Perbandingan Gerakan Mahasiswa Indonesia Tahun 1998 Dengan Gerakan Mahasiswa Perancis Tahun 1968 (Studi Kasus Ideologi Dan Dampak Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998 dan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968)

PERBANDINGAN GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
TAHUN 1998 DENGAN GERAKAN MAHASISWA PERANCIS
TAHUN 1968
(Studi tentang Ideologi dan Dampak Gerakan Mahasiswa Indonesia
tahun 1998 dan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968)

SKRIPSI

ZULFAN EFFENDI RAMBE
030906004

DEPARTEMEN ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
DEPARTEMEN ILMU POLITIK
ZULFAN EFFENDI RAMBE (030906004)
PERBANDINGAN GERAKAN MAHASISWA INDONESIA TAHUN 1998
DENGAN GERAKAN MAHASISWA PERANCIS TAHUN 1968
(Studi tentang Ideologi dan Dampak Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun
1998 dan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968)
Rincian isi Skripsi xv, 118 halaman, 32 buku, 6 situs internet, 2 majalah. ( Kisaran
buku dari tahun 1979-2008 )

ABSTRAK
Penelitian ini mencoba untuk membahas dan memperbandingkan
mengenai gerakan mahasiswa di Indonesia yang terjadi tahun 1998, lazim disebut
dengan Reformasi yang memiliki dampak besar bagi suatu Negara Indonesia
karena berhasil mengakhiri pemerintahan yang telah berjalan selama 32 tahun
yang bagi sebagian sangat otoriter dan menganggap hal itu wajar diterapkan bagi
sebuah negara Indonesia yang masih baru dan dalam proses membangun
kehidupannya, dengan gerakan mahasiswa Perancis tahun 1968 dengan melawan
sistem lama dan mapan di sebuah Negara besar seperti Perancis.
Gerakan mahasiswa adalah suatu gerakan yang akan selalu timbul ketika
dia merasakan kondisi sekelilingnya membutuhkan perubahan. Hal ini merupakan
suatu bentuk konsekuensi sebagai kelompok yang menikmati pendidikan tinggi,
dimana didalamnya terdapat tanggungjawab besar untuk dapat memberikan
sumbangsih saran, pemikiran hingga tindakan, untuk dapat menjawab tantangan
dari mereka yang telah menggantungkana harapan besar tersebut.
Dalam perjalanannya, mahasiswa di kedua Negara tersebut memang
memiliki sejarah panjang dengan keterlibatannya dalam memainkan peranan yang
sangat penting dan menentukan. Hal ini lah yang menjadi ketertarikan penulis
untuk menelitinya. Mengapa mereka harus menentang suatu pemerintahan yang

Universitas Sumatera Utara

sah?, apa yang menjadi landasan dari pergerakan ini? hingga hasil yang diperoleh
dari gerakan ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
DEPARTEMEN ILMU POLITIK

ZULFAN EFFENDI RAMBE (030906004)
The comparison for the movement of the Indonesian student in 1998 with
the movement of the French student in 1968 (the Study about the Ideology and the
Impact of the Movement of the Indonesian Student in 1998 and the Movement of
the French Student in 1968).
Details of the contents of the Thesis xv, 115 the page, 32 book, 6 on the net site ,
2 magazines, (the Range of the book from the year 1979-2008)
Abstract
This research tried to discuss and compared concerning the movement of
his devout student the movement of the student in Indonesia that happened in
1998, usual was mentioned with Reform that had the big impact for a Indonesian
Country because of succeeding in ending the government that walked for 32 years
that for partly was very authoritarian and regarded that natural was applied for a
Indonesian Country that was still new and in the constructive process of his life,
with the movement of the French student in 1968 by opposing the long and
established system in a big Country like France.
The movement of the student was a movement that always will emerge
when he felt the condition for its surrounds needed the change. This was a form of
the consequences as the group that enjoyed higher education, where inside was
gotten by big responsibility of could give the suggestion contribution, thinking
through to the action, to be able to answer the challenge from them that has
depend this big hope.
In his trip, the student in the two countries indeed had the long history
with his involvement in playing the very important and decisive role. That’s make
interested to research it. Why must they oppose a government? , what became the
base from this movement? Through to results that were received from this
movement.

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Pengesahan

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan panitia penguji skripsi Departemen
Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Dilaksanakan pada:

Hari
Tanggal
Pukul
Tempat

: …………….
:……………..
:………………
: Ruang Sidang FISIP USU

Tim Penguji
Ketua

:
(

)

Anggota I
:
Muryanto Amin, S.Sos, M.Si
NIP : 132306950

(

)

Anggota II
:
Warjio, SS.,MA
NIP : 132316810

(

)

NIP :

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Persetujuan

Skripsi ini disetujui untuk dan diperbanyak oleh
Nama
NIM
Departemen
Judul

: ZUFAN EFFENDI RAMBE
: 030906004
: Ilmu Politik
: PERBANDINGAN GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
TAHUN 1998 DENGAN GERAKAN MAHASISWA
PERANCIS TAHUN 1968
(Studi Kasus Ideologi Dan Dampak Gerakan Mahasiswa
Indonesia tahun 1998 dan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun
1968)

