Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki.

ANALIS
SIS KONFL
LIK SOSIA
AL TOKOH UTAMA
A “BOTCH
HAN” DALAM
NOVEL
L “BOTCHA
YA NATSU
UME SOSE
EKI
AN” KARY
NATSUM
ME SOSEK
KI NO SAK
KUHIN NO
O “BOTCH
HAN” NO SSHOSETSU
U NI
OKE
ERU “BOT
TCHAN” T
TO IU SHU
UJINKO NO
N SAKAIITEKI NA
TAIR
RITSU NO BUNSEKII

SKRIP
PSI
Skripsi ini diajuk
kan kepadaa Panitia Ujjian Progra
am Studi SSastra Jepang
Fak
kultas Ilmu
u Budaya U
Universitas Sumatera Utara Meddan untuk
Melenggkapi Salah
h Satu Syarrat Ujian Sarjana
S
dallam Bidangg Ilmu Sasttra
Jepan
ng

Oleh:
JESSI M
MEGA SIM
MANJUNTAK
NIM. 0607
708038

DEPARTE
EMEN SASTRA JEP
PANG
FAKU
ULTAS ILM
MU BUDAY
YA
UNIVERSI
U
ITAS SUM
MATERA UTARA
U
MEDA
AN
2011
1

1
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah......................................................................................... 6
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ........................................................................... 8
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ............................................................ 9
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................................... 14
1.6 Metode Penelitian ............................................................................................ 15
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL, SOSIOLOGI SASTRA
DAN

KONFLIK SOSIAL

2.1 Defenisi Novel .............................................................................................. 16
2.1.1 Unsur Intrinsik .................................................................................... 18
a. Tema ............................................................................................... 18
b. Penokohan ...................................................................................... 19
c. Alur atau Plot .................................................................................. 21
d. Setting atau Latar............................................................................ 24
1. Setting Tempat ........................................................................... 25
2. Setting Waktu ............................................................................ 25
3. Setting Sosial ............................................................................. 25
2.1.2 Unsur Ekstrinsik ................................................................................. 30
2.1.3 Biografi Pengarang ............................................................................. 30
2.2 Defenisi Sosiologi Sastra ............................................................................. 35

2
Universitas Sumatera Utara

2.3 Interaksi Sosial ........................................................................................... .38
2.4 Konflik Sosial ............................................................................................... 40
BAB III ANALISIS KONFLIK SOSIAL TOKOH UTAMA “BOTCHAN”
DALAM NOVEL BOTCHAN KARYA NATSUME SOSEKI
3.1 Sinopsis Cerita .............................................................................................. 45
3.2 Konflik Sosial yang dialami Botchan ........................................................... 50
3.2.1 Konflik Sosial dengan Murid .............................................................. 50
3.2.2 Konflik Sosial dengan Sesama Guru .................................................. 59
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan .................................................................................................. 76
4.2. Saran ............................................................................................................ 78
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK

3
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut Wellek dan Warren dalam Melani Budianto, (1995:109) sastra
adalah instutusi sosial yang memakai medium bahasa yang “menyajikan
kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra
juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Menurut Teeuw dalam Nyoman
Kutha Ratna, (2005:4), sastra berasal dari akar kata sas (sansekerta) berarti
mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat,
sarana. Jadi secara leksikal berarti kumpulan alat untuk mengajar atau buku
petunjuk atau buku pengajaran yang baik.
Karya sastra berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua macam sifat yaitu,
karya sastra yang bersifat imajinasi (fiksi) dan karya sastra yang bersifat non
imajinasi (non fiksi). Menurut Aminudin (2000:66), sastra fiksi adalah kisahan
atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar
serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi
pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Dengan demikian karya sastra lahir
ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan
refleksi kehidupan manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Sebagai
sebuah karya yang imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia
dan kemanusian, hidup dan kehidupan.
Fiksi

menceritakan

berbagai

masalah

kehidupan

manusia

dalam

interaksinya dengan lingkungan dan seksama, Nurgiyantoro (1995:3). Karya fiksi

4
Universitas Sumatera Utara

lebih lajut masih dapat dibedakan dalam berbagai macam bentuk, baik itu roman,
novel, maupun cerita pendek.
Salah satu bentuk karya fiksi adalah novel. Menurut H. B. Jassin dalam
Suroto, (1989:19) novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang
menceritakan kejadian secara luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh-tokoh
cerita), luar biasa karena dari kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian,
yang mengalihkan jurusan nasib mereka.
Ada dua unsur pokok yang membangun sebuah karya sastra, yaitu unsur
intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur dalam sastra yang ikut
serta membangun karya sastra tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah tema, plot,
latar, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lainlain. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar tubuh karya
sastra itu sendiri yang ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra. Unsur-unsur
tersebut meliputi latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan dan pandangan
hidup pengarang, adat istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik, persoalan
sejarah, ekonomi, pengetahuan agama dan lain-lain yang dapat mempengaruhi
pengarang dalam penulisan karyanya. Novel sebagai salah satu karya sastra fiksi
memiliki kedua unsur tersebut. Salah satu unsur instrinsik yang akan ditelaah
adalah tokoh cerita.
Peristiwa dalam karya sastra fiksi seperti halnya peristiwa dalam
kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu.
Aminudin (2000:79), tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam
cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Novel hanya
menceritakan salah satu kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa yang

