Strategi Industri Kecil Mengembangkan Usaha Di Era Perdagangan Bebas (Studi Deskriptif Strategi Pengrajin Sepatu di Kawasan PIK, Jl.Menteng VII Kel. Medan Tenggara).

STRATEGI INDUSTRI KECIL MENGEMBANGKAN USAHA
DI ERA PERDAGANGAN BEBAS
(Studi Deskriptif Strategi Pengrajin Sepatu di Kawasan PIK, Jl.Menteng VII
Kel. Medan Tenggara)

SKRIPSI
OLEH :

Rizki Verina Simorangkir
060901066

DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Daftar Isi
KATA PENGANTAR ……………………………………………………
ABSTRAK………………………………………………………………..
DAFTAR ISI……………………………………………………………...
DAFTAR TABEL…………………………………………………………

i
iii
iv
vi

Bab I PENDAHULUAN…………………………………………………. 1
1.1 Latar belakang masalah……………...…………….………..… 1
1.2 Perumusan masalah……………………………........................ 9
1.3 Tujuan penelitian…………………………………………….... 9
1.4 Manfaat penelitian…………………………………………..… 9
1.5 Defenisi konsep………………………………………….….... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA…………………………………………….. 12
2.1 Keberadaan industri kecil …………………………………..… 13
2.2 Industri Kecil di Era Perdagangan Bebas……………………... 15
2.3 Dampak Perdagangan Bebas Industri Kecil……….………….. 19
2.4 Jaringan Sosial………………………………………………… 19
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………… 23
3.1 Jenis Penelitian…………………………………………………. 23
3.2 Lokasi Penelitian……………………………………………….. 24
3.4 Unit Analisa dan Informan……………………………………… 24
3.4 Teknik Pengumpulan Data………………………………….….. 25
3.5 Interpretasi Data………………………………………………… 26
3.6 Jadwal Kegiatan………………………………………………… 28
3.7 Keterbatasan Penelitian………………………………………… 29
BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA………………. 30
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian……………………………………… 30
4.1.1 Sejarah Kelurahan Menteng………………………………. 30
4.1.2 Letak dan Keadaan Wilayah…………………………….… 30
4.1.3 Luas Wilayah……………………………………………… 31
4.1.4 Jumlah penduduk…………………………………………. 31
4.1.5 Sarana Pendidikan………………………………………… 36
4.2 Profil informan…………………………………………………… 37
4.4 Temuan Data…………………………………………………….. 44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………… 71
5.1 Kesimpulan………………………………………………………. 71
5.2 Saran…………………………………………………………....... 72

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Perdagangan bebas adalah hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan
ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan,
investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi lain sehingga
batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Persaingan yang cukup ketat di
pasar kerja menyebabkan angkatan kerja semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Hal ini menjadi sangat penting untuk di pertimbangkan menyikapi perdagangan bebas
yang akan terjadi.
Industri kecil menjadi salah satu alternatif yang dianggap mampu mengurangi
tingginya jumlah pengangguran, karena sektor formal yang menuntut ketrampilan,
ternyata juga memberikan tempat yang kecil jika dibandingkan dengan arus deras
pencari kerja. Usaha untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondunsif menjadi
tantangan dalam pertumbuhan ekonomi untuk mendukung peningkatan produktivitas
Indonesia yang dapat diklasifikasikan menjadi industri besar, sedang, kecil, dan juga
industri rumah tangga.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi industri kecil
sepatu dalam mengembangkan usahanya di era perdagangan bebas. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, dimana informasi dikumpulkan
melalui wawancara dan observasi pasif yang meliputi pengrajin sepatu dan pembeli di
kawasan pusat industri kecil (PIK) serta jaringan sosial di lingkungan PIK.
Wawancara dilakukan dengan beberapa informan yang di pandang memiliki
pengalaman dan dapat memberikan penjelasan tentang kegiatan industri kecil sepatu
di kawasan ini, dan survey dilakukan ketika mereka sedang melakukan proses
produksi. Data hasi penelitian di olah dan dideskripsikan sesuai dengan konteksnya
secara kualitatif.
Hasil dari penelitian ini membahas tentang persaingan, kurangnya modal,
aspek sumber daya manusia, manajemen, strategi yang digunakan untuk usaha
produksi kecil sepatu, pemanfaatan jaringan sosial dalam pengembangan usaha dan
pengaruh masuknya sepatu dari luar (impor). Persaingan sering kali muncul diantara
para pengrajin sepatu di PIK Menteng pada saat mencari dan membeli bahan baku.
Kelangkaan bahan baku menjadi alasan yang mendasar terjadinya persaingan, kondisi
seperti ini mengakibatkan masing-masing pengrajin khawatir akan tidak tersedianya
bahan baku bagi proses produksi mereka. Persaingan juga terdapat dalam hal desain
produk dan lokasi penjualan sepatu. naiknya harga bahan baku, kesulitan
mendapatkan bahan baku yang berkualitas karena terkendala dana maka sering kali
tidak bisa untuk memenuhi permintaan dan akhirnya banyak pengrajin tersebut yang
tidak mampu bertahan dan mengalami kebangkrutan. Selain persaingan, hambatan
yang dialami pengrajin yaitu kesulitan memperoleh modal usaha. Para pengrajin juga
mempertimbangkan aspek sumber daya manusia dan memberlakukan adanya
manajemen usaha untuk mempertahankna eksistensi usaha mereka. Strategi produksi
yang digunakan para pengrajin lebih difokuskan pada ketersediaan modal. Setiap
pengrajin membentuk jaringan luas sebagai strategi pemasaran mereka, dimana
mereka menjalin hubungan baik dengan pedagang. Selain itu untuk memasarkan
produknya setiap pengrajin sepatu memliki agen tetap atau langganan, hal tersebut

