Analisis Bioekonomi untuk Pemanfaatan Sumberdaya Rajungan (Portunus pelagicus) di Teluk Banten, Kabupaten Serang, Provinsi Banten

ANALISIS BIOEKONOMI UNTUK PEMANFAATAN
SUMBERDAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI TELUK
BANTEN, KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN

FITRIA NUR INDAH SARI

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
Analisis Bioekonomi untuk Pemanfaatan Sumberdaya Rajungan (Portunus
pelagicus) di Teluk Banten, Kabupaten Serang, Provinsi Banten
adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi
yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan
dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar
pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2012

Fitria Nur Indah Sari
C24080078

RINGKASAN
Fitria Nur Indah Sari, C24080078. Analisis Bioekonomi untuk Pemanfaatan
Sumberdaya Rajungan (Portunus pelagicus) di Teluk Banten, Kabupaten
Serang, Provinsi Banten. Dibawah bimbingan Achmad Fahrudin dan
Mennofatria Boer.
Rajungan merupakan salah satu sumberdaya hayati ekonomis penting. Nilai
ekspor rajungan pada tahun 2007 menempati urutan ketiga setelah udang dan tuna
yaitu 21.510 ton dengan nilai 170 juta dolar AS. Pada tahun 2011 nilai ekspor
rajungan meningkat menjadi 23.661 ton yang mencapai nilai 250 juta dolar AS.
Kebutuhan ekspor rajungan di Indonesia banyak mengandalkan hasil tangkapan
nelayan di laut salah satunya dari Teluk Banten yang merupakan salah satu lokasi
penangkapan rajungan. Nelayan yang melakukan penangkapan rajungan di Teluk
Banten mendaratkan hasil tangkapannya di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
Karangantu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model surplus produksi yang sesuai
dengan karakteristik rajungan di Teluk Banten. Selanjutnya, model yang sesuai
dianalisis secara bioekonomi melalui rezim pengelolaan MSY, MEY, dan Open
access agar dapat diketahui usulan upaya pengelolaan untuk pemanfaatan
sumberdaya rajungan di Teluk Banten secara berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan
pada bulan Mei hingga Juni 2012 yang meliputi: observasi lapang, wawancara, dan
pengumpulan data sekuder dari Dinas PPN Karangantu. Lokasi penelitian di PPN
Karangantu yang terletak di bagian selatan Teluk Banten.
Model surplus produksi yang dicobakan adalah Schaefer, Fox, Walter Hilborn,
Schnute dan Clarke Yoshimoto Pooley (CYP). Melalui perbandingan hasil tangkapan
aktual masing-masing model serta nilai R2 diperoleh bahwa model CYP adalah
model yang sesuai dengan karakteristik perikanan rajungan di Teluk Banten. Nilai
R2 pada model CYP sebesar 0,9826 dengan hasil tangkapan maksimum lestari
sebesar 38.036,41 kg melalui upaya optimum sebesar 70.867 trip. Berdasarkan
analisis bioekonomi dalam kurun waktu 2005-2011 menunjukkan bahwa
sumberdaya rajungan di Teluk Banten belum mengalami biologic overfishing
maupun economic overfishing. Hal tersebut dilihat dari nilai hasil tangkapan aktual
sebesar 14539 kg/tahun dengan upaya 1.400 trip/tahun menghasilkan rente ekonomi
sebesar Rp 416.961.017,00 sehingga kondisi ini tidak melebihi nilai hasil tangkapan
pada rezim pengelolaan MSY sebesar 38.036,41 kg/tahun dan upaya pada rezim
pengelolaan MEY sebesar 33.535 trip/tahun yang menghasilkan rente ekonomi
sebesar Rp 988.018.525,00. Upaya pengelolaan untuk sumberdaya rajungan
(Portunus pelagicus) di Teluk Banten yaitu dengan cara menetapkan TAC (Total
Allowable Catch) yang bernilai 80% dari hasil tangkapan maksimum lestari menurut
model CYP sebesar 30.429,13 kg/tahun. Selain itu, upaya pengelolaan lain berupa
pengaturan effort (alat tangkap) pada ukuran mata jaring berdasarkan umur rajungan
dan lebar karapas. Pengaturan effort ini diharapkan dapat mencapai keuntungan
maksimum berdasarkan rezim pengelolaan MEY.
Kata kunci : Analisis bioekonomi, Model surplus produksi, Pemanfaatan
sumberdaya rajungan (Portunus pelagicus), Teluk Banten.

ANALISIS BIOEKONOMI UNTUK PEMANFAATAN
SUMBERDAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI TELUK
BANTEN, KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN

FITRIA NUR INDAH SARI
C24080078

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

PENGESAHAN SKRIPSI
Judul

: Analisis Bioekonomi untuk Pemanfaatan Sumberdaya
Rajungan (Portunus pelagicus) di Teluk Banten,
Kabupaten Serang, Provinsi Banten

Nama Mahasiswa

: Fitria Nur Indah Sari

Nomor Pokok

: C24080078

Program Studi

: Manajemen Sumberdaya Perairan

Menyetujui,

Pembimbing 1

Pembimbing 2

Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si
NIP. 19640327 198903 1 003

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer
NIP. 19570928 198103 1 006

Mengetahui,
Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc
NIP. 19660728 199103 1 002

Tanggal Lulus : 7 Agustus 2012

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas begitu
besar kasih karunia dan berkat-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat
terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Perikanan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
Skripsi yang berjudul “Analisis Bioekonomi untuk Pemanfaatan Sumberdaya
Rajungan (Portunus pelagicus) di Teluk Banten, Kabupaten Serang, Provinsi
Banten’’ disusun untuk mengetahui usulan upaya pengelolaan untuk pemanfaatan
sumberdaya rajungan di Teluk Banten secara berkelanjutan melalui model surplus
produksi dan analisis bioekonomi yang sesuai dengan karakteristik rajungan di
Teluk Banten.
Demikianlah skripsi ini disusun, semoga bermanfaat baik bagi penulis maupun
pembaca. Saran dan kritik atas skripsi ini sangat diharapkan demi kebaikan dan
kesempurnaan skripsi ini.

Bogor, Agustus 2012

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur kepada Tuhan karena penulis dapat menyelesaikan penelitian
akhir serta menuliskannya dalam skripsi yang berjudul “Analisis Bioekonomi
untuk Pemanfaatan Sumberdaya Rajungan (Portunus pelagicus) di Teluk
Banten, Kabupaten Serang-Banten’’. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, diantaranya:
1.

Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si dan Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA atas
arahan dan bimbingannya selama penyusunan skripsi ini;

2.

Dr. Ir. Etty Riani, MS. sebagai dosen penguji tamu yang memberi motivasi
kepada penulis dan telah memberi saran perbaikan pada skripsi ini;

3.

Ir. Agustinus M Samosir, M.Phil selaku Komisi Pendidikan Departemen
Manajemen Sumberdaya Perairan dan Majariana Krisanti, S.Pi, M.Si atas
saran penyempurnaan skripsi ini;

4.

Prof. Dr.Ir. Kadarwan Soewardi sebagai dosen pembimbing akademik yang
telah memberi nasehat dan motivasi;

5.

Ir. Zairion, M.Si atas bimbingan dan arahannya;

6.

Seluruh Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan atas ilmu yang
telah diberikan selama ini;

7.

Seluruh staf Tata Usaha MSP, staf Laboratorium Model dan Simulasi serta
seluruh civitas MSP yang telah membantu dan memperlancar proses penelitian
serta penulisan skripsi ini;

8.

Keluarga tercinta, Mamah Susilowati, A Wiji, Ade Ita dan Ade Via atas semua
doa, nasehat, semangat, serta kasih sayang yang diberikan kepada penulis;

9.

Staf PPN Karangantu (Pak Hartoyo, Pak Amir, Mas Ilham dan lainnya) atas
bantuannya selama melakukan penelitian;

10.

Keluarga Pink House (Risty dan Memey) serta sahabat-sahabatku selama
kuliah (Pinky, Nimas, Pion, Yuli dan Lodi) atas doa, dukungan dan
semangatnya selama ini kepada penulis;

11.

Teman-teman seperjuangan MSP 45, adik-adik MSP 46 dan 47 atas segala
dorongan, inspirasi dan semangat kepada penulis;

12.

Pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di DKI Jakarta pada tanggal 21
November 1990 dari pasangan Bapak Jumanto dan Ibu
Susilowati. Penulis merupakan anak kedua dari empat
bersaudara. Penulis mengawali pendidikan formal di SDN
Sungai Bambu 05 Pagi Jakarta Utara dan lulus di tahun 2002.
Pada tahun 2002-2005, penulis meneruskan pendidikan di
SMPN 95 Jakarta Utara. Kemudian, pada tahun 2005-2008 menempuh pendidikan
di SMA Negeri 80 Jakarta Utara.
Penulis masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diterima sebagai mahasiswi Departemen
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK).
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Manajemen
Sumberdaya Perairan (Himasper) sebagai Divisi Kewirausahaan periode 2011-2012.
Selain itu, penulis aktif mengikuti berbagai kegiatan kepanitian seperti IPB Art
Contest, Gebyar Perikanan, serta Festival Air. Penulis juga berkesempatan
mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis dan lolos
sebagai karya yang didanai oleh pihak DIKTI.
Penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi dalam rangka
menyelesaikan studi di FPIK, IPB, dengan judul “Analisis Bioekonomi untuk
Pemanfaatan Sumberdaya Rajungan (Portunus pelagicus) di Teluk Banten,
Kabupaten Serang, Provinsi Banten’’ dibawah bimbingan Dr. Ir. Achmad Fahrudin,
M.Si dan Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ..........................................................................................

x

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xii

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................
1.3 Tujuan ...................................................................................................
1.4 Manfaat .................................................................................................

1
2
2
3

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Rajungan (Portunus pelagicus) .......................................
2.2 Model Surplus Produksi ........................................................................
2.3 Model Schaefer (1954) ..........................................................................
2.4 Model Fox (1970)..................................................................................
2.5 Model Walter Hilborn (1976) ...............................................................
2.6 Model Schnute (1977) ...........................................................................
2.7 Model Clarke Yoshimoto Pooley (1992) ...............................................
2.8 Analisis Bioekonomi Perikanan ............................................................
2.9 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan .....................................................

4
6
9
14
16
17
18
19
23

3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian.................................................................
3.2 Alat dan Bahan ......................................................................................
3.3 Metode Pengumpulan Data ...................................................................
3.4 Teknik Analisis .....................................................................................
3.4.1 Standarisasi Upaya Penangkapan ..................................................
3.4.2 Model Surplus Produksi ................................................................
3.4.3 Analisis Bioekonomi .....................................................................

24
25
25
25
25
26
29

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil .....................................................................................................
4.1.1 Kondisi Umum Perairan Teluk Banten .......................................
4.1.2 Perikanan di Teluk Banten ..........................................................
4.1.3 Daerah dan Musim Penangkapan ................................................
4.1.4 Model Surplus Produksi ..............................................................
4.1.5 Analisis Bioekonomi ...................................................................
4.2 Pembahasan ..........................................................................................

31
31
32
36
37
44
47

5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan............................................................................................
5.2 Saran ......................................................................................................

52
52

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

53

LAMPIRAN....................................................................................................

56

ix

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Analisis bioekonomi berbagai rezim pengelolaan ......................................

30

2. Hasil tangkapan rajungan (ton) per jenis alat tangkap di Teluk Banten
kurun waktu 2005-2011 ..............................................................................

33

3. Upaya per jenis alat tangkap (trip) rajungan di Teluk Banten kurun waktu
2005-2011....................................................................................................

33

4. Jumlah tangkapan (c) dan jumlah upaya penangkapan (f) rajungan di
Teluk Banten berdasarkan hasil standarisasi kurun waktu 2005-2011 .......

34

5. Produksi rajungan per bulan di PPN Karangantu tahun 2005-2011 ...........

37

6. Jumlah tangkapan (c), jumlah upaya penangkapan (f) dan jumlah
tangkapan per satuan upaya (CPUE) rajungan di Teluk Banten .................

38

7. Perbandingan parameter koefisien penangkapan (q), daya dukung
lingkungan (K), pertumbuhan intrinsik (r), nilai koefisien determinasi
(R2), dan Standar error (SE) antara lima model produksi surplus
rajungan di Teluk Banten ............................................................................

44

8. Nilai parameter biologi dan ekonomi dalam penentuan MEY dan MSY...

45

9. Hasil Perhitungan bioekonomi sumberdaya rajungan di Teluk Banten... ...

45

x

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka pemikiran ....................................................................................

3

2. Rajungan (Portunus pelagicus) ...................................................................

4

3. Hubungan antara biomassa tangkapan (B) dengan turunan pertama
biomassa (Sparre dan Venema 1999) ..........................................................

7

4. Kurva hubungan kuadratik antara biomassa (Bt) dengan turunan pertama
biomassa terhadap waktu (dBt/dt) ...............................................................

