Kinerja Keuangan Daerah, Infrastruktur, dan Kemiskinan : Analisis Kabupaten/Kota di Indonesia 2006-2009

I.

1.1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Implementasi desentralisasi fiskal yang efektif dimulai sejak Januari

2001 telah memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah untuk
merencanakan dan melaksanakan pengelolaan keuangan daerahnya masingmasing. Kewenangan dalam pengelolaan keuangan ini sejalan dengan pelimpahan
kewenangan dalam beberapa bidang pemerintahan dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah. Disahkannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang
pemerintah daerah dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan
keuangan antara pemerintah daerah dan pusat sebagai perubahan Undang-Undang
No. 22 tahun 1999 dan Undang-Undang No. 25 tahun 1999 dimaksudkan untuk
lebih menyempurnakan pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia (Kurnia,
2006).
Desentralisasi seharusnya dapat meningkatkan efisiensi dan kinerja
pengeluaran daerah sehingga terjadi percepatan pencapaian sasaran pembangunan.
Dengan demikian anggaran merupakan instrumen perencanaan pembangunan
yang sangat strategis untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan. Ekawarna,
Sam, Rahayu (2009) menyatakan bahwa anggaran daerah merupakan rencana
keuangan yang menjadi dasar dalam pelaksanaan pelayanan publik. Di Indonesia,
dokumen anggaran daerah disebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD), baik untuk provinsi maupun kabupaten/kota.
Seperti yang bisa dipelajari dalam situs-situs (websites) resmi
kementerian dan lembaga pemerintah lainnya, misalnya Unit Kerja Presiden


 

Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kementerian
Keuangan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan
sebagainya, salah satu masalah serius dalam pengelolaan keuangan negara dewasa
ini adalah rendahnya kemampuan penyerapan anggaran lembaga-lembaga
pemerintah termasuk pemerintah daerah. Dalam kurun waktu sepuluh tahun
terakhir, belanja kementerian dan lembaga telah menghasilkan pola belanja
dengan karakteristik penyerapan yang rendah di semester pertama dan menumpuk
pada akhir tahun anggaran berjalan. Pola demikian terjadi di tingkat pemerintah
pusat dan daerah. Sedemikian seriusnya masalah ini sehingga Presiden perlu
membentuk Tim Evaluasi dan Pengawasan Penyerapan Anggaran (EPPA) yang
melibatkan UKP4, Kementerian Keuangan, dan BPKP.
Di samping itu, besarnya komitmen pemerintah daerah dalam
menyediakan layanan publik melalui pengeluaran belanja tampak dari alokasi
pengeluaran belanja pemerintah daerah, khususnya belanja modal. Anggaran
belanja daerah menjadi tidak logis jika proporsi anggarannya lebih banyak
digunakan untuk membiayai belanja rutin (Abimanyu, 2005). Namun kondisi di
Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2007 sampai dengan 2011 belanja
daerah didominasi oleh belanja pegawai (Gambar 1.1).
Komposisi belanja daerah secara nasional dari tahun 2007 hingga 2011
menunjukkan bahwa porsi belanja pegawai dominan bila dibandingkan dengan
jenis belanja yang lainnya. Belanja pegawai mengalami peningkatan yang cukup
tajam pada tahun 2010 yaitu sebesar 46,52 persen tetapi pada tahun 2011
mengalami sedikit penurunan menjadi 46,25 persen. Belanja barang dan jasa juga


 

meningkat menjadi 21,04 persen pada tahun 2011, sedangkan porsi belanja modal
terus mengalami penurunan.

Sumber : DJPK Kementerian Keuangan RI, 2011

Gambar 1.1. Trend Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007–2011
Belanja modal ditambah belanja barang dan jasa merupakan belanja
pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
suatu daerah selain dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri (DJPK
Kementerian Keuangan RI, 2011). Belanja modal yang seharusnya dilakukan oleh
pemerintah daerah diantaranya adalah pembangunan dan perbaikan sektor
pendidikan, kesehatan, dan transportasi sehingga masyarakat juga dapat
menikmati manfaat dari pembangunan daerah (Abimanyu, 2005).
Rasio belanja modal terhadap total belanja daerah mencerminkan porsi
belanja daerah yang dibelanjakan untuk belanja modal. Semakin tinggi angka
rasionya, semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Gambar 1.2.
berikut menunjukkan rasio belanja modal terhadap total belanja secara agregat
provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia pada tahun 2011. Persentase rasio
seluruh provinsi masih di bawah 40,0 persen dan rata-rata agregat provinsi,


 

kabupaten dan kota sebesar 22,9 persen. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13
provinsi masih memiliki rasio dibawah rata-rata agregat, sedangkan 20 provinsi
berada di atas rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota.

Sumber : DJPK Kementerian Keuangan RI, 2011

Gambar 1.2. Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Agregat
Provinsi, Kabupaten dan Kota
Belanja

modal

yang

dilakukan

oleh

pemerintah

daerah

dapat

berkontribusi pada perekonomian regional apabila benar-benar diprioritaskan
untuk pembangunan infrastruktur di daerahnya. Infrastruktur merupakan investasi
penunjang yang menjadi salah satu faktor penentu pembangunan ekonomi yang
sama pentingnya dengan faktor-faktor produksi lainnya yakni modal dan tenaga
kerja

(Tambunan,

2006).

Pembangunan

infrastruktur

diyakini

mampu

menggerakkan sektor riil, menyerap tenaga kerja, meningkatkan konsumsi
masyarakat dan pemerintah, serta memicu kegiatan produksi. Sektor infrastruktur
dipahami secara luas sebagai enabler terjadinya kegiatan ekonomi produktif di
sektor-sektor lain.


