Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara).

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA
(Studi Analisis Etnografi Tentang Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam
Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa
Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Oleh:
RIFAL ASWAR TANJUNG
070904016

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI
Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa
(Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan
Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010
Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas etnis
yang dibangun dalam kompetensi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa yang
beretnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di lingkungan Fakultas Teknik Universitas
Sumatera Utara.
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah studi analisis etnografi budaya yaitu
studi yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan
kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari
lapangan dalam kurun waktu yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis
kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang
menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas
nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan dapat diambil
kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek dalam penelitian ini
adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010
Universitas Sumatera Utara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas etnis dapat berperan sebagai
pendorong dalam melakukan kompetensi komunikasi antara mahasiswa etnis Tionghoa
dengan mahasiswa pribumi. Identitas etnis yang berbeda, tidak menjadikan penghambat
dalam kompetensi komunikasi yang mereka laukan. Jenis kelamin, agama, asal daerah,
dan pekerjaan orang tua mampu membentuk identitas etnis pada mahasiswa etnis
Tionghoa, sedangkan usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester bukanlah
karakteristik yang dapat membentuk identitas etnis pada mereka. Dalam penelitian ini
juga ditemukan bahwa, informan perempuan lebih mampu dalam mengenali identitas
etnis yang ada pada dirinya masing-masing lebih baik daripada informan laki-laki.
Informan laki-laki juga mampu mengenali identitas etnisnya, tetapi hanya secara
umumnya saja yang dimiliki oleh mayoritas etnis Tionghoa. Informan laki-laki tidak
mampu mengenali identitas etnisnya secara pribadi. Meskipun ada perbedaan dalam
kemampuan mengenali identitas etnisnya, tetapi keduanya mampu melakukan
kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi. Kompetensi komunikasi
yang mereka miliki umumnya berada pada tataran mampu mengembangkan kecakapan
komunikasinya dengan baik atau yang disebut dengan istilah unconscious competence,
dan tataran ini dimiliki oleh 9 orang informan. Sedangkan 2 orang informan lainnya
berada pada tataran conscious incompetence yaitu mengetahui bahwa ia salah
menginterpretasikan perilaku orang lain namun ia tidak melakukan sesuatu, dan
conscious competence yaitu mampu berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan
secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih
efektif. Jadi kompetensi komunikasi ke 11 informan mahasiswa Tionghoa berada pada
tataran yang cukup efektif. Meskipun identitas etnis yang berbeda dengan mahasiswa
pribumi, lantas tidak membuat mereka enggan untuk melakukan kompetensi komunikasi
dengan mahasiswa pribumi. Lantas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada tidak
membuat mahasiswa etnis Tionghoa menutup diri.
i

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
telah memberikan kesempatan, kekuatan, keberanian serta semangat dari hari ke hari
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta tak lupa pula shalawat beriring
salam, penulis hadiahkan kepada Sang Suri Tauladan, Nabi Muhammad SAW.
Penulisan skripsi dengan judul “Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa
dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan
Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara”
ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan yang harus dilengkapi dalam
memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.sos) di Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian skripsi ini, tentunya merupakan hasil pelajaran yang penulis
terima selama mengikuti proses perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, serta juga dari data yang di
dapat melalui riset lapangan, perpustakaan, internet, dan buku-buku literatur lainnya.
Secara khusus, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada
kedua orang tua penulis, ayahanda (Alm) Yusuf Effendy Tanjung, dan ibunda Hj. Siti
Aisyah Lubis untuk dukungan serta kasih sayang nya selama ini, juga kepada ketiga
saudara peneliti, Nina Karmila Tanjung, Fitri Yanthi Tanjung, dan Khairil Anwar
Tanjung, serta Abang-abang ipar peneliti, Nashruddin Setiawan dan Ulpin Yaser Lubis,
dan tentunya keponakan-keponakan peneliti.

ii

Universitas Sumatera Utara

Dalam penulisan skripsi ini pula, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan,
serta motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, tak lupa
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi,
serta Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi atas
segala bantuannya yang sangat berguna bagi penulis.
3. Bapak Alm. Siswo Suroso, M.A selaku dosen wali penulis dari semester 1-4, Ibu
Dra. Dewi Kurniawati, M.Si selaku dosen wali penulis dari semester 5-7, dan ibu
Dra. Dayana, M,Si selaku dosen wali penulis pada semester 8 ini. Terima kasih
atas nasehat-nasehat akademiknya selama penulis mengikuti perkuliahan.
4. Ibu Dr. Nurbani, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak
membantu dan membimbing penulis dalam penulisan skripsi selama 1 semester
terakhir.
5. (Ketua Penguji) yang telah memberikan saran, kritik, serta masukan pada skripsi
ini hingga menjadi lebih baik.
6. (Penguji Utama) yang juga memberikan masukan untuk perbaikan skripsi ini
hingga akhirnya dapat bisa menjadi lebih baik lagi.
7. Seluruh dosen dan staff pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah
mendidik dan membimbing penulis mulai dari semester awal hingga penulis
menyelesaikan perkuliahan di kampus ini.

