Tinjauan Yuridis Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Pemberian Likuiditas Pada Bank Umum (Studi Kasus PT. Bank Century, Tbk)

TINJAUAN YURIDIS PENGAWASAN BANK INDONESIA
TERHADAP PEMBERIAN LIKUIDITAS PADA BANK UMUM
(STUDI KASUS PT. BANK CENTURY, TBK)
TESIS

Oleh

SYURATTY ASTUTI RAHAYU MANALU
077005092/HK

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Bank sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk
mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan
melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem
pembayaran, mengatur dan mengawasi perbankan. Pelaksanaan dan pengawasan
terhadap dunia perbankan di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. Dalam hal
pembinaan dan pengawasan tersebut Bank Indonesia menetapkan kriteria kesehatan
bank yang meliputi aspek kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen,
likuiditas, rentabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank dan
wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian PT. Bank
Century, Tbk mengalami kesulitan likuiditas dan merupakan salah satu bank gagal
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai bank gagal yang berdampak sistemik
atas keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan dan menjadi bank pertama yang
menerima akses Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek yaitu salah satu upaya Bank
Indonesia untuk mengurangi dampak bahaya krisis global khususnya yang
mengancam stabilitas keuangan dalam industri perbankan.
Penelitian ini mempergunakan pendekatan yuridis normatif, dengan
pendekatan analisis yang bersifat kualitatif. Metode penelitian yuridis normatif adalah
metode penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam
peraturan perundang-undangan. Dalam penelitian yuridis normatif yang dipergunakan
adalah merujuk pada sumber bahan hukum, yakni penelitian yang mengacu pada
norma-norma hukum yang terdapat dalam berbagai perangkat hukum. Permasalahan
dalam penelitian ini yaitu Bagaimana perlindungan hukum terhadap nasabah pada
bank yang menerima bantuan likuiditas?, Bagaimana pemberian likuiditas yang
dilakukan oleh Bank Indonesia pada Bank Umum?, Bagaimana pengawasan Bank
Indonesia terhadap pemberian likuiditas pada Bank Umum khususnya pada PT.Bank
Century,Tbk.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perlindungan hukum terhadap
nasabah pada bank yang menerima bantuan likuiditas adalah dengan melindungi
kepentingan nasabah penyimpan dana dan simpanannya terhadap risiko kerugian.
Dalam Undang-undang Perbankan tidak ada ketentuan yang secara khusus mengatur
masalah perlindungan hukum terhadap simpanan bank. Perlindungan terhadap
nasabah penyimpan, dapat dilakukan melalui dua cara yaitu : Pertama, perlindungan
secara implisit (Implisit Deposit Protection), yaitu perlindungan yang dihasilkan oleh
pengawasan dan pembinaan bank yang efektif, yang dapat menghindarkan terjadinya
kebangkrutan bank yang diawasi. Kedua, perlindungan secara eksplisit (Explicit
Deposit Protection), yaitu perlindungan melalui pembentukan suatu lembaga yang
menjamin simpanan masyarakat. Perlindungan ini diperoleh melalui pembentukan
lembaga yang menjamin simpanan masyarakat, sebagaimana diatur dalam Keputusan
Presiden RI Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Bank

Universitas Sumatera Utara

Umum dan dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin
Simpanan. Pemberian likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada Bank
Umum merupakan pemberian fasilitas kredit oleh Bank Indonesia sebagai lender of
the last resort (LoLR). Hal ini sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 11 ayat (1)
Undang-undang No.3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan dalam PBI Nomor 10/26/PBI/2008 tentang
Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Umum dan PBI Nomor 8/1/PBI/2006 tentang
Fasilitas Pembiayaan Darurat. Pemberian likuiditas pada Bank Umum oleh Bank
Indonesia merupakan bagian dari Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) untuk
mencegah terjadinya bank run dan meminimalkan kemungkinan terjadinya krisis
keuangan. Tujuan Bank Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 7 Undang-undang
Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia, yaitu untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pada Pasal 8 Undang-undang Nomor
23 Tahun 1999 terdapat ketentuan bahwa Bank Indonesia mempunyai tugas
menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran
sistem pembayaran serta mengatur dan mengawasi Bank. Hal ini berarti Bank
Indonesia memiliki kewenangan, tanggung jawab, dan kewajiban untuk melakukan
pembinaan dan pengawasan terhadap bank dengan menempuh upaya-upaya baik
yang bersifat preventif maupun represif. Kewenangan tersebut diatur dalam Pasal 24
sampai Pasal 35 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 serta dalam Pasal 29 sampai
Pasal 37 Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perbankan. Dalam kasus PT
Bank Century, Tbk seharusnya Bank Indonesia dapat melakukan pengawasan dini
baik yang dilakukan secara langsung, yaitu berbentuk pemeriksaan yang disusul
dengan tindakan-tindakan perbaikan ataupun pengawasan tidak langsung yaitu suatu
bentuk pengawasan dini melalui penelitian, analisis, dan evaluasi laporan bank. Bank
Indonesia selaku otoritas pengawas bank wajib memeriksa secara berkala sekurangkurangnya satu tahun sekali sehingga apabila terjadi penyimpangan-penyimpangan
pada bank tersebut dapat dideteksi secara dini. sehingga kerugian negara dapat
diminimalkan dan mencegah terjadinya krisis keuangan akibat dampak sistemik yang
terjadi pada bank

Kata Kunci : Pengawasan Bank Indonesia terhadap pemberian likuiditas pada bank
umum (studi kasus PT. Bank Century, Tbk)

