Makna Upacara Tedhak Siten Bagi Masyarakat Pendukungnya: Studi Deskriptif Tentang Makna Upacara Tedhak Siten Bagi Masyarakat Jawa Di Desa Tanjung Jati Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

(1)

MAKNA UPACARA TEDHAK SITEN BAGI

MASYARAKAT PENDUKUNGNYA

STUDI DESKRIPTIF TENTANG MAKNA UPACARA TEDHAK SITEN BAGI MASYARAKAT JAWA DI DESA TANJUNG JATI KECAMATAN

BINJAI KABUPATEN LANGKAT

D I S U S U N

OLEH:

Nama

: Wiyono

Nim

: 020905049

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU

POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas

segala rahmat dan karunia yang diberikan kepada penulis

sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini banyak

mendapat bantuan dari banyak pihak. Sehingga dalam

penulisan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada bapak Prof. DR. M. Arif

Nasution, MA selaku Dekan FISIP USU, Bapak Drs Zulkifli

lubis, MA, selaku ketua departemen Antropologi, Ibu Prof. DR.

Chalida Fahruddin Lubis selaku pembimbing yang memberikan

banyak masukan dan bimbingan kepada penulis untuk dapat

menyelesaikan tulisan ini, dan pada Bapak Drs Agustrisno Msc

selaku dosen wali yang telah memberikan pengarahan dan

nasehat kepada penulis dalam hal perkuliahan juga dalam hal

penulisan proposal penelitian hingga sampai penulisan skripsi

ini. Tidak lupa juga terima kasih kepada dosen lain yang telah

mencurahkan segala ilmunya kepada penulis selama masa

perkuliahan.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Ruslan

selaku kepala desa dan bapak Jumiran selaku sekertaris desa

yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan selama saya

mengumpulkan data guna penulisan skripsi ini. Tidak lupa juga

saya ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu informan

yang telah memberikan informasi yang saya butuhkan,

terutama Ibu Sukati dan Ibu Daliem atas semua informasi

pentingnya.

Ucapan terima kasih tidak cukup saya ucapkan pada

ayahanda Jimun dan Ibunda Wagirah,atas segala pengorbanan

dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis. namun

sembah sujud dan kasih sayang yang dapat penulis berikan

semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberikan segala

kepada mereka.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih

kepada teman-teman yang telah banyak memberikan bantuan

kepada penulis dengan masukan-masukannya di dalam

menyempurnakan tulisan ini, khususnya Rudolf, Triono, Ayu,

Indra, Didi, dan sahabat yang lain dimana tidak dapat saya

sebutkan semua namanya.


(3)

Penulis juga mengucapkan syukur Alhamdullillahi jaza

kumullohu khoiroh kepada Bang Hadi, Mas Budi, Leni, Eni,

Taufik yang selalu memberikan dukungan pada penulis

Penulis disini menyadari bahwa dengan segala

keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, penulisan Skripsi

ini masih jauh dari sempurna. semoga pihak-pihak lain yang

membaca tulisan ini dapat memakluminya. Semoga tulisan ini

dapat memberikan manfaat bagi orang yang membacannya.

Medan, Desember, 2008


(4)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

ABSTRAK ... viii

BAB I : PENDAHULUAN 1. 1. Latar belakang masalah ... 1

1. 2. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

1. 3. Lokasi penelitian ... 6

1. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

1. 5. Tinjauan Pustaka ... 7

1. 6. metode penelitian ... 12

1. 6. 1. Tipe penelitian ... 12

1. 6. 2. Tehnik Pengumpulan Data ... 13

1. 7. Analisa Data ... 15

BAB II : GAMBARAN UMUM DESA 2. 1. Sejarah Desa Tanjung Jati ... 16

2. 1. 1. Sejarah Nama Desa Tanjung Jati ... 16

2. 1. 2. Sejarah Kedatangan Orang Jawa Didesa Tanjung Jati ... 17

2. 2. Lokasi Dan Keadaan Alam ... 18

2. 3. Keadaan Penduduk ... 21

2. 3. 1. Komposisi Penduduk berdasarkan Umur Dan Jenis Kelamin ... 21


(5)

2. 3. 2. Komposisi penduduk Berdasarkan Tingkat

Pendidikan ... 22

2. 3. 3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama ... 23

2. 3. 4. Komposisi penduduk Berdasarkan Suku Bangsa ... 24

2. 3. 5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 25

2. 4. Pola Pemukiman ... 26

2. 5. Sarana Dan Prasarana ... 28

2. 5. 1. Sarana Tranportasi ... 29

2. 5. 2. Sarana Pendidikan ... 29

2. 5. 3. Sarana Peribadhatan ... 30

2. 5. 4. Sarana Kesehatan ... 30

2. 5. 5. Sarana Komunikasi ... 31

2. 5. 6. Sarana Olah Raga ... 32

2. 6. Aktifitas Sosial Budaya ... 32

2. 7. Sistem Kemasyarakatan ... 34

2. 7. 1. Sistem Kekerabatan ... 34

2. 7. 2. Organisasi Kemasyarakatan ... 36

BAB III : UPACARA TEDHAK SITEN 3. 1. Arti Tedhak Siten ... 39

3. 2. Latar Belakang Pelaksanaan Upacara Tedhak Siten... 39

3. 3. Komponen Upacara Tedhak Siten ... 40

3. 4. Tahap-tahap Upacara Tedhak Siten ... 46


(6)

3. 4. 2. Tahap Pelaksanaan Upacara ... 47

3. 4. 3. Tahap Setelah Upacara ... 55

BAB IV : MAKNA UPACARA TEDHAK SITEN 4. 1. Makna Tahapan Upacara Dan perlengkapannya... 57

4. 1. 1. Tahap Berjalan Diatas Jadah ... 58

4. 1. 2. Tahap Masuk Kurungan Ayam ... 58

4. 1. 3. Tahap Menaiki Tangga ... 59

4. 1. 4. Tahap Sebar Beras Kuning... 60

4. 1. 5. Tahap Memandikan Anak ... 60

4. 1. 6. Makna Perlengkapan Sesaji ... 62

4. 2. Makna Upacara Tedhak Siten Bagi Masyarakat Pendukungnya ... 65

4. 2. 1. Makna Relegius ... 65

4. 2. 2. Makna Sosial ... 67

4. 2. 2. 1. Melestarikan Tradisi ... 68

4. 2. 2. 2. Meningkatkan Hubungan Silahturahmi ... 69

4. 2. 2. 3. Keserasian Hidup ... 70

4. 2. 2. 4. Pendidikan ... 71

4. 2. 3. Makna Psikologis ... 72

4. 2. 4. Makna Ekonomis ... 73

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN 5. 1. Kesimpulan ... 75

5. 2. Saran ... 77

DAFTARPUSTAKA : 79


(7)

DAFTAR TABEL

Halaman

TABEL 1: Pembagian Dusun ... 19

TABEL 2: Pemanfaatan Areal Tanah ... 20

TABEL 3: Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 21

TABEL 4: Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur ... 22

TABEL 5: Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 23

TABEL 6: Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama ... 24

TABEL 7: Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa ... 24

TABEL 8: Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 25

TABEL 9: Komposisi Rumah Penduduk ... 28

TABEL 10: Sarana Pendidikan ... 30

TABEL 11: Sarana Peribadhatan ... 30

TABEL 12: Sarana Kesehatan ... 31

TABEL 13: Sarana Olah Raga ... 32


(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

GAMBAR 1: Perlengkapan Upacara Tedhak Siten ... 44

GAMBAR 2: Tahap Menginjak Jadah ... 51

GAMBAR 3: Tahap Masuk Kedalam Kurungan Ayam ... 52

GAMBAR 4: Pemilihan Benda Simbolik ... 53

GAMBAR 5: Tahapan Menaiki Anak Tangga Dari Tebu ... 53

GAMBAR 6: Tahap Sebar Beras Kuning ... 54


(9)

ABSTRAK

Kajian mengenai makna suatu upacara adalah suatu kajian yang sangat menarik untuk diteliti. Kajian mengenai makna berkaitan dengan pengkajian ide-ide atau hal yang ada difikiran orang lain. Kajian tentang makna memerlukan pemahaman yang lebih dalam karena makna itu tidak nampak secara nyata, namun makna itu bersifat abstrak.

Kajian mengenai makna upacara bagi masyarakat tidak terlepas dari kajian terhadap nilai-nilai budaya didalam suatu masyarakat. Masyarakat sendiri memaknai suatu upacara karena mereka menganggap segala yang mereka laksanakan mereka lihat dan rasakan dalam hidup, semuanya mempunyai makna tersendiri bagi mereka.

Upacara pada masyarakat Jawa sangat banyak sekali akan tetapi sebahagian besar sudah mulai berkurang frekwensinya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, mulai faktor biaya, ilmu pengetahuan, agama dan lain-lain. Salah satu upacara yang masih dilakukan adalah upacara Tedhak Siten. Oleh karena itu bagi masyarakat Jawa yang masih melakukan upacara tersebut perlu dipahami latar belakang motifasinya, karena ini akan berkaitan dengan pemaknaan yang mereka berikan terhadap upacara Tedhak Siten yang mereka lakukan.

Upacara Tedhak Siten adalah suatu acara memperkenalkan anak untuk pertama kalinya pada bumi dengan maksud anak tersebut mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupannya kelak. Didalam pelaksanaan upacara ini memiliki makna simbolik yang berhubungan dengan prestasi dan sumber daya manusia. Selain itu pelaksanaan upacara ini bagi masyarakat juga mempunyai makna yang penting, salah satu yang menonjol adalah adanya makna sosial-relegius. Masyarakat percaya melalui upacara yang dilakukan akan terwujud keeratan dan persaudaraan diantara mereka. Selain itu didalam upacara yang dilakukan masyarakat terlibat dalam memperoleh pengalaman relegius, sehingga barang siapa yang melaksanakan upacara tersebut akan mendapatkan ketenangan batin berupa keselamatan. Itulah sebabnya upacara Tedhak Siten masih dilakukan.

Untuk mendapatkan data tentang makna upacara Tedhak Siten bagi masyarakat pendukungnya, peneliti melakukan dengan beberapa cara yaitu wawancara mendalam dengan beberapa informan, studi kepustakaan dan observasi partisipasi. Observasi ini berguna agar peneliti mendapatkan gambaran langsung tentang upacara Tedhak Siten tersebut.


(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah mahluk yang berbudaya, karena kebudayaan merupakan pendorong didalam tingkah laku manusia dalam hidupnya. Kebudayaanpun menyimpan nilai-nilai yang menjadi landasan pokok bagi penentu sikap terhadap dunia luar, Bahkan menjadi dasar setiap tingkah laku yang dilakukan sehubungan dengan pola hidup dimasyarakat (Cassirer:1987). Nilai-nilai luhur dari kebudayaan inilah yang telah di wariskan secara turun temurun dari generasi kegenerasi berikutnya melalui berbagai adat istiadat yang khusus.

Berkaitan dengan hal di atas, setiap kelompok masyarakat pada umumnya mempunyai konsep bahwa tiap-tiap individu terbagi dalam tingkatan hidup. Tingkat demi tingkat itu akan dilalui dan akan dialami oleh individu-individu yang bersangkutan di sepanjang hidupnya, dalam Antropologi di sebut sebagai stages along the life sycle. pada tiap tingkat hidup itu individu yang bersangkutan di anggap dalam kondisi dan lingkungan tertentu. Karena itu setiap peralihan dari satu tingkat ketingkat lainnya dapat di katakan sebagai peralihan dari satu lingkungan sosial ke lingkungan sosial yang lain.

Lingkungan sosial individu mulai terbentuk sejak ia masih dalam kandungan ibunya hingga akhirnya ia meninggal dunia. Lingkungan sosial yang harus dilalui dalam perjalanan hidup seseorang meliputi masa dalam rahim atau kandungan ibunya (kehamilan), kelahiran bayi, masa anak-anak, masa remaja, dewasa, tua dan mati (Koentjaraningrat:1985). Masa peralihan ini pada dasarnya akan di lalui oleh hampir semua manusia yang hidup di dunia,walaupun tidak


(11)

semua masa peralihan itu sama, karena ada yang hanya melalui masa bayi hingga anak-anak saja kemudian meninggal dan ada pula yang melalui seluruh tahapan peralihan tersebut.

