Risiko Produksi Karet Alam di Kebun Aek Pamienke PT Socfindo, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Provinsi Sumatera Utara

I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang dapat

diandalkan dalam menunjang perekonomian Indonesia. Pentingnya sektor
pertanian dapat terlihat jelas sebagai penyedia utama pangan dan penyediaan
lapangan pekerjaan sebesar 41.494.941 jiwa atau 38,35 persen terhadap total
jumlah tenaga kerja1. Peranan sektor pertanian dalam arti luas (pertanian,
peternakan, kehutanan, dan peternakan) dapat mempengaruhi pertumbuhan
perekonomian Indonesia secara signifikan yang dapat dilihat dari besarnya Produk
Domestik Bruto (PDB) pada Tabel 1.
Tabel 1. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006-2010 (Triliun Rupiah)
No
1

2
3
4
5
6
7
8
9

Lapangan Usaha
Pertanian, Peternakan,
Kehutanan, dan
Perikanan
Pertambangan dan
Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas, dan Air
Bersih
Konstruksi
Perdagangan, Hotel, dan
Restoran
Pengangkutan dan
Komunikasi
Keuangan, Real Estate,
dan Jasa Perusahaan
Jasa-Jasa
Total PDB Nasional
Kontribusi (%)

2006
433,2

2007
541,9

2008
716,6

2009*
857,2

2010**
985,1

366,5

440,6

541,3

591,9

591,9

919,5
30,3

1.068,6
34,7

1.376,4
40,9

1.477,7
47,2

1.594,3
50,0

251,1
501,5

305,0
592,3

419,7
691,5

555,2
744,1

661,0
881,1

231,5

264,3

312,2

352,4

417,5

269,1

305,2

368,1

404,0

462,8

336,3
3.339,2
13,0

398,2
3.950,9
13,7

481,8
4.948,7
14,5

574,1
5.603,9
15,4

654,7
6.422,9
15,3

Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)
Keterangan : * Angka sementara
** Angka sangat sementara

                                                            
1

Badan Pusat Statistik. 2010. Penduduk 15 Tahun Ke Atas Menurut Status Pekerjaan Utama 2004,
2005, 2006, 2007, 2008, 2009, dan 2010.
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=06¬ab=3 [5 Januari
2012]

1

Sektor pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, kehutanan, dan
peternakan) mencakup beberapa subsektor, yaitu subsektor perkebunan,
peternakan, perikanan, kehutanan, pangan, dan beserta hasil-hasilnya. Subsektor
perkebunan merupakan salah satu subsektor andalan penopang perekonomian
pertanian di Indonesia. Peranannya dapat terlihat dalam penerimaan devisa negara
pada tahun 2010 melalui kegiatan ekspor perkebunan sebesar US$22 miliar
meningkat drastis dibanding tahun 2005 yang hanya US$9 miliar2.
Pemenuhan kebutuhan untuk konsumsi dalam negeri, bahan baku berbagai
industri dalam negeri, perolehan nilai tambah, daya saing, dan optimalisasi
pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan juga merupakan berbagai
peranan dari subsektor ini. Departemen Pertanian telah menyusun rencanarencana strategis beserta program-program dan kebijakan pembangunan yang
terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan pengembangan masingmasing komoditas perkebunan yang bertujuan untuk meningkatkan peran
subsektor perkebunan ini (Departemen Pertanian 2009)3.
Berdasarkan Produk Domestik Bruto, subsektor perkebunan terus
mengalami peningkatan setiap tahunnya. Atas dasar harga berlaku data Badan
Pusat Statistik, mulai tahun 2006 sebesar 63,4 Triliun Rupiah tanaman
perkebunan terus mengalami peningkatan sampai tahun 2010 sebesar 135,2
Triliun Rupiah yang dapat dilihat pada Tabel 2. Hal ini menunjukkan bahwa
tanaman perkebunan masih banyak dibudidayakan karena memiliki pengaruh
yang besar terhadap perekonomian Indonesia. Menghasilkan ouput maksimal
dalam membudidaya tanaman perkebunan harus memiliki tehnik-tehnik khusus,
seperti pencegahan atau pengobatan serangan hama dan penyakit, pengolahan
tanah, dan mengantisipasi sumber risiko dari alam. Salah satu tujuan dengan
adanya tehnik tersebut adalah untuk dapat menjaga pohon dengan baik dari
sumber atau faktor risiko yang terjadi sehingga umur produktif tanaman dapat
bertahan lama dan mengurangi kerugian perusahaan.
                                                            
2

Media Indonesia. 2010. Devisa dari sektor perkebunan.
http://www.htysite.com/pertanian%202011.htm [5 Januari 2012]
3
[DEPTAN] Departemen Pertanian. 2009. Outlook Komoditas Perkebunan.
www.pusdatin.deptan.go.id. [6 Januari 2012]

2

Tabel 2. Laju Pertumbuhan Subsektor Pertanian dalam Produk Domestik Bruto
Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2006-2010 (Triliun Rupiah)
NO

Pertanian, Peternakan,
Kehutanan, dan Perikanan

1

Tanaman Bahan Makanan

2
3
4
5

Tanaman Perkebunan
Peternakan
Kehutanan
Perikanan

2006

2007

2008

2009*

2010**

214,3

265,1

349,8

419,2

483,5

63,4
51,1
30,1
74,3

81,7
61,3
36,1
97,7

106,0
83,3
40,4
137,2

111,4
104,9
45,1
176,6

135,2
119,1
48,0
199,2

Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)
Keterangan : * Angka sementara
** Angka sangat sementara

Tanaman perkebunan merupakan tanaman yang memiliki luas areal
terbesar di Indonesia. Salah satu keunggulan Indonesia adalah tersedianya lahan
tropis yang cukup besar dan sesuai untuk penanaman berbagai tanaman
perkebunan. Luas lahan perkebunan dari beberapa jenis tanaman perkebunan yang
ditanam di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas Lahan Perkebunan di Indonesia Tahun 2006-2010 (Ribu Ha)
Tahun
2006
2007
2008
2009
2010*

Karet

Kelapa Sawit

513,2
514,0
515,8
482,7
472,2

3748,5
4101,7
4451,8
4888,0
5032,8

Coklat
101,2
106,5
98,4
95,3
95,9

Kopi
53,6
52,5
58,3
48,7
48,7

Tembakau
5,1
5,8
4,6
4,2
4,2

Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)
Keterangan : * Angka sementara

Berdasarkan Tabel 3, terlihat jelas bahwa karet merupakan tanaman
perkebunan kedua yang banyak diusahakan di Indonesia setelah kelapa sawit. Hal
ini ditinjau dari luas areal perkebunan karet yang digunakan di Indonesia. Selain
itu, luas areal perkebunan karet mulai tahun 2005 sampai 2008 mengalami
peningkatan, sedangkan untuk tahun 2009 mengalami penurunan. Fluktuasi
disebabkan karena adanya penurunan harga karet dunia pada tahun tersebut.
Akibatnya, ketertarikan masyarakat Indonesia untuk membudidayakan karet
menjadi berkurang sehingga luas lahan perkebunan untuk karet pun menjadi
bertambah banyak di Indonesia.

