Dari Tabel 28 didapatkan bahwa komoditas unggulan utama Kecamatan Pagar Alam Utara adalah kubis, Kecamatan Dempo Utara adalah kubis, Kecamatan
Dempo Selatan adalah kacang panjang. Untuk kecamatan Pagar Alam Utara dan Dempo Selatan sifat tanaman hortikulturanya bukan merupakan tanaman utama
tetapi hanya sebagai tanaman selingan ketika petani tidak menanam padi sawah. Sehingga tanaman hortikultura di Kecamatan Pagar Alam Utara dan Kecamatan
Dempo Selatan tidak dapat dijadikan komoditas unggulan utama. Untuk Kecamatan Dempo Utara pemilihan komoditas unggulan utama dilakukan dengan lebih memilih
analisis finansial yang paling menguntungkan dan jumlah keluarga pertanian paling banyak. Jumlah keluarga pertanian menunjukkan preferensi atau keinginan petani
untuk menanam komoditas pertanian. Komoditas unggulan utama dan penunjang dapat dilihat pada Tabel 29.
Tabel 29. Komoditas Unggulan Hortikultura
No Kecamatan
Komoditas Unggulan Hortikultura Komoditas Unggulan Utama
Komoditas Unggulan Penunjang
1. Dempo Selatan
- -
2. Dempo Tengah
- -
3. Dempo Utara
kubis wortel,tomat, buncis, labu siam
4. Pagar Alam Selatan
- -
5. Pagar Alam Utara
- -
Komoditas hortikultura Kota Pagar Alam merupakan salah satu pemasok hortikultura Kota Palembang. Setiap harinya sayuran di Kota Pagar Alam memasok
produk hortikultura dengan transportasi angkutan darat. Daerah utama penghasil hortikultura di Kota Pagar Alam adalah di Dusun Kerinjing Kelurahan Agung
Lawangan Kecamatan Dempo Utara. Daerah tersebut merupakan pemasok utama produk hortikutura dari Kota Pagar Alam.
5.2. Ketersediaan Lahan dan Kesesuaian Lahan 5.2.1. Komoditas Unggulan Perkebunan
5.2.1.1. Ketersediaan Lahan Analisis ketersediaan lahan merupakan hal yang penting dilakukan dalam
evaluasi lahan untuk tujuan pengembangan komoditas unggulan. Analisis ketersediaan lahan didapatkan dari satuan peta tanah Kota Pagar Alam yang dikurangi
oleh peta pola ruang dan peta rencana strategis dalam RTRW Kota Pagar Alam, peta kawasan hutan lindung, peta penggunaan lahan, peta perizinan, peta perkebunan karet
sesuai dengan Tabel 6. Dari analisis ketersediaan lahan didapatkan luasan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan kopi terdapat pada semua
kecamatan. Hasil analisis ketersediaan lahan kopi dapat dilihat pada Tabel 30. 48
Tabel 30. Ketersediaan Lahan Pengembangan Kopi
No Kecamatan
Luas ha
1. Dempo Selatan
10,390.00 2.
Dempo Tengah 6,064.00
3. Dempo Utara
5,037.00 4.
