Variasi Spasial dan Temporal Struktur Komunitas Makrozoobentos di Daerah Estuari Pantai Mayangan, Jawa Barat.

1

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ekosistem Pantai Mayangan yang dicirikan oleh keberadaan daerah estuari
merupakan suatu kawasan yang subur karena mendapat masukan dari daratan,
masukan bahan organik dari sungai maupun dari hasil pendaur-ulangan serasah
mangrove yang tumbuh di sekitar Pantai Mayangan. Perairan ini memiliki
produktivitas yang tinggi dan mampu mendukung kelangsungan hidup beragam
biota akuatik. Kondisi lingkungan Pantai Mayangan sangat mudah mengalami
gangguan baik dari kegiatan antropogenik maupun secara alami (Salmin 2005).
Kegiatan antropogenik yang memengaruhi daerah ini antara lain kegiatan
penangkapan ikan, pembukaan kawasan mangrove menjadi kawasan tambak udang,
kegiatan wisata, pemanfaatan pohon mangrove sebagai kayu bakar, limbah domestik
dan industri. Jika kegiatan tersebut tidak dikelola dengan baik maka dapat merubah
kondisi fisika-kimia perairan sehingga pada gilirannya akan berdampak pada biota
yang hidup di perairan tersebut, salah satunya adalah makrozoobentos.
Makrozoobentos terpapar langsung dengan limbah yang masuk ke dalam perairan
dalam jangka waktu yang relatif lama karena sifatnya yang relatif menetap pada
suatu substrat dasar perairan (Odum 1994). Selain itu, makrozoobentos mudah
diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan sehingga dapat
menggambarkan perubahan lingkungan secara temporal.
Penelitian mengenai makrozoobentos di daerah estuari telah banyak dilakukan
di perairan Indonesia (Fitriana 2006; Junardi & Wardoyo 2008; Pong-Masak &
Pirzan 2006; Noortiningsih et al. 2008; Hadiyanto 2010) maupun di luar perairan
Indonesia (Albayrak et al. 2007; Zhi-fa et al. 2007; Dar et al. 2010; Siraj et al.
2010; George et al. 2010; Matteucci et al. 2011) akan tetapi studi mengenai
makrozoobentos di Pantai Mayangan belum pernah dilakukan. Kajian mengenai
struktur komunitas makrozoobentos penting dilakukan karena dapat memberikan
gambaran umum mengenai kondisi ekologis ekosistem perairan Pantai Mayangan.

2
1.2. Perumusan Masalah
Kawasan estuari Pantai Mayangan ditengarai menerima beban masukan
pencemar baik bahan organik maupun anorganik dari berbagai aktifitas masyarakat
di sekitar pantai melalui sungai-sungai yang bermuara ke Pantai Mayangan serta
dari serasah mangrove. Masuknya bahan pencemar yang melebihi ambang batas
kemampuan asimilasi ke suatu perairan dapat menyebabkan terjadinya perubahan
lingkungan baik di badan air maupun di dasar perairan yang merupakan habitat
makrozoobentos. Kondisi hidrodinamika perairan estuari akan memengaruhi
distribusi beban masukan dimaksud dan selanjutnya akan memengaruhi kondisi
substrat atau sedimen dasar serta ketersediaan makanan bagi komunitas
makrozoobentos baik secara spasial dan temporal.
Ketersediaan makanan yang berkurang dan habitat yang menyempit akan
berpengaruh terhadap regenerasi spesies makrozoobentos. Makrozoobentos yang
mampu beradaptasi akan mampu bertahan (survive), sementara jenis yang tidak
mampu bertahan akan menghindar ke daerah yang lebih kondusif bagi kelangsungan
hidupnya atau populasinya akan menurun. Struktur komunitas makrozoobentos tidak
akan stabil dan mantap berkelanjutan jika terjadi dominansi suatu spesies. Oleh
sebab itu perlu dilakukan kajian untuk mengungkap kondisi ekologis Pantai
Mayangan terkini melalui studi komunitas makrozoobentos baik secara spasial dan
temporal. Hasil kajian ini nantinya akan bermanfaat untuk pengelolaan kawasan
Pantai Mayangan secara terpadu. Untuk lebih jelasnya, kerangka pendekatan
pemecahan masalah disajikan pada Gambar 1.

Beban masukan
antropogenik:
Bahan organik

Pola sedimen dasar
& perubahan
morfometrik

Hidromorfometrik

Kualitas air & sedimen
dasar

Makrozoobentos

Hidrodinamika

?
Beban
masukan

+

Adaptasi
segmentasi

Distribusi spasial
dan temporal
makrozoobentos

?
mampu
beradaptasi

+

Stabilitas
struktur
komunitas
makrozoobentos

Serasah mangrove
(C-organik)

Input

Proses

Outpu
t

Gambar 1. Diagram alir pendekatan pemecahan masalah

3

4
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini betujuan untuk:
1. Mengetahui kondisi ekologis Pantai Mayangan melalui deskripsi indeks
keanekaragaman,

indeks

keseragaman

dan

indeks

dominansi

makrozoobentos serta membandingkannya secara spasial dan temporal;
2. Mendeskripsikan kondisi fisika-kimia perairan dan sedimen sebagai
indikator kondisi perairan Pantai Mayangan;
3. Mengetahui hubungan komunitas makrozoobentos dengan karakteristik
fisika-kimia air dan sedimen.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kondisi
ekologis perairan estuari Pantai Mayangan yang nantinya dapat digunakan sebagai
dasar untuk pengelolaan Pantai Mayangan secara terpadu berbasis ekosistem.

5
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Makrozoobentos
Hewan bentos dibagi dalam tiga kelompok ukuran, yaitu makrobentos (ukuran
lebih dari 1,0 mm), meiobentos (ukuran antara 0,1-1 mm) dan mikrobentos (ukuran
kurang dari 0,1 mm). Kelompok organisme dominan yang menyusun makrofauna di
dasar lunak sublitoral dibagi dalam empat kelompok taksonomi yaitu Polychaeta
(spesies pembentuk tabung dan penggali), Krustasea (Ostracoda, Amfipoda,
Isopoda, Tanaid, Misid yang berukuran besar dan beberapa Dekapoda yang
berukuran kecil), Ekinodermata (Bintang Laut dan Ekinoid) dan Moluska (Bivalvia
penggali dan beberapa Gastropoda). Pada umumnya biota tersebut hidup pada
substrat dasar pasir dan lumpur (Nybakken 1992). Moluska dan krustasea
mendominasi komunitas fauna bentik pada kebanyakan ekosistem mangrove
(Kennish 1990).
Makrozoobentos sering digunakan untuk menduga ketidakseimbangan
lingkungan perairan karena hewan bentos hidup relatif menetap di dasar endapan
(substrat) perairan atau beristirahat pada dasar perairan. Berdasarkan teori tersebut
maka hewan ini akan selalu terpapar dengan limbah yang masuk ke habitatnya
dalam jangka waktu yang relatif lama. Hewan bentos memproduksi larva yang
bersifat meroplankton yang mendukung populasi ikan dan menjaga keseimbangan
lingkungan dengan membuat lubang pada dasar substrat sehingga air dan udara
dapat masuk ke dalam tanah (Fitriana 2006). Suatu perairan yang sehat atau belum
tercemar akan menunjukkan jumlah individu yang seimbang, sebaliknya suatu
perairan tercemar diindikasikan dengan penyebaran jumlah individu tidak merata
dan cenderung ada spesies yang mendominasi (Odum 1994). Dijelaskan lebih lanjut
oleh Tian et al. (2009) bahwa ekologi suatu lingkungan akan seimbang jika setiap
kelompok terdapat banyak spesies secara merata.
Setiap taksa dari bentos mempunyai toleransi yang berbeda terhadap
perubahan faktor lingkungan, ada yang toleran dan ada pula yang intoleran
(sensitif). Salah satu spesies yang dikenal toleran terhadap perubahan lingkungan
yaitu Capitella sp. (Machdar 2010). Hal senada dikemukakan Poclington & Wells

