Peran Konseling Farmasis Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Ditinjau dari Analisis Biaya Terapi di RSUD dr. Djoelham Binjai

TESIS

PERAN KONSELING FARMASIS PADA PASIEN
DIABETES MELITUS TIPE 2 DITINJAU DARI ANALISIS
BIAYA TERAPI DI RSUD dr. DJOELHAM BINJAI

OLEH:
ADEK CHAN
NIM 087014010

PROGRAM STUDI MAGISTER FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERAN KONSELING FARMASIS PADA PASIEN
DIABETES MELITUS TIPE 2 DITINJAU DARI ANALISIS
BIAYA TERAPI DI RSUD dr. DJOELHAM BINJAI

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Magister Sains dalam Ilmu Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
ADEK CHAN
NIM 087014010

PROGRAM STUDI MAGISTER FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERSETUJUAN TESIS
Nama Mahasiswa
No. Induk mahasiswa
Program Studi
Judul Tesis

:
:
:
:

Tempat dan Tanggal Ujian Lisan Tesis
Menyetujui:
Komisi Pembimbing
Ketua,

Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
NIP 195301011983031004

Adek Chan
087014010
Magister Farmasi
Peran Konseling Farmasis Pada Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 Ditinjau dari
Analisis Biaya Terapi di RSUD
dr. Djoelham Binjai

: Medan, Agustus 2011

Anggota,

Prof. dr. Darwin Dalimunthe, Ph.D
NIP 194508171974121002

Ketua Program Studi,

Dekan,

Prof. Dr. Karsono, Apt.
NIP 195409091982011001

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN TESIS

Nama Mahasiswa
No. Induk mahasiswa
Program Studi
Judul Tesis

:
:
:
:

Adek Chan
087014010
Magister Farmasi
Peran Konseling Farmasis Pada Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 Ditinjau dari
Analisis Biaya Terapi di RSUD
dr. Djoelham Binjai

Telah di uji dan dinyatakan LULUS di depan Tim Penguji pada hari kamis tanggal
empat bulan agustus tahun dua ribu sebelas

Mengesahkan:
Tim Penguji Tesis
Ketua Tim Penguji

: Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.

Anggota Tim Penguji : Prof. dr. Darwin Dalimunthe, Ph.D
Prof. Dr. Karsono, Apt.
Dr. Edy Suwarsono, SU., Apt

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang tak
terhingga sehingga penulis bisa menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis
dengan judul Peran Konseling Farmasis Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Ditinjau dari Analisis Biaya Terapi di RSUD dr. Djoelham Binjai sebagai salah
satu syarat untuk mencapai gelar Magister Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara. Shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW.
Selama menyelesaikan penelitian dan tesis ini penulis telah banyak
mendapatkan bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, baik moril maupun
materil. Untuk itu penulis ingin menghaturkan penghargaan dan terimakasih yang
tiada terhingga kepada :
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril
Pasaribu, DTM&H., M.Sc., (CTM)., Sp.A (K), atas kesempatan dan
fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan
menyelesaikan Program Magister.
2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr.
Sumadio Hadisahputra, Apt., dan juga selaku Penguji yang telah
menyediakan fasilitas dan kesempatan bagi penulis menjadi mahasiswa
Program Studi Magister Farmasi Fakultas Farmasi.
3. Ketua Program Studi Magister Farmasi Fakultas Farmasi Universitas
Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Karsono, Apt., yang telah memberi
dorongan dan semangat dalam penyelesaian pendidikan Program
Magister Farmasi.

Universitas Sumatera Utara

4. Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt., selaku Pembimbing I yang telah
banyak memberi saran, bimbingan dan dorongan dengan penuh
kesabaran selama penulis menjalani pendidikan, penelitian dan
penyelesaian tesis ini.
5. Bapak Prof. dr. Darwin Dalimunthe, Ph.D selaku Pembimbing II yang
secara aktif berperan serta mengarahkan penulis dalam melaksanaan
penelitian dan penyelesaian tesis ini.
6. Bapak Dr. Edy Suwarso, SU., Apt selaku penguji.
7. Pihak RSUD dr. Djoelham Binjai yang telah memberikan fasilitas dan
kesempatan bagi penulis dalam melaksanakan penelitian.
8. Pihak manajemen laboratorium Thamrin Medan beserta staf yang telah
membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.
Serta kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
yang telah banyak membantu dalam penulisan tesis ini. Kiranya Allah SWT
memberikan balasan yang berlipat ganda atas kebaikan dan bantuan yang telah
diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata
semoga tulisan ini dapat menjadi sumbangan yang berarti bagi imu pengetahuan.

