Integrasi Ekonomi Sumatera Utara Dengan Singapura Dan Malaysia

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI MEDAN
SKRIPSI INTEGRASI EKONOMI SUMATERA UTARA DENGAN SINGAPURA DAN
MALAYSIA
Disusun Oleh:
AHMAT THOIB PASARIBU
060501084 EKONOMI PEMBANGUNAN
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Medan 2011
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI MEDAN

PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI

Nama

: Ahmat Thoib Pasaribu

NIM

: 060501084

Departemen : Ekonomi Pembangunan

Konsentrasi : Perencanaan Pembangunan

Judul Skripsi : Integrasi Ekonomi Sumatera Utara Dengan

Singapura dan Malaysia.

Tanggal:

Pembimbing

Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirozujilam, SE NIP. 19630818 198803 1 005

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI MEDAN

BERITA ACARA UJIAN

Hari :

Tanggal

:

Nama

: Ahmat Thoib Pasaribu

NIM

: 060501084

Departemen : Ekonomi Pembangunan

Konsentrasi : Perencanaan Pembangunan

Judul Skripsi : Integrasi Ekonomi Sumatera Utara Dengan

Singapura dan Malaysia.

Ketua Program Studi

Pembimbing

Irsyad Lubis SE, M.Soc.Sc, Ph.D NIP. 19710503 200312 1 003

Prof. Dr. lic. rer. reg. Sirozujilam, SE NIP. 19630818 198803 1 005

Penguji I

Penguji II

Kasyful Mahalli SE, M. Si NIP. 19671111 200212 1 001

Drs. Rahmat Sumanjaya, M. Si NIP. 19490808 198103 1 001

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI MEDAN

PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK

Nama

: Ahmat Thoib Pasaribu

NIM

: 060501084

Departemen : Ekonomi Pembangunan

Konsentrasi : Perencanaan Pembangunan

Judul Skripsi : Integrasi Ekonomi Sumatera Utara Dengan

Singapura dan Malaysia.

Tanggal:

Ketua

Irsyad Lubis SE, M.Soc.Sc, Ph.D NIP. 19710503 200312 1 003

Tanggal:

Dekan
Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec NIP. 19550810 198303 1 004
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
This Research analyzes regional economic integration between North Sumatera with Singapore and Malaysia. This research aims to measure degree of openness among North Sumatera, Singapore, and Malaysia and its influence or benefit for North Sumatera.
This research uses the annual data from 2000 - 2009, by using quantitative approach method modestly used by former researcher that is Ivan Arribas, Fransisco Perez, and Emili Torotossa-Ausina to know the Degree of Openness of North Sumatera to Singapore and Malaysia and also compare the the openness with the other ASEAN nations. Other approach is the quantitative approach with the opened macro economic model by expenditure side. This method used to know the influence of openness of North Sumatra by Singapore and Malaysia to the trade balances of North Sumatra.
Result of this research indicates that the openness of North Sumatera by Singapore and Malaysia own the larger percentage ones compared to the other ASEAN nations. In 2009, Degree of Openness of North Sumatera to Singapore and Malaysia is equal to 0,12 percen. This matter indicates that the North Sumatera by Singapura and Malaysia own the stronger relation/link in compared to the other ASEAN nations, where in the same year, the Degree of Openness of North Sumatera to other ASEAN nations only equal to 0,002 percen, and so it is with previous years where Degree of Openness of North Sumatera by Singapura and Malaysia always larger compared to the Degree of Openness of North Sumatera with the other ASEAN nations.
The Degree of Openness of North Sumatra to Singapore gives the positive contributions to the North Sumatra trade balances, but do not that way in 2007, 2008, and 2009, where the North Sumatra trades with Singapore gives the negative contributions, that is -2 percen, -12,2 percen, and -9 percen . In the other side, the openness of North Sumatra to Malaysia still gives the positive contributions, although tend to downhill of last some years.
Keywords: Degree of Openness, Trade Balances.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur Tingkat Keterbukaan antara Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia dan pengaruh atau manfaat dari keterbukaan tersebut terhadap Sumatera Utara.
Penelitian ini menggunakan data tahunan dari 2000 – 2009, dengan menggunakan metode pendekatan kuantitatif sederhana yang digunakan oleh peneliti terdahulu yaitu Ivan Arribas, Fransisco Perez, dan Emili TorotossaAusina untuk mengetahui Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia serta membandingkan keterbukaan tersebut dengan negara-negara ASEAN lainnya. Pendekatan lainnya yaitu pendekatan kuantitatif dengan model ekonomi makro terbuka dari sisi pengeluaran. Metode ini digunakan untuk mengetahui pengaruh keterbukaan Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia terhadap neraca perdgangan Sumatera Utara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia memiliki persentase yang lebih besar dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Pada tahun 2009, Keterbukaan Ekonomi Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia adalah sebesar 0,12 persen. Hal ini menunjukkan bahwa, Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia memiliki hubungan yang lebih kuat dalam integrasi ekonomi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, dimana pada tahun yang sama Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap negara-negara ASEAN lainnya hanya sebesar 0,002 persen, dan demikian juga dengan tahun sebelumnya dimana Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia selalu lebih besar dibandingkan dengan Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara dengan negaranegara ASEAN lainnya.
Besarnya keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura memberikan kontribusi yang positif terhadap neraca perdagangan Sumatera Utara, namun tidak demikian halnya pada tahun 2007, 2008, dan 2009, dimana perdagangan luar negeri Singapura memberikan kontribusi yang negatif, yaitu -2 persen, -12,2 persen, dan -9 persen. Sedangkan keterbukaan Sumatera Utara dengan Malaysia masih memberikan kontribusi yang positif, walaupun cenderung menurun beberapa tahun terakhhir. Kata Kunci: Tingkat Keterbukaan, Neraca Perdagangan.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala Tuhan Yang maha Esa, karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Integrasi Ekonomi Sumatera Utara dan Semenanjung Malaysia”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keterbukaan ekonomi antara Sumatera Utara, Singapura, dan Malaysia karena semakin terbuka ekonomi suatu wilayah/negara maka semakin besar tingkat integrasi ekonomi yang terjadi di wilayah/negara tersebut. Disamping itu, penulisan skripsi ini juga ditujukan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi dari program pendidikan Strata-1 Fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa dalam rangka penulisan skripsi ini tidak dapat bekerja sendiri karena keterbatasan pengetahuan, maka penulis banyak bertanya kepada pihak-pihak yang dianggap mengetahui atau menguasai bidang pembahasan skripsi ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :
1. Kedua orang tua penulis yang tercinta yaitu H. Perayaan Raya Pasaribu dan Hj. Nurhayani Ritonga, yang telah banyak mendukung penulis dalam berbagai hal sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, serta kepada seluruh keluarga besar penulis yang telah memberikan motivasi selama masa perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M. Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Irsyad Lubis PhD, sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Sumatera Utara.
4. Bapak Prof. Dr. lic. rer. reg. Sirozujilam, SE selaku dosen pembimbing penulis yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan masukan, saran, dan bimbingan yang baik mulai dari awal penulisan hingga skripsi ini selesai.
5. Bapak Kasyful Mahalli, SE, M.Si selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan petunjuk, saran , dan kritik dalam penyusunan skripsi ini.
6. Bapak Drs. Rahmat Sumanjaya, M.Si selaku Dosen Penguji II yang juga telah memberikan petunjuk, saran, dan kritik dalam penyusunan skripsi ini.
7. Ibu Dra. T Diana bakti, M.Si selaku Dosen Wali penulis yang telah memberikan bimbingan selama masa perkuliahan.
8. Seluruh staf pengajar dan karyawan pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan.
9. Kepada saudara Syaeruddin Dalimunthe, SE , Ardiansyah Tanjung, SE, Abdul Azis Nasution, SE, dan Ari Suhana serta teman-teman Ekonomi Pembangunan 2006 lainnya yang tidak sempat disebutkan yang telah banyak meluangkan waktunya dan berbagi pemikiran dengan penulis.
Universitas Sumatera Utara

10. Kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Allah membalas segala kebaikan yang telah diberikan. Akhir kata
penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan kiranya dapat memberikan manfaat dan membantu pihak yang memerlukannya.
Medan, Juni 2011 Penulis
Ahmat Thoib Pasaribu
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI Halaman
ABSTRACT………………………………………………………………. i ABSTRAK……………………………………………………………….... ii KATA PENGANTAR……………………………………………………. iii DAFTAR ISI…………………………………………………………….... vi DAFTAR TABEL……………………………………………………........ ix DAFTAR GAMBAR.……………………………………………………... x DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………….... xii BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang……………………………………….......... 1 1.2. Perumusan Masalah……………………………………….. 4 1.3. Hipotesis…………………………………………………... 4 1.4. Pembatasan Masalah………………………………………. 5 1.5. Tujuan Penelitian………………………………………….. 5 1.6. Manfaat Penelitian……………………………………........ 5 BAB II : URAIAN TEORITIS 2.1. Integrasi Ekonomi………………………………………… 7
2.1.1. Teori Integrasi Ekonomi…………………………… 7 2.1.2. Proses Terbentuknya Integrasi Ekonomi………....... 8 2.1.3. Sekilas Tentang AFTA…………………………….. 9 2.1.4. Metode Pengukuran Integrasi Ekonomi.………....... 13 2.1.5. Dampak Integrasi Ekonomi………………………... 14 2.2. Teori Perdagangan Internasional…………………………. 17 2.2.1. Teori Klasik………………………………………... 17 2.2.2. Teori Modern………………………………………. 19 2.2.3. Ekspor……………………………………………… 27 2.2.4. Impor……………………………………………….. 31
Universitas Sumatera Utara

2.2.5. Perekonomian Terbuka……………………………… 33

2.2.6. Keuntungan Melakukan Perdagangan Internasional... 33

2.3. Globalisasi…………………………………………………. 35

2.3.1. Defenisi Globalisasi…………………………………. 35

2.3.2. Ciri-ciri Globalisasi………………………………….. 36

2.3.3. Kebaikan dan Keburukan Globalisasi………………. 37

2.4. Pendapatan Nasional…………………………..................... 41

2.4.1. Pengertian Pendapatan Nasional…………………….. 41

2.4.2. Istilah Pendapatan Nasional…………………………. 41

2.4.3. Cara Penghitungan Pendapatan Nasional……………. 43

2.6. Penelitian Terdahulu……………………………………….. 46

2.6. Kerangka Pemikiran………………………………………... 47

BAB III : METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian…………………………………. 49

3.2. Pendekatan Penelitian……………………………………... 49

3.3. Jenis dan Sumber Data…………………………………….. 50

3.4. Teknik Pengolahan Data…………………………………… 50

3.5. Metode Analisis Pengolahan Data…………………………. 50

3.6. Defenisi Operasional……………………………………….. 52

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian……………………….. 53

4.1.1. Sumatera Utara………………………………………. 53

4.1.2. Singapura...…………………………………………... 61

4.1.3. Malaysia..…………………………………………….. 64

4.2. Hasil Penelitian…………………………………………

71

4.2.1. Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara Terhadap

Singapura dan Malaysia, serta perbandingannya

Dengan Negara-Negara ASEAN lainnya………….. 71

Universitas Sumatera Utara

4.2.2. Pengaruh Keterbukaan Sumatera Utara Dengan Singapura dan Malaysia Terhadap Neraca Perdagangan Sumatera Utara……………………….. 75
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan…………………………………………………. 80 5.2. Saran……………………………………………………....... 80
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No. Tabel

