Alokasi Untuk Perubahan Penggunaan Lahan

117

c. Formasi Genteng Tpg

Terdiri dari tuf batu apung, batu pasir tufan, breksi, andesit, konglomerat dan sisipan lempung tufan. Tuf batu apung warna putih sampai kelabu, berbutir halus hingga kasar, bersifat asam hingga menengah, berlapis baik, mengandung batu apung, kaca gunung api, kuarsa, mika, hornblenda, dan pecahan batuan, tebal batuan sekitar 90 cm, setempat bersisipan tipis tuf debu dan kayu terkesikkan. Batu pasir tufan, kelabu hingga kebiruan, berbutir sedang hingga kasar, mengandung glokonit, kuarsa dan kayu terkesikkan yang melimpah, berstruktur silang siur, tebal lapisan sampai puluhan meter. Breksi andesit, berstruktur perlapisan bersusun, berbutir pasir kasar hingga kerakal, menyudut tanggung hingga membundar tanggung, berkomponen andesit basal, batu apung, kuarsa dan gunung api, tebal lapisan dari beberapa sentimeter hingga puluhan meter. Di beberapa tempat terdapat lensa-lensa tuf dan batu pasir terutama di bagian alasnya. Konglomerat, kelabu tua, agak mampat, berbutir pasir kasar hingga kerakal, membundar hingga membundar tanggung, berlapis baik, berkomponen andesit, kuarsa, batu apung, felspar, batu pasir dengan masa dasar tuf pasiran, berstruktur lapis bersusun, tebal lapisan antara 15-60 cm, terutama pada bagian bawah formasi. Lempung tufan, berwarna kelabu kehijauan, lunak, tebal sekitar 5-10 cm, sebagai sisipan dalam batu pasir. Di dalam formasi ini tidak ditemukan adanya fosil. Berdasarkan stratigrafinya yang menindih tak selaras Formasi Bojongmanik dan ditindih secara selaras Formasi Serpong, maka formasi ini diduga berumur Pliosen awal-pliosen tengah. Nama satuan ini didasarkan persamaan litologi dan penyebarannya di lembar Serang, dengan lokasi tipe di Desa Genteng, sebelah selatan Rangkasbitung, Banten. Nama lain adalah ”Genteng Lagen” Anonimous, 1938 dalam effendi, 1986 atau ”Genteng Bed” Van Bemmelen, 1949 dalam effendi, 1986.

d. Formasi Serpong Tpss

Tersusun oleh perselingan konglomerat, batu pasir, batu lanau, batu lempung dengan sisa tanaman, konglomerat batu apung dan tuf batu apung. Konglomerat, hitam kebiruan, terdiri dari beraneka ragam komponen, yaitu andesit, basal, dan batu gamping. Pada umumnya mengisi bagian yang tererosi pada batuan 118 yang lebih tua Formasi Bojongmanik. Di bagian atas, konglomerat ini mengandung batu apung yang berukuran lebih kecil dari 3 - 5 cm dengan matrik pasir tufan. Batu pasir, kelabu kehijauan, halus-sedang, membundar tanggung- membundar baik, pemilihan sedang, sebagian berstruktur silang siur, tebal lapisan 60-200 cm, berselang seling dengan konglomerat. Batu lanau, kelabu kehitaman, berstruktur perairan, mengandung banyak sisa tanaman seperti daun, batang dan tunggul pohon, berselang seling dengan konglomerat, tebal lapisan 50-300 cm. Batu lempung, kelabu kehitaman, pejal dan berstruktur perairan, mengandung sisa tanaman dan bekas galian binatang, berselang seling dengan konglomerat, tebal lapisan 30-100 cm. Konglomerat batu apung, putih kekuningan, komponen terdiri dari batu apung andesitan, pemilihan baik, berukuran 3-5 cm, matrik tufan kelabu cerah, berselang seling dengan tuf batu apung. Tuf batu apung, putih, berbutir kasar, pemilihan jelek, membundar tanggung hingga membundar, tersusun dari pasir kasar lapili bersusunan andesitan, berstruktur silang siur, semakin ke atas semakin halus dan menjadi tuf halus yang berstruktur perairan, setempat bersisipan pasir hitam. Kemiringan batuan 5-100 dengan arah jurus timur laut-barat daya. Dalam formasi ini tidak ditemukan adanya fosil. Berdasarkan kedudukan stratigrafinya yang menindih secara tidak selaras Formasi Bojongmanik dan Formasi Genteng, dan ditindih secara selaras oleh batuan vulkanik muda. Diduga Formasi Serpong berumur Pliosen Akhir. Berdasarkan kenampakan batuan, struktur sedimen dan bentuk sebarannya yang di sepanjang sungai, maka formasi ini diduga diendapkan pada sungai tua yang berpola menganyam dan bertanggul levee, dan sebagian di endapkan pada lingkungan rawa. Tebal lapisan ini sekitar 100 m, sebaran Formasi ini di sepanjang Sungai Cisadane, Sungai Cikeas, Sungai Cileungsi, di Kampung Bodonglio dan Depok.

