Pembinaan kesadaran beragama pada kehidupan anak jalanan: studi kasus di rumah singgah anak kurnia

PEMBINAAN KESADARAN BERAGAMA
PADA KEHIDUPAN ANAK JALANAN
(Studi Kasus di Rumah Singgah Anak Kurnia)
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh
gelar sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

Siti Shofiah
106011000181

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432/2010

PEMBINAAN KESADARAN BERAGAMA
PADA KEHIDUPAN ANAK JALANAN
(Study Kasus di Rumah Singgah Anak Kurnia)

Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh
gelar sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

Siti Shofiah
106011000181

Di bawah bimbingan :

Dr. Zaimudin,MAg
Nip : 19590705 199103 1 002

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431/2010
i

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI

Skripsi berjudul : “ Pembinaan Kesadaran Beragama Pada Kehidupan Anak
Jalanan ( Studi kasus di rumah singgah “Anak Kurnia”)” diajukan kepada
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
dan telah dinyatakan lulus dalam ujian munaqasyah pada tanggal 09 Desember
2010 dihadapan dewan penguji, karena itu penulis berhak memperoleh gelar
saarjana
S1 (S.Pd.I) dalam Pendidikan Agama Islam.
Jakarta, 12 Desember 2010
Panitia Ujian Munaqasyah

Ketua Panitia (Ketua Jurusan PAI)

Tanggal

Tanda

...............

......................

...............

.......................

...............

......................

...............

.......................

Tangan
Bahrissalim, M.Ag
NIP: 19680307 199803 1 002
Sekretaris Jurusan PAI
Drs. Sapiuddin Shidik, MA
NIP: 19670328 20003 1 001
Penguji 1
Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, MA
NIP: 19471402 19651 0 001
Penguji II
Drs. Sapiuddin Shidik, MA
NIP: 19670328 20003 1 001

Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA
NIP: 195710051 98703 1 00 3

ii

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bernama:
a. Nama Lengkap

: Siti Shofiah

b. No. Induk Mahasiswa

: 106011000181

c. Fakultas/Jurusan

: FITK/PAI (Pendidikan Agama Islam)

d. Judul Skripsi

: “Pembinaan Kesadaran Beragama pada Kehidupan
Anak Jalanan (Studi Kasus di Rumah Singgah Anak
Kurnia)”.

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini telah penulis
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya/skripsi ini bukan hasil karya
penulis, maka penulis bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 25 November 2010

Siti Shofiah

iii

ABSTRAK
Nama
Nim
Judul Skripsi

: Siti Shofiah
: 106011000181
: “Pembinaan Kesadaran Beragama pada Kehidupan
Anak Jalanan (studi kasus di Rumah Singgah Anak
Kurnia)”.

Rumah Singgah merupakan lembaga non formal dengan pendekatan yang
melibatkan keluarga dan masyarakat yang bertujuan mencegah anak-anak ke jalan
dan mendorong penyedian sarana pemenuhan kebutuhan anak. Adapun
pembinaan kesadaran beragama yang dilaksanakan pada Rumah Singgah Anak
Kurnia adalah suatu bentuk proses, bimbingan, arahan, keteladanan yang
dilakukan oleh pendidik kepada anak didik (anak jalanan) mengenai pembelajaran
baik dan buruk untuk bekal mereka bertingkah laku yang baik di dalam
kehidupannya sehari-hari.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari
pembinaan kesadaran beragama yang dilakukan di Rumah Singgah terhadap
tingkah laku anak jalanan dalam kehidupannya sehari-hari. Adapun pembentukan
sikap keagamaan itu sendiri dipengaruhi oleh dua faktor (intern dan ekstern).
Yang termasuk kedalam faktor intern adalah hereditas, tingkat usia, kepribadian
dan kondisi jiwa seseorang. Dan yang termasuk faktor ektern adalah keluarga,
instansi/lembaga, dan masyarakat. Dari kedua faktor tesebut yang banyak
mempengaruhi ke dalam sikap keagamaan seseorang adalah faktor ekstern.
Karena mengingat setiap anak yang dilahirkan kedunia membawa fitrah mereka
masing-masing. Dan disinilah peran penting pendidikan keluarga,instansi/sekolah,
dan masyarakat.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kuantitatif dengan menggunakan metode deskripsi analisia yaitu penelitian yang
memaparkan data apa adanya dan menganalisa data. Adapun jumlah responden
yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 20 anak yang tinggal di Rumah
Singgah Anak Kurnia.
Dari penelitian yang telah dilakukan, penulis memperoleh data mengenai
pembinaan kesadaran beragama pada kehidupan anak jalanan yang dilakukan di
Rumah Singgah Anak Kurnia baik, hal ini dapat dilihat dari hasil interpretasi data
dengan nilai hasil rata-rata skor 78,8%

iv

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim......
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta
alam yang maha pengasih dan penyayang, yang telah memberikan nikmat kepada
hambanya. Berkat rahmat, taufik, dan inayah-Nya skripsi ini dapat terselesaikan.
Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw.,
keluarga, dan para sahabatnya, dan semoga sampai kepada umatnya yang
senantiasa mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Karya tulis yang berjudul “Pembinaan kesadaran beragama pada
kehidupan anak jalanan, merupakan skripsi yang diajukan kepada Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I).
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa
skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, meskipun waktu, tenaga, dan
biaya telah diupayakan dengan segala keterbatasan kemampuan yang penulis
miliki demi terselesaikannya skripsi ini. Namun, kiranya penelitian yang tertuang
dalam skripsi ini dapat memberi manfaat bagi penulis khususnya, dan bagi para
pembaca pada umumnya.
Selama proses penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan
bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis
menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada:
1. Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bpk. Zaimudin, selaku Dosen Pembimbing skripsi, terima kasih atas
segala waktu, tenaga, ilmu, kesabaran, dan keikhlasannya dalam
memberikan ilmu serta membimbing dan arahan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi.

