Gerakan Mahasiswa Di Jakarta (1981-1990)

Skripsi

GERAKAN MAHASISWA DI JAKARTA
(1981-1990)
D
I
S
U
S
U
N
Oleh:
AMIN YEREMIA SIAHAAN
02076018

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Universitas Sumatera Utara

GERAKAN MAHASISWA DI JAKARTA
(1981-1990)
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O
L
E
H
AMIN YEREMIA SIAHAAN
020706018
Pembimbing,

Dra. Fitriaty Harahap, S.U
NIP: 131284307

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
MEDAN
2008

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Skripsi
GERAKAN MAHASISWA JAKARTA (1981-1990)
yang diajukan oleh
NAMA

:AMIN YEREMIA SIAHAAN

NIM

:020706018

Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi oleh:
Pembimbing,

Dra. Fitriaty Harahap S.U

tanggal,…………………

NIP 131284309

Ketua Departemen Ilmu Sejarah

Dra. Firiaty Harahap

tanggal,………………….

NIP 131284309

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
GERAKAN MAHASISWA DI JAKARTA (1981-1990)
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O
L
E
H
NAMA

:AMIN YEREMIA SIAHAAN

NIM

:020706018
Pembimbing,

Dra. Fitriaty Harahap, S.U
NIP: 131284307
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian fakultas Sastra USU Medan, untuk
melengkapi salah satu syarat ujian sarjana sastra dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ketua
Disetujui Oleh:

FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
Ketua,

Dra. Fitriaty Harahap, S.U
NIP: 131284307

Medan, … Juni 2008

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dosen dan Panitia Ujian
PENGESAHAN
Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra

Pada

:

Tanggal

:

Hari

:

Fakultas Sastra USU
Dekan,

Drs. Syaifuddin, M.A. Phd
NIP:132098531

Panitia Ujian

Tanda Tangan

1…………………………

(

)

2…………………………

(

)

3…………………………

(

)

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Tidak ada yang menyangkal bahwa mahasiswa selalu ambil bagian
dalam setiap perubahan. Sejarah kiranya telah mencatat hal ini. Dari berbagai
literatur yang kita baca, nampak dengan jelas keterlibatan mahasiswa tersebut
telah ada sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Dan, dilanjutkan setelah
kemerdekaan berhasil dikumandangkan. Latar belakang utama bagi mahasiswa
untuk mencatatkan peranannya dalam sejarah gerakan mahasiswa adalah adanya
kesadaran sense of belonging terhadap kondisi di masyarakat.
Mahasiswa dengan kecakapan analisanya akan berontak dengan
sendirinya, jika keadaan di sekelilingnya tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah
kemanusiaan: terciptanya tatanan masyarakat yang adil, damai, sejahtera, dan
demokratis. Artinya, mahasiswa sudah mempunyai pemikiran subyektif yang
sewajibnya menjadi kenyataan di masyarakat.
Namun, perjalanan bangsa selalu mencatat bahwa tujuan-tujuan ideal
mahasiswa, yang juga sudah digariskan sebelumnya oleh para pendiri bangsa
(faunding fathers), tidaklah selalu berjalan dengan mulus. Kita melihat selalu ada
kondisi-kondisi dimana masyarakat mengalami praktek dehumanisasi yang sangat
hebat: kemiskinan.
Dengan latar belakang ini jugalah mahasiswa pada periode 1981-1990 di
Jakarta kembali bergerak. Hanya saja metodenya berbeda dengan para
pendahulunya. Ini tentunya sesuai dengan jiwa zaman (zeitgeist) yang ada ketika
itu. Di satu sisi, bicara gerakan mahasiswa, maka tidak terlepas dari prestasi apa
yang ditorehkannya. Prestasi ini sendiri bisa berupa ada atau tidak adanya sebuah
momentum yang tercipta.
Pada tataran inilah gerakan mahasiswa 1981-1990 di Jakarta, sebagaiman
juga di daerah lainnya, bisa dikatakan telah gagal dalam mengemban misi
mulianya itu. Yaitu karena mereka tidak bisa menciptakan sebuah momentum.
Seperti Peristiwa Malari pada gerakan mahasiswa 1974.
Namun di sisi lain, gerakan mahasiswa di Jakarta ini telah membuktikan
bahwa mahasiswa tidaklah benar-benar “tidur”, meskipun di tengah-tengah
tindakan represif pemerintah, seperti pemberlakuan NKK/BKK. Lihat saja, kita
dapat menyaksikan hasil kreatifitas mereka seperti pembentukan Kelompok Studi,
Pers Mahasiswa, Organisasi Non-pemerintah atau LSM dan Komite Rakyat.

Universitas Sumatera Utara

Adapun metode penelitian yang penulis terapkan di sini sesuai dengan
kaidah penelitian sejarah yaitu yang terdiri dari heuristik, verifikasi, kritik
sumber, interpretasi, dan historiografi. Di samping itu penulis juga melibatkan
wawancara terstruktur untuk menambah analisa penulis dalam melakukan
penelitian skripsi ini.
Penulis meyakini tujuan penelitian ini setidaknya dapat menambah
literatur mengenai gerakan mahasiswa yang sudah ada. Terkhususnya gerakan
mahasiswa yang terjadi di tataran lokal. Lebih jauh, penelitian ini juga bertujuan
agar mahasiswa menjadi tahu dan memahami apa latar belakang, bagaimana
metode yang digunakan, serta keberhasilan dan kegagalan terhadap sebuah
gerakan mahasiswa.

Universitas Sumatera Utara

SEPATAH KATA
Sebagai individu yang menyadari akan segala kekurangannya, maka
penulis terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta manusia.
Karena Dialah segala usaha penulis dalam menyusun skripsi ini akhirnya
terselesaikan. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penulis.
Skripsi ini berceritakan mengenai Gerakan Mahasiswa di Jakarta pada
periode 1981-1990. Di mana penulis ingin melihat sejauh mana keterlibatan
mahasiswa pada masa itu dalam usahanya menjaga nilai-nilai demokrasi. Selain
itu, skripsi ini dikerjakan juga sebagai salah satu persyaratan dalam
menyelasaikan perkuliahan penulis di Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas SastraUSU.
Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam proses
pengherjaan skripsi ini. Sehingga hasil ideal yang diharapkan belum tentu
tercapai. Oleh karenanya, penulis sangat mengharapkan adanya kritikan yang
membangun demi peningkatan kualitas topik ini di masa yang akan datang.
Penulis

Amin Y. Siahaan

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyadari pengerjaan skripsi ini tidak semata-semata kerja keras
penulis sendiri. Namun, di balik itu banyak pihak-pihak yang dengan setia
membantu penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Baik itu dengan memberikan
bantuan dalam bentuk materi maupun moril. Oleh karenanya dalam kesempatan
ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. S. Siahaan dan M. Tambunan, selaku orangtua tercinta. Penulis
mengucapkan terima kasih yang tak terkira atas segala cinta dan
kasih mereka selama ini, terkhususnya dalam memberikan
kesempatan kepada penulis untuk dapat menempuh dunia
perguruan tinggi. Penulis meyakini segala pengorbanan mereka
tidak akan sia-sia. Dan juga kepada adik-adik tersayang, Junita,
Jepri, dan Ruth. Terima kasih atas segala dukungannya selama ini,
baik melalui doa maupun nasehat dan sarannya.
2. Drs. Syaifuddin, M. A. Phd, selaku Dekan Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