Pagar Alam Selatan 422.04
5. Pagar Alam Utara
1,909.53
Jumlah 23,561.57
Dari Tabel 30 didapatkan luasan ketersediaan lahan untuk komoditas perkebunan di Kota Pagar Alam. Ketersediaan lahan terbesar terdapat di Kecamatan
Dempo Selatan seluas 10,390 ha. Ketersediaan lahan komoditas perkebunan terkecil terdapat di Kecamatan Pagar Alam Selatan. Kecamatan Pagar Alam Selatan
merupakan kawasan pengembangan kota sehingga diutamakan pola ruang untuk pengembangan kota. Peta ketersediaan lahan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Peta Ketersediaan Lahan Komoditas Unggulan Perkebunan 49
5.2.1.2. Evaluasi Kesesuaian Lahan
Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan pada peta ketersediaan lahan berdasarkan komoditas unggulan yang telah didapatkan dengan menggunakan
kriteria kesesuaian lahan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian tahun 2011Lampiran 1. Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan
dengan membandingkan karakteristik fisik lahan dengan kriteria kesesuaian lahan dari BBSDLP. Adapun hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk komoditas unggulan
perkebunan kopi dapat dilihat pada Tabel 31 dan Gambar 7. Tabel 31. Kelas Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas unggulan Kopi
No Kelas Kesesuaian
Faktor Penghambat Luas ha
1. Sesuai 2 S2
tekstur 91.42
bulan kering, tekstur 7,606.71
jumlah 7,698.13
2. Sesuai 3 S3
bulan kering 4,269.71
drainase 499.63
suhu 5,531.50
kelas lereng 182.68
bulan kering, drainase 156.00
bulan kering, kelas lereng 100.31
drainase, kelas lereng 5.90
suhu,drainase 38.82
suhu,kelas lereng 387.31
suhu, bulan kering 4,309.87
suhu, bulan kering,drainase 77.50
suhu, bulan kering,kelas lereng 151.91
jumlah 15,711.12
3 Tidak sesuai N
suhu 152.3
Berdasarkan Tabel 31 bahwa kelas kesesuaian lahan kopi berada pada kelas kesesuaian S2 dan S3. Kelas kesesuaian lahan S2 memiliki luasan sebesar 7,698.13
ha dengan faktor penghambat tekstur dan bulan kering. Kelas kesesuaian lahan S3 sebesar 15,711.12 ha dengan faktor penghambat diantaranya bulan kering, drainase,
suhu dan kelas lereng. Luas potensi ini belum sepenuhnya merupakan luasan yang akan dikembangkan tetapi masih memperhatikan luasan kopi eksisting yang dapat
dilihat pada Tabel 32 dan Gambar 7. 50
Tabel 32. Luas Eksisting Perkebunan Kopi Kota Pagar Alam No
Kecamatan Luas ha
1 Dempo Selatan
5,878.30 2
Dempo Tengah 5,629.72
3 Dempo Utara
3,900.91 4
Pagar Alam Selatan 460.90
5 Pagar Alam Utara
1,825.91
Jumlah 17,695.73
Gambar 7. Peta Kelas Kesesuaian Lahan dan Peta Eksisting Kopi
Dari Tabel 32 dan Gambar 7 terlihat bahwa komoditas kopi mendominasi penggunaan lahan perkebunan di Kota Pagar Alam. Penggunaan lahan perkebunan
kopi merupakan penutupan lahan kedua terbesar setelah kawasan hutan lindung. Dari Gambar 7 terlihat bahwa hampir semua kecamatan didominasi oleh perkebunan kopi.
51
5.2.1.3 Potensi Penggunaan Lahan
Potensi penggunaan lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan utama yaitu pengembangan kopi didapatkan dari peta kesesuaian lahan
kopi dikurangi lokasi eksisting perkebunan kopi Gambar 7. Lokasi potensi pengembangan lahan kopi dapat dilihat pada Gambar 8 sedangkan luasannya dapat
dilihat pada Tabel 33.
Gambar 8. Peta Potensi Ekstensifikasi Kopi
Tabel 33. Potensi Ekstensifikasi Lahan Kopi
Kelas Kesesuaian S2 Kelas Kesesuaian S3
Kecamatan Luas ha Kecamatan
Luas ha Dempo Selatan
2,549.21 Dempo Selatan 1,298.51
Dempo Tengah 401.20 Dempo Tengah
944.30 Dempo Utara
0 Dempo Utara 1,475.42
Pagar Alam Selatan 5.81 Pagar Alam Selatan
183.21 Pagar Alam Utara
70.92 Pagar Alam Utara 294.20
Jumlah 3,027.34 Jumlah
4,415.74
Potensi pengembangan kopi dari Gambar 8 dan Tabel 32 masih sangat besar. Potensi pengembangan kopi seluas 7,443.08 ha terdiri dari kelas kesesuaian S2
3,027.34 ha dan kelas kesesuaian S3 4,415.74 ha. Potensi pengembangan kopi terbesar berada di kecamatan Dempo Selatan seluas 2,549.12 ha dengan kelas
kesesuaian S2 kemudian Kecamatan Dempo Utara seluas 1,475.42 ha dengan kelas kesesuaian S3. Potensi pengembangan lahan kopi tersebut berupa semak belukar,
lahan terbuka dan perkebunan kopi yang tidak produktif lagi.
