Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Produksi Kelapa Sawit

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI
MEDAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
HASIL PRODUKSI KELAPA SAWIT
(STUDI KASUS : PTPN IV KEBUN PASIR MANDOGE)

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

RIRIN WIRDASARI SARAGIH

060501037

Ekonomi Pembangunan

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Medan
2010

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang
Maha Esa, pemilik alam semesta ini, karena berkat rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam kepada junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat yang telah
memperjuangkan agama Allah di muka bumi ini.
Skripsi ini merupakan salah satu beban mata kuliah yang harus
dilaksanakan dan untuk memenuhi persyaratan akademis untuk mendapatkan
gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Adapun judul dari skripsi ini adalah “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI HASIL PRODUKSI KELAPA SAWIT”.
Penulis menyadari bahwa tanpa dukungan dari semua pihak, maka skripsi
ini tidak akan dapat diselesaikan. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu, baik dari mulai penulisan proposal, saat penelitian, sampai selesainya
skripsi ini, yaitu:
1. Orang tuaku tercinta Ayah dan Mami, yang selalu memberikan do’a, kasih
saying, dukungan , semangat dan masukan yang tidak ternilai harganya.
Terima kasih atas segala yang pernah Ayah n mam lakukan selama ini. I
love both of you….always…
2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M..Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
3. Ketua Departemen Ekonomi Pembangunan, Bapak Wahyu Ario Pratomo,
SE, M.Ec dan Sekretaris Departemen Bapak Irsyad Lubis, Phd.
4. Bapak Kasyful Mahalli, Msi selaku dosen pembimbing skripsi yang
dengan penuh kearifan dan kesabaran telah memberikan bimbingan,

Universitas Sumatera Utara

petunjuk dan saran yang sangat berharga sejak dimulai hingga penelitian
ini selesai.
5. Bapak Prof. Dr. Syaad Afifuddin, M.Ec dan Bapak Drs. Rakhmad
Sumanjaya, Msi selaku dosen penguji saya yang telah banyak memberikan
masukan dalam pembuatan skripsi ini
6. Seluruh staf pengajar Departemen Ekonomi Pembangunan yang telah
banyak memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berguna dan tak
ternilai harganya selama masa perkuliahan yang dapat menjadi bekal
untuk meraih masa depan
7. Bapak Ir. Boediono, selaku manajer Kebun Pasir Mandoge yang telah
membantu penulis dalam memberikan informasi yang sangat dibutuhkan
8. Kepala Tata Usaha Kebun Pasir Mandoge, Bapak H. Surya Edi Pahlevi
atas bantuan untuk penulis
9. Asisten SDM & Umum, Bapak Lukman Silalahi, yang telah membantu
melancarakan penelitian penulis
10. Kepala Dinas Tanaman, Bapak Ir. Made, juga kepada Bapak Ir. Aswin
Ginting dan Bapak Ir. Darwis Damanik yang telah banyak memberikan
masukan, nasehat dan informasi yang dibutuhkan dalam pembuatan skripsi
ini
11. Pak Razak, terima kasih banyak yah pak atas bantuannya selama ini,
sehingga Ririn mudah mendapatkan data-data yang dibutuhkan
12. Ibu Dewi, Bu Ir, Pak Haris, Bu Mus, Pak Jimi, Pak Surya, Pak Purba dan
juga semua Bapak/Ibu karyawan yang bersedia memberikan informasi
yang sangat penulis butuhkan
13. Kak Leni dan Bang Sugi yang telah memberikan kemudahan dalam urusan
administrasi
14. Abang ku tersayang, Bang Dedek.... Makasih yah bang udah jadi abang
yang baik (moga cepet dapet jodoh yah bang.... aamiin)
15. K’Gita dan B’Ijun makasih buat semua yang telah kalian berikan buat
adek selama ini... (moga cepet dapet dedek yah kak....). I Love both of
you....

Universitas Sumatera Utara

16. K’Intan ku tersayang.... makasih buat semuanya yah kak... udah sabar
menghadapi adek kk ini... (adek cayang kakak... hehe...)
17. Uppa ku yang lagi berjuang nun jauh disana demi cita-cita..... thanks for
every moment we’ve together….. SEMANGAT!!! Eropa Boii….
Hehehe… Sarang Hae....
18. Special Thanks to my Luvly Fren…. Ayom (Romauli) n Vika (Rafika)…
Makasih banyak sahabat ku… tanpa kalian Alin gak akan bisa bertahan di
kampus ini… Selamat yah udah SE duluan….. Kamsahamnida.... Arigato
Gozaimasu....
18. Rasidah n Wati, temen kos ku yang baik hati... makacih yah say udah
banyak ngajarin Alin.... bantuin Alin… n maap klo banyak ngerepotin
kalian juga… makasih banyak yah…
19. David n Ipan... ”the bodyguard”.. hehe.. makasih banyak atas bantuannya
selama ini
20. Buat anak-anak EP ’06: Kiki, Tya, Yuni, Yesi, Erna, Wirda, Lestari, Reni,
Devi, n temen2 lain yang gak bisa disebutin satu-satu..
21. Buat anak-anak Pamen G 23: K’Wik, Rasidah, Wati (Again), Lisna, Lina,
Wina, Miskah, Tiwi, Dini, Ria n Irma juga K’Ana.... arigato gozaimasu...

Penulis menyadari skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna, karena
sesungguhnya kesempurnaan itu hanyalah milik Allah AWT, tetapi penulis
senantiasa berusaha untuk melakukan yang terbaik. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi
ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Februari 2010
Hormat saya

Ririn Wirdasari Saragih

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

…………………………………………

i

DAFTAR ISI

............…………………………………

v

DAFTAR GAMBAR

................................................................

vi

DAFTAR TABEL

................................................................

vii

DAFTAR LAMPIRAN

................................................................

viii

ABSTRAK

................................................................

ix

BAB I

: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................

1

1.2 Perumusan Masalah .............................................

6

1.3 Hipotesis ..............................................................

6

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

BAB II

1.4.1 Tujuan Penelitian ...........................................

7

1.4.2 Manfaat Penelitian .........................................

7

: URAIAN TEORITIS
2.1 Definisi Ekonomi Pertanian .................................