iii

Universitas Sumatera Utara

8. Seluruh staff non-akademik yang udah banyak membantu penulis, khususnya
belakangan ini, kak Ros, kak Icut, kak Maya, Bang Mul, dan lain-lainnya.
9. Teman-teman komunikasi 2007, Sitong, Vony, Arief, Dhina, Mambo, Ririn,
Wulan, Devia, Hanan, Ara, Said, Kakek, Ubur, Ali, Ayu, Venta, Amel, dan Hera.
Terima kasih untuk doa, dukungan dan persahabatan kita selama ini. Mudahmudahan persahabatan ini akan tetap berlanjut sampai kita sukses nanti. Amin
10. Terimakasih juga kepada teman-teman ilmu komunikasi 2007 FISIP USU lainnya
yang sudah bersama-sama kurang lebih selama 4 tahun ini.
11. Terimakasih kepada Bob Riandy dan Toni, yang sudah banyak membantu peneliti
selama proses penelitian skripsi ini.
12. Serta terima kasih kepada seluruh informan yang dengan senang hati telah
membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan, dukungan, dan doa yang telah
diberikan. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu
kritik dan saran tentu sangat dibutuhkan demi penyempurnaan skripsi ini. Akhirnya,
semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin…. Yaaa Rabbalalaminnn…

Medan, Juni 2011
Penulis

RIFAL ASWAR TANJUNG

iv

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
ABSTRAKSI ..................................................................................................

i

KATA PENGANTAR ....................................................................................

ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................

v

BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah .................................................................
I.2. Perumusan Masalah .......................................................................
I.3. Pembatasan Masalah ......................................................................
I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian .....................................................
I.4.1. Tujuan Penelitian .................................................................
I.4.2. Manfaat Penelitian ..............................................................
I.5. Kerangka Teori...............................................................................
I.5.1. Teori Interaksi Simbolik ......................................................
I.5.2. Komunikasi ..........................................................................
I.5.3. Komunikasi Antarbudaya.....................................................
I.5.4. Identitas Etnis .......................................................................
I.5.5. Kompetensi Komunikasi ......................................................
I.5.6. Etnis Tionghoa .....................................................................
I.6. Kerangka Konsep ...........................................................................
I.7. Operasional Konsep .......................................................................
I.8. Defenisi Operasional ......................................................................

1
9
9
10
10
11
11
11
13
15
16
18
19
21
22
24

BAB II URAIAN TEORITIS
II.1. Teori Interaksi Simbolik ..............................................................
II.1.1. Defenisi Teori Interaksi Simbolik .....................................
II.2. Komunikasi ..................................................................................
II.2.1. Latar Belakang Sejarah .....................................................
II.2.2. Defenisi Komunikasi ........................................................
II.2.3. Proses Komunikasi............................................................
II.3. Komunikasi Antarbudaya ............................................................
II.3.1. Sejarah Komunikasi Antarbudaya ....................................
II.3.2. Defenisi Komunikasi Antarbudaya ...................................
II.3.3. Dimensi-Dimensi Komunikasi Antarbudaya ....................
II.4. Identitas Etnis ..............................................................................
II.4.1. Defenisi Identitas Etnis .....................................................
II.4.2. Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis ..................
II.5. Kompetensi Komunikasi..............................................................
II.6. Etnis Tionghoa .............................................................................
II.6.1. Sejarah ..............................................................................

28
28
32
32
33
35
38
38
41
44
47
47
51
54
60
60

v

Universitas Sumatera Utara

II.6.1.1 Masa-masa awal ...................................................
II.6.1.2 Era Kolonial .........................................................
II.6.1.3 Masa Revolusi dan Pra Kemerdekaan RI.............
II.6.1.4 Pasca Kemerdekaan ...........................................
II.6.2 Daerah asal China ..............................................................
II.6.3 Daerah Konsentrasi ............................................................

60
61
62
63
66
67

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.1. Metode Penelitian ....................................................................
III.1.1. Metode Penelitian Kualitatif .......................................
III.1.2. Studi Analisis Etnografi ..............................................
III.1.2.1 Suatu Pemahaman Awal ................................
III.1.2.2 Pijakan Teoritis dalam Model Etnografi .......
III.1.2.3 Bentuk-Bentuk Penelitian Model Etnografi ..
III.2. Lokasi Penelitian ......................................................................
III.2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian .........................................
III.2.1.1 Sejarah Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
III.2.1.2 Visi dan Misi .............................................................
III.2.1.3 Tujuan ........................................................................
III.2.1.4 Kebijakan...................................................................
III.2.1.5 Struktur Kepengurusan ..............................................
III.3. Waktu Penelitian ......................................................................
III.4. Subjek atau Informan Penelitian ..............................................
III.5. Teknik Pengumpulan Data .......................................................
III.5.1 Penelitian Lapangan (Field Research) ..........................
III.5.2 Penelitian Kepustakaan (Library Research) .................
III.6. Teknik Analisis Data................................................................

69
69
71
71
72
74
79
79
79
80
81
82
88
88
89
91
91
92
92

BAB IV PEMBAHASAN
IV.1. Latar Belakang Informan Penelitian ........................................
IV.1.1 Tabel Latar Belakang Informan Penelitian ...................
IV.1.2 Kesimpulan Latar Belakang Informan Penelitian ........
IV.2. Identitas Etnis...........................................................................
IV.2.1 Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian ..............
IV.2.2 Kesimpulan Identitas Etnis Informan Penelitian ..........
IV.2.2.1 Mampu Mengenali .........................................
IV.2.2.2 Kurang Mampu Mengenali ............................
IV.2.2.3 Tidak Mampu Mengenali ...............................
IV.3. Kompetensi Komunikasi ..........................................................
IV.3.1 Deskripsi Kompetensi Komunikasi
Informan Penelitian .....................................................
IV.3.2 Kesimpulan Kompetensi Komunikasi
Informan Penelitian .....................................................

