Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah Pada Lahan Bekas Tambang Galian C Melalui Penimbunan Bahan Tanah Mineral dan Bahan Organik

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH PADA LAHAN BEKAS TAMBANG GALIAN C MELALUI
PENIMBUNAN BAHAN TANAH MINERAL DAN BAHAN ORGANIK TESIS
OLEH: ERIKWANTO 097001001/AET
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH PADA LAHAN BEKAS TAMBANG GALIAN C MELALUI
PENIMBUNAN BAHAN TANAH MINERAL DAN BAHAN ORGANIK
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pertanian di Program Studi Agroekoteknologi Program Pasca Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
OLEH: ERIKWANTO 097001001/AET
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis
Nama Mahasiswa Nomor Induk Program Studi

: RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH PADA LAHAN BEKAS TAMBANG GALIAN C MELALUI PENIMBUNAN BAHAN TANAH MINERAL DAN BAHAN ORGANIK
: Erikwanto
: 097001001
: Agroekoteknologi

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. B. Sengli J. Damanik, M.Sc) Ketua

(Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP) Anggota

Ketua Program Studi,

Dekan,

(Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MS)

(Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS)

Tanggal lulus : 12 Februari 2013

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada Tanggal 12 Februari 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua Anggota

: Prof. Dr. Ir. B. Sengli J. Damanik, M.Sc : 1. Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP 2. Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MS 3. Prof. Dr. Ir. Asmarlaili , MS. DAA 4. Dr. Deni Elfiati, SP. MP

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Erikwanto. Salah satu cara penanganan lahan bekas tambang yang telah rusak agar dapat digunakan kembali menjadi lahan pertanian adalah dengan melakukan reklamasi, melalui pemberian teknologi bahan pembenah tanah dan bahan organik. Penelitian tentang reklamasi lahan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan tanah mineral dari tanah timbunan insitu dan subsoil, mendapatkan jenis dan dosis bahan organik terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi pada lahan bekas tambang. Penelitian ini dilaksanakan dilahan bekas penambangan di Desa Durian Kondot, Kecamatan Kotarih, Kabupaten Serdang Bedagei, selama 6 bulan mulai Januari 2012-Juni 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi-terbagi (RPTT), dengan 3 faktor perlakuan, yaitu: Aplikasi penimbunan bahan tanah mineral sebagai petak utama yang terdiri atas 2 taraf , yaitu: penimbunan bahan tanah mineral insitu dan bahan tanah mineral subsoil; Aplikasi pupuk organik sebagai anak petak terdiri dari 2 taraf, yaitu: aplikasi pupuk kandang kambing dan aplikasi jerami padi; aplikasi dosis pupuk organik sebagai anak-anak petak yang terdiri 4 taraf, yaitu: 0 t.ha-1, 10 t.ha-1, 20 t.ha-1, 30 t.ha-1. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi penimbunan bahan tanah mineral insitu nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Aplikasi dosis pupuk organik hingga taraf dosis 30 t.ha-1 nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi dan taraf dosis 30 t.ha-1 memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding taraf dosis lainya. Interaksi penimbunan bahan tanah mineral insitu, bahan organikjerami padi dan dosis bahan organik 30 t.ha-1 nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah.
Kata kunci: reklamasi, bahan tanah mineral, bahan organik, pupuk kandang kambing, jerami padi
i
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Erikwanto. Reclamation as an method to managed post-mining area that damage by mining exploitation and make it useful for agriculture field by using soil amendment tecnology and organic matter. The aim of the reclamation research was to know the effect of hoarded insitu soil matter and subsoil matter, to determine the best organic matter and dose optimum of organic matter for the rice growth and production at post-mining area. The research was conducted in Durian Kondot village, district Kotarih and Serdang Bedagei district, for 6 months starting from January 2012- Juny 2012. The research method used is Split-split plot design, consists of three factors, hoarded mineral land matter as the main plot consists of 2 levels: used insitu mineral soil matter and subsoil mineral soil matter; organik matter as a sub plot consisting of 2 levels: goat manure and paddy straw; Doses of organik matter as split-split plot of consisting 4 levels: without the organik matter, 10 t.ha-1, 20 t.ha-1 and 30 t.ha-1. The results showed that the application insitu minerals soil matter (T0) increased the rice growth and production. Application doses organic matter at 30 t.ha-1 increased the rice growth and production and given higher yield compared with the other doses. Interaction among insitu soil matter, paddy straw and dose of 30 t.ha-1 influenced significantly the rice growth and production. Keywords: reclamation, mineral soil matter, organic matter, goat manure,
paddy straw
ii Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa pencipta alam semesta yang telah memberi berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan dalam bentuk Tesis berjudul “Respon Pertumbuhan dan produksi Tanaman Padi Sawah pada Lahan Bekas Tambang Galian C Melalui Penimbunan Bahan Tanah Mineral dan Bahan Organik”.
Penulis menyadari Tesis ini dapat selesai karena bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan segala ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTMH&H, M.Sc (CTM), Sp. A(K).,
selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS., selaku Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MS., selaku dosen penguji dan Ketua Program
Studi Magister (S2) Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Prof. Dr. Ir. B. Sengli J. Damanik, M.Sc., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang begitu banyak membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. 5. Ibu Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dengan segala kesabaran pada saat penelitian dan penulisan tesis.
iii Universitas Sumatera Utara

