Perbedaan Kebijaksanaan (Wisdom) pada Lansia Ditinjau dari Jenis Pekerjaan

(1)

PERBEDAAN KEBIJAKSANAAN (WISDOM) PADA LANSIA

DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh:

WILLIAM ANGSANA

081301091

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

GENAP, 2011/2012


(2)

SKRIPSI

PERBEDAAN KEBIJAKSANAAN (WISDOM) PADA LANSIA

DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN

Dipersiapkan dan disusun oleh

WILLIAM ANGSANA 081301091

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal 18 Juli 2012

Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi

Prof. Dr. Irmawati, psikolog NIP. 195301311980032001

Tim Penguji

1. Meidriani Ayu Siregar, S.Psi, M.Kes Penguji I/Pembimbing NIP. 196605111995022002

2. Liza Marini, M.Psi, psikolog Penguji II NIP. 198105202005012003

3. Ferry Novliadi, M.Si Penguji III NIP. 197411112006041001


(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:

Perbedaan Kebijaksanaan (Wisdom) pada Lansia Ditinjau dari Jenis Pekerjaan

adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Juli 2012

WILLIAM ANGSANA NIM 081301091


(4)

Perbedaan Kebijaksanaan (Wisdom) pada Lansia Ditinjau dari Jenis Pekerjaan William Angsana dan Meidriani Ayu Siregar

ABSTRAK

Meningkatnya jumlah populasi lanjut usia (lansia) di dunia tidak membuat kelompok usia tersebut diperlakukan dengan baik. Salah satu faktor yang mendasari hal tersebut adalah masih banyaknya prasangka negatif yang dimiliki masyarakat terhadap kaum lansia. Namun, usia lanjut juga identik dengan kebijaksanaan. Baltes mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keahlian dalam perilaku hidup yang mendasar dan merumuskan lima kriteria untuk mengidentifikasi kebijaksanaan dalam diri individu, yaitu memiliki banyak pengetahuan faktual dan prosedural dalam hidup, memahami kontekstualisme rentang kehidupan manusia, memiliki relativisme/toleransi terhadap nilai, serta kesadaran/pengelolaan terhadap ketidakpastian. Ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan. Beberapa di antaranya adalah pengalaman hidup dan pelatihan profesi. Jenis pekerjaan adalah kelompok pekerjaan yang memiliki karakteristik yang sama dalam kerja, keterampilan, dan pendidikan atau pelatihan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dalam penelitian ini, jenis pekerjaan dibatasi pada pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services).

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif komparatif dan bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kebijaksanaan pada lansia yang bekerja di bidang yang melayani manusia (human services) dan bidang yang tidak melayani manusia (nonhuman services). Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 94 orang lansia yang terdiri dari 47 orang pria dan 47 orang wanita, 55 orang lansia yang bekerja di bidang yang melayani manusia dan 39 orang lansia yang bekerja di bidang yang tidak melayani manusia. Rentang usia sampel penelitian adalah usia 60 sampai dengan usia 75 tahun. Pengambilan sampel menggunakan metode convenience sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan skala kebijaksanaan dan dianalisis dengan metode analisis statistik, uji T. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan kebijaksanaan pada lansia ditinjau dari jenis pekerjaan (t = 5,519; p = 0,000). Lansia yang bekerja di bidang yang melayani manusia (M = 59,40; SD = 4,470) lebih bijaksana daripada lansia yang bekerja di bidang yang tidak melayani manusia (M = 54,46; SD = 3,979). Penelitian ini juga menemukan bahwa kelompok wanita (M = 57,66) sedikit lebih bijaksana daripada kelompok pria (M = 57,04).

Kata kunci: kebijaksanaan, jenis pekerjaan, human services, nonhuman services, lansia


(5)

The Difference of Wisdom on Elders In Terms Of the Occupation Type William Angsana and Meidriani Ayu Siregar

ABSTRACT

The increasing number of elder population in the world does not provide any adequate elder services. One of the antecedent factors grounding this fact is that many negative stereotypes about elders are still widely spread among the society nowadays. However, late adulthood is often identical with wisdom. Baltes defined wisdom as “expertise in the fundamental pragmatics of life” and formulated five criteria to identify the wisdom in individuals. They are rich factual knowledge, rich procedural knowledge, lifespan contextualism, values relativism/tolerance, and awareness/management of uncertainty. The development of wisdom itself is influenced by several factors. Some of them are life experience and professional training. Occupation type is group of occupations with similar characteristics in work, skills, and the education or training required to accomplish the work. In this research, the occupation type is limited to human services and nonhuman services.

This research applies comparative quantitative methodology and aims to study whether or not there is difference of wisdom on elders who work in either human services or nonhuman services. The number of sample used in this research is 94 elders, consisting of 47 males and 47 females, 55 elders working in the human services and 39 elders working in the nonhuman services. The age of the sample ranges from 60 to 75 years old. Convenience sampling technique is used to gather the sample. Research data is collected by using the wisdom scale and is analyzed with the statistical analysis method, T-test. The result of this research reveals that there is difference of wisdom on elders in terms of the occupation type (t = 5.519; p = 0.000). Elders who work in the human services (M = 59.40; SD = 4.470) appear to be wiser than elders who work in the nonhuman services (M = 54.46; SD = 3.979). The result also shows that females (M = 57.66) appear to be slightly wiser than males (M = 57.04).


(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Tritunggal atas berkat-Nya yang melimpah sehingga skripsi yang berjudul “Perbedaan Kebijaksanaan (Wisdom) pada Lansia Ditinjau dari Jenis Pekerjaan” ini dapat diselesaikan dengan baik pada waktu terindah yang telah ditentukan-Nya.

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu penulis selama proses penyelesaian karya tulis ilmiah ini. Karena itu, pada kesempatan yang berbahagia ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Irmawati, psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Meidriani Ayu Siregar, S.Psi, M.Kes selaku dosen pembimbing penulisan skripsi ini yang telah meluangkan waktu dan memberikan saran serta kritik yang bermanfaat untuk menyempurnakan karya tulis ini.

3. Kak Liza Marini, M.Psi, psikolog selaku dosen penguji dan dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama proses perkuliahan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Ferry Novliadi, M.Si selaku dosen penguji yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing proses penulisan skripsi ini.

5. Ibu Elvi Andriani Yusuf, M.Psi, psikolog selaku ketua Departemen Psikologi Perkembangan dan Kak Indri Kemala Nasution, M.Psi, psikolog yang turut membimbing penulis selama proses penulisan bagian awal skripsi ini.


(7)

6. Ibu Etty Rahmawati, M.Si dan Bapak Eka Danta Jaya Ginting, M.A., psikolog atas saran dan kritik selama proses penulisan skripsi ini.

7. Seluruh staf dan pegawai Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama proses perkuliahan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

8. Papa, Mama dan Wilson yang telah mengisi hari-hari penulis dengan berbagai keceriaan selama proses penyelesaian skripsi ini. Terima kasih telah membuat hidupku menjadi begitu berarti di dunia yang fana ini. 9. Sepupuku yang luar biasa, Mikka Lawrence, yang telah membelikan

berbagai buku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. 10.Winda Dwiastuti, Cindy Inge Adelia, Sylvia Lam, Hakisukta, Widya Jauwin, Kharina Mei, Katherine Teh, Marisa Andra, Calvina dan Rusly Haryono yang telah menjadi teman terdekat penulis selama proses perkuliahan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Terima kasih atas persahabatan dan suka duka yang dapat kita nikmati bersama dan telah mendewasakan kita secara fisik, kognitif, mental dan sosial. 11.Kak Rini Sipahutar, Kak Trisa Novia dan Bang Princen atas bantuannya

selama proses perkuliahan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

12.Segenap keluarga besar angkatan 2008 yang telah menemani penulis dalam suka dan duka selama proses perkuliahan. Sungguh menyenangkan dapat mengenal kalian semua.


(8)

13.Semua senior dan junior di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, yang mungkin pernah membantu atau dibantu oleh penulis selama proses perkuliahan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

14.Para lansia yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih telah mengisi skala dalam penelitian ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu namun tidak dapat disebutkan namanya satu demi satu. Penulis menyadari bahwa masih banyak bagian dari karya tulis ilmiah ini yang dapat disempurnakan. Penulis berharap agar setiap bagian dari skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Juli 2012


(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 12

C. Tujuan Penelitian ... 12

D. Manfaat Penelitian ... 13

1. Manfaat Teoritis ... 13

2. Manfaat Praktis ... 13

E. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II LANDASAN TEORI ... 15

A. Kebijaksanaan (Wisdom) ... 15

1. Definisi Kebijaksanaan ... 15

2. Model Kebijaksanaan ... 16

3. Kriteria Kebijaksanaan ... 17

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijaksanaan ... 19

5. Sifat Kebijaksanaan ... 22


(10)

7. Karakteristik Orang yang Bijaksana ... 25

B. Jenis Pekerjaan ... 26

1. World-of-Work Map (WWM) ... 27

2. Human Services dan Nonhuman Services ... 28

C. Lansia ... 29

1. Masa Lansia ... 29

2. Usia Lansia ... 31

3. Perkembangan Psikososial Lansia ... 32

D. Perbedaan Kebijaksanaan (Wisdom) pada Lansia Ditinjau dari Jenis Pekerjaan ... 35

E. Hipotesa Penelitian... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 39

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 40

1. Kebijaksanaan (Wisdom) ... 40

2. Jenis Pekerjaan ... 40

C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel ... 41

1. Populasi dan Sampel ... 41

2. Metode Pengambilan Sampel ... 42

D. Alat Pengambilan Data ... 43

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Penelitian ... 44

1. Validitas Alat Ukur ... 44


(11)

3. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 45

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 47

1. Tahap Persiapan Penelitian ... 47

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 48

3. Tahap Pengolahan Data... 49

G. Metode Analisis Data ... 49

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 50

A. Deskripsi Data Penelitian ... 50

B. Hasil Penelitian ... 60

1. Uji Asumsi ... 61

2. Uji T (T-test) ... 62

3. Analisis Tambahan ... 64

C. Pembahasan ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 76

A. Kesimpulan ... 76

B. Saran ... 76

1. Saran Metodologis ... 76

2. Saran Praktis ... 77

3. Penelitian Selanjutnya ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 79


(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 Berlin Wisdom Model 17

Gambar 2 Sistem Klasifikasi Pekerjaan World-of-Work Map 28

Gambar 3 Kerangka Berpikir 38

Grafik 1 Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin 51

Grafik 2 Perbandingan Nilai Mean Skor Berdasarkan Jenis Kelamin 52

Grafik 3 Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Pekerjaan 53

Grafik 4 Sebaran Jenis Pekerjaan Human Services 54

Grafik 5 Perbandingan Subjek Pekerja Human Services

Berdasarkan Jenis Kelamin 55

Grafik 6 Pekerjaan Human Services yang Ditekuni Lansia Pria 55

Grafik 7 Pekerjaan Human Services yang Ditekuni Lansia Wanita 56

Grafik 8 Sebaran Jenis Pekerjaan Nonhuman Services 67

Grafik 9 Perbandingan Subjek Pekerja Nonhuman Services

Berdasarkan Jenis Kelamin 58

Grafik 10 Pekerjaan Nonhuman Services yang Ditekuni Lansia Pria 58

Grafik 11 Pekerjaan Nonhuman Services yang Ditekuni Lansia Wanita 59


(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Distribusi Aitem pada Skala Sebelum Uji Coba 44

Tabel 2 Distribusi Aitem pada Skala Sesudah Uji Coba 46

Tabel 3 Distribusi Aitem pada Skala Penelitian 47

Tabel 4 Standar Kategorisasi Skor Data Penelitian 60

Tabel 5 Hasil Uji Normalitas Skala Kebijaksanaan 61

Tabel 6 Hasil Uji Homogenitas Skala Kebijaksanaan 62

Tabel 7 Hasil Uji T (T-test) Skala Kebijaksanaan 63

Tabel 8 Data Statistik Kelompok dalam Uji T (T-test) 63

Tabel 9 Data Hipotetik dan Empirik Variabel Penelitian 65


(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Skala Uji Coba 82

Lampiran 2 Data Mentah Skala Uji Coba 89

Lampiran 3 Hasil Uji Reliabilitas I 95

Lampiran 4 Hasil Uji Reliabilitas II 98

Lampiran 5 Hasil Uji Reliabilitas Skala Penelitian 100

Lampiran 6 Skala Penelitian 103

Lampiran 7 Data Mentah Skala Penelitian 107

Lampiran 8 Hasil Uji Normalitas 112


(15)

Perbedaan Kebijaksanaan (Wisdom) pada Lansia Ditinjau dari Jenis Pekerjaan William Angsana dan Meidriani Ayu Siregar

ABSTRAK

Meningkatnya jumlah populasi lanjut usia (lansia) di dunia tidak membuat kelompok usia tersebut diperlakukan dengan baik. Salah satu faktor yang mendasari hal tersebut adalah masih banyaknya prasangka negatif yang dimiliki masyarakat terhadap kaum lansia. Namun, usia lanjut juga identik dengan kebijaksanaan. Baltes mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keahlian dalam perilaku hidup yang mendasar dan merumuskan lima kriteria untuk mengidentifikasi kebijaksanaan dalam diri individu, yaitu memiliki banyak pengetahuan faktual dan prosedural dalam hidup, memahami kontekstualisme rentang kehidupan manusia, memiliki relativisme/toleransi terhadap nilai, serta kesadaran/pengelolaan terhadap ketidakpastian. Ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan. Beberapa di antaranya adalah pengalaman hidup dan pelatihan profesi. Jenis pekerjaan adalah kelompok pekerjaan yang memiliki karakteristik yang sama dalam kerja, keterampilan, dan pendidikan atau pelatihan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dalam penelitian ini, jenis pekerjaan dibatasi pada pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services).

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif komparatif dan bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kebijaksanaan pada lansia yang bekerja di bidang yang melayani manusia (human services) dan bidang yang tidak melayani manusia (nonhuman services). Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 94 orang lansia yang terdiri dari 47 orang pria dan 47 orang wanita, 55 orang lansia yang bekerja di bidang yang melayani manusia dan 39 orang lansia yang bekerja di bidang yang tidak melayani manusia. Rentang usia sampel penelitian adalah usia 60 sampai dengan usia 75 tahun. Pengambilan sampel menggunakan metode convenience sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan skala kebijaksanaan dan dianalisis dengan metode analisis statistik, uji T. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan kebijaksanaan pada lansia ditinjau dari jenis pekerjaan (t = 5,519; p = 0,000). Lansia yang bekerja di bidang yang melayani manusia (M = 59,40; SD = 4,470) lebih bijaksana daripada lansia yang bekerja di bidang yang tidak melayani manusia (M = 54,46; SD = 3,979). Penelitian ini juga menemukan bahwa kelompok wanita (M = 57,66) sedikit lebih bijaksana daripada kelompok pria (M = 57,04).

Kata kunci: kebijaksanaan, jenis pekerjaan, human services, nonhuman services, lansia


(16)

The Difference of Wisdom on Elders In Terms Of the Occupation Type William Angsana and Meidriani Ayu Siregar

ABSTRACT

The increasing number of elder population in the world does not provide any adequate elder services. One of the antecedent factors grounding this fact is that many negative stereotypes about elders are still widely spread among the society nowadays. However, late adulthood is often identical with wisdom. Baltes defined wisdom as “expertise in the fundamental pragmatics of life” and formulated five criteria to identify the wisdom in individuals. They are rich factual knowledge, rich procedural knowledge, lifespan contextualism, values relativism/tolerance, and awareness/management of uncertainty. The development of wisdom itself is influenced by several factors. Some of them are life experience and professional training. Occupation type is group of occupations with similar characteristics in work, skills, and the education or training required to accomplish the work. In this research, the occupation type is limited to human services and nonhuman services.

This research applies comparative quantitative methodology and aims to study whether or not there is difference of wisdom on elders who work in either human services or nonhuman services. The number of sample used in this research is 94 elders, consisting of 47 males and 47 females, 55 elders working in the human services and 39 elders working in the nonhuman services. The age of the sample ranges from 60 to 75 years old. Convenience sampling technique is used to gather the sample. Research data is collected by using the wisdom scale and is analyzed with the statistical analysis method, T-test. The result of this research reveals that there is difference of wisdom on elders in terms of the occupation type (t = 5.519; p = 0.000). Elders who work in the human services (M = 59.40; SD = 4.470) appear to be wiser than elders who work in the nonhuman services (M = 54.46; SD = 3.979). The result also shows that females (M = 57.66) appear to be slightly wiser than males (M = 57.04).


(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kelompok lanjut usia (lansia) merupakan salah satu populasi terbesar yang menempati bumi ini. Dari 7 miliar populasi manusia yang menghuni bumi, 1 miliar di antaranya adalah penghuni lansia. Meningkatnya jumlah populasi di dunia ini tidak terlepas dari meningkatnya harapan hidup manusia yang kini mencapai usia rata-rata 77 tahun (Wahyuningsih, 2011). Melalui perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 ditemukan bahwa jumlah penduduk lansia di tanah air Indonesia sendiri adalah sekitar 23.992.553 jiwa (9,77 %) dari total jumlah penduduknya dan bahkan Indonesia merupakan negara yang

memiliki penduduk lansia terbanyak keempat setelah negara RRC, Amerika

Serikat dan India (Wahyuningsih, 2011).

Begitu besarnya jumlah penduduk lansia di Indonesia, kualitas pelayanan

sosial terhadap lansia yang tersedia di Indonesia seharusnya lebih baik

dibandingkan kualitas pelayanan sosial di beberapa negara lain. Faktanya, ada

sekitar 24 juta lansia di Indonesia yang kurang diperhatikan masyarakat dan

negara sehingga hidupnya terlantar. Kurangnya perhatian masyarakat dan negara

Indonesia terhadap kaum lansia ini dapat terlihat dari masih banyaknya jalan-jalan

atau fasilitas umum yang bertangga-tangga di Indonesia sehingga para lansia

membutuhkan usaha yang lebih banyak untuk menggunakannya di tengah-tengah


(18)

telah memodifikasi jalanan dan berbagai sarana umumnya dengan pola yang lebih

melandai karena menyadari bahwa lansia sudah tidak bisa melompat-lompat

(Wahyuningsih, 2011).