99
99
109
114
115
152
154
157
158
160
160
199

vi

Universitas Sumatera Utara

BAB V PENUTUP
V.1. Kesimpulan ................................................................................
V.2. Saran...........................................................................................

209
215

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI
Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa
(Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan
Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010
Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas etnis
yang dibangun dalam kompetensi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa yang
beretnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di lingkungan Fakultas Teknik Universitas
Sumatera Utara.
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah studi analisis etnografi budaya yaitu
studi yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan
kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari
lapangan dalam kurun waktu yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis
kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang
menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas
nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan dapat diambil
kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek dalam penelitian ini
adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010
Universitas Sumatera Utara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas etnis dapat berperan sebagai
pendorong dalam melakukan kompetensi komunikasi antara mahasiswa etnis Tionghoa
dengan mahasiswa pribumi. Identitas etnis yang berbeda, tidak menjadikan penghambat
dalam kompetensi komunikasi yang mereka laukan. Jenis kelamin, agama, asal daerah,
dan pekerjaan orang tua mampu membentuk identitas etnis pada mahasiswa etnis
Tionghoa, sedangkan usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester bukanlah
karakteristik yang dapat membentuk identitas etnis pada mereka. Dalam penelitian ini
juga ditemukan bahwa, informan perempuan lebih mampu dalam mengenali identitas
etnis yang ada pada dirinya masing-masing lebih baik daripada informan laki-laki.
Informan laki-laki juga mampu mengenali identitas etnisnya, tetapi hanya secara
umumnya saja yang dimiliki oleh mayoritas etnis Tionghoa. Informan laki-laki tidak
mampu mengenali identitas etnisnya secara pribadi. Meskipun ada perbedaan dalam
kemampuan mengenali identitas etnisnya, tetapi keduanya mampu melakukan
kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi. Kompetensi komunikasi
yang mereka miliki umumnya berada pada tataran mampu mengembangkan kecakapan
komunikasinya dengan baik atau yang disebut dengan istilah unconscious competence,
dan tataran ini dimiliki oleh 9 orang informan. Sedangkan 2 orang informan lainnya
berada pada tataran conscious incompetence yaitu mengetahui bahwa ia salah
menginterpretasikan perilaku orang lain namun ia tidak melakukan sesuatu, dan
conscious competence yaitu mampu berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan
secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih
efektif. Jadi kompetensi komunikasi ke 11 informan mahasiswa Tionghoa berada pada
tataran yang cukup efektif. Meskipun identitas etnis yang berbeda dengan mahasiswa
pribumi, lantas tidak membuat mereka enggan untuk melakukan kompetensi komunikasi
dengan mahasiswa pribumi. Lantas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada tidak
membuat mahasiswa etnis Tionghoa menutup diri.
i

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, komunikasi sebagai sebuah proses pertukaran simbol verbal dan
nonverbal antara pengirim dan penerima untuk merubah tingkah laku, kini melingkupi
proses yang lebih luas. Jumlah simbol-simbol yang dipertukarkan tentu tak bisa dihitung
dan dikelompokkan secara spesifik kecuali bentuk simbol yang dikirim, verbal dan non
verbal. Memahami komunikasi pun seolah tak ada habisnya. Mengingat komunikasi
sebagai suatu proses yang tiada henti melingkupi kehidupan manusia, salah satunya
mengenai komunikasi antarbudaya.
Edward T. Hall mengatakan budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan.
Konsekuensinya kebudayaan merupakan landasan berkomunikasi. Charley H. Dood
mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang mewakili pribadi,
antar pribadi, kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang
mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta, sedangkan Sitaram berpendapat bahwa
komunikasi antarbudaya sendiri bermakna sebagai sebuah seni untuk memahami dan
saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan (Liliweri, 2004: 11).
Untuk memahami interaksi antarbudaya, terlebih dahulu kita harus memahami
komunikasi manusia. Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi
selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, apa yang dapat terjadi, akibatakibat dari apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk
mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Hal-hal yang sejauh ini dibicarakan tentang komunikasi, berkaitan dengan
komunikasi antarbudaya. Fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan antara komponenkomponen komunikasi juga berkenaan dengan komunikasi antarbudaya. Apa yang
terutama menandai komunikasi antarbudaya adalah bahwa sumber dan penerimanya
berasal dari budaya yang berbeda. Ciri ini saja memadai untuk mengidentifikasi suatu
bentuk interaksi komunikatif yang unik yang harus memperhitungkan peranan dan fungsi
budaya dalam proses komunikasi.
Komunikasi antarbudaya terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya
lainnya. Dalam keadaan demikian, kita segera dihadapkan kepada masalah-masalah yang
ada dalam suatu situasi di mana suatu pesan disandi dalam suatu budaya dan harus
disandi balik dalam budaya lain. Seperti telah kita lihat, budaya mempengaruhi orang
yang berkomunikasi. Budaya bertanggungjawab atas seluruh perbendaharaan perilaku
komunikatif dan makna yang dimiliki setiap individu. Konsekuensinya, perbendaharaanperbendaharaan yang dimiliki dua orang yang berbeda budaya akan berbeda pula, yang
dapat menimbulkan segala macam kesulitan. Melalui studi dan pemahaman atas
komunikasi antarbudaya, kita dapat mengurangi atau hampir dapat menghilangkan
kesulitan-kesulitan tersebut.
Melalui budaya kita bertukar dan belajar banyak hal, karena pada kenyataannya
siapa kita adalah realitas budaya yang kita terima dan pelajari. Untuk itu, saat komunikasi
menuntun kita bertemu dan bertukar simbol dengan orang lain maka kita pun dituntut
untuk memahami orang lain yang berbeda budaya dan perbedaan itu tentu menimbulkan
bermacam kesukaran dalam kelangsungan komunikasi yang terjalin.

