Asas Konsensualitas dan Keterbukaan Dalam Perjanjian Informed Consent Sebagai Bagian dari Pertanggung Jawaban Pelayanan Medis

(1)

ASAS KONSENSUALITAS DAN KETERBUKAAN DALAM

PERJANJIAN INFORMED CONSENT SEBAGAI BAGIAN

DALAM PERTANGGUNG JAWABAN PELAYANAN MEDIS

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum

Oleh

HARIANTO WIRJONO NIM : 060200243

HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM STUDI PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

ASAS KONSENSUALITAS DAN KETERBUKAAN DALAM

PERJANJIAN INFORMED CONSENT SEBAGAI BAGIAN

DALAM PERTANGGUNG JAWABAN PELAYANAN MEDIS

Skripsi

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum

Oleh

HARIANTO WIRJONO NIM : 060200243

HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM STUDI PERDATA BW

Disetujui Oleh

Ketua Departemen Hukum Keperdataan

Nip. 196603031985081001 Dr. Hasim Purba, SH, M.Hum

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof. Dr. Tan Kamello, SH, MS

Nip. 196204211988031004 Nip. 195203301976011001 Sunarto Adiwibowo, SH, M.Hum


(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “Asas Konsensualitas dan Keterbukaan Dalam

Perjanjian Informed Consent Sebagai Bagian dari Pertanggung Jawaban Pelayanan Medis”, yang dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Hukum pada Fakultas hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Penulis Menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sekalian sangat penulis harapkan demi kebaikan karya penulis dimasa yang akan datang. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis menyadari bukan hanya bersandar pada kemampuan penulis semata tetapi tidak terlepas dari bantuan semua pihak yang diberikan kepada penulis. Untuk itu sudah sepantasnya penulis memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

3. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, SH, MS, selaku Dosen Pembimbing I yang telah menyediakan waktu untuk memberi petunjuk dan bimbingan hingga skripsi ini dapat diselesaikan.


(4)

4. Bapak Sunarto Adiwibowo, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang telah menyediakan waktu untuk memberi petunjuk dan bimbingan hingga skripsi ini dapat diselesaikan.

5. Bapak Dr. Hasim Purba, SH, M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

6. Bapak Syariffudin Hasibuan, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

7. Bapak Muhammad Husni, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

8. Bapak Dr. Faisal Akbar Nasution, SH, M.Hum, selaku Dosen Wali atau Penasehat Akademik penulis yang telah memberikan saran dan petunjuk selama menjalani proses pendidikan di Fakultas Hukum USU.

9. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pendidikan dan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

10.Seluruh Staf Karyawan di Rumah Sakit Dr. Pringadi yang telah membantu penulis dalam melakukan riset dan memberikan informasi yang penulis butuhkan dalam penyelesaian skripsi ini.

11.Kepada kedua Orang Tua penulis, H. Wirjono dan H. Yandana yang telah mendidik dan membesarkan penulis sehingga penulis dapat mengecap dan merasakan pendidikan sampai saat ini serta segala doa dan dukungan yang diberikan tanpa henti kepada penulis.


(5)

12.Kepada teman-teman penulis selama mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum USU, Rahmat Arifin Mendrofa, M. Zaini, Edward Sinaga, Archiman Simbolon, Daud Hidyat Lubis, Budi Prasetyo, Fheby Thea Anggreany dan seluruh Stambuk 2006 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan yang ada pada penulis. Akan tetapi penulis tetap memberikan pengharapan bahwa skripsi ini dapat memberikan sedikit sumbangan ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua, Akhir kata diucapkan terima kasih atas segala bimbingan dan bantuan kepada penulis, Sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Maret 2011 Penulis


(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………... i

DAFTAR ISI……….. iv

ABSTRAK……….. vi

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang………... 1

B. Rumusan Masalah………. 12

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan……….. 12

D. Keaslian Penulisan………. ...…. 13

E. Tinjauan Kepustakaan.……….. 14

F. Metode Penulisan……….. 18

G. Sistematika Penulisan……… 19

BAB II. TINJAUAN UMUM PERJANJIAN A. Pengertian Perjanjian……….………. 21

B. Asas-Asas Perjanjian……….. 26

C. Subjek dan Objek Perjanjian………... 32

D. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian……….... 34

E. Jenis-Jenis Perjanjian………... 41

F. Wanprestasi dan Akibat-Akibatnya……….……….. 43

G. Pembelaan Terhadap Debitur Yang Dituduh Lalai……….………... 49

H. Berakhirnya Perjanjian………... 50


(7)

A. Pengertian Transaksi Terapeutik……… 52

B. Dasar Hukum Transaksi Terapeutik………... 54

C. Tujuan Transaksi Terapeutik……….. 58

D. Hubungan Hukum Antara Dokter dan Pasien……… 60

E. Hak dan Kewajiban Antara Dokter dan Pasien……….. 64

F. Asas Hukum dalam Pelayanan Medis………. 70

G. Akibat Hukum Para Pihak dalam Kontrak Terapeutik………... 72

BAB IV. BENTUK DAN PELAKSANAAN INFORMED CONSENT DALAM TINDAKAN MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. PRINGADI A. Latar Belakang dan Pengertian Informed Consent……….. 77

B. Teori-Teori dan Bentuk Informed Consent………. 82

C. Unsur-Unsur Yang Mendasari Hak Atas Informasi……….... 88

D. Bentuk dan Pelaksanaannya di Rumah Sakit Umum Dr. Pringadi... 92

E. Peranan Asas Konsensualitas dan Keterbukaan dalam Perjanjian Informed Consent Berkaitan Dengan Tindakan Medis………... 102

F. Aspek Hukum Perdata dan Tanggung Jawab Pelaksanaan Informed Consent………... 134

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan……… 140

B. Saran……….. 142

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN


(8)

ASAS KONSENSUALITAS DAN KETERBUKAAN DALAM PERJANJIAN INFORMED CONSENT SEBAGAI BAGIAN DALAM

PERTANGGUNG JAWABAN PELAYANAN MEDIS

Harianto Wirjono1

Prof. Dr. Tan Kamello, SH, MS2 Sunarto Adiwibowo, SH, M.Hum3

ABSTRAK

Dalam dunia kedokteran praktik kedokteran merupakan suatu pemberian bantuan secara individual oleh dokter kepada pasien berupa pelayanan medis. Hubungan antara dokter dan pasien yang terjadi dalam pelayanan medis itu merupakan hubungan yang sangat pribadi dan disebut sebagai transaksi terapeutik yang merupakan bagian penting dalam seluruh sistem pelayanan kesehatan dan tidak terlepas dari berbagai faktor telah mengakibatkan hubungan antara dokter dan pasien semakin tidak pribadi.

Berkaitan dengan hal tersebut untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum terhadap mereka, maka diperlukan peran hukum yang dapat mengayomi. Di antara bagian terpenting dari aspek hukum dari relasi dokter -pasien adalah mengenai informed consent. Informed consent adalah suatu istilah yang digunakan dalam literature asing untuk menyebut ‘ hak pasien atas informasi dan hak pasien untuk memberikan persetujuan ‘. jadi pada pokoknya, Informed Consent merupakan proses komunikasi antara dokter dan pasien tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap pasien.yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan formulir Informed Consent secara tertulis. Hal ini didasari atas hak seorang pasien atas segala sesuatu yang terjadi pada tubuhnya serta tugas utama dokter dalam melakukan penyembuhan terhadap pasien sebagai bentuk pelayanan medis.

Adapun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana bentuk dan pelaksanaan informed consent dalam hubungan tanggung jawab medis antara pasien dan dokter dan apakah perjanjian antara keduanya telah memenuhi aspek hukum perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata.

Metode penelitian yang dipergunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode yuridis normatif dan data primer sebagai pendukung. Metode penelitian yuridis normatif dipergunakan dalam penelitian ini guna melakukan penelusuran

1 Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, Nim: 060200243. 2

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan.


(9)

terhadap norma-norma hukum, serta untuk memperoleh data maupun keterangan yang terdapat dalam literatur di perpustakaan, jurnal hasil penelitian, situs internet dan sebagainya. Serta data primer yang didapat berupa pemahaman studi dokumen dan hasil wawancara.

Dalam pelaksanaan informed consent / persetujuan tindakan medis yang diteliti dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan dan aspek hukum dalam pelaksanaan mengenai tindakan medis berdasarkan informasi yang diberikan oleh dokter dapat dilakukan dengan pengertian adanya syarat kebebasan oleh pihak pasien untuk menyetujuinya dalam pencapaian tujuan tindakan medis tertentu, dan jika informed consent dibuat secara tertulis tidak dengan sendirinya berarti dokter terbebas dari kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap tindakan dan atau akibat tindakan medis yang dilakukannya.

Kata Kunci : - Transaksi Terapeutik - Informed Consent - Aspek Hukum Perjanjian


(10)

ASAS KONSENSUALITAS DAN KETERBUKAAN DALAM PERJANJIAN INFORMED CONSENT SEBAGAI BAGIAN DALAM

PERTANGGUNG JAWABAN PELAYANAN MEDIS

Harianto Wirjono1

Prof. Dr. Tan Kamello, SH, MS2 Sunarto Adiwibowo, SH, M.Hum3

ABSTRAK

Dalam dunia kedokteran praktik kedokteran merupakan suatu pemberian bantuan secara individual oleh dokter kepada pasien berupa pelayanan medis. Hubungan antara dokter dan pasien yang terjadi dalam pelayanan medis itu merupakan hubungan yang sangat pribadi dan disebut sebagai transaksi terapeutik yang merupakan bagian penting dalam seluruh sistem pelayanan kesehatan dan tidak terlepas dari berbagai faktor telah mengakibatkan hubungan antara dokter dan pasien semakin tidak pribadi.

Berkaitan dengan hal tersebut untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum terhadap mereka, maka diperlukan peran hukum yang dapat mengayomi. Di antara bagian terpenting dari aspek hukum dari relasi dokter -pasien adalah mengenai informed consent. Informed consent adalah suatu istilah yang digunakan dalam literature asing untuk menyebut ‘ hak pasien atas informasi dan hak pasien untuk memberikan persetujuan ‘. jadi pada pokoknya, Informed Consent merupakan proses komunikasi antara dokter dan pasien tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap pasien.yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan formulir Informed Consent secara tertulis. Hal ini didasari atas hak seorang pasien atas segala sesuatu yang terjadi pada tubuhnya serta tugas utama dokter dalam melakukan penyembuhan terhadap pasien sebagai bentuk pelayanan medis.