5
Universitas Sumatera Utara

mengakibatkan terjadinya perubahan nasib. Tentunya dalam novel tersebut
terdapat beberapa peristiwa kehidupan sang tokoh sehingga ia mengalami
perubahan jalan hidup.
Pada penelitian ini, penulis akan membahas sebuah novel yang berjudul
“Botchan” karya Natsume Soseki. Natsume Soseki merupakan seorang tokoh
terbesar dalam kesusastraaan modern Jepang yang lahir di Tokyo pada tahun
1867. Soseki tidak diragukan lagi sebagai salah seorang pengarang Jepang yang
terbesar. Tidaklah mengherankan kalau karya-karya Soseki sampai sekarangpun
tetap menarik dan tetap popular bagi orang Jepang, sedangkan orang-orang asing
pun berlomba-lomba menerjemahkanya ke dalam bahasanya masing-masing.
Karya Soseki adalah buah tangan pengarang Jepang yang paling banyak
diterjemahkan ke dalam bahasa asing, beberapa diantaranya, seperti Botchan dan
Aku Seekor kucing, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris saja.
Salah satu novel yang telah dihasilkan oleh Natsume Soseki adalah novel
yang berjudul “Botchan”, yang dibuat tahun 1906. Novel ini merupakan novel
satir dan tema utama dari novel ini adalah moralitas. Cerita yang diturturkan
secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang, dan
barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang Modern.
Walaupun novel ini tergolong klasik, namun isinya sangat relevan dengan zaman
modern saat ini karena sarat dengan nilai-nilai moral. Menceritakan kehidupan
seorang pemuda Tokyo bernama “Botchan” yang mempunyai sifat jujur, adil,
idealis, blak-blakan, bertanggung jawab dan teguh pendiriannya, yang pergi ke
desa terpencil untuk menjadi seorang guru. Karena sifat yang dimilikinya

6
Universitas Sumatera Utara

tersebutlah banyak masalah dan konflik yang dialami Botchan dengan orang di
sekitarnya.
Di awal cerita, novel ini menceritakan kehidupan Botchan kecil yang
tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya karena dianggap sebagai
anak yang nakal. Hanya Kiyo sang pelayan tua yang sangat menyayangi Botchan,
ia selalu bisa melihat sisi positif dan kejujuran dari seorang Botchan. Hubungan
Botchan dengan ibu, ayah dan kakaknya tidak pernah baik hingga ayah dan
ibunya pun meninggal dunia.
Lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo, Botchan menerima tawaran
menjadi guru matematika di sekolah menengah pedesaan di Shikoku. Di sinilah
cerita seperti benar-benar dimulai di mana sosok seorang Botchan yang jujur, adil
dan tidak suka kepura-puraan dan blak-blakan dipertemukan dengan dunia nyata
di mana banyak sekali ketidakadilan, kemunafikan, dan kepura-puraan berada.
Semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut, ia terlibat dalam
berbagai konflik dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal
menyangkut tatakrama, status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah
tersebut. Botchan yang sebelumnya tinggal di Tokyo sering terkejut dengan
kebiasaan dan peraturan yang berlaku di sekolah tempat Botchan mengajar seperti
seorang guru dilarang berkunjung dan makan di restoran ramen dan dango.
Awalnya “Botchan” tidak tau akan hal itu dan ia berkunjung dan makan di toko
ramen dan dango. Keesokan harinya ia diejek dan ditertawakan murid-muridnya.
Botchan yang seorang guru baru memberontak terhadap “sistem” yang
selama ini berlaku di sekolah desa tersebut karena ketidakadilannya dan tidak
dapat bersikap tegas terhadap kenakalan siswa. Seperti ketika terjadi insiden ia

7
Universitas Sumatera Utara

dikerjai murid-muridnya yang nakal yang memasukkan belalang ke dalam
futonnya ketika ia tugas malam di sekolah. Tentu saja Botchan marah besar dan
menimbulkan keributan di sekolah karena muridnya tidak mau jujur mengakui
kesalahan. Dan menurutnya kepala sekolah tidak dapat bersikap tegas. Karena
Sifat Botchan yang selalu terus terang dan pemberani sering kali membuat ia
mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam
perjalananya sebagai seorang guru inilah Botchan banyak merasakan keadaankeadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan
sesama guru, masyarakat dan para muridnya. Ternyata tidak mudah menjadi
seorang guru baru di desa terpencil. Botchan dianggap remeh dan tidak sopan oleh
orang-orang disekitarnya karena memiliki sifat jujur, adil dan blak-blakan.
Novel ini juga bercerita tentang perseteruan/konflik terselubung antara
Botchan dan Kepala Guru yang di beri julukan si Kemeja Merah oleh Botchan,
yang dinilai Botchan munafik, licik dan pura-pura baik, sok intelek dan merasa
superior. Ia memanfaatkan jabatannya untuk merebut tunangan orang lain seorang
guru yang lebih rendah jabatannya, dan akhirnya guru tersebut dipindah tugaskan.
Kemeja Merah juga mengadu domba Botchan dengan seorang guru Matematika
senior yang bernama Hotta yang mengakibatkan pertengkaran diantara Botchan
dan guru tersebut. Tetapi Botchan kemudian sadar bahwa ia sedang di adu domba
dan segera berbaikan dengan Hotta. Karena tak betah lagi tinggal lebih lama di
desa terpencil ini, akhirnya ia dan Hotta meninggalkan desa tersebut setelah
sebelumnya memergoki kepala guru dan rekannya yang penjilat seorang guru seni
yang diberi julukan si Badut oleh Botchan berkunjung ke Kagoya (rumah bordil).
Kemudian Hotta dan Botchan melayangkan tinju kepada kepala guru dan

8
Universitas Sumatera Utara

rekannya tersebut. Padahal sebelumnya si kepala guru berkata pergi ke tempattempat hiburan merusak disiplin sebagai seorang guru.
Bagi pembaca di dunia Barat alur cerita novel ini mungkin terasa tipis, dan
mungkin bertanya-tanya mengapa buku ini begitu menarik bagi pembaca Jepang.
Buku ini memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat Jepang. Sebagian dari
daya tarik buku ini dapat ditemui pada sifat ksatria yang diembuskan Botchan dari
suatu kemelut ke kemelut lain. Botchan tumbuh menjadi sosok yang idealis, jujur
dan terkadang bersikap sinis terhadap orang lain. Botchan tidak tunduk pada
seseorang atau suatu norma, ini yang membuatnya dicintai pembaca modern
Jepang sampai sekarang, karena bahkan saat inipun orang Jepang terkungkung
ketatnya tatakrama sosial.
Dari uraian di atas terlihat konflik sosial yang dialami sang tokoh utama
Botchan dalam lingkungan pekerjaanya. Berdasarkan uraian di atas dan setelah
membaca novel tersebut, maka penulis tertarik menulis skripsi yang berjudul
“Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya
Natsume Soseki”.

