Perbandingan Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 Dengan Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 Dalam Meruntuhkan Rezim Penguasa.

PERBANDINGAN GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1966 DENGAN GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1998 DALAM
MERUNTUHKAN REZIM PENGUASA SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Disusun Oleh :
ANDRI BASTIAN 030906028
DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat yang telah diberikan kepada penulis sehingga dengan izin-Nya jua akhirnya penulisan skripsi ini dapat selesai. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada nabi besar Muhammad SAW yang telah berjuang sampai tetes darah penghabisan demi tegaknya kebenaran, semoga syafaat mu tercurahkan di akhirat kelak.
Pada penelitian yang berjudul “Perbandingan Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 Dengan Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 Dalam Meruntuhkan Rezim Penguasa”, penulis berangkat dari ketertarikan penulis terhadap kedua gerakan mahasiswa tersebut karena di Indonesia hanya kedua gerakan mahasiswa tersebut yang mampu meruntuhkan seorang penguasa. Adapun fokus perbandingan keduanya ialah pada strategi yang digunakan.
Pada pelaksanaan penelitian ini ingin mengucapkan rasa terima kepada ayahanda A. Kori Kuntji, SH dan ibunda Tenty Kumala Sari yang dengan gigih berjuang membanting tulang demi anakmu ini, tidak ada yang bisa penulis lakukan kecuali berdoa dan mencoba menjadi anak yang berbakti. Terima kasih juga untuk abang ku Erwin, SH, yuk Dwi, Kiki dan Aldi, kalian sangat berarti bagiku. Terima kasih juga untuk ayah, ibu, uda dan uni di Bukit Tinggi. Semoga kita semua tetap menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah, amin.
Penulis juga berterima kasih kepada seluruh civitas akademika FISIP USU, Bapak Dekan FISIP USU Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA, ketua Departemen Ilmu Politik Drs. Heri Kusmanto,MA, Drs. Tony P. Situmorang, MSi
ii
Universitas Sumatera Utara

selaku dosen wali penulis serta para dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berharga bagi penulis.
Terima kasih juga kepada Bapak Warjio, S.S, MA dan Bapak Indra Kesuma Nst, SIP, MSi selaku dosen pembimbing dan dosen pembaca yang telah banyak mengarahkan serta memberikan masukan yang sangat berharga kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
Terima kasih juga kepada seluruh staf pegawai administrasi dan pendidikan, kak Uci, bang Rusdi, bang Udin, pak Jamal, Ket, bu Masdah dan yang lainnya yang telah banyak membantu penulis dalam menuntut ilmu di FISIP USU.
Terima kasih untuk Rani Tri Dayanti, S. Sos atas segala dorongan, pengertian, kasih sayang dan pengorbanan yang diberikan selama ini. Engkau sangat berarti bagiku. Semoga hubungan ini mendapat ridhoNya.
Selanjutnya ucapan terima kasih kepada keluarga besar HMI Kom’s FISIP USU, bang Zacky, bang Wawan, bang Didi dan mas Pur (terima kasih atas waktu yang diluangkan untuk berdiskusi) serta abang-abang yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Teman-teman ku di kampus Tata & Irsan (ambil tuh barang kalian yang ketinggalan di sarman), Walid (bukalah dulu topengnya), Jupri (jadi yang mana neh?), Prima (si alien nyasar), Rolan (jgn mau jadi ketupat PMB), Dika (dik, hati2 bulan purnama), Veni (gober FISIP apa sastra y?), Crist Tarigan & Akhyar (ambil hikmanya aja LK-4 itu), Pak Leo (aksi trus!!!), Fuad & Coky (slmt dating dinegara ku padang bulan), Andi (kecap merek apa lagi neh?), Surya (ada film lagi gak?), Aulia (org tua yang bijak), Akong (anggota dewan neh), Putra (sang ayah), Rusa (Rudi Salam), Ari & Brata (kapan sidang?),Yoz (gay FISIP),
iii
Universitas Sumatera Utara

Migdad (agak capat datang jumatnya), Dini, Nanda, Rika, Sri, Utik, Ana, Ratih, Sita, Mimi (jagain cowok2nya ya dari sindrom gang sarman coz ada indikasi semuanya terlibat !!!)
Buat junior2 ku Ari, Rajab, Wendi, Doni, Elis, Riri, Titin, Bimbi, Jean Ari, Nia, Dayat, Lia kom, Pak de, Riri kom 05, Bedul, Anti, Amel, Cut, Fera, Irna, Lia pol 04, Serta dan yang lainnya ( perjuangan belum selesai). Semua anak kost 28 (Trims ya). Mohon maaf bagi kawan-kawan yang tidak disebutkan, tapi yakinlah kalian adalah sahabat sejati ku.
Selanjutnya untuk SBY-JK (bohong terus), semua aktivis mahasiswa (semoga skripsi ini bisa menjadi inspirasi), terima kasih untuk para pejuang yang telah mengorbankan nyawanya, semoga perjuangan kalian tidak sia-sia.
Penulis menyadari bahwa karya ini terdapat banyak kekuarangan di sana sini. Oleh karena itulah saran dan kritik sangat diperlukan agar karya-karya yang akan datang dapat lebih baik lagi. Akhirnya penulis mempersembahkan skripsi ini untuk semua pejuang kebenaran.
Medan, 2 Juni 2008 Penulis
Andri Bastian
iv
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ i KATA PENGANTAR...................................................................................... ii DAFTAR ISI..................................................................................................... v ABSTRAKSI..................................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang ............................................................................ 1 1. 2. Perumusan Masalah..................................................................... 8 1. 3. Pembatasan Masalah ................................................................... 8 1. 4. Tujuan Penelitian......................................................................... 9 1. 5. Manfaat Penelitian....................................................................... 9 1. 6. Kerangka Teori............................................................................ 10 1. 6. 1. Teori Gerakan Sosial Baru ............................................... 12 1.6. 2. Teori Mobilisasi Sumber Daya ......................................... 14 1. 7. Metodologi Penelitian ................................................................. 15 1. 7. 1. Metode Penelitian................................................................. 15 1. 7. 2. Teknik Pengumpulan Data................................................... 15 1. 7. 3. Taknik Analisa Data............................................................. 16 1.7. 4. Teknik Perbandingan............................................................ 16 1. 8. Sistematika Penulisan.................................................................. 18
v
Universitas Sumatera Utara