6. Ibu Prof. Dr. Ir Asmarlaili MS. DAA dan ibu Dr. Deni Elfiati, SP. MP., selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan kepada penulis.
7. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong yang telah berkenan memberikan kesempatan kepada penulis mengikuti tugas belajar pada Program Studi Magister (S2) Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
8. Para Dosen dan Staf dilingkungan Program Studi Magister (S2) Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
9. Penghargaan, penghormatan dan doa yang tulus kepada Ayahanda Timbul Sinaga (alm) dan Ibunda Bunga Inta Damanik (alm) yang telah mendidik dan membesarkan penulis.
10. Buat yang paling berperan dalam memotivasi penulis dalam menyelesaikan tesis ini, istriku tercinta dr. Lamriwati Pakpahan M.kes dan ketiga anakku tersayang Yohana, Fredrick dan Petra.
11. Rekan-rekan angkatan 2009 Program Studi Magister (S2) Agroekoteknologi.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurn. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga Kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua. Amin.
Medan, Maret 2013
Penulis
iv Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 04 Agustus 1973 di Desa Naga Raja, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagei, Provinsi Sumatera Utara. Penulis adalah anak ke tiga dari lima bersaudara dari Ayahanda Timbul Sinaga dan Ibunda Bunga Inta Damanik (alm). Pendidikan yang telah dilalui penulis adalah Sekolah Dasar di SD Negeri Haboko, Kecamatan Bandar Pulau, Kab. Asahan, lulus tahun 1986; Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Serbelawan, Kecamatan Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun, lulus tahun 1989; Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 2 Pematang Siantar, lulus tahun 1992; Kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Methodist Indonesia, jurusan Budidaya Pertanian lulus tahun 1998. Tahun 2009 diterima di Program Studi Pascasarjana Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Pada tahun 2008 diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu dan bertugas di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong hingga saat ini.
v Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN

ABSTRAK………………………………………………………………………. i

ABSTRACT……………………………………………………………………... ii

KATA PENGANTAR…………………………………………………………... iii

RIWAYAT HIDUP……………………………………………………………… v

DAFTAR ISI…………………………………………………………………….. vi

DAFTAR TABEL………………………………………………………………. viii

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………… x

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………. xi

PENDAHULUAN……………………….……………………….…………….. Latar Belakang………………………………………………………………. Perumusan Masalah………………………………………………………… Tujuan Penelitian…………………………………………………………… Hipotesis Penelitian………..……………….……………………………….. Kegunaan Penelitian.…………………………………………………………

1 1 3 4 4 5

TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………… Lahan Sawah………………………………………………………………… Bahan Organik……………………………………………………………… Pupuk Kandang…………………………………………………………. Jerami Padi………………………………………………………………

6 6 8 10 11

METODE PENELITIAN………………………………………………………. Tempat dan Waktu………………………………………………………… Bahan dan Alat……………………………………………………………… Metode Penelitian…………………………………………………………… Metode Analisa Data………………………………………………………… Pelaksanaan Penelitian……………………………………………………… Tahapan Reklamasi…………………………………………………… Tahapan Budidaya………………………………………………………

13 13 13 13 15 16 16 18

vi Universitas Sumatera Utara

Parameter Pengamatan………………………………………………….…… 20

HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………………….. Hasil Penelitian……………………………………………………………… Pembahasan………………………………………………………..…………

23 23 45

KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………………….. Kesimpulan………………………………………………………………….. Saran…………………………………………………………………….……

61 61 62

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 63 LAMPIRAN……………………………………………………………………... 67

vii Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

1. Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik pada Umur 2, 4, 6 dan 8 MST……………………………………………….…………... 24

2. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik terhadap Tinggi Tanaman Padi (cm) Umur 8 MST…………………………………………………………….……….. 25

3. Rata-rata Jumlah Anakan pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik pada Umur 2, 4 dan 6 MST…………………………………………………………………….. 27

4. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral dan Dosis Pupuk Organik terhadap Jumlah Anakan Tanaman Padi Umur 6 MST…………………………………………………………………….. 28

5. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik terhadap Jumlah Anakan Tanaman Padi Umur 6 MST…………………………………………………………………….. 28

6. Rata-rata Luas Daun pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik Umur 2, 4, 6 dan 8 MST…….. 30

7. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral dan Dosis Pupuk Organik terhadap Luas Daun Tanaman Padi Umur 8 MST…….……… 31

8. Rata-rata Berat Kering Tanaman pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik pada Umur 2,4,6 dan 8 MST…………………….………………………………….. 33

9. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik terhadap berat kering tanaman Umur 8 33 MST………………………………….…………………………………...

10. Rata-rata Laju Tumbuh Relatif pada perlakuan Penimbunan Bahan tanah mineral, pupuk organik dan dosis pupuk organik pada umur 2- 4 MST, 4-6 MST dan 6-8 MST…………………………………………………... 35

11. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral dan Dosis Pupuk

Organik terhadap Laju Tumbuh Relatif Umur 6-8 MST…….…………... 36

viii Universitas Sumatera Utara

12. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik terhadap Laju Tumnuh Relatif umur 6-8 MST. 36
13. Rata-rata Laju Asimilasi Bersih pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik pada Umur 24 MST, 4-6 MST dan 6-8 MST….……………………………………… 37
14. Serapan N, P dan K pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik pada Pengamatan 8 MST…… 38
15. Rata-rata Jumlah Anakan Produktif pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik Umur 120 Hari 40
16. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral dan Dosis Pupuk Organik terhadap Jumlah Anakan Produktif Umur 120 Hari….………… 40
17. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik terhadap Jumlah Anakan Produktif Umur 120 Hari………………………………………………………………………. 41
18. Rata-rata Produksi Per Plot pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik Umur 120 Hari…..… 42
19. Pengaruh Interaksi Penimbunan Bahan Tanah Mineral dan Dosis Pupuk Organik terhadap Produksi Per Plot Umur 120 Hari…..………………. 43
20. Rata-rata C-organik tanah pada Perlakuan Penimbunan Bahan Tanah Mineral, Pupuk Organik dan Dosis Pupuk Organik Umur 120 Hari……... 44
ix Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