3

Luas areal tanaman perkebunan yang masih cukup luas di Indonesia tidak
selalu berkorelasi dengan produksi tanaman perkebunan yang dihasilkan. Hal ini
dapat disebabkan oleh beberapa penghasil tanaman perkebunan di Indonesia tidak
dapat membudidayakan sesuai teknik budidaya yang baik dan benar. Kurangnya
pengetahuan

masyarakat

Indonesia

menjadi

salah

satu

kendala

dalam

permasalahan ini. Produksi tanaman perkebunan di Indonesia tahun 2006-2010
dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Produksi Tanaman Perkebunan di Indonesia Tahun 2006-2010 (Ton)
Tahun

Karet

2006
2007
2008
2009
2010

2.637.231
2.755.172
2.751.286
2.440.347
2.591.935

Kelapa Sawit
17.350.848
17.664.725
17.539.788
18.640.881
19.844.901

Coklat
769.386
740.006
803.594
809.583
844.626

Kopi
682.158
676.476
698.016
682.590
684.076

Tembakau
146.265
146.851
168.037
176.510
122.276

Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)
Keterangan : * Angka sementara

Berdasarkan Tabel 4, perbandingan total produksi dari lima tanaman
perkebunan tahun 2006-2010 menunjukkan bahwa total produksi karet merupakan
total produksi terbesar kedua setelah kelapa sawit. Terlihat jelas bahwa total
produksi karet di Indonesia mulai tahun 2006-2008 mengalami peningkatan dan
mengalami penurunan pada tahun 2009, kemudian mengalami peningkatan
kembali pada tahun 2010. Penurunan tersebut dapat dikarenakan adanya risiko
produksi dikaret yang menyebabkan adanya fluktuasi total produksi.
Salah satu tanaman subsektor perkebunan adalah karet. Indonesia
merupakan salah satu negara produsen karet alam terbesar di dunia selain
Malaysia dan Thailand. Luas lahan perkebunan karet alam Indonesia, terluas
dibandingkan Thailand dan Malaysia. Berdasarkan data Food and Agriculture
Organization (2010)4, Indonesia memiliki luas areal perkebunan karet sebesar
3.064.600 Ha, sedangkan Thailand hanya sebesar 1.929.260 Ha, dan untuk
Malaysia sebesar 1.289.700 Ha. Meskipun demikian, produksi karet alam
Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan produksi yang dicapai oleh Thailand
                                                            
4

[FAOSTAT] Food and Agriculture Organization Statistic. 2010. Produksi dan Luas Areal
Perkebunan Karet di Thailand, Malaysia, dan Indonesia. http://faostat.fao.org/default.aspx FAO.
[6 Januari 2012]

4

dan Malaysia.

Indonesia memiliki total produksi pada tahun 2010 sebesar

2.788.300 Ton dengan produktivitas 909,8 Kg/Ha, sedangkan Thailand sebesar
3.051.780 Ton dengan produktivitas 1.581,8 Kg/Ha. Hal ini dapat disebabkan
oleh beberapa faktor yang saling mempengaruhi, seperti risiko produksi alam,
hama, atau penyakit. Produktivitas karet alam Indonesia masih rendah dalam
penggunaan input-input pertanian yang berkualitas, masih minimnya pengetahuan
mengenai pembudidayaan karet yang baik dan benar, dan masih kurangnya cara
untuk dapat menanggulangi risiko yang terjadi pada tanaman karet alam, seperti
hama dan penyakit. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi produksi karet alam
yang dihasilkan. Akibatnya, produksi karet alam di Indonesia masih rendah
dibandingkan produksi karet alam dari Thailand.
Menurut data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), untuk
tahun 2011 produksi karet alam dunia diasumsikan hanya berkisar 10,970 juta ton
sementara untuk konsumsi diperkirakan mencapai 11,151 juta ton sehingga terjadi
kekurangan pasokan atau minus sekitar 181.000 ton. Kurangnya produk karet
alam dunia di tahun 2011 salah satunya di karenakan terganggunya produksi karet
di beberapa negara seperti Australia, hujan deras yang disebabkan oleh la-nina
yang juga menyebabkan banjir di negara tersebut telah mengganggu proses
penyadapan karet. Asosiasi Natural Rubber Producing Countries di Thailand
memperkirakan produk karet alam pada musim dingin yang berlangsung mulai
Febuari-Mei berdampak pada menurunnya produk karet hingga 50 persen.
Berdasarkan asumsi tersebut dipastikan Indonesia berpeluang besar untuk
memasok karet alam hasil produk Indonesia ke luar negeri (ekspor) dan tentunya
dengan catatan untuk produk karet Indonesia agar lebih ditingkatkan (Purba
2011)5.
Luas areal perkebunan karet berdasarkan penguasaannya terbagi atas tiga
yaitu perkebunan karet milik rakyat, perkebunan besar milik negara, dan
perkebunan besar milik swasta. Luas area perkebunan karet tahun 2011 tercatat
mencapai lebih dari 3,4 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
                                                            
5

Purba FHK. 2011. Potensi dan Perkembangan Pasar Ekspor Karet Indonesia di pasar
Dunia.http://www.agribisnis.net/mobile/index.php?content=informasi_mobile&id=1&sub=5&kat
=54&fuse=1185. [7 Januari 2012]

5

Diestimasikan diantaranya sebesar 2.935.081 ha merupakan perkebunan karet
milik rakyat, dan hanya 239.132 ha perkebunan besar negara serta 275.931 ha
perkebunan besar milik swasta (Direktorat Jenderal Perkebunan 2011).
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk
pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan
karena daerah tersebut memiliki iklim yang lebih basah. Hal tersebut dapat dilihat
dari luas areal perkebunan karet di beberapa provinsi Indonesia pada Tabel 5.
Terlihat jelas bahwa untuk bagian Sumatera, luas areal perkebunan karet Sumatera
Utara lebih luas setelah Sumatera Selatan, sedangkan untuk luas areal perkebunan
karet bagian Kalimantan dicapai oleh Kalimantan Barat. Luas areal perkebunan
karet Sumatera Utara dari tahun 2006-2008 terus mengalami peningkatan dan
pada tahun 2009 mengalami penurunan, kemudian mengalami peningkatan
kembali tahun 2010. Hal ini masih dapat dikarenakan harga karet dunia yang
masih berfluktuatif.
Tabel 5. Luas Areal Perkebunan Karet di Beberapa Provinsi Indonesia Tahun
2006-2010 (Ribu Ha)
Provinsi
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Kalimantan Barat
Kalimatan Tengah

2006
456.986
124.256
648.754
379.038
255.657

2007
461.496
126.135
659.134
387.768
261.947

2008
462.036
125.716
662.788
388.861
264.203

2009
461.148
135.435
659.769
385.528
264.947

2010*
463.861
133.137
665.129
389.093
265.038

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur

129.946
58.105

132.675
59.132

133.901
57.855

134.254
64.626

134.210
61.154

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan (2011)
Keterangan : * Angka sementara

Salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan karet di
Provinsi Sumatera Utara adalah PT Socfin Indonesia (Socfindo). PT Socfindo
merupakan salah satu perusahaan milik swasta yang resmi berdiri pada tahun 1930
dengan lokasi perkebunan yang tersebar di Sumatera Utara dan Aceh.
Bertahannya PT Socfindo hingga saat ini, telah dapat membuktikan bahwa PT
Socfindo berhasil mengendalikan berbagai risiko yang dihadapi dengan terdapat
suatu manajemen di dalam perusahaan. Oleh karena itu, PT Socfindo dapat
bersaing dalam persaingan pasar dunia karet baik dalam maupun luar negeri.
6

1.2

Perumusan Masalah
PT Socfindo bergerak dalam bidang perkebunan karet dan kelapa sawit

dengan lokasi perkebunan yang tersebar di Sumatera Utara dan Aceh. Sumatera
Utara merupakan salah satu daerah yang sangat cocok untuk budidaya karet
karena memiliki iklim yang basah. PT Socfindo menghadapi berbagai risiko
dalam memproduksi karet alam, salah satunya adalah risiko produksi. Hasil
produksi dan produktivitas karet alam yang berfluktuatif menjadi salah satu akibat
dari adanya risiko produksi. Hal ini dapat mengakibatkan permintaan terhadap
karet alam akan menurun. Produksi karet alam PT Socfindo menghasilkan tiga
standart mutu sesuai kriteria yang telah ditetapkan, yaitu SIR 3CV50, SIR 3CV60,
dan SIR 10. PT Socfindo harus melalui beberapa tahapan atau proses rangkaian
produksi untuk menghasilkan karet alam sesuai standar mutu yang memiliki
berbagai risiko.
Balai Penelitian Karet Sungai Putih Sumatera Utara (2011)6 menyatakan
bahwa produktivitas nasional rata-rata untuk tanaman karet adalah 1400
kg/ha/tahun dalam bentuk karet alam. Pertumbuhan produksi karet alam PT
Socfindo selama kurun waktu 2009-2011 mengalami fluktuasi akibat adanya
berbagai macam faktor risiko produksi yang mempengaruhi produksi dengan ratarata umur tanaman karet adalah 8-25 tahun dengan tahun tanam 1986-2003. Pada
tahun 2009, produksi mencapai 4.213.297 Kg KK (Kilogram Karet Kering) dan
terus mengalami penurunan pada tahun 2010 dan 2011 yaitu 3.493.000 Kg KK
dan 3.473.431 Kg KK. Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa adanya target
produksi yang tidak terpenuhi sesuai yang diharapkan perusahaan. Akibatnya, hal
ini dapat menurunkan keuntungan bagi perusahaan. Ini merupakan salah satu
dampak yang dihadapi PT Socfindo dari adanya faktor-faktor tersebut. Produksi
(Kilogram Karet Kering) kebun Aek Pamienke PT Socfindo tahun 2011 dapat
dilihat pada Gambar 1.

                                                            
6

[BALITSP] Balai Penelitian Sungai Putih. 2011. http://balitsp.com/balai-penelitian-karetproduksi-karet-harus-digenjot-untuk-meningkatkan-keuntungan/. [8 Januari 2012]

7

Gambar 1. Produksi Karet Alam Kebun Aek Pamienke Tahun 2011
Sumber : Kebun Aek Pmienke PT Socfindo (2011)

Produktivitas rata-rata karet alam tahun 2009 dan 2011 telah mampu
memproduksi karet alam di atas total rata-rata produktivitas nasional yang telah
ditetapkan. Produktivitas per tahun nya mengalami fluktuasi yang dapat dilihat
mulai dari tahun 2009 yaitu 1547,68 kg/ha dan mengalami penurunan pada tahun
2010 sebesar 1378,89 kg/ha, kemudian mengalami peningkatan kembali 1598,76
pada tahun 2011. Produktivitas (kg/ha/tahun) karet alam kebun Aek Pamienke PT
Socfindo tahun 2009-2011 dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Produktivitas Karet Alam Kebun Aek Pamienke Tahun 2011
Sumber : Kebun Aek Pamienke PT Socfindo (2011)

8

Berdasarkan Gambar 1 dan 2, fluktuasi produktivitas dan kecenderungan
produksi yang menurun menjadi suatu permasalahan yang dihadapi oleh
perusahaan. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor-faktor sumber risiko
produksi, seperti curah hujan, hama, dan penyakit juga menjadi suatu kendala
yang menyebabkan total produksi karet alam setiap tahun mengalami penurunan
dengan luas lahan setiap tahun yang tetap. Penanganan yang tepat sangat
dibutuhkan untuk mengurangi risiko tersebut agar dapat menghasilkan produksi
maksimal dengan kualitas atau standar mutu karet alam yang diharapkan oleh
perusahaan sesuai permintaan pasar domestik maupun internasional. Risiko
produksi merupakan risiko yang sangat berpengaruh besar dalam perusahaan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka perumusan masalah penelitian ini adalah
bagaimana pengaruh dari faktor-faktor sumber risiko produksi terhadap produksi
karet alam PT Socfindo ?
1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka

tujuan dari penelitian ini adalah :
1)

Mengkaji gambaran umum usaha karet alam di perkebunan Aek Pamienke
PT Socfindo.

2)

Menganalisis pengaruh faktor-faktor sumber risiko produksi terhadap
produksi karet alam PT Socfindo.

1.4

Manfaat Penelitian

1)

Pihak perusahaan yaitu PT Socfindo, dapat menjadikan hasil penelitian ini
sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam melakukan perencanaan,
memperbaiki pembuatan keputusan, dan membantu untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sehingga dapat di kurangi
dengan baik.

2)

Penulis, menambah pengetahuan dalam mengaplikasikan ilmu-ilmu yang
telah diperoleh selama kuliah, serta melatih kemampuan analisis dalam
pemecahan masalah.

3)

Pembaca, agar dapat mengembangkan penelitian ini dan menjadi sebagai
salah satu sumber rujukan atau referensi untuk penelitian selanjutnya
9

sehingga dapat menggunakan variabel input-input produksi, seperti benih,
pupuk, pestisida, dan lain sebagainya.
1.5

Ruang Lingkup Penelitian

1)

Studi kasus pada penelitian ini dilakukan di PT Socfindo perkebunan Aek
Pamienke Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara yang bergerak dalam
bidang perkebunan karet.

2)

Penelitian

ini

terfokus

pada

faktor-faktor

sumber

risiko

yang

mempengaruhi produksi karet alam, yaitu jumlah pohon yang mati,
penderes yang melakukan kesalahan, jumlah pohon yang dideres, jumlah
blok yang terkena Secondary Leaf Fall (SLF), curah hujan, biaya
perawatan Brown Bast/Bark Necrosis (BB/BN), dan produksi sebelumnya.
Penelitian ini tidak menggunakan variabel-variabel input produksi, seperti
benih, pupuk, pestisida, dan lain sebagainya dalam model.
3)

Tanaman karet yang diteliti adalah tanaman karet menghasilkan yang
berumur 8-25 tahun dalam tahun tanam 1986-2003.