Kurangnya perhatian dari masyarakat dan negara Indonesia terhadap kaum

lansia sedikit banyak dipengaruhi oleh berbagai prasangka negatif yang dianut

secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat terhadap kaum lansia. Kuntjoro

mencantumkan beberapa prasangka negatif masyarakat Indonesia terhadap para

lansia, yaitu lansia dianggap berbeda dengan orang lain, sukar memahami

informasi baru, dan sebagainya (Kuntjoro, 2010). Prasangka-prasangka tersebut

membuat masyarakat memandang kelompok lansia sebagai kelompok masyarakat

yang tidak produktif lagi dan hanya menambah beban masyarakat. Hal ini tentu

saja dapat membuat masyarakat tidak lagi memberikan pelayanan yang

seharusnya diterima lansia sebagai kelompok yang paling senior. Perlakuan

negatif masyarakat juga mempengaruhi lansia untuk menganggap dirinya tidak

berguna lagi dan hanya menjadi beban masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Schmidt dan Boland, yang kemudian direplikasi oleh Hummert terhadap partisipan kaum muda, kaum paruh baya, dan kaum lansia di Amerika untuk menemukan prasangka terhadap kaum lansia ditemukan hasil bahwa ada berbagai prasangka negatif dan positif yang diasosiasikan terhadap kaum lansia. Adapun beberapa prasangka negatif yang ditemukan para ahli ini adalah lansia cenderung lamban berpikir, tidak kompeten, depresi, putus asa, dan sebagainya. Beberapa prasangka positif yang ditemukan adalah berorientasi pada keluarga, suportif, religius,


(19)

cerdas, bijaksana dan sebagainya (Schaie & Willis, 2011). Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa ternyata masyarakat juga dapat memandang lansia dari perspektif yang lebih positif, seperti suportif dan bijaksana.

Kebijaksanaan (wisdom) merupakan topik yang telah dibahas sejak zaman Yunani kuno. Para filsuf besar seperti Aristoteles, Plato, dan sebagainya sampai peneliti dari berbagai disiplin ilmu telah berusaha untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan berdasarkan ranah ilmunya masing-masing, namun sampai saat ini belum ada suatu definisi universal untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan. Paul Baltes mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup. Menurut Baltes, kebijaksanaan merupakan perpaduan dari intelek dan karakter. Penjelasan Baltes tentang intelek adalah pengetahuan tentang aspek kognitif, motivasi dan emosi dalam perilaku dan pemaknaan hidup (Sternberg & Jordan, 2005).

Baltes dan Staudinger merancang lima kriteria yang harus dipenuhi semuanya untuk disebut bijaksana (Sternberg & Jordan, 2005). Kelima kriteria ini bertujuan untuk memenuhi dua komponen dasar kebijaksanaan, yaitu intelek dan karakter (Sternberg & Jordan, 2005). Adapun kelima kriteria kebijaksanaan tersebut, yaitu memiliki memiliki banyak pengetahuan umum (rich factual knowledge), memiliki banyak pengetahuan praktis (rich procedural knowledge),

memahami konteks rentang kehidupan manusia (lifespan contextualism),


(20)

mampu mengelola ketidakpastian (awareness/management of uncertainty)

(Snyder & Lopez, 2002).

Siddharta Gautama, atau lebih dikenal dengan gelar Sang Buddha, termasuk orang yang memiliki banyak pengetahuan umum (rich factual knowledge). Melalui proses meditasi yang lama, Siddharta akhirnya berhasil mencapai kebenaran sejati dan memperoleh pengetahuan yang benar tentang kehidupan manusia, masa lalu, masa kini, dan masa depan dirinya serta dunia (Tyle, 2003).

Kebijaksanaan juga dimanifestasikan dalam hidup orang yang memiliki banyak pengetahuan praktis (rich procedural knowledge). Florence Nightingale, seorang wanita Italia yang mempelopori berdirinya sekolah keperawatan, mengikuti panggilan hidupnya dengan menjadi seorang perawat yang dipandang sebagai pekerjaan paling hina pada masa itu. Pada masa awal kerjanya, keberadaan Florence dan perawat lainnya tidak diterima oleh para dokter militer di medan perang. Namun, aksi diplomasi yang sering dilakukan Florence dan meningkatnya jumlah pasukan yang terluka dan jatuh sakit akhirnya membuat Florence berhasil mengubah sikap dokter militer terhadap keberadaan tim perawat tersebut di medan perang (Tyle, 2003). Tindakan Florence ini merefleksikan pengetahuannya tentang cara mendekati orang lain.

Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang mengabdikan dirinya pada ilmu perkembangan anak, menyadari bahwa proses belajar pada anak sangatlah berbeda dengan proses belajar pada orang dewasa. Anak-anak lebih sering belajar dengan mengeksplorasi lingkungan sekitar daripada memahaminya dalam bentuk


(21)

linguistik. Peran hereditas dan lingkungan memiliki proporsi yang sama dalam proses pembelajaran tersebut. Piaget juga mempercayai bahwa kesan anak tentang dunia sekitar tidaklah diwariskan secara genetik atau dipelajari, tetapi merupakan konstruksi dari pengalaman hidup dan struktur mentalnya (Tyle, 2003). Pemahaman Jean Piaget tersebut mencerminkan pemahamannya tentang konteks kehidupan manusia (lifespan contextualism).

Bunda Teresa adalah seorang biarawati Katolik yang mengabdikan hidupnya untuk melayani penduduk termiskin di kota Kalkuta, India. Pelayanan kasihnya terhadap orang miskin di India menuntut pengorbanan untuk lebih mementingkan kesejahteraan orang lain di atas kepentingan pribadinya, apalagi melayani masyarakat yang berbeda budaya dan agama dengannya. Banyak masyarakat sekitar yang menuduh Bunda Teresa mengubah kepercayaan pasiennya menjelang ajal mereka. Namun, pada akhirnya mereka dapat melihat sendiri bahwa Bunda Teresa mendukung pasiennya untuk berdoa menurut kepercayaannya dan Bunda Teresa berdoa menurut ajaran Katoliknya sehingga mereka berdua dapat mempersembahkan doa yang indah kepada Tuhan. (Greene, 2004). Hal ini membuktikan bahwa Bunda Teresa sangat menghormati kebudayaan dan agama orang yang dilayaninya tanpa memaksakan nilai pribadinya. Tindakan beliau ini telah menunjukkan relativisme atau toleransi nilai (values relativism/tolerance).

Perjuangan Mahatma Gandhi untuk menghapus diskriminasi agama dan rasisme serta memperoleh kemerdekaan bagi negara India dari penjajahan negara Inggris mengandung beberapa tindakan yang bijaksana. Walaupun Gandhi tidak


(22)

mengetahui kapan India akan merdeka atau bagaimana tanggapan pemerintahan Inggris terhadap gerakan sosial yang dilakukannya, Gandhi terus-menerus melakukan berbagai gerakan sosial yang penuh perdamaian bersama rakyat India yang dikumpulkannya untuk melawan ketidakadilan Inggris demi mencapai kemerdekaan India tanpa kekerasan (Wolpert, 2001). Tindakan Gandhi tersebut menunjukkan kesadarannya serta persiapannya menghadapi ketidakpastian (awareness/management of uncertainty).

Pembahasan tentang kebijaksanaan tentunya tidak terlepas dari karakteristik orang yang bijaksana. Beberapa tokoh dunia di atas dapat menjadi contoh untuk menyimpulkan bahwa orang yang dipandang bijaksana biasanya memiliki karakteristik pribadi yang penuh dengan kedamaian dan belas kasih terhadap manusia dan dunia (Sternberg & Jordan, 2005). Dari contoh tersebut kita juga dapat melihat bahwa kebijaksanaan umumnya dimiliki oleh individu yang bekerja di bidang kemanusiaan, seperti aktivis sosial dan guru spiritual. Hal ini mengindikasikan bahwa jenis pekerjaan tertentu berkontribusi terhadap kebijaksanaan seseorang.

Brezina (2010) melakukan sebuah penelitian tentang konsep kepribadian orang yang bijaksana menurut kebudayaan Asia. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ada pengaruh budaya, yaitu etnisitas dan agama, terhadap kebijaksanaan individu. Selain itu, konsep kebijaksanaan dalam budaya Timur lebih berfokus kepada hubungan antarmanusia dan spiritualisme. Sifat altruisme yang diukur dalam penelitian ini juga cenderung identik dengan kriteria lifespan contextualism yang dikemukakan Baltes. Kedua konsep tersebut menggambarkan


(23)

individu yang bijaksana sebagai orang yang berusaha memandang masalah dari banyak perspektif, yaitu pengaruh berbagai aspek kehidupan manusia lainnya.

Jenis kelamin merupakan variabel yang juga dianggap berpengaruh terhadap kebijaksanaan selain faktor budaya. Denney menyatakan bahwa kebijaksanaan pria berbeda dengan kebijaksanaan wanita, yaitu kebijaksanaan pria lebih bersifat intelektual dan kebijaksanaan wanita lebih bersifat sosial (Sternberg & Jordan, 2005). Benedikovicova & Ardelt (2008) melakukan penelitian tentang adaptasi skala kebijaksanaan mereka, 3-D Wisdom Scale, terhadap mahasiswa Slovakia dan membandingkan hasilnya dengan hasil mahasiswa Amerika Serikat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok wanita sedikit lebih bijaksana daripada kelompok pria. Hal ini mungkin dikarenakan budaya Eropa mendidik kaum wanita untuk lebih mementingkan hubungan sosial dibandingkan kaum pria. Masyarakat pada umumnya memiliki pandangan bahwa kebijaksanaan adalah aset yang umumnya dimiliki para lansia. Hal ini dapat dilihat dari munculnya pepatah kuno “Wisdom comes with age” dan berbagai pepatah kuno tentang kebijaksanaan lainnya. Menurut tinjauan literatur, generasi yang telah memasuki masa lansia mengalami banyak kemunduran secara fisik. Salah satu dampak dari kemunduran fisik yang dialami lansia adalah berkurangnya sel-sel otak sehingga akan mempengaruhi proses kognitif individu, seperti ingatan dan kecepatan mencerna informasi yang diterima (Schaie & Willis, 2011). Jikalau benar demikian, masyarakat mungkin telah keliru untuk menjadikan lansia sebagai model kebijaksanaan di tengah-tengah keterbatasan kognitif mereka. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari


(24)

masyarakat Indonesia sendiri sering mendatangi kaum lansia untuk meminta nasihat ketika menghadapi masalah. Hal ini dikarenakan masyarakat menganggap usia sebagai faktor utama yang menentukan kebijaksanaan, artinya semakin tua seseorang, semakin bijaksanalah dirinya di mata masyarakat.

