Perbandingan pola kuman endotracheal aspirate pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan

PERBANDINGAN POLA KUMAN ENDOTRACHEAL ASPIRATE PADA PENDERITA YANG MENGGUNAKAN VENTILATOR SETELAH 48 JAM
DENGAN CARA BRONKOSKOPI SERAT OPTIK LENTUR DAN SELANG KATETER DI UNIT PERAWATAN INTENSIF RSU. H. ADAM MALIK MEDAN TESIS Oleh INDRA BUANA
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010
Universitas Sumatera Utara

PERBANDINGAN POLA KUMAN ENDOTRACHEAL ASPIRATE PADA PENDERITA YANG MENGGUNAKAN VENTILATOR SETELAH 48 JAM
DENGAN CARA BRONKOSKOPI SERAT OPTIK LENTUR DAN SELANG KATETER DI UNIT PERAWATAN INTENSIF RSU. H. ADAM MALIK MEDAN
TESIS
Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Pendidikan Spesialisasi di Bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ RSU. H. Adam Malik Medan
Oleh INDRA BUANA
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010
Universitas Sumatera Utara

LEMBARAN PERSETUJUAN

Judul Tesis Nama

: Perbandingan pola kuman endotracheal aspirate pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan
: Indra Buana

Program Studi : Program Pendidikan Dokter Spesialis I Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi

Menyetujui

Pembimbing I

Pembimbing II

dr. Fajrinur Syarani, SpP(K) NIP.19640531.199002.2.001

dr. Noni Novisari Soeroso, SpP NIP.19781120.200501.2.002

Koordinator Penelitian Departemen Pulmonologi & Kedokteran Respirasi

Ketua Program Studi Departemen Pulmonologi & Kedokteran Respirasi

Ketua Departemen Departemen Pulmonologi & Kedokteran Respirasi

Prof. dr.Tamsil S, SpP(K) Soeroso,SpP(K)

dr.H.Hilaluddin S,SpP(K), DTM&H Prof.dr.H.Luhur

Universitas Sumatera Utara

Nip.19521101.198003.1.005 Nip. 19451007.197302.1.002
TESIS

Nip. 19440715.197402.1.001

PPDS DEPARTEMEN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RUMAH SAKIT UMUM HAJI ADAM MALIK MEDAN

Judul Tesis
Nama Peneliti Nip Fakultas Program Studi
Jangka Waktu Lokasi Penelitian
Pembimbing

: Perbandingan pola kuman endotracheal aspirate pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan.
: Indra Buana
: 140 363 336
: Kedokteran Universitas Sumatera Utara
: Program Pendidikan Dokter Spesialis I Departemen
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi : 3 (tiga) bulan
: Unit Perawatan Intensif RSU. H. Adam Malik Medan
: 1. Dr. Fajrinur Syarani, Sp.P (K)
2. Dr. Noni Novisari Soeroso, Sp.P

Universitas Sumatera Utara

  

PERNYATAAN

Judul Tesis :

Perbandingan Pola Kuman Endotracheal Aspirate Pada

Penderita Yang Menggunakan Ventilator Setelah 48 Jam

Dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik Lentur Dan Selang

Kateter Di

Unit Perawatan Intensif RSU. H. Adam Malik

Medan

Dengan ini menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yang menyatakan Peneliti
Universitas Sumatera Utara

Telah di uji pada : Tanggal: 12 September 2010

Indra Buana

Panitia Penguji Tesis

Ketua

: dr. Hilaluddin Sembiring, Sp.P (K), DTM&H

Sekretaris : dr. Pantas Hasibuan, Sp.P (K) Onk

Anggota : Prof. dr. H. Luhur Soeroso, Sp.P (K)

: dr. Zainuddin Amir, Sp.P (K)

: dr. Pandiaman Pandia, Sp.P (K)

: dr. Amira Permatasari Tarigan, Sp.P

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Objektif : Untuk mengetahui pola kuman endotracheal aspirate penderita dewasa lakilaki dan perempuan yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan.
Metode : Penelitian secara Cross Sectional dan dipilih secara non random consecutive. Penelitian ini dilakukan di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan pada bulan Mei – Juli 2010. Sampel sebanyak 23 penderita, Penderita yang memenuhi kriteria kemudian dilakukan tindakan pengambilan endotracheal aspirate secara aseptik menggunakan selang kateter yang steril dengan mesin alat penghisap, dan kemudian dilakukan pengambilan secara aseptik dengan menggunakan bronkoskopi serat optik lentur yang sudah disterilkan menggunakan Orthophthaldehyde (Cidex OPA) selama 20 menit. Sampel yang didapat dilakukan pemeriksaan BTA Direct Smear, kultur bakteri, jamur dan uji kepekaan di laboratorium Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik Medan.
Hasil : Pada pemeriksaan mikroorganisme yang didapat dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter didapatkan pola kuman yang paling banyak adalah Citrobacter diversus 17,4% (n. 4), Citrobacter freundii 13,1% (n.3), Acinetobacter sp (n.2), Klebsiella pneumonia 3,4% (n.1) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 26,1% (n.6), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur didapatkan pola kuman yang paling banyak adalah Klebsiella pneumonia 21,7% (n.5), Citrobacter diversus 17,4% (n.4), Citrobacter freundii 17,4% (n.4), Enterobacter cloacae 17,4% (n.4) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 8,7% (n.2). Pada uji kepekaan bakteri dari endotracheal aspirate terhadap antibiotik yang diambil dengan cara selang kateter didapat mikroorganisme yang paling banyak sensitif terhadap antibiotik seperti Meropenem 58,8% (n.10), Cefoperazone/Sulbactam 52,9% (n.9), Levofloxacin 47,1% (n.8), Amikacin 41,2% (n.7), dan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur didapati mikroorganisme yang paling sensitif terhadap antibiotik seperti Meropenem 52,4% (11), Cefoperazone/Sulbactam 47,6% (n.10), Amikacin 42,9% (n.9), Levofloxacin 33,3% (n.7).
Kesimpulan : Pada penelitian ini ditemukan jumlah kuman tidak berbeda bermakna dari
endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dan bronkoskopi serat optik lentur.
Kata kunci : Pola kuman, pneumonia nosokomial, ventilator-associated pneumonia, endotracheal aspirate, bronchoalveolar lavage.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Bismillahirramanirrahiim Assalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang, karena atas berkat rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan akhir ini dengan judul “Perbandingan pola kuman endotracheal aspirate pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan” Tulisan ini merupakan tugas akhir yang merupakan syarat dalam penyelesaian pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK-USU/SMF Paru RSU. H. Adam Malik Medan. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam karya tulis ini, namun penulis berharap semoga karya tulis ini bermamfaat dalam penatalaksanaan pemberian antibiotik di unit perawatan intensif. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak baik dari guru-guru yang penulis hormati, teman sejawat asisten di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU, paramedis dan nonmedis serta dorongan dari pihak
Universitas Sumatera Utara