3. Dra. Fitriaty Harahap, S.U, selaku ketua Departemen Sejarah dan
Dra. Nurhabsyah, M.si, selaku sekretaris Departemen Sejarah.
Penulis mengapresiasi atas ilmu dan nasehat yang diberikan,
terkhusus selama penulisan skripsi.
4. Dra. Fitriaty Harahap S.U, selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan nasehat dan juga sarannya selama proses penulisan
skripsi.
5. Drs. Sentosa Tarigan selaku dosen wali penulis, yang juga telah
memberikan sarannya selama masa perkuliahan.
6. Kepada rekan-rekan penulis di departemen mahasiswa sejarah,
khususnya angkatan 2002, yaitu Roi, Leo, Bohal, Dedy, Zulkifli,
Belli, Antoni, Tomi, Daru, Ringgus, Bambang, Novri, Miftah,
Sandri, Edwin, Erwin, Evaria, Pinta, Pana, Tiomsi, Nana,
Magdalena, Christina, Siti, Ayi, Fitri, Nurbaity, Lisbeth.
7. Kepada rekan-rekan penulis di UKM KMK USU FS, khususnya di
KTB Joyful-Imanuel, yaitu B handayani, Era, Friska, Leli dan Lita.
8. Kepada rekan-rekan seperjuangan penulis di KDAS, yaitu Oscar,
Saurlin, Maruli, Joy, Sabar, Samuel, Elekta, Raduma, Mery,

Universitas Sumatera Utara

Shinta, Juliana, Novita, Indira, Zuena, Benny, Reagen, John,
Tongam, Ganda, Randy, Steven, Retta, Edward, Hizkia, Jepri,
Ekha, Theodora, Wati, Rossi, Ravi, Luki, Nerly, Cahriady.
9. Kepada rekan-rekan seperjuangan penulis di CC-Medan, yaitu
Januar, John, Hendra, Dozier, Hendro, Surya, Binsar, Yoga, Helen,
Lestari, Neil.
10. Kepada KK Amadea Gracia, yaitu Theo, Eva, dan Meixi. Terima
kasih atas dukungan kalian.
11. Kepada kekasih penulis, Friska S.
Kepada mereka di ataslah penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Kiranya segala kebaikan dan amal budinya, terbalaskan oleh kasih dan karunia
dari Tuhan YM E.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Abstrak……………………………………………………………………………i
Kata Pengantar…………………………………………………………………..ii
BAB I Pendahuluan……………………………………………………………...1
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………….1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………….10
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian……………………………………10
1.4 Tinjauan Pustaka…………………………………………………...12
1.5 Metode Penelitian…………………………………………………. 13
BAB II Gambaran Umum Jakarta……………………………………………15
2.1 Sejarah Singkat Jakarta...................................................................15
2.2 Keadaan Geografis…………………………………………………17
2.3 Sistem Ekonomi-Penduduk Jakarta………………………………18
2.3.1 Penduduk Jakarta………………………………………..18
2.3.2 Ekonomi Jakarta…………………………………………20
2.4 Sistem Kekerabatan………………………………………………..22
BAB III Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 di Jakarta………….…….24
3.1 Kondisi Umum Gerakan Mahasiswa di Jakarta 1970-an……….24
3.2 Gerakan Mahasiswa 1981-1990……………………………………28
3.3 Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 di Jakarta…..………….32
3.3..1 Organisasi Non-Pemerintah atau LSM…...……………36
3.3.2 Pembentukan Kelompok Studi………….……………….39
3.3.2.1 Kelompok Studi Proklamasi….………………..41

Universitas Sumatera Utara

3.3.2.2 Kelompok Studi LSI……..……………………..42
3.3.2.3 Kelompok Studi Formaci………….…………...42
3.3.3 Pembentukan Pers Mahasiswa….……………………….44
3.3.4 Pembentukan Komite Rakyat…….……………………...47
BAB IV Kelemahan Gerakan Mahasiswa 1981-1990.......................................48
4.1 Tidak Adanya Partner Politik Mahasiswa…...…………………...50
4.2 Lemahnya Penetrasi Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990…..52
4.2.1 Kelemahan Kelompok Studi…….……………………….54
4.2.2 Kelemahan LSM………………………………………….55
4.2.3 Kelemahan Persmawa……………………………………57
4.2.4 Kelemahan Komite Rakyat………………………………58
BAB V Penutup…………………………………………………………………60
Narasumber
Lampiran

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Tidak ada yang menyangkal bahwa mahasiswa selalu ambil bagian
dalam setiap perubahan. Sejarah kiranya telah mencatat hal ini. Dari berbagai
literatur yang kita baca, nampak dengan jelas keterlibatan mahasiswa tersebut
telah ada sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Dan, dilanjutkan setelah
kemerdekaan berhasil dikumandangkan. Latar belakang utama bagi mahasiswa
untuk mencatatkan peranannya dalam sejarah gerakan mahasiswa adalah adanya
kesadaran sense of belonging terhadap kondisi di masyarakat.
Mahasiswa dengan kecakapan analisanya akan berontak dengan
sendirinya, jika keadaan di sekelilingnya tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah
kemanusiaan: terciptanya tatanan masyarakat yang adil, damai, sejahtera, dan
demokratis. Artinya, mahasiswa sudah mempunyai pemikiran subyektif yang
sewajibnya menjadi kenyataan di masyarakat.
Namun, perjalanan bangsa selalu mencatat bahwa tujuan-tujuan ideal
mahasiswa, yang juga sudah digariskan sebelumnya oleh para pendiri bangsa
(faunding fathers), tidaklah selalu berjalan dengan mulus. Kita melihat selalu ada
kondisi-kondisi dimana masyarakat mengalami praktek dehumanisasi yang sangat
hebat: kemiskinan.
Dengan latar belakang ini jugalah mahasiswa pada periode 1981-1990 di
Jakarta kembali bergerak. Hanya saja metodenya berbeda dengan para
pendahulunya. Ini tentunya sesuai dengan jiwa zaman (zeitgeist) yang ada ketika
itu. Di satu sisi, bicara gerakan mahasiswa, maka tidak terlepas dari prestasi apa
yang ditorehkannya. Prestasi ini sendiri bisa berupa ada atau tidak adanya sebuah
momentum yang tercipta.
Pada tataran inilah gerakan mahasiswa 1981-1990 di Jakarta, sebagaiman
juga di daerah lainnya, bisa dikatakan telah gagal dalam mengemban misi
mulianya itu. Yaitu karena mereka tidak bisa menciptakan sebuah momentum.
Seperti Peristiwa Malari pada gerakan mahasiswa 1974.
Namun di sisi lain, gerakan mahasiswa di Jakarta ini telah membuktikan
bahwa mahasiswa tidaklah benar-benar “tidur”, meskipun di tengah-tengah
tindakan represif pemerintah, seperti pemberlakuan NKK/BKK. Lihat saja, kita
dapat menyaksikan hasil kreatifitas mereka seperti pembentukan Kelompok Studi,
Pers Mahasiswa, Organisasi Non-pemerintah atau LSM dan Komite Rakyat.