Adapun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana bentuk dan pelaksanaan informed consent dalam hubungan tanggung jawab medis antara pasien dan dokter dan apakah perjanjian antara keduanya telah memenuhi aspek hukum perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata.

Metode penelitian yang dipergunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode yuridis normatif dan data primer sebagai pendukung. Metode penelitian yuridis normatif dipergunakan dalam penelitian ini guna melakukan penelusuran

1 Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, Nim: 060200243. 2

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan.


(11)

terhadap norma-norma hukum, serta untuk memperoleh data maupun keterangan yang terdapat dalam literatur di perpustakaan, jurnal hasil penelitian, situs internet dan sebagainya. Serta data primer yang didapat berupa pemahaman studi dokumen dan hasil wawancara.

Dalam pelaksanaan informed consent / persetujuan tindakan medis yang diteliti dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan dan aspek hukum dalam pelaksanaan mengenai tindakan medis berdasarkan informasi yang diberikan oleh dokter dapat dilakukan dengan pengertian adanya syarat kebebasan oleh pihak pasien untuk menyetujuinya dalam pencapaian tujuan tindakan medis tertentu, dan jika informed consent dibuat secara tertulis tidak dengan sendirinya berarti dokter terbebas dari kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap tindakan dan atau akibat tindakan medis yang dilakukannya.

Kata Kunci : - Transaksi Terapeutik - Informed Consent - Aspek Hukum Perjanjian


(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai naluri untuk selalu berhubungan dengan sesamanya semenjak ia dilahirkan. Hubungan ini juga merupakan suatu kebutuhan bagi setiap manusia, oleh karena itu dengan berhubungan dengan sesamanya maka ia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Selain itu berhubungan dengan sesamanya, juga menunjukan bahwa selain itu manusia itu merupakan makhluk sosial di samping kedudukannya sebagai mahkluk individu. Segala keterbatasan, kekurangan serta kelemahan yang ada pada manusia juga menghendaki ia untuk selalu berhubungan dengan orang lain.

Keadaan sakit merupakan contoh bahwa manusia (penderita) dalam keadaan lemah, kekurangan (sehat) sehingga pada saat itu ia membutuhkan seseorang yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan yang utama bagi orang itu adalah kebutuhan akan adanya orang lain yang dapat membantu menyembuhkan penyakitnya. Orang yang dimaksud itu ialah sang pengobat (dokter). Berdasarkan hak dari setiap orang untuk mendapatkan hak diobati penyakitnya, maka timbullah kewajiban bagi mereka yang berprofesi sebagai dokter untuk melayani pasiennya dengan sebaik-baiknya.4

4Munir Fuady, Sumpah Hippocrates ( Aspek Hukum Malpraktek Dokter ), PT. Citra Aditya


(13)

Secara sosiologis, suatu hubungan antara manusia yang sempurna itu selalu ditandai dengan adanya suatu kegiatan yang saling mengisi, saling tergantung secara fungsional antara pihak yang saling berhubungan.

Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter kepada pasien akan menimbulkan suatu hubungan antara dokter dan pasien. Dimana para pasien yang merasa membutuhkan jasa pelayanan kesehatan dari seorang dokter, akan mendatangi dokter tersebut dengan memiliki kepercayaan bahwa dokter adalah seorang professional medis yang telah terikat sumpah untuk melakukan tugas-tugasnya dengan sebaik-baiknya dalam bidang kesehatan sesuai dengan standart profesi dokter. Pasien pada umumnya melakukan konsultasi terlebih dahulu mengenai keadaan kesehatannya dan selanjutnya dokter akan melakukan diagnosa dan langkah-langkah untuk menyembuhkan penyakit pasien tersebut.

Hal ini dapat terjadi bila para pihak itu mempunyai kedudukan yang relatif sama atau sederajat. Sedangkan bila kita lihat hubungan antara dokter dengan pasiennya maka ketentuan saling mengisi, saling tergantung tidaklah terpenuhi. Hal ini karena kedudukan dokter dengan pasiennya tidaklah sama, terlebih lagi bila hubungan dokter-pasien dilihat dari pola paternalistik. Pada pola paternalistik maka hubungan dokter dengan pasien bersifat Vertikal, dimana dokter berada diatas sementara pasien berada dibawah.5

Mengingat perbedaan posisi, kedudukan serta peranan antara dokter dan pasien, maka umumnya hanya akan terlihat adanya “superioritas” dokter terhadap pasien. Kegiatan hanya ada pada pihak dokter, sedangkan pasien pada umunya

5Husein Kerbala, Segi-Segi Etis dan Yurisdis Informed Consent, Pustaka Sinar Harapan,


(14)

hanya pasif atau tidak menjalankan suatu fungsi. Hubungan yang tidak seimbang ini dengan sendirinya menempatkan posisi pasien dibawah dokter sebagai pengobatnya.

Selain itu dokter juga dianggap lebih mengetahui tentang segala sesuatu yang menyangkut diri pasiennya daripada pasien itu sendiri.

Partisipasi dari pasien pun yang diperbolehkan hanyalah patuh secara mutlak pada dokter, tanpa mengetahui apa obatnya dan bagaimana pengobatan yang sedang diusahakan dokter, tanpa mengetahui apa obatnya dan bagaimana pengobatan yang sedang diusahakan oleh dokter. Bahkan cidera maupun kematian sekalipun yang terjadi pada pasien setelah usaha dan pertolongan yang dilakukan oleh dokter, akan diterima dengan kepasrahan dan selalu dianggap sebagai keadaan yang merupakan kelanjutan dari penyakitnya. Hubungan dokter dengan pasiennya yang demikian benar-benar bersifat Paternalistik.

Pola paternalistik ini untuk masa sekarang yang kesadaran hukum pasien akan hak-haknya semakin meningkat, serta tingkat pengetahuan masyarakat yang semakin tinggi sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan yang sekarang, karena pola ini menempatkan pasien sebagai obyek dari pekerjaan dokter. Namun demikian pola paternalistik itu masih banyak dianut oleh sebagian dokter. Sebagai perkembangan terhadap pola hubungan dokter dan pasien maka pola paternalistik yang dirasa sudah tidak lagi sesuai, kini mulai digeser kedudukannya oleh pandangan atau pola yang konsumerisme.

Berlawanan dengan pola paternalistik maka pada pola konsumerisme ini menempatkan posisi pasien pada “the patient knows best” yaitu pasien lebih


(15)

mengetahui apa yang terbaik buat dirinya dari pada orang lain termasuk dokter, seharusnya pasien dipandang sebagai subyek yang memiliki ”pengaruh besar” atas hasil akhir layanan bukan sekedar obyek. Hak-hak pasien harus dipenuhi mengingat kebutuhan pasien menjadi salah satu barometer mutu pelayanan, sebaliknya ketidakpuasan pasien akan melahirkan suatu tuntutan hukum. Sebagai konsumen dari jasa yang diberikan oleh seseorang, pasien tentunya memiliki harapan-harapan terhadap pemberi pelayanan kesehatan tersebut, yang terdiri dari reliability (kehandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan emphaty (empati).6

Sehingga menurut pola ini pasien berhak mengetahui segala macam tindakan pengobatan yang dilakukan terhadap dirinya dan untuk apa tindakan itu dilakukan. Pasien juga berhak untuk memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter setelah pasien itu memperoleh informasi yang cukup mengenai penyakitnya. Informasi dari dokter dalam hukum kedokteran merupakan hak pasien serta kewajiban dokter, baik diminta atau tidak diminta oleh pasien maka dokter wajib menyampaikan informasi tersebut kepada pasien.

Hak atas informasi dan hak memberikan persetujuan tersebut oleh pasien maupun keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medis apa yang akan dilakukan terhadap pasien dikenal dengan hak pasien atas informed consent.


(16)

Informed consent ini sangat erat kaitannya dengan tindakan medis yang artinya adalah suatu transaksi untuk menentukan atau upaya untuk mencari terapi yang paling tepat bagi pasien yang dilakukan oleh dokter. Sehingga hubungan antara informed consent dan tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter dapat dikatakan bahwa informed consent merupakan komponen utama yang mendukung adanya tindakan medis tersebut. Karena persetujuan yang diberikan secara sukarela yang diberikan oleh pasien dengan menandatangani informed consent adalah merupakan salah satu syarat subjektif untuk terjadinya / sahnya suatu perjanjian yaitu “sepakat untuk mengikatkan diri”. Dalam hal ini perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian untuk melakukan tindakan medis antara dokter dengan pasien.

Informed consent yang diterjemahkan dengan Persetujuan Tindakan Medik diatur di dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989. Bersama dengan standar profesi medis (SPM), persetujuan tindakan medis (PTM) merupakan unsur pokok dari tanggung jawab professional kedokteran. Informed consent merupakan salah satu bagian penting dalam suatu kontrak terapeutik antara dokter dan pasien, maka masalah informed consent mempunyai banyak korelasi/hubungan dengan masalah-masalah malpraktek medis (medical malpractice) baik dari segi hukum dan etika.7

Tujuan dari informed consent ini sendiri adalah :

1. Bagi pasien adalah untuk menentukan sikap atas tindakan medis yang mengandung resiko atau akibat yang bakal tidak menyenangkan pasien.


(17)

2. Bagi dokter adalah sebagai sarana untuk memperoleh legitimasi (pengesahan) atas tindakan medis yang akan dilakukan.

Yang berakibat terciptanya suatu hubungan hukum antara dokter dengan pasien. Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat menjadi tiga bentuk, yaitu :8

1. Persetujuan tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang kuat tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent).

2. Persetujuan lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien.

3. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya.

8 “Mengenal Informed Consent”, http:// irwandykapalawi.wordpress.com /2007/11/01/mengen al-informed-consent. ( 3 Maret 2011/19:40 ).


(18)

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PerMenKes) no. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dinyatakan bahwa Informed Consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut (pasal 1 ayat a). Adapun yang menjadi dasar hukum terjadinya informed consent yaitu :9

• Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989 Pasal 4 ayat 1, informasi diberikan kepada pasien baik diminta ataupun tidak diminta.

• Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989 Pasal 2 ayat 2, semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

• Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989 Pasal 13, apabila tindakan medik dilakukan tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya, maka dokter dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin prakteknya.

Pada masa sekarang, masyarakat semakin menyadari hak-haknya sebagai konsumen kesehatan. Mereka sering kali secara kritis bertanya tentang penyakit, pemeriksaan, pengobatan, serta tindakan yang akan diambil berkenaan dengan penyakitnya. Tidak jarang mereka mencari second opinion (pendapat kedua). Hal tersebut merupakan hak yang layak harus dihormati oleh pemberi pelayanan kesehatan. Memang harus diakui bahwa hak-hak dari pasien sebagai konsumen dari jasa pelayanan kesehatan masih sering kali dikalahkan oleh kekuasaan

9 “Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi”, http://groups.yahoo.com/group/Bayi-Kita/message/17256 ( 3 Maret 2011/19:30 ).