6
(1992) in Junardi & Wardoyo (2008) bahwa Capitella capitata dapat digunakan
sebagai spesies indikator pencemaran perairan.
Berdasarkan pola makannya fauna bentos dibedakan menjadi tiga tipe yakni
tipe suspension feeder yaitu memperoleh makannya dengan cara menyaring partikelpartikel yang melayang di perairan; tipe deposit feeder yaitu memperoleh makanan
pada sedimen dasar dan mengasimilasikan bahan organik yang dapat dicerna dari
sedimen; dan tipe detritus feeder yaitu memperoleh makannya dari detritus
(Nybakken 1992). Makrozoobentos tipe penggali pemakan deposit cenderung
melimpah pada sedimen lumpur dan sedimen lunak yang merupakan daerah yang
mengandung bahan organik yang tinggi seperti Echinocardium, Nepthys dan
Macoma. Makrozoobentos tipe pemakan suspensi seperti Clinocardium dan Tresus
melimpah pada substrat berpasir dengan bahan organik yang lebih sedikit,
sedangkan makrozoobentos tipe pembentuk tabung seperti Phoronopsis dan Owenia
dapat dijumpai pada substrat pasir atau lumpur (Nybakken 1992).

2.2. Struktur Komunitas
Struktur komunitas didefinisikan sebagai kumpulan populasi yang hidup pada
lingkungan tertentu, saling berinteraksi dan bersama-sama membentuk tingkat trofik
dengan pola metaboliknya (Odum 1994). Sebagai satu kesatuan, komunitas
memiliki seperangkat karakteristik yang hanya mencerminkan keadaan dalam
komunitas saja, bukan pada masing-masing organisme pendukungnya (Odum 1994).
Setiap spesies dalam suatu komunitas mempunyai daya toleransi tertentu terhadap
tiap-tiap faktor dan semua faktor lingkungan (Nybakken 1992).
Lima karakteristik yang dimiliki oleh suatu komunitas yaitu keanekaragaman,
dominansi, bentuk dan struktur pertumbuhan, kelimpahan relatif serta struktur trofik
(Krebs 1972). Semakin tinggi nilai indeks keanekaragaman maka semakin banyak
jenis makrozoobentos

yang ditemukan pada suatu komunitas (Krebs 1989).

Kepadatan biota bentik pada suatu habitat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan
internal. Faktor eksternal yang memengaruhi ukuran kepadatan biota bentik yaitu
kegiatan antropogenik dan gangguan alami seperti gelombang dan arus laut yang
dapat mengganggu substrat dasar serta erosi garis pantai; sedangkan faktor internal
yang dapat mengganggu kepadatan biota bentik yaitu rekrutmen yang tidak terduga,

7
kompetisi antar biota bentik serta predator (Eleftheriou & Mclntyre 2005). Tinggi
rendahnya keanekaragaman jenis dari suatu perairan dipengaruhi banyak faktor
antara lain variasi habitat (niche), stabilitas lingkungan, kompetisi, panjangnya
rantai makanan dan ukuran tubuh. Dijelaskan lebih lanjut oleh Pianka (1966) in
Kastoro et al. (1999) bahwa Polychaeta melimpah di daerah pasang surut dengan
dasar lumpur dan menurun kelimpahannya pada substrat dasar pasir, begitu pula
krustasea dan moluska. Hal tersebut berbeda dengan kelompok Ekinodermata yang
hanya ditemukan sedikit pada substrat dasar lumpur.
2.3. Tekstur Substrat
Substrat dasar merupakan salah satu faktor ekologis utama yang memengaruhi
struktur komunitas makrozoobentos. Daerah estuari didominasi oleh substrat
berlumpur yang berasal dari sedimen baik masukan air tawar maupun air laut serta
dari pembusukan serasah yang jatuh ke dasar perairan. Penyebaran makrozoobentos
dapat berkorelasi dengan tipe substrat (Nybakken 1992).
Substrat dasar atau tekstur tanah merupakan komponen yang sangat penting
bagi kehidupan organisme. Substrat di dasar perairan akan menentukan kelimpahan
dan komposisi jenis dari hewan bentos (Odum 1994). Pada umumnya substrat dasar
perairan merupakan kombinasi dari pasir, lumpur dan tanah liat. Persentase tekstur
substrat berdasarkan segitiga Miller dapat dilihat pada Gambar 2.

8

Gambar 2.
Persentase tanah berdasarkan segitiga Miller (USDA 2009 in Taqwa
2010)
2.4. Komposisi C-Organik
Komposisi C-organik merupakan kandungan bahan organik yang dapat
meningkatkan kesuburan bahan kimia, fisika maupun biologi tanah. Estuari
merupakan daerah yang memiliki sejumlah besar bahan organik (Nybakken 1992).
Kandungan utama bahan organik (detritus) berasal dari daun-daun dan rantingranting dari pohon mangrove yang jatuh ke dalam dasar perairan dan telah
membusuk (Romimohtarto & Juwana 2001). Semakin tinggi bahan organik maka
akan semakin meningkat kelimpahan biota yang menyukai bahan organik yang
hidup didalamnya. Makrozoobentos tipe penggali pemakan deposit cenderung
melimpah pada sedimen lumpur dan sedimen lunak yang merupakan daerah yang
mengandung bahan organik tinggi seperti Echinocardium, Nepthys dan Macoma.

9
2.5. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses
kehidupan dan penyebaran organisme (Nybakken 1992). Suhu memengaruhi
aktivitas metabolisme dan reproduksi organisme yang hidup di perairan
(Hutabarat & Evans 1986).

Nybakken (1992) menyatakan hal senada bahwa

perubahan suhu dapat menjadi isyarat bagi organisme untuk memulai atau
mengakhiri aktivitas, misalnya reproduksi. Kelas Polychaeta akan melakukan
adaptasi terhadap kenaikan suhu atau salinitas dengan aktivitas membuat lubang
dalam lumpur dan membenamkan diri di bawah permukaan substrat (Alcantara &
Weiss 1991 in Taqwa 2010). Peningkatan suhu perairan dapat meningkatkan
kecepatan metabolisme tubuh organisme yang hidup didalamnya, dampaknya
konsumsi oksigen akan menjadi lebih tinggi. Peningkatan suhu perairan sebesar 10
o

C dapat menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme

akuatik sebanyak dua sampai tiga kali lipat (Effendi 2003). Perkins (1974) in
Efriyeldi (1999) mengemukakan bahwa kisaran suhu yang dianggap layak bagi
organisme akuatik bahari adalah 25-32 oC.
Kecepatan metabolisme organisme air meningkat seiring dengan naiknya suhu
yang selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen (Effendi 2003).
Suhu air yang baik bagi kepentingan perikanan adalah suhu air normal (27 oC untuk
daerah tropis) dan fluktuasi sekitar 3 oC (Hariyadi et al. 1992).