BAB II DESKRIPSI GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1966 DAN GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1998 DALAM MENGGULINGKAN REZIM PENGUASA
2. 1. Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 ................................................ 19 2. 1. 1. Meletusnya Peristiwa Gerakan 30 September................... 19 2. 1. 2. Lahirnya Gerakan Mahasiswa Tahun 1966....................... 24 2. 1. 3. Jatuhnya Presiden Soekarno .............................................. 28
2. 2. Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 ................................................ 30 2. 2. 1. Krisis Ekonomi Tahun 1997.............................................. 30 2. 2. 2. Lahirnya Gerakan Mahasiswa Tahun 1998....................... 35 2. 2. 3. Jatuhnya Presiden Soeharto............................................... 42
BAB III STRATEGI YANG DIGUNAKAN GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1966 DAN GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1998
3. 1. Strategi Yang Digunakan Gerakan Mahasiswa Tahun 1966....... 44 3. 1. 1. Model Organisasi Yang Digunakan ................................. 44 3. 1. 2. Sekutu Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 .......................... 49 3. 1. 3. Mobilisasi Opini Publik..................................................... 52
3. 2. Strategi Yang Digunakan Gerakan Mahasiswa Tahun 1998....... 57 3. 2. 1. Model Organisasi Yang Digunakan .................................. 57 3. 2. 2. Sekutu Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 .......................... 61 3. 2. 3. Mobilisasi Opini Publik..................................................... 63
vi
Universitas Sumatera Utara

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4. 1. Kesimpulan.................................................................................. 72 4. 2. Saran............................................................................................ 76
DAFTAR PUSTAKA
vii
Universitas Sumatera Utara

ABTRAKSI
Mahasiswa sebagai salah satu elemen bangsa telah memainkan peranan yang sangat penting dan menentukan. Sejak era kebangkitan nasional pada tahun 1908 sampai pada saat pengguliran reformasi, mahasiswa selalu saja menjadi ujung tombak perubahan. Pada tahun 1908 mahasiswa mencetuskan Budi Utomo yang kemudian disusul dengan Sumpah Pemuda. Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, mahasiswa juga memainkan peranan yang sangat strategis dengan cara menculik Soekarno-Hatta guna mendesak proklamasi kemerdekaan secepat mungkin. Pasca proklamasi mahasiswa kembali menjadi super hero dengan berhasil menumbangkan Soekarno dan Soeharto dari kursi kekuasaan.
Pada penelitian ini, ketertarikan penulis mengambil judul “Perbandingan Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 Dengan Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 Dalam Meruntuhkan Rezim Penguasa” ialah lebih dikarenakan kekaguman penulis akan perjuangan mahasiswa tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui strategi yang digunakan gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998 dalam meruntuhkan rezim penguasa serta membandingkannya. Untuk menjelaskan objek penelitian ini penulis berpendapat bahwa teori gerakan sosial baru dan teori mobilisasi sumber daya merupakan teori yang cocok dalam membedah objek dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pisau analisis teori gerakan sosial baru dan teori mobilisasi sumber daya akhirnya penulis mengambil tiga unit analisis untuk dibandingkan yaitu model organisasi yang digunakan, sekutu gerakan dan mobilisasi opini publik.
Gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998 ternyata memiliki persamaan dalam hal sekutu gerakan yang bersifat saling memanfaatkan dan saling menguntungkan serta dalam hal menggunakan aksi-aksi massa serta aksi simbolik. Sedangkan perbedaan dari kedua gerakan mahasiswa tersebut dapat dilihat pada model organisasi termasuk di dalam nya perbedaan pada kesolidan gerakan, kepemimpinan, dan spektrum atau haluan. Jika kita kritisi lagi kedua gerakan mahasiswa diatas maka kita akan menemukan bahwa gerakan mahasiswa tersebut tidak memiliki visi yang jelas serta selalu dikhianati oleh sekutu-sekutunya sendiri. Oleh karena itu bisi yang jelas, adanya organisasi penghimpun, meminimalisir mengandalkan sekutu gerakan, penguatan propaganda serta pendirian partai politik mahasiswa merupakan salah satu solusi dari permasalahan gerakan mahasiswa dewasa ini.
viii
Universitas Sumatera Utara

ABTRAKSI
Mahasiswa sebagai salah satu elemen bangsa telah memainkan peranan yang sangat penting dan menentukan. Sejak era kebangkitan nasional pada tahun 1908 sampai pada saat pengguliran reformasi, mahasiswa selalu saja menjadi ujung tombak perubahan. Pada tahun 1908 mahasiswa mencetuskan Budi Utomo yang kemudian disusul dengan Sumpah Pemuda. Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, mahasiswa juga memainkan peranan yang sangat strategis dengan cara menculik Soekarno-Hatta guna mendesak proklamasi kemerdekaan secepat mungkin. Pasca proklamasi mahasiswa kembali menjadi super hero dengan berhasil menumbangkan Soekarno dan Soeharto dari kursi kekuasaan.
Pada penelitian ini, ketertarikan penulis mengambil judul “Perbandingan Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 Dengan Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 Dalam Meruntuhkan Rezim Penguasa” ialah lebih dikarenakan kekaguman penulis akan perjuangan mahasiswa tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui strategi yang digunakan gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998 dalam meruntuhkan rezim penguasa serta membandingkannya. Untuk menjelaskan objek penelitian ini penulis berpendapat bahwa teori gerakan sosial baru dan teori mobilisasi sumber daya merupakan teori yang cocok dalam membedah objek dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pisau analisis teori gerakan sosial baru dan teori mobilisasi sumber daya akhirnya penulis mengambil tiga unit analisis untuk dibandingkan yaitu model organisasi yang digunakan, sekutu gerakan dan mobilisasi opini publik.
Gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998 ternyata memiliki persamaan dalam hal sekutu gerakan yang bersifat saling memanfaatkan dan saling menguntungkan serta dalam hal menggunakan aksi-aksi massa serta aksi simbolik. Sedangkan perbedaan dari kedua gerakan mahasiswa tersebut dapat dilihat pada model organisasi termasuk di dalam nya perbedaan pada kesolidan gerakan, kepemimpinan, dan spektrum atau haluan. Jika kita kritisi lagi kedua gerakan mahasiswa diatas maka kita akan menemukan bahwa gerakan mahasiswa tersebut tidak memiliki visi yang jelas serta selalu dikhianati oleh sekutu-sekutunya sendiri. Oleh karena itu bisi yang jelas, adanya organisasi penghimpun, meminimalisir mengandalkan sekutu gerakan, penguatan propaganda serta pendirian partai politik mahasiswa merupakan salah satu solusi dari permasalahan gerakan mahasiswa dewasa ini.
viii
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang Memahami Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran serta sebuah sosok
yang dinamakan mahasiswa. Jauh sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah bangsa, mahasiswa telah lebih dahulu mendobrak pintu perlawanan terhadap penindasan kolonialisme. Hal ini dimulai sejak era kebangkitan nasional yaitu dari tahun 1908 sampai tahun1998.
Pada awal-awal kemerdekaan atau pada periode revolusi kemerdekaan, peran mahasiswa sebagai pendobrak kemapanan sangatlah kabur untuk digambarkan sosoknya. Peran mahasiswa secara politis sebagai kelompok sosial yang berbicara atas namanya sendiri barulah muncul pada generasi tahun 1966. prestasi gemilang dari angkatan ini adalah terjadinya peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru.
Setelah Soekarno diangkat menjadi Presiden Indonesia dan dengan seiringnya waktu, demokrasi terpimpin berdiri sejak dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 oleh Soekarno dengan disokong oleh kekuatan militer untuk kembali kepada konstitus UUD 1945. Dampak dari diterapkannya Dekrit Presiden ini membawa Soekarno sebagai kekuatan politik yang tak tertandingi. Untuk menyokong kekuasaannya, Soekarno pada pidato kenegaraan Presiden pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul penemuan kembali revolusi kita, mencanangkan Manipol Usdek, U(UUD45), S(Sosialis Indonesia), D(Demokrasi Terpimpin), K(Kepribadian Indonesia). Kemudian dirumuskan juga
1
Universitas Sumatera Utara

