Analisis Framing Pemberitaan Konflik Tolikara Pada Harian Kompas Dan Republika

ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KONFLIK TOLIKARA
PADA HARIAN KOMPAS DAN REPUBLIKA

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom.I)

Oleh
NURLAELA
NIM: 1111051100017

KONSENTRASI JURNALISTIK
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H / 2016M

ABSTRAK
Judul :Analisis Framing Pemberitaan Konflik Tolikara pada Harian
Kompas dan Republika
Nama : Nurlaela
NIM : 111051100017
Konflik antar agama dan etnis di Indonesia semakin tinggi intensitasnya.
Berdasarkan hasil penelitian, pada 29 provinsi di Indonesia, terjadi 832 insiden
konflik dalam kurun waktu 1990-2008 yang mengakibatkan 55.080 korban jiwa
dan 1.993 kerugian materil. (Ihsan Ali, dkk.,: 2009). Data tersebut menunjukan
peristiwa konflik dapat dikategorikan sebagai kejadian luar biasa dan memiliki
nilai berita tinggi. Sehingga pemberitaan tentang konflik hampir dapat ditemukan
di berbagai media massa. Konflik Tolikara merupakan salah satu konflik
etnoreligius yang terbilang baru. Konflik antar umat Kristiani dengan umat Islam
ini terjadi pada 17 Juli 2015, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Konflik
Tolikara juga menjadi pemberitaan di berbagai media massa. Terlihat harian
Kompas dan Republika beberapa kali memberitakan peristawa tersebut.
Berdasarkan kerangka berfikir tersebut, penulis ingin mengkaji framing
pemberitaan pada Harian Kompas dan Republika dalam membingkai pemberitaan
terkait konflik Tolikara.
Teori yang digunakan adalah teori konstruksi realitas yang diperkenalkan
Peter L. Berger dan Thomas Luckman yang menyatakan bahwa konstruksi media
massa atas realitas sosial melihat bagaimana realitas dipandang oleh individu
secara subjektif.
Metodologi Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan
pendekatan kualitatif. Pendekatan penelitian yang digunakan ialah studi dokumen
dan wawancara. Studi dokumen diambil dari teks berita Kompas dan Republika
kemudian di analisis dengan teknik analisis framing model Zhongdang Pan dan
Gerald M. Kosicki. model framing tersebut menggunakan empat struktur dalam
membedah teks yaitu, sintaksis, skrip, tematik dan retoris.
Hasil penelitian ini menemukan fakta bahwa Kompas dan Republika
memiliki perbedaan perspektif dalam memberitakan konflik Tolikara. Kompas
memberitakan pada aspek perdamaian sebagai solusi terbaik. Penyebab dari
konflik ialah karena komunikasi yang tidak berjalan dengan baik anata kelompok
GIDI, umat muslim dan pemerintah. Sementara Republika lebih menekankan
pada penegakan hukum mutlak dilakukan bagi pelaku penyerangan, dan umat
Islam diposisikan sebagai pihak korban, anggota GIDI diposisikan sebagai pihak
yang bersalah.
Kata Kunci: Analisis Framing, Konflik, Tolikara, Republika, Kompas

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmannirrahim
Puji syukur kehadiran Sang Maha Pengasih dan Penyayang Allah
Subhanahu Wataala yang telah memberikan ridho dan rahmat kepada penulis.
Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam
senantiasa disanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh
keluarga, sahabat dan para pengikutnya.
Penulis menyadari dalam proses penulisan skripsi ini, begitu banyak
uluran bantuan dan semangat dari berbagai pihak. Oleh karenanya, ucapan
terimakasih penulis ucapkan kepada;
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Dr. H. Arief
Subhan, M.A, Wakil Dekan Bidang Akademik, Suparto, M. Ed Ph.
D, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Dr. Hj Roudonah,
MA, serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Dr. Suhaimi, M.
Si.
2. Ketua Prodi Jurnalistik, Kholis Ridho M.Si serta Sekertaris Prodi
Jurnalistik Hj. Musfirah Nurlaily M.A yang telah membantu penulis
selama massa pekuliahan.
3. Dosen Pembimbing Skripsi, Kholis Ridho M. Si yang telah
mengajarkan dan menuntun penulis selam proses penulisan skripsi,
hingga selesai dengan baik dan lancar.
4. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi atas
segala ilmu yang telah diberikan kepada penulis.
5. Segenap Pimpinan dan staf Harian Umum Kompas dan Republika.
Khususnya

Wakil

Redaktur

Pelaksana

Kompas

Sutta

Dharmasaputra dan Redaktur Halaman Utama Republika Fitriyan
Zamzami.
6. Kedua orangtua tercinta, Ayahanda H. Muhammad Tohir dan
Ibunda Siti Romlah atas segala curahan kasih sayang, semangat dan
doa yang selalu dipanjatkan untuk keberhasilan putrinya.
ii

7. Adik tercinta, Muhammad Ali Rohman dengan pertanyaan polosnya
“kapan embak wisuda?” mampu membakar semangat penulis untuk
gigih menyelesaikan skripsi.
8. Ahmad Ridwan Hakim yang selalu mengingatkan penulis untuk
mencintai proses dan jangan pernah lelah untuk berproses.
9. Teman terbaik yang siap membantu dalam massa sulit, Elsa
Faturahmah. Terimakasih telah meminjamkan notebook selama
penulisan skripsi.
10. Teman-teman jurnalistik A: Qurrota A‟yuni, Nur Fatkhin Nisafitria,
Kartika Sari Dewi, Rama Virda Ayu, Arsita Murtisari dan Alm.
Nurul Rofah. Juga teman-teman jurnalistik B angkatan 2011,
keluarga KKN KAMI 2014, keluarga RDK 107,9 FM, penulis
bangga menjadi bagian dari kalian dan kalian inspirasi bagi penulis.

Selanjutnya, penulis menyadari bahwa skripsi ini belum mencapai
kesempurnaan.Oleh sebab itu, kritikan dan saran penulis harapkan demi
perbaikan kedepannya.Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, 22 Maret 2016

Nurlaela

iii

DAFTAR ISI

ABSTRAK .................................................................................................
KATA PENGANTAR ...............................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................
DAFTAR TABEL .....................................................................................
BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

i
ii
iv
vi

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................
B. Batasan Masalah dan Rumusan Masalah ...........................
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian .........................
D. Metodologi Penelitian ........................................................
E. Tinjauan Pustaka ................................................................
F. Sistematika Penulisan.........................................................

1
8
8
9
14
15

LANDASAN TEORITIS
A. Teori Konstruksi Sosial ......................................................
B. Framing Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki ...............
C. Konseptualisasi Berita ........................................................
D. Konseptualisasi Surat Kabar ..............................................
E. Konseptualisasi Konflik .....................................................

