Penggunaan Maltodekstrin Hasil Hidrolisis Pati Pisang pada Formulasi Sediaan Orally Disintegrating Tablet (ODT)

TESIS
PENGGUNAAN MALTODEKSTRIN HASIL HIDROLISIS
PATI PISANG PADA FORMULASI SEDIAAN
ORALLY DISINTEGRATING TABLET (ODT)

OLEH:
MINDA SARI LUBIS
NIM 087014002

PROGRAM STUDI MAGISTER DAN DOKTOR ILMU FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Medan
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGGUNAAN MALTODEKSTRIN HASIL HIDROLISIS
PATI PISANG PADA FORMULASI SEDIAAN
ORALLY DISINTEGRATING TABLET (ODT)

TESIS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Magister Sains dalam Ilmu Farmasi Pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
MINDA SARI LUBIS
NIM 087014002

PROGRAM STUDI MAGISTER DAN DOKTOR ILMU FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Medan
2011

Universitas Sumatera Utara

PERSETUJUAN TESIS
Nama Mahasiswa
No. Induk Mahasiswa
Program Studi
Judul Tesis

: Minda Sari Lubis
: 087014002
: Magister Farmasi
: Penggunaan Maltodekstrin Hasil Hidrolisis
Pati Pisang pada Formulasi Sediaan Orally
Disintegrating Tablet (ODT)

Medan,

September 2011

Menyetujui:
Komisi Pembimbing,
Ketua,

Prof. Dr. Karsono, Apt.
NIP 195409091982011001
Anggota,

Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt.
NIP 194908111976031001
Ketua Program Studi,

Dekan,

Prof. Dr. Karsono, Apt.
NIP 195409091982011001

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN TESIS
Nama Mahasiswa
No. Induk Mahasiswa
Program Studi
Judul Tesis

: Minda Sari Lubis
: 087014002
: Magister Farmasi
: Penggunaan Maltodekstrin Hasil Hidrolisis
Pati Pisang pada Formulasi Sediaan Orally
Disintegrating Tablet (ODT)

Telah di uji dan dinyatakan LULUS di depan Tim Penguji Tesis pada hari Kamis
tanggal empat bulan Agustus tahun dua ribu sebelas
Mengesahkan:
Tim Penguji Tesis
Ketua Tim Penguji

: Prof. Dr. Karsono, Apt.

Anggota Tim Penguji : 1. Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt.
2. Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
3. Prof. Dr. M. Timbul Simanjuntak, M.Sc., Apt.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur khadirat Allah SWT atas segala nikmat yang tak terhingga
sehingga penulis bisa menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis dengan judul
Penggunaan Maltodekstrin Hasil Hidrolisis Pati Pisang pada Formulasi Sediaan
Orally Disintegrating Tablet (ODT) sebagai salah satu syarat untuk mencapai
gelar Magister Sains pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Shalawat
dan salam kepada Rasullullah SAW.
Selama menyelesaikan penelitian dan tesis ini penulis telah banyak
mendapatkan bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, baik moril maupun
materil. Untuk itu penulis ingin menghaturkan penghargaan dan terima kasih yang
tiada terhingga kepada :
1.

Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,
DTM&H., M.Sc., (CTM)., Sp.A(K), atas kesempatan dan fasilitas yang
diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan Program
Magister.

2.

Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr.
Sumadio Hadisahputra, Apt., yang telah menyediakan fasilitas dan
kesempatan bagi penulis menjadi mahasiswa Program Studi Magister
Farmasi Fakultas Farmasi.

3.

Ketua Program Studi Magister Farmasi Fakultas Farmasi Universitas
Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Karsono, Apt., dan juga selaku Pembimbing
I yang tiada hentinya memberikan dorongan dan semangat sehingga penulis
terpacu untuk menyelesaikan pendidikan Program Magister Farmasi.

4.

Bapak Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt., selaku Pembimbing II yang
telah membimbing, mengarahkan, memberi saran, dan dorongan dengan
penuh kesabaran selama penulis menjalani pendidikan, penelitian dan
penyelesaian tesis ini.

5.

Bapak Prof. Urip Harahap, Apt. dan Bapak Prof. Dr. Timbul Simanjuntak,
M.Sc., Apt., sebagai penguji.

6.

Bapak Drs. Agusmal Dalimunthe MS., Apt., Kepala Laboratorium Formulasi
Tablet beserta staf.

Universitas Sumatera Utara

7.

Bapak Prof. Dr. rer. nat. Effendy De Lux Putra, Apt., Kepala Laboratorium
Penelitian beserta staf.
Serta buat semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu

yang telah banyak membantu dalam penelitian tesis ini. Kiranya Allah SWT
memberikan balasan yang berlipat ganda atas kebaikan dan bantuan yang telah
diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan,
sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.Akhir
kata semoga tulisan ini dapat menjadi sumbangan yang

berarti bagi ilmu

pengetahuan khususnya bidang farmasi.