penggabungan ideologi-ideologi besar ke dalam satu konsepsi yang disebut Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme)1.
Sebagai pusat kekuasaan, ternyata banyak kekuatan-kekuatan politik yang mencoba untuk mendapatkan posisi strategis disekitar Soekarno. Kakuatankekuatan yang paling nyata berebut pengaruh ialah PKI dan TNI AD. Ujung dari persaingan antara PKI dan TNI AD tersebut ternyata berujung pada meletusnya tragedi G30S dengan terbunuhnya enam jenderal dan perwira pertama angkatan darat.
Pasca pecahnya pristiwa G30S, ternyata membawa persatuan kekuatan mahasiswa dan militer anti Soekarno. Dengan terbunuhnya para Jenderal AD menjadikan alasan yang kuat untuk menggoyang posisi Soekarno disamping alasan-alasan kemiskinan serta instabilitas politik dan pertentangan paham yang tiada henti, atau dalam pandangan Anderson dan Mcvey, bahwa pristiwa G30S adalah mewakili kulminasi logis dari kekerasan dan kebencian yang sangat mendalam diantara kelompok-kelompok dan ideologi-ideologi yang jauh lebih luas2.
Untuk menyikapi G30S, maka dibentuklah sebuah kesatuan aksi pada tanggal 2 Oktober 1965 yang bertujuan untuk membersihkan PKI beserta unsurunsurnya yang dianggap dalang tragedi berdarah tersebut. Salah satu kesatuan aksi tersebut adalah kesatuan aksi pengganyang Gestapu (KAP-Gestapu). Memasuki fase berikutnya, berdasarkan hasil rapat dirumah Menteri Pendidikan Tinggi, Brigjen Syarif Thayep dinyatakan bahwa kesatuan aksi mahasiswa Indonesia
1 Anhar Gonggong, Ketika Kekuatan Pemuda-Mahasiswa Memulai : Ketika kekuatan Lain Meraih “Untung” dalam Rum Aly, Titik silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos Dan Dilema : Mahasiswa Dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970, (Jakarta : Kata Hasta Pustaka, 2006) hal. XI iii
2 Miftahuddin, Radikalisasi Pemuda PRD melawan tirani, (Depok : Desantara, 2004) hal.41
2
Universitas Sumatera Utara

(KAMI) terbentuk tepat pada tanggal 25 Oktober 1965. KAMI didominasi oleh Pergerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI), Sekretariat Bersama Mahasiswa Lokal (SOMAL), Pregerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Mahasiswa Pancasila (Mapancas)3. KAMI didukung penuh oleh militer dikarenakan bukan hanya memiliki tujuan yang sama serta aktivis-aktivis KAMI ternyata mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh-tokoh militer anti Soekarno4.
Sebelum KAMI muncul, aksi-aksi mahasiswa masih bersifat sporadis, tidak menyatu serta tidak tersistematis. Setelah KAMI berdiri, gerakan mahasiswa lebih terfokus dengan menyuarakan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Isi dari Tritura tersebut ialah Bubarkan PKI, Retool Kabinet dan Turunkan Harga Barang.
Pada tanggal 16 Februari 1966, Soekarno malakukan reshuffle kabinet Dwikora, akan tetapi kebijakan Soekarno tersebut ditentang oleh mahasiswa karena komposisi kabinet yang baru masih diisi oleh orang-orang PKI, korup serta tidak kompeten. Tepat pada tanggal 24 Februari 1966 pada saat pelantikan kabinet Dwikora, jatuh korban tewas dari mahasiswa ketika melakukan aksi, salah seorangnya adalah Arif Rahman Hakim (mahasiswa kedokteran UI) yang ditembak pasukan Cakrabirawa5.
Dalam menghadapi aksi-aksi mahasiswa yang bertambah luas dan massif, akhirnya Soekarno membubarkan KAMI dengan keputusan Presiden No 41/Kogam/19666. Pasca pembubaran KAMI oleh Soekarno, mahasiswa membentuk wadah baru yang diambil dari nama mahasiswa yang gugur dalam
3 Suharsi dan Ign Mahendra K, Bergerak Bersama Rakyat, Sejarah Gerakan Mahasiswa Dan Perubahan Sosial Di Indonesia, (Yogyakarta : Resist Book, 2007) hal. 72
4 Ibid. 5 Ibid, hal. 74 6 Ibid
3
Universitas Sumatera Utara

aksi-aksi tahun 1966, yaitu Laskar Arif Rahman Hakim (Laskar ARH) yang terdiri dari 42 universitas dan perguruan tinggi di Jakarta7.
Pasca keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) serta pembersihan terhadap kekuatan-kekuatan PKI dan Soekarno, naiklah Jenderal Soeharto ketampuk kekuasaan. Seluruh anggota legislatif pendukung PKI dan Soekarno digantikan dengan orang-orang pendukung Jenderal Soeharto, diantaranya merupakan perwakilan dari mahasiswa, antara lain Fahmi Idris, Jhony Simanjuntak, David Napitupulu, Mar’ie Muhammad, Liem Bian Koen, Soegeng Sarjadi, Nono Anwar Makarim, Yozar Anwar, Cosmas Batubara dan Slamet Sukirnanto8.
Pasca turunnya Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia maka masuklah pada babak baru yaitu Orde Baru dibawah pimpinan Jenderal Soeharto. Naiknya Soeharto terhitung sejak keluarnya surat perintah sebelas Maret atau Supersemar. Naiknya Soeharto tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa angkatan 66 dalam menggulingkan Soekarno. Seymour M Lipset menggambarkan keberhasilan gerakan mahasiswa tahun 1966 dalam menggulingkan Soekarno sejajar dengan keberhasilan mahasiswa menggulingkan Juan Peron (1955) di Argentina dan Peres Jimones (1958) di Venezuela9.
Setelah lebih dari 30 tahun Soeharto berkuasa dengan sangat otoriter, timbullah perlawanan-perlawanan dari mahasiswa. Penggulingan Soeharto pada tahun 1998 sebenarnya puncak dari perjuangan-perjuangan mahasiswa sebelumnya. Kejatuhan Soeharto dapat dirunut ketika terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997. krisis ini bermula jatuhnya nilai mata uang Thailand yang
7 Miftahuddin, Op.Cit. hal. 44 8 Suharsi dan Ign Mahendra K, Op. Cit. hal. 76 9 Miftahuddin, Op. Cit. hal. 42
4
Universitas Sumatera Utara