Pada berbagai kebudayaan ada anggapan bahwa masa peralihan manusia yaitu peralihan dari satu tingkat kehidupan atau lingkungan sosial ketingkat kehidupan atau lingkungan sosial yang lain merupakan saat-saat penuh bahaya, baik bahaya yang nyata maupun gaib. Oleh karena itu dalam beberapa kebudayaan sering di lakukan suatu upacara daur hidup (life cycle) yang di maksudkan untuk menghindari bahaya nyata maupun gaib yang mungkin datang. Upacara ini sering di sebut dengan upacara kritis hidup (Crities rites).

Di dalam kebudayaan Jawa juga mengenal upacara-upacara daur hidup, yaitu mulai dari upacara masa hamil, upacara kelahiran, upacara perkawinan, hingga upacara kematian (Darori, 2000). Masyarakat Jawa percaya bahwa rentang waktu lahir hingga mati bagi manusia merupakan saat-saat manakala dunia dan kehidupannya tergelar dan terpapar, oleh karena itu beberapa ritus hidup mesti di laksanakan. Pelaksanaan upacara-upacara tersebut bagi masyarakat Jawa pada dasarnya untuk memenuhi krenteg dan karep (niat dan kehendak) di dalam tanggapan dunia bahwa pada dasarnya kehidupan manusia itu sakral (Linus Suryadi AG : 1993 )

Perubahan status seseorang yaitu pertumbuhan kearah kehidupan berikutnya menuju kearah kedewasaan, bagi masyarakat Jawa merupakan serangkaian babak yang rawan untuk di serang atau di rasuki oleh roh-roh jahat (Geertz : 1985). Bagi masyarakat Jawa Kehidupan di bumi dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa gaib dan mahluk halus yang menembus perjalanan sehari-hari


(12)

manusia, dimana kekuatan mahluk gaib tersebut bisa merusak atau bermanfaat. Namun yang jelas kekuatan tersebut sangat mempengaruhi kehidupan nyata manusia. Untuk itu didalam tahapan peralihan manusia di perlukan suatu upacara khusus, agar kekuatan mahluk gaib tersebut tidak mengganggu atau merugikan manusia, namun di harapkan kekuatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi manusia.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa upacara daur hidup yang mereka lakukan dipenuhi dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang tumbuh secara turun temurun. Nilai-nilai dan norma-norma tersebut di gunakan untuk mencari keseimbangan tatanan kehidupan mereka (Mulder dalam Soeseno: 1992). Salah satu upacara yang di lakukan oleh masyarakat Jawa ketika memasuki babak baru dalam tingkat kehidupannya adalah upacara yang berkenaan dengan kelahiran seorang anak.

Setelah seorang laki-laki dan perempuan melaksanakan pernikahan, seorang anak merupakan dambaan bagi setiap rumah tangga. Karena seorang anak mempunyai nilai-nilai khusus, misalnya nilai ekonomis status sosial, memberi suasana tenteram dalam keluarga membahagiakan orang tua, serta memberikan harapan dimasa mendatang, sebagai payung dimana orang tuanya sudah jompo karena tidak bisa bekerja lagi (Geertz : 89). Hadirnya seorang anak juga sebagai bukti nyata hasil perkawinan antar kelompok dan sering di anggap sebagai hadiah kehidupan yang jelas dari pihak wanita pada pihak suaminya.

Pengharapan tinggi terhadap seorang anak (terutama anak pertama) merupakan kebahagian tersendiri. Untuk itu setelah anak tersebut lahir selalu ada upacara-upacara yang di lakukan sebagai usaha penjagaan terhadap anak, di


(13)

antaranya adalah upacara ketika anak menginjakan tanah untuk yang pertama kalinya atau yang sering disebut dengan upacara Tedhak Siten.

Upacara Tedhak Siten adalah suatu acara memperkenalkan anak untuk pertama kalinya pada bumi atau tanah dengan maksud anak tersebut mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupannya kelak. Bagi masyarakat Jawa upacara ini merupakan wujud pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar kelak siap dan sukses dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya (Bratawijaya : 1997). Selain itu upacara ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi sebagai tempat berpijak sekaligus yang telah memberikan banyak hal dalam kehidupan manusia. Di katakan bahwa manusia hidup dan mati berada di bumi, makan minum, rumah, kendaraan semua berasal dari bumi, maka manusia perlu menghormatinya. Sebab dengan cara seperti ini maka manusia akan mendapatkan keselarasan terhadap alam, karena dalam konsep masyarakat Jawa manusia menemukan hidupnya tergantung dari alam dan apabila hidupnya selaras akan memperoleh kebaikan (Salamun dkk, 200). Jadi dapat dikatakan bahwa upacara Tedhak Siten merupakan peringatan bagi manusia akan pentingnya hidup diatas bumi yang mempunyai hubungan yakni, hubungan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya (Wibowo, 200).

Pada dasarnya setiap pelaksanaan upacara di kalangan masyarakat menunjukan adanya kandungan makna di balik upacara itu sediri, dimana makna tersebut sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakatnya. Biasanya hal itu diberikan melalui simbol-simbol dalam upacara, lambang atau simbol inilah yang sebenarnya mempunyai nilai cukup penting bagi kehidupan manusia (Rostyati :


(14)

1984). Demikian pula pelaksanaan upacara Tedhak Siten pada masyarakat Jawa, pelaksanaan upacara ini tidak hanya sebagai ungkapan terima kasih telah di beri anugrah oleh Tuhan berupa hadirnya seorang anak akan tetapi juga mempunyai makna tertentu baik bagi anak orang tua maupun bagi masyarakat. Makna upacara inilah yang akan di kemukakan pada tulisan ini.

Makna adalah arti atau penilaian yang di berikan pada sesuatu. Sedangkan upacara dalam hal ini adalah tingkah laku resmi yang di bakukan untuk peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan tehnis sehari-hari akan tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan diluar kemampuan manusia.

Berkaitan dengan upacara tedhak siten tersebut ternyata perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi begitu pesatnya sangat berpengaruh terhadap pandangan hidup dan sikap hidup orang Jawa dalam melanjutkan tradisi nenek moyangnya. Sehingga ada kecendrungan untuk tidak lagi melaksanakan tradisi seketat dan sedisiplin semula. Masyarakat Jawa khususnya di Sumatra Utara mulai cenderung meninggalkan segala sesuatu yang berbau tradisional. Sementara mereka lebih suka meniru hal yang bergaya moderen yang tidak jarang kabur pemahamannya. Tentu saja kecendrungan ini lebih banyak timbul karena ketidak tahuan mereka, sehingga mereka kurang menghargai dan memahami secara tepat dan benar makna serta nilai luhur yang terdapat pada pelaksanaan upcara Tedhak Siten tersebut. Padahal makna yang terbentuk dari suatu tradisi tidak akan terlepas dari masyarakat pendukugnya dan akan menemukan manfaat bagi masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Jawa itu sendiri.


(15)

1. 2. Ruang Lingkup Penelitian

Agar tidak terjadi perluasan masalah dan sasaran penelitian ini dapat tercapai sesuai dengan rencana maka akan dibatasi ruang lingkup penelitiannya yaitu terbatas pada:

1. Menggambarkan pelaksanaan upacara Tedhak Siten yang di lakukan oleh masyarakat

2. Mengetahui makna unsur-unsur atau perlengkapan yang di gunakan dalam pelaksanaan upacara Tedhak Siten

3. Mengetahui makna upacara Tedhak Siten bagi masyarakat pendukungnya 1. 3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini di lakukan di desa perkebunan Tanjung Jati kecamatan Binjai kabupaten Langkat Sumatra Utara. Desa ini merupakan sebuah desa yang berada dalam kawasan perkebunan milik PTPN II kebun Tanjung Jati yang merupaka badan usaha milik negara yang bergerak dalam bidang usaha perkebunan.

Pemilihan lokasi ini sebagai wilayah penelitian mengenai makna Tedhak Siten, karena 85% penduduk desa ini merupakan etnis Jawa. di desa ini upacara Tedhak Siten masih ada yang melakukan dibandingkan desa-desa lain yang hampir tidak ada lagi. Selain itu desa Tanjung Jati adalah desa yang sebahagian besar masyarakatnya pendatang asli dari Jawa yang masih mempartahankan tradisi adat istiadat warisan leluhur sehingga nilai-nilai asli dapat kita temukan terutama tentang makna upacara Tedhak Siten.


(16)

1.4. Tujuan dan manfaat penelitian.

Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk memberi gambaran tentang seberapa besar pengetahuan masyarakat Jawa yang ada di desa Tanjung Jati tentang upacara Tedhak Siten.

2. Untuk mengetahui makna unsur-unsur atau perlengkapan yang di gunakan sehingga dapat kemudian mengerti dan memahami makna yang di kandungnya.

3. Untuk mengetahui makna upacara Tedhak Siten tersebut bagi masyarakat. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah

1. Dengan penelitian ini di harapkan agar masyarakat luas di luar etnik Jawa dapat mengenal dan mengerti tentang budaya Jawa sebagai bagian dari budaya nasional

2. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan studi khususnya bagi mereka yang berminat mengenai budaya Jawa.

1. 5. Tinjauan Pustaka

Masa krisis yang ditandai dengan perubahan status bagi manusia merupakan masa saat manusia berhadapan dengan ketidakpastian. Itulah sebabnya masa krisis sangatlah mencemaskan manusia tanpa pandang bulu. Keadaan demikian tidak mungkin diatasi hanya dengan dikuasainya ilmu pengetahuan dan teknologi saja tetapi juga dengan keyakinan dan iman yang terwujud melalui berbagai upacara-upacara religi dan keagamaan (Wibowo : 2000).

Dalam kaitannya dengan upacara religi dan agama Robertson Smith mengemukakan 3 gagasan penting:


(17)

1. Disamping sistem keyakinan dan doktrin sistem upacara merupakan perwujudan dari religi atau agama yang memerlukan studi dan analisa yang khusus.

2. Upacara religi atau agama yang biasa dilakukan oleh banyak masyarakat pemeluk religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat.

3. Berkaitan dengan upacara bersaji, dimana sajiannya dianggap sebagai suatu aktifitas untuk mendorong rasa solidaritas pada dewa. Upacara bersaji digambarkan suatu upacara gembira, meriah dan keramat.

Dalam pelaksanaan upacara religi ada 5 komponen upacara yaitu tempat upacara, saat upacara (waktu upacara), benda-benda upacara orang-orang yang melakukan upacara dan pemimpin upacara. Orang yang memimpin upacara terbagi atas 3 golongan yaitu Pendeta, Dukun dan Shaman (Koentjaraningrat: 1987).

Manusia sebagai warga masyarakat membutuhkan keyakinan-keyakinan dan sentimen-sentimen serta kesadaran kolektif yang memberi identitas kepadanya dan memperkuat kebutuhan moralnya. Hal-hal tersebut sebaliknya memerlukan upacara-upacara yang ditentukan oleh gagasan-gagasan kolektif yang tidak pernah hilang dari kehidupan masyarakat (Durkheim dalam Keesing, 2000).

Upacara dianggap mempertebal perasaan kolektif dan intergrasi sosial (Brown dan Durkheim dalam Keesing, 1992). Upacara merupakan cara bertindak yang terlaksana ditengah-tengah kelompok yang berkumpul tersebut, yang dipersiapkan untuk membangkitkan, melestarikan atau menciptakan kembali


(18)

keadaan mental tertentu dalam kelompok itu. Dikatakan kolektif karena kelompok mengekspresikan dan melambangkan suatu keadaan mental, kekaguman yang tumbuh dari kehidupan sosial yang intensif.

