
peneliti sebutkan namanya satu persatu. Terima kasih telah menjadi rekan
peneliti dalam organisasi ini yang telah memberikan banyak pengalaman dan
pelajaran yang sangat berharga kepada peneliti selama ini.
11) Terima kasih kepada para informan yang telah meluangkan waktunya untuk
berbagi kisah, pengalaman dan telah membantu peneliti dalam proses
penulisan skripsi ini.
12) Terima kasih kepada semua orang yang berjasa dalam hidup peneliti yang
selalu memberikan semangat pada peneliti yang tidak mungkin dituliskan satu
per satu.
Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca untuk menjadi perbaikan dan pembelajaran bagi
peneliti selanjutnya.
Akhir kata, terima kasih kepada segenap pihak yang membantu peneliti
dalam menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah SWT

Universitas Sumatera Utara

menjadikannya sebagai amal baik dan selalu melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah
khasanah pengetahuan kita semua.

Medan, Juli 2011
Peneliti

Surita Lestari Zulham

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN
ABSTRAKSI .................................................................................................. i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. vi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. x
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah..............................................................................
I.2 Perumusan Masalah ....................................................................................
I.3 Pembatasan Masalah ...................................................................................
I.4 Tujuan Penelitian ........................................................................................
I.5 Manfaat Penelitian ......................................................................................
I.6 Kerangka Teori ...........................................................................................
I.6.1 Komunikasi .............................................................................................
I.6.2 Komunikasi Antarbudaya .........................................................................
I.6.3 Identitas Budaya ......................................................................................
I.6.4 Teori Interaksionisme Simbolik ...............................................................
I.7 Kerangka Konsep .......................................................................................
I.8 Operasionalisasi Konsep .............................................................................

1
8
9
10
10
11
11
12
15
18
20
20

BAB II URAIAN TEORITIS
II.1 Komunikasi ..............................................................................................
II.2 Komunikasi Antarbudaya ..........................................................................
II.2.1 Persepsi ..................................................................................................
II.2.2 Proses-Proses Verbal ..............................................................................
II.2.3 Proses-Proses Nonverbal ........................................................................
II.2.4 Efektivitas Komunikasi Antarbudaya ......................................................
II.3 Identitas Budaya ........................................................................................
II.3.1 Makna Identitas Budaya .........................................................................
II.3.2 Pembentukan Identitas Budaya ...............................................................
II.3.3 Identitas Budaya Etnis Minangkabau ......................................................
II.4 Interaksionisme Simbolik ..........................................................................

26
30
36
38
39
40
44
44
45
51
68

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ......................................................................
III.2 Metodologi Penelitian .............................................................................
III.2.1 Metodologi Penelitian Kualitatif............................................................
III.2.2 Studi Kasus ..........................................................................................
III.2.3 Lokasi Penelitian ...................................................................................
III.2.4 Subjek Penelitian...................................................................................
III.2.5 Teknik Pengumpulan Data ....................................................................
III.2.6 Teknik Analisis Data .............................................................................

73
78
78
79
82
82
84
86

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan dan Wawancara ........................................................... 88
IV.2 Pembahasan ............................................................................................ 155

Universitas Sumatera Utara

BAB V PENUTUP
V.1 Kesimpulan ............................................................................................... 164
V.2 Saran ......................................................................................................... 167
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1.

Jumlah Mahasiswa Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera
Utara............................................................................................. 83

Tabel 2.

Data Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat yang
Menjadi Informan ......................................................................... 91

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ruang Lingkup Studi Ilmu Komunikasi ........................................ 34

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Identitas Budaya dan Komunikasi Antarbudaya
(Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada
Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera
Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran identitas
budaya dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa etnis
Minangkabau di Universitas Sumatera Utara, dalam hal ini juga untuk mengetahui
identitas budaya yang terbentuk dan mengetahui perubahan identitas budaya yang
mungkin terjadi di kalangan mahasiswa etnis Minangkabau Universitas Sumatera
Utara.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang
memusatkan diri secara intensif terhadap suatu objek tertentu dengan
mempelajarinya sebagai suatu kasus. Penelitian ini menggunakan metode analisis
kualitatif yang melakukan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang
menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub
kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan
diambil kesimpulannya yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek
penelitian adalah mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat di
Universitas Sumatera Utara angkatan 2008-2010.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan identitas budaya yang
dialami oleh mahasiswa etnis Minangkabau dipengaruhi oleh lingkungan asal
mereka. Adapun identitas budaya yang dimunculkan dalam interaksi antarbudaya
pada mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat antara lain dengan
menggunakan bahasa daerah yang masih mereka gunakan ketika berinteraksi
dengan sesama, menunjukkan sikap yang ramah dan santun dalam berinteraksi.
Identitas budaya sebagai orang Minang kemudian memunculkan rasa
kekeluargaan antara mereka sebagai sesama orang perantauan. Adanya rasa
kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnis sehingga mereka
cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya
yang sama. Faktor personal seperti watak/kepribadian, pengetahuan dan motivasi
serta intensitas interaksi juga mempengaruhi proses adaptasi dan keefektifan
komunikasi dengan lingkungan yang baru. Pada umumnya perubahan yang
dialami adalah perubahan logat dan bahasa Indonesia yang mereka gunakan
karena dipengaruhi oleh bahasa lokal orang Medan. Dengan memahami identitas
budaya mereka sendiri, mereka dapat mengidentifikasi orang lain dari kelompok
etnis lain. Hal ini ternyata membantu mereka dalam menempatkan diri sesuai
dengan situasi dan kondisi dimana mereka berinteraksi dan bagaimana harus
bersikap sehingga dapat membangun komunikasi antarbudaya yang efektif.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Universitas Sumatera Utara

