Gambaran Densitas Tulang Pada Pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan Tahun 2010

(1)

GAMBARAN DENSITAS TULANG PADA PEGAWAI BALAI RISET STANDARDISASI INDUSTRI MEDAN

TAHUN 2010

SKRIPSI

Oleh:

081000214

TIGANMITA ANDRIANI TARIGAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010


(2)

GAMBARAN

DENSITAS

TULANG

PADA PEGAWAI

BALAI RISET STANDARDISASI INDUSTRI MEDAN

TAHUN 2010

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh:

081000214

TIGANMITA ANDRIANI TARIGAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010


(3)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul

GAMBARAN DENSITAS TULANG PADA PEGAWAI BALAI RISET STANDARDISASI INDUSTRI MEDAN

TAHUN 2010

Yang Dipersiapkan dan Dipertahankan Oleh:

081000214

TIGANMITA ANDRIANI TARIGAN

Telah Diuji dan Dipertahankan di Hadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 08 Januari 2011

Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji

Ketua Penguji Penguji I

Dra.Lina Tarigan,Apt.MS

NIP. 19590806 198811 2001 NIP. 19791107 200501 2003 Eka Lestari Mahyuni,SKM.M.Kes Penguji II Penguji III

dr. Halinda Sari Lubis,MKKK Ir. Kalsum, M.Kes NIP. 19650615 199601 2001 NIP. 19590813 199103 2001

Medan, Desember 2010 Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara Dekan,

NIP. 1961083 1198903 1001 Dr. Drs. Surya Utama, MS


(4)

ABSTRAK Tiganmita Andriani Tarigan

Gambaran Densitas Tulang Pada Pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan Tahun 2010

ix + 45 halaman + 5 tabel + 4 gambar Kepustakaan: 26 (2001-2010)

Penelitian dengan pengukuran densitas tulang telah dilakukan pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan pada tanggal 30 November 2010. Populasi pegawai sebanyak 51 orang, dan keseluruhan populasi dijadikan sampel penelitian (total sampling).

Penelitian ini menggunakan alat densitometri ultrasound untuk mengukur

densitas tulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, nilai kepadatan (densitas) tulang dalam keadaan cukup baik, dimana 46 orang (90,2%) dalam keadaan normal, dan hanya 5 orang (9,8%) mengalami osteopenia yang terdiri dari 4 orang (7,8%) perempuan, 1 orang (2%) laki-laki, dimana kelima orang tersebut berumur > 30 tahun. Dari seluruh sampel yang diteliti tidak ada yang yang mengalami osteoporosis.

Dari gaya hidup kelima orang yang mengalami osteopenia, diperoleh 4 orang (7,8%) tidak merokok dan tidak minum alkohol,1 orang (2%) merokok dan minum alkohol. Kelima orang tersebut mengkonsumsi makanan sumber vitamin D dan Kalsium, tetapi tidak mengkonsumsi vitamin D. 3 orang (5,9%) mengkonsumsi suplemen yang mengandung Kalsium, dan 2 orang (3,9%) tidak mengkonsumsi suplemen. 3 orang berolahraga setiap hari dan 2 orang tidak berolahraga. Aktifitas di kantor pada kelima orang tersebut lebih banyak duduk dan berjalan.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada yang masih dalam keadaan normal maupun yang sudah osteopenia, agar tidak terjadi osteoporosis, harus memperhatikan gaya hidup, antara lain; olahraga secara teratur, berjemur di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari mulai pukul 07.00 hingga sebelum pukul 09.00 dan sore sesudah pukul 16.00 hingga 17.30 . Mengkonsumsi makanan sumber Kalsium dan vitamin D setiap hari.

Kata kunci: Densitas tulang. Osteoporosis. Osteopenia. Gaya hidup.


(5)

ABSTRAC Tiganmita Andriani Tarigan

Description of Bone Density Case for the Employer of Standarization Industry Medan in 2010

ix + 45 pages + 5 tables + 4 picture Literature: 26 (2001-2010)

Research with bone density measure way has done held with sample the employee of Medan Industry Standarization Research Board on November 30 , 2010. Participants on this research are 51 persons with all of population is made to be research sample ( Sampling totally ).

This research was using ultrasound densitometry to measure bone

density The result of research showed that. Bone density value is good. With persentage 46 persons ( 90, 2 % ) is in good health with normal result , and there were only 5 persons ( osteoponist , with details, 4 persons ( 7, 8 % female ) one person was male. The fifth participants is knew with range aging over 30 years old. From all of sample research,we got conclusion that there is nobody who indicated osteoporosis More details , from the fifith who indicated got osteoponia , there were 4 people as non- smoker and no-drink. Rest, a person as smoker and drink. The fifth people consumed hi Vit D sources and Calsium , but they didn’t for vit D. Three people were using food suplement with calsium ingredients ( 5, 9 % ) and two person didin’t for 3, 9 %. There were only 3 person who had practice everyday and the rest, two people didn’t. Most activity at office is concerning have a seat than walk .

Based on this research, we suggest to employees that had good health but also for people who indicated got osteopenist, to minimize osteoprosis percentage by paying more attention for our life style. We can do simple activities but have good impact to less osteoporosis case, between: Having practice regularly in the morning at 07.00- 09.00 AM ( max ) and in the evening from 16.00 – 17.30 PM. Consuming Hi Calsium and Vit D sources every single day.


(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Tiganmita Andriani Tarigan. Tempat/tanggal lahir : Tiganderket 2 Pebruari 1978. Agama : Kristen Protestan.

Status Perkawinan : Belum Menikah.

Alamat : Dusun Mawar Baru No.31 Ramunia.Kec.Pantai Labu. Kab.Deliserdang. Medan. Sumatera Utara.

Email : tiganmita@yahoo.com. Riwayat pendidikan :

Tahun Pendidikan Tempat

1985-1990 SD Negri Ramunia

1990-1993 SMP Negri Pantai Labu

1993-1996 SMA Negri Perbaungan

1997-2000 AKPER ST.Boromeus Bandung


(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan karuniaNya telah menuntun, memampukan penulis setiap saat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ” GAMBARAN DENSITAS TULANG PADA PEGAWAI BALAI RISET STANDARDISASI INDUSTRI MEDAN TAHUN 2010 ”, guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.

Pada kesempatan ini, penulis secara khusus mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dra.Lina Tarigan,Apt.MS dan Ibu Eka Lestari Mahyuni,SKM.MKes selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, waktu dan sumbangan pikiran kepada penulis.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr.Ir. Gerry Silaban,M.Kes, selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

3. Ibu dr.Halinda Sari Lubis,MKKK dan Ibu Ir.Kalsum,M.Kes, selaku dosen penguji dalam sidang skripsi.

4. Ibu Asfriyati,SKM.MKes selaku Dosen Pembimbing Akademik Penulis selama mengikuti perkuliahan di FKM USU.

5. Bapak dr.Mhd.Makmur Sinaga,MS, dan Ibu Umi Salmah,SKM.M.Kes, selaku dosen di Departemen K3.


(8)

6. Bapak pimpinan Baristand Industri Medan dan Kepala Tata Usaha Baristand Industri Medan Ibu Sripurwanti yang telah memberi izin untuk saya melaksanakan penelitian.

7. Seluruh pegawai Baristand Industri Medan yang telah rela memberi diri dan waktu pada saat pengukuran densitas tulang dan pengisian kuesioner.

8. Team density Anlene: Zulfan, Yudhi, Nila, Eprida dan Rika.

9. Teman-teman stambuk ´08 ekstensi A dan peminatan K3 atas semua kritik dan saran yang membangun penulis selama ini.

10.Buat semua pihak yang tidak tersebutkan yang telah banyak membantu, penulis ucapkan banyak terimakasih atas dukungan, kerjasama dan doa-doanya.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan membalaskan budi jasa dan memberkati kita semua. Penulis menyadari keterbatasan dan kelemahan penulis dalam penulisan skripsi ini, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Medan, Januari 2011


(9)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan ... i

Abstrak ... ... ii

Riwayat Hidup Penulis ... iii

Kata Pengantar ... ... iv

Daftar Isi ... ... vii

Daftar Tabel ... ... ix

Daftar Gambar .... ... ... x

. BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan ... 4

1.3.1. Tujuan Umum ... 4

1.3.2. Tujuan Khusus ... 4

1.4. Manfaat Penelitian... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Definisi Osteoporosis ... 6

2.2. Tulang ... 6

2.2.1. Struktur Tulang ... 6

2.2.2. Komposisi Tulang ... 7

2.2.3. Pembentukan Tulang ... 8

2.2.4. Kepadatan Tulang... 9

2.3. Proses Terjadinya Osteoporosis ... 9

2.3.1. Fase Pertumbuhan ... 10

2.3.2. Fase Konsolidasi ... 11

2.3.3. Fase Involusi... 11

2.4. Penyebab dan Faktor Risiko Osteoporosis ... 12

2.4.1. Penyebab Osteoporosis... 12

2.4.2. Faktor Risiko Osteoporosis... 14

2.5. Diagnosis ... 16

2.6. Pencegahan ... 18

2.7. Kerangka Konsep ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 23

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian... 23

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 23

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 23

3.2.2. Waktu Penelitian ... 23


(10)

3.3.1. Populasi Penelitian ... 23

3.3.2. Sampel Penelitian ... 24

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 24

3.5. Definisi Oprasional ... 24

3.6. Aspek Pengukuran ... 25

3.7. Analisa Data ... 26

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 27

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 27

4.2. Pengukuran Densitas Tulang di BARISTAND Industri Medan ... 29

4.3. Gambaran Karakteristik (Jenis Kelamin,Umur, Gaya Hidup)... 30

4.4. Hasil Pengukuran Densitas Tulang Responden ... 32

BAB V PEMBAHASAN ... 36

5.1. Hasil Pengukuran Densitas Tulang Berdasarkan Karakteristik Responden ... 36

5.2. Densitas Tulang Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur Responden 37 5.3. Densitas Tulang Berdasarkan Gaya Hidup .. ... 38

BAB VI KESIMPULAN dan SARAN ... 44

6.1. Kesimpulan ... 44

6.2. Saran ... ... 45

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Balasan Izin Penelitian di Balai Riset Standardisasi Industri Medan

Lampiran 2. Kuesioner

Lampiran 3. Hasil Kuesioner dan Pengukuran Densitas Tulang Lampiran 4. Gambar Alat Densitometri Ultrasound

Lampiran 5. Gambar Pengukuran Densitas Tulang pada Pegawai BARISTAND Industri Medan.