16
18
33
36
37

GAMBARAN UMUM
A. Profil Harian Kompas ........................................................
B. Profil Harian Republika .....................................................

40
45

ANALISIS TEMUAN DAN INTERPRETASI
A. Analisis Temuan Teks Berita Kompas dan Republika ......
B. Perbedaan Bingkai Kompas dan Republika……………….
C. Interpretasi..........................................................................

50
150
152

PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................
B. Saran ...................................................................................

158
159

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
LAMPIRAN ...............................................................................................

iv

ix
x

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Model Framing Zhongdang pan dan Gerald M Kosicki…………
Tabel 2. Konsep Framing Zhongdang pan dan Gerald M Kosicki ………
Tabel 3.1 Headline Kompas dan Republika Edisi 20 Juli 2015……………
Tabel 3.2 Lead Kompas & Republika Edisi 20 Juli 2015…………………..
Tabel 3.3 Latar informasiKompas& Republika Edisi 20 Juli 2015…………
Tabel 3.4 Kutipan NarasumberKompas& Republika Edisi 20 Juli 2015……
Tabel 3.5 Pernyataan Kompas& Republika Edisi 20 Juli 2015……………..
Tabel 3.6 PenutupKompas& Republika Edisi 20 Juli 2015…………………
Tabel 3.7 5W+1H Kompas& Republika Edisi 20 Juli 2015………………...
Tabel 3.8 DetailKompas& Republika Edisi 20 Juli 2015…………………...
Tabel 3.9 Koherensi Kompas& Republika Edisi 20 Juli 2015………………
Tabel 3.10 Bentuk Kalimat Kompas& Republika Edisi 20 Juli 2015….........
Tabel 3.11 Kata Ganti Kompas& Republika Edisi 20 Juli 2015……….........
Tabel 3.12 LeksikonKompas& Republika Edisi 20 Juli 2015…………........
Tabel 3.13 GrafisKompas& Republika Edisi 20 Juli 2015…………….........
Tabel 4.1 HeadlineKompas& Republika Edisi 21 Juli 2015………………...
Tabel 4.2 Lead Kompas& Republika Edisi 21 Juli 2015………………….....
Tabel 4.3 Latar Informasi Kompas & Republika Edisi 21 Juli 201………….
Tabel 4.4 Kutipan Narasumber Kompas & Republika Edisi 21 Juli 2015….
Tabel 4.5 PernyataanKompas& Republika Edisi 21 Juli 2015……………...
Tabel 4.6 Penutup Kompas & Republika Edisi 21 Juli 2015…………………
Tabel 4.7 5W+1H Kompas & Republika Edisi 21 Juli 2015………………...
Tabel 4.8 DetailKompas& Republika Edisi 21 Juli 2015…………………...
Tabel 4.9 KoherensiKompas& Republika Edisi 21 Juli 2015……………...
Tabel4.10 Bentuk Kalimat Kompas & Republika Edisi 21 Juli 2015…………
Tabel 4.11 Leksikon Kompas & Republika Edisi 21 Juli 2015………………
Tabel 4.12 Grafis Kompas & Republika Edisi 21 Juli 2015………………….
Tabel 5.1 Headline Kompas & Republika Edisi 24 Juli 2015………………
Tabel 5.2 Lead Kompas & Republika Edisi 24 Juli 2015…………………...
Tabel 5.3 Latar InformasiKompas& Republika Edisi 24 Juli 2015………..
Tabel 5.4 Kutipan Narasumber Kompas & Republika Edisi 24 Juli 2015……
Tabel 5.5 Pernyataan Kompas & Republika Edisi 24 Juli 2015…………….
Tabel 5.6 PenutupKompas & Republika Edisi 24 Juli 2015………………..
Tabel 5.7 5W+1HKompas & Republika Edisi 24 Juli 2015………………….
Tabel 5.8 Detail Kompas& Republika Edisi 24 Juli 2015…………………...
Tabel 5.9 Koherensi Kompas & Republika Edisi 24 Juli 2015……………….
Tabel 5.10 Kata GantiKompas & Republika Edisi 24 Juli 2015……………...
Tabel 5.11 Leksikon Kompas & Republika Edisi 24 Juli 2015……………….
Tabel 5.12 GrafisKompas & Republika Edisi 24 Juli 2015………………….
Tabel 6.1 Headline Kompas& Republika Edisi 25 Juli 2015…………….......
Tabel 6.2 Lead Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015…………………......
Tabel 6.3 Latar Informasi Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015…………
Tabel 6.4 Kutipan Narasumber Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015..…
Tabel 6.5 Pernyataan Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015………………
v

12
23
55
58
59
62
65
66
66
68
69
70
72
73
76
82
82
84
85
87
88
89
91
92
93
94
96
100
102
106
107
111
112
113
115
117
119
120
121
128
128
130
130
135

Tabel 6.6 PenutupKompas & Republika Edisi 25 Juli 2015…………………
Tabel 6.7 5W+1HKompas & Republika Edisi 25 Juli 2015…………………..
Tabel 6.8 Detail Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015…………………...
Tabel 6.9 KoherensiKompas& Republika Edisi 25 Juli 2015…………………
Tabel 6.10 Bentuk Kalimat Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015………..
Tabel 6.11 Kata Ganti Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015…………….
Tabel 6.12 Leksikon Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015………………
Tabel 6.13 Grafis Kompas & Republika Edisi 25 Juli 2015………………….
Tabel 7
Perbedaan Bingkai Kompas dan Republika………………………

vi

137
138
141
144
145
146
147
149
150

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari masyarakat
berbagai suku, budaya, ras dan agama. Selain itu, keberagaman masyarakat
Indonesia juga nampak dari tingkat pendidikan, ekonomi, dan sosial politik.
Perbedaan ini lah yang umumnya dapat berpotensi menjadi konflik sosial.1
Konflik

sosial

yang

terjadi

di

Indonesia

sebagian

besar

diletarbelakangi isu etnoreligius. Seperti konflik ambon yang awalnya
dipengaruhi oleh persaingan distribusi ekonomi dan politik kemudian
berkembang menjadi perkelahian kelompok dan agama.2 Selanjutnya kasus
poso, bermula dari kekerasan terhadap seorang pemuda Muslim oleh tiga
pemuda Kristen yang sedang mabuk karena minuman keras. Sehingga
berbuntut panjang menjadi konflik antara kelompok agama Islam dan Kristen.
Kemudian konflik sambas yang terjadi antara penduduk lokal etnis Sambas
dengan penduduk pendatang asal Madura.3
Ihsan Ali Fauzi, Rudi Harisyah Alam dan Samsu Rizal Pangabean
menyatakan bahwa konflik atas nama agama menjadi sorotan utama karena
1

Rusmin Tumanggor dan Kholis Ridho, Antropoligi Agama, (Ciputat: UIN Press,
2015), h. 70.
2
Rusmin Tumangor, dkk., Panduan Pengelolaan Konflik Etnoreligius: Dengan
Pendekatan Riset Aksi Pertisipatori, (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehidupan
Keagamaan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan dan
Kemantrian Agama RI dan INCIS), h.31.
3
Rusmin Tumangor, dkk., Panduan Pengelolaan Konflik Etnoreligius: Dengan
Pendekatan Riset Aksi Pertisipatori, h. 32.