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The central bank is the state agency that having authority to issue legal tender
of a country, to formulate and implement monetary policies, regulate and maintain
the smoothness of the payment system, regulate and supervise banking. Bank
Indonesia is conducting the implementation and supervision of the banking sector in
Indonesia. In terms of guidance and supervision of the Bank Indonesia has set
criteria which include aspects of the health of the bank. It includes capital adequacy,
asset quality, management quality, earning, liquidity and other aspects related to
banking business and shall conduct business activities in accordance with the
prudential principle. PT. Bank Century, Tbk experiencing liquidity problems and is
one of the failed banks by Bank Indonesia as the bank which has systemic impact on
the decision of the Financial System Stability Committee and became the first bank to
receive access to the Short Term Financing Facility. It is one of Bank Indonesia's
efforts to reduce the impact danger of a global crisis that threatens the financial
stability, particularly in the banking industry.
The study used a normative juridical approach and qualitative analysis
approach. Normative research methods are research methods which refer to the legal
norms contained in the legislation. In a normative study that was used is referring to
the sources of legal materials, namely research which refers to the legal norms
contained in various legal instruments. The problem in this research are how the
legal protection of customers in the bank receiving liquidity support, how the
provision of liquidity by Bank Indonesia at the commercial bank, how the supervision
of Bank Indonesia on the provision of liquidity to commercial banks in particular
experiences with Bank Century, Tbk.
From the results of this study concluded that legal protection of the customer at the
bank receiving liquidity assistance is to protect the interests of depositors and
deposits against losses. In the Banking Act regulations do not specifically regulate
the legal protection of bank deposits. Protection of storage customers, it can be done
through two ways: First, Implicit Deposit Protection that is the protections generated
by the bank supervision effective, which can avoid bankruptcy are supervised banks.
Second, Explicit Deposit Protection, that is protection through the establishment of
an institution that guarantees deposits. This protection is obtained through the
establishment of institutions that guarantee public deposits, as stipulated in
Presidential Decree No. 26 of 1998 on Guarantee Obligations against Commercial
Bank and in Act No. 24 of 2004 concerning the Deposit Insurance Corporation. The
objective of Bank Indonesia in accordance with the provisions of Article 7 of Law
No. 3 of 2004 concerning Amendment to Law No. 23 of 1999 concerning Bank
Indonesia, namely to achieve and maintain Rupiah stability. To achieve these

Universitas Sumatera Utara

objectives, in Article 8 of Law No. 23 of 1999 contained provisions that Bank
Indonesia has the task of formulating and implementing monetary policies, regulate
and maintain the smooth running of payment systems as well as manage and oversee
the Bank. This means that Bank Indonesia has the authority, responsibility, and
obligation to conduct guidance and supervision of banks by taking the efforts of both
preventive and repressive. The authorization provided for in Article 24 to Article 35
of Law No. 3 of 2004 and in Article 29 through Article 37 of Law No. 10 of 1998
about Banking. In the case of PT Bank Century, Tbk , Bank Indonesia may conduct
early surveillance either done directly, that is shaped examination followed by
corrective measures or indirect supervision of a form of supervision early through
research, analysis, and evaluation of bank statements. Bank Indonesia as the banking
supervisory authorities shall examine on a regular basis at least once a year so that if
there distortions in the same bank can be detected early. So that, the state losses can
be minimized and the avoidance of financial crisis due to systemic affects that
occurred in the bank

Keywords: Supervision of Bank Indonesia on the provision of liquidity in commercial
banks (the study case of PT. Bank Century, Tbk)

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tesis ini
ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk mencapai gelar Magister Ilmu Hukum
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dengan judul “Tinjauan
Yuridis

Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Pemberian Likuiditas Pada

Bank Umum (Studi Kasus PT. Bank Century, Tbk)”.
Dalam penyelesaian tesis ini penulis banyak memperoleh bantuan dari para
pengajar/dosen dan terutama dari para dosen pembimbing. Dalam kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), SpA (K), selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara.;
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara;
3. Prof. Dr. Suhaidi, S.H, M.H sebagai Ketua Program Studi Ilmu Hukum Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai Dosen Penguji tesis
penulis;
4. Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H, M.H sebagai Ketua Komisi Pembimbing yang
telah memberikan perhatian penuh, mendorong dan membekali penulis dengan
ilmu bermanfaat dalam penyelesaian studi;
5. Prof. Dr. Sunarmi, S.H, M.Hum dan Dr. Mahmul Siregar, S.H, M.Hum selaku
Anggota Komisi Pembimbing yang dengan penuh kesabaran memberikan
bimbingan, arahan, petunjuk, ide, motivasi, saran serta kritik yang konstruktif
untuk memperoleh hasil yang terbaik penyelesaian penulisan tesis ini.
6. Dr. Dedi Harianto, S.H, M.Hum selaku Dosen Penguji tesis Penulis

Universitas Sumatera Utara

7. Seluruh Staf Pengajar/Dosen di Program Studi Ilmu Hukum pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu dan
motivasi dalam setiap perkuliahan kepada penulis;
8. Seluruh Staf/Pegawai Administrasi Kak Rafika Suryani, Kak Juliani, Kak Fitri,
Ibu Niar, Ibu Ganti, Bang Udin, dll yang selalu tersenyum dan melayani dengan
ikhlas tanpa mengenal lelah selama penulis menyelesaikan studi;
9. Kedua orang tua penulis Ayahanda Drs. A. B. Ch. Manalu, M.Pd. dan Ibunda
Dra. Rosnah Siregar, S.H, M.Si yang telah sabar mendidik penulis serta selalu
berdoa dan memberikan dukungan baik moril maupun materil kepada penulis;
10. Suami penulis Fredy Simanjuntak, S.H, M.Hum dan anak penulis Rafif Aqilah
Simanjuntak yang menjadi semangat hati dan hidup penulis, terima kasih buat
pengertian, perhatian dan kasih sayangnya;
11. Adik-adik tercinta Kartika Manalu, M.Pd, Salistri Annisa Manalu, S.Pd, M.Hum,
Boy Utomo Manalu, Bob Rahmat Manalu dan Riza Ramadhan Manalu yang
telah memberikan motivasi dan dukungan tak hentinya;
12. Teman-teman pada Program Studi Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, dan semua pihak yang tak dapat penulis cantumkan
nama-namanya di sini, yang telah membantu penulis secara tulus dan ikhlas
sehingga tesis ini dapat selesai;
Akhir kata, penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya
kepada kita semua. Amin.

