Model Dinamik Pengolahan Dan Rantai Pasokan Mie Berbasis Pati Sagu Kasus Kotamadya Sukabumi

(1)

MODEL DINAMIK PENGOLAHAN DAN RANTAI PASOKAN

MIE BERBASIS PATI SAGU KASUS

KOTAMADYA SUKABUMI

Oleh:

MUHAMMAD ZAKY TAUFIQ

F14101102

2005

DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


(2)

Muhammad Zaky Taufiq. F14101102. Model Dinamik Pengolahan dan Rantai Pasokan Mie Berbasis Pati Sagu Kasus Kotamadya Sukabumi. Dibawah bimbingan Mohamad Solahudin dan Agus Supriatna S. 2005.

RINGKASAN

Tanaman sagu sebagai tanaman penghasil karbohidrat, memegang peranan sangat penting dalam mendukung program diversifikasi pangan pendamping beras, selain jagung dan umbi- umbian lainnya. Kandungan kalori sagu sekitar 357 kalori untuk setiap 100 gr, relatif sama dengan kandungan kalori jagung yaitu sekitar 349 kalori maupun beras giling dengan kandungan kalori sekitar 366 kalori. Bahkan lebih tinggi dari kandungan kalori ubi kayu dan kentang yang

masing- masing hanya mengandung 98 dan 71 kalori (Sunaryo, 1989; dalam

Novarianto dan Mahmud, 1989).

Indonesia merupakan pemilik areal sagu terbesar dengan luas areal sekitar 1.128 juta ha atau 51.3% dari 2.201 juta ha areal sagu dunia, kemudian disusul oleh Papua New Guinea 43.3% (Deptan, 2004). Riau adalah merupakan daerah yang memproduksi tepung sagu terbesar yaitu sekitar 40 000 ton, diikuti Maluku sebesar 3 000 ton, Kalimantan Barat 1 700 ton, Sulawesi Utara 1 300 ton, dan sisanya dihasilkan oleh daerah lainnya (Suharto dan Amos, 1996).

Salah satu produk lanjutan dari pati sagu adalah produk mie gleser atau mie berbasis pati sagu, yang merupakan makanan tradisional. Jenis mie ini lebih banyak dikonsumsi oleh penduduk di daerah sekitar kota Bogor, Sukabumi, dan Cianjur (Djoefrie, 1999). Pemanfaatan lainnya dari tanaman sagu selain menjadi bahan pangan adalah bahan pakan ternak. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992), tepung sagu dengan kadar serat 5% dapat digunakan sebagai makanan babi dan ayam, sedangkan tepung sagu dengan kadar serat 7% tidak baik untuk makanan ayam. Tepung sagu yang dengan kadar serat lebih dari 12% hanya cocok untuk makanan hewan ruminansia.

Seluruh rantai pengolahan mie gleser ini membentuk sebuah sistem yang terdiri dari berbagai pelaku yang saling berkaitan satu sama lainnya. Dimana setiap pelaku memiliki fungsi masing- masing yang menentukan berfungsi dengan baik atau tidak sistem pengolahan sagu yang ada tersebut. Maka analisis secara sistem diperlukan untuk melihat apakah ada pelaku yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik sehingga dapat mengakibatkan tidak berjalannya sistem yang ada.

Penggunaan simulasi dengan model dinamik dilakukan untuk melihat kecenderungan konsumsi mie gleser ini sehingga diperoleh suatu kebijakan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan produksi dari mie gleser ini. Selain untuk melihat kecenderungan konsumsi mie gleser simulasi juga dapat digunakan untuk melihat penyediaan sagu sebagai bahan baku pembuatan mie gleser.

Pemilihan Kotamadya Sukabumi sebagai tempat untuk melakukan penelitian karena Kotamadya Sukabumi sebagai salah satu sentra produksi mie sagu. Di daerah ini mie sagu menjadi makanan tradisional yang cukup populer, ditandai dengan berkembangnya beberapa pabrik pengolahan mie sagu baik pabrik pengolahan mie sagu secara manual maupun pengolahan secara mekanis. Dengan


(3)

produksi per hari untuk pabrik manual adalah sebesar 700 kg/hari dan untuk pabrik mekanis produksi per harinya sebesar 1100 kg/hari. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa dipilihnya Kotamadya Sukabumi sebagai tempat penelitian.

Analisis sistem merupakan kajian mengenai suatu sistem yang bertujuan untuk :

1. Mengidentifikasi unsur-unsur penyusun sistem atau sub-sistem. 2. Memahami proses-proses yang terjadi di dalam sistem.

Memprediksi kemungkinan-kemungkinan keluaran sistem yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan di dalam sistem.

Secara garis besar, sistem pengolahan mie berbasis pati sagu ini terdiri dari dua sub-sistem yang besar yaitu, sub-sistem ketersediaan mie dan sub-sistem ketersediaan sagu. Masing- masing sub-sistem tersebut akan diidentifikasi menjadi komponen-komponen yang lebih spesifik dan akan berinteraksi secara dinamis berdasarkan waktu dan kondisi.

Komponen pada sub-sistem ketersediaan mie adalah sub-sistem penyediaan mie berbasis pati sagu dan sub-sistem permintaan mie. Sub-sistem penyediaan mie berbasis pati sagu ini dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan mie gleser yang ada. Untuk sub-sistem permintaan mie ini sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi mie per kapitanya dan populasi penduduk, karena kedua komponen tersebut menentukan jumlah permintaan terhadap mie gleser.

Untuk sub-sistem ketersediaan sagu komponen yang berpengaruh adalah sub-sistem produksi sagu dan sub-sistem permintaan sagu. Sub-sistem produksi sagu dipengaruhi oleh jumlah produksi per harinya yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan sagu dan juga oleh jumlah pengiriman batang sagu. Pengiriman batang sagu untuk pabrik pengolahan sagu berasal dari luar Kotamadya Sukabumi, sehingga berada diluar sistem yang sedang dikaji. Karena berada diluar sistem maka pengaruhnya terhadap sistem dapat diabaikan.

Sub-sistem permintaan sagu dipengaruhi oleh komponen permintaan sagu untuk konsumsi yang terdiri dari komponen permintaan sagu untuk mie dan permintaan sagu non- mie. Permintaan sagu dari sektor industri untuk sementara tidak dikaji.


(4)

MODEL DINAMIK PENGOLAHAN DAN RANTAI PASOKAN MIE BERBASIS PATI SAGU KASUS KOTAMADYA SUKABUMI

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

pada Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

MUHAMMAD ZAKY TAUFIQ F14101102

2005

DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


(5)

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

MODEL DINAMIK PENGOLAHAN DAN RANTAI PASOKAN MIE BERBASIS PATI SAGU KASUS KOTAMADYA SUKABUMI

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

pada Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

MUHAMMAD ZAKY TAUFIQ F14101102

Dilahirkan pada tanggal 18 Januari 1984 di Bandung

Tanggal lulus:

Menyetujui, Bogor, November 2005

Ir. Mohamad Solahudin, M.Si Ir. Agus Supriatna S. Pembimbing Akademik I Pembimbing Akademik II

Mengetahui,

Dr. Ir. Wawan Hermawan, MS

Ketua Departemen

Teknik Pertanian


(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Muhammad Zaky Taufiq, dilahirkan di Bandung pada tanggal 18 Januari 1984. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Ir. Dedi Soleh Effend i, MS. dan Ir. Djadja Siti Hazar.

Pada tahun 1995 penulis menyelesaikan pendidikannya di SD Negeri Polisi 5 Bogor, kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Bogor dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1998. Pada tahun 2001 penulis menyelesaikan pendidikannya di SMA Negeri 1 Bogor dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI.

Selama menempuh pendidikannya di Institut Pertanian Bogor penulis aktif sebagai pengurus HIMATETA (Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian) di departemen HRD (Human Resources Development) pada tahun kepengurusan 2002-2003 dan di departemen PROFESI pada tahun kepengurusan 2003-2004.

Penulis melaksanakan praktek lapangan di PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (PT. Tiki JNE) pada tahun 2004 dengan judul “Mempelajari Aplikasi Sistem Informasi di PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir ”.


(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. skripsi ini berjudul “Model Dinamik Pengolahan dan Rantai Pasokan Mie Berbasis Pati Sagu Kasus Kotamadya Sukabumi”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Dalam kajian ini penulis mencoba untuk mempelajari dan mendeskripsikan karakteristik dinamis didalam pengolahan mie berbasis pati sagu serta menganalisa rantai pasokannya. Dengan terlaksana dan terselesaikannya penelitian dan penulisan laporan ini, tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapakku Ir. Dedi Soleh Effendi, MS., Ibuku Ir. Djadja Siti Hazar, kedua Adikku dan Piesca Febriana yang telah memberikan dukungan penuh baik secara moril dan materiil.

2. Bapak Ir. Mohamad Solahudin, MSi, sebagai dosen Pembimbing

Akademik atas bimbingan yang telah diberikan selama pelaksanaan penelitian.

3. Bapak Ir. Agus Supriatna selaku Pembimbing Kedua atas bimbingan yang telah diberikan selama pelaksanaan penelitian.

4. Dixie, Tito, Rangga, Trini, Angel, Rizky (Ipoel), Arie N.B.B.S.N.S., Adrionita (Oni), Aldes, Galisto, Lingga, Tanjung, Rizky (Landscape ‘38), Uut (TIN ’38), Dethya (FEM ’38), Ricky (Obo) dan semua teman-teman TEP angkatan 38.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dalam isi dan cara penulisannya. Penulis berharap, bahwa laporan ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan bagi yang membacanya.


(8)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... i

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan... 2

C. Manfaat ... 3

II. TINJAUAN PUS TAKA... 4

A. Tanaman Sagu ... 4

B. Produksi Sagu Nasional... 11

C. Pengolahan Sagu... 13

D. Pengolahan Mie Gleser ... 16

E. Demografi Masyarakat Sukabumi ... 17

F. Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)... 18

G. Simulasi... 19

H. Sistem Dinamik ... 23

III. PENDEKATAN TEORITIK... 27

A. Pendekatan Sistem... 27

B. Kerangka Pemikiran... 28

B.1. Sub-Sistem Ketersediaan Mie ... 28

B.2. Sub-Sistem Ketersediaan Sagu... 30

B.3. Diagram Lingkar Sebab-Akibat... 30

IV. METODE PENELITIAN ... 32

A. Tempat dan Waktu ... 32

B. Bahan dan Peralatan ... 32

C. Pengumpulan Data... 32

D. Kerangka Pendekatan Studi... 33

E. Metodologi... 34


(9)

E.2. Rantai Pasokan (Supply Chain) ... 39

E.3. Validasi... 39

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Pengolahan Sagu ... 40

B. Pengolahan Mie Gleser... 43

C. Sistem Dinamik ... 45

D. Analisa Finansial Usaha Pengolahan Mie Gleser... 60

E. SCM (Supply Chain Management)... 62

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 67

A. Kesimpulan... 67

B. Saran... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 69


(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pohon sagu (Puslitbangbun, 1999) ... 8

Gambar 2. Pohon industri sagu (Djoefrie, 1999) ... 10

Gambar 3. Diagram pembuatan tepung sagu (Joseph, et al.,2000 dalam Kindangen et al., 2003)... 15

Gambar 4. Diagram proses pengolahan pati sagu menjadi mie gleser (Balai Besar Pascapanen Pertanian, 2004) ... 17

Gambar 5. Tahapan studi simulasi (Law dan Kelton, 1984 dalam Nuroniah, 2003)... 22

Gambar 6. Diagram alir proses pembuatan model dinamik (Richardson dan Pugh, 1986 dalam Nuroniah, 2003) ... 25

Gambar 7. Diagram lingkar sebab-akibat pengolahan mie berbasis pati sagu ... 31

Gambar 8. Kerangka Pemikiran Studi... 33

Gambar 9. Batang sagu yang telah dipotong-potong ... 40

Gambar 10. Alat penghancur batang sagu ... 41

Gambar 11. Tempat pengadukan dan Bak pengendapan. ... 41

Gambar 12. Sagu basah... 42

Gambar 13. Penjemuran pati sagu... 42

Gambar 14. Bentuk adonan pati sagu dan adonen gel. ... 43

Gambar 15. Pembuatan adonan dan bentuk adonan mie. ... 44

Gambar 16. Alat press ... 44

Gambar 17. Cara Pemberian minyak dan Mie yang siap dipasarkan. ... 45

Gambar 18. Model sub-sistem ketersediaan mie ... 46

Gambar 19. Model sub-sistem kependudukan... 47

Gambar 20. Model sub-sistem ketersediaan sagu ... 48

Gambar 21. Tampilan program simulasi... 50

Gambar 22. Pola kecenderungan neraca sagu hasil simulasi skenario-1 ... 51

Gambar 23. Pola kecenderungan jumlah produksi sagu dan jumlah kebutuhan sagu hasil simulasi skenario-1 ... 52


(11)

MODEL DINAMIK PENGOLAHAN DAN RANTAI PASOKAN

MIE BERBASIS PATI SAGU KASUS

KOTAMADYA SUKABUMI

Oleh:

MUHAMMAD ZAKY TAUFIQ

F14101102

2005

DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


(12)

Muhammad Zaky Taufiq. F14101102. Model Dinamik Pengolahan dan Rantai Pasokan Mie Berbasis Pati Sagu Kasus Kotamadya Sukabumi. Dibawah bimbingan Mohamad Solahudin dan Agus Supriatna S. 2005.

