Pergeseran Kata Sapaan dalam Bahasa Minangkabau Dialek Agam di Kota Medan

PERGESERAN KATA SAPAAN DALAM BAHASA MINANGKABAU DIALEK AGAM DI KOTA MEDAN
TESIS
Oleh: RAINA ROSANTI
097009033/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

PERGESERAN KATA SAPAAN DALAM BAHASA MINANGKABAU DIALEK AGAM DI KOTA MEDAN
TESIS
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora dalam Program Studi Linguistik pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara
Oleh:
RAINA ROSANTI 097009033/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: PERGESERAN KATA SAPAAN DALAM BAHASA

MINANGKABAU DIALEK AGAM DI KOTA MEDAN

Nama Mahasiswa : Raina Rosanti

Nomor Induk

: 097009033

Program Studi : Linguistik

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP.) Ketua

(Dr. Deliana, M.Hum.) Anggota

Ketua Program Studi

Direktur

(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.)

(Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE)

Tanggal Lulus : 14 Juli 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada tanggal 14 Juli 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua Anggota

: Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP. : 1. Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D.
2. Dr. Tengku Syarfina, M.Hum. 3. Dr. Deliana, M.Hum.

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN PERGESERAN KATA SAPAAN DALAM BAHASA MINANGKABAU
DIALEK AGAM DI KOTA MEDAN Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri. Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksisanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 14 Juli 2011
Raina Rosanti
Universitas Sumatera Utara

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain Dan hanya kepada Tuhan-Mu lah hendaknya kamu berharap... “
(Q.S Al Insyarah: 6 – 8)
Kugapai cita yang masih tersisa Dikala secercah sinar rembulan di selimuti awan Diantara butir-butir keringat yang masih bercucuran Akhirnya hari ini sepercik keberhasilan telah kudapati
Namun perjalanan ini masih panjang
Dipe rse m b a hka n ke pa da ke dua O ra ng Tua ku, Aya ha nda Drs. H. So fya n Sila hiddin da n Ib unda Hj. Etty Ro ha e ty, Sua m iku Drs. Indra Fa uzi, M.T da n a na k— a na kku Muha m m a d Hilm a n Fa uzi da n
Muha m m a d Iq b a l Fa uzi te rc inta ...Ya ng tia da he nti- he ntinya m e m b e rika n se m a ng a t, do ro ng a n, da n do ’a untuk m e nye le sa ika n
studi ini.
Dan harapan belumlah usai
Dra. Raina Rosanti, M.Hum.
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi

Nama Lengkap : Dra. Raina Rosanti, M.Hum

Jenis Kelamin : Wanita

Tempat/Tgl. Lahir : Bandung/10 Desember 1966

Alamat Rumah : Jalan Pintu Air IV Perumahan Politeknik No 21 Kuala

Bekala Medan - 20142

Telepon

: (061) 836 1655

HP : 0813 7589 2659

Alamat Kantor : Politeknik Negeri Medan, Jurusan Akuntansi

Jl. Almamater No.1 Kampus USU Padang Bulan Medan

Agama

: Islam

II. Riwayat Pendidikan

SD SMP SMA S1
S2

: SD Negeri 95 Palembang Lulus Tahun 1980 : SMP Negeri 4 Palembang Lulus Tahun 1983 : SMA Xaverius 1 Bersubsidi Palembang Lulus Tahun 1986 : FKIP Bahasa Inggris Universitas Sriwijaya Palembang
Lulus Tahun 1991 : PS Linguistik Pascasarjana USU Lulus Tahun 2011

III. Pekerjaan Dosen Politeknik Negeri Medan : Tahun 1994 sampai sekarang

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, dengan segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, kemurahan dan kemudahan yang telah diberikan-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis ini dan sekaligus dapat menyelesaikan studi pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), yang berjudul Pergeseran Kata Sapaan dalam Bahasa Minangkabau Dialek Agam di Kota Medan. Materi yang diuraikan pada tesis ini adalah tentang pergeseran kata sapaan yang meliputi kata sapaan umum, kata sapaan dalam adat menurut kaum, kata sapaan dalam agama, dan kata sapaan jabatan. Materi ini bermanfaat untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pergeseran kata sapaan dalam bahasa Minangkabau Dialek Agam.
Penulis menyadari bahwa tesis ini bukan hasil kerja penulis sendiri. Tesis ini tidak dapat diselesaikan tanpa bantuan, dukungan, bimbingan dan sumbangan pemikiran serta kritikan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI
yang telah memberi bantuan beasiswa (BPPS).
Universitas Sumatera Utara

2. Direktur Politeknik Negeri Medan, Ketua Jurusan dan Kepala Program Studi Perbankan dan Keuangan Politeknik Negeri Medan yang telah memberikan kemudahan selama penulis menjalani kuliah di Universitas Sumatera Utara.
3. Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE yang telah memberi kesempatan untuk mengikuti pendidikan S2 pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
4. Ir. Nasier, Kepala Tata Usaha Sekolah ascasarjana Universitas Sumatera Utara atas bantuannya.
5. Ketua Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Prof. Tengku Silvana Sinar, M.A., Ph.D. dan Sekretaris Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Dr. Nurlela, M.Hum. yang telah banyak membantu selama studi.
6. Dr.Eddy Setia, M.Ed. TESP, Dosen Pembimbing I, yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan dan saran selama penyusunan dan penulisan tesis ini.
7. Dr. Deliana, M.Hum., Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan, saran-saran dan memotivasi serta membantu dalam penyusunan dan penulisan tesis ini.
8 Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., Dosen Penguji I dalam ujian kolokium, seminar hasil dan sidang atas masukan dan koreksi dalam penulisan tesis ini.
Universitas Sumatera Utara