Universitas Sumatera Utara

dilakukan agar produk mereka tetap terjual. Hubungan antar pengrajin sepatu di
kawasan PIK Menteng berjalan dengan baik sehingga terbentuk lingkungan industri
dengan persaingan yang sehat.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Perdagangan bebas adalah hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan
ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan,
investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi lain sehingga
batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Persaingan yang cukup ketat di
pasar kerja menyebabkan angkatan kerja semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Hal ini menjadi sangat penting untuk di pertimbangkan menyikapi perdagangan bebas
yang akan terjadi.
Industri kecil menjadi salah satu alternatif yang dianggap mampu mengurangi
tingginya jumlah pengangguran, karena sektor formal yang menuntut ketrampilan,
ternyata juga memberikan tempat yang kecil jika dibandingkan dengan arus deras
pencari kerja. Usaha untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondunsif menjadi
tantangan dalam pertumbuhan ekonomi untuk mendukung peningkatan produktivitas
Indonesia yang dapat diklasifikasikan menjadi industri besar, sedang, kecil, dan juga
industri rumah tangga.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi industri kecil
sepatu dalam mengembangkan usahanya di era perdagangan bebas. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, dimana informasi dikumpulkan
melalui wawancara dan observasi pasif yang meliputi pengrajin sepatu dan pembeli di
kawasan pusat industri kecil (PIK) serta jaringan sosial di lingkungan PIK.
Wawancara dilakukan dengan beberapa informan yang di pandang memiliki
pengalaman dan dapat memberikan penjelasan tentang kegiatan industri kecil sepatu
di kawasan ini, dan survey dilakukan ketika mereka sedang melakukan proses
produksi. Data hasi penelitian di olah dan dideskripsikan sesuai dengan konteksnya
secara kualitatif.
Hasil dari penelitian ini membahas tentang persaingan, kurangnya modal,
aspek sumber daya manusia, manajemen, strategi yang digunakan untuk usaha
produksi kecil sepatu, pemanfaatan jaringan sosial dalam pengembangan usaha dan
pengaruh masuknya sepatu dari luar (impor). Persaingan sering kali muncul diantara
para pengrajin sepatu di PIK Menteng pada saat mencari dan membeli bahan baku.
Kelangkaan bahan baku menjadi alasan yang mendasar terjadinya persaingan, kondisi
seperti ini mengakibatkan masing-masing pengrajin khawatir akan tidak tersedianya
bahan baku bagi proses produksi mereka. Persaingan juga terdapat dalam hal desain
produk dan lokasi penjualan sepatu. naiknya harga bahan baku, kesulitan
mendapatkan bahan baku yang berkualitas karena terkendala dana maka sering kali
tidak bisa untuk memenuhi permintaan dan akhirnya banyak pengrajin tersebut yang
tidak mampu bertahan dan mengalami kebangkrutan. Selain persaingan, hambatan
yang dialami pengrajin yaitu kesulitan memperoleh modal usaha. Para pengrajin juga
mempertimbangkan aspek sumber daya manusia dan memberlakukan adanya
manajemen usaha untuk mempertahankna eksistensi usaha mereka. Strategi produksi
yang digunakan para pengrajin lebih difokuskan pada ketersediaan modal. Setiap
pengrajin membentuk jaringan luas sebagai strategi pemasaran mereka, dimana
mereka menjalin hubungan baik dengan pedagang. Selain itu untuk memasarkan
produknya setiap pengrajin sepatu memliki agen tetap atau langganan, hal tersebut

Universitas Sumatera Utara

dilakukan agar produk mereka tetap terjual. Hubungan antar pengrajin sepatu di
kawasan PIK Menteng berjalan dengan baik sehingga terbentuk lingkungan industri
dengan persaingan yang sehat.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Globalisasi perdagangan bebas adalah satu kata yang mungkin paling banyak
dibicarakan orang selama akhir tahun ini,dengan pemahaman makna yang beragam
namun apa yang dipahami dengan istilah globalisasi akhirnya membawa kesadaran
manusia, bahwa globalisasi itu ditandai dengan lajunya teknologi komunikasi dan
informasi. Dalam perdagangan bebas ini terdapat persaingan yang tinggi,akan
mengalami perubahan-perunahan cepat.
Perdagangan bebas dapat dimaknai sebagai proses integrasi dunia disertai dengan
ekspansi pasar (barang dan uang) yang di dalamnya mengandung banyak implikasi
bagi kehidupan manusia. Bagi negara maju karena ketersediaan dukungan berbagi
keunggulan, barangkali hipotesis itu dapat menjadi kenyataan. Bagi kebanyakan
negara berkembang dengan berbagai macam kondisi keterbelakangan merasa
khawatir bahwa integrasi dunia hanya akan menguntungkan pemilik modal (negaranegara maju) dan akan menimbulkan malapetaka bagi negara-negara berkembang.
Laju pertumbuhan pembangunan pada sektor modern yang berlangsung
dengan sangat cepat ternyata tidak dapat menyelesaikan masalah perolehan
kesempatan kerja bagi masyarakat. Dengan adanya sentralisasi kegiatan ekonomi
yang berpusat di perkotaan dan di sektor industri, maka kesempatan tenaga kerja
mengalami pergeseran dengan sendirinya, bergerak meninggalkan sektor pertanian

Universitas Sumatera Utara

dan memasuki kegiatan ekonomi yang baru yaitu sektor industri di perkotaan yang
lebih menjanjikan.
Kegagalan tenaga kerja untuk memasuki pasar kerja formal pada umumnya
disebabkan oleh berbagai hal, seperti rendahnya tingkat kreatifitas dan kualitas
sumber daya manusia (SDM) yang dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, jenis
keahlian dan ketrampilan yang mereka miliki tidak sesuai dengan permintaan pasar
tenaga kerja.
Persaingan yang cukup ketat di pasar kerja menyebabkan angkatan kerja
semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Usaha untuk menciptakan lingkungan
usaha yang kondunsif menjadi tantangan dalam pertumbuhan ekonomi untuk
mendukung peningkatan produktivitas Indonesia yang dapat diklasifikasikan menjadi
industri besar, sedang, kecil, dan juga industri rumah tangga.
Industri kecil menjadi salah satu alternatif yang dianggap mampu mengurangi
tingginya jumlah pengangguran, karena sektor formal yang menuntut ketrampilan,
ternyata juga memberikan tempat yang kecil jika dibandingkan dengan arus deras
pencari kerja.
Indusrti kecil terdiri dari unit usaha berskala kecil yang memproduksi dan
mendistribusikan barang, dengan tujuan menciptakan kesempatan kerja bagi dirinya
masing-masing yang dibatasi oleh faktor modal dan ketrampilan. Industri kecil ini
akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup pelaku usahanya.
Untuk melakukan kegiatan usaha pada industri kecil tidak dibutuhkan
persyaratan yang ketat, seperti keahlian yang khusus, tingkat pendidikan, sejumlah
modal tertentu, serta berbagai prosedur lainnya. Pada dasarnya jika mereka memiliki