11

5. Kurva model Schaefer dan Fox ...................................................................

15

6. Keseimbangan Ekonomi Model Gordon-Schaefer .....................................

21

7. Peta kawasan perairan Teluk Banten dan letak fishing ground rajungan
oleh nelayan Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu .........................

24

8. Persentasi hasil tangkapan per jenis ikan yang didaratkan di Pelabuhan
Perikanan Nusantara Karangantu ................................................................

32

9. Grafik jumlah tangkapan rajungan oleh nelayan Karangantu di Teluk
Banten kurun waktu 2005-2011 ..................................................................

34

10. Grafik upaya penangkapan rajungan oleh nelayan Karangantu di Teluk
Banten kurun waktu 2005-2011 ..................................................................

35

11. Grafik tangkapan per satuan upaya penangkapan rajungan oleh nelayan
Karangantu di Teluk Banten kurun waktu 2005-2011. ...............................

36

12. Kurva hubungan jumlah tangkapan (c) dan jumlah upaya penangkapan
(f) rajungan di Teluk Banten berdasarkan model Schaefer .........................

39

13. Perbandingan jumlah tangkapan aktual dengan jumlah tangkapan lestari
model Schaefer perikanan rajungan di Teluk Banten .................................

39

14. Perbandingan jumlah tangkapan aktual dengan jumlah tangkapan lestari
model Fox perikanan rajungan di Teluk Banten. ........................................

40

15. Perbandingan jumlah tangkapan aktual dengan jumlah tangkapan lestari
model Walter Hiborn perikanan rajungan di Teluk Banten. ......................

41

16. Perbandingan jumlah tangkapan aktual dengan jumlah tangkapan lestari
model Schnute perikanan rajungan di Teluk Banten ..................................

42

17. Perbandingan jumlah tangkapan aktual dengan jumlah tangkapan lestari
model Clarke Yoshimoto Pooley perikanan rajungan di Teluk Banten .....

43

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Daftar pertanyaan/kuisioner untuk nelayan .................................................

57

2. Jumlah tangkapan total (ctotal), upaya penangkapan total (ftotal), jumlah
tangkapan per satuan upaya total (CPUEtotal) dan fishing power index
(FPI) rajungan oleh nelayan Karangantu di Teluk Banten dan perhitungan
standarisasi upaya penangkapan..................................................................

60

3. Statistik regresi model Schaefer ..................................................................

61

4. Statistik regresi model Fox ..........................................................................

62

5. Statistik regresi model Walter Hilborn .......................................................

63

6. Statistik regresi model Schnute ...................................................................

64

7. Statistik regresi model CYP.........................................................................

65

8. Kurva perbandingan antara hasil tangkapan rajungan aktual dengan hasil
tangkapan berdasarkan tujuh model produksi surplus selama kurun waktu
2005-2011....................................................................................................

66

9. Data hasil wawancara. .................................................................................

67

10. Tabel perhitungan analisis bioekonomi.......................................................

68

12. Foto hasil penelitian. ...................................................................................

69

xii

1
1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Rajungan (Portunus pelagicus) atau Blue Swimming Crab merupakan
sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis penting karena dapat dikonsumsi dan
mengandung protein yang tinggi (Hermanto 2004). Kementerian Kelautan dan
Perikanan (2011) mencatat nilai ekspor rajungan pada tahun 2007 menempati urutan
ketiga setelah udang dan tuna yaitu sejumlah 21.510 ton dengan nilai 170 juta dolar
AS. Sedangkan untuk tahun 2011 mengalami peningkatan 23.661 ton dan mencapai
nilai 250 juta dolar AS.
Salah satu lokasi penyebaran rajungan di Indonesia adalah Teluk Banten.
Nelayan yang melakukan penangkapan rajungan di Teluk Banten mendaratkan hasil
tangkapannya di PPN Karangantu. Kontribusi ekspor rajungan di Teluk Banten pada
tahun 2011 mencapai 64 ton dengan nilai produksi sebesar Rp 1.898.500.00,-.
Rajungan ini kemudian di ekspor ke Negara Jepang dan Uni Eropa (Laporan
tahunan PPN Karangantu 2012). Kegiatan penangkapan rajungan yang terdapat di
Teluk Banten banyak yang mengandalkan hasil tangkapan nelayan dan semakin
berkembang dikarenakan banyaknya pengumpul rajungan

yang membuka

perusahaan pengolahan di sekitar Desa Karangantu. Rajungan yang diolah tersebut
tidak hanya yang berukuran besar namun banyak juga yang berukuran kecil.
Rajungan yang berukuran kecil ini ditangkap dikarenakan masih dapat diterima oleh
pasar ekspor. Hal inilah yang mengakibatkan kegiatan penangkapan rajungan
dilakukan secara terus-menerus setiap tahun.
Guna mengantisipasi kecenderungan peningkatan penangkapan rajungan yang
berukuran kecil dan menyebabkan rajungan tidak bisa mencapai usia dewasa untuk
berkembang biak, diperlukan suatu pemanfaatan sumberdaya perikanan berupa
permodelan dan pengelolaan yang sesuai dengan kondisi suatu wilayah perairan
yang sebenarnya. Pemanfaatan sumberdaya perikanan yang dapat mendukung usaha
kegiatan penangkapan rajungan di Teluk Banten yaitu menggunakan analisis
bioekonomi yang didapatkan berdasarkan model surplus produksi yang paling
sesuai.