Medan, Mei 2011
Penulis

Syuratty Astuti Rahayu Manalu

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Nama

: Syuratty Astuti Rahayu Manalu

Tempat/ Tanggal Lahir

: Medan / 25 April 1983

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Status

: Menikah

Alamat

: Jl. Selam VIII No. 1A Medan

Pendidikan Formal

: 1. SD Tunas Kartika 2 Medan dari Tahun 1989 hingga
Tahun 1995.
2. SLTP Negeri 1 Medan, dari Tahun 1995 hingga
Tahun 1998.
3. SMA Kartika I-1 Medan, dari Tahun 1998 hingga
Tahun 2001.
4. S-1

Fakultas

Bahasa

dan

Seni Jurusan

Pendidikan
Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan, dari
Tahun 2001 hingga Tahun 2007.
5. S-1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,
dari Tahun 2002 hingga tahun 2006.
6. S-2 Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, dari Tahun 2007
hingga Tahun 2011

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRAK........................................................ ...............................

i

ABSTRACT........................................................ ..............................

iii

KATA PENGANTAR.....................................................................

v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .......................................................

vii

DAFTAR ISI....................................................................................

viii

BAB I

: PENDAHULUAN ...................................................

1

A. Latar Belakang .....................................................

1

B. Perumusan Masalah..............................................

10

C. Tujuan Penelitian..................................................

11

D. Manfaat Penelitian ...............................................

11

E. Keaslian Penulisan................................................

12

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ..............................

14

G. Metode Penelitian ................................................

27

BAB II

: PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH
PADA

BAB III

BANK

YANG

MENERIMA

BANTUAN

LIKUIDITAS..........................................................

31

A. Kegiatan Usaha Bank...........................................

31

B. Prinsip Kehati-hatian Bank .................................

35

C. Perlindungan Dana Nasabah Bank......................

45

: PEMBERIAN LIKUIDITAS PADA BANK UMUM

56

A. Risiko Likuiditas Perbankan ...............................

56

B. Manajemen Likuiditas Bank ...............................

65

C. Bantuan Kepada Bank Dalam Masalah Likuiditas

69

Universitas Sumatera Utara

BAB IV

: PENGAWASAN BANK INDONESIA TERHADAP
PEMBERIAN LIKUIDITAS PADA BANK UMUM
(STUDI KASUS BANK CENTURY) .....................

80

A. Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Bank ......

80

B. Bank Sentral sebagai Lender of the Last Resort ..

93

C. Penyelamatan terhadap Bank Gagal Pada PT.Bank
Century, Tbk ........................................................

BAB V

99

: KESIMPULAN DAN SARAN................................

115

A. Kesimpulan ...........................................................

115

B. Saran......................................................................

117

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................

119

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Bank sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk
mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan
melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem
pembayaran, mengatur dan mengawasi perbankan. Pelaksanaan dan pengawasan
terhadap dunia perbankan di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. Dalam hal
pembinaan dan pengawasan tersebut Bank Indonesia menetapkan kriteria kesehatan
bank yang meliputi aspek kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen,
likuiditas, rentabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank dan
wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian PT. Bank
Century, Tbk mengalami kesulitan likuiditas dan merupakan salah satu bank gagal
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai bank gagal yang berdampak sistemik
atas keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan dan menjadi bank pertama yang
menerima akses Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek yaitu salah satu upaya Bank
Indonesia untuk mengurangi dampak bahaya krisis global khususnya yang
mengancam stabilitas keuangan dalam industri perbankan.
Penelitian ini mempergunakan pendekatan yuridis normatif, dengan
pendekatan analisis yang bersifat kualitatif. Metode penelitian yuridis normatif adalah
metode penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam
peraturan perundang-undangan. Dalam penelitian yuridis normatif yang dipergunakan
adalah merujuk pada sumber bahan hukum, yakni penelitian yang mengacu pada
norma-norma hukum yang terdapat dalam berbagai perangkat hukum. Permasalahan
dalam penelitian ini yaitu Bagaimana perlindungan hukum terhadap nasabah pada
bank yang menerima bantuan likuiditas?, Bagaimana pemberian likuiditas yang
dilakukan oleh Bank Indonesia pada Bank Umum?, Bagaimana pengawasan Bank
Indonesia terhadap pemberian likuiditas pada Bank Umum khususnya pada PT.Bank
Century,Tbk.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perlindungan hukum terhadap
nasabah pada bank yang menerima bantuan likuiditas adalah dengan melindungi
kepentingan nasabah penyimpan dana dan simpanannya terhadap risiko kerugian.
Dalam Undang-undang Perbankan tidak ada ketentuan yang secara khusus mengatur
masalah perlindungan hukum terhadap simpanan bank. Perlindungan terhadap
nasabah penyimpan, dapat dilakukan melalui dua cara yaitu : Pertama, perlindungan
secara implisit (Implisit Deposit Protection), yaitu perlindungan yang dihasilkan oleh
pengawasan dan pembinaan bank yang efektif, yang dapat menghindarkan terjadinya
kebangkrutan bank yang diawasi. Kedua, perlindungan secara eksplisit (Explicit
Deposit Protection), yaitu perlindungan melalui pembentukan suatu lembaga yang
menjamin simpanan masyarakat. Perlindungan ini diperoleh melalui pembentukan
lembaga yang menjamin simpanan masyarakat, sebagaimana diatur dalam Keputusan
Presiden RI Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Bank

