Perlindungan Hukum Nasabah Atas Syarat-Syarat Baku Perjanjian Gadai (Studi Pada Kantor Pegadaian Di Kota Binjai)

PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH ATAS SYARAT-SYARAT
BAKU PERJANJIAN GADAI (STUDI PADA KANTOR
PEGADAIAN DI KOTA BINJAI)

TESIS

OLEH

FAHMI FAUZAN
097011064/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH ATAS SYARAT-SYARAT
BAKU PERJANJIAN GADAI (STUDI PADA KANTOR
PEGADAIAN DI KOTA BINJAI)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

Oleh
FAHMI FAUZAN
097011064/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

:

PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH ATAS
SYARAT-SYARAT BAKU PERJANJIAN GADAI
(STUDI PADA KANTOR PEGADAIAN DI KOTA
BINJAI)
: Fahmi Fauzan
: 097011064
: Kenotariatan

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Pembimbing

(Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum )

Pembimbing

(Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum)

Ketua Program Studi,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Dekan,

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus : 13 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 13 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

:

Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN

Anggota

:

1. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum
2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum
3. Dr. Mahmul Siregar, SH, MHum
4. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Perlindungan hukum merupakan suatu pemberian jaminan atau kepastian
bahwa seseorang akan mendapatkan apa yang telah menjadi hak dan kewajibannya,
sehingga yang bersangkutan merasa aman. UU Perlindungan Konsumen merupakan
payung yang mengintegrasikan dan memperkuat penegakan hukum di bidang
perlindungan konsumen (nasabah/debitur), khususnya dalam perjanjian baku/standar
di Kantor Perum Pegadaian. Penggunaan perjanjian baku dalam sistem pembiayaan
pada Perum Pegadaian merupakan suatu hal yang tidak terelakkan lagi, karena alasan
efisiensi operasional perbankan dan jaminan kepastian untuk melindungi kepentingan
Perum Pegadaian selaku pelaku usaha jasa atau pihak kreditur yang mengeluarkan
dana. Begitu juga halnya nasabah/debitur juga memerlukan jaminan kepastian hukum
atas perlindungan hak-haknya selaku konsumen atau pihak debitur yang
memanfaatkan dana Perum Pegadaian.
Berkaitan dengan hal-hal diatas objek permasalahan dalam tesis ini adalah
bagaimana hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku pada Perum
Pegadaian, bagaimana perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum
perlindungan konsumen dan bagaimana perlindungan hukum nasabah dalam syaratsyarat baku perjanjian gadai di Perum Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari
UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dalam rangka membahas masalah tersebut metode penelitian yang dilakukan
adalah deskriptif analistis, artinya suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah,
menjelaskan dan menganalisis hukum baik dalam bentuk teori maupun praktek
pelaksanaan dari hasil penelitian dilapangan. Materi penelitian diperoleh melalui
pendekatan yurudis normatif, yaitu pendekatan terhadap masalah dengan cara melihat
dari segi peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku pada Perum
Pegadaian secara yuridis-teoritik telah melekatkan hak dan kewajiban dalam isi
perjanjian tidak proporsional, yaitu kewajiban nasabah diatur secara rinci dalam
perjanjian, sedangkan kewajiban kreditur kurang tampak dalam perjanjian (SBK).
Tidak proporsionalnya hak dan kewajiban dalam perjanjian gadai menjadi penyebab
penumpukan hak pada kreditur dan penumpukan kewajiban pada debitur.
Perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum perlindungan konsumen,
yaitu apabila dalam perjanjian gadai terjadi adanya tindakan wanprestasi yang
dilakukan Perum Pegadaian terhadap benda jaminan gadai milik debitur. Tindakan
wanprestasi tersebut dapat berupa: kelalaian menyebabkan benda jaminan tertukar,
hilang dan rusak. Perlindungan hukum yang diberikan dapat dilihat dalam isi SBK
nomor 4 yang mengatakan Perum Pegadaian akan memberikan penggantian kerugian
sebesar 125 % dari nilai taksiran Barang jaminan yang mengalami kerusakan/hilang.
Perlindungan hukum nasabah dalam syarat-syarat baku perjanjian gadai di Perum
Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen terdapat dalam Pasal 18 UU Perlindungan Konsumenyaitu
mengenai larangan penggunaan syarat-syarat baku dikaitkan dengan dua hal yaitu: isi
dan bentuk penulisannya.
Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Syarat Baku dan Perjanjian Gadai
i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Legal protection is a guarantee or certainty that a person will obtain what has
become his right and obligation so that he will feel safe. Law on Consumer Protection
constitutes an umbrella which integrates and strengthens law enforcement in consumer’s
protection (clients/debtors), especially in the standard agreement at Pawnbroking Public
Corporation. The use of standard agreement in the financial system at Pawnbroking
Public Corporation is inevitable due to the banking operational efficiency and the
guarantee to protect the interest of Pawnbroking Public Corporation as the agent of
business service of the creditor who provides funds. On the other hand, the
clients/debtors also need guarantee for legal certainty in order to protect their rights as
consumers or debtors who use the loan of Pawnbroking Public Corporation.
Based on the explanation above, the problems of this research were about how
the right and obligation of the creditors and debtors in the standard agreement at the
Pawnbroking Public Corporation was, how the protection for the pawners in the system
of Law on Consumer Protection was, and how the legal protection on clients stipulated
in the standard requirements of pawn agreement at Pawnbroking Public Corporation
Office, Binjai, viewed from Law No. 8/1999 on Consumer Protection.
The research was descriptive analytic; namely a study which described,
explained, and analyzed legal matters theoretically and practically of the field study. The
materials for the research were obtained from judicial normative approach; namely, an
approach to the problems based on legal provisions.
The right and obligation of both the creditors and the debtors in the standard
agreement at Pawnbroking Public Corporation which was reflected judicially and
theoretically in the content of the agreement was not proportional; namely, the clients’
obligation was regulated in detail in the agreement, while the creditor’s obligation was
not clear enough in the agreement (SBK). The absence of proportional right and
obligation in the agreement caused the creditor to have more right, and the debtors to
have more obligation. The legal protection for the pawners in the law on consumer
protection is needed when Pawnbroking Public Corporation breaks the agreement about
the debtor’s collaterals. This default can be : negligence which causes the collaterals to
be accidentally exchanged, lost, and damaged. The legal protection for the clients can be
seen in SBK No. 4 which states that Pawnbroking Public Corporation will reimburse
125% of the accessed value of the collaterals which are damaged or lost. The legal
protection for the clients in the standard requirements of pawn agreement at
Pawnbroking Public Corporation Office, Binjai, viewed from Article 18 of Law No.
8/1999 on Consumer Protection ; namely, prohibition of using standard requirements
concerning two things: content and form of the writing.