(19)

pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri, dan pengetahuan pasien mengenai kesehatan tersebut sangat terbatas. Dampak dari hal tersebut sangatlah dirasakan oleh pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan, dan tidak jarang menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi pasien baik kerugian moral ataupun material.

Sebagai akibat dari interaksi antara pasien sebagai konsumen dan pemberi pelayanan kesehatan, akan timbul suatu hubungan hukum antara pasien dan pemberi pelayanan kesehatan, yang akan melahirkan suatu hak-hak dan kewajiban-kewajiban pihak. Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan hak-hak dan kewajiban-kewajiban itu, seringkali muncul suatu sengketa yang disebabkan salah satu pihak merasa dirugikan, dalam prakteknya seringkali pasien yang merasa dirugikan.

Sekalipun didalam hubungan antara dokter dan pasien tujuan utamanya adalah kepentingan pasien yang berupa pengobatan penyakit dan perawatan kesehatan, namun karena hubungan antara dokter dan pasien merupakan hubungan hukum antara dua subjek hukum sebagai pendukung hak dan kewajiban, maka hukum melindungi baik kepentingan dokter maupun kepentingan pasien.

Dalam rangka menghindarkan timbulnya hal-hal yang dapat merugikan pasien dalam pelayanan kesehatan seperti diatas, maka timbul tuntutan terhadap ketentuan-ketentuan hukum untuk melindungi kepentingan-kepentingan pasien. Dalam hal ini perlu diintegrasikan elemen-elemen hukum yang memberi arah untuk tindakan profesi atau praktek kedokteran dari dokter kepada pasien.


(20)

Kebutuhan akan hukum untuk mengatur hubungan antara dokter dan pasien dalam pelayanan kesehatan mulai terbukti dengan munculnya beberapa permasalahan hukum dalam hubungan antara dokter dan pasien, yaitu dengan adanya kasus-kasus dalam profesi atau praktek kedokteran. Di pihak lain, hukum yang berlaku sekarang dalam kerangka hubungan antara dokter dan pasien masih tersebar dalam rangka beberapa peraturan perundang-undangan dan masih terlalu umum serta belum dapat menjangkau secara menyeluruh masalah-masalah dalam hubungan antara dokter dan pasien.

Hubungan antara dokter dan pasien pada umumnya merupakan hubungan kontrak. Bila ditinjau dari ketentuan hukum perdata maka terdapat persamaan dengan perjanjian, dimana hubungan antara dokter dan pasien akan menghasilkan suatu perjanjian yang disebut sebagai “kontrak terapeutik atau transaksi terapeutik”.

Di dalam ketentuan pasal 1320 KUH Perdata dinyatakan bahwa untuk sahnya perjanjian diperlukan 4 syarat, yaitu :10

1. Sepakat mereka yang mengikat dirinya 2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian 3. Suatu hal tertentu

4. Suatu sebab yang halal

Transaksi Terapeutik merupakan perjanjian (Kontrak) sebagaimana dimaksudkan dalam pasal diatas. Sedangkan informed consent merupakan kesepakatan yang menjadi syarat terjadinya suatu transaksi terapeutik. Sebab

10 Pasal 1320 KUH Perdata.


(21)

sahnya suatu kontrak diperlukan adanya ketiga syarat lainnya yang tercantum di dalam pasal 1320 KUH Perdata tersebut.11

Jika ditinjau dari segi hukum medik hubungan antara dokter dan pasien yang dimasukkan dalam suatu kontrak dimana pihak pertama mengikatkan diri untuk memberikan pelayanan sedangkan yang kedua menerima pemberian pelayanan. Dengan demikian maka sifat hubungannya mempunyai dua unsur :

1. Adanya suatu persetujuan (consensual, agreement), atas dasar saling menyetujui dari pihak dokter dan pasien tentang pemberian pelayanan pengobatan.

2. Adanya suatu kepercayaan (fiduciary relationship), karena hubungan kontrak tersebut berdasarkan saling percaya mempercayai satu sama lain. Dalam ilmu hukum, apabila suatu perjanjian tidak memenuhi persyaratan, maka dikatakan bahwa perjanjian itu sama sekali tidak mempunyai kekuatan hukum, artinya tidak ada ikatan hukum apapun bagi pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut. Secara ringkas dapat dikatakan kontrak tidak mempunyai kekuatan hukum apabila yang diperjanjikan adalah hal yang melanggar hukum.

Sebagai konsekuensi dari perjanjian tadi, timbullah kewajiban pada masing-masing pihak dengan satu pihak berkewajiban melaksanakan prestasi sedangkan pihak lain memenuhi kewajiban kontraprestasi. Dalam konteks ini, dokter wajib memberikan prestasi, sedangkan pasien wajib memenuhi kontraprestasi tadi. Prestasi yang dimaksud dapat berupa penyerahan sesuatu,

11 Veronica Komalawati, Hukum dan Etika dalam Praktek Dokter, Pustaka Sinar Harapan,


(22)

melakukan sesuatu perbuatan atau pun tidak melakukan suatu perbuatan dan dalam kontrak terapeutik prestasi tersebut adalah upaya penyembuhan.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas dan pada bagian sebelumnya, penulis tertarik untuk meneliti, mengkaji dan memahami yang berkenaan dengan asas-asas dan aspek hukum dalam pelaksanaan informed consent untuk dijadikan suatu skripsi dengan judul :

“Asas Konsensualitas dan Keterbukaan Dalam Perjanjian Informed Consent

Sebagai Bagian dari Pertanggung Jawaban Pelayanan Medis"

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah hubungan kontrak terapeutik dengan perjanjian dalam hukum perdata?

2. Bagaimanakah hubungan informed consent dengan kontrak terapeutik dan akibat-akibat hukum apakah yang timbul dengan dilaksanakannya kontrak terapeutik antara dokter dan pasien?

3. Bagaimanakah peranan asas konsesualitas dan keterbukaan terhadap informasi yang menjadi dasar informed consent serta bagaimana tanggung jawab dan proses pelaksanaannya oleh dokter di Rumah Sakit Umum Dr. Pringadi?


(23)

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Dalam penelitian dan pembahasan terhadap suatu permasalahan layaknya juga mempunyai suatu tujuan dan sesuai dengan masalah yang dibahas tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui dan memahami dengan jelas dasar hukum, bentuk dan fungsi dari perjanjian dalam pelaksanaan informed consent dalam transaksi terapeutik.

2. Untuk mengetahui dan memahami hubungan informed consent dengan Kontrak Terapeutik dan akibat-akibat hukum yang ditimbulkan hak dan kewajiban para pihak dalam pelaksanaan kontrak terapeutik.

3. Untuk memahami peranan asas konsesualitas dan keterbukaan yang menjadi dasar dari pemberian informasi dan kesepakatan dalam informed consent serta memahami proses pelaksanaannya oleh dokter di Rumah Sakit Umum Dr. Pringadi.

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Dengan penulisan ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian ataupun masukan terhadap pemahaman informed consent khususnya berkaitan dengan kontrak terapeutik dalam penyelenggaraan sistem pelayanan kesehatan.

2. Manfaat Praktis

Dengan penulisan ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan ataupun sumbangan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, member


(24)

manfaat bagi dunia pelayanan kesehatan dan masyarakat pada umumnya. Selain itu diharapkan agar tulisan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan penelitian di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara maka judul skripsi yang berjudul “Asas Konsensualitas dan Keterbukaan Dalam Perjanjian Informed Consent Sebagai Bagian dari Pertanggung Jawaban Pelayanan Medis" belum pernah diajukan. Dengan demikian, maka penulisan ini adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan.

E. Tinjauan Kepustakaan

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan manusia untuk mendapatkan kesehatan juga semakin meningkat. Pada saat seorang pasien menyatakan kehendaknya untuk menceritakan riwayat penyakitnya kepada dokter dan dokter menyatakan kehendaknya untuk mendengar keluhan pasien, maka telah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak. Kedatangan pasien ke tempat praktek dokter, Rumah Sakit, atau Klinik dapat ditafsirkan sebagai usaha mengajukan penawaran kepada dokter untuk diminta pertolongan dalam mengatasi keluhan yang dideritanya. Begitu pula sebaliknya, dokter juga akan melakukan pelayanan medis berupa rangkaian tindakan yang meliputi diagnose dan tindakan medik. Hubungan hukum ini selanjutnya disebut transaksi, yang


(25)

dalam hukum perdata disebut perjanjian. Hubungan pasien dokter dan rumah sakit selain berbentuk sebagai ikatan atau hubungan medik, juga berbentuk ikatan atau hubungan hukum. Sebagai hubungan medik, maka hubungan ini akan diatur oleh kaidah-kaidah medik. Sebagai hubungan hukum, maka hubungan itu akan diatur oleh kaidah-kaidah hukum.

Hubungan dokter dengan pasien merupakan hubungan terapeutik, yang dalam hukum dikatakan suatu perjanjian melakukan jasa-jasa tertentu. Dengan adanya perjanjian ini dimaksudkan mendapatkan hasil dari tujuan tertentu yang diharapkan pasien. Status legal dari seorang dokter dalam menjalankan profesinya dengan praktek merupakan masalah yang sangat kompleks. Jika ditinjau dari segi hukum medik, maka hubungan antara dokter dan pasien dapat dimasukkan dalam golongan kontrak. Suatu kontrak adalah pertemuan pikiran (meeting of minds) dari dua orang mengenai suatu hal (sollis). Pihak pertama mengikatkan diri untuk memberikan pelayanan sedangkan yang kedua menerima pemberian pelayanan.

Hubungan antara dokter dengan pasien pada umumnya merupakan hubungan kontrak. Terdapat persamaan kontrak antara hubungan dokter dengan pasien dengan hubungan kontrak yang terjadi dalam pengaturan hukum perdata, misalnya pada perjanjian jual beli, yakni bahwa hubungan kontrak antara kedua belah pihak dilakukan dengan legal untuk memutuskan suatu sikap yang telah disetujui bersama. Dalam melakukan terapi antara dokter terhadap pasien secara langsung terjadi ikatan kontrak. Pasien ingin diobati dan dokter setuju untuk mengobati. Untuk perjanjian kontrak yang valid harus ada pengertian dan kerjasama dari pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Pasien berhak untuk menolak pemeriksaan, menunda persetujuan dan bahkan membatalkan


(26)

persetujuan. Apabila pasien menolak untuk dilakukan tindakan medis, maka dokter wajib memberikan informasi mengenai baik buruknya tindakan tersebut bagi pasien.tersebut berdasarkan saling percaya mempercayai satu sama lain.