v

4. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan ilmunya selama penulis
mengikuti perkuliahan, semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat
bagi kami semua.
5. Kepala Rumah Singgah Anak Kurnia, yang telah mengizinkan penulis
untuk mengadakan penelitian yayasan/lembaga tersebut, serta para
guru dan pengasuh/pengelola yayasan yang telah banyak membantu
penulis.
6. Pimpinan Perpustakaan Utama, Perpustakaan FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dan Perpustakaan Nasional yang dalam penulisan
skripsi ini memberikan andil besar dalam hal penyediaan bahan
pustaka dan sumber-sumber bacaan untuk kelancaran penulisan skripsi
ini.
7. Orang Tua tercinta, Bapak Empik Syafrudin dan ibu Rukiah dengan
segala perhatian, bimbingan, dorongan dan cinta kasih sayangnya
dalam mendidik dan mengasuh penulis sehingga dapat menempuh
jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi dengan baik.
Semoga segala jasa dan upaya yang telah diberikan menjadi amal
shaleh dan diterima di sisi Allah SWT. amin.
8. Saudara-saudaraku tercinta, lilis, wiwin, aang, irma dan neng ica,
terima kasih atas segala do’a, dan semangatnya.
9. Kepada kakanda (Ropiudin) dengan segala perhatian,bimbingan serta
kasih sayangnya memotivasi penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Sahabat-sahabat terdekat (Yuli, Syifa)

dan sahabat-sahabat kostan

yang selalu menghiasi hari-hari penulis dengan kebersamaan,
keceriaan dan kebahagiaan yang begitu besar. Semoga ukhuwah kita
tetap terjaga dan dirahmati oleh Allah SWT.
11. Teman-teman Mahasiswa FITK angkatan 2006 khususnya mahasiswa
PAI kelas E yang telah memberikan semangat, dukungan, serta
menghiasi dengan kebersamaan, semoga persaudaraan kita tetap
terjaga.

vi

Akhirnya penulis hanya berdo’a semoga bantuan mereka semua
menjadi amal ibadah yang mendapat balasan dari Allah SWT. Setelah
Penulis berusaha dan berdo’a, penulis juga berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. amin.

Jakarta, 25 November 2010

Penulis

vii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAAN DOSEN PEMBIMBING.................................... i
LEMBAR PENGESAHAAN PANITIA UJIAN ............................................... ii
LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................. iii
ABSTRAK ............................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR .......................................................................................... v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................. 5
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah ..................................................... 5
D. Tujuan Penelitian ................................................................................. 6
E. Signifikasi Masalah................................................................................ 6
BAB II KERANGKA TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN
HIPOTESIS PENELITIAN
A.

Pembinaan Kesadaran Beragama
a. Kersadaran beragama ..................................................................... 7
1. Pengertian ................................................................................ 7
2. Latar Belakang Manusia Memerlukan Agama ........................ 9
3. Teori sumber kejiwaagamaan manusia .................................... 10
4. Fitrah Manusia ........................................................................ 11
5. Kebutuhan Manusia ................................................................. 13
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Keberagamaan ........ 17
7. Indikator Sikap keberagamaan ................................................. 23
b. Pembinaan Kesadaran beragama.................................................... 27

viii

B.

Kehidupan Anak Jalanan Beserta Permasalahannya
1. pengertian Anak Jalanan ................................................................ 30
2. karakteristik Anak Jalanan ............................................................. 31
3. Pendekatan Penanganan Anak Jalanan .......................................... 32
4. Masalah-masalah yang di hadapi Anak Jalanan............................. 32

C.

Kerangka Berpikir ............................................................................. 34

D.

Hipotesis .............................................................................................. 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain dan Tempat Penelitian.................................................................... 36
B. Variabel Penelitian ..................................................................................... 36
C. Populasi dan Sampel .................................................................................. 36
D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 37
E. Kisi-kisi Instrumen Penelitian .................................................................... 38
F. Teknik pengolahan dan Analisis Data........................................................ 41

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................... 44
1. Sejarah Berdirinya Rumah Singgah Anak Kurnia ................................ 44
2. Visi dan Misi Rumah Singgah Anak Kurnia ....................................... 45
3. Tujuan,Sasaran dan Kegiatan Keagamaan ............................................ 46
4. Sarana dan Prasarana ............................................................................. 47
5. Profil Rumah Singgah Anak Kurnia .................................................... 47
6. Keadaan guru dan karyawan Rumah singgah anak Kurnia ................... 48

ix

B. Deskripsi Data ............................................................................................ 48
C. Analisis Data .............................................................................................. 74
D. Interpretasi Data ......................................................................................... 86
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................ 90
B. Saran .......................................................................................................... 91
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak jalanan merupakan sekelompok anak yang menghabiskan waktunya
di jalanan. Berkaitan dengan anak jalanan, umumnya mereka berasal dari keluarga
yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan
berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan,
penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan
membuatnya berperilaku negatif.
Mereka itu ada yang tinggal di kota setempat, di kota lain terdekat, atau di
propinsi lain. Ada anak jalanan yang ibunya tinggal di kota yang berbeda dengan
tempat tinggal ayahnya karena pekerjaan, menikah lagi, atau cerai. Ada juga anak
jalanan yang masih tinggal bersama keluarga, ada yang tinggal terpisah tetapi
masih sering pulang ke tempat keluarga, ada yang sama sekali tak pernah tinggal
bersama keluarganya atau bahkan ada anak yang tak mengenal keluarganya.
Karena itu, keharmonisan keluarga antara bapak dan ibu mempunyai
pengaruh besar terhadap tingkah laku anak. Sekian banyak penyakit moral; egois,
anarkis, dan hilangnya rasa percaya diri, sombong, munafik, dan tidak
bertanggung jawab adalah bersumber dan berawal dari suasana kehidupan
keluarga. Sekolahan dan masyarakat tidak mampu meluruskannya. Ada memang
penyakit tersebut yang disebabkan oleh pengaruh teman-temannya (salah

1

2

pergaaulan), tapi dapat kembali baik karena memiliki latar belakang keluarga
yang baik dan moral yang baik yang sudah tertanam sejak kecil. 1
Manusia baik kecil maupun besar, muda ataupun tua, dibekali Allah
dengan seperangkat kebutuhan jasmani yang perlu dipenuhi, tidak hanya
kebutuhan jasmaniah saja yang perlu dipenuhi, akan tetapi ia juga memerlukan
kebutuhan-kebutuhan kejiwaan yang menentukan perkembangan selanjutnya.
Kebutuhan terpokok yang harus dipenuhi adalah kebutuhan rasa kasih sayang dan
rasa aman. Setelah ia lahir, ia memerlukan pemeliharan dari orang yang
dianggapnya dapat membantunya untuk melindungi dirinya setiap saat.
Karena keluarga adalah sumber utama dalam pendidikan anak, yang akan
membentuk kepribadian anak sesuai dengan fitrah mereka semenjak lahir, maka
apabila tidak adanya kesadaran akan rasa tanggungjawab para pendidik (orang
tua), itu akan menimbulkan sebab dari penyimpangan yang akan dilakukan oleh
anak.
Adapun faktor lainnya adalah ketidakharmonisan di dalam keluarga yang
menimbulkan perceraian, dan absennya orang tua karena meninggal dunia
maupun tidak bisa menjalankan fungsinya, serta konflik hubungan orang tua
dengan anak akibat kekerasan dalam keluarga yang mengakibatkan anak
berinisiatif untuk memilih hidup di jalanan. Dan biasanya mereka bertingkah laku
yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Setelah anak memilih untuk keluar dari rumah, mereka akan mencari
teman bermain dan bergaul untuk mengisi kekosongan. Sekiranya teman-teman
itu jahat dan berperangai buruk, tidak mustahil ia akan terbawa dan tertulari. Dan
kemungkinan penyimpangan dan penyelewengan yang dibuat akan semakin
menjadi-jadi dan akhirnya akan menjadi bencana bagi masyarakat dan
negaranya. 2