 

Tabel 1.1. Peringkat Growth Competitiveness Index/GCI (2003‐2008)
Menurut World Competitiveness Report, 2008–2009 (134 negara)
Indonesia

Philippines

Brazil

Korea

China

Vietnam

Thailand

Malaysia

Infrastructure

96

94

98

18

58

97

35

19

Roads

105

94

110

13

51

102

32

17

Railroad

58

85

86

7

28

66

48

17

Port

104

100

123

29

54

112

48

16

Air Transport

75

89

101

26

74

92

28

20

Electricity

82

82

58

21

68

104

43

71

Telephone

100

105

62

17

47

37

86

31

Sumber : Bappenas, 2008

Karena keberadaan infrastruktur sangat penting, maka pembangunan
infrastruktur layak mendapatkan prioritas dalam pembangunan nasional. Akan
tetapi kenyataan di Indonesia menunjukkan bahwa kondisi infrastruktur masih
kurang memadai. Banyak indikator infrastruktur telah mengalami penurunan
dalam satu dekade terakhir dan posisi Indonesia tertinggal dari negara tetangga.
Tabel 1.1. tersebut menunjukkan peringkat daya saing infrastruktur Indonesia
pada tahun 2008. Tingkat akses rumah tangga terhadap listrik masih rendah dan
perluasan jaringan terhambat oleh kebijakan harga yang berlaku saat ini. Mutu
jalan nasional Indonesia relatif tinggi, tetapi banyak jalan daerah yang
pemeliharaannya sangat buruk. Proporsi jalan nasional yang dalam keadaan baik
mengalami penurunan sejak tahun 2000 sementara mutu rata-rata jalan daerah
tidak mengalami perubahan sejak tahun 2002. Beberapa daerah paling miskin di
kawasan Indonesia timur masih tidak memiliki akses terhadap jalan (World Bank,
2007).


 

Selain berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi, infrastruktur
berpeluang juga untuk memiliki dampak langsung pada perbaikan pemerataan
pendapatan. Ketika orang-orang mendapatkan akses ke jalan dan listrik serta
telekomunikasi, mereka memiliki peluang yang lebih baik untuk mendapatkan
lebih banyak pendapatan, dan karenanya orang-orang yang berada pada
pendapatan yang rendah mendapatkan lebih banyak daripada mereka yang
berpenghasilan tinggi.
Infrastruktur juga penting bagi kesejahteraan masyarakat dan prakondisi
yang penting untuk menanggulangi kemiskinan. Oleh karena itu, salah satu cara
untuk mengatasi permasalahan kemiskinan adalah dengan pembangunan
infrastruktur di daerah. Di Indonesia, kemiskinan masih menjadi permasalahan

Persentase penduduk miskin

yang belum bisa diatasi secara optimal oleh pemerintah.
40.00
35.00
30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
0.00

Provinsi

Sumber : Data dan Informasi Kemiskinan 2009, diolah

Gambar 1.3. Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2009
Sampai tahun 2009, rata-rata tingkat kemiskinan di Indonesia sebesar
14,43 persen. Daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi adalah Provinsi Papua


 

sebesar 34,77 persen. Sedangkan DKI Jakarta menjadi provinsi dengan tingkat
kemiskinan terendah, yaitu 3,8 persen. Dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, 16
di antaranya memiliki tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dari rata-rata tingkat
kemiskinan nasional (Gambar 1.3).
Penyediaan layanan publik yang maksimal seharusnya menjadi tujuan
dari setiap unit uang yang dibelanjakan oleh pemerintah daerah. Dengan
demikian, diharapkan local government spending akan benar-benar bermanfaat
dan menjadi stimulus fiskal bagi perekonomian di daerah dalam rangka
mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan suatu daerah dalam
mewujudkan kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada Pemerintah Daerah
dalam mengalokasikan belanjanya pada program dan kegiatan yang berorientasi
pada kebutuhan masyarakat (kepentingan publik) termasuk pembangunan
infrastruktur, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah
penduduk miskin.

1.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka
perumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.

Bagaimanakah kinerja keuangan daerah di Indonesia berdasarkan
indikator penyerapan belanja modal dan proporsi belanja modal?

2.

Bagaimanakah keterkaitan antara kinerja keuangan daerah dan
ketersediaan infrastruktur listrik, air bersih, dan jalan di Indonesia?

3.

Bagaimanakah keterkaitan antara ketersediaan infrastruktur dan tingkat
kemiskinan di Indonesia?


 

1.3. Tujuan Penelitian
Dari perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.

Menganalisis kinerja keuangan daerah di Indonesia berdasarkan indikator
penyerapan belanja modal dan proporsi belanja modal.

2.

Menganalisis

keterkaitan

antara

kinerja

keuangan

daerah

dan

ketersediaan infrastruktur listrik, air bersih, dan jalan di Indonesia.
3.

Menganalisis keterkaitan antara ketersediaan infrastruktur dan tingkat
kemiskinan di Indonesia.

1.4.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut :
1.

Sebagai bahan masukan dan informasi bagi pemerintah-pemerintah
daerah kabupaten/kota di Indonesia dalam meningkatkan kinerja
keuangan dan pentingnya melaksanakan pembangunan infrastruktur
untuk mengatasi kemiskinan di daerah.

2.

Sebagai wawasan dan pengetahuan mengenai keterkaitan antara kinerja
keuangan daerah, infrastruktur, dan kemiskinan di kabupaten/kota di
Indonesia.

3.

Sebagai bahan pustaka informasi dan referensi bagi pihak yang
membutuhkan serta rujukan bagi penelitian selanjutnya.

1.5.

Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kinerja keuangan daerah,

ketersediaan infrastruktur, dan tingkat kemiskinan di kabupaten/kota di Indonesia.


 

Analisis dilakukan terbatas pada 200 kabupaten/kota dengan menggunakan
metode analisis boxplot dan data panel. Metode boxplot digunakan untuk
menganalisis secara deskriptif kinerja keuangan 200 kabupaten/kota di Indonesia
periode 2006-2009. Analisis kinerja keuangan daerah hanya dilakukan dari sisi
pengeluaran yaitu dengan pendekatan belanja modal, sehingga dalam penelitian
ini tidak dapat dianalisis kinerja keuangan daerah dari sisi penerimaan. Kinerja
keuangan daerah dianalisis berdasarkan penyerapan belanja modal dan proporsi
belanja modal dari total belanja daerah. Sedangkan ketersediaan infrastruktur
yang dianalisis terbatas hanya pada infrastruktur listrik, air bersih, dan jalan yang
termasuk dalam infrastruktur dasar.