Universitas Sumatera Utara

Umum dan dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin
Simpanan. Pemberian likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada Bank
Umum merupakan pemberian fasilitas kredit oleh Bank Indonesia sebagai lender of
the last resort (LoLR). Hal ini sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 11 ayat (1)
Undang-undang No.3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.23
Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan dalam PBI Nomor 10/26/PBI/2008 tentang
Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Umum dan PBI Nomor 8/1/PBI/2006 tentang
Fasilitas Pembiayaan Darurat. Pemberian likuiditas pada Bank Umum oleh Bank
Indonesia merupakan bagian dari Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) untuk
mencegah terjadinya bank run dan meminimalkan kemungkinan terjadinya krisis
keuangan. Tujuan Bank Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 7 Undang-undang
Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia, yaitu untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pada Pasal 8 Undang-undang Nomor
23 Tahun 1999 terdapat ketentuan bahwa Bank Indonesia mempunyai tugas
menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran
sistem pembayaran serta mengatur dan mengawasi Bank. Hal ini berarti Bank
Indonesia memiliki kewenangan, tanggung jawab, dan kewajiban untuk melakukan
pembinaan dan pengawasan terhadap bank dengan menempuh upaya-upaya baik
yang bersifat preventif maupun represif. Kewenangan tersebut diatur dalam Pasal 24
sampai Pasal 35 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 serta dalam Pasal 29 sampai
Pasal 37 Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perbankan. Dalam kasus PT
Bank Century, Tbk seharusnya Bank Indonesia dapat melakukan pengawasan dini
baik yang dilakukan secara langsung, yaitu berbentuk pemeriksaan yang disusul
dengan tindakan-tindakan perbaikan ataupun pengawasan tidak langsung yaitu suatu
bentuk pengawasan dini melalui penelitian, analisis, dan evaluasi laporan bank. Bank
Indonesia selaku otoritas pengawas bank wajib memeriksa secara berkala sekurangkurangnya satu tahun sekali sehingga apabila terjadi penyimpangan-penyimpangan
pada bank tersebut dapat dideteksi secara dini. sehingga kerugian negara dapat
diminimalkan dan mencegah terjadinya krisis keuangan akibat dampak sistemik yang
terjadi pada bank

Kata Kunci : Pengawasan Bank Indonesia terhadap pemberian likuiditas pada bank
umum (studi kasus PT. Bank Century, Tbk)

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The central bank is the state agency that having authority to issue legal tender
of a country, to formulate and implement monetary policies, regulate and maintain
the smoothness of the payment system, regulate and supervise banking. Bank
Indonesia is conducting the implementation and supervision of the banking sector in
Indonesia. In terms of guidance and supervision of the Bank Indonesia has set
criteria which include aspects of the health of the bank. It includes capital adequacy,
asset quality, management quality, earning, liquidity and other aspects related to
banking business and shall conduct business activities in accordance with the
prudential principle. PT. Bank Century, Tbk experiencing liquidity problems and is
one of the failed banks by Bank Indonesia as the bank which has systemic impact on
the decision of the Financial System Stability Committee and became the first bank to
receive access to the Short Term Financing Facility. It is one of Bank Indonesia's
efforts to reduce the impact danger of a global crisis that threatens the financial
stability, particularly in the banking industry.
The study used a normative juridical approach and qualitative analysis
approach. Normative research methods are research methods which refer to the legal
norms contained in the legislation. In a normative study that was used is referring to
the sources of legal materials, namely research which refers to the legal norms
contained in various legal instruments. The problem in this research are how the
legal protection of customers in the bank receiving liquidity support, how the
provision of liquidity by Bank Indonesia at the commercial bank, how the supervision
of Bank Indonesia on the provision of liquidity to commercial banks in particular
experiences with Bank Century, Tbk.
From the results of this study concluded that legal protection of the customer at the
bank receiving liquidity assistance is to protect the interests of depositors and
deposits against losses. In the Banking Act regulations do not specifically regulate
the legal protection of bank deposits. Protection of storage customers, it can be done
through two ways: First, Implicit Deposit Protection that is the protections generated
by the bank supervision effective, which can avoid bankruptcy are supervised banks.
Second, Explicit Deposit Protection, that is protection through the establishment of
an institution that guarantees deposits. This protection is obtained through the
establishment of institutions that guarantee public deposits, as stipulated in
Presidential Decree No. 26 of 1998 on Guarantee Obligations against Commercial
Bank and in Act No. 24 of 2004 concerning the Deposit Insurance Corporation. The
objective of Bank Indonesia in accordance with the provisions of Article 7 of Law
No. 3 of 2004 concerning Amendment to Law No. 23 of 1999 concerning Bank
Indonesia, namely to achieve and maintain Rupiah stability. To achieve these

Universitas Sumatera Utara

objectives, in Article 8 of Law No. 23 of 1999 contained provisions that Bank
Indonesia has the task of formulating and implementing monetary policies, regulate
and maintain the smooth running of payment systems as well as manage and oversee
the Bank. This means that Bank Indonesia has the authority, responsibility, and
obligation to conduct guidance and supervision of banks by taking the efforts of both
preventive and repressive. The authorization provided for in Article 24 to Article 35
of Law No. 3 of 2004 and in Article 29 through Article 37 of Law No. 10 of 1998
about Banking. In the case of PT Bank Century, Tbk , Bank Indonesia may conduct
early surveillance either done directly, that is shaped examination followed by
corrective measures or indirect supervision of a form of supervision early through
research, analysis, and evaluation of bank statements. Bank Indonesia as the banking
supervisory authorities shall examine on a regular basis at least once a year so that if
there distortions in the same bank can be detected early. So that, the state losses can
be minimized and the avoidance of financial crisis due to systemic affects that
occurred in the bank

Keywords: Supervision of Bank Indonesia on the provision of liquidity in commercial
banks (the study case of PT. Bank Century, Tbk)

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lembaga perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan mempunyai nilai
strategis dalam kehidupan perekonomian suatu negara. Lembaga tersebut
dimaksudkan sebagai perantara pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana
(surplus of funds) dengan pihak-pihak yang kekurangan dana (lacks of funds).
Dengan demikian perbankan akan bergerak dalam bidang perkreditan, dan berbagai
jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan
mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. Kegiatan lembaga
perbankan secara umumnya dilakukan oleh pelaku yang menurut fungsi serta tujuan
usahanya dapat dibedakan, yaitu berupa bank sentral (central bank) dan bank umum
(commercial bank). Bank umum atau bank komersial dalam kegiatannya dibina dan
diawasi oleh bank sentral. 1
Untuk menciptakan suatu perekonomian yang efisien, maka serangkaian
kebijaksanaan deregulasi telah dilakukan oleh Pemerintah. Pada Oktober 1988, paket
deregulasi yang dikenal dengan Pakto 88 diluncurkan. Paket kebijaksanaan ini
menghapuskan pelarangan pendirian bank swasta yang berlaku sejak Tahun 1971,
menghilangkan seluruh pembatasan pembukaan kantor cabang bank domestik dan

1

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti,
2003), hal.1.