1

2

intensitasnya yang tinggi dan pola persebaran konflik yang cukup merata di
Indonesia. Hasil penelitian Ikhsan Ali Fauzi dkk., tercatat terjadi 832 insiden
konflik pada 29 provinsi di Indonesia dalam kurun waktu 1990-2008, yang
mengakibatkan 55.080 korban jiwa dan 1.993 kerugian materi.4
Dari hasil penelitian tersebut, konflik sosial di Indonesia dapat
dikategorikan sebagai kejadian luar biasa karena memiliki dampak yang cukup
besar dengan menelan banyak korban jiwa dan kerugian materil. Maka hampir
dapat dijumpai pemberitaan terkait konflik di berbagai media massa. Tentunya,
hal ini bersesuaian dengan nilai-nilai berita, diantaranya keluarbiasaan,
kebaruan, aktual, akibat, kedekatan, kejutan dan konflik.5
Peristiwa konflik sosial yang tak jauh berbeda dengan konflik-konflik
sebelumnya kembali terjadi di Indonesia. Pada 17 Juli 2015, bertepatan dengan
hari raya Idul Fitri terjadi peristiwa konflik di Tolikara, Papua. Konflik sosial
ini berlatar belakang isu etnoreligius. Konflik tolikara menyebabkan sejumlah
kios serta satu bangunan masjid terbakar.
Konflik Tolikara bermula dari beredarnya surat dari pihak kelompok
Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di Papua terkait pelarangan penggunaan
pengeras suara dan shalat Ied di lapangan terbuka, dengan alasan di hari yang
sama akan diadakan seminar nasional GIDI. Namun umat Islam tetap
melaksanakan solat Ied di lapangan terbuka dengan dijaga pihak keamanan.

4

Rusmin Tumanggor dan Kholis Ridho, Antropologi Agama, (Ciputat: UIN
Press, 2015), h. 73-78.
5
Pamela J Soemaker dan Stephen D. Reese, Mediating The Message Theories of
Influence on Mass Media Content, ((New York, USA: Longman Publisher, 1996), h. 111.

3

Buntut peristiwa tersebut terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh sejumlah
besar massa dan berujung pada pada penyerangan yang dilakukan massa
tersebut pada pihak keamanan dan warga muslim yang hendak melaksanakan
shalat Ied. Kemudian pihak keamanan merasa terdesak hingga terpaksa
melepaskan tembakan dan menewaskan satu orang dari pihak GIDI. Hal
tersebut memicu kemarahan massa hingga massa menuju lokasi kios dan
membakarnya, kemudian api merebet ke sebuah masjid.6
Sejumlah media massa, baik media cetak, elektronik maupun online
turut menyoroti isu terkait konflik tolikara tersebut. Bahkan sebagian media
menjadikan pemberitaan ini sebagai headline. Pemberitaan terkait konflik
tolikara di media massa tentunya akan membawa pengaruh terhadap khalayak
banyak nantinya. Pengaruh tersebut dapat dikatakan apakah nantinya
pemberitaan konflik bisa menjadi hal positif atau justru sebaliknya. Hal ini
akan nampak dari cara media mengemas informasi terkait konflik, apakah
pemberitaan

media

akan

membantu

meredakan

konflik

dengan

menggambarkan situasi dan akar masalah yang bisa mendukung perbaikan
situasi dan perdamaian. Atau justru akan menyebabkan eskalasi konflik
semakin meluas dengan hanya menekankan pada aspek kekerasan dan
penggambaran yang tidak proporsional terhadap aktor yang berkonflik.
Sepatutnya konflik harus dihindarkan jika bisa dilakukan, setidaknya
berupaya untuk mencegah berulangnya konflik sosial di Indonesia. Peran
semua pihak diperlukan untuk menekan resiko konflik sosial di Indonesia,
6

“Muslim Papua Tak Terprovokasi, “ Republika, 20 Juni 2015, h. 1

4

termasuk peran pers. Peran pers dalam pengendalian konflik sosial tentunya
tidak secara langsung dalam upaya partisipasi lapangan ataupun upaya-upaya
memelihara perdamaian, membentuk perdamaian, membangun perdamaian,
dan penyelesaian nyata dari konflik yang telah terjadi. Namun peran pers
dalam pencegahan konflik dapat dilakukan sesuai dengan peranan pers yang
tertuang dalam undang-undang No 40 tahun 1999 tentang pers pasal 3 ayat 1
yang menyatakan fungsi pers diantaranya ialah sebagai media informasi dan
pendidikan.7
Terkait dengan pencegahan konflik dan fungsi pers sebagai media
informasi dan pendidikan. Maka seharusnya pers mampu menyajikan informasi
yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Seperti menyajikan informasi dan
pendidikan terkait wawasan nusantara dan wawasan multikulturalisme.
Memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat bahwa interaksi
antar golongan memiliki potensi konflik. Namun, konflik merupakan suatu
keniscayaan dan suatu hal yang wajar dalam bermasyarakat yang perlu
dihadapi secara arif dan bijak.8
Namun, peran dan fungsi pers tersebut saat ini bias sebab
kepentingan-kepentingan yang bertarung didalamnya. Masing-masing media
dengan seperangkat pandangan, ideologi dan kebijakan media mencoba
membangun, menciptakan, mengembangkan, dan menyuguhkan pemberitaan

7

Wina Armada Sukardi, Kajian Tuntas 350 Tanya Jawab UU Pers dan Kode Etik
Jurnalistik, (Jakarta: Dewan Pers, 2013), cet ke-II, h. 398.
8
Rusmin Tumanggor dan Kholis Ridho, Antropologi Agama, h. 71.