keluarga. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Yang terhormat Prof. dr. H. Luhur Soeroso, Sp.P(K) sebagai Ketua Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK-USU/SMF Paru RSU. H. Adam Malik, yang tiada henti-hentinya memberikan bimbingan ilmu pengetahuan, senantiasa menanamkan disiplin, ketelitian dan perilaku yang baik serta pola berpikir dan bertindak ilmiah, yang mana hal tersebut sangat berguna bagi penulis untuk masa yang akan datang.
Yang terhormat dr. Pandiaman Pandia, Sp.P(K) sebagai Sekretaris Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK-USU/SMF Paru RSU. H. Adam Malik Medan yang telah banyak memberi penulis saran dan nasehat yang bermanfaat dalam penyelesaian pendidikan penulis.
Yang terhormat dr. Hilaluddin Sembiring, DTM&H, Sp.P(K), sebagai Ketua Program Studi Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK-USU/SMF Paru RSU. H. Adam Malik Medan yang tiada jemunya berupaya menanamkan disiplin, ketelitian, berpikir dan berwawasan ilmiah serta selalu mendorong penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.
Yang terhormat dr. Pantas Hasibuan Sp.P(K)Onk sebagai Sekretaris Program Studi Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK-USU/SMF Paru RSU. H. Adam Malik Medan yang banyak memberikan motivasi dan saran serta nasehat yang bermamfaat sehingga saya dapat menyelesaikan tulisan ini.
Universitas Sumatera Utara

Yang terhormat Prof. dr. Tamsil Syafiuddin, Sp.P(K) sebagai Koordinator Penelitian Ilmiah di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUSU/SMF Paru RSU. H. Adam Malik Medan dan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) cabang Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan masukan dalam penyempurnaan tulisan ini.
Yang terhormat dr. H. Zainuddin Amir, Sp.P(K), sebagai TK-PPDS yang telah banyak memberikan dorongan dan nasehat yang sangat berguna dalam menjalani masa pendidikan yang bermanfaat bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan.
Yang terhomat dr. Fajrinur Syarani, Sp.P(K), sebagai Pembimbing penulis dalam tulisan akhir ini yang telah banyak memberi bimbingan, bantuan teknis, masukan dan dorongan moril serta penyempurnaan penelitian bagi penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini.
Yang terhormat dr. Noni Novisari Soeroso, Sp.P, sebagai Pembimbing penulis dalam tulisan akhir ini yang dengan penuh kesabaran dalam memberi bimbingan, bantuan teknis, masukan dan dorongan moril serta penyempurnaan penelitian bagi penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini.
Yang terhormat Drs. Abdul Djalil Amri Arma. M.Kes, sebagai Pembimbing statistik penulis yang telah banyak memberikan bantuan serta membuka wawasan penulis dalam bidang statistik.
Penghargaan dan rasa terimakasih tak lupa penulis sampaikan kepada yang terhormat dr. Widi Rahardjo, Sp.P, dr. Usman, Sp.P, dr. Parluhutan Siagian, Sp.P, dr. Amira Permatasari Tarigan, Sp.P, dr. Bintang YM. Sinaga, Sp.P dan
Universitas Sumatera Utara

dr. Setia Putra Tarigan, Sp.P yang telah banyak memberikan bantuan, masukan dan pengarahan selama penulis menjalani pendidikan ini.
Ucapan terimakasih dan penghargaan kepada yang terhormat Dekan Fakultas Kedokteran USU Medan, Direktur RSU. H. Adam Malik Medan, Direktur RS. PTPN II Tembakau Deli Medan, Direktur RS. Materna Medan, Ketua Departemen Anestesiologi dan Reanimasi FK-USU/RSU H. Adam Malik Medan, Ketua Departemen Mikrobiologi FK-USU/RSU H. Adam Malik Medan, Ketua Departemen Kardiologi FK-USU/RSU H. Adam Malik Medan, Ketua Departemen Radiologi FK-USU/RSU H. Adam Malik Medan, Ketua Departemen Patologi Anatomi FK-USU/RSU H. Adam Malik Medan, Kepala Instalasi Perawatan Intensif RSU H. Adam Malik Medan yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan kepada penulis selama menjalani pendidikan dan penelitian ini.
Penulis mengucapakan terimakasih kepada teman sejawat peserta Program Studi Pendidikan Spesialisasi Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, teman sejawat peserta Program Studi Pendidikan Spesialisasi Anestesiologi dan Reanimasi, pegawai Tata Usaha / Paramedis Poliklinik / Pegawai ruang bronkoskopi / Ruang Inap Paru /Paramedis Unit Perawatan Intensif RSU. H. Adam Malik Medan, atas bantuan dan kerja sama yang baik selama menjalani pendidikan dan penelitian ini.
Dengan rasa hormat dan terimakasih yang tiada terbalas penulis sampaikan kepada yang terhormat Ayahanda H. Amir Husin Tanjung dan Ibunda Hj. Rosminah Yacob tercinta, yang tiada henti-hentinya memberikan kasih sayang dari semenjak kecil hingga saat ini, dukungan dan motivasi dalam menjalankan pendidikan serta berkat doa
Universitas Sumatera Utara