Universitas Sumatera Utara

Adapun metode penelitian yang penulis terapkan di sini sesuai dengan
kaidah penelitian sejarah yaitu yang terdiri dari heuristik, verifikasi, kritik
sumber, interpretasi, dan historiografi. Di samping itu penulis juga melibatkan
wawancara terstruktur untuk menambah analisa penulis dalam melakukan
penelitian skripsi ini.
Penulis meyakini tujuan penelitian ini setidaknya dapat menambah
literatur mengenai gerakan mahasiswa yang sudah ada. Terkhususnya gerakan
mahasiswa yang terjadi di tataran lokal. Lebih jauh, penelitian ini juga bertujuan
agar mahasiswa menjadi tahu dan memahami apa latar belakang, bagaimana
metode yang digunakan, serta keberhasilan dan kegagalan terhadap sebuah
gerakan mahasiswa.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sejarah mencatat bahwa mahasiswa selalu ikut ambil bagian dalam
perubahan sosial. Setidaknya ini dapat kita lihat sejak awal abad ke-20, yang
umumnya dipelopori mahasiswa STOVIA. Keterlibatan mahasiswa ini bertujuan
untuk mengubah tatanan sosial-politik yang tidak mengedepankan nilai-nilai
kemanusiaan. Lebih jauh, mahasiswa bergerak untuk mengubah penindasan
(kemiskinan) menuju kehidupan yang lebih beradab. Paradigma berpikir ini di
dapat mahasiswa ketika mereka mulai bersentuhan dekat dengan dunia
pendidikan.
Definisi gerakan mahasiswa itu sendiri cukup jamak. Artinya, gerakan
mahasiswa tidak hanya dipahami sebagai adanya sekelompok massa (mahasiswa)
yang berkumpul dan melakukan unjuk rasa, dan dimana umumnya dilakukan di
jalan-jalan atau tempat tertentu. Namun, pengertiannya lebih dari itu. Gerakan

Universitas Sumatera Utara

mahasiswa adalah sebuah komunitas sosial yang melakoni aktifitas politik,
terlepas dari jumlah, metode dan hasilnya 1.
Bicara tentang gerakan mahasiswa, paling tidak ada dua kondisi yang
menyebabkan mahasiswa terlibat dalam kegiatan politik tersebut. Pertama,
pemikiran yang mengatakan mahasiswa sebagai ujung tombak perubahan sistem
sosial-politik. Dalil ini sendiri berangkat dari pernyataan bahwa mahasiswa
sebagai komunitas yang lebih maju dibandingkan dengan komunitas masyarakat
lainnya. Lebih maju karena mahasiswa mempunyai tingkat pendidikan yang lebih
tinggi.
Kedua, pemikiran yang menyebutkan mahasiswa adalah komunitas sosial
yang lebih cepat meresponi ketimpangan sistem politik. Biasanya gerakan
mahasiswa ini dipicu karena adanya penindasan secara struktural dari atas ke
bawah. Yang akibatnya tak jarang menimbulkan krisis di masyarakat. 2
Seperti telah disinggung di awal tulisan, gerakan mahasiswa sudah hadir
seiring datangnya abad ke-20. Namun, mengingat begitu terlalu jauh untuk
menuliskannya, maka penulis di sini akan membatasi latar belakang sejarah
1

Adi Suryadi Culla, Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan Mahasiswa

dalam Politik dan Sejarah Indonesia (1908-1998), Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999, hal., 17
2

Ibid., hal., 8-9

Universitas Sumatera Utara

gerakan mahasiswa. Yaitu dimulai pasca Indonesia merdeka, tepatnya pada
periode 1960-an. Berbicara gerakan mahasiswa pada periode ini, maka kita akan
melihat dinamika gerakan yang berbeda dengan dinamika sebelum kemerdekaan.
Salah satunya yaitu mengenai musuh gerakan itu sendiri. Jika sebelumnya
musuh gerakan mahasiswa adalah pemerintah Kolonial Belanda yang sudah
menginjakkan kakinya di Indonesia sejak akhir abad ke-16 dan pendudukan
Jepang selama kurang lebih 3,5 tahun, maka setelah kemerdekaan musuh tersebut
adalah anak bangsa sendiri.
Kedudukan atau peranan mahasiswa pascakemerdekaan yaitu ikut untuk
mengisi alamnya kemerdekaan itu sendiri. Terutama dalam hal pendidikan (back
to campus). Mahasiswa menyadari dengan pendidikan tinggi yang nantinya
diperoleh, mereka bisa menyumbangkan pemikiran dan tenaga untuk membangun
bangsanya. Sebagai contoh, yaitu untuk memasuki pos-pos di setiap departemen
atau kementerian yang tentunya membutuhkan tenaga-tenaga ahli di bidangnya.
Namun, mahasiswa ketika itu juga tidak semerta-merta meninggalkan dirinya dari
kegiatan aktifitas politik.
Pada masa ini banyak bermunculan organisasi pergerakan mahasiswa.
Hanya saja, organisasi mahasiswa yang berdiri umumnya merupakan underbouw

Universitas Sumatera Utara

dari partai politik (parpol) yang ada ketika itu. Lihat saja misalnya, Gerakan
Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafiliasi dengan PNI, Consentrasi
Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berafiliasi dengan PKI, Gerakan
Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) yang berafiliasi dengan PSI, Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan NU, Himpunan
Mahasiswa Indonesia (HMI) yang berafiliasi dengan Masyumi, dll.
Sayangnya, di satu sisi, hal ini cukup membuat gerakan mahasiswa
menjadi lemah (tidak independen). Dalam arti, gerakan mahasiswa tidak lagi
berdiri secara otonom, tetapi sudah menjadi komoditi politik dari parpol. Maka,
warna pergerakan organisasi mahasiswa saat itu sama dengan warna pergerakan
parpol yang menaunginya. Di satu sisi, adalah tidak salah jikalau gerakan
mahasiswa mempunyai kekuatan politik yang berasal dari pihak elite (parpol).
Namun, kondisi ini menjadi tidak sehat ketika gerakan mahasiswa lebih
menampakkan diri sebagai alat kepentingan sesaat dari elite. Memasuki periode
1960-an warna politik Indonesia adalah buah dari pelaksanaan Demokrasi
Terpimpin sebagai pengganti dari Demokrasi Parlementer atau Liberal. Pada
Demokrasi Terpimpin orientasi gerakan mahasiswa sedikit berubah. Ini

Universitas Sumatera Utara

disebabkan kebijakan Soekarno yang banyak membubarkan parpol, 3 sehingga
organisasi gerakan mahasiswa sebagai underbouw sebuah parpol, merasa
kehilangan induknya.
Kalau toh ada organisasi mahasiswa yang masih menjadi underbouw
sebuah parpol, itu lebih dikarenakan parpol tersebut pro kepada pemerintah
(Soekarno). Seperti PNI dan PKI. Dari sinilah perlahan-lahan gerakan mahasiwa
mulai tampil kritis, terlepas dari tidak adanya parpol yang menaungi mereka. Di
sisi lain, konstelasi politik ketika itu semakin memanas.
Pertentangan parpol (kecuali PKI) dengan pemerintah, militer (AD)
dengan pemerintah maupun dengan PKI semakin menjadi-jadi. Situasi ini
semakin kritis ketika dua kekuatan politik internasional ikut mempengaruhi
konstelasi politik dalam negeri. Yaitu antara AS (liberal) dengan Uni Soviet
(komunis). Dalam perkembangannya dominasi politik luar negeri AS lebih
kentara dibandingkan dengan Uni Soviet.