Dalam hubungan antara dokter dengan pasien, timbul perikatan usaha (inspanningsverbintenis) dimana sang dokter berjanji memberikan "prestasi" berupa usaha penyembuhan yang sebaik-baiknya dan pasien selain melakukan pembayaran, ia juga wajib memberikan informasi secara benar atau mematuhi nasihat dokter sebagai "kontra-prestasi". Disebut perikatan usaha karena didasarkan atas kewajiban untuk berusaha. Dokter harus berusaha dengan segala daya agar usahanya dapat menyembuhkan penyakit pasien. Hal ini berbeda dengan kewajiban yang didasarkan karena hasil / resultaat pada perikatan hasil (resultaatverbintenis), dimana prestasi yang diberikan dokter tidak diukur dengan apa yang telah dihasilkannya, melainkan ia harus mengerahkan segala kemampuannya bagi pasien dengan penuh perhatian sesuai standar profesi medis. Selanjutnya dari hubungan hukum yang terjadi ini timbullah hak dan kewajiban bagi pasien dan dokter.

Informed consent adalah suatu persetujuan mengenai akan dilakukannya tindakan kedokteran oleh dokter terhadap pasiennya. Persetujuan ini bisa dalam bentuk lisan maupun tertulis. Pada hakikatnya informed consent adalah suatu proses komunikasi antara dokter dan pasien tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap pasien. Penandatanganan formulir informed consent secara tertulis hanya merupakan pengukuhan atas apa yang telah disepakati sebelumnya. Tujuan penjelasan yang lengkap adalah agar pasien menentukan sendiri keputusannya sesuai dengan pilihan dia sendiri (informed


(27)

decision). Karena itu, pasien juga berhak untuk menolak tindakan medis yang dianjurkan. Pasien juga berhak untuk meminta pendapat dokter lain (second opinion), dan dokter yang merawatnya. Hal ini disebabkan informed consent berasal dari hak legal dan etis individu untuk memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya, dan kewajiban etik dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk meyakinkan individu yang bersangkutan untuk membuat keputusan tentang pelayanan kesehatan terhadap diri mereka sendiri.

Formulir informed consent ini juga merupakan suatu tanda bukti yang akan disimpan di dalam arsip rekam medis pasien yang bisa dijadikan sebagai alat bukti bahwa telah terjadi kontrak terapeutik antara dokter dengan pasien. Pembuktian tentang adanya kontrak terapeutik dapat dilakukan pasien dengan mengajukan arsip rekam medis atau dengan persetujuan tindakan medis (informed consent) yang diberikan oleh pasien.

Bentuk persetujuan tindakan medis pada umumnya telah disusun sedemikian rupa sehingga pihak dokter dan Rumah Sakit tinggal mengisi kolom yang disediakan untuk itu setelah menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien. Sebelum ditandatangani, sebaiknya surat tersebut dibaca sendiri atau dibacakan oleh yang hadir terlebih dahulu. Pasien seharusnya diberikan waktu yang cukup untuk menandatangani persetujuan dimaksud.

Hukum diharapkan akan melindungi hak pasien sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan dan sebagai konsumen di Indonesia, Tinjauan yang mendasar difokuskan pada standar yuridis yang mengatur mengenai syarat-syarat perjanjian serta ketentuan-ketentuan mengenai informed consent dilindungi oleh hukum


(28)

positip yaitu yang sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-Undang-Undang-Undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, Permenkes nomor 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1419/Menkes/Per/X/2005, serta Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI).

F. Metode Penulisan

Metode penelitian yang dipergunakan dalam penyusunan skripsi ini ada (dua) cara atau metode pengumpulan data yang berkaitan dengan materi pokok skripsi ini, metode pengumpulan data yang dimaksud adalah :

1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Yaitu penelitian dengan pengumpulan data metode yuridis normatif guna menelaah bahan-bahan literatur ataupun tulisan ilmiah, Undang-Undang yang berkaitan dengan judul skripsi ini, baik yang diperoleh dengan perkuliahan maupun diluar perkuliahan.

Data pokok dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi :

a. Bahan hukum primer, dapat berupa Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Menteri Kesehatan.


(29)

b. Bahan hukum sekunder, dapat berupa karya-karya ilmiah berupa pendapat para ahli, baik dalam bentuk buku, makalah, artikel, karya-karya ilmiah lain atau tulisan dalam internet.

c. Bahan hukum tertier, terdiri dari bahan-bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus bahasa maupun kamus hukum.

2. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu penelitian secara langsung ke lapangan untuk mendapatkan data primer dan dengan teknik mewawancarai pihak-pihak yang dianggap diperlukan untuk diwawancarai pada Rumah Sakit Dr. Pringadi Medan.

G. Sistematika Penulisan

Seluruh uraian yang ada dalam penyusunan skripsi ini, dikemukakan secara sistematis yang terdiri atas beberapa bab dan masing-masing bab terdiri dari beberapa sub dengan tujuan untuk memudahkan pembaca memahami isi skripsi ini.

BAB I. PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang, pokok permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II. TINJAUAN UMUM PERJANJIAN

Dalam bab ini diuraikan tentang, pengertian perjanjian, asas-asas perjanjian, subjek dan objek perjanjian, syarat sahnya suatu perjanjian, jenis-jenis


(30)

perjanjian, wanprestasi dan akibat-akibatnya, pembelaan terhadap debitur yang dituduh lalai, berakhirnya perjanjian.

BAB III. TINJAUAN UMUM TERHADAP KONTRAK TERAPEUTIK

Dalam bab ini diuraikan tentang, pengertian transaksi terapeutik, dasar hukum transaksi terapeutik, tujuan transaksi terapeutik, hubungan hukum antara dokter dan pasien, hak dan kewajiban antara dokter dan pasien, asas hukum dalam pelayanan medis, akibat hukum para pihak dalam kontrak terapeutik.

BAB IV. BENTUK DAN PELAKSANAAN INFORMED CONSENT DALAM TINDAKAN MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM

Dr. PRINGADI

Dalam bab ini diuraikan tentang, latar belakang dan pengertian informed consent, teori-teori dan bentuk informed consent, unsur-unsur yang mendasari hak atas informasi, bentuk dan pelaksanaanya di Rumah Sakit Umum Dr. Pringadi, peranan asas konsensualitas dan keterbukaan dalam perjanjian informed consent berkaitan dengan tindakan medis, aspek hukum perdata dan tanggung jawab pelaksanaan informed consent.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai bab penutup yang merupakan rangkaian inti dari seluruh isi bab-bab yang ada ditambah dengan beberapa kesimpulan dan saran dari penulis.


(31)

BAB II

TINJAUAN UMUM PERJANJIAN

A. Pengertian Perjanjian

Hukum Perjanjian terdapat dua istilah yang berasal dari bahasa belanda, yaitu istilah Verbintenis dan Overeenkomst diatur dalam Buku III KUH Perdata. Pengertian perjanjian itu sendiri dimuat di dalam pasal 1313 yang menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dalam menerjemahkan istilah Verbintenis dan Overeenkomst dalam bahasa Indonesia mempunyai arti yang luas, sehingga menimbulkan perbedaan dan beragam pendapat dari para sarjana hukum.12

Untuk memahami istilah mengenai perikatan dan perjanjian terdapat beberapa

pendapat para sarjana. Adapun pendapat para sarjana tersebut adalah:

a. R. Subekti memberikan pengertian perikatan sebagai suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut, kemudian menurut Subekti perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.13

12 R. Subekti, Aspek-Aspek Hukum Perikatan Nasional, Alumni, Bandung, 1986, hal. 3. 13 R. Subekti, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta, 1985, hal. 1.


(32)

b. Abdul Kadir Muhammad memberikan pengertian bahwa perikatan adalah suatu hubungan hukum yang terjadi antara orang yang satu dengan orang yang lain karena perbuatan peristiwa atau keadaan. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa perikatan itu terdapat dalam bidang hukum harta kekayaan; dalam bidang hukum keluarga; dalam bidang hukum pribadi. Perikatan yang meliputi beberapa bidang hukum ini disebut perikatan dalam arti luas.14

c. R. M. Sudikno Mertokusumo mengemukakan bahwa perjanjian adalah hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.15

Berdasarkan pada beberapa pengertian perjanjian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa di dalam suatu perjanjian minimal harus terdapat dua pihak, dimana kedua belah pihak saling bersepakat untuk menimbulkan suatu akibat hukum tertentu. Adapun yang dimaksud dengan perikatan oleh Buku Ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah suatu hubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Pihak yang berhak menuntut sesuatu disebut “kreditur” atau si berpiutang, sedangkan pihak yang berkewajiban memenuhi tuntutan disebut “debitur” atau si berutang.

Adapun barang sesuatu yang dapat dituntut dinamakan dengan “prestasi”, yang menurut undang-undang dapat berupa :

14 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1982, hal. 6.

15 RM. Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum ( Suatu Pengantar ), Liberty, Yogyakarta, 1988, hal. 97.


(33)

1. Menyerahkan suatu barang, 2. Melakukan suatu perbuatan, 3. Tidak melakukan suatu perbuatan.

Pengertian perjanjian terdapat batasannya diatur dalam Pasal 1313 KUH Perdata yang berbunyi :

“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.

Mengenai batasan tersebut para sarjana hukum perdata umumnya berpendapat bahwa definisi atau batasan atau juga dapat disebut rumusan perjanjian yang terdapat di dalam ketentuan Pasal 1313 KUH Perdata kurang lengkap dan bahkan dikatakan terlalu luas banyak mengandung kelemahan-kelemahan. Adapun kelemahan tersebut dapatlah diperinci :16

1. Hanya menyangkut perjanjian sepihak saja.

Di sini dapat diketahui dari rumusan “satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya”. Kata “mengikatkan” merupakan kata kerja yang sifatnya hanya datang dari satu pihak saja, tidak dari kedua belah pihak. Sedangkan maksud dari perjanjian itu mengikatkan diri dari kedua belah pihak, sehingga nampak kekurangannya dimana setidak-tidaknya perlu adanya rumusan “saling mengikatkan diri”. Jadi jelas Nampak adanya konsensus/ kesepakatan antara kedua belah pihak yang membuat perjanjian.

2. Kata perbuatan mencakup juga tanpa consensus atau kesepakatan.

16 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992, hal. 78.


(34)

Dalam pengertian perbuatan termasuk juga tindakan : 1. melaksanakan tugas tanpa kuasa.