Universitas Sumatera Utara

Identitas etnis secara sederhana dipahami sebagai sense tentang self individu
sebagai anggota atau bagian dari suatu kelompok etnis tertentu dan sikap maupun
perilakunya juga berhubungan dengan sense tersebut. Artinya identitas etnis menyangkut
pengetahuan, kesadaran, komitmen, dan perilaku terkait etnisnya. Artinya, identitas etnis
dibangun atas kesadaran kita akan budaya kita., budaya mempengaruhi identitas etnis kita
bahkan melalui konteks budaya lah identitas etnis dipertukarkan dan dipelajari dari
generasi ke generasi.
Memahami budaya yang berbeda dengan kita juga bukan hal yang mudah, dimana
kita dituntut untuk mau mengerti realitas budaya orang lain yang membuat ada istilah
‘’mereka’’ dan ‘’kita’’. Masalahnya, perkembangan zaman membuat budaya juga
berubah, nilai-nilai budaya dahulu mungkin sekarang sedikit demi sedikit, lambat laun
makin memudar.
Akibat perubahan zaman dan pengaruh budaya massa, memahami identitas etnis
sendiri bisa jadi lebih susah daripada memahami identitas etnis lain, namun yang menjadi
masalah tentu bukan sekadar pengaruh media massa dalam membantu membangun
persepsi khalayak baik secara sengaja atau tidak dalam menggambarkan etnis tertentu
dalam tayangannya, tetapi control dan pilihan tentu ada di tangan audiens, bagaimana si
audiensnya dalam menanggapi realitas yang dibangun lingkungan dan pandangannya
sendiri dalam persepsinya.
Dalam suatu negara, seperti Indonesia banyak sekali terdapat beberapa kelompok
etnis yang berbeda. Misalnya di daerah Sumatera Utara, kita mengenal ada etnis Batak,
Minang, Cina, Jawa, Melayu, Aceh dan sebagainya. Keberadaan kelompok etnis ini

Universitas Sumatera Utara

menjadikan Sumatera Utara memiliki keberagaman etnis. Sehingga akan menimbulkan
tingkat pergaulan antarbudaya yang kompleks.
Memasuki dunia baru di mana kita dituntut untuk beradaptasi bukanlah hal yang
mudah. Beradaptasi di lingkungan baru, kita dituntut belajar serta memahami budaya
baru. Terlebih lagi adaptasi tentu akan semakin sulit. Jika lingkungan yang baru adalah
lingkungan yang berbeda jauh budayanya dengan lingkungan sebelumnya. Sebuah
lingkungan baru, di mana realitas etnisnya sangat berbeda. Menghadapi budaya yang
berbeda bukan perkara mudah, begitupun yang dirasakan oleh mahasiswa etnis Tionghoa
di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Mengingat selama ini mereka cenderung
bersekolah di sekolahan yang memang menampung siswa dari komunitas etnisnya.
Ketika mereka memasuki lingkungan yang berbeda, adaptasi pun harus dimulai perlahan
demi perlahan.
Dalam konteks penelitian ini, identitas etnis mahasiswa Tionghoa dalam
kompetensi

komunikasi

dengan

mahasiswa

pribumi

menjadi

penting

untuk

diperhitungkan mengingat andil identitas etnis selama ini kurang disadari. Kita tentu
perlu tahu, saat kita berkomunikasi khususnya komunikasi antarbudaya, apakah kita
menyadari diri kita sebagai bagian dari satu kelompok etnis tertentu dan lawan bicara kita
sebagai anggota kelompok etnis lain. Untuk itu, jawaban dari pertanyaan itu nantinya
akan membantu untuk menjawab realitas yang lebih spesifik mengenai komunikasi
antarbudaya yaitu etnisitas. Nantinya akan dilihat apakah komunikasi antarbudaya terjalin
secara efektif ?.
Sikap etnis Tionghoa yang masih tertutup dan enggan berbaur dengan penduduk
asli Kota Medan, terus menjadi polemik dikalangan masyarakat. Semenjak berabad-abad

Universitas Sumatera Utara

lalu, etnis Tionghoa berada di Indonesia dengan jumlah cukup besar, tetapi karena
persoalan menyangkut etnis masih dianggap peka, sebelum tahun 2000, jumlah suku
bangsa/etnis di Indonesia tidak pernah dimasukkan ke dalam sensus penduduk Republik
Indonesia.
Kebijakan pemerintah Indonesia menyangkut persoalan etnis Tionghoa dari masa
ke masa, terutama masa orde baru dengan proyek kebijakan asimilasi dan masa pasca
rezim Soeharto ditandai dengan penghapusan pilar-pilar kebudayaan Tionghoa (termasuk
penutupan sekolah Tionghoa, pembubaran organisasi etnis Tionghoa dan pemberedelan
mass media Tionghoa) serta simbol-simbol dan adat-istiadat etnis Tionghoa.
Dalam keadaan demikian, sejumlah orang Tionghoa telah dibaur dan tidak merasa
sebagai Tionghoa lagi. Kelompok etnis Tionghoa tidak lenyap dan jumlahnya masih
sangat besar di Indonesia. Kemudian dengan berubahnya kebijakan pemerintah menjadi
lebih akomodatif, kebangkitan identitas diri etnis Tionghoa bukan hal yang tidak
mungkin.
Kesulitan juga dirasakan oleh etnis Tionghoa yaitu tidak dapat diterima oleh kaum
nasionalis Indonesia sebagai bagian dari Indonesia. Masyarakat kolonial membedabedakan penduduk Indonesia berdasarkan ras/suku bangsa yang mempengaruhi
pemikiran

