Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah

ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN SYARIAH

TESIS

Oleh

KOMIS SIMANJUNTAK
017005020/HK

 
 

 
 
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

 
ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN SYARIAH

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum
dalam Program Studi Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

Oleh

KOMIS SIMANJUNTAK
017005020/HK

 
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

 
Judul Tesis
Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

: ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN
SYARIAH
: Komis Simanjuntak
: 017005020
: Ilmu Hukum

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. H. Abdullah Syah, M.A)
Ketua

(Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, M.A)
Anggota

Ketua Program Studi

(Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H)

(Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H)
Anggota

Dekan

(Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum)

Tanggal lulus : 26 Mei 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal 26 Mei 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

: Prof. Dr. H. Abdullah Syah, M.A

Anggota

: 1. Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, M.A
2. Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H
3. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum
4. Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum

Universitas Sumatera Utara

 

ABSTRAK

Sebagai wujud sikap kehati-hatian bank dalam melakukan penyaluran dananya
melalui skim pembiayaan melalui bagi hasil ini, sebelum memberikan kredit atau
pembiayaan, bank syari’ah harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak,
kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur. Kelima unsur
tersebut yang sering disebut 5C perkreditan (character, capital, capacity, collateral dan
condition of economy). Pada kenyataannya, jaminan sangat menentukan tingkat keamanan
pembiayaan yang disalurkan oleh bank. Di samping itu, keberadaan agunan menjadi sangat
penting, dan hal ini berhubungan dengan filosofi dasar dari dana bank sebagaimana
disinggung di atas, yaitu bahwa dana bank adalah dana nasabah, dana masyarakat, yang oleh
karenanya harus dilindungi dan digunakan secara sangat hati-hati.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode
penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu suatu
penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis didalam buku (law as it is written in
the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is
decided by the judge through judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian
ini didasarkan data sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan
analisis normatif-kualitatif.
Konsep jaminan dalam hukum Islam (fiqh) dibagi menjadi dua; jaminan yang berupa
orang (personal guaranty) dan jaminan yang berupa harta benda. Jaminan yang berupa orang
sering dikenal dengan istilah dlaman atau kafalah, sedangkan jaminan yang berupa harta
benda dikenal dengan istilah rahn. Kafalah diartikan menanggung atau penanggungan
terhadap sesuatu, yaitu akad yang mengandung perjanjian dari seseorang di mana padanya
ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang lain, dan berserikat bersama orang lain itu dalam
hal tanggung jawab terhadap hak tersebut dalam menghadapi penagih (utang), sedangkan arRahn, yaitu menyimpan suatu barang sebagai tanggungan hutang. Urgensi jaminan dalam
produk pembiayaan syariah yakni jaminan tersebut untuk memberikan kepastian bahwa dana
tersebut dapat dikembalikan, atau setidaknya bank tidak akan mengalami kerugian yang
terlalu besar, jika misalnya ternyata hanya dapat mengeksekusi agunan atau jaminan yang
telah diberikan, karena penerima fasilitas pembiayaan bertindak semaunya atau asal-asalan
dalam menjalankan usaha bisnisnya. Penerapan jaminan pada perbankan syariah mutlak tidak
dapat dihindari. Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkan
adanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagi mereka
permohonan jaminan oleh pihak perbankan pada penerima fasilitas pembiayaan adalah tidak
sekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinya modal yang dipinjam, namun untuk
meyakinkan bahwa penerima fasilitas pembiayaan benar-benar melaksanakan segala sesuatu
yang telah disepakati dalam kontrak. Dengan demikian, hal ini tentunya belum berdasarkan
apa yang dikenal dalam Hukum Islam, melainkan masih sama dengan yang diatur dalam
Hukum Jaminan Hak Tanggungan dan Fidusia.
 
Kata Kunci : Konsep Jaminan, Hukum Islam

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
As a form of prudential behavior of banks in channeling of funds through
financing schemes through this sharing, before granting credit or financing, shariah
bank must conduct a thorough assessment of the character, ability, capital,
collateral, and business prospects of the Debtors. The five elements are often called
credit 5C (character, capital, capacity, collateral and condition of the economy). In
fact, the guarantee is to determine the level of security provided by bank financing. In
addition, the presence of collateral becomes very important, and this corresponds to
the basic philosophy of bank funds, as mentioned above, namely that the bank funds
are customer funds, public funds, which therefore must be protected and used very
carefully.
The method used in this research is normative. Normative research method
known as doctrinal studies (doctrinal research) is a study that analyzed the law both
written in the book (law as it is written in the book), or the law that was decided by
the judge through the court process (law it is decided by the judge through judicial
process). Normative legal research in this study based on secondary data and
emphasize steps speculative-theoretical and normative analysis-qualitative.
The concept of security in Islamic law (fiqh) is divided into two; guarantee
that a person (personal Guaranty) and collateral in the form of property. Assurance
that such people are often known by the term dlaman or kafalah, while the collateral
in the form of property known as the rahn. Kafalah interpreted or bear responsibility
for something, namely contract containing the agreement of a person where it is right
that must be met for others, and association with others, in terms of responsibility for
those rights in the face of collectors (debt), while ar- Rahn, ie save a good as
mortgage debt. Urgency warranties in Islamic financing products that guarantee is to
provide assurance that these funds can be returned, or at least the banks will not
experience losses that are too large, if for example it turns out only to execute
collateral or guarantees which have been given, because the recipients of financing
facilities to act arbitrarily or origin at random in running their business. Application
of absolute security in Islamic banking can not be avoided. Statement of context
mudarabah jurists who do not allow the existence of collateral does not seem to
respond by Islamic banks, because of their application for collateral by the banks on
financing facilities recipient is not merely intended to ensure the return of borrowed
capital, but to ensure that recipients of financing facilities is really implementing
everything that had been agreed in the contract. Thus, it is certainly not based on
what is known in Islamic law, but still the same as those stipulated in the Law of
Guarantee Mortgage, and Fiduciary.
Key Words : The concept of security, Islamic law
 