Menyetujui:
Ketua Departemen Ilmu Politik

Drs. Heri Kusmanto, MA
NIP :132 215 084

Dosen Pembimbing

Dosen Pembaca

(Muryanto Amin, S.Sos, M.Si )
NIP : 132 306 950

(Warjio, S.S, M.A)
NIP : 132 316 810

Mengetahui:
Dekan FISIP USU

PROF. DR. M. Arif Nasution, MA
NIP : 131 757 010

Universitas Sumatera Utara

Karya ini kupersembahkan untuk:
Ayahanda dan Ibunda tercinta,
Adik-Adikku yang kusayangi,
Sahabat-sahabatku yang memberi
warna dalam perjalanan ini, dan
kepada mereka yang masih tetap
turun ke medan juang untuk
mewujudkan
perubahan
yang
bukan hanya sekedar Utopia belaka.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan Alhamdulillah penulis panjatkan atas Rahmat dan
Hidayah Allah SWT hingga hari ini masih diberikan kesehatan dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari khususnya dalam menyelesaikan skripsi sebagi
syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S-I) pada FISIP USU dengan judul
“PERBANDINGAN GERAKAN MAHASISWA INDONESIA TAHUN 1998
DENGAN GERAKAN MAHASISWA PERANCIS TAHUN 1968 (Studi
tentang Ideologi dan Dampak Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998 dan
Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968)”.
Shalawat beriring salam juga penulis haturkan kepada junjungan Nabi
Besar Muhammad SAW, karena telah membawa manusia dari alam yang gelap
gulita menuju alam terang benderang hari, tidak lupa kepada para sahabat dan
keluarga Beliau, sehingga kita dapat memperoleh syafaatnya di yaumil akhir
kelak. Amin.
Skripsi ini disusun sebagai sebuah aplikasi dari ilmu yang diperoleh
selama ini dan merupakan tugas akhir untuk dilaksanakan. Skripsi ini penulis buat
dengan mengangkat gerakan mahasiswa yang ada di Indonesia dan Perancis
sebagai sedikit sumbangsih penulis untuk mereka yang masih tetap terus memiliki
semangat untuk melakukan gerakan dalam menciptakan kehidupan yang lebih ke
depannya. Besar harapan skripsi ini memperoleh manfaat dari isi dan makna yang
terkandung bagi yang membacanya.
Terselesaikannya skripsi ini juga tidak terlepas atas bantuan dan dorongan
dari banyak pihak. Untuk itu, penulis dengan segala kerendahan hati
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Kedua Orang tua penulis Ayahanda Syaiful M. Rambe dan Ibunda A. Siregar
yang tiada hentinya-hentinya terus “menampar” penulis dalam hal doa, semangat
maupun kesabaran untuk segera menyelesaikan skripsi, ini maupun kedua adik
saya, Yunita Sari Rambe S.Pd dan Achmad Rinaldi Rambe.
Yang Terhormat Bapak Dekan FISIP USU, Prof. DR. M. Arif Nasution, MA
dan seluruh pegawai FISIP USU
Yang Terhormat Ketua Jurusan Departemen Ilmu Politik FISIP USU Bapak
Drs. Heri Kusmanto MA, Bapak Muryanto Amin, S.Sos, M.Si sebagi dosen
pembimbing dan Bapak Warjio S.S, MA sebagai dosen pembaca, maupun seluruh
dosen-dosen Departemen Ilmu Politik yang tidak dapat penulis sebutkan satupersatu yang telah membimbing selama masa perkuliahan ini.
Kepada kak Uci dan khususnya bang Rusdi yang telah banyak membantu
dalam hal administrasi selama masa perkuliahan terlebih lagi ketika
menyelesaikan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

To all my best friend from child until now .,.,.,the Phyton yaitu : Adi Gunawan
( saudara yang tak pernah kumiliki ), Ismail “Qibo”(Tuan Syech dari Benteng
Baru), M.Ramli “Kulok” (Mr.Cool a.k.a the last virgin in the world), Heri
Syahputra (udah bro, nikah aja, jangan gonta ganti terus), Indra (the father),
Wendi Chaniago (ente melayu ato padang sich), Jois is Mr. Black, Dedi Encep (si
Buruk Rupa), Armen (si tiang jemuran), Boim (anak buah OP)..Woi akhirnya aq
selesai juga dan jangan kelen pikir setelah aq tamat ini jadi pengacara ya……
Sahabat-sahabat alumni SLTP N 39 Medan angkatan 2000…kapan ya kita
ngumpul2 lagi???
Rekan-Rekan Kepengurusan HMI Cabang Medan periode 2007-2008 maupun
kepengerusan Badko HMI Sumut Periode 2008-2010…terima kasih telah mau
menampakkan kondisi HMI hari ini..Yakin Usaha Sampai…
Sahabat-sahabat alumni Training LK II Di Makassar tahun 2007 (NARSIS
always de best) serta Training LK III Di Medan tahun 2008…….
Kawan-kawan angkatan 2003 Departemen Ilmu Politik yang telah lebih
duluan menceburkan diri dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat..:Mario,
Andi On the Sky, Miemie FadiDong, Ochan, Ridho Nst, Fairuz, Evi Kurnia,
Yudha, Fernando, Benson, Surya, Alween, Syaiful, Said Ossie, Putra, alm. Eki
dan Endang (semoga kalian diterima di sisi Allah SWT) maupun yang tidak dapat
disebutkan satu persatu…
Kepada yang terhormat dan tersayang sahabat-sahabat ku yang mungkin
bahkan dituliskan dalam satu buku pun tidak dapat menampung seluruh cerita
yang pernah dilewati dan mimpi-mimpi indah yang ingin dirajut…Rati Sukmaria
Jupri, Miqdad, Agustia Permanda, M.L Mahardika, Fuad Putra P.Ginting,
Fernanda Putra Adela, M.Aulia Afrianshah, Elfian Choki Nasution, Roland
Ahmadi Nasution, Walid Musthafa Sembiring, Akhyar Anshori, Veni Judo, Andri
Bastian, Christ Fandi Tarigan, Prima Ardani, Jupri Adi Ali, Ali Imran, Irsan
Muliadi, T. Adil Hidayat S.,Syahputra, Nurdini Rahmasari Nasution , Yurika,
Ananda Idha Zulfia, Sri Romadhona Sitorus, Bashita Hasibuan, Nuning Ana
Fauziah, Armayati, Yuslia “Ade” Safrina.de el el . Semoga kita semua memiliki
umur yang panjang tuk tetap menikmati persahabatan ini selamanya….Amin.
Kawan-kawan stambuk 2004, Rajab, Ari, Eko, Elis, Titin and the Rombongan
lainnya juga stambuk 2005,.Jean Ari, Suhendra, Dayat, Nia and rombongan
lainnya..sangat ditunggu kehadirannya yang lebih nyata di masa depan…
Yang terhormat juga kakanda –kanda yang telah memberi motivasi, dukungan
maupun diskusi-diskusinya,,..,M. Zulfadli Matondang. M. Zaki Syachreza, Sutan
Arsyad, M.Rinaldi Khoir, M.Surahwan, Heri Purwanto, Didi Rahmadi, Abraham
Tarigan, Sofyan Sitepu, Syaiful Azhar maupun kakanda-kakanda lainnya yang
tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu..,…

Universitas Sumatera Utara

Yang terhormat kepengurusan HMI FISIP USU periode 2009-2010 di bawah
saudara Ryan Achdiral Juskal, Amardin Hrp, Ulfa Maulida. Ais. Muhar, maupun
pengurus-pengurus lainnya..
Kawan-kawan Stambuk 07…kalian lah generasi selanjutnya untuk menjaga
dan membuat sejarah baru di kampus khususnya komisariat ini…
Juga kepada adinda-adinda lainnya khususnya Andre Alfath (thanks ya Ndre
atas laptopnya sehingga aq bisa menyelesaikan skripsi ini)..
Kepada HMI Komisariat FISIP USU yang telah menjadi “rumah” bagi penulis
dalam membentuk, memberi warna dan menciptakan petualangan yang
mengasyikkan yang mungkin tidak dapat penulis jumpai di manapun dan terulang
kembali…

“Perjuangan adalah pelaksanaan dari Kata-Kata”
(W.S Rendra)
The Changes Start Here.......................................

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul…………………………………………………….

i

Abstrak……………………………………………………………..

ii

Abstract ……………………………………………………………

iii

Halaman Pengesahan …………………………………………......

iv

Halaman Persetujuan ……………………………………………..

v

Lembar Persembahan …………………………………………….

vi

Kata Pengantar …………………………………………………....

vi

Daftar Isi ……………………………………………………………

ix

Daftar Tabel dan Gambar…………………………………………

xi

BAB I

BAB II

Pendahuluan
A. Latar Belakang ………………………………….

1

B. Perumusan Masalah ……………………………..

12

C. Tujuan Penelitian ………………………………..

14

D. Manfaat Penelitian ………………………………

14

E. Kerangka Teori ………………………………….

14

F. Metode Penelitian ……………………………….

26

G. Sistematika Penulisan …………………………..

28

Deskripsi Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998
Dan Gerakan Mahasiswa Pernacis tahun 1968
A. Sekilas tentang Gerakan Mahasiswa di Dunia ….