Menurut Durkheim, aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat desa berkaitan dengan mata pencaharian hidup, berpegang pada tradisi yang dilandasi oleh kepercayaan yang diwariskan nenek moyangnya, kemudian ditransformasikan dengan situasi yang berkembang dalam lingkungan sekitarnya. Upacara atau selametan adalah tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang untuk menegaskan dan memperingati kembali kebudayaan umum serta untuk menghilangkan kekuatan yang mengacau (Geertz, 1986).

Untuk mencegah datangnya kekuatan yang datang mengganggu biasanya dilakukan beberapa ritual khusus yang dimaksudkan agar suatu bahaya yang berasal dari kekuatan diluar diri manusia tidak mengganggu kehidupannya. Dalam beberapa kebudayaan ada anggapan bahwa manusia akan mengalami masa-masa bahaya terutama pada masa peralihan dari satu tingkat kehidupan ketingkat kehidupan yang lain. Yaitu mulai masa bayi, masa remaja, dewasa, hingga meninggal, baik berupa bahaya gaib ataupun nyata. Untuk menghindari bahaya tersebut maka diperlukan upacara-upacara (ritus) ataupun untuk memberitahukan kepada orang banyak bahwa seseorang telah memasuki tahapan kehidupan tertentu (Koentjaraningrat, 1998).

Van Gennep mengatakan bahwa dalam kehidupan manusia memerlukan regenerasi semangat kehidupan sosial yang menurun dalam masa-masa peralihan. Untuk menimbulkan kembali semangat kehidupan sosial antar masyarakat


(19)

diperlukan ritus dan upacara religi. Lebih lanjut Van Gennep mengatakan bahwa dalam tahap-tahap peralihan manusia yaitu sejak dia lahir kemudian masa anak-anak, melalui proses menjadi dewasa dan menikah, hingga meninggal manusia mengalami proses-proses perubahan biologi serta pertumbuhan dalam lingkungan sosial budayanya yang dapat mempengaruhi jiwanya dan dapat menimbulkan krisis mental. Untuk menghadapi tahap pertumbuhannya yang baru maka dalam tahap perubahan itu diperlukan serangkaian ritus dan upacara peralihan, yang dimaksudkan untuk meregenerasi kembali semangat kehidupan masyarakat tersebut. Upacara ini merupakan rangkaian ritus dan upacara paling tua yang paling penting dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan (Daeng, 2000).

Van Gennep menyatakan bahwa upacara pergantian musim, upacara kelahiran dan upacara perkawinan di sebut sebagai upacara integrasi dan pengukuhan. Upacara ini juga merupakan bagian dari upacara relegi (Daeng, 2000). Menurutnya upacara yang di lakukan merupakan keyakinan sosial yang melibatkan anggota masyarakat dalam usaha mencapai tujuan keselamatan bersama. Upacara itu merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat pendukungnya, ini dikarenakan setiap upacara selalu memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan masyarakat pendukungnya. Makna-makna dan gagasan tersebut di nyatakan dalam berbagai simbol-simbol upacara. Sebagai contoh dapat di kemukakan penelitian yang di lakukan oleh Bambang Sularto dkk, mengenai upacara Sekaten daerah istimewa Yogyakarta. Di katakan bahwa upacara sekaten masih terus di lakukan karena mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat pendukungnya, yaitu memberikan makna keberuntungan. Bagi mereka dengan ikut melibatkan diri dalam pelaksanaan upacara Sekaten, seperti keikutsertaan


(20)

mereka menginang (mengunyah kinang) bersamaan dengan pertama kali di bunyikan gemelan Sekaten, mempunyai makna pengharapan akan meraih keberuntungan yang membuat diri mereka menjadi awet muda.

Demikian pula pada upacara Garebeg Mulud, keikutsertaan masyarakat membunyikan pecut-pecut (Cambuk) bagi laki-laki dan bagi perempuan menyelipkan ane-ane (alat memotong padi) pada sanggul mereka bersamaan dengan drel (bunyi tembakan) mempunyai makna pengharapan akan meraih keberuntungan dalam usaha pertanian dan peternakan mereka. Bunyi pecut akan berpengaruh baik pada binatang piaraan atau ternak yaitu dapat memicu berkembang biaknya hewan ternak. sedang ane-ane yang di selipkan pada sanggul dapat melipatkan hasil panen yang di petiknya.

Dari contoh diatas kita dapat melihat bahwa keberadaan suatu upacara di karenakan mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat pendukungnya. Apakah itu makna keberuntungan, makna keselamatan, ekonomi, keindahan dan lain-lain (Landmen dalam Poespowardojo, 1977). Makna dan nilai-nilai inilah yang menjadi tujuan manusia untuk memperingatinya. Karena pada dasarnya manusia adalah mahluk yang terperangkap dalam jaring-jaring makna yang di tenunnya sendiri (Geertz, 1992). Manusia selalu hidup dalam emosi-emosi, imajinasi, kerinduan dan kecemasan, ilusi dan dis ilusi, fantasi dan impian.

Untuk memahami makna tersebut kita harus menggambarkan bukan saja apa yang sebenarnya terjadi tetapi apa yang sebenarnya di harapkan orang itu terjadi, tentang suatu gejala ataupun suatu ritual yang tujuannya untuk menelusuri


(21)

makna, untuk mengungkapkan niat di balik apa yang di lakukan orang, artinya bagi kehidupan dan penilaian, ritual, dan kepercayaan mereka (Fadhil, 2000).

Dalam memahami makna akan berkaitan dengan sebuah paradigma yaitu simbol, karena makna hanya terdapat pada simbol misalnya sebuah salib, sebuah bulan sabit atau seekor ulat berbulu (Geertz, 1992). Melalui simbol-simbol tersebut masyarakat meringkas apa yang mereka katakan tentang kehidupan mereka, kualitas emosi, dan hal-hal yang seharusnya mereka perbuat. Simbol menurut Geertz adalah hal yang mempunyai arti yang sama bagi orang lain, bisa hal tersebut adalah objek tindakan, peristiwa dan lain-lain. Simbol-simbol tersebut adalah sumber informasi yang ekstrinsik melalui pemahaman bersama (Geertz, 1992).

1.6. Metode penelitian

1.6.1. Tipe penelitian

Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif yang bermaksud memberi gambaran secara terperinci mengenai makna upacara Tedhak Siten bagi masyarakat Jawa di desa Tanjung Jati. Untuk mendeskripsikan makna upacara Tedhak Siten tersebut maka di lakukan penelitian lapangan dalam mendapatkan data primer. Selain itu dalam penelitian ini peneliti juga memerlukan data sekunder yang di peroleh melalui studi kepustakaan, berupa jurnal buku-buku, dan hasil penelitian para ahli sebelumnya.


(22)

1. 6. 2. Tehnik pengumpulan data

Penelitian mengenai makna Tedhak Siten bagi masyarakat Jawa ini di lakukan dengan menggunakan penelitian yang bersifat kualitatif untuk mendapatkan data primernya. Penelitian yang bersifat kualitatif ini di lakukan dengan menggunakan metode observasi (pengamatan) dan wawancara.

1. Observasi (Pengamatan)

Metode observasi yang di gunakan di sini adalah metode observasi partisipasi (pengamatan terlibat) pengamatan yang dilakukan peneliti di sini adalah mengamati secara langsung pelaksanaan upacara Tedhak Siten yang di laksanakan oleh masyarakat Jawa. Peneliti mengamati alat-alat yang di gunakan dan tahapan-tahapan pelaksanaan upacara Tedhak Siten. Gunanya agar peneliti memperoleh gambaran langsung tentang upacara Tedhak Siten tersebut. Selain itu peneliti juga mengamati aktifitas yang di lakukan oleh masyarakat Jawa dalam kesehariannya, terutama yang berkaitan dengan penelitian. Hal ini untuk memperoleh gambaran apakah adat istiadat Jawa masih di lakukan di dalam keseharian atau tidak.

Dalam melakukan pengamatan (observasi) ini peneliti menggunakan alat bantu berupa kamera fhoto untuk mempublikasikan hal-hal yang penting yang berkaitan dengan masalah penelitian. Hal ini untuk memudahkan peneliti dalam memberikan gambaran tentang pelaksanaan upacara Tedhak Siten.


(23)

2. Wawancara

Metode wawancara dalam penelitian ini adalah metode wawancara mendalam yang dilakukan dengan informan. Wawancara ini di lakukan dengan cara tatap muka dalam bentuk dialog dan percakapan. Wawancara mendalam ini di lakukan guna mendapatkan sebanyak mungkin gambaran dan keterangan dari informan yang berkaitan dengan topik penelitian, hal ini khususnya mengenai makna Tedhak Siten. Wawancara ini dilakukan dengan menggunakan interview guide yaitu berupa daftar pertanyaan yang telah disusun sebelum di lakukan pengumpulan data lapangan. Interview guide ini di perlukan untuk mengantisipasi agar pertanyaan yang disampaikan tidak menyimpang dari topik penelitian

Dalam melakukan wawancara penulis melakukan tiga tahap. Tahap pertama, penulis mengidentifikasi masyarakat desa Tanjung Jati yang terlibat aktif sebagai pemimpin atau secara langsung memiliki pengetahuan mendalam terhadap upacara tersebut. Tahap kedua, peneliti melakukan wawancara mendalam kepada informan dengan menggunakan tehnik snow ball yaitu mencari informan secara berjenjang. Informan pertama menentukan informan kedua dan seterusnya, berhenti jika data telah mencukupi. Tahap ketiga, penulis mencoba menggali lebih dalam lagi mengenai upacara Tedhak Siten pada saat wawancara dengan menganalisa makna pelaksanaan upacara Tedhak Siten bagi masyarakat.

Pada saat wawancara penulis menggunakan alat bantu semacam catatan lapangan. catatan lapangan di sini di gunakan untuk mencatat poin-poin penting dari hasil wawancara. Hal tersebut di maksudkan agar peneliti dapat lebih mudah dalam penyusunan data.


(24)

1.7. Analisa data

Dalam penelitian ini, peneliti akan bersikap objektif terhadap data yang diperoleh di lapangan. Data-data tersebut akan diperlakukan sebagaimana adanya tanpa adanya penambahan dan pengurangan sehingga tidak mempengaruhi keaslian data. Data-data tersebut selanjutnya akan diperiksa dan akan di edit ulang untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlukan.

Data yang telah dikumpulkan kemudian di analisis secara kualitatif. Semua data yang di peroleh baik dari lapangan yaitu melalui pengamatan dan wawancara ataupun studi kepustakaan di susun sesuai dengan pemahaman, fokus-fokus dan kategori-kategori tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai.


(25)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2. Gambaran Umum Desa

Bab dua ini membahas mengenai lokasi penelitian dan masyarakat yang bermukim di dalamnya, terutama yaitu sejarah desa Tanjung Jati, mengenai keadaan alam dan geografisnya, jumlah penduduk, sarana dan prasarana yang tersedia didalamnya dan latar belakang budaya masyarakat desa Tanjung Jati yang menjadi objek penelitian.

2.1 Sejarah Desa Tanjung Jati

Dari keterangan yang bersumber dari masyarakat Jawa yang ada di desa Tanjung Jati, maka sejarah desa Tanjung Jati dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu, pertama mengenai sejarah nama desa Tanjung Jati, dan kedua mengenai sejarah kedatangan orang Jawa di desa tersebut.

Dalam sejarah nama desa Tanjung Jati akan dipaparkan asal usul dari di buatnya nama desa Tanjung Jati. Sedangkan pada sejarah kedatangan orang Jawa di desa ini akan di paparkan mengenai asal usul kedatangan mereka dan penyebab kedatangan mereka di desa Tanjung Jati.