dan restu beliau maka penulis dapat menyelesaikan pendidikan spesialisasi ini. Dan terimakasih serta rasa hormat saya kepada Ayahanda dan Ibunda mertua Maysafly dan Murniwati Wallad atas doa restu dan dukungan serta dorongan selama menjalani pendidikan ini.
Kepada istriku tercinta Conie Mayteria Wilda dan anakku tersayang Syifa Azzahra Buana Putri dan Fakhry Ramadhan Buana Putra yang selalu setia dalam suka dan duka, memberi dukungan, cinta kasih serta banyak pengorbanan selama ini, penulis ucapkan terimakasih dan penghargaan atas semuanya.
Akhirnya pada kesempatan ini penulis menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas segala kekhilafan, kesalahan maupun kekurangan yang telah penulis perbuat selama ini. Semoga segala ilmu, keterampilan, pembinaan yang penulis dapatkan selama ini bermanfaat bagi semuanya dan tetap dalam Ridho Allah SWT.
Medan, 30 Agustus 2010 Penulis
Indra Buana
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan ............................................................................................................ i

Abstrak ................................................................................................................................

v

Kata Pengantar .................................................................................................................... vi

Daftar Isi ............................................................................................................................. xi

Daftar Singkatan .................................................................................................................

xv

Daftar Tabel ........................................................................................................................ ............................................................................................................................................. xvi

Daftar Gambar .................................................................................................................... ............................................................................................................................................. xviii

Daftar Lampiran.................................................................................................................. ............................................................................................................................................. xix                                        

BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang.................... ................................................................................... 1

1.2. Perumusan Masalah ............................................................................................... 8

1.3. Hipotesis ...............................................................................................................

9

1.4. Tujuan Penelitian ................................................................................................... 9

1.4.1. Tujuan Umum ........................................................................................................ 9

1.4.2. Tujuan Khusus ....................................................................................................... 9

Universitas Sumatera Utara

1.5. Manfaat Penelitian ................................................................................................. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 2.1. Pneumonia Nosokomial ......................................................................................... 2.1.1. Rumah Sakit........................................................................................................... 2.1.2. Unit Perawatan Intensif.......................................................................................... 2.2. Teknik Bronkoskopi Serat Optik Lentur................................................................ 2.3. Teknik Selang Kateter............................................................................................ 2.4. Definisi................................................................................................................... 2.5. Epidemiologi.......................................................................................................... 2.6. Etiologi................................................................................................................... 2.7. Patogenesis............................................................................................................. 2.8. Faktor Risiko dan Prediposisi Timbulnya VAP..................................................... 2.8.1. Faktor Risiko VAP................................................................................................. 2.8.2. Prediposisi Timbulnya VAP .................................................................................. 2.9. Menegakkan Diagnosis.......................................................................................... 2.9.1. Manifestasi Klinis .................................................................................................. 2.9.2. Gambaran Radiologis............................................................................................. 2.9.3. Pemeriksaan Mikrobiologi..................................................................................... 2.10. Penatalaksanaan ..................................................................................................... 2.10.1. Rekomendasi Terapi Antibiotik............................................................................. 2.11. Pencegahan ...........................................................................................................

10 11 11 12 13 14 16 17 18 19 22 24 24 24 25 25 26 27 29 31 35

Universitas Sumatera Utara

2.12. Kerangka Konseptual............................................................................................. BAB 3. MANAJEMEN PENELITIAN ......................................................................... 3.1. Desain .................................................................................................................... 3.2. Tempat dan Waktu................................................................................................. 3.3. Populasi dan Sampel .............................................................................................. 3.3.1. Populasi.................................................................................................................. 3.3.1.1. Populasi terjangkau................................................................................................ 3.3.2. Sampel.................................................................................................................... 3.4. Perkiraan Besar Sampel ......................................................................................... 3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ................................................................................. 3.5.1. Kriteria inklusi ....................................................................................................... 3.5.2. Kriteria eksklusi ..................................................................................................... 3.6. Cara Kerja .............................................................................................................. 3.6.1. Kerangka Operasional............................................................................................ 3.7. Identifikasi Variabel............................................................................................... 3.7.1. Variabel bebas........................................................................................................ 3.7.2. Variabel terikat....................................................................................................... 3.8. Definisi Operasional .............................................................................................. 3.9. Bahan dan Alat....................................................................................................... 3.10. Manajemen dan Analisis Data ............................................................................... 3.10.1. Sumber data ...........................................................................................................

37 38 38 38 38 38 38 39 39 40 40 40 40 42 43 43 43 43 44 44 44

Universitas Sumatera Utara

3.10.2. Metode pengumpulan data.....................................................................................

3.10.3. Pengolahan data .....................................................................................................

3.10.4. Analisa data............................................................................................................

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ...........................................................................

4.1. Hasil Penelitian ......................................................................................................

4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian...............................................................................

4.1.2. Pemberian Antibiotik Saat Masuk UPI ..................................................................

4.1.3.