 

Universitas Sumatera Utara

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis Panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat dan kasih karunia-Nya sehingga Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik dan
tepat pada waktunya. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk mencapai
gelar Magister Hukum pada Program Studi Magister Ilmu Hukum pada Fakultas
Hukum Univesitas Sumatera Utara, Medan.
Adapun judul Tesis penelitian ini adalah: “ ASPEK HUKUM JAMINAN
DALAM PERBANKAN SYARIAH”. Di dalam menyelesaikan Tesis ini, penulis
banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran, bimbingan dan arahan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat para pembimbing : Prof. Dr.
H. Abdullah Syah, MA., Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, MA., Prof. Dr. Bismar
Nasution, SH, MH., di tengah-tengah kesibukannya masih tetap meluangkan
waktunya untuk memberikan bimbingan, petunjuk, dan mendorong semangat penulis
untuk menyelesaikan penulisan Tesis ini.
Perkenankanlah juga, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian studi ini, kepada:

Universitas Sumatera Utara

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,
DTM&H, MSc (CTM), SpA(K) diberikan kepada penulis untuk mengikuti
dan menyelesaikan pendidikan.
2. Dekan Fakultas Hukum Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, atas kesempatan
menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
3. Ketua Program Studi Ilmu Hukum Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, atas
kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum, sebagai Komisi Penguji yang telah
meluangkan waktunya dan dengan penuh perhatian memberikan dorongan,
bimbingan, saran kepada penulis.
5. Dr. Mahmul Siregar, SH, M.Hum., sebagai Komisi Penguji yang telah
meluangkan waktunya dan dengan penuh perhatian memberikan dorongan,
bimbingan, saran dan masukan yang sangat penting kepada penulis.
6. Kepada Kedua Orang Tua tercinta Almarhum Ayahanda Jasitambul Pohan,
Almarhumah Ibunda Sitiasmi Siregar yang semasa hidupnya mendidik dengan
penuh rasa kasih sayang.
7. Istri tercinta Hj. Yusnah Kosim, SH serta buah hatiku Puan Fadillah, Daffa Al
Kautsar dan Annisa Ulina yang penuh rasa kasih sayang dan senantiasa
memberi semangat dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan
penulisan Tesis ini

Universitas Sumatera Utara

8. Kepada Kakak Hj. Jubaidah, Abang, Saidi, Soheh, dan Adik Sarbawati,
Penulis sayangi atas kesabaran dan pengertiannya serta memberikan Doa dan
semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan Tesis ini.
9. Keluarga besar almarhum H. Muhammad Kosim dan Almarhumah Hj. Siti
Poni yang senantiasa memberikan dorongan kepada penulis
10. Kepada Rekan-rekan di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sumatera
Utara, Beserta seluruh Staff Ilmu Hukum terima kasih atas segala bantuan
selama penulis mengikuti perkuliahan, semoga Allah S.W.T membalas
kebaikan yang berlipat ganda, dan rekan-rekan kerja saya yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
Akhirnya penulis berharap semoga Tesis ini dapat memberi manfaat dan pada
kesempatan ini penulis menyampaikan permintaan maaf yang tulus jika seandainya
dalam penulisan ini terdapat kekurangan dan kekeliruan, penulis juga menerima kritik
dan saran yang bertujuan serta bersifat membangun untuk menyempurnakan
penulisan Tesis ini.

Medan,

Mei 2011

Penulis,

Komis Simanjuntak

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Nama

:

Komis Simanjuntak

Tempat/Tanggal Lahir

:

Sibangkua, 19 Mei 1966

Jenis Kelamin

:

Laki-laki

Agama

:

Islam

Pekerjaan

:

Dosen

Alamat

:

Jl. Imam Bonjol No.274 Kisaran

Pendidikan

:

SD Negeri 142 486 Sibangkua Tamat Tahun 1980
SMP Negeri 3 Padang Sidimpuan tamat Tahun
1983
SMA Negeri 1 Padang Sidimpuan Tamat Tahun
1986
Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara Tamat Tahun 1993
Strata Dua (S2) Program Studi Ilmu Hukum
Universitas Sumatera Utara Tamat Tahun 2011

 
 
 
 
 
 
 

Universitas Sumatera Utara

 

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ……………………………………………………………………… i
ABSTRACT ........................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR........................................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP …………………………………………………………… .. vi
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii
BAB I

PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Permasalahan .................................................................................. 9
C. Tujuan Penelitian ............................................................................ 9
D. Manfaat Penelitian .......................................................................... 9
E. Keaslian Penelitian.......................................................................... 10
F. Kerangka Teori dan Konsepsi......................................................... 11
1. Kerangka teori........................................................................... 11
2. Konsepsi.................................................................................... 19
G. Metode Penelitian ........................................................................... 22

BAB II

KONSEP JAMINAN MENURUT HUKUM ISLAM......................... 27
A. Kafalah ............................................................................................ 27
B. Rahn ................................................................................................ 41

Universitas Sumatera Utara

BAB III

URGENSI JAMINAN DALAM PEMBIAYAAN SYARIAH. ........... 64
A. Akad Pembiayaan Syariah .............................................................. 64
B. Urgensi Jaminan dalam Akad Pembiayaan Syariah........................ 82

BAB IV

APLIKASI KONSEP JAMINAN DALAM HUKUM ISLAM
DALAM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA........................ 99
A. Konsep Jaminan dalam Undang-Undang Perbankan Syariah ......... 99
B. Aplikasi/ Penerapan Jaminan dalam Perbankan Syariah................. 108
C. Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah ..................................... 111

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN............................................................. 118
A. Kesimpulan ..................................................................................... 118
B. Saran................................................................................................ 119

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 121

Universitas Sumatera Utara

 