5.2.2. Komoditas Unggulan Tanaman Pangan 5.2.2.1. Ketersediaan Lahan
Analisis ketersediaan lahan didapatkan dari satuan peta tanah Kota Pagar Alam yang dikurangi oleh peta pola ruang dan peta rencana kawasan strategis dalam
RTRW Kota Pagar Alam, peta kawasan hutan lindung, peta penggunaan lahan, peta perizinan sesuai dengan Tabel 7 sehingga didapatkan ketersediaan lahan untuk
pertanian. Ketersediaan lahan untuk pertanian kemudian dialokasikan untuk tanaman pangan dan hortikultura sesuai dengan arahan pengembangan pemerintah daerah.
Dari analisis ketersediaan lahan untuk tanaman pangan didapatkan luasan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan padi sawah di tiap
kecamatan. Hasil analisis ketersediaan lahan untuk padi sawah dapat dilihat pada Tabel 34.
Tabel 34. Ketersediaan Lahan Pengembangan Padi Sawah
No Kecamatan
Luas ha
1. Dempo Selatan
1,156.90 2.
Dempo Tengah 1,657.71
3. Dempo Utara
207.92 4.
Pagar Alam Selatan 173.91
5. Pagar Alam Utara
765.82
Jumlah 3,962.26
Dari Tabel 34 didapatkan luasan ketersediaan lahan untuk komoditas padi sawah di Kota Pagar Alam. Ketersediaan lahan terbesar terdapat di Kecamatan
Dempo Tengah seluas 1,657.91ha. Ketersediaan lahan komoditas padi sawah terkecil terdapat di Kecamatan Pagar Alam Selatan. Kecamatan Pagar Alam Selatan
merupakan kawasan pengembangan kota sehingga diutamakan pola ruang untuk pengembangan kota. Peta ketersediaan lahan dapat dilihat pada Gambar 9.
53
Gambar 9. Peta Ketersediaan Lahan Komoditas Tanaman Pangan 5.2.2.2. Evaluasi Kesesuaian Lahan
Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan pada peta ketersediaan lahan berdasarkan komoditas unggulan yang telah didapatkan dengan menggunakan
kriteria kesesuaian lahan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian tahun 2011 Lampiran 2. Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan
dengan membandingkan karakteristik fisik lahan dengan kriteria kesesuaian lahan dari BBSDLP. Adapun hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk komoditas unggulan
padi sawah dapat dilihat pada Tabel 35 dan Gambar 10. 54
Tabel 35. Kelas Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas unggulan Padi Sawah
No Kelas
Kesesuaian Faktor Penghambat
Luas ha
1. Sesuai 2 S2
temperatur 302.41
temperatur, kelas lereng 6.40
temperatur, kelas lereng, drainase 20.93
Jumlah 329.74
2. Sesuai 3 S3
temperatur 2,326.90
temperatur, kelas lereng 1,187.31
Jumlah
3,514.21 3
Tidak sesuai N kelas lereng
91.20 temperatur
27.11
Jumlah 118.31
Berdasarkan Tabel 35 menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan padi sawah berada pada kelas kesesuaian S2 dan S3. Kelas kesesuaian lahan S2 memiliki luasan
sebesar 329.74 ha dengan faktor penghambat temperatur, kelas lereng dan drainase. Kelas kesesuaian lahan S3 sebesar 3,514.21 ha dengan faktor penghambat temperatur
dan kelas lereng. Luas potensi ini belum sepenuhnya merupakan luasan yang akan dikembangkan tetapi masih memperhatikan luasan padi sawah eksisting yang dapat
dilihat pada Tabel 36 dan Gambar 10.
Tabel 36. Luas Eksisting Padi Sawah Kota Pagar Alam No
Kecamatan Luas ha
1 Dempo Selatan
992.92 2
Dempo Tengah 190.40
3 Dempo Utara
360.51 4
Pagar Alam Selatan 794.22
5 Pagar Alam Utara
835.70
Jumlah 3,223.95
Berdasarkan Tabel 36 menunjukkan bahwa luas sawah eksisting di Kota Pagar Alam terluas terletak di Kecamatan Dempo Selatan sebesar 992.92 ha dan
Kecamatan Pagar Alam Utara sebesar 835.70 ha. Kecamatan Pagar Alam Selatan yang merupakan pusat kota dan pemerintahan memiliki luas sawah yang cukup besar
yaitu 794.22 ha. Kecamatan Dempo Tengah merupakan kecamatan yang paling sedikit memiliki lahan padi sawah yaitu hanya 190.40 ha.