1.2 Perumusan Masalah
Novel Botchan merupakan novel Natsume Soseki yang sangat terkenal.
Menceritakan tentang kehidupan dan konflik sosial yang dialami tokoh utamanya
yang dipanggil “Botchan” yang berasal dari Tokyo pergi ke Shikoku untuk
mengajar Matematika di Sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang jujur, adil dan
blak-blakan banyak menimbulkan konflik dengan orang-orang disekitar
lingkungan tempat Botchan mengajar di sekolah menengah Matsuyama.

9
Universitas Sumatera Utara

Dalam novel ini diceritakan bahwa setelah lulus dari Sekolah Ilmu Alam
Tokyo, Botchan menerima tawaran menjadi guru matematika di sekolah
menengah pedesaan di Shikoku. Di sinilah konflik seperti benar-benar di mulai di
mana sosok seorang Botchan yang jujur, adil dan tidak suka kepura-puraan
dipertemukan dengan dunia nyata dimana banyak sekali ketidakadilan,
kemunafikan orang-orang yang bermuka dua dan penjilat berada. Dan semenjak
kakinya menginjak daerah baru tersebut, Botchan terlibat dalam berbagai konflik
dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal menyangkut
tatakrama, status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. Kejujuran
serta kepolosan dan sifatnya yang blak-blakan bertolak belakang dengan sebagian
besar orang yang dijumpainya. Mulai dari kepala sekolah, guru-guru dan para
murid. Dia mendapat masalah dengan adanya penipuan, pencemaran nama baik,
hingga perkelahian, semua hal yang menyebabkan dirinya semakin lama semakin
muak dengan kemunafikan serta kepura-puraan yang terjadi di sekelilingnya
Dalam perjalanannya sebagai seorang guru, Botchan banyak merasakan
keadaan-keadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi
dengan sesama guru, masyarakat dan para muridnya. Ketidaksesuain hati terhadap
kondisi yang dihadapinya sehari-hari inilah yang menjadi pembangunan alur
cerita dan konflik dalam novel Botchan. Kejujuran dan keteguhan hati Botchan
serta pesan moral yang ingin di sampaikan penulis dalam cerita inilah yang
membuat novel ini menarik. Botchan betul-betul menampilkan karakter dirinya
sendiri.
Untuk memudahkan arah sasaran yang ingin dikaji, maka masalah
penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

10
Universitas Sumatera Utara

1. Bagaimanakah kondisi sosial dalam novel Botchan karya Natsume
Soseki?
2. Bagaimanakah konflik sosial yang dialami oleh tokoh utama
“Botchan” dalam novel Botchan karya Natsume Soseki?

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Dari permasalahan-permasalahan yang ada maka penulis menganggap
perlu adanya pembatasan ruang lingkup dalam pembahasan. Hal ini dimaksudkan
agar masalah penelitian tidak terlalun luas, sehingga penulisan dapat lebih terarah
dan terfokus.
Dalam analisis ini, penulis hanya akan membatasi ruang lingkup
pembahasan yang difokuskan pada masalah konflik sosial yang dihadapi tokoh
utama “Botchan” dalam novel Botchan. Tokoh Botchan merupakan seorang
pemuda Tokyo yang pergi ke sebuah sekolah desa untuk mengajar Matematika. Ia
mempunyai sifat jujur, adil, idealis, blak-blakan, dan terkadang bersifat sinis
terhadap orang lain yang menimbulkan banyak masalah dan konflik dengan orang
di sekitarnya, khususnya di lingkungan pekerjaanya di sebuah sekolah desa.
Kejujuran dan sifatnya yang blak-blakan sering bertolak belakang dengan
sebagian besar orang yang dijumpainya.
Agar dalam pembahasan novel ini lebih akurat, logis dan terarah, maka
penulis sebelum bab pembahasan menjelaskan lagi tentang defenisi novel, setting
novel Botchan, riwayat hidup Natsume Soseki, dan pengertian dan teori tentang
konflik sosial.

11
Universitas Sumatera Utara

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori
1) Tinjauan Pustaka
Menurut Aminudin (2000:66), sastra fiksi adalah kisahan atau cerita yang
diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan
rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga
menjalin suatu cerita. Dengan demikian karya sastra lahir ditengah-tengah
masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan refleksi kehidupan
manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya.
Menurut Selo Soemarjan dan Soemardi dalam Soekanto, (2000:21)
Sosiologi adalah ilmu yang memepelajari struktur sosial dan proses-proses sosial,
termasuk perubahan-perubahan sosial.
Interaksi sosial menurut Soekanto (2003:61) merupakan hubunganhubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang
perorangan, antara kelompok-kelompok manusia. Interaksi sosial adalah kunci
dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin
ada kehidupan bersama. Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama
(cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk
pertentangan atau pertikaian (conflict).
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling
memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara
dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha
menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya ( http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik). Sedangkan menurut Gillin dan
Gillin konflik konflik adalah bagian dari sebuah proses sosial yang terjadi karena

12
Universitas Sumatera Utara

adanya

perbedaan-perbedaan

fisik,

emosi,

kebudayaan

dan

perilaku.

(http://sosiologi-sosiologixavega.blogspot.com/2010/10/konflik-dan-integrasisosial.html).
Soerjono Soekanto mengemukakan 4 faktor penyebab terjadinya konflik
yaitu :
-

Perbedaan antar individu; merupakan perbedaan yang menyangkut
perasaan, pendirian, atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggan,
dan identitas seseorang. Sebagai contoh anda ingin suasana belajar tenang
tetapi teman anda ingin belajar sambil bernyanyi, karena menurut teman
anda itu sangat mundukung. Kemudian timbul amarah dalam diri anda.
Sehingga terjadi konflik.

-

Perbedaan kebudayaan; kepribadian seseorang dibentuk oleh keluarga dan
masyarakat. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma yang
sama. Apa yang dianggap baik oleh satu masyarakat belum tentu baik oleh
masyarakat lainnya.

-

Perbedaan kepentingan; setiap kelompok maupun individu memiliki
kepentingan yang berbeda pula. Perbedaan kepentingan itu dapat
menimbulkan konflik diantara mereka.