Medan,

Agustus 2011

Penulis

Adek Chan

Universitas Sumatera Utara

PERAN KONSELING FARMASIS PADA PASIEN DIABETES MELITUS
TIPE 2 DITINJAU DARI ANALISISBIAYA TERAPI
DI RSUD dr. DJOELHAM BINJAI
Abstrak
Biaya pelayanan kesehatan semakin meningkat diakibatkanberbagai faktor
seperti perubahan pola penyakit dan pola pengobatan, peningkatan
penggunaan teknologi canggih, meningkatnya permintaan
masyarakat
dan
perubahan ekonomi secara global. Salah satu penyakit yang membutuhkan biaya
yang besar untuk penatalaksanaannya adalah diabetes dan biaya semakin
meningkat manakala timbul komplikasi. Oleh karena itu fokus utama
pengendalian biaya perawatan diabetes adalah berupaya semaksimal mungkin
untuk mencegah jangan sampai timbul komplikasi, salah satu caranya adalah
dengan melibatkan farmasis dalam asuhan kefarmasian berupa konseling dan
meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi sehingga mampu melakukan self
care. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konseling
terhadap biaya terapi yang diberikan dan manfaat terhadap pencegahan
kemungkinan terjadinya komplikasi pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini
dilakukan selama 3 bulan melibatkan 24 orang penderita DM tipe 2, dibagi dua
kelompok yaitu konseling dan tanpa konseling dengan melakukan pemeriksaan
Kadar Gula Darah (KGD), HbA1c dan analisis biaya terapi antidiabetik.
Pada penelitian ini penderita perempuan lebih banyak (91,67%) dibanding
laki-laki (8,33%). DM terbanyak dialami pada umur antara 51-60 tahun yaitu 6
orang (50,00%) pada DM dengan konseling dan 5 orang (41,67%) pada kelompok
umur antara 61-70 tahun pada DM tanpa konseling. Berdasarkan lama menderita
DM yang paling banyak dialami pasien selama 1-6 tahun sebanyak 6 orang
(50,00%) pada DM dengan konseling dan DM tanpa konseling 5 orang (41,67%).
Nilai HbA1c pada Penderita DM dengan konseling terjadi penurunan terbesar
yaitu 41,35% dengan nilai HbA1c awal 10,4 dan nilai HbA1c akhir 6,1 sedangkan
persentase kenaikan yaitu 12,5% dengan nilai HbA1c awal 6,4 dan nilai HbA1c
akhir 7,2. Nilai HbA1c pada penderita DM tanpa konseling kenaikan tertinggi
yaitu 31,70% dengan nilai HbA1c awal 8,2 dan nilai HbA1c akhir 10,8 dan
penurunan terbesar yaitu 29,36% dengan nilai HbA1c 12,6 dan nilai HbA1c akhir
8,9. Biaya terapi penderita DM setelah diberikan konseling terjadi penurunan
yaitu Rp.49.650 menjadi Rp.17.400. biaya terapi pada penderita DM tanpa
konseling tidak terjadi penurunan biaya (biaya terapi tetap).
Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai kebermaknaan = 0,003, ini berarti
dengan adanya konseling biaya terapi pada penderita DM menurun dengan
signifikan (p < 0,05). Maka kesimpulan penelitian ini adalah penderita DM yang
diberi konseling terjadi penurunan biaya sedangkan pada pasien tanpa konseling
tidak terdapat perubahan biaya, hal ini berarti dengan pemberian konseling
mempengaruhi analisis biaya terapi pada pasien DM tipe 2 dan dengan adanya
konseling dapat menurunkan tingkat HbA1c pada pasien DM tipe 2 sehingga
mencegah terjadinya komplikasi.
Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, konseling, biaya, HbA1c.

Universitas Sumatera Utara

ROLE IN PATIENT COUNSELING PHARMACISTS
TYPE 2 DIABETES MELLITUS VIEWED FROM THE ANALYSIS
COST OF THERAPY
IN GENERAL HOSPITALS dr. DJOELHAM BINJAI
Abstract
Increasing health care costs resulting from various factors such as
changing pattems of disease and treatment pattems, increased use advanced
technology, increasing public demand and global economic change. One of the
diseases that require a high cost for management is a diabetic and cost increases
when complications arise. Therefore the main focus of diabetes care cost control
is best to prevent complications do not arise, one way is to involve pharmacists in
pharmaceutical care in the form of counseling and improving patient adherence to
therapy so as to perform self-care. The purpose of this study was to determine the
effect of counseling and benefits therapy costs to prevent the possibility of
complications in patients with type 2 diabetes. This research was conducted for 3
months involving 24 people with type 2 diabetes mellitus patients, divided into
two groups, counseling and without counseling by inspecting Blood Sugar Levels
(KGD), HbA1c and analysis of the cost of antidiabetic therapy.
In this study, more female patients (91.67%) than men (8.33%). DM is
most experienced at the age between 51-60 years of 6 people (50.00%) in DM
with counseling and 5 women (41.67%) in the age group between 61-70 years in
DM without counseling. Based on the long suffering of the most experienced DM
patients for 1-6 years as many as 6 people (50.00%) in DM with DM without
counseling and counseling 5 people (41.67%). Value of HbA1c in diabetic patients
with the largest decline counseling is 41.35% with initial HbA1c value of 10.4 and
final HbA1c value of 6.1 while the percentage increase of 12.5% with initial
HbA1c value of 6.4 and final HbA1c value of 7.2. HbA1c values in patients with
DM without counseling the highest increase of 31.70% with initial HbA1c value
of 8.2 and final HbA1c value of 10.8 and the biggest drop of 29.36% with HbA1c
value of 12.6 and final HbA1c value of 8.9. The cost of therapy in diabetic patient
after being given counseling a decline that is Rp.49.650 be Rp.17.400. cost of
therapy in patients with DM without counseling is not a decline in costs (costs of
therapy equipment).
Based on statistical test values obtained significance = 0.003, this means
that with the cost of counseling therapy in patients with DM decreased
significantly (p <0.05). So the conclusion of this study were patients who were
given counseling DM decrease the cost of counseling while in patients without no
fee changes, this means the provision of counseling affects the cost analysis of
therapy in patients with type 2 diabetes mellitus and with counseling can reduce
HbA1c levels in patients with DM type 2 thus preventing the occurrence of
complications.
Key words: diabetes mellitus type 2, counseling, costs, HbA1c.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ……………………………………………………………………….

i

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………...

ii

LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................

iii

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................

iv

KATA PENGANTAR ……………………………………………………….

v

ABSTRAK .......................................................................................................

vii

ABSTRACT ………………………………………………………………….

viii

DAFTAR ISI ………………………………………………………………...

ix

DAFTAR TABEL ……………………………………………………………

xii

DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………..

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………

xiv

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN .........................................................................

1

1.1 Latar Belakang ........................................................................

1

1.2 Kerangka Pikir Penelitian .......................................................

5

1.3 Perumusan Masalah ................................................................

5

1.4 Hipotesis..................................................................................

6

1.6 Tujuan Penelitian ....................................................................

6

1.7 Manfaat Penelitian ..................................................................

6

TINJAUAN PUSTAKA.................................................................

7

2.1 Diabetes Melitus......................................................................

7

2.1.1 Etiologi ...........................................................................

7

2.1.2 Klasifikaasi Diabetes Melitus ........................................

8

Universitas Sumatera Utara

BAB III

BAB IV

2.1.3 Gejala dan Diagnosis Diabetes Melitus .........................

9

2.1.4 Penatalaksanaan .............................................................

12

2.1.5 Penilaian Pengontrolan Glukosa ...................................

15

2.2 Farmakoekonomi ....................................................................

18

2.3 Asuhan Kefarmasian ………………………………………..

23

METODE PENELITIAN ............................................................

26

3.1 Desain Penelitian ...................................................................

26

3.2 Bahan Penelitian ....................................................................

26

3.3 Waktu dan Tempat Penelitian ...............................................

26

3.4 Populasi dan Teknik Sampel .................................................

26

3.5 Teknik Pengumpulan Data .....................................................

29

3.6 Alat dan Bahan ……….…………..…………………………

30

3.6.1 Alat ...............................................................................

30

3.6.2 Bahan ............................................................................

30

3.6.3 Subjek Penelitian............................................................

31

3.7 Analisis Data ...........................................................................

31

3.8 Persetujuan Komite Etik Penelitian ........................................

32

HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................