Berikut ini adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh Basri (2006) untuk mengkaji karakteristik dan faktor-faktor kearifan menurut pandangan tiga kelompok usia, yaitu kelompok usia dewasa muda, dewasa madya, dan lansia. Dalam penelitiannya, Basri menggunakan kata kearifan untuk menyatakan

wisdom yang sebenarnya bersinonim dengan kebijaksanaan. Secara kuantitatif, Basri (2006) menemukan ada lima karakteristik kearifan, yaitu kondisi spiritual-moral, kemampuan hubungan antarmanusia, kemampuan menilai dan mengambil keputusan, kondisi personal, serta kemampuan khusus/istimewa. Secara kualitatif, tiga tokoh lansia yang ditemukan menyetujui arti kearifan, yaitu kemampuan untuk menanggapi, memutuskan dan menyelesaikan permasalahan dengan cara yang tidak menyinggung dan dapat diterima pihak manapun yang terlibat. Dalam kehidupan ketiga tokoh tersebut terlihatlah manifestasi dari kelima faktor kearifan yang ditemukan sebelumnya. Basri juga menyimpulkan bahwa tokoh-tokoh yang dipandang bijaksana biasanya adalah orang yang bersifat ideal, yang karismatik dan diharapkan dapat menjadi panutan bagi masyarakat (Basri, 2006).

Pengaruh usia dengan tingkat kebijaksanaan individu mungkin didasari asumsi bahwa semakin lama individu hidup, semakin banyak pengalaman hidup yang dimilikinya sehingga dia akan lebih bijaksana dibandingkan individu yang lebih muda. Banyak juga ahli yang telah meneliti kaitan antara usia dan


(25)

kebijaksanaan, namun kebanyakan hasil penelitian mereka menyatakan bahwa usia tidak terlalu berpengaruh terhadap kebijaksanaan secara signifikan. Penelitian yang dilakukan Baltes dan Staudinger menyatakan bahwa masih ada banyak faktor lain selain usia yang benar-benar lebih mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan individu, seperti pengalaman hidup yang mampu mengasah ketajaman wawasan, pendidikan dan jenis pekerjaan yang dipilih, dan sebagainya (Dacey & Travers, 2002).

Penelitian lain yang dilakukan Ardelt dan Jacobs menyatakan bahwa pertumbuhan kebijaksanaan tidak bersifat normatif pada usia dewasa, artinya setiap individu memiliki pertumbuhan kebijaksanaan yang berbeda-beda. Pertumbuhan ini sebenarnya tidak hanya dipengaruhi oleh usia sebagaimana yang banyak dipercayai masyarakat dan para ahli, namun juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti kondisi sosial, hubungan keluarga, kesempatan memperoleh pendidikan, jalur karir, pengalaman hidup, motivasi individu, dan gaya pendekatan terhadap dunia juga turut berkontribusi terhadap pertumbuhan kebijaksanaan (Schaie & Willis, 2011). Kedua penelitian di atas menunjukkan bahwa ada banyak faktor lain yang lebih mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan selain usia, salah satunya adalah pengalaman hidup dan jalur karir.

Baltes dan Staudinger pernah meneliti kebijaksanaan dipandang dari perbedaan usia serta spesialisasi profesi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa profesi yang melayani manusia (human services) memperoleh nilai yang lebih baik dalam kriteria kebijaksanaan dibandingkan profesi yang tidak melayani manusia (nonhuman services). Di samping itu, kelompok profesional lansia juga


(26)

mendapatkan lebih banyak manfaat dari pelatihan profesi dibandingkan kelompok profesional yang lebih muda (Sternberg & Jordan, 2005). Hal ini dikarenakan pelayanan terhadap manusia mengharuskan pekerja bersikap lebih empatik terhadap permasalahan pelanggannya yang kadang kompleks dan bervariasi, tidak monoton seperti individu yang bekerja dengan mesin atau berbagai benda yang tidak tergolong manusia.

Beberapa contoh pekerjaan yang melayani manusia (human services) adalah dokter, psikolog, hakim, guru, pekerja sosial dan sebagainya. Pekerjaan tersebut pada umumnya berkaitan dengan kesejahteraan fisik dan mental individu yang mereka layani. Kesalahan sekecil apapun yang mereka lakukan dapat sangat berdampak terhadap kesejahteraan fisik dan mental pelanggan yang mereka layani, sehingga pekerja perlu mempertimbangkan banyak hal dalam mengambil suatu keputusan.

Pengalaman sehari-hari dari pekerjaan tersebut dapat melatih kemampuan pekerja untuk mengambil keputusan yang lebih bijaksana dalam berbagai aspek kehidupannya. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa kebijaksanaan merupakan konstruk yang berkembang secara sosial sehingga perkembangan kebijaksanaan dalam kehidupan individu berlangsung lebih lancar ketika sering berdiskusi dengan orang lain (Sternberg & Jordan, 2005). Dengan sering berdiskusi dengan orang lain, kita dapat memperluas perspektif kita dalam memandang suatu masalah sehingga kita memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dan mampu membuat suatu keputusan dengan lebih bijaksana.


(27)

Pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services), misalnya kuli bangunan, mekanik, insinyur, petugas ekspor dan impor, petugas kehutanan, dan sebagainya. Jenis pekerjaan ini pada umumnya memiliki tugas yang kurang bervariasi dan kurang mendesak pekerja untuk mengambil keputusan penting atau sering bertukar pikiran dengan manusia lain. Kurangnya kegiatan berdiskusi dengan individu lain membuat wawasan pekerja tidak banyak berkembang dan mereka cenderung jarang diharuskan untuk mengambil keputusan penting dalam situasi yang kompleks sehingga pekerjaannya kurang melatih kebijaksanaan. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa individu tidak dapat menjadi bijaksana apabila individu jarang terlibat secara sosial (Sternberg & Jordan, 2005).

Perbedaan pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services) terletak pada keharusan pekerja untuk berinteraksi secara sosial dengan orang lain. Pada umumnya, pekerjaan yang tergolong human services mengharuskan pekerjanya untuk berinteraksi sosial dengan masyarakat untuk menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan interaksi sosial bukanlah suatau keharusan dalam pekerjaan nonhuman services untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Berbagai uraian dan beberapa sajian hasil penelitian di atas telah menjelaskan bahwa jenis pekerjaan merupakan satu di antara sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan kebijaksanaan dalam kehidupan individu. Dengan demikian, peneliti hendak melihat perbedaan kebijaksanaan (wisdom) pada lansia ditinjau dari jenis pekerjaannya, yaitu lansia yang pernah bekerja di bidang pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan lansia


(28)

yang pernah bekerja di bidang pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services).

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan, permasalahan yang hendak dijawab adalah:

1. Apakah terdapat perbedaan kebijaksanaan (wisdom) pada lansia ketika ditinjau dari jenis pekerjaannya, yaitu pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services)? 2. Lansia dari kelompok jenis pekerjaan manakah yang lebih bijaksana?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dilakukannya penelitian tersebut adalah untuk melihat perbedaan kebijaksanaan (wisdom) pada lansia ditinjau dari jenis pekerjaannya, yaitu lansia yang pernah bekerja di bidang pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan lansia yang pernah bekerja di bidang pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services).


(29)

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori dalam dunia ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan Psikologi Perkembangan tentang kebijaksanaan pada lansia. 2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat praktis kepada: a. Lansia

Lansia lebih menghargai dirinya sendiri sebagai pribadi yang berpengalaman dan bijaksana.

b. Masyarakat dan Pemerintah

Masyarakat mengetahui bahwa banyak faktor yang berkontribusi terhadap kebijaksanaan selain dari faktor usia. Masyarakat juga mampu mengembangkan kesan yang lebih positif tentang lansia. Pemerintah dapat memperoleh ide program untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik bagi lansia.


(30)

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah: BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah penelitian, perumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: LANDASAN TEORI

Bab ini berisi uraian teori yang melandasi variabel penelitian. Teori yang diuraikan adalah teori kebijaksanaan, jenis pekerjaan, dan lansia. Dalam bab ini juga disajikan kerangka berpikir penelitian dan hipotesa penelitian.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan metode yang digunakan dalam penelitian, yang terdiri dari identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, populasi dan metode pengambilan sampel, alat pengumpulan data, validitas dan reliabilitas penelitian, prosedur pelaksanaan penelitian, dan metode analisis data.

BAB IV: ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan analisis data berupa gambaran umum subjek dan hasil penelitian, serta pembahasan.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menjelaskan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan.


(31)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KEBIJAKSANAAN (WISDOM) 1. Definisi Kebijaksanaan

Paul Baltes mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup. Menurut Baltes, kebijaksanaan merupakan perpaduan dari intelek dan karakter. Penjelasan Baltes tentang intelek adalah pengetahuan tentang aspek kognitif, motivasi dan emosi dalam perilaku dan pemaknaan hidup (Sternberg & Jordan, 2005).