3

Beberapa partai politik yang dilarang adalah Masyumi dan PNI. Ini terjadi di bulan

Agustus 1960. Selain partai politik, beberapa tokoh yang dianggap berseberangan dengan
Soekarno dijebloskan ke penjara. Diantaranya yaitu, Syarifuddin, Natsir, Simbolon, Burhanudin,
Syahrir, dll. Lihat M.C. Ricklefs, Dharmono Hardjowidjono (pnj.), Sejarah Indonesia Modern,
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005, hal., 406 dan 408

Universitas Sumatera Utara

Salah satunya bisa dilihat dari usaha-usaha AS untuk menjatuhkan
Soekarno. Langkah ini diambil karena Soekarno tidak bisa diajak berkerja sama
dengan AS, terutama dalam hal ekonomi dan ideologi. Sejalan waktu dengan
meletusnya peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S), seakan menjadi pertanda
bahwa kejatuhan Soekarno tinggal menunggu waktu.
Kejadian ini sendiri sampai sekarang masih menjadi catatan gelap dalam
historiografi Indonesia. 4 Pascaperistiwa ini gerakan mahasiswa semakin menguat.
Ini bisa dilihat dari terbentuknya KAMI 5 yang mengusung Tritura. 6 Ada hal yang
menarik di sini. Pada masa Demokrasi Parlementer atau Liberal, organisasi

4

Sampai saat ini belum diketahui apa motif sesungguhnya pada peristiwa yang terjadi 1

Oktober 1965 itu. Ada beberapa spekulasi/teori yang muncul berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Diantaranya yaitu, pemberontakan PKI, kudeta “merangkak”militer (AD), konspirasi kekuatan
internasional (AS-CIA), bahkan ada yang menyebutkan Soekarno sendirilah sebagai dalang
utamanya.
5

Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI didirikan pada tanggal 25 Oktober

1965 yang dipelopori oleh Menteri PTIP Mayjen dr. Syarief Thayeb. KAMI terdiri antara lain dari
HMI, PMII, GMKI, dll. Lebih jauh lihat Adi Surya Culla, Op., Cit., hal., 47-53. Sementara
tujuannya adalah untuk menyatukan gerakan mahasiswa dalam rangka mengamankan Pancasila,
menggalang anti-Nasakom, dan membantu ABRI untuk memberangus G 30 S/PKI. Lihat juga
Muridan S. Widjojo, Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa 1998, Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 1999, hal., 45.
6

Isi Tritura (sebelumnya dikenal dengan istilah suara hati nurani rakyat-Hanura) yaitu

bubarkan PKI, rombak Kabinet Dwikora dan turunkan harga.

Universitas Sumatera Utara

mahasiswa cenderung untuk menjadi underbouw dari parpol, sedangkan pada
masa Demokrasi Terpimpin, mahasiswa cenderung melekat kepada militer (AD).
Kembali gerakan mahasiswa menjadi tidak otonom. Sama halnya ketika
menjadi

underbouw

parpol,

pergerakan

mahasiswa

lebih

menunjukkan

kepentingan (alat) militer. Yaitu untuk mengganti Soekarno. Perjuangan KAMI
yang di back up penuh militer akhinya menuai hasil. Pertanggungjawaban
Soekarno dengan judul Nawaksara ditolak anggota MPRS 7. Peristiwa ini ibarat
membukan pintu masuk kepada Soeharto untuk menjadi Presiden, yang di
kemudian hari dikenal dengan istilah Orde Baru (Orba)
Memasuki zaman Orba, gerakan mahasiswa menemui kondisi yang sama
dengan ketika Indonesia baru saja merdeka. Yaitu lebih menarik diri sambil
mengikuti perkembangan situasi atau keadaan. Ketika Soeharto berkuasa
mahasiswa seakan-akan memberikan kesempatan kepadanya untuk membuktikan
pemerintahan yang dipimpinnya dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih
baik. Namun, memasuki pertengahan tahun 1970-an, gerakan mahasiswa kembali

7

Sebelum pidato Soekarno di MPRS, terlebih dahulu terbit yang namanya Surat Perintah

Sebelas Maret (Supersemar). Hal ini digunakan oleh Soeharto sebagai senjata ampuh untuk
memuluskan rencananya. Diantaranya yaitu dengan mengganti anggota MPRS dengan anggota
baru pilihannya.

Universitas Sumatera Utara

bergolak. Tepatnya di tahun 1974 dan tahun 1978. Di tahun 1974 meletuslah
peritiwa Malari. Peritiwa ini sendiri tidak terlepas dari kontroversi.
Ada yang mengatakan aksi mahasiswa tersebut bukanlah murni
perjuangan mereka sebagai agen of change. Dengan kata lain peristiwa Malari
telah ditunggangi. Beberapa spekulasi yang berkembang mengatakan peristiwa ini
lebih merupakan puncak pertikaian terselubung antara Sumitro dengan Ali
Moertopo. Keduanya ingin mendapatkan nilai lebih di mata Soeharto. Peristiwa
ini sendiri meninggalkan noda hitam bagi sejarah pergerakan mahasiswa.
Bagi mahasiswa, beberapa aktivis ditangkap dan diadili. Termasuk mantan
ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman Siregar. Sedangkan di tataran elite, yaitu
dengan mundurnya Soemitro selaku Pangkopkamtib. Peristiwa Malari adalah
gerakan pertama mahasiswa secara monumental untuk menentang kebijakan
pembangunan Soeharto. Gerakan mahasiswa berikutnya yaitu pada tahun 1978.
Sama halnya dengan gerakan 1974, aksi ini muncul karena kekecewaan
mahasiswa terhadap konsep ekonomi yang dijalankan Soeharto.
Namun, kekecewaan terhadap praktek politik Orba yang semakin jauh dari
nilai-nilai demokrasi juga dimunculkan. Hanya saja isu-isu yang dilemparkan oleh
mahasiswa domainnya lebih spesifik (sempit). Seperti mengangkat kecurangan

Universitas Sumatera Utara

Orba dalam proses pemilu. Bahkan, pada masa ini mahasiswa dengan berani
mengkampanyekan

penolakan

terhadap

Soeharto

yang

ingin

kembali

mencalonkan dirinya menjadi Presiden.
Untuk menghindari aksi-aksi berikutnya dari mahasiswa, maka pemerintah
mengeluarkan kebijakan NKK/BKK. 8 Inti dari dua kebijakan ini adalah untuk
mengebiri kegiatan aktifitas politik mahasiswa. Di mana mereka hanya cukup
memahami politik dalam artian teori bukan praktek. Kemudian, jika diadakan
evaluasi terhadap kedua aksi tersebut, maka nilainya adalah kegagalan. Salah satu
yang menyebabkannya yaitu tidak adanya partner politik mahasiswa ketika itu.
Akibatnya, gerakan ini dengan mudahnya ditumpas oleh penguasa. Ini berbeda
dengan gerakan mahasiswa 1966 yang mendapatkan dukungan penuh dari militer.
Memasuki periode 1980-an, dinamika pergerakan mahasiswa (dalam hal
ini di Jakarta) benar-benar lemah, jika tak mau dikatakan mati total. Dalam
rentang waktu sepuluh tahun, kita tidak melihat adanya sebuah peristiwa atau
momentum sebagai hasil dari gerakan mahasiswa. Pergerakan mahasiswa seakanakan kehilangan akal (daya kreatifitas) untuk menciptakan sebuah momentum.
8

NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) berdasarkan SK No 0156/U/1978 dan BKK

(Badan Koordinasi Kemahasiswaan) berdasarkan SK RI No 037/U/1979. Keduanya dikeluarkan
oleh Menteri PTIK, Daoed Yosoef

Universitas Sumatera Utara

Gejala ini tentunya menarik untuk dipertanyakan. Apakah memang jiwa
zaman (zeitgeist) pada periode ini berbeda dengan periode sebelumya? Jika
memang benar, permenungan selanjutnya adalah mengapa gerakan mahasiswa tak
kunjung jua mencari jalan keluarnya. Maksudnya, mencari solusi dalam kerangka
proses menuju penciptaan momentum yang baru. Toh, gerakan mahasiswa 1970an berhasil menciptakan momentum: Malari.
Padahal, kondisi zamannya berbeda dengan tahun 1960-an. Oleh
karenanya, penulis beralasan pada periode ini adalah memang masa stagnan
gerakan mahasiswa. Terkhususnya ketidakberhasilan gerakan mahasiswa ketika
itu untuk menciptakan sebuah momentum. Kenapa? Karena penulis juga
beranggapan sebuah gerakan mahasiswa dapat dikatakan berhasil jika ia bisa
menciptakan sebuah momentum. Dari sinilah akan nampak keunggulan gerakan
mahasiswa dalam menjalankan proses perubahan. Persoalan momentum itu sukses
atau tidak, adalah lain hal. Di satu sisi, kevakuman gerakan mahasiswa pada
periode ini dikarenakan beberapa hal.
Pertama, pemerintah sangat menyadari betul bahwa mahasiswa adalah
salah satu elemen terpenting dalam mewujudkan perubahan sosial. Oleh karena
itu mengacu kepada peristiwa gerakan mahasiswa 1974 dan 1978, penguasa tidak

Universitas Sumatera Utara

ingin kecolongan lagi. Karena itulah keluar kebijakan NKK/BKK. Kebijakan ini
benar-benar menjauhkan mahasiswa dari realita sosial yang ada. Karena setiap
tindakan yang mengarah kepada kritikan terhadap pemerintah, langsung dihadapi
oleh cara-cara represif. Alasannya, hal itu dapat menggganggu stabilitas
keamanan.
Kedua, selain adanya campur tangan pemerintah yang sangat jauh,
melemahnya gerakan mahasiswa periode 1981-1990 juga dikarenakan belum
terkonsolidasinya dengan kuat gerakan mahasiswa. Apalagi mahasiswa tidak
mempunyai partner politik dalam perjuangannya. Sesuatu yang berbeda dengan
gerakan mahasiswa tahun 1966 yang di back up penuh oleh militer. Kondisikondisi ini berlaku secara umum (nasional) dan demikan pula halnya di Jakarta.
Selain permasalahan kevakuman ini, hal lain yang penulis lihat menarik
untuk dikaji di sini yaitu berubahnya pola atau metode pergerakan mahasiswa.
Jika pada masa Demokrasi Liberal gerakan mahasiswa terkonsentrasi pada
kehidupan parpol, maka pada periode ini gerakan mahasiswa sangat

jauh

bersentuhan dengan parpol. Maka, fenomena yang muncul adalah berdirinya
kembali kelompok-kelompok studi seperti pertengahan 1920-an. Varian lain yang

Universitas Sumatera Utara

muncul adalah kehadiran organisasi non-pemerintah (Ornop) atau Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM).
Jika kelompok studi fokus terhadap pembentukan sense of intelectual,
maka LSM lebih kepada aksi langsung ke basis-basis masyarakat. Juga
kemunculan pers mahasiswa atau Persmawa. Surat kabar kampus ini muncul
sebagai counter product terhadap media cetak umum yang isi pemberitaannya
condong merupakan “pesanan” dari penguasa. Dan terakhir, pembentukan komite
rakyat (KR) sebagai sebuah sintesa baru pergerakan mahasiswa. Di mana
kehadirannya karena perpaduan dari mantan anggota-anggota kelompok studi atau
Persmawa.
Berjamurnya kembali kelompok studi adalah salah satu dari sedemikian
banyak fenomena yang muncul. Untuk lebih jauh mengenai permasalahan
kelompok studi dan lainnya, akan dibahas dalam isi skripsi ini. Sedangkan untuk
pemilihan topik, penulis mengikuti apa yang dikatakan oleh Kuntowijoyo
mengenai pemilihan topik. Yaitu berdasarkan pada kedekatan emosional. Di mana
adanya kesamaan lokasi penelitian dengan tempat tinggal penulis 9.

9

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka, 2005, hal.,

91-93

Universitas Sumatera Utara

Tetapi, tentunya penulis tetap bersikap krisis dalam melakukan penelitian,
agar hasilnya tidak cenderung subyektifitas penulis. Untuk batasan periodesasinya
sendiri penulis mulai dari tahun 1981-1990.
1.2 Rumusan Masalah

Dinamika gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990 memang tidak bisa
dilepaskan begitu saja dari periode-periode sebelumnya. Sifat, bentuk dan
permasalahan di dalamnya adalah kelanjutan dari periode sebelumnya. Tentunya
dengan ciri khas tersendiri. Oleh karena itu permasalahan inti (rumusan masalah)
yang ingin penulis kaji adalah berkaitan dengan:
1. Apa yang menyebabkan gerakan mahasiswa Jakarta melemah
dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya?
2. Bagaimana pola atau metode gerakan mahasiswa Jakarta pada
periode 1981-1990?
3. Apa kontribusi gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990 dalam
hubungannya sebagai agen perubahan sosial?
Seperti telah disinggung di atas, pembatasan pada periode 1981-1990
dikarenakan pada periode inilah gerakan mahasiswa benar-benar sangat jauh
kekuatan politiknya. Oleh karena itu, kajian untuk melihat dinamika gerakan

Universitas Sumatera Utara

mahasiswa pada masa ini sangat minim. Mungkin saja dikarenakan gerakan
mahasiswa pada saat itu sangat miskin dari prestasi. Tetapi ini bukan berarti
gerakan mahasiswa Jakarta periode 1981-1990 tidak menarik sama sekali untuk
dikaji.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Setiap proses pasti ada maknanya. Demikian pula halnya dengan proses
gerakan mahasiswa 1981-1990 di Jakarta. Dengan proses inilah kita dapat
mengetahui pengalaman berharga seperti apa yang dapat kita petik. Oleh karena
itu penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui kondisi-kondisi apa saja yang membuat gerakan
mahasiswa Jakarta 1981-1990 lemah dibandingkan dengan
periode-periode sebelumnya.
2. Mengetahui pola atau metode gerakan mahasiswa Jakarta 19811990
3. Mengetahui kontribusi apa saja yang dihasilkan dari gerakan
mahasiswa Jakarta 1981-1990
1.3.2 Manfaat Penelitian