1

Abudin, Nata, dan Fauzan, Pendidikan dalam Perspektif Hadits ,(Ciputat: UIN Jakarta

Press, 2005), Cet-1. h. 236.
2

. Abdullah, Nashih Ulwan. Pendidikan Anak Menurut Islam (Pemeliharaan Kesehatan
Jiwa Anak), (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990), Cet-1, h. 98.

3

Perkembangan

sosial,

budaya,

politik

ekonomi,

teknologi

serta

perkembangan pertumbuhan penduduk yang cepat, secara langsung maupun tidak
mempengaruhi tatanan kehidupan dan budaya suatu bangsa. Banyak anak yang
terampas haknya untuk bermain dan sekolah. Disebabkan factor ekonomi yang
mengakibatkan ketidakberdayaan orang tua untuk menjaga dan melindungi
mereka serta memenuhi kebutuhannya, sehingga menjadikan anak-anak mereka
sebagai tumpuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau untuk
pembayaran hutang.
Selain faktor ekstern, ada faktor intern yang ikut mempengaruhi sikap
keberagamaan pada diri seseorang. Faktor- faktor intern yang mempengaruhi
tersebut antara lain ialah faktor Hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi
jiwa seseorang yang turut serta mempengaruhi dan membentuk sikap dan prilaku
seseorang.
Masalah sikap dan tingkah laku merupakan masalah yang penting yang di
dalamnya akan mencerminkan sikap dari tingkah laku yang mencerminkan
seseorang beragama. Karena masalah ini penting dalam kehidupan bermasyarakat,
terutama lagi dalam kehidupan anak yang berada di jalanan. Karena biasanya
mereka kurang control bahkan tidak ada control dari orang tua mereka yang
mengakibatkan mereka bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma
masyarakat dan ajaran agama Islam.
Dengan melihat keadaan di atas, yang menyebabkan prilaku menyimpang
sebagai bagian dari kepribadian beragama tatkala seseorang menunjukan hal-hal
yang tidak dapat dimaklumi sebagai prilaku yang mencerminkan kesadaran
beragama, sehingga timbulah upaya untuk memperbaiki penyimpangan prilaku
yang dilakukan oleh anak jalanan.
Selama ini upaya yang dapat dilakukan untuk menangani anak-anak
jalanan biasanya adalah dengan mengeluarkan mereka dari jalanan, memasukan
mereka ke tempat singgah, tempat-tempat pelatihan dan sejenisnya dengan
harapan diberikan bekal pendidikan dan keterampilan tertentu, mengurangi
aktivitas dan kembalinya mereka ke jalanan.

4

Melihat begitu penting pembentukan prilaku anak jalanan yang
mencerminkan prilaku kesadaran beragama, maka penulis merasa perlu untuk
melakukan penelitian berdasarkan latar belakang masalah di atas. Dengan
memilih judul “Pembinaan

Kesadaran Beragama pada Kehidupan Anak

Jalanan” (study kasus di rumah singgah Anak Kurnia).

B. Identifikasi Masalah
1. Kurang efektifnya pendidikan agama dalam keluarga untuk
menanamkan kesadaran beragama.
2. Berkembangan politik, ekonomi yang semakin pesat.
3. Kurang berdayanya orang tua untuk menjaga anak mereka.
4. Tidak adanya pegangan nilai dan moral agama yang dapat
dijadikan pedoman hidup bagi anak jalanan.
5. Kurangnya

jiwa

tolong

menolong

di

dalam

masyarakat

menyebabkan meningkatnya jumlah anak jalanan.
6. Adanya Faktor ekstern dan intern yang ikut mampengaruhi sikap
keagamaan.
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi oleh dua aspek pembinaan kesadaran beragama dan
kehidupan anak jalanan. Yaitu:
1. Kurang efektifnya pendidikan agama dalam keluarga.
2. Tidak adanya pegangan nilai dan moral agama yang dapat dijadikan
pedoman hidup bagi anak jalanan dalam berprilaku yang baik.
2. Rumusan Masalah
Untuk mempermudah penyusunan skripsi ini, maka permasalahan yang
dibahas dapat penulis rumuskan sebagai berikut:

5

“Apakah pembinaan kesadaran beragama dapat berpengaruh pada prilaku
kehidupan anak jalanan?”

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
Untuk menjelaskan sejauhmana pengaruh pembinaan kesadaran
beragama pada kehidupan anak jalanan.
Menganalisa hasil penerapan pembinaan kesadaran beragama pada
kehidupan anak jalanan yang di selenggarakan pada rumah
singgah.
Sebagai syarat penyelesaian tugas akhir S1.
E. Signifikasi Masalah
a. Untuk menjadi bahan pertimbangan dalam memperbaiki dan
meningkatkan

pelayanan bimbingan pada anak jalanan yang

berpengaruh terhadap prilaku berkehidupan.
b. Hasil penelitian ini, dapat dijadikan sumbangan dalam pendidikan,
baik bagi penulis khususnya, dan bagi rumah singgah pada
umumnya.

BAB II
KERANGKA TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN
HIPOTESIS PENELITIAN

A. Pembinaan Kesadaran Beragama
a. Kesadaran Beragama
1.Pengertian
Arti sadar dalam kamus ilmiah adalah ingat akan dirinya; merasa dan
insyaf akan dirinya; siuman; depan; permulaan. 1 Berarti kesadaran ialah ingat
akan dirinya untuk melakukan sesuatu berdasarkan dorongan yang ada dari dalam
jiwa.
Agama berarti “teks” atau “kitab suci” berarti agama diartikan sebagai
tuntunan. Selain kata agama, kita juga mengenal kata din yang dalam bahasa
Indonesia diartartikan mengandung arti dengan agama. Din dalam bahasa Arab
Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab, kata “Din”
mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan.
Selain kata diatas (agama dan din), ada juga yang disebut dengan religi yang
berasal dari bahasa latin asal dari “relegere” yang berarti mengumpulkan dan
membaca. Menurut pendapat lain kata tersebut berasal dari “religare” yang berarti
mengikat. 2

1

Adi, Satrio, Kamus Ilmiah Populer, Visi 7, 2005, h. 524

2

M. Ali, Hasan, Study Islam Al-Qur’an dan Sunnah, ( jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2000), Cet.1. h. 19.