Keywords : Legal Protection, Standard requirements and Pawn Agreement

ii

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan
hidayah-Nya. Shalawat beriring salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW
sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis ini dengan baik.
Banyak hal yang terjadi dialami saat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Adapun tujuan dibuat penulisan tesis ini untuk memenuhi sebagian syaratsyarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan Dalam Program Studi
Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Adapun judul tesis ini adalah: “PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH
ATAS SYARAT-SYARAT BAKU PERJANJIAN GADAI (Studi Pada Kantor
Perum Pegadaian Di Kota Binjai)”.
Penulis menyadari dalam penulisan tesis ini masih terdapat banyak
kekurangan dan kesalahan, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan
yang bersifat masukan yang membangun demi melengkapi kesempurnaan dalam
penulisan tesis ini.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan
dan penyelesaian tesis ini terutama kepada yang terhormat :
l. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.AK) selaku
Rektor atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pada program studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Univenitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. DR. Runtung, S.H, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Prof. DR. Muhammad Yamin, S.H, M.S, C.N, selaku Ketua Program Studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga
iii

Universitas Sumatera Utara

selaku Komisi Pembimbing Utama yang telah memberikan saran dan kritik dalam
penelitian tesis ini, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan;
4. Ibu DR. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Program
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus
Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, dukungan,
serta saran dan kritik dari awal penelitian, sampai akhirnya penulis dapat
menyelesaikan perkuliahan;
5. Bapak Prof. DR. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Anggota Komisi
Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dukungan, serta saran dan kritik
dari awal penelitian, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan.
6. Bapak DR. Mahmul Siregar, SH, M.Hum selaku Anggota Komisi Penguji yang
telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian
tesis ini.
7. Bapak DR. Dedi Harianto, SH, M.Hum selaku Anggota Komisi Penguji yang
telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian
tesis ini
8. Ibu Gelorina Ginting, SE (Kepala Pimpinan Cabang Perum Pegadaian Kota
Binjai), Bapak H.M Darma Bakti Nasution, SE, SH, M.H (Wakil Ketua Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen Medan - Sumatera Utara) dan Bapak abu
Bakar Siddik, SH (Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Medan –
Sumatera Utara) yang telah memberikan masukan serta data-data sehingga
penelitian tesis ini dapat diselesaikan.
9. Para Guru Besar serta seluruh Dosen Staf Pengajar Program Studi Magister
Kenotariatan

Fakultas

Hukum Universitas

Sumatera

Utara

yang telah

memberikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis selama mengikuti proses
perkuliahan;
10. Seluruh Rekan Staf dan Pegawai Sekretariat Program Studi Magister Kenotariatan
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utars atas bantuan dan informasinya yang

iv

Universitas Sumatera Utara

diberikan kepada penulis dalam proses penyelesaian perkuliahan hingga
penelitian tesis ini;
11. Para sahabat seperjuangan Kelas Reguler A, B dan khususnya Kelas C Program
Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Tahun
2009 yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik moril dan spritual
dalam penyelesaian penelitian tesis ini;
12. Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang
telah terlibat langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.
Serta ucapan terima kasih teristimewa penulis sampaikan kepada :
1. Kedua Orang Tua Penulis Ayahanda Refwandi Sanan dan Ibunda Emy Syafrani
tercinta yang telah mendidik dan membesarkan penulis serta memberikan
dorongan moril, sprituil dan materil kepada penulis.
2. Kakanda Mutia, SP, Kakanda Kumala Sari, Amd, Abangnda Darwis, Amd,
Abangda Joeanda, ST dan Adinda Fahrul Reza, SE, serta Keponakan Habibi yang
memberikan dorongan moril dan sprituil .
Akhirulkalam penulis mengembalikannya dan berdoa kepada Allah SWT,
agar kita selalu mendapat taufik dan hidayah-Nya, penulis berharap semoga tesis ini
bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya pada bidang Kenotariatan terlebih pada
penulis sendiri dan orang lain.

Medan,
Penulis,

Agustus 2011

FAHMI FAUZAN

v

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIYAWAT HIDUP

A. Data Pribadi
Nama

:

FAHMI FAUZAN

Tempat/Tanggal Lahir

:

Binjai, 23 Juli 1986

Jenis Kelamin

:

Laki-Laki

Kewarganegaraan

:

Indonesia

Agama

:

Islam

Alamat

:

Jalan Cut Nyak Dhien No. 176 Binjai
Kelurahan Tanah Tinggi
KecamatanBinjai Timur
Kota Binjai, 20731

E-mail

:

fauzan_lagood@yahoo.co.id

Nama Ayah

:

Refwandi Sanan

Nama Ibu

:

Emy Syafrani

Anak ke

:

3 (tiga) dari 4 (empat) bersaudara

No. Handphone

:

08126569306

1992 – 1998

:

SD Negeri 023900 Binjai di Binjai

1998 – 2001

:

SLTP Negeri 4 Binjai di Binjai

2001 – 2004

:

SMA Negeri 3 Binjai di Binjai

2005 – 2009

:

Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas
Islam Sumatera Utara di Medan

2009 – 2011

:

Strata Dua (S2) Magister Kenotariatan
Universitas Sumatera Utara di Medan

B. Pendidikan

vi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ......................................................................................................
i
ABSTRACT .....................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR....................................................................................

iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................

vi

DAFTAR ISI................................................................................................... vii
BAB I

PENDAHULUAN.........................................................................