9. Dr.Tengku Syarfina, M.Hum., Dosen Penguji II dalam ujian kolokium, seminar hasil dan sidang atas masukan dan kritikan dalam penulisan tesis ini.
10. Seluruh Dosen pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
11. Orang Tua, Mertua, Suami beserta Anak-anak, dan Saudara-saudara penulis, terima kasih atas dukungan dan kasih sayang serta do’a yang telah diberikan selama ini.
12. Rekan-rekan Angkatan 2009 yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih untuk semua bantuan selama menuntut ilmu bersama-sama.
13 Semua pihak yang telah banyak membantu menyelesaikan tesis ini, termasuk dalam pengisian kuesioner selama penulisan tesis ini. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat ganda atas kemurahan
hati yang telah ikhlas membantu dalam penyusunan tesis ini, semoga bermanfaat dan menjadi amal ibadah bagi kita semua, Amin.
Medan, 14 Juli 2011 Penulis
RAINA ROSANTI
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................... DAFTAR ISI................................................................................... DAFTAR TABEL.......................................................................... DAFTAR GAMBAR...................................................................... DAFTAR LAMPIRAN................................................................. DAFTAR SINGKATAN............................................................... ABSTRAK .................................................................................. ABSTRACT..................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ………………………………………
1.1 Latar Belakang…………………………………….. 1.2 Identifikasi Masalah................................................. 1.3 Rumusan Masalah Penelitian…………………........ 1.4 Tujuan Penelitian………………………………… 1.5 Manfaat Penelitian………………………………… 1.5.1 Manfaat Teoretis………………………………… 1.5.2 Manfaat Praktis…………………………………… BAB II KAJIAN PUSTAKA....................................................... 2.1 Pendahuluan............................................................ 2.2 Sosiolinguistik.........................................................

i iv ix xii xiii xiv xv xvi 1
1 2 3 3 3 4 4 5 5 6

Universitas Sumatera Utara

2.3 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah dalam Masyarakat Indonesia………………
2.4 Sejarah Singkat Bahasa Minangkabau…………… 2.5 Pemilihan Bahasa………………………………… 2.6 Pengertian Sistem Sapaan………………………… 2.6.1 Sistem Sapaan dalam Bahasa Minangkabau……… 2.6.2 Sistem Sapaan dalam Bahasa Minangkabau Dialek
Agam....................................................................... 2.7 Pengertian Istilah Kekerabatan………………… 2.7.1 Istilah Kekerabatan dalam Bahasa Minangkabau
Dialek Agam .........................................…........... 2.8 Pengertian Pergeseran Bahasa…............................ 2.8.1 Konsep Pergeseran Bahasa...................................... 2.8.2 Kerangka Konseptual……………………………… 2.8.2.1 Konsep Pemilihan Bahasa...................................... 2.8.2.2 Konsep Kata Sapaan dalam BMA.......................... 2.8.2.3 Konsep Pergeseran Bahasa.................................... 2.9 Penelitian Terdahulu……………………………… BAB III METODE PENELITIAN………………………........... 3.1 Pendekatan, Rancangan, dan Langkah-langkah Penelitian

9 10 12 13 14
15 20
22 23 23 32 32 33 33 34 36 36

Universitas Sumatera Utara

3.1.1 Pendekatan Penelitian.................................................. 3.1.2 Rancangan dan Langkah-langkah Penelitian................. 3.2 Lokasi Penelitian……………………………………. 3.3 Data dan Sumber Data.................................................. 3.3.1 Sumber Data Primer.................................................... 3.3.2 Sumber Data Sekunder............................................... 3.4 Teknik Pengumpulan Data............................................ 3.4.1 Wawancara dan Observasi Pengamatan........................ 3.4.2 Jadwal Pelaksanaan Pengumpulan Data......................... 3.5 Teknik Pengujian Keabsahan Data…………………..... 3.6 Analisis Data.................................................................. BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN HASIL PENELITIAN ................................................................ 4.1 Paparan Data ................................................... 4.1.1 Identitas Sosial Informan........................................ 4.1.1.1 Jumlah Informan Berdasarkan Jenis Pendidikan... 4.1.1.2 Jumlah Informan Berdasarkan Jenis Pekerjaan.... 4.1.1.3 Pengelompokkan Informan Berdasarkan Penghasilan 4.1.1.4 Jumlah Pemakaian Bahasa Berdasarkan Ranah... 4.1.1.4.1 Ranah Rumah................................................... 4.1.1.4.2 Ranah Masyarakat...........................................

36 37 39 39 39 40 41 41 41 41 42
47 47 47 47 48 50 51 51 53

Universitas Sumatera Utara

4.2 Temuan Penelitian..................................................

54

BAB V PEMBAHASAN PAPARAN DATA DAN TEMUAN

HASIL PENELITIAN ..................................................

61

5.1 Pembahasan Temuan Penelitian Berdasarkan

Pergeseran Kata Sapaan ..........................................

61

5.2 Pembahasan Temuan Penelitian Berdasarkan Faktor-faktor

Penyebab Pergeseran Kata Sapaan untuk Masing-masing Keluarga

informan...............................................................

70

5.2.1 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga I

70

5.2.2 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga II .....

73

5.2.3 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga III

75

5.2.4 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga IV..

78

5.2.5 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga V..

81

5.2.6 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga VI..

83

5.2.7 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga VII..

85

5.2.8 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga VIII.

87

5.2.9 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga IX..

89

5.2.10 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Berdasarkan

Tingkat Pendidikan Informal.........

93

Universitas Sumatera Utara

5.2.11 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Berdasarkan Jenis Pekerjaan....................................... ..
5.2.12 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Berdasarkan Penghasilan...................................... ..
5.2.13 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Berdasarkan Ranah Rumah ..................................................
5.2.14 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Berdasarkan Ranah Masyarakat ..................................................
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN.............................................. 6.1 Simpulan............................................................................ 6.2 Saran...............................................................................
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………. .... LAMPIRAN 1. PEDOMAN WAWANCARA ....................................
2. HASIL WAWANCARA ............................................