4)

Data yang digunakan adalah data produksi perusahaan dari tahun 20092011 dalam perbulan.

10

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Gambaran Umum Karet
Tanaman karet (Havea Brasiliensis) berasal dari Brazil, Amerika Selatan,

tumbuh secara liar di lembah-lembah Amazon. Tanaman karet merupakan pohon
yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai
15 – 25 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan
yang tinggi diatas. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan
nama lateks.
Daun karet berwarna hijau. Apabila akan rontok berubah warna menjadi
kuning atau merah. Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak
daun. Panjang tangkai daun utama 3 – 20 centimeter. Panjang tangkai anak daun
antara 3 – 10 centimeter. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung
runcing, tepinya rata, gundul, dan tidak tajam. Bunga karet terdiri dari bunga
jantan dan betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Buah
karet memiliki pembagian ruang yang jelas. Buah yang sudah masak akan pecah
dengan sendirinya. Pemecahan biji ini berhubungan dengan pengembangbiakan
tanaman karet secara alami. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah berukuran
biji besar dengan kulit keras. Warnanya coklat kehitaman dengan bercak-bercak
berpola yang khas. Biji karet sebenarnya berbahaya karena mengandung racun.
Akar tanaman karet merupakan akar tunggang yang mampu menopang batang
tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. Adapun beberapa jenis karet alam antara
lain sebagai berikut (Swadaya 2008):
1)

Bahan olah karet adalah lateks kebun serta gumpalan lateks kebun yang
diperoleh dari pohon karet. Menurut pengolahannya bahan olah karet
dibagi menjadi 4 macam, yaitu lateks kebun, sheet angin, slab tipis, dan
lump segar.

2)

Karet alam konvensional dapat dimasukkan ke dalam beberapa golongan
mutu menurut Buku Green Book yang dikeluarkan oleh International
Rubber Quality and Packing Conference (IRQPC). Berikut ini adalah
jenis-jenis karet alam olahan yang tergolong konvensional menurut Green
Book, yaitu ribbed smoked sheet (RSS), white crepe dan pale crepe, estate
11

brown crepe, compo crepe, thin brown crepe remills, thick blanket crepes
ambers, flat bark crepe, pure smoked blanket crepe, dan off crepe.
3)

Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak
berbentuk lembaran atau padatan lainnya.

4)

Karet bongkah atau block rubber adalah karet remah yang telah
dikeringkan dan dikilang menjadi bandela-bandela dengan ukuran yang
telah ditentukan.

5)

Karet spesifikasi teknis atau crumb rubber adalah karet alam yang dibuat
khusus sehingga terjamin mutu teknisnya.

6)

Tyre rubber adalah bentuk lain dari karet alam yang dihasilkan sebagai
barang setengah jadi sehingga bisa langsung dipakai oleh konsumen, baik
untuk pembuatan ban atau barang yang menggunakan bahan baku karet
alam lainnya.

7)

Karet reklim atau reclaimed rubber adalah karet yang diolah kembali dari
barang-barang karet bekas. Boleh dibilang karet reklim adalah suatu hasil
pengolahan scrap yang sudah di vulkanisir.
Setiap jenis karet akan menghasilkan berbagai standar mutu yang harus

dapat dipenuhi sesuai syarat atau kriterianya masing-masing, begitu juga dengan
salah satu komoditas perkebunan seperti karet. Standar mutu karet alam
menjelaskan berapa kadar kotoran yang ada didalam lateks dan berapa tingkat
kelenturan (mooney viscosity) karet alam yang dihasilkan. Kadar kelenturan karet
alam diukur dengan alat mooney viscometer dalam waktu lima menit dengan suhu
100oC. Tingkat kelenturan karet tidak dapat menjelaskan seberapa baik standar
mutu karet alam yang dihasilkan dibandingkan standar mutu karet alam lainnya.
Karena hal tersebut diproduksi sesuai permintaan atau kebutuhan konsumen
dalam penggunaannya. Beberapa standar mutu karet dapat dilihat pada Tabel 68.

                                                            
8

[BI] Bank Sentral Republik Indonesia. 2011. Standar Mutu Karet.
http://www.bi.go.id/web/id/DIBI/Info_Eksportir/Profil_komoditi/StandartMutu/mutu_karet.html.
[25 Desember 2011]

12

Tabel 6. Standar Mutu Komoditi Karet
No
Mutu Karet
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Karet SIR 3CV
Karet Sir 3 L
Karet Sir 3 WF
Karet SIR 5
Karet SIR 10
Karet SIR 20
Karet SIR lainnya
Karet Spesifikasi teknis (TSRN) lainnya
Ban dalam dari karet untuk sepeda motor
Ban dalam dari karet untuk scooter
Sarung tangan bedah dari karet
Sarung tangan lainnya dari karet
Sepatu olahraga dari karet

Nomor Standar Nasional
Indonesia
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1903-1990
SNI. 06-1542-1989
SNI. 06-1542-1989
SNI.06-1301-1989
SNI.06-1301-1989
SNI.06-1844-1990

Sumber : Bank Sentral Republik Indonesia (2010)

Semakin banyak standar mutu yang dihasilkan akan menunjukkan semakin
banyak jumlah produksi karet alam dalam suatu perusahaan. Konsumsi karet alam
pada saat ini masih jauh di bawah karet sentetis atau buatan pabrik. Hal ini
dikarenakan karet alam memiliki beberapa kelebihan yang belum dapat digantikan
oleh karet sintetis, di antaranya :
1)

Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna

2)

Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah

3)

Tidak mudah panas (low heat build up)

4)

Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan (groove cracking
resistance)
Selain kelebihannya, karet alam juga memiliki kelemahan dalam

penggunaannya. Kelemahan karet alam dalam penggunaannya terletak pada
keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan pasar. Saat pasar membutuhkan
pasokan tinggi, para produsen karet alam tidak dapat meningkatkan produksi
dalam waktu singkat, sehingga harga cenderung tinggi.
2.2