Universitas Sumatera Utara

kemauan, sedikit pengetahuan dan ketrampilan praktis, serta peralatan yang
sederhana dan keuletan dalam berusaha, maka setiap orang dapat melakukan usaha
pada bidang ini.
Keberadaan industri kecil pada saat ini, telah menjadi harapan baru bagi
sebagian besar masyarakat yang tumbuh bersamaan dengan kegagalan yang terjadi
pada sektor pertanian di pedesaan dan juga akibat dari tidak adanya situasi simbolis
mutualis antara desa dan kota, antara perubahan yang terjadi di perkotaan dengan
kesempatan kerja yang tersedia. Stabilitas industri kecil (Usaha Kecil dan Mikro),
secara tidak langsung akan memperkuat perekonomian Indonesia yang sedang
mengalami krisis moneter sekitar pertengahan tahun 1997.
Perkembangan usaha kecil dan menengah merupakan faktor penting bagi
pembangunan pertumbuhan ekonomi di kota Medan. Karakteristik dan kinerja
industri kecil sangat efesien, produktif, dan memiliki responsibilitas yang tinggi
terhadap

kebijakan-kebijakan pemerintah dalam sektor swasta dan peningkatan

pertumbuhan ekonomi yang berorientasi ekspor. Keberadaan unit usaha kecil yang
cukup banyak dan hampir disemua sektor ekonomi serta besarnya kontribusi dalam
penciptaan kesempatan kerja, membuat eksistensi usaha industri kecil di kota Medan.
Sebagaimana diketahui, kota Medan sebagai ibu kota

provinsi Sumatera

Utara sekaligus sebagai pusat perdagangan mengalami perkembangan yang pesat baik
di sektor perdagangan maupun di sektor industri dan jasa termasuk pengembangan
sub sektor industri dan kerajinan. Di samping itu,keberadaan industri kecil yang
merupakan salah satu subsektor dari sektor industri, tidak dapat disangkal kalau

Universitas Sumatera Utara

sektor industri telah memberikan kontribusi yang begitu besar bagi perekonomian di
kota Medan.
Hal ini ditunjukan dengan sumbangan sektor industri terhadap pembentukan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota Medan atas dasar harga berlaku
mencapai 16,92% tahun 2004, 16,58% tahun 2005, 16,30% tahun 2006, 16,28%
tahun 2007, 15,98% tahun 2008. (BPS,2008)
Tabel 1.1
Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri Kecil
Tahun

Jumlah Industri Kecil
(Unit)

Tenaga Kerja
(Orang)

2004

5.309

9.429

2005

5.290

9.135

2006

5.275

8.728

2007

5.270

8.174

2008

5.102

7.919

Sumber : Deperindag Kota Medan, 2008

Berdasarkan tabel 1.1 di atas, selama kurun waktu 2004 – 2008, industri kecil
di Kota Medan mengalami penurunan sebesar 207 unit selama kurun waktu lima
tahun dengan laju penurunan rata – rata pertahunnya sebesar 0,28 %. Sementara itu,
jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri kecil di Kota Medan selama periose
2004 – 2008 juga mengalami penurunan dari 9.429 pada tahun 2004 menjadi 7.919
orang dari tahun 2008. dengan demikian, selama tahun 2004 – 2008, perkembangan
industri kecil di Kota Medan mengalami penurunan rata – rata 337 orang pertahun.
Selama kurun waktu lima tahun (2004 - 2008) perkembangan industri sepatu
di Kota Medan juga memperlihatkan perkembangan yang relatif kecil. Begitu juga

Universitas Sumatera Utara

kemampuan industri kecil sepatu ini dalam menyerap tenaga kerja di Kota Medan
juga menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan. Hal ini terlihat dari
tabel berikut :
Tabel 1.2
Perkembangan Industri Kecil Sepatu di Kota Medan
Tahun

Jumlah Industri Kecil Sepatu

Jumlah Tenaga Kerja

(Unit)

(Orang)

2004

414

705

2005

419

737

2006

421

747

2007

422

752

2008

426

769

Sumber : Disperindag Kota Medan 2008

Tabel 1.2. menunjukkan laju pertumbuhan industri kecil sepatu hanya 0,99 %
per tahun dalam kurun waktu 2004-2008. Demikian juga dalam kemampuan industri
kecil sepatu yang menyerap tenaga kerja pada kurun waktu 5 tahun hanya mampu
tumbuh sebesar 0,21 %. Perkembangan yang kurang menggembirakan tersebut tentu
tidak lepas dari kualitas sumber daya manusia yang tersedia. Pratiwi (2006),
menyimpulkan bahwa ketidaktersediaan tenaga kerja terampil pada industri kecil
sepatu di Kota Medan menjadi penghambat dalam peningkatan hasil produksi.
Beberapa tahun terakhir ini pemerintah memang mulai memperhatikan sektor
industri kecil sebagai salah satu sektor yang dianggap cukup mampu untuk bertahan
menghadapi kondisi krisis ekonomi yang dihadapi Negara Indonesia. Industri kecil
dapat dikatakan memiliki peranan dalam perluasan kesempatan kerja didaerah

Universitas Sumatera Utara

pedesaan dalam masalah kemiskinan, sehingga sector ini merupakan salah satu sector
perekonomian

rakyat

yang

dianggap

mampu

mengurangi

pengangguran,

mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, serta berperan dalam proses
industrialisasi.
Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap keberadaan industri kecil maka
pemerintah

membuat

kebijakan–kebijakan

yang

diharapkan

akan

dapat

mempertahankan keberadaan industri kecil tersebut. Salah satu industri kecil yang
berada di Sumatera Utara pemerintah membuat kebijakan dalam pengembangan
industri dengan berbagai strategi. Salah satu kebijakannya adalah membangun lokasi
khusus untuk industri kecil menengah (UKM) yang di beri nama Pusat Industri Kecil
(PIK) yang terletak di Kecamatan Medan Denai.
Lokasi PIK ini beradan di tempat yang terpisah dengan masyarakat kelurahan
Medan Tenggara lainnya, karena PIK tersebut berada di dalam suatu lingkungan yang
memang di khususkan bagi para pengusaha industri kecil. Kecamatan Medan Denai
ini merupakan salah satu kawasan dengan berbagai aktivitas usaha kecil di kota
Medan yang memiliki beragam bidang kerajinan seperti sepatu,konveksi,tas. Jumlah
pengrajin sepatu pada enam kelurahan yang ada di kecamatan Medan Denai terdiri
dari 245 pengrajin, sedangkan pengrajin sepatu yang ada di kelurahan Medan
Tenggara (Menteng) berjumlah 140 pengrajin. Untuk tetap bertahan dalam usahanya
mereka membutuhkan campur tangan baik dari pemerintah, swasta maupun LSM /
LPSM yang bertujuan untuk menambah nilai tambah (Value added) seperti
penyuluhan, bantuan modal, bantuan teknis, manajemen dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Untuk menghadapi persaingan pengrajin sepatu harus beradaptasi dengan
kondisi dan keadaan yang terjadi). Dengan adanya berbagai masalah yang dihadapi
oleh pengrajin sepatu seperti : keterbatasan modal, bahan baku, kualitas sumber daya
manusia yang masih rendah, kurangnya aspek informasi dan jaringan bisnis,
kurangnya pengetahuan