1

A. Latar Belakang .........................................................................

1

B. Perumusan Masalah ................................................................. 14
C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 14
D. Manfaat Penelitian ................................................................... 14
E. Keaslian Penelitian................................................................... 15
F. Kerangka Teori dan Konsepsi.................................................. 17
1. Kerangka teori.................................................................... 17
2. Konsepsional ...................................................................... 34
G. Metode Penelitian..................................................................... 40
1. Sifat dan jenis penelitian .................................................... 40
2. Sumber data........................................................................ 41
3. Alat Pengumpul Data ......................................................... 42
4. Analisis Data ...................................................................... 43
BAB II HAK DAN KEWAJIBAN KREDITUR DAN DEBITUR
DALAM PERJANJIAN BAKU PADA PERUM PEGADAIAN 44
A. Hak dan Kewajiban Para Pihak Dalam Perjanjian Baku ......... 44
1. Pengertian perjanjian baku................................................. 44
2. Hak dan kewajiban dalam perjanjian baku di Perum
Pegadaian ........................................................................... 48
B. Perimbangan Hak dan Kewajiban Debitur dan Kreditur
dalam Perjanjian Baku pada Perum Pegadaian........................ 51

vii

Universitas Sumatera Utara

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM ATAS DEBITUR GADAI
DALAM SISTEM HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 78
A. Debitur Gadai Dalam Sistem Hukum Perlindungan Konsumen 78
1. Pengertian gadai ................................................................. 78
2. Debitur gadai dalam Perum Pegadaian .............................. 80
3. Bentuk dan substansi perjanjian gadai ............................... 86
B. Perlindungan Hukum Debitur Gadai Dalam Sistem Hukum
Perlindungan Konsumen ......................................................... 89
1. Pengertian hukum perlindungan konsumen ....................... 89
2. Debitur gadai dalam sistem hukum perlindungan
konsumen ........................................................................... 91
BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH DALAM SYARATSYARAT BAKU DI PERUM PEGADAIAN CABANG KOTA
BINJAI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 8
TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN . 100
A. Perum Pegadaian Kota Binjai .................................................. 100
B. Perlindungan Hukum dalam Syarat-Syarat Baku pada
Perjanjian Gadai ....................................................................... 104
1. Perlindungan konsumen melalui syarat-syarat baku.......... 104
2. Perlindungan konsumen nasabah berdasarkan syarat-syarat
baku pada Perum Pegadaian............................................... 110
C. Standar Larangan Syarat Baku Dalam UU Perlindungan
Konsumen ................................................................................ 124
D. Klausula-Klausula Baku Dalam Perjanjian Gadai di Perum
Pegadaian Bila Ditinjau dari UU Perlindungan Konsumen ..... 141
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 149
A. Kesimpulan .............................................................................. 149
B. Saran......................................................................................... 150
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

viii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Perlindungan hukum merupakan suatu pemberian jaminan atau kepastian
bahwa seseorang akan mendapatkan apa yang telah menjadi hak dan kewajibannya,
sehingga yang bersangkutan merasa aman. UU Perlindungan Konsumen merupakan
payung yang mengintegrasikan dan memperkuat penegakan hukum di bidang
perlindungan konsumen (nasabah/debitur), khususnya dalam perjanjian baku/standar
di Kantor Perum Pegadaian. Penggunaan perjanjian baku dalam sistem pembiayaan
pada Perum Pegadaian merupakan suatu hal yang tidak terelakkan lagi, karena alasan
efisiensi operasional perbankan dan jaminan kepastian untuk melindungi kepentingan
Perum Pegadaian selaku pelaku usaha jasa atau pihak kreditur yang mengeluarkan
dana. Begitu juga halnya nasabah/debitur juga memerlukan jaminan kepastian hukum
atas perlindungan hak-haknya selaku konsumen atau pihak debitur yang
memanfaatkan dana Perum Pegadaian.
Berkaitan dengan hal-hal diatas objek permasalahan dalam tesis ini adalah
bagaimana hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku pada Perum
Pegadaian, bagaimana perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum
perlindungan konsumen dan bagaimana perlindungan hukum nasabah dalam syaratsyarat baku perjanjian gadai di Perum Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari
UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dalam rangka membahas masalah tersebut metode penelitian yang dilakukan
adalah deskriptif analistis, artinya suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah,
menjelaskan dan menganalisis hukum baik dalam bentuk teori maupun praktek
pelaksanaan dari hasil penelitian dilapangan. Materi penelitian diperoleh melalui
pendekatan yurudis normatif, yaitu pendekatan terhadap masalah dengan cara melihat
dari segi peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku pada Perum
Pegadaian secara yuridis-teoritik telah melekatkan hak dan kewajiban dalam isi
perjanjian tidak proporsional, yaitu kewajiban nasabah diatur secara rinci dalam
perjanjian, sedangkan kewajiban kreditur kurang tampak dalam perjanjian (SBK).
Tidak proporsionalnya hak dan kewajiban dalam perjanjian gadai menjadi penyebab
penumpukan hak pada kreditur dan penumpukan kewajiban pada debitur.
Perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum perlindungan konsumen,
yaitu apabila dalam perjanjian gadai terjadi adanya tindakan wanprestasi yang
dilakukan Perum Pegadaian terhadap benda jaminan gadai milik debitur. Tindakan
wanprestasi tersebut dapat berupa: kelalaian menyebabkan benda jaminan tertukar,
hilang dan rusak. Perlindungan hukum yang diberikan dapat dilihat dalam isi SBK
nomor 4 yang mengatakan Perum Pegadaian akan memberikan penggantian kerugian
sebesar 125 % dari nilai taksiran Barang jaminan yang mengalami kerusakan/hilang.
Perlindungan hukum nasabah dalam syarat-syarat baku perjanjian gadai di Perum
Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen terdapat dalam Pasal 18 UU Perlindungan Konsumenyaitu
mengenai larangan penggunaan syarat-syarat baku dikaitkan dengan dua hal yaitu: isi
dan bentuk penulisannya.
Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Syarat Baku dan Perjanjian Gadai
i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Legal protection is a guarantee or certainty that a person will obtain what has
become his right and obligation so that he will feel safe. Law on Consumer Protection
constitutes an umbrella which integrates and strengthens law enforcement in consumer’s
protection (clients/debtors), especially in the standard agreement at Pawnbroking Public
Corporation. The use of standard agreement in the financial system at Pawnbroking
Public Corporation is inevitable due to the banking operational efficiency and the
guarantee to protect the interest of Pawnbroking Public Corporation as the agent of
business service of the creditor who provides funds. On the other hand, the
clients/debtors also need guarantee for legal certainty in order to protect their rights as
consumers or debtors who use the loan of Pawnbroking Public Corporation.
Based on the explanation above, the problems of this research were about how
the right and obligation of the creditors and debtors in the standard agreement at the
Pawnbroking Public Corporation was, how the protection for the pawners in the system
of Law on Consumer Protection was, and how the legal protection on clients stipulated
in the standard requirements of pawn agreement at Pawnbroking Public Corporation
Office, Binjai, viewed from Law No. 8/1999 on Consumer Protection.
The research was descriptive analytic; namely a study which described,
explained, and analyzed legal matters theoretically and practically of the field study. The
materials for the research were obtained from judicial normative approach; namely, an
approach to the problems based on legal provisions.
The right and obligation of both the creditors and the debtors in the standard
agreement at Pawnbroking Public Corporation which was reflected judicially and
theoretically in the content of the agreement was not proportional; namely, the clients’
obligation was regulated in detail in the agreement, while the creditor’s obligation was
not clear enough in the agreement (SBK). The absence of proportional right and
obligation in the agreement caused the creditor to have more right, and the debtors to
have more obligation. The legal protection for the pawners in the law on consumer
protection is needed when Pawnbroking Public Corporation breaks the agreement about
the debtor’s collaterals. This default can be : negligence which causes the collaterals to
be accidentally exchanged, lost, and damaged. The legal protection for the clients can be
seen in SBK No. 4 which states that Pawnbroking Public Corporation will reimburse
125% of the accessed value of the collaterals which are damaged or lost. The legal
protection for the clients in the standard requirements of pawn agreement at
Pawnbroking Public Corporation Office, Binjai, viewed from Article 18 of Law No.
8/1999 on Consumer Protection ; namely, prohibition of using standard requirements
concerning two things: content and form of the writing.