6

7

Harun Nasution mengatakan bahwa definisi agama adalah sebagai berikut:
1) pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang
harus dipatuhi; 2) pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai
manusia; 3) mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang menandung
pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang
mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia; 4) kepercayaan pada suatu
kekuaatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu; 5) suatu sistem tingkah
laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan ghaib; 6) pengakuan terhadap
adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib;
7) pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan
perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat sekitar alam manusia; 8)
ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul. 3
Sedangkan kesadaran beragama menurut Zakiah Darajat ialah; aspek
mental dari aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagian atau segi agama yang
hadir (terasa dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi. Dengan adanya
kesadaran agama dalam diri seseorang yang akan ditunjukan melalui aktivitas
keagamaan, maka munculah pengalaman beragama. Adapun yang dimaksud
dengan pengalaman beragama ialah unsur perasaan dalam kesadaran agama, yaitu
perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dalam tindakan
(amaliah) nyata. 4
Secara fitriyah, manusia diciptakan untuk menjadi abdi Allah, yang mana
dalam hal ini akan tercremin gambaran menyeluruh tentang hubungan timbal
balik antara Pencipta, manusia dan lingkungan dalam konteks pembentukan ihsan
kamil (yang berakhlak karimah) sebagai tujuan akhir

pendidikan islam.

Hubungan dan keterkaitan tersebut sekaligus mencerminkan pola tingkah laku
yang sejalan dengan penciptaan manusia, yaitu menjadi pengabdi Allah yang
setia. 5
3

Harun Natusion, Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1979), jilid

4

Ramayulis, Psikologi Agama,(Jakarta:Kalam Mulia,2009), cet.9, h. 8.

5

Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), Cet.3. h. 9.

1, h. 10.

8

Firman Allah SWT:








Dan (ingatlah), ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksiaan terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman). Bukanlah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, tentu (Engkau Tuhan
kami), kami menjadi saksi. (Q.S. Al-Araf:172). 6
Dengan demikian, anak yang baru lahir sudah memiliki potensi untuk
menjadi manusia yang bertuhan. Walau ada orang yang tidak mempercayai
adanya Tuhan bukanlah merupakan sifat dari asalnya, tetapi erat kaitannya dengan
pengaruh lingkungan.
Jadi,

pada dasarnya kesadaran untuk beragama dan mengabdikan diri

sebagai hamba Allah itu sudah dimiliki oleh masing-masing individu. Karena
pada dasarnyapun hakikat penciptaan manusia untuk mengabdikan dirinya kepada
Allah agar selamat di dunia dan akhirat.

2. Latar Belakang Manusia Memerlukan Agama
Dalam bukunya Prof Dr. Abudin Nata (metodologi study Islam)
mengatakan bahwasannya yang tiga alasan yang melatarbelakangi manusia
memerlukan agama adalah sebagai berikut:
1. Latar belakang fitrah manusia
Bukti bahwa manusia sebgai makhluk yang memiliki potensi beragama ini
dapat dilihat dari bukti historis dan antropologis. Melalui bukti ini kita ketahui

6

Departemen Agama, Mushaf Al-Qur’an Terjemah, (Jakarta: Gema Insani, 2005), QS.
Al A’raaf: 172.

9

bahwa pada manusia promitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi
tentang Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan.

2. Kelemahan dan kekurangan manusia
Disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki
kekurangan yang melatarbelakangi untuk memerlukan agama. Hal ini antara lain
diungkapkan oleh kata nafs. Menurut Abudin Natta yang dikutip dari Quraisy
Shihab, bahwa dalam pandangan Al-Qur’an nafs diciptakan Allah dalam keadaan
sempurna yang berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan
dan keburukan.
3. Tantangan manusia
Faktor ini menyebabkan manusia memerlukan agama karena dalam
kehidupannya manusia senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang
datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam berupa dorongan hawa
nafsu dan bisikan syaitan (lihat QS 12:5;17:53).
Sedangkan tantangan dari luar ialah berupa rekayasa dan upaya manusia
yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan. 7

3.Teori Sumber Kejiwa Agamaan pada Manusia
Bahwa sesungguhnya yang menjadi keinginan dan kebutuhan manusia itu
bukan hanya terbatas pada makan, minum, pakaian ataupun kenikmatankenikmatan lainnya. Pada dasrnya pada diri manusia terdapat semacam keinginan
dan kebutuhan yang bersifat universal. Kebutuhan ini melebihi kebutuhankebutuhan lainnya, bahkan melebihi kebutuhan akan rasa kekuasaan. Keinginan
akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodratri, berupa keinginan untuk
mencintai dan dicintai Tuhan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwasannya manusia ingin mengabdikan
dirinya kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggapnya sebagai zat yang
mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu terdapat pada setiap kelompok,
7

hlm.16.

Abudin Nata, Metodologi Study Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006),

10

golongan, atau masyarakat manusia baik yang paling primitif hingga yang paling
modern.
Karena adanya rasa keinginan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan atau
dengan kata lain “apakah yang menjadi sumber kejiwa agamaan itu? Untuk
menjawab itu timbulah beberapa teori antara lain:

1.

Teori monistik ( mono = satu )
Teori monistik berpendapat, bahwa yang menjadi sumber kejiwa agamaan

itu adalah satu sumber keagamaan. Adapun tokoh teori monistik adalah: Thomas
Van Aquino, Fredrick Hegel, Fredrick Schleimacher, Rudolf Otto, Sigmund
Freud, William Mac Dougall.
2.

Teori Fakulty ( Faculty Teority )
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber

pada satu faktor tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang
memegang peranan penting adalah: fungsi cipta, rasa, dan karsa. 8
3.