II.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Teoretis
2.1.1. Keuangan Daerah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 pasal 1 ayat 5,
keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di
dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
daerah tersebut. Keuangan daerah sebagai alat fiskal pemerintah daerah
merupakan bagian integral dari keuangan negara dalam mengalokasikan sumbersumber ekonomi, meratakan hasil pembangunan dan menciptakan stabilitas
ekonomi serta stabilitas sosial politik. Peranan keuangan daerah semakin penting
bukan hanya karena keterbatasan dana yang dapat dialihkan ke daerah berupa
Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK), tetapi juga karena
makin kompleksnya persoalan yang dihadapi daerah dan pemecahannya
membutuhkan partisipasi aktif masyarakat daerah. Selain itu, peranan keuangan
daerah yang makin meningkat akan mendorong terwujudnya otonomi daerah yang
nyata dan bertanggungjawab (Radianto, 1997).
Pada pasal 1 ayat 6 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
dijelaskan bahwa pengelolaan keuangan daerah merupakan keseluruhan kegiatan
yang

meliputi

perencanaan,

pelaksanaan,

penatausahaan,

pelaporan,

pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Keuangan daerah
dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis,
efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan,

11 
 

kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah
dilaksanakan dalam suatu sistem terintegrasi yang diwujudkan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang setiap tahun ditetapkan dengan
peraturan daerah.
2.1.1.1. Definisi Anggaran
Mardiasmo (2002) mendefinisikan anggaran sebagai sebuah proses yang
dilakukan oleh organisasi sektor publik untuk mengalokasikan sumber daya yang
dimilikinya pada kebutuhan-kebutuhan yang tidak terbatas. Pengertian tersebut
mengungkapkan peran strategis anggaran dalam pengelolaan kekayaan sebuah
organisasi sektor publik yang bertujuan untuk memberikan pelayanan maksimal
kepada masyarakat. Anggaran dapat juga dikatakan sebagai pernyataan mengenai
estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu dalam ukuran
finansial. Sedangkan menurut Suparmoko (2002), anggaran merupakan suatu alat
perencanaan mengenai pengeluaran dan pendapatan pada masa yang akan datang,
umumnya disusun untuk masa satu tahun. Anggaran juga berfungsi sebagai alat
kontrol atau pengawasan, baik terhadap pendapatan maupun pengeluaran pada
masa yang akan datang.
Anggaran publik berisi rencana kegiatan yang direpresentasikan dalam
bentuk rencana perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter.
Anggaran sektor publik merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan dana
publik dan pelaksanaan program-program yang dibiayai dengan uang publik.
Anggaran sektor publik menggambarkan kegiatan pemerintah dalam upaya
memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai stakeholder. Oleh sebab itu setiap
anggaran publik harus berpihak kepada kepentingan rakyat. Anggaran menjadi

12 
 

sangat esensial dalam upaya menghapus kemiskinan dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Penyusunan anggaran harus sesuai dengan prinsipprinsip yang diterima secara umum (Mardiasmo, 2002).
Di Indonesia, anggaran publik direpresentasikan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah menurut Mamesah dalam Purbadharmaja (2007) didefinisikan sebagai
rencana operasional keuangan pemerintah daerah. APBD tersebut di satu pihak
menggambarkan perkiraan pengeluaraan guna membiayai kegiatan-kegiatan dan
proyek-proyek dalam satu tahun anggaran tertentu. Di pihak lain, APBD juga
menggambarkan perkiraan pendapatan dan sumber-sumber pendapatan daerah
guna menutupi pengeluaran-pengeluaran yang dimaksud.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah harus disiapkan oleh
pemerintah daerah dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) atas
persetujuan DPRD selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya APBN.
Perubahan APBD dimungkinkan dan ditetapkan dengan Perda selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. Selanjutnya perhitungan
APBD ditetapkan dengan Perda selambat-lambatnya tiga bulan setelah
berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. Akhirnya, APBD yang telah
ditetapkan dengan Perda disampaikan kepada gubernur bagi pemerintah
kabupaten/kota dan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi
pemerintah provinsi untuk diketahui (Purbadharmaja, 2007).
Tabel 2.1. berikut menunjukkan struktur APBD yang terdiri dari tiga
bagian besar, yaitu pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Berdasarkan UndangUndang No. 33 Tahun 2004, Pendapatan Daerah merupakan hak pemerintah

13 
 

daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun
bersangkutan. Belanja daerah merupakan semua kewajiban daerah yang diakui
sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan. Sedangkan pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu
dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.
Tabel 2.1. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Pendapatan

Belanja

Pendapatan Asli Daerah
Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan
Lain-lain PAD yang sah
Dana Perimbangan
Dana bagi hasil pajak/bagi hasil
bukan pajak
Dana alokasi umum
Dana alokasi khusus
Lain-lain pendapatan daerah yang sah
Hibah
Dana darurat
Dana bagi hasil pajak dari propinsi
dan Pemda lainnya
Dana penyesuaian dan otonomi
khusus
Bantuan keuangan dari propinsi atau
Pemda lainnya
Lain-lain PAD yang sah

Belanja Tidak Langsung
Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja
Bagi
Hasil
kepada
Prop/Kab/Kota dan Pemdes
Belanja Tidak Terduga
Belanja Langsung
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal

Pembiayaan
Penerimaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
(SiLPA) tahun anggaran sebelumnya
Pencairan dana cadangan
Hasil penjualan kekayaan daerah
yang dipisahkan
Penerimaan pinjaman daerah dan
obligasi daerah
Penerimaan kembali pemberian
pinjaman

Pengeluaran
Pembentukan dana cadangan
Penyertaan modal (investasi) daerah
Pembayaran pokok utang
Pemberian pinjaman daerah
Pembayaran kegiatan lanjutan
Pengeluaran perhitungan pihak
ketiga

14 
 

APBD merupakan instrumen kebijakan yang utama bagi pemerintah
daerah. Sebagai instrumen kebijakan, APBD menduduki posisi sentral dalam
upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas pemerintah daerah. APBD
digunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya pengembangan pendapatan
dan

pengeluaran,

membantu

pengambilan

keputusan

dan

perencanaan

pembangunan, otorisasi pengeluaran di masa-masa yang akan datang, dan sumber
pengembangan ukuran-ukuran standar untuk evaluasi kinerja (Samadara, 2007).
Berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, APBD memiliki
fungsi alokasi (efisiensi alokasi). Fungsi alokasi berkaitan dengan penggunaan
sumber daya yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Dengan alokasi penggunaan
sumber daya yang diserahkan kepada daerah, maka pertumbuhan ekonomi akan
dapat dipercepat. Secara sederhana efisiensi alokasi akan terwujud jika kebijakan
publik dalam penganggaran sudah sesuai dengan aspirasi masyarakat.