Universitas Sumatera Utara

membolehkan bank asing mendirikan bank campuran bersama-sama dengan bank
domestik.
Melalui Pakto 1988, Indonesia memulai liberalisasi melalui sektor keuangan
dan perbankan. Dengan liberalisasi ini sektor swasta diijinkan untuk masuk ke sektor
ini secara lebih bebas. Kebebasan ini membawa dampak terhadap persaingan tingkat
bunga untuk menyedot dana masyarakat ke dalam sistem perbankan. Namun
liberalisasi di sektor perbankan ini diikuti dengan sangat lambat oleh sektor riil, dan
hanya dipusatkan pada penurunan bea masuk dan sedikit sekali upaya untuk
melakukan liberalisasi struktural seperti penghapusan monopoli atau proteksi lainnya.
Akibatnya dana yang telah dihimpun perbankan dipergunakan untuk membiayai
kegiatan konsumsi serta membiayai sektor yang berisiko tinggi seperti sektor
properti. Inilah yang menyebabkan besarnya kasus kredit bermasalah di perbankan. 2
Secara umum, peranan bank sentral sangat penting dan strategis dalam upaya
menciptakan sistem perbankan yang sehat dan efisien. Bank sentral adalah lembaga
negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah
dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan
menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur dan mengawasi perbankan. Perlu
diwujudkannya sistem perbankan yang sehat itu, karena dunia perbankan adalah salah
satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Sedangkan secara
khusus, bank sentral mempunyai peranan yang penting dalam mencegah timbulnya
2

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank: suatu gagasan tentang pendirian
lembaga penjamin simpanan di Indonesia, ( Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum IU, 2002),
hal. 90.

Universitas Sumatera Utara

risiko-risiko kerugian yang diderita oleh bank itu sendiri, masyarakat penyimpan
dana, dan merugikan serta membahayakan kehidupan perekonomian. 3
Bank adalah lembaga keuangan yang tugas pokoknya mengumpulkan dana
dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat. Selain itu, bank
juga memberikan jasa-jasa keuangan dan pembayaran lainnya. Masyarakat
menyimpan dananya di bank pada dasarnya tanpa jaminan yang bersifat kebendaan.
Kesediaan masyarakat menyimpan dananya tersebut semata-mata dilandasi
kepercayaan, bahwa pada waktunya uangnya akan kembali ditambah dengan
sejumlah bunga sebagai imbalannya. Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap
suatu bank mempunyai dampak domino yang dapat mempengaruhi kepercayaan
terhadap bank lainnya, sehingga perbankan secara keseluruhan mengalami kesulitan.
Oleh karena itu, kebutuhan untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap
perbankan mutlak diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat. 4
Pelaksanaan dan pengawasan terhadap dunia perbankan di Indonesia
dilakukan oleh Bank Indonesia. Dalam hal pembinaan dan pengawasan tersebut Bank
Indonesia menetapkan kriteria kesehatan bank yang meliputi aspek kecukupan modal,
kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, dan aspek lain yang

3

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Kencana Media Group,
2006), hal.163.
4
Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, (Bandung: Books Terrace & Library, 2005),
hal.217-218.

Universitas Sumatera Utara

berhubungan dengan usaha bank dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan
prinsip kehati-hatian. 5
Bank Indonesia sebagai bank sentral di wilayah Republik Indonesia diatur
dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Undang-undang
Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, LN Nomor 4357 Tahun 2004. Dalam
undang-undang ini disebutkan, Bank Indonesia adalah lembaga negara yang
indenpenden. 6 Tugas Bank Indonesia yakni menetapkan dan melaksanakan kebijakan
moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur dan
mengawasi bank. 7 Yang dimaksud dengan pengawasan dalam hal ini meliputi
pengawasan dalam arti tidak langsung yang terutama dalam bentuk pengawasan dini
melalui penelitian, analisis dan evaluasi laporan bank, dan pengawasan langsung
dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan tindakan-tindakan perbaikan. 8
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia diberi kewenangan tanggung jawab dan
kewajiban secara utuh untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap bank
dengan menempuh upaya-upaya baik yang bersifat preventif maupun represif.
Dengan adanya pengawasan dalam praktek perbankan yang dilakukan oleh Bank
Indonesia, dapat meningkatkan taraf kepercayaan masyarakat terhadap integritas

5

Kasmir, Pemasaran Bank, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal.58.
Dalam Pasal 4 Ayat (2) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Undangundang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia disebutkan bahwa “Bank Indonesia adalah
lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur
tangan Pemerintah dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang tegas diatur dalam Undang-undang
ini.
7
Muhammad Djumhana, op.cit, hal.97.
8
Lihat Penjelasan Pasal 29 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
6

Universitas Sumatera Utara

sistem perbankan dan bank itu sendiri sehingga dapat meningkatkan kondisi
perekonomian. Pengawasan juga dapat mencegah masalah terjadi, juga dapat
memberi masukan tentang bentuk keseriusan dan akibat dari suatu masalah bagi bank
dan memberikan fakta dasar bagi langkah-langkah perbaikan yang tepat. Bank
Indonesia berkewajiban membina dan mengawasi perbankan ditinjau dari sudut
ekonomi

perusahaan,

demikian

juga

mengatur/mengawasi

likuiditas 9

dan

solvabilitas 10 bank secara sehat.
Bank Indonesia melakukan tugas pengawasan bank berdasarkan Pasal 37 ayat
(2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Peraturan Bank Indonesia Nomor
6/9/PBI/2004 tentang Tindak Lanjut Pengawasan dan Penetapan Status Bank yang
sebagian telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/38/PBI/2005 serta
Surat Edaran Intern Nomor 9/43/Intern tanggal 15 November 2007 perihal Pedoman
Pelaksanaan Ketentuan Tindak Lanjut Pengawasan dan Penetapan Status Bank,
dalam proses pengawasan terhadap bank bermasalah, apabila tindakan tersebut
menurut penilaian Bank Indonesia belum juga cukup untuk mengatasi kesulitan yang
dihadapi bank dan menurut penilaian Bank Indonesia dapat membahayakan sistem
perbankan, maka Pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha bank dan
memerintahkan direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum

9

Likuiditas adalah kemampuan untuk memenuhi seluruh kewajiban yang harus dilunasi
segera dalam waktu yang singkat.
10
Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajibannya.