Teori Fitrah
Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (tauhid Allah). Manusia lahir

dengan membawa potensi tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk
mengesakan Tuhan dan berusaha secara terus menerus untuk mencari dan
mencapai ketauhidan tersebut. 9
4. Fitrah Manusia
Dalam literatur Islam, istilah fitrah memiliki makna yang beragam. Hal itu
disebabkan oleh pemilihan sudut makna. Fitrah dapat dimaknai secara etimologi,
terminologi bahkan makna nasabi.
a. Makna Nasabi
Makna nasabi diambil dari pemahaman beberapa ayat dan hadits Nabi
dimana kata fitrah itu berbeda. Karena masing-masing ayat dan hadits
8
9

Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2009), h. 53.
Ramayulis, Psikologi Agama ,.... h.9.

11

memiliki konteks yang berbeda-beda maka pemaknaan fitrahpun
mengalami keragaman
Pertama: fitrah berarti suci. Maksud suci disini bukan berarti kosong atau
netral (tidak memiliki kecenderungan baik-buruk).
Kedua: fitrah berarti potensi ber-Islam
Ketiga: fitrah berarti mengakui ke-Esa-an Allah. Manusia lahir dengan
membawa potensi tauhid, atau paling tidak, ia berkecenderungan mengesakan
Tuhan, dan berusaha terus menerus mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.
Keempat: fitrah berarti kondisi selamat dan kontinuitas.
Kelima: fitrah berarti perasaan yang tulus. Manusia lahir dengan
membawa sifat baik. Diantara sifat itu ialah ketulusan dan kemurnian dalam
melakukan aktivitas.
Keenam: fitrah berarti kesanggupan untuk menerima kebenaran.
Ketujuh: fitrah berarti potensi dasar manusia atau perasaan untuk
beribadah dan makrifat kepada Allah.
Kedelapan: fitrah berarti ketetapan atau takdir asal manusia mengenai
kebahagiaan dan kesengsaraan hidup.
Kesembilan: fitrah berarti tabiat atau watak asli manusia.
Kesepuluh: fitrah berati sifat-sifat Allah yang ditiupkan pada setiap
manusia sebelum dilahirkan.
Kesebelas: fitrah dalam beberapa hadist memiliki arti takdir atau status
anak yang dilahirkan.

‫ﺪ‬

‫ ﺪ ﺎ‬: ‫ ﺎل‬،‫ا ﺮي‬
‫ا‬
‫ﺪ‬
‫ ﺪ ﺎ‬: ‫ﺎل‬
‫أ‬
، ‫ﺎ‬
‫أ‬
،
‫ ﺪ ﺎ اﺄ‬، ‫ر ﺔ ا ﺎ‬
‫ا ﺰﺰ‬
‫ )آ ﻮ ﻮد ﻮ ﺪ ﻰ‬: ‫و‬
‫اﷲ‬
‫ ﺎل ر ﻮل اﷲ‬: ‫ ﺎل‬،‫هﺮ ﺮة‬
: ‫ ﺎ ر ﻮل اﷲ‬:
،( ‫ﺮا أو ﺮآﺎ‬
‫ ﺄ ﻮا ﻬﻮدا أو‬،‫ا ﺔ‬

12

‫ ﺪ ﺎ ا وه‬: ‫ﻰ ﺎل‬
‫أ ﻮا ا ﺎهﺮ و أ ﺪ‬
‫ﺪ‬
‫ﺪ اﺮ‬
‫ﺔ‬
‫ﻬﺎب أن أ ﺎ‬
‫ا‬
‫أ ﺮﻰ ﻮ ا ﺰﺪ‬
‫ ﺎ‬: ‫و‬
‫اﷲ‬
‫أ ﺮ أن أ ﺎ هﺮ ﺮة ﺎل ﺎل ر ﻮل اﷲ‬
‫ﻮل ا ﺮأ و ا ﺮة اﷲ ا ﻰ ا ﺎس ﻬﺎ ﻻ‬
‫ﻮ ﻮد اﻻ ﻮ ﺪ ﻰ ا ﺮة‬
11
(
‫ )روا‬. ‫اﷲ ذ ﻚ ا ﺪ ا‬
‫ﺪ‬
b. Makna Terminologi
Berdasarkan makna etimologi dan nasabi maka fitrah menurut terminologi
ialah “citra asli yang dinamis, yang terdapat pada sistem-sistem psikofisik
manusia, dan dapat dikatualisasikan dalam bentuk tingkah laku, citra unik
tersebut telah ada sejak awal penciptaannya.” 12
Hasan langgulung mengatakan:
“Salah satu ciri fitrah ialah, bahwa manusia menerima Allah sebagai
Tuhan, dengan kata lain manusia itu dari asal mempunyai kecenderungan
beragama, sebab agama itu sebagian dari fitrahnya.
Dengan demikian, anak yang baru lahir sudah memiliki potensi untuk
menjadi manusia yang bertuhan. Walau ada orang yang tidak mempercayai
adanya Tuhan bukanlah merupakan sifat dari asalnya, tetapi erat kaitannya dengan
pengaruh lingkungan.
Menurut Yosep Nutti dorongan beragama merupakan salah satu dorongan
yang bekerja dalam diri manusia seperti dorongan-dorongan lainnya, misalnya:
makan, minum, intelek dan lain sebagainnya. Sejalan dengan hal itu dorongan
untuk

beragamapun menuntut untuk dipenuhi sehingga pribadi manusiapun

mendapat kepuasan dan ketenangan. Selain itu dorongan beragama merupakan
‫ )دار ا ﺮ ﺔ‬،‫ﻮرة‬

‫ﻰ‬

‫ﺪ‬

‫ﻰ‬

‫ﻷ‬

‫ا‬

‫ا ﺮ ﺬي ا ﺠﺎ‬

،‫ﺎ‬
‫ﺄ ﻮن‬
‫ ا‬10
.851 .‫ هـ( ص‬209-297 ‫ﺮوت ﺎن‬
11
.458 .‫ ص‬،(‫ ) ﻮ ﺮا ﺎراع‬، ‫ا ﺠﺰ ا‬
12
Abdul, Mujib, dkk, Nuansa-nuansa Psilkologi Islam, ( jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. 2002), Cet.2.h.78-84

13

dorongan insaniah yang tumbuhnya dari gabungan beberapa faktor penyebab yang
bersumber pada sumber dan rasa keagamaan. 13
5. Kebutuhan Manusia
1. Kebutuhan individu
Dalam bukunya Zakiayah Daradjat (peranan Agama dalam kesehatan
mental), membagi kebutuhan manusia atas dua kebutuhan pokok, yaitu : 1.
Kebutuhan primer, 2. Kebutuhan sekunder.
a.