Judul

Halaman

1.1 Impor Sumatera Utara Menurut Negara Asal Utama

Mei 2011 …………………………………………………………. 2

1.2 Ekspor Sumatera Utara Menurut Negara Tujuan Utama

Mei 2011……………………………………………….……….... 3

4.1 Perdagangan Luar Negeri Sumatera Utara Dengan Malaysia........ 72

4.2 Perdagangan Luar Negeri Sumatera Utara Dengan Singapura....... 73

4.3 Kontribusi Perdagangan Luar Negeri Singapura dan Malaysia

Terhadap Neraca Perdagangan Sumatera Utara……………..… 78

4.4 Neraca Perdagangan Sumatera Utara Dengan Singapura,

Malaysia, dan negara-negara ASEAN Lainnya (Milyar Rp)……. 79

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar

Judul

Halaman

2.1 Efek Kreasi dan Efek Diversi Integrasi Ekonomi…………... 16

2.2 Teori Perdagangan Internasional Rybczynsky………………. 27

2.3 Kerangka Pemikiran…………………………………………. 48

4.1 Perkembangan Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi

Sumatera Utara (Rp.Milyar)……………………………….... 55

4.2 Perkembangan Perdagangan Luar Negeri Sumatera Utara…. 61

4.3 Perkembangan PDB Singapura Menurut Harga Berlaku

(US$ milyar)…………………………………………………. 63

4.4 Total Belanja dan Pendapatan Malaysia (milyar Ringgit)….... 67

4.5 Perbandingan Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi

Malaysia dan Dunia................................................................. 68

4.6 Perkembangan Perdagangan Luar Negeri Malaysia

(milyar Ringgit)…………………………………..…………. 69

4.7 Perkembangan PDB Malaysia (US$ milyar)..………………. 70

4.8 Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara Terhadap

Singapura dan Malaysia 2000-2009.………………………… 71

Universitas Sumatera Utara

4.9 Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara Terhadap Negara-Negara ASEAN lainnya……………………………… 75
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran

Judul

1 Perdagangan Luar Negeri Sumatera Utara Dengan NegaraNegara ASEAN Lainnya.

2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Utara Menurut Sudut Penggunaan Atas Dasar Harga berlaku 20002009 (Milyar Rp).

3 Rata-rata Nilai Tukar Mata Uang Rupiah Terhadap Mata Uang Dollar 2000-2009.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
This Research analyzes regional economic integration between North Sumatera with Singapore and Malaysia. This research aims to measure degree of openness among North Sumatera, Singapore, and Malaysia and its influence or benefit for North Sumatera.
This research uses the annual data from 2000 - 2009, by using quantitative approach method modestly used by former researcher that is Ivan Arribas, Fransisco Perez, and Emili Torotossa-Ausina to know the Degree of Openness of North Sumatera to Singapore and Malaysia and also compare the the openness with the other ASEAN nations. Other approach is the quantitative approach with the opened macro economic model by expenditure side. This method used to know the influence of openness of North Sumatra by Singapore and Malaysia to the trade balances of North Sumatra.
Result of this research indicates that the openness of North Sumatera by Singapore and Malaysia own the larger percentage ones compared to the other ASEAN nations. In 2009, Degree of Openness of North Sumatera to Singapore and Malaysia is equal to 0,12 percen. This matter indicates that the North Sumatera by Singapura and Malaysia own the stronger relation/link in compared to the other ASEAN nations, where in the same year, the Degree of Openness of North Sumatera to other ASEAN nations only equal to 0,002 percen, and so it is with previous years where Degree of Openness of North Sumatera by Singapura and Malaysia always larger compared to the Degree of Openness of North Sumatera with the other ASEAN nations.
The Degree of Openness of North Sumatra to Singapore gives the positive contributions to the North Sumatra trade balances, but do not that way in 2007, 2008, and 2009, where the North Sumatra trades with Singapore gives the negative contributions, that is -2 percen, -12,2 percen, and -9 percen . In the other side, the openness of North Sumatra to Malaysia still gives the positive contributions, although tend to downhill of last some years.
Keywords: Degree of Openness, Trade Balances.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur Tingkat Keterbukaan antara Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia dan pengaruh atau manfaat dari keterbukaan tersebut terhadap Sumatera Utara.
Penelitian ini menggunakan data tahunan dari 2000 – 2009, dengan menggunakan metode pendekatan kuantitatif sederhana yang digunakan oleh peneliti terdahulu yaitu Ivan Arribas, Fransisco Perez, dan Emili TorotossaAusina untuk mengetahui Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia serta membandingkan keterbukaan tersebut dengan negara-negara ASEAN lainnya. Pendekatan lainnya yaitu pendekatan kuantitatif dengan model ekonomi makro terbuka dari sisi pengeluaran. Metode ini digunakan untuk mengetahui pengaruh keterbukaan Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia terhadap neraca perdgangan Sumatera Utara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia memiliki persentase yang lebih besar dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Pada tahun 2009, Keterbukaan Ekonomi Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia adalah sebesar 0,12 persen. Hal ini menunjukkan bahwa, Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia memiliki hubungan yang lebih kuat dalam integrasi ekonomi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, dimana pada tahun yang sama Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap negara-negara ASEAN lainnya hanya sebesar 0,002 persen, dan demikian juga dengan tahun sebelumnya dimana Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia selalu lebih besar dibandingkan dengan Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara dengan negaranegara ASEAN lainnya.
Besarnya keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura memberikan kontribusi yang positif terhadap neraca perdagangan Sumatera Utara, namun tidak demikian halnya pada tahun 2007, 2008, dan 2009, dimana perdagangan luar negeri Singapura memberikan kontribusi yang negatif, yaitu -2 persen, -12,2 persen, dan -9 persen. Sedangkan keterbukaan Sumatera Utara dengan Malaysia masih memberikan kontribusi yang positif, walaupun cenderung menurun beberapa tahun terakhhir. Kata Kunci: Tingkat Keterbukaan, Neraca Perdagangan.
Universitas Sumatera Utara

1.1 Latar Belakang

BAB. I PENDAHULUAN

Integrasi ekonomi, Sesuai dengan tujuan pembentukannya, yaitu untuk menurunkan hambatan perdagangan dan berbagai macam hambatan lainnya diantara satu negara dengan negara lainnya. Dengan demikian, integrasi ekonomi akan mengembangkan pasar dan perdagangan, menyebabkan penurunan harga (karena tarif berkurang), meningkatkan daya saing antara mitra dagang melalui biaya-biaya yang lebih rendah dan dengan skala ekonomi yang lebih luas. Untuk beberapa pengaturan integrasi ekonomi, tujuan akhirnya adalah pasar tunggal dimana di dalam pasar tersebut terdapat arus barang yang bebas, jasa-jasa, modal, dan tenaga kerja, dan penyelarasan kebijakan ekonomi dan moneter antar negara/wilayah (USITC Publication,2010: 24).