2. perbuatan melawan hukum.

Dari kedua hal tersebut di atas merupakan tindakan/ perbuatan yang tidak mengandung adanya konsensus. Juga perbuatan itu sendiri pengertiannya sangat luas, karena sebetulnya maksud perbuatan yang ada dalam rumusan tersebut adalah hukum.

3. Pengertian perjanjian terlalu luas.

Untuk pengertian perjanjian di sini dapat diartikan juga pengertian perjanjian yang mencakup melangsungkan perkawinan, janji kawin. Padahal perkawinan sendiri sudah diatur tersendiri dalam hukum keluarga, yang menyangkut hubungan lahir batin. Sedang yang dimaksudkan perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata adalah hubungan antara debitur dan kreditur. Di mana hubungan antara debitur dan kreditur terletak dalam lapangan harta kekayaan saja selebihnya tidak. Jadi yang dimaksud perjanjian kebendaan saja bukan perjanjian personal.

4. Tanpa menyebut tujuan.

Dalam perumusan Pasal itu tidak disebutkan apa tujuan untuk mengadakan perjanjian sehingga pihak-pihak mengikatkan dirinya itu tidaklah jelas maksudnya untuk apa.

Sedangkan menurut R. Setiawan rumusan yang terdapat dalam Pasal 1313 KUH Perdata selain tidak lengkap juga sangat luas. Perumusan tersebut dikatakan tidak lengkap karena hanya menyangkut persetujuan “perbuatan” maka


(35)

didalamnya tercakup pula perwakilan sukarela (zaakwaarneming) dan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad). Sehubungan dengan hal itu, maka beliau mengusulkan untuk diadakan perbaikan mengenai definisi perjanjian tersebut yaitu menjadi :17

1. Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan subjek hukum yang ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum yang sengaja dikehendaki oleh subjek hukum.

2. Menambahkan perkataan “atau lebih saling mengikatkan dirinya” dalam Pasal 1313 KUH Perdata.

Atas dasar alasan-alasan tersebut yang dikemukakan di atas, maka perlu dirumuskan kembali apa yang dimaksud dengan perjanjian itu. Sehingga dapat mencerminkan apa yang dimaksud perjanjian itu adalah “Suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan”.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat diketahui bahwa dalam suatu perjanjian itu terkandung adanya beberapa unsur, yaitu :18

1. Essentialia.

Unsur ini mutlak harus ada agar perjanjian sah (merupakan syarat sahnya perjanjian).

2. Naturalia.

17 R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Putra A. Bardin, Bandung, 1999, hal. 49. 18 Sudikno Mertokusumo, Op.cit., hal. 98.


(36)

Yaitu unsur yang tanpa diperjanjikan secara khusus dalam perjanjian secara diam-diam dengan sendirinya dianggap ada dalam perjanjian karena sudah merupakan pembawaan atau melekat pada perjanjian.

3. Accidentalia.

Yakni unsur yang harus dimuat atau disebut secara tegas dalam perjanjian.

B. Asas-Asas Perjanjian

Asas-asas hukum bukanlah suatu peraturan yang konkret, melainkan merupakan pikiran dasar yang bersifat umum atau yang merupakan latar belakang dalam pembentukan hukum positif, maka asas hukum merupakan dasar atau petunjuk pembentukan hukum positif. Oleh karena itu asas hukum bersifat umum dan abstrak.

Fungsi asas hukum adalah sebagai pendukung bangunan hukum, menciptakan kepastian hukum didalam keseluruhan tertib hukum.

Menurut Sudikno Mertokusumo, asas hukum adalah :19 “Pikiran dasar yang umum sifatnya, atau merupakan latar belakang dari peraturan konkret yang terdapat didalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat pula asas hukum diketemukan dengan mencari sifat-sifat umum yang terdapat pada peraturan konkret”.

19Ibid, hal. 32.


(37)

Hukum perjanjian mengenal beberapa asas hukum yang berkaitan dengan lahirnya suatu perjanjian, isi perjanjian, pelaksanaan dan akibat perjanjian, yang merupakan dasar kehendak para pihak dalam mencapai tujuan dari perjanjian.

Di dalam perjanjian dikenal beberapa jenis asas-asas hukum yang merupakan asas-asas umum yang harus diindahkan oleh setiap yang terlibat di dalamnya, antara lain :

1. Asas Kebebasan Berkontrak (freedom of contract)

Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi :20

“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”

Dari perkataan ‘semua’ dapat ditafsirkan, bahwa masyarakat diberikan kebebasan yang seluas-luasnya untuk membuat perjanjian yang berisi apa saja asal tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan, dan perjanjian itu mengikat para pihak yang membuat seperti mengikatnya suatu undang-undang, seperti halnya yang telah ditentukan dalam Pasal 1337 KUH Perdata. Adapun kebebasan untuk membuat perjanjian itu terdiri dari beberapa hal yaitu:

a. Kebebasan untuk mengadakan atau tidak mengadakan perjanjian b. Bebas untuk mengadakan perjanjian dengan siapa saja

c. Bebas untuk menentukan isi perjanjian yang dibuatnya d. Kebebasan untuk menentukan bentuk perjanjian, dan


(38)

e. Kebebasan untuk menentukan terhadap hukum mana perjanjian itu akan tunduk.

2. Asas Konsensualisme (concensualism)

Asas ini berkaitan dengan lahirnya suatu perjanjian. Kata konsensualisme berasal dari kata consensus yang berarti sepakat. Hal ini berarti bahwa pada asasnya suatu perjanjian timbul sejak saat tercapainya konsensus atau kesepakatan atau kehendak yang bebas antara para pihak yang melakukan perjanjian.

Asas konsensualitas ini tercermin dalam unsur pertama. Pasal 1320 KUH Perdata yang menyebutkan “sepakat mereka yang mengikatkan diri”, artinya dari asas ini menurut Subekti adalah “pada dasarnya perjanjian dan perikatan yang timbul karenanya itu sudah dilahirkan sejak detik tercapainya kesepakatan”, sedangkan Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya”. Asas konsensualisme mempunyai arti yang terpenting, yaitu bahwa untuk melahirkan perjanjian adalah cukup dengan dicapainya kata sepakat mengenai hal-hal pokok dari perjanjian tersebut, dan bahwa perjanjian sudah lahir pada saat atau detik tercapainya consensus.21

3. Asas Kekuatan Mengikat Hukum (pacta sunt servanda)

Asas kekuatan mengikat atau pacta sunt servanda berarti bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undangundang bagi para pihak yang membuatnya. Asas ini berkenaan dengan akibat dari adanya suatu perjanjian.


(39)

Asas ini tersimpul dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) dan (2) KUH Perdata. Pasal 1338 ayat (1) yang menyebutkan bahwa :

“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi

mereka yang membuatnya”.

Ketentuan tersebut berarti bahwa perjanjian yang dibuat dengan cara yang sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, yang berarti mengikat para pihak dalam perjanjian, seperti undang-undang juga mengikat orang terhadap siapa undang-undang itu berlaku. Tujuannya tentu saja ‘demi kepastian hukum’.

Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata menentukan

“Perjanjian-perjanjian itu tidak dapat di tarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu”.

Dari ketentuan tersebut terkandung maksud bahwa perjanjian tidak dapat ditarik kembaliselain adanya kata sepakat dari kedua belah pihak. Asas kepastian hukum ini dapat dipertahankan sepenuhnya asalkan kedudukan para pihak seimbang, jika kedudukan itu tidak seimbang, undang-undang memberi perlindungan dalam bentuk perjanjian tersebut dapat dibatalkan, baik atas perintah pihak yang dirugikan maupun oleh hakim karena jabatannya. Kecuali apabila dapat dibuktikan bahwa pihak yang dirugikan itu sepenuhnya menyadari akibat-akibat yang timbul.

4. Asas Itikad Baik (good faith)

Semua perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik, seperti yang tercantum dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata. Jadi dalam perikatan yang dilahirkan dari perjanjian, maka para pihak bukan hanya terikat oleh kata-kata


(40)

perjanjian itu dan oleh kata-kata ketentuan-ketentuan perundang-undangan mengenai perjanjian itu, melainkan juga oleh iktikad baik.

Pengertian ‘iktikad baik’ mempunyai dua arti :

a. Arti objektif, bahwa perjanjian yang dibuat itu mesti dilaksanakan dengan mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan. Konsekuensinya adalah hakim boleh melakukan intervensi terhadap isi perjanjian yang dibuat oleh para pihak.

b. Arti subjektif, yaitu pengertian iktikad baik yang terletak dalam sikap batin seseorang.

Apabila terjadi perselisihan pendapat tentang pelaksanaan perjanjian dengan iktikad baik, hakim diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengawasi dan menilai atau mencampuri pelaksanaan perjanjian apakah ada pelanggaran terhadap norma-norma kepatutan dan kesusilaan. Pelaksanaan yang sesuai dengan norma-norma kepatutan dan kesusilaan itulah yang dipandang adil dan hal ini tidak dapat dikesampingkan oleh para pihak.

Berdasarkan hal di atas, dapat diketahui bahwa yang dimaksud melaksanakan perjanjian dengan iktikad baik adalah bagi para pihak dalam perjanjian terdapat suatu keharusan untuk tidak melakukan segala sesuatu yang tidak masuk akal, yaitu tidak bertentangan dengan norma kepatutan dan kesusilaan sehingga akan menimbulkan keadilan bagi kedua belah pihak dan tidak merugikan salah satu pihak.

Akibat dari pelanggaran terhadap asas iktikad baik adalah perjanjian itu dapat dimintakan pembatalan. Meskipun demikian dalam pelaksanaan perjanjian dengan iktikad baik ini perlu juga memperhatikan kebiasaan di


(41)

suatu tempat sebagaimana ditentukan oleh Pasal 1339 KUH Perdata “Perjanjian-perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang”.

5. Asas Kepribadian (personality)

Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan/atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUH Perdata. Pasal 1315 KUH Perdata menegaskan: “Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri.” Inti ketentuan ini sudah jelas bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian, orang tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri. Pasal 1340 KUH Perdata berbunyi: “Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya.” Hal ini mengandung maksud bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya. Namun demikian, ketentuan itu terdapat pengecualiannya sebagaimana di intridusir dalam Pasal 1317 KUH Perdata yang menyatakan: “Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu.”


(42)

C. Subjek dan Objek Perjanjian

Subyek dalam perjanjian adalah pihak-pihak yang terdapat dalam perjanjian. Dalam hal ini terdapat dua macam subyek, yakni seseorang manusia atau suatu badan hukum yang mendapat beban kewajiban atau mendapat hak atas pelaksanaan kewajiban itu. Subyek yang berupa seorang manusia haruslah memenuhi syarat sah untuk melakukan tindakan hukum yaitu sudah dewasa dan tidak berada dibawah pengampuan.