Mikroorganisme yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate pada Penderita yang Menggunakan Ventilator setelah 48 jam dengan Cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik Lentur .........................................................................

4.1.4. Uji Kepekaan Bakteri Terhadap Antibiotik ...........................................................

4.2. Pembahasan Penelitian...........................................................................................

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................

5.1. Kesimpulan ............................................................................................................

5.2 Saran ......................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................

45 45 45 46 46 46 48
49 52 58 64 64 65 66

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN

UPI HAP VAP IPI BSOL FOB EA PSB BAL PTC RSU CPIS MDR ARDS COPD MRSA ETT ESBL Op. VP ICH EDHT

: Unit Perawatan Intensif : Hospital Acquired Pneumonia : Ventilator Associated Pneumonia : Instalasi Perawatan Intensif : Bronkoskopi Serat Optik Lentur : Fiber Optic Bronchoscopy : Endotracheal aspirate : Protected Specimen Brush : Bronchoaveolar Lavage : Plugged Telescoping Catheter : Rumah Sakit Umum : Clinical Pulmonary Infection Score : Multi Drug Resistance : Acute Respiratory dystress Syndrom : Chronic Obstructive Pulmonary Disease : Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus : Endotracheal Tube : Extended Spectrum β-lactamase : Operation Ventricel Peritoneal : Intra Cranial Haemorragic : Epidural Haematom Temporal

Universitas Sumatera Utara

SDH PPOK SC GGA PJK

: Sub Dural Haemorragic : Penyakit Paru Obstruktif Kronik : Sectio Caesaria : Gagal Ginjal Akut : Penyakit Jantung Koroner

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Etiologi VAP dengan menggunakan bronkoskopi pada 24 penelitian (total 2490 kuman patogen) ............................................................. .........

21

Tabel 2. Faktor-faktor risiko berkaitan dengan VAP di beberapa penelitian analisis multivariat............................................................................. .........

24

Tabal 3. Clinical Pulmonary Infection Score .................................................. ......... 26

Tabel 4. Pebandingan sensitiviti dan spesivisiti EA, PSB dan BAL untuk diagnosis VAP .................................................................................. .........

29

Tabel 5 Terapi. antibiotik empiris inisial pada penderita dengan tidak diketahui faktor risiko pada multidrug resisten patogen dan onset awal hospital- acquired pneumonia pada semua infeksi berat dan bukan infeksi yang lain ......... 32

Tabel 6. Terapi antibiotik empiris inisial pada penderita dengan faktor risiko pada multidrug resisten patogen onset awal dan lambat VAP pada semua infeksi berat................................................................................................... .........

23

Tabel 7. Dosis inisial intravena terapi antibiotik empiris untuk penderita dewasa dengan onset penyakit lanjut atau faktor risiko untuk MDR......................... ......... 34

Tabel 8. Strategi non farmakologi ................................................................... ......... Tabel 9. Strategi farmakologi ......................................................................... .........
Tabel 10. Karateristik Penderita Berdasarkan Umur .................................... ......... Tabel 11. Karateristik Penderita Berdasarkan Jenis Kelamin........................ ......... Tabel 12. Karakteristik Penderita Berdasarkan Diagnosis............................. ......... Tabel 13. Pemberian Antibiotik saat di UPI ................................................... .........

35 36
47 47 48 49

Universitas Sumatera Utara

Tabel 14. Pola Kuman yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate setelah 48 jam Menggunakan Ventilator dengan Cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik lentur........................................................................... .........

50

Tabel 15. Pola Jamur yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate pada penderita yang

menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan Cara Selang Kateter dan

Bronkoskop Serat Optik lentur ..................................................... .........

51

Tabel 16. Hasil Pemeriksaan BTA Direct Smaer dari Endotracheal Aspirate Pada Penderita yang Menggunakan Ventilator Setelah 48 jam dengan cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik Lentur............ .........

51

Tabel 17. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Citrobacter Frundii, Staphylococcus Epidermidis, Pseudomonas Aeroginosa yang diambil dengan Cara Selang Kateter................................... .........

53

Tabel 18. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Acinetobacter sp, Klebsiella Pneumonia, Citrobacter Diversus yang diambil dengan Cara Selang Kateter.............................................................................. .........

53

Tabel 19. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Staphylococcus Aurius,

Klebsiella Ozaenae, Enterobacter Agglomerans yang diambil dengan Cara

Selang Kateter.............................................................................. .........

54

Tabel 20. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Enterobacter Cloacae,

Citrobacter Amalonaticus yang diambil dengan Cara Selang Kateter ..

54

Tabel 21. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Citrobacter Freundii, Pseudomonas Aeroginosa, Acinetobacter sp yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optk Lentur .................................................... .........

55

Tabel 22. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Klebsiella Pneumonia,

Citrobacter Diversus yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik

Lentur ........................................................................................... .........

55

Tabel 23. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Enterobacter Cloacae, Citrobacter Amalonaticus yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik Lentur.................................................................................. .........

56

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bronkoskopi Serat Optik Lentur ...................................................................... Gambar 2. Selang Kateter Penghisap (Suction)................................................................. Gambar 3. Skema Patogenesis VAP ................................................................................ Gambar 4. Strategi Manajemen untuk Penderita dengan sangkaan HAP/VAP ................
Gambar 5. Antibiotik yang Sensitif Terhadap Mikroorganisme Endotracheal Aspirate yang diambil dengan Cara Selang Kateter.....................................................
Gambar 6. Antibiotik yang Sensitif Terhadap Mikroorganisme Endotracheal Aspirate yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik Lentur ..........................
Gambar 7. Antibiotik yang Resisten Terhadap Mikroorganisme Endotracheal Aspirate yang diambil dengan Cara Selang Kateter ......................................................
Gambar 8. Antibiotik yang Resisten Terhadap Mikroorganisme Endotracheal Aspirate yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik Lentur ..........................