Keywords : Legal Protection, Standard requirements and Pawn Agreement

ii

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional,
merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil dan
makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka bertambah meningkatnya pembangunan
nasional yang bertitik berat pada bidang ekonomi, yang para pelakunya meliputi
Pemerintah maupun masyarakat sebagai orang-perseorangan dan badan hukum,
sangat diperlukan dana dalam jumlah yang sangat besar, sehingga dengan
meningkatnya kegiatan pembangunan tersebut, maka meningkat pula keperluan akan
tersedianya dana yang sebagian besar diperoleh melalui pinjaman dengan membuat
suatu bentuk perjanjian.
Ketentuan hukum yang mengatur tentang perjanjian pada umumnya dijumpai
pada Buku III KUH Perdata yang esensinya adalah hukum Perdata materil Belanda
yang diatur dalam Burgelijke Wetboek (BW), sedangkan di Indonesia lazimnya
disebut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang diberlakukan di Hindia Belanda
berdasarkan asas konkordansi dan selanjutnya disebut KUH Perdata.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sutan Remy Sjahdeini bahwa dalam
pembuatan perjanjian harus berpedoman pada hukum perjanjian dalam KUH Perdata.
Di mana dalam melakukan suatu perjanjian haruslah mengandung ketentuanketentuan yang memaksa (dwingen, mandatory) dan yang sifatnya mengatur

1

Universitas Sumatera Utara

2

(aanvullend, optional). Untuk ketentuan-ketentuan yang memaksa, para pihak tidak
mungkin menyimpanginya dengan membuat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan
lain dalam perjanjian yang mereka buat. Namun terhadap ketentuan-ketentuan
undang-undang yang bersifat mengatur, para pihak bebas menyimpanginya dengan
mengadakan sendiri syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan lain sesuai dengan
kehendak para pihak. Maksud dari adanya ketentuan-ketentuan yang opsional itu,
adalah hanya untuk memberikan aturan yang berlaku bagi perjanjian yang dibuat oleh
para pihak bila memang para pihak belum mengatur atau tidak mengatur secara
tersendiri agar tidak terjadi kekosongan pengaturan mengenai hal atau materi yang
dimaksud.1
Dalam hal kegiatan perjanjian pinjam-meminjam uang atau yang lebih dikenal
dengan istilah kredit dalam praktek kehidupan sehari-hari bukanlah merupakan
sesuatu yang asing lagi, bahkan istilah kredit ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat
perkotaan, tetapi juga sampai pada masyarakat di pedesaan. Kredit umumnya
berfungsi untuk menambah modal kegiatan usaha, dan khususnya bagi kegiatan
perekonomian di Indonesia sangat berperan penting dalam kedudukannya, baik untuk
usaha produksi maupun usaha swasta yang dikembangkan secara mandiri karena
bertujuan meningkatkan taraf kehidupan bermasyarakat.
Dalam hal ini, pemerintah berusaha menyediakan fasilitas kredit melalui
lembaga perbankan maupun lembaga non perbankan untuk membantu golongan
ekonomi lemah dengan persyaratan ringan. Salah satu lembaga perkreditan dalam
1

Sutan Remy Sjahdeini, 1993, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang
bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, hal.47.