RINGKASAN

Tanaman sagu sebagai tanaman penghasil karbohidrat, memegang peranan sangat penting dalam mendukung program diversifikasi pangan pendamping beras, selain jagung dan umbi- umbian lainnya. Kandungan kalori sagu sekitar 357 kalori untuk setiap 100 gr, relatif sama dengan kandungan kalori jagung yaitu sekitar 349 kalori maupun beras giling dengan kandungan kalori sekitar 366 kalori. Bahkan lebih tinggi dari kandungan kalori ubi kayu dan kentang yang

masing- masing hanya mengandung 98 dan 71 kalori (Sunaryo, 1989; dalam

Novarianto dan Mahmud, 1989).

Indonesia merupakan pemilik areal sagu terbesar dengan luas areal sekitar 1.128 juta ha atau 51.3% dari 2.201 juta ha areal sagu dunia, kemudian disusul oleh Papua New Guinea 43.3% (Deptan, 2004). Riau adalah merupakan daerah yang memproduksi tepung sagu terbesar yaitu sekitar 40 000 ton, diikuti Maluku sebesar 3 000 ton, Kalimantan Barat 1 700 ton, Sulawesi Utara 1 300 ton, dan sisanya dihasilkan oleh daerah lainnya (Suharto dan Amos, 1996).

Salah satu produk lanjutan dari pati sagu adalah produk mie gleser atau mie berbasis pati sagu, yang merupakan makanan tradisional. Jenis mie ini lebih banyak dikonsumsi oleh penduduk di daerah sekitar kota Bogor, Sukabumi, dan Cianjur (Djoefrie, 1999). Pemanfaatan lainnya dari tanaman sagu selain menjadi bahan pangan adalah bahan pakan ternak. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992), tepung sagu dengan kadar serat 5% dapat digunakan sebagai makanan babi dan ayam, sedangkan tepung sagu dengan kadar serat 7% tidak baik untuk makanan ayam. Tepung sagu yang dengan kadar serat lebih dari 12% hanya cocok untuk makanan hewan ruminansia.

Seluruh rantai pengolahan mie gleser ini membentuk sebuah sistem yang terdiri dari berbagai pelaku yang saling berkaitan satu sama lainnya. Dimana setiap pelaku memiliki fungsi masing- masing yang menentukan berfungsi dengan baik atau tidak sistem pengolahan sagu yang ada tersebut. Maka analisis secara sistem diperlukan untuk melihat apakah ada pelaku yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik sehingga dapat mengakibatkan tidak berjalannya sistem yang ada.

Penggunaan simulasi dengan model dinamik dilakukan untuk melihat kecenderungan konsumsi mie gleser ini sehingga diperoleh suatu kebijakan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan produksi dari mie gleser ini. Selain untuk melihat kecenderungan konsumsi mie gleser simulasi juga dapat digunakan untuk melihat penyediaan sagu sebagai bahan baku pembuatan mie gleser.

Pemilihan Kotamadya Sukabumi sebagai tempat untuk melakukan penelitian karena Kotamadya Sukabumi sebagai salah satu sentra produksi mie sagu. Di daerah ini mie sagu menjadi makanan tradisional yang cukup populer, ditandai dengan berkembangnya beberapa pabrik pengolahan mie sagu baik pabrik pengolahan mie sagu secara manual maupun pengolahan secara mekanis. Dengan


(13)

produksi per hari untuk pabrik manual adalah sebesar 700 kg/hari dan untuk pabrik mekanis produksi per harinya sebesar 1100 kg/hari. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa dipilihnya Kotamadya Sukabumi sebagai tempat penelitian.

Analisis sistem merupakan kajian mengenai suatu sistem yang bertujuan untuk :

1. Mengidentifikasi unsur-unsur penyusun sistem atau sub-sistem. 2. Memahami proses-proses yang terjadi di dalam sistem.

Memprediksi kemungkinan-kemungkinan keluaran sistem yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan di dalam sistem.

Secara garis besar, sistem pengolahan mie berbasis pati sagu ini terdiri dari dua sub-sistem yang besar yaitu, sub-sistem ketersediaan mie dan sub-sistem ketersediaan sagu. Masing- masing sub-sistem tersebut akan diidentifikasi menjadi komponen-komponen yang lebih spesifik dan akan berinteraksi secara dinamis berdasarkan waktu dan kondisi.

Komponen pada sub-sistem ketersediaan mie adalah sub-sistem penyediaan mie berbasis pati sagu dan sub-sistem permintaan mie. Sub-sistem penyediaan mie berbasis pati sagu ini dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan mie gleser yang ada. Untuk sub-sistem permintaan mie ini sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi mie per kapitanya dan populasi penduduk, karena kedua komponen tersebut menentukan jumlah permintaan terhadap mie gleser.

Untuk sub-sistem ketersediaan sagu komponen yang berpengaruh adalah sub-sistem produksi sagu dan sub-sistem permintaan sagu. Sub-sistem produksi sagu dipengaruhi oleh jumlah produksi per harinya yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan sagu dan juga oleh jumlah pengiriman batang sagu. Pengiriman batang sagu untuk pabrik pengolahan sagu berasal dari luar Kotamadya Sukabumi, sehingga berada diluar sistem yang sedang dikaji. Karena berada diluar sistem maka pengaruhnya terhadap sistem dapat diabaikan.

Sub-sistem permintaan sagu dipengaruhi oleh komponen permintaan sagu untuk konsumsi yang terdiri dari komponen permintaan sagu untuk mie dan permintaan sagu non- mie. Permintaan sagu dari sektor industri untuk sementara tidak dikaji.


(14)

MODEL DINAMIK PENGOLAHAN DAN RANTAI PASOKAN MIE BERBASIS PATI SAGU KASUS KOTAMADYA SUKABUMI

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

pada Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

MUHAMMAD ZAKY TAUFIQ F14101102

2005

DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


(15)

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

MODEL DINAMIK PENGOLAHAN DAN RANTAI PASOKAN MIE BERBASIS PATI SAGU KASUS KOTAMADYA SUKABUMI

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

pada Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

MUHAMMAD ZAKY TAUFIQ F14101102

Dilahirkan pada tanggal 18 Januari 1984 di Bandung

Tanggal lulus:

Menyetujui, Bogor, November 2005

Ir. Mohamad Solahudin, M.Si Ir. Agus Supriatna S. Pembimbing Akademik I Pembimbing Akademik II

Mengetahui,

Dr. Ir. Wawan Hermawan, MS

Ketua Departemen

Teknik Pertanian


(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Muhammad Zaky Taufiq, dilahirkan di Bandung pada tanggal 18 Januari 1984. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Ir. Dedi Soleh Effend i, MS. dan Ir. Djadja Siti Hazar.

Pada tahun 1995 penulis menyelesaikan pendidikannya di SD Negeri Polisi 5 Bogor, kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Bogor dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1998. Pada tahun 2001 penulis menyelesaikan pendidikannya di SMA Negeri 1 Bogor dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI.

Selama menempuh pendidikannya di Institut Pertanian Bogor penulis aktif sebagai pengurus HIMATETA (Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian) di departemen HRD (Human Resources Development) pada tahun kepengurusan 2002-2003 dan di departemen PROFESI pada tahun kepengurusan 2003-2004.

Penulis melaksanakan praktek lapangan di PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (PT. Tiki JNE) pada tahun 2004 dengan judul “Mempelajari Aplikasi Sistem Informasi di PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir ”.


(17)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. skripsi ini berjudul “Model Dinamik Pengolahan dan Rantai Pasokan Mie Berbasis Pati Sagu Kasus Kotamadya Sukabumi”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Dalam kajian ini penulis mencoba untuk mempelajari dan mendeskripsikan karakteristik dinamis didalam pengolahan mie berbasis pati sagu serta menganalisa rantai pasokannya. Dengan terlaksana dan terselesaikannya penelitian dan penulisan laporan ini, tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapakku Ir. Dedi Soleh Effendi, MS., Ibuku Ir. Djadja Siti Hazar, kedua Adikku dan Piesca Febriana yang telah memberikan dukungan penuh baik secara moril dan materiil.

2. Bapak Ir. Mohamad Solahudin, MSi, sebagai dosen Pembimbing

Akademik atas bimbingan yang telah diberikan selama pelaksanaan penelitian.

3. Bapak Ir. Agus Supriatna selaku Pembimbing Kedua atas bimbingan yang telah diberikan selama pelaksanaan penelitian.

4. Dixie, Tito, Rangga, Trini, Angel, Rizky (Ipoel), Arie N.B.B.S.N.S., Adrionita (Oni), Aldes, Galisto, Lingga, Tanjung, Rizky (Landscape ‘38), Uut (TIN ’38), Dethya (FEM ’38), Ricky (Obo) dan semua teman-teman TEP angkatan 38.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dalam isi dan cara penulisannya. Penulis berharap, bahwa laporan ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan bagi yang membacanya.