2.6. Salinitas
Salinitas pada daerah estuari berfluktuasi terkait perubahan musim, topografi
estuari, pasang surut dan jumlah air tawar. Pada gilirannya fluktuasi salinitas dapat
memengaruhi penyebaran makrozoobentos baik secara vertikal maupun horizontal
(Nybakken 1992). Gastropoda mempunyai kemampuan untuk bergerak guna
menghindari salinitas yang terlalu rendah, namun Bivalvia yang bersifat menetap
akan mengalami kematian jika pengaruh air tawar berlangsung lama (Effendi 2003).
Kisaran salinitas yang masih mampu mendukung kehidupan organisme perairan,
khususnya fauna makrozoobentos adalah 15‰ -35‰ (Hutabarat & Evans 1985).

10
2.7. Kedalaman
Kedalaman akan memengaruhi pertumbuhan fauna bentos yang hidup
didalamnya. Kedalaman suatu perairan akan membatasi kelarutan oksigen yang
dibutuhkan untuk respirasi (Nybakken 1992). Interaksi antara faktor kekeruhan
perairan dengan kedalaman perairan akan memengaruhi penetrasi cahaya yang
masuk ke dalam perairan, sehingga berpengaruh langsung pada kecerahan,
selanjutnya akan memengaruhi kehidupan fauna makrobentos (Odum 1994).
2.8. Kecerahan
Faktor cahaya matahari yang masuk ke dalam air akan memengaruhi sifat
optis air. Kecerahan perairan dipengaruhi langsung oleh partikel yang tersuspensi
didalamnya yakni semakin sedikit partikel yang tersuspensi maka kecerahan air akan
semakin tinggi. Sedimen yang tersuspensi dapat menghambat proses penyaringan
bagi organisme bentos yang memiliki struktur penyaring pemakan suspensi yang
halus sehingga fungsi dari alat penyaringnya menjadi terhambat. Terbentuknya dan
mengendapnya partikel tersuspensi cenderung mengubur larva pemakan suspensi
yang baru menetap dan dapat menimbulkan kematian pada organisme bentos
tersebut (Nybakken 1992).
2.9. Derajat Keasaman (pH)
Kondisi lingkungan perairan laut memiliki pH yang bersifat relatif stabil serta
berada dalam kisaran yang sempit yaitu antara 7,5-8,4 (Nybakken 1992). Sebagian
besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 78,5 (Effendi 2003). Organisme perairan mempunyai kemampuan yang berbeda
dalam menoleransi pH perairan. Nilai pH 9 menciptakan kondisi yang tidak
menguntungkan bagi kebanyakan organisme makrobentos (Hynes 1978). Pennak
(1978) menyatakan bahwa kisaran pH yang mendukung kehidupan moluska berkisar
antara 5,7-8,4.

11
2.10. Oksigen Terlarut/dissolved oxygen (DO)
Kadar oksigen di perairan dipengaruhi suhu, salinitas dan turbulensi air. Kadar
oksigen terlarut berkurang seiring dengan naiknya suhu, ketinggian (altitude) dan
berkurangnya tekanan atmosfer (Effendi 2003). Pada perairan estuari, kelarutan
oksigen akan berkurang dengan naiknya suhu dan salinitas (Nybakken 1992).
Kelarutan oksigen lebih tinggi di kolom perairan dibandingkan di dalam substrat
karena tingginya kandungan bahan organik dalam substrat. Oksigen terlarut
merupakan variabel kimia yang mempunyai peran penting sekaligus menjadi faktor
pembatas bagi kehidupan biota air (Nybakken 1992). Secara ekologis, konsentrasi
oksigen terlarut akan menurun dengan adanya penambahan bahan organik, karena
bahan organik tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme yang mengonsumsi
oksigen yang tersedia dalam suatu perairan (Connel & Miller 1995).

12

3. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari Mei-Oktober 2011 di Pantai Mayangan,
Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pengambilan contoh
penelitian dilakukan dengan interval pengambilan contoh satu kali dalam satu bulan
dengan waktu pelaksanaan pengambilan contoh dari pukul 07.00 WIB hingga pukul
16.00 WIB. Pengambilan contoh biota makrozoobentos dilakukan di delapan stasiun
dengan dua kali ulangan untuk setiap stasiun (Gambar 3.).

JAWA BARAT

LAUT JAWA

Gambar 3. Peta lokasi penelitian

Analisis parameter fisika-kimia perairan dilakukan in situ di atas kapal;
sedangkan untuk analisis C-organik dan tekstur substrat dianalisis di Laboratorium
Rutin Ilmu Tanah, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

13
Bogor. Identifikasi contoh biota makrozoobentos dilakukan di Laboratorium Biologi
Makro 1 dan Biologi Mikro, Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.2. Penentuan Stasiun
Lokasi pengambilan contoh terdiri atas delapan stasiun yang mewakili
keseluruhan ekosistem Pantai Mayangan, yaitu kawasan mangrove, muara sungai,
perairan pantai dan perairan yang dekat dengan pemukiman penduduk. Posisi dan
deskripsi stasiun penelitian yang ditentukan berdasarkan GPS (global positioning
system) disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Posisi dan deskripsi stasiun penelitian
Posisi Koordinat
Stasiun
Lintang Selatan Bujur Timur
1
6o12‘52,4“
107o47‘09,2“

Deskripsi Stasiun
Terletak di bawah jembatan Sungai
Cigadung Satu dengan kondisi kiri
dan kanan sungai adalah pemukiman
penduduk.

2

6o12‘23,3“

107o46‘52,7“

3

6o12‘07,7“

107o46‘55,5“

4

6o12‘16,9“

107o46‘30,8“

Terletak di laut dengan arus yang
cukup tinggi, mendapatkan
pengaruh dari pantai Pondok Bali.

5

6o13‘08,4“

107o45‘27,9“

Terletak di muara Sungai Terusan.

6

6 13‘62,38“

107 46‘53,53“

Terletak di muara Sungai Terusan
yang dikelilingi oleh ekosistem
mangrove.

7

6o12‘57,2“

107o46‘47,9“

Terletak di muara Sungai Terusan
dekat dengan bekas tambak udang
dan dikelilingi oleh ekosistem
mangrove.

8

6o13‘27,5“

107o45‘07,9“

Terletak di Segara Menyan
mendapatkan pengaruh dari Sungai
Terusan dan ekosistem mangrove.

o

o

Terletak di muara Sungai Cigadung
Satu.
Terletak di laut dengan arus yang
cukup tinggi, mendapatkan
pengaruh dari pantai Pondok Putri

14
3.3. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah kertas pH indikator,
termometer, Secchi disk, Ekman grab, Kemmerer water sampler, pipet tetes, syringe,
Erlenmeyer 125 ml, botol BOD 125 ml, botol film, cawan petri, tali karet, kantong
plastik klip 5 kg (20 x 15 cm), kertas label, bolpoin, spidol, botol semprot aquades,
pinset, alat tulis, kamera digial, dinolite dan laptop. Bahan yang digunakan adalah
MnSO4, Na-OHKI, H2SO4, Na2S2O3, rose bengale, formalin 4% dan aquades.