2.1.2. Belanja Daerah
Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004, belanja daerah adalah semua
kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam
periode

tahun

anggaran

yang

bersangkutan.

Pemerintah

Daerah

harus

mengalokasikan belanja daerah secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati
oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi, khususnya dalam
pemberian pelayanan umum. Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik
mungkin untuk dapat menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan
yang maksimal guna kepentingan masyarakat.
Belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri

15 
 

dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan
perundang–undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk
melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya
memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan
pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial, dan fasilitas umum yang
layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial (PP Nomor 58 Tahun 2005).
Komponen belanja daerah menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004
terdiri dari belanja tidak langsung dan belanja langsung.
1.

Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak terikat langsung dengan

program dan kegiatan yang dipergunakan untuk mendanai belanja pegawai,
belanja barang, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, bagi hasil kepada provinsi,
kabupaten/kota dan pemerintah desa serta belanja tak terduga.
2.

Belanja Langsung
Belanja langsung adalah belanja yang terikat langsung dengan program

dan kegiatan yang digunakan untuk membiayai belanja pegawai, belanja barang
dan jasa dan belanja modal.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan, keseluruhan jenis belanja daerah tersebut
dikonversi dalam penyajian laporan keuangan dan dikelompokkan menjadi
belanja operasi, belanja modal, belanja tak terduga serta belanja transfer.
1.

Belanja operasi terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, belanja
bunga, belanja subsidi, belanja hibah dan belanja bantuan.

16 
 

2.

Belanja modal terdiri dari belanja tanah, belanja peralatan dan mesin,
belanja gedung dan bangunan, belanja jalan, irigasi dan jaringan, serta
belanja modal fisik lainnya.

3.

Belanja tak terduga adalah belanja yang dianggarkan untuk mendanai
kegiatan yang sifatnya darurat dan belum dapat diperkirakan sebelumnya.

4.

Belanja transfer/bagi hasil ke desa meliputi bagi hasil pajak, bagi hasil
retribusi dan bagi hasil pendapatan lainnya.

2.1.2.1. Belanja Modal
Dalam PMK Nomor 91/PMK.06/2007 tentang Bagan Akun Standar
(BAS), definisi belanja modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan
dalam rangka memperoleh atau menambah aset tetap dan aset lainnya yang
memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal
kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang ditetapkan pemerintah. Aset tetap
tersebut dipergunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari suatu satuan kerja,
bukan untuk dijual.
Belanja modal juga dapat didefinisikan sebagai belanja pemerintah
daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset
atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin
seperti biaya pemeliharaan pada kelompok belanja administrasi umum (Halim,
2004). Klasifikasi belanja modal berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun
2005 yang sekarang diatur dalam PP No. 71 tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan terdiri dari :
1.

Belanja modal tanah, yaitu semua biaya yang diperlukan untuk
pengadaan/pembelian/pembebasan/penyelesaian, balik nama dan sewa

17 
 

tanah, pengosongan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat
tanah dan pengeluaran-pengeluaran lain yang bersifat administratif
sehubungan dengan perolehan hak dan kewajiban atas tanah pada saat
pembebasan/pembayaran ganti rugi tanah.
2.

Belanja modal peralatan dan mesin, yaitu jumlah biaya untuk pengadaan
alat-alat dan mesin yang dipergunakan dalam pelaksanaan kegiatan
sampai siap untuk digunakan. Dalam jumlah belanja ini termasuk biaya
untuk penambahan, penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan
dan mesin yang diharapkan dapat meningkatkan nilai aktiva, serta
seluruh biaya pendukung yang diperlukan.

3.

Belanja modal gedung dan bangunan meliputi jumlah biaya yang
digunakan untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan kegiatan
pembangunan gedung yang persentasenya mengikuti Keputusan Direktur
Jenderal Cipta Karya untuk pembangunan gedung dan bangunan.

4.

Belanja modal jalan, irigasi dan jaringan yaitu biaya untuk pengembalian,
penggantian, peningkatan pembangunan, pembuatan prasarana dan
sarana yang berfungsi atau merupakan bagian dari jaringan pengairan
(termasuk jaringan air bersih), jaringan instalasi distribusi listrik dan
jaringan telekomunikasi serta jaringan lain yang berfungsi sebagai
prasarana dan sarana fisik distribusi instalasi.

5.

Belanja modal fisik lainnya, yaitu jumlah biaya yang digunakan untuk
pengadaan/pembangunan belanja fisik lainnya yang tidak dapat
diklasifikasikan dalam perkiraan belanja modal tanah, peralatan dan
mesin, gedung dan bangunan, jaringan (jalan, irigasi) dan belanja modal

18 
 

non fisik. Yang termasuk dalam belanja modal non fisik antara lain:
kontrak sewa beli, pengadaan/pembelian barang-barang kesenian,
barang-barang purbakala dan barang-barang musium, hewan ternak, serta
buku-buku dan jurnal ilmiah.

2.1.3. Pengertian Kinerja Keuangan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 dan Permendagri
No. 13 Tahun 2006, kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang
akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan
kuantitas dan kualitas yang terukur. Sedangkan dalam penjelasan pasal 39 ayat 2
PP No. 58 Tahun 2005 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan capaian kinerja
adalah ukuran prestasi kerja yang akan dicapai dari keadaan semula dengan
mempertimbangkan

faktor

kualitas,

kuantitas,

efisiensi,

dan

efektivitas

pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan. Kinerja (performance) juga dapat
dinyatakan sebagai hasil kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau
suatu organisasi secara keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat
diukur dan dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan (Sedarmayanti,
2003).
Adapun kinerja keuangan pemerintah daerah merupakan tingkat
pencapaian dari suatu hasil kerja di bidang keuangan daerah yang meliputi
penerimaan dan belanja daerah dengan menggunakan indikator keuangan yang
ditetapkan melalui suatu kebijakan atau ketentuan perundang-undangan selama
satu periode anggaran. Menurut Ekawarna, Sam, Rahayu (2009), pengukuran
kinerja anggaran keuangan daerah (APBD) sangat penting karena merupakan
suatu metode yang digunakan untuk mencatat dan menilai pencapaian