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Komoditi Perkebunan
Memproduksi komoditi perkebunan akan mengalami banyak kendala yang

dapat mempengaruhi produksi komoditi tersebut dalam suatu perusahaan. Hal ini
menunjukkan bahwa tinggi rendahnya produksi dapat diakibatkan oleh berbagai
13

faktor-faktor yang tidak terduga ataupun faktor yang dapat dikendalikan dengan
baik oleh suatu perusahaan. Variabel yang dapat digunakan sebagai faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi produksi, antara lain input-input produksi yang dapat
mengurangi dan meningkatkan risiko, seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, luas
lahan, bibit, urea, dan lain sebagainya. Sambudi (2005), Tumanggor (2009),
Saragih (2010) menggunakan variabel input produksi tersebut sebagai faktorfaktor untuk melihat pengaruh terhadap produksi kopi arabika, kakao, dan kelapa
sawit. Penelitian Sambudi (2005) dan Tumanggor (2009) menggunakan variabel
luas lahan, tenaga kerja, pupuk, dan pestisida. Tetapi Sambudi (2005)
menggunakan variabel tambahan yaitu urea dan bibit, sedangkan Tumanggor
(2009) menggunakan variabel tambahan umur tanaman, dan pada penelitian
Saragih (2010) hanya menggunakan tiga input produksi, yaitu luas lahan, tenaga
kerja, dan pupuk.
Pengaruh suatu variabel terhadap produksi dapat dilihat dari hasil
perhitungan statistik yang menggunakan suatu metode untuk menghitung dan
menganalisisnya. Variabel luas lahan, tenaga kerja, pupuk, bibit, urea, dan
pestisida berpengaruh nyata terhadap produksi kopi arabika pada penelitian
Sambudi (2005) dan Saragih (2010) berpengaruh nyata terhadap produksi kelapa
sawit yaitu luas lahan dan tenaga kerja. Sedangkan pada penelitian Tumanggor
(2009), semua variabel tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap produksi kakao
dan termasuk umur tanaman. Maka dari itu, pengaruh nyata atau tidak nya suatu
variabel input-input produksi terhadap suatu produksi, tergantung dari komoditi
perkebunan yang diteliti yang dapat menjelaskan adanya perbedaan risiko
produksi yang dihadapi.
Penelitian terhadap produksi teh sangat berbeda dengan produksi kopi
arabika, kakao, ataupun kelapa sawit. Karena variabel yang digunakan dalam
produksi teh berbeda dengan variabel input-input produksi yang digunakan pada
penelitian sebelumnya. Variabel produksi yang digunakan untuk melihat pengaruh
terhadap produksi teh olahan, yaitu teh basah, tenaga kerja, listrik, dan solar.
Penelitian Verianti (2004), Septiana (2005), dan Sukmawati (2006) menyatakan
bahwa untuk variabel yang berpengaruh nyata terhadap produksi teh olahan
adalah teh basah. Berbeda dengan Penelitian Kartika (1999) yang menyatakan
14

bahwa teh basah menjadi variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap
produksi teh olahan. Variabel solar hanya berpengaruh nyata pada penelitian
Septiana (2005), tetapi tidak berpengaruh nyata pada penelitian Kartika (1999)
dan Verianti (2004). Variabel lainnya seperti tenaga kerja dan listrik menunjukkan
hasil yang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi teh olahan.
Metode yang digunakan untuk menghitung pengaruh pada umumnya
adalah metode regresi linier berganda dengan pendekatan Ordinary Least Square
(OLS). Untuk menggambarkan suatu proses produksi di dalam teori produksi
dapat melalui fungsi produksi, yaitu fungsi produksi linier dan fungsi produksi
Cobb-douglas. Berdasarkan alat analisis dan metode tersebut, maka pengaruh dari
variabel-variabel faktor produksi terhadap produksi dapat dijelaskan melalui hasil
nilai peluang yang lebih besar atau lebih kecil dari taraf nyata yang telah
ditetapkan dan tanda koefisien akan menjelaskan masing-masing variabel dapat
meningkatkan atau menurunkan produksi.
Hasil etimasi model yang baik atau kurang baik dapat dilihat dari nilai rsquared yang menyatakan bahwa dari seluruh variabel yang digunakan telah dapat
menjelaskan seluruh model fungsi produksi. Artinya, seberapa besar variabelvariabel yang digunakan dapat menjelaskan pengaruh terhadap seluruh kegiatan
produksi. R-squared yang tinggi diperoleh oleh Septiana (2005) dengan 97,4
persen, Sambudi (2005) dengan 95,5 persen, kemudian Verianti (2004) dengan
94,4 persen, Saragih (2010) dengan 93,51 persen, dan Sukmawati (2006) dengan
92,3 persen. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa variabel-variabel yang
digunakan dalam penelitian

telah dapat menjelaskan faktor-faktor yang

mempengaruhi produksi kopi arabika dan teh.
Kesimpulan dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan bahwa terdapat
banyak faktor-faktor yang mempengaruhi produksi pada komoditi perkebunan.
Faktor-faktor tersebut ada yang dapat dikendalikan dengan baik dan ada yang
tidak dapat dikendalikan seperti risiko yang diakibatkan oleh faktor alam, seperti
curah hujan. Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian
terdahulu. Persamaan metode yang digunakan pada penelitian ini sama dengan
metode yang digunakan pada penelitian sebelumnya, yaitu metode regresi linier
berganda dengan menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS).
15

Tujuannya adalah untuk dapat melihat pengaruh antara variabel dependen (Y)
terhadap lebih dari satu variabel independen (X1,X2,….,Xn). Sedangkan untuk
perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terdapat pada fungsi
produksi yang digunakan, komoditi perkebunan yang diteliti, dan variabel faktor
produksi yang dianalisis. Fungsi produksi pada penelitian ini menggunakan fungsi
produksi linier dan pada penelitian sebelumnya menggunakan fungsi CobbDouglas. Komoditi perkebunan yang diteliti pada penelitian ini adalah karet dan
komoditi penelitian sebelumnya adalah kopi arabika dan teh. Sedangkan variabel
faktor produksi yang dianalisis pada penelitian ini tidak dapat menggunakan
variabel input-input produksi seperti yang digunakan pada penelitian sebelumnya.
2.3

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Karet Alam
Perusahaan menghadapi berbagai macam sumber risiko yang dapat

mempengaruhi hasil produksi karet alam yang dihasilkan. Produksi karet alam
dapat menghasilkan berbagai standar mutu sesuai Standard Indonesia Rubber
(SIR). Penelitian Setyoningsih (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi karet alam adalah lump, silicon emulsion, solar listrik,
tenaga kerja lepas, dan tenaga kerja tetap. Sitanggang (2011) menggunakan empat
variabel yang diduga dapat mempengaruhi produksi karet, yaitu lahan, pupuk,
ethrel dan curah hujan. Berbeda dengan penelitian Rachmawati (2003) yang
menggunakan faktor lateks, asam semut, tenaga kerja, listrik, dan solar pada
produksi pengolahan karet remah way berulu.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Ordinary Least Square
(OLS) dengan menggunakan metode regresi linier berganda untuk mengetahui
pengaruh dari faktor-faktor produksi yang dapat mempengaruhi produksi karet
alam. Faktor-faktor produksi yang digunakan Rachmawati (2003) berpengaruh
nyata terhadap produksi karet alam pada taraf nyata 1 persen. Setyoningsih (2005)
menjelaskan bahwa faktor lump, listrik, dan tenaga kerja tetap berpengaruh nyata
pada taraf nyata 5 persen, sedangkan solar dan listrik berpengaruh nyata pada taraf
nyata 20 persen. Untuk faktor tenaga kerja lepas tidak berpengaruh nyata pada
taraf nyata 5 persen ataupun 20 persen. Pada penelitian Sitanggang (2011), faktor
ethrel menjadi faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi karet alam pada
16