5

tersebut kepada masyarakat dengan angle yang berbeda. Sehingga peristiwa
yang sama memiliki sudut pandang yang warna-warni di berbagai media.
Kenyataan tersebut menandakan bahwa media saat ini mencoba
mengkonstruk pemberitaan. Berita sebagai konstruksi realitas, tentunya
dibangun atas penyusunan bahasa yang terbentuk dari kumpulan kata-kata.
Dalam konstruksi realitas, bahasa merupakan unsur pertama dan instrument
pokok untuk mencitrakan realitas.9 Disini media dipandang sebagai agen
konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas sosial sesuai dengan
kepentingannya.10 Media saat ini ditekan untuk menyajikan pemberitaan yang
sesuai kehendak dan kepentingan golongan tertentu. Media tidak lagi
memegang prinsip jurnalisme, dimana kewajiban pertama awak media ialah
kepada khlayak.11
Media mencoba mengkonstruk realitas dengan cara melakukan
penyeleksian isu, dimana media mencoba melakukan pemilihan fakta. Aspek
mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak. Mengalihkan fakta yang
satu dengan fakta lain, atau bahkan mungkin menutupi sisi tertentu. Selain itu,
media juga mencoba menonjolkan satu aspek tertentu dari pemberitaan,
sehingga tampak menarik dan melekat dihati khalayak.12

9

Ibnu Hamad dan Agus Sudibyo, M. Qodari, Kabar-kabar Kebencian Prasangka di
Media Massa, (Jakarta: ISAI, 2001), h. 69.
10
Luwi Ishwara, Catatan-catatan Jurnalisme Dasar (Jakarta: Penerbit Buku
Kompas, 2005), h. 177.
11
Bill Kovach dan Tom Rosenstill, Elemen-elemem Jurnalisme: Apa yang
Seharusnya Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik, (Jakarta: ISAI dan Kedutaan
Amerika Serikat, 2004), cet ke-II, h. 60.
12
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, (Yogyakarta:
LKiS, 2012), cet ke-VII, h. 224.

6

Jika demikian, bukan tidak mungkin jika masyarakat akan memiliki
gambaran tentang suatu peristiwa sesuai dengan apa yang ditampilkan oleh
media yang ia lihat atau ia baca. Masyarakat bisa saja menganggap satu pihak
sebagai pahlawan dan pihak lain sebagai penyebab kekacauan, padahal belum
tentu pihak yang dianggap penyebab kekacauan melakukan kesalahan. Inilah
dampak dari pemaknaan yang disuguhkan media. Tanpa sadar khlayak digiring
untuk sepaham dan sependapat dengan media tertentu.
Bingkai pemberitaan dari media yang berbeda-beda ini akan
menyebabkan realitas bentukan yang berbeda.13 Terlebih untuk memperkuat
kebenaran atas pemberitaannya, media mencoba menyuguhkan berbagai
argumentasi yang dinilai kuat untuk mendukung gagasannya tersebut.
Sehingga tak heran, jika hasil konstruksi atas realitas bentukan media nampak
benar dan terlihat apa adanya, sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.
Media yang mengangkat pemberitaan terkait insiden Tolokara
diantaranya ialah Harian Umum Republika dan Kompas. Kedua surat kabar
tersebut secara barturut-turut, edisi 20-25 Juli 2015 memberitakan isu terkait
insiden di Tolikara. Republika, dalam enam edisi menjadikan berita tersebut
sebagai headline. Tak jauh berbeda dengan Kompas, dari keenam edisi
tersebut, tiga diantaranya Kompas turut menjadikan pemberitaan ini sebagai
headline. Sedangkan sebagainnya lagi terdapat pada rubrik Politik dan Hukum.
Melihat dari penelitian sebelumnya terhadap pemberitaan di Harian
Kompas selama Januari 1990 hingga Agustus 2008 mengungkapkan fakta
13

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, (Yogyakarta:
LKiS, 2012), cet ke-VII, h. 225.

7

bahwa wilayah persebaran aksi damai terkait konflik keagamaan di Indonesia
lebih luas dibandingkan dengan aksi kekerasan.14 Kemudian terkait konflik di
tolikara, bagaimana Kompas membingkai pemberitaan konflik tolikara?
akankah Kompas kembali membingkai pemberitaan konflik pada aspek aksi
perdamai seperti yang diungkap dalam penelitian sebelumnya, atau justru
berbeda? Lalu, bagaimana dengan pembingkaian Republika dalam pemberitaan
konflik di tolikara?
Mengingat pemilihan media cetak Harian Republika dan Kompas
dalam penelitian ini menjadi menarik, tentunya didasari dengan alasan dari
penulis. Dilihat dari sumbu konflik yang terjadi di Tolikara terindikasi adanya
isu konflik yang dilatar belakangi isu konflik religius antara penganut agama
yang berbeda, yakni umat Nasrani dan Muslim. Maka pengangkatan kedua
media ini sangat mempengaruhi alasan penulis dari sisi kepemilikan dan
ideologi kedua media tersebut. Dimana Republika didirikan dari cita-cita para
cendekiawan Muslim se-Indonesia yang tergabung dalam organisasi Ikatan
Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Selain itu, Republika juga dikenal
dengan media beridiologi islam.15 Sedangkan Harian Kompas diterbitkan oleh
Yayasan Bentara Rakyat yang dipimpin oleh para pimpinan partai Katolik dan
pimpinan organisasi-organisasi Katolik, diantaranya ialah Jakob Oetama dan
Petrus Kanisius Ojong.16

14

Hasil Penelitian Ikhsan Ali Fauzi, dkk., dalam Rusmin Tumanggor dan Kholis
Ridho, Antropoligi Agama, h. 75.
15
Company Profile, Pusat Data Harian Umum Republika, h. 1.
16
F. A. Santoso, Sejarah, Organisasi, dan Visi-Misi Kompas, (Jakarta: Kompas
Gramedia, 2010), h. 2.

8

Pertanyaan dan pernyataan tersebut yang ada dibenak penulis,
sehingga penulis merasa tertarik untuk mengungkap jawaban atas pertanyaan
dan pernyataan tersebut. Oleh karena itu, penulis memilih kajian skripsi yang
berjudul “Analisis Framing Pemberitaan Konflik Tolikara Pada Harian
Kompas dan Republika”.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Agar pembahasan dalam penulisan ini lebih terarah, maka penulisan
skripsi ini dibatasi pada analisis tekstual dari berita “Konflik tolikara”. Adapun
media cetak yang akan dinalisis ialah Harian Umum Republika dan Kompas,
edisi 20, 21, 24, dan 25 Juli 2015.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan pada bagian
sebelumnya dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah yang
akan dibahas antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana bingkai pemberitaan konflik tolikara pada Harian Kompas dan
Republika?
2. Bagaimana perbedaan bingkai pemberitaan konflik tolikara pada Harian
Kompas dan Republika?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1.

Mengetahui bingkai pemberitaan konflik tolikara pada surat kabar
Republika dan Kompas.

9

2.