-

Perubahan sosial; perubahan yang terlalu cepat yang terjadi pada suatu
masyarakat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang
berlaku, akibatnya konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian
antara harapan individu dengan masyarakat.
Menurut Wolf dalam Endraswara, (2008:77), sosiologi sastra merupakan

disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefenisikan dengan baik, terdiri dari sejumlah

13
Universitas Sumatera Utara

studi-studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang lebih general, yang
masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya
berurusan dengan hubungan sastra dan masyarakatnya.
Menurut Swingewood dalam Tarihoran, (2009:8), sosiologi sastra dapat
meneliti sekurang-kurangnya melalui tiga perspektif, yaitu:
a. Perspektif Teks Sastra
Artinya peneliti menganalisis sebagai sebuah refleksi kehidupan
masyarakat

dan

sebaliknya.

Teks

biasanya

dipotong-potong

diklasifikasikan, dan dijelaskan makna sosiologisnya.
b. Persefektif Biografis
Yaitu peneliti menganalisis pengarang. Persfektif ini akan berhubungan
dengan life story seorang pengarang dan latar belakang sosialnya.
c. Persfektif Reseptif
Yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.
2) Kerangka Teori
Menurut Altenbernd dan lewis dalam Nurgiyantoro (1995:3), fiksi dapat
diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajiner, namun biasanya masuk akal
dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan
antarmanusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan
pengamatanya terhadap kehidupan. Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan
dibentuk sesuai dengan tujuannya sekaligus memasukan hiburan dan penerangan
terhadap pengalaman kehidupan manusia. Fiksi menceritakan berbagai masalah
kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan seksama.

14
Universitas Sumatera Utara

Dalam menganalisis suatu karya sastra diperlukan suatu pendekatan yang
menjadi acuan bagi penulis dalaam menganalisis karya sastra tersebut. Oleh
karena itu, penulis menggunakan pendekatan sosiologis dan pendekatan semiotika
di dalam menganalisis karya sastra ini. Pendekatan semiotika adalah pendekatan
yang memandang karya sastra sebagai sistem tanda. Hal ini sesuai dengan
pengertian semiotik sebagai ilmu tanda, yang memandang fenomena sosial dan
budaya sebagai sistem tanda, Preminger dalam Wiyatmi, (2009:92). Dengan
menggunakan

pendekatan

semiotika

dalam

menganalisis

penulis

dapat

mengetahui konflik sosial yang dialami tokoh “Botchan” melaui interaksiinteraksi tokoh utama dengan tokoh-tokoh lain dalam lingkungan masyarakatnya,
khususnya lingkungan pekerjaan dalam novel ini melalui dialog atau komunikasi
antar tokoh, dan adanya kontak sosial.
Konflik dalam sebuah karya fiksi sangatlah penting dalam pembentukan
alur cerita. Ada dua elemen yang membangun alur adalah konflik dan klimaks.
Setiap konflik utama selalu bersifat fundamental, membenturkan “sifat-sifat” dan
“kekuatan-kekuatan” tertentu seperti kejujuran dengan kemunafikan, kenaifan
dengan pengalaman atau individualistis dan kemauan beradaptasi, Stanton
(2007:13).

Untuk melihat gambaran kehidupan sosial seseorang individu secara
khusus dan masyarakat pada umumnya di dalam sebuah karya sastra adalah
dengan menggunakan disiplin ilmu yaitu sosiologi sastra. Sosiologi sastra adalah
cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Melihat sastra sebagai cerminan
kehidupan masyarakat. Dengan menggunakan teori sosiologis

penulis dapat

menganalisis bagaimanakah konflik sosial yang dialami tokoh utama terhadap

15
Universitas Sumatera Utara

tokoh lain dalam novel ini. Menurut Soemarjan dan Soemardi dalam Soekanto,
(2000:21) sosiologi adalah ilmu yang memepelajari struktur sosial dan prosesproses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Menurut Gillin and Gillin, konflik adalah bagian dari sebuah proses sosial
yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik, emosi, kebudayaan dan
perilaku. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto konflik adalah suatu proses
sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan
menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan /atau kekerasan dalam
(http://sosiologi-sosiologixavega.blogspot.com/2010/10/konflik-dan-integrasisosial.html .

Menurut Susan Novri (2009:4), manusia adalah makluk konfliktis (homo
conflictus), yaitu makluk yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentangan, dan
persaingan baik sukarela dan terpaksa. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,
konflik berarti pertentangan atau percekcokan. Pertentangan sendiri bisa muncul
ke dalam bentuk pertentangan ide maupun fisik antara dua belah fihak yang
bersebrangan.
Unsur-unsur penunjang terciptanya sebuah karya sastra, khususnya prosa
antara lain tema, penokohan, alur, plot, setting, dan sebagainya. Tokoh dan
penokohan merupakan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif.
Menurut Sayuti dalam Wiyatmi, (2009:30) tokoh adalah para pelaku yang terdapat
dalam sebuah fiksi yang merupakan ciptaan pengarang, meskipun dapat juga
merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata, oleh karena itu
dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara alamiah, dalam arti tokohtokoh itu memiliki ”kehidupan” atau “berciri hidup”, atau memiliki derajat

16
Universitas Sumatera Utara

lifelikeness (kesepertihidupan). Tokoh cerita menempati sebagai posisi yang
strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral atau sesuatu yang
sengaja ingin disampaikan kepada pembaca.

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1) Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka
tujuan penelitian adalah:
1. Untuk mendeskripsikan kondisi sosial novel ”Botchan” karya Natsume
Soseki.
2. Untuk mendeskripsikan konflik sosial yang dihadapi tokoh utama
Botchan melalui interaksi sosial tokoh utama Botchan dengan tokohtokoh lain di dalam novel Botchan.
2) Manfaat penelitan
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi peneliti dan masyarakat umum diharapkan dapat menambah
informasi dan pengetahuan mengenai sosiologis sastra dalam karya
fiksi, khususnya dalam novel “Botchan” karya Natsume Soseki.
2. Menambah wawasan tentang Natsume Soseki sebagai salah seorang
penulis terbesar dalam sejarah kesusastraan Jepang.
3. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa jurusan
Sastra Jepang sebagai referensi analisis karya sastra.