14 17 23 30
56
57
57
58

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Persetujuan Komite Etik Penelitian Bidang Kesehatan Lampiran 2. Lembaran Penjelasan Kepada Keluarga Calon SubJek Penelitian Lampiran 3. Persetujuan Kesediaan Sebagai Subjek Penelitian Lampiran 4. Status Pemeriksaan Lampiran 5. Daftar Riwayat Hidup Lampiran 6. Rekapitulasi Data Induk
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Objektif : Untuk mengetahui pola kuman endotracheal aspirate penderita dewasa lakilaki dan perempuan yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan.
Metode : Penelitian secara Cross Sectional dan dipilih secara non random consecutive. Penelitian ini dilakukan di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan pada bulan Mei – Juli 2010. Sampel sebanyak 23 penderita, Penderita yang memenuhi kriteria kemudian dilakukan tindakan pengambilan endotracheal aspirate secara aseptik menggunakan selang kateter yang steril dengan mesin alat penghisap, dan kemudian dilakukan pengambilan secara aseptik dengan menggunakan bronkoskopi serat optik lentur yang sudah disterilkan menggunakan Orthophthaldehyde (Cidex OPA) selama 20 menit. Sampel yang didapat dilakukan pemeriksaan BTA Direct Smear, kultur bakteri, jamur dan uji kepekaan di laboratorium Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik Medan.
Hasil : Pada pemeriksaan mikroorganisme yang didapat dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter didapatkan pola kuman yang paling banyak adalah Citrobacter diversus 17,4% (n. 4), Citrobacter freundii 13,1% (n.3), Acinetobacter sp (n.2), Klebsiella pneumonia 3,4% (n.1) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 26,1% (n.6), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur didapatkan pola kuman yang paling banyak adalah Klebsiella pneumonia 21,7% (n.5), Citrobacter diversus 17,4% (n.4), Citrobacter freundii 17,4% (n.4), Enterobacter cloacae 17,4% (n.4) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 8,7% (n.2). Pada uji kepekaan bakteri dari endotracheal aspirate terhadap antibiotik yang diambil dengan cara selang kateter didapat mikroorganisme yang paling banyak sensitif terhadap antibiotik seperti Meropenem 58,8% (n.10), Cefoperazone/Sulbactam 52,9% (n.9), Levofloxacin 47,1% (n.8), Amikacin 41,2% (n.7), dan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur didapati mikroorganisme yang paling sensitif terhadap antibiotik seperti Meropenem 52,4% (11), Cefoperazone/Sulbactam 47,6% (n.10), Amikacin 42,9% (n.9), Levofloxacin 33,3% (n.7).
Kesimpulan : Pada penelitian ini ditemukan jumlah kuman tidak berbeda bermakna dari
endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dan bronkoskopi serat optik lentur.
Kata kunci : Pola kuman, pneumonia nosokomial, ventilator-associated pneumonia, endotracheal aspirate, bronchoalveolar lavage.
Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Infeksi terkait dengan perawatan kesehatan melalui pemasangan alat-alat medis yang invasif di Instalasi Perawatan Intensif merupakan salah satu faktor penting yang mengancam pemulihan penderita selama perawatan kesehatan berlangsung. Penderita - penderita ini mempunyai risiko yang tinggi untuk mendapatkan infeksi nosokomial. Pada umumnya penderita di Instalasi Perawatan Intensif memiliki risiko berupa penyakit yang mendasarinya serta gangguan imun, sehingga pemasangan alat invasif berlama-lama dapat mempermudah penderita untuk mendapatkan infeksi nosokomial.1
Penjamu normal dikolonisasi oleh bakteri yang tidak menyebabkan penyakit. Suatu infeksi muncul saat mikroorganisme menyebabkan gangguan kesehatan. Hal ini dapat terjadi akibat adanya invasi mikroorganisme pada permukaan mukosa. Organisme yang mampu menyebabkan infeksi disebut patogen, sedangkan organisme yang merupakan flora normal disebut komensal.2
Kolonisasi orofaringeal oleh bakteri gram-negatif enterik terjadi pada sebagian besar penderita di rumah sakit karena imobilisasi, penurunan kesadaran, intrumentasi, kebersihan rongga mulut, atau inhibisi sekresi asam lambung oleh obat-obatan.3
Universitas Sumatera Utara

Kolonisasi trakea yaitu terdapatnya mikroorganisme dari kultur yang diperoleh dari sampel trakea yang pada awalnya tidak terdapat tanda-tanda proses infeksi saluran napas. Proses Kolonisasi di trakea terjadi selama 24 jam pertama saat penggunaan ventilasi mekanik yang didefinisikan sebagai fase awal. Sedangkan kolonisasi terjadi setelah 24 jam setelah penggunaan ventilasi mekanik tanpa dijumpai sebelumnya didefinisikan sebagai kolonisasi primer. Isolasi dari mikroorganisme yang sama di trakea dan lambung atau trakea dan orofaring dianggap terjadi bersamaan. Kolonisasi sekunder dianggap bila mikroorganisme yang diisolasi di trakea yang sebelumnya telah ada diisolasi di lambung atau orofaring. Mikroorganisme tersebut mempunyai antibiotipe yang sama dan dianggap jenis yang sama. Mikroorganisme itu dikelompokkan menurut gram positif (Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae, Enterococus spp, Streptococcus viridans, Corynebacterium spp), dan basil gram negatif (Enterobacter aerogenes, Escheria coli, Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis).4
Kolonisasi bakteri pada jalan napas merupakan hal yang sangat potensial pada penderita-penderita yang terpasang endotracheal tube (ETT). Dan ini sangat berisiko untuk terjadinya infeksi secara nosokomial. Infeksi yang paling sering adalah ventilator associated pneumonia yaitu pneumonia yang timbul lebih dari 48-72 jam setelah intubasi (pemasangan ventilator).5
Kerusakan jaringan yang langsung disebabkan cidera atau endotoksin asal mikroba melepas mediator seperti prostaglandin dan leukotrin yang meningkatkan permeabilitas vaskular. Sel mast dapat diaktifkan jaringan rusak dan mikroba melalui komplemen (jalur alternatif atau klasik) dan komplek IgE-alergen atau neuropeptida. Mediator inflamasi yang dilepas menimbulkan vasodilatasi. Endotoksin mikroba mengaktifkan makrofag untuk melepas TNF-α dan IL-1 yang memacu vasodilatasi. Mediator-mediator tersebut mengendorkan sel-sel
Universitas Sumatera Utara