Universitas Sumatera Utara

3

penelitian ini adalah non perbankan, yaitu perum pegadaian yang diharapkan dapat
memberikan kredit dengan syarat-syarat yang tidak dapat memberatkan masyarakat dan
dengan jaminan ringan kepada masyarakat luas, khususnya kredit golongan ekonomi
menengah ke bawah yang banyak menginginkan kredit untuk kebutuhan sehari-hari,
sedangkan digolongan ekonomi menengah ke atas dipergunakan untuk menambah modal
usaha.2
Perum Pegadaian turut melaksanakan dan mendukung kebijakan program
pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan nasional yaitu menyalurkan dana
kepada masyarakat melalui pemberian pinjaman uang kepada debitur dengan jaminan
berupa barang yang secara langsung / nyata dilakukan penyerahan kekuasaan atas barang
sebagai jaminan (gadai) kepada kreditur.3

Di dalam Pasal 1150 KUH Perdata menyebutkan bahwa :
Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang
bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang
lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu
untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada
orang-orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang
barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya
setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.4
Dari isi Pasal 1150 KUH Perdata, gadai merupakan hak debitur atas suatu barang
bergerak yang diserahkan kepada kreditur untuk suatu utang piutang antara keduanya,
sehingga dari hubungan utang piutang tersebut akan timbul hubungan hukum yang

2
Rachmadi Usman, 2001, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, hal. 156
3
Wawan Widjaya dan Ahmad Yani,2000, Jaminan Fidusia, Raja Grafindo Persada,
Jakarta,hal 88
4
Subekti dan R. Tjiptosudibio, 2004, KUHPerdata, Pradnya Paramita, Jakarta, hal. 297

Universitas Sumatera Utara

4

mengakibatkan perikatan diantara penerima gadai dan pemberi gadai sehingga hak gadai
ini timbul dari perjanjian yang mengikuti perjanjian pokok yaitu perjanjian kredit.
Perjanjian gadai dapat dilihat dari dua sisi, yaitu disalah satu sisi disebut sebagai
penerima gadai (kreditur) memberikan pinjaman uang dan di sisi lain disebut pemberi
gadai (debitur) memberikan jaminan berupa suatu barang, dengan kata lain kreditur
memberikan pinjaman sejumlah uang dengan meminta barang sebagai jaminan kepada
debitur, atau sebaliknya debitur memberikan barang untuk dikuasai kreditur kepada
debitur, atau debitur memberikan barang untuk dikuasai kreditur untuk pinjaman
sejumlah uang dari kreditur.5 Barang yang menjadi obyek gadai tersebut harus diserahkan
oleh debitur (masyarakat) kepada kreditur (Perum Pegadaian). Jadi barang-barang yang
digadaikan berada di bawah kekuasaan pemegang gadai. Asas ini disebut asas
6

Inbezitstelling yang merupakan syarat mutlak dalam perjanjian gadai.

Dalam perjanjian gadai kedua belah pihak memiliki masing-masing hak dan
kewajiban. Yang merupakan kesepakatan para pihak untuk menjalankan isi perjanjian
tersebut, begitu juga dalam hal untuk menghindari terjadinya suatu resiko dari apa
yang mereka perjanjikan salah satunya resiko terhadap keselamatan barang-barang
debitur yang dijaminkan dalam perjanjian gadai. Dengan demikian gadai masih
diperlukan dalam perjanjian kredit di dalam masyarakat.

Menurut Celina Tri S.K bahwa: “Pengertian perjanjian baku adalah perjanjian
yang hampir seluruh klausul-klausulnya dibakukan oleh pemakainya dan pihak yang
5

J. Satrio, 1993, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung, hal 254
Salim HS, 2004, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, PT Grafindo Persada,
Jakarta, hal 37. Asas Inbezitstelling, maksudnya memberikan kekuasaan kepada si berpiutang untuk
mengambil pelunasan dari barang gadai tersebut.
6

Universitas Sumatera Utara

5

lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta
perubahan.”7 Rahman Hasanudin mengatakan bahwa: “Pengertian dari perjanjian
baku lebih cenderung secara substansi hanya menuangkan dan menonjolkan hak-hak
yang ada pada pihak yang berkedudukan lebih kuat sedangkan pihak lainnya terpaksa
menerima keadaan itu karenanya posisinya yang lemah.”8
Kontrak bisnis yang pada umumnya berbentuk standar senantiasa terkesan
sebagai kontrak yang tidak seimbang, karena hanya menguntungkan salah satu pihak,
dalam kontrak standar berhadapan dua kekuatan yang tidak seimbang antara pihak
yang mempunyai bargaining position (posisi penawaran) yang kuat dengan pihak
yang lemah bargaining position-nya. Pihak yang posisinya lemah hanya sekedar
menerima segala isi kontrak yang standar dengan terpaksa. Bilamana ia mencoba
menawar dengan alternatif lain, kemungkinan besar akan menerima konsekuensi
kehilangan apa yang dibutuhkan.
Kontrak dimaksud formatnya dan norma-norma hukum yang ada didalamnya
tidak dapat diubah dan sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga tidak memberi
peluang kepada salah satu pihak (biasanya debitur), untuk memahami dan mendalami
lebih lanjut isi atau materi kontrak yang disepakatinya.
Berkenaan dengan kontrak baku (kontrak standar) dalam perjanjian kredit
tersebut, Sutan Remy Sjahdeini mengatakan bahwa:
“Perjanjian baku adalah suatu perjanjian yang hampir seluruh klausalklausalnya sudah dibakukan oleh pemakainya dan pihak yang lain, pada
7
8

Celina Tri. S.K, 2008, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 139.
Rahman Hasanudin, 1999, Legal Drafting, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 134.