9

2.1.1 Sejarah Ekonomi Pertanian ...........................

9

2.1.2 Fungsi Ekonomi Pertanian .............................

10

2.2 Pengertian Perkebunan .........................................

11

2.2.1 Manajemen Perkebunan .................................

13

2.3 Deskripsi Minyak Kelapa Sawit ..........................

16

2.3.1 Deskripsi Tanaman Kelapa Sawit ..................

16

2.3.2 Tipe Kelapa Sawit ..........................................

17

2.3.3 Hasil Tanaman Kelapa Sawit .........................

18

2.3.4 Sejarah Perkebunan Kelapa Sawit ................

19

2.4 Aspek-Aspek Produksi .........................................

20

2.4.1 Pengertian Produksi ........................................

20

2.4.2 Prinsip Ekonomi dalam Proses Produksi ........

21

2.4.3 Konsep Produksi .............................................

22

2.4.4 Tahapan Produksi ...........................................

24

2.4.5 Pruction Possibility Curve ...............................

25

Universitas Sumatera Utara

2.4.6 Fungsi Produksi ...............................................

BAB III

26

2.4.7 Fungsi Produksi Cobb-Douglas ........................

29

2.5 Faktor-Faktor Produksi ........................................

33

2.6 Biaya Produksi .....................................................

35

2.6.1 Fungsi Biaya Total .........................................

36

2.6.2 Economies dan Diseconomies Scale ..............

38

: METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian ....................................

39

3.2 Jenis dan Sumber Data .........................................

39

3.3 Teknik Pengumpulan Data ...................................

40

3.4 Pengolahan Data ...................................................

40

3.5 Model Analisis Data ..............................................

41

3.6 Test Goodness Of Fit (Uji Kesesuaian)
3.6.1 Koefisien Determinasi (R-Square) ………......

42

3.6.2 Uji t-statistik …………………………………

42

3.6.3 Uji F-statistik ...................................................

44

3.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
3.7.1 Multicolinearity ...............................................

45

7.7.2 Autokorelasi (Serial Correlation) .....................

46

3.8 Definisi Operasional ...............................................
BAB IV

47

: ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Umum Perusahaan
4.1.1 Sejarah Perusahaan ...........................................

48

4.1.2 Profil Perusahaan ..............................................

48

4.1.3 Keadaan Wilayah .............................................

49

4.2 Struktur Organisasi .................................................

49

4.2.1 Bagan Organisasi ...............................................

50

4.2.2 Pembagian Fungsi dan Wewenang ..................

50

4.3 Tenaga Kerja ...........................................................

53

4.4 Areal Konsesi .........................................................

54

4.5 Pemupukan .............................................................

55

4.5.1 Jenis dan Dosis Pupuk ......................................

56

Universitas Sumatera Utara

4.6 Uraian Proses Produksi
4.6.1 Bahan Baku ......................................................

58

4.6.2 Proses Produksi ..............................................

59

4.7 Pembahasan ...........................................................

69

4.7.1 Interpretasi Model ...........................................

69

4.8 Pengujian Hipotesis

BAB V

4.8.1 Koefisien Determinasi (R-Square) ..................

70

4.8.2 Uji t-statistik ..................................................

71

4.8.3 Uji F-statistik ..................................................

73

4.8.4 Uji Penyimpangan asumsi Klasik ....................

74

: KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ...........................................................

78

5.2 Saran ......................................................................

78

DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

: Kurva Tahapan Produksi

………………………

24

Gambar 2.2

: Kurva Production Possibility Curve ……………....

26

Gambar 3.1

: Kurva Uji t-statistik ................................................

43

Gambar 3.2

: Kurva Uji F- statistic ...............................................

45

Gambar 3.3

: Kurva Durbin-Watson ..............................................

46

Gambar 4.1

: Struktur Organisasi PT. Perkebunan
Nusantara IV (Persero) Kebun Pasir Mandoge .......

50

: Distribusi Durbin – Watson .....................................

76

Gambar 4.2

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1

: Jumlah Tenaga Kerja PTPN IV
Kebun Pasir Mandoge (2005-2009) ................................ 53

Tabel 4.2

: Luas Areal TM PTPN IV Kebun
Pasir Mandoge (2005-2009) ……………………………

55

Tabel 4.3

: Jumlah Pupuk PTPN IV Kebun
Pasir Mandoge (2005-2009) ............................................ 57

Tabel 4.4

: Jumlah Produksi Kelapa Sawit PTPN IV
Kebun Pasir Mandoge (2005–2009) ...............................

68

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Hasil Regresi hasil produksi kelapa sawit di
PTPN IV Kebubn Pasir Mandoge
Lampiran 2 : Hasil Uji Multikoliniearitas LX1

Lampiran 3 : Hasil Uji Multikoliniearitas LX2

Lampiran 4 : Hasil Uji Multikoliniearitas LX3

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Hasil Produksi Kelapa Sawit (Studi pada : PTPN IV Kebun Pasir
Mandoge)”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh luas
lahan, tenaga kerja dan pupuk terhadap hasil produksi kelapa sawit di PTPN IV
Kebun Pasir Mandoge. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu dengan
pencatatan langsung data yang diperoleh dari perusahaan.
Dalam menganalisis besarnya pengaruh variabel-variabel bebas terhadap
variabel terikat digunakan model ekonometrika dengan meregresikan variabelvariabel yang ada dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (Ordinary least
Square). Dari hasil regresi, luas lahan dan tenaga kerja berpengaruh positif dan
secara statistik signifikan terhadap hasil produksi kelapa sawit, variabel pupuk
berpengaruh positif dan secara statistik tidak signifikan terhadap jumlah produksi.
Hasil uji koefisien determinasi (R²) menunjukkan bahwa variabel hasil
produksi kelapa sawit sebagai variabel dependen mampu dijelaskan oleh
variabel-variabel independen yaitu luas lahan, tenaga kerja dan pupuk sebesar
93,51 % dan sisanya 6,49 % dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model.
Pengujian secara keseluruhan menggunakan uji F dimana F.hitung (45,36) >
F.tabel (3,2406) artinya variabel luas lahan, tenaga kerja dan pupuk berpengaruh
secara signifikan terhadap hasil produksi kelapa sawit.
Kata Kunci : Produksi Kelapa Sawit, Luas Lahan, Tenaga Kerja, Pupuk,
Metode Kuadrat Terkecil