Robert Sternberg mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keseimbangan antara pemahaman individu tentang dirinya sendiri (intrapribadi), orang lain (antarpribadi) dan berbagai aspek kehidupannya (ekstrapribadi) yang dinamakannya sebagai teori kebijaksanaan yang seimbang atau balance theory of wisdom (Sternberg & Jordan, 2005). Menurut Sternberg, elemen inti dari kebijaksanaan adalah kecerdasan praktis (tacit knowledge) yang berorientasi pada perilaku dan membantu individu mencapai tujuan pribadi. Kecerdasan praktis ini hanya dapat diperoleh melalui pengalaman nyata yang dialami langsung oleh individu, bukan berasal dari ilmu yang dibaca dari buku-buku atau pengalaman orang lain yang didengarnya (Sternberg & Jordan, 2005).

Berdasarkan uraian di atas, definisi kebijaksanaan dapat disimpulkan sebagai keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan


(32)

perilaku dan makna hidup serta keseimbangan antara pemahaman individu tentang dirinya sendiri (intrapribadi), orang lain (antarpribadi) dan berbagai aspek kehidupannya (ekstrapribadi).

2. Model Kebijaksanaan

Baltes, dkk. mengembangkan sebuah model untuk menjelaskan kebijaksanaan, yang dinamakan sebagai Berlin Wisdom Model. Model ini menjelaskan faktor-faktor yang menjadi pemicu (antecedent), hubungan dan konsekuensi, proses, hasil dan berbagai kriteria dari variabel kebijaksanaan (Sternberg & Jordan, 2005). Baltes meninjau kebijaksanaan dari perspektif psikologi perkembangan. Berikut ini adalah model kebijaksanaan yang dikembangkan oleh Baltes, dkk., yaitu:


(33)

Gambar 1. Berlin Wisdom Model yang dikembangkan oleh Baltes dan rekannya (Sternberg & Jordan, 2005).

3. Kriteria Kebijaksanaan

Menurut Baltes dan Staudinger, ada beberapa kriteria dari kebijaksanaan. Kriteria tersebut dapat dibagi menjadi dua kriteria dasar dan tiga metakriteria (Snyder & Lopez, 2002). Dua kriteria dasar, yaitu kriteria yang wajib dimiliki individu untuk menjadi seorang ahli di bidang apapun, meliputi:

a. Memiliki banyak pengetahuan umum (rich factual knowledge), yang meliputi pengetahuan tentang sifat dasar manusia, perkembangan sepanjang kehidupan,


(34)

hubungan antarpribadi, norma-norma yang berlaku di suatu tempat atau budaya, serta perbedaan individu dalam tahapan perkembangan.

b. Memiliki banyak pengetahuan praktis (rich procedural knowledge), yang meliputi kemampuan untuk menerapkan pengetahuan faktual ke dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup, seperti cara menangani konflik kehidupan.

Tiga kriteria berikutnya disebut metakriteria karena merupakan kriteria khusus yang harus dimiliki untuk menjadi bijaksana. Adapun ketiga metakriteria tersebut adalah:

c. Memahami konteks rentang kehidupan manusia (lifespan contextualism), yang meliputi pengetahuan tentang tahapan perkembangan manusia dan berbagai tema-teman kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, persahabatan, keluarga, dan sebagainya, serta kaitan antartema tersebut. Pemahaman tersebut juga menyadari banyaknya perubahan yang terjadi dalam diri individu mulai dari masa bayi sampai usia lanjut.

d. Relativisme atau toleransi nilai (value relativism/tolerance). Kebijaksanaan membuat manusia menyadari bahwa setiap orang atau budaya menganut nilai-nilai yang berbeda dari yang dianut dirinya dan mampu menghormati perbedaan tersebut. Namun, perlu diingat juga bahwa kebijaksanaan juga berusaha menyeimbangkan kepentingan diri sendiri dan orang lain sehingga tidak semua hal dapat ditoleransi.

e. Menyadari serta mampu mengelola ketidakpastian (awareness/management of uncertainty). Kebijaksanaan membuat manusia menyadari bahwa ada banyak


(35)

keterbatasan dalam proses pencernaan informasi yang dimilikinya serta banyaknya ketidakpastian di dalam kehidupan ini. Kebijaksanaan juga meliputi cara untuk menghadapi ketidakpastian tersebut.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijaksanaan

Berikut ini berbagai faktor dari beberapa tokoh dan sumber yang dianggap dapat mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan dalam kehidupan individu, yaitu:

a. Usia

Usia dipandang sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kebijaksanaan dengan asumsi bahwa seorang individu akan memiliki lebih banyak pengalaman hidup sehingga lebih memungkinkan untuk menjadi lebih bijaksana dibandingkan generasi yang lebih muda. Usia juga dinominasikan sebagai salah satu faktor penentu kebijaksanaan karena kebijaksanaan dianggap hanya akan muncul setelah kebangkitan spiritual di masa lansia (Sternberg & Jordan, 2005).

Dalam ilmu pengetahuan perilaku manusia, ada tiga model yang mendeskripsikan hubungan antara usia dan kebijaksanaan yang telah dimulai sejak masa remaja (Sternberg & Jordan, 2005). Adapun ketiga model tersebut, yaitu:

i. Positive Model, yang menyatakan bahwa usia berkorelasi positif dengan kebijaksanaan. Hal ini berarti individu akan menjadi semakin bijaksana


(36)

seiring bertambahnya usia kronologis. Model ini tidak didukung oleh bukti empiris.

ii. Decline Model, yang merupakan kebalikan dari Positive Model karena menyatakan individu menjadi kurang bijaksana seiring bertambahnya usia kronologis. Namun, Meacham berpendapat bahwa model ini mengakui ada beberapa lansia yang bijaksana karena mereka mampu mempertahankan kebijaksanaan mereka sampai lanjut usia. Model ini juga tidak didukung oleh bukti empiris.

iii. Crystallized Model, yang didasari oleh teori Baltes memandang kebijaksanaan yang telah diperoleh di usia dewasa muda akan tetap bertahan sampai lanjut usia. Hal inilah yang menyebabkan lansia memiliki kesempatan yang sama dengan orang dewasa muda untuk menjadi bijaksana. Model ini menyatakan bahwa pertambahan usia tidak menambah ataupun mencuri kebijaksanaan. Model inilah yang memiliki paling banyak bukti empiris.

Salah satu teori yang mendukung Crystallized Model adalah kebijaksanaan dipandang seperti kecerdasan yang mengkristal (crystallized intelligence) yang akan terus bertahan sampai akhir kehidupan atau sampai penyakit menghambatnya (Schaie & Willis, 2011). Teori crystallized intelligence ini didukung oleh asumsi Baltes yang menyatakan bahwa setelah individu melewati usia 75 tahun, kebijaksanaannya mulai menurun seiring dengan menurunnya fungsi kognitif individu (Snyder & Lopez, 2002). Salah satu hasil penelitian Baltes juga menunjukkan bahwa keahlian individu di suatu bidang lebih banyak


(37)

berkontribusi terhadap kebijaksanaan dalam kehidupan individu dibandingkan faktor usia secara tunggal (Sigelman & Rider, 2003).

b. Jenis kelamin

Jenis kelamin ternyata dipercaya mempengaruhi kebijaksanaan seseorang. Denney menyatakan bahwa pria dipandang lebih memiliki kebijaksanaan intelektual, sedangkan wanita dipandang lebih bijaksana dalam hubungan sosial (Sternberg & Jordan, 2005).

c. Pengalaman hidup

Pengalaman hidup yang mengasah ketajaman perspektif individu, seperti misalnya mendapat pendidikan dan keterampilan serta bekerja dalam bidang tertentu dapat mengasah kebijaksanaan individu (Dacey & Travers, 2002).

d. Budaya

Kebudayaan ternyata juga mempengaruhi kebijaksanaan individu. Kebudayaan Barat lebih memandang kebijaksanaan secara intelektual, yang banyak menitikberatkan pada perpaduan kemampuan kognitif, wawasan, sikap reflektif, penuh belas kasihan terhadap orang lain, dan ketenangan. Kebudayaan Timur lebih menitikberatkan pada kebijaksanaan secara spiritual (Schaie & Willis, 2011).

e. Kondisi eksternal

Kondisi eksternal individu juga mempengaruhi kebijaksanaan dalam kehidupan individu, misalnya individu yang tinggal dalam lingkungan sosial


(38)

yang suportif selama masa dewasa awal berkaitan secara positif dengan kebijaksanaan pada 40 tahun mendatang (Sternberg & Jordan, 2005).

f. Kepribadian

Kramer menyatakan bahwa kepribadian individu ternyata mempengaruhi kebijaksanaannya. Individu yang memiliki kualitas kognitif, reflektif dan emosional yang berkontribusi terhadap kebijaksanaan cenderung terpelajar, lebih sehat secara fisik, memiliki lebih banyak hubungan positif dengan orang lain, dan memiliki nilai yang lebih tinggi dalam berbagai tes kepribadian untuk dimensi keterbukaan terhadap pengalaman baru (openness) (Sigelman dan Rider, 2003). Baltes menambahkan dimensi generativity dan

creativity sebagai faktor kepribadian yang dianggap mampu memprediksi kebijaksanaan dengan lebih baik dibandingkan faktor kecerdasan (intelligence) (Santrock, 2011).

5. Sifat Kebijaksanaan

Berdasarkan hasil penelitiannya, Baltes menyatakan ada beberapa sifat kebijaksanaan (Sigelman & Rider, 2003), yaitu:

a. Kebijaksanaan bersifat langka. Jumlah orang yang bijaksana dalam masyarakat sangatlah langka karena banyaknya kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang yang bijaksana.

b. Keahlian di bidang tertentu terbukti lebih relevan dengan perkembangan kebijaksanaan dibandingkan faktor usia semata.