Kebutuhan Primer

Kebutuhan primer yaitu, berupa kebutuhan jasmaniah: seperti makan,
minum, seks dan sebagainya (kebutuhan ini didapat manusia semenjak lahir tanpa
dipelajari). Diantara kebututuhan tersebut yang banyak pengaruhnya terhadap
kesehatan mental ialah kebutuhan seks.
1.

Kebutuhan seks
Pemenuhan kebutuhan ini terutama pada masa remaja demikian

menonjolnya sehingga dapat mendatangkan pengaruh negatif, dengan tidak
terpenuhinya kebutuhan seks ini akan menimbulkan gangguan kejiwaan dalam
bentuk tindakan abnormal, yang disebut sebagai keabnormalan seksuil.
2.

Melarikan diri
Kebutuhan manusia akan perlindungan dan keselamatan baik jasmani

maupun rohani. Perlengkapan dan persenjataan merupakan usaha manusia dalam
menyalurkan kebutuhan proteksi jasmaniahnya, sedangkan agama merupakan
penyaluran proteksi rohaniahnya. Jika kebutuhan ini meningkat ketaraf yang
sudah tidak rasional lagi, maka timbulah rasa takut yang berlebih-lebihan
(phobia).
3. Pencegahan
Kebutuhan manusia untuk mencegah terjadinya reaksi melarikan diri.
Kebutuhan inimerupakan dorongan manusia terhadap tantangan dari luar,
kemudian berusaha menekan, menantang kemudian menyalurkannya.
4.

Ingin tahu
13

Ramayulis, Psikologi Agama , (Jakarta: kalam Mulia, 2009), h.50

14

Kebutuhan rohani manusia untuk ingin mengetahui segala sesuatu
termasuk latar belakang kehidupannya. Yang mana mendorong mengembangkan
dirinya sesuai kodrat hidupnya.
5.

Humor
Kebutuhan manusia untuk mengendorkan beban kejiwaan yang dialaminya

dalam bentuk verbal dan perbuatan.
b. Kebutuhan Sekunder
Kebutuhan sekunder yaitu, kebutuhan rohaniah seperti kebutuhan sosial,
kebutuhan ingin dicintai dan sebagainnya. Kebutuhan ini sudah ada sejak manusia
kecil.
Zakiyah Daradzat membagi kebutuhan sekunder kedalam enam macam,
yaitu:
1. Kebutuhan akan rasa kasih sayang
Kebutuhan akan rasa kasih sayang berperan penting dalam menentukan
sikap dan tingkah laku kejiwaan seseorang.usaha untuk memperoleh rasa kasih
saayang tersebut akan mengakibatkan mereka mengeluh, mengadu dan menjilat,
sebagai usaha untuk memperoleh kasih sayang. Gejala sampingan kehilangan rasa
nafsu makan, kurang tidur, pessimis, sakit kepala, keras kepala dan lain
sebagainya.
2. Kebutuhan akan rasa aman
Tidak adanya rasa aman akan menyebabkan manusia terganggu sikap
intergritas dirinya dengan masyarakat dan dengan lingkungannya. Dampak negatif
tidak taerpenuhinya kebutuhan ini ialah: curiga, buruk sangka, berusaha
mempertahankan diri dengan menggunakan kekuatan fisik (jimat).
3. Kebutuhan akan rasa harga diri
Kebutuhan ini bersifat individual. Jika kebutuhan akan rasa harga diri
tidak terpenuhi menyebabkan seseorang menyombongkan diri, dan sebagainya.
4. Kebutuhan akan rasa bebas
Penyaluran rasa bebas ini sampai merasa lega. Kehilangan rasa bebas akan
menyebabkan seseorang merasa gelisah, tertekan, prustasi dan sebagainya.
Banyak penyakit phisik seperti reumatik, darah tinggi, sakit jantung, lidah kaku,

15

maupun hilang ingatan sebagai akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan akan
rasa bebas.

5. Kebutuhan akan rasa sukses
Penyaluran kebutuhan ini akan menambah rasa harga diri. Pemberian tugas
yang sesuai dengan kemampuan dan ganjaran batin penghargaan terhadap
keberhasilan seseorang merupakan untuk menyalurkan rasa sukses.

6. Kebutuhan akan rasa ingin tahu
Kebutuhan rasa ingin tahu akan terpenuhi melalui pembinaan pribadi
seseorang. Kebutuhan ini jika tidak tersalurkan akan menyebabkan orang
melakukan

tindakan-tindakan

negatif

yang

kurang

dapat

dipertanggungjawabkan.
Menurut Zakiayah Daradjat, adanya kerjasama keenam macam kebutuhan
tersebut menyebabkan orang membutuhkan agama. Melalui agama kebutuhankebutuhan tersebut dapat disalurkan. Yaitu dengan cara melaksanakan ajaran
agama secara benar dan baik maka semua kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.

2. Kebutuhan Sosial
Bentuk kebutuhan ini menurut Guilford berupa:
a. Pujian dan kritikan
b. Kekuasaan dan mengalah
c. Pergaulan
d. Imitasi dan simpati
e. Perhatian

3. Kebutuhan terhadap Agama
Menurut howard ada 9 buah kebutuhan dasar spiritual manusia,
yaitu:

16

1. Kebutuhan akan kepercayaan dasar (basic trus) yang senan tiasa secara
teratur terus-menerus diulang guna membangkitkan kesadaran bahwa
hidup ini adalah ibadah.
2. Kebutuhan akan makna hidup, tujuan hidup dalam membangun
hubungan yang selaras, serasi dan seimbang dengan Tuhannya
(vertikal) dan dengan manusia (horizontal) serta alam sekitarnya.
3. Kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dalam hidup
keseharian. Pengalaman agama hendaknya integratif antara ritual dan
pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kebutuhan akan pengisian keimanan dengan selalu secara teratur
mengadakan hubungan dengan Tuhan. Ini dimaksudkan agar kekuatan
iman tidak melemah.
5. Kebutuhan akan rasa bebas dari rasa bersalah dan berdosa. Rasa
bersalah merupakan beban mental bagi seseorang dan tidak baik bagi
kesehatan jiwa. Dengan melaksanakan ibadah secara sungguh-sungguh
maka seseorang akan terbebas dari rasa bersalah dan berdosa.
6. Kebutuhan akan penerimaan diri dan harga diri, disinilah pentingnya
agama agar martabat manusia tetap pada fitrahnya.
7. Kebutuhan akan rasa aman terjamin dan keselamatan terhadap harapan
masa depan. Dengan adanya kebutuhan ini melahirkan adanya
kepercayaan terhadap hari akhirat. Dengan adanya kepercayaan ini
orang berusaha mencapai keselamatan hidup di akhirat.
8. Kebutuhan akan terpeliharanya interaksi dengan alam dan sesama
manusia. Dengan kata lain, manusia harus menjalin hubungan dengan
makhluk Tuhan yang lain, baik sesama manusia maupun lingkungan
sekitar.
9. Kebutuhan akan kehidupan bermasyarakat yang sarat dengan nilainilai religiusitas. Merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi
kehidupan komunitas keagamaan. Dengan melakukan berbagai