2
1.2. Rumusan Masalah
Sumberdaya rajungan di Teluk Banten merupakan spesies yang dominan
ditangkap di Teluk Banten. Berdasarkan data produksi tahunan PPN Karangantu,
hasil tangkapan rajungan di Teluk Banten yang didaratkan di PPN Karangantu dari
tahun 2005-2011 cenderung mengalami fluktuasi. Pada tahun 2005 produksi
rajungan di Teluk Banten sebesar 96 ton kemudian produksi turun pada tahun 2006
yaitu sebesar 19 ton, lalu pada tahun 2007 produksi rajungan meningkat kembali
sebsar sebesar 50 ton dilanjutkan pada tahun 2008 yaitu sebesar 88 ton. Produksi
mulai menurun kembali dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2011 yaitu berturutturut sebesar 79 ton, 71 ton dan 64 ton.
Berangkat dari hal tersebut agar dapat diketahui model surplus produksi yang
paling sesuai untuk karakteristik rajungan di Teluk Banten maka dicobakan lima
model yaitu model Schaefer, Fox, Walter Hilborn, Schnute dan Clarke Yoshimoto
Pooley (CYP). Selanjutnya, model yang sesuai, dianalisis bioekonomi melalui rezim
pengelolaan MSY, MEY, dan Open access. Model bioekonomi merupakan
perpaduan antara dinamika biologi sumberdaya perikanan dan faktor ekonomi yang
mempengaruhi yang mempengaruhi alat tangkap, sedangkan untuk aspek tekniknya
berupa penyesuaian ukuran alat tangkap dan teknologi yang digunakan dengan
ukuran rajungan yang akan ditangkap, serta metode pengoperasiaannya (Susanto
2006). Apabila hal tersebut berhasil dilakukan, maka kerusakan sumberdaya
rajungan dapat dicegah dan mendorong terciptanya operasi penangkapan rajungan
dengan keberhasilan yang tinggi tanpa merusak kelestarian sumberdaya rajungan,
serta memberikan hasil tangkapan dan keuntungan yang maksimum. Perumusan
masalah dalam penelitian disusun dalam kerangka pemikiran (Gambar 1).
1.3. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1) Menentukan model surplus produksi yang paling sesuai dengan karakteristik
perikanan rajungan di Teluk Banten.
2) Menganalisis bioekonomi rajungan di Teluk Banten yang didaratkan di PPN
Karangantu dengan rezim pengelolaan potensi lestari maksimum (MSY),
potensi ekonomi maksimum (MEY) serta sistem terbuka (Open access).

3
3) Memberikan usulan upaya pengelolaan untuk pemanfaatan sumberdaya
rajungan di Teluk Banten, Kabupaten Serang, Banten secara berkelanjutan.
1.4. Manfaat
Penelitian dan penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak
yang terkait untuk mendukung penentuan bentuk pengelolaan rajungan Portunus
pelagicus secara lestari dan berkelanjutan. Selain itu, diharapkan dapat memperkaya
wawasan pembaca mengenai kondisi perikanan secara umum khususnya
sumberdaya rajungan Portunus pelagicus.

Sumberdaya Rajungan di Teluk Banten

Fluktuasi Produksi Rajungan di Teluk Banten Tahun 2005-2011

Hasil Tangkapan

Model Surplus Produksi

Upaya Penangkapan

Schaefer, Fox, Walter Hilborn, Schnute dan Clarke Yoshimoto Pooley (CYP)

Analisis Bioekonomi (MSY, MEY, Open Acces)

Gambar 1. Kerangka pemikiran

4
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Rajungan (Portunus pelagicus)
Jenis kepiting dan rajungan diperkirakan sebanyak 234 jenis yang ada di Indo
Pasifik Barat, di Indonesia ada sekitar 124 jenis (Moosa et al. 1980 in Firman 2008),
lebih lanjut dijelaskan empat jenis di antaranya dapat dimakan (edible crab), yaitu
rajungan (Portunus pelagicus), rajungan bintang (Portunus sanguinolentus),
rajungan karang (Charybdis feriatus), dan rajungan angin (Podopthalmus vigil). Jika
dibandingkan

dengan

tiga

spesies rajungan

yang

lainnya,

jenis Portunus

pelagicus paling banyak dipasarkan di pasar internasional seperti Asia Tenggara.
Harga pasaran rajungan tersebut berkisar antara US$ 3-5/kg untuk rajungan segar,
sedangkan rajungan hidup harga jualnya berkisar antara US$ 5-8/kg (Pasisingi
2011).
Berikut adalah klasifikasi rajungan menurut Kangas (2000):
Filum

: Arthropoda

Kelas

: Crustacea

Sub kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Famili

: Portunidae

Genus

: Portunus

Spesies

: Portunus pelagicus (Linnaeus 1766)

Nama lokal

: Rajungan

Nama FAO

: Blue swimmer crab, blue manna crab, sand crab, blue crab

Gambar 2. Rajungan (Portunus pelagicus)
(Dokumentasi Pribadi 2012)

5
Rajungan

termasuk hewan perenang aktif, tetapi saat tidak aktif, hewan

tersebut mengubur diri dalam sedimen menyisakan mata, antena di permukaan dasar
laut dan ruang insang terbuka (Fish 2001 in Firman 2008). Menurut Muslim (2000)
in Firman (2008) pada umumnya udang dan kepiting keluar pada waktu malam
untuk mencari makan. Binatang ini keluar dari tempat-tempat persembunyiannya
dan bergerak menuju tempat yang banyak makanan.
Lovett (1981) in Hermanto (2004) mengatakan bahwa morfologi rajungan
(Portunus pelgicus) hampir sama dengan kepiting. Perbedaan dicirikan dari duri
akhir karapas pada rajungan yang relatif lebih panjang dan lebih runcing. Karapas
rajungan berbentuk bulat pipih dengan warna cerah putih kebiruan. Rajungan dapat
berjalan sangat baik sepanjang dasar perairan dan daerah interdal berlumpur yang
lembab dan juga perenang yang baik.
Tingkah laku rajungan (Portunus pelagicus) dipengaruhi faktor alami dan
buatan. Faktor alami diantaranya perkembangan hidup, kebiasaan makan, pengaruh
siklus bulan dan reproduksi. Sedangkan faktor buatan utama yang mempengaruhi
tingkah laku rajungan adalah penggunaan umpan pada penangkapan rajungan
dengan menggunakan crab poots (Fish 2000 in Pasisingi 2011). Sumberdaya
rajungan banyak ditangkap oleh nelayan dengan menggunakan perangkap buatan,
trawl, pukat pantai dan jaring lingkar. Rajungan ditangkap dalam jumlah yang
sangat banyak untuk dijual dalam bentuk segar dan beku di pasaran lokal. Adapula
yang diolah di industri pengolahan dan pengalengan rajungan untuk tujuan ekspor
(Pasisingi 2011). Negara Singapura, Hongkong, Jepang, Malaysia, Taiwan, dan
Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor rajungan (Adam et al. 2006)
Susilo (1993) in Suadela (2004) menyebutkan bahwa perbedaan fase bulan
memberikan

pengaruh

pelagicus), yaitu

ruaya

nyata
dan

terhadap

tingkah

laku

rajungan

(Portunus

makan. Pada fase bulan gelap, rajungan tidak

melakukan aktivitas ruaya, dan berkurangnya aktifitas pemangsaan. Hal tersebut
ditunjukkan dengan perbedaan jumlah hasil tangkapan antara fase bulan gelap dan
bulan terang. Rajungan cenderung lebih banyak tertangkap saat fase bulan terang
dibandingkan dengan pada fase bulan gelap. Oleh sebab itu waktu yang paling baik
untuk menangkap binatang tersebut ialah malam hari saat fase bulan terang (Firman
2008).