tentang kemitraan, rendahnya kemampuan/kapasitas

persaingan dan rendahnya pengetahuan tentang perizinan serta perlindungan. Ini
menunjukkan sepertinya sulit untuk mempertahankan kehidupan sebagai pengrajin.
Namun pengrajin sepatu tetap menjalankan usaha dagangnya walaupun pendapatan
pengrajin sepatu itu tidak tetap.
Perdagangan bebas membuka peluang sekaligus tantangan bagi industri kecil
sepatu, karena pada era ini daya saing produk sangat tinggi, live cycle product relatif
pendek mengikuti trend pasar, dan kemampuan inovasi produk relatif cepat. Ditinjau
dari sisi ekspor, liberalisasi berdampak positif bukan terhadap produk pengrajin
sepatu saja melainkan tekstil/pakaian jadi, akan tetapi kurang menguntungkan sektor
pertanian khususnya produk makanan.
Mengingat ketatnya persaingan yang dihadapi usaha kecil sepatu ini maka
mengambil langkah-langkah strategis, baik jangka panjang maupun jangka pendek.
Langkah-langkah

strategis

jangka

panjang

diantaranya

diarahkan

untuk

mengembangkan sumber daya manusia, teknologi dan jaringan bisnis secara global.
Sedangkan langkah-langkah strategis jangka pendek diantaranya, melakukan
diversifikasi produk, menjalin kerjasama dengan pemerintah dan perusahaan besar,
produksi, memperkuat akses ke sumber-sumber informasi dan perbaikan mutu.
( http://www.smecda.com/deputi7/file_Infokop/EDISI%2023/tulustambunan.5.htm).

Universitas Sumatera Utara

Mulai 1 Januari 2010 Indonesia membuka pasar dalam negeri secara luas kepada
negara-negara ASEAN dan Cina. Pembukaan pasar ini merupakan perwujudan dari
perjanjian perdagangan bebas antara enam negara anggota ASEAN (Indonesia,
Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei Darussalam) dengan Cina, yang
disebut dengan ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA). Produk-produk
impor dari ASEAN dan China akan lebih mudah masuk ke Indonesia dan lebih murah
karena adanya pengurangan tarif dan penghapusan tarif, serta tarif akan menjadi nol
persen dalam jangka waktu tiga tahun (Dewitari,dkk 2009). Sebaliknya, Indonesia
juga memiliki kesempatan yang sama untuk memasuki pasar dalam negri negaranegara ASEAN dan Cina.
Beberapa kalangan menerima pemberlakuan ACFTA sebagai kesempatan,
tetapi di sisi lain ada juga yang menolaknya karena dipandang sebagai ancaman.
Dalam ACFTA, kesempatan atau ancaman (Jiwayana, 2010) ditunjukkan bahwa bagi
kalangan penerima, ACFTA dipandang positif karena bisa memberikan banyak
keuntungan bagi Indonesia. Pertama, Indonesia akan memiliki pemasukan tambahan
dari PPN produk-produk baru yang masuk ke Indonesia. Tambahan pemasukan itu
seiring dengan makin banyaknya obyek pajak dalam bentuk jenis dan jumlah produk
yang masuk ke Indonesia. Beragamnya produk China yang masuk ke Indonesia
dinilai berpotensi besar mendatangkan pendapatan pajak bagi pemerintah. Kedua,
persaingan usaha yang muncul akibat ACFTA diharapkan memicu persaingan harga
yang kompetitif sehingga pada akhirnya akan menguntungkan konsumen (penduduk /
pedagang Indonesia)

Universitas Sumatera Utara

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi-strategi pengrajin sepatu
yang dilakukan dalam mengembangkan industri kecil sepatu di tengah munculnya era
perdagangan bebas.

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di latar belakang masalah,
penulis tertari untuk melakukan penelitian. Yang menjadi pokok permasalahan dalam
penelitian

ini

adalah

:

Bagaimana

strategi

industri

kecil

sepatu

dalam

mengembangkan usahanya di era perdagangan bebas?

1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana strategi industri kecil sepatu dalam mengembangkan usahanya di era
perdagangan bebas?

1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat teoritis.
Hasil dari penelitian ini dapat menambah wawasan keilmuan khususnya
sosiologi ekonomi, sosiologi industri yang berkaitan dengan kegiatan
industri kecil bagi mahasiswa,khususnya mahasiswa sosiologi.
1.4.2 Manfaat Praktis
Melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi hasilhasil penelitian lainnya dan dapat dijadikan bahan rujukan untuk

Universitas Sumatera Utara

penelitian selanjutnya dan khususnya tentang industri kecil yang berada
dikawasan PIK Menteng untuk meningkatkan dalam menambah kegiatan
produksi.

1.5. Defenisi konsep
Agar tidak tejadi kesalah pahaman antara penulis dengan pembaca maka,
penulis membuat beberapa definisi konsep untuk memudahkan pengambilan
data dilapangan,antara lain :
1. Industri kecil dimana yang dimaksud industri kecil adalah unit kegiatan
ekonomi yang biasanya identik dengan industri rumah tangga, yang dikelola
oleh perseorangan atau kelompok keluarga yang memiliki tenaga kerja
minimal 7 orang yang terdiri dari pekerja kasar dan pekerja keluarga, dan
modal usahanya tidak lebih dari Rp.10 juta.
2. Strategi permodalan adalah segala sesuatu (uang, barang, harta) yang sifat
pokoknya yang dipergunakan untuk menjalankan suatu usaha. Dalam
permodalan tersebut sangat berpengaruh terhadap jaringan sosial karena
berkaitan dengan cara memperoleh modal untuk kelangsungan usaha di dalam
industri.
3. Strategi Pemasaran adalah proses perencanaan dan penerapan konsepsi,
penetapan harga, dan distribusi barang, jasa, dan ide untuk mewujudkan
pertukaran yang memenuhi tujuan individu atau organisasi. Pengembangan
mutu atau produk (desain produk, penganekaragaman hasil), riset komunikasi,
distribusi, penetapan harga dan pelayanan merupakan inti aktivitas pemasaran.

Universitas Sumatera Utara

4. Strategi Jaringan Sosial sesama pengrajin kecil adalah suatu kegiatan pinjammeminjam barang-barang produksi seperti paku, lem jarum jahit, benang dan
lain – lain.
5. Perdagangan bebas adalah hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan
ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui
perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk
interaksi lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Strategi pengrajin sepatu masyarakat Menteng dalam menghadapi
perdagangan bebas diwujudkan dalam bentuk tindakan sosial yang penuh arti
dilakukan oleh pengrajin tersebut.