Komunikasi sebagai proses pertukaran simbol verbal dan nonverbal
antara pengirim dan penerima untuk merubah tingkah laku kini melingkupi proses
yang lebih luas. Jumlah simbol-simbol yang dipertukarkan tentu tidak bisa
dihitung dan dikelompokkan secara spesifik kecuali bentuk simbol yang dikirim,
verbal dan nonverbal. Memahami komunikasi pun seolah tak ada habisnya.
Mengingat komunikasi sebagai suatu proses yang tiada henti melingkupi
kehidupan manusia.
Dengan belajar memahami komunikasi antarbudaya berarti memahami
realitas budaya yang berpengaruh dan berperan dalam komunikasi. Kita dapat
melihat bahwa proses perhatian komunikasi dan kebudayaan yang terletak pada
variasi langkah dan cara berkomunikasi yang melintasi komunitas atau kelompok
manusia. Fokus perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi
bagaimana menjajaki makna, pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna
dan pola-pola itu diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok
budaya, kelompok politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang
melibatkan interaksi manusia (Liliweri, 2004: 10).
Menurut Ting Toomey, budaya sebagai komponen dari usaha manusia
untuk bertahan hidup (survive) dan berkembang dalam lingkungan partikular
mereka, memiliki beberapa fungsi, yaitu: Identity Meaning Function yaitu budaya
memberikan kerangka referensi untuk menjawab pertanyaan paling mendasar dari
keberadaan manusia ‘siapa saya’, Group Inclusion Function yaitu budaya
menyajikan fungsi inklusi dalam kelompok yang bisa memuaskan kebutuhan
seseorang terhadap afiliasi keanggotaan dan rasa ikut memiliki, Intergroup

Universitas Sumatera Utara

Boundary Regulation Function yaitu fungsi budaya sebagai pembentuk sikap
seseorang tentang in-group dan out-group berkaitan dengan orang yang secara
kultural tidak sama, The Ecological Adaptation Function yaitu fungsi budaya
dalam memfasilitasi proses-proses adaptasi di antara diri, komunitas kultural dan
lingkungan yang lebih besar,

The Cultural Communication Function yaitu

koordinasi antara budaya dengan komunikasi, budaya mempengaruhi komunikasi
dan komunikasi mempengaruhi budaya. Ringkasnya, budaya diciptakan, dibentuk,
ditransmisikan dan dipelajari melalui komunikasi; sebaliknya praktik-praktik
komunikasi diciptakan, dibentuk dan ditransmisikan melalui budaya (Rahardjo,
2005: 49-51).
Menurut Kim, asumsi yang mendasari batasan tentang komunikasi
antarbudaya adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang sama
pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan dalam keseluruhan latar belakang
pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda.
Dengan memberikan penekanan baik kepada perbedaan-perbedaan kultural yang
sesungguhnya maupun perbedaan-perbedaan kultural yang dipersepsikan antara
pihak-pihak yang berkomunikasi, maka komunikasi antarbudaya menjadi sebuah
perluasan bagi studi komunikasi antarpribadi, komunikasi organisasi dan
kawasan-kawasan studi komunikasi antarmanusia lainnya. Jadi komunikasi
antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana partisipan yang berbeda
latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain secara langsung maupun
tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan
dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan kultural antara pihak-pihak

Universitas Sumatera Utara

yang terlibat maka karakteristik-karakteristik kultural dari para partisipan bukan
merupakan fokus studi. Titik perhatian dari komunikasi antarbudaya adalah proses
komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok
(Rahardjo, 2005: 53-54).
Jadi melalui budaya kita bertukar dan belajar banyak hal, karena pada
kenyataannya siapa kita adalah realitas budaya yang kita terima dan pelajari.
Untuk itu, saat komunikasi menuntun kita untuk bertemu dan bertukar simbol
dengan orang lain, maka kita pun dituntut untuk memahami orang lain yang
berbeda budaya dan perbedaan itu tentu menimbulkan bermacam kesukaran dalam
kelangsungan komunikasi yang terjalin.
Memahami budaya yang berbeda dengan kita juga bukanlah hal yang
mudah, dimana kita dituntut untuk mau mengerti realitas budaya orang lain yang
membuat ada istilah ‘mereka’ dan ‘kita’ dalam situasi seperti itulah manusia
dituntut untuk mengungkap identitas orang lain. Dalam kegiatan komunikasi,
identitas tidak hanya memberikan makna tentang pribadi individu, lebih dari itu
identitas menjadi ciri khas sebuah kebudayaan yang melatarbelakanginya. Dari
ciri khas itulah nantinya kita dapat mengungkapkan keberadaan individu tersebut.
Dalam artian sederhana, yang dimaksud dengan identitas budaya adalah
rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh
sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala dibandingkan dengan
karakteristik atau ciri-ciri kebudayaan orang lain (Liliweri, 2003: 72).
Indonesia sebagai negara kepulauan, dikenal luas sebagai bangsa yang
terdiri dari sekitar 300 suku bangsa yang memiliki identitas kebudayaan masing-