30

B. Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia
Lahirnya Kaum Terpelajar di Indonesia ………….

32

C. Gerakan Mahasiswa Pasca Kemerdekaan
Gerakan Mahasiswa tahun 1966 dan Lahirnya Orde Baru
…………………………………………………….

39

Universitas Sumatera Utara

Gerakan Moral Sebagai Awal Mahasiswa Indonesia
Tahun 1974 ……………………………………….

44

Gerakan Mahasiswa tahun 1978 dan Munculunya
NKK/BKK ……………………………………….

49

Konsolidasi Gerakan Mahasiswa kembali ke Rakyat … 53
C.

Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998
Krisis Ekonomi tahun 1997 sebagai Momentum
Perlawanan ………………………………………….

D.

57

Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968
Euphoria Protes Berkeley …………………………..

65

Fase Tumbuhnya Gerakan Mahasiswa Perancis

BAB III

Tahun 1968 …………………………………………

67

Akhir Gerakan Mahasiswa Perancis mei 68’ ………

73

Gerakan Mahasiswa Indonesia Menuntut Rezim Orde Baru
A. Soeharto dan Pemerintahan Orde Baru sebagai
Musuh Bersama ……………………………………

75

B. Polarisasi Gerakan Mahasiswa Indonesia dalam
Menentang Orde Baru
Ideologisasi Pada Gerakan Mahasiswa Indonesia ….

82

Organisasi-Organisasi Mahasiswa Reformasi 98 …..

85

1. Forum Kota (Forkot) …………………………….

86

2. Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se-Jakarta .

89

C. Reformasi Belum Selesai …………………………….. 96

BAB IV

MEI 68’, Revolusi Mahasiswa yang Mengguncang Perancis
dan Dunia
A. Akar Sejarah Revolusi di Perancis …………………... 97
B. Kebebasan yang Menggerakkan Revolusi
Mahasiswa Perancis …………………………………. 101
C. Organisasi-organisasi yang Menggerakkan Revolusi

Universitas Sumatera Utara

Perancis ………………………………………………. 105
D. Revolusi yang memberi Pelajaran bagi Perancis
dan Dunia …………………………………………….. 110

BAB V

Pentup
Kesimpulan …………………………………………….`

114

Daftar Pustaka ………………………………………………………….

117

Daftar Tabel
Halaman

Tabel 1.2

Objek Penelitian yang ingin Diteliti ……………......

28

Tabel 2.1

Potret Fragmentasi Aksi Protes Mahasiswa 98 ….....

93

Tabel 3.1

Perbedaan maupun persamaan yang dapat ditemukan
dari Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998
dengan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968 .....

113

Daftar Gambar
Halaman
Gambar Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998 ……………....

120

Gambar Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1998 …………..........

122

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah
Peranan kaum Intelektual, dalam hal ini mahasiswa cukup menarik untuk

dibahas. Menarik, sebab mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab besar
dalam melakukan perubahan terhadap kondisi sosial yang terjadi secara
menyimpang, diwujudkan melalui gerakan mahasiswa untuk menuntut perubahan
ini dimana saja dia berada.
Dalam sejarahnya, peranan gerakan mahasiswa selalu menjadi garda
terdepan melakukan perubahan. Peranan ini merupakan suatu peranan yang
kompleks dan penting, meski tidak selalu menentukan. Karena merupakan
kelompok generasi muda yang kritis dan memiliki intelektualitas sehingga
mahasiswa sering dianggap sebagai agent of change dan agent of social control
merupakan kelompok yang mampu mengenyam pendidikan sampai taraf tinggi
sehingga mampu merepresentasikan barometer yang sangat sensitif dan secara
setia merefleksikan animo yang bergerak dalam masyarakat, 1 hal ini selaras
dengan apa yang diucapkan Soe Hok Gie, 2 bahwa mahasiswa adalah sedikit orang
bahagia yang beruntung dan terpilih mendapatkan pendidikan, sehingga
mahasiswa harus terjun dalam setiap usaha untuk melakukan perubahan ditengah
masyarakat, karena jika masyarakat yang terjun melakukan perubahan ditakutkan
1
Suharsih dan Ign. Mahendra K. Bergerak Bersama Rakyat, Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Perubahan
Sosial di Indonesia. Yogyakarta. Resist Book. 2007. hal 37-38
2
dikutip dari Dhaniel Dhakidae. Soe Hok Gie;Catatan Seorang Demonstran.Jakarta. LP3ES. 1989. hal 58

Universitas Sumatera Utara

yang terjadi adalah kerusuhan (chaos), maka diharapkan mahasiswa yang harus
menjadi garda terdepan akibat perbedaan pendidikan yang diperoleh.
Dalam pernyataannya, Arbi Sanit juga mengemukakan bahwa ada lima
faktor yang menjadikan mahasiswa peka dengan masalah kemasyarakatan
sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai
kelompok masyarakat

yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa

mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak diantara semua lapisan
masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami
pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang
diantara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik
melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat,
mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan
kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam
masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit dikalangan kaum muda.
Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan
penelitian berbagai masalah masyarakat. 3
Kemunculan gerakan mahasiswa dimulai sejak munculnya universitasuniversitas pertama di dunia. Mahasiswa di Bologna dan Paris selama abad
pertengahan ádalah sumber utama ketegangan. Kerusuhan ádalah fenomena
umum di banyak universitas. Selain itu, mahasiswa-mahasiswa Amerika Latin
juga merupakan penyumbang ide-ide bagi gerakan mahasiswa lainnya di belahan
3

Arbi Sanit. Pergolakan Melawan Kekuasaan. Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik.
Yogyakarta. Insist Press dan Pustaka Pelajar. 1999. hal 32

Universitas Sumatera Utara

dunia lain. Seiring terus berjalannya dunia, gerakan mahasiswa tetap hadir untuk
memberikan sentuhan dalam melakukan perubahan terhadap kondisi-kondisi yang
mengalami penindasan karena menyadari kodratnya sebagai “pembawa pesan”
dan “pemegang amanah”.
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa timbul sebuah gerakan sosial
yang terwujud melalui pemberontakan oleh masyarakat, khususnya mahasiswa?
Jika dikaji lebih dalam, asal muasal setiap pemberontakan adalah rasa frustrasi
yang dialami oleh setiap anggota masyarakat. Akumulasi frustrasi yang
bertumpuk-tumpuk itulah klimaks yang melahirkan pemberontakan Dengan kata
lain, muncul pemberontakan sebagai sebuah tindakan kekerasan di awali dengan
hadirnya situasi ketidakadilan ditengah–tengah masyarakat. Secara umum kondisi
pemberontakan oleh masyarakat ini tercipta akibat atau terkait erat dengan
ketidakbecusan pemangku kekuasaan publik dalam memberikan pengayoman
yang adil terhadap masyarakat. 4
Hal diataslah yang sedikit banyak mempengaruhi terjadinya gerakan sosial
yang dilakukan oleh mahasiswa bersama elemen masyarakat lainnya, seperti di
Indonesia tahun 1998 yang lebih dikenal dengan peristiwa Reformasi Mei 98’
maupun mahasiswa di Perancis tahun 1968 yang lebih dikenal dengan
Pemberontakan Mahasiswa Perancis Mei 68’.