Universitas Sumatera Utara

6

dasarnya tidak mempunyai peluang kepada calon nasabah/debitur untuk
merundingkan atau meminta perubahan. Klausul-klausul baku yang lazim
terjadi dalam masyarakat, adalah klausul baku yang berkaitan dengan jenis
harga, jumlah, tempat, waktu dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang
diperjanjikan.”9
Perjanjian dalam bentuk kontrak baku, biasanya menggunakan formulir yang
didalamnya memuat sejumlah klausul-klausul baku yang telah disusun sebelumnya
secara sepihak dan calon nasabah tinggal membubuhkan tanda tangannya saja bila
bersedia menerima isi klausul baku yang dibuat calon kreditur. Setiap nasabah hanya
diberi dua pilihan yaitu “take it or leave it” (ambil atau tinggalkan). Calon nasabah
tidak diberi kesempatan untuk membicarakan lebih lanjut isi atau klausul-klausul
baku yang diajukan, sehingga tampak adanya kedudukan calon nasabah sangat lemah.
Akibatnya, calon debitur menerima saja syarat-syarat yang disodorkan demi
mendapatkan apa yang diharapkannya.10
Salah satu bentuk perjanjian standar yang diberlakukan kepada debitur
terdapat pada perjanjian yang dilakukan oleh Perusahaan Umum Pegadaian.
Keberadaan Perum Pegadaian sebagai salah satu lembaga perkreditan non bank
dengan mottonya “mengatasi masalah tanpa masalah”, merupakan jalan keluar bagi
masyarakat golongan ekonomi lemah sebagai alternatif penyaluran uang pinjaman
dalam waktu singkat, yang tidak mungkin dilakukan bila mengambil kredit dari bank
dengan perjanjian. Dalam perjanjian ini, masyarakat dapat memperoleh dana dalam
jumlah yang disesuaikan dengan agunan barang yang ditaksir untuk menentukan

9

Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit., hal. 66
Ibid., hal. 68

10

Universitas Sumatera Utara

7

berapa dana dengan dasar hukum gadai. Penyaluran uang pinjaman tersebut dilakukan
dengan cara yang mudah, cepat, aman, dan hemat. Sehingga tidak memberatkan bagi
masyarakat yang melakukan pinjaman dan tidak menimbulkan masalah yang baru bagi
peminjam setelah melakukan pinjaman di Pegadaian.

Penggunaan perjanjian baku dalam sistem pembiayaan pada Perum Pegadaian
merupakan suatu hal yang tidak terelakkan lagi, karena alasan efisiensi operasional
perbankan dan jaminan kepastian untuk melindungi kepentingan pegadaian selaku
pelaku usaha jasa atau pihak kreditur yang mengeluarkan dana. Namun, nasabah
debitur juga memerlukan jaminan kepastian hukum atas perlindungan hak-haknya
selaku konsumen atau pihak debitur yang memanfaatkan dana pegadaian. Di Perum
Pegadaian perjanjian baku yang dibuat secara baku dan ditentukan sepihak oleh
pegadaian yang dilakukan secara adil, sehingga dapat menjamin kepentingan para
pihak dan memberikan perlindungan hukum secara berimbang, yaitu dengan
penitipan barang. Dimana nasabah debitur yang melakukan perjanjian kredit akan
menitipkan barang agunanya sebagai jaminan kredit.
Salah satu lembaga perkreditan non perbankan yang dapat melayani
masyarakat guna untuk mendapatkan kredit dengan mudah yaitu Perum Pegadaian.
Perum Pegadaian merupakan “Badan Usaha Milik Negara yang mengemban misi
untuk menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus memupuk
keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan, penyaluran uang pinjaman

Universitas Sumatera Utara

8

kepada masyarakat ini didasarkan hukum gadai”.11 Perum Pegadaian menyalurkan
dana pinjaman kepada setiap debiturnya untuk memperoleh kredit jika ada jaminan
berupa benda bergerak. Penyaluran dana pinjaman tersebut dilakukan dengan cara yang
mudah, cepat, aman, dan hemat, sehingga tidak memberatkan bagi masyarakat yang
melakukan pinjaman dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari bagi peminjam
setelah melakukan perjanjian kredit di pegadaian.

Pegadaian bertujuan untuk membantu masyarakat golongan ekonomi lemah
mengatasi kesulitan akan dana yang dibutuhkan segera. Di samping itu, Pegadaian
juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lapisan bawah yang
berpenghasilan rendah dengan mencegah dan menghindari praktek lintah darat dan
Pegadaian gelap dengan bunga tinggi. Pegadaian juga turut melaksanakan dan
menunjang pelaksanaan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan
nasional.12
Dengan demikian perjanjian gadai yang didukung oleh dokumen hukum
utama dibuat secara sah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam Pasal 1320
KUH Perdata. Akibat hukum perjanjian gadai yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi Perum Pegadaian dan peminjam (Pasal 1338 ayat (1) KUH
Perdata). Konsekuensi yuridis selanjutnya perjanjian tersebut harus dilaksanakan
dengan itikad baik dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak. Dokumen pendukung

11

Mariam Darus Badrulzaman, 1994, Aneka Hukum Bisnis, Cet. I, Edisi I, Alumni, Bandung,
hal. 28 (selanjutnya disebut Mariam Darus Badrulzaman (A))
12
Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati, 2004, Segi Hukum Lembaga Keuangan Dan
Pembiayaan, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal.109

Universitas Sumatera Utara

9

perjanjian gadai berfungsi sebagai dokumen bukti yang sah, melengkapi dan
memperkaya hukum perdata tertulis.13
Berdasarkan pada pertimbangan tersebut, bahwa pembuatan kontrak baku
antara Perum Pegadaian dengan nasabah/debitur, semestinya berada pada tatanan
yang menempatkan posisi para pihak yang membuat perjanjian dalam kedudukan
yang seimbang (sama), sehingga bentuk kontrak baku yang dibuat oleh pihak perum
pegadaian, tidak merugikan dan memberatkan nasabah/debitur, sebagaimana
ketentuan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(selanjutnya disebut UU Perlindungan Konsumen).
Pasal 2 UU Perlindungan Konsumen mengatur asas manfaat, keadilan,
keseimbangan, keamaan dan keselamatan konsumen serta kepastian hukum.
Sedangkan Pasal 18 UU Perlindungan Konsumen mengatur format klausul baku yang
dibuat pihak produsen tidak boleh merugikan pihak konsumen. Kenyataan
menunjukkan bahwa kontrak baku (standar) yang dibuat Perum Pegadaian, cenderung
membuat kontrak sejumlah klausula yang hanya menguntungkan pihak Perum
Pegadaian sendiri dengan tidak mengakomodasi kepentingan nasabah/debitur. Dapat
dilihat dari isi kontrak baku, bilamana debitur tidak sanggup bayar, maka barang
jaminan atau agunan akan dilelang sesuai dengan perjanjian baku yang telah dibuat
oleh pihak pegadaian.
Dengan demikian, UU Perlindungan Konsumen ini merupakan payung yang
mengintergrasikan dan memperkuat penegakan hukum di bidang perlindungan
13