Medan,

September 2011
Penulis

Minda Sari Lubis

Universitas Sumatera Utara

PENGGUNAAN MALTODEKSTRIN HASIL HIDROLISIS
PATI PISANG PADA FORMULASI SEDIAAN ORALLY
DISINTEGRATING TABLET (ODT)
Abstrak
Maltodekstrin merupakan salah satu turunan pati yang dihasilkan dari
proses hidrolisis parsial oleh enzim α-amilase yang memiliki nilai Dextrose
Equivalent (DE) kurang dari 20. Aplikasi maltodekstrin telah banyak pada industri
makanan dan industri farmasi. Untuk meningkatkan penggunaan maltodekstrin,
maka penelitian ini mencoba penggunaan maltodekstrin sebagai disintegrant pada
sediaan Orally Disintegrating Tablet (ODT). ODT atau tablet hancur di mulut
merupakan salah satu sediaan obat yang paling berguna untuk pasien geriatrik dan
pediatrik yang mengalami kesulitan dalam menelan tablet atau kapsul
konvensional. Kriteria utama dari ODT adalah cepat larut atau cepat hancur di
dalam rongga mulut dengan bantuan air liur dalam waktu 15 sampai 60 detik.
Metoklopramida dipilih sebagai model obat untuk Orally Disintegrating Tablet di
mana memberikan keuntungan pada pasien-pasien tertentu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi maltodekstrin yang
dihasilkan melalui proses hidrolisis pati pisang dengan enzim α-amilase sebagai
disintegrant pada sediaan ODT, mengetahui pengaruh variasi jumlah
maltodekstrin terhadap karakteristik ODT, mengetahui disolusi dari ODT dan
tablet metoklorpramida dalam rangka evaluasi maltodekstrin sebagai disintegrant.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pembuatan pati pisang dan
analisis karakteristik pati pisang, pembuatan maltodekstrin dan analisis
karakteristik maltodekstrin, selanjutnya maltodekstrin diformulasikan menjadi
sediaan ODT.
Hasil analisis karakterisasi maltodekstrin menunjukkan rendemen 36,42%,
mikroskopik berupa granul tunggal, tidak ditemukan partikel granul pati yang
utuh seperti tidak adanya hilus dan lamella, solubility 42,7%, swelling power
11,43%, identifikasi maltodekstrin memberikan endapan merah bata dengan
larutan Fehling dan memiliki nilai DE maksimal 17,18 serta analisis
spektofotometri inframerah yang mempunyai pola puncak yang sama dengan
maltodekstrin komersil. Organoleptis berupa serbuk bewarna agak kekuningan,
tidak berasa dan tidak berbau. Kadar air dan kadar abu maltodekstrin sebesar
7,35% dan 0,71%, sudut diam 35,3o dengan waktu alir 12,9 detik dan Indeks
kompresibilitas 19 %.
Hasil evaluasi tablet dari 5 formula ODT yang diteliti, menunjukkan ODT
dengan maltodekstrin 15% (ODT4) memberikan waktu hancur in vitro yang
paling cepat yaitu sebesar 22,2 detik. Kadar obat rata-rata dari ODT4 sebesar
102,06%, keseragaman kandungan rata-rata sebesar 102,93%, waktu pembasahan
rata-rata sebesar 42,095 detik, waktu hancur in vivo rata-rata berkisar antara 55,38
detik sampai 75,72 detik. Selain itu, disolusi dari ODT4 dan tablet
metoklopramida menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p <
0,05).
Kata kunci: Pati pisang, Maltodekstrin, Orally Disintegrating Tablet

Universitas Sumatera Utara

THE USE OF MALTODEXTRIN OF BANANA STARCH IN
THE FORMULATION OF ORALLY DISINTEGRATING
TABLET
Abstract
Maltodextrin is a starch derivative resulting from the partial hydrolysis by
α-amylase enzyme which has a Dextrose Equivalent (DE) value of less than 20.
Maltodextrin has many applications in food and pharmaceutical industries. To
increase the use of maltodextrin, the study sought to use maltodextrin as the
disintegrant in Orally Disintegrating Tablet (ODT). ODT or crushed tablets in the
mouth is one of the most useful drug dosage to geriatric and pediatric patients
who have difficulty in swallowing conventional tablets or capsules. The main
criteria of the ODT is a fast dissolve or rapidly disintegrated in the oral cavity
with the help of saliva within 15 to 60 seconds. Metoklopramida chosen as a
model drug, which is a drug candidate for Orally Disintegrating Tablet which
provides advantages in certain patients.
The aims of this study is to determine the function of maltodextrin
produced by the hydrolysis of banana starch with α-amylase enzyme as
desintegrant in ODT, to determine the effect of variation the amount of
maltodextrin in ODT characteristics, to determine the dissolution of ODT and
metoclorpramide tablets in order to evaluate maltodextrin as disintegrant. The
method used in this study includes the making of banana starch and analysis of
banana starch characteristic, the making of maltodekstrin and analysis of
maltodekstrin characteristic, and then the maltodekstrin was formulated to become
ODT.
Results analysis of the characterization of maltodextrin shows the yield
36.42%, microscopically is a single granule, not found the intact starch granule
particle as such as lack of hilum and lamella, solubility 42.7%, swelling power
11.43%, the identification of maltodextrin provided brick red precipitate with
Fehling solution and maximal DE value 17.18 and analysis of infrared
spectrophotometry have a peak pattern similar to commercial maltodextrin.
Organoleptic yellowish powder, tasteless and odorless. Maltodextrin has moisture
content and ash content 7.35% and 0.71%, the angle of repose 35.3o with flow
rate 12.9 seconds and compressibility index 19%.
Results of the evaluation of tablets from 5 ODT formulas, showed the
ODT with 15% maltodextrin (ODT4) gave the fastest in vitro disintegration time
of 22.2 seconds. The average drug content of the ODT4 102.06%, the uniformity
of content of average 102.93%, the average wetting time 42.095 seconds, the in
vivo disintegration time average ranged from 55.38 seconds up to 75.72 seconds.
In addition, dissolution of ODT4 and metoclopramide tablets showed that
statistically there was a significant difference (p < 0.05).
Key words: Banana starch, Maltodextrin, Orally Disintegrating Tablet

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman

JUDUL .......................................................................................................

i

HALAMAN JUDUL ..................................................................................

ii

PERSETUJUAN TESIS .............................................................................

iii

PENGESAHAN TESIS ..............................................................................

iv

KATA PENGANTAR ...............................................................................

v

ABSTRAK .................................................................................................

vii

ABSTRACT ...............................................................................................

viii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

ix

DAFTAR TABEL ......................................................................................

xiii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................

xv

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN .....................................................................

1

1.1 Latar Belakang ....................................................................

1

1.2 Kerangka Konsep Penelitian ..............................................

8

1.3 Perumusan Masalah ............................................................

9

1.4 Hipotesis Penelitian ............................................................

10

1.5 Tujuan Penelitian ................................................................

10

1.5.1 Tujuan Umum .........................................................

10

1.5.2 Tujuan Khusus ........................................................

10

1.6 Manfaat Penelitian ..............................................................

11

TINJAUAN PUSTAKA ............................................................

12

2.1 Pisang Kepok........................ ..............................................

12

2.2 Pati ............ ........................................................................

15

2.3 Enzim α-amilase ..................................................................

19

2.4 Maltodekstrin.......................................................................

22

2.5 Orally Disintegrating Tablet ...............................................

25

2.5.1 Karakteristik Ideal ODT.............................................

26

2.5.2 Kelebihan dan Kekurangan Formulasi ODT .............

27

2.6 Metoklopramida ..................................................................

28

Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN ...........................................................

30

3.1 Desain Penelitian ................................................................

30

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................