(18)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... i

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan... 2

C. Manfaat ... 3

II. TINJAUAN PUS TAKA... 4

A. Tanaman Sagu ... 4

B. Produksi Sagu Nasional... 11

C. Pengolahan Sagu... 13

D. Pengolahan Mie Gleser ... 16

E. Demografi Masyarakat Sukabumi ... 17

F. Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)... 18

G. Simulasi... 19

H. Sistem Dinamik ... 23

III. PENDEKATAN TEORITIK... 27

A. Pendekatan Sistem... 27

B. Kerangka Pemikiran... 28

B.1. Sub-Sistem Ketersediaan Mie ... 28

B.2. Sub-Sistem Ketersediaan Sagu... 30

B.3. Diagram Lingkar Sebab-Akibat... 30

IV. METODE PENELITIAN ... 32

A. Tempat dan Waktu ... 32

B. Bahan dan Peralatan ... 32

C. Pengumpulan Data... 32

D. Kerangka Pendekatan Studi... 33

E. Metodologi... 34


(19)

E.2. Rantai Pasokan (Supply Chain) ... 39

E.3. Validasi... 39

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Pengolahan Sagu ... 40

B. Pengolahan Mie Gleser... 43

C. Sistem Dinamik ... 45

D. Analisa Finansial Usaha Pengolahan Mie Gleser... 60

E. SCM (Supply Chain Management)... 62

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 67

A. Kesimpulan... 67

B. Saran... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 69


(20)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pohon sagu (Puslitbangbun, 1999) ... 8

Gambar 2. Pohon industri sagu (Djoefrie, 1999) ... 10

Gambar 3. Diagram pembuatan tepung sagu (Joseph, et al.,2000 dalam Kindangen et al., 2003)... 15

Gambar 4. Diagram proses pengolahan pati sagu menjadi mie gleser (Balai Besar Pascapanen Pertanian, 2004) ... 17

Gambar 5. Tahapan studi simulasi (Law dan Kelton, 1984 dalam Nuroniah, 2003)... 22

Gambar 6. Diagram alir proses pembuatan model dinamik (Richardson dan Pugh, 1986 dalam Nuroniah, 2003) ... 25

Gambar 7. Diagram lingkar sebab-akibat pengolahan mie berbasis pati sagu ... 31

Gambar 8. Kerangka Pemikiran Studi... 33

Gambar 9. Batang sagu yang telah dipotong-potong ... 40

Gambar 10. Alat penghancur batang sagu ... 41

Gambar 11. Tempat pengadukan dan Bak pengendapan. ... 41

Gambar 12. Sagu basah... 42

Gambar 13. Penjemuran pati sagu... 42

Gambar 14. Bentuk adonan pati sagu dan adonen gel. ... 43

Gambar 15. Pembuatan adonan dan bentuk adonan mie. ... 44

Gambar 16. Alat press ... 44

Gambar 17. Cara Pemberian minyak dan Mie yang siap dipasarkan. ... 45

Gambar 18. Model sub-sistem ketersediaan mie ... 46

Gambar 19. Model sub-sistem kependudukan... 47

Gambar 20. Model sub-sistem ketersediaan sagu ... 48

Gambar 21. Tampilan program simulasi... 50

Gambar 22. Pola kecenderungan neraca sagu hasil simulasi skenario-1 ... 51

Gambar 23. Pola kecenderungan jumlah produksi sagu dan jumlah kebutuhan sagu hasil simulasi skenario-1 ... 52


(21)

Gambar 24. Grafik neraca mie hasil simulasi skenario-2 ... 55

Gambar 25. Grafik neraca mie hasil simulasi skenario-3 ... 57

Gambar 26. Grafik neraca sagu hasil simulasi... 59


(22)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Komposisi kandungan sagu per 100 gram ... 9 Tabel 2. Rincian luas lahan sagu di Indonesia ... 11 Tabel 3. Potensi areal dan produksi sagu Indonesia ... 13 Tabel 4. Data jenis pekerjaan penduduk Kotamadya Sukabumi... 18 Tabel 5. Jumlah penduduk Kotamadya Sukabumi menurut golongan

umur ... 29 Tabel 6. Tabel perbandingan data ... 49 Tabel 7. Tabel deskripsi analisis SWOT... 65


(23)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan analisa finansial untuk pabrik pengolahan

secara manual... 71 Lampiran 2. Perhitungan analisa finansial untuk pabrik pengolahan

secara mekanis ... 76 Lampiran 3. Model matematis dari model dinamik pengolahan mie

berbasis pati sagu kasus Kotamadya Sukabumi ... 81 Lampiran 4. Tabel Pembobotan Analisis SWOT... 85 Lampiran 5. Tabel Grafik Penentu Tindakan... 86


(24)

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanaman sagu sebagai tanaman penghasil karbohidrat, memegang peranan sangat penting dalam mendukung program diversifikasi pangan pendamping beras, selain jagung dan umbi- umbian lainnya. Kandungan kalori sagu sekitar 357 kalori untuk setiap 100 gr, relatif sama dengan kandungan kalori jagung yaitu sekitar 349 kalori maupun beras giling dengan kandungan kalori sekitar 366 kalori. Bahkan lebih tinggi dari kandungan kalori ub i kayu dan kentang yang masing- masing hanya mengandung 98 dan 71 kalori (Sunaryo, 1989; dalam Novarianto dan Mahmud, 1989).

Salah satu produk lanjutan dari pati sagu adalah produk mie gleser atau mie berbasis pati sagu, yang merupakan makanan tradisional. Jenis mie ini lebih banyak dikonsumsi oleh penduduk di daerah sekitar kota Bogor, Sukabumi, dan Cianjur (Djoefrie, 1999). Mie gleser ini berdasarkan hasil olahannya termasuk ke dalam produk basah, mie gleser ini dikenal juga dengan sebutan mie aci, mie leor, atau mie sruput.

Mie gleser atau mie berbasis pati sagu yang dipasarkan saat ini kualitasnya masih rendah, sehingga masih dapat tersaingi oleh produk sejenis yang lebih berkualitas dan digemari oleh masyarakat. Faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya kualitas mie gleser ini salah satunya adalah penggunaan teknologi yang kurang optimal karena pengolahan mie gleser ini masih dilakukan dalam skala industri rumah tangga.

Prospek pengembangan produksi mie sagu ini sebenarnya memiliki peluang yang cukup besar jika dilakukan dengan cara pengolahan yang baik serta didukung oleh sistem pemasaran dan rantai pasokan yang kondusif. Namun, di daerah sentra produksi sagu, jenis mie tersebut belum digemari secara luas karena banyaknya produk makanan sejenis yang lebih menarik dari segi penampilannya dan dapat dikonsumsi secara instan. Masalah lain yang timbul adalah permodalan yang terbatas serta rendahnya kualitas sumber daya manusia terutama dalam penguasaan teknologi dan manajemen usaha industri mie gleser.


(25)

Kotamadya Sukabumi sebagai salah satu sentra produksi mie sagu menjadikan makanan ini sebagai pangan tradisional yang cukup populer, hal ini terlihat dari berkembangnya beberapa pabrik pengolahan mie sagu baik pabrik mie sagu secara manual maupun pengolahan secara mekanis. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa dipilihnya Kotamadya Sukabumi sebagai tempat penelitian.

Seluruh rantai pengolahan mie sagu ini membentuk sebuah sistem yang terdiri dari berbagai pelaku yang saling berkaitan satu sama lainnya. Setiap pelaku dalam sistem memiliki fungsi masing- masing yang menentukan berfungsi dengan baik atau tidak sistem pengolahan sagu yang ada tersebut. Maka analisis secara sistem diperlukan untuk melihat apakah ada pelaku yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik sehingga dapat mengakibatkan tidak berjalannya sistem yang ada.

Penggunaan simulasi dengan model dinamik dilakukan untuk melihat kecenderungan konsumsi mie gleser ini sehingga diperoleh suatu kebijakan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan produksi dari mie gleser ini. Selain untuk melihat kecenderungan konsumsi mie gleser, simulasi juga dapat digunakan untuk melihat penyediaan sagu sebagai bahan baku pembuatan mie gleser.

B. TUJUAN PENELITIAN

1. Mempelajari dan mendeskripsikan karakteristik dinamis dalam industri pengolahan mie gleser.

2. Merancang dan mengembangkan model simulasi industri mie berbasis pati sagu dengan 4 jenis skenario yaitu:

a. Skenario-1 Model Dasar Tanpa Kebijakan.

b. Skenario-2 Model dengan Kebijakan Peningkatan Konsumsi Melalui Diversifikasi Hasil Olah Mie Gleser.

c. Skenario-3 Model dengan Kebijakan Peningkatan Tingkat Konsumsi

dan Meningkatkan Produksi Mie Gleser.

d. Skenario-4 Model dengan Kebijakan Peningkatan Produksi Mie Gleser dan Peningkatan Tingkat Kebutuhan Sagu Produksi Mie.


(26)

3. Menganalisis rantai pasokan pengolahan mie gleser.

4. Melakukan analisa finansial pada industri rumah tangga mie berbasis pati sagu, berdasarkan data primer (hasil survey).

C. MANFAAT

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian model dinamik pengolahan mie berbasis pati sagu kasus Kotamadya Sukabumi adalah:

1. Memberikan arah perencanaan dan pengembangan industri rumah tangga

pengolahan mie berbasis pati sagu.

2. Membantu untuk mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk pengembangan industri rumah tangga pengolahan mie berbasis pati sagu.

3. Membantu menganalisa rantai pasokan dari industri rumah tangga

pengolahan mie berbasis pati sagu untuk dilakukan pengembangan sehingga rantai pasokan dapat menjadi lebih efisien.


(27)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. TANAMAN SAGU

Sagu termasuk dalam jenis tumbuhan monokotil dari keluarga (Famili) Palmae, Marga (Genus) Metroxylon dari Ordo Spadiciflorae. Di kawasan Indo Pasifik terdapat 5 marga (Genus) Palmae yang zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon, Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota. Genus yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi (Haryanto dan Pangloli, 1992).

Kata sagu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti tepung yang dikandung ole h umbut kelapa. Namun demikian, dalam banyak bahasa, kata sagu tersebut telah menjadi nama umum untuk semua sumber pati. Di daerah dimana bahasa Indonesia-Malaysia digunakan, kata sagu dipakai untuk mengartikan pati dari jenis-jenis tanaman palma (Schuilling and Jong, 1996; dalam Miftahorrahman, 1999).

Di Indonesia, terdapat sejumlah nama yang berbeda untuk genus yang ada; pohon sagu (Indonesia); Kirai (Sunda), Ambulung atau Kersulu (Jawa) dan Lapia (ambon dan Seram). Di Irian Jaya banyak sekali nama lokal yang digunakan. Sementara di daerah Papua New Guinea, pohon sagu dikenal dengan nama saksak, juga ditemukan berbagai nama lokal lainnya.

Sagu dari genus Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu: yang berbunga (berbuah) dua kali (Pleonanthic) dan berbunga (berbuah) sekali (Hapaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan karbohidratnya lebih banyak bila dibandingkan dengan sagu yang berbunga lebih dari satu kali (Flach, 1977 dalam Miftahurrahman, 1999). Golongan sagu yang berbunga satu kali terdiri dari 5 varietas penting, yaitu:

1. Metroxylon sagus, Rottbol atau sagu Molat. 2. Metroxylon rumphii, Martius atau sagu Tuni.

3. Metroxylon rumphii, Martius varietas SylvestreMartius atau sagu Ihur. 4. Metroxylon rumphii, Martius varietas Longispinum Martius atau sagu


(28)

5. Metroxylon rumphii, Martius varietas Microcanthum Martius atau sagu Riotan.

Dari kelima varietas tersebut, yang memiliki arti ekonomis penting adalah Ihur, Tuni, dan Molat. Secara umum sagu tumbuh dalam bentuk rumpun, memiliki bentuk pohon tegak dan tinggi batang bebas daun sekitar 10-20 m. Pada satu rumpun sagu rata-rata terdapat 1-8 batang. Tinggi pohon sagu mulai berbunga bervariasi antara 10-15 m dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tinggi batang tersebut sekitar 7-15 tahun (Flach,1977 dalam Miftahurrahman, 1999). Pohon sagu memiliki akar rimpang yang panjang dan bercabang, dan tertanam dangkal di permukaan tanah. Akar sagu berjumlah sangat banyak sehingga dapat menyesuaikan dengan lahan yang memiliki air tanah aerobik.

Batang sagu merupakan bagian terpenting karena merupakan gudang penyimpanan pati atau karbohidrat. Batang sagu berbentuk silinder dengan diameter sekitar 50 cm, bahkan dapat mencapai 80-90 cm. Batang sagu terdiri dari lapisan kulit bagian luar yang keras dan bagian dalam berupa empulur yang mengandung serat-serat pati (Haryanto dan Pangloli, 1992).

Daun sagu termasuk ke dalam daun majemuk, berbentuk memanjang, agak lebar dan berinduk tulang daun. Pada kondisi baik pohon sagu pada umur dewasa memiliki 18 tangkai daun yang panjangnya sekitar 5-7 m. Masing- masing tangkai daun terdapat 50-60 pasang anak daun dengan panjang sekitar 60-180 cm. Pelepah daunnya memiliki dasar lebar yang menjepit batang tanpa tersarung kedalamnya.

Puncak dari pertumbuhan pohon sagu ditandai dengan keluarnya malai bunga, sebab setelah berbunga dan berbuah sagu akan mati. Pohon sagu berbunga dan berbuah sekitar 8-15 tahun, tergantung dari jenis dan tempat tumbuhnya. Proses pembuahan atau penyerbukan terjadi melalui penyerbukan silang (Haryanto dan Pangloli, 1992).