100
110
118
126 135 135 135 137 141 150

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel

Judul

Halaman

Tabel 2.1 Kata Sapaan Umum dalam BI dan BMA Tabel 2.2 Kata Sapaan Adat Menurut Kaum dalam BI dan BMA Tabel 2.3 Kata Sapaan dalam Agama dalam BI dan BMA Tabel 2.4 Kata Sapaan dalam Jabatan dalam BI dan BMA Tabel 3.1 Kata Sapaan Umum Tabel 3.2 Kata Sapaan Adat Menurut Kaum Tabel 3.3 Kata Sapaan dalam Agama Tabel 3.4 Kata Sapaan dalam Jabatan Tabel 4.1 Jumlah Informan Berdasarkan Pendidikan Tabel 4.2 Jumlah Informan Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tabel 4.3 Jumlah Informan Berdasarkan Penghasilan Tabel 4.4 Bahasa yang Digunakan dalam Ranah Rumah Tabel 4.5 Bahasa yang Digunakan dalam Ranah Masyarakat Tabel 4.6 Pergeseran Kata Sapaan Umum Tabel 4.7 Pergeseran Kata Sapaan Adat Tabel 4.8 Pergeseran Kata Sapaan Agama Tabel 4.9 Pergeseran Kata Sapaan Kata Jabatan Tabel 5.1 Pergeseran Kata Sapaan Umum Tabel 5.2 Pergeseran Kata Sapaan Adat Tabel 5.3 Pergeseran Kata Sapaan Agama Tabel 5.4 Pergeseran Kata Sapaan Kata Jabatan Tabel 5.5 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Tabel 5.6 Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 5.7 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Umum Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Tabel 5.8 Pergeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 5.9 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Adat Berdasarkan
Tingkat Pendidikan Tabel 5.10 Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 5.11 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Agama Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Tabel 5.12 Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 5.13 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Tabel 5.14 Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tabel 5.15 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Umum Berdasarkan Jenis
Pekerjaan

17 18 19 19 44 45 45 46 48 49 50 52 53 55 56 58 59 61 63 65 67 70 93
93 94
95 96
96 98
98 100
101

Universitas Sumatera Utara

Tabel 5.16 Pergeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tabel 5.17 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Adat Berdasarkan Jenis
Pekerjaan Tabel 5.18 Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tabel 5.19 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Agama Berdasarkan Jenis
Pekerjaan Tabel 5.20 Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tabel 5.21 Pergeseran Rata-rata Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan
Jenis Pekerjaan Tabel 5.22 Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan Penghasilan Tabel 5.23 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan
Penghasilan Tabel 5.24 Pergeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan Penghasilan Tabel 5.25 Rata-rata Pregeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan
Penghasilan Tabel 5.26 Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan Penghasilan Tabel 5.27 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan
Penghasilan Tabel 5.28 Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan Penghasilan Tabel 5.29 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan
Penghasilan Tabel 5.30 Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan Ranah Rumah Tabel 5.31 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan
Ranah Rumah Tabel 5.32 Pergeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan Ranah Rumah Tabel 5.33 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan
Ranah Rumah Tabel 5.34 Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan Ranah Rumah Tabel 5.35 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan
Ranah Rumah Tabel 5.36 Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan Ranah Rumah Tabel 5.37 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan
Ranah Rumah Tabel 5.38 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Berdasarkan
Ranah Rumah Masyarakat Tabel 5.39 Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan Ranah Masyarakat Tabel 5.40 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Umum Berdasarkan Ranah
Masyarakat Tabel 5.41 Pergeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan Ranah Masyarakat Tabel 5.42 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Adat Berdasarkan Ranah
Masyarakat Tabel 5.43 Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan Ranah

104
104 106
106 108
108 110
111 112
113 114
114 116
116 118
119 120
120 122
122 124
124
125 127
127 128
129

Universitas Sumatera Utara

Masyarakat
Tabel 5.44 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Agama Berdasarkan Ranah Masyarakat
Tabel 5.45 Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan Ranah Masyarakat
Tabel 5.46 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Jabatan Berdasarkan Ranah Masyarakat
Tabel 5.47 Rata-rata Pergeseran Kata Sapaan Berdasarkan Ranah Masyarakat

130
133 132 132 133

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
NO. JUDUL
Gambar 4.1 Grafik Tingkat Pendidikan Informan Gambar 4.2 Grafik Jenis Pekerjaan Informan Gambar 4.3 Grafik Kelompok Penghasilan Informan Gambar 4.4 Grafik Data Pergeseran Kata Sapaan Umum Gambar 4.5 Grafik Data Pergeseran Kata Sapaan Adat Gambar 4.6 Grafik Data Pergeseran Kata dalam Agama Gambar 4.7 Grafik Data Pergeseran Kata dalam Jabatan

HALAMAN
48 49 51 55 57 58 60

Universitas Sumatera Utara

NOMOR HALAMAN LAMPIRAN 1 LAMPIRAN 2

DAFTAR LAMPIRAN
JUDUL
PEDOMAN WAWANCARA HASIL WAWANCARA

141 150

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN

BA BD BI BM BMA

= Bahasa Asing = Bahasa Daerah = Bahasa Indonesia = Bahasa Minangkabau = Bahasa Minangkabau Dialek Agam