4

Drs. Zaiyardam Zubir, M. Hum. Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi tentang Ideologi, Isu Strategi dan
Dampak Gerakan. Yogyakarta. Insist Press. 2002. hal 25

Universitas Sumatera Utara

Sejarah panjang gerakan mahasiswa di Indonesia ini tidak bisa dipisahkan
dari sejarah bangsa ketika mulai di terapkannya Politik Etis di Indonesia pada
awal abad ke 20 dengan diperbolehkannya orang-orang Indonesia menuntut
pendidikan hingga ke negeri Belanda sebagai upaya untuk memerdekakan diri
dari penjajahan, yang berlanjut dengan gerakan mahasiswa yang pernah terjadi di
Indonesia, seperti gerakan mahasiswa tahun 1965, tahun 1974, tahun 1978 sampai
gerakan mahasiswa yang terjadi dari awal 80-an hingga 90-an yang membentuk
gerakan Mei 98 ini. Walaupun demikian keunggulan yang dimiliki gerakan
mahasiswa Gerakan Mei 98 ini adalah sangat konsisten dan militan dalam
melakukan gerakan perlawanan terhadap penguasa yaitu presiden Soeharto
dengan Orde Baru nya.
Di Indonesia sendiri, cukup menarik melihat gerakan mahasiswa Mei 98’
karena

gerakan

ini

tidak

bergandengan

dengan

militer

dan

mampu

menumbangkan sebuah rezim yang menempatkan Militer, Golkar dan Birokrasi
sebagai tiang penyangga kekuasaannya, 5 berbanding terbalik dengan gerakan
mahasiswa tahun 1966 yang bergandengan tangan dengan militer. Pramodya
Ananta Toer dalam sebuah wawancaranya malah lebih gamblang menjelaskan
mengenai perbedaan kedua gerakan itu, seperti berikut 6:
“ Yang menjatuhkan Soekarno itu kan tangan-tangan Imperialis. Nah kalau menjatuhkan
Harto itu,..saya hormat...dibunuhi, diculiki, ditembaki, dianiaya…tanpa senjata...toh bisa
bikin Harto terjengkang…itu satu-satu kejadian dalam sejarah umat manusia…Jangan
lupa itu!!!

5

Suharsih dan Ign. Mahendra K. Op.Cit hal 3
Dikutip dari Pramodya Ananta Toer dalam Wawancara Film Dokumenter “Kado Buat Rakyat
Indonesia”:Golkar Partai Penguasa Orde Baru
6

Universitas Sumatera Utara

Banyak pihak yang menganggap mahasiswa adalah “bintang lapangan”
ketika proses perlawanan untuk menumbangkan rezim Soeharto ini berlangsung,
walaupun diakui perlawanan ini bukan hanya menjadi milik mahasiswa “sendiri”,
tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat dan kalangan
profesi maupun tokoh-tokoh politik di Indonesia. Karena menyadari bahwa
predikat mahasiswa bukanlah kelas tersendiri dalam masyarakat. Bahwa
perubahan sosial yang sesungguhnya haruslah didorong dari golongan yang paling
tertindas dalam masyarakat.
Lantas timbul pertanyaan, mengapa gerakan ini memperoleh begitu
banyak dukungan? Ternyata hal ini terkait dengan ketidakbecusan pemerintah
mengatasi permasalahan yang melanda bangsa akibat krisis moneter yang terjadi
tahun 1997, ditandai dengan jatuhnya mata uang Bath (Thailand) yang kemudian
menyapu seluruh Asia Tenggara menuju Asia lalu seluruh dunia, mengakibatkan
jatuhnya perekonomian negara yang selama ini diagung-agungkan oleh
pemerintahan Orde Baru. Akibatnya pemerintah melakukan serangkaian tindakan
yang mengakibatkan beban kehidupan masyarakat bertambah susah yang
merembes kepada kepercayaan politik terhadap pemerintahan, seperti kenaikan
listrik dan bahan bakar minyak (BBM) sesuai rekomendasi International
Monetary Fund (IMF) yang diminta bantuannya oleh pemerintah untuk mengatasi
krisis tersebut. Mahasiswa menemukan momentum gerakan ini dengan tuntutan
awal penurunan harga-harga yang naik akibat kebijakan ekonomi pemerintah. Isu
ini berhasil dimajukan dengan isu yang politis yaitu berkembang menjadi tuntutan

Universitas Sumatera Utara

turunnya Soeharto dan juga pencabutan dwi fungsi ABRI. Ternyata Soeharto
menanggapi isu-isu yang digulirkan ini dengan menerapkan Teori Dalang yaitu
jika pemimpin gerakan mahasiswa diculik maka gerakan mahasiswa akan menjadi
surut, sehingga dimulailah penculikan terhadap belasan aktivis mahasiswa
maupun masyarakat yang aktif menentang Soeharto pada periode Januari sampai
April 98’. Selain penculikan, peristiwa tragis terjadi tanggal 12 Mei 98’ ketika
terjadi aksi penembakan oleh aparat keamanan di Universitas Trisakti, Jakarta,
yang mengakibatkan 6 mahasiswa Trisakti tewas diterjang peluru. Peristiwa ini
lah yang kemudian menyulut perlawanan lebih hebat dari mahasiswa maupun
lapisan masyarakat lainnya. 7
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) mencoba mengelompokkan gerakan mahasiswa di tahun 1990-an
ke dalam dua kategorisasi besar, yaitu Gerakan Anti Orde Baru (GAOB) dan
Gerakan Koreksi Orde Baru (GKOB). Penelitian ini menyimpulkan bahwa
gerakan mahasiswa yang bersifat radikal (GAOB) sangat dipengaruhi oleh aliran
kiri gaya PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang sudah membangun jaringan sejak
tahun 1980-an. Dengan demikian ada satu kontinuitas yang masih bisa ditelusur
akar sejarahnya, antara gerakan mahasiswa zaman sekarang dengan era
sebelumnya. 8

7

Suharsih dan Ign. Mahendra K. Op.cit hal 102-109
dikutip dari A. Prasetyantoko, S.E, Ign. Wahyu Indriyo, S.E dkk. Gerakan Mahasiswa dan Demokrasi Di
Indonesia. Jakarta. Yayasan Hak Asasi Manusia, Demokrasi dan Supremasi Hukum (YHDS). P.T Alumni.
2001. hal 3
8