Universitas Sumatera Utara

masing. Penduduk Indonesia tentunya terdiri dari berbagai suku bangsa yang
memiliki daerah asal dan kebudayaannya sendiri dan telah berakar sejak berpuluhpuluh tahun yang silam. Keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia
menjadi salah satu ciri khas masyarakat Indonesia. Sehingga dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara kita tidak terlepas dari adanya benturan-benturan
perbedaan kebudayaan antara satu daerah dengan daerah lain, suatu kelompok
masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya, hingga benturan kebudayaan
antara masing-masing individu dengan latar belakang adat istiadat, budaya dan
nilai-nilai yang berbeda pula.
Masing-masing etnis yang ada di Indonesia tentu memiliki keunikan dan
kekhasan masing-masing, salah satunya adalah etnis Minangkabau. Salah satu hal
yang membuatnya unik dalam kajian komunikasi antarbudaya ini adalah budaya
merantau. Dimana setiap perantau ketika melakukan interaksi akan mendapati
perbedaan-perbedaan budaya mereka dengan budaya di lingkungan perantauannya
dan mereka selalu dituntut untuk tetap bisa mempertahankan identitas budaya
mereka sebagai bagian dari etnis Minangkabau yang lebih lanjut disebut orang
Minang.
Etos merantau orang Minang sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan
tertinggi di Indonesia. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mochtar Naim
yang dikutip dari Wikipedia.org, pada tahun 1961 terdapat sekitar 32 % orang
Minang

yang

berdomisili

di

luar

Sumatera

Barat.

Kemudian

pada

tahun 1971 jumlah itu meningkat menjadi 44 %. Berdasarkan sensus tahun 2000,
suku Minang yang tinggal di Sumatera Barat berjumlah 3,7 juta jiwa, dengan

Universitas Sumatera Utara

perkiraan hampir sepertiga orang Minang berada di perantauan. Mobilitas migrasi
suku Minangkabau dengan proporsi besar terjadi dalam rentang antara
tahun 1958 sampai tahun 1978, dimana lebih dari 80 % perantau yang tinggal di
kawasan rantau telah meninggalkan kampung halamannya setelah masa
kolonial Belanda. Melihat data tersebut, maka terdapat perubahan cukup besar
pada etos merantau orang Minangkabau dibanding suku lainnya di Indonesia.
Pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau
ke Mekkah untuk mendalami agama Islam, diantaranya Haji Miskin, Haji Piobang
dan Haji Sumanik. Setibanya di tanah air, mereka menjadi penyokong kuat
gerakan Paderi dan menyebarluaskan pemikiran Islam yang murni di seluruh
Minangkabau dan Mandailing. Gelombang kedua perantauan ke Timur Tengah
terjadi pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah, Tahir
Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak yang
merantau ke Eropa. Mereka antara lain Abdoel Rivai, Mohammad Hatta, Sutan
Syahrir, Roestam Effendi dan Nazir Pamuntjak. Intelektual lain, Tan Malaka,
hidup mengembara di delapan negara Eropa dan Asia, membangun jaringan
pergerakan kemerdekaan Asia. Semua pelajar Minang tersebut yang merantau ke
Eropa sejak akhir abad ke-19, menjadi pejuang kemerdekaan dan pendiri Republik
Indonesia.
Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, dua tipologi budaya Minang,
yakni dinamisme dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan,
egaliter dan berpandangan luas. Hal ini menyebabkan tertanamnya budaya

Universitas Sumatera Utara

merantau pada masyarakat Minangkabau. Semangat untuk merubah nasib dengan
mengejar ilmu dan kekayaan, serta pepatah Minang yang mengatakan Karatau
madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah
paguno balun (lebih baik pergi merantau karena dikampung belum berguna)
memotivasi

pemuda

Minang

untuk

pergi

merantau

sedari

muda.