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

This research is entitled “Determinant Analyze of Crude Palm Oil
Production (A Case Study: PTPN IV Kebun Pasir Mandoge)”. This research
is aimed to find out how are the effects of the width of land, employees and
fertilizer towards of CPO production in PTPN IV Kebun Pasir Mandoge. The data
of this research are secondary data which are gained from collecting data directly
into corporation.
In analyzing the effects of independent variables towards dependent
variables is used econometric model by regressing all variables by using Ordinary
Least Square Method. The regression result shows that the variable the width of
land and employees has possitive effect and is statistically significant toward of
CPO production, and the variable of the fertilizer usage is possitively effective but
is not statistically significant towards the CPO productions.
The coefficient determining (R²) test result shows that the variables of the
CPO production as dependent variable can be described by the independent
variables, the width of land, employees and fertilizer for 93,51% and the rest
6,49% is described by the other variables out of the model. The overall tests use F
where F sums (45,36) > F table (3,24) which means that the variables the width of
land, employees and fertilizer significantly effective towards the rubber CPO
production.
Keywords: Crude Palm Oil Production, Width of Land, Employees,
Fertilizer, Ordinary Least Square

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Hasil Produksi Kelapa Sawit (Studi pada : PTPN IV Kebun Pasir
Mandoge)”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh luas
lahan, tenaga kerja dan pupuk terhadap hasil produksi kelapa sawit di PTPN IV
Kebun Pasir Mandoge. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu dengan
pencatatan langsung data yang diperoleh dari perusahaan.
Dalam menganalisis besarnya pengaruh variabel-variabel bebas terhadap
variabel terikat digunakan model ekonometrika dengan meregresikan variabelvariabel yang ada dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (Ordinary least
Square). Dari hasil regresi, luas lahan dan tenaga kerja berpengaruh positif dan
secara statistik signifikan terhadap hasil produksi kelapa sawit, variabel pupuk
berpengaruh positif dan secara statistik tidak signifikan terhadap jumlah produksi.
Hasil uji koefisien determinasi (R²) menunjukkan bahwa variabel hasil
produksi kelapa sawit sebagai variabel dependen mampu dijelaskan oleh
variabel-variabel independen yaitu luas lahan, tenaga kerja dan pupuk sebesar
93,51 % dan sisanya 6,49 % dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model.
Pengujian secara keseluruhan menggunakan uji F dimana F.hitung (45,36) >
F.tabel (3,2406) artinya variabel luas lahan, tenaga kerja dan pupuk berpengaruh
secara signifikan terhadap hasil produksi kelapa sawit.
Kata Kunci : Produksi Kelapa Sawit, Luas Lahan, Tenaga Kerja, Pupuk,
Metode Kuadrat Terkecil

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

This research is entitled “Determinant Analyze of Crude Palm Oil
Production (A Case Study: PTPN IV Kebun Pasir Mandoge)”. This research
is aimed to find out how are the effects of the width of land, employees and
fertilizer towards of CPO production in PTPN IV Kebun Pasir Mandoge. The data
of this research are secondary data which are gained from collecting data directly
into corporation.
In analyzing the effects of independent variables towards dependent
variables is used econometric model by regressing all variables by using Ordinary
Least Square Method. The regression result shows that the variable the width of
land and employees has possitive effect and is statistically significant toward of
CPO production, and the variable of the fertilizer usage is possitively effective but
is not statistically significant towards the CPO productions.
The coefficient determining (R²) test result shows that the variables of the
CPO production as dependent variable can be described by the independent
variables, the width of land, employees and fertilizer for 93,51% and the rest
6,49% is described by the other variables out of the model. The overall tests use F
where F sums (45,36) > F table (3,24) which means that the variables the width of
land, employees and fertilizer significantly effective towards the rubber CPO
production.
Keywords: Crude Palm Oil Production, Width of Land, Employees,
Fertilizer, Ordinary Least Square

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejak masa kolonial sampai sekarang Indonesia tidak dapat lepas dari
sektor perkebunan. Bahkan sektor ini memiliki arti penting dan menentukan
dalam realita ekonomi dan sosial masyarakat di banyak wilayah di Indonesia.
Perkebunan mempunyai kedudukan yang penting di dalam pengembangan
pertanian, baik pada tingkat nasional maupun regional. Sejarah

perkebunan

kelapa sawit di Indonesia dibagi ke dalam 5 periode, yaitu zaman penjajahan
Belanda, Jepang, Revolusi Fisik, Nasionalisasi ke Orde Baru sampai Era
Reformasi saat ini. Oleh karena itu, perkebunan kelapa sawit di Indonesia
mempunyai peran yang sangat strategis dari sisi ekonomi antara lain sebagai
komoditas ekspor, penyerapan kesempatan kerja, menekan jumlah penduduk
miskin, mendorong pusat pertumbuhan wilayah, mencukupi kebutuhan konsumsi
dalam negeri, dan lain-lain. Disamping itu sekarang ini semakin menguatnya
permintaan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku bahan bakar nabati
(biodiesel) maka semakin menambah kuatnya permintaan terhadap hasil produksi
kelapa sawit (Kompas, 2007).
Dengan besarnya produksi CPO yang mampu dihasilkan, tentunya hal ini
akan berdampak positif bagi perekonomiam Indonesia, baik dari segi
kontribusinya terhadap pendapatan negara, maupun besarnya tenaga kerja yang
terserap di sektor industri ini yang mencapai 8,5 juta orang. Sektor ini juga
mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perkebunan sawit, dimana