Ibid., hal. 29

Universitas Sumatera Utara

10

konsumen, walaupun sudah diberlakukan Undang-Undang Perlindungan Konsumen
namun di Indonesia perjanjian baku/standar yang substansinya mencantumkan
klausula eksonerasi kenyataannya sudah merambah sektor bisnis, namum dari kajian
akademik oleh para pakar hukum memandangnya secara yuridis masih kontrolversial
eksistensinya.14
Model perjanjian baku ini masih sering diperdebatkan di satu sisi dengan dalih
kebebasan para pihak sesuai dengan asas kebebasan untuk membuat perjanjian
sedangkan di sisi lain dengan dalih kebebasan yang dimiliki secara sepihak oleh
pelaku usaha, yaitu dengan melanggar hak konsumen, walaupun pada asasnya para
pihak mempunyai kebebasan untuk membuat perjanjian, namun konsep dasar
keseimbangan antara para pihak dalam membuat perjanjian merupakan konsep yang
tidak dapat ditawar.
Dengan demikian, model kontrak baku dalam masyarakat sudah menjadi
polemik tentang eksistensinya, dimana dalam perjanjian baku tersebut didalamnya
selalu mencantumkan syarat-syarat eksonerasi. Model perjanjian baku yang
berklausula eksonerasi tersebut dibuat oleh salah satu pihak yang mempunyai
kedudukan ekonomi kuat. Dalam pola hubungan yang demikian itu yang ekonominya

14

Shidarta, 1987, ”Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia”, PT Grasindo, Jakarta, Hal,
119. Klausula eksonerasi adalah syarat yang secara khusus membebaskan pengusaha dari tanggung
jawab terhadap akibat yang merugikan yang timbul dan pelaksanaan perjanjian. Selain itu juga
klausula eksonerasi merupakan klausula yang mengandung kondisi membatasi, atau bahkan
menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak produsen
(penjual). Dari hal ini terlihat bahwa dengan adanya klausula eksonerasi menciptakan
ketidakseimbangan posisi tawar menawar antara produsen dan konsumen.

Universitas Sumatera Utara

11

lemah hanya mempunyai 2 (dua) pilihan yaitu menerima dengan segala macam
persyaratan atau menolaknya sama sekali.
Hal ini dapat diamati pada prosedur pembuatan kontrak dalam bentuk
formulir dan klausul-klausul baku yang telah disusun sedemikian rupa secara sepihak.
Pada umumnya nasabah tidak berfikir panjang untuk menerima syarat-syarat dan
mengisi formulir yang disodorkan tanpa meneliti secara cermat, mengingat nasabah
dalam keadaan terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan hanya Perum
Pegadaian yang mampu mengatasi masalah dengan cepat dan mudah, oleh karenanya
nasabah tidak lagi memperhitungkan resiko yang akan diterimanya jika terjadi
wanprestasi.
Selain itu terdapat beberapa klausul baku yang dapat menjadi sumber konflik
antara nasabah/debitur dengan kreditur, yaitu penentuan kualitas barang jaminan
debitur secara sepihak dan tidak melibatkan nasabah dalam penentuan nilai barang
jaminan, jika terjadi salah taksir yang dilakukan oleh Perum Pegadaian dan
menyebabkan nilai barang jaminan tidak dapat menutupi uang pinjaman, maka
nasabah diharuskan untuk menutupi uang pinjaman dan sewa modal paling lama 14
hari. Dengan melihat keberadaan Perum Pegadaian ditengah-tengah masyarakat yang
membantu penyediaan kredit secara cepat dan mudah bagi ekonomi lemah, dapat
menjadi sumber masalah di masyarakat yaitu tidak tercapainya tujuan hukum yang
memberi kemanfaatan, keadilan dan kepastian hukum dalam masyarakat.
Berdasarkan penelitian pendahuluan perjanjian gadai tersebut dibuat secara
baku, karena untuk memudahkan transaksi gadai antara debitur dengan kreditur dan

Universitas Sumatera Utara

12

yang membuat perjanjian gadai merupakan kebijakan dari Perum Pegadaian yang
berada di Jakarta yang diterapkan di seluruh Perum Pegadaian di Indonesia.
Perjanjian gadai hanya untuk mengikat perjanjian antara pihak perum pegadaian dan
nasabah dalam menggadaikan barangnya untuk mempermudah pelayanan dari pihak
perum pegadaian kepada nasabah dalam bertransaksi atau menggadaikan.
Jangka waktu pinjaman dalam perjanjian gadai di perum pegadaian ditetapkan
dengan berdasar penggolongan barang jaminan. Dalam jangka waktu pinjaman untuk
tiap-tiap golongan adalah sama, yaitu selama 4 bulan ditambah masa tunggu lelang
maksimal 15 hari. Masa tunggu lelang yaitu pada bulan ke-5 tidak dikenai sewa
modal. Bulan ke-5 merupakan bulan bebas bunga, dimana bunga tidak
diperhitungkan dan peminjam mempunyai pertimbangan apakah benda gadai akan
ditebus atau tidak. Jangka waktu pinjaman tersebut dihitung berdasarkan bulan
kalender, dihitung sejak bulan diberikannya pinjaman.15
Jangka waktu 4 bulan tersebut di atas merupakan ketentuan mutlak. Jika
nasabah ingin memperpanjang jangka waktu peminjaman hanya dapat
dilakukan dengan pembaharuan hutang. Nasabah harus melunasi bunga
pinjaman terlebih dahulu dan lama perpanjangan harus menurut golongan
barang jaminan masing-masing. Karena masing-masing golongan mempunyai
waktu yang sama, maka lama perpanjangan adalah 4 (empat) bulan. Perpanjangan
jangka waktu peminjaman dapat dilakukan dengan cara dicicil dengan
menyerahkan sejumlah uang bunga sesuai perhitungan bunga ditambah sebagian
uang pinjaman. Atau dengan gadai ulang yaitu memberikan sejumlah uang bunga
sesuai perhitungan hari bunga dengan menaksir kembali barang jaminannya.16