30

3.3 Alat dan Bahan ...................................................................

31

3.3.1 Alat-alat yang digunakan ........................................

31

3.3.2 Bahan-bahan yang digunakan..................................

31

3.4 Pembuatan Pereaksi ............................................................

32

3.4.1 Larutan Natrium Sulfit .............................................

32

3.4.2 Larutan Iodium 0,005 M ..........................................

32

3.4.3 Larutan Natrium Hidroksida 0,1 N ..........................

32

3.4.4 Larutan Asam Klorida 0,1 N ...................................

32

3.4.5 Larutan Fehling A ....................................................

32

3.4.6 Larutan Fehling B ....................................................

33

3.4.7 Larutan Fehling ........................................................

33

3.4.8 Larutan Glukosa Standard ..................................... .

33

3.4.9 Larutan Indikator Metilen biru 0,2 % ......................

33

3.5 Bahan Penelitian .................................................................

33

3.5.1 Pengambilan Bahan ..................................................

33

3.5.2 Pembuatan Pati Pisang .............................................

34

3.5.3 Karakterisasi Pati Pisang .........................................

34

3.5.3.1 Rendemen ...................................................

34

3.5.3.2 Mikroskopik ................................................

35

3.5.3.3 Organoleptis ...............................................

35

3.5.3.4 Identifikasi ..................................................

35

3.5.3.4.1 Analisis Pati.................................

35

3.5.3.4.2 Iodine Test ...................................

35

3.5.3.4.3 Analisis dengan Kertas Lakmus .

35

3.5.3.4.4 Analisis pH..................................

36

3.5.3.5 Kadar Air....................................................

36

3.5.3.6 Kadar Abu ....................................................

36

3.5.3.7 Uji Solubility ...............................................

37

3.5.3.8 Uji Swelling Power .....................................

37

Universitas Sumatera Utara

3.5.4 Pembuatan Maltodekstrin.........................................

37

3.5.5 Karakteristik Maltodekstrin .....................................

38

3.5.3.1 Rendemen ...................................................

38

3.5.3.2 Mikroskopik ................................................

38

3.5.3.6 Organoleptis ................................................

38

3.5.3.5 Identifikasi ..................................................

39

3.5.5.5.1 Uji Fehling ...................................

39

3.5.5.5.2 Iodine Test. ..................................

39

3.5.5.5.3 Analisis pH ..................................

39

3.5.5.5.4 Penentuan Dextrose Equivalent ..

39

3.5.5.5.5 Analisis Spektrofotometri
Infra Merah ..................................

40

3.5.3.7 Kadar Air....................................................

40

3.5.3.8 Kadar Abu ....................................................

41

3.5.3.3 Uji Solubility ...............................................

41

3.5.3.4 Uji Swelling Power .....................................

42

3.5.5.9 Sudut Diam .................................................

42

3.5.5.10 Uji Laju Alir ..............................................

42

3.5.5.11 Indeks Kompresibilitas ..............................

43

3.5.6 Pembuatan ODT Metoklopramida ...........................

43

3.5.7 Uji Preformulasi tiap Formula .................................

44

3.5.7.1 Sudut Diam ..................................................

44

3.5.7.2 Penetapan Waktu Alir ..................................

45

3.5.7.3 Penetapan Indeks Kompresibilitas ...............

45

3.5.8 Evaluasi Tablet terhadap Berbagai Formula ...........

45

3.5.8.1 Uji Friabilitas ..............................................

45

3.5.8.2 Uji Kekerasan ..............................................

46

3.5.8.3 Uji Waktu Hancur In Vitro ..........................

46

3.5.9 Evaluasi Tablet terhadap Formula yang Paling Baik

46

3.5.9.1 Penetapan Kadar Zat Berkhasiat
secara Spektrofotometri Ultraviolet ............

46

Universitas Sumatera Utara

3.5.9.1.1 Pembuatan Larutan Baku
Induk Metoklorpramida HCl .......

46

3.5.9.1.2 Pembuatan Kurva Serapan ...........

47

3.5.9.1.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi .........

47

3.5.9.1.4 Penetapan Kadar Metoklopramida
dalam ODT...................................

47

3.5.9.2 Uji Keseragaman Sediaan ...........................

48

3.5.9.3 Uji Waktu Pembasahan ...............................

48

3.5.9.4 Uji Waktu Hancur In Vivo ...........................

49

3.5.9.4 Uji Profil Pelepasan Bahan Obat (Disolusi).

49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

51

4.1 Hasil Pemeriksaan Pati Pisang .............................................

51

4.2 Hasil Pemeriksaan Maltodekstrin .........................................

55

4.2.1 Pembuatan Maltodekstrin ............................................

55

4.2.2 Hasil Karakteristik Maltodekstrin ...............................

58

4.3 Pembuatan ODT Metoklorpramida ......................................

67

4.3.1 Hasil Uji Preformulasi tiap Formula ..........................

67

4.3.2 Hasil Evaluasi Tablet terhadap Berbagai Formula .....

69

4.3.3 Hasil Penetapan Kadar Zat Berkhasiat tehadap Tablet
ODT4 ..........................................................................

72

4.3.4 Hasil Uji Keseragaman Sediaan terhadap Tablet ODT4

72

4.3.5 Hasil Uji Waktu Pembasahan terhadap Tablet ODT4

72

4.3.6 Hasil Uji Waktu Hancur In Vivo ................................

73

4.3.7 Hasil Uji Disolusi..... ..................................................

74

KESIMPULAN DAN SARAN .................................................

78

5.1 Kesimpulan .........................................................................

78

5.2 Saran ...................................................................................

78

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

79

LAMPIRAN ...............................................................................................

84

BAB V

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Kriteria ODT Metoklorpramida yang diharapkan...............

43

Tabel 3.2 Komposisi ODT Metoklorpramida............................................

44

Tabel 4.1 Hasil Karakterisasi pati pisang...................................................

51

Tabel 4.2 Kondisi pembuatan maltodekstrin dari pati pisang....................

57

Tabel 4.3 Hasil analisis terhadap karakterisasi maltodekstrin...................

59

Tabel 4.4 Data hasil uji preformulasi massa serbuk...................................

67

Tabel 4.5 Hasil Evaluasi tablet...................................................................

70

Tabel 4.6 Hasil % kumulatif rata-rata uji disolusi sediaan ODT4
dan tablet metoklopramida.........................................................