endotel, meningkatkan adhesi neutrofil dan migrasi sel-sel ke jaringan sekitar untuk memakan mikroba. Fibronogen yang mengandung cairan, antibodi dan sebagainya dikeluarkan untuk melindungi daerah yang rusak selama terjadi perbaikan jaringan.6

Pemeriksaan bakteriologi dari infeksi paru terhadap penderita yang di intubasi masih kontroversi. Kesulitan dijumpai dalam diagnosis laboratorium mikrobiologi untuk membedakan organisme yang menyebabkan infeksi dan kolonisasi flora.7

Pengambilan sampel saluran napas bawah dapat dilakukan dengan metode non invasif dan invasif. Metode non invasif yang paling sering dilakukan adalah endotracheal aspirate (EA) sedangkan protected specimen brush (PSB) dan bronchoalveolar lavage (BAL) merupakan metode invasif.8,9 Endotracheal aspirate (EA) digunakan sebagai diagnostik pada penderita dengan menggunakan pipa endotrakea yang dicurigai terjadi infeksi saluran napas bawah dan parenkim paru. Sampel sputum yang mengandung jumlah leukosit yang banyak menunjukkan akurasi dari hasil mikrobiologi walaupun pada sputum ini dijumpai juga organisme non patogen, dan dengan kultur sputum ini dapat membedakan kuman yang patogen dan yang non patogen.8

Desinfektan tingkat tinggi bronkoskopi serat optik lentur berupa Ortho-phthalaldehyde

(Cidex OPA) merupakan produk baru yang disetujui oleh FDA dan sudah digunakan di seluruh

negara untuk endoskopi.

Ortho-phthalaldehyde mengandung 0,55% 1,2-

benzenedicaeboxaldehyde dan mempunyai keuntungan dibandingan dengan glutaraldehyde.

Ortho-phthalaldehyde diperkenalkan sebagai Cidex OPA pada akhir tahun 1999. Berdasarkan

penelitian di berbagai rumah sakit, Cidex OPA dapat membunuh seluruh mikroorganisme termasuk bakteri, jamur dan parasit yang berasal dari endoskopi.10,11

Bronchoalveolar lavage (BAL) bertujuan untuk mengambil spesimen yang terletak pada ujung saluran napas (bronkial terminalis dan alveoli). Setelah dipelajari seluruh percabangan bronkus kanan dan kiri, ujung bronkoskop ditujukan ke salah satu segmen lobus medius

Universitas Sumatera Utara

(kanan) atau lingula (kiri) dan kemudian cairan garam fisiologi 0,9% dengan suhu 37 0C diinstalasikan sebanyak 20-50 ml kemudian dengan hati-hati cairan tersebut dihisap kembali dan di ulangi tindakan tersebut sampai cairan sebanyak 100-300 ml. Sampel yang didapat dilakukan pemeriksaan mikrobiologi.12
Pada penelitian pola bakteri yang diisolasi dari penderita infeksi saluran napas bawah dan pola kepekaannya terhadap antibiotik yang dilakukan di bagian mikrobiologi FK-UI tahun 2000, hasilnya menunjukkan bahwa bakteri yang di isolasi adalah gram negatif. Banyak bakteri yang resisten terhadap golongan Penisilin dan Aminoglikosida, dan terhadap golongan Sefalosporin serta Kuinolon.13
Vincent dan kawan-kawan melaporkan prevalensi infeksi di unit perawatan intensif sekitar 20,6% dari 10038 penderita pada 1417 unit perawatan intensif di Eropa tahun 1992. Pneumonia paling banyak dijumpai pada infeksi nosokomial (46,9%), diikuti oleh infeksi saluran napas bawah (17,8%) dan saluran kemih (17,6%) serta infeksi septikemia (12%).14
Pneumonia nosokomial atau hospital-acquired pneumonia (HAP) adalah pneumonia yang didapat di rumah sakit menduduki peringkat ke -2 sebagai infeksi nosokomial di Amerika Serikat. Pneumonia nosokomial terjadi 5-10 kasus per 1000 penderita yang masuk ke rumah sakit dan menjadi lebih tinggi 6-20x pada penderita yang memakai alat bantu napas mekanis. Angka kematian pada pneumonia nosokomial 20-50%. Angka kematian penderita pada pneumonia yang dirawat di instalasi perawatan intensif (IPI) meningkat 3-10x dibandingkan penderita tanpa pneumonia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa lama perawatan meningkat 2-3x dibandingkan penderita tanpa pneumonia, hal ini tentu akan meningkatkan biaya perawatan di rumah sakit.15
Angka kejadian pneumonia nosokomial di Jepang adalah 5-10 per 1000 kasus yang dirawat. Lebih kurang 10% penderita yang dirawat di IPI akan berkembang menjadi pneumonia
Universitas Sumatera Utara

