Pengaruh Pengungkapan Corporte Social Responsibility, Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan dan Nilai Perusahaan sebagai Variabel Pemoderasi pada Perusahaan Pertambangan

(1)

SKRIPSI

PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA

KEUANGAN PERUSAHAAN DAN NILAI PERUSAHAAN SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PADA

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI

OLEH RATI ASTUTI

110503030

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2015


(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Pengungkapan Corporte Social Responsibility, Good Corporate Governance

Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan dan Nilai Perusahaan sebagai Variabel Pemoderasi pada Perusahaan Pertambangan” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi untuk Program S-1 Reguler Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas, benar apa adanya, dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.

Medan,

Yang Membuat Pernyataan,

( Rati Astuti) NIM. 110503030


(3)

ABSTRAK

PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA

KEUANGAN PERUSAHAAN DAN NILAI PERUSAHAAN SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PADA

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari pengungkapan corporate social responsibility, dan good corporate governance terhadap kinerja keuangan perusahaan dan nilai perusahaan sebagai variabel pemoderasi pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 2011-2013. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda dan regresi dengan variabel moderasi, dengan jumlah sampel sebanyak 21 perusahaan, dengan pengumpulan data dilakukan secara studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel corporate social responsibility dan

good corporate governance memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap

return on asset. Adapun secara parsial, corporate social responsibility

berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap return on asset, sedangkan

good corporate governance berpengaruh secara negatif signifikan. Nilai perusahaan sebagai variabel pemoderasi tidak mampu memoderasi hubungan antara corporate social responsibility dengan return on asset, serta good corporate governance dengan return on asset.

Kata Kunci: return on asset, corporate social responsibility, good corporate governance, dan nilai perusahaan.


(4)

ASBTRACT

EFFECT OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, GOOD CORPORATE GOVERNANCE TO COMPANY FINANCIAL

PERFORMANCE WITH COMPANY VALUE AS MODERATING VARIABLE IN MINING COMPANIES

LISTED ON INDONESIAN STOCK EXCHANGE

This research aim is to analyse the effect of corporate social responsibility, good corporate governance to company financial performance with company value as moderating variable in mining companies listed on Indonesian Stock Exchange period 2011-2013. This research uses multiple regression analysis and moderating regression analysis with number of samples are 21 companies, with data collection taken using documentary studies. Research shows that simultaneously corporate social responsibility and good corporate governance are affecting positively and significantly to return on asset, while partially, corporate social responsibility has positive and significant effect, then good corporate governance has negative significant effect to return on asset. Company value as moderating variabel is not able to moderating relationship between corporate social responsibility and return on asset, and so relationship between good corporate governance and return on asset.

Keywords: return on asset, corporate social responsibility, good corporate governance, and company value.


(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, kesehatan, dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Pengungkapan Corporte Social Responsibility, Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan dan Nilai Perusahaan sebagai Variabel Pemoderasi pada Perusahaan Pertambangan” guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan serta dukungan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak.Terutama penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran, kedua orang tua penulis Bapak Ilham Efendi dan Ibu

Zahara. Terima kasih atas semua kasih sayang, do’a, dukungan, didikan, dan semangat yang sangat berarti. Semoga penulis dapat menjadi anak yang dibanggakan. Kemudian kepada kakak , Alfi Syahrah dan Rafiqah Nuri. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec,Ac,Ak,Ca, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak, selaku Ketua Departemen dan Bapak Drs. Hotmal Ja’far, MM, Ak, selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.


(6)

3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak, selaku Ketua Program Studi Akuntansi dan Ibu Dra. Mutia Ismail, MM, Ak, selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs.Idhar Yahya,M.B.A.,Ak selaku Dosen Pembimbing. 5. Bapk Drs.Hotmal jafar,Ak.,M.M selaku Dosen Penguji dan Bapak

Drs. Rustam, M.Si., Ak selaku Dosen Penguji.

6. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen pengajar yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama kuliah.

7. Kepada seseorang yang selalu memberikan dukungan terbesarnya Wahyu Hidayat

8. Sahabat penulis, ola,ulfha,wywyk,anggie,astir,uly,Vienna,nurul,putri dan teman-teman seperjuangan akuntansi 011 atas waktu, bantuan, dan motivasi yang diberikan.

Dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang akuntansi.

Medan, 22 Februari 2015


(7)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Masalah Penelitian ... 11

1.3 Tujuan Penelitian ... 12

1.4 Manfaat Penelitian ... 13

1.4.1 Manfaat Praktis ... 13

1.4.2 Manfat Teoritis ... 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka ... 15

2.1.1 Pengertian Corporate Social Responsibility ... 15

2.1.2 Manfaat Corporate Social Responsibility ... 18

2.1.3 Komponen Dasar Corporate Social Responsibility . 20 2.1.4 Indikator Corporate Social Responsibility ... 22

2.1.5 Program Corporate Social Responsibility ... 24

2.1.6 Tujuan Perusahaan melaksanakan CSR ... 27

2.2 Good Corporate Governance ... 28

2.2.1 Mekanisme Corporate Governance ... 32

2.3 Kinerja Keuangan ... 33

2.3.1 Pengertian Kinerja Keuangan ... 33

2.3.2 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kinerja Keuangan Perusahaan ... 34

2.3.3 Analisis Kinerja Perusahaan ... 35

2.3.4 Tahapan dalam Menganalisis Kinerja Keuangan ... 37

2.3.5 Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja ... 39

2.4 Nilai Perusahaan ... 41

2.5 Penelitian Terdahulu ... 45


(8)

2.7 Hipotesis ... 57

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Objek Penelitian ... 58

3.2 Populasi dan Sampel ... 58

3.2.1 Populasi ... 58

3.3.2 Teknik Sampling ... 60

3.2.3 Sampel ... 61

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 62

3.3.1 Sumber Data ... 62

3.4 Operasionalisasi Variabel dan Definisi Variabel ... 62

3.4.1 Definisi Variabel ... 62

3.4.2 Variabel Bebas ... 62

3.4.3 Variabel Terikat ... 64

3.4.4 Variabel Pemoderasi ... 65

3.5 Metode Analisis Data ... 66

3.5.1 Analisis Data ... 66

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 72

4.1.1 Statistik Deskriptif ... 72

4.1.2 Regresi tanpa Variabel Pemoderasi ... 73

4.1.2.1 Uji Normalitas ... 74

4.1.2.2 Uji Multikolinearitas ... 76

4.1.2.3 Uji Heteroskedasititas ... 77

4.1.2.4 Uji Autokorelasi ... 79

4.1.2.5 Model regresi Berganda ... 80

4.1.2.6 Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 81

4.1.2.7 Uji Signifikansi Individual (Uji t) ... 82

4.1.2.8 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 84

4.1.3 Regresi dengan Variabel Pemoderasi 1 ... 85

4.1.3.1 Uji Normalitas ... 85

4.1.3.2 Uji Multikolinearitas ... 87

4.1.3.3 Uji Heteroskedasititas ... 88

4.1.3.4 Uji Autokorelasi ... 90

4.1.3.5 Model Regresi dengan Variabel Moderating ... 91

4.1.4 Regresi dengan Variabel Pemoderasi 2 ... 92

4.1.4.1 Uji Normalitas ... 92

4.1.4.2 Uji Multikolinearitas ... 94


(9)

4.1.4.4 Uji Autokorelasi ... 97

4.1.4.5 Model Regresi dengan Variabel Moderating ... 98

4.1.5 Pembahasan ... 99

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 102

5.2 Saran ... 103

DAFTAR PUSTAKA ... 104

LAMPIRAN ... 107


(10)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 The Triple Bottom Line of CSR ... 21

2.2 Indikator CSR ... 22

2.3 Penelitian Terdahulu ... 45

3.1 Populasi Penelitian ... 59

3.2 Kriteria Pemilihan Sampel ... 60

3.3 Sampel Penelitian ... 61

3.4 Operasional Variabel ... 63

4.1 Statistik Deskriptif ... 72

4.2 Hasil Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov ... 76

4.3 Hasil Uji Multikolinearitas ... 77

4.4 Uji Autokorelasi ... 79

4.5 Hasil Analisis Regresi ... 80

4.6 Model Summary ... 82

4.7 Hasil Uji t ... 83

4.8 Hasil Uji F ... 84

4.9 Hasil Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov ... 87

4.10 Hasil Uji Multikolinearitas ... 88

4.11 Uji Autokorelasi ... 90

4.12 Hasil Analisis Regresi ... 91

4.13 Hasil Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov ... 94

4.14 Hasil Uji Multikolinearitas ... 95

4.15 Uji Autokorelasi ... 97


(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 47

4.1 Grafik Histogram ... 74

4.2 Normal Probability Plot ... 75

4.3 Grafik Scatterplot ... 78

4.4 Grafik Histogram ... 85

4.5 Normal Probability Plot ... 86

4.6 Grafik Scatterplot ... 90

4.7 Grafik Histogram ... 92

4.8 Normal Probability Plot ... 93

4.9 Grafik Scatterplot ... 97


(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Indikator CSR ... 107

2 Sampel Penelitian ... 110

3 Data Penelitian ... 111

4 Regresi tanpa Moderat ... 113

5 Regresi dengan Moderat ... 117

 


(13)

ASBTRACT

EFFECT OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, GOOD CORPORATE GOVERNANCE TO COMPANY FINANCIAL

PERFORMANCE WITH COMPANY VALUE AS MODERATING VARIABLE IN MINING COMPANIES

LISTED ON INDONESIAN STOCK EXCHANGE

This research aim is to analyse the effect of corporate social responsibility, good corporate governance to company financial performance with company value as moderating variable in mining companies listed on Indonesian Stock Exchange period 2011-2013. This research uses multiple regression analysis and moderating regression analysis with number of samples are 21 companies, with data collection taken using documentary studies. Research shows that simultaneously corporate social responsibility and good corporate governance are affecting positively and significantly to return on asset, while partially, corporate social responsibility has positive and significant effect, then good corporate governance has negative significant effect to return on asset. Company value as moderating variabel is not able to moderating relationship between corporate social responsibility and return on asset, and so relationship between good corporate governance and return on asset.