Berkaitan dengan integrasi ekonomi, pada tahun 1992 diciptakan area perdagangan bebas antara sesama negara ASEAN yang bernama Asean Free Trade Area (AFTA) sebagai bentuk kerjasama di bidang ekonomi yang bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan hambatan-hambatan perdagangan yang berlaku di negara-negara ASEAN yang diharapkan akan meningkatkan arus lalu lintas barang antar negara-negara ASEAN.

AFTA (Asean Free Trade Area) yang dibentuk untuk menciptakan satu pasar tunggal di kawasan ASEAN, berfungsi untuk menampung seluruh produksi negara-negara ASEAN, baik bentuk barang, jasa-jasa, tenaga kerja, dan Investasi dengan menghilangkan segala bentuk tarif sesuai dengan misi para pemimpin

Universitas Sumatera Utara

negara-negara ASEAN yang ingin membentuk ASEAN Economic Community (AEC) dimana waktu pembentukannya ditentukan pada tahun 2020.

Dengan adanya integrasi ekonomi, diharapkan lalu lintas perdagangan antara wilayah yang secara geografis berdekatan lebih besar dibandingkan dengan wilayah yang secara geografis berjauhan. Sehubungan dengan ini, Sumatera Utara adalah salah satu wilayah Indonesia yang dekat dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura dan Malaysia. Tingginya arus lalu lintas perdagangan dapat dibuktikan dengan besarnya impor barang dari Singapura dan Malaysia ke Sumatera Utara. Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat bahwa Singapura dan Malaysia merupakan dua negara pengimpor terbesar bagi Sumatera Utara. hal ini cukup lumrah, karena secara geografis ketiga wilayah ini (Sumatera Utara, Singapura, dan Malaysia) sangat dekat, dan hanya dipisahkan oleh Selat Malaka yang menjadi pintu gerbang perdagangan antara ketiga wilayah tersebut. Namun yang menjadi perhatian adalah munculnya importir terbesar kedua bagi Sumatera Utara yaitu China yang mengekspor produk-produknya ke Sumatera Utara sebesar US$.49,87 juta, yang secara geografis jauh dari Sumatera Utara.

Tabel 1.1. Impor Sumatera Utara Menurut Negara Asal Utama Mei 2011.

Negara Singapura

Import Sumatera Utara Menurut Negara Asal US$.103,80 juta

China

US$.49,87 juta

Malaysia

US$.47,34 juta

Sumber: Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 26/25/12/Th.XIV.

Universitas Sumatera Utara

Dilihat dari sisi ekspor, berdasarkan tabel 1.2 dapat dilihat bahwa ekspor terbesar Sumatera Utara bukanlah ke negara-negara ASEAN khususnya Singapura dan Malaysia, melainkan negara Asia lainnya seperti Jepang, India dan China yaitu sebesar US$299.774 juta. Sedangkan negara-negara ASEAN (Singapura dan Malaysia) menempati posisi ketiga dimana ekspor Sumatera Utara ke kedua negara tersebut sebesar US$122.122 juta, dan posisi kedua ditempati oleh negaranegara lainnya seperti Amerika Serikat, Belanda, Rusia, Afrika Selatan dan Brasil, dimana total seluruh ekspor ke negara-negara tersebut sebesar US$205.700 juta.

Tabel 1.2. Ekspor Sumatera Utara Menurut Negara Tujuan Utama Mei 2011.

Negara Asia

Ekspor Sumatera Utara Menurut Negara Tujuan
US$.103,80 juta

Singapura & Malaysia

US$.49,87 juta

Negara Utama Lainnya

US$.47,34 juta

Sumber: Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 26/25/12/Th.XIV.

Jika dibandingkan antara besarnya ekspor Sumatera Utara ke Singapura dan Malaysia dan impor Sumatera Utara dari Malaysia, dimana total ekspor Sumatera Utara ke Malaysia dan Singapura adalah sebesar US$.122,1 juta dan impor Sumatera Utara dari kedua negara tersebut adalah sebesar US$.151,1 juta, maka jelas terlihat bahwa total impor Sumatera Utara dari Malaysia dan Singapura lebih besar dari total ekspor Sumatera Utara ke kedua negara tersebut dengan selisih sebesar US$.31 juta.

Universitas Sumatera Utara

Dari penjelasan diatas, sekilas tampak bahwa yang mendapat manfaat integrasi ekonomi di perairan Selat Malaka adalah Singapura dan Malaysia. Padahal integrasi ekonomi bertujuan meningkatkan perdagangan antara sesama negara anggota. Oleh karena itu, untuk mengetahui perkembangan integrasi ekonomi yang terjadi di kawasan perairan Selat Malaka, maka penulis tertarik untuk meneliti dan mempelajarinya dalam bentuk skripsi yang berjudul “Integrasi ekonomi Sumatera Utara Dengan Singapura dan Malaysia”. 1.2 Perumusan Masalah
Beradasarkan latar belakang diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa yang menjadi rumusan masalah dalam penelitiann ini adalah sebagai berikut :
• Seberapa besar persentase Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia serta bagaimana perbandingannya dengan negara-negara ASEAN lainnya.
• Bagaimana pengaruh Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia terhadap neraca perdagangan Sumatera Utara.
1.3 Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang
menjadi objek penelitian yang masih perlu diuji dan dibuktikan secara empiris tingkat kebenarannya dengan menggunakan data-data yang berhubungan.
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka penulis membuat hipotesis sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara

• Persentase Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia cukup tinggi dan lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
• Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara terhadap Singapura dan Malaysia memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap neraca perdagangan Sumatera Utara di kawasan ASEAN.
1.4 Pembatasan Masalah
Integrasi ekonomi berarti adanya keterbukaan ekonomi antara wilayah suatu wilayah tertentu dengan wilayah lainnya. Semakin terbuka perekenomian suatu wilayah maka semakin besar tingkat integrasi wilayah tersebut dengan wilayah lainnya. Keterbukaan ekonomi berarti besarnya arus barang (ekspor impor), jasa, Investasi, tenaga kerja terampil dan modal. Oleh karena itu, dalam upaya memfokuskan permasalahan dalam penelitian ini, akan lebih baik jika dibuat pembatasan masalah. Penelitian ini hanya memfokuskan masalah pada sektor ekspor impor barang.
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : • Untuk mengetahui Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara dengan
Singapura dan Malaysia, dan Tingkat Keterbukaan Sumatera Utara dengan negara-negara ASEAN lainnya. • Untuk mengetahui pengaruh Keterbukaan Sumatera Utara dengan Singapura dan Malaysia terhadap neraca perdagangan Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara

1.6 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi pemerintah atau instansi terkait. 2. Sebagai bahan masukan bagi pengambilan keputusan dimasa yang akan datang 3. Sebagai bahan studi bagi mahasiswa/mahasiswi ataupun peneliti yang ingin melakukan penelitian sejenis lainnya. 4. Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu yang penulis tekuni.
Universitas Sumatera Utara

BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Integrasi Ekonomi
2.1.1 Teori Integrasi Ekonomi
Batasan defenisi yang baku tentang Integrasi Ekonomi diantara para ekonom belum juga ditemukan saat ini. Para ekonom mengembangkan defenisi integrasi ekonomi dari berbagai sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Ditengah perbedaan tersebut, Jovanovic dengan ringkas telah mendokumentasi berbagai definsi integrasi yang berkembang hingga saat ini, antara lain definisi dikemukakan oleh T. Balassa yang mengemukakan definisi integrasi sebagai bentuk penghapusan diskriminasi serta kebebasan bertransaksi (integrasi negative) dan sebagai bentuk penyerahan kebijakan kepada lembaga bersama (integrasi positif). Selain itu didefinisikan konsep dinamis melalui penghapusan diskriminasi diantara negara yang berbeda, maupun dalam konsep statis dengan melihat ada tidaknya perbedaan dalam diskriminasi. Sementara, Holzman menyatakan integrasi ekonomi sebagai situasi dimana dua kawasan menjadi satu atau mempunyai satu pasar yang ditandai harga barang dan faktor produksi yang sama diantara dua kawasan tersebut. Definisi tersebut mengasumsikan tidak ada hambatan dalam pergerakan barang, jasa, dan faktor produksi diantara dua kawasan dan adanya lembaga-lembaga yang memfasilitasi pergerakan tersebut. Secara umum integrasi ekonomi dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dimana sekelompok Negara berupaya untuk meningkatkan tingkat kemakmurannya (Suprima, 2010).
Universitas Sumatera Utara

Menurut Suprima (2010), definisi integrasi ekonomi secara umum adalah pencabutan (penghapusan) hambatan-hambatan ekonomi diantara dua atau lebih perekonomian (negara). Secara operasional, didefinisikan sebagai pencabutan (penghapusan) diskriminasi dan penyatuan politik (kebijaksanaan) seperti norma, peraturan, prosedur. Instrumennya meliputi bea masuk, pajak, mata uang, undangundang, lembaga, standarisasi, dan kebijaksanaan ekonomi. 2.1.2 Proses Terbentuknya Integrasi Ekonomi
Ada beberapa tahapan integrasi ekonomi menurut intensitas integrasi (Suprima, 2010), yaitu : 1. Free trade Area (FTA).
Dua negara atau lebih dikatakan membentuk FTA apabila mereka sepakat untuk menghilangkan semua kewajiban impor atau hambatan-hambatan perdagangan baik dalam bentuk tarif maupun non tariff terhadap semua barang yang diperdagangkan diantara mereka; sedangkan terhadap negara-negara lain yang bukan merupakan anggota masih tetap diperlakukan menurut ketentuan di masing-masing negara. Setiap negara anggota bebas menentukan tarifnya terhadap arus perdagangan internasional dari negara-negara bukan anggota. 2. Customs Union (CU).
Dua negara atau lebih dikatakan membentuk CU apabila mereka sepakat untuk menghilangkan semua kewajiban impor atau hambatan-hambatan perdagangan dalam bentuk tarif maupun non tarif terhadap semua barang dan jasa
Universitas Sumatera Utara

yang diperdagangkan di antara sesama mereka; sedangkan terhadap negara-negara lain yang bukan anggota juga akan diberlakukan penyeragaman ketentuan. 3. Common Market (CM).
Dua negara atau lebih akan dikatakan membentuk CM jika terpenuhi kondisi CU plus mengizinkan adanya perpindahan yang bebas seluruh faktor produksi di antara sesame negara anggota. 4. Economic Union (EU).
Dua negara atau lebih dikatakan membentuk EU jika terpenuhi kondisi CM plus adanya harmonsasi dalam kebijakan-kebijakan makroekonomi nasional di antara sesama negara anggota. Dengan begitu dapat dihindari adanya kebijakan-kebijakan yang saling bertentangan dan kontroversial satu sama lain. 5. Total Economic Integration (TEI).
Kondisi ini terwujud apabila telah terjadi penyatuan kebijakan makroekonomi maupun social dan memfungsikan suatu badan atau lembaga yang bersifat “supra nasional” dengan kewenangan yang cukup luas dan sangat mengikat semua negara anggotanya. 2.1.3 Sekilas Tentang AFTA.
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan
Universitas Sumatera Utara

pasar regional bagi 500 juta penduduknya.AFTA dibentuk pada waktu Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN FreeTrade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002.Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk 1 mewujudkan AFTA melalui : penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya.Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015 (Badan Kebijakan Fiskal,2011).
Pusat Kebijakan Pendapatan Negara-Departemen Keuangan Republik Indonesia (2011) mengkategorikan produk dalam General Exception sebagai produk-produk yang secara permanen tidak perlu dimasukkan kedalam CEPTAFTA, karena alasan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan bagi manusia, binatang dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya. Indonesia mengkatagorikan produk-produk dalam kelompok senjata dan amunisi, minuman beralkohol, dan sebagainya sebanyak 68 pos tarif sebagai General Exception.
Universitas Sumatera Utara