3.4. Metode Kerja
3.4.1. Makrozoobentos
Peralatan

dan

bahan

yang

digunakan

dalam

pengambilan

sampel

makrozoobentos adalah Ekman grab, saringan dengan mesh size 0,5 mm, plastik klip
berukuran

20 x 15 cm, formalin 4% dan rose bengale. Pengambilan contoh

biota makrozoobentos diambil dengan menggunakan alat Ekman grab stainless steel
dengan ukuran bukaan mulut katup 15 x 15 cm. Pengambilan substrat sebanyak tiga
ulangan, ulangan pertama dan kedua untuk sampel makrozoobentos serta ulangan
ketiga untuk sampel tekstur substrat dan sampel C-organik.
Ekman grab diturunkan ke dasar perairan dengan mulut katup yang dibiarkan
terbuka. Setelah menyentuh dasar kemudian pemberat dilepaskan sehingga mulut
katup Ekman grab tertutup rapat dan substrat dasar telah terperangkap di dalam
rongga Ekman grab dan tidak akan terlepas lagi. Setelah substrat dasar terambil
kemudian Ekman grab ditarik dengan menggunkan tali tambang ke atas perahu.
Selanjutnya katup mulut Ekman grab dibuka untuk diambil substratnya, dimasukkan
ke dalam plastik klip berukuran 20 x 15 cm. Sampel substrat dasar yang telah
diambil diayak secara kasar dengan saringan 0,5 mm kemudian biota
makrozoobentos dimasukkan ke dalam plastik klip ditambahkan larutan formalin
4% kemudian diberi label yang telah dilengkapi dengan nama stasiun dan waktu
pengambilan sampel makrozoobentos.
Tahapan selanjutnya adalah sampel makrozoobentos disortir di laboratorium
dengan menempatkan sampel di atas baki dengan ukuran 20 x 15 cm kemudian
diberi larutan rose bengale dengan tujuan memudahkan proses penyortiran biota dari
serasah. Sampel makrozoobentos yang ditemukan dimasukkan ke dalam botol film

15
berlabel stasiun dan waktu pengambilan sampel kemudian diawetkan dengan larutan
formalin 4%. Sampel biota makrozoobentos diidentifikasi dengan bantuan buku
identifikasi (Gosner 1971) dan (Kozloff & Price 1987).

3.4.2. Tekstur substrat
Sampel tanah diambil menggunakan Ekman grab lalu dimasukkan ke dalam
plastik untuk selanjutnya dilakukan analisis persentase tekstur substrat ke dalam 3
fraksi (pasir, liat, debu) di Laboratorium Rutin Tanah, Departemen Manajemen
Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Analisis tekstur substrat menggunakan metode pipet. Prosedur kerja analisis
persentase fraksi tanah dilakukan dengan langkah pertama tanah kering udara
ditimbang sebanyak 20 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500 ml dan
ditambahkan 50 ml aquades. Ditambahkan 10 ml hidrogen peroksida kemudian
didiamkan hingga bereaksi. Selanjutnya ditambahkan 10 ml hidrogen peroksida
setelah tidak ada reaksi. Labu diletakkan diatas hot plate, secara perlahan suhunya
dinaikkan dan hidrogen peroksida ditambahkan setiap 10 menit hingga mendidih
dan tidak ada reaksi yang kuat lagi (peroksida aktif dibawah suhu 100 oC).
Ditambahkan 50 ml HCl 2M dan dibersihkan dengan aquades kemudian
ditambahkan 20 ml calgon 5%, dibiarkan selama satu malam. Tahapan selanjutnya
dituangkan ke dalam tabung dispersi kemudian ditambahkan aquades, diaduk
dengan mesin pengaduk selama 5 menit kemudian dituangkan ke dalam silinder
sedimentasi 1000 ml yang diatasnya dipasang saringan dengan diameter 0,05 mm
dan dibersihkan dengan bantuan botol semprot. Larutan suspensi dalam tabung
sedimentasi ditambahkan dengan aquades 1000 ml.
Pasir yang telah disaring dipindahkan ke dalam kaleng timbang dengan
bantuan botol semprot kemudian keringkan di atas hot plate. Sampel tersebut
dimasukkan ke dalam desikator kemudian ditimbang bobot pasir tersebut. dicatat
hasilnya (sebagai c gram). Langkah selanjutnya ditambahkan aquades ke dalam
larutan tanah yang ditampung dalam gelas ukur 1000 ml kemudian gelas ukur
diletakkan dibawah alat pemipet. Larutan diaduk dengan pengaduk kayu kemudian
larutan sampel dipipet sebanyak 20 ml pada kedalaman 10 cm dari permukaan air,

16
sampel dimasukkan ke dalam kaleng timbang. Sampel larutan tanah dikeringkan di
atas hot plate, sampel yang sudang kering kemudian ditimbang (Prijono 2011).

3.4.3. Komposisi C-Organik
Sampel substrat dasar diambil menggunakan Ekman grab pada masing-masing
stasiun yang telah ditentukan. Sampel substrat dimasukkan ke dalam plastik klip
kemudian dilakukan analisis komposisi C-organik di Laboratorium Rutin Tanah,
Departemen Manajemen Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Analisis C-organik menggunakan metode Walkey-Black. Prosedur analisis
C-organik dengan cara ditimbang sebanyak 0,5 g contoh tanah yang telah dihaluskan
kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml dan disediakan juga untuk
penetapan blanko. Ditambahkan 10 ml larutan K2Cr2O7 1 N dan secara perlahanlahan kemudian ditambahkan 20 ml H2SO4 pekat. Erlenmeyer digoyang-goyangkan
selama satu menit lalu didiamkan di atas asbes selama 30 menit. Langkah
selanjutnya ditambahkan pada masing-masing Erlenmeyer 200 ml aquades, 5 ml
PO4 pekat (85%), 0,2 g NaF dan 30 tetes indikator difenilamine. Blanko dan contoh
dititrasi dengan larutan FeSO4 1 N hingga warna hijau kemudian ditambahkan lagi
0,5 ml larutan K2Cr2O7 1 N dan dititrasi kembali dengan larutan FeSO4 1 N sampai
dengan warna hijau timbul kembali. Langkah terakhir yaitu bobot sampel dikoreksi
dengan penetapan kadar air (Mindari & Priyadarsini 2011).

3.4.4. Suhu
Data suhu diambil secara in situ pada masing-masing stasiun menggunakan
bantuan alat termometer. Termometer yang telah diikatkan dengan tali rafia
diturunkan ke dalam kolom perairan kemudian didiamkan kurang lebih dua menit.
Termometer ditarik dari kolom perairan dan data suhu yang terbaca dicatat sebagai
suhu perairan tersebut.

3.4.5. Salinitas
Alat yang digunakan untuk mengukur salinitas yaitu refraktometer. Sebelum
digunakan, refraktometer dikalibrasi terlebih dahulu dengan cara ditetesi air aquades

17
agar nilai awal salinitas di angka nol. Sampel air diteteskan sebanyak satu sampai
dua tetes pada refraktometer kemudian diarahkan ke sumber cahaya matahari dan
nilai salinitas yang terbaca pada refraktometer dicatat sebagai nilai salinitas perairan
tersebut.
3.4.6. Kedalaman
Alat yang digunakan untuk mengukur kedalaman yaitu tambang dengan
pemberat yang telah diberi skala setiap satu meter. Setiap stasiun diukur
kedalamannya dengan cara menurunkan tambang berskala yang sudah diberi alat
bantu pemberat hingga dasar perairan kemudian diangkat dan dicatat data
kedalaman perairan tersebut.

3.4.7. Kecerahan
Alat yang digunakan untuk mengukur kecerahan yaitu Secchi disk. Setiap
stasiun diukur kecerahannya dengan menurunkan Secchi disk ke dalam perairan,
data dicatat ketika Secchi disk pertama kali tidak terlihat dan ketika pertama kali
terlihat dari kolom perairan. Data yang diperoleh kemudian dirata-ratakan.