33

4.1 Gambaran Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan Jenis
Kelamin..................................................................................

33

4.2 Gambaran Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan Umur ...

33

4.3 Gambaran Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan Lama
Menderita Penyakit ................................................................

34

4.4 Gambaran Nilai HbA1c pada Penderita DM
dengan Konseling ………………………………………….

35

Universitas Sumatera Utara

4.5 Gambaran Nilai HbA1c pada Penderita DM
Tanpa Konseling ...................................................................

39

4.6 Gambaran Perbandingan Nilai HbA1c Pasien D dengan
Konseling dan Tanpa Konseling ………………………...

41

4.7 Gambaran Biaya Terapi Penderita DM dengan Konseling ...

41

4.8 Gambaran Biaya Terapi Penderita DM Tanpa Konseling.....

45

KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................

46

5.1 Kesimpulan .............................................................................

46

5.2 Saran........................................................................................

46

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

47

LAMPIRAN.....................................................................................................

50

BAB V

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Kriteria penegakan diagnosis ........................................................

9

Tabel 2.1 Target penatalaksanaan DM ..........................................................

15

Tabel 2.2 Kadar glikat hemoglobin pada penderita DM ................................

16

Tabel 3.1

Standard deviasi normal (Zcrit) berdasarkan signifikansi yang
dipilih dan Cls ...............................................................................

28

Standard deviasi normal (Zpwr) berdasarkan kekuatan statistik
yang dipilih ...................................................................................

28

Tabel 4.1 Distribusi jenis kelamin penderita DM .........................................

33

Tabel 4.2 Distribusi penderita DM berdasarkan umur ..................................

34

Tabel 4.2 Distribusi penderita DM berdasarkan lama menderita .................

34

Tabel 4.4 Gambaran nilai HbA1c pada penderita DM dengan konseling ......

35

Tabel 3.2

Tabel 4.5

Analisis nilai HbA1c pada penderita DM dengan konseling
menggunakan uji wilcoxon signed rank test .................................

36

Tabel 4.6 Persentase nilai HbA1c pada penderita DM tanpa konseling ........

40

Tabel 4.7

Analisis nilai HbA1c pada penderita DM tanpa konseling
menggunakan uji wilcoxon signed rank test ..................................

40

Perbandingan nilai statistik antara dua kelompok diuji dengan
mann-whitney test .........................................................................

41

Tabel 4.9 Biaya terapi penderita DM dengan konseling ...............................

42

Tabel 4.10 Analisis biaya terapi penderita DM dengan konseling
menggunakan uji wilcoxon signed rank test .................................

43

Tabel 4.11 Analisis biaya teerapi pada penderita DM tanpa konseling ..........

45

Tabel 4.8

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman 
Gambar 1.1 Diagram yang menggambarkan kerangka pikir penelitian ......

5

Gambar 2.1

Algoritma penatalaksanaan DM tipe 2 .....................................

14

Gambar 4.1

Grafik rata-rata biaya penderita DM dengan konseling ...........

42

Gambar 4.2

Grafik rata-rata biaya penderita DM tanpa konseling..............

45

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Kuesioner penelitian .................................................................

50

Lampiran 2 Program Konseling Farmasis ....................................................

56

Lampiran 3 Persetujuan komite etik penelitian kesehatan dari fakultas
kedokteran USU.........................................................................

58

Lampiran 4 Persetujuan KOPPPETEKES penelitian kesehatan dari RSUD
dr. Djoelham Binjai ...................................................................

59

Lampiran 5 Tabel identitas penderita DM tipe 2...........................................

60

Lampiran 6 Tabel tekanan darah penderita DM tipe 2..................................

61

Lampiran 7 Tabel nilai HbA1c dan KGD penderita DM tipe 2 dengan
konseling....................................................................................

62

Lampiran 8 Tabel nilai HbA1c dan KGD penderita DM tipe 2 tanpa
konseling....................................................................................

63

Lampiran 9 Tabel riwayat keluarga, olahraga penderita DM tipe 2..............

64

Lampiran 10 Tabel antidiabetik yang digunakan penderita DM tipe 2 yang
diberi konseling .........................................................................

65

Lampiran 11 Tabel biaya antidiabetik yang digunakan penderita DM tipe 2
tanpa konseling .........................................................................

66

Lampiran 12 Hasil analisis data HbA1c pre konseling dan post konseling
(intervensi) menggunakan SPSS................................................

67

Lampiran 13 Hasil analisis data HbA1c awal dan akhir pertemuan (kontrol)
menggunakan SPSS ..................................................................

68

Lampiran 14 Hasil analisis data HbA1c perbandingan antara intervensi dan
kontrol menggunakan SPSS .....................................................

70

Lampiran 15 Hasil analisis data biya terapi pre konseling dan post
konseling (intervensi) menggunakan SPSS ..............................

72

Lampiran 16 Leafleat penyakit DM ...............................................................

74

Lampiran 17 Foto pengambilan darah untuk pemeriksaan HbA1c ..................