Tindakan pengrajin sepatu menyangkut

perdagangan yang merupakan pertukaran perilaku dalam memberikan pelayanan
kepada konsumen. Dalam hal ini termasuk melakukan adaptasi trend dan model yang
beredar dipasaran. Dan mereka pun memperhitungkan strategi merek dengan tujuan
agar memperoleh keuntungan sebagai pendapatan hidup sehingga strategi bertahan
yang dilakukan dalam menghadapi perdagangan bebas.
Pengrajin sepatu dalam strategi pengembangannya beusaha untuk memperluas
jaringannya dan menarik pelanggan melalui teori aksi tentang tindakan sosial sebagai
konsep dasar dari Talcot Parsons, menyatakan bahawa manusia merupakan aktor
yang kreatif dan realitas sosial yang memiliki kebebasan untuk bertindak. Menurut
teori aksi ada beberapa asumsi tentang teori aksi (Hadikusumo,1990 : 73) yaitu:
1. Tindakan manusia mulai dari kesadaran sendiri sehingga subjek dan
situasi eksternal dalam posisi sebagai objek.
2. Sebagai subjek manusia bertindak untuk mencapai tujuan tertentu.
3. Dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik, metode serta
perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.
4. Kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi tidak
dapat diubah dengan sendirinya.

Universitas Sumatera Utara

5. Manusia memilih, menilai dan mengevaluasi terhadap tindakan yang
akan dilakukannya.

Keberadaan Industri kecil
Industri kecil adalah badan usaha yang menjalankan proses produksi untuk
menghasilkan barang dan jasa dalam skala kecil. Apabila dilhat dari sifat dan
bentuknya, maka industri kecil bercirikan (Bantacut dalam Haeruman, 2001) yakni :
1. Berbasis pada sumber daya lokal sehingga dapat memanfaatkan
potensi secara maksimal dan memperkuat kemandirian
2. Dimiliki dan dilaksanakan oleh masyarakat lokal sehingga mampu
mengembangkan sumberdaya manusia
3. Menerapkan teknologi lokal (indigenous technology) sehingga dapat
dilaksanakan dan dikembangkan oleh tenaga lokal.
4. Tersebar dalam jumlah yang banyak sehingga merupakan alat
pemerataan pembangunan yang efektif
Industri merupakan aktivitas manusia untuk mengelola sumber daya-sumber
daya (resources) baik Sumber Daya Manusia (SDM), maupun Sumber Daya Alam
(SDA) di bidang produksi dan jasa. Di bidang produksi pengelolaan itu berupa bahan
mentah dan atau penyiapannya menjadi bahan setengah jadi dan atau bahan setengah
jadi menjadi bahan jadi. Sedangkan di bidang jasa merupakan segala aktivitas yang
terkait dengan pengelolaan sumber daya itu baik langsung maupun melalui perantara.
Aktivitas pengelolaan tersebut dimaksudkan untuk dipertukarkan (exchanged),
memperoleh nilai tambah (added value), dan untuk meningkatkan keberlanjutan

Universitas Sumatera Utara

(sustainable) dari aktivitas itu. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam
mengembangkan kegiatan industri, umumnya bergerak hanya melihatnya dari
perspektif ekonomi seperti modal, manajemen, tenaga kerja, pengembangan desain,
pengembangan promosi pemasaran dan intervesnsi pemerintah, sedang hal-hal yang
bersifat non-ekonomi belum banyak dilihat.
Keberhasilan industri kecil tidak semata-mata ditentukan oleh faktor ekonomi
melainkan faktor non-ekonomi juga perlu diperhatikan. Berbagai strategi yang
dilakukan oleh pengusaha dalam hal permodalan, perolehan keuntungan, kontinuitas
produksi, dan pengendalian tenaga kerja. Untuk menjaga kelangsungan usaha, maka
para pengusaha mempertahankan hubungan baik dengan pihak-pihak yang terkait
dalam produksi dan para pedagang perantara.
Jalinan kerjasama dengan pedagang perantara terwujud dalam praktek pinjam
meminjam uang,di antara mereka terjadi saling menolong. Pengusaha mendapat
pinjaman modal dan pedagang perantara memperoleh keuntungan dari pemasaran
barang. Strategi pengusaha dalam menjalin hubungan dengan pedagang perantara,
strategi yang dilakukan oleh para pengusaha tesebut merupakan suatu bentuk gerakan
sosial. (dalam Suryana,2003)
Departemen Perindustrian menetapkan kriteria prioritas bagi Industri kecil
yang akan dikembangkan sebagai berikut:
1. Industri yang ketersediaan bahan bakunya terjamin dan teknologi dasar
untuk

memproduksi telah dikuasai serta nilai tambahnya dapat

ditingkatkan.
2. Industri yang menunjang ekspor

Universitas Sumatera Utara

3. Industri yang mempunyai keterkaitan luas, baik dengan industri
besar/menengah maupun dengan sektor ekonomi lain.
4. Industri yang padat karya.
5. Industri yang dapat menunjang pengembangan/pemerataan kegiatan
ekonomi wilayah.
6. Industri yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya.
Adapun undang-undang yang mengatur industri kecil di Indonesia:
1. UU No.5 tahun 1984 tentang Perindustrian menyebutkan bahwa (1) Pemerintah
menetapkan bidang usaha industri yang masuk ke dalam kelompok industri kecil
yang dapat diusahakan hanya oleh WNI dan (2) Pemerintah menetapkan jenis industri
yang khusus dicadangkan bagi kegiatan industri kecil yang dijalankanoleh
masayarakat pengusaha dari golongan ekonomi lemah.
2. UU No. 9 tahun 1995 tentang Usaha industri kecil memberikan dasar hukum bagi
pemberian fasilitas kemudahan dana, keringanan tarif, tempat usaha, bidang dan
kegiatan usaha, dan pengadaan barang dan jasa untuk usaha industri kecil.