kemudian diikuti oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya. Pada bulan Juli 1997
nilai tukar Rupiah jatuh menjadi Rp 240010. Dampak dari melemahnya nilai
Rupiah ini membuat dunia usaha menjadi tidak berkutik bahkan sampai gulung
tikar serta melonjaknya harga bahan-bahan kebutuhan pokok.
Ternyata dampak dari krisis ekonomi ini dianalisa oleh seorang ekonom
UI, Faisal Basri dengan mengambil kesimpulan yang cukup provokatif :
“Kalau pemerintah masih juga mencari jalan pemecahan dengan cara berputar-putar dan mencoba-coba, karena enggan menengok ke inti permasalahan dari krisis yang terjadi,agaknya ratusan juta penduduk miskin tak akan lagi mau diajak bersabar dengan janji-janji tanpa perlu menunggu mahasiswa dan intelektual bergerak, mereka dengan sendirinya akan melangkahkan kaki mencari sesuap nasi untuk tujuan survival semata. Ditambah dengan seonggok persoalan lain yang belum kunjung menunjukan perbaikan berarti, maka secara ekonomi dan politik masalahnya menjadi semakin rawan. Dosa besar kalau kita berdiam diri menunggu hingga anarki berkecamuk”11.
Dari krisis ekonomi yang timbul pada saat itu, ternyata dijadikan
momentum politik mahasiswa untuk meruntuhnya Orde Baru. Mahasiswa
memandang bahwa tiadanya kedaulatan rakyat dan sistem yang demokratis itulah
yang membuat krisis ekonomi semakin parah. Lebih lanjut KM UGM menyatakan
bahwa rezim Soeharto tidak bisa ditoleransi lagi, karena dosanya menciptakan
kelaparan dan menindas rakyat yang sudah berkorban dengan darah dan air mata
selama ini. Jadi krisis ekonomi ini bagi KM UGM harus dijadikan momentum
untuk melakukan perlawanan menentang rezim Soeharto12. Pada tanggal 25
Februari 1998, kelompok civitas academica UI melakukan aksi mimbar bebas di
10 Mochtar E. Harahap dan Andris Basril, Gerakan Mahasiswa dan Politik Indonesia, (Jakarta : NSEAS, 1999) hal. 101
11 Muridan S. Widjojo, Turunkan Harga Atau Kami Turunkan Kamu, Gerakan Mahasiswa Menggulingkan Soeharto, dalam Muridan S. Widjojo, Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakam Mahasiswa 98, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999) hal.158
12 Ibid. hal. 256
5
Universitas Sumatera Utara

UI Selemba. Aksi ini terdiri dari mahasiswa UI dan ikatan alumni UI (ILUN UI) menuntut agar pemerintah mengatasi krisis yang terjadi 13.
Pada Sidang Umum MPR yang diselenggarakan pada tanggal 1-11 Maret 1998 menetapkan Soeharto sebagai Presiden untuk ketujuh kalinya. Pasca pengukuhannya sebagai Presiden, Soeharto ternyata membuat kebijakan yang menambah sakit hati rakyat, yaitu dengan melantik Siti Hardiyanti Rukman sebagai Menteri Sosial, Bob Hasan sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan, mengangkat Haryanto Danoetirto dan Abdul Latif yang merupakan kroni-kroni Soeharto.
Akan tetapi yang membuat bertambah marah mahasiswa ialah diangkatnya Wiranto Arismunandar sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dia adalah mantan Rektor ITB periode 1986-1997. Selama kepemimpinannya di ITB, sedikitnya 12 mahasiswa dikeluarkan dan 61 mahasiswa di skorsing karena kebijakan NKK/BKK.
Pasca Sidang Umum MPR, aksi-aksi mahasiswa menentang Soeharto semakin meluas. Tercatat dari 49 aksi mahasiswa pada Februari 1998 langsung melonjak mencapai 247 aksi pada Maret 1998. Radikalisasi aksi mahasiswa semakin hari semakin meningkat, sehingga sering terjadi bentrokan-bentrokan dengan aparat keamanan (tentara dan polisi). Di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Lampung, pada tanggal 17 Maret 1998 terjadi bentrok dengan aparat antara mahasiswa yang ingin melanjutkan aksi keluar kampus dengan aparat keamanan. Tanggal 2-3 April bentrokan terjadi di Boulevard UGM dan bentrok berulang pada tanggal 13 April ketika demonstran dikejar-kejar dan

13 Suharsi dan Ign Mahendra K, Op. Cit. hal. 103

6
Universitas Sumatera Utara

ditembaki oleh militer sampai ke dalam kampus. Di Medan juga terjadi bentrokan serupa pada tanggal 24 April sehingga mengakibatkan Universitas Sumatera Utara (USU) diliburkan beberapa hari14.
Dalam menanggapi aksi-aksi mahasiswa, Orde Baru mencoba meredakan aksi-aksi mahasiswa tersebut dengan melakukan penculikan terhadap pimpinanpimpinan aksi tersebut.beberapa aktivis yang diculik antaranya : Faisol Reza, Andi Arif, Desmond J. Mahesa, Rahardja Waluya Jati, Gilang , Pius Lustrilanang dan lain sebagainya. Hingga saat ini masih ada 15 aktivis yang belum diketemukan, sedangkan mayat Gilang ditemukan di Madiun. Aksi penculikan ini dilakukan oleh Tim Mawar dari Kopassus yang dipimpin oleh Prabowa Subianto, menantu Presiden Soeharto. Peristiwa berdarah juga terjadi pada tanggal 12 Mei ketika terjadi aksi di Universitas Trisakti, Jakarta. Empat mahasiswa gugur tertembak. Kejadian ini membuat kemarahan rakyat sehingga mengakibatkan Jakarta lumpuh total dengan adanya kerusuhan masal.
Selain aksi-aksi jalanan yang dilakukan oleh mahasiswa, peristiwa lain yang mempercepat turunnya Soeharto dari kursi kekuasaannya adalah pendudukan gedung DPR/MPR oleh ratusan ribu mahasiswa sejak tanggal 18 Mei 1998. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan pengunduran diri nya sebagai Presiden dan digantikan oleh Wakil Presiden BJ Habibie.
Dari uraian diatas, ketertarikan saya meneliti perbandingan gerakan mahasiswa 1966 dan gerakan mahasiswa 1998 ini ialah bahwa dibandingkan dengan gerakan mahasiswa di Indonesia yang lainnya hanya gerakan mahasiswa 1966 dan gerakan mahasiswa 1998 lah yang berhasil meruntuhkan rezim