3.4.8. Derajat keasaman (pH)
Alat yang digunakan untuk mengukur pH yaitu kertas pH indikator. Kertas pH
indikator dicelupkan ke dalam perairan selama satu menit. Kertas pH indikator
diangkat dan warna pH indikator dicocokkan dengan tabel pH indikator untuk
mengetahui kisaran nilai pH perairan tersebut.

3.4.9. Oksigen terlarut/Dissolved Oxygen (DO)
Pengambilan sampel air untuk penentuan oksigen terlarut menggunakan alat
Kemmerer water sampler. Jika kedalaman lebih dari tiga meter data diambil pada
kedalaman ± 50 cm dari permukaan dan ± 50 cm di atas dasar substrat perairan.
Namun jika kedalaman kurang dari tiga meter maka sampel air hanya diambil pada
kedalaman ± 50 cm dari permukaan perairan. Langkah selanjutnya sampel air
dimasukkan ke dalam botol BOD ukuran 125 ml tanpa adanya bubbling.
Dimasukkan sebanyak 20 tetes MnSO4 dan NaOHKI sebanyak 20 tetes kemudian

18
biarkan beberapa menit sampai terbentuk endapan. Langkah selanjutnya adalah
H2SO4 pekat dimasukkan sebanyak 20 tetes kemudian dikocok secara bolak-balik.
Sampel tersebut diambil sebanyak 25 ml dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 125
ml untuk dititrasi dengan Na-tiosulfat sampai warna kuning muda. Amilum
dimasukkan sebanyak tiga tetes kemudian titrasi dengan Na-tiosulfat hingga warna
sampel berubah dari biru menjadi bening. Dicatat banyaknya ml titran Na-tiosulfat
yang digunakan dan dimasukkan ke dalam rumus perhitungan oksigen terlarut.
Analisis oksigen terlarut menggunakan metode titrasi Winkler (Hariyadi et al. 1992)

3.5. Analisis Data
3.5.1. Kepadatan
Kepadatan

makrozoobentos

didefinisikan

sebagai

jumlah

individu

makrozoobentos per satuan luas (m2) (Brower et al. 1990). Formulasi kepadatan
makrozoobentos adalah sebagai berikut :

Keterangan :
K : Kepadatan (Ind./m2)
Ni : Jumlah total individu spesies ke-i (Individu)
A : Luas bukaan alat (m2)
Untuk mengetahui perbandingan kepadatan secara spasial dan temporal
dilakukan uji dengan menggunakan analisis ragam satu arah (ANOVA) dengan
bantuan Microsoft Excel 2007, berikut merupakan rumus analisis ragam satu arah
(Walpole 1982):

Keterangan :
Pengamatan pada perlakuan ke- , ulangan keRataan umum
Perlakuan keGalat perlakuan ke- , ulangan ke-

19
3.5.2. Indeks keanekaragaman
Indeks keanekaragaman jenis dapat dihitung menggunakan formulasi
Shannon-Wiener (Odum 1994) sebagai berikut :

Keterangan :
H’ = Indeks Keanekaragaman
Pi = Proporsi spesies ke-i dari total jumlah spesies keseluruhan ( )
ni = Jumlah spesies ke-i
N = Jumlah total spesies dalam satu stasiun
S = Jumlah taksa (spesies)
3.5.3. Indeks keseragaman
Indeks keseragaman dapat ditentukan dengan indeks keseragaman ShannonWiener (Krebs 1989) dengan formulasi sebagai berikut :

Keterangan :
E
= Indeks Keseragaman
H’ = Indeks Keanekaragaman
S
= Jumlah taksa (spesies)
Hmax = Log S
3.5.4. Indeks dominansi
Indeks dominansi dapat ditentukan dengan menggunakan formulasi indeks
dominansi Simpson (Krebs 1989) sebagai berikut :

Keterangan :
C = Indeks Dominansi
Pi = Jumlah individu dalam satu spesies/jumlah spesies total yang didapatkan pada
satu stasiun

20
Untuk mengetahui perbedaan secara spasial dan temporal dari indeks
keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi dilakukan uji nonparametrik menggunakan Uji Kruskal Wallis dengan bantuan xl stat dalam Microsoft
Office 2007, berikut merupakan rumus uji Kruskal Wallis (Walpole 1982):

Keterangan :
Uji Kruskal-Wallis
Ukuran contoh ke- (
Peringkat ke-

)

3.5.5. Analisis gerombol (cluster analysis)
Analisis gerombol merupakan teknik peubah ganda yang mempunyai tujuan
utama untuk mengelompokan objek-objek berdasarkan kemiripan karakteristik yang
dimilikinya. Karakteristik objek-objek dalam satu gerombol memiliki tingkat
kemiripan yang tinggi; sedangkan karakteristik antar objek pada suatu gerombol
dengan gerombol lain memiliki tingkat kemiripan yang rendah. Analisis gerombol
digunakan untuk melihat pengelompokan

stasiun penelitian melalui kepadatan

bentos maupun parameter lingkungan yaitu karakteristik substrat dan komposisi Corganik.
Analisis pengelompokan stasiun berdasarkan komposisi biota makrozoobentos
ditentukan dengan menggunakan indeks similaritas Bray-Curtis (Brower et al.
1990). Metode yang digunakan dalam analisis gerombol adalah metode
agglomerative hierarchical (penggabungan secara terstruktur) dengan bantuan xl
stat dalam Microsoft excel 2007. Formulasi indeks similaritas Bray-Curtis adalah
sebagai berikut (Krebs 1989) :

Keterangan :
IBC
: Indeks similaritas Bray-Curtis
Xi-Yi : Nilai kepadatan
N
: Jumlah genus yang dibandingkan

21

3.5.6. Canonical correspondence analysis (CCA)
Analisis korespondensi kanonikal/canonical correspondency analysis (CCA)
merupakan suatu metode multivariate yang dapat menjelaskan hubungan antara
biologi dari spesies dan parameter lingkungannya. Metode ini dibuat untuk
mengekstraksi tiruan gradien lingkungan dari data ekologis. Gradien tersebut
merupakan dasar untuk menggambarkan perbedaan habitat dari suatu taksa pada
suatu diagram ordinasi dengan singkat dan jelas. Hasil utama dari CCA adalah
diagram ordinasi yaitu sebuah grafik dengan sistem kordinat yang dibentuk oleh
aksis ordinasi. Diagram ordinasi CCA berisikan poin dari spesies, lokasi dan
pengkelasan dari kualitatif variabel lingkungan serta tanda panah untuk kuantitatif
variabel lingkungan (ter Braak 1995). Canonical correspondence analysis (CCA)
pada penelitian ini dikerjakan dengan bantuan program Canoco versi 4.5.

22

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Jenis dan komposisi makrozoobentos
Jenis makrozoobentos yang ditemukan selama penelitian di Pantai Mayangan
disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis makrozoobentos yang ditemukan di Pantai Mayangan
Kelas

Ordo

Famili

Genus

Tipe/Pola Makan*

Polychaeta

Aciculata

Syllidae

Autolytus sp.

Carnivorous

Brania sp.

Carnivorous

Eusyllis sp.

Carnivorous

Dorvilleidae

Ophryotrocha sp.

Omnivorous

Pilargidae

Sigambra sp.

Carnivorous

Sabellariidae

Idanthyrsus sp.