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Pergeseran Kata Sapaan dalam Bahasa Minangkabau Dialek Agam di Kota Medan, dan dilatarbelakangi karena terjadinya pergeseran kata sapaan dalam bahasa Minangkabau dialek Agam (BMA) di Kota Medan. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan kata sapaan dalam BMA yang mengalami pergeseran, dan (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab pergeseran kata sapaan dalam BMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan mengadaptasi teori Miles dan Huberman. Sumber data informan diperoleh dari empat (4) anak laki-laki dan lima (5) anak perempuan dari sembilan keluarga asli Agam perantauan Medan. Hasil yang diperoleh setelah data dianalisis adalah: (1) kata sapaan yang mengalami pergeseran dalam BMA yang tertinggi adalah kata sapaan dalam adat menurut kaum, kedua kata sapaan dalam agama, ketiga kata sapaan umum, dan yang terendah kata sapaan jabatan, dan (2) faktor-faktor yang menyebabkan kata sapaan tersebut mengalami pergeseran adalah prestise, urbanisasi, peralihan antargenerasi, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat penghasilan, dan variasi pemakaian bahasa. Kata Kunci: Pergeseran, Kata Sapaan, Bahasa Minangkabau Dialek Agam
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT This study is entitled The Shifts of Addressing Words in Minangkabau Language Agam Dialect (BMA) in Medan. It is based on shifts of addressing words occured in local dialect. The objectives of this study are (1) to describe the addressing words in BMA having shift, and (2) to describe the factors causing the shifts on addressing words in that local dialect. This study adapted qualitative descriptive method using Miles and Huberman theories. Informan data are taken from four (4) sons and five (5) daughters of original Agam families who have migrated to Medan. The results show: (1) the highest shift of the addressing words in BMA is addressing words in cultural practices based on local community, in religion matters, in general communication, however the lowest shift of addressing words is in profession. The addressing words shifted are prestige, urbanization, inter-generations shift, educational level, types of profession, income rates, and varities of language use. Keywords: Shifts, Addressing Words, Minangkabau Language Agam Dialect
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Pergeseran Kata Sapaan dalam Bahasa Minangkabau Dialek Agam di Kota Medan, dan dilatarbelakangi karena terjadinya pergeseran kata sapaan dalam bahasa Minangkabau dialek Agam (BMA) di Kota Medan. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan kata sapaan dalam BMA yang mengalami pergeseran, dan (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab pergeseran kata sapaan dalam BMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan mengadaptasi teori Miles dan Huberman. Sumber data informan diperoleh dari empat (4) anak laki-laki dan lima (5) anak perempuan dari sembilan keluarga asli Agam perantauan Medan. Hasil yang diperoleh setelah data dianalisis adalah: (1) kata sapaan yang mengalami pergeseran dalam BMA yang tertinggi adalah kata sapaan dalam adat menurut kaum, kedua kata sapaan dalam agama, ketiga kata sapaan umum, dan yang terendah kata sapaan jabatan, dan (2) faktor-faktor yang menyebabkan kata sapaan tersebut mengalami pergeseran adalah prestise, urbanisasi, peralihan antargenerasi, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat penghasilan, dan variasi pemakaian bahasa. Kata Kunci: Pergeseran, Kata Sapaan, Bahasa Minangkabau Dialek Agam
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT This study is entitled The Shifts of Addressing Words in Minangkabau Language Agam Dialect (BMA) in Medan. It is based on shifts of addressing words occured in local dialect. The objectives of this study are (1) to describe the addressing words in BMA having shift, and (2) to describe the factors causing the shifts on addressing words in that local dialect. This study adapted qualitative descriptive method using Miles and Huberman theories. Informan data are taken from four (4) sons and five (5) daughters of original Agam families who have migrated to Medan. The results show: (1) the highest shift of the addressing words in BMA is addressing words in cultural practices based on local community, in religion matters, in general communication, however the lowest shift of addressing words is in profession. The addressing words shifted are prestige, urbanization, inter-generations shift, educational level, types of profession, income rates, and varities of language use. Keywords: Shifts, Addressing Words, Minangkabau Language Agam Dialect
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa Minang merupakan salah satu Bahasa Daerah yang hidup dan berasal
dari rumpun Austronesia (Salzner, 1960 dalam Keraf, 1984:209), bahasa ini tumbuh dan berkembang di Provinsi Sumatera Barat.
Akibat kebiasaan merantau dalam masyarakat Minangkabau, para perantaunya di Kota Medan ditemukan bahwa terjadi pergeseran kata sapaan mamak, etek menjadi oom, tante. Sebagaimana lazimnya dalam adat Minangkabau semua saudara laki-laki dan adik perempuan dari pihak ibu dipanggil dengan kata sapaan mamak dan etek. Tetapi sekarang yang berkembang terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar lebih suka bila dipanggil dengan sapaan oom, tante daripada mamak, etek. Begitu juga dalam adat dinyatakan bahwa panggilan untuk kata sapaan saudara perempuan dari pihak bapak yang lebih tua maktuo dan yang lebih muda etek; dalam adat Minangkabau mereka dinyatakan sebagai bako - yang dari sistem kekerabatannya kurang dekat atau akrab. Karena hal itu mereka yang di perantauan mengubah kata sapaannya menjadi mama atau ibu diikuti dengan nama panggilan kecilnya untuk membedakan kata sapaan kepada ibu kandung bila disapa dengan mama atau ibu.
Pergeseran ini juga terjadi dalam bahasa Minangkabau dialek Agam (yang selanjutnya disebut dengan BMA); dalam BMA dahulu orang menyapa orang tua laki-
Universitas Sumatera Utara

lakinya dengan apa(k), sekarang umumnya mereka menyapa dengan papa, begitu juga terhadap orang tua perempuan kini mereka menyapa dengan mama, mami, bunda, umi yang pada masa lampau disapa dengan biyai.
Penelitian bahasa Minangkabau (selanjutnya disebut dengan BM) mengenai kata sapaan secara khusus perdialek sudah pernah dilakukan, khususnya untuk dialek Pariaman dan sebagaimana diketahui dialek Agam merupakan dialek standar BM (Ayub dkk.,1993:18). Terjadinya pergeseran-pergeseran inilah dilakukan penelitian untuk mengetahui lebih lanjut kata-kata sapaan apa sajakah yang mengalami pergeseran dengan mengambil judul “Pergeseran Kata Sapaan Bahasa Minangkabau Dialek Agam di Kota Medan”.
1.2 Identifikasi Masalah Faktor penutur bahasa menentukan keberadaan suatu bahasa di tengah-tengah
kehidupan masyarakat. Hal ini bertalian dengan keberadaan BM amat bergantung kepada penuturnya, yang berbahasa ibu BM, di dalam berkomunikasi sehari-hari. Para penutur BM suka tidak suka harus berhubungan dengan penutur bahasa yang lain, seperti bahasa Jawa, bahasa Karo, bahasa Batak, bahasa- bahasa lainnya.
Berdasarkan gejala kebahasaan tersebut akan dijumpai pergeseran dan perubahan bentuk komunikasi antar para penutur pengguna bahasa tersebut. Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah tentang “ Pergeseran kata sapaan
Universitas Sumatera Utara

umum, kata sapaan adat, kata sapaan dalam agama dan kata sapaan jabatan dari aslinya di daerah Agam dengan mereka yang merantau di Kota Medan”.
1.3 Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan paparan terdahulu dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah yang
berhubungan dengan pergeseran kata sapaan dalam bahasa Minangkabau dialek Agam di Kota Medan dirumuskan sebagai berikut. (1) Kata sapaan apakah yang mengalami pergeseran dalam BMA? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kata sapaan tersebut mengalami
pergeseran?
1.4 Tujuan Penelitian Sehubungan dengan masalah-masalah yang telah dipaparkan terdahulu tujuan
penelitian adalah: (1) mendeskripsikan kata sapaan dalam BMA yang mengalami pergeseran, dan (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab pergeseran kata sapaan dalam BMA.
1.5 Manfaat Penelitian Manfaat tulisan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu manfaat teoretis dan praktis;
secara rinci dijabarkan di bawah ini. 1.5.1 Manfaat Teoretis
Universitas Sumatera Utara