14 Ibid. hal. 106

7
Universitas Sumatera Utara

penguasa disamping revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945. kemudian ketertarikan saya ingin membandingkan gerakan mahasiswa 1966 dengan gerakan mahasiswa 1998 karena saya ingin melihat perbedaan serta kesamaan dari kedua gerakan tersebut dalam meruntuhkan rezim yang sedang berkuasa karena setiap gerakan selalu mempunyai karakteristik masing-masing.
1. 2. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang yang telah penulis uraikan diatas,
maka penelitian ini memfokuskan perumusan masalah pada : “Bagaimana perbandingan strategi gerakan mahasiswa 1966 dengan strategi gerakan mahasiswa 1998 dalam meruntuhkan rezim penguasa ?”.
1. 3. Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, penulis membatasi permasalahan agar ruang lingkup
penelitian ini tidak terlalu luas serta dapat menghasilkan uraian yang sistematis. Adapun pembatasan masalah pada penelitian ini ialah
1. Penelitian ini hanya memfokuskan pada strategi yang digunakan oleh gerakan mahasiswa tahun 1966 dalam menggulingkan Soekarno dimulai dari meletusnya G30S 1965
2. Penelitian ini hanya memfokuskan pada strategi yang digunakan oleh gerakan mahasiswa tahun 1998 dalam menggulingkan Soeharto dimulai dari munculnya krisis ekonomi di Indonesia
3. Penelitian ini hanya memfokuskan pada gerakan mahasiswa yang bertujuan untuk menggulingkan Soekarno dan Soeharto, bukan gerakan mahasiswa yang mendukung penguasa tersebut
8
Universitas Sumatera Utara

1. 4. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui strategi yang digunakan dalam gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998. 2. Untuk membandingkan strategi yang digunakan gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998
1. 5. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Bagi penulis, untuk mengembangkan kemampuan berfikir serta kemampuan menulis melalui karya ilmiah serta agar dapat menyelesaikan pendidikan di strata satu Departemen Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 2. Bagi akademis, agar dapat dijadikan tambahan referensi dalam Ilmu Politik 3. Bagi mahasiswa, semoga dapat menjadi masukan dalam gerakan mahasiswa. 4. Bagi pemerintah, agar dapat mengetahui serta memahami bahwa kekuatan gerakan mahasiswa dapat meruntuhkan rezim yang sedang berkuasa.
9
Universitas Sumatera Utara

1. 6. Kerangka Teori
Teori Gerakan Sosial
Salah satu unsur penting dalam sebuah penelitian adalah penyusunan kerangka teori, karena teori berfungsi sebagai landasan berfikir untuk menggambarkan dari mana peneliti melhat objek yang di teliti sehingga penelitian dapat lebih tersistematis. Teori adalah rangkaian asumsi, konsep, konstruksi, defenisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep15.
Adapun teori yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu teori gerakan sosial baru (New Social Movement) dan teori mobilisas sumber daya (Resource Mobilization Theory). Kata gerakan sosial identik dengan kata-kata perlawanan, perubahan sosial dan kata ideologi marxis. Sebelum menjelaskan teori gerakan sosial baru dan teori mobilisasi sumber daya, kita harus mengetahui tentang gerakan sosial secara umum.
Gerakan sosial memiliki defenisi yang luas karena beragam ruang lingkup yang dimilikinya. Anthony Giddens menyatakan bahwa gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action) diluar ruang lingkup lembaga-lembaga yang mapan16.
Defenisi yang hampir sama juga di ungkapkan oleh Tarrow yang menempatkan gerakan sosial sebagai politik perlawanan yang terjadi ketika rakyat biasa bergabung dengan para kelompok masyarakat yang lebih berpengaruh
15 Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, (Jakarta : LP3ES, 1989) hal. 37
16 Fadhillah Putra dkk, Gerakan Sosial, Konsep, strategi, actor,hambatan dan tantangan gerakan sosial di Indonesia, (Malang : PLaCID’s dan Averroes Press, 2006) hal. 1
10
Universitas Sumatera Utara

menggalang kekuatan untuk melawan para elit, pemegang otoritas dan pihakpihak lawan lainnya. Ketika perlawanan ini didukung oleh jaringan sosial yang kuat dan di gaungkan oleh resonansi kultural dan simbol-simbol aksi, maka perlawanan mengarah ke interaksi yang berkelanjutan dengan pihak lawan, dan hasilnya adalah gerakan sosial17.
Adapun menurut Mansour Fakih, secara harfiah gerakan sosial dapat diartikan sebagai kelompok yang terorganisir secara tidak ketat dalam rangka tujuan sosial terutama dalam usaha merubah struktur maupun nilai sosial18. Gerakan sosial merupakan gejala yang telah lama ada akan tetapi baru beberapa abad yang silam orang mulai memahami karakter dan wataknya.
Lebih lanjut Blumer menyatakan bahwa gerakan sosial dapat dirumuskan sebagai sejumlah besar orang yang bertindak bersama atas nama sejumlah tujuan atau gagasan19. Sedangkan Robert Mirsel menyatakan bahwa gerakan sosial didefenisikan sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak terlembaga yang dilakukan sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi perubahan di dalam masyarakat20.
Diantara defenisi tentang gerakan sosial diatas, kita menemukan benang merah bahwa gerakan sosial menginginkan perubahan atau menghalangi perubahan dengan beberapa tujuan, tidak terorganisir secara rapi dan memiliki tindakan kolektif serta bertindak diluar saluran-saluran yang mapan.
17 Ibid. hal. 1-2 18 Mansour Fakih, Tiada Transformasi Sosial Tanpa Gerakan Sosial dalam Zaiyardam Zubir,
Radikalisme Kaum Pinggiran : Studi Tentang Ideologi, Isu, Strategi dan Dampak Gerakan, (Yogyakarta : Insist Press,2002) hal. XXiV 19 Www.Satrioarismunandar.Multiply.Com  20 Robert Mirsel, Teori Pergerakan Sosial, (Yogyakarta : Resist Book, 2004) hal. 6
11
Universitas Sumatera Utara