2.1.1. Sejarah Nama Desa Tanjung Jati.

Desa Tanjung Jati merupakan desa yang terletak di wilayah perkebunan milik PTPN II kebun Tanjung Jati. Adapun latar belakang mengapa dikatakan Tanjung Jati adalah berkaitan dengan tempat dimana pertama kali dibuka perumahan penduduk di desa ini (yang pada saat itu hanya berbentuk barak besar). Barak tersebut berada ditanjung yaitu bahasa sehari-hari masyarakat dalam menyebutkan ujung, yang ketika itu di penuhi dengan pohon jati. Itulah sebabnya


(26)

dinamakan dengan desa Tanjung Jati yang berarti pohon jati yang ada diujung. Nama ini dimaksudkan untuk menunjukan bahwa ada perumahan penduduk di sekitar pohon jati yang paling ujung.

2.1.2. Sejarah kedatangan orang Jawa di desa Tanjung Jati

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya desa Tanjung Jati merupakan sebuah desa yang terletak di wilayah perkebunan milik PTPN II. Desa Tanjung Jati pada awalnya merupakan hutan jati kemudian dibuka menjadi lahan perkebunan oleh pemerintah Belanda di tahun 1930-an.

Pada tahun-tahun berikutnya dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Belanda di Indonesia semakin meluas pulalah lahan perkebunan yang dibuka oleh pemerintahan Belanda. Dengan semakin meluasnya daerah perkebunan ini mengakibatkan di butuhkannya banyak tenaga kerja. Pihak Belanda kemudian mendatangkan tenaga kerja dari pulau Jawa yang di pekerjakan sebagai kuli kontrak perkebunan. Pada masa ini, Belanda banyak mendatangkan tenaga kerja dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang kemudian di sebar ke beberapa wilayah di kawasan Sumatra Utara termasuk Langkat. Untuk selanjutnya Para buruh yang bekerja di perkebunan di wilayah Langkat disebar lagi ke beberapa wilayah, salah satunya adalah desa Tanjung Jati.

Berdasarkan penuturan masyarakat, pada awalnya mereka diberi janji akan hidup yang layak sehingga mereka mau ikut untuk menjadi kuli kontrak di Sumatera Utara. Akan tetapi setelah sampai tujuan apa yang dijanjikan oleh Belanda tidak terbukti, karena disana kehidupan yang mereka lalui sangatlah keras, dimana mereka harus membuka lahan hutan menjadi lahan perkebunan dengan fasilitas yang tidak memadai. Belum lagi status kerja yang diberikan


(27)

hanyalah sebagai kuli kontrak sesuai dengan kesepakatan kerja yang telah di buat sebelumnya dalam saat perjanjian atau kontrak. Dalam sistem kontrak ini para buruh hanya bekerja selama beberapa tahun saja sesuai kontrak. Jika kontrak habis mereka dapat memperpanjang kontrak atau kembali kedaerah asal. Bagi mereka yang tidak betah dengan sistem kerja seperti ini biasanya akan memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dan kembali ketempat asal mereka. Namun ada juga yang tetap tinggal dan bertahan di perkebunan sebagai kuli kontrak.

Sejalan dengan tercapainya kemerdekaan Indonesia, maka wilayah-wilayah perkebunan yang di kuasai oleh Belanda diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Mulai saat itu perkebunan milik Belanda tersebut menjadi Badan Terbatas Perkebunan Milik Negara II (PTPN II).

Perkebunan Belanda yang telah menjadi PTPN itu semakin lama semakin berkembang. Untuk lebih meningkatkan perkembangannya maka perusahan perkebunan mulai menarik tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Orang Jawa yang dulunya hanya sebagai kuli kontrak untuk selanjutnya di jadikan karyawan tetap perkebunan dan menjadi penduduk desa Tanjung Jati

2.2. Lokasi Dan Keadaan Alam

Desa Tanjung Jati adalah salah satu desa perkebunan yang ada di kecamatan Binjai. Desa ini terletak di wilayah perkebunan milik PTPN II kebun Tanjung Jati. Adapun orbitasi (jarak dari pusat desa ke pusat pemerintahan) yaitu: pusat pemerintahan kecamatan 10 km, pemerintahan kabupaten 15 km dari pemerintahan propinsi 20 km.


(28)

Desa Tanjung Jati ini juga berdekatan dengan desa-desa lain yang dapat di jadikan sebagai batas wilayah. Adapun batas-batas wilayah desa ini adalah:

• Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Suka ramai

• Sebelah Utara berbatasan dengan desa Sei Remban

• Sebelah Barat berbatasan dengan desa Sei Sekala

• Sebelah Timur berbatasan dengan desa Paya Robah

Secara administratif desa ini terbagi atas 17 dusun untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1: Pembagian Dusun Jumlah Dusun Nama Dusun Dusun 1 Pondok Seng

Dusun 2 Pondok Tengah Dusun 3 dan 4 Purwodadi Dusun 5 Pasar 5 Baru Dusun 6 dan 7 Pasar 4

Dusun 8 Kopan

Dusun 9 Stal

Dusun 10 Gang Keramat Dusun 11 Pasar 7

Dusun 12 Pasar 57 Dusun 13 Ampera Dusun 14 Progondo Dusun 15 Piturejo

Dusun 16 Kampung Banten Lama Dusun 17 Kampung Banten Baru


(29)

Setiap dusun masing-masing dikepalai oleh satu kepala dusun dibawah kepemimpinan seorang kepala Desa. Jarak antar dusun kira-kira 1km. Setiap dusun di desa ini dikelilingi oleh lahan perkebunan yang ditanami dengan tanaman tebu dan kelapa sawit. Sebelum ditanami tebu dan kelapa sawit lahan perkebunan ini juga pernah ditanami tembakau dan coklat, tetapi pada saat sekarang ini yang menjadi tanaman komoditi utamanya adalah tebu.

Di desa Tanjung Jati terletak pada 490 meter diatas permukaan laut dengan cuaca yang cukup sejuk dan bersuhu sedang yaitu antara 28-32°c. Curah hujan di desa ini rata-rata 3240 mm, dengan jumlah bulan hujan yaitu 6 bulan antara September sampai dengan February.

Luas wilayah desa adalah 1862,77 ha terbagi atas pemukiman, tanah perkebunan dan perladangan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2: Pemanfaatan Areal Tanah Desa Tanjung Jati

No Pemanfaatan Areal Luas 1. Tanah Perkebunan 1620 ha 2. Pemukiman 54 ha 3. Pasang Surut 67,20 ha 4. Perladangan 65,16 ha 5. Tanah Tadah Hujan 52 ha 6. Tanah Lapang 3 ha 7. Perkantoran 0.2 ha

Jumlah 1862,77 ha Sumber: Data statistik Desa Tanjung Jati tahun 2007.


(30)

2.3. Keadaan Penduduk

Menurut data yang diperoleh dari kantor desa Tanjung Jati, jumlah penduduk desa ini tahun 2007 adalah 5.694 jiwa dari jumlah tersebut masyarakat di desa ini diklasifikasikan dalam beberapa klasifikasi yaitu menurut umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, mata pencaharian dan pendidikan.

2.3.1. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin.

2.3.1.a. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin ini merupakan data yang di peroleh dari kantor kepala desa tahun 2007. Penduduk laki-laki berjumlah 2829 jiwa, sedangkan wanita 2868 jiwa. Untuk lebih jelasnya mengenai komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3: Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah 1 Laki-laki 2829 jiwa 2 Perempuan 2828 jiwa Jumlah 5694 jiwa

Sumber: Data Statistik desa Perkebunan Tanjung Jati 2007.

2.3.1.b. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur.

Penduduk desa Tanjung Jati terdiri dari masyarakat yang berusia mulai dari usia dibawah 5 tahun sampai 80 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh jumlah penduduk yang terbanyak adalah dari usia 21-30 tahun sebanyak 1654 orang dan usia 11-20 tahun sebanyak 1261 orang. Data ini menggambarkan bahwa penduduk di desa Tanjung Jati tergolong usia muda dan masih tergolong


(31)

dalam masa pendidikan dan bekerja. Untuk lebih jelasnya mengenai komposisi penduduk berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 4: Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur

No Umur Jumlah

1 0-5 tahun 905 orang 2 11-20 tahun 1261 3 21-30 tahun 1654 orang 4 31-50 tahun 1103 orang 5 51-80 tahun 771 orang

Jumlah 5694 orang

Sumber: Data Statistik desa Perkebunan Tanjung Jati tahun 2007

2.3.2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Penduduk di desa Tanjung Jati berdasarkan pendidikannya dapat dibagi dalam beberapa tingkatan yaitu mulai penduduk yang tidak pernah sekolah, tidak tamat Sekolah Dasar. Tamat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), sampai perguruan tinggi. Dari data yang didapat oleh peneliti dari lapangan, penduduk yang tamatan SD adalah yang paling banyak yaitu berjumlah 1739 jiwa, dan untuk penduduk yang hanya lulusan SLTP berjumlah 1645, sedangkan penduduk yang tidak pernah sekolah sama sekali dan tidak tamat SD jumlahnya cukup banyak yaitu 930 jiwa. Penduduk yang tidak tamat SD ini kebanyakan adalah orang-orang tua dan para ibu-ibu rumah tangga. Hal ini disebabkan karena orang Jawa pada zaman dahulu tidak memperdulikan pendidikan bagi perempuan, selain itu pula karena alasan ekonomi yang pada jaman dahulu yang tidak memadai.Untuk lebih jelasnya mengenai komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


(32)

Tabel 5: Komposisi Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Pendidikan Jumlah 1. Belum Sekolah 410 jiwa 2. Tidak pernah

sekolah dan tidak tamat SD

930 jiwa

3. SD 1739 jiwa

4. SLTP 1645 jiwa

5. SLTA 950 jiwa

6. D-1 (Diploma-1) 5 jiwa 7. S-1 (Strata-1) 15 jiwa

Sumber: Data Statistik desa Tanjung Jati tahun 2007.

2.3.3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama.

Masyarakat di desa ini terdiri dari masyarakat yang memeluk agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Buddah. Mayoritas penduduk di desa ini memeluk agama Islam yang jumlahnya 5639 jiwa, diantaranya merupakan suku Jawa yang paling mendominasi karena seluruhnya beragama Islam. Akan tetapi walaupun masyarakat Jawa yang ada di desa ini seluruhnya telah memeluk agama Islam tetap saja mereka tidak terlepas dari adat istiadat Jawa secara umum. Hal ini dibuktikan dengan adanya masyarakat yang bersuku Jawa masih memakai adat istiadat/kepercayaan terhadap roh halus, percaya pada tempat keramat, atau adanya roh leluhur yang bersemayam pada tempat tertentu yang kesemuanya ini kadang bertentangan dengan akidah Islam. Untuk lebih jelasnya mengenai komposisi penduduk berdasarkan agama dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


(33)

Tabel 6: Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama.

No Agama Jumlah

1. Islam 5634 jiwa 2. Kristen Protestan 25 jiwa 3. Hindu 20 jiwa 4. Buddha 10 jiwa 5. Kristen Katolik 5 jiwa Jumlah 5694 jiwa Sumber: Data Statistik Desa Tanjung Jati Tahun 2007

2.3.4. Komposisi Penduduk Berdasarkan Etnis/Suku Bangsa

Desa Tanjung Jati adalah sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah etnis Jawa, etnis Jawa ini rata-rata adalah imigran dari pulau Jawa. Jumlah penduduk etnis Jawa di desa ini berjumlah 4980 jiwa. Selain itu ada penduduk yang bersuku Aceh, Melayu, Cina, Batak dan lainnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 7: Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa.

No Suku Jumlah

1. Jawa 4980 jiwa

2. Banten 315 jiwa 3. Banjar 205 jiwa 4. Melayu 53 jiwa

5. Karo 49 jiwa

6. Tapanuli 55 jiwa

7. Aceh 6 jiwa

8. Cina 14jiwa

9. India 20 jiwa

Jumlah 5694 jiwa Sumber: Data statistik Tanjung Jati 2007


(34)

2.3.5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Bedasarkan jenis mata pencaharian penduduk desa Tanjung Jati memiliki mata pencaharian yang bervariasi diantaranya buruh kontrak perkebunan, buruh pabrik, petani, dan lainnya untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut:

Tabel 8: Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

No Mata Pencaharian Jumlah

1. Buruh 1490 jiwa

2. Pegawai Negeri / Swasta 815 jiwa

3. Petani 1250 jiwa

4. Karyawan Perkebunan 530 jiwa

5. Pensiunan 338 jiwa

6. Montir 10 jiwa

7. Peternak 20 jiwa

8. Pedagang 15 jiwa

9. Belum Bekerja 335 jiwa

Jumlah 5694 jiwa

Sumber: Data Statistik desa Tanjung Jati Tahun 2007.