(11)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 4.1. Distribusi Berdasarkan Karakteristik (Jenis Kelamin, Umur)

Pegawai BARISTAND Industri Medan Tahun 2010 ... 31 Tabel 4.2. Distribusi Berdasarkan Karakteristik (Gaya Hidup) Pegawai

BARISTAND Industri Medan Tahun 2010 ... 31 Tabel 4.3. Distribusi Hasil Pengukuran Densitas Tulang pada Pegawai

BARISTAND Industri Medan Tahun 2010 ... 32 Tabel 4.4. Distribusi Hasil Pengukuran Densitas Tulang Berdasarkan

Jenis Kelamin dan Umur Pegawai BARISTAND Industri

Medan Tahun 2010 ………... 33 Tabel 4.5. Distribusi Hasil Pengukuran Densitas Tulang Berdasarkan

Gaya Hidup Pegawai BARISTAND Industri Medan Tahun

2010 ... 34


(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian... 22

Gambar 4.1. Stuktur Organisasi Balai Reset Standarisasi Medan... 28 Gambar 4.2. Alat Densitometri Ultrasound ... 29 Gambar 4.3. Pengukuran densitas tulang pada pegawai BARISTAND .... 30


(13)

ABSTRAK Tiganmita Andriani Tarigan

Gambaran Densitas Tulang Pada Pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan Tahun 2010

ix + 45 halaman + 5 tabel + 4 gambar Kepustakaan: 26 (2001-2010)

Penelitian dengan pengukuran densitas tulang telah dilakukan pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan pada tanggal 30 November 2010. Populasi pegawai sebanyak 51 orang, dan keseluruhan populasi dijadikan sampel penelitian (total sampling).

Penelitian ini menggunakan alat densitometri ultrasound untuk mengukur

densitas tulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, nilai kepadatan (densitas) tulang dalam keadaan cukup baik, dimana 46 orang (90,2%) dalam keadaan normal, dan hanya 5 orang (9,8%) mengalami osteopenia yang terdiri dari 4 orang (7,8%) perempuan, 1 orang (2%) laki-laki, dimana kelima orang tersebut berumur > 30 tahun. Dari seluruh sampel yang diteliti tidak ada yang yang mengalami osteoporosis.

Dari gaya hidup kelima orang yang mengalami osteopenia, diperoleh 4 orang (7,8%) tidak merokok dan tidak minum alkohol,1 orang (2%) merokok dan minum alkohol. Kelima orang tersebut mengkonsumsi makanan sumber vitamin D dan Kalsium, tetapi tidak mengkonsumsi vitamin D. 3 orang (5,9%) mengkonsumsi suplemen yang mengandung Kalsium, dan 2 orang (3,9%) tidak mengkonsumsi suplemen. 3 orang berolahraga setiap hari dan 2 orang tidak berolahraga. Aktifitas di kantor pada kelima orang tersebut lebih banyak duduk dan berjalan.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada yang masih dalam keadaan normal maupun yang sudah osteopenia, agar tidak terjadi osteoporosis, harus memperhatikan gaya hidup, antara lain; olahraga secara teratur, berjemur di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari mulai pukul 07.00 hingga sebelum pukul 09.00 dan sore sesudah pukul 16.00 hingga 17.30 . Mengkonsumsi makanan sumber Kalsium dan vitamin D setiap hari.

Kata kunci: Densitas tulang. Osteoporosis. Osteopenia. Gaya hidup.


(14)

ABSTRAC Tiganmita Andriani Tarigan

Description of Bone Density Case for the Employer of Standarization Industry Medan in 2010

ix + 45 pages + 5 tables + 4 picture Literature: 26 (2001-2010)

Research with bone density measure way has done held with sample the employee of Medan Industry Standarization Research Board on November 30 , 2010. Participants on this research are 51 persons with all of population is made to be research sample ( Sampling totally ).

This research was using ultrasound densitometry to measure bone

density The result of research showed that. Bone density value is good. With persentage 46 persons ( 90, 2 % ) is in good health with normal result , and there were only 5 persons ( osteoponist , with details, 4 persons ( 7, 8 % female ) one person was male. The fifth participants is knew with range aging over 30 years old. From all of sample research,we got conclusion that there is nobody who indicated osteoporosis More details , from the fifith who indicated got osteoponia , there were 4 people as non- smoker and no-drink. Rest, a person as smoker and drink. The fifth people consumed hi Vit D sources and Calsium , but they didn’t for vit D. Three people were using food suplement with calsium ingredients ( 5, 9 % ) and two person didin’t for 3, 9 %. There were only 3 person who had practice everyday and the rest, two people didn’t. Most activity at office is concerning have a seat than walk .

Based on this research, we suggest to employees that had good health but also for people who indicated got osteopenist, to minimize osteoprosis percentage by paying more attention for our life style. We can do simple activities but have good impact to less osteoporosis case, between: Having practice regularly in the morning at 07.00- 09.00 AM ( max ) and in the evening from 16.00 – 17.30 PM. Consuming Hi Calsium and Vit D sources every single day.


(15)

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

Setiap orang mempunyai hak memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, bahwa kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.1

Keberhasilan pembangunan di Indonesia, terutama di bidang kesehatan, membuat usia harapan hidup penduduk Indonesia meningkat. Masalah kesehatan yang sering dialami oleh penduduk berusia lanjut adalah osteoporosis. Penyakit

osteoporosis tidak hanya terjadi di negara-negara maju, tetapi di negara berkembang seperti Indonesia juga perlu mendapat perhatian khusus.2

Pada orang yang menderita penyakit ini tulang menjadi tipis dan rapuh dan pada akhirnya patah. Walaupun lebih banyak terjadi pada wanita, pria juga tidak luput dari penyakit ini.Osteoporosis adalah penyakit yang dicirikan oleh rendahnya massa tulang dan kemunduran struktural jaringan tulang, yang menyebabkan kerapuhan tulang.3 Osteoporosis ditandai menurunnya densitas massa tulang yang disebabkan oleh multifaktor.4

World Health Organization( WHO) memperkirakan jumlah patah tulang pada panggul karena osteoporosis akan meningkat tiga kali lipat dari 1,7 juta pada tahun 1990 menjadi 6,3 juta kasus pada tahun 2050 kelak. Data dari International Osteoporosis Foundation (IFO) menyebutkan bahwa di seluruh dunia, satu dari tiga-


(16)

wanita dan satu dari delapan pria yang berusia di atas 50 tahun memiliki risiko mengalami patah tulang akibat osteoporosis.5

Berdasarkan data dari Third National Health and Nutrition Examination Survey, yang mencakup pengukuran densitas mineral tulang pada pinggul, 20% wanita dan 5% pria berusia 50 tahun ke atas di Amerika Serikat menderita

osteoporosis. Kira-kira 250.000 kasus patah tulang pinggul terjadi setiap tahun di Amerika Serikat.6

Pakaian yang serba tertutup membuat penyerapan sinar matahari ke kulit tidak maksimal. Terlebih jika aktivitasnya lebih banyak didalam ruangan. Kulit yang tertutup berisiko kekurangan vitamin D dan osteoporosis karena asupan sinar matahari yang kurang.7 Meskipun kita yang tinggal diwilayah garis khatulistiwa selalu mendapat sinar matahari sepanjang tahun tetapi kita tetap dapat berisiko mengalami kekurangan vitamin D. Aktivitas yang sebagian besar waktunya dilakukan di ruangan tertutup, misalnya di gedung perkantoran atau pabrik yang kurang bahkan tidak mendapat sinar matahari langsung, merupakan salah satu penyebabnya.4

Ledakan kejadian osteoporosis khusus di Indonesia sendiri saat ini sebesar 20-50 % wanita diatas usia 50 tahun mengalami osteoporosis, sedangkan pada laki laki diatas usia 50 tahun yang mengalami osteoporosis sebesar 5-25 %.9

Balai Riset Standardisasi Industri Medan yang beralamat di Jln. Sisingamangaraja No.24 Medan, berperan dalam melaksanakan riset dan standardisasi serta sertifikasi di bidang industri, yang juga merupakan tugas pokoknya. Jumlah pegawai keseluruhan adalah 51 orang, terdiri dari 29 orang pegawai laki-laki dan 22 orang pegawai perempuan. Dalam melaksanakan aktivitas


(17)

dan tugasnya, lebih banyak berada di dalam ruangan, hanya pegawai bagian laboratorium ada keluar ketika mengambil sampel air dan udara.

Pegawai bekerja dari hari Senin sampai Jumat mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Istirahat pada pukul 12.00 Wib sampai pukul 13.00 WIB. Saat istirahat makan siang pegawai berada di ruangannya masing-masing, bagi yang membawa makanannya sendiri dari rumah, ada juga yang makan di warung yang lokasinya berada di luar gedung balai riset. Berdasarkan keterangan dari lima orang pegawai BARISTAND, belum pernah dilakukan pengukuran densitas tulang pada mereka.

Kata bijak “mencegah lebih baik daripada mengobati” hal ini juga berlaku untuk pencegahan osteoporosis maupun penurunan densitas (kepadatan) tulang. Seperti kita ketahui bahwa banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa dirinya bisa terancam osteoporosis. Karena muncul osteoporosis yang tidak disertai dengan gejala, resiko terkena osteoporosis semakin terbuka jika kurang memperhatikan kebutuhan nutrisi untuk tulang sehingga semakin lama osteoporosis

dapat menggerogoti massa tulang dan ancaman patah tulang pun dapat terjadi.4

Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal, merupakan tujuan pembangunan kesehatan, akhirnya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk dapat mencapai peningkatan kualitas hidup yang optimal, manusia harus berusaha dalam bentuk bekerja dan berkarya. Dalam melaksanakan kegiatan, agar kinerjanya optimal di perlukan suatu upaya lain bagi pemeliharaan kesehatan jasmani. Upaya lain ini adalah upaya kesehatan dan keselamatan kerja, yang merupakan kebutuhan pokok


(18)

bagi para pekerja.11 Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang gambaran densitas tulang pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan tahun 2010.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran densitas tulang pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan tahun 2010 ?”.

1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui gambaran densitas tulang pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan tahun 2010.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui karakteristik (jenis kelamin, umur dan gaya hidup) pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan tahun 2010.

2. Mengetahui hasil pengukuran densitas tulang pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan tahun 2010.

1.4. Manfaat penelitian

1. Sebagai bahan masukan kepada Balai Riset Standardisasi Industri Medan mengenai densitas tulang.

2. Menambah bahan informasi untuk dapat di jadikan referensi atau pengembangan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan peneliti selanjutnya terutama mengenai densitas tulang.


(19)

3. Sebagai media bagi peneliti untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman dalam penelitian di bidang kesehatan kerja, terutama mengenai densitas Tulang.