1. Hubungan antara Perlakuan Taraf Dosis Pupuk Organik dengan Tinggi Tanaman umur 8 MST…………………………………………………. 25

2. Hubungan antara Perlakuan Taraf Dosis Pupuk Organik dengan Luas Daun umur 8 MST……………………………………………………… 31

x Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Teks

Halaman

1. Bagan Penelitian…………………………………………………………. 67

2. Deskripsi Padi Varietas Ciherang………………………………………… 68

3. Analisa Awal Tanah dari lahan Bekas Penambangan dan Tanah Mineral Subsoil 69 4. Analisa Kompos Jerami Padi dan Pupuk Kandang Kotoran Kambing……...…... 70 5. Rataan Tinggi Tanaman pada Umur 2, 4, 6 dan 8 MST………………………… 71 6. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman 2, 4, 6 dan 8 MST ……….………………. 72 7. Rataan Jumlah Anakan pada Umur 2, 4 dan 6 MST………………….….……... 74 8. Tabel Sidik Ragam Data Jumlah Anakan 2, 4 dan 6 MST …….……………….. 75 9. Rataan Luas Daun pada Umur 2, 4, 6 dan 8 MST…….…………………………. 77 10. Tabel Sidik Ragam Luas Daun 2, 4, 6 dan 8 MST .…………………………….. 78 11. Rataan Berat Kering Tanaman pada Umur 2, 4, 6 dan 8 MST…………………. 80 12. Tabel Sidik Ragam Berat Kering 2, 4, 6 dan 8 MST …….……………………… 81 13. Rataan LTR pada umur 2- 4,4- 6 dan 6-8 MST…………………………………. 83 14. Tabel Sidik Ragam LTR 2-4, 4-6 dan 6-8 MST………………………………… 84 15. Rataan LAB pada umur 2- 4, 4- 6 dan 6-8 MST………………………………... 86 16. Tabel Sidik Ragam LAB umur 2-4 MST..……………………………….. 87 17. Data Pengamatan Serapan N (mg.tanaman-1)…..……………………………… 89 18. Tabel Sidik Ragam Serapan N (mg.tanaman-1)…...…………………………… 89 19. Data Pengamatan Serapan P (mg.tanaman-1)………………………………….. 90 20. Tabel Sidik Ragam Serapan P (mg.tanaman-1)…………...……………………. 90

xi Universitas Sumatera Utara

21. Data Pengamatan Serapan K (mg.tanaman-1)……………...…………………… 91 22. Tabel Sidik Ragam Serapan K (mg.tanaman-1)……………...…………………. 91 23. Rataan Jumlah Anakan Produktif Umur 120 Hari...…………………………….. 92 24. Tabel Sidik Ragam Data Jumlah Anakan Produktif…………………………….. 92 25. Rataan Produksi Per Plot Umur 120 Hari ...…………………………………….. 93 26. Tabel Sidik Ragam Data Produksi Perplot (g)…………………………………... 93 27. Data Pengamatan C-Organik (%)………………………………………………... 94 28. Tabel Sidik Ragam C-Organik (%)…………………..…………………………. 94
xii Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Erikwanto. Salah satu cara penanganan lahan bekas tambang yang telah rusak agar dapat digunakan kembali menjadi lahan pertanian adalah dengan melakukan reklamasi, melalui pemberian teknologi bahan pembenah tanah dan bahan organik. Penelitian tentang reklamasi lahan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan tanah mineral dari tanah timbunan insitu dan subsoil, mendapatkan jenis dan dosis bahan organik terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi pada lahan bekas tambang. Penelitian ini dilaksanakan dilahan bekas penambangan di Desa Durian Kondot, Kecamatan Kotarih, Kabupaten Serdang Bedagei, selama 6 bulan mulai Januari 2012-Juni 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi-terbagi (RPTT), dengan 3 faktor perlakuan, yaitu: Aplikasi penimbunan bahan tanah mineral sebagai petak utama yang terdiri atas 2 taraf , yaitu: penimbunan bahan tanah mineral insitu dan bahan tanah mineral subsoil; Aplikasi pupuk organik sebagai anak petak terdiri dari 2 taraf, yaitu: aplikasi pupuk kandang kambing dan aplikasi jerami padi; aplikasi dosis pupuk organik sebagai anak-anak petak yang terdiri 4 taraf, yaitu: 0 t.ha-1, 10 t.ha-1, 20 t.ha-1, 30 t.ha-1. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi penimbunan bahan tanah mineral insitu nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Aplikasi dosis pupuk organik hingga taraf dosis 30 t.ha-1 nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi dan taraf dosis 30 t.ha-1 memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding taraf dosis lainya. Interaksi penimbunan bahan tanah mineral insitu, bahan organikjerami padi dan dosis bahan organik 30 t.ha-1 nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah.
Kata kunci: reklamasi, bahan tanah mineral, bahan organik, pupuk kandang kambing, jerami padi
i
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Erikwanto. Reclamation as an method to managed post-mining area that damage by mining exploitation and make it useful for agriculture field by using soil amendment tecnology and organic matter. The aim of the reclamation research was to know the effect of hoarded insitu soil matter and subsoil matter, to determine the best organic matter and dose optimum of organic matter for the rice growth and production at post-mining area. The research was conducted in Durian Kondot village, district Kotarih and Serdang Bedagei district, for 6 months starting from January 2012- Juny 2012. The research method used is Split-split plot design, consists of three factors, hoarded mineral land matter as the main plot consists of 2 levels: used insitu mineral soil matter and subsoil mineral soil matter; organik matter as a sub plot consisting of 2 levels: goat manure and paddy straw; Doses of organik matter as split-split plot of consisting 4 levels: without the organik matter, 10 t.ha-1, 20 t.ha-1 and 30 t.ha-1. The results showed that the application insitu minerals soil matter (T0) increased the rice growth and production. Application doses organic matter at 30 t.ha-1 increased the rice growth and production and given higher yield compared with the other doses. Interaction among insitu soil matter, paddy straw and dose of 30 t.ha-1 influenced significantly the rice growth and production. Keywords: reclamation, mineral soil matter, organic matter, goat manure,
paddy straw
ii Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN
Latar Belakang Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah dan perkembangan pembangunan yang terus meningkat akan berdampak pada perubahan penggunaan lahan pertanian ke penggunaan non pertanian. Widjanarko et al.(2001), menyebutkan ada 3 penyebab utama terjadinya perubahan penggunaan lahan pertanian yaitu (1) adanya perubahan rencana tata ruang wilayah, (2) adanya kebijaksanaan arah pembangunan, dan (3) karena mekanisme pasar. Dasar dari semua perubahan penggunaan lahan tersebut adalah “pemanfaatan terbaik dengan hasil tertinggi”. Penambangan bahan tambang galian C (batu dan pasir) di lahan pertanian produktif adalah salah satu bentuk kasus alih fungsi lahan pertanian. Hal ini telah berlangsung lama di Desa Durian Kondot, Kecamatan Kotarih-Kabupaten Serdang Bedagei dan di sepanjang aliran sungai ular. Lahan pertanian dan persawahan irigasi teknis yang sangat luas telah berubah menjadi areal penambangan dan menyebabkan luas lahan pertanian dan persawahan yang dapat dibudidayakan oleh masyarakat saat ini tinggal setengahnya saja. Bagi sebagian petani yang menggunakan kembali lahan pertanian mereka pasca penambangan menemui banyak permasalahan yang menyebabkan rendahnya produktifitas lahan pertanian mereka, yaitu: (1) rusaknya permukaan lahan (landscape) dan sistem irigasi, (2) rusaknya struktur tanah, (3) hilangnya sebagian lapisan tanah bagian atas dan menyisakan ketebalan tanah/lumpur 2040cm, (4) rendahnya kandungan hara dan bahan organik. Namun begitu, sebagian
Universitas Sumatera Utara