Mengetahui perbedaan bingkai pemberitaan konflik tolikara pada Harian
Kompas dan Republika
Dari tujuan penulisan di atas, maka penelitian ini memiliki manfaat

secara akademis dan praktis.
1. Manfaat Akademis
Dalam segi akademis penelitian ini dilakukan guna mengaplikasikan
teori analisis faraming Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki untuk memahami
bagaimana bingkai berita konflik tolikara pada harian Kompas dan Republika.
2. Manfaat Praktis
Penulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan refrensi terhadap kajian
analisis framing di media massa. Khususnya kajian analisis faraming model
Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki. Model analisis teks yang dikemukakan
Pan dan Kosicki ini melalui empat elemen (sintaksis, skrip, tematik, dan
retoris) dan setiap elemen memiliki unit-unit yang secara runtun membedah
teks mulai dari judul hingga penutup. Sehingga teks dapat diamati dengan lebih
rinci dan detail.

D. Metodologi Penelitian
1. Paradigma Penelitian
Paradigma yang digunakan oleh penulis dalam usaha memahami
pembingkaian pada media cetak Republika dan Kompas terkait pemberitaan
Konflik tolikara ialah paradigma kontruktivisme. Paradigma konstruktivisme
memandang bahwa realitas bukanlah suatu hal yang natural, melainkan hasil

10

dari sebuah konstruksi.17 Dengan paradigma ini penulis akan melihat dan
mengetahui bagaimana media mengkonstruksi realitas. Titik perhatian dalam
paradigma ini tidak terletak pada bagaiman seseorang mengirimkan pesan,
melainkan bagaimana masing-masing pihak terlibat proses komunikasi dalam
memproduksi dan mempertukarkan makna.
Penulisan dengan paradigma konstruktivis memiliki beberapa
karakteristik, diantaranya; memiliki tujuan untuk menentukan realitas yang
terjadi sebagai hasil interaksi antara penulis dengan objek penilitian, penulis
melibatkan dirinya dengan realitas yang diteliti, makna yang dihasilkan dari
suatu teks merupakan hasil negosiasi antara teks dengan penulis, hasil
penulisan merupakan interaksi antara penulis dan objek penulisan, subjektivitas
penulis menjadi dasar dari proses analisis, kualitas dilihat dari sejauh mana
penulis mamapu menyerap dan mengerti bagaimana individu mengkonstruksi
realitas.18
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian dalam skripsi ini menggunakan pendekatan
penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mencari makna terhadap sesuatu.
Penelitian kualitatif berupaya menghimpun data, mengolah data, dan
menganalisa suatu data. Penelitian dengan metode ini dilakukan lebih
mendalam dalam penangkapan suatu makna atau masalah.19 Penelitian
17

Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, (Yogyakarta:
PT LKiS Printing Cemerlang, 2012), cet. Ke-VII, h.43.
18
Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h. 51-74.
19
Lexy J. Moleong, Metode Penulisan Kualitatif, (Bandung: PT. Rosda Karya,
2005), h. 13.

11

kualitatif merupakan penelitian yang berhubungan dengan data visual dan data
verbal di mana proses dalam penulisannya menggunakan metode pengumpulan
data dan metode analisis data.20 Dengan pendekatan kualitatif ini tidak
menghitung seberapa banyak data, namun diutamakan data yang diperoleh
kemudian dimaknai secara mendalam.
3. Subjek dan Objek Penulisan
Subjek dalam penulisan ini adalah harian Republika dan
Kompas.Sedangkan yang menjadi objek penulisan ialah berita seputar Konflik
tolikara edisi 20, 21, 24, dan 25 Juli 2015.
4. Waktu dan Tempat Penelitian
Penulisan ini dilakukan mulai bulan Juli 2015. Tempat penulisan
dimulai

dikediaman

penulis

sendiri

kemudian

dilanjutkan

dengan

mewawancarai pihak redaksi dari kedua media tersebut. Berita terkait konflik
tolikara pada harian Republika dalam edisi yang diteliti selalu menjadi
headline. Sehingga, keterangan dari Redaktur Halaman Utama Republika,
Fitriyan Zamzami dirasa perlu. Karena, tentunya ia memiliki wewenang dalam
proses pembingkaian atas berita tersebut.
Begitupun dengan Kompas, pemberitaan terkait konflik tolikara dalam
beberapa edisi menjadi headline dan sebagian besar terdapat pada rubrik politik
dan hukum. Sehingga, keterangan dari pihak yang menangani rubrik poltik dan
hukum pada Harian Kompas perlu untuk mengetahui dan mengkonfrmasi hasil
temuan teks terkait pembingkaian berita tersebut. Oleh karenanya, penulis
20

M. Antonius Birowo, MetodePenulisan Komunikasi Teori dan Aplikasi, (Gitanyali:
Yogyakarta, 2004), h.2.

12

mewawancarai Redaktur Rubrik Politik dan Hukum Kompas, Sutta
Dharmasaputra.
5. Teknik Analisis Penelitian
Berdasarkan dari permasalah di atas penulis akan menghubungkan
fakta-fakta temuan dari kedua surat kabar tersebut terkait pemberitaan Konflik
tolikara dengan kerangka analisis framing. Analisi framing yang digunakan
oleh penulis ialah analisis framing yang dikemukakan oleh Zhongdang Pan dan
Gerald M. Kosicki. Dalam pendangan Pan dan Kosicki perangkat framing
dapat dibagi menjadi empat struktur besar, yakni struktur sintaksis yang
berhubungan dengan bagaimana wartawan menyususn peristiwa. Kemudian
struktur skrip yang berhubungan dengan bagaimana wartawan mengisahkan
atau menceritakan peristiwa kedalam bentuk berita. Struktur tematik,
berhubungan dengan bagaiman wartawan mengungkapkan pandangannya atas
peristiwa kedalam proposisi, kalimat atau hubungan antar kalimat yang
membentuk teks secara keseluruhan. Terakhir ialah struktur retoris, yang
berhubungan dengan bagaimana wartawan menekankan arti tertentu ke dalam
berita.21
Table 1.1
Model Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
STRUKTUR
SINTAKSIS
Cara
wartawan
menyusun fakta

21

PERANGKAT
FRAMING
1. Skema berita

UNIT YANG
DIAMATI
Headline, lead, latar
informasi,
kutipan,
sumber, pernyataan,
penutup

Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h.294.