nasionalis-nasionalis

Indonesia,

sehingga

mengakibatkan

terpisahnya

peranakan Tionghoa dari pergerakan nasional Indonesia. Nasionalisme Tionghoa timbul
lebih awal dari nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Tionghoa termasuk peranakan,
tumbuh terpisah dari dan dikehendaki pemerintah Indonesia rezim orde baru dengan
kebijakan asimilasinya. Di satu sisi kecenderungna untuk mempertahankan identitas

Universitas Sumatera Utara

etnisnya terdapat pada sebagian warga etnis Tionghoa, sedangkan di sisi lain, mereka
telah merasa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.
Nasionalisme Indonesia dikonstruksi berdasarkan konsep “kepribumian”, dan
etnis Tionghoa dikategorikan sebagai orang asing yang dianggap bukan merupakan
bagian dari Indonesia. Nasionalis Indonesia didefenisikan sebagai “milik” bangsa
pribumi, yaitu kelompok yang mempunyai daerah mereka sendiri.
Selanjutnya, konsep pribumi sebagai tuan rumah telah berakar di bumi Indonesia.
Etnis Tionghoa dianggap sebagai non-pribumi dan pendatang baru yang tidak bisa
diterima sebagai suku bangsa sebelum mereka mengasimilasi diri. Pribumi memiliki
persepsi bahwa etnis Tionghoa merupakan sebuah kelompok etnis yang menduduki
tangga ekonomi lebih tinggi dan terpisah dari pribumi. Implikasinya, konsep masyarakat
majemuk yang menekankan pada pentingnya kesukubangsaan, akan selalu menempatkan
posisi etnis Tionghoa sebagai orang asing, walaupun mereka tersebut berstatus WNI.
Secara tidak langsung, etnis Tionghoa yang non-pribumi itu harus membaur menjadi
pribumi kalau ingin diterima sebagai orang Indonesia.
Secara umum pelajar etnis Tionghoa belum terbaur menjadi pribumi sebagaimana
yang diartikan dan dikehendaki pemerintah Indonesia “Rezim Orde Baru” dengan
kebijakan asimilasinya. Di satu sisi kecenderungan untuk mempertahankan identitas
etnisnya terdapat pada sebagian warga etnis Tionghoa, sedangkan di sisi lain, mereka
telah merasa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.
Pada rezim Soeharto, pilar-pilar kebudayaan Tionghoa dipulihkan kembali,
pembukaan sekolah Tionghoa ala pemerintahan Sukarno, meskipun masih tidak diizinkan
kebebasan menggunakan bahasa Tionghoa, bahkan perayaan festival etnis Tionghoa juga

Universitas Sumatera Utara

telah diizinkan oleh negara. Walaupun diskriminasi etnis belum terkikis habis, namun
minoritas etnis mendapat jaminan, sekurang-kurangnya dari sudut hukum, dan seiring
dengan menguatnya persoalan identitas ke-etnis-an, nasionalisme bisa terancam menjadi
nasionalisme suku bangsa yang sempit.
Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa etnis
Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Pemilihan lokasi
penelitian yaitu di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara dilakukan karena
mahasiswa etnis Tionghoa juga banyak ditemui di Fakultas ini. Menyadari bahwa etnis
mereka berbeda maka untuk itu penting memahami bagaimana para mahasiswa tersebut
melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Bagaimana realitas
identitas yang dibangun, baik menyangkut budayanya sendiri maupun mengenai budaya
lain. Telaah mengenai komunikasi antarbudaya ini setidaknya dapat membantu dalam
memperoleh pengetahuan tentang bagaimana selama ini mereka membangun komunikasi
dalam interaksi khususnya komunikasi antarbudaya. Jawaban mengenai tindak
kompetensi komunikasi mahasiswa etnis tionghoa tersebut, akan menunjukkan pada
tataran kompetensi komunikasi seperti apa yang mereka miliki.
Ketertarikan penelitian ini didasari pada kemungkinan adanya perasaan in group
maupun out group yang sedikit banyak mendorong atau bahkan menghambat komunikasi
dalam interaksi, yang bisa jadi nantinya akan bisa ditarik kesimpulan apakah komunitas
mahasiswa etnis Tionghoa ini tertutup atau bahkan sebaliknya.
Penelitian ini nantinya akan melihat bagaimanakah identitas etnis mahasiswa etnis
Tionghoa dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi?, apakah identitas
etnis tersebut dapat menghambat mahasiswa etnis Tionghoa di Fakultas Teknik USU

Universitas Sumatera Utara

dalam menjalin komunikasi yang efektif atau sebaliknya mungkin membantu dalam
berkomunikasi. Pada akhirnya akan ditemukan kompetensi komunikasi seperti apa yang
mereka miliki.
Penelitian ini menggunakan analisis metode penelitian kualitatif, maka
diharapkan berbagai pertanyaan seputar masalah identitas etnis mahasiswa etnis
Tionghoa dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi di kalangan
mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara dapat terjawab.

I.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas, maka dapat dirumuskan
permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
“Bagaimanakah identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa Fakultas Teknik
stambuk 2009 dan 2010 USU dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa
pribumi?”