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa mata pencaharian penduduk terbesar adalah buruh dan petani, banyaknya orang yang bekerja sebagai buruh dan petani ini sebenarnya karena hanya sebagai sambilan. Menurut informan (Bapak Boymen 43thn) mereka yang mengaku sebagai petani itu adalah mereka yang menyambi (bekerja sambilan) karena hanya memiliki sawah yang sempit. Pada waktu pulang kerja kantoran ataupun dari sebagai buruh dan lainnya mereka menyempatkan untuk bertani.


(35)

2.4 Pola Pemukiman

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya desa Tanjung Jati merupakan desa perkebunan yang memiliki 17 dusun sebagai tempat bermukim peduduk, akan tetapi secara spesifik pemukiman penduduk di desa ini terbagi dalam 2 wilayah. Wilayah pertama adalah wilayah yang telah dikomersilkan oleh pihak perkebunan pada penduduk, wilayah ini berada disebelah selatan dan timur desa meliputi dusun 10, 11, 12, 13, 14, 15. Wilayah kedua merupakan wilayah milik perkebunan yang dijadikan tempat bermukim para karyawan perkebunan baik yang masih aktif maupun pensiunan. Wilayah ini berada diwilayah barat dan utara desa meliputi dusun 1-8 dan dusun 16 serta 17. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal pola pemukiman diantara kedua wilayah tersebut baik dalam tata ruang pemukiman maupun dalam bentuk fisik perumahan.

Untuk pola pemukiman pada wilayah pertama bersifat bergerombol dan berlapis-lapis, sebahagian berjajar sepanjang jalan besar yang menuju kedua arah yaitu kota Binjai dan menuju ke Brahrang dengan posisi rumah mengarah ke arah jalan tersebut. Selebihnya bertumpuk dengan posisi yang tidak beraturan ada yang saling berhadapan, adapula yang saling membelakangi. Kondisi semacam ini menjadikan pemukiman diwilayah ini terlihat padat. Selanjutnya dalam hal bentuk fisik perumahan umumnya telah dibangun secara permanen yang mengikuti pola pemukiman gaya kota besar yaitu bertekstur moderen dan memiliki taman yang sederhana.

Pada wilayah kedua pemukiman dibuat membentuk barisan yang memanjang, sesuai dengan arah jalan. Jadi, pada wilayah kedua ini Pemukiman tidak menggerombol melainkan tertata dengan teratur kearah samping dengan


(36)

hanya satu lapis kearah belakang. Sedangkan untuk kwalitas rumah diwilayah ini pada umumnya masih dibangun secara tradisional yang mengikuti pola pemukiman gaya perkebunan dimana bentuk perumahannya berupa kopel, kira-kira 30 meter persegi yaitu dengan ketentuan 15 meter tiap satu kepala rumah tangga. Rumah ini biasanya dapurnya berdekatan karena memang memiliki satu dinding pemisah. Setiap rumah memiliki halaman depan dan belakang yang cukup luas. Halaman rumah kebanyakan ditanami dengan bunga dan tanaman produktif seperti pohon coklat, pohon jambu, pohon rambutan, pohon asam atau sejenis tanaman obat-obatan (apotik hidup).

Sedangkan dibagian belakang rumah kebanyakan dibangun kandang untuk tempat hewan peliharaan mereka seperti sapi, kambing bebek, ayam dan lainnya. Rumah diwilayah ini berbentuk empat persegi didalamnya terdapat ruang tamu dan 2 buah kamar dan biasanya dapat terpisah dari rumah yaitu ada dibagian belakang rumah. Bangunan rumah terbuat dari bahan seperti dinding rumah terbuat dari papan/kayu sedang atapnya terbuat dari seng atau daun rumbia yang telah dianyam berganda.

Secara keseluruhan perumahan didesa Tanjung Jati berjumlah 1734 rumah dan dibagi dalam 3 bentuk rumah yaitu bentuk perumahan permanen, berjumlah 857 semi permanen 768 rumah dan non permanen 109 rumah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa masyarakat di desa Tanjung Jati sudah mulai menyadari akan petingnya rumah bagi kehidupan masyarakat. Untuk mengetahui lebih jelas dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:


(37)

Tabel 9: Komposisi Rumah Penduduk

No Bentuk Rumah Jumlah 1. Permanen 632 rumah 2. Semi Permanen 486 rumah 3. Non Permanen 17 rumah

Jumlah 1734 rumah Sumber: Data Statistik desa Tanjung Jati 2007

Berkat fasilitas transportasi yang telah dibangun oleh Pemerintah daerah setempat maka jalan utama yang menghubungkan antar dusun sangat lancar. Meskipun jalan-jalan desa belum diaspal secara keseluruhan. Jalan-jalan yang belum diaspal pada saat musim hujan akan sangat banjir akibat dari tergenangnya air hujan yang tidak serta merta mengalir lancar ke selokan yang ada. Untuk mengatasi masalah banjir tersebut penduduk sekitar menimbunnya dengan batu-batu kerikil sehingga jalanan tersebut terlihat keras dan padat sehingga ketika hujan datang air tidak akan tergenang terlalu lama, dengan demikian jalanan juga terlihat sangat bagus untuk dilalui. Pada tepi jalan besar pada umumnya ditanami pepohonan rindang seperti pohon mahoni, pohon asam jawa, juga pohon kelapa sawit, sedangkan untuk alat transportasinya tersedia angkutan umum dan becak mesin.

2.5. Sarana dan prasarana

Sarana dan Prasana yang mendukung dapat meningkatkan kehidupan sosial masyarakat dalam segala bidang. Adapun sarana dan prasarana yang tersedia di Desa ini antara lain: Sarana Transportasi darat, Sarana Pendidikan, Sarana Peribadatan, Sarana Kesehatan, Sarana Komunikasi dan Sarana Olah Raga.


(38)

2.5.1. Sarana Transportasi

Sarana transportasi yang tersedia di Desa ini cukup memadai dalam menunjang segala aktifitas masyarakat. Desa ini memiliki sarana jalan yang cukup baik. Hampir seluruh jalan telah diaspal secara keseluruhan. Sarana transportasi masyarakat untuk keluar desa, selain angkutan umum banyak pula tersedia truk dan mobil yang dapat pula mengangkut penumpang, bus besar dan kecil, becak mesin dan sepeda. Sarana angkutan seperti truk dan mobil merupakan sarana angkutan milik PTPN II dimana sarana ini merupakan sarana pendukung aktifitas perusahaan terutama untuk pendistribusian hasil perkebunan dan kelancaran kerja para karyawan.

2.5.2. Sarana Pendidikan

Sarana untuk mendukung pendidikan masyarakat Tanjung Jati dapat dikatakan cukup memadai walaupun hanya sarana pendidikan dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) saja. Sedangkan untuk tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Perguruan Tinggi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikannya harus ke Kota Binjai karena untuk tingkatan tersebut Desa ini tidak memilikinya. Jarak yang harus ditempuh oleh masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikannya ke kota Binjai adalah berkisar 10 km.

Di Desa ini terdapat 2 gedung TK. 4 gedung SD dan 2 gedung SLTP. Sarana pendidikan di Desa ini dapat dilihat pada tabel beriku:


(39)

Tabel 10: Sarana Pendidikan

No Sarana Pendidikan Jumlah 1. Taman Kanak-kanak (TK) 2 buah 2. Sekolah Dasar (SD) 4 buah 3. Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama (SLTP)

3 buah

Jumlah 9 buah

Sumber: Data Statistik desa Tanjung Jati tahun 2007.

2.5.3. Sarana Peribadatan

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya mayoritas penduduk didesa ini adalah beragama Islam yaitu 97% oleh karena itu sarana peribadatan yang ada di Desa ini semuanya adalah sarana peribadatan untuk agama Islam berupa Mushala dan Mesjid saja. Dan untuk saran untuk agama Kristen dan agama lainnya tidak tersedia di Desa ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 11: Sarana Peribadatan

No Sarana Peribadatan Jumlah

1. Mesjid 3 buah

2. Mushala 11 buah

Jumlah 14 buah

Sumber: Data Statistik desa Tanjung Jati 2007. 2.5.4. Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan di Desa ini sudah cukup memadai. Masyarakat yang menderita penyakit ringan dapat langsung di obati bila tiba-tiba mereka menderita sakit. Dokter atau ahli pengobatan pun sudah cukup memadai dengan kemampuan atau pengetahuan pengobatan yang sudah tidak perlu diragukan lagi


(40)

kemampuannya. Di Desa ini tersedia 5 balai pengobatan, 2 Posyandu, dan 3 tempat praktek pengobatan (Tabib). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 12: Sarana Kesehatan

No Sarana Kesehatan Jumlah

1. Poliklinik 5 buah

2. Posyandu 2 buah

3. Praktek Pengobatan (Tabib) 3 buah

Jumlah 10 buah

Sumber: Data Statistik desa Tanjung Jati tahun 2007.

2.5.5. Sarana Komunikasi

Sarana komunikasi yang mendukung kelancaran masuknya informasi di desa ini sudah cukup memadai pula. Masyarakat dapat dengan mudah mengakses segala bentuk informasi melalui beberapa media massa yang telah ada semenjak beberapa tahun terakhir. Media massa yang beredar di Desa tersebut berupa Surat Kabar dan Majalah. Media elektronik juga sudah sangat familiar di kalangan masyarakat desa. Hampir semua rumah warga telah memiliki pesawat Televisi dan Radio sendiri sehingga mereka dapat dengan mudah melihat, mendengar dan menikmati berbagai informasi dengan cepat. Dan untuk berkomunikasi melalui telepon, di Desa tersebut memiliki beberapa jasa wartel (Warung Telekomunikasi), serta beberapa warga yang kemampuan ekonominya telah berada ditingkat menengah ke atas mereka memiliki jaringan telepon rumah sendiri. Selain itu, untuk jaringan selular atau yang biasa disebut dengan Handphone (HP) sudah dapat dinikmati pula oleh para warga desa. Perkembangan


(41)

para pengguna layanan Handphone di desa Tanjung Jati sangat pesat. Dimana untuk dua tahun terakhir para warga yang menggunakan Handphone di desa Tanjung Jati sudah hampir 60% banyaknya. Hal ini terlihat dengan seringnya warga yang selalu menggunakan layanan Handphone di beberapa tempat atau di keramaian.

2.5.6. Sarana Olah Raga

Kegiatan olah raga masyarakat sangat terdukung dengan baik. Hal ini terlihat dari banyaknya sarana olah raga yang dibangun oleh pemerintah setempat. Sedikitnya ada 4 buah lapangan bola kaki, 12 buah lapangan bola voli, 9 buah lapangan bola takraw, 21 buah lapangan bulu tangkis. Untuk lebih jelasnya mengenai sarana Olah Raga ini dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 13: Sarana Olah Raga

No Sarana Olah Raga Jumlah 1. Lapangan Bola Kaki 4 buah 2. Lapangan Bola Voli 12 buah 3. Lapangan Bola Takraw 9 buah 4. Lapangan Badminton 21 buah

Jumlah 46 buah

Sumber: Data Statistik desa Tanjung Jati tahun 2007. 2.6. Aktifitas Sosial Budaya

Aktifitas sosial budaya di desa ini diwarnai dengan aktifitas kejawen (aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat Jawa) dimana upacara selametan menjadi aktifitas utamanya. Bentuk-bentuk upacara selametan biasanya meliputi upacara daur hidup, tolak bala, meruwat dan lain-lain. Dengan diadakannya


(42)

upacara ini masyarakat dapat mengambil bagian dalam interaksi sosial atau ikut andil dalam pelaksanaan upacara tersebut sehingga dia dapat dikenal oleh warga yang lain. Partisipasi tersebut bukanlah sekedar hadir saja akan tetapi juga mengambil bagian dalam meringankan biaya operasional upacara tersebut, hal ini dimaksudkan agar warga yang melakukan hajatan tersebut menjadi terbantu dan tidak terlalu terbebani dengan biaya upacara yang sangat tinggi.