79

Universitas Sumatera Utara

PERAN KONSELING FARMASIS PADA PASIEN DIABETES MELITUS
TIPE 2 DITINJAU DARI ANALISISBIAYA TERAPI
DI RSUD dr. DJOELHAM BINJAI
Abstrak
Biaya pelayanan kesehatan semakin meningkat diakibatkanberbagai faktor
seperti perubahan pola penyakit dan pola pengobatan, peningkatan
penggunaan teknologi canggih, meningkatnya permintaan
masyarakat
dan
perubahan ekonomi secara global. Salah satu penyakit yang membutuhkan biaya
yang besar untuk penatalaksanaannya adalah diabetes dan biaya semakin
meningkat manakala timbul komplikasi. Oleh karena itu fokus utama
pengendalian biaya perawatan diabetes adalah berupaya semaksimal mungkin
untuk mencegah jangan sampai timbul komplikasi, salah satu caranya adalah
dengan melibatkan farmasis dalam asuhan kefarmasian berupa konseling dan
meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi sehingga mampu melakukan self
care. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konseling
terhadap biaya terapi yang diberikan dan manfaat terhadap pencegahan
kemungkinan terjadinya komplikasi pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini
dilakukan selama 3 bulan melibatkan 24 orang penderita DM tipe 2, dibagi dua
kelompok yaitu konseling dan tanpa konseling dengan melakukan pemeriksaan
Kadar Gula Darah (KGD), HbA1c dan analisis biaya terapi antidiabetik.
Pada penelitian ini penderita perempuan lebih banyak (91,67%) dibanding
laki-laki (8,33%). DM terbanyak dialami pada umur antara 51-60 tahun yaitu 6
orang (50,00%) pada DM dengan konseling dan 5 orang (41,67%) pada kelompok
umur antara 61-70 tahun pada DM tanpa konseling. Berdasarkan lama menderita
DM yang paling banyak dialami pasien selama 1-6 tahun sebanyak 6 orang
(50,00%) pada DM dengan konseling dan DM tanpa konseling 5 orang (41,67%).
Nilai HbA1c pada Penderita DM dengan konseling terjadi penurunan terbesar
yaitu 41,35% dengan nilai HbA1c awal 10,4 dan nilai HbA1c akhir 6,1 sedangkan
persentase kenaikan yaitu 12,5% dengan nilai HbA1c awal 6,4 dan nilai HbA1c
akhir 7,2. Nilai HbA1c pada penderita DM tanpa konseling kenaikan tertinggi
yaitu 31,70% dengan nilai HbA1c awal 8,2 dan nilai HbA1c akhir 10,8 dan
penurunan terbesar yaitu 29,36% dengan nilai HbA1c 12,6 dan nilai HbA1c akhir
8,9. Biaya terapi penderita DM setelah diberikan konseling terjadi penurunan
yaitu Rp.49.650 menjadi Rp.17.400. biaya terapi pada penderita DM tanpa
konseling tidak terjadi penurunan biaya (biaya terapi tetap).
Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai kebermaknaan = 0,003, ini berarti
dengan adanya konseling biaya terapi pada penderita DM menurun dengan
signifikan (p < 0,05). Maka kesimpulan penelitian ini adalah penderita DM yang
diberi konseling terjadi penurunan biaya sedangkan pada pasien tanpa konseling
tidak terdapat perubahan biaya, hal ini berarti dengan pemberian konseling
mempengaruhi analisis biaya terapi pada pasien DM tipe 2 dan dengan adanya
konseling dapat menurunkan tingkat HbA1c pada pasien DM tipe 2 sehingga
mencegah terjadinya komplikasi.
Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, konseling, biaya, HbA1c.

Universitas Sumatera Utara

ROLE IN PATIENT COUNSELING PHARMACISTS
TYPE 2 DIABETES MELLITUS VIEWED FROM THE ANALYSIS
COST OF THERAPY
IN GENERAL HOSPITALS dr. DJOELHAM BINJAI
Abstract
Increasing health care costs resulting from various factors such as
changing pattems of disease and treatment pattems, increased use advanced
technology, increasing public demand and global economic change. One of the
diseases that require a high cost for management is a diabetic and cost increases
when complications arise. Therefore the main focus of diabetes care cost control
is best to prevent complications do not arise, one way is to involve pharmacists in
pharmaceutical care in the form of counseling and improving patient adherence to
therapy so as to perform self-care. The purpose of this study was to determine the
effect of counseling and benefits therapy costs to prevent the possibility of
complications in patients with type 2 diabetes. This research was conducted for 3
months involving 24 people with type 2 diabetes mellitus patients, divided into
two groups, counseling and without counseling by inspecting Blood Sugar Levels
(KGD), HbA1c and analysis of the cost of antidiabetic therapy.
In this study, more female patients (91.67%) than men (8.33%). DM is
most experienced at the age between 51-60 years of 6 people (50.00%) in DM
with counseling and 5 women (41.67%) in the age group between 61-70 years in
DM without counseling. Based on the long suffering of the most experienced DM
patients for 1-6 years as many as 6 people (50.00%) in DM with DM without
counseling and counseling 5 people (41.67%). Value of HbA1c in diabetic patients
with the largest decline counseling is 41.35% with initial HbA1c value of 10.4 and
final HbA1c value of 6.1 while the percentage increase of 12.5% with initial
HbA1c value of 6.4 and final HbA1c value of 7.2. HbA1c values in patients with
DM without counseling the highest increase of 31.70% with initial HbA1c value
of 8.2 and final HbA1c value of 10.8 and the biggest drop of 29.36% with HbA1c
value of 12.6 and final HbA1c value of 8.9. The cost of therapy in diabetic patient
after being given counseling a decline that is Rp.49.650 be Rp.17.400. cost of
therapy in patients with DM without counseling is not a decline in costs (costs of
therapy equipment).
Based on statistical test values obtained significance = 0.003, this means
that with the cost of counseling therapy in patients with DM decreased
significantly (p <0.05). So the conclusion of this study were patients who were
given counseling DM decrease the cost of counseling while in patients without no
fee changes, this means the provision of counseling affects the cost analysis of
therapy in patients with type 2 diabetes mellitus and with counseling can reduce
HbA1c levels in patients with DM type 2 thus preventing the occurrence of
complications.
Key words: diabetes mellitus type 2, counseling, costs, HbA1c.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada akhir-akhir

ini, biaya pelayanan kesehatan semakin meningkat

diakibatkan berbagai faktor seperti perubahan pola penyakit dan pola pengobatan,
peningkatan

penggunaan

teknologi

canggih,

meningkatnya

permintaan

masyarakat dan perubahan ekonomi secara global. Dilain pihak biaya yang
tersedia untuk kesehatan belum dapat ditingkatkan, karena kemampuan
pemerintah sangat terbatas. Sementara itu sesuai dengan kebijaksanaan
pemerintah diharapkan untuk dapat lebih mendekatkan kepada pelayanan
kesehatan kepada masyarakat.
Terkait dengan hal tersebut diperlukan upaya untuk meningkatkan
efisiensi dan penggunaan dana secara lebih rasional. Ekonomi kesehatan sebagai
suatu alat untuk menemukan cara peningkatan efisiensi dan memobilisasi sumber
dana dapat dipergunakan untuk membantu mengembangkan upaya khusus tanpa
mengabaikan aspek sosial dari sektor kesehatan itu sendiri (Kier, et al., 2007)).
Farmakoekonomi dalam kaitan ini memiliki peranan penting sebagai
deskripsi dan analisis biaya terapi dalam suatu sistem pelayanan kesehatan, lebih
spesifik lagi adalah sebuah penelitian tentang proses identifikasi, mengukur dan
membandingkan biaya, resiko dan keuntungan dari suatu program, pelayanan dan
terapi serta determinasi suatu alternatif terbaik. Evaluasi farmakoekonomi
memperkirakan harga dari produk atau pelayanan berdasarkan satu atau lebih
sudut pandang (Bootman, 2005).