I.3 Pembatasan Masalah
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, tidak mencari hubungan, tidak
menguji hipotesis atau membuat prediksi. Penelitian ini hanya berusaha untuk menggali
suatu permasalahan secara mendalam, tentunya dengan menggunakan pedoman dari
metode penelitian kualitatif.
Penelitian ini juga menggunakan studi analisis etnografi, yang nantinya akan
melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan kelompok yaitu perihal

Universitas Sumatera Utara

identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari lapangan dalam kurun
waktu yang sama.
Sesuai dengan masalah penelitian yang dirumuskan di atas, dan supaya tidak
terjadi ruang lingkup penelitian yang terlalu luas, dimana dapat mengaburkan penelitian,
maka peneliti merasa perlu untuk membuat pembatasan masalah agar menjadi lebih jelas.
Pembatasan masalah yang akan diteliti adalah :
1. Latar belakang mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan 2010 yang ada
di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
2. Identitas etnis yang terbentuk pada mahasiswa etnis Tionghoa di Fakultas
Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara baik dalam
memaknai serta memahami identitas etnis mereka maupun identitas etnis
mahasiswa pribumi.
3. Kompetensi komunikasi antarbudaya mahasiswa etnis Tionghoa dengan
mahasiswa pribumi di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas
Sumatera Utara.

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
I.4.1 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui latar belakang mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan
2010 yang ada di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
2.

Untuk mengetahui identitas etnis yang terbentuk pada mahasiswa etnis
Tionghoa di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera

Universitas Sumatera Utara

Utara baik dalam memaknai serta memahami identitas etnis mereka maupun
identitas etnis mahasiswa pribumi.
3. Untuk mengetahui kompetensi komunikasi antarbudaya mahasiswa etnis
Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan
2010 Universitas Sumatera Utara.
I.4.2 Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah
penelitian di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sumatera
Utara.
2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis
mengenai komunikasi antarbudaya khususnya mengenai identitas etnis
mahasiswa etnis Tionghoa dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa
pribumi.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi pihakpihak yang membutuhkan pengetahuan yang berkenan dengan penelitian ini.

I.5 Kerangka Teori
Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti perlu menyusun suatu kerangka
teori. Kerangka teori disusun sebagai landasan berfikir yang menunjukkan dari sudut
mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti (Nawawi. 1995:40).
Dalam penelitian ini, teori-teori yang dianggap relevan diantaranya adalah:

Universitas Sumatera Utara

I.5.1 Teori Interaksi Simbolik
Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung perspektif yang
lebih besar yang sering disebut perspektif fenomenologis atau perspektif interpretif.
Maurice Natanson menggunakan istilah fenomenologis sebagai suatu istilah generik
untuk merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap kesadaran
manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial.
Selanjutnya pandangan

fenomenologis atas realitas sosial menganggap dunia

intersubjektif sebagai terbentuk dalam aktivitas kesadaran yang salah satu hasilnya adalah
ilmu alam. Interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan
kegiatan sosial dinamis manusia. Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif , reflektif dan
kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini
menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan
oleh kekuatan-kekuatan atau struktur yang ada di luar dirinya. Oleh karena individu terus
berubah maka masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi interaksilah yang dianggap
variabel penting yang menentukan perilaku manusia, bukan struktur masyarakat. Struktur
itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi manusia, yakni ketika individu-individu
berpikir dan bertindak secara stabil terhadap seperangkat objek yang sama. (Mulyana,
2001: 59-61).
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas
manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif
interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek.
Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang
memungkinkan

manusia

membentuk

dan

mengatur

perilaku

mereka

dengan

Universitas Sumatera Utara

mempertimbangkan ekspetasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi
yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendirilah
yang menentukan perilaku mereka. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau
penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka. Dalam pandangan interaksi
simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah
yang menciptakan dan menegakkan aturan-aturan, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini,
makna dikonstruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu
medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya
melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan
sosial. (Mulyana, 2001: 68-70).
Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah
interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara ringkas, interaksionisme
simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama, individu merespons suatu
situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial
berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi
mereka. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat
pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna
diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan
situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.

I.5.2 Komunikasi
Menurut Brelson dan Steiner (dalam Arifin, 1988: 25), komunikasi adalah
penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan dan seterusnya melalui penggunaan

Universitas Sumatera Utara

simbol, kata-kata, gambar, angka, grafik dan lain-lain. Carl I. Hovland (dalam Arifin,
1988: 26) mendefenisikan komunikasi sebagai proses yang berlangsung dimana
seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang (biasanya lambang-lambang dalam
bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang lain (komunikan).
Kita mulai dengan suatu asumsi dasar bahwa komunikasi berhubungan dengan
perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusiamanusia lainnya. Hampir setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orangorang lainnya, dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi
sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi
akan terisolasi. Pesan-pesan itu akan mengemuka lewat perilaku manusia. Ketika kita
melambaikan tangan, tersenyum, bermuka masam, menganggukkan kepala, atau
memberikan suatu isyarat, kita juga sedang berperilaku. Sering perilaku-perilaku ini
merupakan pesan-pesan; pesan-pesan itu digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu
kepada seseorang.
Sejauh ini, defenisi kita tentang komunikasi telah bersifat umum, untuk
menampung berbagai keadaan di mana komunikasi mungkin terjadi. Kita sekarang akan
merumuskan suatu defenisi yang menyertakan kesengajaan untuk berkomunikasi, tetapi
juga dengan tidak melupakan bahwa perilaku tak sadar dan tak sengaja mungkin
merumitkan situasi-situasi komunikasi. Batasan kita tentang komunikasi juga akan
merinci unsur-unsur komunikasi dan beberapa dinamika yang terdapat dalam
komunikasi.