Diharapkan temuan penelitian ini a. memperkaya kajian sosiolinguistik, dan linguistik umumnya; b. bermanfaat bagi masyarakat Minangkabau dalam melestarikan budaya
Minangkabau; c. dijadikan sumber acuan bagi para penulis terhadap tulisan sosiolinguistik
selanjutnya, dan d. memotivasi peneliti lainnya yang tertarik meneliti BM umumnya dan BMA
khususnya. 1.5.2 Manfaat Praktis
Temuan penelitian ini diharapkan a. dijadikan materi muatan lokal BM terkait sosiologi BM, terutama yang
bertalian dengan kata sapaan dalam BMA, dan b. dijadikan materi dalam pembuatan kamus, kamus istilah, thesaurus BM, dan
lain-lain.
Universitas Sumatera Utara

BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pendahuluan Bahasa Daerah (selanjutnya disebut BD) sebagai bahasa yang digunakan di
wilayah Nusantara menurut Politik Bahasa Nasional berfungsi sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional dan oleh sebab itu dilindungi oleh negara, sesuai dengan bunyi Penjelasan Pasal 36, Bab XV, UUD 1945. Satu di antara bahasa daerah yang terdapat di Indonesia adalah bahasa Minangkabau (selanjutnya disebut BM).
Berdasarkan kedudukan dan fungsi BD yang penting seperti yang termaktub dalam Politik Bahasa Nasional serta pengaruh BA yang dapat mendesak kedudukan BD, sudah sepantasnya BD dibina dan dikembangkan. Pembinaan dan pengembangan tersebut dapat dilaksanakan dengan berbagai cara diantaranya melalui inventarisasi dan penelitian-penelitian bahasa (Ayub dkk., 1993:2).
Bahasa dan penggunaan bahasa mencakup kegiatan manusia secara keseluruhan, baik yang bersifat ilmiah maupun yang nonilmiah dalam kehidupan sehari-hari umumnya. Bahasa juga berada dalam proses pergeseran (perubahan). Pergeseran itu meliputi bidang fonologi, gramatikal, dan kosa katanya (Hockett, 1965:9 dalam Supriyanto dkk., 1986:1). Pergeseran itu disebabkan oleh pengaruh timbal-balik antara bahasa dan dinamika masyarakat, antara bahasa dan mobilitas bangsa. Interaksi dalam sebuah kelompok kecil berbahasa, ikut berperan sertanya kelompok yang lebih
Universitas Sumatera Utara

besar dalam berbahasa, penggunaan bahasa pada umumnya, penilaian terhadap bahasa, penyimpangan terhadap bahasa, variasi berbahasa secara regional, sosial, secara etnis dan fungsional, secara agama, dan pembinaan serta politik bahasa secara nasional dan politis, termasuk dalam bidang kerja penelitian sosiolinguistik yang menarik (Parera, 1965:21 dalam Supriyanto dkk., 1986:1).
Secara umum orang Minangkabau dahulu dalam menyapa orang tua lakilakinya dengan apa(k), buya, tetapi pada masa kini mereka memilih menyapa dengan papa, papi, abih,; begitu juga terhadap orang tua perempuan mereka tidak lagi menyapa dengan biyai, anduang, mandeh, tetapi menyapa dengan kata sapaan mama, mami, ibu, bunda, umi. Pergeseran kata sapaan ini tidak hanya untuk kedua kata sapaan ini saja tetapi juga kata sapaan lainnya. Sebagaimana diketahui dahulu dalam masyarakat Minangkabau anak laki-laki bila disapa cukup dengan (bu)yuang dan anak perempuan dengan (u)piak, tetapi sekarang mereka dipanggil dengan nama kecilnya (Moussay, 1998:187) .
2.2 Sosiolinguistik Sosiolinguistik membahas keterkaitan antara bahasa dan masyarakat, yang dapat
dikaji secara terpisah, yakni struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh Sosiologi (Wardhaugh, 1988; Holmes, 1993:1). Istilah Sosiolinguistik itu sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Haver C Curie pada tahun
Universitas Sumatera Utara

1952 dalam Dittmar (1978:27) dinyatakan perlu adanya kajian perihal hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial.
Bahasa dalam kajian Sosiolinguistik didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. Dengan kata lain Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin sosiologi dan linguistik. Jadi sosiolinguistik dapat diartikan ilmu yang membahas bahasa bertalian dengan penutur bahasa tersebut selaku anggota masyarakat.
Sosiolinguistik selaku ilmu antardisiplin memiliki pokok bahasan yang amat luas. Nababan menyatakan (1984:3) ada tiga masalah pokok yang dianalisis sosiolinguistik, yakni (a) masalah bahasa dalam konteks sosial dan kebudayaan; (b) masalah hubungan faktor-faktor kebahasaan, ciri-ciri dan ragam bahasa dengan situasi serta faktor-faktor sosial dan budaya; (c) masalah fungsi-fungsi sosial dan penggunaan bahasa dalam masyarakat.
Selanjutnya berdasarkan ketiga masalah tersebut di atas Nababan menjabarkan beragam topik yang dapat dianalisis dalam Sosiolinguistik, seperti: (1) bahasa, dialek, idiolek dan ragam bahasa; (2) repertoar bahasa; (3) masyarakat bahasa; (4) kedwibahasaan dan kegandabahasaan; (5) fungsi kemasyarakatan bahasa dan profil Sosiolinguistik; (6) penggunaan bahasa (etnografi berbahasa); (7) sikap bahasa; (8) perencanaan bahasa; (9) interaksi Sosiolinguistik; dan (10) bahasa dan kebudayaan.
Tidak seperti titik perhatian kajian linguistik umum lainnya, yakni bahasa, sosiolinguistik tidak mengkaji bahasanya melainkan memberi perhatian pada aspekaspek yang di luar bahasa tersebut, tetapi masih terkait dengan persoalan bahasa,
Universitas Sumatera Utara

sebagai contoh sikap suatu kelompok orang terhadap bahasa tertentu, atau fungsi dialek tertentu untuk keperluan tertentu. Jadi dalam hal ini sosiolinguistik digunakan sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat yang terefleksi dalam segala kegiatan di dalam masyarakat tersebut seperti upacara perkawinan, seni budaya, pemberian nama pada bayi yang baru lahir, dan lain sebagainya. Semua upacara tersebut tentu saja tidak terlepas dari pemakaian bahasa. Dapat disimpulkan bahwa Sosiolinguistik terkait erat dengan pemakaian bahasa yang sebenarnya.
Dirumuskannya tujuh dimensi dalam penelitian Sosiolinguistik pada Konferensi Sosiolinguistik pertama yang dilaksanakan di University of California Los Angeles tahun 1994 dalam Chaer dan Agustina (1995:7), yaitu: (1) identitas sosial penutur; (2) identitas sosial pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi; (3) lingkungan sosial tempat tutur terjadi, (4) analisis sinkronik dan diakronik dialek-dialek sosial; (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran; (6) tingkatan variasi dan ragam linguistik; dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik.
Sehubungan dengan bidang kajian Sosiolinguistik di atas penelitian pergeseran kata sapaan BMA terkait tiga dimensi masalah dalam Sosiolinguistik. Identitas sosial penutur mendeskripsikan orang yang menyapa, identitas sosial pendengar mendeskripsikan orang yang disapa dan lingkungan tempat tutur terjadi mendeskripsikan pemakaian bahasa dalam masyarakat.
Universitas Sumatera Utara

