Partisipasi karyawan berhubungan positif dan agak lemah dengan nilai peluang 0,005. Namun hubungannya denga kepuasan psikologik berpengaruh
cukup besar karena karyawan berhadap dapat berpartisipasi dalam pemecahan masalah perusahaan berupa rapat-rapat yang sering diadakan sehingga karyawan
merasa bagian penting dalam perusahaan, dengan begitu karyawan dapat bekerja sepenuh hati dan memiliki rasa self belonging yang tinggi terhadap perusahaan.
Pengembangan karir dan komunikasi memiliki hubungan positif dengan nilai korelasinya sebesar 0,283 dan 0,278. Nilai tersebut menggambarkan bahwa
kesempatan pengembangan karir melalui berbagai pelatihan dan promosi jabatan berpengaruh pada tingkat kepuasan psikologik. Semakin besar perusahaan
membuka peluang pengembangan karir maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan psikologik karyawan.
4.4.3 Hubungan Faktor-faktor QWL dengan Kepuasan Finansial
Berdasarkan hasil uji korelasi Rank Spearman yang dilakukan pada faktor lingkungan yang aman, penyelesaian konflik, komunikasi, kebanggaan dan
pengembangan karir tidak memiliki hubungan dengan kepuasan finansial, terlihat nilai korelasi yang berada pada rentang 0,00-0,25. Hal ini mengindikasikan bahwa
faktor-faktor tersebut tidak berhubungan dengan kesejahteraan karyawan, termasuk pemberian gaji, insentif maupun jaminan hari tua yang diberlakukan
oleh perusahaan. Faktor partisipasi karyawan, kesehatan kerja dan kompensasi memiliki hubungan positif dan agak lemah dengan kepuasan finansial dengan
nilai peluang masing-masing sebesar 0,022, 0,002 dan 0,002. Nilai korelasi ketiga faktor tersebut adalah 0,286, 0,383 dan 0,380 yang mendekati +1 sehingga
dinyatakan positif, nilai korelasi berada pada rentang 0,26-0,50 menunjukkan hubungan yang agak lemah. Nilai peluang kurang dari tingkat signifikansi
menunjukkan adanya hubungan yang nyata. Hubungan yang positif menunjukkan bahwa partisipasi karyawan,
kesehatan kerja dan kompensasi berperan penting dalam meningkatkan kepuasan finansial dengan intensitas yang lemah. Semakin karyawan diberikan kompensasi
yang memuaskan sesuai dengan beban kerja, maka semakin tinggi kepuasan finansialnya. Kompensasi dapat diberikan berupa insentif yang sesuai, uang
lembur, jaminan hari tua maupun asuransi kecelakaan kerja. Namun pihak
manajemen sepertinya kurang merespon aspek ini. Padahal hal ini sudah menuai banyak pembicaraan negatif dari karyawan. Kemudian kepuasan finansial dapat
dipengaruhi langsung oleh partisipasi karyawan. Kemudian kepuasan finansial dapat dipengaruhi langsung oleh partisipasi karyawan. Partisipasi karyawan
berupa hasil kerja yang maksimal, koordinasi yang baik disetiap divisi, serta meminimalkan kesalahan produksi secara langsung meningkatkan pendapatan
perusahaan, dengan begitu nilai kompensasi yang diberikan kepada karyawan akan semakin besar pula. Hubungan faktor-faktor QWL dengan kepuasan
finansial dapat dilihat pada Tabel 23 berikut ini.
Tabel 23. Hubungan Faktor-faktor Quality of Work Life dengan Kepuasan
Finansial No.
Faktor-faktor QWL
Nilai Nilai
Hubungan dengan Kepuasan Finansial
Korelasi Peluang
1. Kesehatan Kerja
0,383 0,002
Positif dan agak lemah 2.
Kompensasi 0,380
0,002 Positif dan agak lemah
3. Partisipasi Karyawan
0,286 0,022
Positif dan agak lemah 4.
Penyelesaian Konflik 0,253
0,043 Tidak ada hubungan
5. Kebanggaan
0,169 0,183
Tidak ada hubungan 6.
Pengembangan Karir 0,061
0,631 Tidak ada hubungan
7. Komunikasi
0,023 0,856
Tidak ada hubungan 8.