13

SKRIP
Cara
wartawan
mengisahkan fakta

2. Kelengkapan berita

5W+1H

TEMATIK
Cara
wartawan
menulis fakta

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Paragraf, proposisi,
kalimat,
hubungan
antarkalimat

RETORIS
Cara
wartawan
menekankan fakta

Detail
Koherensi
Bentuk kalimat
Kata ganti
Leksikon
Grafis
Metafora

Kata,
idiom,
gambar/foto, grafik

6. Teknik Pengumpulan Data
a. Dokumentasi
Dokumentasi sebagai suatu metode pengumpulan data, bertujuan
menggali data-data secara sistematis dan objektif, ini merupakan instrument
pengumpulan data yang bertujuan mendapatkan informasi yang mendukung
analisis dan interpretasi data.22 Dokumentasi yang dimaksud dalam penulisan
ini didapatkan dari surat kabar Republika dan Kompas edisi 20, 21, 24, dan 25
Juli 2015 yang memuat berita terkait Konflik tolikara.
b. Wawancara
Wawancara dalam penulisan ini dilakukan dengan wawancara
mandalam, bebas namun dituttut pedoman wawancara.Wawancara dalam riset
kualitatif yang disebut sebagai wawancara intensif, bebas namun terarah sesuai
dengan konteks pembahasan.23
Penulis

mewawancarai

Redaktur

Pelaksana

Kompas

Sutta

Dharmasaputra dan Redaktur Halaman Utama Republika Fitriyan Zamzami,
22

Rachmat Kriyantono, Teknis Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2008),
Edisi 1, cet ke-III, h. 100.
23
Rachmat Kriyantono, Teknis Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2008),
Edisi 1, cet ke-III, h. 36.

14

untuk mengkonfirmasi data sekunder yang berupa temuan dari beberapa
dokumantasi surat kabar Republika dan Kompas terkait pemberitaan Konflik
tolikara.
H. Tinjauan Pustaka
Sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini, penulis mengacu pada
beberapa penulisan yang telah dilakukan sebelumnya. Beberapa diantaranya
adalah penulisan skripsi berjudul “Analisis Framing Pemberitaan Gayus
Tambunan di Republika dan Media Indonesia” karya Ririn Restu Utami,
Mahasiswi Konsentrasi Jurnalistik UIN Jakarta. Kemudian penulisan karya
Reza Andrian dengan judul “Analisi Framing Berita Konflik Muslim Rohingya
Dan Budha Rakhine Di Myanmar Pada Republika Online dan DetikCom
Periode Juni 2012”, skripsi karya Marisha Arianti Agustin mahasiswi
Jurnalistik, dengan judul “Wacana Mundurnya Luthfi Hasan Ishaaq pada
Pemberitaan Harian Kompas”. Serta skripsi karya Rahmadaniati Marchelina
dengan judul “Analisis Framing Pemberitaan Harry Tanoesoedibjo di Harian
Media Indonesia dan Seputar Indonesia”. Beberapa tinjauan pustaka tersebut
dijadikan acuan oleh penulis, karena terdapat persamaan jenis penelitian yakni
mengenai framing. Namun tentunya terdapat perbedaan antara skripsi tersebut
dengan skripsi penulis, yakni mengenai kasus yang diangkat, media massa
yang menjadi objek penelitian, serta konsep yang digunakan, hasil temuan dan
analisis data

15

I. Sistematika Penulisan
BAB I:

Pada bab ini dijabarkan mengenai latar belakang masalah yang
diambil oleh penulis, batasan serta rumusan masalah, tujuan
serta manfaat penulisan, metodologi penulisan, tinjauan pustaka
dan bagian akhir dari bab ini ialah sistematika penulisan.

BAB II:

Bab ini akan dibahas menenai landasan teori dan teknik analisis
framing yang digunakan sebagai mata pisau dalam menganalisis
data temuan.

BAB III:

Pada bab ini pemb ahasan terkait gambaran umum dari kedua
media cetak, yakni gambaran keseluruan mengenai Harian
Umum Republika dan Kompas.

BAB IV:

Bagian bab ini akan dibahas secara mendalam dan terperinci
hasil dari temuan serta hasil analisis dari pemberitaan Konflik
tolikara pada Harian Umum Republika dan Kompas edisi 20,21,
24 dan 25 Juli 2015 yang dihubungkan dengan argumentasi serta
teori-teori yang terdapat pada bab II.

BAB V:

Bab penutup dari berbagai sub bab yang terdapat dalam
penyusunan skripsi ini merangkum seluruh kesimpulan dan
saran dari permasalahan yang diangkat.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Teori
B. Teori Konstruksi Sosial
Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya “The
Social Construction of Reality, a treatise in the Socialogical of Knowledge”
berpandangan

bahwa

sebuah

realitas

merupakan

suatu

bentukan

(konstruksi). Konsturksi sosial menggambarkan dimana terjadinya proses
sosial melalui tindakan dan interaksi, individu menciptakan secara terus
menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif.17
Konstruksi merupakan suatu teori yang dapat digunakan dalam
metode analisis framing. Teori ini mengenai pembentukan sebuah realitas
yang dilihat dari bagaimana sebuah realitas sosial itu memiliki makna.
Sehingga realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi oleh individu secara
subjektif kepada individu lainnya sehingga realitas tersebut dapat dilihat
secara objektif dan pada akhirnya individu akan mengkonstruksi realitas
yang ada dan merekonstruksikan kembali ke dalam dunia realitasnya.
Manusia memaknai dirinya dan objek di sekelilingnya berdasarkan
sifat-sifat atau sensasi yang dialaminya saat berhubungan dengan objek
tersebut. Pemaknaan tersebut berasal dari tindakan yang terpola dan terjadi
secara terus menerus yang pada akahirnya mengalami objektifasi dalam
kesadaran mereka yang mempersepsikannya. Dalam aspek psikologis
17

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Kencana: Jakarta, 2006. Cet ke-1, 193.

16

17

manusia melihat sebuah realitas akan memiliki persepsi yang berbeda sesuai
dengan apa yang dipahaminya. Oleh kerenanya, realitas yang sama bisa jadi
akan dipahami dan digambarkan secara berbeda pula oleh setiap individu.
Individu mampu secara aktif dan kreatif mengembangkan segala realitas
sesuai dengan stimulus dalam kognitifnya.
Berger dan Luckman menyatakan bahwa proses konstruksi sosial
ada melalui tiga moment simultan. Pertama, eksternalisasi (penyesuaian
diri) dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia.18 Kedua,
obyektifasi, yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif
yang dilembagakan.19 Dalam tahap ojektifasi yang terpenting adalah
pembuatan signifikasi, yakni pembuatan tanda-tanda oleh manusia.20
Ketiga, internalisasi, yaitu proses di mana individu mengidentifikasi dirinya
dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial di tempat individu
menjadi anggotanya.21
Proses pembentukan realitas dalam media massa memiliki tiga
tahap, yang terdiri dari tahap menyiapkan materi konstruksi, tahap sebaran
konstruksi dan tahap pembentukan konstruksi realitas. Dalam tahap
menyiapkan materi konstruksi yang terpenting adalah melihat keberpihakan
media massa kepada kapitalisme yang menjadi dominan, mengingat dimana
media massa adalah mesin produksi kapitalis yang harus menghasilkan
keuntungan. Pada tahap sebaran konstruksi, dilihat dari strategi media massa