2.3 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah dalam Masyarakat Indonesia Bangsa Indonesia (selanjutnya disebut BI) adalah masyarakat pengguna dua
bahasa atau lebih. Medan selaku ibukota Provinsi Sumatera Utara didiami beragam etnis dengan beragan budaya dan bahasa.
Meskipun beragam budaya dan bahasa, BI dipakai sebagai alat komunikasi antarkelompok etnis yang beragam tersebut dan bahasa daerah memiliki kedudukan dan fungsi yang beragan pula dalam masyarakat Indonesia. Menurut Gunarwan (2000:63) BD berfungsi sebagai bahasa intrasuku, bukan bahasa antarsuku. Ini bermakna bahwa pada tingkat daerah BD mempunyai fungsi pemersatu para anggota suku dan sekaligus ia pemisah suku itu dari suku-suku yang lain, yang menggunakan BD-BD yang lain.
Berdasarkan hasil seminar Politik Bahasa Indonesia, BI memiliki fungsi selaku bahasa nasional dan negara, dan bahasa seperti BM berlaku sebagai BD. Dampaknya adalah kedua bahasa ini diterima oleh masyarakat daerah di Indonesia sebagai dua bahasa yang mampu berdampingan dan saling mengisi dalam peri kehidupan mereka.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa BI dan BD mempunyai fungsi dan kedudukan yang berlainan di dalam masyarakat Indonesia. BD meliputi bidang kehidupan sehari-hari dalam ranah keluarga sementara BI dalam ranah kehidupan resmi. Bertalian dengan penjelasan – perjelasan tersebut
Universitas Sumatera Utara

akan diteliti apakah BI memiliki fungsi dan kedudukan khusus bagi penutur BMA di Kota Medan sehingga menyebabkan pergeseran kata sapaan dalam BMA.
2.4 Sejarah Singkat Bahasa Minangkabau Bahasa Minangkabau adalah satu di antara sepuluh besar bahasa-bahasa daerah
yang tumbuh dan berkembang di Indonesia (Ayub dkk.,1993:13). Di wilayah Provinsi Sumatera Barat BM merupakan bahasa pertama (bahasa ibu). Di samping itu merupakan alat komunikasi antaranggota keluarga dan masyarakat dan juga alat pendukung kebudayaan daerah. Atau dengan kata lain BM menempati posisi sebagai bahasa daerah yang berfungsi: (a) sebagai lambang kebangsaan daerah Sumatera Barat dan pendukung perkembangan kebudayaan Minangkabau; (b) sebagai lambang identitas daerah Sumatera Barat dan masyarakat Minangkabau sebagai satu suku bangsa di Indonesia; (c) sebagai alat perhubungan dalam keluarga dan masyarakat dalam komunikasi lisan; juga komunikasi lisan antaretnis di Sumatera Barat. Dalam hubungannya dengan BI, BM berfungsi: (a) sebagai bahasa pengantar pada tingkat permulaan di Sekolah Dasar untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain; (b) sekaligus berfungsi sebagai alat pendukung pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional; dan (c) sebagai alat untuk pengembangan serta pendukung kebudayaan nasional di daerah Sumatera Barat (Ayub dkk.,1993:1314).
Universitas Sumatera Utara

Dari apa yang telah dipaparkan di atas, ini menunjukkan bahwa BM memiliki kedudukan dan fungsi sebagai satu diantara beberapa bahasa daerah yang penting di kawasan nusantara. Hal ini didasari oleh: (1) jumlah penuturnya; (2) luas penyebarannya; dan (3) peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya yang dianggap bernilai (Ayub dkk., 1993:14).
Andai jumlah penuturnya dijadikan ukuran, maka BM berhubungan erat dengan jumlah penduduk di Sumatera Barat dan perantau Minangkabau. Naim (1975) dalam Ayub dkk. (1993:14) menyatakan dalam penelitiannya memprediksi perantau Minangkabau di luar Sumatera Barat setara dengan jumlah penduduk Minangkabau. Secara tradisional, Ranah Minangkabau dahulu mulai dari Sungai Kampar di sebelah timur, dan masuk jauh ke pedalaman, di sepanjang Sungai Indragiri dan Sungai Batang Hari, di sebelah tenggara. Di sebelah selatan, mulai dari Kerinci hingga Bengkulu. Pada masa kini, dapat dinyatakan BM dipakai sampai Padang Sidempuan; tempat bermulanya bahasa Batak ke arah utara. Di sebelah timur sampai Bangkinang dan Kuantan, yang berbatasan dengan wilayah bahasa Melayu Riau. Gunung Kerinci dan gunung Seblat merupakan batas dengan wilayah bahasa Kerinci dan bahasa Rejang Lebong (Moussay, 1998:9). Hal ini menunjukkan bahwa BM berfungsi secara penuh sebagai BD, yaitu sebagai sarana komunikasi lisan antara suku Minangkabau. Menurut Ayub dkk. (1993:13-14) fungsi BM sebagai bahasa daerah, yaitu antara lain menyatakan rasa intim dan rasa hormat, lebih dapat memudahkan berkomunikasi dengan lawan bicara.
Universitas Sumatera Utara