ABSTRAK

Sebagai wujud sikap kehati-hatian bank dalam melakukan penyaluran dananya
melalui skim pembiayaan melalui bagi hasil ini, sebelum memberikan kredit atau
pembiayaan, bank syari’ah harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak,
kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur. Kelima unsur
tersebut yang sering disebut 5C perkreditan (character, capital, capacity, collateral dan
condition of economy). Pada kenyataannya, jaminan sangat menentukan tingkat keamanan
pembiayaan yang disalurkan oleh bank. Di samping itu, keberadaan agunan menjadi sangat
penting, dan hal ini berhubungan dengan filosofi dasar dari dana bank sebagaimana
disinggung di atas, yaitu bahwa dana bank adalah dana nasabah, dana masyarakat, yang oleh
karenanya harus dilindungi dan digunakan secara sangat hati-hati.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode
penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu suatu
penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis didalam buku (law as it is written in
the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is
decided by the judge through judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian
ini didasarkan data sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan
analisis normatif-kualitatif.
Konsep jaminan dalam hukum Islam (fiqh) dibagi menjadi dua; jaminan yang berupa
orang (personal guaranty) dan jaminan yang berupa harta benda. Jaminan yang berupa orang
sering dikenal dengan istilah dlaman atau kafalah, sedangkan jaminan yang berupa harta
benda dikenal dengan istilah rahn. Kafalah diartikan menanggung atau penanggungan
terhadap sesuatu, yaitu akad yang mengandung perjanjian dari seseorang di mana padanya
ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang lain, dan berserikat bersama orang lain itu dalam
hal tanggung jawab terhadap hak tersebut dalam menghadapi penagih (utang), sedangkan arRahn, yaitu menyimpan suatu barang sebagai tanggungan hutang. Urgensi jaminan dalam
produk pembiayaan syariah yakni jaminan tersebut untuk memberikan kepastian bahwa dana
tersebut dapat dikembalikan, atau setidaknya bank tidak akan mengalami kerugian yang
terlalu besar, jika misalnya ternyata hanya dapat mengeksekusi agunan atau jaminan yang
telah diberikan, karena penerima fasilitas pembiayaan bertindak semaunya atau asal-asalan
dalam menjalankan usaha bisnisnya. Penerapan jaminan pada perbankan syariah mutlak tidak
dapat dihindari. Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkan
adanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagi mereka
permohonan jaminan oleh pihak perbankan pada penerima fasilitas pembiayaan adalah tidak
sekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinya modal yang dipinjam, namun untuk
meyakinkan bahwa penerima fasilitas pembiayaan benar-benar melaksanakan segala sesuatu
yang telah disepakati dalam kontrak. Dengan demikian, hal ini tentunya belum berdasarkan
apa yang dikenal dalam Hukum Islam, melainkan masih sama dengan yang diatur dalam
Hukum Jaminan Hak Tanggungan dan Fidusia.
 
Kata Kunci : Konsep Jaminan, Hukum Islam

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
As a form of prudential behavior of banks in channeling of funds through
financing schemes through this sharing, before granting credit or financing, shariah
bank must conduct a thorough assessment of the character, ability, capital,
collateral, and business prospects of the Debtors. The five elements are often called
credit 5C (character, capital, capacity, collateral and condition of the economy). In
fact, the guarantee is to determine the level of security provided by bank financing. In
addition, the presence of collateral becomes very important, and this corresponds to
the basic philosophy of bank funds, as mentioned above, namely that the bank funds
are customer funds, public funds, which therefore must be protected and used very
carefully.
The method used in this research is normative. Normative research method
known as doctrinal studies (doctrinal research) is a study that analyzed the law both
written in the book (law as it is written in the book), or the law that was decided by
the judge through the court process (law it is decided by the judge through judicial
process). Normative legal research in this study based on secondary data and
emphasize steps speculative-theoretical and normative analysis-qualitative.
The concept of security in Islamic law (fiqh) is divided into two; guarantee
that a person (personal Guaranty) and collateral in the form of property. Assurance
that such people are often known by the term dlaman or kafalah, while the collateral
in the form of property known as the rahn. Kafalah interpreted or bear responsibility
for something, namely contract containing the agreement of a person where it is right
that must be met for others, and association with others, in terms of responsibility for
those rights in the face of collectors (debt), while ar- Rahn, ie save a good as
mortgage debt. Urgency warranties in Islamic financing products that guarantee is to
provide assurance that these funds can be returned, or at least the banks will not
experience losses that are too large, if for example it turns out only to execute
collateral or guarantees which have been given, because the recipients of financing
facilities to act arbitrarily or origin at random in running their business. Application
of absolute security in Islamic banking can not be avoided. Statement of context
mudarabah jurists who do not allow the existence of collateral does not seem to
respond by Islamic banks, because of their application for collateral by the banks on
financing facilities recipient is not merely intended to ensure the return of borrowed
capital, but to ensure that recipients of financing facilities is really implementing
everything that had been agreed in the contract. Thus, it is certainly not based on
what is known in Islamic law, but still the same as those stipulated in the Law of
Guarantee Mortgage, and Fiduciary.
Key Words : The concept of security, Islamic law
 
 

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehadiran Ekonomi Syariah telah memunculkan harapan baru bagi banyak
orang, khususnya bagi umat Islam akan sebuah sistem ekonomi alternatif dari sistem
ekonomi kapitalisme dan sosialisme sebagai arus utama perdebatan sebuah sistem
ekonomi dunia, terutama sejak usainya Perang Dunia II yang memunculkan banyak
negara-negara Islam bekas jajahan imperialis. Dalam hal ini, keberadaan Ekonomi
Syariah sebagai sebuah model ekonomi alternatif memungkinkan bagi banyak pihak,
muslim maupun non-muslim untuk melakukan banyak penggalian kembali berbagai
ajaran Islam, khususnya yang menyangkut hubungan pemenuhan kebutuhan
antarmanusia melalui aktivitas perekonomian maupun aktivitas lainnya.
Ekonomi Syariah dapat didefinisikan sebagai sebuah studi tentang
pengelolaan harta benda menurut perpektif Islam. 1 Ekonomi Syariah merupakan
ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur
berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum
dalam rukun iman dan rukun Islam. 2 Bekerja merupakan suatu kewajiban karena
Allah SWT memerintahkannya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah ayat
                                                            