Dalam memahami dan menjelaskan fenomena gerakan sosial, para ahli ilmu sosial terus mengembangkan wacana sehingga pada tataran teoritis telah melahirkan apa yang dimanakan teori gerakan sosial baru (New Social Movement) dan teori mobilisasi sumber daya (Resource Mobilization Theory).
1. 6. 1. Teori Gerakan Sosial Baru (New Social Movement) Gerakan sosial beru esensialnya merupakan perkembangan dari teori
gerakan sosial yang ada sebelumnya, sebagaimana Laclau dan Mouffe menganggap gerakan sosial baru sebagai model dalam pencarian alternatif atas kemacetan pendekatan marxisme21. Di dalam gerakan sosial baru terdapat slogan yang berbunyi there are many alternatives (ada banyak alternatif)22.
Gerakan sosial baru atau new social movement mulai muncul dan berkembang sejak pertengahan tahun 1960 an. Gerakan sosial baru hadir sebagai alternatif lain dari prinsip-prinsip, strategi, aksi atau pun pilihan ideologi dari pandangan-pandangan teori marxis tradisional yang lebih menekankan pada perjuangan kelas.
Menurut Richarso dan Singh, ciri yang menonjol dari gerakan sosial baru dibandingkan dengan gerakan sosial klasik adala sebagai berikut: 1. Ideologi dan Tujuan
Gerakan sosial baru meninggalkan orientasi ideologi yang kuat melekat pada gerakan sosial lama seperti ungkapan-ungkapan tentang anti kapitalisme, revolusi kelas, dan perjuangan kelas. Gerakan sosial baru juga menepis argumen
21 Mansour Fakih, Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial, Pergolakan Ideologi LSM Indonesia, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996) hal. 46
22 Amalia Pulungan dan Roysepta Abimanyu, Bukan Sekedar Anti Globalisasi, (Jakarta : IGJ dan WALHI,2005) hal. iX
12
Universitas Sumatera Utara

marxis yang menyatakan bahwa semua perjuangan dan pengelompokan berdasarkan atas konsep kelas seperti borjuasi dan proletariat. Gerakan sosial baru lebih menekankan pada isu-isu spesifik non materialistik serta tampil sebagai perjuangan lintas kelas. 2. Tujuan dan Pengorganisasian
Gerakan sosial baru umumnya tidak lagi mengikuti model pengorganisasian sebagai mana gerakan sosial lama. Jika pada gerakan sosial lama cenderung menggunakan serikat buruh dan model kepartaian maka gerakan sosial beru lebih memilih saluran diluar itu yaitu dengan menggunakan teknik mengganggu (disruptive) dan memobilisasi opini publik. Para aktivis gerakan sosial baru cenderung menggunaan bentuk-bentuk demonstrasi yang sangat dramatis dan dirancang matang sebelumnya serta dilengkapi dengan kostum dan sombol-simbol. 3. Struktur
Gerakan sosial baru cenderung mengorganisir diri mereka dengan gaya tidak kaku, mengalir dan egaliter guna menghindari bahaya oligarki yang mapan karena gerakan sosial yang mapan biasnya memiliki karakteristik birokratis sehingga menghambat gerakan itu sendiri dalam mencapai tujuan.
Gerakan sosial baru menggunakan cara rotasi kepemimpinan atau bahkan dalam bentuk presidium agar semua kelompok merasa terwakili serta memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap gerakn sosial tersebut. Gerakan sosial baru menerapkan struktur yang bersifat terbuka, terdesenteralisasi dan non hirarkis.
13
Universitas Sumatera Utara

4. Partisapan atau Aktor Partisipan atau aktor gerakan sosial baru berasal dari berbagai latar
belakang serta berjuang melintasi sekat-sekat sosial demi kepentingan kemanusiaan. Clause Offe menyatakan bahwa aktor gerakan sosial baru berasal dari tiga sektor utama yaitu :
1. Kelas menengah baru, 2. Unsur-unsurkelas menengah lama (petani, pemilik toko dan penghasil
karya seni), dan 3. orang-orang yang menempati posisi pinggiran yang tidak terlalu
terlibat dalam pasar kerja, seperti mahasiswa, ibu rumah tangga, dan para pensiunan23. Aktor gerakan sosial baru ini juga menolak pengklasifikasian menurut ideologi politik seperti kanan maupun kiri. Gerakan sosial baru hadir bukan sebagai bantahan atau kontradiksi gerakan sosial klasik akan tetapi gerakan sosial baru berperan mengisi menisi ruang-ruang kosong yang luput dari perhatian agenda gerakan sosial lama.
1. 6. 2. Teori Mobilisasi Sumber daya (Resource Mobilization Theory) Teori mobilisasi sumber daya ini muncul sebagai anti tesa dari pandangan
yang mengatakan bahwa gerakan sosial muncul akibat dari pada penyakit sosial. Dalam pandangan lama bahwa gerakan sosial muncul akibat dukungan dari pihakpihak yang mengalami penindasan, teralienasi dan terisolasi di dalam masyarakat.

23 Fadhillah Putra dkk, Op. Cit. hal. 69-70

14
Universitas Sumatera Utara

Akan tetapi pandangan lama tersebut dibantah oleh teori ini yang menyatakan bahwa gerakan sosial muncul karena tersedianya sumber-sumber pendukung gerakan, tersedianya kelompok-kelompok koalisi, adanya dukngan dana, adanya tekanan dan upaya pengorganisasian yang efektif serta sumberdaya yang penting berupa ideologi24.
Teori ini lebih menekankan pada teknik, bukan pada sebab gerakan sosial tersebut muncul. Para penganut teori mobilisasi sumber daya ini memandang bahwa kepemimpinan, organisasi dan teknik sebagai faktor yang menentukan sukses tidaknya sebuah gerakan sosial25.
1.7. Metodologi Penelitian
1.7.1. Motode Penelitian Pada penelitian ini metode yang digunakan ialah metode deskriptif
kualitatif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan objek penelitian yang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya26. Sedangkan kualitatif merupakan penelitian yang tidak menggunakan alat bantu rumus statistic atau dengan kata lain bukan metode pengukuran.
1.7.2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini ialah dengan metode library
research atau penelitian kepustakaan. Penelitian dengan menggunakan studi
24 Mansour Fakih, Tiada Transformasi Sosial Tanpa Gerakan Sosial dalam Zaiyardam Zubir, Radikalisme Kaum Pinggiran : Studi Tentang Ideologi, Isu, Strategi dan Dampak Gerakan, (Yogyakarta : Insist Press,2002) hal. XXVii
25 Www.Satrioarismunandar.Multiply.Com 26 Hadari Nawawi, Penelitian Terapan, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1994) hal. 73
15
Universitas Sumatera Utara