Kandungan pati dalam empulur batang sagu berbeda-beda tergantung dari umur, jenis, dan lingkungan tempat sagu tersebut tumbuh. Semakin tua umur tanaman sagu maka kandungan pati dalam empulur semakin besar, dan pada umur tertentu kandungan pati tersebut akan menurun. Penurunan


(29)

kandungan pati biasanya ditandai dengan mulai terbentuknya primordia bunga, sehingga para petani sagu dengan mudah dapat mengenali saat rendemen pati sagu mencapai maksimum. Pada umur 3-5 tahun empulur batang belum banyak mengakumulasi pati, tetapi pada umur 11 tahun keatas atau sekitar umur panen empulur sagu mengandung pati 15-20 persen (Haryanto dan Pangloli, 1992). Bentuk dari pohon sagu dapat dilihat pada Gambar 1.

Dalam perkembangannya tanaman sagu melalui beberapa tahapan pertumbuhan yaitu:

1. Tunas

Tunas adalah bonggol generasi baru dari pohon induk. Posisinya sangat dekat dengan pohon induknya, melalui penjuluran batang horizontal yang sangat pendek di bawah tanah. Tunas ini tidak layak untuk ditanam karena ukurannya kecil, mudah kering, stolonnya pendek akarnya sedikit, dan biasanya pohon induknya mudah terluka saat pemisahan, sehingga kemampuan hidupnya sangat rendah.

2. Anakan

Jika tunas-tunas berkembang, maka akan tumbuh menjauhi pohon induknya (pada permukaan tanah). Pangkal batang (stolon) tumbuh lebih panjang dan keras dan ujungnya berdekatan dengan daerah pelekatan dengan pohon induknya. Banyak akar berkembang pada stolon, dan anakan ini tidak terlalu tergantung pada pohon induknya. Biasanya terlihat jelas antara pangkal batang dan pangkal pelepah, Anakan biasanya dikenal sebagai bibit yang sudah dewasa (mature sucker) dan sudah dapat dipisahkan dari pohon induknya utnuk keperluan penanaman. Berat anakan untuk penanaman yang disukai pada umumnya berkisar antara 2-5 kg.

3. Sapihan

Sapihan merupakan bonggol besar yang sudah dewasa dan akan menuju pada tahapan pembentukan batang. Sapihan ini tidak baik untuk keperluan penanaman, karena sulit untuk dipisahkan dan terlalu besar serta berat untuk diangkut.


(30)

4. Pembentukan Batang

Pada pertumbuhan yang normal, dibentuk kira-kira 4 hingga 5 tahun setelah penanaman. Hal ini dicirikan melalui tumbuhnya pertumbuhan sisi sampingnya dan pelebaran dari pangkal untuk membentuk batang vertikal pada diameter sekitar 40-50 cm.

5. Pohon Muda

Setelah pembentukan batang, batang tumbuh secara vertikal pada kisaran tinggi sekitar 1,5 m per tahun. Tingkatan batang muda mengacu pada tinggi batang palem berkisar 1-2 m.

6. Pohon Belum Masak Tebang

Tingkatan ini pertengahan dari proses pertumbuhan pohon, biasanya tinggi batang berkisar 3-5 m.

7. Pohon Masak Tebang

Tahapan ini ditandai dengan terjadinya penurunan dalam ukuran pelepah yang baru terbentuk pada bagian pucuknya. Terlihat warna putih menyerupai serbuk pada pelepah (pada dasar tangkai).

8. Tahap Pembungaan

Pada akhir pertumbuhan vegetatif, tidak ada pembentukan pelepah baru kecuali struktur pembungaan dibentuk pada bagian pucuknya. Hal ini ditandai melalui perpanjangan pada batang ujung, diikuti oleh pengembangan dari struktur bunga yang besar seperti tanduk rusa.

9. Tahap Pembuahan

Buah ditutupi oleh kulit luar berbentuk sisik dan berkembang menjadi masak setelah periode 1,5-2 tahun. Buah masak berdiameter sekitar 3-5 cm. Ukuran mahkotanya berangsur-angsur mengecil sepanjang tidak terbentuk pelepah yang baru. Akhirnya pohon sagu mati ketika buah gugur dan semua pelepah mati (mengering).


(31)

Gambar 1. Pohon sagu (Puslitbangbun, 1999)

Pohon sagu secara umum dapat dimanfaatkan baik untuk ind ustri pangan maupun non pangan. Pati sagu untuk industri non pangan diolah menjadi alkohol, plastik biodegradable, surfaktan deterjen, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk industri pangan, pengolahannya ditekankan pada diversifikasi pangan yang memiliki prospek untuk dikembangkan (Djoefrie, 1999). Selain itu juga ditinjau dari potensi dan komposisi zat- zat makanan yang terkandung dalam tanaman sagu, maka tanaman ini memungkinkan untuk digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Tepung sagu ini dapat digunakan sebagai campuran dalam pakan ternak atau dapat langsung diberikan kepada ternak seperti ayam, bebek, itik, babi, domba dan hewan ruminansia lainnya. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992), tepung sagu dengan kadar serat 5% dapat digunakan sebagai makanan babi dan ayam, sedangkan tepung sagu dengan kadar serat 7% tidak baik untuk makanan ayam. Tepung sagu yang dengan kadar serat lebih dari 12% hanya cocok untuk makanan hewan ruminansia. Pemanfaatan pohon sagu lainnya dapat dilihat pada Gambar 2.


(32)

Tabel 1. Komposisi Kandungan Sagu per 100 gram.

Sagu juga memiliki fungsi sebagai pengganti dan pelengkap makanan dengan kandungan yang dapat dilihat pada Tabel 1. Di beberapa daerah, sagu digunakan sebagai pengganti makanan pokok. Seperti di wilayah Melanesia sedikitnya 300.000 orang bergantung kepada sagu sebagai makanan pokok dan sekitar 1.000.000 orang mengkonsumsi sagu untuk diet (Kenneth R. et.all dalam Hendrasari,2000).

Sagu liar banyak tumbuh di daerah rawa-rawa, sedangkan sagu semi budidaya banyak tumbuh di lahan yang kering. Di lahan yang agak kering, pertumbuhan batang lebih besar dan umur berbunga lebih panjang, sehingga kandungan patinya dapat menjadi lebih banyak. Makin kering suatu lahan maka jenis pohon yang tumbuh di lahan tersebut akan semakin banyak, sehingga akibatnya tanaman sagu akan makin berkompetisi dengan pohon lain yang mengakibatkan sagu maupun tanaman lainnya menjadi tinggi. Hasil analisis korelasi antar karakter vegetatif dengan hasil sagu memperlihatkan bahwa karakter tinggi batang, lingkar batang, dan volume batang sangat nyata berkorelasi positif dengan bobot pati sagu (Malia dan Novarianto,1994 dalam Novarianto,2003).

Kandungan Jumlah

Kalori 357 cal

Air 13,7 gr

Protein 0,7 gr

Lemak 0,2 gr

Karbohidrat 85 gr

Serat 0,2 gr

Abu 0,4 gr


(33)

Gambar 2. Pohon Industri Sagu (Djoefrie, 1999) Pohon

Sagu

Daun

Ampas

Batang Kulit Batang Pelepah Daun

Kerajinan Tangan Atap Rumah

Arang Lantai Dinding rumah

Media Tanam Kompos

Pakan Ternak

Tepung Campuran Sagu Mutiara

Industri Pangan Industri Pakan

Gula Cair Pati Modifikasi

(Dekstrin)

Sorbitol Asam Amino

Alkohol

Penyedap (MSG) Asam Organik

Protein Sel Tunggal Pati


(34)

Produksi pati sagu sangat dipengaruhi oleh kondisi lahan, jenis sagu dan saat panen, selain teknik pengolahan hasil. Kondisi lahan dan jenis sagu adalah dua faktor yang berhubungan dengan teknologi budidaya. Untuk satu pohon sagu pada lahan agak kering dan tidak tergenang air dalam waktu yang cukup lama dapat menghasilkan produk sagu basah sebesar 500 kg pati sagu/pohon (Malia dan Novarianto,1994 dalam Novarianto, 2003).

B. PRODUKSI SAGU NASIONAL

Indonesia merupakan pemilik areal sagu terbesar dengan luas areal sekitar 1,128 juta ha atau 51,3% dari 2,201 juta ha areal sagu dunia, kemudian disusul oleh Papua New Guinea 43,3%. Namun Indonesia masih jauh tertinggal dari segi pemanfaatannya bila dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang masing- masing hanya memiliki areal seluas 1,5% dan 0,2%. Daerah penghasil sagu potensial di Indonesia antara lain yaitu Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua (Deptan, 2004). Luas dan penyebaran sagu di Indonesia, diperkirakan sekitar 700.000 sampai 1.300.000 hektar. Tanaman sagu yang tumbuh di lahan basah/rawa yang luasnya mencakup 37 juta sampai 40 juta hektar (Aris,1996 dalam Miftahurrohman, 1999). Menurut Suharto dan Amos (1996), luas areal sagu di Indonesia sekitar 1 juta hektar dengan rincian dapat dilihat pada Tabel 2. Potensi-potensi areal dan produksi sagu yang ada di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2. Rincian Luas Sagu Di Indonesia.

Daerah

Luas Area Sagu (ha)

Papua 900.000

Riau 32.000

Maluku 31.000

Sulawesi Utara 20.000

Sulawesi Tenggara 6.000

Kalimantan Selatan 5.500

Sumatera Barat 1.500


(35)

Di Indonesia, tepung sagu diproduksi oleh industri kecil dan industri menengah. Jumlah tepung sagu yang diproduksi industri kecil pada tahun 1992 mencapai sekitar 47.500 ton yang merupakan hasil produksi dari 328 unit usaha yang tersebar di berbagai daerah. Riau adalah merupakan daerah yang memproduksi tepung sagu terbesar yaitu sekitar 40.000 ton, diikuti Maluku 3.000 ton, Kalimantan Barat 1.700 ton, Sulawesi Utara 1.300 ton, dan sisanya dihasilkan oleh daerah lainnya (Suharto dan Amos, 1996 dalam Miftahurrahman, 1999).

Prospek pasar sagu cukup baik, permintaan terus meningkat baik untuk kebutuhan ekspor maupun domestik. Secara nasional permintaan diperkirakan mencapai ± 300.000 ton, sedangkan produksi hanya 48.822 ton pada tahun 1988 dan 70.000 ton pada tahun 1989. Permintaan pasar baik luar maupun dalam negeri terus meningkat. Pasar ekspor yang potensial adalah Jepang, Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Thailand dan Singapura. Permintaan dalam negeri meningkat, karena perkembangan industri makanan, farmasi, maupun industri lainnya (Deptan, 2004).

Perkiraan potensi produksi sagu mencapai 27 juta ton per tahun, namun hanya 350-500 ribu ton pati sagu yang digunakan setiap tahunnya (Djoefrie, 1999). Pemanfaatan areal sagu yang hanya sekitar 0,1% dari total areal sagu nasional disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu, sebagai akibat dari rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi bentuk-bentuk produk lanjutannya. Selain kurangnya minat, kondisi geografis juga mendukung kurangnya penggunaan sagu karena habitat tanaman sagu pada umumnya berada di daerah marginal (rawa-rawa) yang sulit dijangkau, serta adanya kecenderungan pada masyarakat yang menilai bahwa pangan sagu tidak terlalu superior seperti halnya pangan beras (Deptan, 2004).


(36)

Tabel 3. Potensi Areal dan Produksi Sagu Indonesia.

Propinsi Areal (Ha) Produksi (ton)

Riau Jambi Jawa Barat Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Maluku Papua 51.250 29 292 1.576 564 23.400 7.985 13.706 7.917 94.989 600.000 192.752 12 1.203 7.659 5.212 113.485 689 38.246 37.479 78.862 5.400.000 Sumber : Ditjen Bina Produksi Pertanian (2003)

C. PENGOLAHAN SAGU

Untuk memperoleh pati sagu dari dalam batang sagu harus melalui beberapa proses pengolahan. Proses pengolahan sagu ini biasanya terbagi menjadi dua yaitu pengolahan sagu skala petani atau kecil, dan pengolahan sagu skala industri atau besar.