Selain itu, masyarakat desa Tanjung Jati juga memiliki kesenian yang cukup beragam. Diantaranya adalah kesenian Kuda Kepang, pentas musik tradisional jawa dan pentas musik keyboard yang sering dilakukan bila ada kegiatan atau pelaksanaan hajatan oleh warga. Pentas musik keyboard adalah pentas musik yang paling populer dan banyak diminati oleh masyarakat desa tersebut. Musik keyboard adalah pentas musik moderen yang sering dilakukan bila ada warga yang melakukan hajatan berupa pesta perkawinan/sunatan pertunjukkan keyboard menjadi salah satu bagian yang ada didalamnya.

Selain pertunjukkan musik, ada juga kegiatan yang berbau keagamaan. Seperti halnya pengajian remaja yang dilakukan oleh kelompok remaja-remaja Mesjid pada setiap malam minggu. Seperti yag dikatakan oleh seorang ulama didesa ini, bahwa diadakannya pengajian pada malam minggu adalah untuk menghindari para remaja dalam pergaulan bebas. Selain itu ada juga aktifitas perwiritan yang dilakukan baik untuk para wanita ataupun para laki-laki. Biasanya perwiritan tersebut diadakan pada hari kamis bagi wanita dan malam jum’at untuk kaum laki-lakinya.


(43)

2.7. Sistem Kemasyarakatan

2.7.1. Sistem Kekerabatan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat desa Tanjung Jati mayoritas masyarakatnya adalah suku bangsa Jawa. oleh karena itu sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat adalah sistem kekerabatan suku Jawa pada umumnya.

Sistem kekerabatan suku Jawa adalah Bilateral yang artinya menghitung garis keturunan berdasarkan garis keturunan kedua belah pihak antara Ayah dan Ibu. Dalam sistem kekerabatan ini antara laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Sistem kekerabatan ini juga berdasarkan keturunan atau ikatan darah. kelompok kerabat terkecil yang disebut keluarga Batih (somah) atau satu rumah terdiri dari suami dan istri beserta dengan anak-anaknya yang belum menikah. Kelompok kerabat yang lebih besar disebut kelompok saudara sedulur atau sanak saudara yang terdiri dari saudara sekandung baik dari suami maupun dari istri dan semua kerabat dari pihak ayah maupun ibu.

Menurut Moertjipto dalam bukunya ”Budaya Masyarakat Suku Bangsa Jawa” (2000) Sistem kekerabatan berdasarkan keturunan bagi suku Jawa dikenal sampai jauh sekali. yakni sampai 10 keturunan keatas dari Ego dan keturunan kebawah dari Ego, yang masing-masing mempunyai nama istilah yang sama dipakai menyebut moyang baik pada tingkat ke tiga maupun keturunan pada generasi ke tiga dengan aku sebagai acuan. Jadi buyut dapat berarti ayahnya kakek maupun cucu dan seterusnya. Untuk lebih jelasnya nama istilah dalam kekerabatan masyarakat Jawa adalah sebagai berikut:


(44)

Tabel 14: Istilah Kekerabatan Masyarakat Jawa

No 10 keturunan keatas dari Ego 10 keturunan kebawah dari Ego 1. Wong Tuo/Bapak atau Ibu Anak

2. Embah atau Eyang Cucu

3. Buyut Buyut

4. Canggah Canggah

5. Wareng Wareng

6. Udhek-udhek Udhek-udhek

7. Gantung siwur Gantung siwur 8. Gropak sente Gropak sente 9. Gedebok bosok Gedebok bosok

10. Galih asem Galih asem

Sumber: proyek pengkajian dan pembinaan Nilai-nilai Budaya DIY tahun 1997

Walaupun menurut Moertjipto sistem kekerabatan berdasarkan keturunan pada etnik Jawa sangat jauh sekali akan tetapi pada kenyataannya istilah kekerabatan semacam ini sudah banyak dilupakan orang. Misalnya di desa Tanjung Jati paling banyak masyarakat hanya tahu pada istilah ke 5 atau ke 7 saja, dan itupun hanya orang-orang tertentu saja.

Disamping kekerabatan berdasarkan keturunan, masyarakat Jawa mengenal sistem kemasyarakatan berdasarkan lingkungan tempat tinggal mereka yang disebut tangga taparo (tetangga) dalam pergaulan sehari-hari. Tangga taparo ini kadang dianggap sebagai gantinya orang tua dan sanak saudara sekandung. Saudara taparo ini biasanya orang yang pertama kali yang kita mintai tolong ketika mendapatkan musibah. Merekalah orang yang paling dekat dengan tempat tinggal kita.


(45)

Masyarakat Jawa juga mengenal dulur sak kapal atau saudara satu kapal. Karena seluruh masyarakat Jawa yang ada di Desa ini dulunya adalah perantauan yang mengadu nasib di negeri orang, dimana pada awalnya mereka tidak saling kenal. Mereka berkenalan ketika berada satu kapal yang membawa mereka ke tempat mereka merantau lalu bersama-sama merasa senasib sepenanggungan selama dikapal dan di daerah mereka merantau. Kapal merupakan sarana angkutan mereka menuju wilayah Sumatera Utara ini. Dengan istilah saudara Satu Kapal maka akan semakin mempererat hubungan mereka. Bagi masyarakat Jawa saudara satu kapal ini sama dekatnya dengan saudara kandung. Karena hanya merekalah yang saling mengenal dalam perantauan mereka.

Istilah saudara satu kapal saat ini sudah jarang digunakan oleh masyarakat muda di Desa ini. Istilah ini hanya digunakan oleh masyarakat yang sudah lanjut usia saja kepada teman sesama perantauan mereka dahulu. Namun meskipun demikian mereka tetap saja menganggap saudara satu kapal mereka seperti saudara kandung sendiri sampai dengan saat ini.

2.7.2. Organisasi Kemasyarakatan

Di desa Tanjung Jati masyarakatnya mempunyai beberapa organisasi sosial seperti organisasi perempuan yaitu kelompok pengajian at,taqwa. organisasi kepemudaan seperti AMPG, PK dan PP. Selain itu ada pula organisasi keagamaan seperti Serikat Tolong Menolong (STM).

Untuk organisasi kepemudaan di desa Tanjung Jati ini sifatnya hanya berupa organisasi hura-hura saja sebab tidak memiliki kegiatan yang berarti. Sedangkan untuk organisasi STM organisasi ini berjalan dengan baik, terlihat dari rata-rata penduduk dengan kesadarannya sendiri ikut bergabung di organisasi ini.


(46)

Mereka menganggap banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan bergabung diorganisasi ini, hanya dengan membayar uang iyuran yang relatif kecil mereka dapat menggunakan fasilitas ketika ada kegiatan yang akan mereka lakukan. Biasanya fasilitas yang dapat mereka gunakan itu adalah berupa teratak (tenda untuk pesta), kain tabir yang dipergunakan untuk orang meninggal, dan seperangkat alat makan seperti piring, gelas, kursi dan lainnya.


(47)

BAB III

UPACARA TEDHAK SITEN

Sebelum melihat lebih jauh mengenai upacara Tedhak Siten terlebih dahulu kita harus mengetahui bagaimana upacara Tedhak Siten tersebut, seperti perlengkapannya, pihak-pihak yang terlibat, juga latar belakang sejarahnya. Suatu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat merupakan warisan dari para pendahulu mereka, tradisi tetap dilakukan oleh masyarakat karena mereka melihat makna atau nilai-nilai yang terkandung serta manfaat dari tradisi tersebut, terutama dari segi isi dan pesan yang terkandung dalam sejarahnya. Dengan memahami sejarah dari suatu tradisi maka masyarakat penerus suatu tradisi tersebut akan mengetahui mengapa tradisi itu dibuat dan apa tujuannya. Dari sejarahnya penerus juga dapat memahami makna atau nilai-nilai yang disampaikan dan manfaatnya bagi mereka, sehingga para pendukungnya melakukan hal tersebut.

Selain mengetahui sejarah asal mula suatu tradisi hal yang tak kalah pentingnya adalah memahami apa sebenarnya tradisi tersebut, seperti halnya upacara Tedhak Siten. Sebelum mengetahui lebih jauh mengenai makna upacara Tedhak Siten bagi masyarakat pendukungnya akan sangat penting jika terlebih dahulu memahami arti dari Tedhak Siten tersebut dan bagaimana pelaksanaannya. Untuk itu pada Bab ini akan diuraikan mengenai defenisi atau pengertian dari Tedhak Siten tersebut, sejarah mengapa Tedhak Siten dilaksanakan, perlengkapan atau unsur-unsur yang mendukung pelaksanaan Tedhak Siten dan bagaimana pelaksanaan upacara Tedhak Siten itu sendiri.


(48)

3.1. Arti Tedhak Siten.

Upacara Tedhak Siten merupakan salah satu upacara yang ada pada adat Jawa yang dilakukan atau dilaksanakan setelah masa kelahiran oleh suku Jawa. Secara harafiah Tedhak Siten berasal dari dua kata yaitu Tedhak dan Siten. Dimana Tedhak yang berarti kaki dan Siten yang berasal dari kata Siti yang berarti tanah. Sehingga dapat diartikan secara umum “Tedhak Siten” adalah suatu acara turun tanah atau orang Jawa biasanya mengatakan “Mudon” lemah, dalam hal ini yaitu bayi yang berumur tujuh lapan atau 7x35 hari. Pada usia ini anak mulai menapakkan kakinya yang pertama ke atas tanah yaitu dengan belajar duduk dan belajar berjalan (Bratawijaya, 1997)

3.2. Latar Belakang Pelaksanaan Tedhak Siten.

Setiap manusia yang lahir kedunia akan selalu melalui tahap-tahap disepanjang lingkaran hidupnya. Tahap itu dimulai sejak dalam kandungan, kelahiran, kanak-kanak, remaja hingga meninggal dunia (Darori, 2000).

Pada saat kelahiran tangis bayi akan menyertai perkenalan pertama dengan dunia dan lingkungannya, kedua orang tua serta semua yang hadir akan berbahagia atas kelahirannya. Kehadiran seorang anak merupakan suatu anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada ibu bapaknya. Oleh karena itu kedua orang tua selalu mempunyai harapan-harapan agar kelak anak menjadi orang yang berguna baik bagi keluarganya maupun bagi Nusa dan Bangsa. Tidak satu orang tuapun mempunyai harapan agar anak-anaknya kelak menjadi orang yang kurang berkenan di hati masyarakat.

Untuk mewujudkan harapan-harapan orang tua terhadap anak-anaknya tersebut maka masyarakat Jawa mengadakan upacara Tedhak Siten. Menurut


(49)

keterangan yang bersumber dari seorang informan yaitu bapak Sikun berumur 63 tahun, Upacara Tedhak Siten adalah upacara yang pada zaman dahulu biasa dilakukan oleh penganut-penganut Hinduisme. Seperti diketahui bahwa Hinduisme pernah berkembang di Indonesia.

Pada zaman dahulu telah menjadi kebiasaan penganut Hindu yaitu seorang anak yang berasal dari Kasta Hindu Brahmana, diperkenalkan untuk melihat matahari, tanah dan air. Matahari, tanah dan air adalah sumber kehidupan yang paling utama bagi makhluk hidup yang ada di dunia ini.

Dengan berkembangnya kebudayaan Hindu di Indonesia, maka masyarakat Indonesia juga tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh kebudayaannya. Banyak kebudayaan Hindu tersebut diserap oleh masyarakat Indonesia, demikian pula halnya dengan masyarakat Jawa. Masih banyak kebiasaan Hindu yang dilakukan oleh suku Jawa, hal ini didasarkan juga pada sikap lunak dari suku Jawa terhadap budaya-budaya lain.