2
petani tetap berupaya menggunakan kembali lahan pertanian mereka. Hal ini didasari akibat meningkatnya kebutuhan petani akan bahan pangan khususnya beras sedangkan sumber penghasilan alternatif mereka tidak tersedia.
Kegiatan pertambangan mempunyai daya ubah lingkungan yang besar, sehingga memerlukan perencanaan total yang matang sejak tahap awal sampai pasca tambang. Menurut Atmojo (2006), dampak penggalian tanah sawah untuk galian C akan merusak tata air pengairan (irigasi dan drainase), juga akan terjadi kehilangan lapisan tanah bagian atas (top soil) yang relatif lebih subur, sehingga lahan sawah akan menjadi tidak produktif. Sedangkan Rahmawaty (2002) menyebutkan bahwa akibat dari aktifitas penambangan sering menimbulkan kondisi fisik, kimia dan biologis tanah menjadi buruk, seperti lapisan tanah tidak berprofil, terjadi bulk density, kekurangan unsur hara yang penting, pH rendah, pencemaran logam-logam berat , serta penurunan populasi mikroba tanah.
Salah satu cara penanganan lahan bekas tambang yang telah rusak agar kembali menjadi lahan pertanian yang produktif adalah dengan melakukan reklamasi lahan. Reklamasi lahan pasca penambangan dimaksudkan untuk merehabilitasi lahan pasca penambangan supaya dapat dimanfaatkan kembali menjadi lahan pertanian melalui pemberian teknologi bahan pembenah tanah, bahan organik dan pertanaman (revegetasi) sesuai dengan kemampuan teknis dan dana yang tersedia (Departemen Pertanian, 2009).
Amelioran yang umum digunakan dalam memperbaiki lahan pertanian yang telah rusak sebagai agen resiliensi adalah bahan organik insitu yang mudah didapat petani seperti pupuk kandang,pupuk hijau maupun bahan kompos lainnya.
Universitas Sumatera Utara

3
Penambahan bahan organik merupakan suatu tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman, meningkatkan ketersediaan beberapa unsur hara sehingga tercapai efisiensi pupuk (Adiningsih dan Rochayati, 1988). Hasil penelitian penggunaan bahan organik dapat meningkatkan produktivitas tanah dan efisiensi pemupukan serta mengurangi kebutuhan pupuk, terutama pupuk K. Menurut Arifin et al. (1993) pemberian 5,0 t.ha-1 jerami dapat menghemat pemakaian pupuk KCl sebesar 100 kg.ha-1.
Perumusan Masalah Salah satu cara penanganan dalam memulihkan lahan pertanian yang rusak akibat penambangan adalah dengan melakukan reklamasi lahan melalui pemberian teknologi bahan pembenah tanah dan bahan organik. Bahan pembenah tanah yang digunakan adalah bahan tanah mineral insitu dan bahan tanah mineral subsoil yang tersedia banyak dan tidak merusak ekosistem pertanian. Bahan organik yang digunakan adalah pupuk kandang kambing dan jerami padi, dimana semua bahan organik tersebut mudah didapat dan banyak tersedia (insitu) di desa Durian Kondot. Walau kesuburan tanah timbunan subsoil rendah dan dalam jangka pendek dapat mereduksi hasil tanaman padi sawah, tetapi dengan pemanfaatan bahan organik dan pengelolaan tata air yang benar diharapkan kemudian dapat memperbaiki kesuburan dan kesehatan tanah pasca penimbunan. Berdasarkan uraian diatas perlu diketahui pengaruh penimbunan bahan tanah mineral insitu dan subsoil yang diaplikasi jerami padi atau pupuk kandang
Universitas Sumatera Utara

4
kambing pada berbagai taraf dosis di lahan tambang galian C yang direklamasi menjadi lahan tanaman padi sawah.
Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaruh penimbunan bahan tanah mineral insitu dan
bahan tanah mineral subsoil terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi di lahan sawah bekas tambang galian C. 2. Untuk mendapatkan jenis dan dosis bahan organik terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi di lahan sawah bekas tambang galian C. 3. Untuk mengetahui interaksi antara penimbunan bahan tanah mineral, bahan organik dan dosis bahan organik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi di lahan sawah bekas tambang galian C.
Hipotesis Penelitian 1. Penimbunan bahan tanah mineral insitu mampu meningkatkan pertumbuhan
dan hasil tanaman padi sawah. 2. Pemberian jerami padi dan pupuk kandang kambing mampu meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah. 3. Terdapat dosis optimum dari bahan organik yang dapat meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah. 4. Terdapat interaksi antara pemberian bahan organik dan dosis bahan organik
dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah.
Universitas Sumatera Utara