1

An-Nabhaniy,T. An-Nizham Al-lqtishadi Fil Islam, (Beirut: Darul Ummah, 1990).
Ahmad, Khursid, Studies in Islamic Economics, (United Kingdom: The Islamic Foundation,
1981) hal. 3
2

Universitas Sumatera Utara

105: “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orangorang yang beriman akan melihat pekerjaan itu”. 3
Secara garis besar Ekonomi Syariah memiliki beberapa prinsip dasar: 4
a. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah
SWT kepada manusia.
b. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
c. Kekuatan penggerak utama Ekonomi Syariah adalah kerja sama.
d. Ekonomi Syariah menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh
segelintir orang saja.
e. Ekonomi Syariah menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya
direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
f. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat
nanti.
g. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
h. Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Pada awal abad ke-20, bank Islam hanya merupakan obsesi dan diskusi
teoritis para akademisi baik dari bidang hukum (fiqh) maupun bidang ekonomi.
Kesadaran bahwa bank Islam adalah solusi masalah ekonomi untuk mencapai
kesejahteraan sosial telah muncul, namun upaya nyata yang memungkinkan
                                                            
3

Al Qur’an dan Terjemahnya hadiah dari Khadim al Haramain asy Syarifain, Fahd ibn ‘Abd
al ‘Aziz Al Sa’ud, (Saudi Arabia: Madinah, 1990).
4
Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Syariah: Suatu Pengantar, (Yogyakarta: EKONSIA,
2002), hal. 105.

Universitas Sumatera Utara

implementasi praktis gagasan tersebut nyaris tenggelam dalam lautan sistem ekonomi
dunia yang tidak bisa melepaskan diri dari bunga. Walaupun demikian, gagasan
tersebut terus berkembang meski secara perlahan. Beberapa uji coba terus dilakukan
mulai dari bentuk proyek yang sederhana hingga kerjasama yang berskala besar. Dari
upaya ini para pemrakarsa bank Islam dapat memikirkan untuk membuat
infrastrukstur sistem perbankan yang bebas bunga. 5
Bank Islam atau yang lazim disebut dengan bank syariah, keberadaannya
relatif baru di Indonesia. Menurut catatan, bank syariah yang pertama kali
memperoleh ijin usaha sebelum diundangkannya Undang-undang Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan adalah BPRS Berkah Amal Sejahtera, dan BPRS Dana
Mardhatillah pada tanggal 19 Agustus 1991, BPRS Amanah Rabbaniah pada tanggal
24 Oktober 1991, ketiganya beroperasi di Bandung dan BPRS Hareukat pada tanggal
10 Nopember 1991, beroperasi di Aceh. 6
Pada tanggal 17 Juni 2008, perbankan syariah memasuki babak baru dalam
industri perbankan di Indonesia. Pada tanggal tersebut DPR secara resmi
mengesahkan RUU Perbankan Syariah menjadi Undang-Undang. Pengesahan
Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah merupakan salah
satu jawaban atas makin pesatnya pertumbuhan industri perbankan syariah di tanah
air. Kehadiran Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama pada tahun 1992 berkat
                                                            
5

Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah: Konsep,
Produk dan Implementasi Operasional, (Jakarta: Djambatan, 2001), hal 21.
6
Karnaen A. Perwataatmadja, Upaya Memurnikan Pelayanan Bank Syariah, Khusus
Pembiayaan Murabahah dan Mudharabah di Indonesia, Artikel, Jakarta, 2002.

Universitas Sumatera Utara

dukungan UU No. 7/1992 tentang Perbankan yang pertama kali memperkenalkan
prinsip bagi hasil. Meski demikian dalam kurun waktu 6 tahun perkembangan bank
syariah tidak sepesat bank-bank yang beroperasi secara konvensional. Dengan
diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, perbankan syariah pun berkembang lebih
baik karena jika pada UU sebelumnya istilah bank syariah masih disebutkan secara
implisit dengan istilah bagi hasil maka pada UU No. 10 tahun 1998 istilah perbankan
syariah telah disebutkan secara jelas.
Berdasarkan Undang-Undang Perbankan yang baru ini, sistem perbankan di
Indonesia terdiri atas Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah ( Dual
Banking System ). Salah satu prinsip yang dipegang dalam pengaturan tentang Bank
Syariah dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 ini adalah bahwa prinsip
syariah merupakan suatu prinsip dalam menjalankan kegiatan usaha bank. Dengan
adanya prinsip ini maka perbankan syariah diberikan peluang yang lebih luas untuk
menjalankan kegiatan usaha, termasuk pemberian kesempatan kepada bank umum
konvensional untuk membuka kantor cabang yang khusus melakukan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah.
Dasar pemikiran pengembangan bank syariah adalah untuk memberikan
pelayanan jasa perbankan kepada sebagian masyarakat Indonesia yang tidak dapat
dilayani oleh perbankan yang sudah ada, karena bank-bank tersebut menggunakan
sistem bunga. Adalah kenyataan bahwa sebagian masyarakat muslim berkeyakinan
bahwa kegiatan perbankan yang menggunakan sistem bunga tidak sejalan dengan
prinsip syariah, sehingga kebutuhan mereka akan jasa-jasa perbankan tidak dapat