Keywords: return on asset, corporate social responsibility, good corporate governance, and company value.


(14)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, kesehatan, dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Pengungkapan Corporte Social Responsibility, Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan dan Nilai Perusahaan sebagai Variabel Pemoderasi pada Perusahaan Pertambangan” guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan serta dukungan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak.Terutama penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran, kedua orang tua penulis Bapak Ilham Efendi dan Ibu

Zahara. Terima kasih atas semua kasih sayang, do’a, dukungan, didikan, dan semangat yang sangat berarti. Semoga penulis dapat menjadi anak yang dibanggakan. Kemudian kepada kakak , Alfi Syahrah dan Rafiqah Nuri. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec,Ac,Ak,Ca, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak, selaku Ketua Departemen dan Bapak Drs. Hotmal Ja’far, MM, Ak, selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.


(15)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Dunia ekonomi dan usaha berkembang dengan sangat pesat sejak awal tahun 1980-an. Hal ini ditunjang dengan perkembangan pesat di dunia teknologi yang memudahkan komunikasi di antara pelaku dunia usaha. Kemajuan teknologi ini kemudian memicu semakin kompetitifnya tingkat persaingan di dalam dunia usaha. Beberapa indikator keberhasilan perusahaan dalam memenangkan persaingan di dalam dunia usaha adalah profit dan pertumbuhan. Peningkatan

profit ditandai dengan semakin meningkatnya tingkat penjualan produk, sedangkan pertumbuhan ditandai dengan meningkatnya nilai investasi yang ditanamkan dalam perusahaan (Sembiring, 2005).

Dalam perkembangannya, meningkatkan nilai investasi yang ditanamkan dalam perusahaan yaitu melalui pasar modal. Pasar modal pada hakekatnya adalah pasar yang tidak berbeda jauh dengan pasar tradisional yang selama ini kita kenal, di mana ada pedagang, pembeli, dan juga tawar menawar harga. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal telah menggariskan bahwa pasar modal mempunyai posisi yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Pertumbuhan suatu pasar sangat tergantung dari kinerja perusahaan efek. Untuk mengembangkan prasarana industri efek diperlukan investasi yang besar.

Faktor-faktor yang dapat mengurangi jumlah investasi diperlukan untukmembangun prasarana dan mengurangi biaya operasi perusahaan efek serta mendorong perkembangan pasar.


(16)

Perkembangan tersebut, dapat dicapai apabila faktor tersebut mampu menghasilkan investasi aman dan berkualitas tinggi terutama pelayanan yang optimal kepada para investor sehingga perkembangannya sangat mempengaruhi minat dari para calon investor baru yang ingin mencoba berinvestasi dipasar modall (Sumber:http://elearning.gunadarma.ac.id).

Pasar modal merupakan alternatif tempat investasi yang sangat penting bagi investor. Investor akan menanamkan dananya untuk memperoleh return

berupa dividen maupun capital gain serta mendapatkan hak kepemilikan atas perusahaan.Selain mempertimbangkan return saham yang akan diterima, para investor dalam melakukan investasi juga mempertimbangkan nilai perusahaan. Bagi perusahaan yang go public, nilai perusahaan tercermin pada harga sahamnya. Semakin tinggi harga saham, semakin tinggi pula nilai perusahaan tersebut (Husnan, 2002).

Kinerja keuangan merupakan salah satu faktor yang menjadi acuan investor dalam membeli saham. Bagi perusahaan, meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu keharusan agar saham perusahaan tetap menarik bagi investor. Akan tetapi selain melalui pasar modal, perusahaan memiliki langkah lain dalam meningkatkan profit yaitu melalui penjualan produk. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk mengkhawatirkan krisis ekonomi Eropa yang berkepanjangan bisa mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan pada tahun ini karena harga komoditas tambang terutama nikel akan terus merosot.


(17)

Kinerja keuangan perusahaan adalah prestasi di bidang keuangan yang telah dicapai perusahaan dalam periode waktu tertentu yang dapat dilihat melalui laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang dipublikasi oleh perusahaan merupakan cerminan kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan inilah yang akan mendapat perhatian besar dari pihak-pihak yang berkepentingan melalui hasil analisis perkembangan kinerja, maka pihak-pihak yang terkait dapat mengambil kebijakan masing-masing (Mulyadi,1997). Menteri Negara BUMN, Sugiharto mengatakan rencara privatisasi BUMN 2006 baru akan dilakukan setelah dilakukan audit atas kinerja perusahaan-perusahaan berplat merah itu pada 2005. Semua BUMN itu sedang dan akan diaudit hasil usahanya pada 2005. Tentu paling arif dalam rangka proses privatisasi adalah selalu melihat kinerja keuangan yang terakhir yang telah diaudit. Hampir semua BUMN dan swasta sekarang sedang sibuk menyajikan laporan yang akuntabel yang akan diaudit (Sumber :http://antaranews.com).

Setiap perusahaan atau lembaga yang sudah mendeklarasikan perusahaan yang go public dituntut memberikan kinerja yang bernilai tidak hanya bagi lembaganya sendiri, melainkan juga masyarakat luas. Salah satu faktor yang berpengaruh pada upaya peningkatan nilai adalah komitmen organisasional yang tinggi.

Ada berbagai tolak ukur dalam melihat pencapaian kinerja. Salah satu diantaranya adalah sejalan yang dikemukakan oleh Denilson (2000) bahwa suatu perusahaan dikatakan berkinerja baik dengan tolak ukur berpredikat baik yaitu pada keuntungan, kualitas, inovasi pangsa pasar, pertumbuhan penjualan dan


(18)

kepuasan para karyawannya. Kinerja keuangan diartikan juga sebagai penentuan ukuran–ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba (Ermayanti, 2009). Tetapi selain laba (profit) dan pertumbuhan tak kalah pentingnya yaitu keberlangsungan atau sustainability

(Sembiring, 2005).

Kunci utama pencapaian keberlangsungan adalah adanya penerimaan publik akan kehadiran perusahaan. Bentuk tanggung jawab yang diinginkan publik tidak hanya berupa keterlibatan perusahaan dalam kegiatan-kegiatan sosial, melainkan dalam bentuk suatu pengintegrasian kegiatan bisnis dan operasional dengan aspeksosial (Wayan, 2007).

Keberlangsungan dapat dicapai dengan lahirnya suatu konsep yang dikenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). Corporate Social Responsibility

merupakan suatu konsep terintegrasi yang menggabungkan aspek bisnis dan sosial dengan selaras agar perusahaan dapat membantu tercapainya kesejahteraan

stakeholders, serta dapat mencapai profit maksimum sehingga dapat meningkatkan harga saham (Kiroyan, 2006).

Belakangan ini Corporate Social Responsibility menjadi isu yang banyak dibicarakan berbagai kalangan, karena ada kesan buruk terhadap perusahaan yang terlanjur ada dalam pikiran masyarakat dan lebih dari itu pengusaha dianggap sebagai pemburu uang yang tidak peduli pada kerusakan lingkungan. Perusahaan sebagai pelaku ekonomi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat luas. Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan industri, perusahaan dapat memberikan keuntungan


(19)

kepada masyarakat dan juga memberikan kerugian berupa permasalahan social kepada masyarakat yang berasal dari aktivitas perusahaan.

Perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada

single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangan saja, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya (Husnan, 2007). Dasar pemikiran yang hanya semata-mata pada kesehatan finansial tidak akan menjamin keberlangsungan (sustainability) perusahaan untuk bisa tetap tumbuh dan berkembang (Irawati, 2006).

Keberlangsungan perusahaan akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya, seperti dimensi sosial dan lingkungannya. Perusahaan juga harus melakukan pengukuran terhadap kinerja kemudian mengkomunikasikannya kepada para stakeholder. Bentuk kinerja mencakup tiga aspek yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup yang biasa disebut tripl ebottom line. Ketiga aspek tersebut merupakan kunci dari konsep pembanguan berkelanjutan ( Sawir, 2004).