Universitas Sumatera Utara

I.5.3 Komunikasi Antarbudaya
Kata “budaya” berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk
jamak dari kata buddhi, yang berarti “budi” atau “akal”. Kebudayaan itu sendiri diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal.
Istilah “culture”berasal dari kata colere yang artinya adalah mengolah atau
mengerjakan, yang dimaksudkan kepada keahlian mengolah dan mengerjakan tanah atau
bertani. Kata “colore”, kemudian berubah menjadi culture, diartikan sebagai segala daya
dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Soekamto, 1996: 188).
Komunikasi antarbudaya sendiri dapat dipahami sebagai pernyataan diri antar
pribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang budaya
(Liliweri, 2004: 9). Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya maka kita
mengenal beberapa asumsi, yaitu: Proses komunikasi antarbudaya sama seperti proses
komunikasi lainnya, yakni suatu proses yang interaktif dan transaksional serta dinamis
(Liliweri, 2004: 24).
Dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak dapat dikatakan
berinteraksi sosial kalau tidak berkomunikasi. Demikian pula dapat dikatakan bahwa
interaksi antarbudaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya.
Konsep ini sekaligus menerangkan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai
(komunikasi yang sukses) bila bentuk-bentuk hubungan 1. komunikasi antarbudaya
dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator
dengan komunikan. 2. dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi
antarpribadi 3. gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi 4. komunikasi
antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian 5. komunikasi berpusat pada

Universitas Sumatera Utara

kebudayaan 6. efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya,
antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi untuk
memperbaharui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan
memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya semangat
kesetiakawanan, persahabatan, hingga kepada berhasilnya pembagian teknologi dan
mengurangi konflik.
Mengutip pendapat Habermas, bahwa dalam setiap proses komunikasi (apapun
bentuknya) selalu ada fakta dari semua situasi yang tersembunyi di balik para partisipan
komunikasi. Menurutnya, beberapa kunci iklim komunikasi dapat ditunjukkan oleh
karakteristik antara lain; suasana yang menggambarkan derajat kebebasan, suasana di
mana tidak ada lagi tekanan kekuasaan terhadap peserta komunikasi, prinsip keterbukaan
bagi semua, suasana yang mampu memberikan komunikator dan komunikan untuk dapat
membedakan antara minat pribadi dan minat kelompok. Dari sini bisa disimpulkan bahwa
iklim komunikasi antarabudaya tergantung pada 3 dimensi, yakni perasaan positif,
pengetahuan tentang komunikan, dan perilaku komunikator (Liliweri, 2004: 48).

I.5.4 Identitas Etnis
Identitas etnis secara substansial bermakna sama dengan etnisitas atau rasial.
Istilah-istilah ini kadang-kadang digunakan identik atau punya makna sama oleh para ahli
(Mulyana & Jalaludin Rahmat, 2005: 151).
Dalam konteks identitas etnis, Mead dalam Mulyana berpendapat bahwa konsep
diri seseorang bersumber dari partisipasinya dalam budaya di mana ia dilahirkan atau
yang ia terima. Budaya diperoleh individu lewat simbol-simbol dan simbol-simbol ini

Universitas Sumatera Utara

bermakna baginya lewat eksperimentasi dan akhirnya Familiarity dengan berbagai
situasi. Identitas etnis juga merupakan suatu proses. Ia berbentuk lewat interpretasi
realitas fisik dan sosial sebagai memiliki atribut-atribut etnis. Identitas etnis berkembang
melalui internalisasi pengkhasan diri oleh orang lain yang dianggap penting, tentang
siapa aku dan siapa orang lain berdasarkan latar belakang etnis mereka (Mulyana, 2001:
231).
Identitas etnis berhubungan pada latar belakang etnis mereka yang dianggap
sebagai inti diri mereka. Diri yang berkonteks etnis inilah yang disebut identitas etnis
(Mulyana & Jalaludin Rahmat, 2005: 152).
Identitas etnis merupakan sense tentang self individu sebagai anggota atau bagian
dari suatu kelompok etnis tertentu dan sikap maupun perilakunya juga berhubungan
dengan sense tersebut. Mereka juga menyatakan bahwa perkembangan identitas etnis
merupakan suatu proses eksplorasi dari identitas yang tidak terseleksi sampai identitas
etnis yang dicapai. Dari definisi tersebut di atas menunjukkan bahwa dalam diri individu
terdapat sense tentang diri dalam kaitannya sebagai bagian dari kelompok etnis tertentu
dan proses inilah yang menyebabkan identitas etnis terbentuk.
Menurut Phinney dan Alipora identitas etnis adalah sebuah konstruksi kompleks
yang mengandung sebuah komitmen dan rasa kepemilikan (sense of belonging) pada
kelompok etnis, evaluasi positif pada kelompok, berminat di dalam dan berpengetahuan
tentang kelompok, dan turut serta terlibat dalam aktivitas sosial kelompok. Identitas itu
berkaitan dengan masa lalu dan aspirasi masa depan yang berhubungan dengan etnisitas.
Jadi, identitas etnis akan membuat seseorang memiliki harapan akan masa depan yang
berkait dengan etnisnya. Weinreich juga menyebutkan bahwa identitas sosial, termasuk

Universitas Sumatera Utara

identitas etnik merupakan penggabungan ide-ide, perilaku, sikap, dan simbol-simbol
bahasa

yang

ditransfer

dari

generasi

ke

generasi

melalui

sosialisasi

(http://suryanto.blog.unair.ac.id/ di akses tanggal 09 Februari 2011).