17
Universitas Sumatera Utara

1.6 Metode Penelitian
Dalam melakukan sebuah Penelitian, tentulah dibutuhkan sebuah metode
sebagai penunjang untuk mencapai tujuan. Metode yang digunakan dalam
penelitian sastra ini adalash metode deskriftif. Metode deskriftif digunakan karena
penelitian ini terbatas untuk mengungkapkan pada suatu masalah sebagaimana
adanya sehinnga sekedar mengungkapkan fakta. Koentjaraningrat (1976:30)
mengatakan bahwa penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan
gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, atau kelompok
tertentu.
Dalam mengumpulkan data-data penelitian, penulis menggunakan metode
studi kepustakaan (Library Research) dengan membaca buku-buku yang
berhubungan dengan karya sastra, kritik sastra, dan buku-buku panduan analisis
sosiologis dalam karya sastra serta tambahan literatur tambahan lainnya.
Selain

memanfaatkan

literatur yang berupa buku, penulis juga

memanfaatkan teknologi internet, mengumpulkan data dari berbagai website yang
berhubungan dengan materi penelitian ini.

18
Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL, SOSIOLOGI SASTRA, DAN
KONFLIK SOSIAL
2.1 Defenisi Novel
Istilah prosa fiksi atau cukup disebut karya fiksi, biasa juga diistilahkan
dengan prosa cerita, prosa narasi, narasi, atau cerita berplot. Pengertian prosa fiksi
tersebut adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu
dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak
dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin sebuah cerita. Karya fiksi
lebih lanjut masih dapat dibedakan dalam berbagai macam bentuk, baik itu roman,
novel, novellet, maupun cerpen, Aminudin (2000:66.)
Fiksi

menceritakan

berbagai

masalah

kehidupan

manusia

dalam

interaksinya dengan lingkungan dan sesama. Bentuk karya fiksi yang terkenal saat
ini adalah novel. Sebagai genre sastra termudah, novel ternyata telah banyak
menarik perhatian dan minat banyak kalangan. Novel adalah karya fiksi yang
mengandung nilai-nilai keindahan dan kehidupan. Nilai-nilai keindahan yang
terdapat di dalamnya memberikan kenikmatan bagi pembacanya dan nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya memberikan manfaat.
Di dalam novel diperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan
dengan kehidupan manusia secara utuh. Maksudnya yaitu, di dalam novel
menggambarkan tokoh-tokoh, tentang peristiwa, dan tentang latarnya secara fisik,
seolah-olah dapat di lihat, diraba, serta di dengar. Di samping itu novel juga
menghadirkan pengetahuan-pengetahuan yang terdalam, yang tidak dapat dilihat,
tidak dapat dipegang, tidak dapat di dengar melainkan dirasakan oleh batin yang

19
Universitas Sumatera Utara

semua itu diperoleh secara tersirat dari gambaran tokohnya, dari peristiwanya,
dari tempat yang dilukiskan atau waktu yang disebutkan.
Sesuai dengan pernyataan Abrams dalam Nurgiantoro (1995:4), yaitu
dalam perkembangannya karya fiksi sering dianggap bersinonim dengan novel.
Novel berasal dari bahasa Italia novella. Secara harafiah, novella berarti sebuah
“barang baru yang kecil”, dan kemudian diartikan sebagai “cerita pendek dalam
bentuk prosa”, Abrams dalam Nurgiyantoro, (1994:9). Dewasa ini novella
mengandung pengertian yang sama dengan istilah novelette dalam bahasa Inggris,
yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu
panjang, namun tidak terlalu pendek.
Menurut Jacob Sumardjo (1999:11), novel adalah cerita, dan cerita
digemari manusia sejak kecil. Dan tiap hari manusia senang pada cerita, entah
faktual, untuk gurauan, atau sekedar ilustrasi dalam percakapan. Bahasa novel
juga bahasa denotatif, tingkat kepadatan dan makna gandanya sedikit. Jadi novel
mudah dibaca dan dicernakan. Juga novel kebanyakan mengandung suspense
dalam alur ceritanya, yang gampang menimbulkan sikap penasaran bagi
pembacanya.
Menurut H.B. Jassin dalam Suroto ( 1989:19), mengatakan bahwa novel
adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian
secara luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita), luar biasa karena dari
kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian yang mengalihkan jurusan
nasib mereka. Wujud novel adalah konsentrasi, pemusatan, kehidupan dalam satu
saat, dalam satu krisis yang menentukan. Dengan demikian, novel hanya

20
Universitas Sumatera Utara

menceritakan salah satu segi kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa
yang mengakibatkan perubahan nasib.

2.1.1. Unsur Intrinsik Novel
a. Tema
Menurut Stanton dan Kenny dalam Nurgiantoro (1995:67), tema (theme)
adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Namun ada banyak makna
yang dikandung dan ditawarkan oleh sebuah cerita (novel) itu, maka masalahnya
adalah makna khusus yang mana dapat dinyatakan sebagai tema itu. Dengan
demikian, untuk menemukan tema sebuah karya fiksi, ia haruslah disimpulkan
dari keseluruhan isi cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita.
Tema, walau sulit ditentukan secara pasti, ia bukanlah makna yang
disembunyikan, walau belum tentu juga dilukiskan sacara eksplisit.
Tema, dengan demikian, dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan
dasar umum, sebuah karya novel. Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah
ditentukan

sebelumnya

oleh

pengarang

yang

dipergunakanya

untuk

mengembangkan cerita. Pengarang memilih dan mengangkat berbagai masalah
hidup dan kehidupan itu menjadi tema ke dalam karya fiksi sesuai dengan
pengalaman, pengamatan, dan aksi-interaksinya dengan lingkungan. Tema sebuah
karya sastra selalu berkaitan dengan

kehidupan. Melalui karyanya itulah

pengarang menawarkan makna tertentu kehidupan, mengajak pembaca untuk
melihat, merasakan dan menghayati makna kehidupan tersebut dengan cara
memandang permasalahan itu sebagaimana ia memandangnya.