Pelaksanaan Corporate Social Responsibility mempersyaratkan kesadaran penuh bahwa setiap kegiatan pemanfaatan atau pengubahan sumber daya alam termasuk energi menjadi output tertentu dalam rangka bisnis selalu berada dalam interaksi konstan dan terus menerus dengan lingkungan sosial dan fisik disekitarnya. Kesadaran ini juga menjelaskan bahwa seluruh proses kegiatan bisnis akan selalu berdampak baik positif maupun negatif. Karena itulah wujud output kebijakan atau program Corporate Social Responsibility harus berkait


(20)

denganupaya memaksimumkan dampak negatif dari suatu kegiatan atau bisnis tertentu (Iman, 2011).

Menurut Sueb (2001), apabila perusahaan tidak memperhatikan seluruh faktor yang mengelilinginya, mulai dari karyawan, konsumen, lingkungan, dan sumber daya alam sebagai satu kesatuan yang saling mendukung suatu sistem, maka akan mengakhiri eksistensi perusahaan itu sendiri. Kerusakan dan gangguan yang timbul dari faktor eksternal tersebut akan menganggu bahkan dapat menghentikan operasi perusahaan. Citra perusahaan akan semakin baik dimata masyarakat apabila dapat menunjukkan tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap lingkungan eksternal, misalnya adanya alokasi dana untuk program pengolahan limbah, pendidikan dan pelatihan, pensiun, serta tunjangan lainnya.

Corporate Social Responsibility diperlukan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara perusahaan dengan lingkungan sekitarnya. Akuntansi sebagai alat pertanggungjawaban mempunyai fungsi sebagai alat kendali terhadap aktivitas suatu unit usaha (Januarti dan Apriyanti, 2005). Makin meluasnya tanggung jawab perusahaan menyebabkan perlunya memasukkan unsur sosial dalam pertanggungjawaban perusahaan kedalam akuntansi. Hal ini mendorong timbulnya suatu konsep yang biasa disebut sebagai Social Accounting, Social Ecnomic ataupun Social Responsibilty Accounting (Sueb, 2001).

Akuntansi sosial merupakan bidang ilmu yang berusaha mengidentifikasi, mengukur, menilai, dan melaporkan aspek-aspek social benefit dan social cost

yang ditimbulkan oleh lembaga. Akuntansi sosial dan lingkungan dikembangkan untuk menyediakan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan


(21)

bagisemua pihak yang berkepentingan termasuk manajemen perusahaan, pemegang saham, karyawan, pelanggan, masyarakat umum dan pemerintah (Januarti dan Apriyanti, 2005).

Aktivitas-aktivitas sosial perusahaan ini menjadi sangat penting untuk diungkapkan karena kesadaran masyarakat Indonesia yang semakin meningkat. Oleh karena itu, kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang berupa aktivitas-aktivitas sosial perusahaan tersebut harus diungkapkan berupa laporan tanggung jawab sosial yang membahas pencatatan setiap transaksi keuangan perusahaan yang mempengaruhi lingkungan masyarakat. Biaya yang berkaitandengan kemasyarakatan tersebut disebut sebagai biaya sosial (Januarti dan Apriyanti, 2005).

Disahkannya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pada Pasal 74 ayat 1 yang menyebutkan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Selain itu, adanya pernyataan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi 2009) paragraph sembilan secara implisit menyarankan untuk mengungkapkan tanggung jawabakan masalah sosial. Dimana perusahaan dapat menyajikan laporan mengenailingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana fakor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting.


(22)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan suatu konsep atau program yang dimiliki oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Tanggung jawab sosial berarti bahwa manajemen mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi di dalam pembuatan keputusannya (Hani,2003). Konsep Corporate Social Responsibility menyiratkan bahwa perusahaandengan sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial kedalam operasi dan interaksi mereka dengan stakeholders. Sehingga secara tidak langsung konsep ini dapat membangun citra positif bagi perusahaan.

Corporate Social Responsibility pada dasarnya dapat diterapkan dalam setiap perusahaan. Akan tetapi tantangan yang dihadapi oleh suatu perusahaan berbeda dari tantangan yang dihadapi oleh perusahaan lainnya. Salah satu perusahaan yang menarik untuk dicermati yaitu perusahaan pertambangan. Sebagai perusahaan pertambangan, mereka menyadari bahwa kegiatan operasi perusahaan memiliki dampak secara langsung terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Perusahaan menyadari bahwa aspek lingkungan hidup dan khususnya pengembangan masyarakat tidak sekedar tanggung jawab sosial tetapi merupakan bagian dari risiko perusahaan yang harus dikelola dengan baik.

Karakteristik industri pertambangan di Indonesia sebagai industri pembuka daerah tertinggal dan terisolir juga menjadikan peran perusahaan tambang untuk berperan aktif dalam pengembangan masyarakat sekitar. Hal ini akan berperan penting dalam menurunkan risiko adanya gangguan terhadap operasi perusahaan. Beranjak dari konsepsi ini maka perhatian yang mendalam


(23)

terhadap upaya pelestarian lingkungan serta partisipasi secara proaktif dalam pengembangan masyarakat merupakan salah satu kunci kesuksesan kegiatan pertambangan.

Fenomena yang terjadi pada Perusahaan Pertambangan adalah pada setiap kegiatan penambangan berpotensi memberi dampak negatif pada lingkungan sekitar lokasi kegiatan penambangan, karena potensi itulah perusahaan melakukan pengawasan untuk menghindari kemungkinan pencemaran lingkungan. Diantaranya dengan melakukan reklamasi, penghijauan dan rehabilitasi. Hal

tersebut dilakukan setelah masa tutup tambang

(http://webcache.googleusercontent.com).

Berdasarkan hal tersebut, kini pergeseran orientasi pemikiran oleh para pemegang saham atau investor untuk lebih peduli pada sektor lingkungan membuat permintaan akan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) makin meningkat. Aspek penting yang ada dalam Laporan Keberlanjutan adalah penjelasan tidak hanya mengenai manajemen, operasional, produk, tetapi juga membahas dampak lingkungan, dan juga keterlibatan dengan komunitas sekitar (Chapra,1983). PT. Antam Tbk, PT. Timah Tbk dan PT. Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk merupakan perusahaan pertambangan yang melakukan pengembangan kegiatan tanggung jawab sosial.

Menurut Herdinata (2008), perusahaan di Indonesia memiliki karakteristik yang tidak berbeda dengan perusahaan di Asia pada umumnya, dimana perusahaan dimiliki dan dikontrol oleh keluarga. Meskipun perusahaan tersebut tumbuh dan menjadi perusahaan publik, namun kendali keluarga masih signifikan.


(24)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Claessens, Stijin, Simeon Djankov dan Larry H.P dalam Herdinata (2008), ditemukan bahwa dalam tahun 1996 kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 10 perusahaan keluarga di Indonesia mencapai 57,7%. Untuk Filipina dan Thailand mencapai 52,5% dan 46,2%. Sedangkan kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 15 perusahaan keluarga di Korea sebesar 38,4% dan Malaysia sebesar 28,3%. Hal ini menunjukkan rendahnya struktur kepemilikan manajerial karena sebagian besar masih didominasi oleh keluarga. Pola dan kepemilikan usaha seperti ini akan mendorong praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang pada akhirnya akan menjatuhkan nilai perusahaan. Kepemilikan manajerial merupakan salah satu mekanisme GCG yang dapat mempengaruhi insentifbagi manajemen untuk melaksanakan kepentingan terbaik dari pemegang saham (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). GCG muncul dan berkembang dari teori agensi, yang menghendaki adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan manajerial diharapkan pihak manajemen akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepentingan para pemegang saham.

Hal ini disebabkan oleh pihak manajemen juga akan memperoleh keuntungan bila perusahaan memperoleh laba. Berdasarkan uraian di atas memberikan inspirasi perlu diadakannya sebuah penelitian tentang bagaimana pengungkapan CSR dan GCG mempengaruhi kinerja keuangan Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility, Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Dan


(25)

Nilai Perusahaan Sebagai Variabel Pemoderasi Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia(BEI)”

1.2 Masalah Penelitian

Berdasarkan hal di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah yangakan diteliti dan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Bagaimana pengungkapan Corporate Social Responsibility dan Good Corporate Governance pada Perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2011, 2012 dan 2013

2) Bagaimana kinerja keuangan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2011, 2012 dan 2013

3) Seberapa besar pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility

dan Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar diBEI tahun 2011.

4) Apakah pengungkapan CSR dan GCG akan dapat memperkuat atau justru memperlemah hubungan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2011, 2012 dan 2013

1.3 Tujuan Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data-data, mencari danmendapatkan informasi tentang pengaruh implementasi Corporate Social Responsibility dan Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :


(26)

1) Mengetahui pengungkapan Corporate Social Responsibility dan Good Corporate Governance pada Perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2011, 2012 dan 2013

2) Mengetahui kinerja keuangan pada Perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2011, 2012 dan 2013

3) Mengetahui seberapa besar pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility dan Good Corparate Governance terhadap kinerja keuangan pada Perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2011, 2012 dan 2013

4) Mengetahui seberapa besar pengaruh pengungkapan CSR dan GCG mempengaruhi hubungan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2011,2012, dan 2013.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Praktis

Dari penelitian ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi berbagai pihak, antara lain :

1) Bagi Penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengenalan terhadap permasalahan mengenai pengungkapan Corporate Social Responsibility dan Good Corporate Governance dan pengaruhnya terhadap


(27)

kinerja keuangan perusahaan, sehingga penulis bisa menerapkan teori yang selama ini diperoleh selama masa perkuliahan dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan.

2) Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Perusahaan pertambangan untuk dapat tetap melaksanakan program Corporate Social Responsibility dan Good Corporate Governance secara berkelanjutan sebagai bentuk tanggung jawab social perusahaan terhadap lingkungan sekitar.

3) Bagi Investor

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan wacana baru dalam mempertimbangkan aspek-aspek yang perlu diperhitungkan dalam investasi yang tidak terpaku pada ukuran-ukuran moneter.

4) Bagi Pembaca

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambah wawasan mengenai pengaruh CSR dan GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan.

1.4.2 Manfaat Teoritis

Dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan dan menjadi bahan pemikiran yang berguna bagi perusahaan sebagai dasar perbaikan dan pengembangan mengenai CSR dan GCG di masa mendatang.


(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)

Dalam perkembangannya, konsep CSR tidak memeliki definisi tunggal.Ini terkait pengungkapan dan penjabaran CSR yang dilakukan perusahaan yang juga berbeda-beda. Dalam bahasa Indonesia, Darwin (2004) dalam Rimba (2010:11) mengartikan bahwa:

“Pertanggung jawaban sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility

(CSR) adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial kedalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum”.

Belum ada definisi CSR yang secara universal diterima oleh berbagai lembaga. Beberapa definisi CSR dibawah ini menunjukan keragaman pengertian CSR menurut berbagai organisasi, antara lain sebagai berikut: (Edi,2007; Philip Kotler,2008; Sukada dan Jalal, 2008).

1. World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)

CSR adalah komitmen berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya,serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya.


(29)

2. International Finance Corporation

CSR adalah komitmen dunia bisnis untuk memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui kerjasama dengan karyawan, keluarga mereka, komunitas lokal dan masyarakat luas untuk meningkatkan kehidupan mereka melalui cara-cara yang lebih baik bagi bisnis maupun pembangunan.

3. CSR Asia

Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para stakeholders.

Sedangkan menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007 pasal satu butir tiga (2007:2) menyatakan bahwa :“Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan gunameningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya”.

Selain itu, ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility juga memberikan definisi CSR. Menurut ISO 26000 (draft 3, 2007) dalam Rista (2009), CSR adalah:

“Tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat, mempertimbangkan


(30)

harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional, serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh”.

Pada intinya tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) adalah kewajiban organisasi bisnis untuk mengambil bagian dalam\ kegiatan yang bertujuan melindungi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatsecara keseluruhan.

Di dalam ISO 26000, Corporate Social Responsibility mencakup enam isu pokok, yaitu :

1) Pengembangan masyarakat 2) Konsumen

3) Praktek kegiatan institusi yang sehat 4) Lingkungan

5) Ketenagakerjaan 6) Hak Asasi Manusia

Berdasarkan konsep ISO 26000, maka untuk penerapan Corporate Social Responsibility hendaknya terintegrasi dalam seluruh aktivitas perusahaan yang mencakup 6 (enam) isu pokok di atas.

Di Indonesia sendiri, munculnya Undang-Undang No. 40 tahun 2007tentang Perseroan Terbatas menandai babak baru pengaturan Corporate Social Responsibility. Selain itu, pengaturan tentang Corporate Social Responsibility juga tercermin di dalam Undang-Undang No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Walaupun sebenarnya pembahasan mengenai


(31)

Corporate Social Responsibility sudah dimulai jauh sebelum kedua undang-undang tersebut disahkan. Salah satu pendorong perkembangan Corporate Social Responsibility yang terjadi di Indonesia adalah pergeseran paradigma dunia usaha yang tidakhanya semata-mata untuk mencari keuntungan saja, melainkan juga bersikap etisdan berperan dalam penciptaan investasi sosial.

2.1.2 Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)

Dengan menjalankan tanggung jawab sosial, perusahaan diharapkan tidak hanya mengejar laba jangka pendek, tetapi juga ikut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan (terutama lingkungan sekitar) dalam jangka panjang. Corporate Social Responsibility (CSR) dapat dipandang sebagai asset strategis dan kompetitif bagi perusahaan di tengah iklim bisnis yang makin sarat kompetisi. Menurut Adam dan Zutshi (2004) dalam Rahmawati Rahayu (2012:27) CSR dapat memberi banyak manfaat yaitu :

1) Peningkatan profit bagi perusahaan dan kinerja finansial yang lebih baik. 2) Menurunkan risiko benturan dengan komunitas masyarakat sekitar.

3) Mampu meningkatkan reputasi perusahaan tersebut yang juga merupakan bagian dari pembangunan citra perusahaan (corporate image building). Dengan adanya CSR akan meningkatkan profit bagi perusahaan dan kinerja finansial yang lebih baik karena banyak perusahaan-perusahaan besar yang mengungkapkan program CSR menunjukan keuntungan yang nyata terhadap peningkatan nilai saham. Disamping itu CSR dapat menurunkan risiko benturan dengan komunitas masyarakat sekitar, karena sesungguhnya substansi keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri


(32)

disebuah kawasan, dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitar atau dalam pengertian kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, komunitas dan stakeholder yang terkait. CSR juga mampu meningkatkan reputasi perusahaan yang dapat dipandang sebagai social marketing bagi perusahaan. Social marketing akan dapat memberikan manfaat dalam pembentukan brand image suatu perusahaan dalam kaitannya dengan kemampuan perusahaan terhadap komitmen yang tinggi terhadap lingkungan selain memiliki produk yang berkualitas tinggi.

Hal ini tentu saja akan memberikan dampak positif terhadap voume unit produksi yang terserap pasar yang akhirnya akan mendatangkan keuntungan yang besar terhadap peningkatan laba perusahaan. Kegiatan CSR yang diarahkan memperbaiki konteks korporat inilah yang memungkinkan alignment antara manfaat sosial dan bisnis yang muaranya untuk meraih keuntungan materi dan sosial dalam jangka panjang.

Seperti yang dikemukakan oleh Susanto (2007) dalam Fitriyani (2011:21) bahwa dari sisi perusahaan terdapat 6 (enam) manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas CSR, yaitu :

1) Mengurangi resiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima perusahaan.

2) CSR dapat berfungsi sebagai pelindung dan membantu perusahaan meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis.


(33)

4) CSR yang dilaksanakan secara konsisten akan mampu memperbaiki dan mempererat hubungan antara perusahaan dengan para stakeholder-nya. 5) Meningkatkan penjualan.

6) Insentif-insentif lainnya seperti insentif pajak dan berbagai perlakuan khusus lainnya.

Maka dari itu untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan program CSR diperlukannya komitmen yang kuat, partisipasi aktif, serta ketulusan dari semua pihak yang peduli terhadap program-program CSR.Program CSR menjadi begitu penting karena kewajiban manusia untuk bertanggung jawab bahwa dimasa mendatang tetap ada manusia di muka bumi ini.

2.1.3 Komponen Dasar Corporate Social Responsibility

John Elkington (1997) yang dikutip oleh Hasibuan dan Sedyono (2006:73) menyebutkan bahwa Corporate Social Responsibility dibagi menjadi tiga komponen utama, yaitu: people, profit, dan planet. Ketiga komponen inilah yangsaat ini kerap dijadikan dasar perencanaan, pengungkapan dan evaluasi (pelaporan) program-program Corporate Social Responsibility yang kemudian dikenal sebagai triple bottom line.


(34)

Tabel 2.1

The Triple Bottom Line of Corporate Social Responsibility

People Profit Planet

Definisi Sebuah bisnis harus bertanggungjawab untuk

memajukan dan

mensejahterakan sosial

serta seluruh

stakeholdernya.

Perusahaan tidak boleh hanya memiliki keuntungan bagi organisasinya saja tetapi harus dapat member kemajuan ekonomi bagi para stakeholdernya.

Perusahaan harus dapat menggunakan sumber daya alam dengan sangat bertanggungjawab dan menjaga keadaan lingkungan serta memperkecil jumlah limbah produksi

Jenis Kegiatan

Kegiatan

kedermawanan yang dilakukan secara tulus untuk membangun masyarakat dan sumber daya manusia

Tindakan perusahaan untuk terjun langsung di dalam masyarakat untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

Penerapan proses produksi yang bersih, aman dan

bertanggungjawab

Contoh - Beasiswa Pendidikan - Pelayanan Kesehatan

- Pembinaan UKM

- Bantuan Modal dan kredit - Pemberdayaan tenaga

local

- Pengelolaan Limbah - Penanaman Pohon - Kampanye

Lingkungan Hidup

   

 

Sumber: Hasibuan dan Sedyono (2006:73)

Triple bottom line merupakan sinergi dari tiga elemen yang merupakan komponen dasar dari pelaksanaan Corporate Social Responsibility. Triple bottom line sering dijadikan acuan dalam pembuatan program-program Corporate Social Responsibility.