A. Tujuan AFTA
Tujuan dari pendirian AFTA dalam Pusat Kebijakan Pendapatan NegaraDepartemen Keuangan Republik Indonesia (2011) yaitu:
1. Menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat produksi yang kompetitif sehingga produk ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar global
2. Menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI).
3. Meningkatkan perdagangan antara negara anggota ASEAN.
B. Jadwal Penurunan Tarif Jadwal penurunan/penghapusan tarif bea masuk diantara negara-negara
anggota ASEAN berdasarkan inclusion list (IL) dalam Pusat Kebijakan Pendapatan Negara-Departemen Keuangan Republik Indonesia (2011) adalah sebagai berikut:
1. ASEAN-6 . Tahun 2003: 60% produk dengan tarif 0%; tahun 2007: 80% produk dengan tarif 0%; tahun 2010: 100% produk dengan tarif 0%.
2. Vietnam Tahun 2006: 60% produk dengan tarif 0%; tahun 2010: 80% produk dengan tarif 0%; tahun 2015: 100% produk dengan tarif 0%.
3. Laos dan Myanmar Tahun 2008: 60% produk dengan tarif 0%; tahun 2012: 80% produk dengan tarif 0%; tahun 2015: 100% produk dengan tarif 0%.
4. Kamboja
Universitas Sumatera Utara

Tahun 2010: 60% produk dengan tarif 0%; tahun 2015: 100% produk dengan tarif 0%.
C. Istilah-istilah dalam CEPT-AFTA Ada Beberapa istilah dalam CEPT-AFTA dalam Pusat Kebijakan
Pendapatan Negara-Departemen Keuangan Republik Indonesia (2011), yaitu: 1. Fleksibilitas adalah suatu keadaan dimana ke-6 negara anggota ASEAN apabila belum siap untuk menurunkan tingkat tarif produk menjadi 05% pada 1 Januari 2002, dapat diturunkan pada 1 Januari 2003. Sejak saat itu tingkat tarif bea masuk dalam AFTA sebesar maksimal 5%. 2. CEPT Produk List a. Inclusion List (IL) : daftar yang memuat cakupan produk yang harus memenuhi kriteria sebagai berikut : o Produk tersebut harus disertai Tarif Reduction Schedule. o Tidak boleh ada Quantitave Restrictions (QRs). o Non-Tarif Barriers (NTBs) lainnya harus dihapuskan dalam waktu 5 tahun. b. Temporary Exclusion (TEL) : daftar yang memuat cakupan produk yang sementara dibebaskan dari kewajiban penurunan tarif, penghapusan QRs dan NTBs lainnya serta secara bertahap harus dimasukkan ke dalam IL. c. Sensitive List (SL) : daftar yang memuat cakupan produk yang diklasifikasikan sebagai Unprocessed Agricultural Products. Contohnya beras, gula, produk daging, gandum, bawang putih, dan
Universitas Sumatera Utara

cengkeh, serta produk tersebut juga harus dimasukkan ke dalam CEPT Scheme tetapi dengan jangka waktu yang lebih lama. Contohnya Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand harus telah memasukkan produk yang ada dalam SL ke dalam IL pada tahun 2010, Vietnam pada tahun 2013, Laos dan Myanmar pada tahun 2015, serta Kamboja pada tahun 2017. e. General Exception (GE) List : daftar yang memuat cakupan produk yang secara permanen tidak perlu untuk dimasukkan ke dalam CEPT Scheme dengan alas an keamanan nasional, keselamatan/kesehatan umat manusia, binatang dan tumbuhan, serta pelestarian objek arkeologi, dan sebagainya (Article 9b of CEPT Agreement). Contohnya antara lain senjata, amunisi, da narkotika. Produk Indonesia dalam GE List hingga saat ini sebanyak 96 pos tarif. 2.1.4 Metode Pengukuran Integrasi Ekonomi1
Secara umum, indikator yang digunakan untuk mengetahui integrasi ekonomi inernasional ada dua cara, yaitu dengan menggunakan pendekatan yang memfokuskan pada harga dan pendekatan yang memfokuskan pada kuantitas.
Metode pengukuran integrasi ekonomi berdasarkan harga lebih disukai oleh para cendekiawan untuk mempertimbangkan suatu ukuran secara aksioma, yaitu pemenuhan dengan hukum satu harga {law of one price (LOP) di dalam pasar yang secara geografis berbeda. Asumsi dari LOP memungkinkan kita untuk
1 Measuring international economic integration: theory and evidence of globalization, pg2 MPRA paper.
Universitas Sumatera Utara

mengukur kemampuan dari integrasi dengan cara menghapuskan perbedaan harga komoditas dan modal (aset) di wilayah yang berbeda pada pasar persaingan sempurna. Akan tetapi, metode ini terkadang menyesatkan karena banyaknya jenis barang yang beredar diantara satu wilayah dengan wilayah lainnya (heterogenous goods) yang menimbulkan kesulitan dalam menentukan harga.
Cara yang paling umum atau cara yang biasa digunakan untuk mengukur integrasi ekonomi berdasarkan kuantitas adalah tingkat keterbukaan (degree of openness). Metode ini menggunakan total perdagangan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya sebagai indikator keterbukaan dan dibagi dengan GDP (gross domestic product ). Walapun metode ini menyediakan pendekatan yang sederhana, namun metode ini tidak lepas dari kekurangan. Pertama, metode ini tidak memperdulikan adanya perbedaan ukuran ekonomi. Misalnya suatu daerah yang luas pasti memiliki peranan sektor-sektor ekonomi yang lebih besar terhadap PDB (produk domestik produk) dari pada daerah yang memiliki wilayah yang kecil dimana peranan sektor-sektor ekonominya kecil terhadap PDB (produk domestik produk). Kedua, tingkat keterbukaan menjadi lebih tepat ketika jumlah dan segi penting dari koneksi perdagangan masing-masing negara mempunyai aspek integrasi yang relevan dengan dunia lainnya, karena indikator keterbukaan tidak memperdulikan permasalahan ini.
2.1.5 Dampak Integrasi Ekonomi
Setiap kebijakan apa pun yang ditempuh oleh individu maupun kelompok tentunya akan memberikan dampak, baik dampak negatif maupun positif. Ada dua
Universitas Sumatera Utara