76

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1

Diagram yang menunjukkan kerangka konsep penelitian
pembuatan maltodekstrin sebagai desintegrant....................

Gambar 1.2

8

Diagram yang menunjukkan kerangka konsep penelitian
pembuatan Orally Desintegrating Tablet..............................

9

Gambar 2.1 Struktur Pati.........................................................................

17

Gambar 2.2 Struktur Maltodekstrin..........................................................

23

Gambar 2.3 Struktur Metoklopramida......................................................

28

Gambar 4.1 Bentuk mikroskopik pati pisang dengan perbesaran 400x....

52

Gambar 4.2 Bentuk mikroskopik maltodekstrin pisang kepok dengan
perbesaran 400 x...................................................................

61

Gambar 4.3 Bentuk mikroskopik maltodekstrin komersil dengan
perbesaran 400 x....................................................................

61

Gambar 4.4 Spektrum FT-IR maltodekstrin pisang kepok ......................

64

Gambar 4.5 Spektrum FT-IR maltodekstrin komersil..............................

64

Gambar 4.6

Grafik % kumulatif rata-rata hasil uji disolusi sediaan
ODT4 dan tablet metoklopramida (Primperan)
dalam medium disolusi air suling..........................................

76

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1

Sertifikat Analisis Maltodekstrin........................................ 84

Lampiran 2

Sertifikat Analisis Metoklopramida Hidroklorida............... 85

Lampiran 3

Pisang Kepok……………........................................

Lampiran 4

Bagan pembuatan pati pisang kepok....................................87

Lampiran 5

Gambar pembuatan pati pisang kepok................................. 88

Lampiran 6

Data hasil rendemen pati pisang.......................................... 90

Lampiran 7

Data hasil % solubility pati pisang....................................... 91

Lampiran 8

Data hasil swelling power pati pisang.................................. 92

Lampiran 9

Data hasil kadar abu pati pisang...........................................93

Lampiran 10

Data hasil kadar air pati pisang.............................................94

Lampiran 11

Bagan pembuatan maltodekstrin...........................................95

Lampiran 12

Gambar proses pembuatan maltodekstrin............................ 96

Lampiran 13

Data hasil rendemen maltodekstrin...................................... 97

Lampiran 14

Data hasil % solubility maltodekstrin...................................98

Lampiran 15

Data hasil swelling power maltodekstrin..............................99

Lampiran 16

Data hasil kadar abu maltodekstrin......................................100

Lampiran 17

Data hasil kadar air maltodekstrin....................................... 101

Lampiran 18

Data hasil Uji Dextrose Equivalent......................................102

Lampiran 19

Data hasil sudut diam dan waktu alir maltodekstrin............104

Lampiran 20

Data hasil indeks kompresibilitas maltodekstrin..................105

Lampiran 21
Lampiran 22

Tablet ODT metoklopramida dengan berbagai konsentrasi
maltodekstrinsebagaidisintegrant..........................................106
Data hasil uji preformulasi ODT1........................................ 107

Lampiran 23

Data hasil uji preformulasi ODT2........................................ 108

Lampiran 24

Data hasil uji preformulasi ODT3........................................ 109

Lampiran 25

Data hasil uji preformulasi ODT4........................................ 110

Lampiran 26

Data hasil uji preformulasi ODT5...............................

111

Lampiran 27

Data hasil friabilitas ODT..........................................

112

Lampiran 28

Data hasil kekerasan ODT.........................................

113

Lampiran 29

Data hasil waktu hancur in vitro ODT .................................114

86

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 30

Data hasil penentuan kurva serapan metoklopramida baku dalam
larutan HCL 0,1 N........................................................

Lampiran 31

Data hasil penentuan kurva kalibrasi

115

metoklopramida baku

dalam larutan HCL 0,1 N......................................................116
Lampiran 32

Data hasil penentuan kadar metoklopramida pada ODT4…117

Lampiran 33

Data hasil uji keseragaman sediaan ODT4....................... 119

Lampiran 34

Data hasil uji waktu pembasahan ODT4........................... 120

Lampiran 35

Gambar uji waktu pembasahan ODT4.............................. 121

Lampiran 36

Data hasil uji waktu hancur in vivo ODT4........................ 122

Lampiran 37

Gambar uji waktu hancur in vivo ODT4............................ 124

Lampiran 38

Data hasil penentuan kurva serapan metoklopramida baku dalam
air suling............................................................................. 130

Lampiran 39

Data hasil penentuan kurva kalibrasi

metoklopramida baku

dalam air suling................................................................... 131
Lampiran 40

Data hasil uji disolusi ODT4................................................132

Lampiran 41

Data hasil uji waktu hancur in vitro terhadap ODT4 dan tablet
metoklopramida.............................................................

Lampiran 42

138

Data hasil analisis t-test secara SPSS uji disolusi ODT4 dan tablet
metoklopramida ...................................................................139

Lampiran 43

Spesifikasi enzim α-amilase...................................................141

Lampiran 44

Hasil spektrum inframerah maltodekstrin pati pisang...........142

Lampiran 45

Hasil spektrum inframerah maltodekstrin komersil...............143

Lampiran 46

Hasil Identifikasi pisang Kepok............................................144

Universitas Sumatera Utara

PENGGUNAAN MALTODEKSTRIN HASIL HIDROLISIS
PATI PISANG PADA FORMULASI SEDIAAN ORALLY
DISINTEGRATING TABLET (ODT)
Abstrak
Maltodekstrin merupakan salah satu turunan pati yang dihasilkan dari
proses hidrolisis parsial oleh enzim α-amilase yang memiliki nilai Dextrose
Equivalent (DE) kurang dari 20. Aplikasi maltodekstrin telah banyak pada industri
makanan dan industri farmasi. Untuk meningkatkan penggunaan maltodekstrin,
maka penelitian ini mencoba penggunaan maltodekstrin sebagai disintegrant pada
sediaan Orally Disintegrating Tablet (ODT). ODT atau tablet hancur di mulut
merupakan salah satu sediaan obat yang paling berguna untuk pasien geriatrik dan
pediatrik yang mengalami kesulitan dalam menelan tablet atau kapsul
konvensional. Kriteria utama dari ODT adalah cepat larut atau cepat hancur di
dalam rongga mulut dengan bantuan air liur dalam waktu 15 sampai 60 detik.
Metoklopramida dipilih sebagai model obat untuk Orally Disintegrating Tablet di
mana memberikan keuntungan pada pasien-pasien tertentu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi maltodekstrin yang
dihasilkan melalui proses hidrolisis pati pisang dengan enzim α-amilase sebagai
disintegrant pada sediaan ODT, mengetahui pengaruh variasi jumlah
maltodekstrin terhadap karakteristik ODT, mengetahui disolusi dari ODT dan
tablet metoklorpramida dalam rangka evaluasi maltodekstrin sebagai disintegrant.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pembuatan pati pisang dan
analisis karakteristik pati pisang, pembuatan maltodekstrin dan analisis
karakteristik maltodekstrin, selanjutnya maltodekstrin diformulasikan menjadi
sediaan ODT.
Hasil analisis karakterisasi maltodekstrin menunjukkan rendemen 36,42%,
mikroskopik berupa granul tunggal, tidak ditemukan partikel granul pati yang
utuh seperti tidak adanya hilus dan lamella, solubility 42,7%, swelling power
11,43%, identifikasi maltodekstrin memberikan endapan merah bata dengan
larutan Fehling dan memiliki nilai DE maksimal 17,18 serta analisis
spektofotometri inframerah yang mempunyai pola puncak yang sama dengan
maltodekstrin komersil. Organoleptis berupa serbuk bewarna agak kekuningan,
tidak berasa dan tidak berbau. Kadar air dan kadar abu maltodekstrin sebesar
7,35% dan 0,71%, sudut diam 35,3o dengan waktu alir 12,9 detik dan Indeks
kompresibilitas 19 %.
Hasil evaluasi tablet dari 5 formula ODT yang diteliti, menunjukkan ODT
dengan maltodekstrin 15% (ODT4) memberikan waktu hancur in vitro yang
paling cepat yaitu sebesar 22,2 detik. Kadar obat rata-rata dari ODT4 sebesar
102,06%, keseragaman kandungan rata-rata sebesar 102,93%, waktu pembasahan
rata-rata sebesar 42,095 detik, waktu hancur in vivo rata-rata berkisar antara 55,38
detik sampai 75,72 detik. Selain itu, disolusi dari ODT4 dan tablet
metoklopramida menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p <
0,05).
Kata kunci: Pati pisang, Maltodekstrin, Orally Disintegrating Tablet

Universitas Sumatera Utara

THE USE OF MALTODEXTRIN OF BANANA STARCH IN
THE FORMULATION OF ORALLY DISINTEGRATING
TABLET
Abstract
Maltodextrin is a starch derivative resulting from the partial hydrolysis by
α-amylase enzyme which has a Dextrose Equivalent (DE) value of less than 20.
Maltodextrin has many applications in food and pharmaceutical industries. To
increase the use of maltodextrin, the study sought to use maltodextrin as the
disintegrant in Orally Disintegrating Tablet (ODT). ODT or crushed tablets in the
mouth is one of the most useful drug dosage to geriatric and pediatric patients
who have difficulty in swallowing conventional tablets or capsules. The main
criteria of the ODT is a fast dissolve or rapidly disintegrated in the oral cavity
with the help of saliva within 15 to 60 seconds. Metoklopramida chosen as a
model drug, which is a drug candidate for Orally Disintegrating Tablet which
provides advantages in certain patients.
The aims of this study is to determine the function of maltodextrin
produced by the hydrolysis of banana starch with α-amylase enzyme as
desintegrant in ODT, to determine the effect of variation the amount of
maltodextrin in ODT characteristics, to determine the dissolution of ODT and
metoclorpramide tablets in order to evaluate maltodextrin as disintegrant. The
method used in this study includes the making of banana starch and analysis of
banana starch characteristic, the making of maltodekstrin and analysis of
maltodekstrin characteristic, and then the maltodekstrin was formulated to become
ODT.
Results analysis of the characterization of maltodextrin shows the yield
36.42%, microscopically is a single granule, not found the intact starch granule
particle as such as lack of hilum and lamella, solubility 42.7%, swelling power
11.43%, the identification of maltodextrin provided brick red precipitate with
Fehling solution and maximal DE value 17.18 and analysis of infrared
spectrophotometry have a peak pattern similar to commercial maltodextrin.
Organoleptic yellowish powder, tasteless and odorless. Maltodextrin has moisture
content and ash content 7.35% and 0.71%, the angle of repose 35.3o with flow
rate 12.9 seconds and compressibility index 19%.
Results of the evaluation of tablets from 5 ODT formulas, showed the
ODT with 15% maltodextrin (ODT4) gave the fastest in vitro disintegration time
of 22.2 seconds. The average drug content of the ODT4 102.06%, the uniformity
of content of average 102.93%, the average wetting time 42.095 seconds, the in
vivo disintegration time average ranged from 55.38 seconds up to 75.72 seconds.
In addition, dissolution of ODT4 and metoclopramide tablets showed that
statistically there was a significant difference (p < 0.05).
Key words: Banana starch, Maltodextrin, Orally Disintegrating Tablet

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tumbuhan Pisang banyak terdapat di Indonesia dan dapat tumbuh dengan
baik di daerah tropis dan subtropis. Di Asia, Indonesia merupakan penghasil
pisang terbesar yaitu kira-kira 50% dari produksi pisang Asia. Pisang merupakan
buah-buahan terpenting di Indonesia, dengan jumlah produksi tertinggi diantara
buah-buahan yang ada (Prabawati, dkk., 2008). Pisang merupakan tumbuhan yang
tidak mengenal musim dan mudah berkembangbiak; hal tersebut menyebabkan
ketersediaan buah pisang di pasaran selalu melimpah. Kendala yang ada adalah
buah pisang memiliki waktu penyimpanan yang relatif singkat karena mempunyai
kadar air yang tinggi sehingga membuat buah pisang cepat busuk. Salah satu cara
untuk mengatasi kendala tersebut yakni untuk memperpanjang daya simpan serta
daya penggunaannya, buah pisang diolah menjadi berbagai produk seperti dalam
bentuk tepung pisang atau produk olahan lain.
Pengolahan buah pisang menjadi tepung merupakan salah satu alternatif.
Tepung buah pisang mengandung karbohidrat yang cukup tinggi yaitu 70% - 80%
(Prabawati, dkk., 2008), sehingga buah pisang cukup potensial dikembangkan
sebagai sumber pati.
Di Indonesia, kebanyakan industri pati mengandalkan satu jenis bahan
baku saja, yaitu singkong. Selama ini kurang ada usaha untuk mencari alternatif
pati selain singkong, umbi-umbian (umbi kimpul, kentang dan ganyong) dan
rumput-rumputan (gandum dan padi). Ada baiknya dilakukan diverifikasi sumber

Universitas Sumatera Utara

pati sehingga pasokan tidak terhalang jika terjadi gangguan penyediaan bahan
baku konvensional. Berdasarkan perihal tersebut, perlu diteliti sumber pati lain
dari bahan alam. Salah satunya adalah buah pisang. Pada penelitian ini buah
pisang yang digunakan adalah pisang kepok mentah. Menurut Bello, et al.,
(2002), kandungan pati yang terbesar terdapat pada buah-buahan yang belum
ranum, kandungan patinya mencapai 70% dari berat keringnya. Pada saat buah
menjadi ranum, maka sebagian pati akan diubah menjadi sukrosa sehingga kadar
patinya menurun. Pada waktu kadar pati menurun, kandungan sukrosa akan naik,
dan sukrosa yang terbentuk akan dipecah menjadi glukosa dan fruktosa (Winarno,
2002). Buah pisang kepok menghasilkan pati dengan warna lebih putih jika
dibandingkan dengan pati dari pisang ambon dan pisang siem yang menghasilkan
pati bewarna coklat kehitaman (Satuhu dan Supriyadi, 1999; Prabawati, dkk
2008). Pati pisang kepok memiliki sifat fisikokimia pati yang baik, sehingga buah
pisang kepok memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai
sumber pati sebagai bahan pangan maupun keperluan lain, misalnya sebagai
bahan tambahan dalam bidang farmasi, baik dalam bentuk pati asli ataupun dalam
bentuk hasil modifikasi.
Pati alami (belum dimodifikasi) mempunyai beberapa kelemahan pada
karakteristiknya yaitu tidak larut dalam air dingin, membutuhkan waktu yang
lama dalam pemasakan, pasta yang dihasilkan cukup keras, dan mempunyai
kestabilan yang rendah. Dengan berbagai kekurangan tadi, maka dikembangkan
berbagai modifikasi terhadap pati yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
pasar (industri) yang berbeda-beda tersebut. Modifikasi pati dilakukan dengan
tujuan untuk menghasilkan sifat yang lebih baik dari sifat pati sebelumnya atau

Universitas Sumatera Utara

untuk merubah beberapa sifat yang diharapkan agar dapat memenuhi kebutuhan
tertentu. Pati termodifikasi banyak digunakan dalam bidang industri, misalnya
industri pangan, industri kertas dan industri farmasi. Dewasa ini metode yang
banyak digunakan untuk memodifikasi pati adalah dengan cara hidrolisis,
modifikasi pati secara kimia dan modifikasi pati secara fisika. Setiap metode
modifikasi pati menghasilkan pati termodifikasi dengan sifat yang berbeda-beda
(Anonim, 2006). Modifikasi pati secara hidrolisis dapat dilakukan dengan
penambahan asam atau enzim. Metode hidrolisis menggunakan asam memiliki
kelemahan diantaranya tidak ramah lingkungan, karena residu yang dihasilkan
dari proses hidrolisis asam akan mencemari lingkungan. Hidrolisis asam juga
bersifat toksik apabila terhirup dalam waktu yang lama sehingga terakumulasi
dalam tubuh dan menyebabkan berbagai penyakit. Proses hidrolisis menggunakan
katalis asam hanya menghidrolisis secara acak dan juga memerlukan suhu yang
sangat tinggi, yaitu 120oC – 160oC agar hidrolisis dapat terjadi. Berdasarkan
kelemahan tersebut proses hidrolisis pati menggunakan asam jarang digunakan.
Metode hidrolisis pati yang lebih sering digunakan adalah secara enzimatis
dengan menggunakan enzim. Enzim yang digunakan adalah amilase, seperti αamilase. α-amilase dapat menghidrolisis ikatan α-1,4-glikosida secara spesifik
(Assegaf, 2009). Pada penelitian ini, dipilih metode modifikasi pati secara
hidrolisis menggunakan enzim, karena memiliki keunggulan dibandingkan dengan
hidrolisis menggunakan asam. Proses hidrolisis pati secara enzimatik juga lebih
ekonomis, dapat dilakukan pada suhu rendah dan mudah dalam pengontrolan
proses hidrolisisnya (Sadeghi, et al., 2008).

Universitas Sumatera Utara

Maltodekstrin merupakan salah satu turunan pati yang dihasilkan dari
proses hidrolisis parsial oleh enzim α-amilase yang memiliki nilai Dextrose
Equivalent (DE) kurang dari 20. DE menyatakan jumlah total gula pereduksi hasil
hidrolisis pati. Maltodekstrin memiliki kelarutan yang lebih tinggi, mampu
membentuk film, memiliki higroskopisitas rendah, mampu sebagai pembantu
pendispersi, mampu menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat kuat
(Luthana, 2008). Maltodekstrin tidak berasa dan dikenal sebagai bahan tambahan
makanan yang aman (Blancard dan Katz, 1995). Maltodekstrin merupakan bahan
tambahan makanan yang telah diaplikasikan selama 35 tahun. Maltodekstrin lebih
mudah larut daripada pati, harga maltodekstrin lebih murah dibandingkan dengan
major edible hydrocolloids lainnya, maltodekstrin juga mempunyai rasa yang
enak dan lembut (Sadeghi, et al., 2008).
Maltodekstrin memiliki penggunaan yang lebih banyak dalam industri
pangan, bahkan farmasi. Maltodekstrin telah banyak digunakan pada industri
makanan, seperti pada minuman susu bubuk, minuman berenergi dan minuman
Prebiotik (Blancard dan Katz, 1995). Beberapa penelitian sebelumnya di bidang
farmasi telah menggunakan maltodekstrin sebagai niosom pembawa obat (Anwar,
2004) dan maltodekstrin sebagai bahan penyalut lapis tipis tablet (Anwar, 2002).
Pati pisang telah digunakan sebagai bahan dasar dalam memproduksi
maltodekstrin (Bello, et al., 2002). Struktur maltodekstrin tergantung dari sumber
botaninya, karena masing-masingnya mempunyai sifat fisika dan kimia yang
berbeda-beda. Berdasarkan sifat dan kegunaan maltodekstrin yang dipaparkan
diatas dan untuk meningkatkan penggunaan maltodekstrin, maka penelitian ini

Universitas Sumatera Utara

mencoba penggunaan maltodekstrin sebagai disintegrant pada sediaan Orally
Disintegrating Tablet (ODT).
ODT merupakan salah satu bentuk penyampaian obat untuk tujuan
tertentu. Walaupun banyak kemajuan besar dalam penyampaian obat, rute oral
merupakan rute yang dianggap sempurna untuk pemberian zat berkhasiat obat
karena pemberiannya yang mudah sehingga meningkatkan kepatuhan pasien dan
juga merupakan terapi dengan biaya yang rendah (Patel, et al., 2006).
Tablet merupakan bentuk sediaan padat oral yang paling umum
digunakan, karena lebih nyaman untuk dibawa, rasa dan bau bahan obat yang
tidak menyenangkan dapat ditutupi. Walaupun serbuk atau kapsul juga merupakan
bentuk sediaan

oral, tetapi keduanya mempunyai kelemahan seperti dapat

melekat di tenggorokan atau faring. Bentuk sediaan cairan, seperti emulsi atau
suspensi, memiliki masalah pada stabilitas bahan obat dan tidak praktis untuk
membawa atau menggunakan bentuk sediaan cairan tersebut, ini menunjukkan
bahwa tablet memiliki keunggulan. Banyak pasien sulit menelan tablet dan kapsul
gelatin keras sehingga pasien tersebut tidak meminum obat mereka seperti yang
dianjurkan. Kesulitan dalam menelan dialami hampir 35% dari pasien geriatrik.
Pasien geriatrik banyak yang mengalami kesulitan meminum obat dalam bentuk
sediaan konvensional (larutan, suspensi, tablet dan kapsul) karena tangan mereka
yang tremor dan kesulitan pasien geriatrik menelan obat. Masalah menelan juga
umum pada pasien pediatrik di bawah umur 12 tahun. Kelompok lain, yang
mungkin mengalami masalah dalam menelan bentuk sediaan padat adalah pasien
disfagia. Dalam beberapa kasus seperti mabuk perjalanan, serangan alergi yang
mendadak atau batuk dan tidak tidak adanya persediaan air minum portabel,

Universitas Sumatera Utara

menelan tablet atau kapsul dapat menjadi sulit. Dalam rangka membantu pasien,
beberapa sistem penyampaian obat cepat hancur telah dikembangkan (Sharma,
2008). Orally Disintegrating Tablet (ODT) dapat hancur dan terdispersi di dalam
rongga mulut dengan sedikit air liur, sehingga tidak diperlukan air untuk menelan
obat (pasien dapat membawa ODT ini tanpa sumber portabel air minum) (Patel, et
al., 2006).
Menurut FDA (Food and Drugs Administration, Amerika Serikat), ODT
didefinisikan sebagai suatu bentuk sediaan padat mengandung senyawa aktif obat,
yang dapat hancur secara cepat, biasanya dalam hitungan detik, ketika diletakkan
di atas lidah. Kriteria utama dari ODT adalah cepat hancur didalam rongga mulut
dengan bantuan air liur dalam 15 sampai 60 detik (Indurwade, et al., 2002). Zat
penghancur (disintegrant) digunakan untuk memenuhi kriteria tablet hancur pada
batas waktu yang ditetapkan. ODT dapat diformulasi dengan berbagai metode. Di
antaranya adalah cetak langsung (direct compression). Teknik cetak langsung
tidak memerlukan alat khusus atau wadah khusus untuk membentuk tablet.
Namun, formulasi yang dirancang pada suatu penelitian sangat penting untuk
mendapatkan tablet yang menunjukkan tingkat disintegrasi dan kekerasan yang
tepat. Waktu disintegrasi tergantung pada karakteristik fisika kimia bahan obat
dan bahan tambahan.
Metoklopramida yang merupakan suatu antiemetik, dipilih sebagai model
obat dalam penelitian ini, karena metoklopramida dapat diberikan pada pasien
mabuk perjalanan yang kemungkinan tidak mempunyai sumber portable air
minum pada waktu ingin meminum obatnya. Contohnya pasien penumpang kapal
terbang atau pasien yang sedang menempuh perjalanan jauh. Pada peristiwa-

Universitas Sumatera Utara

peristiwa seperti itu, metoklopramida merupakan model obat yang sesuai untuk
ODT dengan

memberikan keuntungan pada pasien-pasien tertentu (Alanazi,

2007).
Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti
maltodekstrin sebagai disintegrant yang akan diformulasikan ke dalam bentuk
sediaan ODT, sebagai bahan obatnya adalah metoklopramida. ODT yang
diformulasi akan dievaluasi friabilitas, kekerasan, dan waktu hancur in vitro. ODT
yang memiliki waktu hancur in vitro yang paling baik, selanjutnya akan dievaluasi
kadar zat berkhasiat, keseragaman kandungan, waktu pembasahan, waktu hancur
in vivo dan disolusi. Disolusi dari ODT tersebut akan dibandingkan dengan tablet
metoklopramida komersil.

Universitas Sumatera Utara

1.2 Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan pada latar belakang, maka kerangka
konsep penelitian adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1 dan 1.2.
Rendemen

Pisang Kepok
mentah

Mikroskopik
Pati Pisang

Karakteristik

Organoleptis

Analisis pati
Iodine test

Identifikasi

Analisis dengan
kertas lakmus

Kadar air
Kadar abu

Analisis pH

Solubility
Swelling
Rendemen
Maltodekstrin

Karakteristik

Uji Fehling

Mikroskopik

Iodine test

Organoleptis

Analisis pH

Identifikasi

Penentuan
Dextrose
Equivalent

Kadar air
Kadar abu

Analisis
Infra Merah

Solubility
Swelling
Sudut Diam
Laju alir

Indeks Kompresibilitas
Disintegrant pada sediaan ODT

Gambar 1.1. Diagram pembuatan maltodekstrin yang akan digunakan sebagai
disintegrant pada sediaan ODT.

Universitas Sumatera Utara

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Parameter
Sudut diam (o)

Preformulasi

Waktu Alir (detik)
Indeks Kompresibilitas (%)

Jumlah
Disintegrant
Friabilitas (%)
Karakteristik
Tablet

Kekerasan (kg)
In Vitro
Waktu Hancur
(detik)

In Vivo

Waktu Pembasahan (detik)
Kadar Zat Berkhasiat (%)
Keseragaman Sediaan (%)
Disolusi (%)
Gambar 1.2. Diagram yang menunjukkan kerangka konsep penelitian pembuatan
Orally Disintegrating Tablet.

1.3 Perumusan masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang maka rumusan permasalahan
adalah sebagai berikut:
a. apakah maltodekstrin yang berasal dari proses hidrolisis pati pisang dengan
enzim α-amilase dapat digunakan sebagai disintegrant untuk pembuatan Orally
Disintegrating Tablet?

Universitas Sumatera Utara

b. apakah variasi jumlah maltodekstrin mempengaruhi karakteristik Orally
Disintegrating Tablet ?
c. apakah Orally Disintegrating Tablet menghasilkan disolusi yang lebih baik
daripada disolusi tablet metoklopramida?

1.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis penelitian adalah:
a. maltodekstrin yang berasal dari proses hidrolisis pati pisang dengan enzim αamilase dapat digunakan sebagai disintegrant untuk pembuatan Orally
Disintegrating Tablet
b. variasi jumlah maltodekstrin mempengaruhi karakteristik Orally Disintegrating
Tablet
c. disolusi Orally Disintegrating Tablet lebih baik daripada disolusi tablet
metoklopramida

1.5 Tujuan Penelitian
1.5.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan suatu formula ODT
yang memiliki karakteristik ideal.

1.5.2 Tujuan Khusus
Penelitian ini secara khusus bertujuan antara lain:
a. mengetahui kemampuan maltodekstrin yang berasal dari proses hidrolisis pati

Universitas Sumatera Utara

pisang dengan enzim α-amilase sebagai disintegrant pada pembuatan Orally
Disintegrating Tablet.
b. mengetahui pengaruh variasi jumlah maltodekstrin terhadap karakteristik
Orally Disintegrating Tablet.
c.

mengetahui

disolusi

dari

Orally

Disintegrating

Tablet

dan

tablet

metoklopramida dalam rangka evaluasi maltodekstrin sebagai disintegrant.

1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan aplikasi maltodekstrin pada
industri farmasi dan untuk pengembangan teknologi formulasi.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pisang Kepok
Pisang adalah tumbuhan yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara
(termasuk Indonesia). Tumbuhan pisang kemudian menyebar ke Afrika
(Madagaskar), Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Iklim tropis yang sesuai
serta kondisi tanah yang banyak mengandung humus membuat tumbuhan pisang
sangat cocok dan tersebar luas di Indonesia. Saat ini, hampir seluruh wilayah
Indonesia merupakan daerah penghasil pisang. Tumbuhan pisang banyak terdapat
dan tumbuh didaerah tropis maupun sub tropis.
Pisang merupakan tumbuhan monokotil yang termasuk dalam familia
Musaceae. Pohonnya memiliki tinggi dua hingga sembilan meter, akar rizoma
berada dalam tanah dan pelepahnya terdiri dari lembaran daun dan mahkota
terminal daun tempat munculnya bakal buah. Pisang merupakan buah klimaterik
yang artinya memiliki fase perkembangan, dengan meningkatnya ukuran buah
dan meningkatnya kadar karbohidrat yang terakumulasi dalam bentuk pati.
Pertumbuhan terhenti saat buah telah benar-benar ranum dan fase pematangan
buah terhambat. Selama fase pematangan, kekerasan buah menurun, pati berubah
menjadi gula, warna kulit berubah dari hijau menjadi kuning dan kekelatan pada
buah hilang, berkembang menjadi flavor dengan karakteristik yang khas (Stover
dan Simmonds, 1987).
Pisang merupakan buah yang sangat bergizi dan merupakan sumber
vitamin, mineral disamping karbohidrat. Pisang dapat dijadikan sebagai buah

Universitas Sumatera Utara

meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan
untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun
pisang dipakai sebagai pembungkus berbagai macam makanan trandisional
Indonesia. Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dan
sebagainya. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat
dijadikan makanan ternak ruminansia (domba dan kambing) pada saat musim
kemarau karena tidak/kurang tersedianya rumput. Secara tradisional, air umbi
batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus
besar sedangkan air batang pisang dapat digunakan sebagai obat diabetes dan
penawar racun (Ngraho, 2008).
Varietas-varietas pisang di seluruh dunia yang ditanam dapat dibagi dalam
empat golongan besar (Ngraho, 2008), yaitu:
a. Pisang yang dimakan buahnya setelah ranum, misalnya Pisang Ambon, Pisang
Susu, Pisang Raja, Pisang Cavendish, Pisang Barangan dan Pisang Mas.
b. Pisang yang dimakan setelah direbus atau digoreng, misalnya Pisang Nangka,
Pisang Tanduk dan Pisang Kepok.
c. Pisang yang berbiji biasanya dimanfaatkan daunnya, misalnya Pisang Klutuk.
d. Pisang yang diambil seratnya, misalnya Pisang Manila.
Produksi pisang di Indonesia cukup besar. Indonesia termasuk penghasil
pisang terbesar di Asia karena 50% produksi pisang Asia dihasilkan oleh
Indonesia. Buah pisang juga merupakan buah dengan jumlah produksi paling
banyak di Indonesia jika dibandingkan dengan produksi buah lainnya (Ngraho,
2008).

Universitas Sumatera Utara

Buah pisang sangat prospektif sebagai bahan baku industri. Hal tersebut
karena kemudahan dalam mendapatkan bahan baku, serta berbagai produk dapat
diolah dari buah pisang sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Salah satu
alternatif dari pemanfaatan pisang yaitu dapat diolah menjadi pati. Sifat fisika dan
kimia tepung pisang dari beberapa varietas, yaitu: tepung pisang kepok bewarna
putih, tepung pisang nangka bewarna putih coklat, tepung pisang ambon bewarna
putih abu-abu, tepung pisang raja bulu bewarna putih kecoklatan, tepung pisang
ketan bewarna putih abu-abu dan tepung pisang siem bewarna kuning kecoklatan
dengan komposisi kimia rata-rata tepung pisang, ya

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Penggunaan Maltodekstrin Hasil Hidrolisis Pati Pisang pada Formulasi Sediaan Orally Disintegrating Tablet (ODT)