Universitas Sumatera Utara

persentase penduduk miskin di areal ini kurang dari 6%, jauh lebih rendah dari
angka penduduk miskin nasional sebesar 17% (sumber:berkas sambutan Menteri
Negara Riset dan Teknologi).
Berdasarkan data tahun 2006, Indonesia telah menjadi Negara penghasil
CPO terbesar di dunia dengan total produksi sekitar 16 juta ton. Sementara negara
tetangga kita Malaysia yang selama ini berada pada posisi no.1, saat ini berada
pada posisi ke-2 dengan total produksi sebesar 15,8 juta ton. Yang menarik dari
data ini adalah ternyata Indonesia mampu menjadi negara penghasil CPO nomor 1
di dunia, 4 tahun lebih cepat dari prediksi sebelumnya, dimana Indonesia
diperkirakan baru akan menjadi produsen CPO terbesar di dunia pada tahun 2010
(Berita Iptek: 2007).
Perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia ini sangat signifikan dan
fantastis. Luas areal produksi dan ekspor kelapa sawit dari tahun 1916 sampai
dengan 2006 menunjukkan angka yang sangat signifikan dan fantastik terutama
antara tahun 1990 sampai dengan 2006, dimana untuk total luas areal dari
1.126.677 ha menjadi 6.074.926 Ha, sedangkan untuk produksi minyak sawit
meningkat dari 7.000.508 ton menjadi 16.000.211 ton dan ekspornya dari
4.110.027 ton menjadi 12.101.000 ton. Dari total areal perkebunan kelapa sawit di
Indonesia, sejumlah 4.582.733 Ha atau sejumlah 75,4 % berada di Pulau
Sumatera.
Sumatera Utara termasuk ke dalam daerah yang banyak memproduksi
kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit itu sendiri telah dimulai di Sumatera Utara
sejak tahun 1911 dan sampai saat ini Sumatera Utara termasuk provinsi penghasil
utama minyak kelapa sawit bagi Indonesia. Minyak kelapa sawit bagi Provinsi

Universitas Sumatera Utara

Sumatera Utara merupakan salah satu komoditi yang cukup menunjang
pembangunan, baik dilihat dari devisa yang dihasilkan ataupun bagi pemenuhan
akan minyak nabati serta merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat yang
berkecimpung didalamnya. Salah satu perkebunan besar yang ada di Sumatera
Utara adalah Pt. Nusantara IV Kebun Pasir Mandoge.
PT. Nusantara IV Kebun Pasir Mandoge merupakan perkebunan yang
berorientasi pada tanaman kelapa sawit. Lokasi ini dipilih sebagai pengembangan
kelapa sawit karena telah dipertimbangkan dari segi kesuburan tanah, iklim, dan
curah hujan sangatlah cocok. PT. Nusantara IV Kebun Pasir Mandoge adalah
salah satu dari beberapa perkebunan yang dapat mengolah / memproduksi hasil
perkebunannya sendiri, yaitu mengolah hasil dari Tandan Buah Segar (TBS)
menjadi CPO.
Masalah produksi terutama, bukanlah merupakan hal yang baru dalam
sebuah perusahaan baik itu perusahan industri maupun perusahaan yang bergerak
dibidang pertanian. Usaha meningkatkan produksi merupakan suatu pendekatan
yang positif bagi peningkatan keuntungan serta pertumbuhan perusahaan.
Proses penciptaan output (produksi) selalu dihadapkan kepada berbagai
alternatif, apakah alternatif dimaksud berkaitan dengan penggunaan input atau
penciptaan output. Proporsi maupun jenis input yang digunakan guna
menghasilkan berbagai output dan bagaimana kombinasi penggunaan input
sehingga proses produksi terkendali (Sumanjaya, 2008 ; 78).
Pengertian output dalam hal ini tentunya berkaitan dengan produk yang
akan dihasilkan dengan berbagai kriteria, dan input meliputi antara lain
penggunaan tenaga kerja, barang-barang modal, bahan baku, teknologi, dan

Universitas Sumatera Utara

berbagai input lainnya dengan berbagai satuan. Secara umum faktor produksi
terdiri dari empat macam yakni lahan (tanah), modal, tenaga kerja, dan
manajemen. Akan tetapi dalam praktek, keempat faktor produksi tersebut belum
cukup di dalam proses pertanian. Faktor-faktor sosial ekonomi lainnya, seperti
tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat keterampilan dan lain-lain juga
berperan dalam mempengaruhi tingkat produksi (Sumanjaya, 2008 ; 80).
Dalam praktek, faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Faktor Biologi, seperti lahan pertanian dengan macam dan tingkat
kesuburannya, bibit, varitas, pupuk, obat-obatan, gulma, dan sebagainya.
2. Faktor Sosial Ekonomi seperti biaya produksi, harga, tenaga kerja,
tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, risiko dan ketidakpastian,
kelembagaan, tersedianya kredit, dan sebagainya.
Beberapa faktor produksi diatas dapat dikombinasikan antara yang satu
dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang merupakan dambaan
setiap orang. Tujuan yang dimaksud adalah produksi, prodiktivitas, efisiensi,
profit, dan sebagainya.
Berbicara mengenai produksi, tidak terlepas dari luas lahan. Kondisi
pertanian dapat dilihat dari faktor luas lahan yang dapat mempengaruhi produksi
setiap tahunnya. Lahan merupakan aset terpenting bagi kegiatan pertanian.
Semakin luas lahan garapan maka semakin besar produksi yang dihasilkan dan
sebaliknya.
Untuk mengolah lahan tersebut diperlukan sumber daya manusia.
Peranannya berbeda dari faktor produksi lainnya, dimana sumber daya manusia

