20
2. Tujuan khusus
1 Menyediakan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan
berkualitas, termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil, konseling KB dan pemberian ASI.
2 Menghilangkan “missed opportunity” pada ibu hamil dalam
mendapatkan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif, dan berkualitas.
3 Mendeteksi secara dini kelainanpenyakitgangguan yang diderita ibu
hamil. 4
Melakukan intervensi terhadap kelainanpenyakitgangguan pada ibu hamil sedini mungkin.
5 Melakukan rujukan kasus ke fasiltas pelayanan kesehatan sesuai dengan
sistem rujukan yang ada.
2.1.2.3 Fungsi Pelayanan Antenatal
Menurut Erica Royston dan Sue Amstrong 2011 : 158-162 fungsi pelayanan antenatal adalah sebagai berikut :
1. Promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana dan aktivitas
pendidikan. Pendidikan kesehatan selama pelayanan antenatal dapat diberikan secara
individu dan informal atau lebih sistematis dalam kelompok. Materi pendidikan mencakup topik umum seperti gizi dan perawatan selama
kehamilan. Kesempatan itu harus digunakan untuk memberikan informasi pada wanita mengenai tanda yang berbahaya dalam kehamilan, termasuk
21
langkah yang harus diambil pada keadaan tersebut. Tanda itu antara lain yaitu pembengkakan kaki, wajah, dan tangan, perdarahan vagina, serta
ketuban pecah dini. Informasi penting lainnya yang harus diberikan adalah bahwa setiap wanita
yang sebelumnya pernah mengalami operasi seksio sesaria harus melahirkan di rumah sakit. Persalinan tidak boleh lebih dari 12 jam tanpa pertolongan
medis. Hubungan seksual selama kehamilan bulan terakhir, dapat juga menjadi bahasan yang tepat karena berkaitan dengan bahaya ketuban pecah
dini. Disamping itu, pendidikan pelayanan antenatal harus mencakup periode pasca persalinan, perawatan dan gizi bayi, pemberian ASI, dan
saran mengenai pengendalian kehamilan. 2.
Melakukan skrining dan identifikasi wanita dengan kehamilan risiko tinggi dan merujuknya jika perlu.
Tujuan utama melakukan skrining faktor risiko adalah untuk mendeteksi wanita yang mempunyai risiko tinggi untuk mengalami komplikasi
kehamilan guna dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Hal itu dilakukan melalui penilaian yang lebih akurat pada periode kehamilan, di
samping juga untuk menjaga keamanan persalinan yang berpotensi sulit. 3.
Memantau kesehatan selama kehamilan dalam usaha mendeteksi dan menangani masalah yang terjadi.
Diantara fungsi pemantauan pelayanan antenatal yang penting adalah pencegahan, deteksi, dan pengobatan anemia yang berperan penting dalam
kesakitan dan kematian ibu. Salah satu fungsi lainnya yaitu deteksi dan
22
penanganan hipertensi yang ditimbulkan oleh kehamilan. Keadaan itu dapat dideteksi pada stadium yang masih dini dengan mengukur tekanan darah
secara periodik, memeriksa pembengkakan jaringan, khususnya di daerah tungkai bagian bawah, mendeteksi kenaikan berat badan yang mendadak,
atau mencatat adanya gejala awal seperti nyeri kepala yang berat. Fungsi pelayanan antenatal yang penting lainnya adalah rujukan segera
wanita yang mengalami perdarahan pervagina ke rumah sakit. Banyak kematian akibat perdarahan antepartum disebabkan oleh retensio plasenta
atau plasenta previa. Pelayanan antenatal juga harus meliputi penentuan posisi janin yang berusia delapan bulan atau lebih, guna mendeteksi
presentasi bokong atau letak lintang yang selama persalinan memerlukan tenaga profesional.
2.1.2.4 Standar Pelayanan Antenatal