taraf nyata 5 persen dan faktor luas lahan, pupuk, curah hujan menunjukkan hasil
yang tidak berpengaruh nyata.
Berbeda dengan penelitian Wiyanto (2009) yang membandingkan kualitas
karet desa terprogram pengembangan karet dan desa tidak terprogram
pengembangan karet. Hasil perbandingan kualitas menunjukkan bahwa kualitas
karet yang diproduksi petani di desa terprogram lebih rendah dibandingkan
kualitas karet petani di desa tidak terprogram. Salah satu penyebabnya adalah
penggunaan pembeku tambahan yaitu air ekstrak umbi gadung (Dioscorea hispida
Dennst) dan tercampurnya koagulump dengan kotoran seperti tatal, daun, dan
karet kering yang berwarna hitam, sehingga petani karet dapat melakukan
beberapa kegiatan atau upaya dalam meningkatan kualitas karet.
Salah satu faktor lain yang dapat mempengaruhi karet alam adalah adanya
sumber risiko yang diakibatkan oleh penyakit. Penyakit yang sering terkena pada
tanaman menghasilkan (TM) karet alam adalah penyakit gugur daun kedua, jamur
akar putih (fomes), kering alur sadap (Brown bast), dan kerusakan kulit batang
karet (Bark Necrosis). Sujatno dan Pawirosoemardjo (2001) menjelaskan bahwa
penyebab penyakit jamur akar putih pada tanaman karet adalah jamur Rigidoporus
lignosus. Jamur ini termasuk kategori jamur yang bersifat parasit fakultatif yang
berarti dapat hidup pada jaringan tanaman yang telah mati dan tidak dapat
bertahan lama tanpa adanya sumber makanan. Oleh karena itu, penyakit ini dapat
timbul dikarenakan adanya sisa-sisa tunggul dan akar tanaman dilapangan,
sehingga dapat menular ke tanaman karet lain yang masih sehat. Gejala penyakit
ini ditandai dengan adanya perubahan warna daun secara mendadak, terutama
pada daun-daun muda.
Berbeda dengan jamur Fusarium sp. Jamur ini adalah penyebab penyakit
kerusakan kulit batang pada tanaman karet. Fusarium merupakan patogen tular
tanah (soil borne) yang mampu hidup dan bertahan lama dalam tanah
(Sumarmadji 2001). Penelitian Budiman dan Suryaningtyas (2001) menyatakan
bahwa tinggginya tingkat populasi jamur fusarium dapat diakibatkan oleh
penggunaan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam. Gejala penyakit ini
mulai timbul dengan adanya bercak-bercak coklat pada batang. Sedangkan
penyakit gugur daun disebabkan oleh jamur corynespora. Gejala yang
17

ditimbulkan oleh penyakit ini adalah daun akan berubah berwarna kuning,
menggulung, layu, dan kemudian akan gugur. Penelitian Nurhayati, Fatma, dan
Aminuddin (2010) menyatakan bahwa untuk klon yang tahan akan penyakit gugur
daun kedua adalah PB 260, sedangkan untuk klon yang rentan adalah IRR 39, GT
1, BPM 24, dan PR 261.
Penyakit kering alur sadap tidak diakibatkan oleh jamur, tetapi disebabkan
adanya gangguan fisiologis tanaman karet yang mengalami ketidakseimbangan
antara lateks yang dieksploitasi dengan lateks yang terbentuk kembali
(regenerasi/biosintesis). Tahap terakhir yang harus dilakukan adalah pohon harus
diistirahatkan terlebih dahulu. Gejala yang timbul adalah tidak mengalirnya lateks
apabila dideres atau disadap (Sumarmadji 2001).
Tehnik penyadapan atau penderes lateks terbagi atas dua cara, yaitu
dengan cara menderes ke arah bawah dan menderes ke arah atas. Setelah
melakukan pembukaan pertama deresan, penderes melanjutkannya dengan
menderes lateks ke arah bawah. Pohon karet yang telah selesai dideres dengan
ketentuan menderes ke arah bawah, maka akan dilanjutkan untuk menderes ke
arah atas. Penelitian Lukman (1996) menyatakan bahwa menderes ke arah atas
dapat mengurangi terjadinya penyakit kering alur sadap daripada menderes ke
arah bawah, tetapi disimpulkan tidak mempengaruhi kilogram karet kering lateks.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya produksi karet alam
adalah populasi tanaman karet. Siagian (2000) menyatakan bahwa semakin tinggi
populasi tanaman karet, maka akan semakin rendah produksi karet kering yang
dihasilkan, tetapi pengaruhnya tidak nyata dalam statistik.
Kesimpulan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan bahwa
terdapat banyak faktor-faktor yang mempengaruhi hasil produksi dan kualitas
karet. Persamaan penelitian ini terdapat pada penelitian Rachmawati (2003),
Setyoningsih (2005), dan Sitanggang (2011) yang menggunakan pendekatan
Ordinary Least Square (OLS) dan metode regresi linier berganda. Selain itu,
persamaan juga terdapat pada variabel yang diteliti penelitian ini adalah variabelvariabel penyakit yang dijelaskan pada penelitian Sujatno dan Pawirosoemardjo
(2001), Sumarmadji (2001), Budiman dan Suryaningtyas (2001), Nurhayati,
Fatma, dan Aminuddin (2010). Perbedaan penelitian ini terdapat pada variabel
18

faktor-faktor produksi yang diteliti, seperti jumlah pohon yang mati, curah hujan,
tenaga kerja yang melakukan kesalahan, jumlah blok yang terkena gugur daun
kedua, biaya perawatan Brown Bast/Bark Necrosis dengan variabel input produksi
yang diteliti oleh penelitian sebelumnya, seperti solar, listrik, pupuk, lahan, asam
semut, lump, dan silicon emulsion, dan ethrel. Tujuan penelitian ini juga menjadi
perbedaan, yaitu untuk melihat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi
karet alam, sedangkan penelitian Wiyanto (2009) yaitu untuk membandingkan
kualitas karet alam desa terprogram dengan desa tidak terprogram.