Universitas Sumatera Utara

Setiap babakan waktu gerakan mahasiswa, terlepas dari kegagalan atau
keberhasilan, pasti mempunyai nilai-nilai positif bagi perkembangan perubahan
sosial-politik ke arah yang lebih baik. Begitu juga dengan penelitian ini
setidaknya dapat memberikan manfaat bagi pembaca untuk mengetahui beberapa
hal. Antara lain yaitu:
1. Bahwa gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990 tidak bisa
dilepaskan begitu saja dari masa-masa sebelumnya. Apa yang
terjadi pada periode ini adalah kelanjutan kisah dari periodeperiode sebelumnya.
2. Terlepas dari menurunnya prestasi pada periode ini, adalah
sangat tidak bijaksana untuk mengatakan tidak ada sama sekali
prestasi yang ditorehkannya. Paling tidak dalam skala kecil
sekalipun.
3. Untuk menambah literatur atau bahan bacaan yang berkaitan
langsung dengan gerakan mahasiswa di Jakarta.

1.4 Tinjauan Pustaka

Universitas Sumatera Utara

Dalam pemilihan topik, penulis menggunakan kedekatan emosional seperti
yang dikatakan oleh Kuntowijoyo. Namun, bukan berarti penulis melepaskan
begitu saja faktor referensi untuk melakukan penelitian. Secara umum, buku-buku
tentang gerakan mahasiswa ditulis secara nasional. Oleh karenanya, penulis tidak
mendapatkan buku-buku yang penulisannya concern untuk gerakan mahasiswa
Jakarta saja.
Untuk menutupi kekurangan ini, penulis menggunakan referensi yang
secara tidak langsung menceritakan gerakan mahasiswa di Jakarta. Buku pertama
yang penulis gunakan yaitu “Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era
80-an” karya Denny J.A. Buku ini adalah tulisan Denny J.A yang sebelumnya di
muat di media massa. Hubungannya dengan judul penelitian penulis adalah
banyak hal mengenai gerakan mahasiswa yang terjadi pada tahun 1980-an
dilengkapi di sini. Baik dalam hal tujuan atau orientasi gerakan, pola atau metode
gerakan, dll. Dari pemikiran inilah yang penulis tangkap sebagai gambaran
gerakan mahasiswa Jakarta pada periode 1981-1990.
Buku kedua yaitu berjudul “ Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa
Pergolakan Mahasiswa dalam Politik dan Sejarah Indonesia (1908-1998)”
yang ditulis oleh Adi Suryadi Culla. Buku ini menceritakan sejarah gerakan

Universitas Sumatera Utara

mahasiswa yang dimulai sejak terbentuknya Budi Utomo sampai meletusnya
reformasi 1998. Memang tidak diceritakan secara detail bagaimana dinamika
gerakan mahasiswa di Jakarta. Tetapi, ia setidaknya telah memberikan gambaran
umum apa yang terjadi pada gerakan mahasiswa di Jakarta. Seperti halnya mulai
terbentuk kelompok-kelompok studi di Jakarta. Kondisi yang hampir sama pada
awal pergerakan.
Sedangkan buku ketiga yang penulis gunakan yaitu “Pergolakan
Melawan Kekuasaan: Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik”
karangan Arbi Sanit. Buku ini mencoba melihat dinamika gerakan mahasiswa itu
sebagai gerakan politikkah atau hanya sebatas gerakan moral. Kaitannya dengan
judul penelitan penulis yaitu apakah dinamika gerakan mahasiswa Jakarta ketika
itu juga dipengaruhi pernyataan tersebut.
Lebih jauh Arbi Sanit juga menceritakan wilayah kekuasaan sebagai
sesuatu yang sangat mempengaruhi gerakan mahasiswa. Ada semacam
pragmatisme di kalangan mahasiswa. Ketika ia di luar struktur kekuasaan, akan
sangat giat untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Namun, setelah ia memasuki
sistem kekuasaan, mereka umumnya melupakan nilai-nilai perjuangan semula.

Universitas Sumatera Utara

Kondisi ini jugalah yang ingin penulis kaji, apakah juga menjadi bagian dari
gerakan mahasiswa Jakarta tahun 1981-1990?

1.5 Metode Penelitian
Kuntowijoyo mengatakan penelitian sejarah mempunyai lima tahapan
yang seyogyangya dilakukan sejarawan, yaitu: pemilihan topik, pengumpulan
sumber, verifikasi, interpretasi dan historigrafi. 10 Penulis sendiri cenderung untuk
mengikuti kelima tahapan tersebut. Dalam pemilihan topik, seperti telah diuraikan
dalam latar belakang, penulis menggunakan kedekatan emosional.
Pada tahapan pengumpulan sumber (dikenal dengan istilah heuristik) yang
terdiri dari pengumpulan sumber berdasarkan urutan penyampaian (sumber primer
dan sumber sekunder) dan pengumpulan sumber berdasarkan bahannya (dokumen
dan artefak), penulis berada dalam posisi kedua. Maksudnya yaitu, sumber yang
penulis dapatkan masih kebanyakan berasal dari sumber sekunder, yaitu bukubuku yang menceritakan sejarah gerakan mahasiswa. Pengumpulan buku-buku ini
sebagai dasar dari penelitian kepustakaan. Selain buku-buku, penulis juga akan

10

Ibid., hal., 90

Universitas Sumatera Utara

berusaha melengkapinya dengan dokumen baik berupa arsip maupun kliping
koran.
Untuk kekurangannya akan penulis lengkapi pada saat penelitian di
lapangan. Di mana di sini juga akan digunakan metode wawancara untuk
melengkapi data yang akan diteliti. Wawancara juga sangat dimungkinkan
mengingat periodesasi penelitikan yang tidak terlalu jauh. Sedangkan pada
tahapan verifikasi atau kritik sumber yaitu yang terdiri dari kritik internal
(kredibilitas) dan kritik eksternal (autensitas atau keaslian sumber) dan
interpretasi akan penulis lakukan jika data-data yang diinginkan telah memadai.
Kemudian barulah sampai pada tahapan terakhir, yaitu historiografi atau penulisan
sejarah sebagai kisah.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
GAMBARAN UMUM JAKARTA
2.1 Sejarah Singkat Jakarta
Seperti umumnya kota-kota besar lain di Indonesia, Jakarta juga
mempunyai riwayat panjang tentang sejarah berdirinya. Jakarta saat ini adalah
bermula dari pelabuhan yang bernama Sunda Kelapa. Pelabuhan ini sendiri berada
di bawah taklukan kerajaan Pajajaran yang beragama Hindhu. Sunda Kelapa
merupakan pelabuhan yang strategis. Setidaknya hal ini sesuai dengan laporan
musafir Portugis yang bernama Tome Pires. Di mana ia menyebutkan Sunda
Kelapa dapat menghasilkan 1000 bahar lada, sepuluh jung beras setiap tahun,
emas, sayuran, lembu, babi, dll. 11
Karena alasan strategis perdagangan inilah, bangsa Portugis yang telah
menduduki Malaka sejak tahun 1511, mengadakan perjanjian kerjasama dengan
Sunda Kelapa pada tanggal 21 Agustus 1522. Selain alasan ekonomis, Portugis