21
Universitas Sumatera Utara

Brooks dalam Aminuddin (2000:92) mengungkapkan bahwa dalam
mengapresiasi tema suatu cerita, apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas
karena tema sebenarnya merupakan pendalaman dan hasil kontemplasi pengarang
yang berkaitan dengan masalah kemanusian serta masalah lain yang bersifat
universal.
Tema yang ingin diangkat oleh pengarang dalam cerita novel Botchan
adalah moralitas. Menceritakan kehidupan tokoh utama yang bernama Botchan
yang pergi dari Tokyo ke pedalaman Shikoku untuk menjadi seorang guru
matematika di sebuah sekolah menengah Matsuyama. Karena sifat jujur, blakblakan, dan anti ketidakadilan yang dimilikinya, Botchan banyak mengalami
pertentangan dan konflik dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya,
khususnya di lingkungan sekolah tempat Botchan mengajar. Botchan terlibat
konflik dengan rekan sesama guru yang dinilai Botchan munafik dan pura-pura
baik dan juga murid-muridnya yang nakal menyangkut tatakrama, status sosial
dan peraturan yang berlaku di sekolah tempat Botchan mengajar.

b. Penokohan
Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang
berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita
disebut tokoh inti atau tokoh utama. Sedangkan tokoh yang memiliki peranan
tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung
pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu.
Sayuti dalam Wiyatmi (2009:31), tokoh di sebut tokoh utama (sentral)
apabila memenuhi tiga syarat:

22
Universitas Sumatera Utara

1. Paling terlibat dengan makna atau tema.
2. Paling banyak berhubungan dengan tokoh lain.
3. Paling banyak memerlukan waktu penceritaan,
Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan
dibicarakan pengarangnya, sedangkan tokoh tambahan hanya dibicarakan ala
kadarnya (Aminuddin, 2000:80).
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Botchan terbagi dalam tokoh
utama dan tokoh tambahan/pembantu. Natsume Soseki menggambarkan tokoh
utama berprofesi sebagai seorang guru matematika muda yang berasal dari Tokyo
yang pergi ke sebuah sekolah menengah di daerah terpencil untuk mengajar.
Punya sifat idealis, jujur, adil, dan blak-blakan yang bernama Botchan yang
banyak mengalami konflik sosial dengan orang-orang di sekitarnya, khusnya di
lingkungan pekerjaan tempat Botchan mengajar. Sedangkan tokoh-tokoh
tambahan yaitu Kepala Sekolah yang dijuluki ‘Tanuki’ (sejenis Rakun) oleh
Botchan yang menurutnya tidak dapat bersifat tegas terhadap kenakalan para
murid, ‘Kepala Guru’ yang jabatannya di bawah Kepala Sekolah yang dijuluki
Botchan Kemeja Merah (karena selalu memakai kemeja berwarna merah setiap
hari) yang mempunyai sifat licik dan pura-pura baik, Hotta seorang guru
matematika senior yang merupakan sahabat Botchan, guru seni yang bernama
Yoshikawa, yang dijuluki oleh Botchan si ‘Badut’ karena sifatnya yang penjilat,
Koga seorang guru Bahasa Inggris yang memiliki sifat baik, yang tunangannya
direbut oleh Kepala Guru dan di transfer ke daerah yang sangat terpencil, muridmurid yang menurut Botchan nakal, Kiyo yang merupakan hamba Botchan, orang
tua Botchan, kakak laki-laki Botchan, serta tokoh-tokoh lainnya.

23
Universitas Sumatera Utara

c. Alur atau Plot
Pengertian alur dalam karya fiksi pada umumnya adalah rangkaian cerita
yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang
dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Tahapan peristiwa yang menjalin
suatu cerita bisa berbentuk dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam,
Aminuddin (2000:83).
Dalam cerita fiksi urutan peristiwa dapat beraneka ragam. Montage dan
Henshaw dalam Aminudin (2000:84), menjelaskan bahwa tahapan peristiwa
dalam plot suatu cerita dapat tersusun dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
-

Exposition : Tahap awal yang berisi penjelasan tentang tempat
terjadinya peristiwa serta perkenalan dari setiap pelaku yang
mendukung cerita.

-

Inciting Force: Tahap ketika timbul kekuatan, kehendak maupun
perilaku yang bertentangan dari pelaku.

-

Rising Action: Situasi panas karena pelaku-pelaku dalam cerita mulai
berkonflik.

-

Crisis : Situasi semakin panas dan para pelaku sudah diberi gambaran
nasib oleh para pengarangnya.

-

Climax: Situasi puncak ketika konflik berada dalam kadar yang paling
tinggi hingga para pelaku itu mendapatkan kadar nasibnya sendiri.

-

Falling Action : Kadar konflik sudah menurun sehingga ketegangan
dalm cerita sudah mulai mereda sampai menuju conclusions atau
penyelesaian cerita.

24
Universitas Sumatera Utara

Dalam novel “Botchan”, tahapan peristiwa dalam alur suatu cerita juga
tersusun dalam tahapan yang dinyatakan oleh Montage dan Henshaw, yaitu dalam
tahapan:
-

Exposition: Di dalam novel Botchan, pada awal cerita dijelaskan
kehidupan tokoh Botchan di dalam keluarga, kemudian lulusnya tokoh
Utama Botchan dari Sekolah tinggi ilmu alam Tokyo. Ia menerima
pekerjaan sebagai seorang guru matematika di sebuah sekolah
menengah Matsuyama di pedalaman Shikoku. Kemudian menjelaskan
pelaku lain yang mendukung cerita seperti kepala sekolah yang
dijuluki Tanuki oleh Botchan, kepala guru yang dijuluki Botchan si
Kemeja Merah, Hotta seorang guru Matematika senior, guru seni yang
dijuluki Botchan si Badut, Koga guru bahasa inggris, dan murid-murid
di sekolah tempat Botchan mengajar.

-

Inciting Force: Dalam tahap ini di dalam novel Botchan digambarkan
keadaan hari pertama Botchan mulai mengajar dimana salah satu
muridnya memberikan soal matematika yang mustahil untuk
dipecahkan. Kemudian Botchan berkata aku tidak bisa menjawab
pertanyaan itu sekarang, tapi aku akan berusaha memecahkanya lain
kali. Hal itu langsung menimbulkan cemooh dari murid-muridnya.