Universitas Sumatera Utara

Pemegang Saham (RUPS) guna membubarkan badan hukum bank dan membentuk
tim likuidasi.
Indonesia telah mengalami krisis kepercayaan terhadap perbankan. Kondisi
perbankan di Indonesia telah mengalami masalah-masalah yang menuju suatu
kehancuran akibat krisis ekonomi yang terjadi sejak semester kedua Tahun 1997 yang
diawali oleh krisis nilai tukar. Krisis tersebut telah menyebabkan kinerja
perekonomian Indonesia menurun tajam, dan kemudian berubah menjadi krisis yang
berkepanjangan di berbagai bidang. Bersamaan dengan itu, sistem perbankan yang
rapuh menyebabkan gejolak nilai tukar berubah menjadi krisis utang swasta dan
krisis perbankan. Jatuhnya nilai rupiah telah memperburuk kualitas perkreditan bankbank. Kegagalan dalam mengatasi hal tersebut tidak saja mempengaruhi kredibilitas
perbankan, akan tetapi juga menyebabkan semakin terbatasnya sumber dana yang
tersedia bagi dunia usaha. 11
Mengatasi hal itu, Bank Indonesia melakukan sejumlah upaya untuk meredam
gejolak nilai rupiah. Di antara langkah-langkah yang dilakukan saat itu adalah
meningkatkan intervensi terhadap nilai tukar rupiah, menaikkan suku bunga, dan
menghentikan sementara transaksi Surat Berharga Pasar Uang (SBPU). Melalui
langkah itu, Bank Indonesia berupaya mengetatkan likuiditas (membatasi jumlah
uang beredar), sehingga nilai tukar rupiah dapat distabilkan. Namun, sejumlah

11

Zulkarnain Sitompul, op.cit., 2002, hal.2-3.

Universitas Sumatera Utara

kebijakan moneter pemerintah tersebut justru mengakibatkan krisis semakin
menjadi. 12
Kesulitan likuiditas yang dialami perbankan memaksa bank untuk
menghimpun dana masyarakat melalui peningkatan suku bunga deposito. Tetapi,
kenaikan suku bunga deposito ini juga menyebabkan naiknya suku bunga pinjaman.
Akibatnya, kredit bermasalah atau non performing loan pun bertambah karena
sejumlah kreditor tidak sanggup membayar utang-utangnya. Kelangkaan likuiditas
juga mengakibatkan bank mengalami kalah kliring atau saldo rekening gironya di
Bank Indonesia berada dalam posisi debet/minus. Hal ini memicu keresahan
masyarakat atas kondisi perbankan dan akhirnya menyebabkan terjadinya rush
(penarikan uang dari bank secara serentak). Ditambah lagi pemerintah melakukan
likuidasi atas 16 (enam belas) bank nasional, sehingga membuat keresahan
masyarakat kian meluas.
Pada Tahun 2008, krisis keuangan terjadi kembali sebagai dampak dari krisis
keuangan global dan berpotensi menyebabkan terjadinya krisis ekonomi. Hal inilah
yang mendasari pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (Perpu) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan 13 .
Dengan landasan hukum inilah, Bank Indonesia pada November 2008 langsung

12

Marwan Batubara dkk., Skandal BLBI: Ramai-ramai Merampok Negara, (Jakarta: Haekal
Media Center, 2008), hal.14.
13
Rancangan Undang-Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (RUU JPSK) dipastikan
batal disahkan pada masa kerja Dewan Perwakilan Rakyat periode 2004-2009. Panitia Khusus Komisi
Keuangan dan Perbankan gagal mencapai kesepakatan dengan pemerintah soal draft final undangundang yang diamanatkan Undang-Undang Bank Indonesia sebagai payung hukum penanganan krisis
keuangan itu. http://www.tempointeraktif.com, Selasa, 29 September 2009.

Universitas Sumatera Utara

merombak peraturan yang terkait pemberian Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD),
terutama pada bagian Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan yang semula positif
5 % (lima persen) menjadi cukup positif saja (asal tidak negatif).
Krisis perbankan di Indonesia, selain merupakan dari krisis nilai tukar, juga
disebabkan oleh rentannya sistem perbankan Indonesia, yang ditandai dengan kurang
kuatnya permodalan, manajemen yang kurang menerapkan good governance, serta
tidak kukuhnya kelembagaan, lemahnya pengaturan dan pengawasan di tengahtengah pesatnya pertumbuhan perekonomian dan berlangsungnya integrasi keuangan
internasional. 14
Lemahnya

sektor

perbankan

Indonesia,

meskipun

telah

mengalami

restrukturisasi disebabkan setidak-tidaknya oleh tiga hal: (1) pertumbuhan jumlah
bank yang amat pesat sebagai hasil kebijakan deregulasi Tahun 1988 yang tidak
disertai dengan ketentuan prudensial dan pengawasan yang memadai oleh bank
sentral; (2) lemahnya penerapan good governance di sektor perbankan karena, antara
lain konsentrasi kepemilikan yang amat tinggi; dan (3) terjadinya economic boom dan
integrasi keuangan internasional yang mengakumulasi tingkat kerentanan sistem
perbankan Indonesia. 15
Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) adalah salah satu upaya Bank
Indonesia untuk mengurangi dampak bahaya krisis global khususnya yang
14

Kusumaningtuti SS, Peranan Hukum dalam Penyelesaian Krisis Perbankan di Indonesia,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hal.2.
15
Mari Elka Pengestu, The Indonesian Bank Crisis and Restructuring: Lesson and
Implication for Other Developing Countries, G-24 Discussion Paper Series No.23-United Nation
Conference on Trade and Development, November 2003, hal.2.