(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Osteoporosis

Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya massa tulang secara nyata yang berakibat pada rendahnya kepadatan ( densitas ) tulang. Orang-orang acap kali tidak tahu bahwa mereka menderita osteoporosis sampai ketika tulang mereka sedemikian lemah, regangan tubuh yang mendadak, persinggungan, ataupun jatuh menyebabkan patah tulang. Karena itu, tak berlebihan jika penyakit ini disebut silent disease (penyakit diam-diam).5

Osteoporosis disebut juga penyakit tulang rapuh atau tulang keropos. Di istilahkan silent disease karena sering tidak memberikan gejala hingga pada akhirnya terjadi fraktur (patah).12,13. Dengan kata lain osteoporosis adalah penyakit yang dicirikan oleh rendahnya massa tulang dan kemunduran struktural jaringan tulang, yang menyebabkan kerapuhan tulang. Bila tidak dicegah atau bila tidak ditangani, proses pengeroposan akan terus berlanjut sampai tulang menjadi patah dan penderitanya mengalami kesakitan dalam melakukan pergerakan anggota tubuhnya.3 2.2. Tulang

Untuk memahami osteoporosis, harus memahami tulang. 2.2.1. Struktur tulang

Tulang merupakan penunjang kokohnya tubuh, sebagai rangka, tulang mempunyai banyak sendi-sendi yang memungkinkan pergerakan dan juga merupakan struktur padat yang hidup, karena terdiri atas sel-sel dan jaringan tulang yang mempunyai sistem aliran darah sebagai pembawa nutrisi untuk metabolisme tulang


(21)

kedalam jaringan tulang, lalu kalsium di depositkan sehingga tulang menjadi lebih keras dan kokoh.14,15.

Selain itu, fungsi tulang juga sebagai pengungkit untuk bermacam-macam aktivitas selama pergerakan. Sebagai penyokong berat badan dan sebagai proteksi, melindungi organ tubuh yang halus seperti; otak, jantung, paru-paru, alat-alat dalam perut dan panggul. Sebagai immunologi, limposit B yang di bentuk dalam sumsum tulang di ubah menjadi sel-sel plasma.14,15. Dari keterangan di atas, ada 4 fungsi utama jaringan tulang:

1. Fungsi mekanik, sebagai penyokong tubuh dan tempat melekat jaringan otot untuk pergerakan.

2. Fungsi protektif, melindungi alat vital dalam tubuh dan juga sumsum tulang. 3. Fungsi metabolik, yaitu mengatur keseimbangan berbagai mineral tubuh, juga

sebagai cadangan dan tempat metabolisme berbagai mineral yang penting seperti kalsium dan phospat.

4. Fungsi hemopetik, berlangsungnya proses pembentukan dan perkembangan sel darah.

2.2.2. Komposisi Tulang

Komposisi tulang terdiri dari 2 bahan, yaitu:

1. Matrik yang kaya mineral (70%) sama dengan tulang yang sudah matang (bone).


(22)

a. Sel (2%):

- Sel osteoblast yaitu yang membuat matrik (bahan) tulang/ sel pembentuk tulang, merupakan sel tulang muda yang kerjanya berlawanan dengan osteoclast.

- Sel osteocyte yaitu mempertahankan matrik tulang.

- Sel osteoclast yaitu sel yang menyerap tulang atau menyerap (resorbsi) osteoid.

b. Osteoid (98%) sama dengan tulang muda yaitu matrik (bahan) tulang yang mengandung sedikit mineral.

2.2.3. Pembentukan Tulang

Pembentukan tulang manusia dimulai pada saat masih janin dan umumnya akan bertumbuh dan berkembang terus sampai umur 30 sampai 35 tahun. Jaringan tulang dibentuk oleh kristal-kristal kecil kalsium dan fosfor yang melekat dalam jaringan yang menahan serat protein. Kristal kalsium memberikan kekuatan, kepadatan dan kekerasan pada tulang. Mineral lainnya juga terdapat dalam tulang, termasuk flour, sodium, potasium, sitrat dan mineral lainnya.

Jaringan tulang secara konstan diganti, dengan membuang jaringan lama dan menggantikannya dengan jaringan baru. Proses ini dikenal dengan siklus remodeling

tulang. Remodeling tulang terjadi ketika sejumlah kecil hilang atau pecah karena sel yang dikenal dengan osteoclast. Setelah mengalami proses resorpsi, jenis sel lainnya atau osteoblast, bergerak kedaerah tulang yang hilang dan menggantikannya dengan tulang baru. Proses ini berlanjut pada bagian-bagian kecil seluruh tulang sepanjang hidup. Seluruh siklus membutuhkan 4 hingga 8 bulan atau setidaknya 3 bulan. Proses


(23)

resopsi berlangsung cepat, hanya membutuhkan 4 hingga 6 minggu, sedangkan proses pembentukan tulang baru, berlangsung lambat yang membutuhkan hingga 2 bulan untuk setiap siklus remodeling. Semua tulang akan melalui siklus perubahan tulang yang diatur oleh sistem hormonal.

2.2.4. Densitas (Kepadatan) Tulang

Kepadatan tulang adalah jumlah kandungan mineral tulang dalam setiap cm tulang yang diukur dengan alat bone densitometer. Kepadatan tulang yang rendah yaitu osteopenia dan osteoporosis. Osteopenia merupakan prediktor awal akan terjadinya osteoporosis (keropos tulang) diwaktu yang akan datang. Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Departemen dan Kesehatan bekerjasama dengan PT. Fonterra Brands Indonesia (2005) ditemukan bahwa prevalensi osteopenia di Indonesia mencapai 41,8% dan 10,3% menderita osteoporosis, sekitar 40% dari sampel berusia kurang dari 45 tahun.

2.3. Proses Terjadinya Osteoporosis

Seiring dengan bertambahnya usia, keseimbangan sistem mulai terganggu. Tulang kehilangan kalsium lebih cepat dibanding kemampuannya untuk mengisi kembali. Alasan mengapa hal ini terjadi belum jelas. Secara umum dapat kita katakan bahwa osteoporosis terjadi saat fungsi penghancuran sel-sel tulang lebih dominan dibanding fungsi pembentukan sel-sel tulang.3 Masa tulang mengalami perubahan selama hidup melalui tiga fase, yaitu:


(24)

2.3.1. Fase Pertumbuhan

Sekitar 90% massa tulang di bentuk pada fase pertumbuhan. Dimulai dini dari kehidupan janin sampai pada masa pubertas, dan hanya sedikit setelah umur 20 tahun. Adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tulang, antaralain:

1. Herediter (genetik). Tinggi badan anak secara umum tergantung dari orang tua. 2. Nutrisi. Suplai makanan yang mengandung kalsium, fosfat, protein, dan vitamin A,C,D adalah hal yang penting untuk generasi pertumbuhan tulang serta untuk memelihara rangka yang sehat.

3. Faktor-faktor endokrin.

a. Paratiroid hormon (PTH). Dalam memelihara kadar kalsium darah, sehingga merangsang terjadinya sekresi PTH dengan cara melepas kalsium kedalam darah; merangsang absorpsi kalsium dan fosfat dari usus; meresorpsi kalsium dari tubulus renalis.

b. Tirokalsitonin adalah hormon yang dihasilkan sel-sel parafolikuler dari kelenjar tiroid. Cara kerjanya menghambat resorbsi tulang.

c. Tiroksin. Bertanggung jawab dalam pertumbuhan tulang yang layak, dan kematangan tulang.

4. Persarafan. Gangguan suplai persarafan mengakibatkan penipisan tulang seperti pada kelainan poliomielitis.

5. Penyakit-penyakit mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan tulang.15


(25)

2.3.2. Fase konsolidasi

Setelah fase pertumbuhan berhenti, mulai fase konsolidasi yang berlangsung sekitar 10-15 tahun. Pada fase ini kepadatan tulang akan bertambah dan mencapai puncaknya pada usia 30-35 tahun. Keadaan ini disebut massa tulang puncak (peak bone mass). Seseorang yang mempunyai massa tulang puncak yang tinggi akan mempunyai kekuatan tulang yang cukup bila terjadi penurunan densitas tulang akibat usia, atau sakit berat.12

2.3.3. Fase involusi

Memasuki fase involusi, mulai terjadi pengurangan massa tulang sesuai dengan pertambahan usia. Pada usia 40-45 tahun, baik laki-laki maupun perempuan mulai terjadi proses penipisan massa tulang yang penyusutannya berkisar 0,3-0,5% per tahun. Penurunan massa tulang tidak sama di seluruh tulang rangka. Penurunan yang paling cepat terjadi di tulang telapak tangan, leher tulang paha, dan ruas tulang belakang. Tulang kerangka lain juga mengalami proses tersebut, tetapi berlangsung lebih lambat.12

Dalam keadaan normal, tulang kita senantiasa berada dalam keadaan seimbang antara proses pembentukan dan penghancuran. Fungsi penghancuran (resorpsi) yang dilaksanakan oleh osteoklas, dan fungsi pembentukan yang dijalankan oleh osteoblas senantiasa berpasangan dengan serasi. Fase yang satu akan merangsang terjadinya fase yang lain. Dengan demikian tulang senantiasa beregenerasi.3 Keadaan tersebut menyebabkan kepadatan massa tulang dan kekuatannya selalu tetap. Proses tersebut berbeda pada osteoporosis.


(26)

Pada osteoporosis, osteoclast bekerja lebih aktif di bandingkan dengan

osteoblas, akibatnya kepadatan tulang berkurang karena kehilangan banyak kalsium dan menyebabkan kerapuhan tulang. Tulang yang rapuh ini menjadi mudah patah karena tidak tahan pada benturan, walaupun benturan ringan sekalipun.

Keseimbangan kalsium, antara yang masuk dan keluar, juga memainkan peranan penting. Bahkan faktor penentu utama untuk terjadinya osteoporosis adalah kadar kalsium yang tersisa pada tulang. Orang-orang yang sebelumnya memiliki densitas tulang yang tinggi (tulang yang padat), mungkin tidak akan sampai menderita osteoporosis. Kehilangan kalsium yang dialami tidak mencapai tingkat dimana terjadi osteoporosis.Lebih kurang 99% dari keseluruhan kalsium tubuh kita berada di dalam tulang dan gigi. Bila kadar kalsium darah turun dibawah normal, tubuh akan mengambilnya dari tulang untuk mengisinya lagi.3

Pada osteoporosis, resorpsi tulang meningkat sehingga kepadatan massa tulang menurun. Bila massa tulang yang hilang sedemikian besarnya maka benturan ringan pun dapat menyebabkan fraktur tulang. Pada osteoporosis, tulang-tulang yang sering mengalami fraktur yaitu ruas tulang belakang, tulang paha bagian atas dan pergelangan lengan bawah.12

2.4. Penyebab dan Faktor Risiko Osteoporosis 2.4.1. Penyebab Osteoporosis

Penyebab osteoporosis dapat di klasifikasikan menjadi: 1. Osteoporosis Primer

Osteoporosisprimer dapat timbul tanpa keadaan yang mendasari (secara tiba-tiba). Bisa terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan pada segala usia. Namun,


(27)

lebih sering terjadi pada perempuan setelah menopause, sedangkan pada laki-laki terjadi di usia yang lebih tua. Tipe osteoporosisprimer terdiri dari :