17

kegiatan peribatan bersama merupakan media selain mempererat kasih
sayang dan meningkatkan keimanan. 14
Dengan demikian, dari 9 kebutuhan manusia tersebut, berarti manusia
memerlukan tuntunan. Karena manusia tidak pernah bebas dari berbagai macam
pengalaman senang ataupun susah, takut atau tenang, kecewa atau puas, sakit
atau sehat dan sebagainya. Tuntunan naluri agama yang akan menjadi tuntunan
dalam kehidupan manusia, harus berdasarkan wahyu yang diturunkan kepada
Rasul-Nya.
Dalam keadaan bagaimanapun dan kepada siapa pun juga, agama dapat
memberikan jalan pemecahan, atau jalan keluar dari berbagai macam kesulitan
yang dihadapi. Agama Islam sesuai untuk orang yang sederhana sekalipun dan
sampai kepada pemikir-pemikir yang jenius. 15
Kebutuhan anak akan agama pada umumnya kurang mendapat perhatian
para pendidik dan psikolog. Padahal si anak sejak lahir telah dihadapkan kepada
pengalaman keagamaan, lewat penglihatan, pendengaran, dan perlakuan orang
tuanya terutama di dalam keluarga yang taat beragama. Misalnya anak-anak di
dalam keluarga muslim, begitu lahir telah diperdengarkan di telinganya suara
adzan. Kemudian suara adzan itu akan berulangkali didengarnya setiap waktu
sholat tiba. 16
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Keagamaan.
Manusia sebagai makhluk Allah yang diberi kelebihan dari pada makhluk
lainnya yaitu dianugerahkan untuk mengenal tuhannya. Dari kemampuan untuk
mengenal Tuhan, lahirlah kemampuan untuk beragama. Keduanya fitrah yang
dianugerahkan oleh Tuhan dalam diri manusia.
Dengan kemampuan mengenal Tuhan, manusia dapat memenuhi
kebutuhan jiwanya seperti kebutuhan kebebasan, kebutuhan akan rasa kasih

14

. Ramayulis, Psikologi Agama.... hlm. 38

15

16

M. Ali, Hasan, Study Islam Al-Qur’an dan Sunnah, ... Cet, 1. hlm. 28.

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam keluarga dan Sekolah, (Jakarta:
Ruhama,1995), Cet.2, hlm. 22.

18

sayang, rasa aman dan sebagainya. Namun demikian, tidak setiap orang
mempunyai kesempatan untuk mengenal agama. Hal itu disebabkan karena
orang tuanya acuh tak acuh terhadap agama, ditambah lagi dengan keadaan
lingkungan yang jauh dari nilai-nilai agama. Selain itu ada juga yang mendapat
kesempatan untuk mengenal agama, karena sejak kecil telah dibiasakan dan
dilatih untuk menjalankan agama. Orang tuanya pun taat beribadah dan memberi
contoh yang baik, di samping itu lingkungan masyarakat sekitarnya diwarnai
nilai-nilai agama.
Agama menyangkut batin manusia, oleh karena itu kesadaran beragama
dan pengalaman seseorang lebih menggambarkan sisi-sisi batin dalam
kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sakral dan ghaib. Dari
kesadaran beragama dan pengalaman beragama yang kemudian munculah sikap
keagamaan yang ditampilkan seseorang.
Jadi, dapat disimpulkan bahwasanya sikap keagamaan seseorang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Di bawah
ini akan lebih dijelaskan mengenai dua faktor tersebut adalah:
1. Faktor intern, yaitu faktor dari manusia itu sendiri, karena manusia
adalah homo religius (makhluk beragama) yang sudah memiliki fitrah untuk
beragama. 17
Di sumber lain dikatakan bahwa secara garis besar faktor-faktor yang ikut
berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain adalah sebagai
berikut:
a. Hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang
diwariskan secara turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur
lainnya yang mencakup kognitif, afektif dan konatif. Menurut Sigmund Freud
perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan akan menimbulkan rasa
bersalah (sense of guilt) dalam diri seseorang. Bila pelanggaran yang dilakukan
terhadap larangan agama, maka dalam diri pelakunya akan timbul rasa berdosa,
dan perasaan seperti ini barangkali yang ikut mempengaruhi perkembangan
17

Jalaludin, Psikologi Agama,... hlm. 213.

19

jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas, sebab dari berbagai kasus
pelaku zina sebagian besar memilki latar belakang keturunan dengan kasus
yang sama.
b. Tingkat usia
Meskipun tingkat usia bukan merupakan satu-satunya faktor perkembangan
jiwa keagamaan seseorang, tetapi kenyataan ini dapat dilihat dari perbedaan
pemahaman agama dari tingkat usia yang berbeda.
c. Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur
hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dengan
pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian, dan setiap manusia
memiliki kepribadian yang unik dan berbeda-beda, sehingga perbedaan
tersebut membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan
seseorang.
d. Kondisi jiwa seseorang
Bagaimanapun juga kondisi jiwa seseorang akan berpengaruh pada pandangan
tentang agama, seseorang yang mengidap phobia akan dicekam rasa takut yang
irrasional sehingga pandanganya terhadap agama akan dipengaruhi oleh hal
yang demikian juga. Sedangkan seseorang yang normal akan memandang
agama secara sadar dan dapat berpikir sehat. 18

2. Faktor ekstern, yaitu lingkungan yang dinilai berpengaruh dalam
perkembangan jiwa keagamaan seseorang, karena lingkungan merupakan tempat
dimana seseorang itu hidup dan berinteraksi, lingkungan disini dibagi menjadi
tiga, yaitu keluarga, instuisi dan masyarakat.
Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan,
maka anak akan tumbuh baik pula, begitupun sebaliknya.

18

Jalaludin, Psikologi Agama,... hlm. 241-246

20

Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tujuan terpenting dari pembentukan
keluarga ialah sebagai berikut:


Mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumah tangga.



Mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis.