Suspension feeder

Magelonidae

Magelona sp.

Deposit feeder

Flabelligeridae

Brada sp.

Deposit feeder

Pherusa sp.

Deposit feeder

Polydora sp.

Deposit feeder

Prionospio sp.

Deposit feeder

Canalipalpata

Spionidae
Sabellida

Sabellariidae

Fabricia sp.

Suspension feeder

Scolecida

Arenicolidae

Arenicola sp.

Deposit feeder

Capitellidae

Capitella sp .

Deposit feeder

Notomastus sp.

Deposit feeder

Cossuridae

Cossura sp.

Deposit feeder

Opheliidae

Ophelina sp.

Deposit feeder

Paraonidae

Paraonis sp.

Deposit feeder

Maldanidae

Praxilella sp.

Deposit feeder

Rhodine sp.

Deposit feeder

Orbiniidae

Scoloplos sp.

Deposit feeder

Spionida

Apistobranchidae

Apistobranchus sp.

Deposit feeder

Terebellida

Ampharetidae

Amphicteis sp.

Deposit feeder

23
Tabel 2. lanjutan
Kelas

Ordo

Famili

Genus

Tipe/Pola Makan*

Polychaeta

Terebellida

Cirratulidae

Chaetozone sp.

Deposit feeder

Dodececariasp.

Deposit feeder

Terebellidae

Polycirrus sp.

Detritus feeder

Sternaspidae

Sternaspis scutata

Deposit feeder

Tellinidae

Macoma sp.

Deposit feeder

Tellina sp.

Deposit feeder

Cardiidae

Parvicardium sp.

Deposit feeder

Solenidae

Solen sp.

Deposit feeder

Bivalvia

Veneroida

Nuculoida

Nuculanidae

Nuculana sp.

Deposit feeder

Gastropoda

Caenogastropoda

Cerithiopsidae

Cerithiopsis sp.

Deposit feeder

Malacostraca

Amphipoda

Ampithoidae

Ampithoe sp.

Shredders

Melitidae

Ceradocus sp.

Shredders

Insekta

Melita sp.

Shredders

Eusiridae

Paramoera sp.

Shredders

Cumacea

Nannastacidae

Campylaspis sp.

Gathering collector

Tanaidacea

Apseudidae

Apseudes sp.

Detritus feeder

Paratanaidae

Leptochelia sp.

Detritus feeder

Chironomidae

Chironomus sp.

Gathering collector

Diptera

Sumber : *Fauchald & Jumars (1979), Wurdig et al. (2008) dan Macdonald et al. (2010)

Makrozoobentos yang ditemukan selama penelitian terdiri atas 41 genera yang
termasuk ke dalam 32 famili, 14 ordo dan lima kelas. Kelompok yang paling banyak
ditemukan yaitu famili Paratanaidae dari kelas Malacostraca dengan genus
Leptochelia sp.. Biota tersebut memiliki tipe makan sebagai detritus feeder dengan
makanan yang bersumber pada lapisan permukaan substrat dasar perairan. Jenis
makanan dari biota ini yaitu particle organic matter (POM) (Macdonalds 2010).
Kelompok tipe makan selanjutnya yang banyak ditemukan yaitu deposit feeder dari
kelas Polychaeta. Kelompok Polychaeta lebih bnayak ditemukan dari jenis Capitella
sp. dan Prionospio sp.. Kedua biota tersebut merupakan biota yang memiliki tingkat
adaptasi yang tinggi, khususnya Capitella sp. yang memiliki sifat oportunistik
(Machdar 2010). Umumnya kelompok deposit feeder banyak dijumpai pada substrat
pasir dan lumpur (Fauchald & Jumars 1979). Sumber makanannya berasal dari
lapisan atas substrat (surface) maupun lapisan bawah substrat (sub-surface). Menu
makanan

dari

Capitella sp.

berupa bahan organik yang terakumulasi pada

24
sedimen, POM dan mikroalga; sementara Prionospio sp. lebih menyukai bahan
organik yang terakumulasi pada sedimen, POM, mikroalga, diatom dan fitoplankton.
Secara keseluruhan makrozoobentos yang ditemukan terbagi dalam empat
kelompok tipe makan yaitu kelompok detritus feeder dengan persentase sebesar
51%, deposit feeder (24%), shredders (15%) dan kelompok lainnya dengan
persentase sebesar 10% (gabungan dari beberapa kelompok tipe makan suspension
feeder, gathering collector, carnivorous dan omnivorous) (Gambar 4). Kelompok
tersebut digabung karena memiliki persentase individu yang kecil dalam
kelompoknya. Makrozoobentos yang dominan adalah kelompok detritus feeder
dengan persentase sebesar 51%. Persentase tipe makan dari makrozoobentos yang
ditemukan selama penelitian disajikan pada Gambar 4.

10%
Deposit feeder

24%

15%

Detritus feeder
Shredders
Lainnya

51%

Gambar 4. Komposisi makrozoobentos selama penelitian berdasarkan kelompok tipe
makan (functional feeding group).
Komposisi kelas makrozoobentos yang ditemukan selama pengambilan
sampel termasuk kedalam empat sampai lima kelas, yaitu Malacostraca, Polychaeta,
Bivalvia,

Gastropoda

dan

Insecta.

Informasi

mengenai

komposisi

kelas

makrozoobentos disajikan pada Gambar 5.
Secara spasial pada Mei 2011, komposisi makrozoobentos didominasi
kelompok Malacostraca yaitu di Stasiun I (78%), II (76%), VI (96%) dan VII (93%)
dengan jenis yang paling banyak ditemukan adalah Leptochelia sp., Melita sp. dan
Ampithoe sp.; sedangkan kelompok Polychaeta memiliki persentase tertinggi di
Stasiun III (58%), IV (78%), V (60%) dan VIII (85%) dengan jenis yang paling

25
banyak ditemukan di stasiun tersebut adalah Prionospio sp., Capitella sp., dan
Magelona sp.. Kelompok Bivalvia ditemukan pada Stasiun III (32%), Stasiun IV
(19%), Stasiun VI (8%) dan Stasiun VIII (3%); sedangkan larva Insecta ditemukan
pada stasiun IV, VII dan VIII dengan persentase masing-masing sebesar 4%, 3% dan
12%.
Pada Juni 2011, komposisi makrozoobentos yang ditemukan didominasi oleh
kelompok Malacostraca dari jenis Leptochelia sp. dengan persentase 50% (Stasiun
I), 93% (Stasiun VII); kelompok Polychaeta dari jenis Prionospio sp., Capitella sp.
dan Magelona sp. Lebih banyak di Stasiun II, III, IV, V, VI dan VIII dengan
persentase masing-masing sebesar 58%, 100%, 79%, 97%, 64% dan 93%.
Kelompok Bivalvia ditemukan pada Stasiun I (15%), Stasiun IV (15%), Stasiun VIII
(7%) dan 2% pada Stasiun VII dengan jenis yang ditemukan adalah Parvicardium
sp. dan Tellina sp.; sedangkan larva Insecta hanya ditemukan pada Stasiun VI
sebanyak 9% yaitu Chironomus sp..
Komposisi makrozoobentos yang ditemukan di Juli 2011 didominasi oleh
kelompok Malacostraca dari jenis Leptochelia sp. dan Ampithoe sp. pada Stasiun I,
VI dan VII dengan persentase masing-masing sebesar 77%, 92% dan 96%;
sedangkan kelompok Polychaeta dari jenis Capitella sp. dan Prionospio sp. lebih
banyak ditemukan di Stasiun II (75%), Stasiun III (100%), Stasiun IV (56%),
Stasiun V (47%) dan Stasiun VIII (91%). Sementara kelompok Bivalvia
(Parvicardium sp.) dan larva Insecta (Chironomus sp.) memiliki persentase yang
tinggi di Stasiun IV sebesar 11% untuk Bivalvia dan 22% untuk larva Insecta.