I.5.5 Kompetensi Komunikasi
Komponen komunikasi mengacu pada kemampuan untuk berkomunikasi secara
efektif. Kompetensi ini mengacu pada hal-hal seperti pengetahuan tentang peran
lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan
komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak untuk
dikomunikasikan kepada pendengar tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar
dan lingkungan yang lain).
Pengetahuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya, kepatutan sentuhan,
suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi
komunikasi. Dengan meningkatkan kompetensi, anda akan mempunyai banyak pilihan
dalam berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi
kompetensi anda), makin banyak pilihan yang anda punyai untuk melakukan komunikasi
dalam keseharian.
Howell, salah seorang penasihat Gundykunst, menyebutkan ada empat tataran
kompetensi komunikasi, yaitu :
1) unconscious incompetence, yaitu seseorang yang salah menginterpretasikan perilaku
orang lain dan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan,
(2) conscious incompetence yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah
menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu,
(3) conscious competence yaitu, seseorang berpikir tentang kecakapan komunikasinya
dan secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih
efektif, dan

Universitas Sumatera Utara

(4) unconscious competence yiatu seseorang telah mengembangkan kecakapan
komunikasinya. (Rahardjo, 2005:69).

I.5.6 Etnis Tionghoa
Kata Tionghoa telah digunakan dalam surat setia kepada tentara Nippon ini.
Tionghoa atau tionghwa, adalah istilah yang dibuat sendiri oleh orang keturunan Cina di
Indonesia, yang berasal dari kata zhonghua dalam Bahasa Mandarin. Zhonghua dalam
dialek Hokkian dilafalkan sebagai Tionghoa.
Wacana Cung Hwa setidaknya sudah dimulai sejak tahun 1880, yaitu adanya
keinginan dari orang-orang di Cina untuk terbebas dari kekuasaan dinasti kerajaan dan
membentuk suatu negara yang lebih demokratis dan kuat. Wacana ini sampai terdengar
oleh orang asal Cina yang bermukim di Hindia Belanda yang ketika itu dinamakan Orang
Cina.
Sekelompok orang asal Cina yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda, merasa
perlu mempelajari kebudayaan dan bahasanya. Pada tahun 1900, mereka mendirikan
sekolah di Hindia Belanda, di bawah naungan suatu badan yang dinamakan "Tjung Hwa
Hwei Kwan", yang bila lafalnya di Indonesiakan menjadi Tiong Hoa Hwe Kwan
(THHK). THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa dan
kebudayaan Cina, tapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang Tionghoa di
Hindia Belanda, seiring dengan perubahan istilah "Cina" menjadi "Tionghoa" di Hindia
Belanda.
Suku bangsa Tionghoa (biasa disebut juga Cina) di Indonesia adalah salah satu
etnis di Indonesia. Biasanya mereka menyebut dirinya dengan istilah Tenglang

Universitas Sumatera Utara

(Hokkien), Tengnang (Tiochiu), atau Thongnyin (Hakka). Dalam bahasa Mandarin
mereka disebut Tangren (Hanzi: 唐人, "orang Tang"). Hal ini sesuai dengan kenyataan
bahwa orang Tionghoa-Indonesia mayoritas berasal dari Cina selatan yang menyebut diri
mereka sebagai orang Tang, sementara orang Cina utara menyebut diri mereka sebagai
orang Han (Hanzi: 漢人, hanyu pinyin: hanren, "orang Han").
Leluhur orang Tionghoa-Indonesia berimigrasi secara bergelombang sejak ribuan
tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Peran mereka beberapa kali muncul dalam
sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk.
Catatan-catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah
berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina. Faktor inilah yang
kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Cina
ke Nusantara dan sebaliknya.
Setelah negara Indonesia merdeka, orang Tionghoa yang berkewarganegaraan
Indonesia digolongkan sebagai salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia, sesuai
Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia di akses tanggal 9 Februari 2011).

I.6 Kerangka Konsep
Dari beberapa teori yang telah diuraikan pada kerangka teori maka langkah
selanjutnya merumuskan kerangka konsep sebagai hasil dari suatu pemikiran rasional
yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan
dicapai (Nawawi, 1995:40). Konsep adalah penggambaran fenomena yang hendak
diteliti, yakni istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak

Universitas Sumatera Utara

kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial
(Singarimbun, 1995: 33).
Maka kerangka konsep yang akan di teliti adalah :
-

Latar Belakang Informan

-

Identitas Etnis

-

Kompetensi Komunikasi

I.7 Operasional Konsep
Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas, maka dapat dijadikan
acuan untuk memecahkan masalah. Agar konsep operasional dapat membentuk kesamaan
dan kesesuaian dalam penelitian, maka dioperasionalkan sebagai berikut:

Operasional Konsep
Latar Belakang Informan

Indikator
1. Karakteristik informan penelitian:
(a) usia
(b) jenis kelamin
(c) departemen
(d) stambuk
(e ) semester
(f) asal daerah
(g) agama
(h) pekerjaan orangtua.

Universitas Sumatera Utara

Identitas Etnis

1. Indikator identitas etnis yang akan di
teliti:
(a) mampu mengenali
(b)

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara).