Perlakuan Akuntansi Terhadap Aktiva Tetap dan Penerapan Metode Depresiasi pada RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar

SKRIPSI

PERLAKUAN AKUNTANSI TERHADAP AKTIVA TETAP DAN
PENERAPAN METODE DEPRESIASI PADA RSUD DR. DJASAMEN
SARAGIH PEMATANGSIANTAR

OLEH
NAMA

: DESY AFRIYANI

NIM

: 080522060

DEPARTEMEN : AKUNTANSI EKS.

PROGRAM STUDI STRATA 1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ Perlakuan
Akuntansi terhadap Aktiva Tetap dan Penerapan Metode Depresiasi pada RSUD
dr. Djasamen Saragih PematangSiantar” adalah benar hasil karya saya sendiri dan
judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan atau diteliti oleh
mahasiswa lain dalam hal penulisan skripsi level Program S-1 Ekstensi
Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Semua sumber data dan info yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas,
benar apa adanya. Apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya
bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Program S-1 Ekstensi Departemen
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Medan, Juni 2011
Yang membuat pernyataan

Desy Afriyani
Nim: 080522060

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang
telah

melimpahkan segala

nikmat-Nya kepada penulis

sehingga dapat

menyelesaikan penyusunan skripsi ini, guna melengkapi salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan program strata 1 akuntansi extension Fakultas
Ekonomi, Universitas sumatera Utara.
Terima kasih yang tak terhingga kepada ayahanda dan Ibunda atas semua
dukungan berupa moril, material, dan do’a yang tiada hentinya serta kerja keras
yang menghantarkan penulis meraih cita-cita. Juga buat bu Ika, penulis
mengucapkan terima kasih atas semua pengorbanan dan dukungan semangat
selama mengikuti perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis banyak menerima bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M. Ec. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak. selaku Ketua Program Studi Strata 1
Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Nurzaimah, MM, Ak. selaku dosen pembimbing yang telah
bersedia meluangkan waktu dan fikirannya untuk membimbing

dan

memberikan petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak M. Simba Sembiring, SE. selaku Ka. Sub. Bag. Akademik.

Universitas Sumatera Utara

5. Pimpinan dan pegawai RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar,
yang telah memberikan kesempatan serta izin kepada penulis untuk
mengadakan penelitian di rumah sakit yang bersangkutan.
6. Adik- adik ku tersayang: Pandu, Kaka, Koko dan Yayang, yang selalu
memberikan keceriaan dan kebahagiaan di hati penulis.
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas semua bantuan yang
diberikan. Penulis menyadari skripsi minor ini jauh dari kesempurnaan oleh
karena keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu , dengan segala
kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi peningkatan mutu penulisan skripsi minor ini. Akhirnya penulis
berharap semoga skripsi minor ini dapat menambah dan memperluas pengetahuan
kita semua, terima kasih.
Medan,

Juli 2011

Desy Afriyani
NIM. 080522060

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perlakuan akuntansi
terhadap aktiva aetap dan penerapan metode depresiasi pada RSUD dr. Djasamen
Saragih PematangSiantar sudah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) No. 16.
Dalam penelitian yang dilakukan penulis menggunakan metode deskriptif,
metode deskriptif adalah menyimpulkan, menafsirkan dan mengklarifikasi data
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jenis data yang digunakan adalah data
primer dan data sekunder yang didapat penulis dari hasil wawancara langsung
dengan staf dan supervisor bagian akuntansi RSUD dr. Djasamen Saragih
PematangSiantar.
Setelah melakukan penelitian, penulis memperoleh hasil penelitian dengan
satu kesimpulan bahwa RSUD dr. Djasamen Saragih PematangSiantar telah
menerapkan SAK dengan baik, hanya saja belum melakukan depresiasi terhadap
Aktiva Tetap yang dimilikinya.
Kata kunci : Akuntansi, Aktiva Tetap, Metode Depresiasi Aktiva Tetap

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine whether the accounting
treatment of fixed assets and the application of depreciation methods in RSUD dr.
Djasamen Saragih PematangSiantar is in conformity with Statement of Financial
Accounting Standards No. 16.
In research, writer use descriptive method. Descriptive method is to
collect, interpreting and clarifying data as according to condition which in fact.
Data type the used is primary data and data of secondary got by writer from result
direct interview with head and supervisor acoounting of RSUD dr. Djasamen
Saragih PematangSiantar.
Research heaving taken steps, writer obtain get result of research with one
conclution that RSUD dr. Djasamen Saragih PematangSiantar have applied SAK
to plant assets, but only it has’nt done depreciation to their own fix assets.
Key word : Accounting, Fixed Assets, Depreciation of Assets

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................... i i
ABSTRAK ................................................................................................... iv
ABSTRACT ................................................................................................. v
DAFTAR ISI ............................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xi
BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1
B. Perumusan Masalah ................................................................ 3
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian .............................. 3
D. Kerangka Konseptual .............................................................. 5
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………… 6
A. Tinjauan Teoritis ..................................................................... 6
1. Pengertian Aktiva Tetap .................................................... 6
2. Perolehan Aktiva Tetap ..................................................... 7
3. Pengeluaran Selama Masa Penggunaan Aktiva Tetap ...... 26
4. Pengertian Dan Metode Depresiasi Aktiva Tetap ............. 30
5. Penghentian Aktiva Tetap ............................................... 45
6. Penggolongan Aktiva Tetap ............................................ 53
7. Penyajian Aktiva Tetap dalam Laporan Keuangan .......... 54
B. Tinjauan Penelitian Terdahulu .............................................. 56

BAB III : METODE PENELITIAN ……………………………………… 59
A. Jenis Penelitian ..................................................................... 59
B. Jenis Data ............................................................................. 59
C. Teknik Pengumpulan Data .................................................... 59
D. Teknik Analisa Data ............................................................. 60
E. Lokasi Penelitian .................................................................. 60

Universitas Sumatera Utara

BAB IV : ANALISIS DAN EVALUASI …………………………………. 61
A. Data Penelitian ................................................................ 61
1. Gambaran Umum RSUD dr. Djasamen
Saragih Pematangsiantar ........................................... 61
1.1 Sejarah Singkat Perusahaan ................................. 61
1.2 Struktur Organisasi .............................................. 62
1.3 Uraian Tugas ....................................................... 64
B. Analisa Hasil Penelitian .................................................. 75
1. Perolehan Aktiva Tetap ............................................. 75
2. Pengeluaran Selama Masa ......................................... 76
Penggunaan Aktiva Tetap
3. Metode Depresiasi Aktiva Tetap ................................ 77
4. Penghentian Aktiva Tetap .......................................... 77
5. Penggolongan Aktiva Tetap ....................................... 78
6. Penyajian Aktiva Tetap dalam
Laporan Keuangan Perusahaan .................................. 79
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………… 80
A. Kesimpulan ..................................................................... 80
B. Saran ............................................................................... 81
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 82
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Konseptual ................................................................................. 5

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Pengalokasian Bunga yang ditangguhkan …………………..13
Tabel 2.2 Pembayaran PT. Handaka …………………………………...18
Tabel 2.3 Penyusutan Menurut Metode Straight Line ………………... 32
Tabel 2.4 Penyusutan Menurut Metode sum of the years digit ………..33
Tabel 2.5 Penyusutan Menurut Metode declining/double
declining balance …………………………………………………..34
Tabel 2.6 Penyusutan Menurut Metode service hours ………………... 36
Tabel 2.7 Penyusutan Menurut Metode productive output …………….37
Tabel 2.8 Penyusutan Menurut Metode group and composite
tanpa disposisi penjualan ……………………………………38
Tabel 2.9 Penyusutan Menurut Metode kelompok-kelompok tertutup
dengan disposisi penjualan ………………………………...40
Tabel 2.10 Penyusutan Menurut Metode kelompok-kelompok
Terbuka dengan disposisi penjualan …………………………41
Tabel 2.11 Alokasi Harga Perolehan Menurut Metode
Penyusutan Komposit ……………………………………….42
Tabel 2.12 Penyusutan Menurut Metode annuity ……………………….44
Tabel 2.13 Perhitungan indikasi keuntungan
dari PT.Handaka dan PT. Pandu ............................................49
Tabel 2.14 Perhitungan indikasi keuntungan dan indikasi
kerugian dari PT.Handaka dan PT. Pandu ..............................50

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Judul

Lampiran I

Daftar Aktiva Tetap RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar

Lampiran II

Bagan Struktur Organisasi RSUD dr. Djasamen Saragih
Pematangsiantar

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perlakuan akuntansi
terhadap aktiva aetap dan penerapan metode depresiasi pada RSUD dr. Djasamen
Saragih PematangSiantar sudah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) No. 16.
Dalam penelitian yang dilakukan penulis menggunakan metode deskriptif,
metode deskriptif adalah menyimpulkan, menafsirkan dan mengklarifikasi data
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jenis data yang digunakan adalah data
primer dan data sekunder yang didapat penulis dari hasil wawancara langsung
dengan staf dan supervisor bagian akuntansi RSUD dr. Djasamen Saragih
PematangSiantar.
Setelah melakukan penelitian, penulis memperoleh hasil penelitian dengan
satu kesimpulan bahwa RSUD dr. Djasamen Saragih PematangSiantar telah
menerapkan SAK dengan baik, hanya saja belum melakukan depresiasi terhadap
Aktiva Tetap yang dimilikinya.
Kata kunci : Akuntansi, Aktiva Tetap, Metode Depresiasi Aktiva Tetap

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine whether the accounting
treatment of fixed assets and the application of depreciation methods in RSUD dr.
Djasamen Saragih PematangSiantar is in conformity with Statement of Financial
Accounting Standards No. 16.
In research, writer use descriptive method. Descriptive method is to
collect, interpreting and clarifying data as according to condition which in fact.
Data type the used is primary data and data of secondary got by writer from result
direct interview with head and supervisor acoounting of RSUD dr. Djasamen
Saragih PematangSiantar.
Research heaving taken steps, writer obtain get result of research with one
conclution that RSUD dr. Djasamen Saragih PematangSiantar have applied SAK
to plant assets, but only it has’nt done depreciation to their own fix assets.
Key word : Accounting, Fixed Assets, Depreciation of Assets

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Informasi keuangan disajikan dalam bentuk laporan keuangan. Laporan
keuangan utama yang dihasilkan dari proses akuntansi adalah neraca dan laporan
rugi laba. Salah satu pos dalam neraca adalah aktiva tetap. Aktiva tetap dalam
neraca yang dibahas merupakan aktiva tetap berwujud yang digunakan oleh
perusahaan untuk kegiatan usahanya, tidak dimaksudkan untuk diperjual belikan
dan mempunyai masa manfaat atau kegunaan lebih dari satu tahun serta
mempunyai nilai material.
Aktiva tetap mempunyai peranan yang sangat besar ditinjau dari segi
fungsinya. Dari segi jumlah dana yang diinvestasikan diperlukan dana yang besar,
disamping pembuatannya yang memerlukan waktu yang cukup lama. Oleh karena
itu , dibutuhkan suatu perencanaan dan pengawasan yang baik oleh manajemen
yaitu pertimbanagan-pertimbangan yang tepat, misalnya kebijakan cara perolehan
aktiva tetap, metode penyusutan dan pengeluaran-pengeluaran saat pemakaian
aktiva tetap dari operasi normal perusahaan.
Akuntansi aktiva tetap sangat berarti terhadap kelayakan laporan
keuangan, kesalahan dalam menilai aktiva tetap berwujud dapat mengakibatkan
kesalahan yang cukup material karena nilai investasi yang ditanamkan pada aktiva
tetap relatif besar. Mengingat pentingnya akuntansi aktiva tetap dalam laporan

Universitas Sumatera Utara

keuangan tersebut, maka perlakuannya harus berdasarkan pada Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK No.16).
Aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara yakni dengan membeli
secara tunai, secara kredit, atau angsuran, pertukaran, dibangun sendiri,
sumbangan atau donasi. Cara perolehan tersebut akan mempengaruhi pencatatan
harga perolehan. Aktiva tetap mempunyai batas waktu tertentu untuk tetap
beroperasi secara layak. Oleh karena itu aktiva tetap membutuhkan perbaikan dan
pemeliharaan yang membutuhkan dana tidak sedikit untuk itu perlu ditetapkan
pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan aktiva tersebut apakah
sebagai pengeluaran modal (capital expenditure) atau pengeluaran pendapatan
(revenue expenditure)
Penulis melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
Djasamen Saragih Pematangsiantar. Sebelumnya RSUD Dr. Djasamen Saragih
Pematangsiantar bernama Rumah Sakit Umum Daerah Kota Pematangsiantar
kemudian Pada tanggal 23 April 2007 nama Rumah Sakit Umum Kota
Pematangsiantar berubah menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Djasamen
Saragih

berdasarkan

Surat

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

:

515/ MENKES/SK/IV/2007. Fenomena yang terjadi pada Rumah Sakit Umum
Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar menyangkut aktiva tetap berwujudnya,
yaitu RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar tidak melakukan penyusutan
pada pencatatan aktiva tetapnya, jika ada barang yang rusak dan tidak bisa
diperbaiki lagi maka akan dilakukan penghapusan terhadap aktiva tetap tersebut.
Aktiva tetap berwujud yang diperoleh perusahaan seharusnya dilakukan

Universitas Sumatera Utara

penyusutan secara periodik untuk mengetahui nilai bukunya pada akhir periode
akuntansi dan dilaporkan dalam laporan keuangan di dalam neraca berupa
akumulasi penyusutan serta dalam laporan rugi laba berupa beban penyusutan.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk membahas masalah aktiva
tetap ini dalam bentuk skripsi dengan judul “ Perlakuan Akuntansi Terhadap
Aktiva Tetap dan Penerapan Metode Depresiasi pada RSUD Dr.

Djasamen

Saragih Pematangsiantar”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah penerapan akuntansi
aktiva tetap pada RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar telah sesuai
dengan pernyataan standar akuntansi keuangan No. 16 ?”

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah penerapan akuntansi
aktiva tetap pada RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar telah sesuai
dengan pernyataan standar akuntansi keuangan No. 16.
Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis, Penelitian ini berguna untuk pengembangan pengetahuan
dan

wawasan di dalam pemahaman tentang pengelolaan aktiva tetap

dalam suatu perusahaan.

Universitas Sumatera Utara

2. Hasil dari penelitian dapat memberikan masukan bagi perusahaan yang
diteliti dan melalui penelitian perusahaan dapat menyelesaikan masalah
yang terjadi pada perusahaannya, yaitu tentang akuntansi aktiva tetap
berwujud agar dapat dijalankan dengan baik untuk kemajuan perusahaan.
3. Sebagai bahan masukan bagi orang lain yang ingin melakukan penelitian
yang berkaitan dengan judul ini.

Universitas Sumatera Utara

D. Kerangka Konseptual
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan kerangka konseptual untuk
membantu melakukan pemahaman dan pembahasan masalah seperti di bawah ini:

Perlakuan
Akuntansi Aktiva
Tetap Dan Metode
Depresiasi

Akuntansi Aktiva
Tetap RSUD Dr.
Djasamen Saragih
Pematangsiantar

Akuntansi Aktiva
Tetap Menurut
PSAK NO. 16

Analisis

Kesimpulan dan
saran
Gambar 1.1
Keterangan:
Kerangka konseptual di atas menerangkan tentang perbandingan perlakuan
akuntansi aktiva tetap yang diterapkan di RSUD

Djasamen Saragih

Pematangsiantar dengan PSAK No. 16, kemudian di analisis dan dari hasil
analisis tersebut penulis memberikan kesimpulan dan saran.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis
1. Pengertian Aktiva Tetap
Dalam penelitian ini yang dibahas adalah akuntansi aktiva tetap dan
penyajiannya dalam laporan keuangan. Sebelum membahas lebih lanjut kita harus
mengetahui terlebih dahulu landasan teoritis tentang pengertian akuntansi dan
aktiva tetap.
Aktiva tetap aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai baik
melalui pembelian maupun dibangun lebih dahulu yang digunakan dalam kegiatan
usaha perusahaan serta tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan
normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Menurut Mulyadi (2002 : 110) “Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan
yang memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun dan
diperoleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk
dijual.
Menurut IAI (2007 : 16.2)
Aktiva tetap adalah aset berwujud yang:
(a) Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang
atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan
administratif; dan
(b) Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Universitas Sumatera Utara

Karakteristik aktiva tetap berwujud adalah bahwa aktiva yang dimiliki
perusahaan untuk digunakan secara terus menerus dan umur manfaatnya relative
lebih panjang dibandingkan aktiva lancar dan nilainya material. Akuntansi aktiva
tetap sangat berarti terhadap kelayakan laporan keuangan, kesalahan dalam
menilai aktiva tetap dapat mengakibatkan kesalahan yang cukup material karena
nilai investasi yang ditanamkan pada aktiva tetap relatif besar. Oleh karena itu,
perlakuannya harus berdasarkan pada Standar Akuntansi Keuangan (PSAK
No.16) dan diterapkan secara konsisten dari suatu periode ke periode selanjutnya.
Selama masa pemakaian kemampuan suatu aktiva untuk menghasilkan
pendapatan dan jasa biasanya semakin menurun, baik secara fisik maupun
fungsinya. Oleh karena itu perlu adanya pengakuan terhadap penurunan nilai
aktiva tetap berwujud. Caranya adalah dengan mengalokasikan harga perolehan
aktiva tetap berwujud secara sistematis sebagai beban selama beberapa periode
akuntansi yang menerima manfaat dari aktiva tetap berwujud tersebut.
Pengalokasian harga perolehan itulah yang disebut dengan depresiasi.

2. Perolehan Aktiva Tetap
Aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara, dimana masing-masing
cara perolehan akan mempengaruhi penentuan harga perolehan. Cara perolehan
aktiva tetap adalah sebagai berikut:
a. Pembelian tunai
Aktiva yang dibeli dengan tunai dicatat sebesar uang yang dikeluarkan
untuk pembelian itu ditambah dengan biaya-biaya sehubungan dengan pembelian

Universitas Sumatera Utara

aktiva itu, dikurangi potongan harga yang diberikan baik karena pembelian dalam
partai besar maupun karena pembayaran yang dipercepat.
Contoh.
PT. Handoko membeli bangunan seharga Rp 500.000.000,-, biaya lain-lain yang
dikeluarkan adalah biaya perantara Rp 1000.000,-, biaya akte notaries Rp
1000.000,-, dan biaya pembersihan Rp 500.000,-. Perhitingan harga perolehan
bangunan adalah sebagai berikut :
Harga beli
Biaya akte notaries
biaya perantara
biaya pembersihan
total

Rp 500.000.000,1.000.000,1.000.000,500.000,Rp 502.500.000,-

jurnal saat pembelian :
Bangunan
Kas

Rp 502.500.000,Rp 502.500.000,-

Jika ada potongan harga maka potongan tersebut langsung mengurangi
harga beli dan bukan merupakan keuntungan, karena keuntungan hanya diperoleh
dari penjualan bukan dari pembelian. Apabila potongan harga tersebut tidak
dimanfaatkan perusahaan, maka harus dilaporkan sebagai kerugian atau biaya
bunga.
Contoh.
Sebuah mesin dibeli seharga Rp 50.000.000,-, jika dibeli secara kontan maka
harganya Rp 47.500.000,-, maka jurnalnya :
1. Jika potongan harga dimanfaatkan
Mesin
Kas

Rp 47.500.000,Rp 47.500.000,-

Universitas Sumatera Utara

2. Jika potongan harga dimanfaatkan
Mesin
Kas

Rp 50.000.000,Rp 50.000.000,-

Jika aktiva tetap dibeli sekaligus dengan harga borongan (lump sump)
maka harus dipisahkan nilai masing-masing aktiva. Dalam penentuan nilai
masing-masing dari aktiva tersebut maka dibuatlah suatu angka perbandingan
sebagai berikut :
1. Harga pasar yang wajar. Untuk menentukan nilai pasar yang wajar salah
satu cara berikut dapat digunakan : penaksiran untuk tujuan asuransi,
penilaian yang ditetapkan untuk tujuan pajak, atau penaksiran independent
oleh seorang insinyur atau penaksir lainnya. Jika harga pasar yang wajar
tidak ada, maka :
2. Harga penilaian menurut lembaga penilaian yang objektif (Independent
Appraisal Company).
Sebagai ilustrasi dari kondisi di atas, sebuah perusahaan memutuskan
untuk membeli beberapa aktiva berupa lahan, peralatan dan bangunan dengan
harga Rp 8.000.000,-, berdasarkan informasi pasar yang diketahui aktiva ini
berharga :
Nilai Buku

Nilai Pasar

Lahan

Rp 3.000.000,-

Rp 5.000.000,-

Peralatan

Rp 2.000.000,-

Rp 2.500.000,-

Bangunan

Rp 3.000.000,-

Rp 2.500.000,-

Rp 8.000.000,-

Rp 10.000.000,-

Universitas Sumatera Utara

Harga beli sebesar Rp 8.000.000,-, akan dialokasikan atas dasar nilai
pasar yang wajar dengan cara berikut :
Rp 8.000.000,- = Rp 4.000.000,-

Lahan
Peralatan

Rp 8.000.000,- = Rp 2.000.000,-

Bangunan

Rp 8.000.000,- = Rp 2.000.000,-

Maka jurnal dari transaksi di atas adalah :
Lahan
Peralatan
Bangunan
Kas

Rp 4.000.000,Rp 2.000.000,Rp 2.000.000,Rp 8.000.000,-

Jika aktiva tetap yang dibeli merupakan aktiva bekas maka harus dicatat
sebesar harga beli ditambah biaya-biaya reparasi dan perbaikan sehingga bias
dipakai. Tidak perlu diperhatikan nilai buku dari penjual.

b. Pembelian secara kredit jangka panjang
Apabila aktiva tetap diperoleh dari pembelian angsuran, maka dalam hal
harga perolehan tidak boleh termasuk bunga, dalam kontrak pembelian dapat
menyebutkan bahwa pembelian akan dilakukan dalam beberapa kali angsuran
ditambah dengan pembayaran bunga. Pembebanan bunga atas kredit ada dua
kemungkinan:
1. Dalam angsuran tidak termasuk bunga
Pembebanan bunga atas kredit jangka panjang menurut cara ini ada
dua,yaitu Secara flat dan berdasarkan sisa utang. Secara flat yaitu biaya bunga

Universitas Sumatera Utara

sama untuk pembayaran angsuran setiap semester. Berdasarkan sisa hutang, yaitu
biaya bunga dihitung dari sisa hutang terakhir.
Contoh.
PT. Handaka membeli lahan dengan membeli lahan dengan harga Rp
100.000.000,-. Pembayaran atas pembelian lahan ini dilakukan dengan pemberian
uang muka sebesar Rp 40.000.000,-. Sisa hutang atas pembelian tersebut
dilakukan secara angsuran dalam 10 kali angsuran per semester. Bunga per tahun
adalah 12%.
Pada saat pembelian jurnal yang dicatat adalah :
Lahan
Kas
Utang Kontrak/ Angsuran

Rp 100.000.000,Rp 40.000.000,Rp 60.000.000,-

Secara flat pembayaran angsuran selama 10 kali per semester akan dicatatkan
sebagai berikut :
Utang Kontrak/ Angsuran
Biaya Bunga*
Kas
*(6% x Rp 60.000.000,-)

Rp 6.000.000,Rp 3.600.000,Rp 9.600.000,-

Akan tetapi jika pembebanan bunga atas pembelian kredit tersebut didasarkan atas
sisa utang maka akan dijurnal sebagai berikut :
Angsuran semester I :
Utang Kontrak/ Angsuran
Biaya Bunga*
Kas
*(6% x Rp 60.000.000,-)

Rp 6.000.000,Rp 3.600.000,Rp 9.600.000,-

Universitas Sumatera Utara

Angsuran semester II :
Utang Kontrak/ Angsuran
Biaya Bunga**
Kas
**(6% x Rp 54.000.000,-)

Rp 6.000.000,Rp 3.240.000,Rp 9.240.000,-

Pembayaran ini akan diteruskan sampai utang tersebut lunas.
2. Dalam angsuran sudah termasuk bunga
Jumlah angsuran yang dibayarkan tiapperiode dalam cara ini sudah
termasuk bunga yang telah diperhitungkan terlebih dahulu. Pada waktu
pembelian, bunga dicatat pada perkiraan biaya bunga yang ditangguhkan di debet.
Sedangkan waktu pembayaran angsuran, biaya bunga yang ditangguhkan tersebut
dicatat di kredit. Bunga dihitung berdasarkan pokok utang.
Untuk menghitung pokok utang ditentukan dengan faktor annuity nilai
sekarang. Atau sering disebut dengan Present Value Annuity.
Bunga = suku bunga x pokok utang
Pokok utang = angsuran x
Keterangan :
i = suku bunga per periode
n = jumlah periode
contoh.
PT. Pandu tanggal 1 Januari 2007 membeli peralatan dengan cara angsuran tiap
tahun sebesar Rp 12.500.000,- selama tiga tahun. Uang muka Rp 7.000.000,-.
Bunga pertahun 15%. Jurnal transaksi tersebut adalah :

Universitas Sumatera Utara

Untuk mencatat pembelian tanggal 1 Januari 2007
Peralatan
Beban Bunga Ditangguhkan
Kas
Utang Kontrak/ Angsuran

Rp 35.540.000,Rp 8.960.000,Rp 7.000.000,Rp 37.500.000,-

Perhitungan:
Diketahui: n = 3 tahun
i = 15 % per tahun

Pokok utang = Rp 12.500.000,- x
= Rp 12.500.000,- x 2,2832 = Rp 28.540.000,Bunga selama angsuran dihitung sebagai berikut:
Jumlah angsuran
Pokok utang
Bunga yang ditangguhkan

Rp 37.500.000,Rp 28.540.000,Rp 8.960.000,-

Bunga yang ditangguhkan sebesar Rp 8.960.000,-akan dialokasikan dalam jangka
waktu 3 tahun dengan perhitungan sebagai berikut:
Tabel 2.1
Pengalokasian Bunga yang ditangguhkan
(dalam ribuan rupiah)
Tahun Angsuran
0
1
2
3

12.500
12.500
12.500

Bunga
15% x 28.540
= 4.281
15%x 20.321
= 3.048,15
15% x 10.869,15 = 1.630,373

Pokok
Angsuran
8.219
9.451,85
10.869,15

Pokok
Utang
28.540
20.321
10.869,15
0

Universitas Sumatera Utara

Untuk mencatat pembayaran angsuran tanggal 1 Januari 2008
Utang Kontrak/ Angsuran
Biaya Bunga
Kas
Beban Bunga Ditangguhkan

Rp 12.500.000,Rp 4.281.000,Rp 12.500.000,Rp 4.281.000,-

Untuk mencatat pembayaran angsuran tanggal 1 Januari 2009
Utang Kontrak/ Angsuran
Biaya Bunga
Kas
Beban Bunga Ditangguhkan

Rp 12.500.000,Rp 3.048.150,Rp 12.500.000,Rp 3.048.150,-

Untuk mencatat pembayaran angsuran tanggal 1 Januari 2010
Utang Kontrak/ Angsuran
Biaya Bunga
Kas
Beban Bunga Ditangguhkan

Rp 12.500.000,Rp 1.630.373,Rp 12.500.000,Rp 1.630.373,-

c. Pembelian dengan surat berharga
Pembelian Aktiva tetap dengan surat berharga adalah dengan pengeluaran
obligasi atau saham milik perusahaan untuk ditukar dengan aktiva tetap. Aktiva
tetap tersebut harus dicatat sebesar harga pasar obligasi atau saham pada saat
pembelian. Nilai surat berharga tersebut dicatat sebesar nilai pari atau nilai
nominalnya. Selisih antara harga pembelian aktiva tetap dengan nilai nominal
saham atau obligasi dicatat sebagai agio atau disagio dari saham atau obligasi
tersebut.
Apabila harga pasar saham atau obligasi itu tidak diketahui, harga
perolehan aktiva tetap ditentukan sebesar harga pasar aktiva tersebut. Kadangkadang harga pasar surat berharga dan aktiva tetap yang ditukar tidak diketahui,

Universitas Sumatera Utara

dalam keadaan seperti ini, nilai pertukaran ditentukan oleh keputusan pimpinan
perusahaan.
Contoh.
PT. Yayang membeli sebidang tanah dengan mengeluarkan 1500 lembar saham
dengan nilai nominal @ Rp 7.000,-. Harga kurs saat pembelian adalah :
1. Sebesar 99
2. Sebesar 115
Transaksi di atas akan dijurnal:
1. Jika kurs adalah 99, saham akan bernilai Rp 10.395.000,- (Rp 7.000,- x
1.500 lembar x 0,99).
Tanah
Disagio Saham
Modal Saham

Rp 10.395.000,Rp
105.000,Rp 10.500.000,-

2. Jika kurs adalah 115, saham akan bernilai Rp 12.075.000,- (Rp 7.000,- x
1.500 lembar x 1,15).
Tanah
Modal Saham
Agio Saham

Rp 12.075.000,Rp 10.500.000,Rp 1.575.000,-

d. Aktiva tetap yang diperoleh dari hadiah/donasi
Jika aktiva tetap diperoleh dengan cara dihadiahkan maka transaksi ini
disebut nonreciprocal transfer (transfer yang tidak memerlukan umpan balik).
Aktiva yang diperoleh melalui donasi atau sumbangan pada hakikatnya tidak
menyebabkan pengeluarn modal. Kalupun ada hanyalah biaya yang dikeluarkan
untuk memindahkan aktiva tetap tersebut sehingga dapat digunakan sesuai dengan
tujuannya. Aktiva ini harus dicatat sebesar harga pasar yang wajar atau

Universitas Sumatera Utara

berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh pihak perusahaan penilai yang
independent.
Contoh.
PT. Handoko menyumbangkan tanah dan bangunan kepada PT. Yayang dengan
masing-masing memiliki nilai pasar wajarnya sebesar Rp 17.000.000,- dan Rp
25.000.000,PT. Yayang akan mencatatnya sebagai berikut:
Tanah
Bangunan
Modal donasi

Rp 17.000.000,Rp 25.000.000,Rp 42.000.000,-

e. Aktiva tetap yang dibangun sendiri
Dalam pembuatan aktiva, semua biaya yang langsung (biaya variable),
yaitu bahan dan upah langsung serta overhead pabrik yang digunakan untuk
pembangunan ini harus dikapitalisasi.
Ada tiga permasalahan yang selalu muncul dalam pembangunan aktiva
tetap sendiri.
1. Biaya Overhead yang Dibebankan
Untuk berapa besar biaya overhead yang akan dibebankan terhadap aktiva
tetap yang dibangun sendiri menurut Harahap (2002:31) ada 2 yaitu:
1. Metode incremental cost
Dalam hal ini biaya overhead yang dibebankan adalah kenaikan
(tambahan) biaya overhead akibat adanya pembangunan aktiva tersebut.
2. Metode proporsional
Dalam metode ini yang dibebankan bukan saja kenaikan overhead itu
tetapi juga dibebankan biaya overhead tetap secara pro-rata baik untuk
kegiatan biasa maupun untuk kegiatan pembangunan itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara

2. Laba Rugi Pembangunan Sendiri
Dalam pembangunan sendiri aktiva tetap, yang diharapkan adalah biaya
pembangunan sendiri akan lebih rendah dibandingkan jika pembangunan tersebut
diborongkan. Jika hal tersebut terjadi maka kondisi yang sepertinya menghasilkan
laba tersebut tidak dapat dianggap sebagai keuntungan bagi perusahaan.
Tetapi ada kondisi yang mengakibatkan biaya pembangunan sendiri lebih
besar dibandingkan jika diborongkan. Jika hal ini terjadi maka perlu
dipertanyakan dan dicari tahu mengapa hal tersebut dapat terjadi. Apabila biaya
yang lebih tinggi ini terjadi disebabkan hal-hal yang tidak efisien atau karena
kelalaian maka harus dicatat sebagai kerugian. Jadi harga pokok dari aktiva tetap
yang dibangun tersebut dicatat sebesar jumlah biaya yang sesungguhnya
dikeluarkan untuk pembangunan tersebut.
3. Biaya Bunga Selama Masa Pembangunan/ Kontruksi
Tiga pendekatan telah diusulkan Kieso (2002:6) untuk memperlakukan
bunga yang muncul dalam pembiayaan kontruksi atau akuisisi property, pabrik,
dan peralatan :
1. Tidak mengkapitalisasi beban selama periode kontruksi.
Menurut pendekatan ini, bunga dianggap sebagai biaya pendanaan dan
bukan sebagai biaya kontruksi. Jadi dapat disimpulkan bahwa jika
perusahaan menggunakan pembiayaan dengan saham dan bukan dengan
utang, maka beban ini tidak akan muncul.
2. Membebankan semua biaya dana yang digunakan, baik yang dapat
diidentifikasi maupun yang tidak kekontruksi.
Metode ini mengatakan bahwa satu bagian dari biaya kontruksi
merupakan biaya pendanaan, apakah dengan utang, kas atau saham.
Suatu aktiva harus dibebankan dengan semua biaya yang diperlukan
untuk membuat aktiva tersebut siap digunakan. Bunga, baik actual
maupun terkait (imputed), merupakan biaya pembangunan, seperti
halnya dengan biaya tenega kerja, lahan dan overhead.

Universitas Sumatera Utara

3. Hanya mengkapitalisasi biaya bunga actual yang terjadi selama
kontruksi.
Pendekatan ini mengandalkan konsep biaya historis yang hanya
mencatat transaksi actual.

Prinsip yang digunakan Kieso (2002 : 9) dalam memilih suku bunga yang
tepat yang diaplikasikan pada akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang adalah :
4.Untuk bagian akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang yang kurang
dari atau sama dengan jumlah yang secara khusus dipinjam untuk
membiayai pembuatan aktiva, gunakan suku bunga yang terjadi atas
pinjaman khusus tersebut.
5.Untuk bagian akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang yang lebih
besar dari setiap utang yang dipinjam khusus untuk membiayai
pembuatan aktiva, gunakan suku bunga rata-rata tertimbang yang terjadi
atas semua utang lainnya yang beredar selama periode berjalan.
Contoh.
Sebagai ilustrasi atas masalah pengkapitalisasian bunga, di asumsikan
bahwa pada tanggal 1 Oktober 2005, PT. Handaka telah menandatangani kontrak
dengan PT. Yayang untuk membangun sebuah bangunan

senilai Rp.

250.000.000,- di atas tanah yang mempunyai harga pokok Rp 50.000.000,- (dibeli
dari kontraktor dan dimasukkan kedalam pembayaran pertama). PT. Handaka
telah melakukan pembayaran berikut kepada perusahaan kontruksi selama lima
tahun 2006 :
Tabel 2.2
Pembayaran PT. Handaka
(dalam ribuan rupiah)
1 Januari
Rp 75.000

1 Mei
Rp 75.000

1 September
Rp 75.000

31 Desember
Rp 75.000

Total
Rp300.000

Universitas Sumatera Utara

Pembangunan telah selesai dilaksanakan dan PT. Handaka siap untuk
memakai bangunan tersebut pada tanggal 31 Desember 2006. PT. Handaka
memiliki utang yang beredar berikut pada tanggal 31 Desember 2006 :

Utang Kontruksi Khusus


Wesel bayar 3 tahun, bunga 15%, untuk membiayai pembelian tanah dan
pembuatan bangunan, tertanggal 31 Desember 2005 Rp 90.000.000,Utang Lainnya



Wesel bayar 5 tahun, bunga 10%, tertanggal 31 Desember 2002, dan
bunga dibayar secara tahunan setiap tanggal 31 Desember Rp 75.000.000,-



Obligasi 10 tahun, bunga 12%, dikeluarkan tanggal 31 Desember 2001,
dan bunga dibayar secara tahunan setiap tanggal 31 Desember Rp
80.000.000,Akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang selama tahun 2006 dihitung

sebagai berikut :
Pengeluaran
Tgl
Jumlah
1 Jan
Rp 75.000.000,1 Mei Rp 75.000.000,1 Sep Rp 75.000.000,31 Des Rp 75.000.000,Rp 300.000.000,-

Periode Kapitalisasi
Tahun Berjalan
12/12
8/12
4/12

Akumulasi Pengeluaran
Rata-Rata Tertimbang
Rp 75.000.000,Rp 50.000.000,Rp 25.000.000,Rp
Rp 150.000.000,-

Perhatikan bahwa pengeluaran yang dilakukan pada tanggal 31 Desember, yaitu
hari terakhir tahun berjalan, tidak memiliki biaya bunga.

Universitas Sumatera Utara

Bunga yang dapat dihindarkan dihitung sebagai berikut :
Akumulasi Pengeluaran
Bunga yang Dapat
Suku Bunga
Dihindarkan
Rata-Rata Tertimbang
Rp 90.000.000,0,15 (wesel kontruksi)
Rp 13.500.000,Rp 60.000.000,-*
0,1103 (rata-rata tertimbang
Rp
661.800,Rp 150.000.000,utang lainnya)
Rp 14.161.800,*Rp 60.000.000,- adalah jumlah dimana akumulasi pengeluaran rata-rata
tertimbang melebihi pinjaman kontruksi khusus (Rp 150.000.000,Rp
90.000.000,-)
Perhitungan suku bunga rata-rata tertimbang hutang lainnya :

Wesel 5 tahun, bunga 10%
Obligasi 10 tahun, bunga 12%

Pokok
Rp 75.000.000,Rp 80.000.000,Rp 155.000.000,-

Suku bunga rata-rata tertimbang

Bunga
Rp 7.500.000,Rp 9.600.000,Rp 17.100.000,11,03%

Biaya bunga aktual yang merupakan jumlah maksimum yang dapat dikapitalisasi
selama tahun 2006, dihitung sebagai berikut :
Wesel kontruksi
Wesel 5 tahun
Obligasi 10 tahun
Bunga Aktual

Rp 90.000.000,Rp 75.000.000,Rp 80.000.000,-

0,15
0,1
0.12

: Rp 13.500.000,: Rp 7.500.000,: Rp 9.600.000,Rp 30.600.000,-

Biaya bunga yang akan dikapitalisasi adalah bunga terkecil antara bunga
yang dapat dihindari (Rp 14.161.800,-) dengan bunga actual (Rp 30.600.000,-),
yaitu Rp 14.161.800,Sebagai pencatat atas transaksi selama tahun 2006 yang dilakukan PT.
Handaka maka dibuatlah jurnal sebagai berikut :
1 Januari 2006
Tanah
Bangunan/ Kontruksi dalam Proses
Kas

Rp 50.000.000,Rp 25.000.000,Rp 75.000.000,-

Universitas Sumatera Utara

1 Mei 2006
Bangunan
Kas

Rp 75.000.000,Rp 75.000.000,-

1 September 2006
Bangunan
Kas

Rp 75.000.000,Rp 75.000.000,-

31 Desember 2006
Bangunan
Kas

Rp 75.000.000,Rp 75.000.000,-

Bangunan (bunga yang dikapitalisasi)
Rp 14.161.800,Beban bunga*
Rp 16.438.200,Kas**
Rp 30.600.000,*
Rp 30.600.000,- Rp 14.161.800,** Rp 13.500.000,- Rp 7.500.000,- Rp 9.600.000,-

f. Aktiva tetap yang diperoleh secara pertukaran
Menurut cara ini aktiva tetap diperoleh dengan cara menukarkan aktiva
tetap yang kita miliki dengan aktiva tetap lainnya yang dimilliki pihak lain baik
itu yang sejenis maupun tidak sejenis. Transaksi pertukaran bisa bersih tanpa
tambahan-tambahan lain atau dapat juga ditambah dengan transaksi tambahan
lainnya, misalnya kas. Transaksi pertukaran aktiva tetap memiliki permasalahan
yang khusus dalam pencatatannya.
Kieso (2002: 16), mengatakan :
Akuntansi yang tepat untuk pertukaran aktiva non-moneter (seperti
persediaan serta properti, pabrik dan peralatan) masih diperdebatkan
atau masih kontroversial. Sebagian akuntan berpendapat bahwa
akuntansi untuk jenis pertukaran ini harus didasarkan atas nilai wajar
aktiva yang diberikan atau nilai wajar aktiva yang diterima, dengan
mengakui suatu keuntungan atau kerugian. Sebagian lagi berpendapat
bahwa akuntansi harus didasarkan atas jumlah yang tercatat (nilai
buku) dari aktiva yang diberikan, tanpa mengakui keuntungan atau
kerugian. Sementara yang lainnya lagi memilih pendekatan yang akan