5
5. Terdapat interaksi antara penimbunan bahan tanah mineral dan bahan organik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah.
6. Terdapat interaksi antara penimbunan bahan tanah mineral dan dosis bahan organik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah.
7. Terdapat interaksi antara penimbunan bahan tanah mineral, bahan organik dan dosis bahan organik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah. Kegunaan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh penimbunan bahan tanah mineral insitu dan bahan tanah subsoil, mendapatkan jenis bahan organik dan taraf dosis yang paling tepat dalam mereklamasi lahan bekas tambang.
2. Sebagai bahan informasi dan kajian bagi pihak-pihak yang memerlukan dalam pelaksanaan reklamasi lahan khususnya pada reklamasi lahan sawah yang rusak akibat proses penambangan galian C.
Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA
Lahan Sawah Lahan sawah adalah suatu tipe penggunaan lahan, yang untuk pengelolaannya memerlukan genangan air. Oleh karena itu sawah selalu mempunyai permukaan datar atau yang didatarkan, dan dibatasi oleh pematang untuk menahan air genangan (Sofyan et al, 2007). Berdasarkan sumber air yang digunakan dan keadaan genangannya, sawah dapat dibedakan menjadi 4 jenis yaitu: (Sofyan et al, 2007) 1. Sawah irigasi, yaitu sawah yang sumber airnya berasal dari tempat lain melalui saluran-saluran yang sengaja dibuat untuk itu. Dibedakan atas sawah irigasi teknis, setengah teknis dan sawah irigasi sederhana. 2. Sawah tadah hujan, yaitu sawah yang sumber airnya tergantung atau berasal dari curah hujan tanpa adanya bangunan-bangunan irigasi permanen. Umumnya terdapat pada wilayah yang posisinya lebih tinggi dari sawah irigasi atau sawah lainnya sehingga tidak memungkinkan terjangkau oleh pengairan. Waktu tanam sangat tergantung kepada datangnya musim hujan. 3. Sawah pasang surut, yaitu sawah yang irigasinya tergantung pada gerakan pasang dan surut serta letaknya di wilayah datar tidak jauh dari laut. Sumber airnya berasal dari air sungai yang karena adanya pengaruh pasang dan surut air dimanfaatkan untuk mengairi melalui saluran irigasi dan drainase. 4. Sawah lebak, yaitu sawah yang diusahakan didaerah rawa memanfaatkan naik turunnya permukaan air rawa secara alami, sehingga dalam sistem sawah lebak tidak dijumpai sistem saluran air.
Universitas Sumatera Utara

7
Tanah sawah memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain (Musa et al, 2006): adanya lapisan oksida dan lapisan reduksi, berkurangnya oksigen tanah, pH tanah cenderung netral (6,7-7,2), Ferri direduksi menjadi ferro, ketersediaan P lebih tinggi akibat penggenangan, keracunan sulfida terjadi bila penggenangan cukup lama.
Penggenangan pada sistem usaha tani tanah sawah secara nyata akan mempengaruhi perilaku unsur hara esensial dan pertumbuhan serta hasil padi. Perubahan kimia yang terjadi sangat mempengaruhi dinamika dan ketersediaan hara padi. Transformasi kimia yang terjadi berkaitan erat dengan kegiatan mikroba tanah yang menggunakan oksigen sebagai sumber energinya dalam proses respirasi. Pada tanah tergenang terjadi perubahan kimia dan elektrokimia yang dapat merugikan pertumbuhan tanaman. Perubahan tersebut diantaranya adalah: (1) turunnya potensial redoks, dan (2) reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ dan Mn4+ menjadi Mn2+ yang dapat meracuni tanaman (Ismunadji dan Roechan, 1988).
Penggenangan juga menyebabkan terjadinya perubahan pH tanah. Pada tanah mineral masam mengakibatkan nilai pH tanah akan meningkat dan pada tanah basa akan mengakibatkan nilai pH tanah menurun mendekati netral. Pada saat penggenangan pH tanah akan menurun selama beberapa hari pertama, kemudian mencapai minimum dan beberapa hari kemudian pH akan meningkat kembali secara asimtot untuk mencapai nilai pH yang stabil sekitar 6,7-7,2 (Hartatik et al, 2007).
Tanah tergenang menyebabkan persediaan oksigen menurun sampai mencapai nol dalam dalam waktu kurang dari sehari (Sanchez, 1993; Reddy,
Universitas Sumatera Utara

8
1999). Laju difusi oksigen udara melalui lapisan air 10 ribu kali lebih lambat daripada melalui pori yang berisi udara. Mikroba aerob dengan cepat akan menghabiskan udara yang tersisa dan menjadi tidak aktif lagi lalu mati. Mikrobia fakultatif anaerob dan obligat aerob kemudian mengambil alih dekomposisi bahan organik tanah dengan menggunakan komponen tanah teroksida (nitrat, Mn, Feoksida dan sulfat) atau hasil penguraian bahan organik (fermentasi) sebagai penerima elektron dalam pernapasan (Sanchez, 1993; Kyuma, 2004).
Bahan Organik Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara yang tersedia bagi tanaman. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen, limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota. Kompos merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman dan hewan hasil perombakan oleh fungi, aktinomisetes, dan cacing tanah. Pupuk hijau merupakan keseluruhan tanaman hijau maupun hanya bagian dari tanaman seperti sisa batang dan tunggul akar. Pupuk kandang merupakan kotoran ternak. Limbah ternak merupakan limbah dari rumah potong berupa tulang-tulang, darah, dan sebagainya. Limbah industri merupakan limbah industri yang berasal dari limbah pabrik gula, limbah pengolahan kelapa sawit, penggilingan padi, limbah bumbu masak, dan sebagainya (Simanungkalit et al, 2006). Pupuk organik memiliki banyak manfaat ditinjau dari beberapa aspek
Universitas Sumatera Utara

9
Deptan, 2009): a) Aspek Ekonomi : 1) Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah; 2) Mengurangi volume/ukuran limbah; 3) Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya; b) Aspek lingkungan : 1) Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah; 2) Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan; dan c) Aspek bagi tanah/tanaman: 1) Meningkatkan kesuburan tanah; 2) Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah; 3) Meningkatkan kapasitas jerap air tanah; 4) Meningkatkan aktivitas mikroba tanah; 5) Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen); 6) Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman; 7) Menekan pertumbuhan /serangan penyakit tanaman; dan 8) Meningkatkan retensi /ketersediaan hara.
Beberapa aspek peran penting yang berkaitan dengan bahan organik dalam kesuburan tanah (Musa et al, 2006): (1) sumber dan cadangan unsur hara dalam bentuk organik yaitu bagi unsur hara N, P dan S, (2) mempunyai sifat memiliki muatan yang merupakan tempat pertukaran kation, (3) mempengaruhi sifat fisis dan kimia tanah dengan memfasilitasi agregat dengan partikel mineral, terutama liat (4) memodifikasi struktur fisis tanah dan mempengaruhi keadaan air, (5) merupakan sumber energy bagi biota tanah sehingga mempengaruhi banyak proses mediated secara biologi di dalam tanah, dan (6) pengaruh tidak langsung lainnya berkenaan dengan karbondioksida yang dilepaskan selama dekomposisi bahan organik.
Bahan organik merupakan sumber energi untuk aktifitas mikroorganisme tanah. Pemberian bahan organik pada lahan sawah menyebabkan nilai Eh tanah
Universitas Sumatera Utara