Subyek perjanjian dengan sendirinya sama dengan subyek perikatan yaitu kreditur dan debitur yang merupakan subyek aktif dan subyek pasif. Adapun kreditur maupun debitor tersebut dapat orang perseorangan maupun dalam bentuk badan hukum.

KUH Perdata membedakan dalam tiga golongan untuk berlakunya perjanjian : 1. Perjanjian berlaku bagi pihak yang membuat perjanjian.

2. Perjanjian berlaku bagi ahli waris dan mereka yang mendapat hak. 3. Perjanjian berlaku bagi pihak ketiga.

Sedangkan obyek dalam perjanjian adalah berupa prestasi, yang berujud memberi sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu. Perikatan untuk memberi sesuatu ialah kewajiban seseorang untuk memberi atau menyerahkan sesuatu, baik secara yuridis maupun penyerahan secara nyata. Perikatan untuk berbuat sesuatu yaitu prestasi dapat berujud berbuat sesuatu atau melakukan perbuatan tertentu yang positif. Sedangkan perikatan untuk tidak berbuat sesuatu yaitu untuk tidak melakukan perbuatan tertentu yang telah dijanjikan.

Dalam hal ini terdapat tiga macam obyek, yakni : 1. Barang-barang yang dapat diperdagangkan.


(43)

2. Harus diketahui jenisnya dan dapat ditentukan.

3. Barang-barang tersebut sudah ada atau akan ada dikemudian hari.

Mengenai obyek perjanjian, diperlukan beberapa syarat untuk menentukan sahnya suatu perikatan, yaitu :22

a. Obyeknya harus tertentu. Syarat ini hanya diperlukan bagi perikatan yang timbul dari perjanjian.

b. Obyeknya harus diperbolehkan, artinya tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum atau kesusilaan.

c. Obyeknya dapat dinilai dengan uang. Hal ini dikarenakan suatu hubungan hukum yang ditimbulkan dari adanya perikatan berada dalam lapangan hukum harta kekayaan.

d. Obyeknya harus mungkin. Orang tidak dapat mengikatkan diri kalau obyek tidak mungkin diberikan.

D. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian

Suatu perjanjian akan mengikat kedua belah pihak yang membuatnya apabila perjanjian itu dibuat secara sah sesuai dengan syarat-syarat perjanjian yang tercantum dalam pasal 1320 KUH Perdata.

Pasal 1320 KUHPerdata menyatakan bahwa untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu:

1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan


(44)

3. Suatu pokok persoalan tertentu

4. Suatu sebab yang halal (tidak terlarang) Ad. 1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya

Kesepakatan dalam perjanjian merupakan perwujudan dari kehendak dua atau lebih pihak dalam perjanjian mengenai apa yang mereka kehendaki untuk dilaksanakan, bagaimana cara melaksanakannya, kapan harus dilaksanakan, dan siapa yang harus melaksanakan.

Pada dasarnya sebelum para pihak sampai pada kesepakatan mengenai hal-hal tersebut, maka salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian tersebut akan menyampaikan terlebih dahulu suatu bentuk pernyataan mengenai apa yang dikehendaki oleh pihak tersebut dengan segala macam persyaratan yang mungkin dan diperkenankan oleh hukum untuk disepakati oleh para pihak. Pernyataan yang disampaikan tersebut dikenal dengan nama penawaran. Jadi penawaran itu berisikan kehendak dari salah satu pihak dalam perjanjian, yang disampaikan kepada lawan pihaknya, untuk memperoleh persetujuan dari lawan pihaknya tersebut.

Pihak lawan dari pihak yang melakukan penawaran selanjutnya harus menentukan apakah ia menerima penawaran yang disampaikan, apabila ia menerima maka tercapailah kesepakatan tersebut. Sedangkan jika ia tidak menyetujui, maka dapat saja ia mengajukan penawaran balik, yang memuat ketentuan-ketentuan yang dianggap dapat ia penuhi atau yang sesuai dengan kehendaknya yang dapat diterima atau dilaksanakan olehnya.

Dalam hal terjadi demikian maka kesepakatan dikatakan belum tercapai. Keadaan tawar menawar ini akan terus berlanjut hingga pada akhirnya kedua


(45)

belah pihak mencapai kesepakatan mengenai hal-hal yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh para pihak dalam perjanjian tersebut. Saat penerimaan paling akhir dari serangkaian penawaran adalah saat tercapainya kesepakatan. Hal ini dipedomani untuk perjanjian konsensuil dimana kesepakatan dianggap terjadi pada saat penerimaan dari penawaran yang disampaikan terakhir.

Dalam perjanjian konsensuil tersebut di atas, secara prinsip telah diterima bahwa saat tercapainya kesepakatan adalah saat penerimaan dari penawaran terakhir disampaikan. Hal tersebut secara mudah dapat ditemui jika para pihak yang melakukan penawaran dan permintaan bertemu secara fisik, sehingga masing-masing pihak mengetahui secara pasti kapan penawaran yang disampaikan olehnya diterima dan disetujui oleh lawan pihaknya.

Ad. 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan

Pasal 1329 KUH Perdata menyebutkan bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan jika oleh undang-undang tidak dinyatakan tidak cakap. Pasal 1330 KUH Perdata lebih lanjut menyatakan bahwa semua orang berwenang untuk membuat kontrak kecuali mereka yang masuk ke dalam golongan :

1. Orang yang belum dewasa

2. Orang yang ditempatkan di bawah pengampuan

3. Orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang 4. Orang yang dilarang oleh undang-undang untuk melakukan perbuatan

tertentu.

Namun dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ketentuan dalam Pasal 1330 ayat (3) KUH Perdata menjadi


(46)

tidak berarti lagi. Hal ini dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 31 angka 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menentukan bahwa masingmasing pihak (suami-istri) berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Dengan demikian wanita yang bersuami dinyatakan cakap untuk melakukan perbuatan hukum dan tidak perlu lagi memerlukan bantuan atau izin dari suami.

Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 1963 tanggal 4 Agustus 1963, ditentukan bahwa ketentuan Pasal 1330 angka 3 KUH Perdata tentang wewenang seorang istri untuk melakukan perbuatan hukum dan tidak menghadap di depan pengadilan tanpa izin atau bantuan dari suami sudah tidak berlaku lagi.

Konsekuensi yuridis jika ada dari para pihak dalam perjanjian yang ternyata tidak cakap berbuat adalah:

a. Jika perjanjian tersebut dilakukan oleh anak yang belum dewasa, maka perjanjian tersebut batal demi hukum atas permintaan dari anak yang belum dewasa, semata-mata karena alasan kebelumdewasaannya.

b. Jika perjanjian tersebut, dilakukan oleh orang yang berada di bawah pengampuan, maka perjanjian tersebut batal demi hukum atas permintaan dari orang di bawah pengampuan, semata-mata karena keberadaannya di bawah pengampuan tersebut.

c. Terhadap perjanjian yang dibuat wanita yang bersuami hanyalah batal demi hukum sekedar perjanjian tersebut melampaui kekuasaan mereka. d. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh anak di bawah umur yang telah

mendapatkan status disamakan dengan orang dewasa hanyalah batal demi hukum sekedar kontrak tersebut melampaui kekuasaan mereka.


(47)

e. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh orang yang dilarang oleh undang-undang untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, maka mereka dapat menuntut pembatalan perjanjian tersebut, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.

Apabila perjanjian yang dibuat oleh pihak yang tidak cakap berbuat tersebut kemudian menjadi batal, maka para pihak haruslah menempatkan seolah-olah perjanjian tersebut tidak pernah ada. Jadi setiap prestasi yang telah diberikan harus dikembalikan atau dinilai secara wajar.

Ad. 3. Suatu Pokok Persoalan tertentu

Syarat ketiga untuk sahnya perjanjian, yaitu bahwa suatu perjanjian harus mengenai suatu hal tertentu yang merupakan pokok perjanjian yang merupakan prestasi yang harus dipenuhi dalam suatu perjanjian, yaitu objek perjanjian. Pasal 1333 KUH Perdata menyebutkan bahwa “Suatu persetujuan harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya”, sehingga dalam suatu objek perjanjian itu harus tertentu atau setidaknya dapat ditentukan jenisnya dengan jelas. Maksudnya adalah apabila perjanjian itu objeknya mengenai suatu barang, maka minimal harus disebutkan nama barang tersebut atau jenis barang tersebut.

Pasal 1332 KUHPerdata menentukan bahwa barang yang dapat dijadikan pokok perjanjian hanya barang yang dapat diperdagangkan, dan barang-barang yang baru akan ada di kemudian hari juga dapat dijadikan pokok perjanjian. Syarat bahwa prestasi itu harus tertentu atau dapat ditentukan ini berguna untuk menetapkan hak dan kewajiban kedua belah pihak, terutama jika timbul perselisihan dalam pelaksanaan perjanjian. Apabila suatu perjanjian tidak


(48)

dapat dilaksanakan karena prestasinya tidak jelas, maka dianggap tidak ada objek perjanjiannya. Akibat tidak dipenuhinya syarat ini adalah perjanjian itu dapat batal demi hukum.

Ad. 4. Suatu sebab yang tidak terlarang

Syarat ini merupakan mekanisme netralisasi, yaitu sarana untuk menetralisir terhadap prinsip hukum perjanjian yang lain yaitu prinsip kebebasan berkontrak. Prinsip mana dalam KUHPerdata ada dalam Pasal 1338 ayat (1) yang pada intinya menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah memiliki kekuatan yang sama dengan undang-undang. Adanya suatu kekhawatiran terhadap azas kebebasan berkontrak ini bahwa akan menimbulkan perjanjian-perjanjian yang dibuat secara ceroboh, karenanya diperlukan suatu mekanisme agar kebebasan berkontrak ini tidak disalahgunakan. Sehingga diperlukan penerapan prinsip moral dalam suatu perjanjian. Sehingga timbul syarat suatu sebab yang tidak terlarang sebagai salah satu syarat sahnya perjanjian. Itu sebabnya suatu perjanjian dikatakan tidak memiliki suatu sebab yang tidak terlarang jika perjanjian tersebut antara lain melanggar prinsip kesusilaan atau ketertiban umum disamping melanggar perundang-undangan. Berdasarkan Pasal 1320 jo Pasal 1337 KUH Perdata apabila syarat ini tidak dipenuhi adalah perjanjian yang bersangkutan tidak memiliki kekuatan hukum atau dengan kata lain suatu perjanjian tentang suatu sebab yang tidak terlarang menjadi perjanjian yang batal demi hukum.23

Keempat syarat tersebut dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu :


(49)

1. Syarat subjektif yang meliputi syarat pertama dan kedua, artinya syarat yang harus dipenuhi oleh subjek atau pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.