Universitas Sumatera Utara

mengakui kerugian dalam semua kasus, tetapi menangguhkan
keuntungan dalam situasi khusus.
IAI (2007 : 16.6) sendiri dalam menjelaskan tentang pertukaran aktiva
tetap adalah :
Entitas menentukan apakah suatu transaksi pertukaran memiliki
substansi
komersial atau tidak dengan mempertimbangkan sejauh
mana arus kas masa depan diharapkan dapat berubah sebagai akibat
dari
transaksi
ini.suatu
transaksi
pertukaran
memiliki
substansikomersial jika:
(a) Konfigurasi (risiko, waktu, dan jumlah) arus kas atas aset yang
diterima berbeda dari konfigurasi dari aset yang diserahkan; atau
(b) Nilai khusus entitas dari kegiatan operasional entitas yang
dipengaruhi oleh transaksi tersebut berubah sebagai akibat dari
pertukaran; dan
(c) Selisih antara (a) dan (b) adalah relatif signifikan terhadap nilai
wajar dari aset yang dipertukarkan.
Jika pertukaran aktiva tetap dilakukan atas dasar yang tidak sejenis, maka
perbedaan antara nilai buku aktiva tetap yang diserahkan dengan nilai aktiva yang
diperoleh lansung dicatat sebagai laba atau rugi pertukaran aktiva tetap.
Pertukaran aktiva tetap yang sejenis dilakukan dengan kondisi tidak adanya
pembayaran kas ataupun adanya kas. Kedua kondisi ini akan dijelaskan sebagai
berikut:
a. Bila pertukaran tidak dissertai dengan pembayaran
Nilai perolehan aktiva tetap dicatat sebesar nilai buku dari aktiva yang
bersangkutan.
b. Bila pertukaran disertai dengan pembayaran
Harga perolehan aktiva tetap dapat dilihat dari kedua belah pihak yang
melakukan transaksi, yaitu :

Universitas Sumatera Utara

• Pihak yang menyerahkan uang
Bagi pihak yang menyerahkan uang, harga perolehan dicatat sebesar
nilai buku aktiva tetap yang diserahkan ditambah pembayan kas, dan
tidak boleh dicatatkan laba.
• Pihak yang menerima uang
Bila pembayaran disertai disertai oleh pembayaran kas, maka ada dua
hal yang mempengaruhi pengakuan keuntungan, yaitu :
1. Apabila kas yang diterima sebesar kurang dari 25% dari nilai pasar
aktiva tetap yang diterima, maka keuntungan diakui sebagian jika
uang diterima.
Bagi pihak yang menerima uang, diperlakukan bahwa transaksi itu
mengandung realisasi laba walaupun transaksi itu bukan kegiatan
utama perusahaan. Pihak yang menerima kas harus mencatat bagian
laba yang timbul dari penerimaan kas tersebut. Jadi ada keuntungan
yang diakui (realized gain)
realized gain dapat dihitung sebagai berikut :

Indicated Gain (total keuntungan) adalah laba yang ditujukkan dari
transaksi pertukaran tersebut dihitung dari harga pasar aktiva tetap
yang diberikan dikurangi dengan nilai bukunya. Atau dapat pula
dihitung dengan cara harga pasar aktiva tetap yang diterima

Universitas Sumatera Utara

dikurangi dengan nilai buku aktiva tetap yang diserahkan dikurangi
kas yang dibayar.
2. Apabila kas yang diterima sebesar lebih dari 25% dari nilai pasar
aktiva tetap yang diterima, maka semua keuntungan diakui.
Contoh.
PT. Pandu menukar mesin sejenis yang nilai perolehannya sebesar Rp
15.000.000,-, akumulasi penyusutannya sebesar Rp 9.000.000,-, dan harga pasar
Rp 6.375.000,- dengan mesin milik PT. Handaka yang nilai perolehannya sebesar
Rp 18.000.000,- akumulasi penyusutannya Rp 12.000.000,- dan harga pasar Rp
6.750.000,- maka transaksi ini akan dijurnal sebagai berikut :
Mesin (baru)
Akumulasi penyusutan mesin
Mesin (lama)

Rp 6.000.000,Rp 9.000.000,Rp 15.000.000,-

Dari contoh diatas dianggap PT. Pandu sebagai pihak yang menukarkan mesin
dan PT. Handaka sebagai pihak yang memberikan mesin dan menerima kas
sebesar Rp 375.000,1. Dalam hal ini apabila kas yang dibayar PT. Pandu lebih kecil dari 25% harga
pasar mesin tersebut.
Untuk menghitung harga perolehan atas aktiva tetap yang diterimanya :
Harga pasar mesin yang diterima
(-) Laba yang ditangguhkan
Nilai perolehan mesin yang diterima
Atau
Nilai buku mesin yang diserahkan
(+) Kas yang dibayar

Rp 6.750.000,Rp 375.000,Rp 6.375.000,Rp 6.000.000,Rp 375.000,-

Universitas Sumatera Utara

Nilai perolehan mesin yang diterima

Rp 6.375.000,-

Transaksi di atas akan dijurnal sebagai berikut :
Mesin (baru)
Rp 6.375.000,Akumulasi penyusutan
Rp 9.000.000,Kas
Rp 375.000,Mesin (lama)
Rp 15.000.000,Sebagai pihak penerima uang maka PT. Handaka akan memperhitungkan
sebagian keuntungan yang diakuinya diterimanya. Keuntungan yang diakui
tersebut akan dihitung sebagai berikut :

Harga pasar mesin yang diserahkan
(-) Nilai buku mesin yang diserahkan
Total keuntungan
Atau
Harga pasar mesin yang diterima
(-) Nilai buku mesin yang diserahkan
(+) Kas yang diterima
Total keuntungan

Rp 6.750.000,Rp 6.000.000,Rp 750.000,Rp 6.375.000,Rp 6.000.000,Rp 375.000,Rp 750.000,-

Keuntungan yang diakui =

Rp

750.000,-

= Rp 41.666,67
Aktiva yang diperolehnya akan dinilai :
= Nilai buku aktiva tetap yang diserahkan – penerimaan kas (boot) + keuntungan
yang diakui
= Rp 6.000.000,-

Rp 375.000,- + Rp 41.666,67 = Rp 5.666.666,67

Untuk mencatat transaksi di atas maka PT.Handaka akan menjurnal :
Mesin (baru)
Akumulasi penyusutan

Rp 5.666.666,67
Rp 12.000.000,-

Universitas Sumatera Utara

Kas

Rp
Mesin (lama)
Laba pertukaran

375.000,Rp 18.000.000,Rp
41.666,67

2. Apabila PT. Handaka menerima kas lebih besar dari 25% harga pasar aktiva
tetap yang diterimanya dari PT. Pandu, yaitu menerima kas sebesar Rp
1.912.500,- (30% dari harga pasar mesin yang diterima). Maka dalam hal ini
transaksi dianggap sebagai pertukaran moneter, dimana semua keuntungan
dan kerugian diakui, dan aktiva tetap yang diterima dicatat berdasarkan nilai
pasarnya.