Pengolahan sagu ditingkat petani hingga saat ini masih berada pada sistem tradisional yang ditandai dengan penggunaan teknologi yang relatif sederhana/tradisional atau semi mekanis.

Sebagai gambaran, di Papua petani masih menggunakan alat-alat produksi pertanian yang tergolong masih sangat sederhana seperti tokok, parang, linggis dan kapak. Untuk ekstraksi dan pengendapan memanfaatkan pelepah sagu serta tapisan atau saringan dengan kain seadanya (Hutapea,1995 dalam Hutapea et al., 2003). Selain itu peralatan yang digunakan pada beberapa derah lain terdiri dari parang, kapak, dan tokok yang berfungsi untuk memarut empulur atau papan yang dipasangi paku serta alat pemarut mekanis dengan menggunakan daya 3,0-3,5 HP.


(37)

Untuk proses ekstraksi dan pengendapan menggunakan alat sederhana. Unit ekstraksi terdiri dari alat pengaduk (runut) yang dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari kain sifon (rinjani) atau kadang pengadukan masih dilakukan secara manual, sedangkan untuk pengendapan terbuat darikulit kayu dan kulit batang sagu (goti).

Pada pengolahan cara sederhana seperti itu membutuhkan air yang cukup banyak untuk ekstraksi sekitar 21 liter air/kg hancuran empelur (Lay, et al.,1998 dalam Hutapea et al., 2003). Hal ini disebabkan karena cara pencampuran dan pengadukan secara manual kurang efektif dan banyak menyerap tenaga kerja, serta lamanya pengendapan umumnya selama satu hari. Cara pengolahan yang demikian mengakibatkan rendemen dan mutu hasil rendah serta pengolahan kurang efisien (Zainuddin dan Rusmandana,1996 dalam Hutape et al., 2003). Diagram pembuatan tepung sagu dapat dilihat pada Gambar 3.


(38)

Pohon sagu ditebang

Gelondong sagu (panjang 2 m)

Kulit dikupas dan dibersihkan

Dibelah (4-6 potong)

Empulur dihancurkan dengan alat

Ekstraksi

Pemberian air

Disaring

Diendapkan

Dipi sahkan air dan tepung sagu

Tepung sagu

Gambar 3. Diagram Pembuatan Tepung Sagu (Joseph, et al.,2000 dalam Kindangen et al., 2003)

Pengolahan sagu skala industri telah berkembang di beberapa daerah baik industri kecil (unit usaha masyarakat), menengah maupun besar (pabrik). Daerah pertumbuhan industri pengolahan sagu antara lain Riau, Sulawesi, Maluku dan Papua dengan produk utama adalah tepung sagu. Pengolahan lebih lanjut dari tepung sagu untuk menghasilkan produk lebih lanjut banyak dikembangkan di daerah Jawa.


(39)

Pada prinsipnya pengolahan tepung sagu secara tradisional dan modern adalah sama, yaitu mengeluarkan aci sagu dari bagian empulur batang. Perbedaannya hanya pada alat yang dipergunakan dan kapasitas produksi yang dihasilkan.

D. PENGOLAHAN MIE GLESER

Mie yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat terbuat dari tepung terigu yang harganya cukup mahal bila dibandingkan dengan mie gleser yang terbuat dari pati sagu. Jika dilihat secara sekilas dari bentuk fisiknya, mie gleser ini tidak berbeda jauh dengan mie yang terbuat dari tepung terigu, tetapi jika dilihat secara seksama mie gleser ini memiliki warna yang lebih mengkilap dan lebih keras.

Mie gleser memiliki sifat yang berbeda bila dibandingkan dengan mie yang terbuat dari terigu yaitu memiliki tekstur yang lebih kenyal namun tidak elastis dan licin waktu dimakan. Kandungan karbohidrat mie gleser cukup tinggi, tetapi sangat rendah kadar protein, lemak, dan zat gizi lainnya (Hendrasari, 2000). Pemanfaatan pati sagu untuk diolah menjadi mie sangat cocok, namun memiliki keterbatasan berupa rasa dan hal lainnya. Ini dapat diatasi dengan menambahkan zat aditif atau memodifikasi pati yang bersangkutan. Zat aditif yang digunakan untuk memperbaiki kua litas mie berbasis pati sagu adalah alum potas. Mie berbasis pati kualitasnya dipengaruhi oleh proses pembuatan dan juga dipengaruhi oleh sifat patinya sendiri. Proses pengolahan pati sagu menjadi mie dapat dilihat pada Gambar 4.


(40)

Gambar 4. Diagram Proses Pengolahan Pati Sagu Menjadi Mie Gleser (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, 2004).

E. DEMOGRAFI MASYARAKAT SUKABUMI

Pada tahun 2004 penduduk Kotamadya tercatat berjumlah 259.204 jiwa dengan umur harapan hidup mencapai 73 tahun (BPS Kotamadya Sukabumi, 2004). Penduduk Kotamadya Sukabumi pada umumnya menggunakan bahasa daerah sunda sebagai bahasa sehari- hari. Para penduduk Kotamadya Sukabumi pada umumnya memiliki mata pencaharian sebagai pegawai atau pedagang dengan jumlah yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Untuk konsumsi mie gleser atau bahasa lokalnya adalah mie aci paling besar tingkat konsumsi pada waktu bulan puasa sebagai makanan untuk berbuka, dan pada hari-hari biasa mie gleser dikonsumsi sebagai makanan jajanan.

Air Mendidih

Pati Sagu

Mie Gleser Suspensi Pati Sagu

Gelatinisasi

Gel/Binder

Pengadukan

Pencetakan

Pemasakan

Perendaman


(41)

Tabel 4. Data Jenis Pekerjaan Penduduk Kotamadya Sukabumi.

Nomor Jenis Pekerjaan Jumlah Penduduk

1 Pegawai atau Buruh 38.821

2 Pedagang 22.825

3 TNI atau POLRI 974

Sumber: Pemda Kotamadya Sukabumi, 2004

F. MANAJEMEN RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT) Supply Chain adalah suatu kelompok yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja dalam satu ruang lingkup pekerjaan dan secara bersama-sama mengatur jalannya aliran barang dan pelayanan dalam penambahan nilai- nilai untuk produk-produk pertanian (Folkerts & Koehorst 1998 dalam Wheatley, 2004).

Supply Chain Management adalah manajemen keseluruhan dari kegiatan proses produksi, distribusi, dan pemasaran dimana seluruh konsumen mendapatkan barang sesuai dengan kebutuhannya (Woods 2004 dalam Wheatley, 2004).

Menurut Wheatley (2004), dalam sebuah manajemen rantai pasokan diperlukan kerjasama antara pihak-pihak yang berada didalam rantai pasokan tersebut yang bertujuan untuk:

1. Mengurangi resiko pasar dan membentuk sebuah strategi yang

umum

2. Memberikan nilai tambah, meningkatkan efisiensi, dan

menciptakan persaingan yang menguntungkan.

3. Membuat sebuah perjanjian untuk memasuki pasar baru (inovasi). Menurut Wheatley (2004), bagi para pedagang pengecer tujuan dari manajemen rantai pasokan adalah untuk mengurangi:

1. Biaya operasional

2. Biaya mendapatkan produk 3. Biaya pemasaran


(42)

Ada enam syarat utama yang sangat menentukan keberhasilan dari SCM yang diterapkan yaitu :

3. Memahami pelanggan dan konsumen

4. Menyediakan produk dengan benar sesuai permintaan konsumen 5. Menciptakan dan membagikan harga kepada semua anggota rantai 6. Logistik dan distribusi yang memadai

7. Komunikasi dan informasi yang lancar

8. Hubungan yang efektif antar pelaku rantai pasokan

G. SIMULASI

Simulasi adalah aktifitas untuk menarik kesimpulan tentang perilaku sistem dengan mempelajari perilaku model yang dalam beberapa hal memiliki kesamaan dengan sistem sebenarnya (Gotfried, 1984 dalam Nuroniah, 2003). Simulasi adalah peniruan perilaku suatu gejala atau proses. Simulasi bertujuan untuk memahami gejala atau proses tersebut, membuat analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan.

Menurut Subagyo et al. (1989), simulasi adalah duplikasi atau abstraksi persoalan dalam kehidupan nyata dalam model matematika. Dalam melakukan simulasi biasanya terjadi penyederhanaan sehingga pemecahan dengan menggunakan model matematika dapat dilakukan. Teknik simulasi harus bisa berubah-ubah sesuai dengan keperluan sistem yang sebenarnya.

Beberapa alasan menggunakan teknik simulasi:

1. Dalam sistem dunia nyata elemen-elemen stokatis sangat kompleks sehingga cukup sulit untuk menggambarkannya ke dalam model matematika dan dianalisa dengan teknik analisis.

2. Simulasi dapat memperkirakan tingkah laku dari sistem yang ada.

3. Dengan menggunakan simulasi kondisi-kondisi percobaan dapat

dikendalikan dengan lebih baik dibandingkan dengan melakukan percobaan langsung terhadap sistem tersebut.

4. Simulasi dapat melakukan suatu kajian yang memerlukan waktu


(43)

Model yang disimulasi lebih realistis terhadap sistem nyata karena memerlukan asumsi-asumsi yang lebih sedikit (Siagian, 1987 dalam Nuroniah, 2003).

Penyusunan suatu model dapat dilakukan melalui tahapan berikut yaitu :

1. Melakukan spesifikasi dan identifikasi sistem dan masalah

2. Penyusunan dan pemeriksaan program komputer, ataupun

penggunaan paket program

3. Pemeriksaan paramater dan pengumpulan data 4. Pelaksanaan eksperimentasi dan pengujian model

5. Penyusunan kesimpulan dan rekomendasi (Hillel, 1977 dalam

Nuroniah, 2003).

Tahapan studi simulasi dapat mengikuti beberapa cara, salah satunya dapat dilihat pada Gambar 5.

Pada dasarnya tujuan utama penyusunan atau pembuatan model yang bersifat mekanistik bukan pada ketepatan model, melainkan bagaimana model tersebut dapat menjelaskan mekanisme proses yang terjadi dalam sistem yang dimodelkan. Sebaliknya model yang bersifat prediksi, tujuan utama pembuatan model adalah ketepatan hasil prediksi. Berdasarkan tujuannya, model simulasi dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu :

1. Pemahaman proses (understanding) 2. Prediksi (prediction)

3. Manajemen (management)

(Handoko, 1996 dalam Nuroniah, 2003).

Menurut Soerianegara (1978) dalam skripsi Nuroniah (2003), bahwa keuntungan penggunaan model dalam penelitian dengan pendekatan analisis sistem, yaitu :

1. Memungkinkan kita melakukan penelitian yang bersifat lintas

sektoral dengan ruang lingkup yang lebih luas

2. Mampu menentukan tujuan kegiatan pengelolaan dan perbaikan


(44)

3. Dapat dipakai untuk melakukan eksperimentasi atau skenario tanpa mengganggu/memberikan perlakuan tertentu terhadap sistem 4. Dapat dipakai untuk menduga kelakuan dan keadaan sistem pada

masa mendatang dan atau menyusun suatu skenario yang mungkin terjadi pada sistem tersebut

5. Waktu dan bia ya akan lebih efisien.

Model simulasi meskipun memiliki keunggulan yang luar biasa, namun perlu disadari bahwa tiap model mempunyai keterbatasan. Model dibuat hanya untuk menggambarkan suatu proses atau beberapa proses tertentu dari suatu sistem. Oleh sebab itu model simulasi tidak akan memberikan hasil yang baik terhadap proses-proses di luar tujuan model (Handoko, 1996 dalam Nuroniah, 2003). Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bey (1991) dalam skripsi Nuroniah (2003) bahwa bagaimanapun baiknya model yang dirancang tetap mempunyai keterbatasan dan merupakan distorsi dari sistem yang sebenarnya. Oleh karena itu, model harus digunakan secara teliti, cermat dan seksama dengan data yang sesahih dan selengkap mungkin.