Tipe 1. Osteoporosis pascamenopause

Timbul setelah haid berhenti (menopause) sebagai akibat rendahnya hormon estrogen. Tipe ini terjadi pada usia 55-70 tahun. Pada usia tersebut perempuan lebih banyak terkena osteoporosis. Fraktur yang terjadi biasanya di ruas tulang belakang dan pergelangan tangan.12

Tipe 2. Osteoporosis senilis

Timbul pada usia berkisar 70-85 tahun. Perempuan resikonya 2 kali lebih besar daripada laki-laki. Pada laki-laki timbulnya osteoporosis lebih lambat karena penurunan hormon seks yang lebih lambat. Fraktur biasanya terjadi di ruas tulang belakang, bagian leher tulang paha, dan tulang panjang (seperti tulang lengan bawah dan tulang tungkai bawah).12

Tipe 3. Osteoporosis idiopatik (juvenil)

Osteoporosis idiopatik tidak disebabkan oleh menopause atau berkurangnya hormon. Lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Gejalanya, terjadi fraktur kompresi di ruas tulang belakang pada usia 30-60 tahun, juga dapat menyerang sebelum pubertas, baik laki-laki maupun perempuan, dan dapat mengenai seluruh tulang . Tipe ini jarang sekali ditemukan, apabila terjadi, berlangsung akut selama 2-4 tahun, kemudian terjadi kesembuhan spontan tanpa pengobatan.12

2. Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis sekunder terjadi karena adanya penyakit tertentu atau akibat dari pengobatan. Kondisi yang mempengaruhi osteoporosis sekunder seperti:


(28)

1. Penyakit menahun (reumatik sendi, kencing manis).

2. Penyakit keganasan (leukemia, limfoma, metastasis kanker tulang).

3. Penggunaan obat tertentu (anti-konvulsan, antasida yang mengandung alumenium, tetrasiklin).

4. Tidak bisa bergerak total (stroke yang menyebabkan kelumpuhan, sakit berat yang lama).

5. Gangguan metabolisme kalsium (turunnya penyerapan kalsium oleh usus, gangguan metabolisme vitamin D).

6. Kelainan endokrin (kekurangan hormon estrogen, progestogen).

7. Pengangkatan kedua indung telur, atau pengangkatan sebagian lambung).12 2.4.2. Faktor Risiko Osteoporosis

Karena pola pembentukan dan resopsi tulang berbeda antar individu, para ahli memperkirakan ada banyak faktor yang berperan antara lain:

1. Perempuan

Perempuan mempunyai risiko 6 kali lebih besar dari laki-laki untuk terkena

osteoporosis primer. Disebabkan kehilangan massa tulangnya lebih cepat setelah

menopause, karena pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya sejak usia perempuan 35 tahun dan menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun. 2. Usia

Semakin lanjut usia, semakin besar kehilangan massa tulang, dan semakin besar pula kemungkinan timbulnya osteoporosis. Di samping itu, semakin tua akan semakin berkurang kemampuan saluran cerna untuk menyerap kalsium.


(29)

Ras/suku juga membuat perbedaan, seperti suku Asia cenderung memiliki kerangka tulang kecil. Orang yang rangka tulang kecil lebih sering mengalami

osteoporosis, daripada orang dengan rangka besar. 4. Keturunan Penderita Osteoporosis

Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu, seperti kesamaan perawakan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.

5. Gaya Hidup

1). Konsumsi daging merah dan minuman bersoda.

Daging merah dan minuman bersoda mengandung fosfor yang merangsang pembentukan hormon parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.

2). Minuman berkafein dan beralkohol.

Kafein akan meningkatkan pembuangan kalsium melalui urin. 3). Malas olahraga

Proses osteoblas atau pembentukan massa tulang akan terhambat bagi yang malas bergerak atau olahraga. Semakin banyak bergerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa tulang.

4). Merokok

Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang. Disamping itu,rokok juga membuat penghisapnya mengalami hipertensi, penyakit jantung dan tersumbatnya aliran darah keseluruh tubuh. Bila darah sudah tersumbat, maka proses


(30)

pembentukan tulang sulit terjadi. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang tidak akan terasa karena proses pembentukan tulang masih terus terjadi. Namun saat melewati umur 35 tahun, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti.

5). Kurang kalsium

Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.

6. Mengkonsumsi Obat

Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi bila sering dikonsumsi dalam jumlah yang tinggi akan mengurangi massa tulang, sebab kotikosteroid menghambat proses osteoblast. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis.

7. Kurus dan Mungil

Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat, karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada bagian pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna. 2.5. Diagnosis

Pemeriksaan jasmani penderita osteoporosis seringkali tidak menunjukkan kelainan yang khas, kecuali tubuh yang bungkuk dan berkurangnya tinggi badan. Untuk menegakan diagnosis, selain gejala-gejala di atas, diperlukan pemeriksaan penunjang seperti:


(31)

1. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan ini meliputi darah lengkap, albumin, fosfor, ureum, T3, T4, serum protein elektroforesis, dan urin lengkap. Juga dilakukan pemeriksaan kadar kalsium, kreatinin, dan osteokalsin untuk mengetahui secara tidak langsung adanya gangguan keseimbangan resorpsi dan pembentukan tulang. Namun tidak semua pemeriksaan di atas dilakukan mengingat harganya yang mahal.12

2. Penilaian densitas tulang

Pengukuran densitas atau kepadatan tulang adalah pengukuran kepadatan mineral seperti kalsium dengan menggunakan alat seperti: Single photon absorptio-metry (SPA) memakai sumber photon antara lain iodine125 dan pancaran photon akan menembus sejumlah jaringan mineral tulang yang akan dihitung dan dilaporkan sebagai densitas mineral. Single energy X-ray Absorptiometry (SXA) pada saat ini telah digantikan dengan Single Photon Absorptiometry (SPA) dan teknik ini digunakan untuk scanning pergelangan tangan saja sedang untuk mengukur densitas vertebra dan panggul teknik ini tidak dapat memberikan hasil secara tepat. Vertebra dan panggul hanya dapat diukur dengan tepat memakai teknik dual energy absorptiometry memakai photon (DPA) atau x-ray (DXA atau DEXA). Metoda Quantitative Ultrasound (QUS) termasuk Broad-band Ultrasound Attenuation (BUA), Speed of Sound (SOS) atau Ultrasound Velocity (UV) akhir-akhir ini telah dipasarkan dan telah dilakukan evaluasi secara luas manfaatnya untuk mengukur status tulang (osteoporosis) pada tumit dan jari. Hal yang menarik dalam pemakaian alat ini adalah pada biaya (low cost), mudah dibawa (portability) dan


(32)

tanpa radiasi, serta disamping dapat memberikan informasi mengenai massa tulang juga dapat menilai organisasi struktur tulang.

Computerised Tomography (CT) telah dipakai untuk mengukur densitas tulang baik pada tulang tangan maupun pada vertebra. Keuntungan utama metoda ini dalam mengukur densitas tulang trabekula, menunjukkan densitas tulang secara volumetrik murni, berbeda dengan DEXA yang hanya mampu memberikan densitas tulang areal. CT tidak dapat memberikan hasil yang cukup baik seperti halnya pada teknik DEXA. Kerugian teknik ini adalah adanya radiasi dan biaya pemeriksaannya mahal. Pemeriksaan densitas tulang merupakan komponen utama dan merupakan salah satu penentu dalam menegakkan diagnosis osteoporosis. Dari hasil pengukuran, dapat diperkirakan kekuatan tulang.19 Berdasarkan densitas massa tulang (pemeriksaan massa tulang dengan menggunakan alat densitometri). WHO membuat kriteria sebagai berikut :

Sumber: Medicastore.3 2.6. Pencegahan

Pencegahan dilakukan agar tidak timbul osteoporosis yaitu dengan mencegah terjadinya massa tulang yang rendah, sehingga faktor risiko osteoporosis

karena lingkungan tidak terjadi. Upaya yang diperlukan antaralain: 1). Memberi obat pengganti hormon

Normal :Nilai T pada BMD > -1

Osteopenia :Nilai T pada BMD antara -1 dan -2,5 Osteoporosis :Nilai T pada BMD < -2,5


(33)

Hormon replacement therapy (HRT) atau terapi sulih hormon bisa diberikan pada perempuan di masa perimnenopause bila dibutuhkan dan tidak ada kontraindikasi. Sewaktu haid sudah tidak teratur dan telah timbul beberapa keluhan menopause, seperti gejolak panas, badan terasa sakit, mudah marah, dan rambut rontok, pemberian HRT sudah dapat dimulai. Pemberian HRT berupa estrogen alamiah bisa di berikan selama 10-20 tahun agar tulang masih kuat walaupun usia telah lanjut.12

2). Asupan kalsium dan vitamin D yang adekuat sepanjang hidup

Jumlah kalsium pada tubuh orang dewasa sekitar 1-2 kg, dan 98% tersimpan di dalam tulang. Selain dibutukan oleh sel tubuh, kalsium juga di butuhkan untuk mencegah rapuhnya tulang. Untuk menjaga keseimbangan kalsium darah, dibutuhkan

hormon paratiroid (PTH), vitamin D dan kalsitonin. Hormon tersebut bekerja di tempat kalsium memasuki tubuh yaitu saluran cerna, tempat pembuangan kalsium yaitu urin, tinja, dan keringat, dan tempat penyimpanannya yaitu tulang.12,16

Dari tempat penyimpanannya, kalsium dapat diambil dan disimpan kembali tergantung dari kebutuhan. Kebutuhan kalsium akan meningkat pada masa pertumbuhan, kehamilan, selama menyusui, dan setelah menopause. Berkurangnya kadar kalsium darah di usia lanjut akan mengakibatkan naiknya kadar hormon paratiroid sehingga tulang melepaskan kalsium agar kadar kalsium darah tetap normal. Selanjutnya terjadi proses penipisan massa tulang dan terjadi osteoporosis.12

Kalsium dalam tubuh akan bekerja efektif setelah kulit terkena sengatan singkat radiasi sinar ultraviolet, karena paparan sinar matahari dapat merangsang produksi vitamin D. Vitamin ini berfungsi sebagai pembuka kalsium masuk kedalam


(34)

aliran darah, sampai akhirnya bersatu dengan tulang. Namun, pada umumnya orang menghindari sinar matahari karena takut menjadi hitam, sehingga diduga hal ini menjadi salah satu penyebab tingginya kasus osteoporosis di Indonesia, padahal Indonesia termasuk daerah tropis. Ditambah dengan pola hidup orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan yang kurang mendapat sinar matahari.16