Universitas Sumatera Utara

mengancam stabilitas keuangan dalam industri perbankan. Hal ini diatur dalam
Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 10/26/PBI/2008 tanggal 30 Oktober 2008 dan
PBI Nomor 10/30/PBI/2008 tentang Perubahan atas PBI Nomor 10/26/PBI/2008.
FPJP merupakan bagian integral dari Jaringan Pengaman Sistem Keuangan (financial
safety net) yang terdapat pengaturannya dalam Perpu Nomor 4 Tahun 2008 tentang
Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) yang meliputi pencegahan krisis dan
penanggulangan krisis.
FPJP pada dasarnya merupakan tindakan antisipatif Menteri Keuangan dan
Gubernur Bank Indonesia yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan
(KSSK). FPJP diberikan bagi bank untuk mengatasi kesulitan keuangan atau
likuiditas (mismatch) agar dapat memenuhi Giro Wajib Minimum yang berdasarkan
PBI Nomor 10/19/PBI/2008 tanggal 14 Oktober 2008, Giro Wajib Minimum yang
harus dipenuhi setiap bank sebesar 7,5 % (tujuh koma lima persen) dari dana pihak
ketiga.
PT. Bank Century, Tbk menjadi bank pertama yang menerima akses FPJP.
PT. Bank Century, Tbk merupakan hasil merger tiga bank pada Desember 2004 yakni
Bank Pikko, Bank Danpac dan CIC. PT. Bank Century, Tbk merupakan salah satu
bank gagal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai bank gagal yang berdampak
sistemik

atas

keputusan

Komite

Stabilitas

Sistem

Keuangan

Nomor

04/KSSK.03/2008 tanggal 21 November 2008 dan mendapatkan dana bantuan berupa

Universitas Sumatera Utara

dana talangan (bailout) yang sangat besar yang menimbulkan polemik dan perdebatan
baik dikalangan legislatif maupun masyarakat umumnya.
Setelah dinyatakan gagal berdampak sistemik, Bank Indonesia juga dinilai
tidak melakukan pengawasan dengan benar sehingga dana penjaminan simpanan
melonjak dari lebih 600 (enam ratus) milyar rupiah lebih menjadi hampir 7 (tujuh)
triliun rupiah. Dana yang bocor sebagian besar diduga melanggar aturan yang ada.
Ketika masih dalam pengawasan khusus, Bank Indonesia memerintahkan agar PT.
Bank Century, Tbk tidak boleh mencairkan dana, tanpa seizin Bank Indonesia.
Namun ternyata dalam periode itu PT. Bank Century, Tbk mencairkan uang sejumlah
lebih dari 900 (sembilan ratus) milyar rupiah. 16
Kurangnya pengawasan dari Bank Indonesia terhadap bank-bank umum dapat
mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi perekonomian. Hal ini menyebabkan
tidak terlindunginya masyarakat khususnya nasabah yang menyimpankan uangnya di
bank tersebut seperti yang terjadi pada kasus PT. Bank Century, Tbk. Kepercayaan
dari masyarakat harus dijaga sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan dampak
yang negatif terhadap perbankan dan perekonomian nasional.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :

16

http:// www.kbr68h.com, Adi Wahyudi, “Kasus Bank Century Bukti Lemahnya
Pengawasan BI”, diakses tanggal 26 Januari 2011.

Universitas Sumatera Utara

1. Bagaimana perlindungan hukum terhadap nasabah pada bank yang menerima
bantuan likuiditas?
2. Bagaimana pemberian likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada
Bank Umum ?
3. Bagaimana pengawasan Bank Indonesia terhadap pemberian likuiditas pada
Bank Umum khususnya pada PT.Bank Century,Tbk?

C. Tujuan Penelitian.
Berdasarkan uraian yang terdapat pada perumusan masalah di atas, maka yang
menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap nasabah pada bank yang
menerima bantuan likuiditas.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis peraturan perundang-undangan
terkait pemberian likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada
Bank Umum
3. Untuk mengetahui pengawasan Bank Indonesia terhadap pemberian
likuiditas pada Bank Umum khususnya pada P.T Bank Century,Tbk

D. Manfaat penelitian.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis
maupun praktis, masing-masing sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

1. Secara Teoritis.
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
pemahaman, pemikiran dan pandangan yang baru bagi akademisi, pengamat
keuangan dan masyarakat mengenai pengawasan yang dilakukan oleh Bank
Indonesia terhadap pemberian likuiditas pada bank umum. Manfaat lain yang
diharapkan

yakni

dapat

ikut

memberikan

kontribusi

positif

bagi

perkembangan ilmu hukum, khususnya dibidang pembiayaan/perbankan.
2. Secara Praktis.
Penelitian ini secara praktis ditujukan bagi pemerintah, praktisi keuangan,
bankir dan bank sentral dalam pemberian likuiditas pada bank umum.

E. Keaslian Penelitian.
“Tinjauan Yuridis Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Pemberian
Likuiditas Pada Bank Umum (Studi Kasus PT.Bank Century, Tbk)” yang diangkat
menjadi judul penelitian ini belum pernah ditulis di program studi ilmu hukum
sekolah pasca sarjana Universitas Sumatera Utara. Jika memang terdapat judul
penelitian yang hampir sama dengan ini, akan tetapi substantif pembahasannya
berbeda. Penelitian disusun melalui referensi buku-buku, media cetak elektronik serta
bantuan dari berbagai pihak. Dengan demikian keaslian penulisan penelitian ini dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah, keilmuwan dan terbuka untuk
dikritisi yang sifatnya konstruktif.