Universitas Sumatera Utara

dilayani oleh bank-bank konvensional. Dengan dikembangkannya perbankan yang
dioperasikan berdasarkan prinsip syariah diharapkan mobilisasi dana dan potensi
ekonomi masyarakat muslim dapat dioptimalkan, yang pada gilirannya akan semakin
meningkatkan peran sektor perbankan secara keseluruhan.7
Perbankan syariah merupakan suatu sistem perbankan yang dikembangkan
berdasarkan hukum Islam. Dimana usaha ini didasari oleh larangan Islam untuk
memungut maupun meminjam dengan perhitungan bunga (riba) dan larangan
berinvestasi dalam usaha-usaha yang berkaitan dengan media dan barang yang tidak
Islami (haram). 8
Sebagai lembaga intermediary keuangan, bank syari’ah memiliki kegiatan
utama berupa penghimpunan dana dari masyarakat melalui simpanan dalam bentuk
giro, tabungan, dan deposito yang menggunakan prinsip wadi’ah yand dlamanah
(titipan), dan mudharabah (investasi bagi hasil). Kemudian menyalurkan kembali
dana tersebut kepada masyarakat umum dalam berbagai bentuk skim , seperti skim
jual beli/al-ba’i (murabahah, salam, dan istishna), sewa (ijarah), dan bagi hasil
(musyarakah dan mudharabah), serta produk pelengkap, yakni fee based service,
seperti hiwalah (alih utang piutang), rahn (gadai), qard (utang piutang), wakalah
(perwakilan, agency), kafalah (garansi bank). 9 Dalam hal ini masyarakat
menyerahkan dananya pada bank syari’ah pada dasarnya tanpa jaminan yang
                                                            
7

Syahril Sabirin, Sambutan Gubernur Bank Indonesia dalam Muhammad Syafii Antonio,
Bank Syariah: Wacana Ulama dan Cendekiawan (Jakarta: 1999) hal x.
8
Pradjoto and Associates, Pembiayaan dalam Perbankan Syariah, Makalah, Desember 2007.
9
Widjanarto, Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama
Grafiti,2003), edisi IV, hal.59-61, Tim Bank Syari’ah Mandiri, Apa dan Bagaimana Bank Syari’ah,
(Jakarta: BSM Cab. Meruya, 2005), hal. 14-15.

Universitas Sumatera Utara

bersifat kebendaan dan semata-mata hanya dilandasai oleh kepercayaan bahwa pada
waktunya dana tersebut akan kembali ditambah dengan sejumlah keuntungan
(return). Oleh karena itu, untuk menjaga kepercayaan masyarakat tersebut, bank
harus melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential principle).
Berdasarkan prinsip tersebut, bank syari’ah menerapkan sistem analisis yang
ketat dalam penyaluran dananya melalui pembiayaan, di antaranya dengan
mempersyaratkan adanya jaminan atau agunan 10 bagi pihak nasabah yang hendak
mengajukan pembiayaan.
Definisi jaminan/ agunan menurut Pasal 1 angka (26) Undang-Undang Nomor
21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah adalah jaminan tambahan, baik berupa
benda bergerak maupun benda tidak bergerak yang diserahkan oleh pemilik Agunan
kepada Bank Syariah dan/ atau UUS, guna menjamin pelunasan kewajiban Nasabah
Penerima Fasilitas.
Berbeda dengan perbankan konvensional yang dalam penyaluran dananya
menggunakan skim kredit, di perbankan syari’ah penyaluran dana menggunakan
skim pembiayaan.

Pembiayaan

adakalanya

dengan

mengambil

keuntungan

berdasarkan margin keuntungan (profit margin), seperti dalam akad jual beli
murabahah, salam, istishna dan ijarah, juga dikenal pembiayaan yang menggunakan
prinsip bagi hasil, yaitu melalui akad musyarakah dan mudharabah. Kedua akad
                                                            
10

Jaminan menurut UU. No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan adalah keyakinan atas
kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Jaminan
di sini meliputi watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur.
Sedangkan dalam makalah ini jaminan identik dengan agunan yaitu Jaminan tambahan yang
diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan
berdasarkan prinsip syari’ahal. ( Pasal 1 angka 23 UU No. 10 Tahun 1998).

Universitas Sumatera Utara

pembiayaan ini dilihat dari ciri khasnya sangat berbeda sekali dengan akad yang lain.
Di antara perbedaan menonjol adalah bahwa bank syari’ah dalam penyaluran dananya
kepada nasabah penerima pembiayaan tidak dapat dipastikan memperoleh
keuntungan tertentu (modal pembiayaan ditambah return) sebagaimana dalam skim
pembiayaan yang mengambil keuntungan berdasarkan margin keuntungan. Akan
tetapi, justru pihak bank sangat memungkinkan mengalami kerugian bila usaha
nasabahnya mengalami kegagalan atau kebangkurutan, inilah konsekwensi dari skim
pembiayaan dengan prinsip bagi hasil (profit and loss sharing). Namun, sebaliknya
bila usaha nasabah berhasil maka akan memperoleh bagi hasil yang mungkin lebih
besar bila dibandingkan penyaluran dana melalui skim pembiayaan berdasarkan
margin keuntungan, ini karena di antara kedua pihak (bank dan nasabah) telah ada
kesepakatan bagi hasilnya, yang biasanya berkisar 30%:70%, 40%:60%, atau
50%:50%. 11
Atas dasar tingkat spekulasi yang tinggi dalam skim pembiayaan, maka
umumnya bank syari’ah sangat berhati-hati dalam melakukan penyaluran dana
melalui skim ini.

Sebagai wujud sikap kehati-hatian bank dalam melakukan

penyaluran dananya melalui skim pembiayaan melalui bagi hasil ini, sebelum
memberikan kredit atau pembiayaan, bank syari’ah harus melakukan penilaian yang
seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari

                                                            
11

http://zanikhan.multiply.com/journal/item/4490. Diakses tanggal 26 Oktober 2010.