(39)

c. Usia tidak memprediksi kebijaksanaan, namun pengetahuan dasar yang berkontribusi terhadap kebijaksanaan seperti berbagai crystallized intelligence lainnya tergolong tinggi di usia lanjut. Individu akan lebih mampu menjadi bijaksana dengan memiliki pengalaman hidup mengasah wawasan (insight) tentang kondisi kehidupan manusia.

d. Kebijaksanaan mencerminkan kombinasi dari kecerdasan, kepribadian, dan gaya kognitif. Individu yang sering membandingkan dan mengevaluasi permasalahan relevan dan yang mampu menerima ambiguitas akan lebih mampu menampilkan kebijaksanaan dibandingkan yang kurang.

6. Perkembangan Kebijaksanaan

Dalam mencetuskan konsep teoritis tentang kebijaksanaan dan menghubungkannya dengan psikologi rentang kehidupan (lifespan psychology), Baltes mengajukan beberapa kondisi yang kondusif untuk mematangkan perkembangan kebijaksanaan (Sternberg & Jordan, 2005). Adapun beberapa kondisi yang diajukan Baltes, yaitu:

a. Seperti layaknya perkembangan untuk berbagai keahlian lainnya, Baltes berasumsi bahwa kebijaksanaan diperoleh melalui proses pembelajaran dan pelatihan yang intensif dan meluas. Proses ini tentunya membutuhkan motivasi yang tinggi untuk mencapai keunggulan (excellence) dan lingkungan sekitar yang mendukung perkembangan kebijaksanaan.


(40)

b. Karena kebijaksanaan merupakan perpaduan antara intelek dan karakter yang membuatnya berbeda dengan berbagai karakteristik positif yang lebih terbatas, perkembangan dan pengasahan kebijaksanaan membutuhkan berbagai proses dan faktor. Berbagai proses dan faktor yang dimaksud, meliputi: kemampuan intelektual tertentu, ketersediaannya seorang mentor yang mendampingi individu, penguasaan terhadap berbagai pengalaman hidup yang kritis, keterbukaan individu terhadap pengalaman baru, dan kepemilikan atas nilai-nilai yang mengarah kepada pengembangan diri, kebaikan dan toleransi.

c. Baltes menyatakan bahwa ada banyak jalan yang mengarahkan individu kepada kebijaksanaan. Tingkat kebijaksanaan yang sama dapat diperoleh dengan kombinasi proses dan faktor-faktor fasilitatif yang berbeda. Jika beberapa faktor fasilitatif tertentu tersedia dalam hidup individu, beberapa individu dapat melanjutkan perkembangan kebijaksanaannya sampai kepada tahap yang lebih tinggi. Beberapa faktor fasilitatif yang berpotensi mengembangkan kebijaksanaan adalah latara belakang keluarga tertentu, munculnya kejadian yang kritis dalam kehidupan dan individu mampu menguasainya, pelatihan profesional, perubahan dalam masyarakat, dan sebagainya.

Faktor-faktor fasilitatif yang dimaksud adalah faktor kontekstual, faktor keahlian dan faktor personal (lihat gambar 1). Ketiga faktor tersebut dianggap berpengaruh terhadap perkembangan kebijaksanaan karena ketiga faktor tersebut menentukan cara individu mengalami dunia dan perencanaannya, mengatur dan memandang kehidupannya yang tercakup dalam konteks pengaturan


(41)

perkembangan (lihat gambar 1). Faktor fasilitatif, konteks pengaturan perkembangan, dan kebijaksanaan berhubungan secara dua arah dan bersifat akumulatif sepanjang rentang kehidupan manusia (Sternberg & Jordan, 2005).

7. Karakteristik Orang yang Bijaksana

Baltes dan Kunzmann merumuskan karakteristik orang yang bijaksana berdasarkan hasil penelitian mereka (Sternberg & Jordan, 2005), yaitu:

a. Memandang fenomena dari perspektif yang lebih luas.

b. Menampilkan sikap detached (membatasi diri) dan kurang emosional. Hal ini bukan berarti orang yang bijaksana memiliki alam emosi yang datar dan dangkal. Sebaliknya, orang yang bijaksana justru dapat lebih menunjukkan kepeduliannya terhadap permasalahan yang dihadapi orang lain karena pengetahuannya yang mendasar tentang permasalahan hidup yang kompleks serta dinamika keberhasilan dan kegagalan yang mewarnai sepanjang perkembangan kehidupan manusia. Di samping itu, mereka juga cerdas dalam membatasi pengaruh negatif masalah yang dapat melumpuhkan keberdayaan mereka. Baltes menyebut kemampuan ini sebagai “constructive melancholy”. c. Lebih mementingkan pengembangan diri, wawasan, dan kesejahteraan orang

lain daripada kehidupan yang penuh dengan kesenangan dan kenyamanan. d. Lebih menggunakan pendekatan kooperatif dalam menyelesaikan konflik

antarpribadi daripada menggunakan pendekatan dominan, submisif, atau menghindar.


(42)

e. Lebih menampilkan struktur afektif yang lebih berorientasi kepada proses dan lingkungan, seperti inspirasi dan minat, daripada orientasi yang bersifat evaluatif dan mementingkan diri sendiri.

B. JENIS PEKERJAAN

Pekerjaan (occupation) adalah sekelompok jabatan (job) yang serupa dan dapat ditemukan dalam beberapa organisasi berbeda dalam waktu yang berbeda (Cascio & Aguinis, 2011). Contoh dari pekerjaan adalah masinis, dokter, guru, manajer, direktur, petani, distributor, dan sebagainya. Jenis pekerjaan adalah kelompok pekerjaan yang memiliki karakteristik yang sama dalam kerja (work), keterampilan yang digunakan, dan pendidikan atau pelatihan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut (Brown & Lent, 2005).

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, sistem klasifikasi pekerjaan juga ikut berkembang. Saat ini, ada beberapa sistem klasifikasi pekerjaan yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan dan pekerjaan, yaitu The Standard of Occupational Classfication System (SOC System), Holland’s Hexagon, World of Work Map (WWM), dan The Minnesota Occupational Classification System (Brown & Lent, 2005). Setelah mempertimbangkan beberapa sistem pekerjaan tersebut, peneliti memilih World of Work Map (WWM) sebagai sistem untuk menjelaskan jenis pekerjaan dalam penelitian tersebut.


(43)

1. World of Work Map (WWM)

World of Work Map (WWM) memetakan 26 karir (kelompok pekerjaan yang serupa) ke dalam 12 region, yang menghasilkan sistem klasifikasi pekerjaan secara bipolar (Data/Ide) dan bisektor (Benda/Orang) (Brown & Lent, 2005). Diagram World of Work Map (WWM) disajikan pada gambar 2.

Pekerjaan dengan sifat dasar Data akan nyaman bekerja dengan fakta-fakta, angka, berkas-berkas, akun-akun, dan berbagai prosedur bisnis. Pekerjaan dengan sifat dasar Data contohnya akuntan, analis finansial, administrator data kesehatan, dan sebagainya. Pekerjaan dengan sifat dasar Ide akan nyaman bekerja dengan wawasan, teori, cara baru untuk menyampaikan atau melakukan sesuatu. Contoh pekerjaan dengan sifat dasar Ide yaitu penulis, seniman, ekonom, dan psikolog yang menggunakan konsep teori yang abstrak atau yang menekankan ekspresi, kreativitas dan orisinalitas (Brown & Lent, 2005).

Pekerjaan dengan sifat dasar Orang akan nyaman bekerja dengan menolong, menginformasikan, melayani, menjaga, dan menjual barang/jasa kepada manusia, seperti petugas kesehatan dan pekerja sosial. Pekerjaan dengan sifat dasar Benda akan merasa nyaman bekerja dengan mesin, peralatan, benda hidup, dan berbagai materi seperti makanan, barang tambang, dan sebagainya. Contoh pekerjaan dengan sifat dasar benda contohnya kuli bangunan, tukang listrik, dan sebagainya (Brown & Lent, 2005).


(44)

Gambar 2. Siste membagi pekerj

2. Human Services dan

Pekerjaan yan melayani manusia. Be (WWM), pekerjaan

istem Klasifikasi Pekerjaan World of Work Map

kerjaan menjadi bipolar (Data/Ide) dan bisektor (

dan Nonhuman Services

ang tergolong human services adalah berbagai . Berdasarkan sistem klasifikasi pekerjaan Worl

n yang tergolong human services adalah pe

ap (WWM) yang or (Orang/Benda).

ai pekerjaan yang

orld of Work Map


(45)

memiliki sifat dasar Orang dan perpaduannya dengan Data/Ide. Karena pekerjaan ini melayani manusia, para pekerja dalam bidang ini membutuhkan keterampilan khusus dalam menjalankan tugasnya, misalnya keterampilan komunikasi yang efektif, mendengar secara aktif, dan sebagainya. Di beberapa negara, para pekerja

human services wajib memiliki sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah memiliki keterampilan tertentu dalam menjalankan tugasnya (“Human services”, 2012). Adapun beberapa contoh dari pekerjaan yang tergolong human services

adalah petugas kesehatan, guru, pekerja sosial, petugas keamanan, dan sebagainya.

Pekerjaan yang dikategorikan sebagai pekerjaan nonhuman services

adalah berbagai pekerjaan yang tidak melayani manusia. Dalam sistem klasifikasi pekerjaan World of Work Map (WWM), pekerjaan yang tergolong nonhuman services adalah pekerjaan yang memiliki sifat dasar Benda dan perpaduannya dengan Data/Ide. Contoh dari pekerjaan yang tergolong nonhuman services adalah teknisi, petugas kehutanan, kuli bangunan, petugas pembukuan, dan sebagainya.