100
80
60
40
20
0
I

Komposisi kelas makrozoobentos (%)

Komposisi kelas makrozoobentos (%)

Mei

II

III

IV

V

60
40
20
0
I

II

III

20
0
IV

V

VI VII VIII

80
60
40
20
0
I

II

III

Komposisi kelas makrozoobentos (%)

Komposisi kelas makrozoobentos (%)

80
60
40
20
0
V

Polychaeta

VI VII VIII

100
80
60
40
20
0

VI VII VIII

I

II

III

IV

V

VI VII VIII

Stasiun

Stasiun
200
0

V

Oktober

100

IV

IV

Stasiun

September

III

VI VII VIII

100

Stasiun

II

V

Agustus

40

I

IV

Juli

60

III

80

Stasiun

80

II

100

Stasiun

100

I

Juni

VI VII VIII

Komposisi kelas makrozoobentos (%)

Komposisi kelas makrozoobentos (%)

26

Malacostraca

Bivalvia

Gastropoda

Insecta

Keterangan : Gastropoda hanya ditemukan pada Oktober di Stasiun VII

Gambar 5. Komposisi makrozoobentos Mei-Oktober 2011

27
Kelompok Malacostraca dan Polychaeta memiliki persentase tertinggi di
beberapa stasiun pada Agustus 2011. Kelompok Malacostraca dari jenis Leptochelia
sp. dan Apseudes sp. ditemukan melimpah di Stasiun I, VI dan VII dengan
persentase masing-masing 56%, 95% dan 98%; sementara kelompok Polychaeta dari
jenis Capitella sp., Notomastus sp. dan Magelona sp. memiliki persentase tertinggi
di Stasiun II, III, IV, V dan VIII dengan persentase masing-masing sebesar 91%,
64%, 46%, 54% dan 66%. Jenis Parvicardium sp. dari kelompok Bivalvia lebih
banyak ditemukan pada Stasiun IV sebesar 31%; sedangkan larva Insecta yaitu
Chironomus sp. banyak ditemukan pada Stasiun III sebesar 27%.
Pada September 2011, kelompok Polychaeta dari jenis Capitella sp. dan
Magelona sp. memiliki persentase yang cukup tinggi di Stasiun II (95%), Stasiun III
(64%) dan Stasiun VIII (76%). Kelompok Malacostraca dari jenis Leptochelia sp.,
Melita sp. dan Apseudes sp. memiliki persentase yang tinggi di Stasiun I (45%),
Stasiun VI (99%) dan Stasiun VII (85%). Jenis Parvicardium sp. dari kelompok
Bivalvia lebih banyak ditemukan pada Stasiun IV sebesar 56%; sedangkan larva
Insecta yaitu Chironomus sp. banyak ditemukan pada Stasiun III sebesar 36%.
Pada Oktober 2011, Polychaeta dari jenis Capitella sp., Sigambra sp. dan
Prionospio sp. memiliki persentase yang tinggi di Stasiun I (52%), II (93%), III
(64%), IV (92%), V (47%) dan VIII (91%); sementara kelompok Malacostraca dari
jenis Leptochelia sp., Melita sp. dan Ampithoe sp. memiliki persentase yang tinggi
pada Stasiun VI (89%) dan VII (84%). Jenis Parvicardium sp. dari kelompok
Bivalvia lebih banyak ditemukan pada Stasiun III sebesar 21%; sedangkan Larva
insecta dan Gastropoda yang ditemukan umumnya memiliki persentase yang kecil di
setiap waktu dan stasiun pengamatan selama penelitian.
4.1.2. Kepadatan jenis dan struktur komunitas makrozoobentos secara spasial
dan temporal
Kepadatan jenis dan struktur komunitas makrozoobentos secara spasial dan
temporal di Pantai Mayangan disajikan pada Lampiran 15; sedangkan struktur
komunitas makrozoobentos yaitu indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman
(E) dan indeks dominansi (C) secara spasial dan temporal disajikan pada Lampiran

28
16. Kepadatan jenis tertinggi serta nilai H’, E dan C pada masing-masing bulan
penelitian disajikan pada Gambar 6.
Leptochelia sp. memiliki kepadatan tertinggi pada Mei 2011 di Stasiun I (1356
Ind./m2), Stasiun II (578 Ind./m2) dan Stasiun VII (2622 Ind./m2); sedangkan
Capitella sp. melimpah di Stasiun V (178 Ind./m2) dan Stasiun VIII (173 Ind./m2).
Jenis Magelona sp. dan Capitella sp. melimpah di Stasiun IV (masing-masing
dengan kepadatan 200 Ind./m2). Prionospio sp. dan Melita sp. secara berurutan
melimpah di Stasiun III (200 Ind./m2) dan Stasiun VI (2622 Ind./m2). Indeks
keanekaragaman (H’) tertinggi di Stasiun IV (0,81) dan terendah di Stasiun VII
(0,38); indeks keseragaman (E) tertinggi di Stasiun III dan V (0,95) dan terendah
Stasiun VII (0,56); indeks dominansi (C) tertinggi di Stasiun VII (0,57) dan terendah
di Stasiun IV (0,18).
Leptochelia sp. memiliki kepadatan tertinggi pada Juni 2011 di Stasiun I (200
Ind./m2), Stasiun II (244 Ind./m2) dan Stasiun VII (2733 Ind./m2); Capitella sp.
memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun III (111 Ind./m2), Stasiun IV (178 Ind./m2)
dan Stasiun VIII (111 Ind./m2). Prionospio sp. memiliki kepadatan tertinggi di
Stasiun II (masing-masing dengan kepadatan 244 Ind./m2); sedangkan Prionospio
sp. melimpah di Stasiun V (378 Ind./m2) dan Arenicola sp. di Stasiun VI (67
Ind./m2). Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi di Stasiun IV (0,83) dan terendah di
Stasiun II (0,40); indeks keseragaman (E) tertinggi di Stasiun III (0,98) dan terendah
di Stasiun VII (0,52); indeks dominansi (C) tertinggi di Stasiun VII (0,61) dan
terendah di Stasiun IV (0,17).
Leptochelia sp. memiliki kepadatan tertinggi pada Juli 2011 di Stasiun I (1156
Ind./m2), Stasiun V (178 Ind./m2), Stasiun VI (1200 Ind./m2) dan Stasiun VII (5267
Ind./m2); sedangkan Capitella sp. memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun II (156
Ind./m2) dan Stasiun III (67 Ind./m2). Chironomus sp. dan Arenicola sp. melimpah di
Stasiun IV (44 Ind./m2); sedangkan Magelona sp. melimpah di Stasiun VIII (133
Ind./m2). Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi terdapat di Stasiun VIII (0,91) dan
terendah di Stasiun III (0,38); indeks keseragaman (E) tertinggi di Stasiun III (0,96)
dan terendah di Stasiun VII (0,44); indeks dominansi (C) tertinggi di stasiun VI
(0,56) dan terendah di Stasiun VIII (0,15).