Universitas Sumatera Utara

Nasabah Debitur. Kelima unsur tersebut yang sering disebut 5C perkreditan
(Character, Capital, Capacity, Collateral dan Condition of Economy). 12
Memang secara teoritis bahwa yang terpenting pertama-pertama adalah
karakter dari nasabah calon penerima pembiayaan (nasabah debitur), karena jika
karakternya baik, sekalipun kondisi yang lainnya buruk, nasabah debitur akan tetap
berusaha serius dan dengan jujur melaporkan hasil usahanya dengan mengembalikan
dana pembiayaan yang disertai bagi hasilnya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa
pada kenyataannya jaminan sangat menentukan tingkat keamanan pembiayaan yang
disalurkan oleh bank. Di samping itu, keberadaan agunan menjadi sangat penting,
dan hal ini berhubungan dengan filosofi dasar dari dana bank sebagaimana
disinggung di atas, yaitu bahwa dana bank adalah dana nasabah, dana masyarakat,
yang

oleh

karenanya

harus

dilindungi

dan

digunakan

secara

sangat

hati-hati.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, penelitian ini akan membahas mengenai
pentingnya jaminan ini dalam praktek pembiayaan perbankan syariah. Oleh
karenanya, penelitian ini diberi judul “Aspek Hukum Jaminan dalam Perbankan
Syariah”.

B. Permasalahan
1. Bagaimanakah konsep jaminan menurut Hukum Islam?
                                                            
12

Ibid

Universitas Sumatera Utara

2. Bagaimanakah urgensi jaminan dalam akad pembiayaan syariah?
3. Bagaimana aplikasi konsep jaminan dalam Hukum Islam dalam perbankan
syariah di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui konsep jaminan menurut Hukum Islam.
2. Untuk mengetahui urgensi jaminan dalam akad pembiayaan syariah
3. Untuk mengetahui aplikasi konsep jaminan dalam Hukum Islam dalam
perbankan syariah di Indonesia

D. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian pasti mendatangkan manfaat sebagai tindak lanjut dari apa
yang telah dirumuskan dalam tujuan penelitian. Penulis mengharapkan dengan
adanya penelitian ini membawa manfaat positif bagi penulis atau pembaca secara
langsung maupun secara tidak langsung. Penelitian ini juga sangat berpengaruh bagi
perkembangan individu atau objek dari penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini
diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Universitas Sumatera Utara

Penelitian ini merupakan hasil dari studi ilmiah yang dapat memberikan
masukan pemikiran dan ilmu pengetahuan baru terhadap ilmu hukum pada
umumnya dan Ilmu Hukum Lembaga Keuangan Syariah pada khususnya.
2. Manfaat praktis
Sebagai suatu informasi dan referensi bagi individu atau instansi yang
menjadi atau yang terkait dari objek yang diteliti.

E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan pemeriksaan dan hasil-hasil penelitian yang ada, penelitian
mengenai “Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah” belum pernah
dilakukan dalam topik dan permasalahan yang sama. Jadi penelitian ini dapat disebut
“asli” sesuai dengan asas-asas keilmuan yaitu jujur, rasional, dan objektif serta
terbuka. Semua ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran
ilmiah. Sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara
ilmiah.
Guna menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap masalah yang
sama, maka peneliti melakukan pengumpulan data tentang “Aspek Hukum Jaminan
Dalam Perbankan Syariah”, dan juga pemeriksaan terhadap hasil-hasil penelitian
yang ada mengenai hal-hal di atas, ternyata penelitian ini belum pernah dilakukan
dalam topik dan permasalahan yang sama oleh peneliti lainnya baik di lingkungan
Universitas sumatera Utara maupun Perguruan Tinggi lainnya.

Universitas Sumatera Utara

Dari hasil observasi yang telah dilakukan, ada beberapa tesis yang memiliki
topik yang sama, namun dalam hal permasalahan dan pembahasannya jelas berbeda
dengan isi tesis ini, yakni:
1. Ahmad Fauzi/ 027011002, Jaminan dalam Akad Pembiayaan pada Bank

Syariah yang Bernuansa Konflik (Studi Kasus Bank Muamalat Indonesia, tbk
Cab. Medan)
2. Intan Harahap/ 077011031, Kedudukan Fidusia sebagai Jaminan Akad

Pembiayaan Murabahah pada Bank Syariah (Studi Kasus: Bank Muamalat
Cab. Medan)
3. Rina Dahlia/ 037011072, Kedudukan Lembaga Gadai Syariah (Ar-Rahn)

dalam Sistem Perekonomian Islam (Studi di Bank Muamalat Indonesia Cab.
Medan dan BNI Unit Syariah Cab. Medan

F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Kontinuitas perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi,
aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori. 13 Teori adalah
merupakan suatu prinsip satu ajaran pokok yang dianut untuk mengambil suatu
tindakan atau memecahkan suatu masalah. Kamus umum Bahasa Indonesia
menyebutkan, bahwa salah satu arti teori ialah:

                                                            
13

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI-Press, 1982), hal.6

Universitas Sumatera Utara

”.... pendapat, cara-cara dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.” 14
Fungsi teori dalam penelitian tesis ini adalah untuk memberikan
arahan/petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati. 15 Dalam
sebuah penelitian ilmiah, teori digunakan sebagai landasan berfikir dan mengukur
sesuatu berdasarkan variabel-variabel yang tersedia.
Teori dipergunakan sebagai landasan atau alasan mengenai suatu variabel
bebas tertentu dimasukan dalam penelitian, karena berdasarkan teori tersebut variabel
yang bersangkutan memang bisa mempengaruhi variabel tak bebas atau merupakan
salah satu penyebab. 16
”Menurut W.L.Neuman, yang berpendapatnya dikutip oleh Otje Salman dan
Anton F. Susanto, menyebutkan, bahwa:
”Teori adalah suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang
berinterkoneksi satu sama lainnya atau berbagai ide yang memadatkan dan
mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia. Ini adalah cara yang ringkas untuk
berpikir tentang dunia dan bagaimana dunia itu bekerja.” 17
”Teori merupakan generalisasi yang dicapai setelah mengadakan pengujian
dan hasilnya menyangkut ruang lingkup dan fakta yang luas.” 18 Sedangkan
                                                            