Universitas Sumatera Utara

DM merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan biaya yang besar
untuk penatalaksanaannya. Data 2007 di Amerika Serikat sekitar 17,5 juta orang
mengidap DM. Setiap tahun, biaya perawatan per kapita penderita diabetes tidak
kurang dari US$ 13.243. Perkiraan terbaru oleh American Diabetes Association
tahun 2007 total biaya tahunan DM sebesar US$ 174 milyar, terdiri dari US$ 116
milyar untuk pembelanjaan medik dan US$ 58 milyar untuk biaya atas hilangnya
produktivitas. Pembelanjaan medik sebesar US$ 116 milyar meliputi biaya medik
langsung sebesar US$ 27 milyar, biaya untuk mengatasi komplikasi sebesar US$
58 milyar, dan US$ 31 milyar untuk biaya umum lainnya (ADA, 2008). Hasil
penelitian di RS Dr Sardjito Yogyakarta, biaya total untuk mengelola penyakit
DM tipe 2 berkisar antara Rp. 208.500 sampai Rp. 754.500 per bulan (Andayani,
2005).
DM merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia;
disebabkan karena abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein; dan
dapat menyebabkan komplikasi kronik seperti mikrovaskuler, makrovaskuler dan
neuropatik. Metode yang digunakan untuk menentukan pengontrolan glukosa
pada semua tipe DM adalah pengukuran glikat hemoglobin (HbA1c). Hemoglobin
pada keadaan normal tidak mengandung glukosa ketika pertama kali keluar dari
sumsum tulang (Price, 2002). Pada orang normal sebagian kecil fraksi
hemoglobin akan mengalami glikosilasi. Artinya glukosa terikat pada hemoglobin
melalui proses enzimatik dan bersifat reversibel. Pada pasien DM glikosilasi
hemoglobin meningkat secara proporsional dengan kadar rata-rata glukosa darah
selama 2-3 bulan sebelumnya. Bila kadar glukosa darah berada pada kisaran
normal antara 70-140 mg% selama 2-3 bulan terakhir, maka hasil tes HbA1c akan

Universitas Sumatera Utara

menunjukkan nilai normal. Pemeriksaan HbA1c sebagai pemeriksaan tunggal yang
sangat akurat untuk menilai status glikemik jangka panjang (Perkeni, 2002).
Karena pergantian hemoglobin yang lambat, nilai hemoglobin yang tinggi
menunjukkan bahwa kadar glukosa darah tinggi selama 4 hingga 8 minggu. Nilai
normal glikat hemoglobin bergantung pada metode pengukuran yang digunakan,
namun berkisar antara 3,5% hingga 5,5%. Menurut Dipiro et.al.,(2005) target
pengobatan tercapai jika 3-6 bulan pemeriksaan HbA1c berada ≤ 6,5% - 7,0%.
Pada penatalaksanaan terapi penyakit DM tipe 2 terdapat suatu alur agar
terapi yang diberikan optimal yaitu diawali dengan intervensi berupa edukasi,
nutrisi dan olahraga yang kemungkinan akan mempengaruhi hasil terapi.
Menurut WHO pasien DM di Indonesia akan mengalami kenaikan dari 4,8
juta jiwa pada tahun 2000 dan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030.
Tingginya angka kesakitan tersebut menjadikan Indonesia menduduki peringkat
ke-4 dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Tanpa upaya pencegahan dan
program pengendalian yang efektif prevalensi tersebut akan terus meningkat
(Perkeni, 2009).
Penelitian dan perkembangan obat yang dilakukan pada beberapa akhir
dekade memberikan informasi yang dapat diterapkan secara langsung untuk
memperbaiki outcome pasien DM (Dipiro, et al., 2005). Suatu terapi pengobatan
yang baik dan benar akan sangat menguntungkan bagi pasien, baik dari segi
kesehatan atau kesembuhan penyakit yang diderita, biaya yang harus dikeluarkan,
dan kepatuhan pasien mengkonsumsi obat terutama

bagi pasien yang harus

mengkonsumsi obat dalam waktu lama, bahkan seumur hidup, seperti penyakit

Universitas Sumatera Utara

DM, oleh karena itu efisiensi dan efektivitas penggunaan obat dan biaya
merupakan faktor yang penting diperhatikan.
Salah satu faktor utama kegagalan sebuah terapi adalah ketidakpatuhan
terhadap terapi yang telah direncanakan, maka salah satu upaya penting untuk
meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi adalah konseling dan pemberian
informasi yang lengkap dan akurat tentang terapi tersebut. Tujuan edukasi kepada
pasien adalah untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan agar pasien
berpartisipasi dalam pengobatannya. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang
tidak pernah mendapat edukasi mengenai DM, risiko untuk komplikasi major
meningkat 4 kali lipat. Konseling dalam penatalaksanaan DM sangat penting
sebab DM merupakan penyakit yang sangat erat kaitannya dengan gaya hidup.
Konseling diberikan kepada penderita untuk mendapatkan hasil penatalaksanaan
DM yang optimal. Keberhasilan penatalaksanaan DM sangat bergantung pada
kerja sama penderita dan keluarganya dengan petugas kesehatan. Kepatuhan
penderita terhadap program penatalaksanaan sangat bergantung pada tingkat
pemahamannya tentang penyakit tersebut. Penderita DM yang memiliki
pengetahuan yang cukup tentang DM umumnya dapat mengendalikan perilakunya
sehingga dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik (Depkes, 2005).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peran farmasis dengan aplikasi
pelayanan kesehatan

dan farmakoekonomi akan membantu meningkatkan

pencapaian outcome terapi yang maksimal dengan biaya yang seminimal
mungkin, dengan melibatkan farmasis secara aktif dalam pelayanan kesehatan
terkait dengan penggunaan obat, akan sangat bermanfaat dalam sistem pelayanan
kesehatan, antara lain menurunkan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan

Universitas Sumatera Utara

dengan berfokus pada penggunaan obat yang optimal, menghindari atau
meminimalisir masalah yang terkait dengan penggunaan obat (Drug Related
problems/DRP’s), dan pencapaian outcome yang diinginkan pasien yaitu
meningkatnya kualitas hidup. Selain itu dengan adanya intervensi farmasis akan
memberikan pengaruh, baik langsung maupun tidak langsung terhadap
penghematan biaya pengobatan. Semakin banyak jumlah farmasis dalam praktik
klinis, semakin besar pula keuntungan dari investasi.