dampak yang ditimbulkan oleh integrasi ekonomi yaitu dampak kreasi dan dampak diversi bagi perdagangan.
Solvatore dalam Lapipi (2005: 42) mengtakan bahwa kreasi perdagangan (trade creation) terjadi apabila sebagian produksi domestik di suatu negara yang menjadi anggota perserikatan pabean (integrasi ekonomi) atau dari negara luar yang bukan anggota digantikan dengan impor yang harganya lebih murah dari negara luar yang bukan anggota perserikatan pabean tergusur oleh impor yang harganya lebih murah dari negara anggota lainnya. Sedangkan diversi perdagangan (trade diversion) terjadi apabila impor yang murah dari negara luar yang bukan anggota persrikatan pabean tergusur oleh impor yang harganya lebih mahal dari negara anggota.
Selanjutnya Lapipi (2005: 42) mengungkapkan dampak kreasi muncul karena selisih harga dunia dengan harga kawasan integrasi ekonomi sangat kecil, sehingga memberikan kesejahteraan yang tinggi bagi negara-negara anggota. Sedangkan dampak diversi muncul karena selisih harga antara harga dunia dengan harga yang ada dalam kawasan integrasi ekonomi sangat besar, sehingga dapat mengurangi kesejahteraan negara anggota. Secara grafis dampak kreasi dan diversi integrasi ekonomi adalah sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara

PP

Pw+t

A

Pw+t

A

a
pi c
pw

b D

B C

a pi
c pw
Dm Q

b D

B

Grafik 2.1. Efek Kreasi dan Efek Diversi integrasi ekonomi

C
Dm Q

Pada kurva diatas, dapat dilihat bahwa sebelum terbentuknya integrasi ekonomi, harga yang berlaku pada suatu negara adalah harga dunia ditambah dengan tarif yang diberlakukan (pw + t). setelah dibentuk integrasi ekonomi maka harga turun karena dibebaskan dari semua bentuk tarif sehingga terjadi harga dalam kawasan integrasi sebesat pi. Dengan terbentuknya integrasi ekonomi akan terjadi penurunan harga akibat efisiensi biaya produksi yang mendekati harga dunia, sehingga surplus konsumen meningkat yaitu pada areal a & b, walaupun penerimaan pemerintah hilang sebesar a & c. Selisih besarnya b & c akan menentukan apakah integrasi ekonomi menimbulkan efek kreasi atau efek diversi. Apabila b > c , maka integrasi ekonomi menimbulkan efek kreasi dan apabila b < c , maka integrasi ekonomi memberikan efek diversi.
Berkaitan dengan dampak kreasi dan diversi integrasi ekonomi, Demelo, Panagariya, dan Rodrick 1992; Bhagwati dan Panagariya 1996; dan Schift 1997 dalam Lapipi (2005: 43) mengungkapkan bahwa, dampak diversi muncul melalui perdagangan antara negara anggota integrasi dengan negara non anggota integrasi,

Universitas Sumatera Utara

dimana pola spesialisasi tidak optimal karena distribusi sumber daya lintas anggota tidak representatif dari distribusi sumber daya di dunia. Misalnya suatu negara anggota integrasi ekonomi relatif kaya akan modal, sementara negara lain di luar anggota kaya akan tenaga kerja, maka harga produk yang intensif tenaga kerja pada negara di luar negara integrasi lebih murah dibanding harga produk yang sama yang diproduksi oleh negara integrasi ekonomi, tetapi karena produk dari luar negara anggota dikenakan tarif, maka harga yang diterima konsumen anggota integrasi menjadi lebih mahal, sehingga terjadi pengurangan kesejahteraan bagi konsumen dalam kawasan integrasi ekonomi. Kemudian Cernat. L (2001) tentang penilaian kesepakatan perdagangan regional menunjukkan bahwa kebanyakan Regional Trade Arrangements (RTAs) di afrika tidak menimbulkan efek diversi melainkan menimbulkan efek kreasi yang lebih besar.
2.2. Teori Perdagangan Internasional
Sobri dalam Siregar (2010) mengartikan perdagangan internasional sebagai transaksi dagang antara subyek ekonomi negara yang satu dengan subyek ekonomi negara yang lain, baik mengenai barang ataupun jasa-jasa. Adapun subyek ekonomi yang dimaksud adalah penduduk yang terdiri dari warga negara biasa, perusahaan ekspor, perusahaan impor, perusahaan industri, perusahaan negara ataupun departemen pemerintah yang dapat dilihat dari neraca perdagangan.
Selanjutnya Boediono dalam Siregar (2010) mengartikan perdagangan atau pertukaran sebagai proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak
Universitas Sumatera Utara

sukarela dari masing-masing pihak. Masing-masing pihak harus mempunyai kebebasan untuk menentukan untung rugi dari pertukaran tersebut, dari sudut kepentingan masing-masing dan kemudian menentukan apakah ia mau melakukan pertukaran atau tidak.
2.2.1. Teori Klasik
1. Merkantilis
Para penganut merkantilis berpendapat bahwa satu-satunya cara bagi suatu negara untuk menjadi kaya dan kuat adalah dengan melakukan sebanyak mungkin ekspor dan sedikit mungkin impor. Surplus ekspor yang dihasilkan selanjutnya akan dibentuk dalam aliran emas lantakan, atau logam-logam mulia, khususnya emas dan perak. Semakin banyak emas dan perak yang dimiliki oleh suatu negara maka semakin kaya dan kuatlah negara tersebut. Dengan demikian, pemerintah harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong ekspor, dan mengurangi serta membatasi impor (khususnya impor barang-barang mewah). Namun, oleh karena setiap negara tidak secara simultan dapat menghasilkan surplus ekspor, juga karena jumlah emas dan perak adalah tetap pada satu saat tertentu, maka sebuah negara hanya dapat memperoleh keuntungan dengan mengorbankan negara lain (Siregar,2010).
Keinginan para merkantilis untuk mengakumulasi logam mulia ini sebetulnya cukup rasional, jika mengingat bahwa tujuan utama kaum merkantilis adalah untuk memperoleh sebanyak mungkin kekuasaan dan kekuatan negara. Dengan memiliki banyak emas dan kekuasaan maka akan dapat mempertahankan angkatan bersenjata yang lebih besar dan lebih baik sehingga dapat melakukan
Universitas Sumatera Utara