(http://id.wikipedia.org). Sehingga pada dasarnya, budaya merantau orang Minang
tidak lepas dari komunikasi antarbudaya.
Memasuki dunia baru dimana kita dituntut untuk beradaptasi bukanlah
hal yang mudah. Beradaptasi di lingkungan baru,

kita dituntut belajar serta

memahami budaya baru. Terlebih lagi adaptasi tentu akan semakin sulit, jika
lingkungan yang baru adalah lingkungan yang jauh berbeda budayanya dengan
lingkungan sebelumnya. Menghadapi perbedaan kebudayaan tersebut tentunya
bukanlah perkara mudah, begitu pula pengalaman mahasiswa asal Sumatera Barat
yang pada umumnya adalah etnis Minangkabau yang melanjutkan pendidikan di
Universitas Sumatera Utara. Para pelajar tersebut tentunya harus menetap di Kota
Medan yang memiliki kultur budaya berbeda dengan lingkungan asal mereka.
Dalam konteks penelitian ini, peran identitas budaya dalam komunikasi
antarbudaya menjadi penting untuk diperhitungkan. Kita perlu tahu, saat kita
berkomunikasi khususnya komunikasi antarbudaya, apakah kita menyadari diri
kita sebagai bagian dari satu kelompok etnis lain dan jawaban itu akan menuntun
kita pada satu pertanyaan utama ‘Apakah kesadaran akan identitas budaya itu
memiliki peran dalam komunikasi yang kita lakukan?’. Sehingga nantinya dapat
dilihat apakah komunikasi antarbudaya itu terjalin secara efektif .

Universitas Sumatera Utara

Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa
etnis Minangkabau asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara. Pemilihan
lokasi penelitian yaitu di Universitas Sumatera Utara dilakukan karena mahasiswa
asal Sumatera Barat di Sumatera Utara, paling banyak berada di Universitas ini.
Menyadari bahwa status mereka adalah pendatang, maka untuk itu penting juga
memahami bagaimana para mahasiswa tersebut memulai culture shock yang pasti
terjadi dan bagaimana realitas identitas yang dibangun, baik menyangkut etnisnya
sendiri maupun mengenai etnis lain (etnis di lingkungan baru).
Ketertarikan penelitian ini didasari pada kemungkinan adanya rasa untuk
mempertahankan identitas budaya di daerah perantauan maupun rasa untuk tidak
menonjolkan identitas budaya tersebut, karena adanya tekanan dari lingkungan
dan sebagainya. Jadi, nantinya akan bisa ditarik kesimpulan apakah mahasiswa
asal Sumatera Barat mampu mempertahankan identitas budaya mereka sebagai
bagian masyarakat Minangkabau yang berada di luar lingkungan asalnya atau
tidak. Sehingga dari penelitian ini nantinya kita dapat melihat sejauh mana peran
identitas budaya dalam komunikasi antarbudaya, apakah akan membantu
mahasiswa asal Sumatera barat di Universitas Sumatera Utara dalam menjalin
komunikasi yang efektif atau sebaliknya, menghambat komunikasi. Dengan
menggunakan analisis studi kasus, maka diharapkan berbagai pertanyaan seputar
masalah identitas budaya dan komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa
Minangkabau di Universitas Sumatera Utara dapat terjawab.
Meneliti para mahasiswa Minangkabau terkait masalah komunikasi
antarbudaya, maka menyangkut beberapa masalah potensial dalam komunikasi

Universitas Sumatera Utara

antarbudaya yang mereka jalani, yaitu pencarian kesamaan, penarikan diri,
kecemasan, pengurangan ketidakpastian, stereotip, prasangka, rasisme, kekuasaan,
etnosentrisme, culture shock (Samovar, Porter & Mc Daniel, 2007: 316).
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi
Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di
Universitas Sumatera Utara”.
I. 2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
maka dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah bentuk dari indentitas budaya yang muncul ketika
mahasiswa Minangkabau di Universitas Sumatera Utara melakukan
interaksi dengan teman mereka yang berbeda etnis?
a. Apakah muncul stereotip?
b. Apakah muncul sikap etnosentrisme?
c. Apakah ada pengetahuan tentang budaya etnis (tradisi, nilai, perilaku)?
d. Apakah ada rasa kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok
etnis?
e. Apakah ada komitmen dan evaluasi positif terhadap kelompok etnis?
2. Apakah ada perubahan identitas budaya saat mahasiswa Minangkabau di
Universitas Sumatera Utara berinteraksi dengan orang lain yang berbeda
etnis?
a. Apakah mereka mempertahankan identitas budaya mereka?

Universitas Sumatera Utara

b. Apakah terjadi pembauran identitas budaya?
c. Apa saja yang meliputi perubahan/pembauran yang terjadi?

I. 3 Pembatasan Masalah
Untuk menghindari lingkup penelitian yang terlalu luas maka perlu
dibuat pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dari penelitian ini
adalah:
1. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan studi
kasus.
2. Subjek penelitian dikhususkan pada mahasiswa dengan etnis Minangkabau
di Universitas Sumatera Utara angkatan 2008-2010.
3. Subjek penelitian ini dibatasi lagi pada mahasiswa Minangkabau yang
berasal dari Sumatera Barat dan belum pernah menetap di daerah lain di
luar Sumatera Barat sebelumnya. Pembatasan ini bermaksud agar
penelitian berfokus pada mahasiswa Minangkabau asli yang baru menetap
di daerah lain.

I. 4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas budaya yang terbentuk
pada mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat baik dalam

Universitas Sumatera Utara

memaknai serta memahami identitas budaya etnis mereka maupun
identitas budaya etnis lain.
2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan identitas budaya
yang mungkin terjadi di kalangan mahasiswa etnis Minangkabau
Universitas Sumatera Utara.
3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran identitas
budaya dalam menjalin komunikasi antarbudaya yang efektif antara
mahasiswa etnis Minangkabau USU dengan orang lain yang memiliki
identitas budaya yang berbeda.