11

Abdurracman Surjomihardjo, Perkembangan Kota Jakarta, Jakarta: Lembaga Research

Kebudayaan Nasional (LKRN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan
Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 2000, hal., halaman tidak diketahui

Universitas Sumatera Utara

BAB II
GAMBARAN UMUM JAKARTA
2.1 Sejarah Singkat Jakarta
Seperti umumnya kota-kota besar lain di Indonesia, Jakarta juga
mempunyai riwayat panjang tentang sejarah berdirinya. Jakarta saat ini adalah
bermula dari pelabuhan yang bernama Sunda Kelapa. Pelabuhan ini sendiri berada
di bawah taklukan kerajaan Pajajaran yang beragama Hindhu. Sunda Kelapa
merupakan pelabuhan yang strategis. Setidaknya hal ini sesuai dengan laporan
musafir Portugis yang bernama Tome Pires. Di mana ia menyebutkan Sunda
Kelapa dapat menghasilkan 1000 bahar lada, sepuluh jung beras setiap tahun,
emas, sayuran, lembu, babi, dll. 11
Karena alasan strategis perdagangan inilah, bangsa Portugis yang telah
menduduki Malaka sejak tahun 1511, mengadakan perjanjian kerjasama dengan
Sunda Kelapa pada tanggal 21 Agustus 1522. Selain alasan ekonomis, Portugis

11

Abdurracman Surjomihardjo, Perkembangan Kota Jakarta, Jakarta: Lembaga Research

Kebudayaan Nasional (LKRN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan
Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 2000, hal., halaman tidak diketahui

Universitas Sumatera Utara

juga berniat untuk membangun benteng pertahanan. 12 Namun, niat Portugis ini
tidak kesampaian karena Sunda Kelapa terlebih dahulu keburu jatuh ke tangan
Fatahillah, menantu Sultan Demak, Trenggana, yang juga dibantu oleh kerajaan
demak 13. Ini terjadi di tahun 1527. Dan pada tanggal 22 Juni 1527 Sunda Kelapa
diganti namanya menjadi Jayakarta. 14 Dan tak lama kemudian ia pun menjadi
kerajaan islami.
Pengalihan kekuasaan ini sendiri tidak mengurangi peranannya sebagai
pelabuhan yang strategis. Di satu sisi, bangsa Belanda telah tiba di Nusantara,
tepatnya di Banten pada bulan Juni 1596. Kedatangan bangsa Belanda ini
dipimpin oleh Cornelis de Houtman. 15 Namun, kehadiran mereka di Banten tidak
mendapatkan sambutan yang baik. Hal ini dikarenakan sikap monopoli
perdagangan Belanda. Tahun 1619 terjadilah pertempuran antara Belanda di
bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen dengan Banten dan Inggris. Pertempuran
ini sendiri untuk memperebutkan Jayakarta.
12

Ibid., Lihat juga Edi Sedyawati, Supratikno Rahardjo, dkk., Sejarah Kota Jakarta

1950-1980, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1987, hal., 15
13

Demak sebelumnya bagian dari Pajajaran. Namun, memisahkan diri seiring masuknya

agama Islam ke sana. Ibid.
14

Ibid.

15

M.C. Ricklefs, Op., Cit., hal., 38

Universitas Sumatera Utara

Akhirnya, Belanda dapat menduduki Jayakarta. Kemenangan ini karena
adanya dukungan Kerajaan Banten yang balik menyerang Inggris. Keputusan
Banten ini di dasari bahwa lebih menguntungkan jika Belanda yang menguasai
Jayakarta dibandingkan Inggris. 16 Keputusan ini ternyata di kemudian hari sebuah
blunder. Pada bulan Mei 1619, JP Coen dengan armada kapal yang lebih besar
memukul balik Banten untuk segera menguasai secara keseluruhan dari
Jayakarta 17. Dan sejak saat itulah nama Jayakarta berubah menjadi Batavia, yang
berasal dari suku bangsa Jerman kuno di Belanda.
Dengan alasan pelabuhan yang strategis, maka Belanda pun dengan segera
memindahkan VOC dari markasnya di Banten ke Batavia. Selain digunakan
sebagai pelabuhan (perdagangan), Batavia juga dijadikan sebagai pusat kekuatan
militer VOC. Seiring waktu, Batavia berkembang menjadi kota yang modern.
Berbagai macam infrastruktur pun dibangun. Seperti jalan, trem, kantor, istana.
Batavia juga mulai di padati penduduk. Baik yang berasal dari Eropa, Cina
maupun penduduk lokal nusantara yang hijrah ke Batavia.

16

Ibid., hal., 45

17

Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) Batavia diubah lagi menjadi
Jakarta. Dan melalui peraturan UU no 10 tahun 1964, Jakarta ditetapkan sebagai
pusat Ibukota dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.2 Keadaan Geografis
Jakarta terletak pada posisi 106
˚22´42˝ BT sampai 106˚58´18˝ BT dan 5˚19´12˝ LS sampai -6˚23´54˝ LS. Luasnya sendiri adalah 655,76 km² atau 65.000
ha. Sedangkan untuk batas-batasnya adalah:
Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa,
Sebelah selatan berbatasan dengan Depok,
Sebelah barat berbatasan dengan Banten,
Sebelah timur berbatasan dengan Jawa Barat. 18
Selain itu, Jakarta juga terbagai atas lima wilayah Kotamadya dan satu
Kabupaten Administratif, yaitu: Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara,
Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu. Jakarta mempunyai keunikan
dalam hal luas wilayah. Paling tidak dalam rentang waktu dari tahun 1967-1978,
Jakarta mengalami lima kali perluasan wilayah. Di awali tahun 1967 luas Jakarta
18

Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Universitas Sumatera Utara

adalah 590,11 km², dan tahun 1969-1975 menjadi 587, 62 km². Berubah kembali
menjadi 637,44 km² pada tahun 1976-1977. Kemudian di tahun 1978 wilayah
Jakarta bertambah lagi menjadi 654,90 km² dan akhirnya sesudah tahun 1978
menjadi 655,76 km².
Adanya disparitas luas wilayah Jakarta dari tahun ke tahun ini disebabkan
oleh kebijakan pembulatan atau tambahan wilayah dari desa-desa provinsi Jawa
Barat ke dalam wilayah Jakarta. 19 Sebagai pusat Ibukota dari Republik Indonesia
adalah wajar jika setiap lahan di Jakarta banyak bangunan. Baik itu diperuntukkan
untuk kepentingan pemerintahan, bisnis (ekonomi), hiburan, dll. Kota Jakarta juga
selalu dijadikan acuan atau barometer utama untuk mengubah tingkat kehidupan.
Maka tidak aneh salah satu masalah kota Jakarta ialah kepadatan penduduk.