konsolidasi kekuatan di negaranya; peningkatan angkatan bersenjata dan angkatan laut juga memungkinkan sebuah negara untuk menaklukkan lebih banyak koloni. Selain itu, semakin banyak emas berarti semakin banyak uang dalam sirkulasi dan semakin besar aktivitas bisnis. Selanjutnya, dengan mendorong ekspor dan mengurangi impor, pemerintah akan dapat mendorong output dan kesempatan kerja nasional (Siregar,2010).
2. Adam Smith Adam smith berpendapat bahwa sumber tunggal pendapatan produksi hasil
tenaga kerja dan sumber daya ekonomi. Dalam hal ini Adam Smith sependapat dengan doktrin Merkantilis yang menyatakan bahwa kekayaan suatu negara dicapai dari surplus ekspor. Kekayaan akan bertambah sesuai dengan skill, serta efisiensi dengan tenaga kerja yang digunakan dan sesuai dengan persentase penduduk yang melakukan pekerjaan tersebut. Menurut Smith suatu negara akan mengekspor barang tertentu karena negara tersebut bisa menghasilkan barang dengan biaya yang secara mutlak lebih murah dari pada negara lain, yaitu karena memiliki keunggulan mutlak dalam produksi barang tersebut. Adapun keunggulan mutlak menurut Adam Smith merupakan kemampuan suatu negara untuk menghasilkan suatu barang dan jasa per unit dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit dibanding kemampuan negara-negara lain (Siregar,2010).
Menurut Siregar (2010) Teori Absolute Advantage lebih mendasarkan pada besaran/variabel riil bukan moneter sehingga sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan
Universitas Sumatera Utara

barang. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut (Labor Theory of value). 2.2.2. Teori Modern
1. John Stuart Mill dan David Ricardo
Teori J.S.Mill dalam Siregar (2010) menyatakan bahwa suatu negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative disadvantage (suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar). Kelebihan untuk teori comparative advantage ini adalah dapat menerangkan berapa nilai tukar dan berapa keuntungan karena pertukaran di mana kedua hal ini tidak dapat diterangkan oleh teori absolute advantage.
David Ricardo (1772-1823) dalam Siregar (2010) merupakan seorang tokoh aliran klasik yang menyatakan bahwa nilai penukaran ada jikalau barang tersebut memiliki nilai kegunaan. Dengan demikian sesuatu barang dapat ditukarkan bilamana barang tersebut dapat digunakan. Seseorang akan membuat sesuatu barang, karena barang itu memiliki nilai guna yang dibutuhkan oleh orang. Selanjutnya David Ricardo juga membuat perbedaan antara barang yang dapat dibuat dan atau diperbanyak sesuai dengan kemauan orang, di lain pihak ada barang yang sifatnya terbatas ataupun barang monopoli (misalnya lukisan dari pelukis ternama, barang kuno, hasil buah anggur yang hanya tumbuh di lereng gunung tertentu dan sebagainya). Dalam hal ini untuk barang yang sifatnya terbatas tersebut nilainya sangat subyektif dan relatif sesuai dengan kerelaan membayar dari para calon pembeli. Sedangkan untuk barang yang dapat ditambah
Universitas Sumatera Utara

produksinya sesuai dengan keinginan maka nilai penukarannya beradasarkan atas pengorbanan yang diperlukan. David Ricardo mengemukakan bahwa berbagai kesulitan yang timbul dari ajaran ajaran nilai kerja yaitu sebagai berikut :
1. Perlu diperhatikan adanya kualitas kerja, ada kualitas kerja terdidik dan tidak terdidik, kualitas kerja keahlian dan lain sebagainya. Aliran yang klasik dalam hal ini tidak memperhitungkan jam kerja yang dipergunakan untuk pembuatan barang, tetapi jumlah jam kerja yang biasa dan semestinya diperlukan untuk memproduksi barang. Dari situ maka Carey kemudian mengganti ajaran nilai kerja dengan teori biaya reproduksi.
2. Kesulitan yang terdapat dalam nilai kerja itu bahwa selain kerja masih banyak lagi jasa produktif yang ikut membantu pembuatan barang itu, harus dihindarkan. Selanjutnya David Ricardo menyatakan bahwa perbandingan antara kerja dan modal yang dipergunakan dalam produksi boleh dikarakan tetap besarnya dan hanya sedikit sekali perubahan. Atas dasar nilai kerja (dalam Siregar,2010), di samping “harga alami”
(natural price) ada pula “harga pasaran” (market price). Menurut aliran klasik (Adam Smith) “harga-alami” akan terjadi bilamana masing-masing warga masyarakat memperoleh kebebasan pilihannya untuk membuat suatu produk tertentu yang menurutnya lebih menguntungkan dan menukarkannya bilamana dinilai baik olehnya. Hal ini sejalan dengan pandangan kaum physiokrat.
“Harga pasaran” dapat berbeda dengan “harga alami”. di mana akan menyesuaikan dengan keadaan penawaran dan permintaan atas barang yang bersangkutan. Demikian pula atas dasar pertimbangan tertentu, adanya peraturan pemerintah yang dapat menghalangi penyesuaian harga alami dengan harga
Universitas Sumatera Utara

pasaran. Tetapi bagaimanapun, harga alami akan menjadi

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Integrasi Ekonomi Sumatera Utara Dengan Singapura Dan Malaysia