29
Leptochelia sp. memiliki kepadatan tertinggi Pada Agustus 2011 di Stasiun I
(200 Ind./m2), Stasiun VI (711 Ind./m2) dan Stasiun VII (4889 Ind./m2); sedangkan
Capitella sp. memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun II (156 Ind./m2) dan Stasiun III
(89 Ind./m2). Parvicardium sp. melimpah di Stasiun IV (89 Ind./m2) dan Cossura sp.
melimpah di Stasiun V (178 Ind./m2); sedangkan Sternaspis sp. melimpah di Stasiun
VIII (200 Ind./m2). Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi terdapat pada stasiun VIII
(0,87) dan terendah di Stasiun III (0,46); indeks keseragaman (E) tertinggi di Stasiun
III (0,92) dan terendah di Stasiun VII (0,55); indeks dominansi (C) tertinggi di
Stasiun VII (0,45) dan terendah di Stasiun VIII (0,16).
Leptochelia sp. memiliki kepadatan tertinggi Pada September 2011 di Stasiun
I (156 Ind./m2), Stasiun VI (3800 Ind./m2) dan Stasiun VII (511 Ind./m2); Magelona
sp. memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun II (111 Ind./m2); Capitella sp. memiliki
kepadatan tertinggi di Stasiun III (89 Ind./m2); sedangkan Parvicardium sp.
melimpah di Stasiun IV (200 Ind./m2), Cossura sp. di Stasiun V (111 Ind./m2) dan
Sternaspis sp. di Stasiun (156 Ind./m2). Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi
terdapat pada Stasiun VIII (0,92) dan terendah pada Stasiun VI (0,32); indeks
keseragaman (E) tertinggi pada Stasiun VIII (0,95) dan terendah pada Stasiun VI
(0,39); indeks dominansi (C) tertinggi pada Stasiun VI (0,68) dan terendah pada
Stasiun VIII (0,14).
Leptochelia sp. memiliki kepadatan tertinggi Pada Oktober 2011 di Stasiun I
(111 Ind./m2), Stasiun V (133 Ind./m2), Stasiun VI (1200 Ind./m2) dan Stasiun VII
(2156 Ind./m2); Cossura sp. memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun II (222 Ind./m2);
Capitella sp. memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun III (89 Ind./m2); sedangkan
Scoloplos sp. dan Sternaspis sp. memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun IV (156
Ind./m2). Prionospio sp. memiliki kepadatan tertinggi di Stasiun VIII (289 Ind./m2).
Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi terdapat pada Stasiun I (0,74) dan terendah
pada Stasiun V (0,55); indeks keseragaman (E) tertinggi pada Stasiun I (0,95) dan
terendah pada Stasiun VI (0,64); indeks dominansi (C) tertinggi pada Stasiun VII
(0,37) dan terendah pada Stasiun I (0,20). Kepadatan jenis makrozoobentos tertinggi
serta nilai H’, E dan C disajikan pada Gambar 6.

30

H', E, C Mei 2011

Kepadatan jenis Mei 2011
1,00

3000

0,90

Ind./m2

2000
1500
1000

H'
E
C

0,80

Nilai Indeks

Capitella sp .
Leptochelia sp.
Magelona sp.
Melita sp.
Prionospio sp.

2500

0,70
0,60
0,50
0,40
0,30
0,20

500

0,10
0
I

II

III IV

V

0,00

VI VII VIII

I

II

III

IV

Stasiun

V

VI VII VIII

Stasiun

Kepadatan Jenis Juni 2011

H', E, C Juni 2011

3000
1,00
0,90

2500

Ind./m2

1500
1000

NIlai Indeks

0,80

Arenicola sp.
Capitella sp .
Leptochelia sp.
Prionospio sp.

2000

H'
E
C

0,70
0,60
0,50
0,40
0,30
0,20

500

0,10
0,00

0
I

II

III

IV

V

I

VI VII VIII

II

III

IV

V

VI VII VIII

Stasiun

Stasiun

Kepadatan Jenis Juli 2011

H', E, C Juli 2011
1,00

5000

0,90
0,80

H'
E
C

0,70

Arenicola sp.
Capitella sp .
Chironomus sp.
Leptochelia sp.
Magelona sp.

3000
2000

Nilai Indeks

Ind./m2

4000

0,60
0,50
0,40
0,30
0,20

1000

0,10
0,00

0
I

II

III

IV

V

Stasiun

VI VII VIII

I

II

III

IV

V

VI VII VIII

Stasiun

Gambar 6. Kepadatan jenis tertinggi serta nilai H’, E dan C Mei-Oktober 2011 di
Pantai Mayangan

31

Kepadatan Jenis Agustus 2011

H', E, C Agustus 2011
1,00

5000

0,90

4500

0,80

Ind./m2

3500

Capitella sp .
Cossura sp.
Leptochelia sp.
Parvicardium sp.
Sternaspis sp.

3000
2500
2000

NIlai Indeks

4000

0,70
0,60

0,40

1500

0,30

1000

0,20

500

0,10

0
I

II

III

IV

V

H'
E
C

0,50

0,00

VI VII VIII

I

II

III

Stasiun

IV

V

VI VII VIII

Stasiun

H', E, C September 2011

Kepadatan Jenis September 2011
1,00
4000

0,90

Capitella sp .
Cossura sp.
Leptochelia sp.
Magelona sp.
Parvicardium sp.
Sternaspis sp.

Ind./m2

3000
2500
2000
1500

0,80

Nilai Indeks

3500

1000

0,70

H'
E
C

0,60
0,50
0,40
0,30
0,20

500

0,10

0

0,00
I

II

III

IV

V

VI VII VIII

I

II

III

IV

V

VI

VII VIII

Stasiun

Stasiun

H', E, C Oktober 2011

Kepadatan Jenis Oktober 2011
1,00

2000

0,90

Ind./m2

1000

500

0,80

Nilai Indeks

Capitella sp .
Cossura sp.
Leptochelia sp.
Prionospio sp.
Scoloplos sp.
Sternaspis sp.

1500

0,70

H'
E
C

0,60
0,50
0,40
0,30
0,20
0,10
0,00

0
I

II

III

IV

V

VI VII VIII

Stasiun

I

II

III

IV

V

VI VII VIII

Stasiun

Gambar 6. Kepadatan jenis tertinggi serta nilai H’, E dan C Mei-Oktober 2011 di
Pantai Mayangan (lanjutan)

32
Selama enam bulan penelitian dari Mei-Oktober 2011 jenis Leptochelia sp.
dari kelas Malacostraca selalu memiliki nilai kepadatan tertinggi dibandingkan
dengan jenis makrozoobentos lainnya akan tetapi kepadatannya cenderung
berfluktuasi (tidak selalu sama setiap bulannya); sedangkan Capitella sp. merupakan
jenis makrozoobentos yang yang hampir selalu ditemukan di beberapa stasiun setiap
bulan penelitian dengan kepadatan yang relatif rendah dan tidak jauh berbeda setiap
bulannya.
Indeks keanekaragaman (H’) yang diperoleh selama enam bulan penelitian
berkisar antara 0,32-0,92, indeks keseragaman (E) antara 0,40-0,98 dan indeks
dominansi (C) antara 0,14-0,61. Semakin tinggi nilai indeks keanekaragaman maka
semakin banyak jenis makrozoobentos

yang ditemukan pada suatu komunitas

(Krebs 1989). Nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh di Pantai Mayangan
sangat kecil (

Dokumen yang terkait

Dokumen baru