6
Rajungan menjadi dewasa sekitar usia satu tahun. Perkiraan umur rata-rata
rajungan dari lebar karapas tertentu dapat bervariasi. Pada umur 12 bulan, lebar
karapas rata-rata rajungan adalah 90mm. Rajungan jantan dan betina umumnya
mencapai kematangan seksual pada ukuran lebar karapas 7 hingga 9 cm. Rajungan
pada ukuran tersebut berumur sekitar satu tahun. (Kumar et al. 2000 in Firman
2008). Adapun yang mempunyai nilai ekonomis setelah mempunyai lebar karapas
antara 95-228 mm (Rounsenfell 1975 in Setriana 2011).

2.2. Model Surplus Produksi
Model sangat penting untuk menduga konsekuensi dari bentuk pengelolaan
dan dapat digunakan untuk membentuk dan memantau kebijakan (Beattie, et al.
2002). Produksi surplus dihitung sebagai jumlah dari pertumbuhan dalam berat dari
individu-individu dalam populasi, dikurangi penurunan biomassa dari binatang yang
mati karena mortalitas alami (Widodo dan Suadi 2008). Fungsi surplus produksi
dapat dituliskan sebagai berikut:
...........…………………………............................(2.2.1)
merupakan biomassa pada tahun tertentu,
sebelumnya ditambahkan dengan (
dikurangi (

adalah biomassa tahun

) produksi surplus tahun sebelumnya

) dengan tangkapan tahun sebelumnya (Masters 2007).

Widodo dan Suadi (2008) mengemukakan bahwa pertambahan netto dalam
ukuran populasi akan kecil, baik pada tingkat populasi tinggi maupun rendah.
Karena itu sebagai konsekuensinya pertambahan tersebut akan mencapai maksimum
pada tingkat populasi intermediate. Hukum umum dari pertumbuhan populasi dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan deferensial sebagai berikut :
………………………………………………............................(2.2.2)
dimana B merupakan biomassa populasi. Hukum pertumbuhan populasi ini
dipergunakan untuk menggambarkan banyak organisme. Suatu fungsi yang telah
terbukti sangat cocok untuk berbagai data eksperimen yaitu:
……………………………………………..................(2.2.3)
dimana r dan K adalah konstanta. Ini dikenal dengan persamaan pertumbuhan
logistik Verhultst-Pearl. Paramter r adalah laju pertumbuhan intrinsik, karena untuk

7
B kecil, maka laju pertumbuhan kira-kira sama dengan r. Adapun K adalah daya
dukung lingkungan dan mewakili populasi maksimum yang dapat ditopang oleh
lingkungan. Fungsi ini bersifat parabolik yang simetrik dengan laju pertumbuhan
maksimum pada tingkat K. Kurva selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.
dB/dt = f(B)
Maksimum

0

B MSY

B∞

B

Gambar 3. Hubungan antara biomassa tangkapan (B) dengan turunan pertama
biomassa (Widodo dan Suadi 2008)
Beberapa asumsi yang mendasari hukum umum pertumbuhan populasi pada
Gambar 3 dapat dikemukakan sebagai berikut:
a) Setiap populasi dan ekosistem tertentu akan tumbuh dalam berat sampai
mendekati daya dukung maskimum dari ekosistem (terutama dalam kaitannya
dengan ketersediaan makanan). Kenaikan dalam berat total perlahan-lahan
berhenti manakala ukuran stok semakin mendekati, secara asimtotik, daya
dukung dari lingkungan K secara asimtotik.
b) Nilai K kira-kira berkaitan erat dengan nilai biomassa dari stok perawan atau
yang belum dimanfaatkan (virgin stock).
c) Pertumbuhan menurut waktu dari biomassa populasi dapat dilukiskan dengan
suatu kurva logistik, turunan pertama dari kurva ini mencapai maksimum.
d) Upaya penangkapan yang menurunkan K sampai dengan setengah dari nilai
originalnya akan menghasilkan pertumbuhan netto yang tertinggi dari stok,
yakni produksi surplus maksimum (maximum surplus yield) yang tersedia
dalam suatu populasi
e) Surplus produksi maksimum pada butir (d) akan dipertahankan secara lestari
(di sinilah berawal yang disebut maximum sustainable yield, MSY) manakala
biomassa dari stok yang dieksploitasi dipertahankan pada tingkat K/2

8
Terdapat beberapa alasan biologi yang membuat beberapa asumsi tersebut
masuk akal. Beberapa alasan tentang rendahnya produksi surplus pada tingkat
ukuran stok lebih besar antara lain dikemukakan oleh Ricker (1975) in Widodo dan
Suadi (2008) sebagai berikut:
a) Dekat densitas stok maksimum, efisiensi reproduksi dan kadang-kadang
jumlah aktual dari rekrut, lebih rendah dari pada densitas stok ikan yang lebih
kecil.

Meningkatkan

rekruitmen

dapat

dicapai

melalui

pengurangan

penangkapan stok ikan.
b) Bila suplai makanan terbatas, makanan kurang dikonversikan ke dalam bentuk
daging ikan oleh stok yang besar dibandingkan dengan stok yang kecil.
Masing-masing individu pada stok ikan besar akan mengkonversi makanan
untuk biomassa dalam jumlah sedikit karena makanan akan digunakan untuk
bertahan hidup, sedangkan stok ikan kecil memanfaatkan makanan untuk
pertumbuhan.
c) Suatu stok yang belum dieksploitasi secara relatif akan terdiri dari individuindividu berumur tua dibandingkan dengan stok yang telah dieksploitasi. Hal
ini akan menyebabkan produksi menurun, paling tidak melalui dua cara.
Pertama, ikan yang lebih besar cenderung makan banyak, konsekuensinya
adalah menurunnya efisiensi pemanfaatan dari produsen dasar makanan dalam
piramida makanan. Kedua, ikan yang lebih tua akan mengkonversikan
makanan yang mereka makan ke dalam bentuk daging baru (berat badan yang
lebih tinggi) dalam jumlah yang lebih kecil, sebab ikan yang matang gonad
akan memanfaatkan makanan untuk pertumbuhan telur dan sperma.
Konsep surplus produksi merupakan konsep dasar dalam ilmu perikanan.
Schaefer (1954) in Widodo dan Suadi (2008) menyebutkan bahwa salah satu cara
untuk menduga stok didasarkan pada model surplus produksi logistik. Dasar
pemikirannya adalah bahwa peningkatan (increment) populasi ikan akan diperoleh
dari sejumlah ikan-ikan muda yang dihasilkan setiap tahun, sedang penurunan dari
populasi tersebut (decrement) merupakan akibat dari mortalitas baik karena faktor
alam (predasi, penyakit dan lain lain) maupun mortalitas yang disebabkan
eksploitasi oleh manusia. Oleh karena itu, populasi akan berada dalam keadaan
ekuilibrium bila increment sama dengan decrement .