Vitamin D merupakan hormon yang di butuhkan untuk penyerapan kalsium di usus. Sumber vitamin D di peroleh tubuh melalui sinar matahari dan makanan. Tubuh seseorang yang cukup mendapat sinar matahari, tidak memerlukan vitamin D dari makanan. Kulit dapat membuat vitamin D sendiri dengan bantuan sinar ultraviolet matahari. Berjemur di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari mulai pukul 07.00 hingga sebelum pukul 09.00 dan sore sesudah pukul 16.00 hingga 17.30 mencukupkan kebutuhan vitamin D. Kekurangan vitamin D kemungkinan banyak terjadi di daerah yang tidak selalu mendapat sinar matahari dan kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin D seperti; hati, kuning telur, krim, mentega, minyak ikan, ikan berlemak seperti sarden, salmon, serta belut.12,16

Berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa vitamin D dapat menyembuhkan dan mencegah riketsia, yaitu tulang tidak mampu melakukan kalsifikasi. . Kebutuhan vitamin D sehari pada orang dewasa adalah 400 IU.6,13 3). Kurangi asupan kopi, garam, dan minuman ringan

Diet tinggi kafein, fosfat dan garam (natrium) dapat mengganggu keseimbangan kalsium. Kafein akan meningkatkan pembuangan kalsium melalui urin. Makanan yang diasinkan juga mempercepat timbulnya rapuh tulang. Dalam


(35)

minuman ringan terdapat kandungan fosfat. Tingginya asupan fosfat, tanpa asupan kalsium yang cukup akan meningkatkan risiko osteoporosis.12

4). Jangan merokok dan batasi minum alkohol

Merokok dan minum alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan

osteoporosis menjadi 2 kali lipat.12 Dari hasil pemeriksaan densitas mineral tulang (DMT) didapat bahwa jumlah penderita osteoporosis usia produktif (25-34 tahun) sekitar 6%. Dimana jumlah pria lebih banyak dibandingkan perempuan. Menurut DR.Abas Basuni Jahari,MSc.,ahli gizi dari Puslitbang Gizi Depkes RI, kondisi itu di duga karena faktor gaya hidup orang muda di kota metropolitan yang tidak sehat, seperti merokok dan mengasup minuman beralkohol. Orang yang suka merokok dan konsumsi minuman beralkohol biasanya sering lupa makan, karena minuman alkohol menimbulkan efek kenyang. Kalau sudah begitu, asupan kalsium tentu saja akan berkurang.17

5). Kurangi asupan protein yang brlebihan

Makanan yang kaya protein bila di konsumsi lebih dari 120 g per hari malah akan meningkatkan pengeluaran kalsium melalui urin.12

6). Melakukan latihan fisik atau olahraga teratur

Olahraga seperti lari, naik gunung, bela diri, serta pekerjaan berat yang membangun massa otot yang telah dilakukan sejak muda akan meningkatkan massa tulang menjadi padat. Sebaliknya, tidak pernah berolahraga, sakit berat yang menyebabkan harus berbaring di tempat tidur (imobilisasi), dan pekerjaan dengan banyak duduk akan menyebabkan otot mengecil dan berkurangnya massa tulang. Karena ada hubungan langsung antara massa otot dan massa tulang.12


(36)

2.7. Kerangka Konsep

Kerangka konsepsional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

-Normal -Osteopenia -Osteoporosis

-Osteoporosis Berat Pegawai Balai Riset Pengukuran Densitas tulang

-Jenis Kelamin -Umur


(37)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif, yang bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.20 Juga menggambarkan secara objektif.21 Dalam hal ini adalah gambaran densitas tulangpada pegawai balai riset standardisasi industri medan tahun 2010.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Balai Riset Standardisasi Industri Medan Jalan Sisingamangaraja No.24 Medan, dengan alasan:

1. Belum pernah dilakukan penelitian mengenai densitas tulang pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan tahun 2010.

2. Berpotensi mengalami osteopenia dan osteoporosis.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian direncanakan berlangsung pada bulan Oktober 2010 sampai dengan Desember 2010.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi Penelitian

Populasi pada saat penelitian yaitu seluruh pegawai di balai riset standardisasi industri Medan sebanyak 51 orang, 29 orang pegawai laki-laki dan 22 orang pegawai perempuan.


(38)

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel yang diteliti yaitu seluruh pegawai di balai riset standardisasi industri Medan, sebanyak 51 orang (total sampling).

3.4. Metode Pengumpulan Data

1. Data primer, diperoleh dengan cara:

a. Wawancara menggunakan kuesioner, untuk mengetahui karakteristik pegawai.

b. Pengukuran densitas atau massa tulang dengan menggunakan alat Densitometri.

2. Data sekunder, yaitu profil dan gambaran umum Balai Riset Standarisasi Industri Medan.

3.5 Definisi Oprasional

1. Pegawai Balai Riset adalah orang atau karyawan yang bekerja di Balai Riset. 2. Jenis kelamin adalah kelompok sifat jasmani yang membedakan dua makhluk

sebagai wanita dan pria.

3. Umur adalah lama waktu hidup sejak di lahirkan sampai ulang tahun terakhir. 4. Gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari manusia di dalam

masyarakat. Dalam penelitian ini adalah gaya hidup yang dapat menjadi faktor risiko terjadi osteopenia dan osteoporosis seperti merokok, minum alkohol, tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin D dan mengandung kalsium, kurang beraktivitas dan olahraga.

5. Pengukuran densitas tulang adalah tindakan yang dilakukan untuk mengukur nilai kepadatan tulang, dengan menggunakan alat densitometri ultrasound.


(39)

6. Osteopenia adalah merupakan prediktor awal akan terjadinya osteoporosis

(keropos tulang) diwaktu yang akan datang karena adanya penurunan nilai densitas tulang.

7. Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya massa tulang secara nyata yang berakibat pada rendahnya kepadatan ( densitas ) tulang, sesuai hasil pengukuran densitas tulang.

3.6. Aspek Pengukuran

Variabel yang di ukur adalah densitas tulang atau massa tulang dengan menggunakan alat densitometri dengan penilaian sesuai kriteria penilaian WHO : : Normal Nilai T pada BMD > -1

Osteopenia Nilai T pada BMD antara -1 dan -2,5

Osteoporosis Nilai T pada BMD < -2,5

Osteoporosis berat Nilai T pada BMD -2,5 dan di temukan fraktur Pengukuran dilakukan oleh team densitas tulang PT. Anlene pada waktu jam kerja di balai riset standardisasi Medan dari pukul 10.00 WIB sampai selesai.

Cara Kerja :

Sebelum di lakukan pemeriksaan, team menyiapkan alat dan perlengkapan antaralain; alat densitometri jenis ultrasound merek Achilles Express dengan akurasi 98% , alkohol dan tissu. Pegawai yang akan diperiksa diminta data, kemudian di persilahkan duduk di kursi yang telah disiapkan tepat di depan alat ultrasoud. Bagian tumit dan mata kaki kanan disemprot alkohol dan petugas meminta pegawai menaruhnya pada alat. Alat dihidupkan, setelah tiga atau lima menit, pada monitor alat akan terbaca hasilnya. Petugas mencatat hasil dan memberi pegawai tissu untuk


(40)

melap tumit yang basah karena alkohol, serta mempersilahkan pegawai ke petugas lain dalam team untuk mendapat penjelasan mengenai pengukuran tersebut.

3.7. Analisa Data

Data yang telah terkumpul ditabulasi dan disajikan dalam tabel-tabel distribusi frekuensi kemudian dianalisa secara deskriptif untuk menjelaskan gambaran densitas


(41)

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Balai Riset Standardisasi Industri Medan berdiri pada tahun 1980 dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian RI Nomor 357/M/SK/8/1980 dan setelah mengalami beberapa kali perubahan organisasi dan tata kerja, maka terakhir sesuai Surat Keputusan Menteri Perindustrian RI Nomor 49/M-IND/PER/6/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Riset dan Standardisasi Industri (BARISTAND Industri) mempunyai tugas melaksanakan Riset dan Standardisasi serta Sertifikasi di Bidang Industri.

Berfungsi dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan teknologi industri di bidang bahan baku, bahan penolong, proses, peralatan/mesin, dan hasil produk, serta penanggulangan pencemaran industri. Penyusunan program dan pengembangan kompetensi di bidang jasa riset/litbang Perumusan dan penerapan standar, pengujian dan sertifikasi dalam bidang bahan baku, bahan penolong, proses, peralatan/ mesin, dan hasil produk. Pemasaran, kerjasama, promosi, pelayanan informasi, penyeberluasan dan pendayagunaan hasil riset/penelitian dan pengembangan. Pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan, tata persuratan, perlengkapan, kearsipan, rumah tangga, koordinasi penyusunan bahan rencana dan program, penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan BARISTAND Industri. Visi BARISTAND Industri Medan adalah menjadi lembaga yag handal dan profesional pada bidang riset dan standardisasi industri yang mempunyai Misi melakukan pengembangan usaha melalui peningkatan kemampuan Jasa Pelayanan


(42)

Teknis. Mendorong penerapan standar bagi seluruh industri khususnya IKM. Pengembangan dan penerapan teknologi penanggulangan pencemaran. Mendorong usaha-usaha pengembangan kompetensi dibidang jasa riset/litbang. Meningkatkan pelayanan ketatausahaan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan inti.

Sesuai Surat Keputusan Menteri Perindustrian RI Nomor 49/M/IND/PER/2006, BARISTAND Industri Medan mempunyai struktur organisasi sebagai berikut:

Sumber: Profil Balai Reset Standardisasi Industri Medan.22 Gambar 4.1 Stuktur Organisasi Balai Reset Standarisasi Medan.

Aktifitas di BARISTAND Industri Medan dimulai pukul 07.30 - 16.00 WIB dari hari Senin sampai Jumat. Didukung oleh 51 orang pegawai dari berbagai disiplin ilmu, yang terdiri dari 29 orang pegawai laki-laki dan 22 orang pegawai perempuan, yang mempunyai 4 (empat) lembaga pendukung yang terdiri dari Laboratorium

Ka Seksi Pengembangan

Jasa Teknis Ka Seksi

Program dan Pengembangan

Ka Seksi Standardisasi dan Sertifikasi

Ka Seksi Teknologi

Industri Kepala Baristand

Industri Medan

Kepala Sub Bagian Tata Usaha

Pegawai Fungsional


(43)

Penguji, Laboratorium Kalibrasi, Lembaga Sertifikasi Produk, yang ketiga lembaga ini berada dibawah koordinasi Kepala Seksi Standarisasi dan Sertifikasi, sedangkan Workshop Pengecoran Logam berada dibawah koordinasi Kepala Seksi Teknologi Industri. Saat istirahat makan siang pegawai berada di ruangannya masing-masing, bagi yang membawa dari rumah. Ada juga yang makan di warung yang lokasinya di luar gedung balai riset.

4.2.Pengukuran Densitas Tulang di Balai Reset Standardisasi Industri Medan Pengukuran densitas tulang di Balai Riset Standardisasi Industri Medan, dilakukan pada tanggal 30 November 2010, oleh team Bone Health Check dari PT. Anlene, yang dimulai dari pukul 10.00 sampai 13.30 WIB. Menggunakan

densitometri ultrasound dengan merk Achilles Exspress.