1.2 Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan di atas, maka kerangka pikir
penelitian seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1.
Variabel Bebas
Konseling  dan 
analisis 
biaya 
t
i

Variabel Terikat
   DM  
  tipe 2 

‐ KGD terkontrol 
‐ HbA1c turun 
‐ Biaya efisien 
‐ Komplikasi 
   dicegah 

Parameter
‐ KGD (mg/dl) 
‐ HbA1c (%) 
‐ Biaya (Rp) 

Gambar 1.1 Diagram yang menggambarkan kerangka pikir penelitian

1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan dalam latar belakang dan kerangka
pikir penelitian, maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut :
a. apakah dengan pemberian konseling terapi pasien DM tipe 2 biaya
perawatan efisien (menurun)?
b. apakah dengan pemberian konseling dapat mencegah komplikasi pada
DM tipe 2?

Universitas Sumatera Utara

1.4 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka hipotesis penelitian adalah
sebagai berikut :
a. pemberian konseling akan mempengaruhi biaya terapi pada pasien DM
tipe 2.
b. pemberian

konseling

akan

mencegah

kemungkinan

terjadinya

komplikasi pada pasien DM tipe 2.

1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
a. pengaruh konseling terhadap biaya terapi yang diberikan pada pasien DM
tipe 2.
b. manfaat

pemberian

konseling

terhadap

pencegahan

kemungkinan

terjadinya komplikasi pada pasien DM tipe 2.

1.6 Manfaat Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat dalam hal peningkatan mutu
pelayanan pada pasien DM terutama dalam konteks efisiensi biaya terapi.
Pemberian konseling pada pasien DM, jika dilakukan oleh semua pihak yang
berkompeten akan member sumbangan yang besar dalam mengurangi angka
kematian dan meningkatkan kualitas hidup, dengan biaya yang efisien dan
realistis.

 

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTTAKA

2.1 Diabetes Melitus
DM merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan timbulnya
hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin. Hal ini terkait dengan kelainan
pada karbohidrat, metabolism lemak dan protein (Palaian, et al., 2005).
Hiperglikemia kronik dan gangguan metabolik DM lainnya akan menyebabkan
kerusakan jaringan dan organ, seperti mata, ginjal, syaraf, dan system vaskular
(Cavallerano, 2009).

2.1.1 Etiologi
DM dicirikan dengan peningkatan sirkulasi konsentrasi glukosa akibat
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak yang abnormal dan berbagai
komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler. Semua keadaan diabetes
merupakan akibat suplai insulin atau respon jaringan terhadap insulin yang tidak
adekuat (Inzucchi, 2005), ada bukti yang menunjukkan bahwa etiologi DM
bermacam-macam. Meskipun berbagai lesi dan jenis yang berbeda akhirnya akan
mengarah pada insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang
peranan penting pada mayoritas penderita DM. Manifestasi klinis DM terjadi jika
lebih dari 90% sel-sel beta telah rusak. Pada DM yang lebih berat, sel-sel beta

Universitas Sumatera Utara

telah rusak semuanya, sehingga terjadi insulinopenia dan semua kelainan
metabolik yang berkaitan dengan defisiensi insulin (Anonim, 1999).

2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (2008), terbagi 4
bagian yaitu:
a. Diabetes tipe 1
DM tipe 1 (tergantung insulin), DM ini disebabkan kerusakan sekresi
produksi insulin sel-sel beta pankreas, sehingga penurun insulin sangat cepat
sampai akhirnya tidak ada lagi yang disekresi. Oleh karena itu dalam
penatalaksanaannya substitusi insulin tidak dapat dielakkan (disebut diabetes yang
tergantung insulin).
b. Diabetes tipe 2
DM tipe 2 (tak tergantung insulin), adalah DM yang lebih umum,
penderitanya lebih banyak dibandingkan DM tipe 1. Penderita DM tipe 2
mencapai 90-9 % dari keseluruhan populasi penderita diabetes. DM tipe 2 sering
terjadi pada usia di atas 45 tahun, tetapi akhir-akhir ini di kalangan remaja dan
anak-anak populasi penderita DM tipe 2 meningkat. Berbeda dengan DM tipe 1,
pada DM tipe 2 terutama penderita DM tipe 2 pada tahap awal umumnya dapat
dideteksi jumlah insulin yang cukup di dalam darahnya, disamping kadar glukosa
yang juga tinggi. DM tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin,
tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespons insulin

Universitas Sumatera Utara

secara normal. Keadaan ini lazim disebut resistensi insulin. Obesitas atau
kegemukan sering dikaitkan dengan penderita DM tipe 2.

c. Diabetes gestational
DM ini adalah intoleransi glukosa yang mulai timbul atau mulai diketahui
selama pasien hamil. Karena terjadi peningkatan sekresi berbagai hormon disertai
pengaruh metaboliknya terhadap toleransi glukosa, maka kehamilan merupakan
keadaan diabetogenik.
d. Diabetes spesifik
DM ini disebabkan defekasi genetik fungsi sel-sel beta, defekasi genetik
kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, DM karena obat, DM
karena infeksi, DM imunologi dan sindrom genetik.

2.1.3 Gejala dan Diagnosis Diabetes Melitus
Diagnosis DM umumnya dikaitkan dengan adanya gejala khas berupa
poliuria, polidispia, lemas dan berat badan menurun. Gejala lain yang mungkin
dikemukakan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensia pada
pria, serta pruritus vulvae pada pasien wanita. Jika keluhan dan gejala khas,
ditemukan pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis DM. Umumnya hasil pemeriksaan satu kali saja glukosa
darah sewaktu abnormal belum cukup kuat untuk diagnosis klinis DM (Perkeni,
2002). Berikut adalah kriteria penegakan diagnosis DM (Tabel 1.1).
Tabel 1.1 Kriteria penegakan diagnosis

Universitas Sumatera Utara

Glukosa plasma puasa

Glukosa plasma 2 jam
setelah makan

Normal

<100 mg/dl

<140 mg/dl

Pra-diabetes

100-125 mg/dl

-

Diabetes

>126 mg/dl

200 mg/dl

Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi
akut dan kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dapat dibagi menjadi dua
kategori, yaitu :
a. Komplikasi akut
i.