Industri Kecil di Era Perdagangan Bebas
Globalisasi “perdagangan bebas“ Berdasarkan asal katanya, kata “globalisasi”
berasal dari kata global yang maknanya universal. Menurut Achmad Suparman
menyatakan globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku)
sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah.
Ditengah tuntutan kemampuan bersaing didalam negeri yang masih dilindungi
oleh proteksi pemerintah, industri kecil juga harus menghadapi persaingan global

Universitas Sumatera Utara

yang berasal dari berbagai bentuk usaha mendorong integrasi pasar antar negara
dengan seminimal mungkin hambatan. Berbagai bentuk kerjasama ekonomi regional
maupun multilateral seperti AFTA, APEC dan GATT berlangsung dengan cepat dan
mendorong perekonomian yang semakin terbuka. Pada kondisi lain, strategi
pengembangan industri kecil masih menghadapai kondisi nilai tambah yang kecil
termasuk kontribusinya terhadap ekspor.
Dengan pergeseran yang terjadi pada tatanan ekonomi dunia yang mengarah
pada persaingan bebas, dapat dikatakan bahwa industri kecil sesungguhnya
mengahadapi situasi yang bersifat double squeze, yaitu
A. situasi yang datang dari sisi internal (dalam negeri) berupa
ketertinggalan dalam produktivitas, efisiensi dan inovasi,
B. Situasi yang datang dari ekstermal pressure. Salah satu aspek penting
yang perlu mendapat perhatian dari kombinsi situasi yang dihadapi ini
adalah masalah ketimpangan struktur usaha seperti yang diungkapkan
diawal dan juga kesenjangan antara usaha besar dengan usaha kecil
dan menengah.
Sedikitnya terdapat tiga keadaan yang membentuk terjadinya kesenjangan
antar skala usaha di Indonesia. Pertama, akses usaha/industri besar terhadap
teknologi dan menajemen modern jauh lebih besar daripada industri kecil. industri
kecil masih bertahan pada teknologi dan manajemen yang sederhana bahkan
cenderung tradisionil. Kedua, akses usaha skala besar terhdap pasar (termasuk
informasi pasar) juga lebih terbuka, sementara industri kecil masih berkutat pada
bagaimana mempertahankan pasar dalam negeri ditengah persaingan yang ketat

Universitas Sumatera Utara

dengan usaha sejenis. Ketiga, kurangnya keberpihakan kebijakan dan keputusan
strategis pemerintah pada industri.
Dalam era perdagangan bebas, dimana siklus produk relatif pendek dan sangat
ditentukan oleh selera konsumen, mengharuskan setiap pelaku bisnis memiliki akses
yang cukup terhadap pasar dan kemampuan inovasi produk, guna meningkatkan daya
saingnya. Justru hal inilah yang merupakan titik lemah yang dimiliki oleh industri
kecil pada umumnya. Disisi lain industri kecil memegang peran penting dalarn
perekonomian Indonesia baik ditinjau dari segi jumlah usaha maupun dalam
penciptaan lapangan kerja. Dalam hal ekspor, industri kecil memiliki potensi untuk
meningkatkan penerimaan ekspor. Hanya saja potensi ini belum dimanfaatkan dengan
optimal. Hanya industri kecil yang bergerak di sektor industri tertentu saja yang
sudah melakukan ekspor.
(http://www.smecda.com/deputi7/file_Infokop/EDISI%2023/mangara%20tambunan.
7.htm diakses pada Selasa,16 November 2010)
Pada era perdagangan bebas, tuntutan terhadap mutu produk akan semakin
tinggi disertai dengan harga yang semakin bersaing, demikian juga tuntutan terhadap
mutu SDM. Keberhasilan usaha dalam pasar terbuka ditentukan oleh produktivitas
dan efisiensi produksi. Agar dapat bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,
setiap bagian dalam usaha itu melaksanakan pekerjaannya dan menunjuk pada
tanggung jawab yang diemban oleh para pelaku usaha baik itu pedagang maupun
pengusaha

besar

sekalipun.

Pengetahuan

mengenai

cara

berjualan

atau

memperdagangkan produk industri kecil menjadi penting bagi para pedagang industri
kecil atau usaha-usaha lainnya pada saat dihadapkan pada beberapa permasalahan,

Universitas Sumatera Utara

seperti menurunnya pendapatan yang disebabkan oleh menurunnya daya beli
konsumen terhadap suatu produk sehingga mengakibatkan lambatnya pertumbuhan
dalam kegiatan berdagang, seperti halnya kepada para pedagang industri kecil yang
mengalami penurunan pendapatan diakibatkan konsumen/pembeli beralih/lebih
memilih mutu impor lainnya karena barang impor yang terlihat menarik.
Perdagangan bebas telah menjadi kenyataan yang tidak dapat dielakkan lagi.
Peristiwa dan segala bentuk perubahan terjadi kapan saja, dimana saja, dan
melibatkan siapa saja. Upaya pembuatan terobosan untuk memenangkan persaingan
diperlukan pengetahuan dan keterampilan dalam banyak faktor dengan tetap menjaga
dan memelihara budaya dan kepribadian bangsa serta kelestarian fungsi dan mutu
lingkungan. Pada satu sisi ada usaha untuk masuk dalam perdagangan internasional,
di sisi lain justru muncul semangat untuk kembali pada etnisitas dan lokalitas,
mempertanyakan kembali etnisitas kebangsaannya, mempertimbangkan warna
budayanya.
Perdagangan bebas

telah mengubah peta perdagangan dunia. Pasar yang

semakin terbuka membuat persaingan semakin ketat dan melahirkan hiper kompetisi
(hyper competition). Dengan bertambahnya pesaing-pesaing baru dalam dunia usaha
membuat para pengusaha atau pedagang harus berpikir seoptimal mungkin untuk
dapat mencapai tujuan. Bukan hanya itu saja, tetapi juga keberadaan para pelanggan
dan pembeli (konsumen) yang memegang peranan penting dalam kelangsungan
sirkulasi pasar. Pelanggan global yang telah bebas memilih mengenai produk-produk
yang akan dibeli serta dimana ia membeli menjadi manja dengan situasi global saat
ini (http://www.majalahfranchise.com, diakses pada Selasa,16 November 2010).

Universitas Sumatera Utara

Pembeli atau konsumen merupakan fokus dari aktivitas bisnis pasar apapun.
Dengan demikian, pembeli atau konsumen adalah orang nomor satu di dalam
sirkulasi pasar. Segala sesuatunya harus dipandang dari sudut konsumen.
Keingintahuan tentang konsumen hendaknya berfokus pada apa yang sebenarnya
mereka inginkan serta mengantisipasi apa yang mereka inginkan di kemudian hari.
Penjualan yang bersifat dinamis, baik itu teknologi, pasar maupun ekonomi akan
berubah seiring dengan semakin berkembangnya persaingan dalam dunia usaha
maupun perdagangan. Konsumen mempunyai informasi terkini dan menuntut lebih
banyak. Semuanya memerlukan pemahaman, antisipasi, dan kecerdikan dalam
memanfaatkan perubahan dan harus mampu menyelaraskan antara kemampuan dan
keterbatasannya untuk memanfaatkan peluang sekaligus menahan ancaman yang
diakibatkan dari perubahan tersebut.