15
16

Sri Soedewi dan Masjchoen Sofwan, 1981, Hukum Benda, Liberty, Yogyakarta, hal 95
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

13

Dua cara tersebut otomatis akan memperpanjang jangka waktu peminjaman.
Batas waktu pelunasan pinjaman adalah pada bulan ke-5 bulan kalender, untuk semua
golongan benda gadai, yaitu:
1. Golongan A mulai dari Rp. 50.000,- sampai dengan Rp. 200.000,-.
2. Golongan B mulai dari Rp. 210.000,- sampai dengan Rp. 1.000.000,2. Golongan C mulai dari Rp. 1.100.000,- sampai dengan Rp. 20.000.000,4. Golongan D mulai dari Rp. 20.100.000,- sampai dengan diatas Rp. 250.000.000,(Semua tergantung pinjaman dan barang yang akan diagunkan)
Apabila batas tertentu yang telah ditetapkan perum pegadaian sampai bulan
waktu batas lelang, nasabah tidak datang melunasi atau ulang gadai maka barang nasabah
tersebut dapat dilelang secara umum.
Dengan demikian perjanjian gadai pada perum pegadaian pada dasarnya
merupakan suatu perjanjian pinjam meminjam uang dengan jaminan benda bergerak
antara nasabah (pemberi gadai) dan perum pegadaian (pemegang gadai) di mana pemberi
gadai menyerahkan benda tersebut kepada pemegang gadai. Benda jaminan tersebut
tertuju pada benda bergerak maka hak kebendaan itu berupa gadai.17

Dari latar belakang diatas peneliti ingin meneliti lebih lanjut dalam tesis yang
judul : “Perlindungan Hukum Nasabah Atas Syarat-Syarat Baku Perjanjian Gadai
(Studi Pada Kantor Pegadaian Kota Binjai)”.

17

Ibid, hal 96

Universitas Sumatera Utara

14

B. Permasalahan Masalah
Rumusan masalah dalampenulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku pada
Perum Pegadaian?
2. Bagaimana perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum
perlindungan konsumen?
3. Bagaimana perlindungan hukum nasabah dalam syarat-syarat baku perjanjian
gadai di Perum Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari UU Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku
pada Perum Pegadaian.
2. Untuk mengetahui perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum
perlindungan konsumen
3. Untuk mengetahui perlindungan hukum nasabah dalam syarat-syarat baku
perjanjian gadai di Perum Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari UU Nomor
8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan
praktis, yaitu:

Universitas Sumatera Utara

15

a. Secara teoritis hasil penelitian diharapkan dapat memberi masukan secara
akedemis dalam memberikan gambaran terhadap perkembangan hukum
perjanjian, terutama tentang perlindungan hukum nasabah dalam syarat-syarat
baku perjanjian gadai di Perum Pegadaian, bagi pengembangan ilmu pengetahuan
penelitian ini diharapkan memberi manfaat teoritis yang berupa sumbangan bagi
pengembangan ilmu pengetahuan hukum tentang penerapan kontrak baku pada
khususnya.
b. Secara praktis hasil penelitian ini pada garis besarnya diharapkan dapat menjadi
masukan bagi kalangan masyarakat sebagai nasabah Perum Pegadaian di dalam
mengadakan perjanjian lebih berhatihati dan juga sebagai bahan perbandingan
bagi yang ingin mengadakan penelitian yang sejenis pada Perum Pegadaian.

E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik terhadap
hasil-hasil penelitian yang sudah ada naupun yang sedang dilakukan khususnya pada
Sekolah pascasarjana, Universitas Sumatera Utara belum ada penelitian yang
menyangkut masalah perlindungan hokum nasabah terhadap pembuatan syarat-syarat
baku perjanjian gadai baik dari judul maupun permasalahan dalam pennelitian ini.
Tetapi ada penelitian tesis yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan
dengan perjanjian, yaitu:
1. Esther Million, Magister Kenotariatan, tahun 2003, melakukan penelitian tentang
“Tugas dan Fungsi Lembaga Pembiayaan Pegadaian Dalam Pemberian Kredit

Universitas Sumatera Utara

16

Dengan Sistem Gadai (Penelitian Pada Perum Pegadaian Cabang Medan
Pringgan)”. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah : bagaimana
tugas dan fungsi pegadaian sebagai lembaga pembiayaan dalam pemberian kredit
dengan memakai sistem gadai, bagaimana prosedur pemberian kredit dengan
sistem gadai dilakukan pada lembaga pembiayaan pegadaian, dan upaya apa yang
dilakukan lembaga pembiayaan dalam penyelamatan kredit bermasalah.
2. Herly Gusti Meliana Siagian, mahasiswa Magister Kenotariatan Sekolah
Pascasajana USU, tahun 2009 dengan judul penelitian “Peranan Notaris Dalam
Perjanjian Kredit Angsuran Sistem Fidusia Para Perum Pegadaian (Studi Di
Kantor Perum Pegadaian Cabang Medan Utama) dengan permasalahan sebagai
berikut: bagaimana kewenangan notaris dalam pembuatan perjanjian kredit
angsuran sistem fidusia pada

Perum Pegadaian Cabang Medan Utama,

bagaimana kedudukan benda jaminan dalam perjanjian kredit angsuran sistem
fidusia pada Perum Pegadaian Cabang Medan Utama dan bagaimana peran
notaris dalam pelaksanaan perjanjian kredit angsuran system fidusia pada Perum
Pegadaian Cabang Medan Utama ?
Dilihat dari titik permasalahan penelitian tersebut di atas, terdapat perbedaanperbedaan dengan topik permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini.
Dengan demikian, penelitian ini benar-benar asli baik dari segi substansi maupun dari
segi

permasalahan,

sehingga

dengan

demikian

penelitian

ini

dapat

dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Universitas Sumatera Utara

17

F. Kerangka Teori dan Konseptual
1. Kerangka Teori
Perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi aktivitas
penelitian, dan imajinasi sosial, juga sangat ditentukan oleh teori