dan angka kejadian pneumonia nosokomial pada penderita yang menggunakan alat bantu napas meningkat sebesar 20-30%.15
Pada tahun 1989, Fagon menemukan insiden VAP di unit perawatan intensif sebanyak 8,6% dengan menggunakan teknik bronkoskopi untuk membantu mendiagnosis VAP dan pada tahun 1997, Kollef menemukan insiden VAP di unit perawatan intensif sebanyak 14,8% dengan menggunakan teknik bronkoskopi untuk membantu mendiagnosis VAP.16
Beberapa penelitian memberikan hasil yang bervariasi tentang kuman penyebab VAP dengan teknik bronkoskopi pada 24 penelitian (total 2490 kuman patogen), yaitu: Pseudomonas aeruginosa 24,4%, Staphylococcus aureus 20,4%, Enterobacteriaceae 14,1%, Haemophilus species 9,8%, Streptococcus species 8,0%, Acinetobacter species 7,9%, Streptococcus pneumonia 4,1%, Neisseria species 2,6%, Stenotrophomonas maltophilia 1,7%, Coagulasenegative staphylococci 1,4%, Anaerob 0,9%, Jamur 0,9%, lain-lain 3,8%.17
Rahbar M dan kawan-kawan pada tahun 2002 melakukan penelitian di unit perawatan intensif rumah sakit Milat Teheran selama empat bulan terhadap 249 penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dan dilakukan endotracheal aspirate didapatkan kuman dominan adalah Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter species, sedangkan gram positif yang dominan adalah Staphylococcus aureus.18
Edy J pada tahun 2007 melakukan penelitian di UPI RSU. H. Adam Malik Medan terhadap 30 penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dan dilakukan endotracheal aspirate dengan memakai selang kateter didapati kuman Klebsiella pneumoniae 36,7%, Klebsiella oxytoea 10%, Escherichia coli 10%, Pseudomonas aeruginosa 10%, Staphylococcus aureus 10%, Proteus mirabilis 3,3%, Streptococcus alfa 3,3%, Jamur 3,3%, Polimikrobial 6,7%, dan tidak tumbuh 3,3%.19
Universitas Sumatera Utara

Schwartz dan kawan-kawan pada tahun 1998 mengkritik identifikasi agen terkotaminasi pada endotracheal aspirate yang sederhana. Pada sisi lain, Papazian dan kawan-kawan pada tahun 1991 serta Wu dan kawan-kawan pada tahun 2000, hasil akhir suatu penelitian perbandingan kultur kuantitatif dari sekresi trakea dengan teknik endotracheal aspirate yang sederhana dan bronkoskopi, mempertunjukkan suatu korelasi yang baik diantara dua prosedur pada identifikasi agen.20,21

Suwarni A dalam penelitian deskriptif di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0,0% hingga 12,06%, dengan rata-rata keseluruhan 4,26%. Untuk rata-rata perawatan berkisar antara 4,3-11,2 hari, dengan rata-rata keseluruhan 6,7 hari. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman di lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial.22

Ewig dan kawan-kawan, menyimpulkan bahwa pemberian terapi antibiotik empiris harus disesuaikan dengan data kuman patogen penyebab VAP di lokasi setempat karena kecendrungan terjadinya resistensi obat. Pemberian antibiotik yang tidak adekuat dapat menyebabkan kegagalan terapi akibat resistensi terhadap obat.23

Berdasarkan latar belakang diatas dan perlunya terapi antibiotik yang tepat dan cepat,

maka diperlukan informasi pola kuman dan

uji senstiviti pada penderita yang

menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan menggunakan teknik penggambilan sampel

yang tepat, berdasarkan itu peneliti ingin melakukan penelitian tentang perbandingan pola

kuman endotracheal aspirate pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam

dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU.

H. Adam Malik Medan.

Universitas Sumatera Utara

1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka perlu diteliti terhadap pola kuman
endotracheal aspirate pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif (UPI) RSU. H. Adam Malik Medan.
1.3. Hipotesis Tidak ada perbedaan pola kuman endotracheal aspirate pada penderita yang
menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan.
1.4. Tujuan Penelitian 1.4.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui jumlah kuman yang di dapat dari endotracheal aspirate penderita dewasa laki-laki dan perempuan yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan. 1.4.2. Tujuan khusus
1. Untuk mendapatkan informasi tentang jumlah koloni dan identifikasi dari isolasi kuman endotracheal aspirate penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU.H. Adam Malik Medan.
Universitas Sumatera Utara

2. Dengan mengetahui identifikasi kuman lebih awal, maka dapat diberikan antibiotik yang sensitif terhadap kuman yang didapat, sehingga tepat guna dan tepat manfaat.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Untuk mendapatkan pola kuman yang tidak terkotaminan rongga mulut.

dari kuman-kuman

2. Dapat memberikan antibiotik lebih awal kepada penderita yang sesuai dengan pola kuman dan uji sensitiviti.

3. Selang kateter dapat dipakai untuk mendapatkan pola kuman endotracheal aspirate dan uji sensitiviti, bila tidak terdapat sarana bronkoskopi serat optik lentur.