Hipoglikemia, adalah kadar glukosa darah seseorang di bawah
nilai normal (< 50 mg/dl). Gejala umum hipoglikemia adalah
lapar, gemetar, mengeluarkan keringat, berdebar-debar, pusing,
pandangan menjadi gelap, gelisah serta bisa koma. Apabila
tidak segera ditolong akan terjadi kerusakan otak dan akhirnya
kematian. Kadar gula darah yang terlalu rendah menyebabkan
sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak
berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan. Hipoglikemia
lebih sering terjadi pada penderita DM tipe 1 yang dapat
dialami 1-2 kali per minggu, survei yang dilakukan di Inggris
diperkirakan 2-4% kematian pada penderita DM tipe 1
disebabkan oleh serangan hipoglikemia.

ii.

Hiperglikemia, hiperglikemia adalah apabila kadar gula darah
meningkat secara tiba-tiba. Gejala hiperglikemia adalah
poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan yang parah, dan

Universitas Sumatera Utara

pandangan kabur. Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat
berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya,
antara lain ketoasidosis diabetik, Koma Hiperosmoler Non
Ketotik (KHNK) dan kemolakto asidosis. Ketoasidosis diabetik
diartikan tubuh sangat kekurangan insulin dan sifatnya
mendadak. Akibatnya metabolisme tubuh pun berubah.
Kebutuhan tubuh terpenuhi setelah sel lemak pecah dan
membentuk senyawa keton, keton akan terbawa dalam urin dan
dapat dicium baunya saat bernafas. Akibat akhir adalah darah
menjadi asam, jaringan tubuh rusak, tak sadarkan diri dan
mengalami koma. Komplikasi KHNK adalah terjadi dehidrasi
berat, hipertensi, dan syok. Komplikasi ini diartikan suatu
keadaan tubuh tanpa penimbunan lemak, sehingga penderita
tidak menunjukkan pernafasan yang cepat dan dalam,
sedangkan kemolakto asidosis diartikan sebagai suatu keadaan
tubuh dengan asam laktat tidak berubah menjadi karbohidrat.
Akibatnya

kadar

asam

laktat

dalam darah

meningkat

(hiperlaktatemia) dan akhirnya menimbulkan koma.
b. Komplikasi kronis
i.

Komplikasi makrovaskuler, komplikasi makrovaskuler yang
umum berkembang pada penderita DM adalah trombosit otak
(pembekuan darah pada sebagian otak), mengalami penyakit
jantung koroner (PJK), gagal jantung kongetif, dan stroke.
Pencegahan

komplikasi

makrovaskuler

sangat

penting

Universitas Sumatera Utara

dilakukan, maka penderita harus dengan sadar mengatur gaya
hidup termasuk mengupayakan berat badan ideal, diet gizi
seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, dan mengurangi
stress.
ii.

Komplikasi mikrovaskuler, komplikasi mikrovaskuler terutama
terjadi pada penderita DM tipe 1. Hiperglikemia yang persisten
dan pembentukan protein yang terglikasi (termasuk HbA1c)
menyebabkan dinding pembuluh darah semakin lemah dan
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil, seperti
nefropati, diabetik retinopati (kebutaan), neuropati, dan
amputasi (Anonim, 2006).

2.1.4 Penatalaksanaan
Menurut PERKENI terdapat dua macam penatalaksanaan DM, yaitu :
a. Terapi tanpa obat
i.

Pengaturan diet, diet yang baik merupakan kunci keberhasilan
terapi diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan
komposisi seimbang terkait dengan karbohidrat, protein, dan
lemak. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status
gizi, umur, stres akut, dan kegiatan fisik yang pada dasarnya
ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan
ideal.

Penurunan

berat

badan

telah

dibuktikan

dapat

mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respon sel-sel
beta terhadap stimulus glukosa. Dalam salah satu penelitian

Universitas Sumatera Utara

dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dapat mengurangi
kadar HbA1c sebanyak 0,6% dan setiap kilogram penurunan
berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu
harapan hidup. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian di
luar negeri bahwa diet tinggi karbohidrat bentuk kompleks
(bukan disakarida atau monoakarida) dan dalam dosis terbagi
dapat meningkatkan atau memperbaiki pembakaran glukosa di
jaringan perifer dan memperbaiki kepekaan sel beta di
pankreas.
ii.

Olahraga, berolah raga secara teratur akan menurunkan dan
menjaga kadar gula darah tetap normal. Olahraga yang
disarankan adalah yang bersifat Continuous, Rhymical,
Interval, Progressive, Endurance Training dan disesuaikan
dengan kemampuan serta kondisi penderita. Beberapa olahraga
yang disarankan antara lain jalan, lari, bersepeda dan berenang,
dengan latihan ringan teratur setiap hari, dapat memperbaiki
metabolisme glukosa, asam lemak, ketone bodies, dan
merangsang sintesis glikogen.

b. Terapi obat, apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat belum berhasil
mengendalikan kadar glukosa darah penderita, maka perlu dilakukan
langkah berikutnya berupa penatalaksanaan terapi obat. Terapi obat
dapat dilakukan dengan antidiabetik oral, terapi insulin atau kombinasi
keduanya (Anonim, 2006). Pada penatalaksanaan terapi DM tipe 2
terdapat alur agar terapi optimal (Gambar 2.1).