10

turun atau kondisi tanah dan air genangan semakin reduktif. Penurunan nilai Eh menyebabkan reaksi reduksi berjalan sehingga kadar kadar kation Fe II meningkat baik dalam tanah maupun air genangan (Nursyamsi dan Suryadi, 2000). Besarnya nilai Eh berpengaruh terhadap ketersediaan unsur-unsur hara. Eh rendah meningkatkan ketersediaan P, K, Fe, Mn, dan Si tetapi mengurangi ketersediaan S dan Zn.

Pupuk kandang

Pupuk kandang merupakan campuran dari kotoran padat air seni, amparan,

dan sisa makanan ternak. Susunan kimia dari pupuk kandang berbeda-beda dari

tempat ke tempat lainnya, tergantung dari; (1) spesies ternak (Tabel 1), (2) umur

dan keadaan ternak, (3) sifat dan jumlah amparan, (4) cara penyimpanan

pupuk sebelum dipakai (Soepardi, 1983).

Tabel 1. Susunan kimia kotoran hewan ternak yang mempunyai kandungan zat

hara yang berbeda-beda sesuai dengan jenis hewannya:

Jenis

Bentuk kotoran

H2O

N

P2O5

K2O

Hewan

(%)

(%) (%) (%) (%)

Kuda Padat

80 75 0,55 0,30 0,40

Urine

20 90 1,35 Trace 1,25

Keseluruhan

78 0,70 0,25 0,55

Sapi Padat

70 85 0,40 0,20 0,10

Urine

30 92 1,00 Trace 1,35

Keseluruhan

86 0,60 0,15 0,45

Domba Padat

60 60 0,75 0,50 0,45

Urine

40 85 1,35 0,05 2,10

Keseluruhan

68 0,95 0,35 0,45

Babi Padat

60 80 0,55 0,50 0,40

Urine

40 97 0,40 0,10 0,45

Keseluruhan

87 0,50 0,35 0,40

Ayam Keseluruhan

55 1,00 0,80 0,40

Sumber : Musa et al, 2006

Universitas Sumatera Utara

11

Pupuk kandang dinilai mempunyai kelebihan dibanding dengan bahan organik lainnya. Selain mengandung berbagai unsur hara makro dan mikro juga dapat menurunkan potensial redoks (Eh) dan dapat menurunkan tingkat keracunan unsur toksis melalui fungsinya sebagai agen khelasi (Noor et al, 2005).

Jerami Padi

Jerami padi adalah batang padi yang ditinggalkan termasuk daun sesudah

diambil buahnya yang masak. Manfaat kompos jerami tidak hanya dilihat dari

sisi kandungan hara saja. Kompos juga memiliki kandungan C-organik yang

tinggi. Penambahan kompos jerami akan menambah kandungan bahan organik

tanah. Pemakaian kompos jerami yang konsisten dalam jangka panjang akan

dapat menaikkan kandungan bahan organik tanah dan mengembalikan kesuburan

tanah.

Tabel 2. Kandungan hara jerami dan potensinya dalam mensubstitusi pupuk anorganik

Nutrisi Kandungan kg/ton

(%) jerami

C-Org

40-43%

N

0,5-0,8

6,5

P

0,07-0,12

1,0

K

1,2-17

14,5

Ca 0,6

6

Mg 0,2

2

S

4,0-7,0

55

S 0,10

1

Sumber : Simarmata dan Joy (2012)

setara dalam 5 ton Jerami kg kg ha-1

14,13 13,19 24,17 30,00 10,00 275
5

70,7 66,0 120,8

Ket.
Urea SP-36 KCL

Sedangkan Isroi (2009) menyebutkan bahwa kompos jerami memiliki

kandungan hara setara dengan 41,3 kg Urea, 5.8 kg SP36, dan 89,17 kg KCl per

ton kompos atau total 136,27 kg NPK per ton kompos kering. Jumlah hara ini

Universitas Sumatera Utara

12
kurang lebih dapat memenuhi lebih dari setengah kebutuhan pupuk kimia petani. Las et al. (1999) menyatakan bahwa dalam meningkatkan produksi padi perlu di lakukan pelestarian lingkungan produksi, termasuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah dengan memanfaatkan jerami padi.
Bahan organik tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki beberapa peranan kunci di tanah. Peranan-peranan kunci bahan organik tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: (Isroi, 2009) A. Fungsi Biologi: (1) menyediakan makanan dan tempat hidup (habitat) untuk
organisme (termasuk mikroba) tanah, (2) menyediakan energi untuk prosesproses biologi tanah dan (3) memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah. B. Fungsi Kimia: (1) merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah, (2) penting untuk daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah, dan (3) menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K. C. Fungsi Fisika: (1) mengikat partikel-partikel tanah menjadi lebih remah, (2) meningkatkan stabilitas struktur tanah, (3) meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air.
Universitas Sumatera Utara

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di lahan bekas tambang galian C di Desa Durian Kondot, Kecamatan Kotarih, Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2012 sampai Juni 2012.
Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah bibit padi ciherang, bahan tanah mineral insitu, bahan tanah mineral subsoil, pupuk kandang kambing, jerami padi, pupuk Urea (N 46%), pupuk SP-36 (P2O5 36%), pupuk KCl (K2O 60%), pupuk cair Golden Plant, pestisida, fungisida dan bahan-bahan penunjang lainnya. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah timbangan, pisau, cangkul, parang babat, ember, meteran, tali plastik, oven, alat tulis menulis dan alat-alat penunjang lainnya.
Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Petak-petak Terbagi (Split Split Plot Design), menggunakan 3 faktor perlakuan dan 3 ulangan: 1. Faktor A Aplikasi penimbunan bahan tanah mineral (T) yang terdiri atas 2 taraf sebagai petak utama: • T0 = Penimbunan bahan tanah mineral insitu • T1 = Penimbunan bahan tanah mineral subsoil
Universitas Sumatera Utara