Dampak Perdagangan Bebas Industri Kecil
Di berlakukannya perjanjian atas perdagangan bebas pada negara – negara
ASEAN terhadap China (ACFTA) pada awal tahun 2010 merupakan bagian yang
dapat dijadikan seluruh efektifitas dalam pergerakan perekonomian yang tentunya
berujung pada tujuan kemajuan pada negara masing – masing dalam perjanjian
tersebut. Secara konseptual tentunya diharapkan memberikan keuntungan pada tiap
negaranya, dimana tiap negara yang terlibat dengan mudah untuk mendapatkan
kemudahan – kemudahan dalam menjual hasil produksinya di negara lain.
Meskipun tidak sedikit yang menolak tentang adanya perdagangan bebas ini,
dimana adanya kekhwatiran terhadap produksi lokal khususnya unit usaha kecil dan

Universitas Sumatera Utara

menengah yang mampu bersaing ataupun sebagainya yang tentunya menimbulkan
tantangan tersendiri bagi pelakunya. Pelaku usaha di Indonesia akan mengalami
ketatnya tingkat kompetisi bisnis di tahun 2010, khususnya sejak berlakunya
Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) sejak 1 Januari lalu
(antarnews). Membanjirnya produk – produk China tidak tertahankan dan akan
mempengaruhi pasar serta menjadi tantangan berat.
Dalam hal ini, terdapat dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA yang
diberlakukan oleh Indonesia.
a) Dampak Negatif
1. Serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran
sektor-sektor ekonomi yang diserbu.
2.

Pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga
yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah
usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau
pedagang saja.

3. Karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah.
b) Dampak Positif
1. ACFTA akan membuat peluang untuk menarik investasi. Hasil dari investasi
tersebut dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke negara yang
tidak menjadi peserta ACFTA.
2. Dengan

adanya

ACFTA

dapat

meningkatkan

voume

perdagangan.

(www.dinohp.info/...menghadapi-persaingan-bisnis-di.html)

Universitas Sumatera Utara

Jaringan Sosial Dalam Mendukung Keberadaan Industri Kecil
Jaringan sosial merupakan suatu jaringan tipe khusus, dimana ’ikatan’ yang
menghubungkan satu titik ke titik lain dalam jaringan adalah hubungan sosial.
Berpijak pada jenis ikatan ini, maka secara langsung atau tidak langsung yang
menjadi anggota suatu jaringan sosial adalah manusia (person). Mungkin saja, yang
menjadi anggota suatu jaringan sosial itu berupa sekumpulan dari orang yang
mewakili titik-titik, jadi tidak harus satu titik diwakili dengan satu orang, misalnya
organisasi, instansi, pemerintah atau negara (jaringan negara-negara nonblok).
Suatu usaha suatu usaha yang berbasis industri kecil tidak lepas kaitannya
dengan hubungan antara pelaku usaha, sehingga dibutuhkan suatu keterlekatan atau
suatu jaringan sosial sebagai salah satu bentuk dari modal sosial yang dibutuhkan.
Pada tingkatan individu, jaringan sosial dapat didefinisikan sebagai rangka hubungan
yang khas diantara jumlah orang dengan sifat tambahan, yang ciri–ciri dari hubungan
ini sebagai keseluruhan yang digunakan untuk mengiterpretasikan tingkah laku sosial
ari individu – individu yang terlibat pada tingkatan struktur memperlihatkan bahwa
pola atau struktur hubungan sosial meningkatkan dan / atau menghambat perilaku
orang untuk terlibat dalam bermacam arena dari kehidupan sosial.
Granovetter dalam (Damasar,2002 : 48) menyatakan bahwa kuatnya suatu
ikatan jaringan memudahkan seseorang untuk mengetahui ketersediaan suatu
pekerjaan, jaringan sosial juga memainkan peranan penting dalam melakukan suatun
usaha, suatun bentuk kewiraswastaan dimudahkan oleh jaringan dari ikatan dalam
bentuk saling tolong menolong, sirkulasi modal dan bantuan dalam hubungan dengan

Universitas Sumatera Utara

birokrasi. Jaringan sosial memudahkan mobilisasi sumber daya, mempertahankan
seseorang untuk memegang suatu jabatan atau membangun usaha bisnis.
Arti penting kepercayaan (trust), partisipasi, resiprositas, solidaritas,
kerjasama, dan komunikasi dalam suatu jaringan sosial memainkan peran penting
dalam penyebaran model, struktur, praktek, dan budaya bisnis, sehingga suatu usaha
dengan hubungan jaringan sosial yang longgar merupakan salah satu dari penyebab
sulit berkembangnya suatu usaha.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Penelitian deskrpitif digunakan untuk menggambarkan atau
melukiskan tentang apa yang diteliti dan berusaha mendapatkan data sebanyak
mungkin sehingga memberikan gambaran yang jelas dan tepat tentang apa yang
menjadi pokok permasalahan dalam penelitian.
Metode kualitatif digunakan dengan berbagai pertimbangan. Pertama,
menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan
ganda. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara
peneliti dan informan. Ketiga, metode ini lebih jelas dan lebih dapat menyesuaikan
diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang
dihadapi (Moeleong, 2006:5).
Dalam

penelitian

deskriptif

juga

mengandung

pekerjaan

mencatat,

menaganalisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi sekarang yang terjadi.
Dengan kata lain penelitian deskriptif bertujuan untuk memperoleh informasiinformasi menngenai keadaan saat ini dan melihat kaitan antara variabel-variabel
yang

ada

(Mardalis,

1990:26).

Pendekatan

deskriptif

digunakan

untuk

menggambarkan atau melukiskan tentang apa yang diteliti dan berusaha mendapatkan
data sebanyak mungkin sehingga dapat memberikan suatu gambaran yang jelas dan
tepat tentang apa yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian.

Universitas Sumatera Utara

3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dilakukan di kawasn Pusat Industri Kecil (PIK) yang
berada di Jalan Menteng VII, kelurahan Medan Tenggara, Sumatera Utara. Adapun
yang menjadi alasan peneliti ingin membuat penelitian di Menteng, Sumatera Utara
karena daerah ini merupakan salah satu daerah yang pengrajin sepatu. Peneliti sangat
tertarik untuk menelitinya.
3.3 Unit Analisis dan Informan
3.3.1 Unit Analisis
Unit analisa adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subyek
penelitian (Arikunto, 2002:132). Adapun yang menjadi unit analisa data dalam
penelitian ini adalah pengrajin sepatu, dan pembeli.
3.3.2 Informan
a) Informan Kunci (key informan)
Informan kunci merupakan sumber informasi yang aktual dalam
menjalankan

dagangannya

berupa

sepatu

dalam

strateginya

mengembangkan barang dagangannya di tengah maraknya produk barang
impor. Informan kunci dalam penelitian ini adalah:
1. Pengrajin Sepatu
Informasi yang ingin diperoleh dari informan ini adalah berupa
informasi tentang strategi-strategi apa saja yang dilakukan oleh para
pengrajin sepatu.