(44)

Gambar 4.3 Pengukuran densitas tulang pada pegawai BARISTAND

4.3. Gambaran Karakteristik (Jenis Kelamin, Umur, Gaya Hidup) Responden Responden pada penelitian ini adalah seluruh pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan yang densitas tulangnya telah diukur sebanyak 51 orang. Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi; jenis kelamin, umur, dan gaya hidup pegawai BARISTAND Industri Medan. Peneliti mengelompokkan distribusi responden seperti pada tabel di bawah ini:


(45)

Tabel 4.1. Distribusi Berdasarkan Karakteristik ( Jenis kelamin, Umur ) Pegawai BARISTAND Industri Medan Tahun 2010.

No Karakteristik Responden Jumlah Persentase 1 Jenis Kelamin:

Laki-laki 29 56,9 Perempuan 22 43,1

Total 51 100 2 Umur:

< 30 tahun 7 13,7 > 30 tahun 44 86,3 Total 51 100

Sumber: Hasil Penelitian 2010 (Hasil diolah)23

Hasil dari kuesioner berdasarkan jenis kelamin, yang paling banyak berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 29 orang (56,9%). Berdasarkan umur, yang paling banyak berumur > 30 tahun, yaitu sebanyak 44 orang (86,3%).

Tabel 4.2. Distribusi Berdasarkan Karakteristik ( Gaya Hidup ) Pegawai BARISTAND Industri Medan Tahun 2010.

No Gaya Hidup

n % n % ∑ % Ya Tidak Total .

1 Merokok 17 33,3 34 66,7 51 100 2 Minum alkohol 7 13,7 44 86,3 51 100 3 Mengonsumsi Vitamin D 15 29,4 36 70,6 51 100 4 Mengonsumsi Makanan 44 86,3 7 13,7 51 100 Sumber Vitamin D

5 Mengonsumsi Suplemen 15 29,4 36 70,6 51 100 Mengandung Kalsium

6 Mengonsumsi Makanan 45 88,2 6 11,8 51 100 Sumber Kalsium

7 Minum Kopi 16 31,4 35 68,6 51 100 8 Mengonsumsi 11 21,6 40 78,4 51 100 Minuman Bersoda

9 Olahraga Setiap Hari 14 27,5 37 72,5 51 100

10 Aktifitas di Kantor

Duduk 3 5,9 Duduk & Berjalan 39 76,5 Berdiri & Berjalan 9 17,6 Total 51 100


(46)

Hasil dari kuesioner berdasarkan gaya hidup, bahwa paling banyak adalah pegawai yang tidak merokok, yaitu 34 orang (66,7%), tidak minum minum alkohol sebanyak 44orang (86,3%), tidak mengonsumsi vitamin D sebanyak 36 orang (70,6%), mengonsumsi makanan sumber vitamin D sebanyak 44 orang (86,3%), tidak mengonsumsi suplemen mengandung vitamin D sebanyak 36 orang (70,6%), mengonsumsi makanan sumber kalsium sebanyak 45 orang (88,2%), tidak minum kopi sebanyak 35 orang (68,6%), tidak mengonsumsi minuman bersoda sebanyak 40 orang (78,4%), tidak olahraga setiap hari sebanyak 37 orang (72,5%), aktifitas di kantor paling banyak duduk dan berjalan sebanyak 39 orang (76,5%).

4.4. Hasil Pengukuran Densitas Tulang Responden

Kepadatan tulang pada pegawai BARISTAND Industri Medan tahun 2010, didapat data seperti tabel berikut;

Tabel 4.3. Distribusi Hasil Pengukuran Densitas Tulang pada Pegawai BARISTAND Industri Medan Tahun 2010.

No Kepadatan Tulang Jumlah Persentase 1 Normal 46 90,2 2 Osteopenia 5 9,8 3 Osteoporosis - - 4 Osteoporosis Berat - - Total 51 100

Sumber: Hasil Penelitian 2010 (Hasil diolah)23

Dapat dilihat bahwa kepadatan (densitas) tulang dari hasil pengukuran yang telah dilakukan yang paling banyak adalah normal, yaitu 46 orang (90,2%).

Osteopenia 5 orang (9,8%), dan tidak ada yang mengalami osteoporosis maupun


(47)

4.4.1. Densitas Tulang Berdasarkan Karakteristik (Jenis Kelamin, Umur) Sesuai dengan hasil pengukuran densitas tulang berdasarkan jenis kelamin dan umur didapat data seperti pada tabel berikut:

Tabel 4.4. Distribusi Hasil Pengukuran Densitas Tulang Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur Pegawai BARISTAND Industri Medan Tahun 2010

No Karakteristik Densitas Tulang Responden

Jumlah Presentase n % n %

Normal Osteopenia 1 Jenis kelamin:

Laki-laki 28 54,9 1 2,0 29 56,9 Perempuan 18 35,3 4 7,8 22 43,1 Total 46 90,2 5 9,8 51 100 2 Umur:

< 30 tahun 7 13,7 - - 7 13,7 > 30 tahun 39 76,5 5 9,8 44 86,3 Total 46 90,2 5 9,8 51 100

Sumber: Hasil Penelitian 2010 (Hasil diolah)23

Hasil pengukuran densitas tulang berdasarkan jenis kelamin, yang normal paling banyak pada laki-laki, sebanyak 28 orang (54,9%), sedangkan osteopenia

paling banyak pada perempuan, sebanyak 4 orang (7,8%), pada laki-laki hanya 1 orang (2,0%) osteopenia. Berdasarkan umur, yang normal paling banyak umur > 30 tahun, yaitu sebanyak 39 orang (76,5%), osteopenia sebanyak 5 orang (9,8%) ada pada umur > 30 tahun.

4.4.2. Hasil Densitas Tulang Berdasarkan Karakteristik (Gaya Hidup)

Sesuai dengan hasil pengukuran densitas tulang berdasarkan gaya hidup; diperoleh data seperti tabel berikut:


(48)

Tabel 4.5. Distribusi Hasil Pengukuran Densitas Tulang Berdasarkan Gaya Hidup Pegawai BARISTAND Industri Medan Tahun 2010

No Gaya Hidup Densitas Tulang .

Normal Osteopenia .

Total n % n % n % n % ∑ %

Ya Tidak Ya Tidak

1 Merokok: 16 31,4 30 58,8 1 2,0 4 7,8 51 100 2 Minum alkohol: 6 11,8 40 78,4 1 2,0 4 7,8 51 100 3 Mengonsumsi Vitamin D: 15 29,4 31 60,8 - - 5 9,8 51 100 4 Mengonsumsi Makanan 39 76,5 7 13,7 5 9,8 - - 51 100

Sumber Vitamin D:

5 Mengonsumsi Suplemen 12 23,5 34 66,7 3 5,9 2 3,9 51 100 Mengandung Kalsium:

6 Mengonsumsi Makanan 40 78,4 6 11,8 5 9,8 - - 51 100 Sumber Kalsium:

7 Minum Kopi: 16 31,4 30 58,8 - - 5 9,8 51 100 8 Mengonsumsi 10 19,6 36 70,6 1 2,0 4 7,8 51 100

Minutan Bersoda:

9 Olahraga Setiap Hari: 11 21,6 35 68,6 3 5,9 2 3,9 51 100

n % n % ∑ % Normal Osteopenia Total . 10 Aktivitas di Kantor:

Duduk 3 5,9 - - 3 5,9 Duduk dan Berjalan 34 66,7 5 9,8 39 76,5 Berdiri dan Berjalan 9 17,6 - - 9 17,6

Total 46 90,2 5 9,8 51 100 Sumber: Hasil Penelitian 2010 (Hasil diolah)

Hasil pengukuran densitas tulang diperoleh jumlah pegawai yang paling banyak berada dalam keadaan normal, yaitu sebanyak 46 orang (90,2%), sedangkan dalam keadaan osteopenia hanya 5 orang (9,8%). Berdasarkan gaya hidup pegawai diperoleh pegawai yang merokok mengalami osteopenia hanya 1 orang (2,0%), sedangkan yang tidak merokok tetapi dalam keadaan osteopenia, sebanyak 4 orang (7,8%), dan yang paling banyak adalah pegawai yang tidak merokok dalam keadaan normal, yaitu sebanyak 30 orang (58,8%).

Pada pegawai yang minum alkohol terdapat 1 orang (2,0%) yang mengalami


(49)

osteopenia. Jumlah pegawai paling banyak adalah dalam keadaan normal dan tidak minum alkohol, yaitu sebanyak 40 orang (78,4%). Pegawai yang mengonsumsi vitamin D tidak ada yang mengalami osteopenia, sedangkan tidak mengonsumsi vitamin D diperoleh 31 orang (60,8%) normal, 5 orang (9,8%) osteopenia. Pegawai yang mengonsumsi makanan sumber vitamin D diperoleh 39 orang (76,5%) normal, 5 orang (9,8%) osteopenia.

Pegawai yang mengonsumsi suplemen mengandung kalsium ada 3 orang (5,9%) osteopenia, sedangkan yang tidak mengkonsumsi suplemen mengandung Kalsium diperoleh 34 orang (66,7%) normal, 2 orang (3,9%) osteopenia. Pegawai yang mengonsumsi makanan sumber Kalsium diperoleh 40 orang (78,4%) normal, 5 orang (9,8%) osteopenia.

Pegawai yang minum kopi tidak ada yang mengalami osteopenia, sedangkan yang tidak minum kopi diperoleh 30 orang (58,8%) normal, 5 orang (9,8%) osteopenia. Untuk yangmengonsumsi minuman bersoda diperoleh 1 orang (2,0%) osteopenia.Tidak mengonsumsi minuman bersoda ada 36 orang (70,6%) normal, 4 orang (7,8%) osteopenia. Bagi pegawai yang olahraga setiap hari diperoleh 3 orang (5,9%) osteopenia, yang tidak berolahraga setiap hari ada 35 orang (68,6%) normal, 2 orang (3,9%) osteopenia. Pegawai dengan aktivitas di kantor duduk dan berjalan diperoleh 34 orang (66,7%) normal, 5 orang (9,8%) osteopenia.


(50)

BAB V PEMBAHASAN 5.1. Hasil Pengukuran Densitas Tulang Responden

Berdasarkan hasil pengukuran densitas tulang yang telah dilakukan pada pegawai Balai Riset Standardisasi Industri Medan tahun 2010. Menggunakan alat

densitometri ultrasound dengan merk Achilles Exspress, dengan akurasi 98%, dan juga dalam keterbatasan penelitian seperti pada; kuesioner maupun terhadap pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yang juga dapat digunakan sebagai data pendukung, tidak dilakukan pada penelitian ini, maka diperoleh hasil bahwa mayoritas pegawai dengan nilai kepadatan (densitas) tulang ada dalam kriteria normal. Pegawai yang mengalami osteopenia hanya lima orang dari seluruh pegawai yang diteliti yaitu dari 51 orang. Dari data diketahui juga, bahwa tidak ada pegawai yang mengalami osteoporosis. Walaupun yang mengalami osteoporosis tidak ada, tetapi bila pegawai tidak menjaga keadaan kesehatan tubuh seperti gaya hidup yang kurang baik seperti; kurang berolahraga, kurang terkena sinar matahari pagi sekitar pukul 07.00 sampai pukul 09.00 dan sore sesudah pukul 16.00 hingga 17.30, juga kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium maupun mengandung vitamin D.