Pelakasanaan upacara Tedhak Siten tidak diketahui secara pasti kapan mulai dilakukan, tetapi dapat ditarik suatu perkiraan dengan memperhitungkan waktu masuknya agama Hindu di pulau Jawa dengan memperhitungkan waktu pembangunan Candi Prambanan dan Keraton Mataram kuno yang diperkirakan berdiri sekitar abad 8-10 masehi (Suryadi, 1993) Candi Prambanan dan Keraton Mataram merupakan bukti berdirinya kekuasaan Hindu di Jawa.

3.3. Komponen Upacara Tedhak Siten.

Koentjaraningrat (1997) mengatakan bahwa tiap upacara keagaman dapat terbagi dalam lima komponen yaitu:


(50)

a. Tempat Upacara. Yaitu tempat yang dikhususkan dan tidak boleh didatangi oleh orang yang tidak berkepentingan.

b. Saat/waktu upacara. Biasanya dirasakan sebagai saat-saat yang genting dan gawat dan penuh dengan bahaya gaib. Saat-saat itu biasanya adalah saat yang berulangtetap, sejajar dengan irama gerak alam semesta.

c. Benda-benda upacara. Merupakan alat yang dipakai dalam hal menjalankan upacara-upacara keagamaan.

d. Orang-orang yang melakukan upacara atau pelaku upacara e. Pemimpin Upacara.

Demikian pula halnya dalam upacara Tedhak Siten, terdapat 5 komponen upacara yang dikemukakan Koentjaraningrat tersebut:

1. Tempat Upacara

Adapun yang menjadi tempat upacara tidak terlalu khusus hanya saja dalam pelaksanaan upacara ini memerlukan lokasi yang cukup luas. Bisa dilaksanakan didalam rumah ataupun dihalaman rumah. Namun kebanyakan upacara ini dilaksanakan didalam rumah. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kondisi anak agar tetap dalam kondisi prima dalam menjalankan rangkaian upacara nanti.

2. Waktu Upacara

Menurut Bratawijaya (1997) Pelaksanaan upacara Tedhak Siten dilakukan ketika anak berusia 7Lapan (Satu lapan adalah 35 hari, jadi “ 7lapan” sama dengan 7x35 hari) atau pada saat anak berusia 8 bulan, karena pada saat inilah anak mulai belajar untuk duduk dan berjalan. Sedangkan untuk pelaksanaan hari upacara biasanya ditentukan beberapa hari sebelum pelaksanaan upacara. Yaitu


(51)

dengan terlebih dahulu menentukan hari baik berdasarkan “Petungan”. Sudah menjadi kebiasaan orang Jawa ketika akan melakukan segala pekerjaan selalu memperhitungkan waktunya berdasarkan Petungan.

Petungan adalah penanggalan Jawa yang digunakan untuk melihat suatu usaha yang dilakukan cocok secara kosmis atau tidak. Bagi masyarakat Jawa Perhitungan berdasarkan petungan ini penting karena menyangkut keselamatan anak, baik dalam saat proses upacara maupun setelah upacara (Wirjanto, 2003).

Perhitungan waktu upacara pertama adalah mencari hari kelahiran anak. Kemudian waktu kelahiran anak dicocokkan dengan perhitungan kalender Jawa dan di cari neptu dan pasarannya. Setelah mengetahui hari lahir anak menurut penanggalan Jawa maka ditentukanlah hari pelaksanaan upacara. Biasanya hari pelaksanaan upacara adalah hari kedua dari hari kelahiran anak atau bisa juga hari ke empat dari hari kelahiran anak.

3. Benda Upacara

Menurut Wibowo dalam tulisannya “Arti Simbolik Upacara Inisiasi” (2000), Pelaksanaan Upacara Tedhak Siten menggunakan beberapa benda-benda atau perlengkapan upacara. Benda upacara ini merupakan bagian penting dalam upacara Tedhak Siten dimana setiap benda-benda atau perlengkapan tersebut selain sebagai alat-alat upacara, perlengkapan tersebut juga mempunyai makna didalam upacara. Adapun perlengkapan yang digunakan pada upacara Tedhak Siten adalah:

a. Perlengkapan untuk berjalan.

- Jadah 7 warna yang sudah disusun berdasarkan warna gelap ke terang. - Talam untuk tempat jadah


(52)

b. Perlengkapan masuk kedalam kurungan.

- Benda-benda berharga dan bermanfaat (seperti: gelang, kalung, uang, buku, pulpen, kaca dan lainnya.) untuk diambil anak

- Kurungan Ayam

- Janur Kuning atau kertas hias untuk menghias kandang c. Perlengkapan untuk naik tangga.

− Beberapa batang tebu

− Tali untuk mengikat tebu.

d. Perlengkapan untuk sebar beras kuning.

− Beras kuning untuk disebarkan.

− Beberapa buah uang logam.

− Piring/talam sebagai tempat beras kuning. e. Perlengkapan untuk mandi.

− Ember untuk tempat air.

− Air untuk memandikan.

− Bunga setaman yang terdiri dari bunga melati, mawar, kenanga, dan bunga kertas. Untuk dicampur pada air.

f. Perlengkapan untuk sesaji.

− Tumpeng beserta kelengkapannya.

− Jajanan pasar.

− Pisang raja.

− Pala pendem


(53)

Perlengkapan dalam Upacara Tedhak Siten dapat dilihat dalam gambar berikut:

Gambar 1: Perlengkapan Upacara Tedhak Siten

Benda-benda ataupun perlengkapan yang disebutkan oleh Wibowotwrrsebut auh berbeda dengan benda-enda ataupun peralatan yang digunakan pada pelaksanaanupacara Tedhak Siten di desa tanjung Jati. Meskipun ada perbedaan itu hanya beberapa unsur tambahan yang dipergunakan sebagai kelengkapan saja.

4. Pelaku Upacara.

Pelaku dalam pelaksanaan upacara Tedhak Siten adalah: 1. Bayi

2. Orang Tua dari si Bayi 3. Para undangan yang hadir.

Tokoh utama yang sangat penting dalam upacara Tedhak Siten adalah anak yang diturun tanahkan. Anak inilah yang nantinya akan diturunkan dan menjalani serangkaian acara pada upacara Tedhak Siten.


(54)

Selain itu kedua orang tua juga berperan dalam upacara Tedhak Siten ini, terutama ibu yang akan membimbing si Bayi dalam menjalankan proses upacara yang telah disiapkan.

Para undangan yang hadir juga turut dalam pelaksanaan upacara Tedhak Siten yaitu untuk berebut beras kuning yang disebar oleh anak dalam proses upacara nantinya. Serta turut serta untuk mendoakan si Bayi agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari gangguan mahluk halus sehingga kemudian dapat menjadi orang yang berguna didalam kehidupannya kelak.

5. Pemimpin Upacara

Adapun yang bertindak sebagai pemimpin upacara Tedhak Siten adalah dukun bayi yang telah diserahi tanggung jawab untuk memimpin jalannya upacara sehari sebelumnya. Dukun bayi inilah yang telah diberi kepercayaan dari masyarakat setempat untuk memimpin jalannya upacara dari awal sampai akhir. Dimulai dengan acara berjalan, masuk kurungan, naik tangga dan memandikan bayi.

Dahulu, sebelum dikenalnya bidan oleh masyarakat dukun bayi adalah yang bertugas memberikan perawatan terhadap perempuan yang akan melahirkan, mulai dari tujuh bulanan hingga perempuan tersebut melahirkan. tetapi pada saat ini masyarakat lebih mempercayakan proses kelahiran pada tenaga medis sepwerti bidan atau dokter. Dukun bayi sekarang biasanya hanya dimintai tolong untuk memijat bayi dan ibu bayi bila hal itu diperlukan karena dukun bayi di desa ini juga dikenal sebagai dukun pijat. Selain itu dukun bayi juga dipanggil untuk memimpin upacara-upacara pada proses kelahiran seperti 7 bulanan/tingkepan, procotan atau kelahiran dan lain-lain.


(55)

3.4. Tahap-tahap Upacara

3. 4. 1. Tahap Sebelum Upacara

Menurut salah satu informan yaitu ibu Misnah berumur 45 tahun, sebelum berlangsungnya upacara Tedhak Siten terlebih dahulu dilakukan berbagai kegiatan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, yang melakukkan adalah pihak-pihak keluarga bersama dengan jiran-jiran dekat. Mereka dengan rasa senang dan ikhlas ikut secara bersama-sama mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan didalam pelaksanaan upacara. Saat-saat sepeti ini dapat mempererat hubungan kekeluargaan maupun hubungan dengan para tetangga. Karena dalam mempersiapkan segala keperluan atau kebutuhan yang akan dipergunakan para tetangga dan sanak famili yang mengadakan upacara akan saling berkomunikasi, bercerita satu dengan lainnya sehingga terciptalah suatu keterbukaan dan mempererat hubungan persaudaraan antar tetangga, sehingga menimbulkan suasana yang akrab.

Hal-hal yang sangat penting untuk dipersiapkan adalah benda-benda perlengkapan yang dibutuhkan didalam upacara diantaranya menghias kandang ayam yang digunakan untuk mengurung anak dengan janur kuning, atau kertas penghias mempersiapkan tempat pemandian dan lain-lain. Yang tidak kalah pentingnya untuk dipersiapkan adalah mempersiapkan berbagai jenis makanan yang akan disuguhkan maupun yang akan disedekahkan kepada para udangan.

Berbagai persiapan yang dilakukan itu ada yang dikerjakan sehari sebelum upacara, ada juga yang dipersiapkan pada pagi hari sebelum upacara berlangsung.


(56)

Setelah segala persiapan yang diperlukan selesai dikerjakan maka barulah upacara dapat dilaksanakan.

3. 4. 2. Tahap Pelaksanaan Upacara

Upacara Tedhak Siten idealnya dilaksanakan pada waktu pagi hari menjelang siang. Sebelum upacara Tedhak Siten dimulai dukun bayi akan terlebih dahulu memeriksa apakah perlengkapan yang digunakan untuk upacara telah siap sepenuhnya. Setelah semua perlengkapan yang diperlukan telah siap semuanya, maka upacara akan langsung dimulai. Dengan disaksikan sanak keluarga dan para undangan yang hadir dukun bayi memulai jalannya upacara.

Mula-mula si bayi dipangku oleh ibunya dan duduk diruangan upacara bersama-sama dengan para undangan lainnya. Lalu dukun bayi mengawali upacara dengan kata salam dan sebagai wakil keluarga dia mengucapkan terimakasih atas kehadiran para undangan. Untuk selanjutnya dukun bayi berdoa yang ujubnya ( intensitasnya) berupa doa syukur pujian dan permohonan. Dukun bayi menyampaikan kata sambutan beserta doa sebagai berikut:

“Sepindhaha keparengan munggel pangandikan dhumantheng para sesepuh, pinisepuh para, bapak sumrambah dhatheng para pilenggah sedaya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Kulo ing mriki nampi atur saking bapak K, kulo supados ngujubaken anggenipun hanggadahi hajat bapak K ing wekdal punika. Boten sanes bapak K anggenipun hangaturi para pinisepuh. Para bapak, sumambah dhateheng pilenggah sedaya wonten ing dalem punika sepisanan kasuwan berkah, donga, pangestu lan panjaringipun. Dane selajangipun, supados hanyakseni. Anggenipun angedalaken kawilajengan bapakR ing wekdal punika ingkang arupi sekul asuci wuduk lembaran (tumpeng) sekabe manipun. Bapak K ingkang mudunke putrane, mugi saking berkah pangestu saking para pinisepuh, para bapak, sumambah dhateheng para pilenggah sedaya.