C. Lansia 1. Masa Lansia

Masa lansia merupakan merupakan tahap terakhir dari masa dewasa, sehingga masa lansia sering juga disebut sebagai masa dewasa akhir sebelum memasuki tahap terakhir dari perkembangan manusia yaitu kematian. Masa lansia, yang biasanya dimulai pada usia 65 tahun, ditandai dengan banyaknya perubahan dalam hidup individu lansia secara fisik, kognitif, dan psikososial


(46)

(Feldman, 2012). Dari ketiga perubahan tersebut, perubahan yang paling dirasakan dan dapat dilihat oleh individu lain adalah perubahan fisik, yang disebut juga sebagai proses penuaan (aging).

Proses penuaan (aging) ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu penuaan primer (senescence) dan penuaan sekunder. Penuaan primer, atau yang lebih dikenal dengan istilah senescence, adalah proses penuaan fisik individu lansia yang terjadi pada semua manusia yang tidak dapat dicegah karena bersifat genetik dan tidak dapat dicegah. Sebaliknya, penuaan sekunder merupakan perubahan pada fisik lansia yang disebabkan oleh penyakit, kebiasaan hidup sehat, dan berbagai faktor lainnya yang sebenarnya dapat dicegah oleh individu bersangkutan. Sebagai contoh, hanya beberapa individu lansia yang mengalami penyakit kencing manis (diabetes mellitus) karena sering mengkonsumsi makanan yang manis dan jarang berolahraga.

Secara fisik, individu yang telah berusia 65 tahun ke atas tentunya mengalami perubahan bertahap dari kondisi tubuhnya yang sehat menuju kondisi yang memprihatinkan seperti rasa sakit dan penyakit. Namun, ada beberapa individu lansia masih dapat bertahan dalam kondisi sehat dan tetap menikmati banyak kegiatan yang dilakukannya ketika masih muda dulu. Secara kognitif, individu lansia mengalami kemunduran dalam proses penalarannya, namun dapat mencari strategi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Secara psikososial, individu lansia menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahan yang terjadi di lingkungannya, seperti kematian orang yang dikasihinya dan waktunya untuk pensiun dari pekerjaannya (Feldman, 2012).


(47)

2. Usia Lansia

Feldman (2012) menyatakan bahwa masa lansia dimulai dari usia 65 tahun ke atas. Santrock (2011) menyebut masa lansia dimulai dari 60 tahun ke atas sampai sekitar 120 tahun atau 125 tahun yang merupakan perkiraan masa hidup terlama manusia zaman sekarang. Lansia merupakan individu yang telah memasuki usia 65 tahun atau lebih (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Menurut PBB atau United Nations (UN), lansia adalah individu yang berusia 60 tahun ke atas (Blackburn & Dulmus, 2007).

Secara spesifik, Charness dan Bosman membagi usia lansia menjadi beberapa tahap (Santrock, 2011), yaitu:

a. Tahap young-old (usia 65 sampai 74 tahun) b. Tahap old-old (usia 75 tahun ke atas)

Seorang ahli lain bernama Dunkle membagi usia lansia menjadi beberapa tahapan (Santrock, 2011). Tahapan tersebut meliputi:

a. Tahap young old adult (usia 65 sampai 74 tahun) b. Tahap old-old adult (usia 75 sampai 84 tahun) c. Tahap oldest-oldadult (usia 85 tahun ke atas)

Dari beberapa definisi ahli di atas, seorang individu telah memasuki kategori lansia apabila berusia 60 atau 65 tahun ke atas, terlepas dari bagaimana para ahli membagi usia lansia sendiri menjadi beberapa tahap.


(48)

3. Perkembangan Psikososial Lansia

Aspek psikososial pada masa lansia menentukan proses penuaan yang sukses dalam kehidupan lansia yang bersangkutan. Berikut ini adalah paparan beberapa teori tentang proses penuaan yang sukses pada masa lansia, yaitu:

a. Disengagement theory

Cummings dan Henry menyatakan bahwa individu lansia secara perlahan-lahan mulai menarik diri dari dunia secara fisik, psikologis, dan sosial (Feldman, 2012). Secara fisik, lansia mengalami penurunan stamina tubuh sehingga aktivitas fisiknya mengalami perlambatan secara bertahap. Secara psikologis, lansia mulai menarik diri dari dunia luar dan lebih berfokus pada dunia psikologisnya sendiri. Secara sosial, Quinnan berpendapat bahwa lansia menarik diri dari pergaulan sosial dan jarang bertemu dengan orang lain lagi (Feldman, 2012).

Teori ini tidak banyak didukung dengan hasil penelitian. Di samping itu, teori ini menerima penolakan dari masyarakat karena teori ini memberikan gambaran masyarakat yang tidak mampu menyediakan pelayanan bagi lansia. Teori ini juga menyalahkan lansia karena menarik diri dari masyarakat. Menurut Crosnoe & Elder, para ahli gerontologi pada zaman sekarang juga menolak

disengagement theory ini karena tidak semua lansia menarik diri dari masyarakat (Feldman, 2012).

b. Activity theory

Teori ini merupakan kebalikan dari disengagement theory. Teori ini menyatakan bahwa proses penuaan yang sukses terjadi apabila individu lansia tetap berhubungan dengan teman-temannya dan aktif dalam pergaulan sosial.


(49)

Hutchinson & Wexler menyatakan bahwa kebahagiaan individu berasal dari keterlibatannya dalam pergaulan masyarakat (Feldman, 2012).

Teori ini juga tidak terlalu banyak mendapat dukungan karena tidak semua aktivitas dapat memberikan kepuasan yang sama bagi lansia. Adams menyatakan bahwa yang memberikan kepuasan dalam kehidupan individu adalah sifat dasar aktivitas tersebut, bukan frekuensi mengikuti aktivitas (Feldman, 2012).

c. Continuity theory

Pushkar berpendapat bahwa individu yang mengetahui kapan waktunya untuk menarik diri dan kapan bergaul dengan masyarakatlah yang dapat menjalani proses penuaan dengan sukses (Feldman, 2012). Menurut Holahan dan Chapman, individu yang senang bergaul dengan masyarakat akan memperoleh lebih banyak kesenangan ketika bergaul dengan teman-temannya, sebaliknya individu yang senang menikmati waktunya sendirian akan menemukan lebih banyak kepuasan dengan aktivitas membaca atau berjalan-jalan sendiri di taman (Feldman, 2012).

d. Selective optimization

Paul Baltes dan Margaret Baltes mengemukakan model selective optimization

sebagai kunci bagi lansia untuk menjalani proses penuaan yang sukses. Selective optimization adalah sebuah proses yang dilakukan individu dengan berfokus pada kemampuannya yang lain sebagai kompensasi atas kekurangannya pada keterampilan lain (Feldman, 2012). Proses ini dilakukan untuk memperkuat sumber daya kognitif, motivasi dan fisik secara umum.

Proses ini juga dilakukan untuk mengatasi kekurangan yang ditimbulkan oleh proses penuaan. Sebagai contoh, pianis profesional Arthur Rubinstein tetap


(50)

menggalang konser pianonya dengan mengurangi jumlah lagu yang dimainkannya sebagai bentuk selektif dan berfokus pada beberapa lagu yang dimainkannya sebagai bentuk optimisasi (Feldman, 2012).

Aspek psikososial dalam kehidupan individu lansia tidak hanya berupa proses penuaan yang sukses, tetapi juga hubungan sosialnya dengan orang lain. Pertemanan merupakan salah satu hubungan yang sangat penting dan berarti dalam kehidupan lansia. Dalam pertemanan, individu memilih siapa yang mereka sukai dan tidak disukai. Teman juga dapat menjadi pengganti ikatan yang hilang karena ditinggal mati pasangan. Namun, teman sendiri juga dapat meninggal dunia. Persepsi lansia terhadap pertemanan juga menentukan bagaimana lansia berekasi terhadap kematian temannya. Hartshorne menyatakan bahwa lansia yang memandang pertemanan sebagai hubungan yang tidak tergantikan akan mengalami kesulitan yang lebih besar dalam menghadapi kematian temannya dibandingkan dengan lansia yang memandang temannya sebagai satu di antara sejumlah teman lainnya (Feldman, 2012).

Hubungan pertemanan juga dapat menjadi dukungan sosial (social support) bagi lansia. Dukungan sosial adalah pemberian bantuan dan rasa nyaman oleh suatu jaringan yang terdiri dari orang-orang yang tertarik dan mengasihi (Feldman, 2012). Memiliki dukungan sosial dapat memberikan manfaat bagi lansia, yaitu sebagai tempat menceritakan permasalahan hidup lansia terutama bila orang yang memberikan dukungan sosial juga memiliki pengalaman yang serupa dengan individu yang sedang didukungnya, memberikan bantuan material seperti mengurus rumah tangga, dan memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan


(51)

hidup sehari-hari (Feldman, 2012). Memberikan dukungan sosial kepada orang lain ternyata juga dapat meningkatkan rasa percaya diri (self-esteem) dan merasa berguna pada lansia karena telah berkontribusi dalam kehidupan orang lain (Feldman, 2012).

D. PERBEDAAN KEBIJAKSANAAN (WISDOM) PADA LANSIA DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN

Populasi lansia di Indonesia berjumlah sekitar 24 juta jiwa dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia (Wahyuningsih, 2011). Dengan begitu besarnya jumlah lansia di Indonesia, seharusnya kualitas pelayanan masyarakat terhadap lansia tergolong baik. Faktanya, masih banyak fasilitas umum yang tidak mendukung lansia (Wahyuningsih, 2011). Hal ini mungkin dikarenakan adanya prasangka (stereotype) masyarakat terhadap lansia.