9
Sparre dan Venema (1999) mengemukakan bahwa model surplus produksi
berkaitan dengan suatu stok secara keseluruhan, upaya total dan hasil tangkapan
total yang diperoleh dari stok tanpa memasukkan secara rinci beberapa hal seperti
parameter pertumbuhan dan mortalitas atau pengaruh ukuran mata jaring terhadap
umur ikan yang tertangkap. Model-model holistik lebih sederhana bila dibandingkan
dengan model analitik, karena data yang diperlukan juga menjadi lebih sedikit.
Sebagai contoh, model-model ini tidak perlu menentukan kelas umur, sehingga
dengan demikian tidak perlu melakukan perhitungan penentuan umur. Hal ini
merupakan salah satu alasan model surplus produksi banyak digunakan di dalam
mengkaji stok ikan di perairan tropis. Model surplus produksi dapat diterapkan bila
dapat diperkirakan dengan baik tentang hasil tangkapan total dan hasil tangkapan
per unit upaya (CPUE) berdasarkan spesies serta upaya penangkapannya dalam
beberapa tahun. Upaya penangkapan harus mengalami perubahan substansial selama
waktu yang dicakup.

2.3. Model Schaefer (1954)
Model Schaefer merupakan formulasi matematika sederhana yang mampu
menangkap banyak dari elemen-elemen dinamika populasi stok ikan nyata di dunia
(Anderson dan Juan, 2010). Model Schaefer juga menyatakan bahwa pertumbuhan
dari suatu stok merupakan suatu fungsi dari besarnya stok tersebut. Jelas bahwa
asumsi suatu stok bereaksi seketika terhadap perubahan besarnya stok tidaklah
realistik. Oleh karena itu dipergunakan konsep ekuilibrium, dan ini mengacu pada
keadaan yang timbul bila suatu mortalitas penangkapan tertentu telah ditanamkan
cukup lama ke dalam suatu stok, sehingga memungkinkan stok tersebut
menyesuaikan ukuran serta laju pertumbuhannya sedemikian rupa sehingga
persamaan yang dikemukakan oleh Schaefer terpenuhi (Suadi dan Widodo 2006).
Tinungki (2005) menyatakan pula bahwa perluasan pertama penggunaan model
yang dikembangkan oleh Schaefer (1954) didasarkan pada pekerjaan terdahulu
Graham (1935). Model Schaefer dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Misalkan B menyatakan biomassa stok (ukuran berat dari populasi ikan
dalam ton), r dinyatakan sebagai laju pertumbuhan alami dari populasi (intrinsic
growth rate) dan K adalah daya dukung lingkungan (environmental carrying

10
capacity) atau keseimbangan alamiah dari ukuran stok. Ini didefenisikan sebagai
tingkat stok maksimum dari perairan dan lingkungan yang dapat didukung”
Schaefer (1954) in Anderson dan Juan (2010) menyatakan bahwa
pertumbuhan (dalam berat biomassa) dari suatu populasi (Bt) dari waktu ke waktu
merupakan fungsi dari populasi awal. Schaefer dalam mengembangkan konsepnya
mengasumsikan bahwa stok perikanan bersifat homogeni, fungsi pertumbuhannya
adalah fungsi logistik dengan area terbatas. Menurut Widodo dan Suadi (2008),
asumsi-asumsi model Schaefer adalah:
a) Terdapat batas tertinggi dari biomassa (K)
b) Laju pertumbuhan adalah relatif dan merupakan fungsi linear dari biomassa
c) Stok dalam keadaan seimbang (equilibrium condition)
d) Kematian akibat penangkapan (Ct) sebanding dengan upaya (ft) dan koefisien
penangkapan (q)
e) Meramalkan MSY adalah 50% dari tingkat populasi maksimum
Metode keseimbangan sebagai dasar analisis model Schaefer dalam
keseimbangan atau steady state. Metode keseimbangan berdasarkan pada asumsi
perubahan upaya sedikit demi sedikit sehingga ukuran stok selalu menuju
keseimbangan. Itu merupakan kondisi ekologis yang stabil dan hubungan biologi.
Dengan asumsi ini, laju pertumbuhan populasi

akan menuju nol. Dalam hal ini

perlu memperoleh bentuk yang paling sederhana untuk model hasil surplus dari
prinsip-prinsip awal. Tingkat perubahan biomassa dalam populasi yang terkait,
diberikan oleh f(B), fungsi biomassa apapun yang sesuai. Dalam keadaan tidak ada
aktivitas penangkapan laju perubahan stok sepanjang waktu dimodelkan sebagai:
……………..…………………..….………...…..................... (2.3.1)
f(B) adalah fungsi pertumbuhan dan kematian. Laju pertumbuhan populasi
ikan dapat terjadi secara eksponensial, namun karena keterbatasan daya dukung
lingkungan terdapat titik maksimum sehingga laju pertumbuhan akan menurun
bahkan berhenti. Adapun dalam model kuadratik (logistik), dapat diasumsikan
bahwa laju pertumbuhan populasi ikan adalah proporsi perbedaan antara daya
dukung lingkungan dan populasi. Salah satu fungsi pertumbuhan yang sering
digunakan adalah fungsi pertumbuhan logistik. Menangkap ikan di populasi tertentu

11
akan mengurangi f(B) dengan fungsi usaha penangkapan ikan, yang akan dinyatakan
pada persamaan berikut:
.........………………..…….…...................... (2.3.2)
Apabila jumlah populasi relatif kecil dibandingkan dengan luas wilayahnya
maka dapat diasumsikan bahwa populasi ikan tersebut tumbuh secara proporsional
terhadap populasi asal, atau secara matematis mengacu dalam Anderson dan Juan,
2010 dapat ditulis sebagai:
……………………………….................................... (2.3.3)
Persamaan secara grafik persamaan (2.3.3) dapat dilihat pada Gambar 4:
dBt/dt = f(B)