Universitas Sumatera Utara

Sebagai catatan ada beberapa penelitian yang telah dilakukan dibidang
perbankan yaitu:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Berlian Napitupulu yang berjudul “Analisis
Yuridis Likuidasi Bank Di Indonesia”.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Nia Avenasari yang berjudul “Analisis Hukum
Pemberian bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Fasilitas
Pendanaan Jangka Pendek oleh Bank Indonesia dalam Mengatasi Krisis
Perbankan di Indonesia”.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Bandoe Widiarto yang berjudul “Penjaminan
Simpanan bagi Nasabah Bank Tinjauan Terhadap ketentuan Blanked
Guarantee Dari Kemungkinan Penggantiannya dengan Lembaga penjaminan
Simpanan.”.
d. Penelitian

yang

dilakukan

oleh

Megawati

yang

berjudul

“Pertanggungjawaban terhadap Nasabah dalam hal Bank Gagal dihubungkan
dengan Undang-undang

No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin

Simpanan”.
e. Penelitian yang dilakukan oleh Ivan Vanova yang berjudul “fungsi
pengawasan Bank Indonesia dalam Praktek Perbankan”.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka jelaslah bahwa meskipun ada beberapa
penelitian di bidang perbankan terutama mengenai Bank Indonesia, tetapi belum
pernah dilakukan penelitian pengawasan Bank Indonesia terhadap pemberian

Universitas Sumatera Utara

likuiditas pada bank umum (studi kasus P.T Bank Century, Tbk) dalam pendekatan
dan perumusan masalah yang sama.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Teori berfungsi untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik
atau proses tertentu terjadi, sedangkan kerangka teori merupakan landasan dari teori
atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari
permasalahan yang dianalisis.
Menurut M.Solly Lubis, kerangka teori merupakan pemikiran atau butir-butir
pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang dapat menjadi
bahan perbandingan dan pegangan teoritis. Hal ini dapat menjadi masukan eksternal
bagi penulis. 17
Menurut Radbruch, tugas teori hukum adalah untuk membuat jelas nilai-nilai
hukum dan postulat-postulat hingga dasar-dasar filsafatnya yang paling dalam. 18
Fungsi teori mempunyai maksud dan tujuan untuk memberikan pengarahan kepada
penelitian yang akan dilakukan.
Lembaga keuangan bank mempunyai peran yang penting bagi aktivitas
perekonomian. Peran strategis bank tersebut sebagai wahana yang mampu
menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat secara efektif dan efisien ke arah

17
18

M.Solly Lubis, Filsafat Hukum dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju,1994), hal.80.
W.Friedmann, Legal Theory, (New York: Columbia University Press, 1967), hal.3-4.

Universitas Sumatera Utara

peningkatan taraf hidup rakyat. Bank sebagai lembaga keuangan merupakan
perantara keuangan (financial intermediaries) sebagai prasarana pendukung yang
amat vital untuk menunjang kelancaran perekonomian. 19
Secara makro, peranan bank sentral sangat penting berhubung dunia
perbankan adalah urat nadi perekonomian di suatu negara sehingga peranan sektor
perbankan dapat mempengaruhi maju mundurnya perekonomian di negara yang
bersangkutan. Sedangkan secara mikro, peranan bank sentral sangat menentukan
untuk dapat meminimalkan risiko-risiko dari dunia perbankan yang pada gilirannya
dapat melindungi masyarakat berhubung adanya dana masyarakat dalam bank-bank
tersebut. 20
Pentingnya kepercayaan masyarakat terhadap bank telah menciptakan
hubungan kepercayaan antara bank dengan nasabahnya menjadi penting. Hal ini
terjadi karena bank memiliki status yang unik di tengah masyarakat, selain bank
sebagai suatu sandaran kepercayaan ia juga menempati posisi khusus sebagai tempat
yang aman. Di samping itu, dalam menjalankan kegiatan usahanya bank juga terlibat
dengan masalah-masalah internal perusahaan dan individu sehingga peranan bank
telah melampaui hubungan tradisional antara debitur dan kreditur.21
Hubungan bank dengan nasabahnya dapat dikategorikan sebagai hubungan
antara kreditur dan debitur, hubungan kepercayaan (fiduciary relation) dan hubungan

19

Johannes Ibrahim, Bank Sebagai Lembaga Intermediasi dalam Hukum Positif, (Bandung:
CV.Utomo, 2004), hal.36.
20
Munir Fuady, Hukum Perbankan Modern, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003) hal.117.
21
Zulkarnain Sitompul, op.cit, hal.31.

Universitas Sumatera Utara

kerahasiaan (confidential relation). Ketiga hubungan antara bank dengan nasabah
tersebut ditambah lagi dengan hubungan kehati-hatian atau kearifan (prudential
relation). Keempat hubungan tersebut menjiwai hubungan bank dan nasabahnya. 22
Symons, Jr. berpendapat dengan menyebutkan hubungan bank dengan
nasabah adalah sebagai hubungan debitur-kreditur, hanya memberikan sugesti
tentang penetapan kewajiban yang sempit, istilah itu berkonotasi pada suatu janji
yang tak bersyarat oleh debitur untuk membayar sejumlah uang yang sudah pasti
jumlahnya pada waktu tertentu kepada kreditur yang telah menyediakan uang
tersebut. Hal itu lebih lanjut memberikan konotasi bahwa debitur tidak mempunyai
kewajiban lain, kecuali ditentukan secara tegas, khususnya yang menyangkut
penggunaan uang yang dipinjam itu. Sebagai contoh misalnya dalam deposito bank.
Bank dapat menggunakan uang itu dengan bebas menurut kehendaknya, tetapi
hubungan bank dan nasabah tidak semata-mata hanya hubungan debitur-kreditur saja,
hubungan tersebut juga sebagai suatu fiduciary relation. 23
Perlindungan hukum adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan kepada setiap objek hukum. Menurut sistem
perbankan Indonesia, perlindungan terhadap nasabah penyimpan dana, dapat
dilakukan melalui dua cara, yakni per

Dokumen yang terkait

Dokumen baru