Sedangkan menurut pendapat Yusuf Wibisono (2007:32) mengemukakan bahwa: “Pada dasarnya perusahaan yang ingin berkelanjutan haruslah 3P, selain mengejar Profit perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat dalampemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet)”.


(35)

Jadi berdasarkan pendapat diatas, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu aspek ekonomi yang direfleksikan dalam kondisi financialnya saja, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya.

2.1.4 Indikator Corporate Social Responsibility

Untuk mengukur pengungkapan CSR berdasarkan Indikator-indikator menurut Edy Rismanda Sembiring (2005) sebagai berikut :

Tabel 2.2 Indikator CSR

ITEM CSR INDIKATOR CSR

LINGKUNGAN

1. Pengendalian polusi kegiatan operasi, pengeluaran riset dan pengembangan untuk mengurangi polusi.

2. Operasi perusahaan tidak mengakibatkan polusi ataumemenuhi ketentuan hukum dan peraturan polusi.

3. Pernyataan yang menunjukkan bahwa polusi operasi telah atau akan dikurangi.

4. Pencegahan atau perbaikan kerusakan lingkungan akibat pengelolaan sumber alam, misalnya reklamasi daratan ataureboisasi.

5. Konservasi sumber alam, misalnya mendaur ulang kaca, besi,minyak, air dan kertas.

6. Penggunaan material daur ulang

7. Menerima penghargaan berkaitan dengan program lingkungan yang dibuat perusahaan.

8. Merancang fasilitas yang harmonis dengan lingkungan.

9. Kontribusi dalam seni yang bertujuan untuk memperindah lingkungan. 10. Kontribusi dalam pemugaran bangunan sejarah.

11. Pengelolaan limbah.

12. Riset mengenai pengelolaan limbah.

13. Mempelajari dampak lingkungan untuk memonitor dampak lingkungan perusahaan.

14. Perlindungan lingkungan hidup.

ENERGI

1. Menggunakan energi secara lebih efisien dalam kegiatan operasi. 2. Memanfaatkan barang bekas untuk memproduksi energi. 3. Penghematan energi sebagai hasil produk daur ulang.

4. Membahas upaya perusahaan dalam mengurangi konsumsi energi. 5. Peningkatan efisiensi energi dan produk.

6. Riset yang mengarah pada peningkatan efisiensi energi dari produk. 7. Mengungkapkan kebijakan energi perusahaan.


(36)

SUMBER DAYA MANUSIA

1. Mengurangi polusi, iritasi, atau resiko dalam lingkungan kerja. 2. Mempromosikan keselamatan tenaga kerja dan kesehatan fisik atau

mental.

3. Mengungkapkan statistik kecelakaan kerja.

4. Mentaati peraturan standar kesehatan dengan keselamatan kerja. 5. Menerima penghargaan berkaitan dengan keselamatan kerja. 6. Menetapkan suatu komite keselamatan kerja.

7. Melaksanakan riset untuk meningkatkan keselamatan kerja. 8. Mengungkapkan pelayanan kesehatan tenaga kerja.

9. Perekrutan atau memanfaatkan tenaga kerja wanita/orangcacat. 10. Mengungkapkan persentase/jumlah tenaga kerja wanita/orangcacat

dalam tingkat managerial.

11. Mengungkapkan tujuan penggunaan tenaga kerja wanita/orang cacat dalam pekerjaan.

12. Program untuk kemajuan tenaga kerja wanita/orang cacat. 13. Pelatihan tenaga kerja melalui program tertentu ditempat kerja. 14. Memberikan bantuan keuangan pada tenaga kerja dalam bidang

pendidikan.

15. Mendirikan suatu pusat pelatihan tenaga kerja.

16. Mengungkapkan bantuan atau bimbingan untuk tenaga kerja yang dalam proses mengundurkan diri atau yang telah membuat kesalahan. 17. Mengungkapkan perencanaan kepemilikan rumah karyawan.

18. Mengungkapkan fasilitas untuk aktivitas rekreasi. 19. Pengungkapan persentase gaji untuk pensiun.

20. Mengungkapkan kebijakan penggajian dalam perusahaan. 21. Mengungkapkan jumlah tenaga kerja dalam perusahaan. 22. Mengungkapkan tingkatan manajerial yang ada.

23. Mengungkapkan disposisi staff dimana staff ditempatkan.

24. Mengungkapkan jumlah staff, masa kerja dan kelompok usia mereka. 25. Mengungkapkan statistik tenaga kerja, misalnya penjualan pertenaga

kerja.

26. Mengungkapkan kualifikasi tenaga kerja yang direkrut. 27. Mengungkapkan rencana kepemilikan saham oleh tenaga kerja. 28. Mengungkapkan rencana pembagian keuntungan lain.

29. Mengungkapkan informasi hubungan manajemen dengan tenaga kerja dalam meningkatkan keputusan dan motivasi kerja.

30. Mengungkapkan informasi stabilitas pekerjaan tenaga kerjadan masa depan perusahaan.

31. Membuat laporan tenaga kerja yang terpisah.

32. Melaporkan hubungan perusahaan dengan serikat buruh. 33. Melaporkan gangguan dan aksitenaga kerja.

34. Mengungkapkan informasi bagaimana aksi tenaga kerja dinegosiasikan. 35. Peningkatan kondisi kerja secara umum.

36. Informasi reorganisasi perusahaan yang mempengaruhi tenaga kerja. 37. Informasi dan statistik perputaran tenaga kerja.

PRODUK

1. Pengungkafan informasi pengembangan produk perusahaan, termasuk pengemasan.


(37)

3. Pengungkapan informasi proyek riset perusahaan untukmemperbaiki produk.

4. Pengungkapan bahwa produk memenuhi standar keselamatan. 5. Membuat produk lebih aman untuk konsumen.

6. Melaksanakan riset atas tingkat keselamatan produk perusahaan. 7. Pengungkapan peningkatan kebersihan/kesehatan dalam pengolahan

dan penyiapan produk.

8. Pengungkapan informasi atas keselamatan produk perusahaan. 9. Pengungkapan informasi mutu produk yang dicerminkan dalam

penerimaan penghargaan

10. Informasi yang dapat diverifikasi bahwa mutu produk telah meningkat (misalnya, ISO 9000).

MASYARAKAT

1. Sumbangan tunai, produk, pelayanan untuk mendukung aktivitas masyarakat, pendidikan, dan seni.

2. Tenaga kerja paruh waktu (part-time employment) dari mahasiswa/pelajar.

3. Sebagai sponsor untuk proyek kesehatan masyarakat. 4. Membantu riset media.

5. Sebagai sponsor untuk konferensi pendidikan, seminar atau pameran seni.

6. Membiayai program beasiswa.

7. Membuka fasilitas perusahaan untuk masyarakat. 8. Mensponsori kampanye nasional.

9. Mendukung pengembangan industri lokal.

UMUM

1. Pengungkapan tujuan. Kebijakan perusahaan secara umum berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. 2. Informasi hubungan dengan tanggung jawab sosial perusahaan selain

yang disebut di atas.

Sumber: Sembiring (2005)

2.1.5 Program Corporate Social Responsibility

Untuk mendukung perencanaan jangka panjang perlu dibuat program-programyang mendukung pencapaian dari tujuan tersebut. Melaksanakan

Corporate Social Responsibility membutuhkan langkah-langkah pembentukan dan persiapan hingga akhirnya dapat dilaksanakan. Langkah-langkah persiapan dan penerapan Corporate Social Responsibility menurut Rahendrawan (2006:63) adalah sebagai berikut :


(38)

- Mempersiapkan target dan tujuan dari pelaksanaan Corporate Social Responsibility untuk perusahaan.

- Mempersiapkan perangkat alat ukur kinerja dan alat ukur status dari

Corporate Social Responsibility.

- Mengidentifikasi inovasi dan/atau intervensi terhadap sistem yangsedang diterapkan.

- Mengidentifikasi masalah Corporate Social Responsibility yang relevan dengan kegiatan operasional perusahaan.

- Mengidentifikasi tingkat kesiapan pelaksanaan Corporate Social Responsibility, baik dengan unit organisiasi, dan/atau darikematangan

Corporate Social Responsibility itu sendiri.

- Menentukan daerah operasi perusahaan yang akan diterapkan Corporate Social Responsibility di dalamnya.

- Mengidentifikasi stakeholders perusahaan, dan melibatkan pihak-pihak yang relevan dalam merancang Corporate Social Responsibility.

- Mempersiapkan program-program dari Corporate Social Responsibility. 2) Persiapan aktivitas Corporate Social Responsibility

- Proses pengambilan keputusan dan pengesahan program-program

Corporate Social Responsibility.

- Memanage perubahan dan inovasi-inovasi yang dibutuhkan.

- Organisasi program-program Corporate Social Responsibility, baik internal maupun eksternal.


(39)

- Sumber daya internal perusahaan dari perusahaan (sumber dayamanusia, modal, dll).

3) Pengungkapan Corporate Social Responsibility

- Menghubungkan program-program Corporate Social Responsibility

dengan para stakeholders, yang keterlibatannya akan ditentukan berdasarkan kondisi, prioritas dan anggaran perusahaan.