I. 5 Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi dan
memperkaya khasanah penelitian tentang komunikasi antarbudaya dengan
metodologi kualitatif.
2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memperluas dan
memperkaya penelitian kualitatif dalam bidang ilmu komunikasi.
3. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bersama dalam
memahami konteks komunikasi antarbudaya yang terjadi di sekitar kita.

I. 6 Kerangka Teori
Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir
dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. Untuk itu, perlu disusun

Universitas Sumatera Utara

kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari
sudut mana masalah penelitian akan disoroti (Nawawi, 1991: 39-40).
Ketika suatu masalah penelitian telah ditemukan, maka peneliti mencoba
membahas masalah tersebut dengan teori-teori yang dipilihnya yang dianggap
mampu menjawab masalah penelitian (Bungin, 2008: 31).
Teori digunakan peneliti untuk menjustifikasi dan memandu penelitian
mereka. Mereka juga membandingkan hasil penelitian berdasarkan teori itu untuk
lebih jauh mengembangkan dan menegaskan teori tersebut (Mulyana, 2001: 16).
Dalam penelitian ini, teori-teori yang relevan adalah Komunikasi,
Komunikasi Antarbudaya, Identitas Budaya dan teori Interaksi Simbolik.
I.6.1 Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communicatio, yang
bersumber dari kata communis yang artinya ”sama” dan communico,
communication, atau communicare yang berarti ”membuat sama” Istilah yang
paling sering disebut sebagai asal usul kata komunikasi yang merupakan akar dari
kata-kata Latin Communis. Sedangkan Everet M. Rogers mendefinisikan
komunikasi sebagai proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau
banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka (Effendy,
2003: 30).
Secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang
disampaikan dan yang dimaksud oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat
dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima. Semakin besar

Universitas Sumatera Utara

kaitan antara yang komunikator maksud dengan yang komunikan terima, maka
semakin efektif pula komunikasi yang dilakukan.
Menurut L. Tubbs dan Moss (Rakhmat, 2005: 13) komunikasi efektif
menimbulkan:
-

Pengertian

-

Kesenangan

-

Mempengaruhi sikap

-

Hubungan sosial yang baik

-

Tindakan
Dengan demikian dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada
komunikan dengan atau tanpa perantara dengan tujuan untuk mengubah sikap,
pendapat dan perilaku komunikan.
I.6.2 Komunikasi Antarbudaya
Liliweri (2004: 9-15) mengemukakan bahwa komunikasi antarbudaya
sendiri dapat dipahami sebagai pernyataan diri antar pribadi yang paling efektif
antara dua orang yang saling berbeda latar belakang budaya. Dalam rangka
memahami kajian komunikasi antarbudaya maka kita mengenal beberapa asumsi,
yaitu:
1. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada
perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.
2. Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.
3. Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.

Universitas Sumatera Utara

4. Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.
5. Komunikasi berpusat pada kebudayaan.
6. Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya.
Mengutip pendapat Habermas, bahwa dalam setiap proses komunikasi
(apapun bentuknya) selalu ada fakta dari semua situasi yang tersembunyi di balik
para partisipan komunikasi. Menurutnya, beberapa kunci iklim komunikasi dapat
ditunjukkan oleh karakteristik antara lain; suasana yang menggambarkan derajat
kebebasan, suasana dimana tidak ada lagi tekanan kekuasaan terhadap peserta
komunikasi, prinsip keterbukaan bagi semua, suasana yang mampu memberikan
komunikator dan komunikan untuk dapat membedakan antara minat pribadi dan
minat kelompok. Dari sini bisa disimpulkan bahwa iklim komunikasi antarbudaya
tergantung pada 3 dimensi, yakni perasaan positif, pengetahuan tentang
komunikan dan perilaku komunikator (Liliweri, 2004: 48).
Menurut Samovar dan Porter, untuk mengkaji komunikasi antarbudaya
perlu dipahami hubungan antara kebudayaan dengan komunikasi. Melalui
pengaruh budayalah manusia belajar komunikasi, dan memandang dunia mereka
melalui kategori-kategori, konsep-konsep, dan label-label yang dihasilkan
kebudayaan. Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan pemberian makna
yang mirip pula terhadap suatu objek sosial atau peristiwa. Cara-cara manusia
berkomunikasi, keadaan berkomunikasi, bahkan bahasa dan gaya bahasa yang
digunakan, perilaku-perilaku non-verbal merupakan respons terhadap dan fungsi
budaya (Liliweri, 2001: 160).