18

Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, Kencana: Jakarta, 2008, h.15.
Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, h. 15.
20
Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, h. 17.
21
Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, h. 15-16.
19

18

dalam menyebarkan informasi. Pada umumnya persebaran konstruksi sosial
media massa menggunakan model satu arah. Dimana media berkuasa penuh
terhadap penyebar informasi dan penonton atau pembaca tidak memiliki
pilihan selain mengonsumsi informasi tersebut. Selanjutnya, tahap
pembentukan konstruksi realitas, yang terdiri atas pembentukan konstruksi
realitas, pembentukan konstruksi citra. Tahapan terakhir mengkonfirmasi,
tahapan ini ketika media massa maupun pembaca memberi argumentasi dan
akuntabilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam pembentukan
konstruksi.22
Realitas yang ditampilkan oleh media pada dasarnya merupakan
hasil konstruksi media itu sendiri. Realitas dalam media massa dikonstruksi
dengan melalui tiga tahap, yaitu tahap konstruksi realitas pembenaran,
kesediaan dikonstruksi oleh media massa dan sebagai pilihan konsumtif.
Pertama, konstruksi realitas pembenaran merupakan realitas yang dikonstuksi
media massa dan apa yang disajikan di media massa seluruhnya diangap
sebagai suatu kebenaran. Kedua, tahap kesediaan dikonstruksi oleh media
massa, kesediaan khalayak menjadi konsumen media. ketiga, tahap pilihan
konsumtif, yaitu ketergantungan individu terhadap media.23
2.Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
Gagasan mengenai framing pertama kali dikemukakan oleh Beterson
tahun 1995. Saat itu, framing dimaknai sebagai struktur konseptual atau
perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan,
22
23

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, h. 195-197.
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, h.212-213.

19

dan wancana, serta yang menyediakan ketegori-kategori standar untuk
mengapresiasi realitas. Kemudian konsep ini dikembangkan lebih jauh oleh
Erving Goffman pada 1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingankepingan prilaku (strip of behavior) yang membimbing individu membaca
realitas.24
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk
membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.
Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke
dalam berita agar bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat,
untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.25 Dari
pemahaman tersebut dapat diartikan bahwasaanya framing ialah suatu
pendekatan untuk mengetahui dan memahami bagaimana wartawan saat
memproduksi

berita,

yakni

bagaimana

wartawan

menyeleksi

dan

menuliskan berita. Cara pandang tersebut akhirnya menentukan mana fakta
yang akan diambil, mana bagian yang akan ditonjolkan atau sembunyikan,
serta hendak dibawa kemana berita tersebut.26 Kerenanya, berita menjadi
manipulatif dan bertujuan mendominasi keberadaan subjek sebagai sesuatu
yang legitimate, objektif, alamiah, wajar, atau tak terelakan.27

24

Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik dan Analisis Framing, h. 161-162.
25
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik dan Analisis Framing, h, 162.
26
Bimo Nugroho, Eriyanto, Frans Sudiarsis, Politik Media Mengemas Berita,
(Jakarta: ISAI, 1999), h. 21.
27
Teguh Irawan, Media Surabaya Mengaburkan Makna, (Jakarta: Pantau Edisi 9,
2000), h. 65-73.

20

Selain itu terdapat beberapa definisi mengenai framing yang
dikemukakan oleh para tokoh. Menurut William A. Gamson, framing ialah
cara bercerita atau gagasan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan
menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan
objek suatu wacana. Cara bercerita itu terbentuk dalam sebuah kemasan
(package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang
digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ia
sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan-pesan yang ia terima.
Menurut Robert N. Etnman framing ialah proses seleksi dari berbagai aspek
realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol ketimbang
aspek lain. Ia juga menyertakan penempatan informasi-informasi dalam
konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar
dari pada sisi yang lain.28
Menurut George Junus Aditjondro dalam Arifatul Choiri Fauzi,
mengartikan framing sebagai sebuah penyajian realitas di mana kebenaran
tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, tetapi dibelokak secara
halus, memberikan sorotan pada terhadap aspek-aspek tertentu saja,
menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu, bantuan
foto, karikatur, dan menggunakan alat ilustrasi lainnya.29
Sejalan dengan hal tersebut, Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
memaknai framing sebagai strategi konstruksi dan memproses berita.
28

Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h. 77-78.
Arifatul Choiri Fauzi, kabar-kabar Kekerasan dari Bali, (Yogyakarta: LKIS,
2007), h. 28.
29

21

Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan
peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan
berita.30 Pengertian tersebut menegaskan bahwasnnya konsep framing akan
melihat bagaimana media membingkai isu-isu, sehingga akan nampak
kearah mana pemberitaan tersebut akan diarahkan.
Proses framing terkadang dibenturkan dengan alasan-alasan teknis
seperti keterbatasan kolom dan halaman (pada media cetak) dan waktu
(pada media elektronik), jarang ada media yang membuat berita secara utuh
mulai dari menit pertama kejadian hingga menit akhir. Atas nama kaidah
jurnalistik, peristiwa yang panjang, lebar dan rumit dicoba “disederhanakan”
melalui mekanisme pembingkaiaan fakta-fakta dalam bentuk berita
sehingga layak terbit atau layak tayang.31
Terdapat dua aspek dalam framing, yakni memilih fakta atau realitas
dan menuliskan fakta.32 Pertama, memilih fakta merupakan proses dimana
seorang wartawan melihat suatu peristiwa. Fakta dipilih berdasarkan asumsi
serta perspektif wartawan. Wartawan akan memilih realitas mana yang akan
diambil dan memilih angle tertentu. Dengan pemilihan ini artinya terdapat
aspek tertentu dari realitas yang tidak diberitakan dan aspek tertentu justru
ditonjolkan. Jika demikian, tentunya pemahaman dan konstruksi realitas
atas suatu peristiwa bisa jadi berbeda antara satu media dengan media lain.
Kedua, menuliskan fakta atau realitas. proses ini merupakan
bagaimana cara wartawan menyajikan fakta yang telah dipilih dengan cara
penonjolan realitas. Bagaimana wartawan menekankan fakta tersebut dalam
bentuk kata, kalimat dan proposisi tertentu serata dengan bantuan aksentuasi
30

Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h.79.
Ibnu Hammad, Konstruksi Realitas Politik, (Jakarta: Granit, 2004), h.21.
32
Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h. 81.
31