Universitas Sumatera Utara

dan meningkatkan kemampuannya dalam mengelolah dan mendayagunakan
berbagai faktor produksi untuk mengahsilkan barang. Tenaga kerja merupakan
unsur tani dalam kemampuan produksi barang dan jasa serta mengatur sarana
produksi yang lain seperti bahan mentah, tanah dan air. Oleh karena itu, tenaga
kerja sangat

dibutukan daam peningkatan kemampuan produksi untuk

meningkatkan produktivitas karena kontribusi tenaga kerja dinilai menentukan
kinerja usaha tani yang masih bersifat padat karya.
Namun dalam pelaksanaannya untuk mencapai peningkatan produktivitas
produksi tersebut tidaklah mudah karena kedua hal tersebut tidaklah cukup. Hal
yang tak kalah penting adalah modal. Modal disini mencakup uang, bibit, pupuk
dan sebagainya yang cukup sebagai jaminan produktivitas dan kelancaran dalam
peningkatan produksi.
Jika sebuah perusahaan memiliki tingkat tenaga kerja dengan tingkat
keterampilan serta keahlian yang rendah, disamping modal yang terbatas, bahan
baku yang juga langka, serta masih menggunakan teknologi yang sederhana dapat
menyebabkan produksi yang dihasilkan kurang atau mungkin saja tidak akan
disenangi oleh konsumen (masyarakat). Selain itu dampak yang timbul seperti
diuraikan sebelumnya adalah produk tersebut tidak akan mampu bersaing
dipasaran apakah itu dalam pasar domestik maupun pasar internasional.
Disisi lain tersedianya sarana atau faktor produksi yang banyak belum
tentu pula akan menjamin produksi serta produktivitas yang diperoleh akan lebih
baik. Namun yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah mengenai peranan dari
pengusaha untuk melakukan berbagai cara atau usaha yang berkaitan terutama
dengan kenaikan produksi serta pencapaian efisiensi.

Universitas Sumatera Utara

Demikian juga halnya dengan perusahaan yang bergerak dibidang produksi
pertanian/perkebunan tidak terlepas dari berbagai aspek ini. Oleh karena itu,
sebelum seseorang merancang untuk menganalisis kaitan input dan ouput maka
diperlukan pemahaman identifikasi terhadap vairabel-variabel apa

yang

mempengaruhi proses produksi.
Berdasarkan uraian diatas penulis merasa tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul ”Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil
Produksi Kelapa Sawit dengan Studi pada Perkebunan PTPN IV Kebun
Pasir Mandoge.”

I.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan apa yang telah diuraikan pada latar belakang, maka perumusan
masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah pengaruh luas lahan terhadap hasil produksi kelapa sawit
di PTPN IV Kebun Pasir Mandoge?
2. Bagaimanakah pengaruh tenaga kerja terhadap hasil produksi kelapa
sawit di PTPN IV Kebun Pasir Mandoge?
3. Bagaimanakah pengaruh pupuk terhadap hasil produksi kelapa sawit di
PTPN IV Kebun Pasir Mandoge?

I.3 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari permasalahan yang menjadi
objek penelitian dimana tingkat kebenarannya masih perlu diuji. Berdasarkan

Universitas Sumatera Utara

perumusan masalah tersebut diatas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian
ini adalah:
1. Luas lahan mempunyai pengaruh positif terhadap peningkatan hasil
produksi, ceteris paribus.
2. Penggunaan tenaga kerja mempunyai pengaruh positif terhadap
peningkatan hasil produksi, ceteris paribus.
3. Penggunaan pupuk mempunyai pengaruh positif terhadap peningkatan
hasil produksi, ceteris paribus.

I.4 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
I.4.1Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh luas lahan terhadap hasil produksi kelapa
sawit di PTPN IV Kebun Pasir Mandoge.
2. Untuk mengetahui pengaruh tenaga kerja terhadap hasil produksi kelapa
sawit di PTPN IV Kebun Pasir Mandoge.
3. Untuk mengetahui pengaruh pupuk terhadap hasil produksi kelapa sawit
di PTPN IV Kebun Pasir Mandoge.

1.4.2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis khususnya
dibidang ekonomi.

Universitas Sumatera Utara

2. Sebagai bahan studi dan tambahan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa
Fakultas Ekonomi terutama Departemen ekonomi Pembangunan yang
ingin melakukan penelitian selanjutnya.
3. Sebagai penambah, pelengkap sekaligus sebagai pembanding hasil-hasil
penelitian menyangkut topik yang sama.
4. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi perusaan yang
bersangkutan.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
URAIAN TEORITIS

2.1 Definisi Ekonomi Pertanian
Ekonomi pertanian merupakan gabungan dari ilmu ekonomi dengan
ilmu pertanian yang memberikan arti sebagai berikut: suatu ilmu yang
mempelajari dan membahas serta menganalisis pertanian secara ekonomi, atau
ilmu ekonomi yang diterapkan pada pertanian (Daniel, 2002; 9). Ilmu ini menjadi
satu ilmu tersendiri yang mempunyai manfaat yang besar dan berarti dalam proses
pembangunan dan pemacu pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekonomi
pertanian mencakup analisis ekonomi dari proses (teknis) produksi dan hubunganhubungan sosial dalam produksi pertanian, hubungan antar faktor produksi, serta
hubungan antara faktor produksi dan produksi itu sendiri. Dalam kebijakan
pembangunan nasional, pembangunan pertanian merupakan langkah awal dan
mendasar bagi pertumbuhan industri. Salah satu sub sektor pertanian yang
berkembang adalah sub sektor perkebunan.

2.1.1 Sejarah Ekonomi Pertanian
Ekonomi pertanian mula-mula berkembang di daratan Eropa. Muncul dan
berkembangnya ekonomi pertanian di Eropa sangat berkaitan dengan lahir dan
berkembangnya ilmu pertanian. Pada zaman Romawi, Cato, Varo, Palladus, dan
Columela mulai melihat dan meninjau pertanian secara ilmu. Kemudian muncul
tulisan tentang ilmu pertanian yang dikarang oleh Justur Moser, J.C. Schubart,
dan J.C.Bergen. Awal abad ke-18, ilmu pertanian semakin berkembang, dan

Universitas Sumatera Utara

bahkan sudah mulai membahas tentang hak dan kepemilikan tanah (Daniel, 2002;
3).
Di Amerika Serikat, ekonomi pertanian pertama kali diajarkan pada
tahun 1892 di Universitas Ohio. Di Indonesia, Ilmu Ekonomi Pertanian baru
dikembangkan mulai tahun 1950-an yang dipelopori oleh Iso Reksohadiprodjo
dan Teko Sumardiwirjo, masing-masing dosen di Universitas Indonesia dan
Universitas Gajah Mada (Daniel, 2002; 4). Pada akhir dekade 1960-an, tepatnya
tahun 1969 didirikan organisasi yang menghimpun para ahli ilmu ekonomi
pertanian, organisasi tersebut diberi nama PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi
Pertanian Indonesia).