Akibatnya keadaan normal dapat saja mengalami osteopenia dan

osteoporosis. Demikian juga dengan pegawai yang sudah mengalami osteopenia, bila tidak diperhatikan, dapat mengalami keadaan yang lebih parah yaitu

osteoporosis. Menurut Lane(2003)Osteopenia adalah suatu kondisi dimana tingkat kepadatan tulang lebih rendah dari massa tulang tertinggi (peak bone mass), dan tidak


(51)

terlalu parah dibanding osteoporosis. Osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.6 5.2. Densitas Tulang Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur Responden Pegawai di BARISTAND Industri Medan lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Hasil pengukuran densitas tulang berdasarkan jenis kelamin menunjukkan angka lebih banyak perempuan yang mengalami osteopenia daripada laki-laki. Sesuai dengan kriteria penilaian WHO yang paling banyak mengalami penurunan densitas tulang antara -1 dan -2,5 adalah perempuan. Walaupun belum mengalami osteoporosis seperti menurut Dalimartha (2002) bahwa, perempuan mempunyai resiko 6 kali lebih besar daripada laki-laki untuk terkena osteoporosis. Hal ini disebabkan masa tulang puncaknya lebih rendah dan kehilangan masa tulangnya yang lebih cepat setelah manopuse.12

Data penelitian menunjukkan bahwa 80% penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termaksud wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi.9 Meskipun penyakit osteoporosisi lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat.24

Pada penelitian ini, umur pegawai dikelompokkan menjadi dua kelompok umur, yaitu < 30 tahun dan > 30 tahun, dimana diperoleh hasil paling banyak adalah


(52)

pegawai umur > dari 30 tahun. Hasil pengukuran densitas tulang berdasarkan umur menunjukkan bahwa mayoritas pegawai berumur diatas 30 tahun, dengan nilai

densitas tulang dalam keadaan normal lebih banyak daripada yang sudah mengalami penurunan nilai kepadatan tulang ( osteopenia). Osteopenia umur > 30 tahun dan lebih besar risiko mengalami osteoporosis, sesuai pernyataan Dalimartha (2002) bahwa, semakin lanjut usia seseorang semakin besar kehilangan masa tulangnya dan semakin besar pula kemungkinan timbulnya osteoporosis. Disamping itu, semakin tua akan semakin berkurang pula kemampuan saluran cerna untuk menyerap kalsium.12 Hasil penelitian juga selaras denagan penelitian DEPKES pemeriksaan densitometer sonografi pada 16 wilayah di Indonesia, seseorang dengan osteopenia terjadi sebesar 41,7% pada wanita usia > 55 tahun, dengan kejadian osteopenia wanita 6 (enam) kali lebih tinggi dibandingkan pria dan osteoporosis 2 (dua) kali dibandingkan pria.9

Hasil penelitian pada pegawai yang mengalami osteopenia dan pegawai yang berumur sama tetapi dalam keadaan normal dapat saja terjadi, hal itu dimungkinkan karena di luar faktor umur, sehingga nilai densitas tulang menurun, seperti faktor gaya hidup yang juga dapat mempengaruhi kepadatan tulang.

5.3. Densitas Tulang Berdasarkan Gaya Hidup Responden

Pegawai yang mengalami osteopenia lebih banyak yang tidak merokok. Hal ini dapat dimungkinkan karena 4 orang tersebut sering menghirup asap rokok atau dengan kata lain menjadi perokok pasif. Penelitian ini tidak sejalan dengan pernyataan Fachry Ambia Tanjung, Ketua Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) Jawa Barat, mengatakan perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena


(53)

zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar aktivitas estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pengeroposan.25 Menurut Hartono (2001), bahwa penelitian yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Norwegia selama 10 tahun (1987-1997) menunjukkan bahwa jika seseorang memiliki kebiasaan merokok satu batang sehari, dalam satu bulan diperhitungkan terjadi penurunan massa tulang sebesar 0,004%. Apabila ada empat batang rokok yang diisap dalam tempo waktu yang sama, penurunan massa tulang akan meningkat dua belas kali atau menjadi 0,048%. Kelihatannya tidak begitu besar, akan tetapi patut diingat, jika terjadi dalam waktu yang lama, tentunya kerugian yang muncul akan besar pula. Sayang sekali, penelitian tersebut tidak mengkaji faktor si perokok pasif, orang yang secara tidak sengaja mengisap asap rokok dari lingkungan sekitar. Padahal, justru merekalah yang paling banyak jumlahnya.5

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan osteopenia pada yang minum alkohol lebih sedikit daripada yang tidak minum alkohol. Hal ini berarti osteopenia

yang dialami empat responden tersebut sama sekali bukan karena faktor alkohol. Namun faktor alkohol menjadi faktor risiko pada satu orang yang mengalami

osteopenia kemungkinan ada. Selaras dengan Lane (2003) bahwa konsumsi alkohol dapat secara langsung meracuni jaringan tulang atau mengurangi massa tulang melalui nutrisi yang buruk karena peminum berat biasanya tidak mengkonsumsi makanan yang sehat.6 Menurut Dr. Linda Shanbern dari Universitas Texas, pada dinding dalam lambung terjadi luka-luka kecil dalam waktu waktu singkat, hanya 30 menit setelah mengkonsumsi alkohol. Kerusakan dapat pulih dalam waktu 24-72 jam.


(54)

Kerusakan akan terulang ketika alkohol kembali diminum. Adanya luka-luka kecil yang menahun pada lambung akan mengakibatkan perdarahan dilambung. Meskipun kecil bentuk lukanya, karena berjalan dalam waktu yang lama, jumlah darah yang keluar cukup banyak. Padahal senyawa kalsium banyak juga terdapat dalam komponen darah. Karena kebutuhan kalsium tidak bisa ditunda-tunda lagi sementara pasokan dari luar rendah dan diperberat oleh pengeluaran akibat perdarahan dilambung, tabung kalsium dalam tulang harus dibongkar. Jelas pengeroposan tulang menjadi ancaman.5

Hasil pengukuran densitas tulang berdasarkan mengkonsumsi vitamin D dan makanan sumber vitamin D, pada pegawai yang mengalami osteopenia paling banyak adalah tidak mengkonsumsi vitamin D, tetapi mengkonsumsi makanan sumber vitamin D. Osteopenia terjadi dimungkinkan karena faktor umur dan kurang terkena sinar matahari. Menurut Almatsier (2010), absorpsi vitamin D pada orang tua kurang efisien bila kandungan kalsium makanan rendah.26 Menurut Hartono (2001), bahwa vitamin D banyak terletak dibawah kulit. Akan diaktifkan dan berfungsi seperti yang diharapkan dengan bantuan sinar matahari yang banyak mengadung ultraviolet. Jadi kekurangan vitamin D tidak perlu terjadi asalkan kulit cukup terkena sinar matahari. Masalahnya, kemampuan memproduksi vitamin D melalui kulit berkurang dengan bertambahnya usia. Disinilah perlunya tambahan makanan yang cukup mengandung vitamin D seperti susu dan produk olahannya, kuning telur, dan ikan laut.5

Hasil pengukuran densitas tulang berdasarkan mengkonsumsi suplemen yang mengandung kalsium dan makanan sumber kalsium, didapat data, bahwa


(55)

kelima orang yang mengalami osteopenia, 3 orang (5,9%) mengkonsumsi suplemen yang mengandung kalsium, 2 orang (3,9%) tidak mengkonsumsi. Tetapi kelima orang tersebut mengkonsumsi makanan sumber kalsium. Walaupun mereka mengkonsumsi suplemen dan makanan sumber kalsium, tetap mengalami osteopenia, hal itu dimungkinkan karena faktor umur,kurang vitamin D dalam tubuh, dan mengkonsumsi garam yang berlebihan.

Penelitian ini sejalan dengan Lane (2003), bahwa ketika orang bertambah tua, kemampuan untuk menyerap kalsium dari sistem usus perut (gastrointestinal) menurun. Selain itu, dengan bertambahnya usia, baik pria maupun wanita sama-sama mengalami kemerosotan laktosa, enzim yang dibutuhkan untuk mencerna susu, sehingga hanya sedikit kalsium yang dapat diserap. Peranan kekurangan kalsium pada osteoporosis harus dipertimbangkan bersama kekurangan vitamin D.6 Juga Dalimartha (2002) mengatakan, vitamin D dibutuhkan untuk penyerapan kalsium di usus. Dengan bertambahnya usia, penyerapan kalsium di usus akan terganggu karena berkurangnya vitamin D dan enzim pencernaan (laktase), rendahnya pengeluaran asam lambung, dan berkurangnya kemampuan usus mengangkut kalsium. Berkurangnya kadar kalsium darah diusia lanjut akan mengakibatkan naiknya kadar hormon paratiroid sehingga tulang melepaskan kalsium agar kadar kalsium darah tetap normal. Selanjutnya, terjadi proses penipisan massa tulang dan terjadi

osteoporosis.12 Sedikit sekali yang tahu bahwa konsumsi garam yang tinggi juga akan merugikan kesehatan tulang. Garam (natrium) akan memaksa kalsium keluar dari tubuh melalui air kencing secara berlebihan.5


(56)

Pegawai yang mengalami osteopenia pada penelitian ini tidak minum kopi. Berarti penelitian ini tidak sejalan dengan pernyataan beberapa peneliti yang telah mendapati bahwa orang yang mengkonsumsi banyak kafein memiliki resiko tinggi mengalami osteoporosis. Berarti osteopenia yang dialami dimungkinkan karena faktor umur dan kurang kalsium dalam tubuh, bukan karena kafein, seperti menurut Lane (2003), penelitian terbaru terhadap wanita lanjut usia mendapati bahwa konsumsi kafein yang tinggi mengakibatkan massa tulang yang rendah pada usia mereka, tapi jika mendapatkan jumlah kalsium yang memadai, massa tulang mereka tetap normal. Jika minuman yang mengandung kafein menggantikan kalsium, maka kekurangan kalsium menjadi penyebab berkurangnya, bukan kafein.6 Pada pegawai dengan osteopenia, paling banyak tidak mengonsumsi minuman bersoda. Hal itu dimungkinkan karena faktor lain selain minuman bersoda(fosfor). Seperti menurut Lane (2003) mengatakan, masih belum memahami dengan pasti bagaimana ketidak seimbangan fosfor dan kalsium dapat mengurangi masa tulang. Kemungkinannya adalah makanan yang kaya akan fosfor dapat meningkatkan hormon parathyroid (yang mengeluarkan kalsium dari tulang) dan menyebabkan kalsium dikeluarkan melalui urine.6

Dari data olahraga setiap hari dan aktifitas responden di kantor, bahwa pegawai yang tidak berolahraga lebih banyak dibandingkan yang berolahraga, sementara yang osteopenia tiga orang berolahraga dan hanya dua orang tidak berolahraga. Sementara aktifitas dikantor pada responden yang mengalami

osteopenia adalah lebih banyak duduk dan berjalan. Walaupun responden berolahraga dan beraktifitas, osteopenia yang dialami responden dimungkinkan karena olahraga


(1)

6.2. Saran

Pada hasil yang diperoleh pada penelitian ini, menggambarkan ukuran densitas tulang pada pegawai Baristand Industri Medan tahun 2010 , maka disarankan

kepada yang masih dalam keadaan normal maupun yang sudah osteopenia, agar tidak

terjadi osteoporosis, harus memperhatikan gaya hidup, terutama untuk:

1. Olahraga secara teratur.

2. Berjemur di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari mulai pukul

07.00 hingga sebelum pukul 09.00 dan sore sesudah pukul 16.00 hingga

17.30.