4.2.3.3. Batuan Gunung Api a. Tuf Banten QTvb

Terdiri dari tuf, batu apung, breksi dan batu pasir tufan. Tuf kaca, berwarna kelabu, terdiri dari masa dasar kaca, berkomponen felspar, mineral mafik dan 119 sedikit kuarsa, bersusunan andesit dan umumnya mengandung batu apung. Tuf tua, berwarna kelabu gelap, terutama terdiri dari kepingan andesit dan batu apung serta dengan sedikit felspar dengan tuf halus sebagai masa dasar. Tuf hablur, berwarna kelabu putih, tersusun dari felspar, mika, minera, mafik, kaca dan sedikit kepingan andesit serta batu apung. Breksi batu apung, kelabu kecoklatan, komponennya menyudut-membundar tanggung, terpilah buruk, kemas agak terbuka dan padu, berukuran 10 cm terdiri dari batu apung, andesit, obsidian dan kaca gunung api. Batu pasir tufan, berwarna putih kelabu, berbutir menengah sampai kasar, agak padat, mengandung batu apung, setempat terdapat sisa tumbuhan, umumnya menmunjukkan perlapisan silang siur. Dijumpai beberapa sisipan tuf batu apung dengan tebal 10-15 cm dan andesit dengan massa dasar tuf berbutir halus. Di dalam satuan ini tidak dijumpai fosil. Berdasarkan kedudukan stratigrafinya yang menindih secara tidak selaras Formasi Genteng dan Formasi Serpong, dan ditindih secara selaras oleh batuan gunung api muda, satuan ini diduga berumur Plistosen Awal-Tengah, dan diendapkan dalam lingkungan darat sampai daerah pasang surut. Sebaran satuan ini terutama di bagian barat-laut Lembar, meliputi daerah Tanerang, Bojonglopang, Cipondoh dan Pasir Gadeng. Tebalnya diduga sekitar puluhan meter. Satuan ini merupakan lanjutan dari Tuf Banten dan Lembar Serang.

b. Endapan Gunung Api Muda Qv

Breksi, lahar, lava bantal, dan tuf breksi berselingan dengan tuf pasir atau tuf halus. Breksi, kelabu kehitaman padat berkomponen andesit berukuran 1-15 cm, menyudut-membundar tanggung, terpilah buruk dengan masa dasar batu pasir kasar bersusunan andesitan. Lahar, kelabu kehitaman, padat, struktur kasar, aliran, permukaan kasar, komponen menyudut-membundar tanggung, terpilah buruk. Lava, berstruktur bantal, kelabu kehitaman, berhablur halus-sedang, porfiritik dengan piroksen dan olivin sebagai fenokris, dan masa dasar dari plagioklas, di beberapa tempat berstruktur berongga Amigdaloidal yang diisi oleh kalsit. 120 Tuf Breksi, kelabu-coklat, sebaran komponen 0,5-20 cm, tidak merata, terpilah buruk, kemas agak terbuka, komponen dari andesit, batu apung, gelas atau pasir gunung api dan mineral terang, tebalnya beberapa meter. Batuan gunung api ini diduga plistosen dan diendapkan dalam lingkungan darat, diperkirakan dari sumber Gunung Sudamanik. Di lembar Bogor Effendi, 1986, satuan ini disebut sebagai vulkanik tua tak terurai Qvu. Tebal lapisan beberapa puluh sampai ratusan meter. Sebarannya di sekitar Sungai Cipangaur dan Sungai Cimanceuri. Adanya lava berstruktur bantal menunjukkan bahwa lava ini tidak jauh dari sumbernya dan diendapkan dalam lingkungan air. Endapan gunung api muda ini menyebar ke Lembar Bogor sebagai aliran lava Qv dan batuan Gunung Api tua tak dipisahkan Qvu.

c. Andesit Sudamanik Qvas

Terdiri dari andesit. Andesit kelabu kehitaman, padat, porfiritik dengan piroksen, hornblenda dan plagioklas sebagai fenokris dan bermassa dasar felsfar. Di beberapa tempat berstruktur meniang atau ”sheeting”. Batuan ini membentuk kerucut tumpul di Gunung Sudamanik dan kerucut kecil-kecil di sekitarnya. Diduga bahwa kerucut ini merupakan sumbat gunung api ”volcanic neck” atau “parasiticone” dari Gunung Sudamanik. Umur batuan ini diduga sama dengan atau lebih muda dari endapan gunung api Qv, yaitu Plistosen.

4.2.4. Hidrologi

Dalam perencanaan suatu areal, informasi mengenai kondisi hidrologi sangat diperlukan. Pola drainase di pegununganperbukitan umumnya dendritik, sedangkan di dataran rendah sungai ini bermeander. Secara garis besar dijumpai 2 sistem perairan alami yaitu perairan hulu hinterland drainage dan perairan pantai seawater drainage. Masing-masing sistem mempunyai karakteristik yang khas, baik ditinjau dari daerah asal, kualitas air, maupun pola drainasenya. Keadaan hidrologi umumnya berkaitan erat dengan keadaan fisiografi daerah ini dan berpengaruh langsung terhadap sumberdaya lahan dan potensinya. Sistem hidrologi di Jabodetabek terdiri atas :