Daerah BM terbagi atas dua bagian, yaitu bagian darat dan rantau. Bagian darat sebagai pemukiman tertua suku bangsa Minangkabau, dan daerah rantau sebagai pemukiman baru. Daerah darat terdiri atas tiga luhak (wilayah), yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota. Dan daerah rantau merupakan daerah-daerah pesisir pantai barat dan timur Sumatera yang merupakan perluasan dari daerah Minangkabau.
Berdasarkan pembagian wilayah tersebut, secara tradisional BM dikelompokkan menjadi empat macam dialek: dialek Tanah Datar, Lima Puluh Kota, Agam dan Pasisir (Moussay, 1998:21-22).
2.5 Pemilihan Bahasa Menurut Fasold (1984:180) hal pertama yang terbayang bila memikirkan bahasa
adalah merupakan bahasa secara keseluruhan (whole language). Maknanya yang terbayangkan oleh seseorang dalam masyarakat bilingual atau multilingual berbicara dengan memakai dua bahasa atau lebih dan harus memilih yang mana harus dipakai. Dalam pemilihan bahasa, terdapat tiga jenis pilihan: (1) dengan alih kode (code switching) yaitu memakai suatu bahasa pada suatu domain dan memakai bahasa lain pada domain yang lain; (2) dengan campur kode (code mixing), yakni memakai satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan bahasa lain; dan (3) dengan memakai suatu variasi dalam satu bahasa (variation within the same language).
Universitas Sumatera Utara

Menurut Fishman (dalam Chaer dan Agustina, 1995:204) untuk menelaah pemilihan bahasa dapat dilaksanakan dengan memakai konteks institutional tertentu yang disebut dengan domain, yang di dalamnya menunjukkan kecenderungan menggunakan satu variasi tertentu daripada variasi lain. Domain dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi, topik, dan partisipan, seperti keluarga, tetangga, teman, transaksi, pemerintahan, pendidikan, dsb. Misalnya jika seorang penutur berbicara dalam lingkungan keluarga maka dikatakan berada dalam domain keluarga. Analisis domain ini biasanya terkait dengan analisis diglosia, sebab ada domain yang formal dan domain yang tidak formal. Di masyarakat yang diglosia untuk domain yang tidak formal dapat digunakan bahasa ragam rendah (low language), sedangkan dalam domain yang formal dipakai bahasa ragam tinggi (high language). Maka pemilihan satu bahasa atau ragam bahasa tergantung domainnya.
2.6 Pengertian Sistem Sapaan Sistem sapaan (address system) yang ada di dalam suatu masyarakat terkait
pada bentuk hubungan orang menyapa dengan orang yang disapa. Kridalaksana (2008:224) mendefinisikan sistem sapaan adalah sistem yang mengikat unsur-unsur bahasa yang menandai perbedaan status dan peran partisipan dalam berkomunikasi dengan bahasa. Misalnya dalam BI kata-kata seperti engkau, anda, saudara, dan sebagainya merupakan unsur-unsur sistem sapaan.
Universitas Sumatera Utara

Menurut Fasold (1993:1) Address forms are the speakers use to designate the person they are talking to while they are talking to them. In most language, there are two main kinds of address forms: names and second person pronouns. (Bentukbentuk kata sapaan adalah merupakan pembicara menggunakan kata –kata sapaan untuk menyapa kepada orang yang sedang diajak berbicara. Dalam menyapa dikenali ada dua cara yang dapat digunakan kepada lawan bicara, yaitu dengan nama dan kata ganti orang kedua. Dengan kata lain dapat digunakan nama pertama atau gelar maupun nama belakangnya) (terjemahan penulis).
Sapaan adalah cara mengacu seseorang di dalam interaksi linguistik yang dilakukan secara langsung (Crystal, 1991:7). Menurut Kridaklasana (1974:14), semua bahasa mempunyai bahasa tutur, yakni sistem yang mempertautkan seperangkat katakata atau ungkapan yang dipakai untuk menyapa para pelaku dalam suatu peristiwa.
Crystal (1991:7) memberikan batasan perihal kata sapaan; yaitu dianalisisnya tipe-tipe partisipan dan dibedakan berdasarkan situasi sosial dan kaidah-kaidah untuk menjabarkan penulisan pemakaian istilah yang dilakukan oleh si pembicara, sebagai contoh pemakaian nama pertama, gelar, dan pronomina.
Brown dan Ford dalam tulisannya yang berjudul Address in American English dalam Lever dan Hutcheson (1972:120) menyatakan bahwa dalam berkomunikasi orang memakai pilihan bentuk linguistik menurut tingkat keeratan hubungan antara pembicara dan mitra bicara. Mereka menjumpai kaidah sapaan seperti pilihan nama pertama (first name) yang sifatnya resiprokal atau gelar dan nama terakhir (title and
Universitas Sumatera Utara

last name). Resiprokal hubungan nonsimetris didapati jika terjadi perbedaan usia atau pangkat dalam jabatan. 2.6.1 Sistem Sapaan dalam Bahasa Minangkabau
Sapaan yang berlaku di Minangkabau kalau dilihat dari segi pemakaiannya dapat dibagi menjadi sapaan umum, sapaan adat, sapaan agama, dan sapaan jabatan (Ayub dkk., 1984:10). Pemakaian jenis kata sapaan umum berkaitan dengan hubungan tidak resmi, baik di dalam kerabat maupun dengan orang lain di luar kerabat. Sapaan adat berkaitan dengan gelar adat dalam perkembangan adat Minangkabau yang diwariskan menurut garis keturunan ibu. Orang yang memakai gelar adat biasanya disapa menurut gelarnya sebagaimana pepatah mengatakan ketek banamo, gadang bagala ’kecil diberi nama, besar diberi gelar’. Sistem sapaan mencerminkan sistem sosial budaya masyarakat Minangkabau yang berlandaskan adat dan syarak. Hal ini tercermin dalam pepatah Minangkabau yang berbunyi syarak mangato adat memakai artinya syarak mengatakan dan adat memakai. Misalnya seorang yang menjabat penghulu (kepala kaum) di Minangkabau dipanggil datuak dan bukan dipanggil namanya (Amir M.S., 2007). 2.6.2 Sistem Sapaan dalam Bahasa Minangkabau Dialek Agam
Kabupaten Agam merupakan satu di antara beberapa daerah di Sumatera Barat. Ada dua pemahaman perihal daerah Agam, yaitu wilayah Agam berdasarkan administrasi dan wilayah Agam berdasarkan kebudayaan Minangkabau. Wilayah Agam berdasarkan administrasi mencakupi wilayah luhak Agam ditambah sebagian
Universitas Sumatera Utara