- Mengungkapkan program.

- Person(s) in charge, orang yang memimpin pelaksanaan programCorporate Social Responsibility.

4) Evaluasi

- Metode pengawasan dan perangkatnya. - Metode evaluasi dan perangkatnya.

- Mekanisme pengembangan terus menerus.

- Person(s) in charge, orang yang ditugaskan untuk memimpin jalannya evaluasi.

- Mengidentifikasi masalah Corporate Social Responsibility yang relevan dengan kegiatan operasional perusahaan.

- Mengidentifikasi tingkat kesiapan pelaksanaan Corporate Social Responsibility, baik dengan unit organisiasi, dan/atau dari kematangan

Corporate Social Responsibility itu sendiri.

- Menentukan daerah operasi perusahaan yang akan diterapkan Corporate Social Responsibility di dalamnya.


(40)

- Mengidentifikasi stakeholders perusahaan, dan melibatkan pihak-pihak yang relevan dalam merancang Corporate Social Responsibility.

- Mempersiapkan program-program dari Corporate Social Responsibility.

5) Pelaporan

- Mekanisme dan sistem pelaporan internal dan eksternal. - Komunikasi internal dan sistem koordinasi.

- Sistem komunikasi eksternal. - Laporan verifikasi.

2.1.6 Tujuan Perusahaan Melaksanakan Corporate Social Responsibility

Menururt Chuck Williams (2001:123) menyebutkan bahwa :“Tujuan perusahaan menerapkan CSR agar dapat memberi manfaat yang terbaik bagi

stakeholders dengan cara memenuhi tanggung jawab ekonomi, hukum, etika dan kebijakan,

1. Tanggung jawab ekonomis. Kata kuncinya adalah: make a profit. Motif utama perusahaan adalah menghasilkan laba. Laba adalah pondasi perusahaan. Perusahaan harus memiliki nilai tambah ekonomi sebagai prasyarat agar perusahaan dapat terus hidup (survive) dan berkembang. 2. Tanggung jawab legal. Kata kuncinya: obey the law. Perusahaan harus taat

hukum. Dalam proses mencari laba, perusahaan tidak boleh melanggar kebijakan dan hukum yang telah ditetapkan pemerintah.

3. Tanggung jawab etis. Perusahaan memiliki kewajiban untuk menjalankan praktek bisnis yang baik, benar, adil dan fair.Norma-norma masyarakat


(41)

perlu menjadi rujukan bagi perilaku organisasi perusahaan. Kata kuncinya:

be ethical.

4. Tanggung jawab filantropis. Selain perusahaan harus memperoleh laba, taat hukum dan berperilaku etis, perusahaan dituntut agar dapat memberikan kontribusi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkankualitas kehidupan semua. Kata kuncinya: be a good citizen.

Para pemilik dan pegawai yang bekerja di perusahaan memiliki tanggung jawab ganda, yakni kepada perusahaan dan kepada publik yang kini dikenal dengan istilah non-fiduciary responsibility”.

Keempat jenjang tanggung jawab tersebut perlu dipahami sebagai satu kesatuan. Walaupun demikian, kesalahan interpretasi umumnya kerap terjadi dimana muncul argumen bahwa laba yang harus diutamakan. Tetapi kegiatan mencari keuntungan atau laba hendaknya dikaitkan atau tidak terlepas dengan kegiatan lainnya, seperti mengembangkan masyarakat.Corporate Social Responsibility pada saat ini bukan lagi hanya sekedar kegiatan philanthropy

konvensional, memberikan sejumlah dana untuk tujuan-tujuan yang baik di akhir tahun saat pembukuan selesai. Namun sudah lebih luas lagi dan ini justru dijadikan tanggung jawab yang perusahaan lakukan sepanjang tahun untuk lingkungan di sekitar mereka, untuk kegiatan bekerja yang lebih baik, untuk komitmen perusahaan terhadap komunitas lokal dan untuk pengakuan atas brand names perusahaan yang tidak hanya akan bergantung pada kualitas, harga dan


(42)

keunikan yang mereka miliki, namun juga pada interaksi perusahaan dengan tenaga kerja yang dimilikinya, komunitas dan lingkungan secara kumulatif.

2.2 Good Corporate Governance

Menurut Daniri (2004), dengan mengutip riset Berle dan Means pada tahun 1934, isu GCG muncul karena terjadinya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Pemisahan ini memberikan kewenangan kepada pengelola (manajer/direksi) untuk mengurus jalannya perusahaan, seperti mengelola dana danmengambil keputusan perusahaan atas nama pemilik. Pemisahan ini didasarkan pada principal-agency theory yang dalam hal ini manajemen cenderung akan meningkatkan keuntungan pribadinya daripada tujuan perusahaan. Selain memiliki kinerja keuangan yang baik, perusahaan juga diharapkan memiliki tata kelola yang baik. Definisi dan prinsip CG yang saat ini masih bertahan dan dapat diakomodasiserta diadaptasi oleh berbagai regulasi yang ada khususnya di negara Indonesia (Utama, 2004), yaitu:

1. Cadbury Committee

Menurut Komite Cadburry (2004), yang kemudian dikutip oleh FCGI dalam publikasi pertamanya, corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak – hak dan kewajiban mereka, atau dengan katalain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Komite Cadburry dalam laporannya juga menyatakan


(43)

bahwa GCG terdiri dari 3 prinsip utama yaitu, keterbukaan, integritas, dan akuntabilitas.

2. OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)

Sebagaimana yang diuraikan oleh OECD (2004), yang dikutip oleh FCGIdalam terbitannya ada 4 unsur penting dalam CG yaitu:

a. Keadilan (Fairness), yaitu kepastian perlindungan atas hak seluruh pemegang dari penipuan (fraud) dan penyimpangan lainnya serta adanya pemahaman yang jelas mengenai hubungan berdasarkan kontrak diantara penyedia sumber daya perusahaandan pelanggan.

b. Transparansi (Transparancy), yaitu keterbukaan mengenai informasi kinerja perusahaan, baik ketepatan waktu maupun akurasinya. Hal ini berkaitan dengan kualitas informasi akuntansi yang dihasilkan.,

c. Akuntabilitas (Accountability), yaitu penciptaan sistem pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian wewenang, peranan, hak dan tanggung jawab dari pemegangsaham, manajer, dan auditor.

d. Pertanggung jawaban (Responsibility), yaitu pertanggung jawaban perusahaan kepada stakeholders dan lingkungan dimana perusahaan itu berada. CG timbul karena kepentingan perusahaan untuk memastikan kepada pihak penyandang dana (principal/investor) bahwa dana yang ditanamkan digunakan secara tepat dan efisien. Selain itu dengan CG, perusahaan memberikan kepastian bahwa manajemen (agent) bertindak yang terbaik demi kepentingan perusahaan (Setyapurnama dan Nor Pratiwi, 2004). Penerapan good corporate governance diyakini mampu


(44)

menciptakan kondisiyang kondusif dan landasan yang kokoh untuk menjalankan operasional perusahaan yang baik, efisien dan menguntungkan. Coombes dan Watson (2000) dalam Fachrurozi (2007) menyatakan bahwa pemegang saham saat ini sangat aktif dalam meninjau kinerja perusahaan karena mereka menganggap bahwa CG yang lebih baikakan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi bagi mereka. Tujuh puluh lima persendari investor mengatakan bahwa praktek CG paling tidak sama pentingnya dengan kinerja keuangan ketika mereka mengevaluasi perusahaan untuk tujuan investasi. Bahkan 80% dari investor mengatakan bahwa mereka akan membayar lebih mahaluntuk saham perusahaan yang memiliki CG yang lebih baik (wellgoverned company atau WGC) dibandingkan perusahaan lain dengan kinerja keuangan relatif sama. Dey Report (1994) mengemukakan bahwa CG yang efektif dalam jangka panjang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menguntungkan para pemegang saham. Morck, Shleifer dan Vishny (1988) dalam Bernhart dan Rosenstein (1998) yang menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan komposisi dewan komisaris terhadap nilai perusahaan menemukan bahwa nilai perusahaan meningkat sejalan dengan peningkatan kepemilikan manajerial sampai dengan 5%, kemudian menurun pada saat kepemilikan manajerial 5%-25%, dan kemudian meningkat kembali seiring dengan adanya peningkatan kepemilikan manajerial secara berkelanjutan. Black et al. (2003) dalam Sri Wardany (2006) berargumen bahwa pertama, perusahaan yang dikelola dengan lebih baik akan dapat


(45)

lebih menguntungkan sehingga mendapat dividen yang lebih tinggi. Kedua, disebabkan oleh karena investor luar dapat menilai earnings atau dividen yang sama dengan lebih tinggi untuk perusahaan yangmenerapkan CG yang lebih baik. Hasil menunjukkan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa perusahaan dengan CG yang baik lebih menguntungkan atau membayardividen yang lebih tinggi, tetapi ditemukan bukti bahwa investor menilai earnings atau arus dividen yang sama dengan lebih tinggi untuk perusahaan yang menerapkan CG yang lebih baik.