14

2. Faktor B

Aplikasi pupuk organik (O) yang terdiri atas 2 taraf sebagai anak petak:

• O1 = Aplikasi pupuk kandang kambing

• O2 = Aplikasi jerami padi 3. Faktor C

Aplikasi Dosis pupuk organik (D) yang terdiri atas 4 taraf sebagai anak-anak

petak:

• D0 = 0 t.ha-1 • D1 = 10 t.ha-1 • D2 = 20 t.ha-1 • D3 = 30 t.ha-1 Jumlah perlakuan

= 16

Jumlah ulangan

=3

Jumlah plot

= 48

Ukuran plot

= 3mx3m

Jarak antar petak utama

= 0,5 m

Jarak antar anak petak

= 0,3 m

Jarak antar ulangan

= 1m

Jarak tanaman

= (25 cm x 12,5 cm) x 50 cm bershap 2.

Jumlah rumpun/plot

= 8 x 22 = 176 rumpun/plot

Jumlah rumpun seluruhnya = 8448 rumpun

Jumlah tanaman sampel

= 5 tanaman

Universitas Sumatera Utara

15

Metode Analisa Data

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam berdasarkan model linear

sebagai berikut:
Yijk l=µ+Kl+αi+γil+βj+(αβ)ij + Rijl+∁Rk+(α∁)ik+(β∁)jk+(αβ∁)ijk+εijkl

Yijkl = Hasil pengamatan pada ulangan ke-l dari kombinasi aplikasi

bahan tanah mineral pada taraf ke-i, aplikasi pupuk organik pada

taraf ke-j dan aplikasi dosis bahan organik pada taraf ke-k

µ = Nilai tengah umum

Kl = Pengaruh ulangan ke-l

αi = Pengaruh aplikasi bahan tanah mineral pada taraf ke-i

γil = Pengaruh galat petak utama pada aplikasi bahan tanah mineral

pada taraf ke-I dalam ulangan ke-l

βj = Pengaruh aplikasi pupuk organik pada taraf ke-j

(αβ)ij

= Interaksi aplikasi bahan tanah mineral pada taraf ke-i dan aplikasi

pupuk organik pada taraf ke-j
Rijl = Pengaruh galat anak petak pada interaksi perlakuan ke-ij dalam
ulangan ke-l ∁kR = Pengaruh aplikasi dosis pupuk organik pada taraf ke-k

(α∁)ik

Interaksi aplikasi bahan tanah mineral pada taraf ke-I dan aplikasi

(β∁)jk

dosis pupuk organik pada taraf ke-k = Interaksi aplikasi pupuk organik pada taraf ke-j dan aplikasi dosis

pupuk organik pada taraf ke-k

(αβ∁)ijk = Interaksi aplikasi bahan tanah mineral pada taraf ke-I, aplikasi

Universitas Sumatera Utara

16
pupuk organik pada taraf ke-j dan aplikasi dosis pupuk organik pada taraf ke-k
εijkl = Pengaruh galat anak-anak petak pada interaksi perlakuan ke-ijk
dalam ulangan ke-l Dari hasil penelitian pada perlakuan, jika berpengaruh nyata akan dilanjutkan dengan uji beda nyata Duncan dengan taraf 5% (Gomez and Gomez, 2007).
Pelaksanaan Penelitian A. Tahapan Reklamasi 1. Pembersihan lahan
Lahan dibersihkan dari semak belukar dan sisa-sisa penambangan. Dalam pembersihan lahan menggunakan metode tanpa bakar (zero burning). 2. Konstruksi fisik Konstruksi fisik meliputi antara lain : • Perataan lahan (Contour Leveling)
Permukaan lahan yang bergelombang akibat proses penambangan, harus diratakan terlebih dahulu dengan menggunakan cangkul. • Pengukuran dan pengacakan plot penelitian Setelah lahan bersih dan permukaannya rata, dilakukan pengukuran lahan dimana setiap plot percobaan menggunakan ukuran 3 m x 3 m. Jarak antar petak utama 0,5 m, jarak antar anak petak 0,3 m dan jarak antar blok (ulangan) 1 m. Pengukuran sebaiknya mempertimbangkan kondisi lahan
Universitas Sumatera Utara

17
sehingga posisi barisan tanaman nantinya sejajar timur-barat arah mata angin. Lahan yang telah di ukur dilakukan pengacakan untuk menentukan urutan petak utama, anak petak dan anak-anak petak. • Pembuatan saluran air (draenase). Saluran air awalnya dibuat sementara untuk mengeringkan lahan dari genangan air akibat permukan lahan yang bergelombang. Selanjutnya dibuat saluran air permanen yang alirannya melalui batas ketiga blok/ulangan percobaan. • Pembuatan pematang sawah Pematang sawah dibuat dengan ukuran sesuai jarak antar anak-anak petak, anak petak dan antar petak utama dengan ketinggian pematang 30 cm dari permukaan lahan. • Aplikasi bahan tanah mineral Lahan sawah diratakan terlebih dahulu sebelum aplikasi bahan tanah mineral. Aplikasi penimbunan bahan tanah mineral T0 dan T1 dilakukan dengan penimbunan bahan tanah mineral masing-masing setebal 10 cm (1,638 ton/plot) sesuai bagan percobaan. Setelah aplikasi penimbunan bahan tanah mineral, lahan sawah di inkubasi selama 4 minggu.. • Pengolahan tanah dan aplikasi bahan organi Bahan organik pupuk kandang kambing dan jerami padi diaplikasikan pada saat pengolahan tanah. Bahan organik yang diberikan sebanyak 12 kg/plot percobaan yang pengaplikasiannya berdasarkan bagan penelitian. Kemudian sawah dibajak menggunakan handtraktor untuk membalik tanah
Universitas Sumatera Utara