3. Tetap mengonsumsi makanan sumber Kalsium dan sumber vitamin D setiap

hari agar kebutuhan kalsium dan vitamin D tercukupi dalam tubuh setiap


(2)

DAFTAR PUSTAKA

1. Zulmiar.2002.Himpunan Peraturan Perundangan Kesehatan Kerja. ISBN- 979-95839-0-x.Sekretariat ASEAN-OSHNET.Jakarta.

2. Yulina,dkk.2005.Pengonsumsian Susu Berkalsium Tinggi Pada Penyakit Osteoporosis.Jurnal Saintifika Gadjah Mada.Vol.2,No.1.Jogjakarta.

3. Medicastore.2010.Patofisiologi Osteoporosis.

Diakses 10-8-2010.

4. Admin.2010.Pencegahan Dini Osteoporosis.Jakartapress.Com.

Diakses 10-8-2010.

5. Hartono.2001.Mencegah dan Mengatasi Osteoporosis.Puspa Swara.Jakarta. 6. Lane.2003.Osteoporosis.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta

7. Nurul.2010.Wanita Berjilbab Harus Banyak Kena Matahari.

8. Diana.2010.Makanan Bersinergi Penyakit Pergi.Kompas.

Diakses 1-7-2010.

9. Ari.2008.PEROSI (Prhimpunan Osteoporosis Indonesia) Ke-3, Hotel Sahid Jaya Makassar, 7-9 November 2008.

10. TvOne.2009.Kabar Nasional.Jakarta.

Diakses 15-7-2010.

11. DEPKES RI.2005.Pedoman Upaya Kesehatan Kerja Bagi Petugas

Kesehatan Kabupaten/Kota.Pusat Kesehatan Kerja.Jakarta.

12. Dalimartha.2002.Resep Tumbuhan Obat Untuk Penderita Osteoporosis.

.Penebar Swadaya.Jakarta.

13. Hamzah.2008.Mengenal Penyakit Reumatik.


(3)

14. Cameron.2006.Fisika Tubuh Manusia.EGC.Jakarta.

15. Syaifudin.2001.Fungsi Sistem Tubuh Manusia.Widya Medika.Jakarta. 16. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat.2010.Gizi Dan Kesehatan

Masyarakat.FKM UI.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta. 17. Defrimardinsyah.2010.Rokok Dan Alkohol.Artikel Kesehatan.

18. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007 Edisi Ketiga. Balai Pustaka. Jakarta.

19. Sri.2007.Hubungan Asupan Kalsium,Aktivitas Fisik,Paritas,Indeks

Massa Tubuh Dan Kepadatan Tulang Pada WanitaPascamenopause. Tesis.Program Pascasarjana UniversitasDiponegoro.Semarang. Diakses 10-8-2010.

20. Nazir.2005.Metode Penelitian.Ghalia Indonesia.Bogor.

21. Soekidjo.2005.Metodologi Penelitian Kesehatan.Rineka Cipta.Jakarta. 22. Profil Balai Riset Standardisasi Indusri Medan.

23. Hasil Penelitian Densitas Tulang Pada Pegawai BARISTAND Industri Medan 2010

24. Judi.2009.Kiat Mencegah Osteoporosis.

http/judichong.wordpress.com/2009/osteoporosis Diakses 1-7-2010.

25. Kapan Lagi.com.2006.Merokok Tingkatkan Risiko Osteoporosis.

Diakses 1-7-2010.


(4)

DAFTAR KUESIONER PENELITIAN

GAMBARAN OSTEOPOROSIS PADA PEGAWAI BALAI RISET STANDARDISASI INDUSTRI MEDAN TAHUN 2010

1 . Nama Pegawai :

I.DATA UMUM

2. Jenis Kelamin :

3. Umur :

Berilah tanda ( v ) pada kolom jawaban !

II. DATA GAYA HIDUP

No Pertanyaan Jawaban

1.Ya 2.Tidak

4 Anda merokok ?

5 Anda minum alkohol ?

6 Anda mengkonsumsi vitamin D?

7 Anda mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin D

seperti; 1.keju ___________________________________ 2.telur ___________________________________________ 3.margarine _______________________________________ 4.hati _________________________________________ 5.susu sapi ______________________________________ 6.krim _________________________________________ 7.yogurt ————————————————————

____ ____ ____ ____ ____ ____

_____ _____ _____ _____ _____ _____


(5)

No Pertanyaan Jawaban 1.Ya 2.Tidak

9 Anda mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium

seperti;1.udang____________________________________ 2.teri kering ______________________________________ 3.tepung susu ____________________________________ 4.sardines (kaleng) _________________________________ 5.kacang-kacangan ________________________________ 6.bayam ________________________________________ 7.sawi _________________________________________ 8.daun melinjo __________________________________ 9.katuk ________________________________________ 10.selada air

____ ____ ____ ____ ____ ____ ____ ____ ____

_____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____

10 Anda suka minum kopi?

11 Anda suka mengkonsumsi minuman bersoda ?

12 Anda berolahraga setiap hari ?

13 Aktivitas Anda di kantor lebih banyak melakukan :

1. duduk. _______________________________________ 2. duduk dan berjalan. _____________________________ 3. berdiri dan berjalan

____ ____

_____ _____


(6)

Hasil Kuesioner dan Pengukuran Densitas Tulang

Ket : Thn= Tahun, R= Responden, L= Laki-laki, P= Perempuan, Y= Ya, T= Tidak, D= Duduk DB= Duduk & Berjalan, BB=

No 1 2 3

(Thn)

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Keterangan

1 R1 L 46 Y T T T T T Y T T DB -1,0 Osteopenia

2 R2 P 32 T T Y Y Y Y T T T DB 0,1 Normal

3 R3 P 50 T T T Y T Y T T Y DB -0,5 Normal (M)

4 R4 P 47 T T T Y Y Y T Y T DB 0,9 Normal (M)

5 R5 P 53 T T T Y T T T T Y DB 0,1 Normal (M)

6 R6 L 49 T T T T T T T T T DB 0,3 Normal

7 R7 L 55 Y Y T Y T Y Y Y T DB -0,8 Normal

8 R8 P 50 T T Y Y Y Y T T T DB 0,7 Normal

9 R9 L 51 T T T Y Y T T T T DB 1,6 Normal

10 R10 L 48 Y Y T Y Y Y T T Y DB -0,8 Normal

11 R11 L 55 Y Y T Y T Y Y T T DB 1,5 Normal

12 R12 P 25 T T T Y T Y T Y T BB 0,7 Normal

13 R13 L 55 Y T T T T Y Y T T DB -1,8 Osteopenia

14 R14 L 51 T T Y Y T Y T T Y DB 0,2 Normal

15 R15 P 48 T T Y Y T Y T T Y DB 0,4 Normal (M)

16 R16 L 55 T T T T T Y Y T Y BB 1,1 Normal

17 R17 P 50 T T Y Y Y Y Y T Y DB -1,0 OsteopeniM)

18 R18 L 51 Y Y Y Y T Y T T T DB 0,1 Normal

19 R19 L 53 T T Y Y Y Y T T Y BB -0,1 Normal

20 R20 L 48 Y Y Y Y T Y T T T DB 1,0 Normal

21 R21 P 40 T T T Y T Y T T T D 0,5 Normal

22 R22 L 53 Y T Y Y T Y Y T T DB 0,1 Normal

23 R23 L 41 Y T T Y T Y Y Y T DB 1,2 Normal

24 R24 L 51 Y T T T T Y Y T T DB 0,6 Normal

25 R25 P 52 T T T Y Y Y T T T DB 0,1 Normal (M)

26 R26 L 25 Y T T Y T Y Y Y T D 0,3 Normal

27 R27 P 50 T T Y Y Y Y T T T DB 1,6 Normal (M)

28 R28 L 49 Y Y T Y T Y Y Y Y D 0,2 Normal

29 R29 L 49 T T Y Y T Y T T T D 0,7 Normal

30 R30 L 24 Y T T Y T Y Y Y T DB 0,8 Normal

31 R31 P 48 T T T Y T Y Y T T DB 1,5 Normal (M)

32 R32 L 30 Y T T Y T T T T Y D 0,7 Normal

33 R33 P 41 T T Y Y Y Y T T T DB -0,6 Normal

34 R34 P 46 T T T Y T Y Y T T DB -0,6 Normal

35 R35 P 55 T T T Y T Y T Y Y DB 0,6 Normal (M)

36 R36 P 50 T T Y Y Y Y T T T D -0,9 Normal (M)

37 R37 L 55 T T T Y T Y T T T DB -0,9 Normal

38 R38 P 24 T T T Y T Y T T T DB 0,8 Normal

39 R39 P 52 T T T Y Y Y T T T DB 0,7 Normal (M)

40 R40 L 54 T T T T Y T T T Y D 1,3 Normal

41 R41 P 46 T T T Y T Y Y Y T D -0,1 Normal

42 R42 P 45 T T T Y T Y T T T DB -1,0 Osteopenia

43 R43 L 26 T T Y T Y Y T T T DB 1,2 Normal

44 R44 L 54 T T T Y T Y T T T DB -0,2 Normal

45 R45 L 50 Y T T Y T Y T Y T DB 0,2 Normal

46 R46 P 30 T T T Y T Y T T Y DB 1,7 Normal

47 R47 L 51 T T T Y T Y T T Y D 1,7 Normal

48 R48 L 33 Y T T Y T Y Y Y T DB -0,6 Normal

49 R49 L 52 Y Y T Y T Y T T T DB -1,6 Osteopenia

50 R50 L 51 T T Y Y T Y T T T DB 0,1 Normal