19 
 

pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran, dan strategi sehingga dapat
diketahui kemajuan organisasi serta tingkat efektivitas dan efisiensi anggaran.
Salah satu alat untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam
mengelola keuangan daerahnya adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan
terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakannya. Analisis rasio
keuangan daerah merupakan inti dari pengukuran kinerja sekaligus konsep
pengelolaan

organisasi

pertanggungjawaban

pemerintah

publik

oleh

untuk

menjamin

lembaga-lembaga

dilakukannya

pemerintah

kepada

masyarakat luas (Halim, 2002).
Kinerja keuangan pemerintah daerah juga dapat dilihat dari proporsi
belanja modal. Belanja modal ditambah belanja barang dan jasa merupakan
belanja pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi suatu daerah selain dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri.
Oleh karena itu, anggaran daerah yang didominasi belanja pegawai (dulu biasa
disebut sebagai bagian dari anggaran rutin) dapat dianggap mempunyai daya
ungkit atau dampak pengganda yang lebih kecil daripada yang dihasilkan oleh
anggaran yang didominasi oleh belanja modal (misalnya untuk kepentingan
pembangunan infrastruktur).
Indikator proporsi belanja modal menunjukkan arah pengelolaan belanja
pemerintah pada manfaat jangka panjang yang dapat memberikan multiplier yang
lebih besar terhadap perekonomian. Semakin tinggi proporsi belanja modal,
semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, semakin
rendah proporsinya, semakin buruk pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi
(DPJK Kementerian Keuangan, 2011). Dengan pertimbangan ini maka proporsi

20 
 

belanja modal dalam anggaran pemerintah daerah dapat menjadi indikator kinerja
pengelolaan keuangan pemerintah kota/kabupaten.
Indikator ini dirumuskan sebagai persentase dari belanja modal dalam
total belanja pada anggaran daerah yang secara matematis dapat dituliskan sebagai
berikut (Bappenas dan UNDP, 2008):
Proporsi Belanja Modal =

x 100%

(2.1)

Dalam perekonomian suatu negara, belanja pemerintah memainkan
peranan yang sangat penting dalam pencapaian tujuan nasional, terutama dalam
meningkatkan dan memelihara kesejahteraan rakyat. Hal ini terutama karena
besaran dan komposisi anggaran belanja pemerintah mempunyai dampak yang
signifikan pada permintaan agregat dan output nasional, serta mempengaruhi
alokasi sumberdaya dalam perekonomian. Sumbangan belanja pemerintah dalam
produk domestik bruto (PDB) Indonesia dewasa ini tergolong cukup besar.
Dengan demikian apabila anggaran belanja pemerintah gagal direalisasikan maka
timbul dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi. Dana yang telah tersedia
menjadi menganggur (iddle money), sehingga berbagai infrastruktur yang
semestinya terbangun menjadi terhambat perwujudannya.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia,
pada tahun 2008, penyerapan anggaran yang cepat, efisien dan efektif telah
menjadi salah satu agenda reformasi manajemen keuangan pemerintah.
Penyerapan anggaran merupakan salah satu indikator yang dapat menunjukkan
berhasilnya program atau kebijakan yang dilakukan pemerintah. Rasio realisasi
terhadap pagu anggaran mencerminkan terserapnya anggaran dalam melakukan
berbagai program yang telah ditetapkan. Dengan pertimbangan ini maka

21 
 

kemampuan menyerap anggaran oleh pemerintah daerah dapat menjadi indikator
kinerja pengelolaan keuangan pemerintah kota/kabupaten. Penyerapan anggaran,
khususnya belanja modal dapat diformulasikan sebagai berikut :
Penyerapan Belanja Modal =

x 100%

(2.2)

2.1.4. Infrastruktur
Infrastruktur merupakan barang komplementer yang sangat penting bagi
investasi swasta karena dapat menurunkan biaya angkut dan meningkatkan
volume perdagangan serta merupakan faktor penentu pertumbuhan jangka
panjang yang dominan (Jhingan, 2004). Infrastruktur tergolong sebagai social
overhead capital. Berbeda dengan modal yang berpengaruh secara langsung
terhadap kegiatan produksi, perluasan infrastruktur tidak hanya menambah stok
dari modal tetapi juga meningkatkan produktivitas perekonomian dan taraf hidup
masyarakat luas.
Infrastruktur dibedakan menjadi dua jenis, yaitu infrastruktur ekonomi
dan infrastruktur sosial. Infrastruktur ekonomi adalah infrastruktur fisik, baik
yang digunakan dalam proses produksi maupun yang dimanfaatkan oleh
masyarakat luas. Dalam pengertian ini infrastruktur ekonomi meliputi semua
prasarana umum seperti tenaga listrik, telekomunikasi, perhubungan, irigasi, air
bersih, sanitasi, serta pembuangan limbah. Sedangkan infrastruktur sosial antara
lain meliputi prasarana kesehatan dan pendidikan (Ramelan, 1997).
Ketersediaan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, bandara, sistem
penyediaan tenaga listrik, irigasi, sistem penyediaan air bersih, sanitasi, dan
sebagainya memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan tingkat perkembangan

22 
 

wilayah, yang antara lain dicirikan oleh laju pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari kenyataan bahwa daerah
yang mempunyai kelengkapan sistem infrastruktur yang lebih baik mempunyai
laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik pula
dibandingkan dengan daerah yang mempunyai kelengkapan infrastruktur yang
terbatas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyediaan infrastruktur
merupakan faktor kunci dalam mendukung pembangunan nasional (Bappenas,
2003).
Dampak dari kekurangan infrastruktur serta kualitasnya yang rendah
menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerja. Sehingga
pada akhirnya banyak perusahaan akan keluar dari bisnis atau membatalkan
ekspansinya. Oleh karena itu, infrastruktur sangat berperan dalam proses produksi
dan merupakan prakondisi yang sangat diperlukan untuk menarik akumulasi
modal sektor swasta.

2.1.5. Pentingnya Peran Pemerintah dalam Menyediakan Infrastruktur
Dasar
Dalam setiap sistem perekonomian, pemerintah senantiasa mempunyai
peranan yang penting. Intervensi pemerintah ini menjadi sangat penting jika
terjadi kegagalan pasar yang menyebabkan mekanisme pasar gagal dalam
mengalokasikan sumber-sumber ekonomi secara efisien dalam menghasilkan
barang dan jasa. Oleh karena itu, dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk
dapat memperbaiki alokasi sumber-sumber ekonomi sehingga kondisi Pareto
optimum dapat tercapai kembali. Dalam kaitannya dengan penyediaan

23 
 

infrastruktur dasar, kegagalan pasar disebabkan oleh beberapa hal, yaitu adanya
barang publik, eksternalitas, serta monopoli alamiah (Mangkoesoebroto, 2000).
1.