Universitas Sumatera Utara

Dalam komunikasi antarbudaya, juga penting mencapai apa yang
komunikator dan komunikan harapkan yaitu komunikasi efektif. Komunikasi
yang efektif tergantung pada tingkat kesamaan makna yang didapat partisipan
yang saling bertukar pesan. Fisher berpendapat, untuk mengatakan bahwa makna
dalam komunikasi tidak pernah secara total sama untuk semua komunikator,
adalah dengan tidak mengatakan bahwa komunikasi adalah sesuatu yang tak
mungkin atau bahkan sulit tapi karena komunikasi tidak sempurna (Gudykunst
dan Kim, 2003: 269-270).
Jadi untuk mengatakan bahwa dua orang berkomunikasi secara efektif
maka keduanya harus meraih makna yang relatif sama dari pesan yang dikirim
dan diterima (mereka menginterpretasikan pesan secara sama). Sedangkan
komunikasi yang tidak efektif dapat terjadi karena berbagai alasan ketika kita
berkomunikasi dengan orang lain. Kita mungkin tidak mengirim pesan kita
dengan cara yang dapat dipahami oleh orang lain atau orang lain mungkin salah
menginterpretasikan apa yang kita katakan atau keduanya dapat terjadi secara
bersamaan. Masalahnya dapat terjadi karena pengucapan, tata bahasa, kesamaan
dengan topik yang sedang didiskusikan atau kesamaan dengan bahasa asli orang
lain tersebut, bahkan faktor sosial. Misalnya kita mengerti mereka karena mereka
menggunakan bahasa kita tapi kita sendiri tidak mengerti bahasa mereka. Bahkan
ketika berkomunikasi dengan orang lain dan mendasarkan interpretasi kita pada
sistem kita maka komunikasi yang tidak efektiflah yang terjadi. Kesimpulannya,
komunikasi yang efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain kita harus penuh
perhatian dan sadar. Sebagai komunikator yang kompeten, berkomunikasi secara

Universitas Sumatera Utara

efektif dan tepat merupakan aspek penting untuk diamati. Kita bisa berkomunikasi
secara efektif walaupun kita tidak dilihat sebagai komunikator yang kompeten
(Gudykunst dan Kim, 2003:270-271). Dalam komunikasi antarbudaya tentunya
perbedaan budaya menjadi tantangan untuk mencapai komunikasi yang efektif
dan untuk itu penting bagi partisipan mengetahui identifikasi bersama (homofili).
I.6.3 Identitas Budaya
Pembahasan tentang identitas budaya seringkali dikacaukan dengan istilah
identitas sosial. Identitas soial terbentuk dari struktur sosial yang terbentuk dalam
sebuah masyarakat. Sedangkan identitas budaya terbentuk melalui struktur
kebudayaan suatu masyarakat. Struktur budaya adalah pola-pola persepsi, berpikir
dan perasaan, sedangkan struktur sosial adalah pola-pola perilaku sosial.
Struktur Budaya

Pola persepsi,
Berpikir,
perasaan

Identitas Budaya

Struktur Sosial

Pola-pola
perilaku sosial

Identitas Sosial

Dalam praktik komunikasi, identitas tidak hanya memberikan makna
tentang pribadi seseorang, tetapi lebih dari itu, menjadi ciri khas sebuah
kebudayaan yang melatarbelakanginya. Ketika manusia itu hidup dalam
masyarakat yang multibudaya, maka di sanalah identitas budaya itu diperlukan.
Identitas budaya merupakan ciri yang ditunjukkan seseorang karena orang
itu merupakan anggota dari sebuah kelompok etnik tertentu. Itu meliputi

Universitas Sumatera Utara

pembelajaran tentang dan penerimaan tradisi, sifat bawaan, bahasa, agama,
keturunan dari suatu kebudayaan (Liliweri, 2004: 87).
Sedangkan menurut Larry A. Samovar, Richard E. Porter dan Edwin R.
McDaniel, identitas budaya merupakan adalah karakter khusus dari sistem
komunikasi kelompok yang muncul dalam situasi tertentu.
Diverse groups can create a cultural system of symbols used,
meanings assigned to the symbols, and ideas of what is considered
appropriate and inappropriate. When the groups also have a history
and begin to hand down the symbols and norms to new members, then
the groups take on a cultural identity. Cultural identity is the
particular character of the group communication system that emerges
in the particular situation (Samovar, 2006: 56).
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami ketika suatu kelompok
masyarakat telah mewariskan simbol-simbol dan norma-norma secara turun
temurun, maka berarti kelompok tersebut telah memiliki identitas budaya.
Identitas budaya sangat berpengaruh terhadap kemampuan berkomunikasi
antarbudaya. Kemampuan orang berdasarkan kategorisasi, strata sosial, pola
kepercayaan, pola pikir dan pola perasaan berdasarkan kebudayaan tertentu akan
berbeda satu sama lain.
Menurut Phinney yang dikutip dari smartpsikologi.blogspot.com, ada
empat hal yang mungkin dilakukan remaja etnis minoritas dalam upaya hidup
bersama kelompok mayoritas:
1. Asimilasi (mencoba mengadopsi norma-norma budaya mayoritas dan
standar mereka, namun sementara itu tetap menganggap mayoritas bukan
sebagai kelompoknya).