pustaka ini dilakukan dengan cara menelusuri, mengumpulkan dan membahas bahan-bahan, informasi dari karangan-karangan yang termuat dalam buku-buku, artikel-artikel, internet, jurnal dan lain sebagainya yang berkaitan dengan objek penelitian.
1.7.3. Teknik Analisis Data Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik analisis data kualitatif, dimana teknik ini melakukan analisa atas masalah yang ada sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang akan diteliti dan kemudian dilakukan penarikan kesimpulan.
1.7.4. Teknik Perbandingan Defenisi sederhana dari perbandingan adalah suatu kegiatan untuk
mengadakan identifikasi persamaan atau perbedaan antara dua gejala tertentu atau lebih27. Agar proses perbandingan dalam penelitian ini bersifat sistematis, maka penulis merujuk pada konsepsi dari Samuel Beer, Adam Ulam serta Roy Macridis yang merumuskan tahapan-tahapan telaah komparatif atau tahapan-tahapan perbandingan, tahapan-tahapan deskriptif, klasifikasi, penjelasan serta konfirmasi nya meliputi, pertama, tahapan pengumpulan dan pemaparan deskripsi fakta yang dilakukan berdasarkan skema atau tata cara penggolongan (klasifikasi) tertentu. Tahapan kedua yaitu, berbagai kesamaan dan perbedaan dikenali dan dijelaskan . Tahapan ketiga yaitu, hipotesa-hipotesa sementara tentang saling keterkaitan dalam proses politiknya diformulasikan. Tahapan keempat yaitu, hipotesa-
27 Ronald H. Chilcote, Teori Perbandingan Politik, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003) hal. 21
16
Universitas Sumatera Utara

hipotesa tersebut diverifikasi (diuji dan diperiksa melalui observasi empiris atau pengamatan lapangan secara cermat Sedangkan tahapan kelima ialah temuantemuan yang didapat dipertanggung jawabkan harus ditetapkan28.
Lebih lanjut Lijphart mengemukakan bahwa metode perbandingan harus menemukan hubungan empiris antara variabel serta bukan metode pengukuran atau dengan kata lain metode perbandingan menggunakan analisas kualitatif, bukan kuantitatif.
28 Soekanto, Perbandingan Hukum, (Bandung : Alumni, 1979) hal. 10
17
Universitas Sumatera Utara

1.8. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I

: PENDAHULUAN

Bab ini berisikan Latar Belakang, Perumusan Masalah, Pembatasan

Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi

Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II

: DESKRIPSI GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1966 DAN

GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1998 DALAM

MENGGULINGKAN REZIM PENGUASA

Bab ini berisi gambaran sejarah mahasiswa tahun 1996 dan gerakan

mahasiswa tahun 1998 dalam meruntuhkan rezim penguasa.

BAB III

: PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

Bab ini berisi analisis data hasil penelitian tentang perbandingan

Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 dan Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 dalam

meruntuhkan rezim penguasa.

BAB IV

: PENUTUP

Bab ini berisikan tentang kesimpulan penulis terhadap hasil yang

didapat dari penelitian, serta saran dari penulis sebagai rekomendasi kedepan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

18
Universitas Sumatera Utara

BAB II DESKRIPSI GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1966 DAN
GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1998 DALAM MENGGULINGKAN REZIM PENGUASA
2. 1. Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 2. 1. 1. Meletusnya Peristiwa Gerakan 30 September (G30S)
Pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, pemerintahan Indonesia sangatlah rapuh, hal ini ditandai dengan seringnya terjadi gonta ganti kabinet. Melihat hal tersebut, Soekarno selaku Presiden melontarkan gagasan tentang demokrasi terpimpin (sebenarnya ide demokrasi terpimpin berasal dari Ki Hajar Dewantara) ditolak karena untuk menjalankan konsepsi ini haruslah mengganti UndangUndang Dasar (UUD) Sementara yang masih digunakan dengan UUD yang lain1.
Celakanya Konstituante yang anggotanya di pilih melalui pemilihan umum 1955 belum menciptakan UUD negara yang baru, hal ini dikarenakan adanya pertarungan antara pendukung ideologi Pancasila dan ideologi Islam. Hal yang paling mendasar yang dibicarakan menyangkut soal dasar negara antara Pancasila, Islam atau Sosialis ekonomi.
Akhirnya setelah melihat realitas yang ada di dalam tubuh Konstituante, maka presiden Soekarno dengan didukung angkatan perang khususnya angkatan darat, PNI, PKI dan kekuatan nasionalis dan kiri lainnya mengeluarkan Dekrit presiden pada upacara 5 Juli 1959. Dengan keluarnya dekrit Presiden ini
1 Anhar Gonggong, Ketika Kekuatan Pemuda-Mahasiswa Memulai : Ketika kekuatan Lain Meraih “Untung” dalam Rum Aly, Titik silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos Dan Dilema : Mahasiswa Dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970, (Jakarta : Kata Hasta Pustaka, 2006) hal. XIi
19
Universitas Sumatera Utara

membawa Soekarno sebagai kekuatan politik yang tak tertandingi karena UUD 1945 yang diberlakukan sejak keluarnya dekrit Presiden ini memberikan kekuasaan yang besar kepada kepala negara dan ini sejalan dengan prinsip demokrasi terpimpin.
Untuk menyokong kekuasaan Soekarno dan demokrasi terpimpin diciptakanlah seperangkat konsep yang kemudian di sampaikan pada pidato kenegaraan presiden pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul penemuan kembali revolusi kita, dirumuskan oleh DPA sebagai GBHN dengan nama manipol yang kemudian dikaitkan dengan akronim USDEK, U(UUD 1945), S(sosialis Indonesia), D(demokrasi terpimpin), E(ekonomi terpimpin), K(keperibadian Indonesia). Kemudian diciptakan juga konsep yang menunjukan kekompakan ideologi besar dunia yaitu Nasakom, N(nasionalis), A(agama), Kom(komunis)2.
Setelah Soekarno membubarkan partai Masyumi dengan alasan mendukung pemberontakan DI/TII, Soekarno menjadikan dirinya sebagai pusat kekuasaan politik yang dikenal dengan sudut segitiga kekuatan yaitu kekuatan TNI khusus nya angkatan darat pada sudut segitiga dan PKI pada sudut yang lainnya3.
Dua kekuatan terakhir ini membangun hubungan dengan Soekarno yang dengan seiring waktu akhirnya menimbulkan gesekan-gesekan antara keduanya baik itu di tingkatan elit maupun akar rumput (grass root). Selain perseteruan antara TNI AD dengan PKI, dunia kemahasiswaan pun terpecah belah karena
2 Ibid. hal. XIiii 3 Firdaus Syam, Yusril Ihza Mahendera, Perjalanan Hidup, Pemikiran, Dan Tindakan Politik,
(Jakarta : PT Dyatama Milenia, 2004) hal. 178
20
Universitas Sumatera Utara