-

Rising action: Dalam tahapan ini digambarkan di mana ketika tokoh
Botchan mendapat giliran untuk tugas malam, murid-muridnya yang
nakal mengerjainya dengan cara memasukan belalang ke dalam futonnya. Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan besar bagi Botchan
dan di tambah lagi murid-murinya tidak mau jujur mengakui kesalahan

25
Universitas Sumatera Utara

yang diperbuat. Kepala sekolah juga tidak dapat bersikap tegas
terhadap kenakalan para murid. Botchan berkata “pendisiplinan
macam apa ini?”.
-

Crisis: Dalam tahapan ini di dalam novel Botchan digambarkan tokoh
Botchan menolak kenaikan gaji yang ditawarkan oleh kepala guru
(Kemeja Merah). Kemeja Merah dengan licik memanfaatkan
jabatannya untuk mentransfer Koga seorang guru bahasa inggris
dengan maksud merebut tunangannya Koga. Kemeja merah berkata
bahwa sekolah punya uang lebih karena kepindahan Koga dan
menawarkan kenaikan gaji kepada Botchan. Hal ini tentu saja di
tentang Botchan. Botchan berkata “aku bukanlah manusia berhati
kejam yang tanpa malu mengambil gaji orang yang ditransfer di luar
kemauanya”.

-

Climax: Dalam tahapan ini di dalam novel Botchan digambarkan
dimana tokoh Botchan dan tokoh Hotta memergoki Kepala guru dan
rekannya yang penjilat guru seni yang dijuluki Botchan si Badut
berkunjung ke Kadoya (rumah bordil). Padahal sebelumya kepala guru
berkata seorang guru akan merusak disiplin bila pergi ke tokoh mi dan
dango. Hotta dan Botchan pun melayangkan tinju kepada kepala guru
dan si guru seni, yang mereka anggap sebagai keadilan.

-

Falling Action: dalam tahapan ini di dalam novel Botchan
digambarkan di mana Tokoh Botchan yang tidak betah lagi untuk
tinggal di desa tempatnya mengajar, kemudian menulis surat
pengunduran diri kepada kepala sekolah. Ia kembali ke Tokyo dan

26
Universitas Sumatera Utara

hidup bersama pengasuhnya Kiyo. Botchan berkata akupun begitu
bahagia, ”aku takkan pernah ke pedesaan lagi”. Botchan mendapat
pekerjaan sebagai asisten mekanik di Tokyo Tramcar Company.

c. Setting
Lattar atau setting yang disebut juga sebagi landas tumpu, menyaran pada
pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya
peristiwa-peristiwa yang diceritakan, Abrams dalam Nurgiyantoro (1995:216).
Latar memberikan pijakan cerita secara konkrit dan jelas. Hal ini penting
untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana pada
dalam cerita seolah-olah sungguh-sungguh ada terjadi. Pembaca dengan demikian
merasa dipermudah dalam menggunakan daya imajinasinya. Disamping itu juga
berperan secara kritis sehubungan dengan pengetahuan tentang latar. Latar
berfungsi sebagai pendukung alur dan perwatakan. Gambaran situasi yang tepat
akan membantu memperjelas peristiwa yang digambarkan. Untuk dapat
melukiskan latar yang tepat pengarang harus mempunyai pengetahuan yang
memadai tentang keadaan atau waktu yang akan digambarkanya.
Nurgiyantoro (1995:227), mengungkapkan bahwa unsur latar dapat
dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur
itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat
dibicarakan secara sendiri, pada kenyataanya saling berkaitan dan saling
mempengaruhi satu sama lainnya.

27
Universitas Sumatera Utara

1. Latar Tempat.
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan
dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa
tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu
tanpa nama jelas. Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah
mencerminkan, atau tidak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat
yang bersangkutan. Diskripsi tempat secara mendetail, spesifik dan realistis
penting untuk memberI kesan kepada pembaca seolah-olah situasi yang dilukiskan
sungguh-sungguh terjadi di tempat yang di ceritakan itu. Latar atau setting tempat
dalam Novel Botchan adalah di sebuah sekolah menengah Matsuyama di
pedalaman Shikoku.
2. Latar Waktu.
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang dicerikan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut
biasanya dihubungkan dengan waktu faktual. Latar waktu dalam cerita Botchan
digambarkan sekitar tahun 1895 yaitu pada zaman Meiji.
3. Latar Sosial.
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku
kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya sastra.
Hal-hal sosial ini menyangkut tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup
berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, dapat berupa kebiasaan
hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir, bersikap
dan lai-lain. Di samping itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial
tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah atau atas.
28
Universitas Sumatera Utara

Dalam Masyrakat Jepang dalam hal bersikap, terutama dalam berinteraksi
dan berkomunik dikenal istilah “honne” dan “tatamae”. Honne adalah sikap yang
berhubungan dengan isi hati atau perasaan yang sebenarnya, sedangkan tatamae
adalah sikap atau tindakan yang tampak dari luar. Honne dan Tatamae telah
menjadi kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang dan bagi masyarakat Jepang
dua hal ini sangat penting dalam menjaga wa (harmoni, kedamaian dan
keselarasan) dan hubungan harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Untuk
menjaga wa tetap hidup, masyarakat Jepang berusaha untuk tidak terlalu terbuka
dalam mengekspresikan keinginan dan pendapat pribadinya. Mengorbankan
kepentingan dan pendapat pribadi untuk menciptakan wa. Selain itu
mengungkapakan perasaan dan keinginan secara langsung bisa menyakiti perasan
orang

lain,

yang

dapat

berakhir

pada

pertengkaran

(www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126761-RB08P38b...Analisis.pdf).
Honne adalah isi hati atau perasan seseorang yang sebenarnya. Seseorang
hanya akan menunjukkan honne pada orang-orang yang di dekatnya saja. Jika
dikaitkan dengan pola uchi dan soto seseorang hanya akan memperlihatkan
honne-nya pada seseorang dalam uchi. Walaupun begitu seseorang masuk ke
dalam sebuah kelompok atau uchi lalu tidak dapat langsung membuka diri begitu
saja. Sikap seperti ini hanya akan menyebabkan orang yang bersangkutan
dianggap tidak sopan oleh anggota atau uchi tersebut. Bagi orang Jepang
keterbukaan

tidak

akan

diungkapakan

secara

terang-terangan

harus

mempertimbangkan keadaan orang lain atau mitra wicara, karena ia harus
memahami perasaan orang lain agar tidak merasa teringgung. Dengan demikian
individu Jepang adalah orang yang menjaga keharmonisan dengan orang lain.