14

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesisa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985),

hal. 155.
15

Snelbecker dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja
Rosdakarya , 1993), hal. 35
16
J. Supranto, Metode Penelitian Hukum Dan Statistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal.
192-193
17
HR. Otje Salman S dan Antón F Susanto, Teori Hukum, (Bandung: Refina Aditama, 2005),
hal. 22
18
Soejono Soekanto, Op. cit, hal.126

Universitas Sumatera Utara

“kerangka teori pada penelitian Hukum Sosiologis atau Empiris yaitu kerangka
teoritis yang berdasarkan pada kerangka acuan hukum, tanpa acuan hukumnya maka
penelitian tersebut hanya berguna bagi sosiologis dan kurang relevan bagi ilmu
hukum. 19
Kerangka teori itu akan digunakan sebagai landasan berpikir untuk
menganalisa permasalahan yang dibahas dalam tesis ini. Terutama tentang aspek
hukum jaminan dalam perbankan syariah. Dalam pembahasan pada tesis ini,
kerangka teori yang digunakan adalah berdasarkan teori implementasi hukum
Kata implementasi berasal dari bahasa Inggris to implement yang berarti to
provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan
sesuatu); to give practical effect to (menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). 20
Van Meter dan Van Horn merumuskan proses implementas sebagai : those actions by
public or private individuals or group that are directed at the achievement of\
obyectives set forth in prior policy decitions (tindakan-tindakan yang dilakukan baik
oleh individu-individu/ pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau
swasta yang diarahkan ada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam
keputusan kebijaksanaan). 21
Dengan demikian berdasarkan pengertian kata implemantasi tersebut, maka
implementasi jaminan dalam perbankan syariah dapat dipandang sebagai proses
                                                            
19

Ibid, hal. 27
Merriam-Webster Online. .
Diakses tanggal 27 Februari 2011
21
Dalam Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijaksanaan dari Formulas ke mplementasi
Kebijaksanaan Negara, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 65.
20

Universitas Sumatera Utara

melaksanakan pembiayaan berdasarkan Hukum Islam (prinsip-prinsip syariah) yang
dilakukan oleh pegadaian syariah kepada nasabahnya dengan menggunakan akad.
Implementasi hukum sebagaimana pengertian diatas lebih cenderung
memandang hukum sebagai jaringan nilai-nilai sebagaimana dikemukakan oleh
kalangan ahli filsafat hukum. Hukum dipandang sebagai konsepsi abstrak di dalam
diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk, oleh
karena itu dengan sendirinya berkaitan erat dengan persoalan kesadaran hukum. Hal
ini disebabkan karena kesadaran hukum itu merupakan suatu penilaian terhadap
hukum yang ada serta hukum yang dikehendaki. 22
Hukum hidup, tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat sebagai sarana
menciptakan kesejahteraan, ketentraman dan ketertiban bagi kedamaian dalam hidup
sesama warga masyarakat. Hukum akan tumbuh dan berkembang bila masyarakat
menyadari makna kehidupan hukum dalam kehidupannya. Sedangkan tujuan hukum
sendiri ialah untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. 23 Hukum juga dituntut
untuk memenuhi nilai-nilai dasar hukum yang meliputi keadilan, kerugian/
kemanfaatan dan kepastian hukum. Hukum jaminan tentu saja di tuntut pula untuk
memenuhi nilai keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum, walaupun kadangkadang bila salah satu nilai tersebut tercapai nilai yang lain menjadi terabaikan.

                                                            
22

Soerjono Soekanto dan Mustafa Abdullah, Sosiologi Hukum dalam Masyarakat, CV
(Jakarta: Rajawali, 1980), hal.207.
23
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, (Jakarta:
Rajawali, 1986), hal. 13.

Universitas Sumatera Utara

Kehadiran hukum itu sendiri mempunyai dua fungsi yang saling
berdampingan satu sama lain, yaitu: sebagai sarana pengendalian sosial dan sebagai
sarana untuk melakukan social engineering. 24 Hukum sebagai sarana pengendalian
sosial adalah fungsi hukum untuk menjaga agar setiap orang menjalankan perannya
sesuai dengan yang telah ditentukan atau diharapkan. Perubahan sosial yang terjadi
akan berpengaruh pula terhadap bekerjanya mekanisme pengendalian sosial ini.
Hukum sebagai alat melakukan rekayasa masyarakat adalah hukum dalam
fungsinya untuk mengukuhkan pola-pola kebiasaan dan tingkah laku yang telah ada
dalam masyarakat, untuk mengarahkan kepada tujuan-tujuan yang dikehendaki,
menghapuskan kebiasaan yang dipandang tidak sesuai lagi serta melakukan pola-pola
kelakuan baru. 25
Tentang Hukum ekonomi, Satjipto Rahardjo merunut dari esensi ekonomi
yang bertujuan untuk menyediakan kebutuhan yang diperlukan bagi kelangsungan
hidup masyarakat dan angota-anggotanya berdasarkan asas rasionalitas. Akan tetapi
dalam melakukan kegiatan ekonomi tersebut manusia melakukan interaksi dengan
yang lainnya supaya mencapai hasil yang maksimal. Dengan demikian muncullah
suatu kebutuhan akan aturan, tanpa aturan sulit orang bisa bicara mengenai
penyelenggaraan kegiatan ekonomi dalam masyarakat. 26 Kalau Hukum ekonomi
(konvensional) tumbuh di atas asas rasionalitas seperti paham kapitalisme,
                                                            
24

Satjipto Raharjo, Pemanfaatan Ilmu Sosial bagi Pemanfaatan Ilmu Hukum, (Bandung,
Alumni, 1977), hal. 143
25
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Alumni, 1982), hal. 169.
26
Satjipto Rahardjo, Beberapa Pemikiran tentang Ancangan Antar Disiplin dalam
Pembinaan Hukum Nasional, (Bandung: Sinar Baru, 1985), hal. 55-57.