Universitas Sumatera Utara

2. Marginaliti (hidup bersama budaya mayoritas tetapi sebagai orang asing
dan tidak diterima).
3. Separasi (memisahkan diri dari budaya ayoritas dan tetap memakai budaya
sendiri).
4. Bikulturalisme (mengadopsi nilai-nilai mayoritas dan minoritas secara
berbarengan).
Daphne A. Jameson dalam jurnalnya Reconceptualizing Cultural Identity
and Its Role in Intercultural Business Communication (2007: 281-285)
menyebutkan bahwa identitas budaya memiliki atribut sebagai berikut:
1. Cultural identity is affected by close relationship (identitas budaya
dipengaruhi oleh hubungan dekat).
2. Cultural identity changes over time (identitas budaya berubah sesuai
dengan waktu).
3. Cultural identity is closely intertwined with power and privilege
(idenitas budaya erat kaitannya dengan kekuasaan dan hak istimewa).
4. Cultural identity may evoke emotions (identitas budaya bisa
membangkitkan emosi).
5. Cultural identity can be negotiated through communication (identitas
budaya bisa dinegosiasikan melalui komunikasi).

I.6.4 Teori Interaksi Simbolik
Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung
perspektif yang lebih besar yang sering disebut perspektif fenomenologis atau

Universitas Sumatera Utara

perspektif interpretif. Maurice Natanson menggunakan istilah fenomenologis
sebagai suatu istilah generik untuk merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial
yang menganggap kesadaran manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus
untuk memahami tindakan sosial. Selanjutnya padangan fenomenologis atas
realitas sosial menganggap dunia intersubjektif terbentuk dalam aktivitas
kesadaran yang salah satu hasilnya adalah ilmu alam. Interaksionisme simbolik
mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia.
Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan,
menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak
gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan oleh
kekuatan-kekuatan atau struktur yang ada di luar dirinya. Oleh karena individu
terus berubah maka masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi interaksilah
yang dianggap variabel penting yang menentukan perilaku manusia, bukan
struktur masyarakat. Struktur itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi
manusia, yakni ketika individu-individu berpikir dan bertindak secara stabil
terhadap seperangkat objek yang sama (Mulyana, 2001: 59-61).
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas
manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif
interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang
subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai
proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka
dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi
mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan

Universitas Sumatera Utara

bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka. Manusia
bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di
sekeliling mereka. Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan
Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan
menegakkan aturan-aturan, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini, makna
dikonstruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu
medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan
perannya melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial
dan kekuatan sosial (Mulyana, 2001: 68-70).
Menurut teori interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah
interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara ringkas,
interkasionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama,
individu merespons suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan,
termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang dikandung komponenkomponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua, makna adalah produk
interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan
dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna diinterpretasikan
individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi
yang ditemukan dalam interaksi sosial.

I. 7 Kerangka Konsep
Dari beberapa teori yang telah diuraikan pada kerangka teori maka
langkah selanjutnya merumuskan kerangka konsep sebagai hasil dari suatu

Universitas Sumatera Utara

pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil
penelitian yang akan dicapai (Nawawi, 1991: 40). Konsep adalah penggambaran
fenomena yang hendak diteliti, yakni istilah dari definisi yang digunakan untuk
menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang
menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1995: 33).
Maka komponen penelitian yang akan diteliti adalah:
1. Identitas Budaya
2. Komunikasi Antarbudaya
I. 8 Operasionalisasi Konsep
I. Identitas Budaya
A. Komponen Identitas Budaya
Menurut Liliweri (2001: 114-136), ada beberapa komponen yang
membentuk identitas budaya, yaitu:
1. Pembelajaran dan penerimaan tradisi:
a. Pandangan hidup, kosmologi dan ontologi, tiga komponen ini
selalu terdapat dalam setiap kebudayaan. Pandangan hidup ini
dapat dilihat melalui kepercayaan, sikap dan nilai yang diajarkan.
b. Norma-norma budaya: menunjukkan aturan atau standar perilaku
yang diharapkan oleh semua orang dalam suatu situasi tertentu
atau yang berlaku secara umum.
c. Konsep tentang waktu. Setiap kebudayaan mempunyai konsep
tentang masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Mereka yang

Universitas Sumatera Utara

bukan anggota kelompok, pasti mempunyai orientasi konsep
waktu dan ruang yang berbeda.
Konsep

waktu

berhubungan

dengan

pembagian

nama

penanggalan waktu dalam satuan periode dan pembagian waktu
berdasarkan fungsi tertentu.
d. Konsep tentang jarak/ruang. Setiap kebudayaan mengajarkan
kepada anggotanya tentang orientasi terhadap ruang dan jarak.
Ruang

berhubungan

dengan

yang

sifatnya

lebih

pada

kepentingan sosial, sedangkan jarak lebih banyak berhubungan
dengan jarak fisik ketika bercakap-cakap.
2. Skema Kognitif pada umumnya ditentukan oleh persepsi individu
yang

dibentuk

oleh pengalaman kognisi

seseorang

dengan

kebudayaannya. Skema mempengaruhi keputusan individu untuk
menentukan prioritas fungsi objek berdasarkan waktu dan tempat.
Setiap kebudayaan mengajarkan skema kognitif yang berbeda-beda.
Misalnya, pesan tentang kepentingan makanan, pakaian atau pun
rumah yang nampaknya sebagai kebutuhan dasar dari semua
kebudayaan belum tentu mendapat prioritas yang sama dalam skema
kognitif komunikan.
3. Bahasa dan sistem simbol. Setiap kebudayaan menjadikan bahasa
sebagai media untuk menyatakan prinsip-prinsip ajaran, nilai dan
norma budaya kepada para pendukungnya. Bahasa merupakan
mediasi pikiran, perkataan dan perbuatan. Bahasa menerjemahkan