Bt

Gambar 4. Kurva hubungan kuadratik antara biomassa (Bt) dengan turunan
pertama biomassa terhadap waktu (dBt/dt = f(B))
(Widodo dan Suadi 2008)
Wu, et al. (2010) menyatakan bahwa tangkapan maksimum lestari (MSY),
upaya penangkapan untuk mencapai MSY (FMSY) dan biomassa MSY dapat diduga
dengan mengasumsikan laju perubahan biomassa adalah nol sepanjang tahun.
Gambar 3 di atas memperlihatkan pada saat pertumbuhan f(B) = 0, saat
mengakibatkan Bt = K, namun pada saat K cukup besar maka

. Laju

pertumbuhan alami merupakan pertumbuhan alamiah, atau biasa juga disebut
sebagai laju pertumbuhan tercepat yang dimiliki oleh suatu jenis ikan. Pertumbuhan
biomassa ikan di atas diasumsikan berlaku tanpa adanya gangguan atau
penangkapan oleh manusia. Jika kemudian produksi perikanan diasumsikan
tergantung dari input (upaya, Ft) dan jumlah biomassa ikan yang tersedia Bt serta

12
kemampuan teknologi yang digunakan q (yang disebut koefisian penangkapan),
maka hasil tangkapan adalah sebagai berikut:
……………....…....…………………...…...........……….…. (2.3.4)
Persamaan (2.3.4) umumnya digunakan sebagai fungsi produksi panen ikan.
Menyelesaikan model produksi surplus, diperlukan bentuk yang layak untuk dua
fungsi yang cocok dengan data yang tersedia. Jika penangkapan Ct dimasukkan ke
dalam model, dan diasumsikan bahwa penangkapan berkorelasi linear terhadap
biomassa (Bt) dan input atau effort (Ft), maka laju pertumbuhan biomassa menjadi

………………...….…...........................….. (2.3.5)
Asumsi keseimbangan dimana laju pertumbuhan mendekati nol, dalam hal ini
masalah yang dihadapi oleh pengelola perikanan adanya peubah biomassa yang
teramati, dimana hanya data produksi Ct dan jumlah input Ft yang digunakan seperti
jumlah kapal, jumlah trip atau hari melaut. Sehingga persamaan (2.3.5) dapat
dipecahkan untuk mencari nilai biomassa B diperoleh hubungan antara hasil
tangkapan lestari dan input digunakan sebagai berikut:
………………………….................................…..….. (2.3.6)
dengan mensubsitusi persamaan (6) ke dalam persamaan (4) diperoleh:

………………..…..................................….…..... (2.3.7)
Persamaan (2.3.7) dengan q sebuah konstanta, disebut sebagai koefisien
penangkapan. Bagaimana ukuran penangkapannya (atau peluang tertangkap satu
unit dari stok) per unit dari stok akan berubah jika upaya berubah satu satuan. Ft
adalah variabel upaya penangkapan. Persamaan (2.3.7) dapat juga digunakan untuk
menyatakan hubungan antara penangkapan per satuan upaya (CPUE) dan level stok.
Persamaan (2.4.7) akan menjadi linear jika dibagi dengan Ft:
…………………..………..........................……...….. (2.3.8)
…………………….…………..............................….... (2.3.9)

13

Jika

…..……...................….

, maka

(2.3.10)
Persamaan (2.3.10) merupakan asumsi model Schaefer, pada hubungan
keseimbangan antara CPUEt (catcth per unit effort) dan Ft (effort) adalah linear.
Persamaan ini dapat dituliskan sebagai berikut:
……………………….………...…….....…..... (2.3.11)
Sehingga hubungan antara effort ( ) dan catch ( ) dapat dinyatakan sebagai
berikut:
………...……………..……..............................…….…. (2.3.12)
Upaya optimum (fopt) diperoleh dengan cara menyamakan turunan pertama
tangkapan per satuan upaya (CPUE) sama dengan nol:
…………………………..................…(2.3.13)
.….……………...……….……..……...……...................... (2.3.14)
Nilai tangkapan optimum atau jumlah tangkapan maksimum lestari (MSY)
diperoleh dengan mensubsitusi nilai upaya optimum perasamaan (2.3.14) ke dalam
persamaan (2.3.12):

………………………...........................................… (2.3.15)
Penggunaan satu persamaan ini dapat menduga parameter-parameter fungsi
produksi surplus dengan meregresikan data runtun waktu (time series) jumlah
tangkapan (catch) dan upaya (effort). Tinungki (2005) menyebutkan bahwa salah
satu keuntungan model Schaefer adalah dapat digunakan dengan tidak tergantung
pada adanya data kelimpahan stok. Jika data runtun waktu untuk data penangkapan
dan upaya tersedia, maka pendugaan parameter-parameter dengan menggunakan
metode regresi linear sederhana dapat dilakukan.
Model Schaefer mengasumsikan populasi pertumbuhan logistik yakni
tangkapan meningkat secara cepat di awal, namun kemudian laju perubahannya

14
melambat dengan peningkatan upaya (Coppola dan Pascoe 1998). Model ini
menetapkan dua hasil dasar, yaitu:
a) Upaya penangkapan adalah suatu fungsi linear dari ukuran populasi (atau
tangkapan per satuan upaya)
b) Jumlah tangkapan adalah suatu fungsi parabola dari upaya penangkapan
(Widodo 1986 in Pasisingi 2011)

2.4. Model Fox (1970)
Model Fox (1970) in Pasisingi (2011) memiliki karakter bahwa pertumbuhan
biomassa mengikuti model pertumbuhan Gompertz, dan penurunan tangkapan per
satuan upaya (CPUEt) terhadap upaya penangkapan (Ft) mengikuti pola
eksponensial negatif, yang lebih masuk akal dibandingkan dengan pola regresi
linier. Asumsi yang digunakan dalam model Fox (1970) adalah:
a) Populasi dianggap tidak akan punah
b) Populasi sebagai jumlah dari individu ikan
Model ini memperlihatkan grafik lengkung bila
terhadap upaya ft akan tetapi bila

secara langsung diplot

diplot dalam bentuk logaritma terhadap upaya,

maka akan menghasilkan garis lurus:

....................................................................... (2.4.1)
Model tersebut mengikuti asumsi bahwa

menurun dengan meningkatnya

upaya. Model Fox dan Schaefer berbeda dalam hal dimana model Schaefer
menyatakan satu tingkatan upaya dapat dicapai pada nilai
sedangkan pada model Fox,

= 0 yaitu bila

adalah selalu lebih besar dari nol untuk seluruh nilai

.
Bila

diplotkan terhadap ft akan menghasilkan garis lurus, pada model

Schaefer, namun menghasilkan lengkung yang mendekati nol hanya pada tingkatan

15
upaya yang tinggi, tanpa pernah menyentuh sumbu

pada model Fox. Gambar 5

memperlihatkan perbandingan antara kurva model Schaefer dan model Fox.