Kuntjoro (2010) mencantumkan beberapa prasangka negatif yang dimiliki masyarakat Indonesia terhadap lansia. Penelitian Hummert menemukan bahwa masyarakat Amerika memiliki prasangka positif dan negatif terhadap lansia (Willis & Schaie, 2011). Hasil penemuan tersebut tentunya tidak jauh berbeda dengan kondisi negara kita karena terdapat beberapa persamaan dengan penelitian yang dilakukan Kuntjoro (2010). Salah satu prasangka positif yang dimiliki masyarakat terhadap lansia adalah bahwa lansia dipandang sebagai tokoh masyarakat yang bijaksana.

Kebijaksanaan merupakan topik yang telah banyak dibahas dalam ilmu filosofi dan kini berkembang secara empiris dalam berbagai displin ilmu


(52)

pengetahuan. Baltes menyatakan bahwa kebijaksanaan merupakan keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup (Sternberg & Jordan, 2005). Baltes mengajukan lima kriteria kebijaksanaan yang wajib dipenuhi semuanya agar seseorang dapat dinyatakan sebagai orang yang memiliki kebijaksanaan. Kelima kriteria kebijaksanaan Baltes adalah rich factual knowledge, rich procedural knowledge, lifespan contextualism, values relativism/tolerance, dan awareness/management of uncertainty (Sternberg & Jordan, 2005).

Usia lanjut memang bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menentukan kebijaksanaan dalam diri individu (Schaie & Willis, 2011), namun masyarakat Indonesia masih memandang lansia sebagai model yang paling identik dengan kebijaksanaan. Hal ini terlihat dari pola hidup sehari-hari masyarakat Indonesia yang mendatangi individu lansia untu keminta nasihat ketika menghadapi permasalahan. Baltes mengasumsikan bahwa kebijaksanaan individu lansia mulai menurun setelah usia 75 tahun seiring dengan menurunnya fungsi kognitifnya yang mereka miliki (Snyder & Lopez, 2002).

Pengalaman hidup juga merupakan satu dari beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi tingkat kebijaksanaan individu. Salah satu pengalaman hidup yang dimaksud berupa pendidikan dan jenis pekerjaan yang dipilih individu, yang didukung oleh hasil penelitian Baltes dan Staudinger yang menemukan bahwa individu yang bekerja melayani manusia (human services) memperoleh nilai yang lebih tinggi untuk kriteria kebijaksanaan dibandingkan individu yang tidak bekerja melayani manusia (nonhuman services) (Sternberg &


(53)

Jordan, 2005). Penjelasan di balik hasil penelitian tersebut diduga bahwa individu yang bekerja melayani manusia mendapatkan kesempatan untuk mengasah ketajaman perspektif mereka dalam memandang masalah dan keterampilan memecahkan masalah kehidupan yang kompleks.

Penelitian ini bermaksud untuk membandingkan kebijaksanaan pada lansia yang pernah bekerja di bidang pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan lansia yang pernah bekerja di bidang yang tidak melayani manusia (nonhuman services) dengan jenis pekerjaan yang lebih beragam dibandingkan penelitian yang telah dilakukan oleh Baltes dan Staudinger. Berikut ini adalah kerangka berpikir penelitian ini:


(54)

Gambar 3. Kerangka berpikir penelitian

E. HIPOTESA PENELITIAN

H0: Tidak ada perbedaan kebijaksanaan pada lansia ditinjau dari jenis

pekerjaan.

H1: Ada perbedaan kebijaksanaan pada lansia ditinjau dari jenis pekerjaan,

yaitu lansia yang pernah bekerja di bidang pekerjaan yang melayani manusia (human services) lebih bijaksana dibandingkan dengan lansia yang pernah bekerja di bidang pekerjaan yang tidak melayani manusia


(55)

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang didasarkan pada filosofi positivisme ilmu pengetahuan dan menitikberatkan pada pengukuran, analisis statistik dan pengendalian statistik atau eksperimen. Adapun beberapa karakteristik umum dari penelitian kuantitatif adalah pengukuran atau perbandingan, datanya berupa angka, berusaha memahami sebab dan akibat dari suatu perilaku, berusaha untuk mengeneralisasikan hasil penelitian dan pengukuran yang terstandarisasi (Dalton, Elias & Wandersman, 2007). Peneltian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif komparatif, yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk membandingkan dua kondisi dari variabel bebas (IV) yang mempengaruhi variabel tergantung (DV).

A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Adapun variabel dalam penelitian ini, yaitu:

Variabel tergantung : Kebijaksanaan (wisdom).

Variabel bebas : Jenis pekerjaan, yang dibagi menjadi: 1. Human services

2. Nonhuman services


(56)

B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN 1. Kebijaksanaan

Kebijaksanaan adalah keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup. Kebijaksanaan memiliki lima kriteria yang harus dipenuhi semua oleh individu untuk disebut bijaksana, yaitu

rich factual knowledge, rich procedural knowledge, lifespan contextualism, values relativism/tolerance, dan awareness/management of uncertainty, sebagaimana yang dikemukakan oleh Baltes dan Staudinger (Sternberg & Jordan, 2005).

Variabel ini diukur dengan menggunakan skala yang dikonstruksi oleh peneliti sendiri berdasarkan lima kriteria kebijaksanaan tersebut. Apabila sampel penelitian memperoleh skor yang tinggi, semakin tinggi pula kebijaksanaan yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh sampel menunjukkan semakin rendah kebijaksanaan yang dimilikinya.

2. Jenis pekerjaan

Jenis pekerjaan adalah kelompok pekerjaan yang memiliki karakteristik yang sama dalam kerja (work), keterampilan yang digunakan, dan pendidikan atau pelatihan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dalam penelitian ini, jenis pekerjaan dibedakan menjadi pekerjaan yang melayani manusia (human services) dan pekerjaan yang tidak melayani manusia (nonhuman services).


(1)

1. 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2

2. 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 1 2 2

3. 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2

4. 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 2 1

5. 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1

6. 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2

7. 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2

8. 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1

9. 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1

10. 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2

11. 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2

12. 2 2 2 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2

13. 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1

14. 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1

15. 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2

16. 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2

17. 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

18. 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 2 1

19. 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2

20. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2

21. 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

22. 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2

23. 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1

24. 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 1

25. 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1

26. 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2

27. 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2

28. 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1

29. 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 1

30. 1 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1

31. 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2

32. 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2

33. 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

34. 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2

35. 2 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1

36. 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

37. 1 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 1 2 1

38. 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 2 1

39. 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2


(2)

S/A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

41. 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2

42. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

43. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

44. 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2

45. 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 1 2 2

46. 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2

47. 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 2

48. 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 1 2

49. 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 2

50. 2 2 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1

51. 2 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 1

52. 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 2

53. 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 1

54. 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 1

55. 1 1 2 2 2 1 1 2 2 1 2 2 2 1 1 1 2

S/A 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

41. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

42. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

43. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1

44. 2 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2

45. 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2

46. 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

47. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2

48. 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

49. 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1

50. 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1

51. 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1

52. 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 1

53. 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1

54. 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 1 1 2 2


(3)

Nonhuman Services

S/A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

1. 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 2

2. 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2

3. 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1

4. 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 1

5. 2 2 1 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 1

6. 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 1 1 1

7. 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 1 2 1 2 2 2 1

8. 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 2

9. 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 2 1 1

10. 1 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2

11. 2 1 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1

12. 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 1 1

13. 1 1 2 1 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1

14. 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1

15. 2 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1

16. 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1

17. 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2

18. 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 2

19. 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2

20. 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 2 2 1 1 2

21. 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 2

22. 2 2 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 2 1 2 2 2

23. 1 1 2 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2

24. 2 2 2 2 2 1 2 1 1 2 1 2 2 2 1 1 2

25. 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2

26. 1 1 1 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2

27. 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2

28. 1 1 2 2 1 1 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1

29. 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 1 2 1

30. 2 1 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1

31. 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1

32. 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 1 1 1

33. 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2 1 2 2 1 1 2

34. 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 2

35. 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2

36. 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2

37. 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 2

38. 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 2 2 2 1 1 2


(4)

S/A 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

1. 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 1 1 1

2. 2 1 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2

3. 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2

4. 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2

5. 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1

6. 1 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1

7. 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1

8. 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2

9. 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1

10. 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1

11. 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2

12. 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 2 2 2 1

13. 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2

14. 1 1 2 1 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1

15. 2 1 2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2

16. 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 1 2

17. 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1

18. 2 1 2 2 1 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 2 1

19. 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 1

20. 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1

21. 2 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1

22. 2 2 2 2 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1

23. 2 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

24. 1 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1

25. 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2

26. 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2

27. 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

28. 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2

29. 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 1 1

30. 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2

31. 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 2 1 1

32. 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

33. 1 2 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 2 1

34. 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2

35. 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 1 2 1 2

36. 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1

37. 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1

38. 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2


(5)

Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Wisdom

N 94

Normal Parametersa,,b Mean 57.35

Std. Deviation 4.905

Most Extreme Differences Absolute .100

Positive .100

Negative -.088

Kolmogorov-Smirnov Z .967

Asymp. Sig. (2-tailed) .307

a. Test distribution is Normal.


(6)

Hasil Uji Homogenitas dan Uji T (T-test)

Group Statistics

Jenis N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Wisdom "Human" 55 59.40 4.470 .603

"Nonhuman" 39 54.46 3.979 .637

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

F Sig. t df

Sig.(2-tailed)

Mean Difference

Std. Error

Difference Lower Upper

Wisdom Equal variances assumed

.584 .447 5.519 92 .000 4.938 .895 3.161 6.716

Equal variances not assumed