Universitas Sumatera Utara

Selama tahun 1998, kita menyaksikan meningkatnya militansi gerakan
mahasiswa. Dimulai dengan aksi-aksi protes, menyebar di berbagai daerah dengan
tuntutan penegakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa pada bulan Mei
lalu, gerakan mahasiswa Indonesia mencapai puncaknya saat mereka menduduki
gedung MPR/DPR dan berhasil memaksa Suharto turun dari jabatan presiden.
Pada era sebelumnya tahun 1960-an, dunia menyaksikan sebuah
gelombang besar kebangkitan mahasiswa. Mahasiswa di berbagai belahan dunia
mengambil alih aksi-aksi radikal dan mengambil peran penting dalam berbagai
perubahan politik di negaranya masing-masing. Negara-negara Amerika Latin,
Amerika Serikat, hingga negara Eropa seperti Hongaria, Spanyol dan Perancis
maupun negara Asia seperti Jepang, China hingga Indonesia dengan isu utama
dari gerakan mahasiswa pada era tersebut adalah pendidikan yang kemudian
berkembang dengan isu untuk melakukan perubahan terhadap kondisi yang
menindas.
Majalah Newsweek pada edisi 19 November 2007 menjadikan tahun 1968
sebagai tahun yang membentuk dunia Barat. Pada tahun inilah dibangun (atau
dihancurkannya) fondasi yang menentukan arah demokrasi di negara-negara Barat
sehingga kita mengenal Amerika, Jerman, dan Perancis sebagaimana kita kenal
hari ini. Ada beberapa hal yang kita bisa lihat dan pelajari mengenai masa tersebut
dan membandingkannya dengan pengalaman sejarah bangsa kita. Mengapa
semuanya meletus di tahun 1968? Hal ini timbul sebagai reaksi tidak terbendung
atas ketidakpuasan atas segala hal, seperti diskriminasi ras dan gender, gerakan

Universitas Sumatera Utara

budaya,

anti-komunisme,

hingga

perang

dingin

menjadi

hal-hal

yang

mengacaukan benak negara Amerika Serikat di dekade 60-an. Sementara kaum
muda Prancis dan Jerman sama-sama muak dengan moralitas generasi tua (dengan
alasan berbeda). Yang menarik dari gerakan ini adalah pada umumya gerakan ini
berpusat pada pelajar atau kalangan yang mengenyam pendidikan tinggi.
Sementara yang membedakan gerakan pada tiap negara adalah kedekatannya
dengan unsur masyarakat lainnya. 9
Selain alasan yang telah disebutkan diatas, gerakan mahasiswa tersebut
mengangkat isu mengenai pendidikan. Di banyak negara gerakan mahasiswa
selalu berawal dengan membangun militansi pada isu-isu akademik, baru
kemudian bergerak ke isu-isu politik. Gerakan Cordoba di Amerika Latin, yang
kemudian membangun gerakan solidaritas dengan para pejuang gerilyawan,
adalah salah satu contoh yang jelas. Kemenangan politis SDS Jerman Barat
sendiri didasarkan kampanye awal untuk mendemokratiskan kampus. Jadi sama
sekali salah kalau menghadapkan pilihan antara tuntutan pendidikan atau tuntutan
politis, seakan tuntutan pendidikan tidak mempunyai muatan politis. Sebaliknya,
pengalaman menunjukkan bahwa keduanya justru saling membangun. Di
Amerika Serikat, hal ini sudah terbukti melalui peristiwa Berkeley. Seperti juga
mobilisasi politis nasional besar-besaran Zengakuren di Jepang kemudian juga
meledakkan pemberontakan pendidikan lokal seperti yang di Mitada. Isu politis

9

aditthegrat.wordpress.com/.../1968-tahun-yang-diingat-dunia-barat/

Universitas Sumatera Utara

dan pendidikan tidak bisa dikontraskan dengan dogma-dogma yang abstrak,
namun disatukan dengan perjuangan kongkrit.10
Herbert Marcuse yang pada 1960-an dikenal sebagai nabi gerakan kiri
baru melalui serangkaian buku yang ditulisnya seperti Eros and Civilization,
Soviet Marxism, One Dimensional Man dan sebagainya, menyatakan bahwa
pendidikan

memainkan

peranan

penting

dalam

memperkenalkan

dan

mengembangkan refleksi kritis atas masing-masing individu dalam masyarakat.
Oleh karena itu, universitas dan lembaga pendidikan lain adalah kaya atas sumber
material yang dapat dipergunakan oleh kita karena, karena disana ditemukan salah
satu kelompok yang juga menderita dari satu dimensi dan kelompok-kelompok ini
relatif mudah diubah dengan gagasan pembebasan baru. Oleh karena itu, tidak
mengejutkan bila dalam karya-karyanya Marcuse menyarankan bahwa mahasiswa
memiliki kesempatan terbesar memulai pemberontakan melawan tatanan lama. 11
Demikian halnya gerakan mahasiswa Perancis, yang terjadi pada Mei 1968
dengan berangkat pada isu mengenai pendidikan di negara tersebut. Isu
pendidikan ini terus menggelinding hingga akhirnya membesar dan mampu
menggandeng kelompok masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang
pendidikan dan pekerjaan. Kondisi saat itu juga turut mempengaruhi

yaitu,

masyarakat Perancis yang sangat tertutup dan kaku. Tata cara hidup masih diatur
sesuai dengan agama Katolik yang keras. Banyak masalah yang tidak bisa untuk
10

Alex Supartono. Mahasiswa Bergerak. Belajar dari Perlawanan dan Perjuangan Internasional 1960-an.
Jakarta. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. 1999 hal 65-66
11
dikutip dari Abdul Wahib Situmorang. Gerakan Sosial. Studi Kasus Beberapa Perlawanan. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar. 2007. hal 40 dan 51

Universitas Sumatera Utara

dibahas secara bebas, dan masalah seks salah satu diantaranya. 12 Mereka
menginginkan kebebasan sebagaimana yang dinikmati oleh seluruh bangsa,
kebebasan politik untuk berserikat, mendapatkan informasi, dan mengekspresikan
diri, sebagaimana halnya kebebasan seksual. Hal diatas merupakan sebagian dari
akar kemarahan mahasiswa yang kemudian tumbuh secara keseluruhan menjadi
sesuatu yang baru, tantangan politik, bukan hanya kepada universitas borjuis,
tetapi juga negara borjuis. 13 Gerakan mahasiswa Perancis ini yang kemudian lebih
dikenal dengan Pemberontakan Mahasiswa Perancis atau Revolusi Mahasiswa
Perancis.
Dalam perjalanannya, gerakan mahasiswa ini berhasil membawa kelas
pekerja dan kelompok masyarakat lainnya untuk turun ke jalan. Sekitar 10 juta
pekerja di Perancis ikut turun ke jalan yang diwakili oleh Confederation Generale
du Travail atau CGT (yang dikendalikan oleh Komunis, federasi serikat kerja
yang paling kuat) dipimpin oleh George Seguy dan Confederation Francais et
Democratique du Travail atau CFDT yang dipimpin oleh Eugene Descamp 14.
Juga terdapat kelompok-kelompok profesi seperti dokter, orang-orang hukum,
orang-orang gereja, jurnalis dan pembuat film, artis, musisi, pelukis, penulis dan
kaum intelektual lainnya 15.
Gerakan mahasiswa ini kemudian tidak hanya mengangkat isu pendidikan,
tetapi mulai pada isu-isu lainnya seperti kesejahteraan pekerja, kebebasan
12

Majalah TEMPO, Edisi 9 April 2006 hal 103-104
Ibid hal 20
14
Suharsih dan Ign. Mahendra K. Op. Cit hal 39
15
Patrick Seale dan Maureen McConville Op.cit hal 111
13