2.4

Gambaran Umum Alur Produksi Karet Alam
Faktor budidaya karet merupakan faktor penting yang harus diperhatikan

agar karet dapat tumbuh dengan baik. Karet yang tumbuh dengan teknik budidaya
yang baik dapat menghasilkan produksi karet maksimal dengan standar mutu yang
tinggi. Kualitas karet tersebut mengakibatkan harga jual menjadi lebih tinggi
sehingga keuntungan yang dihasilkan meningkat. Beberapa faktor budidaya karet
dapat dilihat pada Gambar 3 (Swadaya 2008) :
 

Pemilihan
lokasi

Pengolahan tanah dan
persiapan tanam

 

Penanaman bibit karet
dengan jenis klon yang
diinginkan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Peremajaan

Perawatan tanaman
menghasilkan meliputi
kegiatan :
1. Penyiangan
2. Pemupukan tanaman
4. Pemberantasan hama
dan penyakit

Perawatan tanaman
sebelum menghasilkan
meliputi kegiatan :
1. Penyulaman bibit
2. Penyiangan
3. Pemupukan tanaman
4. Seleksi dan
penjarangan tanaman
5. Pemeliharaan
tanaman penutup
tanah

Gambar 3. Tahapan Proses Produksi Karet Alam
Sumber : Swadaya (2008)

19

Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain, yaitu klon karet yang digunakan, kesesuaian
lahan dan agroklimatologi, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan, sistem
dan manajemen sadap, dan lain sebagainya. Estimasi produksi dapat didasarkan
pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau
Balai Penelitian Perkebunan yang bersangkutan. Produksi karet adalah lateks,
maka estimasi produksi per hektar per tahun dikonversikan ke dalam satuan getah
karet basah yang dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Estimasi Produksi Karet Kering dan Estimasi Produksi Lateks
Tahun
Estimasi Produksi
Estimasi Produksi
KKK
(Ton/Ha)
Lateks (Liter/Ha)
Umur (Thn)
Sadap
6
1
500
2.000
7
2
1.150
4.600
8
3
1.400
5.600
9
4
1.600
6.400
10
5
1.750
7.000
11
6
1.850
7.400
12
7
2.200
8.800
13
8
2.300
9.200
14
9
2.350
9.400
15
10
2.300
9.200
16
11
2.150
8.600
17
12
2.100
8.400
18
13
2000
8.000
19
14
1.900
7.600
20
15
1.800
7.200
21
16
1.650
6.600
22
17
1.550
6.200
23
18
1.450
5.800
24
19
1.400
5.600
25
20
1.350
5.400
26
21
1.200
4.800
27
22
1000
4.600
28
23
1.150
4.000
29
24
850
3.400
30
25
800
3.200
Sumber : Anwar (2000)
Catatan : Estimasi produksi didasarkan atas asumsi kadar karet kering (KKK) = 25%

20

III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1

Konsep Dasar Risiko
Memahami konsep risiko secara luas merupakan dasar yang sangat

penting untuk memahami konsep dan teknik manajemen risiko. Oleh karena itu,
dengan mempelajari berbagai definisi dari risiko diharapkan dapat memahami
konsep risiko secara jelas. Risiko adalah kemungkinan kejadian yang
menimbulkan kerugian (Harwood et al. 1999). Menurut Robison dan Barry
(1987), risiko adalah peluang terjadinya suatu kejadian yang dapat diukur dan
didasarkan pada pengalaman. Ketidakpastian (uncertainty) adalah peluang suatu
kejadian yang tidak bisa diramalkan. Pada umumnya peluang terhadap suatu
kejadian dapat ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan pengalaman
mengelola kegiatan suatu usaha. Menurut Kountur (2004) risiko merupakan suatu
keadaan yang tidak pasti yang dihadapi seseorang atau perusahaan yang dapat
memberikan dampak yang merugikan. Secara sederhana, risiko dapat diartikan
sebagai kemungkinan kejadian yang merugikan dan memiliki tiga unsur penting
bahwa risiko adalah (Kountur 2008):
1)

Merupakan suatu kejadian

2)

Kejadian tersebut masih merupakan kemungkinan

3)

Jika terjadi, makan akan menimbulkan kerugian
Pengaruh terjadi risiko atau terdapat kerugian dalam perusahaan dapat

diakibatkan dengan adanya kesalahan perusahaan dalam perumusan strategi untuk
meminimalisir risiko yang terjadi. Hal ini mengandung ketidakpastian sehingga
akan menimbulkan risiko bagi para pengambil keputusan dalam suatu perusahaan.
Sikap seorang pembuat keputusan dalam menghadapi risiko dapat diklasifikasikan
menjadi tiga kategori, sebagai berikut (Debertin 1986) :
1)

Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk averter)
Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan varian return yang
merupakan ukuran tingkat risiko maka pembuat keputusan akan
mengimbangi dengan menaikkan return yang diharapkan dan merupakan
ukuran tingkat kepuasan.
21

2)

Pembuat keputusan yang berani terhadap risiko (risk taker/lover)
Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan varian return yang
merupakan ukuran tingkat risiko maka pembuat keputusan akan
mengimbangi dengan menurunkan return yang diharapkan dan merupakan
ukuran tingkat kepuasan.

3)

Pembuat keputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral)
Sikap ini menunjukkan jika terjadi kenaikan varian return yang
merupakan ukuran tingkat risiko maka pembuat keputusan tidak akan
mengimbangi

dengan

menaikkan

atau

menurunkan

return

yang

diharapkan dan merupakan ukuran tingkat kepuasan.
3.1.2

Bentuk dan Sumber Risiko
Harwood et al. (1999) menyatakan bahwa risiko terdiri dari beberapa

sumber yang dapat mempengaruhi perusahaan baik langsung maupun tidak
langsung dalam bidang pertanian , yaitu :
1)

Risiko produksi
Sumber risiko yang berasal dari risiko produksi diantaranya adalah gagal
panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang (mutu tidak sesuai)
yang ditimbulkan oleh serangan hama penyakit, perbedaan iklim,
kesalahan sumberdaya manusia, dan lain-lain.

2)

Risiko pasar atau harga
Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang yang tidak
dapat dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah,
ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, dan persaingan,
sedangkan risiko yang ditimbulkan oleh harga antara lain, harga yang naik
karena inflasi.

3)

Risiko Kelembagaan
Risiko yang ditimbulkan dari kelembagaan antara lain terdapat aturan
tertentu yang membuat anggota suatu organisasi menjadi kesulitan untuk
memasarkan ataupun meningkatkan hasil produksinya.

22

4)

Risiko Kebijakan
Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan antara lain terdapat suatu
kebijakan tertentu yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha,
misalnya kebijakan tarif ekspor.

5)

Risiko Finansial
Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain, terdapat piutang
tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha terhambat,
putaran barang rendah, laba yang menurun karena krisis ekonomi dan lainlain.
Selain melihat dari sumber risiko tersebut, risiko juga dapat dibedakan dari

hal yang lain, seperti yang dinyatakan oleh Kountur (2008) bahwa risiko dapat
dibedakan dari beberapa sudut pandang, yaitu :
1)

Risiko dari sudut pandang penyebab
Apabila dilihat dari sebab terjadinya risiko, ada dua macam risiko yaitu
risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan adalah risiko
yang disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti harga, tingkat bunga,
dan mata uang asing. Risiko operasional adalah risiko-risiko yang
disebabkan oleh faktor-faktor non keuangan yaitu manusia, teknologi, dan
alam.