(57)

Kaping kahilipun, lan malih minagka kangge hamemula kanjeng nabi muhamad rasul segarwa putra, mila inggih di memuleing wekdal punika mugi tansah hamberkahi dhatheng hajatipun bapak K, mugi tansah manggihaken kawilujengan tata titi tentrem ngantos dumagi sapengaendhap sapenginggihipun.

Kaping tigahipun. Minangka hamimula para nabi, para rasul, para walengkang sampun sumare wonten mekah, madinah dumugi ing tanah mrik, mila inggih di memula wekdal menika mugi tansah amberkahi dhatheng hajatipun bapak K saengga sageda manaken kawilujengan tata titi tentrem ngantos dumugi sapengendhap sapenginggihipun

Kaping sekawanipun, lan mulih minangka kangge hamemula leluhur. Mila inggih di memula ing wekdal mriki mugi tansah amberkahi dhatheng hajatipun bapak K mugi tansyah manggihaken tata titi tentrm ngantos dumagi sapengandhap sapenginggilipun. Kaping gangsalipun lan malih minangka kangge hamemula para leluhur ingkang cikal bakal ing dhusun mriki lan hamongsari lan rumeksa ing banjar pomahan mriki sampon ngantos nggendhak sikara hangaru beda ngestantunaken wilujeng, wilujeng punika ngantos dhumugi sapangandhap sapanginggilipun.

Kaping neminipun. Lan malih minangka kangge hamemula malaikat sekawit kekasihipunrosul ingkang tansyah nyagi pribadipun putranipun bapak K mugi tansyah manggihaken kawilujengan tata titi tentrem.

Kaping pitunipun. Lan malih minangka kangge hamemula saydina ilyas, saydina kilir. Ingkang hamengkoni wane utawi toya pundi wana pundi toya sumambah dhatheng putranipun bapak K mugi tansyah lestantuna wilujeng sedayanipun wilujeng sapunika ngantos selajangipun.

Kaping wolunipun. Lan malih minangka kangge hamemula ingkang pun memula mukmin jaler, mukmin estri lan jin islam ingkang tansyah handarbeni saripatihinipun kanjeng nabi muhamad rasul. Mila inggih dipun hamemula ing wekdal punika mugi-mugi putranipun bapak K dalah sekeluangipun sedaya, anggenipun tinitah wonten ing alam praja mriki tunehbihna saking sedaya godha rencana, sedaya rubeda, sedaya niring sambekala lan sedaya, panggo dhenipun iblis lan setan mugi inggih tansyah karya teguh rahayu, wilujeng sapunika ngantos dumugi sapengendhap sapenginggilipun.

Kaping sanganipunn. Lan malih minangka kangge hamemula salumahing bumi sakenebing langit, mula inggih dipun memula ing wekdal sapunika. Mugi-mugi tansyah nggayuh sedaya sedayanipun, sedaya cita-cita nipun, saengga saged menggihaken karta raharja, tata titi tentrem wilujeng sanika ngantos dumugi sapengendhap sapengginggalipun”.


(58)

Terjemahannya:

Pertama, perkenankalah saya memotong percakapan anda, para tetua-tetua

masyarakat para Bapak Ibu dan para hadirin. Assalamualaikum Warahmatullahi wabarokaatuh.

Saya menerima mandat dari keluarga K supaya saya memandu pertemuan, dimana Bapak K pada hari ini menyelenggarakan hajatan. Maksud Bapak K mengundang anda semua dirumah ini, pertama dimohon berkah doa restu, kedua agar anda menyaksikan peristiwa bahagia Bapak K yang pada hari ini dengan segenap nasi suci tumpeng dengan kelengkapan lauk-pauknya. Pada hari ini anak Bapak K akan diturun tanahkan semoga anda, semoga berkat anda memperkuat putra Bapak K semoga cinta karunia Tuhan terhadap putra Bapak K akan mewujudkan kebahagian tak terhingga.

Kedua. Pertemuan hari ini juga dimaksudkan untuk memperingati kebesaran

Kanjeng Nabi Muhammad Rasul Tuhan dan istrinya beserta anak-anaknya semoga mereka memberkati anak dari Bapak K. sehingga anak Bapak K dan keluarganya akan memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.

Ketiga. Pertemuan hari ini juga untuk memperingati kebesaran para Nabi Rasul,

para Wali yang telah meninggal dunia di Mekkah Medinah dan semua orang kudus di Jawa. Sehingga mereka memberi berkahnya kepada putra Bapak K, sehingga anak Bapak K sekeluarga memperoleh kedamaian dan kebahagiaan. Keempat. Pertemuan hari ini juga untuk memperingati kebesaran para leluhur

sebagai cikal-bakal desa dan penjaga desa agar mereka memberi restu kepada anak Bapak K sekeluarga.


(1)

upacara ini juga mempunyai makna tertentu bagi masyarakat. Dari panjelasan

pada bab terdahulu maka dapatlah di simpulkan bahwa:

1.

Pelaksanaan upacara Tedhak Siten oleh masyarakat didasari oleh

pandangan relegius masyarakat, dengan melalui upacara Tedhak Siten ini

keluarga memohon pada tuhan agar melindungi dan memberikan

keselamatan serta kesehatan kepada anak, baik dari segala gangguan

mahluk halus maupun dari bahaya penyakit.

2.

Bagi masyarakat upacara Tedhak Siten mempunyai makna sosial berupa

pendidikan, melestarikan tradisi dan mempererat hubungan silaturahmi di

antara masyarakat.

3.

Bagi masyarakat di laksanakannya upacara Tedhak Siten ini karena

upacara ini banyak mengandung unsur-unsur pendidikan terutama bagi

anak atau unsur-unsur pendidikan tersebut dapat kita lihat melalui

aktivitas-aktivitas dan unsur-unsur upacara. Setiap aktivitas maupun unsur

upacara mengandung pesan atau nasehat-nasehat yang sesuai dengan

norma-norma yang ada di dalam masyarakat

4.

Bagi masyarakat dengan melaksanakan upacara Tedhak Siten berarti

budaya Jawa akan tetap terjaga kelestariannya karena secara turun

temurun tradisi tersebut terus di wariskan sehingga akan menimbulkan

kebanggaan terhadap budaya Jawa.

5.

Selain itu masih dilaksanakannya upacara Tedhak Siten ini oleh masyarkat

karena masyarakat mempunyai pandangan, upacara tradisional ini mampu

mempererat hubungan silahturahmi. baik antara keluarga yang


(2)

melaksanakan upacara tersebut maupun dengan jiran-jiran yang turut

berperan serta didalamnya.

6.

Secara psikologis dengan dilaksanakannya upacara Tedhak Siten akan

menimbulkan kepuasan batin bagi kedua orang tua anak karena telah

melaksanakan tanggung jawab mereka yaitu untuk memohon keselamatan

bagi anaknya.

7.

Bagi masyarakat pelaksanaan upacara Tedhak Siten ini juga dilatar

belakangi oleh pandangan ekonomis orang tua terhadap anaknya. Melalui

upacara inilah orang tua mewujudkan harapan-harapannya yaitu agar anak

sehat, selamat dan sukses dalam menjalani kehidupan kelak sehingga

dengan demikian dapat menopang perekonomian keluarga kalau kedua

orang tuanya tidak dapat bekerja lagi.

5.2. SARAN

Dengan melihat penjelasan-penjelasan yang telah di uraikan maka

dapatlah di berikan beberapa saran-saran yang mungkin dapat di manfaatkan

dalam hal menjaga kelangsungan budaya Jawa berupa upacara Tedhak Siten:

1.

Dengan perkembangan zaman sebaiknya upacara ini tetap terus dilakukan

akan tetapi dalam pelaksanaannya di sesuaikan dengan perkembangan

yang ada. Hal ini di sebabkan upacara Tedhak Siten ini merupakan

warisan nenek moyang etnik Jawa yang mesti terus dilestarikan

keberadaannya.

2.

Hendaknya nilai-nilai positif dalam upacara Tedhak Siten ini dapat

menjadi pedoman hidup khususnya bagi generasi muda masyrakat Jawa di

desa Tanjung Jati.


(3)

3.

pelaksanaan upacara Tedhak Siten jangan hanya dilihat dari segi

ekonomisnya saja yang bisa menyebabkan suatu pemborosan, kita juga

harus melihat kepentingan masyarakat itu sendiri dalam memenuhi naluri

akan tradisinya, Selama di sesuaikan dengan kemauan dan kemampuan. ini

mengingat upacara ini mempunyai makna relegius sosial dan secara

psikologis bisa menjadikan ketentraman hati, aman dan tenang. tapi untuk

saran hendaknya pelaksanaan upacara ini tidak perlu diselenggarakan

besar besaran melainkan cukup sederhana dengan tetap memperhatikan

keaslian upacara tersebut.

4.

keberhasilan pembangunan harus didasarkan pada sumber-sumber

kekayaan yang terdapat pada suatu bangsa. Selain sumber daya alamiah

yang harus digali, juga sumber daya manusiapun harus diatur dan

diarahkan. Untuk ini perlu digali dan dimanfaatkan sumber-sumber budaya

yang ada untuk itu perlulah kiranya adanya pembinaan terhadap lurah dan

ulama agar lebih bermanfaat bagi penggalian sumber-sumber budaya.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Bratawijaya, TW

1997 Mengungkap Dan Mengenal Budaya Budaya Jawa,

Pradnya Paramitha, Jakarta.

Cassirer, Ernst

1987

Manusia dan kebudayaan, Gramedia Jakarta

Daeng, Hans J

2000 Manusia Kebudayaan Dan lingkungannya (Tinjauan

Antropologi). Pustaka Pelajar Yogyakarta.

Darori, Amin

2000

Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Jogjakarta.

Geertz,Cliford

1992

Kebudayaan Dan Agama, Kanisius, Yogyakarta.

1986

Abangan Santri Priayi Dalam Masyarakat Jawa, Pustaka

Jaya, Jakarta

Geertz, Hilderd

2000 Keluarga Jawa, Temprint Jakarta.

Keesing, Roger M

1992 Antropologi Budaya (Suatu Perspektif Kontemporer

Erlangga, Jakarata.

Koentjaraningrat

1985

Ritus Peralihan Di Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

1986

Sejarah Teori Antropologi 1, UI PRESS, Jakarta.

1998

Pengantar Antropologi II, Rinika Cipta, Jakarta.


(5)

Lubis, Fadhil

2000 Agama sebagai Sistem Kultural, (Penelusuran Terhadap

Metodologi Cliford Geertz Dan Ilmu Sosial Intepretatif.

IAIN Press, Medan

Magnis Soeseno

1999

Etika Jawa, Sebuah Analisis Falsafis Tentang

Kebijaksanaan Hidup Jawa, Gremedia, Jakarta

Moertjipto Dkk

1998

Upacara Tradisional Mohon Hujan Desa Kepuharjo

Cangkringan Sleman Daerah Istimwa Yogjakarta, Proyek

Pengkajian Nilai-nilai Budaya DIY

Poespowardojo,Soerjanto

1999

Sekitar manusia, Bunga Rampai Tentang Manusia,

Gramedia, Jakarta.

Rostiyati, Ani

1984 Fungsi Upacara Tradisional Bagi Masyarakat Pendukungnya

Masa Kini, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Jakarta.

Salamun Dkk

2000

Budaya Masyarakat Suku Bangsa Jawa di Kabupaten

Wonosogo Propinsi Jawa Tengah, Balai Kajian Sejarah dan

Nilai Tradisional Yogyakarta.

Sularto, Bambang, dkk

2000 Upacara Sekaten Daerah Istimewa Yogyakarta, Proyek

Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Daerah

Istimewa Yogyakrta.


(6)

Suryadi Linus, AG

1993

Regol Megal Megol (Fenomena Kosmogini Jawa) Andi

Offset, Yogyakarta.

Wibowo, HJ

2000

Arti Simbolik Upacara Inisiasi, Balai Kajian Sejarah dan

Nilai-nilai Tradisional, Yogyakarta.

Wirjanto

2003

Budaya Jawa dan Masyarakat Moderen, Pusat Pengkajian

Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT,

Jakarta.