Universitas Sumatera Utara

berekspresi dan sebagainya yang kemudian memuncak dengan tuntutan yang
diinginkan yaitu adanya keinginan merombak sistem-sistem kehidupan yang
terdapat di negara tersebut, yaitu suatu kebebasan dalam segala sendi kehidupan
tanpa adanya intervensi yang berlebihan dari negara. Dengan menggunakan
slogan “KEKUASAAN ADA DI JALANAN BUKAN DI PARLEMEN”, petualangan
revolusioner oleh mahasiswa Perancis menghentak negara tersebut dan juga
membawa dampak hingga ke negara-negara lain di luar Perancis.
Menurut Doug Lorimer, gerakan mahasiswa Perancis ini menjadi sebuah
fenomena yang membuat pemerintahan Barat menggigil, ini adalah penolakan
atas institusi-institusi politik yang sangat elitis dan nilai-nilai yang ditanamkan
oleh orang tua mereka. 16
Tuntutan yang disuarakan oleh gerakan mahasiswa Perancis tersebut
memang jauh dari berhasil jika melihatnya an-sich sesuai dengan yang diteriakkan
di jalanan saat itu. Tetapi masyarakat dunia sungguh tergoncang saat itu melihat
fenomena ini. Dan adanya fenomena mengenai perubahan yang terjadi ini, benarbenar merasuk di masyarakat Perancis. Pemerintahan Charles de Gaulle goyang
dan hampir saja menjatuhkan dia. Hal ini bisa disebut sebagai kemenangan
gerakan moral, bukan kemenangan politis. 17
Fenomena kedua gerakan mahasiswa di atas cukup menarik untuk diteliti
karena mahasiswa di kedua negara tersebut yang melakukan gerakan baik tahun

16
17

dikutip dari Suharsih dan Ign. Mahendra K. Op. Cit hal 40
aditthegrat.wordpress.com/.../1968-tahun-yang-diingat-dunia-barat/

Universitas Sumatera Utara

1998 dan 1968 mampu melakukan gerakan yang cukup besar dan istimewa,
dengan menggandeng berbagai kelompok masyarakat lainnya untuk turut serta
dalam melakukan perlawanan/pemberontakan terhadap tatanan lama yang selama
bertahun-tahun mengungkung segala sendi kehidupan. Selain itu, gerakan
mahasiswa ini berjalan dengan banyaknya Ideologi yang turut serta didalamnya
hingga memiliki dampak yang cukup besar bagi kedua negara, di mana pasca
kedua gerakan di atas belum ada lagi terjadi di kedua negara tersebut.
B.

Perumusan Masalah
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap gerakan sosial, Ideologi

memegang peranan yang penting. Begitu pentingnya sehingga hal utama yang
terkadang harus dipersiapkan dalam gerakan adalah Ideologi, karena ini menjadi
sebuah kerangka atau konsep yang memperjelas arah gerakan hingga tujuan yang
ingin dicapai dari gerakan sosial tersebut, walaupun terkadang Ideologi tidak
menjadi suatu hal mutlak yang harus dipersiapkan oleh suatu gerakan mahasiswa.
Dalam gerakan mahasiswa Indonesia tahun 1998 dan mahasiswa Perancis tahun
1968 terdapat berbagai macam Ideologi hingga variannya yang digunakan oleh
kedua gerakan.
Dalam gerakan mahasiswa Indonesia tahun ‘98 tercatat Ideologi ini
terpolarisasi melalui haluan Radikal-Militan, Moderat-Konservatif, hingga
Moderat-Reaktif-Religius dengan satua tujuan yang sama yaitu dengan

Universitas Sumatera Utara

menjatuhkan pemerintahan Orde Barunya presiden Soeharto 18, dan gerakan
Mahasiswa Perancis dengan Ideologi Komunis, Sosialis Marxisme Revolusioner,
dengan agenda perombakan sistem pendidikan maupun sistem politik negara.
Tetapi yang paling penting adalah kebebasan dalam segala sendi kehidupan
manusia itu sendiri. Ideologi dari kedua gerakan mahasiswa tersebut cukup
mempengaruhi dan memegang peranan penting karena melahirkan berbagai
macam model haluan gerakan dan menciptakan sebuah isu yang diangkat serta
strategi yang dijalankan dalam gerakan sosial tersebut sehingga memiliki dampak
yang luas bagi kedua Negara ini. Di Indonesia gerakan mahasiswa ini berhasil
menumbangkan rezim yang berkuasa selama 32 tahun di bawah pemerintahan
Soeharto. Berbanding terbalik dengan gerakan mahasiswa Perancis tahun 1968
yang tidak berhasil menumbangkan pemerintahan Charles De Gaulle tetapi
memiliki dampak yang luas dalam merubah pola kehidupan masyarakat Perancis
yang mapan dan borjuis.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis coba menjawab pertanyaan
penelitian “Bagaimana Ideologi mampu mempengaruhi gerakan dan Dampak
dari Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998 dengan Gerakan Mahasiswa
Perancis tahun 1968”?

18

Suharsih dan Ign. Mahendra K. Op. Cit hal 103

Universitas Sumatera Utara

C.

Tujuan Penelitian

1.

Untuk mengetahui dan menjelaskan Ideologi dan Dampak dari Gerakan
Mahasiswa Indonesia tahun 1998 dan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun
1968

2.

Mengetahui dan menjelaskan perbandingan dari Gerakan Mahasiswa
Indonesia tahun 1998 dan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968

D.

Manfaat Penelitian

1.

Mengenal lebih jauh mengenai gerakan mahasiswa khususnya gerakan
mahasiswa di Indonesia tahun 1998 dan gerakan mahasiswa di Perancis
tahun 1968 dalam porses sejarah , tujuan dan hasil yang dicapai.

2.

Diharapkan dapat sebagai bahan masukan bagi semua pihak yang concern
dalam gerakan, khususnya mahasiswa dalam membangun dan melakukan
sebuah gerakan mahasiswa untuk perubahan sosial kearah yang lebih baik.

3.

Perngembangan Ilmu pengetahuan dalam hal ini Ilmu Politik secara
mendalam dan

lebih

terspesialisasi,

serta untuk

mengasah dan

meningkatkan kemampuan berpikir dan menulis bagi penulis secara
akademis dan ilmiah dalam sebuah penulisan ilmiah.
E.