wilayah Pariaman (Tiku dan Lubuk Sikaping). Sedangkan wilayah Agam berdasarkan kebudayaan mencakupi wilayah luhak Agam saja (Syafyahya dkk., 2000:7).
Kata sapaan yang akan dijabarkan berikut ini merupakan kata sapaan yang dipakai di wilayah Agam berdasarkan kebudayaan (Luhak Agam).
Di Kabupaten Agam, di samping berlaku gelar adat seperti di daerah lainnya di Minangkabau- gelar adat yang diperoleh dari garis keturunan ibu yang akhirnya dapat membuat si pemilik gelar diangkat menjadi kepala suku dalam kaumnya atau diangkat selaku penghulu, juga terdapat gelar adat yang diperoleh dari pihak ayah yang diturunkan kepada anak-anak lelakinya pada saat akan dilangsungkan pernikahan yang diberikan oleh pihak bakonya--saudara perempuan ayahnya. Sebagai contoh dalam BMA nama Syaifuddin disapa Udin atau gelarnya Sutan Bandaro – gelar yang diperolehnya dari bako (keluarga ayah karena telah menikah), dan sebagainya (Moussay, 1998:191-192).
Kata sapaan di wilayah Agam bisa dibagi atas dua sapaan, yaitu kata sapaan kekerabatan dan kata sapaan nonkekerabatan. Kata sapaan kekerabatan merupakan pertalian langsung atau tidak langsung dan cara pemakaian kata sapaan pada umumnya.
Sementara kata sapaan nonkekerabatan meliputi, yaitu (1) kata sapaan bidang agama, (2) kata sapaan bidang adat, dan (3) kata sapaan jabatan.
Kata sapaan bidang agama merupakan kata sapaan yang dipakai untuk menyapa orang yang terlibat dan bekerja dalam bidang agama; hal ini menyangkut pengetahuan
Universitas Sumatera Utara

seseorang perihal agama Islam khususnya. Kata sapaan bidang adat merupakan kata sapaan yang dipakai untuk menyapa orang yang menduduki jabatan dalam adat. Pemakaian kata sapaan ini sesuai jabatan yang bersangkutan dalam adat tersebut. Sementara kata sapaan umum dipakai untuk menyapa orang lain. Pemakaian kata sapaan ini ditentukan oleh usia, pekerjaan, dan status sosial (Syafyahya dkk., 2000: 12-13). Berikut ini diberikan panduan untuk keempat kata sapaan tersebut, yaitu kata sapaan umum, kata sapaan adat menurut kaum, kata sapaan dalam agama, dan kata sapaan dalam jabatan dalam BI dan BMA.
Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1 Kata Sapaan Umum dalam BI dan BMA

Jenis Kata Sapaan dalam BI

Jenis Kata Sapaan dalam BMA

1. Panggilan terhadap Ibu kandung Ibu

inyiak (uci), nenek, enek, amai gaek

2. Panggilan terhadap Ibu kandung

biyai, (a)mak, amai, uwai

3. Panggilan terhadap kakak Perempuan Ibu
4. Panggilan terhadap adik Perempuan Ibu

maktuo, mak adang, mak angah Etek

5. Panggilan terhadap kakak dan adik laki- mak dang, mak etek

laki Ibu

6. Panggilan terhadap Ayah kandung

abak, abah, ayah, (a)pa, apak, buya

7. Panggilan terhadap Kakak dan Adik Laki-laki Ayah Kandung
8. Panggilan kakak dan Adik Perempuan Ayah
9. Panggilan terhadap Kakak Laki-laki
Kandung 10. Panggilan terhadap Adik Laki-laki
Kandung 11. Panggilan terhadap Kakak
Perempuan Kandung Panggilan terhadap Adik Perempuan Kandung 13. Panggilan terhadap Istri

pak tuo, pak dang, pak angah, pak etek mak tuo,etek
tuan, uwan, uda, panggil nama
adiak, panggil nama
(ka)kak, uni, panggil nama
adiak, panggil nama
panggil nama, amaknyo, uwai, iyak

14. Panggilan terhadap Suami

tuan, uda, gelarnya, apaknyo

15. Panggilan terhadap Anak Kandung

Buyuang

Laki-laki

16. Panggilan terhadap Anak Kandung

Upiak

Perempuan

17. Panggilan terhadap Cucu Kandung

panggil nama

Laki-laki

18. Panggilan terhadap Cucu Kandung

panggil nama

Perempuan

19. Panggilan terhadap Ayah Kandung

U(w)o, gaek, antan

dari Ibu dan Ayah Kandung dari

Ayah

(Diadaptasi dari Kuesioner Hepy Yen Trisny, 2006)

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2 Kata Sapaan Adat Menurut Kaum dalam BI dan BMA

Jenis Kata Sapaan dalam BI

Jenis Kata Sapaan dalam BMA

1. Panggilan terhadap Penghulu
1. Panggilan terhadap Menantu Laki-laki

Datuak
sutan, bagindo, malin nama kecil/panggilan

3. Bisan (orang tua ibu dan ayah) dari istri atau suami anak kandung bisan
4. Mintuo (ibu dan ayah) kandung dari istri atau suami Mintuo
5. Istri kakak laki-laki kandung timudo
6 . Minantu (istri atau suami anak Kandung)
7. Ipa (saudara kakak dan adik istri atau suami)

bisan
mintuo mama/mak/ibu
uni diikuti nama kecil/panggilan sama minantu nama kecil/nama panggilan ipa nama kecil/panggilan

8. Para pendatang yang menikah dengan wanita setempat

sutan, bagindo, malin nama kecil/nama panggilannya

(Diadaptasi dari Kuesioner Hepy Yen Trisny, 2006)

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.3 Kata Sapaan dalam Agama dalam BI dan BMA

Jenis Kata Sapaan dalam BI
1. Panggilan terhadap orang yang menjaga Mesjid atau Surau garin (garim)
2. Panggilan terhadap orang yang membaca doa
3. Panggilan terhadap orang yang tahu
tentang agama dalam penyelenggaraan mayat
4. Panggilan untuk petugas agama yang
mengawinkan orang tuan kadi
5. Panggilan untuk menyapa orang yang
mengetahui ajaran agama (ulama) buya, ustad
6. Panggilan terhadap orang yang bertugas
sebagai tukang

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1615 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 415 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 376 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 235 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 487 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 427 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 276 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 509 23