PT.Handaka mencatat transaksinya sebagai berikut :
Kas
Mesin (baru)
Akumulasi penyusutan
Mesin
Laba pertukaran

Rp 1.912.500,Rp 6.000.000,Rp 12.000.000,Rp 18.000.000,Rp 1.912.500,-

3. Pengeluaran Selama Masa Penggunaan Aktiva Tetap
Selama penggunaan aktiva tetap perusahaan tidak dapat menghindarkan
diri dari pengeluaran-pengeluaran untuk aktiva tetap itu. Pengeluaran itu ada dua
macam, yaitu:
a.

Pengeluaran Pendapatan (revenue expenditure)
Pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran-pengeluaran yang hanya

mendatangkan untuk tahun dimana pengeluaran tersebut dilakukan. Oleh karena
itu, pengeluaran pendapatan akan dicatat sebagai beban. Pengeluaran untuk
pemeliharan dan perbaikan rutin merupakan contoh dari pengeluaran ini. Beban
pemeliharaan terjadi agar aktiva tetap selalu berada dalam keadaan baik.

Universitas Sumatera Utara

Sedangkan beban perbaikan adalah beban-beban untuk mengembalikan aktiva
tetap dalam keadaan baik.
b.

Pengeluaran Modal (capital expenditure)
Pengeluaran modal adalah pengeluaran-pengeluaran yang harus dicatat

sebagai aktiva (dikapitalisir). Pengeluaran-pengeluaran yang akan mendatangkan
manfaat lebih dari satu periode akuntansi termasuk dalam kategori ini.
Dalam praktek sangat sulit membedakan antara revenue expenditure
dengan capital expenditure. Untuk mengatasi kesulitan ini dalam akuntansi
diberikan beberapa pedoman bagaimana untuk membedakannya.
Menurut Harahap (2002 : 49) Pedoman itu adalah sebagai berikut:
1. Segi Keuntungan
Jika pengeluaran itu memberikan keuntungan selama lebih dari satu
tahun, maka dianggap sebagai capital expenditure. Jika sebaliknya
maka dianggap sebagi revenue expenditure.
2. Kebiasaan
Jika pengeluaran itu merupakan pengeluaran yang sifatnya lazim dan
rutin dikeluarkan dalam periode tertentu maka dianggap sebagai
revenue expenditure, jika sebaliknya maka dianggap sebagai capital
expenditure. Jika pengeluaran itu jumlahnya relative besar dan sifatnya
penting biasanya dianggap sebagai capital expenditure. Sedangkan jika
pengeluaran tersebut relative kecil maka dianggap sebagai revenue
expenditure.
3. Jumlah
Jika pengeluarannya relative kecil dianggap sebagai revenue
expenditure dan jika pengeluaran itu jumlahnya relative besar dan
sifatnya penting maka dianggap sebagai capital expenditure.

Agar biaya-biaya tersebut dapat dikapitalisasi menurut Donald E. Kieso
(2003 : 23) beberapa kondisi yang harus dipenuhi ialah sebagai berikut :
1. “ Umur manfaat aktiva harus meningkat
2. Kuantitas unit yang diproduksi aktiva harus meningkat

Universitas Sumatera Utara

3. Kualitas unit yang diproduksi harus ditingkatkan.”
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk aktiva tetap tersebut dapat
dikelompokkan menjadi :
a. Biaya Reparasi, yaitu biaya untuk memperbaiki aktiva tetap menjadi baik
seperti

semula

dan

dapat

digunakan

kembali

dalam

operasi

perusahaan.reparasi dibedakan atas dua yaitu reparasi biasa dan reparasi
besar. Reparasi yang bersifat biasa (ordinary repairs) adalah pengeluaran
yang dilakukan untuk mempertahankan aktiva tetap dalam kondisi siap
operasi; biaya ini dapat dibebankan ke akun beban selama periode
terjadinya atas dasar bahwa periode tersebut merupakan periode yang
paling banyak menerima manfaat. Contohnya adalah penggantian
komponen kecil, pelumasan, penyetelan peralatan, pengecetan kembali,
dan pembersihan. Reparasi yang sifatnya besar (major repairs) adalah
reparasi dimana beberapa periode akan menerima masa manfaat dan biaya
tersebut harus diperlakukan sebagai penambahan, perpaikan atau
penggantian.
b. Biaya Penambahan, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menambah aktiva
tetap yang lama dengan bagian-bagian yang baru. Pengeluaran ini
dilakukan untuk menambah mutu serta manfaat aktiva tetap tersebut.
Contoh yang sering terlihat adalah penambahan peralatan yang dipasang
pada mesin dengan tujuan untuk mengurangi pencemaran. Jika peralatan
yang ditambahkan tersebut dipasang menjadi satu dengan mesin maka
biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan memasang alat itu

Universitas Sumatera Utara

merupakan

suatu

penambahan.

Biaya-biaya

yang

timbul

dalam

penambahan dikapitalisasi, menambah biaya perolehan aktiva dan
disusustkan selama umur ekonomisnya.
c. Biaya Pemeliharaan, yaitu biaya untuk menjaga aktiva tetap tersebut tetap
pada kondisi baik. Biaya ini sifatnya biasa dan berulang-ulang dan tidak
menambah umur aktiva, pengeluaran ini dianggap sebagai revenue
expenditure.
d. Biaya Penyusunan Kembali dan Pemasangan Kembali, yaitu pengeluaran
yang ditujukan untuk memberikan manfaat diperiode masa depan. Jika
biaya pemasangan awal dan akumulasi penyusutan yang dihitung sampai
tanggal sekarang dapat ditentukan atau diestimasi, maka biaya penyusunan
kembali dan pemasangan kembali diperlakukan sebagai penggantian. Jika
tidak maka biaya baru itu apabila jumlahnya material harus dikapitalisasi
sebagai aktiva yang akan diamortisasi selama periode masa depan yang
diharapkan menerima manfaat. Akan tetapi jika ternyata jumlahnya tidak
material dan jika tidak dapat dipisahkan dari beban operasi lainnya atau
jika manfaat masa depannya masih diragukan, maka hal itu harus segera
dibebankan.
e. Biaya Perbaikan, yaitu penggantian suatu aktiva dengan aktiva yang baru
untuk memperoleh kegunaan aktiva yang lebih baik. Perbedaan antara
perbaikan dengan pergantian yaitu: perbaikan adalah penggantian aktiva
yang sekarang sedang digunakan dengan aktiva lain yang lebih baik,

Universitas Sumatera Utara

contoh: laintai kayu dengan lantai marmer. Sedang pergantian adalah
subsitusi dari aktiva yang sama, contoh: lantai kayu dengan lantai kayu.
4. Pengertian dan Metode Depresiasi Aktiva Tetap
Aktiva tetap yang digunakan oleh perusahaan didalam menjalankan
operasinya pasti akan mengalami penurunan produktivitas, kecuali tanah.
Penurunan produktivitas ini disebabkan oleh faktor fisik dan faktor faktor
funsional. Kehilangan masa manfaat yang disebabkan oleh faktor fisik misalnya
karena pemakain, keausan kare