2.1.2 Fungsi Ekonomi Pertanian
Ekonomi pertanian bukan sekedar gabungan antara ilmu ekonomi dengan
ilmu pertanian, tetapi mempunyai arti yang sangat penting bagi pertanian dan juga
bagi ekonomi. Ilmu ekonomi pertanian mempelajari faktor sumber daya atau
faktor produksi dilengkapi dengan permasalahan, potensi, dan kebijakan serta
kemitraan, kelembagaan, dan faktor pendukung lainnya. Sebelum proses produksi
atau usaha tani dijalankan (baik dalam subsektor tanaman pangan dan
holtikultura, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, maupun subsektor
perikanan) perlu dilakukan perencanaan yang matang.
Dalam pelaksanaan dilapangan, pertanian juga membutuhkan ilmu
ekonomi pertanian. Kalau pupuk diberikan sekian banyak, berapa hasil yang akan
diterima, bila pupuk dikurangi atau ditambah berapa keuntungan yang akan
diperoleh. Begitu juga dengan pengaturan tenaga kerja dan obat-obatan. Dalam

Universitas Sumatera Utara

ekonomi pertanian, semua itu akan diperhitungakan dan dipelajari secara
mendalam (Daniel, 2002; 6).

2.2 Pengertian Perkebunan
Istilah perkebunan sudah lama dikenal, sejak pemerintahan kolonial
Belanda. Pada tahun 1938 di Indonesia terdapat 243 perkebunan besar. Pada tahun
1870 dengan keluarnya undang-undang agraria pengaturan perkebunanperkebunan swasta di Indonesia lebih tegas dan jelas. Keluarnya undang-undang
agraria mempunyai tujuan utama mengundang penanaman modal swasta ke
Indonesia untuk berusaha mengembangkan produk-produk pertanian yang
diperlukan pasaran dunia, terutama Eropa. Setelah merdeka, pemerintah Indonesia
mengambil alih perkebunan-perkebunan yang dikelola oleh Belanda, tepatnya
sejak tahun 1957 (Syamsulbahri, 1996; 1).
Perkembangan

perkebunan

setelah

orde

baru

dengan

program

pembagunan lima tahunan (Pelita) tahap demi tahap telah memfokuskan program
pembangunannya terutama dalam sektor tanaman pangan, sedangkan sektor
perkebunan

memberikan

kerangka

landasan

peningkatan

produksi

dan

diversifikasi tanaman ekspor. Pada tahun 1992 telah berhasil membuat UndangUndang Nomor 12 tentang budidaya tanaman. Dengan adanya undang-undang
tersebut pemerintah telah memberikan kebebasan kepada petani untuk
menentukan pilihan jenis tanaman dan pembudidayaannya, serta kewajiban
pemerintah dalam menjamin penghasilan petani (Syamsulbahri, 1996; 1).
Sejarah perkebunan sebelum penjajahan Belanda di Indonesia,
perkebunan belum terorganisir secara struktural. Selama dekade penjajahan

Universitas Sumatera Utara

Belanda, Inggris, dan Jepang pengelolaan perkebunan beralih kepenguasa, dalam
hal ini penjajah. Pada zaman Belanda dikenal ”sistem tanam paksa”. Setelah
merdeka pengelolaan perkebunan masih seperti zaman Belanda, barulah tahun
1957

terjadi perubahan pengelolaan perkebunan. Pada tahun tersebut terjadi

pengambil-alihan perkebunan dari orang-orang asing oleh pemerintah Republik
Indonesia. Dambaan petani untuk menjadi tuan di tanahnya sendiri sangat
diharapkan, karena menajer-manajer perkebunan telah diisi oleh putra-putra
Indonesia. Pada kenyataannya kenyataan tersebut tidak bisa terwujud, karena
didalam negeri sudah terlalu lama mengalami peperangan untuk merebut
kemerdekaan.
Pada tahap dicanangkannya program-program Pelita, pada subsektor
perkebunan mulai dilakukan pembenahan-pembenahan oleh pemerintah. Pada
Pelita I dan II telah dilakukan upaya-upaya untuk mengembalikan dan
memulihkan perkebunan-perkebunan yang terlantar. Pada Pelita III hingga V
dilaksanakan serangkaian usaha-usaha intensifikasi, rehabilitasi, dan diversifikasi
perkebunan. Pada Pelita III perkembangan sektor perkebunan amat mencolok,
terutama ditinjau dari perluasan areal perkebunan baik di Jawa maupun diluar
Jawa (Syamsulbahri, 1996; 3).
Sebelum mempelajari lebih jauh tentang perkebunan perlu kesatuan
pengertian dari perkebunan itu sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan
dalam pemahaman selanjutnya,

terutama tanaman perkebunan tahunan.

Perkebunan dapat diartikan berdasarkan fungsi, pengelolaan, jenis tanaman, dan
produk yang dihasilkan.