2.3 Sistem Ekonomi Penduduk Jakarta
2.3.1 Penduduk Jakarta
Sama dengan daerah lainnya di Indonesia, sifat heterogen menjadi ciri
penduduk kota Jakarta. Heterogenitas ini juga sangat didukung oleh potensi
Jakarta sebagai wilayah utama bagi penduduk di luar Jakarta untuk mencari
19

Supratikno, Op., Cit., hal., 21

Universitas Sumatera Utara

pekerjaan. Pluralitas masyarakat Jakarta ini sudah berlangsung sejak lama.
Bahkan ketika masih sebagai wilayah kolonialisme Belanda. Tepatnya, ketika
Jayakarta berhasil dikuaasai VOC dan diganti namanya menjadi Batavia.
Pengalihan kekuasaan ini membuat VOC melakukan pembangunan
menuju sebuah kota yang lebih modern. Akibatnya, Batavia menjadi lebih ramai
oleh kedatangan penduduk dari luar Batavia, seperti orang-orang Cina. Namun,
kota Jakarta juga mempunyai penduduk asli (lokal). Yaitu suku bangsa Betawi.
Menurut sejarahnya, suku Betawi merupakan hasil perkawinan campuran
beberapa suku bangsa: Bali, Sumatera, Arab dan juga Portugis. Jadi dengan kata
lain, suku Betawi terbentuk oleh heterogenitas masyarakat Jakarta (Batavia) pada
masa lalu.
Suku Betawi sendiri terdiri atas dua jenis. Pembagian ini didasari oleh
letak geografisnya. Pertama, Masyarakat Betawi Tengah. Domisilinya meliputi
wilayah bekas kekuasaan Batavia. Namun, tidak termasuk wilayah Tanjung Priok
dan sekitarnya. Masyarakat Betawi Tengah sangat kuat dipengaruhi oleh
kebudayaan Melayu dan juga agama Islam. Dalam wujud fisik hal ini nampak dari
kesenian mereka seperti Samrah, Zapin, dan Rebana.

Universitas Sumatera Utara

Ciri lain Masyarakat Betawi Tengah adalah pengucapan tutur kata.
Dimana terjadi perubahan huruf vocal “a” menjadi huruf vokal “e” pada setiap
akhir suku kata. Misalnya, “di mana” menjadi “di mane”. Kedudukan sosial
masyarakat Betawi Tengah pada umumnya berada di tingkatan menengah ke atas.
Ini dikarenakan pada masa lalu kelompok Betawi Tengah mendapatkan akses
ekonomi yang lebih baik dari penguasa.
Kedua, Masyarakat Betawi Pinggiran. Kelompok masyarakat ini dibagi
lagi menjadi dua bagian.
1. Masyarakat Betawi Pinggiran bagian Utara. Domisilinya
meliputi bagian Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Tengerang.
Dalam soal kebudayaan kelompok masyarakat ini banyak
dipengaruhi oleh kebudayaan Cina. Hal ini terlihat dari
manifestasi kesenian mereka seperti Gambang Kromong,
Lenong, dan Tari Cokek.
2. Masyrakat Betawi Pinggiran bagian Selatan. Domisilinya
mulai dari Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Bogor, dan Bekasi.
Bedanya, kelompok masyarakat ini kental dengan budaya
Jawa dan Sunda. Sebagai contoh dalam pengucapan kata. Di

Universitas Sumatera Utara

mana terjadi perubahan vokal “a” menjadi huruf “ah” pada
akhir setiap kata. Misalnya, kata “gua” menjadi “guah”.
Adapun kelompok suku lainnya yang mendiami kota Jakarta
yaitu suku Jawa, Sunda, Minangkabau, Batak, Ambon, dll. 20

2.3.2 Ekonomi Penduduk Jakarta
Status Jakarta sebagai ibukota Indonesia sungguh berdampak positif bagi
perekonomian provinsi tersebut. Bisa dikatakan pusat perekonomian (bisnis)
nasional banyak ditentukan dari Jakarta. Peredaran uang secara nasional pun
terkonsentrasikan di sini. Adapun lapangan pekerjaan umumnya terbagi atas tiga
sektor. Sektor pertama meliputi pertanian. Kedua, terdiri dari pertambangan,
industri, bangunan, listrik, air, dan gas. Terakhir, perdagangan, angkutan atau
komunikasi, keuangan dan jasa masuk ke sektor ketiga. 21

20

Tim Peneliti atau Penulis, Tito Adonis (ed.), Pola Pengasuhan Anak Secara

Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional, Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, 1989, hal., 13-15
21

Edi Sedyawati, dkk., Op., Cit., hal., 51-53

Universitas Sumatera Utara

Pada periode ini lahan pertanian masih bisa dijumpai di Jakarta. Umumnya
berseberangan dengan gedung-gedung bertingkat. Seperti perkantoran, perumahan
maupun bangunan untuk industri. Mereka yang bekerja di sektor pertanian
kebanyakan berpendidikan rendah sehingga sangat menyulitkan bagi mereka
untuk mendapatkan akses pekerjaan di sektor lainnya.
Di kota Jakarta banyak juga dijumpai pedagang, baik itu pedagang kecil,
pedagang keliling maupun pedagang kaki lima. Barang dagangannya bisa berupa
makanan, sayur-sayuran, buah-buahan, dll. Untuk profesi buruh juga mudah
dijumpai di kota besar seperti Jakarta. Sektor ini termasuk kelompok yang
mempunyai pekerjaan tidak menentu.
Karena sifat pekerjaannya tergantung kepada ada tidaknya proyek
pembangunan. Oleh karenanya untuk menyiasati kelangsungan hidup ketika tidak
ada pekerjaan, mereka beralih ke pekerjaan yang lainnya. Seperti menjadi kuli
sawah atau tukang becak. Selain penduduk dengan spesifikasi pekerjaan
menengah ke bawah, ada juga golongan pekerjaan menengah ke atas.
Mereka adalah pegawai atau karyawan. Baik itu pegawai di lingkungan
instansi pemerintah maupun yang bekerja di perusahaan swasta. Demikian juga
hanya dengan kelompok masyarakat yang termasuk ke dalam high class. Mereka

Universitas Sumatera Utara

adalah pemilik akses atau penyedia lahan pekerjaan. Harus diakui, faktor
pendidikan ternyata sangat mempengaruhi tingkat perekonomian (status)
masyarakat Jakarta. Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin tinggi pula
status sosial yang dimilikinya. Dan juga berlaku sebaliknya.

2.4 Sistem Kekerabatan
Suku Betawi memandang perkawinan sebagai suatu yang sakral. Selain
terdapat dalam ajaran agama (Islam), bagi suku Betawi pernikahan adalah suatu
kewajiban. Umumnya pernikahan berlangsung bagi laki-laki dan perempuan yang
menjelang usia dewasa. Meskipun demikian, pernikahan di bawah umur juga
terkadang terjadi. Orang tua suku Betawi sebenarnya mempunyai kewajiban
mencarikan jodoh untuk anaknya.
Namun, dalam perkembangannya si anak juga bisa mencari jodohnya
sendiri. Dengan syarat ia sudah akil baliq. Mengingat suku Betawi cukup fanatik
dalam menjalankan agamanya, maka jodoh yang akan dinikahi haruslah beragama
Islam. Dalam hal prosesi atau adat pernikahan, suku Betawi memiliki caranya
sendiri. Lazimnya suku bangsa yang menganut sistem patrili

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23