4. Penelitian ini dapat memberikan sumbangsih ilmu untuk penelitian selanjutnya.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pneumonia Nosokomial Infeksi nosokomial atau disebut juga infeksi rumah sakit, adalah infeksi yang
terjadi di rumah sakit oleh kuman yang berasal dari rumah sakit.24 Infeksi yang terjadi dan diperoleh penderita selama dirawat di rumah sakit yang disebut infeksi nosokomial, telah menjadi masalah yang besar di pelayanan penderita di rumah sakit di seluruh dunia, juga di Indonesia. Karena pentingnya masalah ini, maka semua rumah sakit harus dilengkapi fasilitas laboratorium yang bertanggung jawab mendukung aktifitas yang berhubungan pada surveilans, kontrol dan pencegahan infeksi nasokomial.25
Mikroba atau bakteri adalah organisme hidup yang berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, untuk melihatnya diperlukan alat mikroskop cahaya. Berjuta-juta bakteri hidup di sekitar lingkungan manusia namun sebagian bakteri ini tidak berbahaya bagi manusia, bahkan beberapa bakteri hidup dalam tubuh manusia berperan penting melindungi tubuh dari serangan organisme luar dan juga berperan dalam proses membantu pencernaan, membuat vitamin yang diperlukan oleh tubuh, kelompok bakteri ini dinamakan flora normal. Namun ada sebagian bakteri lain yang bersifat patogen artinya bakteri ini dapat menimbulkan penyakit infeksi bahkan penyebab infeksi yang serius pada manusia dan bakteri inilah yang perlu mendapatkan perhatian kita di bidang kesehatan. Untuk menghambat dan menghentikan perkembangan biakan bakteri yang patogen ini diperlukan antibiotik/antimikroba.26
Universitas Sumatera Utara

Pemilihan antibiotik empiris dapat dibantu dengan pemeriksaan pewarnaan sampel dari saluran napas untuk memandu terapi. Pewarnaan Gram dilakukan pada sampel protected specimen brush, bronchoalvolar lavage, atau endotracheal aspirate. Keterbatasannya adalah sampel tersebut memelukan pemeriksaan invasif. Kualitas sampel saluran napas bawah penting untuk penilaian mikro-organisme yang berperan sebagai etiologi HAP. Adanya sel epitel >1% pada sampel saluran bronkus menunjukkan kontaminasi dari orofaring. Telah disepakati bahwa pada penanganan VAP, pemeriksaan mikrobiologi bermanfaat dan bila ditemukan kuman intrasel dan pewarnaan Gram yang positif sangat membantu untuk pemilihan antibiotik empiris yang akan diberikan. Untuk membantu menentukan apakah suatu mikro-oraganisme merupakan kolonisasi atau penyebab infeksi, perlu dilakukan pemeriksaan kultur kuatitatif, baik dengan colony-forming unit (CFU)/ml atau semi-kuantitatif dengan penilaian pertumbuhan kuman.27 2.1.1.Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini penderita mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. Rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan, juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit seperti : udara, air, lantai, makanan, dan benda-benda medis maupun non medis.22
Infeksi nosokomial merupakan ancaman yang besar untuk keselamatan nyawa penderita di rumah sakit. Diperkirakan pada tahun 2002 terdapat 1,7 juta penderita
Universitas Sumatera Utara

pneumonia nosokomial atau setiap 4,5 per 100 kasus rawat inap, dengan 99000 kasus

kematian yang disebabkan atau dihubungkan dengan infeksi nosokomial sebagai

penyebab kematian nomor enam di Amerika, data yang sama dengan di Eropa. Biaya

kesehatan di Amerika Serikat yang dikeluarkan adalah pertahunnya.28

5-10 miliar dolar

2.1.2. Unit Perawatan Intensif

Unit perawatan intensif adalah suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah

sakit memiliki staf khusus, peralatan khusus yang ditujukan untuk menanggulangi

penderita gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi-komplikasi. Infeksi

nosokomial dan kematian di unit perawatan intensif prevalensinya lebih tinggi dibanding

tempat lainnya di rumah sakit. Penyakit yang mendasari, gangguan mekanisme

pertahanan tubuh, alat invasif, pengobatan imunosupresif, penggunaan antibiotik, dan

kolonisasi dengan kuman yang resisten, menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi nosokomial.29

2.2. Teknik Bronkoskopi Serat Optik Lentur
Bronkoskopi serat optik lentur (BSOL) juga dikenal sebagai Fiber Optic Bronchoscopy (FOB), sangat membantu dalam menegakkan diagnosis pada kelainan yang dijumpai di paruparu dan berkembang sebagai suatu prosedur diagnostik invasif paru.30,31
FOB berupa tabung tipis panjang dengan diameter 5-6 mm, me

Dokumen yang terkait

Kadar Carcinoembryonic Antigen (CEA) pada penderita kanker paru yang mendapat kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan

0 85 103

Perbandingan Kenyamanan Pasien yang Dilakukan Bronkoskopi Serat Optik Lentur dengan Anastesi Lokal Secara Spray dan Nebul di RSUP H. Adam Malik Medan

2 69 106

Profil penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional di RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2008-2011

0 30 79

Perbandingan pola kuman endotracheal aspirate pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan

1 60 107

Hubungan waktu, durasi, dan intensitas hiperglikemia dengan lama rawatan dan mortalitas pada pasien anak dengan penyakit kritis di unit perawatan intensif

4 58 68

Karakteristik penderita kanker serviks yang dirawat inap di RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2009.

0 55 58

Efektifitas pelatihan perawatan kolostomi terhadap perilaku orang tua yang memiliki anak dengan kolostomi di RB2 anak RSUP H. Adam Malik Medan

7 77 76

Hubungan keteraturan berobat dengan konversi dahak penderita tb paru kasus baru setelah pengobatan fase intensif

0 1 47

Kadar Carcinoembryonic Antigen (CEA) pada penderita kanker paru yang mendapat kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan

0 1 7

Perbandingan Kenyamanan Pasien yang Dilakukan Bronkoskopi Serat Optik Lentur dengan Anastesi Lokal Secara Spray dan Nebul di RSUP H. Adam Malik Medan

0 0 8

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1887 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 496 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 438 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 263 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 579 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 508 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 322 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 499 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 590 23