Universitas Sumatera Utara

nilai dan

norma,

menerjemahkan

skema

kognitif

manusia,

menerjemahkan persepsi, sikap dan kepercayaan manusia tentang
dunianya. Pembahasan tentang bahasa tidak bisa dilepaskan dari
masalah simbol dan sign (tanda). Berbicara tentang sign atau tanda
artinya kita bicara tentang cara memberi makna terhadap objek.
Setiap suku bangsa ataupun etnis telah menetapkan simbol-simbol
kebudayaan mereka masing-masing untuk menyatakan kepentingan
tertentu.
4. Agama,

Mitos dan cara

menyampaikannya.

Setiap

budaya

mempunyai gejala dan peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara
rasional tapi hanya berdasarkan pengalaman iman saja. Setiap
kebudayaan mengajarkan kepada anggota komunitasnya tentang
agama, mitos-mitos serta cara-cara menyatakan keberagaman
anggota suku bangsa itu.
5. Hubungan sosial dan jaringan komunikasi. Keluarga-keluarga selalu
terbentuk dalam komunitas-komunitas kecil menjadi satu agen
sosialisasi dalam sebuah kebudayaan. Hubungan dalam komunitas
dapat berbentuk komunal dan kerjasama atau persaingan dan juga
individualistik, tergantung pada apakah kebudayaan itu merupakan
kebudayaan lisan atau kebudayaan membaca. Sebagian besar
kebudayaan masyarakat Indonesia menganut kebudayaan lisan yang
lebih menekankan pada komunalisme/pemilikan bersama dan kerja
sama. Sedangkan kebudayaan baca tulis diasumsikan sebagai

Universitas Sumatera Utara

kebudayaan modern yang bersifat individual, ekslusif, tidak
berurusan dengan komunalisme.
B. Atribut Identitas Budaya
Adapun atribut identitas budaya menurut Daphne A. Jameson adalah
sebagai berikut:
1. Identitas budaya dipengaruhi oleh hubungan dekat. Hubungan dekat
seseorang dengan orang lain misalnya anggota keluarga atau teman.
2. Identitas budaya berubah sesuai dengan waktu. Perubahan-perubahan yang
dialami seseorang dalam hidupnya dapat mengubah identitas budaya yang
ia miliki. Misalnya, perubahan status sosial, kelas ekonomi, profesi, status
kewarganegaraan ataupun agama.
3. Identitas budaya terkait erat dengan kekuasaan dan hak istimewa
(privilege). Komponen biologis budaya-ras, etnis, jenis kelamin, usia,
terkadang membuat orang lain merasa terpinggirkan dari hak-haknya.
4. Identitas budaya bisa membangkitkan emosi. Setiap orang mungkin
memiliki perasaan positif, negatif, netral atau ambigu terhadap komponen
identitas budaya mereka sendiri. Ketika orang tersebut mendapatkan
tanggapan yang negatif dari budaya orang lain, beberapa kemungkinan
bisa saja terjadi. Mulai dari mengubah cara pandangnya, merendahkan
sikap tersebut, atau bisa juga meninggalkan kelompok yang berhubungan
dengan hal tersebut.
5. Identitas

budaya

dapat

dinegosiasikan

melalui

komunikasi.

Iden

Dokumen yang terkait

Peran Identitas Etnis Dalam Komunikasi Antarbudaya Pada Komunitas India Tamil di Kampung Madras Kota Medan

3 59 147

Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara).

5 75 211

Culture Shock Dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Asal Malaysia Di Medan (Studi Kasus Pada Mahasiswa Asal Malaysia Di Universitas Sumatera Utara)

9 145 187

Identitas Etnis Dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Etnis dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara)

3 46 238

Akomodasi Komunikasi Dalam Interaksi Antarbudaya Studi Pada Himpunan Pelajar Patani Di Indonesia Dalam Mengomunikasikan Identitas Budaya

1 15 99

Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Asal Papua Dalam Berinteraksi Dengan Mahasiswa dan Dosen di Universitas Sumatera Utara

1 32 131

Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Asal Papua Dalam Berinteraksi Dengan Mahasiswa dan Dosen di Universitas Sumatera Utara

0 0 5

Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Asal Papua Dalam Berinteraksi Dengan Mahasiswa dan Dosen di Universitas Sumatera Utara

0 0 2

Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Asal Papua Dalam Berinteraksi Dengan Mahasiswa dan Dosen di Universitas Sumatera Utara

0 0 10

PERAN IDENTITAS ETNIS DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA KOMUNITAS TAMIL DI KAMPUNG MADRAS KOTA MEDAN SKRIPSI

0 0 13