ideologi yang dianut masing-masing organisasi kemahasiswaan yang cenderung berafiliasi dengan partai politik tertentu.
Pasca kemerdekaan berdirilah berbagai organisasi kemahasiswaan antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dekat dengan partai Masyumi, Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) yang berafiliasi dengan PSI4, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafiliasi dengan PNI, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) berafiliasi dengan PKI, Resimen Mahasiswa (Menwa) berafiliasi dengan TNI AD dan lain sebagainya5. Semua organisasi kemahasiswaan ini mengikuti konflik yang terjadi pada organisasi induknya yaitu partai politik dan TNI AD.
Antara tahun 1950 sampai 1960 an terjadi ledakan jumlah mahasiswa. Bila pada tahun 1946 sampai 1947 terdaftar 387 mahasiswa maka di tahun 1965 ada sekitar 280 ribu mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa perguruan negeri, swasta serta akademi atau institut yang dibawahi berbagai kementerian6. Karena jumlahnya yang besar ini lah semua kekuatan politik baik itu partai politik maupun TNI mencoba merekrut kader dari mahasiswa.
Ketegangan politik di kampus terasa semakin memanas setelah GMNI, CGMI, Germindo dan Permi semakin mendominasi senat fakultas dan universitas dihampir semua perguruan tinggi yang ada. Konflik yang terjadi di pada saat itu misalnya ketika kongres nasional ke empat Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI)7 pada bulan April 1964 di Malino, dalam kongres itu GMNI memenangkan 18 kursi dari 24 kursi eksekutif yang ada sedangkan mahasiswa non GMNI yang
4 Francoil Raillon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia, (Jakarta : LP3ES,1985) hal. 7 5 Suharsi dan Ign Mahendra K, Bergerak Bersama Rakyat, Sejarah Gerakan Mahasiswa Dan
Perubahan Sosial Di Indonesia, (Yogyakarta : Resist Book, 2007)hal. 69 6 Francoil Raillon, Op. Cit. hal. 9 7 Organisasi nasional yang menghimpun semua organisasi intera universitas
21
Universitas Sumatera Utara

berasal dari UI dan ITB tidak mendapatkan kursi sehingga mereka menolak hasil kongres itu dan keluar dari MMI8.
Perseteruan berikutnya terjadi ditingkatan fakultas sastra UI ketika GMNI dan sekutunya menuntut agar senat yang baru di bentuk dibubarkan karena terdapat unsur-unsur kontra revolusioner seperti HMI. Adapun ketegangan yang cukup mencolok yaitu ketika ketua CC PKI, DN Aidit dengan agresif melontarkan ucapan yang provokatif berupa “kalau CGMI tidak bisa melenyapkan HMI sebaiknya mereka memakai sarung saja” di depan kongres ke III CGMI pada 29 September 19659.
Setelah persaingan ideologi yang begitu panjang dan tak terbendung lagi akhirnya meletuslah tragedi berdarah pada malam 30 September memasuki 1 Oktober 1965 yang merenggut nyawa tujuh perwira angkatan darat. Sebelum G30S meletus, Chairul Saleh, wakil perdana menteri III telah mengungkapkan penemuan suatu dokumen rahasia. Dokumen tersebut berjudul “Resume program dan kegiatan PKI dewasa ini” dengan tanggal pembuatan 23 Desember 196310.
Di dalam dokumen itu diungkapkan rencana 4 tahun PKI yang akan merebut kekuasaan politik dan kekuasaan negara di tahun 1967. Selain penemuan dokumen rahasia itu, juga tersebar desas desus tentang rencana kudeta yang akan dilakukan dewan jenderal pada tanggal 5 Oktober 1965 yang bertepatan dengan HUT ABRI. Suasana suhu politik pada tahun 1965 ini begitu panas apalagi dengan adanya desas desus akan adanya rencana penculikan terhadap sejumlah perwira tinggi angkatan darat.
8 Suharsi dan Ign Mahendra K, Op. Cit. hal. 71 9 Rum Aly, Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos Dan Dilema : Mahasiswa Dalam
Proses Perubahan Politik 1959-1970, (Jakarta : Kata Hasta Pustaka, 2006) hal. 137 10 Ibid. hal. 107
22
Universitas Sumatera Utara

Puncak dari suhu politik yang memanas pada saat itu di tandai denga terjadinya penculikan perwira TNI AD yang dituduh sebagai dewan jenderal yaitu : Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Mayor Jenderal MT Harjono, Mayor Jenderal S. Parman, Berigadir Jenderal DI. Pasndjaitan, Berigadir Jenderal Soetojo S dan Letnan Pierre Tendean yang dilakukan pasukan Pasopati di bawah pimpinan Letnan Kolonel Untung, seorang komandan Cakrabirawa.
Pasca peristiwa G30S, Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) segera mengambil alih kekosongan pimpinan dan melakukan konsolidasi di lingkungan angkatan darat setelah perwira tingginya di culik. Setelah pimpinan TNI AD di pegang, Soeharto memerintahkan Kolonel Sarwo Edhi, komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) untuk melakukan pencarian terhadap perwira TNI AD yang diculik. Tepat pada tanggal 5 Oktober 1965 sekelompok mahasiswa Bandung mendapatkan informasi bahwa perwira yang diculik telah ditemukan di dalam sebuah sumur tua di lubang buaya11.
Dalam pandangan Anderson dan Mcvey, menyatakan bahwa peristiwa G30S adalah mewakili kulminasi logis dari kekerasan dan kebencian yang sangat mendalam diantara kelompok-kelompok dan ideologi-ideologi yang jauh lebih luas, kanan dan kiri, islam dan komunis, tuan tanah dan rakyat, santri, priyayi dan petani12.
11 Ibid. hal. 201-202 12 Miftahuddin, Radikalisasi Pemuda PRD melawan tirani, (Depok : Desantara, 2004) hal. 41
23
Universitas Sumatera Utara

2. 1. 2. Lahirnya Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 Peristiwa tragis yang merenggut nyawa para perwira TNI AD, langsung di
respon oleh mahasiswa dengan membentuk kesatuan aksi pengganyang Gestapu (KAP-Gestapu) pada tanggal 2 oktober 1965 yang di pimpin oleh politikus NU Subchan dan aktivis Katolik Harry Tjan. Lima hari setelah pengangkatan jenazah para perwira TNI AD, KAP-Gestapu mengadakan rapat akbar di Jakarta yang di akhiri dengan penyerangan markas-markas PKI13.
Tepat pada tanggal 4 Oktober 1965, jenazah para jenderal dan letnan angkatan darat di temukan dan di angkat dari lubang buaya dengan bantuan pasukan angkatan laut. Berita tentang ditemukannya jenazah para perwira TNI AD di terima oleh mahasiswa dengan sedih dan marah terutama saat mendengar kebuasan pelaku G30S. Pada malam tanggal 4 Oktober 1965 beberapa mahasiswa berkumpul untuk merencanakan apa yang akan dilakukan. Beberapa orang yang hadir pada saat itu antara nya adalah Alex Rumondor, Aswar Aly, Robby Sutr

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23