Universitas Sumatera Utara

  Target :
HbA1c ≤ 6,5-7,0%
(Penurunan 0,5-1,0%)
GDS < 110-130 mg/dl
GDPP < 140 – 180
Target tercapai

Awal intervensi
Edukasi/ nutrisi/ olahraga

Monoterapi/ kombinasi
awal sulfonylurea dan atau
metformin

Dicek A1c tiap 3-6

Target tercapai

Target tidak tercapai
setelah 3 bulan

Kombinsi sulfonilurea
Terapi dilanjutkan atau
dicek A1c tiap 3-6 bulan

Targer tercapai

Terapi dilanjutkan dan
di cek: A1c tiap 3-6
bulan

Pilihan monoterapi
lain :
Pioglitazon/
rosiglitazon
Nateglinide
Repaglinide
Akarbose/ insulin
Insulin analog
Kombinasi lain :
Metformin/ sulfonylurea
dengan pioglitazon/
rosiglitazon atau
akarbose/ miglitol
metformin dengan
nateglinide atau
repaginide:insulin/
insulin analog
(monoterapi/ kombinasi)

Targer tercapai setelah 3-6 bulan

Intermediate-acting Insulin atau 1x perhari glargine :
Sebelum pemberian intermediate regular insulin atau
lispro/ aspart mix: tambah 3 kombinasi antidiabetik
oral: atau ganti untuk memisah dosis insulin/ insulin
analog terapi: berkunjung ke endokrinologis

Gambar 2.1. Algoritma penatalaksanaan DM tipe 2 (Dipiro et.,al, 2005)

Sejak ditemukannya insulin pada tahun 1921 oleh Banting dan Best, angka
kematian DM dapat ditekan secara bermakna. Meski pun waktu paruh insulin

Universitas Sumatera Utara

sekitar 7-10 menit, tetapi pemberiannya secara subkutan, intramuskuler, dan
intravena mempunyai tujuan klinik yang berlainan.
American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan beberapa
parameter yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan penatalaksanaan DM
(Tabel 2.1).
Tabel 2.1. Target penatalaksanaan DM
Parameter

Kadar ideal yang diharapkan

Kadar glukosa darah puasa

80-120 mg /dl

Kadar glukosa plasma puasa

90-130 mg/dl

Kadar glukosa darah saat tidur

100-140 mg/dl

Kadar insulin

110-150 mg/dl

Kadar HbA1c

< 7%

Kadar kolesterol HDL

>55 mg/dl (wanita)
> 45 mg/dl (pria)

Kadar trigliserida

<200 mg/dl

2.1.5 Penilaian Pengontrolan Glukosa
Metode yang digunakan untuk menentukan pengontrolan glukosa pada
semua tipe diabetes adalah pengukuran HbA1c. Hemoglobin pada keadaan normal
tidak mengandung glukosa ketika pertama kali keluar dari sumsum tulang (Price,
2002). Pada orang normal, sebagian kecil fraksi hemoglobin akan mengalami
glikosilasi. Artinya glukosa terikat pada hemoglobin melalui proses enzimatik dan
bersifat reversible. Pada pasien DM glikosilasi hemoglobin meningkat secara
proporsional dengan kadar rerata glukosa darah selama 2-3 bulan sebelumnya.

Universitas Sumatera Utara

Bila kadar glukosa darah berada pada kisaran normal antara 70-140 mg%
selama 2-3 bulan terakhir, maka hasil tes HbA1c akan menujukkan nilai normal.
Pemeriksaan HbA1c adalah pemeriksaan tunggal yang sangat akurat untuk menilai
status glikemik jangka panjang (Perkeni, 2009). Pergantian hemoglobin yang
lambat, nilai hemoglobin yang tinggi menunjukkan bahwa kadar glukosa darah
tinggi selama 4-8 minggu. Nilai normal glikat hemoglobin bergantung pada
metode pengukuran yang digunakan, namun berkisar antara 3,5%-5,5% (Tabel
2.2). Pemeriksaan HbA1c sebagai pemeriksaan tunggal yang sangat akurat untuk
menilai status glikemik jangka panjang (Waspadji, 1996).
Tabel 2.2 Kadar glikat hemoglobin pada penderita DM

2.1.6

Normal/Kontrol glukosa

HbA1c (%)

Nilai normal

3,5-5,5%

Kontrol glukosa baik

3,5-6,0

Kontrol glukosa sedang

7,0-8,0

Kontrol glukosa buruk

>8,0

Obat – Obat Diabetes Melitus
a. Antidiabetik oral
Penatalaksanaan pasien DM dilakukan dengan menormalkan kadar gula

darah dan mencegah komplikasi. Lebih khusus lagi dengan menghilangkan gejala,
optimalisasi parameter metabolik, dan mengontrol berat badan. Bagi pasien DM
tipe 1 penggunaan insulin adalah terapi utama. Indikasi antidiabetik oral terutama
ditujukan untuk penanganan pasien DM tipe 2 ringan sampai sedang yang gagal

Universitas Sumatera Utara

dikendalikan dengan pengaturan asupan energi dan karbohidrat serta olah raga.
Obat golongan ini ditambahkan bila setelah 4-8 minggu upaya diet dan olah raga
dilakukan, kadar gula darah tetap di atas 200 mg% dan HbA1c di atas 8%. Jadi
obat ini bukan menggantikan upaya diet, melainkan membantunya. Pemilihan
obat antidiabetik oral yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabetes.
Pemilihan terapi menggunakan antidiabetik oral dapat dilakukan dengan
satu jenis obat atau kombinasi. Pemilihan dan penentuan regimen antidiabetik oral
yang digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit DM serta
kondisi kesehatan pasien secara umum termasuk penyakit-penyakit lain dan
komplikasi yang ada (Anonim, 2005). Dalam hal ini obat hipoglikemik oral
adalah termasuk golongan sulfonilurea, biguanid, inhibitor alfa glukosidase dan
insulin sensitizing.
b. Insulin
Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 pada manusia.
Insulin mengandung 51 asam amino yang tersusun dalam dua rantai yang
dihubungkan dengan jembatan disulfide, terdapat perbedaan asam amino kedua
rantai tersebut (Katjung, 2002). Untuk pasien yang tidak terkontrol dengan diet
atau pemberian hipoglikemik oral, kombinasi insulin dan obat-obat lain bisa
sangat efektif. Insulin kadangkala dijadikan pilihan sementara, misalnya selama
kehamilan. Namun pada pasien DM tipe 2 yang memburuk, penggantian insulin
total menjadi kebutuhan. Insulin merupakan hormon yang mempengaruhi
metabolisme karbohidrat maupun metabolisme protein dan lemak.
Fungsi insulin antara lain menaikkan pengambilan glukosa ke dalam sel–sel
sebagian besar jaringan, menaikkan penguraian glukosa secara oksidatif,

Universitas Sumatera Utara

menaikkan pembentukan glikogen dalam hati dan otot serta mencegah penguraian
glikogen, menstimulasi pembentukan protein dan lemak dari glukosa.

2. 2 Farmakoekonomi
Farmakoekonomi adal

Dokumen yang terkait

Dokumen baru