(45)

Gambar 5. Tahapan Studi Simulasi (Law dan Kelton, 1984 dalam Nuroniah, 2003).

Mulai

Formulasi permasalahan dan perencanaan studi

Pemgumpulan data dan pemilihan model

Pembuatan program komputer dan verifikasi

Sesuai ?

Sesuai ?

Perancangan Percobaan

Perjalanan Model secara utuh

Dokumentasi dan Implementasi

Selesai Ya

Tidak

Ya


(46)

H. SISTEM DINAMIK

Metodologi sistem dinamik telah dan sedang berkembang sejak diperkenalkan pertama kali oleh Jay W. Forrester pada tahun 1950-an dan berpusat di MIT Amerika. Sesuai dengan namanya, metode ini erat sekali hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kecenderungan-kecenderungan dinamika sistem-sistem yang kompleks, yaitu pola-pola tingkah laku yang dibangkitkan oleh sistem itu dengan bertambahnya waktu.

Menurut Richardson dan Pugh (1986) dalam skripsi Nuroniah (2003), definisi sistem dinamik adalah metodologi untuk memahami suatu masalah yang kompleks. Sistem dinamik dititikberatkan pada penentuan kebijakan dan bagaimana kebijakan tersebut menentukan tingkah laku masalah-masalah yang dapat dimodelkan dengan menggunakan sistem dinamik.

Prinsip-prinsip dalam membuat sebuah model dinamik menurut Sterman (1981) dalam skripsi Nuroniah (2003) adalah sebagai berikut:

1. Keadaan yang diinginkan dan keadaan yang sebenarnya terjadi harus

dibedakan di dalam model

2. Adanya struktur stok dan aliran dalam kehidupan nyata harus dapat

direpresentasikan di dalam model

3. Aliran-aliran yang berbeda secara konseptual, di dalam model harus

dibedakan

4. Hanya informasi yang benar-benar tersedia bagi aktor-aktor di dalam sistem yang harus digunakan dalam pemodelan keputusannya

5. Struktur kaidah pembuatan keputusan di dalam model haruslah sesuai

(cocok) dengan praktek-praktek manajerial

6. Model harus tahan dalam kondisi-kondisi ekstrim.

Suatu model dinamik adalah kumpulan dari variabel- variabel yang saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya dalam kurun waktu tertentu. Setiap variabel berkorespondensi dengan suatu besaran yang nyata atau besaran yang dibuat sendiri, semua variabel tersebut memiliki nilai numerik dan sudah merupakan bagian dari dirinya.

Dalam metodologi sistem dinamik yang dimodelkan adalah struktur informasi sistem yang didalamnya terdapat aktor-aktor, sumber-sumber


(47)

informasi, dan jaringan aliran informasi yang menghubungkan keduanya. Permasalahan yang dimodelkan dengan pendekatan sistem dinamik sebaiknya mengandung dua karakterisitik, yaitu :

1. Masalah yang akan dimodelkan mempunyai sifat dinamik, yakni

menyangkut kuantitas yang berubah menurut waktu, sehingga dapat direpresentasikan dalam grafik kuantitas terhadap waktu.

2. Adanya sistem umpan balik (feedback system).

Model sistem dinamik memiliki pengertian suatu metode pendekatan eksperimental yang mendasari kenyataan-kenyataan yang ada dalam suatu sistem untuk mengamati tingkah laku sistem tersebut. Proses dari pendekatan sistem dinamik ini dapat dilihat pada Gambar 6 (Richardson and Pugh, 1986 dalam Nuroniah, 2003).

Dalam konteks sistem dinamik terdapat tiga komponen utama, yaitu :

1. Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah suatu usaha untuk menyelesaikan masalah dan melakukan sesuatu.

2. Analisis Sistem Umpan Balik

Sistem umpan balik berhubungan dengan penggunaan informasi secara tepat untuk mengambil keputusan tersebut.

3. Simulasi

Simulasi memberikan representasi kepada para pengambil keputusan terhadap hasil dari keputusan dimasa mendatang.

Dalam menyusun suatu model dinamik terdapat tiga bentuk alternatif yang dapat digunakan yaitu:

1. Verbal

Model verbal adalah model sistem yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata.

2. Visual

Deskripsi visual dinyatakan dalam bentuk diagram dan menunjukkan hubungan sebab-akibat banyak variabel secara sederhana dan jelas.


(48)

Definisi Masalah

Pembuatan Konsep

Penggambaran Model

Tingkah Laku Model

Evaluasi Model

Analisis Kebijaksanaan dan Penggunaan model

Perbaikan 3. Model Matematis

Model visual dapat dipresentasikan ke dalam bentuk model matematis yang merupakan perhitungan-perhitungan terhadap suatu sistem. Semua bentuk perhitungannya bersifat ekivalen, dimana setiap bentuk berperan sebagai alat bantu yang dapat dimengerti.

Gambar 6. Diagram Alir Proses Pembuatan Model Dinamik (Richardson dan Pugh, 1986 dalam Nuroniah, 2003)

Prosedur dari pembentukan suatu model dinamik bersifat kontinyu dan terjadi berulang- ulang (Richardson dan Pugh, 1986 dalam Nuroniah, 2003). Dalam suatu model dinamik deskripsi verbal disusun terlebih dahulu yang kemudian diterjemahkan menjadi sebuah diagram kausal (sebab-akibat) yang pada akhirnya ditulis sistem perhitungannya.

Suatu struktur umpan-balik harus dibentuk karena adanya hubungan kausal (sebab-akibat). Jadi suatu struktur umpan-balik adalah suatu causal loop (lingkar sebab akibat). Lingkar umpan-balik (feedback loop) tersebut


(49)

menyatakan hubungan sebab akibat variabel- variabel bukan menyatakan hubungan karena adanya korelasi-korelasi statistik.

Ada 2 macam hubungan kausal, yaitu hub ungan kausal positif dan hubungan kausal negatif. Lingkar umpan-balik juga terdiri dari 2 macam yaitu lingkar umpan-balik positif (growth) dan lingkar umpan-balik negatif (goal seeking).

Untuk merepresentasikan aktivitas dalam suatu lingkar umpan-balik, digunakna dua jenis variabel yang disebut sebagai rate dan level. Level menyatakan kondisi sistem pada setiap saat. Dalam kerekayasaan (engineering) level sistem lebih dikenal sebagai state variable system. Level merupakan akumulasi di dalam sistem.

Persamaan suatu variabel rate merupakan suatu struktur kebijaksanaan yang menjelaskan mengapa dan bagaimana suatu keputusan dibuat berdasarkan kepada informasi yang tersediadi dalam sistem. Rate inilah satu-satunya variabel di dalam yang dapat mempengaruhi level.


(50)

III. PENDEKATAN TEORITIK

A. PENDEKATAN SISTEM

Sistem adalah gambaran suatu proses atau beberapa proses (beberapa sub sistem) yang teratur (Handoko, 1996). Analisis sistem merupakan kajian mengenai suatu sistem yang bertujuan untuk :

9. Mengidentifikasi unsur-unsur penyusun sistem atau sub-sistem 10.Memahami proses-proses yang terjadi di dalam sistem

11.Memprediksi kemungkinan-kemungkinan keluaran sistem yang terjadi

sebagai akibat adanya perubahan di dalam sistem

Analisis sistem dapat diartikan sebagai suatu me tode pendekatan masalah (problem solving methodology) atau metode ilmiah yang merupakan dasar dalam pemecahan masalah dalam pengelolaan sistem tersebut.

Pengolahan mie berbasis pati sagu atau mie gleser ini merupakan suatu permasalahan sistem yang cukup kompleks dimana di dalamnya terdapat berbagai komponen, unsur dan elemen yang saling terintegrasi. Sistem pengolahan mie berbasis pati sagu ini memiliki tujuan tertentu yang akan dicapai, seperti misalnya memenuhi permintaan konsumen terhadap mie gleser atau memberikan harga yang dapat dicapai oleh konsumennya.

Secara garis besar, sistem pengolahan mie berbasis pati sagu ini terdiri dari dua sistem yang besar yaitu, sistem ketersediaan mie dan sub-sistem ketersediaan sagu. Masing- masing sub-sub-sistem tersebut akan diidentifikasi menjadi komponen-komponen yang lebih spesifik dan akan berinteraksi secara dinamis berdasarkan waktu dan kondisi.

Komponen pada sub-sistem ketersediaan mie adalah sub-sistem penyediaan mie berbasis pati sagu dan sub-sistem permintaan mie berbasis pati sagu. Sub-sistem penyediaan mie berbasis pati sagu ini dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan mie gleser yang ada. Sedangkan pabrik pengolahan mie gleser ini dapat dibagi menjadi dua tipe pabrik, yaitu pabrik manual dimana pengolahannya masih dilakukan secara manual dan pabrik mekanis dimana pengolahannya sudah dilakukan dengan


(51)

menggunakan mesin. Hasil produksi dari kedua tipe pabrik tersebut berbeda. Untuk pabrik pengolahan mie berbasis pati sagu yang prosesnya masih menggunakan cara manual produksi per harinya hanya sebesar 700 kg mie/hari sedangkan untuk pabrik pengolahan mie berbasis pati sagu yang sudah menggunakan cara mekanis produksi per harinya mencapai 1100 kg/hari. Komponen lainnya yang juga mempengaruhi dari sub-sistem ketersediaan mie adalah sub-sistem permintaan mie. Sub-sistem permintaan mie ini sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi mie per kapitanya dan populasi penduduk, karena kedua komponen tersebut menentukan jumlah permintaan terhadap mie gleser.

Untuk sub-sistem ketersediaan sagu komponen yang berpengaruh adalah sub-sistem produksi sagu dan sub-sistem permintaan sagu. Sub-sistem produksi sagu dipengaruhi oleh jumlah produksi per harinya yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan sagu dan juga oleh jumlah pengiriman batang sagu. Pengiriman batang sagu untuk pabrik pengolahan sagu berasal dari luar Kotamadya Sukabumi, sehingga berada diluar sistem yang sedang dikaji. Karena berada diluar sistem maka pengaruhnya terhadap sistem dapat diabaikan.

Sub-sistem permintaan sagu dipengaruhi oleh komponen permintaan sagu untuk konsumsi yang terdiri dari komponen permintaan sagu untuk mie dan permintaan sagu non-mie. Permintaan sagu dari sektor industri untuk sementara tidak dikaji.

B. KERANGKA PEMIKIRAN B.1. Sub-Sistem Ketersediaan Mie

Dalam sistem pengolahan mie berbasis pati sagu, sumber penyediaan mie berasal dari pabrik pengolahan mie berbasis pati sagu. Pabrik pengolahan mie gleser ini dibagi menjadi 2 tipe pabrik, yaitu pabrik manual dimana produksinya masih dilakukan secara manual dan pabrik mekanis dimana produksinya sudah menggunakan mesin.

Tingkat produksi per hari dari kedua tipe pabrik tersebut berbeda, untuk pabrik manual rata-rata produksi per harinya adalah 700 kg mie/hari


(52)

sedangkan pabrik yang sudah memiliki mesin tingkat produksi rata-rata per harinya adalah 1100 kg mie/hari.

Jumlah pabrik pengolahan mie gleser yang masih dilakukan secara manual di Kotamadya Sukabumi berjumlah 5 buah pabrik dan untuk pabrik pengolahan mie gleser yang sudah menggunakan mesin di Kotamadya Sukabumi hanya ada satu (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kotamadya Sukabumi, 2005). Tiap pabrik pengolahan mie gleser ini berproduksi setiap hari.

Selain dipengaruhi oleh rata-rata produksi pabrik per harinya sub-sistem ketersediaan mie juga dipengaruhi oleh tingkat konsumsi rata-rata masyarakat per harinya. Dimana tingkat permintaan mie gleser elemen yang mempengaruhinya adalah jumlah penduduk, karena jumlah penduduk Kotamadya Sukabumi digunakan untuk menentukan tingkat konsumsi rata-rata tiap penduduknya.