Lingkungan yang Aman -0,010
0,937 Tidak ada hubungan
4.4.4 Hubungan Faktor-faktor QWL dengan Kepuasan Sosial Berdasarkan hasil uji korelasi korelasi Rank Spearman antara faktor-faktor
QWL diperoleh hasil bahwa faktor lingkungan yang aman 0,164, komunikasi 0,077, kompensasi 0,271 dan pengembangan karir 0,852 tidak memiliki
hubungan dengan kepuasan sosial, karena nilai peluang yang dihasilkan berada diatas ta
raf nyata α = 0,05. Hal tersebut disebabkan karena kepuasan sosial merupakan bentuk interaksi perusahaan dengan masyarakat atau hubungan
kemasyarakatan serta mengenai pandangan masyarakat terhadap perusahaan dan karyawannya, dan meliputi hubungan kekeluargaan sesama karyawan maupun
dengan atasannya, sebagai contoh perusahaan mengadakan kegiatan CSR Corporate Social Responsibility, seperti mengadakan kegiatan amal,
pembangunan jalan, merekrut karyawan yang berdomisili disekitar perusahaan dan menjadi sponsor acara-acara tertentu.
Tabel 24. Hubungan Faktor-faktor Quality of Work Life dengan Kepuasan
Sosial No.
Faktor-faktor QWL
Nilai Nilai
Hubungan dengan Kepuasan Sosial
Korelasi Peluang
1. Penyelesaian Konflik
0,397 0,001
Positif dan agak lemah 2.
Kebanggaan 0,395
0,001 Positif dan agak lemah
3. Kesehatan Kerja
0,304 0,015
Positif dan agak lemah 4.
Partisipasi Karyawan 0,299
0,016 Positif dan agak lemah
5. Komunikasi
0,223 0,077
Tidak ada hubungan 6.
Lingkungan yang Aman 0,176
0,164 Tidak ada hubungan
7. Kompensasi
0,140 0,271
Tidak ada hubungan 8.
Pengembangan Karir 0,024
0,852 Tidak ada hubungan
Faktor partisipasi karyawan dan kesehatan kerja yang memiliki nilai peluang sebesar 0,016 dan 0,015 dengan nilai korelasi 0,299 dan 0,304 yang
diartikan memiliki hubungan positif dan agak lemah. Begitu pula dengan faktor penyelesaian konflik dan kebanggaan yang memiliki nilai peluang yang sama
sebesar 0,001. Nilai korelasi kedua faktor tersebut masing-masing sebesar 0,397 dan 0,395 mendekati +1 sehingga dinyatakan positif, nilai korelasi yang
dihasilkan berada pada rentang 0,26-0,50 sehingga dinyatakan memiliki hubungan yang agak lemah. Partisipasi karyawan berpengaruh menciptakan hubungan baik
dengan masyarakat, hal tersebut dapat ditunjukkan dengan sikap sehari-hari karyawan, baik di dalam maupun di luar lingkungan perusahaan, karena akan
dapat menumbuhkan pandangan baik terhadap karyawan itu sendiri dan perusahaan, sehingga terjaga keharmonisan antara perusahaan dengan lingkungan
sekitarnya, ketika terjadi konflik eksternal maka perusahaan mampu mengatasinya dengan baik.
Faktor kesehatan kerja berhubungan langsung dengan kepuasan sosial, karena perusahaan memproduksi cat dan bahan kimia lainnya serta melakukan
pengolahan limbah yang berdampak buruk terhadap kesehatan karyawan maupun mesyarakat sekitar perusahaan. Hal itu kemudian menjadi perhatian khusus
masyarakat di luar lingkungan perusahaan. Oleh karena itu, pihak perusahaan melakukan antisipasi hal tersebut dengan memberikan peralatan kerja yang aman
dan melakukan pengolahan limbah yang tidak mencemari lingkungan, sehingga kegiatan perusahaan dapat berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Kemudian dari serangkaian kegiatan perusahaan yang menganggap akan pentingnya hubungan sosial kemasyarakatan, maka secara tidak langsung
menumbuhkan rasa bangga menjadi karyawan di perusahaan tersebut, karena karyawan dan perusahaan mendapatkan pencitraan baik dari orang-orang di luar
lingkungan perusahaan.
4.5. Implikasi Manajerial