Gambar 5. Kurva model Schaefer (--------) dan Fox (--------)
Fox menyatakan bahwa hubungan antara effort (ft) dan catch (Ct) adalah
bentuk eksponensial dengan kurva yang tidak simetris, dan dinyatakan bahwa
hubungan antara effort (ft) dan catch per unit effort (CPUEt) adalah sebagai berikut:
...................................................................... (2.4.2)
Hubungan antara effort dan catch adalah:
.......................................................................................... (2.4.3)
Upaya optimum (fopt) diperoleh dengan cara menyamakan turunan pertama
catch (Ct) terhadap effort (ft) sama dengan nol:
.................................................... (2.4.4)
sehingga:
............................................................................................... (2.4.5)
Produksi maksimum lestari (MSY) diperoleh dengan mensubsitusikan nilai
upaya optimum ke dalam persamaan (2.4.3) sehingga:
........................................................................(2.4.6)
besarnya parameter a dan b secara sistematis dapat dicari dengan mempergunakan
persamaan regresi. Rumus-rumus untuk model produksi surplus ini hanya berlaku
bila parameter slope (b) bernilai negatif, artinya penambahan jumlah effort akan

16
menyebabkan penurunan CPUE. Bila dalam perhitungan diperoleh nilai b positif
maka tidak dapat dilakukan pendugaan stok maksimum maupun besarnya effort
minimum, tetapi hanya dapat disimpulkan bahwa penambahan jumlah effort masih
menambah hasil tangkapan. Penelitian komponen-komponen sumberdaya perikanan
dan potensinya dilakukan terhadap kondisi perikanan yang sekarang ada. Informasi
ini diperlukan untuk perencanaan pengembangan perikanan masa yang akan datang
(Tinungki 2005).

2.5. Model Walter Hilborn (1976)
Model Walter Hilborn (1976) merupakan model yang dapat memberikan
dugaan masing-masing untuk parameter fungsi produksi surplus r, q dan K dari tiga
koefisien regresi. Persamaan model ini sebagai berikut:
……………............................................. (2.5.1)
Prosedur model Walter-Hilborn adalah sebagai berikut:

.................................................................................................. (2.5.2)

Jika
maka:

yang menyatakan CPUE (catch per unit effort)
Persamaan dasar model produksi surplus dapat diformlasikan kembali sebagai
berikut:
.................................... (2.5.3)
Penyusunan kembali persamaan (2.5.3) dengan memindahkan
kiri dan mengalikan persamaan dengan

ke sisi

sehingga diperoleh persamaan:

............................................... (2.5.4)
Persamaan di atas diregresikan dengan laju perubahan biomassa sebagai
peubah tidak bebas dan upaya penangkapan sebagai peubah bebas. Persamaan
regresinya menjadi:

17
..................................................................... (2.5.5)

Keterangan rumus (2.5.5):

2.6. Model Schnute (1977)
Schnute mengetengahkan versi lain dari model surplus produksi yang bersifat
dinamik, discrete in time, serta deterministik dari cara Graham-Schaefer. Di sisi
lain, memberikan model waktu dinamis, stokastik, dan khusus untuk model produksi
surplus yang bertentangan dengan model statis, deterministik, dan kontinyu dari
model Graham-Schaefer yang lain. Model Schnute dipandang sebagai modifikasi
model Schaefer dalam bentuk diskrit (Roff 1983 in Tinungki 2005). Dasar dari
model Schnute adalah:
............................................................................ (2.6.1)
Pada rumus (2.6.1),

sehingga:

........................................................................ (2.6.2)
jika persamaan (2.6.2) diintegrasikan dan dilakukan satu langkah setahun ke depan
diperoleh:
....................................................... (2.6.3)
pada rumus (2.6.3),

dan

Persamaan (2.6.3), selanjutnya disederhanakan dimana CPUE dan f masingmasing adalah rata-rata catch per unit effort dan rata-rata upaya penangkapan per
tahun. Ini memberikan persamaan:
........................................................... (2.6.4)

18
Beberapa manipulasi aljabar persamaan (2.6.4) dimodifikasi, sehingga Schnute
(1977) in Masters (2007) menunjukkan bahwa persamaan produksi surplus Schaefer
dapat ditransformasi ke dalam bentuk linear berganda sebagai berikut:
.........................................................................(2.6.5)

Persamaan ini dapat menduga parameter-parameter q, K dan r sebagai berikut:

Keuntungan dari model Schnute disamping secara teori lebih masuk akal.
Model ini juga mempunyai beberapa keuntungan praktis. Salah satu keuntungan
adalah untuk data tangkapan dan upaya yang nilainya dimulai dari periode tahun
tertentu dapat digunakan untuk memprediksi tangkapan dan upaya optimum periode
tahun yang akan datang dari data yang periode sebelumnya.

2.7. Model Clarke Yoshimoto Pooley (1992)
Mengestimasi parameter biologi dari model produksi surplus adalah melalui
pendugaan koefisien yang dikembangkan oleh Clarke, Yoshimoto dan Pooley.
Parameter-parameter r (laju pertumbuhan alami), q (koefisien kemampuan
penangkapan), dan K (daya dukung lingkungan) yang dapat menggunakan model
Clarke Yoshimoto Pooley (CYP) menurut Tinungki, et al. (2005) dinyatakan sebagai
berikut:
............ (2.7.1)
sehingga persamaan (2.7.1) dapat ditulis dalam bentuk persamaan linear berganda
sebagai berikut:
........................... (2.7.2)
dengan:

19
Perhitungan parameter r, q, dan K akan didapatkan kesulitan sehingga dibuat
algoritma (Fauzi 2002 in Pasisingi 2011). Koefisien regresi a, b, c diperlukan dalam
menentukan:
.................................................................................................. (2.7.3)
.......................................................................................... (2.7.4)
........................................................................................ (2.7.5)
nilai Q diperlukan dalam menghitung nilai K
........................................................................................ (2.7.6)

2.8. Analisis Bioekonomi Perikanan
Menurut Fauzi dan Anna (2005) dasa

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Analisis Bioekonomi untuk Pemanfaatan Sumberdaya Rajungan (Portunus pelagicus) di Teluk Banten, Kabupaten Serang, Provinsi Banten