Hari per Produksi Tingkat Penduduk Jumlah Hari per Rata -Rata Konsumsi

Tingkat =

Jumlah penduduk kotamadya Sukabumi dipengaruhi oleh tingkat laju pertumbuhan tiap tahunnya. Tabel 4 akan menunjukkan jumlah penduduk Kotamadya Sukabumi dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2004 berdasarkan golongan umur.

Tabel 5. Jumlah penduduk Kotamadya Sukabumi menurut golongan umur

UMUR 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

0 - 4 27.285 27.982 28.375 28.695 28.395 27.985 28.125 27.796 27.801 5 - 9 27.223 26.740 26.550 26.738 27.027 27.599 26.501 26.099 27.327 10 - 14 25.036 24.581 24.666 24.948 24.905 24.546 24.768 24.501 24.906 15 - 19 25.993 25.865 25.542 25.517 25.412 25.411 26.594 26.459 26.877 20 - 24 21.698 21.914 21.864 21.882 21.658 21.890 22.163 21.022 22.876 25 - 29 19.484 19.169 19.034 18.713 18.371 19.344 19.166 19.557 20.258 30 - 34 16.590 16.180 16.030 16.374 16.666 16.835 17.220 17.436 18.242 35 - 39 16.092 15.560 15.817 15.956 15.942 16.645 16.732 17.095 17.668 40 - 44 13.849 13.723 14.284 14.362 14.838 15.114 15.489 15.486 16.273 45- 49 13.446 13.566 13.593 14.008 13.999 14.951 14.651 14.845 15.674 50 - 54 11.791 11.974 12.038 12.404 12.511 13.569 13.362 13.518 14.082 55 - 59 11.069 11.567 11.136 11.401 11.321 11.920 12.295 12.400 12.801 60+ 11.721 12.667 12.380 12.070 12.140 11.983 12.577 12.345 14.419 Jumlah 241.277 241.488 241.309 243.068 243.185 247.792 249.643 248.559 259.204 Sumber: Biro Pusat Statistik Kotamadya Sukabumi (1996-2004)


(53)

B.2. Sub-sistem Ketersediaan Sagu

Sagu sebagai bahan baku dari pembuatan mie berbasis pati sagu ketersediaannya harus tetap terpenuhi. Dalam penyediaan sagu komponen yang paling berpengaruh adalah jumlah penyediaan batang sagu, namun penyediaan batang sagu berada di luar sistem yang sangat sedikit dipengaruhi oleh keadaan sistem atau tidak sama sekali.

Komponen lainnya yang berpengaruh dalam sub-sistem penyediaan sagu adalah tingkat kebutuhan sagu oleh pabrik-pabrik pengolahan mie dan kebutuhan sagu untuk konsumsi diluar kebutuhan produksi mie. Kebutuhan sagu untuk pabrik yang produksinya masih secara manual dibandingkan dengan kebutuhan sagu pabrik yang sudah menggunakan mesin jumlahnya berbeda, pabrik yang produksinya masih secara manual kebutuhan sagu per harinya hanya sebesar 250 kg sagu/hari, sedangkan untuk pabrik yang produksinya sudah menggunakan mesin kebutuhan sagu per harinya sebesar 2.100 kg sagu/hari. Untuk kebutuhan sagu diluar produksi mie per harinya sebesar 300 kg sagu/hari, kebutuhan sagu untuk industri sementara masih diabaikan.

B.3. Diagram Lingkar Sebab-Akibat

Untuk mendeskripsikan keterkaitan hubungan antara sub-sistem penyediaan mie dengan sub-sistem penyediaan sagu serta komponen-komponen yang ada di dalamnya dibuatlah diagram lingkar sebab-akibat pengolahan mie berbasis pati sagu seperti yang terlihat pada Gambar 7.

Pada diagram lingkar sebab-akibat tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk mempengaruhi tingkat permintaan mie yang kemudian akan mempengaruhi produksi mie. Produksi mie dan permintaan mie akan membentuk suatu neraca mie dimana neraca mie tersebut akan mempengaruhi permintaan sagu untuk konsumsi. Berdasarkan permintaan sagu untuk konsumsi maka diperlukan penyediaan pati sagu sehingga permintaan sagu untuk konsumsi dapat terpenuhi. Oleh karena itu perubahan pada produksi mie menandakan ada perubahan pada tingkat


(54)

Laju Pertumbuhan Penduduk Permintaan Sagu Industri +

Neraca Sagu

Penyediaan Sagu +

Sagu Masuk Sagu Keluar

+ + (+) + -(-) Konsumsi + Permintaan Mie + produksi Mie -+ Jumlah Penduduk Kotamadya Sukabumi + + (+) Permintaan non-mie + -Neraca Mie + + + (+) Laju kematian Penduduk + -(-) +

permintaan sagu dan mempengaruhi jumlah produksi sagu untuk penyediaan sagu.


(55)

IV. METODE PENELITIAN

A. TEMPAT DAN WAKTU

Pengambilan data dilakukan di daerah Kotamadya Sukabumi, pemilihan daerah tersebut berdasarkan atas pengolahan mie dan tingkat konsumsi yang terbanyak untuk Daerah Sukabumi berada di Kotamadya Sukabumi.

Waktu penelitian dilakukan mulai dari bulan April 2005 hingga Agustus 2005.

B. BAHAN DAN PERALATAN

Untuk melakukan simulasi software yang digunakan adalah software PowerSim versi 2.51. Software yang digunakan untuk analisa finansial adalah software Microsoft Excel 2003.

Peralatan yang digunakan adalah seperangkat komputer dengan spesifikasi sebagai berikut:

• Processor: Pentium IV 1.8 GHz.

• RAM: 256 MB

• VGA card: GeForce FX 5200 128 MB

• Harddisk: 40 GB

C. PENGUMPULAN DATA

Data-data diperoleh dengan melakukan desk-studi untuk memperoleh data sekunder dan dengan melakukan wawancara langsung. Data sekunder yang digunakan adalah data kependudukan.

Sedangkan data yang diperoleh melalui wawancara langsung adalah data tentang pengolahan mie berbasis pati sagu, data tentang ketersediaan pati sagu, dan data analisa finansial.


(56)

D. KERANGKA PENDEKATAN STUDI

Pada Gambar 8 dapat dilihat kerangka pendekatan studi dari penelitian yang berjudul Model Dinamik Pengolahan dan Rantai Pasokan Mie Berbasis Pati Sagu Kasus Kotamadya Sukabumi.

Gambar 8. Kerangka Pemikiran Studi Penentuan elemen faktor, aktor, tujuan, alternatif pada industri

mie berbasis pati sagu

Produksi

• Permintaan pasar

• Target produksi

• Jumlah bahan baku

Teknologi

• Proses pembuatan mie

• Pengemasan

Pemasaran

• Harga produk

• Keuntungan Penentuan kriteria

Mulai

Penentuan parameter kelayakan finansial agroindustri

Kelayakan finansial agroindustri

Tdk Layak

Permodelan Sistem Power SIM

Validasi Model Power SIM

Valid

Supply Chain Management

Ya

Tdk

Selesai

Evaluasi Model Power SIM Uji Coba Model Power SIM

Ya

Implementasi Model software simulasi Power SIM


(57)

E. METODOLOGI

Metoda yang digunakan dalam analisis ini adalah simulasi model dinamik berdasarkan metode desk-studi dan survei langsung ke lapangan untuk lebih memantapkan model yang dibuat. Data sekunder yang diambil hanya data untuk kependudukan saja, sedangkan data yang diperoleh melalui survei adalah kapasitas produksi pabrik, kebutuhan sagu untuk pengolahan mie, jumlah pengiriman batang sagu, dan kapasitas produksi pabrik pengolahan sagu. Pengambilan data sekunder dilakukan di Biro Pusat Statistik Kotamadya Sukabumi dan data-data sekunder pendukung lainnya diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kotamadya Sukabumi serta Kantor Penyuluhan Pertanian Kotamadya Sukabumi.

Survei langsung ke lapangan dan wawancara dengan para aktor yang terlibat di dalam sistem dilakukan untuk memperoleh data tambahan yang dapat melengkapi nilai- nilai peubah penentu yang digunakan. Survei dilakukan di daerah Kotamadya Sukabumi seperti, karena di daerah Kotamadya Sukabumi makanan tradisional mie gleser ini cukup dikenal oleh masyarakatnya dan tingkat produksi mie gleser di daerah ini cukup tinggi yaitu mencapai antara 700-1.100 kg per harinya. Mie gleser ini di daerah Kotamadya Sukabumi dikenal dengan nama mie aci.

• Kuantifikasi Peubah dan Asumsi

Berdasarkan pada pernyataan masalah dan diagram lingkaran sebab-akibat yang telah diuraikan sebelumnya, maka beberapa peubah yang mendapat perhatian adalah sebagai berikut:

i. Karakteristik Kependudukan

Meliputi jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan penduduk. Serta pengklasifikasian berdasarkan usia menjadi anak-anak, dewasa, dan tua. Tidak ada fungsi khusus dalam pengklasifikasian tersebut hanya untuk melihat jumlah penduduk saja. Tingkat pertumbuhan penduduk pertahun dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini:

N

i P


(58)

Dimana : F = Jumlah Penduduk Tahun ke-N P = Jumlah Penduduk Tahun ini i = Tingkat Pertumbuhan per Tahun N = Tahun

ii. Neraca Mie

Selisih antara produksi mie (ton/tahun) dengan permintaan mie (ton/tahun). Dimana permintaan mie berdasarkan jumlah penduduk dan tingkat konsumsi per kapita per tahun (ton/kapita/tahun).

iii. Neraca Sagu

Selisih antara produksi sagu (ton/tahun) dengan kebutuhan sagu untuk konsumsi (ton/tahun). Dengan kebutuhan sagu untuk konsumsi berdasarkan kebutuhan sagu untuk produksi mie per tahun (ton/tahun) dan kebutuhan sagu untuk konsumsi diluar mie (ton/tahun).

Nilai awal yang dikaji, fraksi atau parameter dan pengaruh keterkaitan antara suatu peubah dengan peubah lainnya yang signifikan ditentukan berdasarkan data empirik maupun informasi yang dikumpulkan dari pustaka yang relevan serta wawancara langsung dengan para aktor yang terlibat di dalam sistem pengolahan mie berbasis pati sagu.

Peubah-peubah yang diperlukan nilai awalnya adalah populasi penduduk, laju pertumbuhan penduduk, tingkat konsumsi mie rata-rata per kapita, jumlah produksi rata-rata per hari dari pabrik pengolahan mie, jumlah produksi rata-rata pabrik pengolahan sagu, dan jumlah kebutuhan sagu untuk produksi mie. Beberapa asumsi yang digunakan di dalam simulasi ini adalah sebagai berikut:

1. Laju pertumbuhan penduduk dianggap tetap

2. Kebutuhan sagu hanya untuk kebutuhan konsumsi saja, untuk

kebutuhan ind ustri sementara diabaikan


(59)

• Model dan Analisis

Model yang digunakan dalam analisis mengacu pada pendekatan sistem dinamik berdasarkan diagram lingkar sebab-akibat yang telah dibuat sebelumnya.

Model- model yang akan dianalisis adalah: - Skenario-1 Model Dasar Tanpa Kebijakan

Pada model tanpa kebijakan ini diasumsikan tidak ada perubahan tingkat konsumsi masyarakat terhadap mie gleser dan juga tidak ada peningkatan produksi dari pabrik-pabrik pembuat mie gleser ini.

Dari model ini dapat dianalisa perbandingan antara produksi mie gleser dengan tingkat konsumsi mie gleser masyarakat kotamadya Sukabumi.

- Skenario-2 Model dengan Kebijakan Peningkatan Konsumsi Melalui

Diversifikasi Hasil Olah Mie Gleser

Model ini dibuat untuk melihat pengaruh kebijakan peningkatan konsumsi mie gleser pada masyarakat Kotamadya Sukabumi terhadap neraca mie gleser sekaligus sebagai salah satu cara solusi dari masalah yang timbul pada skenario-1 sehingga dapat dilihat pengaruh dari peningkatan tingkat konsumsi mie gleser.