29
Universitas Sumatera Utara

Orang Jepang tidak bisa berkata tidak. Dalam menyampaikan pendapat,
mereka lebih mengutamakan konteks, tidak menyatakannya secara terbuka.
Masyarakat Jepang pada umumnya menghindari konfrontasi dan kritik terbuka
secara langsung. Menurut masyarakat jepang, konflik dan konfrotasi secara serius
dapat

dapat

memutuskan

hubungan

yang

harmonis.

(http://rainhardkun.blogspot.com/2008/09/giri-ninjo-honne-tatemae-dan-wa
dalam.html.
Pada umumnya satu pembicaraan merupakan Khotbah sepihak, gaya
komunikasi “saya setuju sepenuhnya”, yang tidak memungkinkan timbulnya
pandangan yang bertentangan. Contohnya, secara khusus pihak yang muda setiapa
kali akan mengambil langkah menghindarkan konfrontasi terbuka dengan
atasannya. Usaha seperti itu menyebabkan bentuk-bentuk sangkalan jarang
dipergunakan dalam pembicaraan: orang akan lebih suka diam daripada
mengucapkan kata-kata seperti “tidak” atau “saya tidak setuju”. Akar dari usaha
menghindarkan terungkapanya penyangkalan terbuka dan sungguh-sungguh itu
akan merusak keselarasan sehingga menyakitkan perasaan orang yang lebih tinggi
statusnya dan dalam lingkungan ekstrem hal itu dapat menimbulkan risiko
terbuang dari kelompok sebagai anggota yang tidak dikehendaki, Nakane
(44:1981).
Di Jepang terdapat jaminan yang sungguh-sungguh bahwa pelanggaran
akan diperbaiki kalau itu berupa tindakan-tindakan yang diperkenankan oleh pola
tingkah laku yang berlaku. Orang dapat mengandalakan pola itu dan akan selamat
jika menaatinya. Seseorang menunjukan keberanian dan integritasnya kalau

30
Universitas Sumatera Utara

bertindak sesuai dengaan pola itu, bukan kalau ia berusaha mengubah atau
melawan pola itu, Benedict (1982:77).
Keberadaan Honne dan Tatamae ini juga terungkap melalui tokoh Botchan
dalam novel Botchan karya Natsume Soseki. Karena tokoh Botchan yang selalu
bersifat terbuka, terus-terang dan blak-blakan dalam mengungkapkan perasaan
dan pendapat pribadi/Honne-nya terhadap orang-orang di lingkungan sekitarnya
khususnya di lingkungan tempat Botchan mengajar menimbulkan ketidaksukaan
dari orang-orang di sekitarnya yang berujung pada terjadinya konflik.
Selain Honne dan Tatamae yang terungkap dalam novel ini, penulis juga
akan menjelaskan tentang Latar sosial yang ada di dalam novel Botchan. Novel
Botchan mengisahkan ‘pemberontakan’ seorang guru muda yang bernama
‘Botchan’, terhadap “sistem” di sebuah sekolah menengah pedesaan di pedalaman
Shikoku. Sosok seorang Botchan yang jujur, adil dan blak-blakan di pertemukan
dengan dunia nyata di mana

banyak sekali kemunafikan, ketidakadilan dan

kepuraaan-kepuraan terjadi di lingukungan sekitarnya. Semenjak kakinya
menginjak daerah baru tersebut, ia terlibat dalam berbagai konflik dan masalah
dengan rekannya sesama guru yang pura-pura baik dan penjilat, serta muridmuridnya yang nakal menyangkut tatakrama, status sosial dan peraturan yang
berlaku di sekolah tersebut. Botchan yang sebelumnya tinggal di Tokyo sering
terkejut dengan kebiasaan dan peraturan yang berlaku di sekolah tempat Botchan
mengajar seperti seorang guru dilarang berkunjung dan makan di restoran ramen
dan dango. Awalnya “Botchan” tidak tau akan hal itu dan ia berkunjung dan
makan di toko ramen dan dango. Keesokan harinya ia diejek dan ditertawakan
murid-muridnya.

31
Universitas Sumatera Utara

Sifat Botchan yang selalu terus terang seringkali membuat dia mengalami
kesulitan dalam berinteraksi. Kejujuran, anti ketidakadilan dan sifatnya yang blakblakan bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya.
Botchan tidak saja menerima pertentangan dari rekannya sesama guru tapi juga
murid-muridnya. Dia tidak sungkan menegur dan bicara blak-blakan kepada
murid-muridnya yang nakal dan juga kepada rekan-rekan sesama guru. Botchan
tidak peduli bagaimana pandangan sosial masyarakat sekitarnya pada dirinya dan
tetap mempertahankan prinsip-prinsip hidup yang dipegangnya.
Dalam perjalananya sebagai seorang guru, Botchan merasakan keadaankeadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan
masyarakat di tempat Botchan mengajar, khususunya rekan sesama guru, dan
murid-muridnya yang nakal yang suka mengerjai Botchan. Ketidaksesuaian hati
terhadap kondisi yang dihadapinya sehari-hari inilah yang menjadi pembangunan
alur cerita dan konflik di dalam novel Botchan.
Maka hanya dalam waktu singkat, Botchan sudah terlibat konflik/masalah
dengan adanya penipuan

yang dilakukan oleh Kemeja Merah yang seorang

kepala guru yang punya sifat licik dan pura-pura baik dan rekannya yang bernama
Yoshikawa seorang guru seni yang dijuluki Botchan si “Badut” karena punya sifat
penjilat, pencemaran nama baik, hingga perkelahian dengan murid-murid maupun
rekan- rekannya sesama guru. Semua hal yang menyebabkan dirinya semakin
lama semakin muak dengan kemunafikan serta kepura-puraan yang terjadi di
sekelilingnya. Kesempitan dan kemunafikan orang-orang di lingkungan di sekitar
membuat Botchan tidak betah tinggal, akhirnya Botchan pun meninggalkan
sekolah tempatnya mengajar dan kembali lagi ke Tokyo.

32
Universitas Sumatera Utara

2.1.2. Unsur Ekstrinsik Novel

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu
sendiri yang ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra. Unsur ini meliputi latar
belakang penciptaan, sejarah, biografi pengarang, dan lain-lain, di luar unsur
intrinsik. Perhatian terhadap unsur- unsur ini akan membantu keakuratan
penafsiran isi suatu karya sastra.

Berbicara tentang