Barang Publik
Barang publik merupakan jenis barang dan jasa yang yang tidak dapat

disediakan oleh sistem pasar dalam perekonomian. Barang publik murni memiliki
dua karakteristik utama, yaitu penggunaannya tidak bersaingan (nonrivalry) dan
tidak dapat diterapkan prinsip pengecualian (nonexcludability). Oleh karena pihak
swasta tidak mau menghasilkan barang publik murni, maka pemerintahlah yang
harus menyediakan barang tersebut agar kesejahteraan seluruh masyarakat dapat
ditingkatkan. Ada pula jenis barang publik yang tidak murni (impure public
goods), yaitu barang yang hanya memiliki salah satu dari karakteristik utama
barang publik murni (Mangkoesoebroto, 2000).
Barang publik dapat dikecualikan secara ekonomis, akan tetapi biaya
untuk mengecualikan segolongan masyarakat segolongan masyarakat dari
manfaat suatu barang sangat besar dibandingkan dengan biaya untuk
menyediakan barang tersebut. Selain itu pada barang publik juga timbul masalah
reveal preference. Dalam hal ini, tidak ada seorangpun yang bersedia
mengemukakan nilai kesukaannya terhadap suatu barang publik sehingga sistem
pasar gagal menyediakan barang tersebut. Oleh karena itu, teori ini mampu
menjelaskan mengapa jaringan jalan raya sebagai salah satu barang publik
semestinya dibangun oleh pemerintah.
2.

Eksternalitas
Dalam suatu perekonomian modern, setiap aktivitas mempunyai

keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Semakin modern suatu perekonomian, maka

24 
 

semakin besar dan semakin banyak kaitannya dengan kegiatan-kegiatan lainnya.
Apabila semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya
dilaksanakan melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka
keterkaitan antara berbagai aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan
tetapi banyak pula keterkaitan antar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar
sehingga timbul berbagai masalah.
Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui
mekanisme pasar tersebut dikenal sebagai eksternalitas. Eksternalitas terjadi
apabila tindakan seseorang mempunyai dampak terhadap orang lain (atau
segolongan orang) tanpa adanya kompensasi apapun sehingga menimbulkan
inefisiensi dalam alokasi faktor-faktor produksi. Ditinjau dari dampaknya,
eksternalitas dapat dibagi dua, yakni eksternalitas positif dan eksternalitas negatif
(Mangkoesoebroto, 2000).
Eksternalitas positif merupakan dampak yang menguntungkan dari suatu
tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap pihak lain tanpa adanya
kompensasi dari pihak yang diuntungkan. Barang/jasa yang menimbulkan
eksternalitas positif diproduksi terlalu sedikit (under-supplied), sehingga perlu
campur tangan pemerintah agar situasi optimum Pareto dapat tercapai kembali
(McTaggart, Findlay, Parkin, 2007). Tergolong dalam kategori ini adalah
produk/jasa kesehatan atau sanitasi, termasuk air bersih. Sehingga teori ini dapat
menjelaskan mengapa air bersih harus disediakan oleh pemerintah.
Pada kasus eksternalitas positif, MEB (Marginal External Benefits) = 0
sehingga tingkat produksi akan terlalu rendah jika dilihat dari efisiensi seluruh
masyarakat. Hal tersebut dikarenakan tingkat produksi ditentukan pada saat PMC

25 
 

= MPB, sedangkan bagi seluruh masyarakat tingkat produksi yang efisien terjadi
pada saat MSB = MPB + MEB = MSC = PMC + MEC. Dengan asumsi MEC = 0,
maka terlihat bahwa MSB > MPB sedangkan MSC = PMC. Selama MSB > MSC,
produksi seharusnya ditingkatkan sampai MSB = MSC. Adanya eksternalitas
positif menyebabkan kurva MSC di bawah kurva PMC (MSC < PMC).
Perpotongan antara kurva MSC dab MSB terjadi di titik E dan jumlah produksi
yang optimum adalah sebesar OQ1 yang lebih besar dari OQ0 yang merupakan
jumlah yang optimal berdasarkan perhitungan secara mikro oleh produsen
(Gambar 2.1).
P

PMC

MSC
P1
E

P0

MPB
0

Q0

Q1

Jumlah

Gambar 2.1. Eksternalitas Positif
(MPB = Marginal Private Benefits, MSB = Marginal Social Benefits, PMC =
Private Marginal Cost, MSC = Marginal Social Cost)
Adapun eksternalitas negatif terjadi apabila dampak yang diterima oleh
orang lain yang tidak menerima kompensasi sifatnya merugikan. Barang/jasa yang
menimbulkan eksternalitas negatif diproduksi terlalu banyak (misalnya polusi
udara) sehingga diperlukan intervensi pemerintah untuk dapat mencapai kondisi
optimum Pareto. Efisiensi ekonomi akan tercapai apabila MSC = MSB, padahal
produsen tidak pernah memperhitungkan MEC dan MEB dalam menentukan

26 
 

harga dan jumlah barang yang dihasilkannya. Karena itu, produsen akan
menentukan harga dan tingkat produksi pada suatu tingkat dimana PMC = MPB
(MEC = 0; dan MEB = 0).
P

MSC = PMC+MEC

PMC
P1
P2

MEC

MSB
0

Q1

Q2

Jumlah

Gambar 2.2. Eksternalitas Negatif
(MSB = Marginal Social Benefits, MEC = Marginal External Benefits, PMC =
Private Marginal Cost, MSC = Marginal Social Cost)
Apabila dalam melakukan kegiatan produksi timbul suatu eksternalitas
negatif, maka MEC > 0 sedangkan MEB = 0. Ini berarti PMC < MSC, sehingga
ada tingkat produksi akan berada pada tingkat yang lebih besar karena
perhitungan biayanya menjadi terlalu murah dibandingkan dengan biaya yang
harus ditanggung oleh seluruh masyarakat. Sehingga pada kasus eksternalitas
negatif MSC = PMC + MEC > MSB dan tingkat produksi harus dikurangi agar
efisiensi produksi yang ditinjau dari seluruh masyarakat mencapai optimum. Pada
Gambar 2.2. berikut, kurva permintaan menunjukkan manfaat masyarakat (MSB)
atas suatu produksi barang/jasa. Tingkat output yang optimum terjadi pada tingkat
produksi sebesar OQ1, sedangkan produsen akan cenderung menetapkan tingkat
produksi sebesar OQ2 dimana kurva permintaan (MSB) memotong kurva PMC,

27 
 

sehingga tampak bahwa jumlah yang diproduksi terlalu banyak dibandingkan
tingkat produksi yang optimum.
3.