Universitas Sumatera Utara

1. Perkebunan berdasarkan fungsinya dapat diartikan sebagai usaha untuk
menciptakan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan devisa negara, dan
pemeliharaan kelestarian sumber daya alam
2. Berdasarkan pengelolaannya, perkebunan dapat dibagi menjadi :
1) perkebunan rakyat; 2) perkebunan besar; 3) perkebunan perusahaan inti
rakyat; 4) perkebunan unit pelaksana proyek
3. Perkebunan berdasarkan jenis tanamannya dapat diartikan sebagai usaha
budidaya tanaman yang dilakukan oleh rakyat, pemerintah, maupun swasta
selain tanaman pangan dan holtikultura
4. Perkebunan berdasarkan produknya dapat diartikan sebagai usaha budidaya
tanaman yang ditujukan untuk menghasilkan bahan industri (misalnya karet,
tembakau, cengkeh, kapas), bahan industri makanan (misalnya kelapa, kelapa
sawit, dan kakao), dan makanan (misalnya tebu, teh, kopi, dan kayu manis).
Dari pengertian-pengertian tersebut perkebunan dapat diartikan sebagai:
”usaha budidaya tanaman baik oleh pemerintah, swasta, rakyat, maupun secara
bersama-sama dalam skala luas maupun sempit areal lahan yang digunakan
namun bertujuan untuk mendapatkan peningkatan pendapatan dan devisa negara,
tanpa mengabaikan penyerapan tenaga kerja dan pelestarian sumber daya alam”
(Syamsulbahri, 1996; 15).

2.2.1 Manajemen Perkebunan
Manajemen dapat diartikan sebagai usaha pengelolaan sumber-sumber
daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, dimana sifatnya universal
yang berarti dapat berlaku secara umum untuk berbagai organisasi. Dalam

Universitas Sumatera Utara

perkembangannya, perkebunan dijadikan sebagai satu sub-sektor dari sektor
pertanian. Dimana sub-sektor perkebunan dijadikan andalan dalam memasukkan
devisa negara dari sektor non-migas. Pengelolaannya ada yang dilakukan oleh
pemerintah, swasta, maupun oleh rakyat. Sistem pengelolaan perkebunan di
Indonesia ada keterpaduan antara unsur-unsur yang membentuk sub-sektor
perkebunan yang meliputi pemerintah, swasta dan masyarakat (Syamsulbahri,
1996; 16).
1. Perkebunan Rakyat
Perkebunan rakyat yang sering disebut juga pola swadaya menduduki
hampir 80% dari total areal perkebunan yang ada di Indonesia. Pengelolaannya
masih terbatas, dalam artian belum ada pembagian pengelolaan untuk masingmasing sistem. Untuk itu seorang petani tanaman perkebunan dapat berfungsi dan
bertindak sebagai pelaksana setiap kegiatan usahanya.
2. Perkebunan Besar
Perkebunan besar swasta dan perkebunan besar milik negara sering
disebut sebagai satu plantation atau estate dimana pengelolaannya jelas untuk
masing-masing sub-sistem, akan tetapi merupakan satu kesatuan manajemen.
Manajemen perkebunan yang meliputi manajemen tanaman, manajemen
pengolahan hasil dan manajemen pemasaran komoditi perkebunan.
Beberapa ciri dari perkebunan besar, antara lain : hamparan lahan relatif
luas, tanaman dan tata tanam yang seragam, pemakaian bibit unggul dan teknologi
relatif maju, perencanaan terinci dan pegawasan yang ketat, standarisasi
(prosedur, prestasi, hasil, mutu dan biaya), penggunaan tenaga kerja terampil atau
terlatih, disiplin dalam berbagai bidang, akomodasi pekerja di sekitar unit kerja,

Universitas Sumatera Utara

wadah organisasi dan mekanisme koordinasi. Pola organisasi perusahaan
perkebunan umumnya dapat digambarkan sebagai organisasi intern yang
mengatur hubungan antara kantor Direksi dengan kebun atau Pabrik. Atas dasar
laporan-laporan harian, bulanan serta tugas-tugas pengawasan dilakukan oleh
aparat direksi. Seluruh kegiatan administrasi kebun/pabrik dikoordinir oleh
Kantor Direksi.
3. Perusahaan Perkebunan Inti Rakyat
Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN) Direktorat Jenderal
Perkebunan mengartikan sebagai usaha pengembangan perkebunan dengan
menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing
perkebunan rakyat sekitarnya sebagai plasma dalam suatu sistem kerjasama yang
saling menguntungkan, utuh, dan berkesinambungan. Perusahaan inti merupakan
perusahaan perkebunan besar baik milik swasta maupun milik negara, sedangkan
kebun plasma merupakan areal wilayah plasma yang dibangun oleh perusahaan
inti dengan tanaman perkebunan yang diperuntukkan bagi petani peserta.
4. Perkebunan Unit Pelaksana Proyek
Unit pelaksana proyek merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan
dalam pembinaan dan pelaksanaan proyek perkebunan, setiap unit pelaksanaan
proyek perkebunan ditentukan oleh luas areal perkebunan rakyat yang dibina,
dimana pembinannya dilaksanakan mulai dari pembibitan, penanaman sampai
dengan pengolahan dan pemasaran hasil. Pembinaan dilakukan secara menyeluruh
termasuk juga peningkatan keterampilan para petani dengan mengadakan kursuskursus latihan-latihan, dan bimbingan didalam inti proyek.

Universitas Sumatera Utara

2.3 Deskripsi Minyak Kelapa Sawit
2.3.1 Deskripsi Tanaman Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis Guineensis) berbentuk pohon. Tingginya dapat
menacapai 24 meter. Akar serabut taman kelapa sawit mengarah ke bawah dan
samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar nafas yang tumbuh mengarah ke
samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun
berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak
mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan
tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah
umur 12 tahun pelepah mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi
mirip kelapa.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu hingga merah
tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul
dari tiap pelepah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak sesuai
kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas
(Free Fatty Acid: FFA) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan, yaitu:
1. Eksokarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
2. Mesokarp, serabut buah.
3. Endoskarp, cangkang pelinding inti.
Inti sawit (kernel, yang sebenarnya adalah biji) merupakan endosperma
dan embrio dengan kandungan minyak inti kualitas tinggi.

Universitas Sumatera Utara

Kelapa sawit berkembang baik dengan cara generatif. Buah sawit
matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas
(plumula) dan bakal akar (radikula).
Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15o LU – 15oLS).
Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 meter dari permukaan laut
dengan kelembapan 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan
stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan
dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan mempengaruhi
perilaku pembungaan dan produksi kelapa sawit.