2. Syarat objektif yang meliputi syarat ketiga dan keempat, yaitu syarat yang harus terpenuhi oleh objek perjanjian.

Pembedaan keempat syarat tersebut menjadi syarat subjektif dan objektif sangat penting artinya untuk melihat akibat yang timbul bila syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi dalam suatu perjanjian. Perjanjian yang tidak memenuhi syarat subjektif mengakibatkan perjanjian tersebut dapat dibatalkan (vernietigbaar). Jadi perjanjian yang diadakan tetap berlaku, selama belum diadakan pembatalan. Permintaan pembatalan perjanjian dapat dilakukan oleh pihak yang tidak cakap menurut hukum (baik oleh orang tua maupun walinya ataupun orang itu sendiri apabila ia telah menjadi cakap) dan oleh pihak yang memberi izin atau menyetujui perjanjian itu secara tidak bebas.

Perjanjian yang tidak memenuhi syarat objektif mengakibatkan perjanjian tersebut batal demi hukum (van rechtswege nietig). Hal ini berarti sejak semula secara yuridis, perjanjian itu tidak pernah ada dan tidak pernah ada perikatan antara para pihak dalam perjanjian itu.

E. Jenis-Jenis Perjanjian

Menurut Satrio jenis-jenis perjanjian dibagi dalam lima jenis, yaitu :24 a. Perjanjian Timbal balik dan Perjanjian Sepihak

24Ibid, hal. 31.


(50)

Perjanjian timbal balik (Bilateral Contract) adalah perjanjian yang memberikan hak dan kewajiban kepada kedua belah pihak. Jenis perjanjian ini yang paling umum terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang memberikan kewajiban kepada satu pihak dan hak kepada pihak lainnya. Pihak yang satu berkewajiban menyerahkan benda yang menjadi objek perikatan dan pihak lainnya berhak menerima benda yang diberikan itu.

b. Perjanjian Percuma dan Perjanjian dengan Atas Hak yang Membebani Perjanjian percuma adalah perjanjian yang hanya memberikan keuntungan kepada satu pihak saja. Perjanjian dengan alas hak yang membebani adalah perjanjian dalam mana terhadap prestasi dari pihak yang satu selalu terdapat kontra prestasi dari pihak lainnya, sedangkan antara prestasi itu ada hubungannya menurut hukum.

c. Perjanjian Bernama dan Perjanjian Tidak Bernama

Perjanjian bernama adalah perjanjian yang mempunyai nama sendiri, yang dikelompokkan sebagai perjanjian khusus, dan jumlahnya terbatas. Sedangkan perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak mempunyai nama tertentu dan jumlahnya tidak terbatas.

d. Perjanjian Kebendaan dan Perjanjian Obligator

Perjanjian kebendaan adalah perjanjian untuk memindahkan hak milik dalam perjanjian jual beli. Perjanjian kebendaan ini sebagai pelaksanaan perjanjian obligator.


(51)

Perjanjian obligator adalah perjanjian yang menimbulkan perikatan, artinya sejak terjadinya perjanjian, timbullah hak dan kewajiban pihak-pihak. Pembeli berhak untuk menuntut penyerahan barang, penjual berhak atas pembayaran harga, pembeli berkewajiban untuk menyerahkan barang.

Pentingnya pembedaan ini adalah untuk mengetahui apakah dalam perjanjian itu ada penyerahan (leverning) sebagai realisasi perjanjian dan penyerahan itu sah menurut hukum atau tidak.

e. Perjanjian Konsensual dan Perjanjian Real

Perjanjian konsensual adalah perjanjian yang timbul karena ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak.

Perjanjian real adalah perjanjian di samping ada persetujuan kehendak juga sekaligus harus ada penyerahan nyata dari barangnya.

F. Wanprestasi dan Akibat-Akibatnya

Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda wanprestatie, yang artinya tidak memenuhi kewajiban yang merupakan kewajibannya dan telah ditetapkan dalam perikatan, baik perikatan yang timbul karena perjanjian maupun Undang-Undang. Adapun unsur-unsur wanprestasi antara lain :

1. Adanya perjanjian yang sah. Maksudnya perjanjian sah apabila terdapat syarat sahnya perjanjian, antara lain adanya kata sepakat atau persesuaian kehendak, kecakapan para pihak, objek tertentu dan kausa atau dasar yang halal.


(52)

2. Adanya kesalahan (karena kelalaian dan kesengajaan). Maksud kelalaian adalah dalam hal suatu perjanjian yang dimaksudkan untuk tidak melakukan suatu perbuatan. Apabila kemudian ternyata dilakukannya sesuatu perbuatan yang seharusnya tidak untuk dikerjakan dengan dilakukannya sesuatu tersebut.

3. Adanya kerugian. Maksudnya disini adalah bahwa setiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian terhadap orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya menimbulkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut.

4. Adanya sanksi. Maksud sanksi disini dapat berupa kewajiban membayar kerugian yang diderita oleh pihak lawan (ganti rugi), berakibat pembatalan perjanjian, peralihan risiko, dan membayar biaya perkara (apabila masalahnya sampai di bawa ke pengadilan).

Wanprestasi adalah suatu istilah yang menunjuk pada ketiadalaksanaan prestasi oleh debitur.25

1. Karena kesalahan pihak debitur, baik karena kesengajaan maupun kelalaian (wanprestasi).

Dalam suatu perjanjian diharapkan prestasi yang telah disepakati akan terpenuhi. Namun demikian ada kalanya prestasi tersebut tidak terpenuhi. Adapun tidak terpenuhinya prestasi ada dua kemungkinan, yaitu:

2. Karena keadaan memaksa, di luar kemampuan debitur. Jadi debitur tidak bersalah (overmacht ).

25 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan Pada Umumnya, Rajawali Persada, Jakarta, 2003, hal. 69.


(53)

Adapun yang dijadikan ukuran untuk menentukan debitur bersalah (wanprestasi) atau tidak adalah dalam keadaan bagaimanakah seorang debitur dikatakan sengaja atau lalai tidak berprestasi. Di dalam hal ini terdapat empat macam dikatakan keadaan wanprestasi dari seorang debitur, yaitu :26

1. Tidak melakukan apa yang disanggupi untuk dilakukannya (tidak memenuhi kewajibannya)

2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan.

3. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat (terlambat memenuhi kewajibannya)

4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh melakukannya (memenuhi tetapi tidak seperti yang diperjanjikan).

Wanprestasi di dalam perjanjian mempunyai arti yang sangat penting bagi debitur. Oleh karena itu adalah penting untuk mengetahui atau menentukan kapan seorang debitur dikatakan dalam keadaan sengaja atau lalai. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah di dalam perikatan itu ditentukan tenggang pelaksanaan pemenuhan prestasi atau tidak.

Di dalam suatu perjanjian yang prestasinya berwujud memberikan sesuatu atau untuk melakukan sesuatu, para pihak dapat menentukan atau tidak menentukan tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi. Apabila tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi itu tidak ditentukan maka dipandang perlu untuk memperingatkan debitur untuk memenuhi prestasinya. Namun apabila tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi ditentukan, maka menurut


(54)

ketentuan Pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.

Di dalam suatu perikatan yang prestasinya berwujud tidak berbuat sesuatu tidak dipersoalkan jangka waktunya atau tidak. Jadi sejak perikatan itu berlaku atau selama perikatan itu berlaku, kemudian debitur melakukan perbuatan itu, ia dinyatakan lalai (wanprestasi). Apabila debitur wanprestasi, maka dikenai sanksi yang berupa :

a. Debitur membayar ganti kerugian yang diderita oleh kreditur.

Wujud ganti kerugian dapat berupa biaya, kerugian, dan bunga. Subekti mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan biaya adalah “Segala pengeluaran atau perongkosan yang nyatanyata sudah dikeluarkan oleh satu pihak”, sedangkan yang dimaksud dengan rugi adalah “Kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian si debitur”. Bunga adalah kerugian yang berupa kehilangan keuntungan yang sudah dibayarkan atau dihitung oleh kreditur.

Adapun pembatasan pembayaran ganti kerugian yaitu dalam perjanjian yang prestasinya berupa pembayaran sejumlah uang. Dalam perjanjian yang demikian ini yang dapat dimintakan penggantian kerugian adalah bunga uang menurut penetapan undang-undang, yaitu yang dinamakan bunga moratoir (kealpaan, kelalaian) sebanyak enam persen setahun sehingga bunga tersebut harus dibayar sebagai hukuman karena debitur lalai membayar hutangnya atau bunga kelalaian dan bunga ini dihitung mulai tanggal didaftarkannya surat gugatan.


(55)

Pembatalan perjanjian sebagai sanksi kedua atas kelalaian debitur bertujuan untuk mengembalikan kedua belah pihak ke keadaan semula sebelum diadakan perjanjian seperti yang diatur dalam Pasal 1265 KUH Perdata.

Pasal 1266 KUH Perdata menentukan bahwa dalam hal adanya wanprestasi, syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam perjanjian yang sifatnya timbal balik. Perjanjian ini ditentukan tidak batal demi hukum, tetapi harus dimintakan pembatalannya kepada hakim. Jadi, yang menyebabkan batalnya perjanjian bukan karena wanprestasi yang timbul, tetapi karena adanya putusan hakim. Dalam hal pemenuhan perjanjian, ada beberapa kemungkinan yaitu :

a. Kreditur dapat menjual benda yang dijadikan jaminan sebagai pengganti prestasi yang dipenuhi debitur yang wanprestasi tanpa harus melalui putusan hakim, karena semula sudah disetujui oleh debitur. Pelaksanaan pemenuhan prestasi ini disebut dengan eksekusi langsung.

b. Kreditur dapat mewujudkan sendiri prestasi yang menjadi haknya baik dilakukannya sendiri atau dengan menyuruh orang lain dengan biaya yang harus ditanggung oleh debitur setelah mendapat putusan hakim. Pelaksanaan pemenuhan prestasi ini disebut dengan eksekusi nyata.

c. Peralihan risiko.