Monopoli Alamiah
Beberapa jenis barang yang hanya dapat diproduksi oleh satu produsen.

Meskipun pemerintah telah berusaha untuk menghapus monopoli pada produksi
suatu industri, persaingan di antara produsen yang ada akan menyebabkan hanya
satu produsen yang mampu bertahan. Jadi, secara alamiah monopoli tersebut
terjadi di masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pasar akan barang tersebut terlalu
kecil atau investasi yang dibutuhkan sangat besar sehingga skala ekonomi yang
efisien baru dapat terjadi pada tingkat produksi yang besar. contoh industri yang
berada pada kondisi monopoli alamiah adalah industri listrik (Mangkoesoebroto,
2000).
Industri listrik digolongkan sebagai industri dengan biaya produksi ratarata yang selalu menurun dengan semakin banyaknya produk yang dihasilkan dan
ditransmisikan. Industri yang demikian mempunyai kurva biaya marginal yang
selalu berada di bawah kurva biaya rata-rata sehingga produk yang dihasilkan
harus dalam volume yang sangat besar agar tidak merugi. Akibatnya industri
listrik tidak dapat dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang kecil karena tidak
menguntungkan dan sebaiknya diusahakan oleh sebuah perusahaan raksasa dan
bersifat monopoli. Di samping itu, industri pelistrikan termasuk dalam industri
yang produknya ditujukan untuk kepentingan umum (public utilities) sehingga
pemerintah memiliki tanggung jawab utama dalam mengelola dan menyediakan
listrik (Suparmoko, 2002).

28 
 

Pada Gambar 2.3. berikut, dapat dilihat bahwa permintaan akan barang X
sangat kecil sehingga kurva permintaan memotong kurva biaya rata-rata (AR)
pada bagian yang menurun. Apabila produsen berproduksi pada tingkat produksi
yang oleh masyarakat dianggap efisien, yaitu pada MC = AR, maka produsen
akan menghasilkan OX1 unit barang dengan harga OP0. Akan tetapi pada tingkat
produksi tersebut produsen akan rugi sehingga tingkat produksi OX1 tidak dapat
berlangsung dalam jangka panjang. Apabila barang X merupakan barang yang
penting bagi masyarakat sehingga barang tersebut harus diproduksi sebanyak OX1
unit, maka tidak ada seorang produsen pun yang bersedia menghasilkannya. Oleh
karena itu, pemerintah harus campur tangan yang dapat diwujudkan dalam
beberapa bentuk, antara lain produksi barang tersebut dapat dilakukan oleh
pemerintah.
Harga

P2

P3
P1

AC

P0

MC

0

X2

MR

X1

AR

Jumlah

Gambar 2.3. Industri pada Keadaan Monopoli Alamiah

29 
 

2.1.6. Kemiskinan
2.1.6.1. Definisi Kemiskinan
Kemiskinan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi
berbagai kebutuhan seperti pangan, perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan,
dan sebagainya. Kemiskinan adalah suatu kondisi yang dialami seseorang atau
kelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu
taraf yang dianggap manusiawi. Menurut Suparlan dalam Hudaya (2009),
kemiskinan merupakan suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya
tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang dibandingkan
dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang
bersangkutan.
Terdapat lima klasifikasi kemiskinan menurut Sumodiningrat (1999),
yaitu :
1.

Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut selain dilihat dari pemenuhan kebutuhan dasar

minimum yang memungkinkan seseorang dapat hidup layak, juga ditentukan oleh
tingkat pendapatan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, tingkat
pendapatan minimum merupakan pembatas antara keadaan yang disebut miskin
atau sering disebut dengan istilah garis kemiskinan. Seseorang termasuk golongan
miskin absolut apabila hasil pendapatannya yang berada di bawah garis
kemiskinan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum seperti
pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.

30 
 

2.

Kemiskinan Relatif
Sekelompok orang dalam masyarakat dikatakan mengalami kemiskinan

relatif apabila pendapatannya lebih rendah dibandingkan kelompok lain tanpa
memperhatikan apakah mereka masuk dalam kategori miskin absolut atau tidak.
Penekanan dalam kemiskinan relatif adalah adanya ketimpangan pendapatan
dalam masyarakat antara yang kaya dan yang miskin atau dikenal dengan istilah
ketimpangan distribusi pendapatan. Kemiskinan relatif untuk menunjukkan
ketimpangan pendapatan berguna untuk mengukur ketimpangan pada suatu
wilayah. Kemiskinan relatif juga dapat digunakan untuk mengukur ketimpangan
antar wilayah yang dilakukan pada suatu wilayah tertentu. Pengukuran
kemiskinan relatif diukur berdasarkan tingkat pendapatan, ketimpangan
sumberdaya manusia berupa kualitas pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
3.

Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural mengacu pada sikap seseorang atau masyarakat

yang disebabkan oleh faktor budaya yang tidak mau berusaha untuk memperbaiki
tingkat kehidupan meskipun ada usaha dari pihak luar untuk membantunya.
Alfian dalam Hudaya (2009) mendefinisikan kemiskinan struktural sebagai
kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial
masyarakat tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang
sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan struktural meliputi kekurangan
fasilitas pemukiman yang sehat, kekurangan pendidikan, dan kekurangan
komunikasi dengan dunia sekitarnya. Kemiskinan struktural juga dapat diukur
dari kurangnya perlindungan dari hukum dan pemerintah sebagai birokrasi atau
peraturan resmi yang mencegah seseorang memanfaatkan kesempatan yang ada.

31 
 

4.

Kemiskinan Kronis
Kemiskinan kronis disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
a.

Kondisi sosial budaya yang mendorong sikap dan kebiasaan hidup
masyarakat yang tidak produktif.

b.

Keterbatasan sumberdaya dan keterisolasian (daerah-daerah yang kritis
akan sumberdaya alam dan daerah terpencil).

c.