55
Gambar 10. Peta Kelas Kesesuaian Lahan dan Peta Eksisting Padi Sawah
Dari Gambar 10 didapatkan bahwa padi sawah eksisting di Kecamatan Pagar Alam Selatan cukup luas namun kedepannya dalam arahan rencana kawasan strategis
akan beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman. Arahan pengembangan Kota dalam RTRW Kota Pagar Alam tersebut akan menjadikan berkurangnya luasan lahan
sawah. 5.2.2.3. Potensi Penggunaan Lahan
Potensi penggunaan lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan utama yaitu pengembangan padi sawah didapatkan dari peta kesesuaian
lahan yang berasal dari peta ketersediaan lahan dikurangi lokasi eksisting lahan padi sawah Gambar 10. Lokasi potensi pengembangan lahan padi sawah dapat dilihat
pada Gambar 11 sedangkan luasannya dapat dilihat pada Tabel 37. 56
Gambar 11. Peta Potensi Ekstensifikasi Padi Sawah
Tabel 37. Potensi Ekstensifikasi Padi Sawah
Kelas Kesesuaian S2 Kelas Kesesuaian S3
Kelas Kesesuaian N Kesesuaian Lahan Potensial S3
Dengan Perbaikan Kelas lereng
Kecamatan Luas ha Kecamatan
Luas ha Kecamatan Dempo
Selatan 42.91 Dempo Selatan
331.93 Dempo Selatan
Dempo Tengah
0 Dempo Tengah 1,438.91 Dempo
Tengah 52.82
Dempo Utara 0 Dempo Utara
0 Dempo Utara Pagar
Alam Selatan
10.30 Pagar Alam
Selatan 17.61 Pagar
Alam Selatan
Pagar Alam
Utara 172.61 Pagar
Alam Utara
313.52 Pagar Alam
Utara
Jumlah 225.82 Jumlah
2,101.97 Jumlah 52.82
57
Potensi ekstensifikasi padi sawah di Kota Pagar Alam masih cukup besar. Potensi pengembangan padi sawah seluas 2,380.61 ha terdiri dari kelas kesesuaian S2
225.82 ha dan kelas kesesuaian S3 2,101.97 ha. Potensi pengembangan padi sawah kelas kesesuaian N dengan perbaikan kelas lereng sehingga menjadi kelas kesesuaian
S3 sebesar 52.82 ha. Potensi pengembangan padi sawah terbesar berada di Kecamatan Dempo Tengah dengan luas 1,491.73 ha kemudian Kecamatan Pagar
Alam Utara sebesar 486.13 ha. Potensi ekstensifikasi lahan padi sawah tersebut berupa lahan pertanian hortikultura, perkebunan kopi dan lahan terbuka.
5.2.3. Komoditas Unggulan Tanaman Hortikultura 5.2.3.1 Ketersediaan Lahan
Analisis ketersediaan lahan didapatkan dari satuan peta tanah Kota Pagar Alam yang dikurangi oleh peta pola ruang dan peta rencana kawasan strategis dalam
RTRW Kota Pagar Alam, peta kawasan hutan lindung, peta penggunaan lahan, peta perizinan sesuai dengan Tabel 7 sehingga didapatkan ketersediaan lahan untuk
pertanian. Ketersediaan lahan untuk pertanian kemudian dialokasikan untuk tanaman pangan dan hortikultura sesuai dengan arahan pengembangan pemerintah daerah.
Dari hasil analisis ketersediaan lahan untuk tanaman hortikultura didapatkan luasan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan hortikultura. Hasil
analisis ketersediaan lahan menunjukkan bahwa di Kecamatan Dempo Utara lahan yang tersedia untuk pengembangan hortikultura seluas 400.91 ha. Kecamatan Dempo
Utara merupakan pusat pertanian hortikultura terbesar di Kota Pagar Alam. Pertanian hortikultura Kota Pagar Alam merupakan pertanian dataran tinggi. Dari Kecamatan
Dempo Utara inilah produksi hortikultura disuplai ke Kota Palembang. Beberapa komoditas yang dikembangkan diantaranya adalah kubis, wortel, tomat dan cabe
merah. Peta ketersediaan lahan dapat dilihat pada Gambar 12.