2.2.1 Mekanisme Corporate Governance

Mekanisme CG merupakan suatu aturan main, prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan

control, pengawasan terhadap keputusan tersebut. Mekanisme CG diarahkan untuk menjamindan mengawasi berjalannya sistem governance dalam sebuah organisasi (Walsh dan Schward, 1990 dalam Arifin, 2005). Menurut Barnhart dan Rosenstein (1998) dalam Lastanti (2004), mekanisme CG dibagi menjadi dua, yaitu internal mechanism (mekanisme internal), seperti komposisi dewan direksi/komisaris, kepemilikan manajerial, dan kompensasi eksekutif. Mekanisme yang kedua yaitu external mechanism (mekanisme eksternal), seperti pengendalian oleh pasar dan level debt financing. Mekanisme CG yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepemilikan manajerial, karena keterbatasan data mekanisme yang lain. Dalam penelitian ini semakin tinggi kepemilikan manajerial diharapkan pihak manajemen akan berusaha semaksimal mungkin untuk


(46)

kepentingan para pemegang saham. Hal ini disebabkan oleh pihak manajemen juga akan memperoleh keuntungan bila perusahaan memperoleh laba.

Kepemilikan managerial adalah kepemilikan saham perusahaan oleh managerial. Kepemilikan managerial merupakan alat monitoring internal yang penting untuk memecahkan konflik agensi antara external stockholders dan manajemen (Chen dan Steiner, 1999). Kepemilikan manajemen adalah proporsi pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (direktur dan komisaris) (Diyah dan Erman (2009), dalam Wien (2010)). Munculnya kepemilikan saham dalam pihak manajemen akan menjadikan nilai perusahaan dapat meningkat karena pihak manajemen bisa melaksanakan dan selalu mengawasi perkembangan perusahaan sekaligus memperhitungkan kebijakan dividen yang terbaik dari dua sisi yaitu dari sisi pemegang saham dan kemajuan perusahaan. Semakin besar kepemilikan saham pada pihak manajerial, maka pihak manajerial akan bekerja lebih pro aktif dalam mewujudkan kepentingan pemegang saham dan akhirnya akan meningkatkan kepercayaan, kemudian nilai perusahaan juga akan naik.

2.3 Kinerja Keuangan

2.3.1 Pengertian Kinerja Keuangan

Pengertian kinerja menurut Kamus Istilah Akuntansi (2003:215) menyatakan bahwa: “Kinerja atau performance adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan aktivitas dari suatu organisasi pada suatuperiode, sering dengan referensi pada sejumlah standar seperti


(47)

biaya-biaya masa lalu atau yang diproyeksikan, suatu dasar efisiensi, pertanggung jawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya”.

Menurut Indra Bastian (2001:329) menyebutkan bahwa :“Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan, skema strategis(strategic planning) suatu organisasi, secara umum dapat juga dikatakan bahwa kinerja merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu”.

Menurut Wibowo (2008) menyatakan bahwa definisi kinerja yaitu “Kinerja berasal dari pengertian performance. Adapun pengertian makna luas, tidak hanya hasil kerja, tetapi bagaimana proses pekerjaan berlangsung.”

Adapun menurut pendapat yang dikemukakan oleh Amstrong dan Baron dalam Wibowo (2008) adalah: “Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi.”

Menurut Syafarudin (2003: 96) menyatakan bahwa: “Kinerja keuangan merupakan adalah mengukur sampai sejauhmana prestasi, peningkatan, posisi, atau performance dari nilai perusahaan yang diukur melalui laporan keuangan baik melalui neraca maupun laba rugi yang dibutuhkan oleh pihak yang berkepentingan.”

Kinerja keuangan merupakan salah satu faktor yang menunjukkan efektivitas dan efesien suatu organisasi dalam rangka mencapai suatu tujuannya


(48)

Efektivitas apabila manajemen memiliki kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau suatu alat yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Sedangkan efesiensi diartikan sebagai rasio perbandingan antara masukan dankeluaran yaitu dengan masukan tertentu memperoleh keluaran yang optimal.

2.3.2 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kinerja Keuangan Perusahaan

Menurut (Munawir, 2007:30) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerjakeuangan :

1. Likuiditas, yang mampu menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi ataukemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih.

2. Solvabilitas, yang mampu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi baik keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Rentabilitas atau profitabilitas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

4. Stabilitas ekonomi, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga dan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen secara teratur tanpa mengalami hambatan atau krisis keuangan.


(49)

Analisis terhadap kinerja perusahaan pada umumnya dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan, yang mencakup perbandingan kinerja perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama dan mengevaluasi kecenderungan posisi keuangan perusahaan sepanjang waktu. Teknik analisis yang dapat digunakan untuk menilai kinerja perusahaan adalah melalui

analisis rasio.

Menurut Moeljadi (2004:67) Analisis Rasio tersebut yaitu di antaranya sebagai berikut :

1) Rasio Likuiditas, yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang-hutang jangka pendeknya. Meliputi

cash ratio, current ratio, acid test ratio atau quick ratio.

2) Rasio Leverage, yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kebutuhan dana perusahaan yang dibiayai oleh hutang. Meliputi debt tototal assets ratio, debt to equity ratio, dan time interest earned.

3) Rasio Aktivitas, yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya. Meliputi inventory turnover,

receivable turnover, fixed asset turnover, dan other asset turnover.

4) Rasio Profitabilitas, yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam mendapatkan keuntungan. Meliputi profit margin,

Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), Return on Assets(ROA), earning per share.


(50)

5) Rasio Penilaian, yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai kepada para investor atau pemegang saham. Meliputi Price Earning Ratio (PER), dan market to book valueratio. 6) Market Value Added (MVA), merupakan perbedaan antara nilai pasar

ekuitas dengan jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan oleh investor. Jadi, MVA difokuskan pada pengukuran pengaruh tindakan manajerial sejak pendirian perusahaan.

7) Economic Value Added (EVA), merupakan nilai tambah kepada pemegang saham oleh manajemen selama satu tahun tertentu. Jadi, EVA difokuskan pada efektivitas manajerial selama satu tahun tertentu.

8) Analysis Du Pont, dirancang untuk menunjukan hubungan antara pengembalian atas investasi, perputaran aktiva, margin laba, dan leverage. Meliputi ROA dan Earning Power.

Sedangkan menurut Robert F. Halsey (2005:41) rasio keuangan yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis dan menginterpretasikan data dalam menilai kinerja keuangan suatu perusahaan, yaitu :

Hasil pengembalian Aset atau yang lebih dikenal dengan nama Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Return on Assets (ROA) juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola asetnya. Rumus untuk mencari Return on Assets (ROA) adalah :

!"#$%& !" !""#$"  !"# = !"#$%$& !"#$% 

!"#$%$&# !"# !"#


(51)

Return On Asset merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan untuk memperoleh keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia. Dalam perusahaan, perhitungan ROA adalah semakin tinggi rasio ini, semakin baik keadaan suatu perusahaan. Return on asset menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan.

2.3.4 Tahap – Tahap dalam Menganalisis Kinerja Keuangan

Menurut Irham Fahmi (2011:240) menyatakan bahwa ada 5 (lima) tahapdalam menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum sebagaiberikut:

1) “ Melakukan review terhadap data laporan keuangan. Review dilakukan

dengan tujuan agar laporan keuangan yang dibuat tersebut dengan penerapan kaedah yang berlaku umum dalam akuntansi sehingga dengan demikian hasil laporan keuangan dapat dipertanggung jawabkan.

2) Melakukan perhitungan. Penerapan metode perhitungan disini adalah

disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.

3) Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh.

Dari hasil hitungan yang sudah diperoleh tersebut kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya. Metode yang umum dipergunakan untuk melakukan perbandingan ini adadua adalah ;


(52)

a) Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar waktu atauantar periode dengan tujuan itu nantinya akan terlihat secara grafik.

b) Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan terhadap hasil

hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis yang dilakukan secara bersamaan.

Dari hasil penggunaan kedua metode ini diharapkan nantinya akan dapat dibuat satu kesimpulan yang menyatakan posisi perusahaan berada dalam kondisi sangat baik, baik, sedang, normal, tidak baik, dan sangat tidak baik.

1. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan

yang ditemukan. Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan perusahaan adalah setelah dilakukan ketiga tahap tersebut selanjutnya dilakukan penafsiran untuk melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala-kendala yang dialami oleh perbankan tersebut.

2. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap berbagai

permasalahan yang ditemukan. Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan yangdihadapi maka dicarikan solusi guna memberikan suatu input atau masukan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini dapat terselesaikan.”

2.3.5 Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja

Tujuan dari penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membedakan hasil dan tindakan yang diinginkan.


(53)

Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran. Menurut Hanafi (2003 : 69) menyatakan bahwa :

“Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai performing measurement(pengukuran kinerja) adalah kualifikasi dan efisiensi perusahaan atau segmen dan keefektifan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi. Dengan demikian pengertian kinerja adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efesien dan efektivitas dari aktifitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu.”

Menurut Mulyadi (2001:415) menyebutkan bahwa :“Penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya”.