22

foto dan gambar. Selain itu fakta yang telah dipilih ditekankan agar nampak
lebih menonjol, misalnya dengan nempatkan sebagai headline depan atau
bagian belakang, pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan
meperkuat penonjolan, pemakaian lebel tentu untuk mendeskripsikan orang
atau peristiwa, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplifikasi,
dan pemakaian kata yang mencolok, gambar dan sebagainya.
Pemilihan fakta dan penulisan fakta yang menggunakan kata, kalimat
atau foto itu merupakan hubungan memilih aspek tertentu dari realitas.
Aspek tertentu yang sengaja ditonjolkan tersebut akan mendapatkan alokasi
dan perhatian yang besar dibanding aspek lain. Sehingga kemenonjolan
tersebut, memiliki peluang besar untuk sebuah berita diperhatikan, dianggap
lebih bermakna dan akan lebih diingat oleh khalayak.
Model analisis framing diperkenalkan oleh banyak tokoh, salah
satunya ialah model analisis framing yang dikenalkan oleh Zhongdang Pan
dan Gerald M. Kosicki. Menurut Pan dan Kosicki terdapat dua konsepsi
framing yang berkaitan, yakni konsep psikologi dan konsep sosiologi.
Konsep psikologi lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses
berita dalam dirinya. Sedangkan konsep sosiologis menekankan pada
bagaimana

seseorang

mengklasifikasikan,

mengorganisasikan,

dan

menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas di
luar dirinya.
Framing dimaknai sebagai suatu strategi atau cara wartawan dalam
mengkonstruksi dan memproses peristiwa untuk disajikan kepada khalayak.

23

Dalam proses konstruksi berita, wartawan tidak hanya dibekali oleh pikiran
yang ada dalam dirinya saja. Namun, proses mengkonstruksi berita akan
melibatkan nilai-nilai sosial yang nantinya akan mempengaruhi bagaimana
realitas akan dipahami. 33
Pendekatan framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki terbagi
kedalam empat struktur besar; struktur sintaksis, struktur skrip, struktur
tematik dan struktur retoris.34 Melalui keempat struktur ini, dapat dilihat
bagaimana kecondongan wartawan dalam memahami suatu peristiwa dan
menginterpretasikan pemahamannya ke dalam bentuk berita. Pendekatanpendekatan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk skema sebagai
berikut:
Table 1.2
Konsep Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
STRUKTUR

SINTAKSIS

PERANGKAT
FRAMING
1. Skema berita

Headline, lead, latar
informasi,
kutipan,
sumber,
pernyataan,
penutup

2. Kelengkapan
berita

5W+1H

3.
4.
5.
6.

Paragraf,
proposisi,
kalimat,
hubungan
antarkalimat

Cara
wartawan
menyusun fakta
SKRIP

UNIT YANG
DIAMATI

Cara
wartawan
mengisahkan fakta
TEMATIK
Cara
wartawan
menulis fakta
RETORIS
Cara

wartawan
33

Detail
Koherensi
Bentuk kalimat
Kata ganti

7. Leksikon
8. Grafis
9. Metafora

Kata,
idiom,
gambar/foto, grafik

Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h. 292.
Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media,h. 294.

34

24

menekankan fakta

Tabel tersebut merupakan gambaran struktur dari perangkat framing
Zongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Pertama, struktur sintaksis
berhubungan dengan bagaimana wartwan menyusun peristiwa, menyususn
pernyataan, opini, kutipan pengamatan atas peristiwa kedalam bentuk
susunan berita. Sintaksis dalam pengertian umum adalah susunan kata atau
frase dalam kalimat.35 Dalam wacana berita, sintaksis merujuk pada
pengertian susunan dan bagian berita seperti headline, lead, latar informasi,
sumber, penutup yang terdapat dalam satu kesatuan teks berita secara
keseluruhan.36 Biasanya struktur sintaksis yang paling populer dalam teks
berita ialah bentuk piramida terbalik, dimana bagian yang atas ditampilkan
lebih penting dibanding dengan bagian bawahnya. Selain itu struktur
piramida terbalik ini mengacu pada pengorganisasian bagian-bagian struktur
yang runtut, seperti headline (judul utama), lead (kepala berita atau
penduhuluan), episode (runtutan cerita), background (latar belakang), dan
ending or conclusion (penutup atau kesipulan).
Headline merupakan aspek sintaksis yang menunjukan tingkat
kemenonjolan dan kecenderungan berita. Pembaca cenderung mengingat
headline ketimbang bagian berita. Headline mempengaruhi

35

bagaimana

Hasan Alwi, dkk, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
2000), h. 36.
36
Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h. 296.

25

kisah dimengerti untuk kemudian digunakan dalam membuat pengertian isu
dan peristiwa sebagaimana media paparkan.37
Headline biasanya menjadi pusat perhatian pembaca sebelum bagian
berita lainnnya, oleh sebab itu kemasan dan variasi dari headline dibutuhkan
untuk lebih menarik bagi pembaca. Terdapat beberapa jenis headline yang
didasarkan pada kepentingan berita, keserasian (susunan), baris headlinenya (deks), tipografi, penempatan berita (di halaman surat kabar atau
majalah). Beberapa jenis headline tersebut ialah;38
1. Banner headline, digunakan untuk berita yang dianggap sangat penting.
Headline dibuat dengan jenis dan ukuran huruf yang mencerminkan sifat
gagah dan kuat, dalam arti hurufnya lebih besar dan lebih tebal
ketimbang jenis headline lainnya, serta menduduki tempat lebih dari
empat kolom surat kabar.
2. Spread headline, untuk berita penting. besar dan tebal hurufnya lebih
kecil dari jenis banner headline. tempat yang diperlukannya pun hanya
tiga atau empat kolom saja.
3. Secondary headline, untuk berita yang kurang penting. Ukuran dan
ketebalan hurufnya lebih kecil dari spread headline. tempat yang
disediakan untuk headline jenis ini tidak lebih dari dua kolom.
4. Surbordinated headline, untuk berita yang dianggap tidak penting.
kehadirannya terkadang dibutuhkan hanya untuk menutup tempat kosong
pada halaman yang bersangkutan. Kosong dalam arti sisa tempat pada
halaman yang memuat berita-berita lain yang dianggap lebih penting.
karena itu tempatnya pun tidak lebih dari satu kolom dan dengan ukuran
huruf serta ketebalan lebih rendah ketimbang jenis lainnya.
Selain headline, lead juga merupakan perangkat sintaksis lain yang
sering digunakan. Lead pada umumnya menunjukan sudut pandang dari
berita serta menunjukan perspektif tertentu dari peristiwa yang diberitakan.
Lead yang disebut juga teras atau intro dalam berita ialah sebuah kalimat
37

Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Poltik Media, h. 297.
Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputa

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23