Kerangka Teori
Dalam menyusun sebuah karya tulis ilmiah, kerangka teori memegang

peranan penting , karena kerangka teori berisi pokok-pokok pikiran yang menjadi
titik tolak atau landasan dalam menyoroti masalah, sehingga menggambarkan juga

Universitas Sumatera Utara

dari sudut mana masalah penelitian disoroti. Selain itu, kerangka teori berfungsi
juga sebagai tolok ukur untuk menguji kondisi variabel dan gejala didalamnya
yang sama berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data. 19
Teori dapat didefenisikan sebagai sebuah seperangkat preposisi yang
terintegrasi secara sintaksis yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat
dihubungkan secara logis atau dengan lainnya dengan data dasar yang dapat
diamati dan juga berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan
fenomena yang diamati. 20
Berikut ini teori yang akan digunakan dalam penelitian ini:
Teori Gerakan Sosial
Dalam sejarahnya, gerakan sosial pasti memiliki alasan untuk melakukan
sebuah gerakan. Ted Robert Gurr menyatakan bahwa dasar gerakan sosial adalah
the basic frustration, yaitu gerakan sosial dimulai oleh rasa frustrasi atas keadaan
yang menimpa diri seseorang atau sekelompok orang. Rasa frustrasi yang dimiliki
oleh seseorang pada awalnya tidak menimbulkan reaksi apapun, seperti diam saja
terhadap persoalan yang ada disekitarnya. Sikap ini sudah merupakan
pembangkangan paling awal terhadap kondisi yang sudah ada dan sudah
merupakan bentuk yang paling dasar dari gerakan social. Setelah orang-orang
yang frustrasi ini bergabung, maka kumpulan orang-orang ini memiliki potensi
besar untuk memunculkan sebuah konflik, gerakan ataupun pemberontakan. Tentu
19

H. Hadari Nawawi dan H.M Martini Hadari. Instrumen Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta. Gajah Mada
University Press. 1995. hal 32
20
L. Boleong Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. 2002. hal. 34-35

Universitas Sumatera Utara

saja ini harus memenuhi berbagai persyaratan lainnya seperti Ideologi, isu dan
tokoh. 21
Alasan lain yang dapat dikemukakan mengenai timbulnya gerakan sosial
selain alasan dasar di atas, ternyata juga memiliki defenisi yang luas karena
beragam ruang lingkup yang dimilikinya. Anthony Giddens menyatakan bahwa
gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan
bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif
(collective action) di luar ruang lingkup lembaga-lembaga yang mapan. 22 Adapun
menurut Mansour Fakih, secara harfiah gerakan sosial dapat diartikan sebagai
kelompok yang terorganisir secara tidak ketat dalam rangka tujuan sosial terutama
dalam usaha merubah struktur maupun nilai sosial. 23
Defenisi yang hampir sama juga di ungkapkan oleh Tarrow yang
menempatkan gerakan sosial sebagai politik perlawanan yang terjadi ketika rakyat
biasa bergabung dengan para kelompok masyarakat yang lebih berpengaruh
menggalang kekuatan untuk melawan para elit, pemegang otoritas dan pihakpihak lawan lainnya. Ketika perlawanan ini didukung oleh jaringan sosial yang
kuat dan di gaungkan oleh resonansi kultural dan simbol-simbol aksi, maka
perlawanan mengarah ke interaksi yang berkelanjutan dengan pihak lawan, dan
hasilnya adalah gerakan sosial. 24 Sedangkan Robert Mirsel menyatakan bahwa

21

dikutip dari Drs. Zaiyardam Zubir, M. Hum op.cit hal 40
dikutip dari Fadillah Putra dkk. Gerakan Sosial, Konsep, Strategi, Aktor dan Hambatan dan Tantangan
Gerakan Sosial di Indonesia. Malang. PlaCID’s dan Averroes Press. 2006. hal 1
23
dikutip dari Drs. Zaiyardam Zubir, M. Hum op.cit hal xxiv
24
Ibid hal. 1-2
22

Universitas Sumatera Utara

gerakan sosial didefenisikan sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak
terlembaga

yang

dilakukan

sekelompok

orang

untuk

memajukan atau

menghalangi perubahan di dalam masyarakat. 25
Menurut Charles Tilly, Revolusi adalah kasus khusus dari aksi kolektif
dimana kelompok-kelompok yang bersaing, berjuang untuk mendapatkan
kedaulatan politik tertinggi atas masyarakat, dan kasus dimana kelompokkelompok penentang berhasil, sekurang-kurangnya dalam beberapa hal tertentu,
menggantikan para pemegang kekuasaan yang ada. Menurut konsepsi ini, faktorfaktor penyebab situasi revolusioner dari kedaulatan yang terpecah-pecah
(multiple soverignty). Sekurangn-kurangnya ada sejumlah perkembangan yang
dapat diidentifikasikan munculnya revolusi menurut Charles Tilly, pertama
kecenderungan jangka panjang masyarakat untuk mengalihkan sumber daya dari
beberapa kelompok dalam masyarakat kepada kelompok lain nya, kedua adanya
peristiwa

perantara

seperti

berkembangbiaknya

ideologi

revolusi

atau

meningkatnya ketidakpuasan masyarakat. Ideologi revolusi ini bisa dikatakan
sebagai suatu sistem nilai yang dominan dan mulai memiliki makna emosional
yang kuat bagi seseorang atau sekelompok orang. Peran utama ideologi dalam
suatu revolusi adalah mempersatukan berbagai penderitaan dan kepentingan di
bawah simbol oposisi yang sederhana dan memikat. 26

25

Robert Mirsel. Teori Pergerakan Sosial. Ygyakarta. Resist Book. 2004. hal 6
dikutip dari Theda Skocpol. Negara dan Revolusi Sosial. Satu Analisis Komparatif tentang Perancis,
Rusia dan Cina. Jakarta. Penerbit Erlangga. 1991. hal 25
26

Universitas Sumatera Utara

Revolusi juga dianggap berhasil ketika pembentukan koalisi antara
anggota masyarakat politik dengan kelompok-kelompok penentang yang
mengajukan klaim-klaim alternatif yang eksklusif untuk menguasai pemerintahan.
Dan juga tergantung dari besarnya kekuatan yang dimiliki oleh koalisi
revolusioner. 27
Hubungan teori gerakan sosial maupun revolusi diatas dengan perumusan
masalah adalah adanya suatu benang merah bahwa inti dari sebuah gerakan sosial
adalah menginginkan terjadinya perubahan atau menghalangi perubahan dengan
beberapa tujuan, teroganisir maupun tidak terorganisir secara rapi dan memiliki
tindakan kolektif serta bertindak diluar saluran-saluran yang mapan diidentikkan
dengan suatu tindakan revolusi atau pemberontakan dari mereka yang merasa
kondisinya mengalami ketertindasan.
Political Opportunity Structure
Pada dekade 1960-an, para akademisi baik di Amerika Utara dan Eropa
menguji bentuk-bentuk ketegangan politik, seperti gerakan sosial, revolusi,
nasionalisme dan demokratisasi, mempergunakan beberapa mekanisme. Salah
satunya adalah Political Opportunity Structure (POS) atau struktur kesempatan
politik. Mekanisme POS berupaya menjelaskan bahwa gerakan sosial terjadi
karena disebabkan oleh perubahan dalam struktur politik, yang dilihat sebagai
kesempatan. 28