Universitas Sumatera Utara

sosialisme, pasar bebas dan lain-lain, maka ekonomi Syariah (Hukum Ekonomi
Islam) tumbuh di atas asas-asas yang terkandung dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Sesungguhnya di antara karakteristik Islam yang paling menonjol adalah ia
hadir di dunia ini demi kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Maka, hukum-hukum syariat datang dengan misi ingin menegakkan kemaslahatan
tersebut dan senantiasa menjaga eksistensi dari keterpurukan, dan salah satu
manifestasinya adalah tertuang dalam bentuk pengelolaan harta yang menjadi
penopang kehidupan, baik dalam tataran personal maupun komunal. Sehingga tidak
aneh kalau kemudian nash-nash syariat sangat menaruh perhatian terhadap hukumhukum yang bertalian dengan masalah materi dan kekayaan, baik secara global
maupun terperinci. Demikian halnya para ahli fikih, khususnya fikih harta, juga telah
menjelaskan syarat-syarat, kaidah-kaidah dan tujuan-tujuan di balik usaha mencari
materi dan kekayaan, dan bagaimana pula memperoleh dan menggunakannya, dengan
penjelasan yang detail dan dapat menghapus ruang keragu-raguan tentang perhatian
Islam terhadap masalah harta kekayaan dan juga tentang seruannya kepada umatnya
untuk mencari dan mengumpulkannya sesuai dengan tujuan-tujuan dan batasanbatasan syariat. 27
Perbankan syariah sebagai lembaga keuangan akan terlibat dengan berbagai
jenis kontrak perdagangan syariah dan dalam setiap kontrak perdagangan syariah
mempunyai prinsip yang jelas dalam menyalurkan dananya dalam bentuk
pembiayaan syariah. Penyaluran dana yang dilakukan oleh Bank Syariah haruslah
                                                            
27

Abdullah Lam bin Ibrahim, fiqih finansial, (Solo: Intermedia, 2005), hal. vi

Universitas Sumatera Utara

memiliki suatu yang menguatkan kedudukan Bank Syariah dalam memperoleh
kembali atas dana yang telah disalurkan, yaitu dengan adanya suatu lembaga jaminan.
Perbankan syariah dalam menerapkan kehati-hatian dan pembiayaan yang
sehat diwujudkan dengan adanya jaminan atau agunan dari nasabah penerima
pembiayaan. Jaminan atau agunan ini berfungsi untuk mendukung keyakinan bank
atas kemampuan dan kesanggupan nasabah penerima pembiayaan untuk melunasi
pembiayaan yang diterimanya sesuai dengan perjanjian.
Dalam Hukum Islam, istilah jaminan biasanya dikenal dengan istilah kafalah,
sedangkan objek/barang yang dijaminkan dengan rahn, akan tetapi mengenai
pengikatan objek/barang yang dijaminkan tidak diatur dan dinyatakan secara rinci
tetapi yang digunakan dalam muamalat sesuai dengan kebiasaan dalam masyarakat.
Objek/ barang yang dijaminkan dalam rahn berada ditangan bank. Rahn merupakan
bentuk jaminan bukan pengikatan jaminan barang, oleh karena itu terhadap rahn
digunakan gadai sebagai pengikat jaminan barang.
Adanya jaminan dalam pembiayaan syariah didasarkan atas pemahaman
dalam surat Al-Baqarah ayat 283 yang menyebutkan bahwa dalam bermuamalah
barang yang dijadikan jaminan/pertanggungan dipegang/ dikuasai oleh pemberi
utang, sehingga hal ini yang dijadikan dalam rahn, akan tetapi hal tersebut dilakukan
apabila satu sama lain tidak percaya mempercayai. 28

                                                            
28

Departeman Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahannya dengan
Transliterasi Arab dan Latin, (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 2001), hal. 102.

Universitas Sumatera Utara

Apabila dilihat penjelasan yang diuraikan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah
ayat 283, maka ayat tersebut dapat dijadikan dasar hukum menurut Al-Quran dalam
penggunaan jaminan fidusia dalam pembiayaan syariah, sehingga tidak hanya rahn
(gadai) yang dijadikan dasar hukum pada ayat tersebut, tapi ayat itu merupakan ayat
yang menjadi dasar hukum bagi adanya jaminan dalam pembiayaan syariah.
Penggunaan ketentuan tersebut karena dalam hukum Islam yang mengatur
mengenai syariah yang mana termasuk didalamnya adalah kegiatan muamalah yang
mengatur hubungan manusia dengan manusia. Dalam bidang muamalah diserahkan
pada manusia dengan proses ijtihad, seperti sabda nabi Muhammad SAW: “Antum
a’lamu bi umuuri dunyakum”, yang artinya kalian lebih mengetahui urusan dunia
kalian dan dalam hukum muamalat menyatakan bahwa “segala sesuatunya boleh
dilakukan, kecuali ada larangan dari Al-Quran atau Sunnah”, 29 jadi dalam bidang
muamalah terdapat lapangan yang luas sehingga boleh saja menambah, menciptakan,
mengembangkan dan lainlainnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang
bermuamalah, selama “kreativitas” tersebut tidak bertentangan dengan hal yang
dilarang dalam Al-Quran dan Sunnah.
Berdasarkan hal tersebut maka terhadap transaksi perbankan syariah yang
tidak diatur oleh ketentuan syariah, maka perbankan syariah tunduk pada ketentuanketentuan yang terkait dengan kegiatan perbankan pada umumnya, demikian halnya
dengan transaksi-transaksi yang tidak dilarang oleh syariah dan perbankan syariah