2.3.2 Tipe Kelapa Sawit
Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis, yaitu: Elaeis
Guineensis dan Elaeis Oloifera. Jenis yang pertama adalah yang pertama kali dan
terluas dibudidayakan orang. Elaeis Oloifera sekarang mulai dibudidayakan pula
untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.
Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan
cangkang, yang terdiri dari:
1. Dura, merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga
dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan
buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%.
2. Pisifera, buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril
sehingga sangat jarang menghasilkan buah.
3. Tenera, merupakan persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera.
Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-

Universitas Sumatera Utara

masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya
tetap fertil. Beberapa Tenera unggul memiliki persentase daging per
buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat
mencapai 28%.

2.3.3 Hasil Tanaman Kelapa Sawit
Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin,
sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit, dan industri farmasi. Minyak
sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan
sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu
melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai
daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang
kosmetik.
Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah.
Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil)
yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya.
Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol
dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan
baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika.
Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak
berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulitnya buahnya
mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng,
sabun dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang

Universitas Sumatera Utara

disebut bungkil itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan
ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan
temperatur 90oC. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan
bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging
inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu
dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah
lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran
makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

2.3.4 Sejarah Perkebunan Kelapa Sawit
Indonesia bukanlah daerah orijin tanaman kelapa sawit. Kelapa sawit
didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848 dari
Afrika. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya
ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada
tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak
nabati akibat Revolusi Industri pada pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian
muncul ide untuk membuat perkebuanan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan
seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit ”Deli Dura”.
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan
secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet,
seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit
pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal

Universitas Sumatera Utara

perkebunan mencapai 5.123 Ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian
didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau
Panjang, Kuala Selangor, Malaysia pada 1911-1912. di Malaya, perkebunan
pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor
menggunakan benih Dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri
penanaman kelapa sawit besar-besaran dimulai pada tahun 1911.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok
utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang merosot hingga tinggal
seperlima dari angka tahun 1940.
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program
Buruh-Militer (Bumil) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok
utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan,
dipadukan dengan sistem Perkebunan Intin Rakyat (PIR-BUN). Perluasan areal
perkebuanan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi
nabati meningkat sebagai energi alternatif.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor
hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12 meter, dan merupakan
kelapa sawit tertua di asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

2.4 Aspek-Aspek Produksi
2.4.1 Pengertian Produksi
Produksi dapat didefinisikan sebagai hasil dari suatu proses atau aktivitas
ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan (input), atau sering disebut

Universitas Sumatera Utara

sebagai faktor-faktor produksi. Dengan demikian kegiatan produksi tersebut
adalah proses mengkombinasikan berbagai input untuk menghasilkan output.
(Agung, 1994; 9)
Dalam ilmu ekonomi istilah produksi mencakup jenis aktivitas yang jauh
lebih luas dibanding pengertian sehari-hari. Menurut konteks ini produksi dapat
diartikan sebagai hubungan fisik antar masukan (input) dan keluran (otput).
Pengertian seperti ini sering disebut sebagai “proses produksi”. Fungsi yang
menggambarkan keadaan seperti itu dinamakan “fungsi produksi”. Unsur-unsur
ekonomi yang berkaitan erat dengan masalah produksi ini diantaranya adalah
pendapatan sekaligus berhubungan dengan laba/rugi, biaya produksi, efisiensi,
produktivitas, dll.

2.4.2 Prinsip Ekonomi Dalam Proses Produksi
Beberapa prinsip ekonomi dalam proses produksi sebagai kebijakan
perusahaan, yaitu (Sumanjaya, 2008; 99):
1. Maksimalisasi Output
Kebijaksanaan

perusahaan

untuk

maksimalisasi

output

dinyatakan

berdasarkan kendala biaya, berarti perusahaan berupaya untuk mendapatkan
output maksimum dengan mengeluarkan biaya tertentu.
2. Minimalisasi Biaya
Kebijakan perusahaan yang berupaya untuk meminimalisasi biaya produksi
untuk tingkat output tertentu.

Universitas Sumatera Utara

3. Maksimalisasi Laba
Pengusaha memiliki kebebasan dalam penggunaan input sebagai biaya
produksi guna menciptakan produksi optimal dengan tujuan untuk
mendaptkan laba maksimum. Besarnya laba maksimum perusahaan sebagai
penjualan output adalah selisih diantara jumlah penerimaan (total revenue)
dikurangi dengan jumlah biaya (total cost).

2.4.3 Konsep Produksi
Konsep dasar teori produksi sangat diperlukan bagi berbagai pihak,
terutama pihak produsen untuk menentukan bilamana output dapat memberikan
maksimum laba. Beberapa informasi yang perlu diketahui produsen antara lain
permintaan output maupun informasi ketersediaan berbagai input guna
mendukung proses output. Demikian pula alternative penggunaan input dan
bahkan pengorbanan terhadap sesuatu output guna kepentingan output lainnya.
Keterangan ini perlu mendapat perhatian para pelaku kegiatan produksi sebagai
suatu kebijaksanaan sekaligus keputusan.
Secara umum, konsep produksi dapat dibedakan menjadi 3 bagian
(Kadariah, 1994; 100), yaitu:
1. Produk Total (Total Product)
Produk total adalah jumlah total produksi yang dihasilkan oleh sebuah
perusahaan selama kurun waktu tertentu dengan menggunakan sejumlah input
yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian produk total
ini merupakan fungsi dari input / faktor-faktor produksi yang tersedia, sehingga
besarnya sangat dipengaruhi oleh kepemilikan terhadap input yang diperlukan.

Universitas Sumatera Utara

Dalam hal ini fungsi produksi total dapat dirumuskan sebagai berikut:
TP = f (FP)
Artinya bahwa produksi total itu merupakan variabel dependen terhadap
faktor produksi (FP) yang dijadikan sebagai variabel independen, dimana:
TP = Total Product (produk total)
FP = Factor of Production (factor produksi)
2. Produksi Rata-rata (Average Product)
Produksi rata-rata adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh setiap
unit (satuan) faktor-faktor produksi. Konsep ini diperoleh dengan cara
membagikan total produksi dengan jumlah faktor prod