2)

Risiko dari sudut pandang akibat
Ada dua kategori risiko jika dilihat dari akibat yang ditimbulkan, yaitu
risiko murni dan risiko spekulatif. Suatu kejadian bisa berakibat merugikan
saja atau bisa berakibat merugikan atau menguntungkan. Suatu kejadian
yang hanya berakibat merugikan saja dan tidak memungkinkan adanya
keuntungan maka risiko tersebut adalah risiko murni, misalnya risiko
kebakaran. Risiko spekulatif adalah risiko yang tidak saja memungkinkan
terjadinya kerugian tetapi

memungkinkan pula terjadinya keuntungan,

misalnya risiko investasi.
3)

Risiko dari sudut pandang aktivitas
Ada berbagai macam aktivitas yang dapat menimbulkan risiko, seperti
pemberian kredit oleh bank risikonya disebut risiko kredit. Seseorang yang

23

melakukan perjalanan menghadapi risiko disebut risiko perjalanan.
Pemberian nama risiko dilihat dari faktor penyebabnya bukan aktivitas.
4)

Risiko dari sudut pandang kejadian
Risiko sebaiknya dinyatakan berdasarkan kejadiannya, seperti kejadian
kebakaran maka disebut risiko kebakaran. Suatu aktivitas pada umumnya
terdapat beberapa kejadian sehingga kejadian adalah salah satu bagian dari
aktivitas.
Suatu risiko dapat dilihat dari keempat sudut pandang ini. Misalnya risiko

kebakaran, dari sudut pandang penyebabnya, risiko kebakaran masuk ke dalam
kategori risiko operasional karena disebabkan oleh faktor-faktor operasional dan
bukan faktor keuangan. Selain itu, dari sudut pandang akibatnya, risiko kebakaran
masuk kategori risiko murni karena jika terjadi kebakaran, yang ada hanya rugi
saja. Akan tetapi dari sudut pandang aktivitas, risiko kebakaran dapat dimasukkan
sebagai salah satu bagian dari aktivitas, misalnya mengendarai mobil. Banyak
akivitas yang bisa menimbulkan kebakaran seperti memasang kabel listrik,
memasak, dan lain sebagainya.
3.1.3

Teori Risiko Produksi
Teori risiko produksi terlebih dahulu menjelaskan mengenai dasar teori

produksi. Serangkaian proses dalam penggunaan input yang ada untuk
menghasilkan suatu output (barang atau jasa) merupakan suatu kegiatan produksi.
Hubungan antara input yang digunakan dalam proses produksi dengan kuantitas
ouput yang dihasilkan dinamakan fungsi produksi (Lipsey et al. 1995). Menurut
Soekartawi (2003), produksi adalah perangkat prosedur dan kegiatan yang terjadi
dalam menciptakan komoditas berupa kegiatan usahatani maupun usaha lainnya
yang mengubah input menjadi output. Input merupakan bahan baku yang
digunakan atau diperlukan sebagai bahan dasar, sedangkan output adalah hasil
dari input tersebut yang berupa suatu produk atau barang.
Suatu proses produksi dalam teori produksi dapat digambarkan melalui
fungsi produksi. Soekartawi (2003) mendefinisikan fungsi produksi sebagai suatu
fungsi yang menggambarkan hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y)
dan variabel yang menjelaskan (X). Secara matematik fungsi produksi dapat
ditulis sebagai berikut:
24

Y = f (X1,X2,X3,...........Xn)
Dimana:
Y
Xn
f

= output atau produk
= input atau faktor produksi yang digunakan untuk memproduksi Y
= bentuk hubungan yang mentransformasikan input-input ke dalam
output.
Bentuk fungsi produksi dipengaruhi oleh “Hukum Kenaikan Hasil yang

Semakin Berkurang (Law of Diminishing Returns)” yang menjadi dasar dalam
ekonomi produksi (Debertin 1986). Hukum ini menjelaskan bahwa jika faktor
produksi dengan jumlah tertentu ditambahkan terus menerus pada sejumlah faktor
produksi tetap, akhirnya akan dicapai suatu kondisi di mana setiap penambahan
satu unit faktor produksi variabel akan menghasilkan tambahan produksi yang
besarnya semakin berkurang.
Fungsi produksi dikenal adanya istilah produk total, produk rata-rata dan
produk majinal. Ketiga istilah tersebut menunjukkan hubungan antara input
dengan output. Produk total (TP) adalah jumlah total yang diproduksi selama
periode waktu tertentu. Jika semua input kecuali satu faktor produksi dijaga
konstan, produk total akan berubah menurut banyak sedikitnya faktor produksi
variabel yang digunakan. Produk rata-rata (AP) adalah produk total dibagi dengan
jumlah unit faktor variabel yang digunakan untuk memproduksinya. Semakin
banyak faktor produksi variabel yang digunakan, produk rata-rata pada awalnya
akan meningkat dan kemudian menurun. Produk marjinal (MP) adalah perubahan
dalam produk total sebagai akibat adanya satu unit tambahan penggunaan variabel
(Lipsey et al. 1995).
Setiap para pengambil keputusan dalam suatu perusahan harus dapat
mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki untuk menghasilkan output sesuai
yang diharapkan perusahaan. Keputusan apapun yang telah ditentukan akan
memiliki risiko dan ketidakpastian dampak atau hasil dari keputusan tersebut.
Risiko produksi adalah risiko yang mengakibatkan terjadinya fluktuasi produksi
maupun pendapatan perusahaan. Implikasi risiko terhadap variasi pendapatan
dalam penggunaan input dan kategori pembuat keputusan yang dapat dilihat pada
Gambar 4.
25

Total Value Product Y (Rp)

0

X2

XE

X1

Input X

Gambar 4. Penggunaan Input dan Variasi Pendapatan Serta Kategori Pembuat
Keputusan
Sumber : Ellis (1993)

Keterangan :
TVP1 = Total value product in ’good’ years
TVP2 = Total value product in ’bad’ years
E(TVP) = Expected total value product
Gambar 4 menjelaskan dampak dari kondisi baik dan buruk dalam
penggunaan input yang dapat menghasilkan adanya variasi pendapatan dan akan
mendorong untuk seorang pembuat keputusan dalam mengalokasikan sumberdaya
yang digunakan. Total Value Product (TVP) menggambarkan penerimaan yang
didapatkan dari hasil produksi. Kondisi TVP terdiri dari tiga kondisi, yaitu TVP
pada penggunaan sejumlah input saat kondisi baik (TVP1), pada kondisi yang
diharapkan (E(TVP)), dan pada kondisi buruk (TVP2). Penambahan kurva Total
Cost (TC) bertujuan untuk memperlihatkan biaya pembelian input yang
meningkat. Terdapat tiga alternatif penggunaan input yang ditunjukkan oleh X1,
X2, XE dan terkait dalam risiko, yaitu :
1)

Input yang digunakan sebanyak X1. Hal ini menunjukkan jika kondisi
TVP1 terjadi pada saat kondisi yang baik, maka keuntungan terbesar akan
diperole

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Risiko Produksi Karet Alam di Kebun Aek Pamienke PT Socfindo, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Provinsi Sumatera Utara