- Skenario-3 Model dengan Kebijakan Peningkatan Tingkat Konsumsi

dan Meningkatkan Produksi Mie Gleser

Dari model ini dapat dilihat pengaruh dari kebijakan meningkatkan tingkat konsumsi mie gleser terhadap tingkat produksi mie gleser pada perubahan neraca mie gleser serta menjadi salah satu upaya penyelesaian masalah yang terjadi pada skenario-2.

- Skenario-4 Model dengan Kebijakan Peningkatan Produksi Mie Gleser dan Peningkatan Tingkat Kebutuhan Sagu Produksi Mie

Pada model ini dapat dilihat pengaruh dari peningkatan produksi mie dan peningkatan kebutuhan sagu untuk produksi mie terhadap neraca sagu dimana tidak ada peningkatan produksi pati sagu.


(60)

E.1. ANALISA FINANSIAL

1. Modal investasi digunakan untuk biaya bangunan dan biaya

pengadaan alat/mesin.

2. Biaya tetap meliputi biaya penyusutan, bunga modal, dan pajak. Biaya penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (De Garmo,1979 dalam Supriatna, 2005).

N S P

D=( − )/ ...(1) Dimana: D = Penyusutan (Rp/tahun)

P = Harga awal alat/mesin (Rp) S = Harga akhir alat/mesin (Rp) N = Umur ekonomi alat/mesin (tahun)

3. Bunga modal dihitung dengan menggunakan rumus (De

Garmo,1979), sebagai berikut:

N N P i I * 2 ) 1 ( * * + = ...(2) Dimana: I = Bunga modal (Rp)

i = Tingkat bunga modal yang berlaku (%) P = Harga awal alat/mesin dan bangunan (Rp)

N = Umur ekonomi alat/mesin atau bangunan (tahun) 4. Biaya tidak tetap digunakan untuk biaya perbaikan alat/mesin, biaya

listrik, biaya pengadaan bahan baku, biaya pengadaan bahan tambahan, biaya transportasi, dan upah karyawan.

5. Harga pokok dan harga jual, harga pokok dihitung dengan

menjumlahkan semua biaya untuk pembuatan produk (biaya produksi), kemudian dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan.

6. Waktu pengembalian modal, digunakan untuk mengetahui berapa

lama modal awal tertanam didalam proyek. Waktu pengembalian modal dihitung berdasarkan investasi yang tertanam dibagi dengan keuntungan bersih tahunan dan penyusutan.

7. Titik pulang pokok (Break Even Point), analisis titik pulang pokok digunakan untuk mengetahui jumlah minimum penjualan produk


(1)

Keterangan: init = nilai awal yang dimasukan flow = laju yang terjadi

doc = catatan

aux = perhitungan untuk mendapatkan nilai simulasi konst. = konstanta

init jmlh_anak2_kt = 105537

flow jmlh_anak2_kt = -dt*prtmbhn_dws_kt

doc jmlh_anak2_kt = jumlah penduduk anak kotamadya Sukabumi pada tahun 1996

init jmlh_btg = btg_sg

flow jmlh_btg = +dt*lj_pngrman doc jmlh_btg = jumlah batang sagu init jmlh_dws_kt = 73864

flow jmlh_dws_kt = -dt*prtmbhn_tua +dt*prtmbhn_dws_kt

doc jmlh_dws_kt = jumlah penduduk pada tahun 1996 kotamadya Sukabumi yang dikategorikan dewasa

init jmlh_tua_kt = 61876

flow jmlh_tua_kt = -dt*lj_mati_kt +dt*prtmbhn_tua

doc jmlh_tua_kt = jumlah usia tua di kotamadya Sukabumi tahun 1996 init keb_sg_mnal = keb_sg_mie_mnal

flow keb_sg_mnal = +dt*lj_keb_sg_mnal

doc keb_sg_mnal = Jumlah sagu yang dibeli untuk membuat mie gleser secara manual

init keb_sg_msn = keb_sg_mie_msn

flow keb_sg_msn = +dt*lj_prmntaan_sg_msn

doc keb_sg_msn = Jumlah sagu yang dibeli untuk membuat mie gleser secara mekanis


(2)

Lampiran 3. (lanjutan)

init pddk_kt_1 = jmlh_pdd_kt

flow pddk_kt_1 = +dt*lj_pertmbhn_kt

doc pddk_kt_1 = Jumlah penduduk Kotamadya Sukabumi init prmntaan_mi_per_thn = prmntaan_mie

flow prmntaan_mi_per_thn = +dt*lj_permintaan_mie

doc prmntaan_mi_per_thn = permintaan mi per tahun diambil dari rata-rata pembelian per orang perharinya dengan asumsi setiap orang membeli mie

init prod_mie_mesin_per_thn = rt_prod_mie_msn flow prod_mie_mesin_per_thn = +dt*lj_prod_mie_mesin init prod_mie_mnal_per_thn = rt_prod_mie_manual*5 flow prod_mie_mnal_per_thn = +dt*lj_prod_mie_mnal

doc prod_mie_mnal_per_thn = jumlah produksi mie per bulan dengan cara manual dalm satuan ton

aux lj_keb_sg_mnal = DELAYMTR(keb_sg_mie_mnal, 2/365,1,0) doc lj_keb_sg_mnal = laju penggunaan sagu untuk produksi mie gleser

dengan pembelian sagu dilakukan setiap 2 hari, dengan jumlah pembelian sebesar 250 kg

aux lj_mati_kt = jmlh_tua_kt/hrpn_hdp_kt

doc lj_mati_kt = laju kematian penduduk Sukabumi aux lj_permintaan_mie = PULSE(145.7142857, 4, 11/12)

doc lj_permintaan_mie = terjadi loncatan permintaan setiap bulan puasa, bulan puasa selalu maju skitar 10 hari maka dibulatkan menjadi setiap 11 bulan dikalikan konsumsi mie rata-rata per bulan

aux lj_pertmbhn_kt = pddk_kt_1*frksi_tmbh_kt

doc lj_pertmbhn_kt = Laju pertumbuhan penduduk Kotamadya Sukabumi

aux lj_pngr man = DELAYMTR(btg_sg, 3/365,1,0) doc lj_pngrman = laju pegiriman batang sagu


(3)

aux lj_prmntaan_sg_msn = DELAYMTR(keb_sg_mie_msn,7/365,1,0) doc lj_prmntaan_sg_msn = laju penggunaan sagu untuk produksi mie

gleser secara mekanis, dimana pembelian dilakukan seminggu sekali dengan jumlah pembelian 2.1 ton

aux lj_prod_mie_mesin = rt_prod_mie_msn+PULSE(90, 4, 11/12) aux lj_prod_mie_mnal = rt_prod_mie_manual+PULSE(30, 4, 11/12) doc lj_prod_mie_mnal = produksi mie ketika bulan puasa ada

peningkatan

aux prtmbhn_dws_kt = jmlh_anak2_kt/wkt_dws_kt

doc prtmbhn_dws_kt = laju pertambahan dari anak-anak menjadi dewasa aux prtmbhn_tua = jmlh_dws_kt/wkt_tua_kt

doc prtmbhn_tua = laju pertambahan umur tua

aux jmlh_pdd_kt = jmlh_anak2_kt+jmlh_dws_kt+jmlh_tua_kt doc jmlh_pdd_kt = total jumlah penduduk Sukabumi thn 1993 aux keb_sg = keb_sg_mnal+keb_sg_msn+keb_sg_non_mie doc keb_sg = total kebutuhan sagu dalam ton

aux keb_sg_non_mie = keb_non_mie*365

aux NERACA_MIE = tot_prod_mie-prmntaan_mi_per_thn aux NERACA_SG = sg_hsl_olah-keb_sg

doc NERACA_SG = Jumlah penyediaan sagu dikurangi dengan kebutuhan sagu

aux prmntaan_mie = pddk_kt_1*STEP(kon_mie_per_thn, 3/365)

doc prmntaan_mie = konsumsi mie per tahun dengan asumsi setiap penduduk mengkonsumsi mie

aux sg_hsl_olah = jmlh_btg*frksi_olah

doc sg_hsl_olah = jumlah sagu yang dihasilkan

aux tot_prod_mie = prod_mie_mesin_per_thn+prod_mie_mnal_per_thn doc tot_prod_mie = total produksi mie sagu per tahunnya

const btg_sg = 4.5


(4)

Lampiran 3. (lanjutan)

const frksi_olah = (300*365)/1000

doc frksi_olah = hasil pengolahan yang diperoleh tiap 1 ton batang sagu const frksi_tmbh_kt = 0.008998968

doc frksi_tmbh_kt = fraksi pertumbuhan jumlah penduduk Kotamadya Sukabumi tahun 1996-2004

const hrpn_hdp_kt = 73

doc hrpn_hdp_kt = batas umur hidup rata-rata penduduk Sukabumi const keb_non_mie = 200/1000

doc keb_non_mie = Kebutuhan sagu non mie per hari dalam satuan ton const keb_sg_mie_mnal = (250*365)/1000

doc keb_sg_mie_mnal = Jumlah penggunaan sagu untuk produksi mie secara manual

const keb_sg_mie_msn = 2.1*52

doc keb_sg_mie_msn = Jumlah penggunaan sagu untuk produksi mie secara mekanis

const kon_mie_per_thn = (((1100+(700*5))*365)/1000)/259204

doc kon_mie_per_thn = tingkat konsumsi ya ng didapat dari total produksi per tahun dibagi dengan jumlah penduduk tahun 2004 const rt_prod_mie_manual = (700*365)/1000

doc rt_prod_mie_manual = Jumlah Produksi Mie Per tahun secara manual

const rt_prod_mie_msn = (1100*365)/1000

doc rt_prod_mie_msn = Jumlah produksi mie per tahun secara mekanis const wkt_dws_kt = 20

doc wkt_dws_kt = umur minimum penduduk untuk dikategorikan dewasa

const wkt_tua_kt = 40

doc wkt_tua_kt = batas umur minimum untuk dikategorikan sebagai kategori tua


(5)

SWOT ANALISIS LINGKUNGAN Skala Share Bobot Rating Skor

INTERNAL

Kekuatan Transaksi langsung terjadi di pasar 4 25.00 0.13 2 0.25

(S) Aliran uang tunai 4 25.00 0.13 3 0.38

Pergantian produk cepat 4 25.00 0.13 3 0.38

Sebagai bahan makanan cepat saji 4 25.00 0.13 2 0.25

0 0.00 0.00 0 0.00

16 100.00 0.50 10 1.25

Kelemahan Kekurangan modal usaha 4 20.00 0.10 4 0.40

(W) Aliran informasi tidak jelas 4 20.00 0.10 2 0.20

Tingkat konsumsi masyarakat masih rendah 4 20.00 0.10 3 0.30 Kualitas (mutu) mie masih rendah 4 20.00 0.10 3 0.30

Penampilan mie kurang menarik 4 20.00 0.10 3 0.30

20 100.00 0.50 15 1.50

EKSTERNAL

Peluang Memperluas jaringan pemasaran keluar

daerah Sukabumi 4 33.33 0.17 3 0.50

(O) Membuka peluang penganekaragaman makanan olahan berbasis mie gleser 4 33.33 0.17 4 0.67

Sebagai pemasok pada mini market, supermarket, dan lain-lain 4 33.33 0.17 2 0.33

0 0.00 0.00 0 0.00

0 0.00 0.00 0 0.00

12 100.00 0.50 9 1.50

Ancaman Banyak produk serupa dengan kualitas

lebih baik 4 33.33 0.17 3 0.50

(T) Para penjual mie gleser terlalu berkumpul

di satu tempat 4 33.33 0.17 3 0.50

Daya tahan (simpan) mie masih rendah 4 33.33 0.17 2 0.33

0 0.00 0.00 0 0.00

0 0.00 0.00 0 0.00

12 100.00 0.50 8 1.33

Rating pada skala 4: Sangat berpengaruh = 4 Berpengaruh = 3

Kurang berpengaruh = 2 Tidak berpengaruh = 1


(6)

Lampiran 5. Grafik Penentu Tindakan

0.0 1.0 2.0

O

S

T

W

conservative agressive