18
dan memasukkan bahan organik yang ada di permukaan sawah. pembajakan kedua dilakukan 3-5 hari menjelang tanam. Permukaan tanah sawah diratakan, dan gumpalan tanah dihancurkan dengan cara menggaru. Permukaan tanah yang rata dapat dibuktikan dengan melihat permukaan air di dalam petak sawah yang merata.
B. Tahapan Budidaya 1. Persiapan lahan persemaian
Lahan persemaian dipersiapkan dengan luas 20 m2 (4 m x 5 m). Untuk setiap m2 bedengan dicampur dengan 2 kg bahan organik (kompos, pupuk kandang, serbuk gergaji, abu sekam padi atau campuran berbagai bahan organik tersebut). Penambahan bahan organik memudahkan pencabutan bibit padi sehingga kerusakan akar bisa dikurangi. 2. Persemaian Benih direndam di dalam air yang berjalan selama 24 jam diikuti dengan inkubasi selama 48 jam sebelum ditabur dipersemaian. Benih yang mulai berkecambah ditabur secara merata diatas permukaan tanah dan disiram setiap hari hingga bibit dapat dipindahkan. 3. Penanaman Setelah bibit berumur 21 hari dilakukan transplanting bibit tanaman ke lahan sawah sebanyak 3 tanaman per lobang. Sistem tanam yang digunakan adalah dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo bershap 2 dengan jarak tanam (25 cm x 12,5 cm) x 50 cm.
Universitas Sumatera Utara

19
4. Pengelolaan air Pengelolaan air dilakukan dengan sistem irigasi terputus (intermitten irrigation). Setelah bibit ditanam (kondisi jenuh air), sawah baru digenangi kembali setelah 3 hari. Selanjutnya dilakukan pergiliran air dengan selang waktu 3 hari dengan tinggi genangan sekitar 3 cm. Cara ini dipertahankan terus sampai tanaman padi mencapai fase anakan maksimal. Sawah selanjutnya digenangi terus mulai dari fase pembentukan malai hingga pengisian biji. Sawah baru dikeringkan kembali sekitar 10-15 sebelum panen.
5. Penyiangan dan penyulaman Penyiangan dilakukan dua kali yaitu: (1) penyiangan pertama umur 3 minggu setelah tanam, dan (2) penyiangan kedua umur 6 minggu setelah tanam. Penyiangan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: (1) dicabut dengan tangan, kemudian dipendan dalam tanah, (2) menggunakan alat siang (gasrok), dan (3) menggunakan herbisida. Apabila ada tanaman yang mati, diadakan penyulaman (umur 1-2 minggu) dengan cara: (1) menggunakan bibit dari persemaian dengan umur bibit yang sama, dan (2) dengan menyapih tanaman yang sudah tumbuh.
6. Pengelolaan hara Penggunaan pupuk anorganik digunakan secara merata pada semua plot percobaan. Pupuk anorganik yang digunakan adalah Urea (300 kg/ha), SP-36 (100 kg/ha) dan KCl (100 kg/ha). Pupuk diberikan pada umur 7-10 HST, 21 HST dan 42 HST. Pada 7-10 HST diberikan sebanyak 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 50kg KCL per ha; Pada 21 HST diberikan sebanyak 75 kg Urea per
Universitas Sumatera Utara

20
hektar dan pada 42 HST diberikan 75 kg Urea dan 50 kg KCl per ha. Pupuk cair Golden Plant diaplikasi sebanyak dua kali bersamaan dengan penggunaan pestisida, yaitu pada saat 21 dan 42 HST.
Parameter Pengamatan A. Parameter Tanah
1. Analisa awal • Pengukuran pH, C-organik, KB dan KTK tanah asal bekas tambang • Pengukuran pH, C-organik, KB dan KTK bahan tanah subsoil • Pengukuran C-organik, N, P, dan K jerami padi dan pupuk kandang kambing
2. Setelah Panen, yaitu pengukuran C-organik
B. Parameter Tanaman 1. Tinggi Tanaman Diukur mulai dari permukaan tanah hingga ujung daun tertinggi. Pengukuran dilakukan mulai dari tanaman berumur 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam (MST). 2. Jumlah Anakan Diukur dengan menghitung jumlah anakan yang muncul pada umur 2, 4 dan 6 MST. 3. Luas Daun Total luas daun dihitung dengan menggunakan Leaf Area Meter pada 5
Universitas Sumatera Utara

21

sampel destruktif pada umur 2, 4, 6 dan 8 MST. 4. Bobot Kering Tanaman, Jerami dan Akar
Sebanyak 5 tanaman sampel destruktif dicabut sampai akarnya. Kemudian dibersihkan dengan air bersih dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 650C. Hasilnya ditimbang setelah didapati bobot tanaman konstan. Pengukuran bobot kering sampel destruktif dilakukan pada umur 2, 4, 6 dan 8 MST. 5. Laju Tumbuh Relatif (LTR) Laju tumbuh relative (LTR) atau Relative Growth Rate (RGR) ditentukan dengan menggunakan rumus:

Dimana:

LTR

= (LnW2-LnW1 (T2-T1)

W1 Bobot kering tanaman pada waktu T1

=

W2 Bobot kering tanaman pada waktu T2 =

T = Waktu (minggu)

Pengukuran laju LTR dilakukan pada 5 tanaman sampel destruktif pada

umur 2, 4, 6 dan 8 MST.

6. Laju Asimilasi Bersih (LAB)

Laju Asimilasi Bersih (LAB) dinyatakan sebagai peningkatan bobot kering

tanaman untuk setiap satuan luas daun dalam waktu tertentu.Nilai LAB

dihitung dengan rumus:

LAB = (W2-W1) . (LnA2-

Universitas Sumatera Utara

Dimana:

(T2-T1)

LnA1) (A1-A2)

22

W1 Bobot kering tanaman pada waktu T1 = W2 Bobot kering tanaman pada waktu T2 = A1 = Luas daun pada waktu T1 A2 = Luas daun pada waktu T2 T = Waktu (minggu) Pengukuran laju LAB dilakukan pada 5 tanaman sampel destruktif pada umur 2, 4, 6 dan 8 MST. 7. Pengukuran Serapan hara N, P dan K Serapan hara diukur pada akhir pertumbuhan vegetatif t

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

99 3015 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 767 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 662 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 432 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 587 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 983 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 901 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 548 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 802 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 971 23