Universitas Sumatera Utara

b. Informan Biasa
Informan

biasa

merupakan

sumber

informasi

sebagai

data-data

pendukung. Informan biasa dalam penelitian ini adalah:
1. Pembeli
Informasi yang ingin diperoleh dari informan ini adalah alasan tentang
untuk tetap membeli sepatu ini.

3.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan
dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Metode yang dipilih berdasarkan pada
berbagai faktor terutama jenis data dan informan. Metode pengumpulan data
tergantung pada karakteristik data, maka metode yang digunakan tidak selalu sama
dengan informan (Gulo, 2002:110-115).
Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penelitian ini, teknik
pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Data Primer,
Untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
penelitian lapangan, yaitu:
a. Observasi adalah suatu kegiatan pengamatan selama proses penelitian
berlangsung.
b. Wawancara Mendalam, adalah melakukan suatu percakapan atau
tanya jawab secara mendalam dengan informan. Disini peneliti
berusaha untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari informan

Universitas Sumatera Utara

dengan dipandu oleh pedoman wawancara (Depth Interview). Hal-hal
yang ingin diwawancarai adalah berupa informasi tentang strategi
yang dilakukan para pengrajin sepatu ini sehingga mereka telah
mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan agar tetap berkembang di
tengah maraknya produk impor.

2. Data Sekunder, diperoleh melalui :
a. Studi Kepustakaan
Data yang diperlukan melalui literatur yang berhubungan dengan
penelitian atau suatu cara yang digunakan untuk statistik yang gunanya
untuk melengkapi data-data penelitian. Selain itu bisa juga berupa bahanbahan yang berasal dari buku, juga sumber lainnya seperti surat kabar dan
internet yang berkaitan langsung dan dianggap relevan dalam penelitian
ini.

3.5. Interpretasi Data
Dalam penelitian ini penganalisaan data adalah proses penyederhanaan data
dan informasi yang sudah dikumpulkan dimana peneliti menggunakan pendekatan
kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang menggambarkan strategi-strategi
yang dilakukan oleh para pengrajin sepatu di tengah maraknya produk impor serta
meneliti kondisi sosial-ekonomi pegrajin sepatu.
Bogdan dan Biklen (Moeleong, 2005:248) menjelaskan interpretasi data
adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan

Universitas Sumatera Utara

data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesisikan,
mencari, dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang
dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Dalam
penelitian kualitatif, tahap analisis dan interpretasi data diawali dengan proses
observasi dan wawancara mendalam yang berkenaan dengan masalah penelitian,
sehingga untuk kemudian data-data yang didapat akan dikategorikan dan dikaitkan
satu dengan yang lainnya agar dapat diinterpretasikan secara kualitatif.
Data-data

yang

diperoleh

dari

lapangan

akan

diatur,

diurutkan,

dikelompokkan ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu. Disini peneliti akan
mengelompokkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan
sebagainya yang selanjutnya akan dipelajari dan ditelaah secara seksama.
Diinterpretasikan/analisis sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian agar
diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik.

Universitas Sumatera Utara

3.6 Jadwal Kegiatan
No Kegiatan

Bulan ke…
2

3

4

X

X

5

6

X

X

1

Pra Observasi

X

2

ACC judul

X

3

Penyusunan proposal penelitian

X

4

Seminar proposal penelitian

X

5

Revisi proposal penelitian

X

6

Penelitian ke lapangan

X

7

Sistem pengumpulan data dan analis

X

8

Bimbingan

9

Penulisan laporan akhir

10

Sidang meja hijau

7

8

9

10

X

X

X

X

X

X

X
X

X

Universitas Sumatera Utara

3.7 Keterbatasan Penelitian
1. Para pengrajin sepatu ini sangat susah diwawacarai karena mereka tidak mau
terbuka.
2. Mereka hanya mempunyai waktu yang sedikit untuk bisa memberikan
informasi yang dibutuhkan oleh peneliti.
3. Lokasi penelitian hanya diadakan pada siang hari.
4. Keterbatasan penelitian ini juga terjadi pada terbatasnya bahan-bahan bacaan
seperti, buku atau sumber-sumber lain untuk bisa dijadikan bahan acuan.
Selain itu juga, kesulitan dalam menentukan atau memakai teori untuk
penelitian ini.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA

4.1 Deskripsi Lokasi
4.1.1. Sejarah Kelurahan Medan Tenggara
Kelurahan Medan Tenggara (Menteng) adalah bagian Kecamatan Medan
Denai yang dulunya merupakan satu bagian dengan Kelurahan Binjai. Sebelumnya
dari Kelurahan Binjai sampai daerah Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan bagian
dari Kecamatan Medan Denai, kemudian pda tahun 1986 pemerintah kota Medan
mengadakan pemekaran yang pada akhirnya membagi Kelurahan Binjai menjadi dua
kelurahan yaitu menjadi Kelurahan Binjai dan Kelurahan Medan Tenggara
(Menteng).

4.1.2. Letak dan Keadaan Wilayah
Kelurahan medan tenggara (menteng) merupakan salah satu dari enam
kelurahan yang terdapat di kecamatan medan denai sebagai bagian dari wilayah kota
medan. Secara administratif kelurahan menteng ini terdiri dari sebelas lingkungan
yang menjadi bagian wilayahnya , yaitu lingkungan I sampai Lingkungan XI.
Secara geografis Kelurahan Menteng ini Berbatasan secara langsung dengan :








Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Tembung
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Medan Amplas
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Medan Area
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang

Universitas Sumatera Utara

4.1.3. Luas Wilayah
Keberadaan Menteng ini memiliki wilayah seluas 2,07km2,dimana luas
pemukiman 1,503 km2 luas perkantoran 0,057 km2, luas perkarangan 0,07 km2, luas
taman 0,002 km2, serta luas untuk prasarana lainnya deluas 0,329 km2 dan dalam
wilayah kelurahan menteng ini terdapat lokasi pusai industri kecil (PIK) dengan
wilayah seluas 17,74

Dokumen yang terkait

Dokumen baru