Menurut Subekti yang dimaksud dengan risiko adalah kewajiban untuk memikul kerugian jikalau ada suatu kejadian di luar kesalahan salah


(56)

satu pihak yang menimpa benda yang dimaksudkan dalam perjanjian.27

d. Membayar biaya perkara apabila sampai diperkarakan di muka hakim. Tentang pembayaran ongkos biaya perkara sebagai sanksi keempat, tersimpul dalam suatu peraturan hukum acara, bahwa pihak yang dikalahkan diwajibkan membayar biaya perkara. Seorang debitur yang lalai tentu akan dikalahkan kalau sampai terjadi suatu perkara di depan hakim. Dari beberapa sanksi yang disebutkan di atas, kreditur dapat memilih diantara beberapa tuntutan terhadap debitur, yaitu :

Peralihan risiko sebagai sanksi ketiga disebutkan dalam Pasal 1237 ayat (2) KUH Perdata yang menentukan bahwa “Jika si debitur lalai akan menyerahkannya, maka semenjak saat kelalaian, kebendaan adalah atas tanggungannya”.

a. Kreditur menuntut pemenuhan perikatan;

b. Kreditur menuntut pemenuhan perikatan disertai dengan ganti kerugian;

c. Kreditur menuntut ganti kerugian saja;

d. Kreditur menuntut pembatalan perjanjian dengan perantaraan hakim;

e. Kreditur menuntut pembatalan perjanjian dengan disertai ganti rugi.

G. Pembelaan terhadap debitur yang dianggap lalai


(57)

Menurut Subekti seorang debitur yang dituduh lalai, dapat mengajukan beberapa alasan untuk membebaskan diri, pembelaan tersebut yaitu :28

a. Mengadakan pembelaan adanya keadaan memaksa (overmacht atau force majeur).

Dengan mengajukan pembelaan ini, debitur berusaha menunjukkan bahwa tidak terlaksananya apa yang dijanjikan itu disebabkan oleh hal-hal yang sama sekali tidak dapat diduga dan di mana ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap keadaan atau peristiwa yang timbul di luar dugaan tadi. b. Mengajukan bahwa kreditur sendiri juga telah lalai (exceptionon adimpleti

cintractus).

Mengenai pembelaan semacam ini, tidak disebutkan dalam suatu undang-undang. Akan tetapi prinsip mengenai pembelaan semacam ini dijelaskan pada pasal 1478 KUH perdata yang isinya adalah : “Si penjual tidak diwajibkan menyerahkan barangnya, jika si pembeli belum membayar harganya, sedangkan si penjual tidak mengizinkan penundaan pembayaran tersebut.”

c. Mengajukan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi (rechtsverwerking).

Alasan lain yang dapat membebaskan debitur yang dituduh melakukan kelalaian dalam melaksanakan prestasi dan memberikan alas an untuk menolak pembatalan perjanjian adalah pelepasan hak atau rechtsverwerking. Maksud dari hal tersebut adalah suatu sikap dari pihak


(58)

kreditur yang dapat disimpulkan oleh pihak debitur bahwa pihak kreditur tidak akan menuntut ganti rugi dari pihak debitur.

H. Berakhirnya Perjanjian

Suatu perjanjian pada umumnya berakhir apabila tujuan itu telah tercapai, dimana masing-masing pihak telah memenuhi prestasi yang diperjanjikan sebagaimana yang merupakan kehendak bersama dalam mengadakan perjanjian tersebut. Selain cara berakhirnya perjanjian seperti yang disebutkan di atas, terdapat beberapa cara lain untuk mengakhiri perjanjian, yaitu :29

1. Ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak. Misalnya dalam perjanjian itu telah ditentukan batas berakhirnya perjanjian dalam waktu tertentu. 2. Undang-undang menentukan batas berlakunya perjanjian. Misalnya Pasal

1250 KUH Perdata yang menyatakan bahwa hak membeli kembali tidak boleh diperjanjikan untuk suatu waktu tertentu yaitu tidak boleh lebih dari 5 tahun.

3. Para pihak atau undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan berakhir. Misalnya apabila salah satu pihak meninggal dunia maka perjanjian akan menjadi hapus (Pasal 1603 KUH Perdata) yang menyatakan bahwa perhubungan kerja berakhir dengan meninggalnya si buruh.

4. Karena persetujuan para pihak.

29 Gunawan Widjaja, Memahami Prinsip Keterbukaan dalam Hukum Perdata, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006, hal. 387.


(59)

5. Pernyataan penghentian pekerjaan dapat dikarenakan oleh kedua belah pihak atau oleh salah satu pihak hanya pada perjanjian yang bersifat sementara.

6. Berakhirnya perjanjian karena putusan hakim. 7. Tujuan perjanjian sudah tercapai.


(1)

hukum antara pihak pasien dengan dokter, atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Masih banyak seluk beluk dari informed consent ini sifatnya relative, misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu inforamsi sudah atau belum cukup diberikan oleh dokter. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan secara pasti dan dasar teoritis-yuridisnya juga belum mantap, sehingga diperlukan pengkajian yang lebih mendalam lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan dengan informed consent ini.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas, penulis berkesimpulan sebagai berikut :

1. Hubungan hukum antara dokter dengan pasien dalam transaksi terapeutik dapat terjadi karena adanya perjanjian dan Undang-undang. Untuk syarat sahnya perjanjian tetap mengacu pada ketentuan pasal 1320 KUHPerdata yaitu : Adanya kata sepakat diantara para pihak, Kecakapan para pihak dalam hukum, Suatu hal tertentu, dan Kausa yang halal.

Dalam hal ini, Informed consent memegang peranan penting dalam perjanjian yang akan menjadi dasar terjadinya transaksi terapeutik. Walaupun secara teori kedudukanpasien dengan dokter sama secara hukum, namun karena kurangnya pemahamanhukum mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak,


(2)

pelanggaran-pelanggaran masih sering terjadi dan pasienlah yang dirugikan. Formulir yang harus ditandatangani oleh pasien selalu sudah diformat oleh Rumah Sakit, karena pasien posisinya dalam keadaan lemah dan pasrah untuk mengiba pertolongan medis, maka dengan terpaksa pasien mau menandatangani persetujuan itu demi memperoleh pelayanan medis.

2. Penyelesaian perkara-perkara ingkar janji / wanprestasi dan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh dokter dalam transaksi terapeutik, biasanya diprioritaskan

secara kekeluargaan diluar pengadilan. Yaitu melalui negosiasi maupun mediasi dengan mediator dari pihak keluarganya sendiri. karena penyelesaian secara ini akan lebih cepat dan tidak menggangu kinerja Rumah Sakit sehingga Rumah Sakit masih tetap bisa melayani pasien lain yang memerlukan pertolongannya. Biasanya ganti rugi bukan berupa uang tunai tetapi berupa pembebasan pembayaran selama dalam perawatan baik sebagian maupun seluruhnya.

3. Peranan IDI dalam rangka membantu penyelesaian masalah pada kasus-kasus malpraktek sangatlah besar, terutama dalam melindungi anggotanya. Karena untuk dapat mengatakan apakah perbuatan dokter itu termasuk malpraktek atau bukanadalah organisasi IDI sendiri yaitu lewat badan otomom MKEK ( Majelis Kehormatan Etik Kedokteran ). Untuk kasus-kasus yang sampai dipengadilan, IDI juga membentuk BP2A yaitu Badan Pembinaan dan Pembelaan Anggota IDI. Dengan tugas pokoknya ialah membela kepentingan anggota IDI yang berkaitan dengan profesinya. Badan ini dibentuk dalam rangka membela anggota IDI yang menghadapi gugatan perdata. Tetapi dalam pembelaannya IDI tidak lantas


(3)

kedokteran dan standar profesi medis. Oleh karena itu sekarang IDI menerapkan aturan yang ketat tentang pemberian ijin praktek yaitu melalui uji kompetensi dokter Indonesia yang diselenggarakan oleh Konsil kedokteran Indonesia dan persyaratan-persyaratan yang lain. Ini dilakukan tidak lain juga adalah untuk melindungi kepentingan masyarakat /pasien.

B. SARAN

1. Dokter atau Rumah Sakit, harus mengetahui hukum kesehatan agar dapat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing pihak sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

2. Hubungan dokter dan pasien harus dibuat seharmonis mungkin, agar bila terjadi sengketa dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

3. Dokter atau tenaga kesehatan lainnya seharusnya dalam melakukan

pelayanan medis disesuaikan dengan wewenang yang dimilikinya dengan terus meningkatkan profesionalisme dan kecakapan serta mengikuti perkembangan tehnologi dan informasi.

4.Rumah Sakit sebaiknya mempunyai biro hukum dan advokasi, karena untuk mengantisipasi bila terjadi sengketa.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku – Buku

Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perikatan, Alumni Bandung, 1982.

Ameln Fred, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Grafikatama Jaya, Jakarta, 1991.

Amir Amri, Bunga Rampai Hukum Kesehatan, Widya Medika, Jakarta, 1997.

Chrisdiono M. Achadiat, Pernik-Pernik Hukum Kesehatan Melindungi Pasien dan Dokter, Widya Medika, Jakarta, 1996.

Guwandi, J., Tindakan Medis dan Tanggungjawab Produk Medis, Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1993


(5)

_____________, Informed Consent, Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2004.

Hendrojono Soewono, Batas Pertanggungjawaban Hukum Malpraktek Dokter Dalam Transaksi Terapeutik, Srikandi, 2007.

Hermien Hadijati Koeswadji, Hukum dan Masalah Medik, Airlangga University Press, 1984.

_______________________, Hukum Kedokteran (Studi Tentang Hubungan Hukum Dalam mana Dokter Sebagai Salah Satu Pihak), Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998.

Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, Alumni, Bandung,1993.

Qirom Syamsudin Meliala, A., Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, Liberty, Yogyakarta, 1985.

Purwahid Patrik, Dasar-Dasar Hukum Perikatan, Mandar Maju, Bandung, 1994.

Ratna Suprapti Samil, Etika Kedokteran Indonesia, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo, Jakarta, 2001.

Ronny Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta,

1982.


(6)

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986.

_______________, Segi Hukum Hak dan Kewajiban Pasien Dalam Kerangka Hukum Kesehatan, Mandar Maju, Bandung, 1990.

Soerjono Soekanto, Herkutanto, Pengantar Hukum Kesehatan, Remadja Karya, Bandung, 1987.

Sofwan Dahlan, Hukum Kesehatan Rambu-Rambu Bagi Profesi Dokter, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 1999.

Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung, 2006.

Suryodiningrat R.M. , Azas-Azas Hukum Perikatan, Tarsito, Bandung, 1985.

Veronica Komalawati, Peranan Informed Consent Dalam Transaksi Terapeutik, Persetujuan Dalam Hubungan Dokter dan Pasien, Penerbit

Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.

M. Jusuf Hanafiah & Amri Amir, Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta , 2007