Ketersediaan lahan komoditas hortikultura yang hanya terdapat di Kecamatan Dempo Utara dikarenakan dalam peta rencana tata ruang dan wilayah alokasi terbesar
dalam pola ruang pertanian adalah untuk padi sawah. Alokasi untuk pengembangan hortikultura dari Pemerintah Kota Pagar Alam dalam kebijakannya di khususkan
pengembangannya di Kecamatan Dempo Utara. Pertanian hortikultura di Kecamatan Dempo Utara sudah mulai berkembang sejak tahun 1980. Pengembangan pertanian
hortikultura di kecamatan ini dikembangkan secara intensif dengan pemanfaatan sebagian lahan secara terasering.
Gambar 12. Peta Ketersediaan Lahan Komoditas Hortikultura 5.2.3.2 Evaluasi Kesesuaian Lahan
Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan pada peta ketersediaan lahan berdasarkan komoditas unggulan yang telah didapatkan dengan menggunakan
kriteria kesesuaian lahan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya lahan tahun 2011Lampiran 3. Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan
membandingkan karakteristik fisik lahan dengan kriteria kesesuaian lahan dari BBSDLP. Adapun hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk komoditas unggulan
hortikultura kubis dapat dilihat pada Tabel 38.
Tabel 38. Kelas Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Unggulan Kubis
No Kelas kesesuaian Faktor Penghambat
Luas ha
1. Sesuai 2 S2
kelas lereng 37.20
Sesuai 2 S2 kelas lereng,kedalaman tanah
38.71 Jumlah
75.91 2.
Sesuai 3 S3 tekstur tanah
21.31 Sesuai 3 S3
curah hujan 200.20
Sesuai 3 S3 curah hujan, kelas lereng
7.58 Sesuai 3 S3
kelas lereng,curah hujan,tekstur tanah 82.33
Jumlah 311.42
59
Berdasarkan Tabel 38 didapatkan bahwa kelas kesesuaian lahan untuk komoditas kubis berada pada kelas kesesuaian lahan S2 dan S3. Kelas kesesuaian
lahan S2 sebesar 75.71 ha dengan faktor penghambat kelas lereng dan kedalaman tanah. Kelas kesesuaian lahan S3 sebesar 311.42 ha dengan faktor penghambat
tekstur, curah hujan dan kelas lereng. Luas potensi ini belum sepenuhnya merupakan luasan yang akan dikembangkan tetapi masih memperhatikan luasan hortikultura
eksisting yang dapat dilihat pada Gambar 13. Untuk lokasi eksisting lahan tanaman hortikultura di Kota Pagar Alam menunjukkan luasan yang melebihi arahan pola
ruang. Peta lokasi eksisting hortikultura dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Peta Kelas Kesesuaian Lahan dan Peta Eksisting kubis
5.2.3.3 Potensi Penggunaan Lahan
Potensi penggunaan lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan utama yaitu pengembangan kubis didapatkan dari peta kesesuaian lahan
yang berasal dari peta ketersediaan lahan dikurangi lokasi eksisting lahan padi sawah Gambar 13. Lokasi potensi pengembangan lahan kubis dapat dilihat pada Gambar
14. Dari peta eksisting Gambar 13 didapatkan kecenderungan penggunaan lahan untuk komoditas hortikultura melebihi arahan dalam pola ruang. Sebagian pola ruang
untuk perkebunan sudah dialih fungsikan untuk pertanian tanaman hortikultura. 60
Gambar 14. Peta Potensi Ekstensifikasi Kubis Potensi ekstensifikasi kubis di Kota Pagar Alam masih cukup besar. Potensi
pengembangan lahan kubis seluas 207.78 ha dengan kelas kesesuaian lahan S3. Potensi ekstensifikasi ini terletak di Kelurahan Reba Tinggi dan Kelurahan Jangkar
Mas Kecamatan Dempo Utara. Potensi ekstensifikasi lahan kubis tersebut berupa lahan yang saat ini digunakan sebagai sawah dengan kelas kesesuaian S3.
5.3 Analisis Hirarki Wilayah