Rendahnya derajat pendidikan dan perawatan kesehatan, terbatasnya
lapangan kerja dan ketidakberdayaan masyarakat dalam mengikuti
ekonomi pasar.

5.

Kemiskinan Sementara
Kemiskinan sementara terjadi akibat beberapa hal, yaitu perubahan siklus

ekonomi dari kondisi normal menjadi krisis ekonomi, perubahan yang bersifat
musiman, dan bencana alam atau dampak dari sesuatu yang menyebabkan
menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
2.1.6.2. Perhitungan Garis Kemiskinan
Teknik perhitungan garis kemiskinan yang dilakukan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) terbagi ke dalam dua kurun waktu, yaitu sebelum tahun 2008 dan
setelah tahun 2008.
1.

Sebelum tahun 2008
Untuk menghitung penduduk miskin tingkat kabupaten/kota digunakan

metode yang didasarkan pada hukum Engel. Dasar dari hukum Engel adalah
semakin miskin seseorang maka semakin tinggi proporsi pengeluaran untuk
makanan.

32 
 

2.

Setelah tahun 2008
Tahap pertama dalam perhitungan penduduk miskin yang dilakukan BPS

setelah tahun 2008 adalah menentukan penduduk referensi yaitu 20 persen
penduduk yang berada di atas Garis Kemiskinan Sementara (GKS). GKS adalah
garis kemiskinan periode sebelumnya yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK).
Dari penduduk referensi tersebut kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan
(GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM). Garis Kemiskinan (GK)
dapat diperoleh dengan menjumlahkan GKM dan GKNM. Penduduk yang
memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah GK dikategorikan
sebagai penduduk miskin.
GKM merupakan jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar
makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian disetarakan
dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Penyetaraan nilai pengeluaran
kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata
kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Selanjutnya GKM disetarakan dengan 2100
kilokalori dengan cara mengalikan 2100 terhadap harga implisit rata-rata kalori
menurut daerah dari penduduk referensi.
Sedangkan GKNM merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum
dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang,
pendidikan, dan kesehatan. Nilai kebutuhan minimum per komoditi/sub-kelompok
non-makanan

dihitung

dengan

menggunakan

suatu

rasio

pengeluaran

komoditi/sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/subkelompok yang tercatat dalam data Susenas modul konsumsi.

33 
 

2.2.

Tinjauan Empiris
Untuk mendukung penelitian yang akan dilakukan, maka ada beberapa

penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian terdahulu
bertujuan untuk membandingkan dan memperkuat hasil analisis yang dilakukan
yang merujuk dari beberapa studi, baik yang berkaitan langsung maupun tidak
langsung.
Studi mengenai kinerja keuangan pemerintah daerah pernah dilakukan
oleh Ekawarna, Sam, Rahayu (2009) terhadap kinerja APBD Kabupaten Muaro
Jambi. Dari studi tersebut diperoleh hasil bahwa rasio efektivitas tinggi, rasio
efisiensi rendah, rasio pertumbuhan semakin meningkat, sedangkan rasio
kemandirian dan rasio aktivitas masih rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
kinerja APBD pemerintah daerah Kabupaten Muaro Jambi belum baik. Selain itu
ada pula studi yang dilakukan oleh Ronald dan Sarmiyatiningsih (2010) terhadap
kinerja keuangan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kulon Progo. Hasil
studi tersebut menyatakan bahwa setelah diberlakukannya otonomi daerah, rasio
efisiensi belanja cenderung menurun. Artinya belanja daerah cenderung efisien
sehingga pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan meskipun dalam angka
yang relatif kecil.
Ada beberapa studi mengenai peran infrastruktur dalam perekonomian.
Pertama, studi yang dilakukan oleh Bernt dan Hansson (1991) yang
mengemukakan bahwa peningkatan pelayanan infrastruktur dapat mengurangi
biaya produksi. selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh World Bank (1994)
menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen ternyata terkait erat

34 
 

dengan pertumbuhan ketersediaan pelayanan infrastruktur sebesar satu persen
pula.
Penelitian-penelitian yang mengukur elastisitas ketersediaan infrastruktur
terhadap perekonomian dilakukan Canning (1999), Calderon dan Serven (2002)
serta Marianne Fay dan Tito Yepes (2003). Berbagai studi tersebut menunjukkan
bahwa investasi infrastruktur berdampak signifikan dan positif terhadap
perekonomian. Kemudian penelitian mengenai dampak infrastruktur terhadap
perekonomian di Indonesia dilakukan oleh Purnomo (2009), khususnya di
Kabupaten Bekasi. Dari penelitian yang menggunakan metode OLS tersebut
diperoleh hasil bahwa infrastuktur berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Bekasi.
Adapun studi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan di
Indonesia dilakukan oleh Usman, Sinaga, Siregar (2006). Studi tersebut
menunjukkan bahwa adanya penurunan kualitas infrastruktur jalan mengakibatkan
kemiskinan semakin bertambah. Faktor komunitas infrastruktur yang juga penting
adalah akses listrik. Hasil analisis membuktikan bahwa baik di tahun 1999
maupun 2002 rumah tangga yang tidak memiliki akses terhadap listrik akan
menambah peluang menjadi miskin. Sehingga salah satu hal yang harus mendapat
perhatian pemerintah pusat maupun daerah dalam penanggulangan kemiskinan
adalah infrastruktur. Studi lainnya dilakukan oleh Tumiwa dan Imelda (2011)
mengenai kemiskinan energi. Dari studi tersebut diperoleh hasil bahwa
pembangunan secara sosial dan ekonomi hanya akan tercipta jika dan hanya jika
akses kepada energi tersedia dengan kualitas yang baik, harga terjangkau, pasokan

35 
 

terjamin, serta teknologi yang digunakan dapat diterima oleh masyarakat
pengguna.

2.3.

Kerangka Penelitian Konseptual

Penyerapan Belanja
Modal

Proporsi Belanja Modal

Ketersediaan
Infrastruktur (Listrik, Air,
Jalan)

Faktor-Faktor lain yang
memengaruhi
ketersediaan infrastruktur

Faktor-Faktor lain yang
memengaruhi kemiskinan

Tingkat Kemiskinan

Penelitian ini akan berusaha untuk mengonfirmasi hubungan antara
kinerja keuangan pemerintah daerah, ketersediaan infras

Dokumen yang terkait

Dokumen baru