Pengukuran maupun penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengembalian keputusan dan akuntabilitas. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan manajemen untuk mengevaluasi hasil-hasil dari aktivitas-aktivitas yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

Prestasi pelaksanaan program yang dapat diukur akan mendorong pencapian prestasi. Pengukuran prestasi yang dilakukan secara berkelanjutan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan secara terus-menerus dan pencapaian tujuan di masa yang akan datang.


(54)

Menurut Mulyadi (2001:416) tujuan pokok penilaian kinerja adalah “Untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran”.

Penilaian kinerja dilakukan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya, untuk menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan melalui umpan balik hasil kinerja pada wakunya serta penghargaan, baik yang bersifat intrinsic maupun ekstrinsik. Secara formal produk akhir dari hasil pengukuran kinerja diwujudkan dalam suatu laporan yang disebut laporan kinerja.

Menurut Mulyadi (2001:416) menyebutkan bahwa :“Penilaian kinerja mempunyai manfaat bagi manajemen yaitu :

1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum

2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan, seperti promosi, transfer dan pemberhentian

3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihankaryawan

4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka


(55)

2.4 Nilai Perusahaan

Nilai Perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai saat ini (Bringham Gapensi, 1996).

Menurut Christiawan dan Tarigan (2007), terdapat beberapa konsep nilai yang menjelaskan nilai suatu perusahaan antara lain:

a. Nilai nominal yaitu nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran dasar perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan, dan juga ditulis jelas dalam surat saham kolektif.

b. Nilai pasar, sering disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawar menawar di pasar saham. Nilai ini hanya bisa ditentukan jika saham perusahaan dijual di pasar saham.

c. Nilai intrinsik merupakan nilai yang mengacu pada perkiraan nilai riil suatu perusahaan. Nilai perusahaan dalam konsep nilai intrinsik ini bukan sekadar harga dari sekumpulan aset, melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis yang memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan di kemudian hari.

d. Nilai buku, adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep akuntansi.

e. Nilai likuidasi itu adalah nilai jual seluruh aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai sisa itu merupakan


(56)

bagian para pemegang saham. Nilai likuidasi bisa dihitung berdasarkan neraca performa yang disiapkan ketika suatu perusahaan akan likuidasi. Berbagai macam faktor dapat mempengaruhi nilai perusahaan antara lain kepemilikan manajerial, kinerja keuangan suatu perusahaan, kebijakan deviden,

corporate governance dan lain sebagainya. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Suranta dan Machfoedz (2003) mengacu pada penelitian-penelitian terdahulu menyatakan bahwa nilai perusahaan akan lebih tinggi ketika direktur memiliki bagian saham yang lebih besar. Minguez and Francisco (2000) yang melakukan penelitian tentang struktur kepemilikan terhadap perusahaan-perusahaan publik di Spanyol mengungkapkan bahwa struktur kepemilikan perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya (2006) menemukan bahwa kebijakan dividen memberikan pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian Siallagan (2006) juga menunjukkan bahwa mekanisme corporate governance berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Nilai perusahaan menggambarkan seberapa baik atau buruk manajemen mengelola kekayaannya, hal ini bisa dilihat dari pengukuran kinerja keuangan yang diperoleh. Suatu perusahaan akan berusaha untuk memaksimalkan nilai perusahaannya.

Nilai perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan beberapa alternatif perhitungan, salah satu dari alternatif perhitungan tersebut yaitu dengan menggunakan rasio Tobin’s Q. Tobin’s Q dirumuskan oleh Professor James Tobin (1967).


(57)

Menurut Gordon and Sharpe (2000:12) dalam sriwardany (2006:26) mengenai nilai perusahaan adalah sebagai berikut:

“Tobin’s Q mencerminkan harga atau nilai suatu perusahaan dipasar, harga saham ditunjukkan dengan nilai kapitalisasi pasar. Nilai kapitalisasi pasar adalah nilai pasar agregat suatu perusahaan yang dihitung dari harga pasar saham hari ini dikalikan jumlah saham yang beredar hari ini. Untuk perusahaan yang go public, perusahaan dapat dilihat dari nilai pasar saham dipasar modal ditambah dengan nilai pasar hutangnya. Harga saham yang semakin tinggi pada saat perusahaan memiliki banyak kesempatan untuk berinvestasi, mengingat hal tersebut berarti dapat meningkatkan pendapatan pemegang saham”.

Apabila Tobin’s Q diatas 1 diartikan sebagai investasi dalam aktiva menghasilkan laba yang memberikan nilai lebih tinggi dari pengeluaran investasi, jadi terdapat investasi baru namun, apabila Tobin’s Q dibawah 1 maka hal tersebut dianggap tidaklah menarik. Tobin’s Q yang tinggi mencerminkan bahwa prospek pertumbuhan terhadap suatu perusahaan tersebut adalah baik. Tobin’s Q dapat dihitung dengan rumus:

Keterangan:

EMV = Nilai pasar ekuitas (harga penutupan x Jumlah saham yang beredar)

D = Nilai buku dari total hutang EBV = Nilai buku total Ekuitas

Q= (

!"#+!)


(58)

2.5 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Variabel dependen Variabel Independen Hasil penelitian 1 Honghui Chen

and Xiayang Wang (2009)

Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)

Kinerja keuangan Data analisi

menunjukkan bahwa ada hubungan yg signifikan dan timbal balik antara CSR homofon dan CFP diperusahaan Cina. Selain itu, penundaan pengaruh antara CSR dan CFP signifikan juga. Sementara varians antara CSR dan CFP adalag signifikan dan positif. H1 sampai H5 pada dasarnya diuji dan diverifikasi.

2 Restriyani (2011)

Tanggung jawab sosial perusahaan pertambangan

Kinerja keuangan Hasil penelitian

menunjukkan bahwa ada hubngan yang signifikan antara CSR dengan kinerja keuangan perusahaan pertambangan


(59)

3 Asri (2009) Corporate Social Responsibility

kinerja keuangan PT.PLN (persero) distribusi Jawa dan Banten

Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa penerepan Corporate Social Responsibility memiliki pengaruh yg signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan 4 Cahyono

(2011) Corporate Social Responsibility perusahaan Kinerja keuangan perusahaan manufaktur yg terdaftar di BEI tahun 2011

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yg signifikan antara CSR terhadap kinerja keuangan pada

perusahaan manufaktur yg terdaftar di BEI tahun 2011

5 Yuniasih dan Wirakusu ma (2007) ROA dengan variabel pemoderasi CSR dan GCG

Nilai Perusahaan ROA

berpengaruh positif terhadap nillai perusahaan, CSR mampu memoderasi hubungan antara ROA dengan nilai perusahaan, akan tetapi kepemilikan manajerial tidak mampu memoderasi hubungan antara ROA dengan nilai perusahaan


(1)

(2)

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 63

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation 2.01689215

Most Extreme Differences

Absolute .104

Positive .072

Negative -.104

Kolmogorov-Smirnov Z .824

Asymp. Sig. (2-tailed) .505

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.


(3)

Variables Entered/Removeda Model Variables

Entered

Variables Removed

Method

1 GCGTOBIN,

GCGb . Enter

a. Dependent Variable: ROA b. All requested variables entered.

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 .238a .057 .025 2.02974 1.306

a. Predictors: (Constant), GCGTOBIN, GCG b. Dependent Variable: ROA

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 14.905 2 7.453 1.809 .173b

Residual 247.191 60 4.120

Total 262.097 62

a. Dependent Variable: ROA

b. Predictors: (Constant), GCGTOBIN, GCG

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig.


(4)

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF

1

(Constant)

GCG .964 1.037

GCGTOBIN .964 1.037

a. Dependent Variable: ROA

Coefficient Correlationsa

Model GCGTOBIN GCG

1

Correlations

GCGTOBIN 1.000 -.188

GCG -.188 1.000

Covariances

GCGTOBIN .004 -.001

GCG -.001 .010

a. Dependent Variable: ROA

Collinearity Diagnosticsa

Model Dimension Eigenvalue Condition Index Variance Proportions

(Constant) GCG GCGTOBIN

1

1 1.339 1.000 .23 .32 .14

2 .973 1.173 .32 .00 .66

3 .688 1.395 .45 .68 .21

a. Dependent Variable: ROA


(5)

(6)

NPar Tests

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 63

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation 1.99673620

Most Extreme Differences

Absolute .136

Positive .087

Negative -.136

Kolmogorov-Smirnov Z 1.080

Asymp. Sig. (2-tailed) .194

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.


Dokumen yang terkait

Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Pemoderasi

13 171 114

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

2 14 19

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

0 4 107

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

1 3 107

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY(CSR) SEBAGAI VARIABEL MODERASI.

0 4 14

Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Good Corporate Governance sebagai Variabel Pemoderasi.

0 0 105

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PEMODERASI PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA NILAI PERUSAHAAN

0 0 11

Pengaruh Pengungkapan Corporte Social Responsibility, Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan dan Nilai Perusahaan sebagai Variabel Pemoderasi pada Perusahaan Pertambangan

0 0 13

Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Pemoderasi

0 0 10

Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Pemoderasi

0 0 13