Mewujudkan Sunnah Rasulullah.



Memenuhi kebutuhan cinta-kasih anak.



Menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpanganpenyimpanagan 19
Jadi, keluarga adalah orang yang pertama bertanggung jawab terhadap

perkembangan atau pendidikan anak yang sedang tumbuh. Hal tersebut
sebagaimana yang telah tertulis dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6: 20

….
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka …
Dalam bukunya Abdul Rachman Shaleh, ada tiga macam lingkungan
keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan keagamaan seseorang
yaitu: 21
1. Keluarga yang sadar akan pentingnya pendidikan agama bagi perkembangan
anak, orang tua dari lingkungan keluarga yang demikian akan selalu
mendorong anaknya untuk kemajuan pendidikan agama serta bersama-sama
mengajak anak untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi laranganya.
Dalam hal ini orang tua dapat mendatangkan guru ngaji atau privat agama serta
menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah madrasah dan mengikuti kursuskursus keagamaan.
19

Abdurrahman, An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat...,

20

Departemen Agama, Mushaf Al-Qur’an Terjemah, (Jakarta: Gema Insani, 2005), QS.

hlm.139.

At-Tahrim ayat 6.
21

Abdul Rachman Saleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, (Jakarta: PT Gemawindu
Pancaperkasa, 2000), Cet. 1, hlm. 96.

21

2. Keluarga yang acuh tak acuh terhadap pendidikan agama anak. Orang tua dari
keluarga seperti ini tidak mendorong ataupun melarang terhadap kegiatankegiatan keagamaan dan bersikap acuh terhadap sikap keagamaan anak-anak
mereka.
3. Keluarga yang antipati terhadap dampak dari keberadaan pendidikan agama di
sekolah atau dari masyarakat sekitarnya. Orang tua dari keluarga seperti ini
akan menghalangi dan menyikapinya dengan kebencian terhadap kegiatan
keagamaan yang dilakukakan oleh anak mereka.
Banyak alasan mengapa pendidikan agama di rumah sangat penting, yang
pertama. Karena pendidikan di sekolah, di masyarakat di rumah ibadahpun
prekuensinya sangat rendah. Karena Pendidikan agama di masyarakat, di rumah
ibadah seperti masjid hanya berlangsung beberapa jam saja setiap minggunya,
sedangkan di sekolah hanya berlangsung dua sampai empat jam pelajaran setiap
minggunya. Alasan kedua, dan yang paling penting bahwasanya inti dari
pendidikan agama islam adalah penanaman iman ke dalam diri seseorang, dan
penanaman iman itu hanya mungkin dilaksanakan secara maksimal dalam
kehidupan sehari-hari dan itu hanya mungkin dilakukan di rumah, karena
pendidikan agama itu intinya adalah pendidikan keberimanan, yaitu usahaa-usaha
menanamkan keimanan di hati anak-anak. 22
Pembentukan kesadaran beragama ini sangat erat kaitannya dengan peran
orang tua sebagai teladan dalam pembentukan pribadi anak, karena orang tua
adalah panutan dan cermin pertama kali yang mereka lihat dan mereka tiru
sewbelum mereka berpaling kepada lingkungan sekitarnya. Yang mana dari
kesadaran beragama tersebut akan menimbulkan sikap atau tingkah laku
beragama.
Perkembangan sikap sosial anak pun terbentuk mulai di dalam keluarga,
orang tua yang penyayang, lemah lembut, adil, dan bijaksana, akan menumbuhkan
sikap sosial yang menyenangkan pada anak, ia akan gembira dan segera akrab
dengan orang lain. Karena ia merasa diterima dan disayangi oleh orang tuanya,
22

Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya,1999), Cet. IV, hlm. 134.

22

maka akan bertumbuh padanya rasa percaya diri dan percaya terhadap
lingkungannya; hal yang menunjang terbentuknya pribadi yang menyenangkan
dan suka bergaul. Seperti dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir
yang artinya:
“Barang siapa yang memberikan teladan suatu kebaikan, maka ia akan
memperoleh pahala ditambah pahala seperti pahala yang didapat oleh
mereka yang meneladaninya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun. Dalam Islam itu, barang siapa yang memberi teladan keburukan,
maka ia akan memperoleh dosa ditambah dosa seperti yang didapat oleh
mereka yang meneladaninya sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka
sedikit pun.”
Dapat penulis simpulkan Jika para pendidik (orang tua) tidak bertanggung
jawab atas perkembangan

serta amanah dalam menjaga anak-anaknya, dan

jeleknya pendidikan mereka dalam keluarga akan membawa atau sebab bagi
seorang anak untuk melakukan penyimpangan. Diantara faktor- faktor dasar
yang menyebabkan penyimpangan anak diantaranya sebagai berikut: 23
• Kefakiran yang menaungi sebagian rumah
• Perselisihan dan konflik antara ibu-bapak
• Perceraian dan implikasi kemiskinan
• Memanfaatkan waktu luang anak dan remaja
• Buruknya perlakuan orang tua terhadap anak
• Kelalaian orang tua terhadap pendidikan anak
• Musibah keyatiman

Lingkungan Institusional
Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa
keagamaan dapat berupa intitusi formal seperti sekolah maupun non formal
seperti perkumpulan atau organisasi.

23

Al Ahwani, Abdullah, Nashih Ulwan. Pendidikan Anak Menurut Islam (Pemeliharaan
Kesehatan Jiwa Anak),... hlm. 97.

23

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang melaksaanakan
pembinaan pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana.
Dalam hubungan ini Zakiah Daradjat mengatakan, bahwasanya;
Lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan pendidikan dan
pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana adalah sekolah. Guru-guru
yang melaksanakan tugas pembinaan, pendidikan dan pengajaran tersebut adalah
orang-orang yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang anak didik, dan
memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas pendidikan.

Guru masuk

kedalam kelas, membawa seluruh unsur kepribadiannya, agamanya, akhlaknya,
pemikiranya, sikap dan ilmu pengetahuan yang dmilikinya. Penampilan guru,
pakaiannya, cara berbicara, bergaul dan memperlakukan anak bahkan emosi dan
keadaan jiwa yang dialaminya, ideologi dan paham yang dianutnya terbawa
tanpa disengaja ketika ia berhadapan dengan anak didiknya. Seluruhnya akan
terserapoleh sianak tanpa disadari oleh guru dan orang tua, bahkan anak sampai
kagum dan sayang kepada gurunya. 24

Lingkungan

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2955 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 651 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 423 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 971 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 886 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 537 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 795 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 957 23