27
28

Ibid hal 26
dikutip dari Abdul Wahib Situmorang. Opcit hal 3

Universitas Sumatera Utara

Peter Eisinger di dalam artikelnya di American Political Science Review
menjadi akademisi pertama yang mempergunakan mekanisme POS dalam
menjelaskan kasusu-kasus gerakan sosial, revolusi dan nasionalisme. Eisinger
mengadopsi pandangan Tocqueville yang mengatakan bahwa revolusi terjadi
tidak ketika kelompok masyarakat tertentu dalam kondisi tertekan. Tetapi, aksi
kolektif berupa revolusi muncul kepermukaan ketika sebuah sistem politik dan
ekonomi tertutup mengalami keterbukaan. 29 Akademisi lain, seperti McAdam dan
Sydney Tarrow menjabarkan mekanisme POS secara lebih spesifik. Mereka
mengembangkan dan mengindentifikasi variabel-variabel lainnya, disamping
variabel yang telah dikemukan oleh Eisinger, tentang bagaimana sebuah gerakan
sosial muncul mempergunakan mekanisme POS. Berkaitan dengan variabelvariabel tersebut, pertama, sejalan dengan pemikiran Eisinger, gerakan sosial
muncul ketika tingkat akses terhadap lembaga-lembaga politik mengalami
keterbukaan. kedua, ketika keseimbangan politik sedang tecerai berai sedangkan
keseimbangan politik baru belum terbentuk. ketiga, ketika para elite politik
mengalami konflik besar dan konflik ini dipergunakan oleh para pelaku perubahan
sebagai kesempatan. keempat, ketika para pelaku perubahan digandeng oleh para
elite yang berada di dalam sistem untuk melakukan perubahan. 30
Hubungan antara penelitian yang diangkat dengan teori POS adalah teori
POS ini menjelaskankan bagaimana salah satu variabel yang terdapat atau
keseluruhannya untuk melihat fenomena gerakan sosial yag dilakukan oleh
29
30

Ibid hal 3
Ibid hal 4

Universitas Sumatera Utara

mahasiswa Indonesia dan Perancis. Sebagai contoh, gerakan mahasiswa Indonesia
menumbangkan Soeharto. Gerakan ini menguat disebabkan oleh perpecahan di
tubuh elite politik, misalnya antara kelompok Harmoko, Wiranto, Akbar Tanjung
dan Ginanjar Kartasasmita yang melakukan pembangkangan terhadap Soeharto.31
Ideologi
Istilah Ideologi pertama kali di ciptakan oleh Filsuf Perancis, Antoine
Destutt De Tracy pada tahun 1796 yang berasal dari bahasa Perancis, Ideologie.
Antoine Destutt de Tracy menciptakan istilah Ideologi untuk mendukung gerakan
pencerahan dalam gerakan Revolusi Perancis tahun 1789. 32 De Tracy melihat
bahwa ketika revolusi berlangsung, banyak ide atau pemikiran telah menginspirasi
ribuan orang untuk menguji kekuatan ide-ide tersebut dalam kancah pertarungan
politik dan mereka mau mengorbankan hidup demi ide-ide yang diyakini tersebut.
Latar belakang inilah yang mendorong de Tracy untuk mengkaji ideologi.
Ideologi, secara etimologis berasal dari kata Idea (ide, gagasan) dan Ology (logos,
ilmu). Dalam rumusan de Tracy, Ideologi diharapkan menjadi cabang ilmu
pengetahuan yang bertujuan mengkaji serta menemukan hukum-hukum yang
melandasi pembentukan serta perkembangan ide-ide dalam masyarakat. 33
Jika melihat awal kata dari Ideologi, banyak yang menganggap bahwa
Ideologi itu sama dengan idea atau konsep. Sebenarnya Ideologi tidaklah sama
dengan hal di atas. Melainkan Ideologi, lebih bersifat suatu rangkaian ide yang
31

Ibid hal 5
dikutip dari Heri Kusmanto, Murianto Amin, dkk. Pengantar Ilmu Politik. Medan. Pustaka Bangsa Press.
2006. hal 73
33
http://www.cml.ui.ac.id/RDM/2008_GASAL/UUI11001/1_2_3/FKG_B_/HG_6#300635
32

Universitas Sumatera Utara

satu sama lainnya secara logis (in logical way) memiliki keterkaitan. Sebagaimana
dijelaskan oleh Roy C. Macridis, ada empat kriteria untuk membedakan antara ide
dan ideologi, dan bila tidak termasuk dalam kriteria ini maka tidak bisa
digolongkan

sebagai

ideologi,

yaitu

Comprehensiveness,

Pervasiveness,

Extensiveness dan Intensiveness. 34
Defenisi Ideologi dalam terminologi ilmu sosial sangat sukar dipahami.
Dalam kehidupan sehari-hari Ideologi cenderung diartikan sebagai sesuatu yang
sangat negatif, yang terutama digunakan untuk mengelompokkan ide-ide yang
bias dan ekstrem. Bahkan Michael Freeden mengatakan bahwa selama lebih
setengah abad ini konsep Ideologi muncul seabagi salah satu ide politik yang
paling rumit dan mengundang perdebatan. Ide ini mencolok dalam perdebatan
dalam diskusi pada jenjang-jenjang yang tampaknya tidak saling bersinggungan,
usaha untuk untuk menyusun fenomena yang tidsk berkaitan dan mengakibatkan
kerancuan di kalangan akademisi dan pengamat politik. Namun demikian, ada
pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk memahami Ideologi yaitu Ideologi
sebagai pemikiran politik, Ideologi sebagai kepercayaan dan norma, Ideologi
sebagai bahasa, simbol dan mitos, serta Ideologi sebagai kekuatan elite. 35
Berbicara mengenai Ideologi, akan begitu banyak pengertiannya. Dalam
artian yang luas, ideologi berisi tatanan nilai yang dimanfaatkan oleh masyarakat
sebagai pedoman untuk kehidupan bersama dalam rangka meraih harapan-harapan

34

Efriza S.I.P. Ilmu Politik. Dari Ilmu Politik sampai Sistem Pemerintahan. Bandung. Alfabeta.
2008. hal 80-81
35

Heri Kusmanto, Murianto Amin, dkk Op. cit hal 71

Universitas Sumatera Utara

mereka. Tatanan nilai tesebut berasal dari tradisi atau adat istiadat dan dapat pula
bersumber dari ajaran suatu agama. Tetapi jika kita berbicara dalam artian khusus,
Ideologi mengacu kepada perangkat cita-cita tentang kehidupan masyarakat an
negara yang tersusun secara alamiah atau secara sistemik dalam rangka memenuhi
kebutuhan segenap warganya. Agama yang di Ideologikan, seperti halnya dengan
Demokrasi, Nasionalisme dan Liberalisme termasuk ke dalam ideologi yang
tersusun secara alamiah karena proses pembentukannya terjadi secara berangsur
dan tanpa melalui suatu prosedur yang diatur secara ketat. Sedangkan Ideologi
yang seperti Marxisme, Komunisme dan Marhaenisme yang dirancang secara
sistemik oleh pencinta atau penggagasnya. 36
Dalam perjalanannya juga, Ideologi menjadi penting karena Ideologi
adalah pembimbing bagi tindakan politik. Ideologi memberi kita ideal untuk
diyakini, tujuan untuk diusahakan, dan alasan untuk diperjuangkan. Selain itu
juga, Ideologi dapat mengatakan kepada kita kebijakan yang harus kita kejar,
menetukan siapa kawan dan siapa lawan, dan mengapa kepercayaan yang
bertentangan dengan kita adalah bahaya. Ketika Id

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23