Pengulangan, prinsip belajar yang tidak kalah penting adalah mengulang- Kerangka Pemikiran

mengalaminya sendiri. Belajar menyangkut apa yang harus dikerjakannya untuk dirinya sendiri, inisiatif belajar harus datang dari dalam diri peserta. Orang dewasa belajar tidak hanya menerima, menyimpan informasi tetapi juga mentransformasikannya. Orang belajar memiliki sifat aktif, konstruksif dan mampu merencanakan sesuatu. Peserta diklat mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar peserta mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisi, menafsirkan, menarik kesimpulan, mengadopsi, dan mengambil keputusan. Prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan manusia belajar yang selalu aktif untuk ingin tahu. Keaktifan terlihat baik berupa kegiatan fisik seperti membaca, menulis, mendengar, berlatih, dan lain- lain, maupun kegiatan psikis seperti menggunakan pengetahuan dalam memecahkan masalah, membandingkan suatu konsep, menganalisis, mensisntesis, menilai, merefleksi, merasakan, dan lain-lain. Belajar harus dilakukan secara aktif baik individu maupun kelompok. d. Keterlibatan langsung belajar paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Belajar dengan prinsip ini, peserta tidak sekedar mengamati, tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Orang belajar naik sepeda yang paling baik langsung diberi sepedanya untuk dapat dinaiki. Belajar bersepeda tidak dapat melelui modul dan diceramahi.

e. Pengulangan, prinsip belajar yang tidak kalah penting adalah mengulang-

ulang. Mengulang-ulang suatu materi pelajaran merupakan latihan untuk mengembangkan daya-daya dalam diri individu. Daya-daya itu ialah inteligensi, mengamati, menanggapi, mengingat, menghayal, merasakan, berpikir, dan lain-lain. Ibarat mengasah pedang yang terus menerus menjadi tajam. III. METODOLOGI KAJIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Unit Pelaksana Teknis UPT Pendidikan dan Pelatihan Pegawai adalah bagian dari organisasi Pemerintah Provinsi Riau yang mempunyai tugas melaksanakan kediklatan untuk aparatur PNS dilingkungan Pemerintah Daerah dalam rangka menciptakan kualitas dan kinerja PNS sebagai pelaksana penyelenggaraan kenegaraan abdi Negara dan penyelenggara pembangunan dalam pemerintahan abdi masyarakat. Pemberian kediklatan untuk PNS dimaksudkan menghasilkan nilai tambah terbentuknya PNS sebagai penyelenggara Negara yang trampil dalam pekerjaan baik di bidang keuangan, perencanaan, pengawasan, pertanian dan sebagainya. Logika tersebut telah terbangun dengan sendiri jika melihat kuantitas dan kualitas PNS dengan latar belakang pendidikan akademis dan kursus-kursus teknis yang dimiliki pegawainya disetiap DinasInstansi. Lalu bagaimana pernyataan masyarakat yang memandang PNS dengan Birokrasinya suka mempersulit urusan dan perizinan misalnya, atau dituding melakukan rekayasa pengadaan barang dan jasa, atau bahkan lebih mementingkan golongan kerabatnya dan sarat dengan praktek-praktek KKN. Pemikiran masyarakat itu tidak dapat disalahkan karena mereka menyaksikan dan mengalaminya sendiri. Jika demikian akan muncul pertanyaan sekaligus pernyataan apakah Unit Pelaksana Teknis Pendidikan dan Pelatihan Pegawai tidak berhasil mengubah sikap dan perilaku aparatur PNS dalam melaksanakan fungsi abdi masyarakatnya?. Kritikan dan kekecewaan kepada sebagian kecil PNS yang berbuat sikap tidak terpuji telah memunculkan kesan anggapan menyamakan seluruh PNS telah melakukan perbuatan yang sama pula. Mengapa hal ini terjadi karena PNS adalah figur ideal penyelenggara Negara dan pembangunan yang ditujukan untuk melayani kepentingan Negara dan masyarakat. Ada aparatur PNS yang menunjukkan pengabdiannya dalam melaksanakan tugas-tugas atau program-program pembangunan kemasyarakatan antara lain pendidikan, kesehatan, usaha ekonomi kecil, pembangunan infrastruktur desa, namun hal-hal seperti jarang terangkat kepermukaan meskipun dihadapkan kepada terbatasnya sarana dan prasarana pekerjaan mereka. Tentunya dengan tidak mengenyampingkan keluhan masyarakat kepada aparatur PNS, pada dasarnya program kediklatan yang diselenggarakan oleh UPT ditujukan untuk pembentukan kualitas serta karakter PNS agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam urusan pemerintahan dan urusan publik. Fungsi menurut urusan pemerintahan adalah menjalankan tugas yang berhubungan dengan sistem dan prosedur administrasi perkantoran termasuk didalamnya peraturan perundang-undangan, sedangkan fungsi menurut urusan publik adalah berkenaan pemberian pelayanan dan pemberdayaan masyarakat dibidang sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur Rasyid, 1997. Seberapa jauh UPT berhasil melaksanakan tugasnya bagi peningkatan kinerja aparatur PNS yang berhubungan dengan kedua fungsi tersebut, dapat diketahui dari umpan balik yang berasal dari unsur eksternal dan internal UPT sendiri. Publik sebagai unsur eksternal baik langsung ataupun tidak langsung akan memberikan tanggapan bahkan penolakan apabila aparatur PNS tidak dapat memenuhi kebutuhan dan harapan mereka. Demikian pula sebaliknya dari sisi internal UPT Pendidikan dan Pelatihan tidak akan dapat menjalankan fungsinya secara baik bila aspek kelembagaannya tidak menunjang karena beberapa hal seperti sarana dan prasarana kediklatan, kurikulum, materi pelajaran dan proses belajar mengajar, kualitas dan personil organisasi, sistem dan prosedur diklat, serta kebijakan dan komitmen pemerintah. Menurut literatur ilmu organisasi dan manajemen, kelembagaan bukan bersifat mandiri dan terus mengalami perkembangan sejalan dengan perubahan- perubahan yang terjadi didalam internal maupun diluar eksternal organisasi. Menurut Thoha 1991 lebih lanjut bahwa tujuan suatu organisasi tidak akan tercapai jika organisasi tidak melakukan perubahan sesuai perkembangan yang terjadi diluar organisasi. Pemikiran Thoha sesungguhnya memberikan petunjuk bahwa UPT Pendidikan dan Pelatihan dapat menjalankan tugas dan fungsinya jika mengetahui bagaimana melakukannya. Melalui penerapan analisis SWOT dalam organisasi UPT Pendidikan dan Pelatihan pada dasarnya adalah suatu cara untuk menganalisis mulai dari identifikasi perumusan masalah, identifikasi unsur penghambat dan pendukung yang dapat berasal dari faktor internal dan eksternal UPT sampai ketahapan formulasi strategi dan rancangan program bagi pengembangan kapasitas kelembagaan Unit Pelaksana Teknis Pendidikan dan Pelatihan. Selanjutnya pada bagan alur berikut dijelaskan bahwa tugas dan fungsi UPT Pendidikan dan Pelatihan dalam mendiklat PNS outputnya tidak efektif dalam menjalankan tugas dan pekerjaan yang berkenaan dengan urusan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat eksternal, dan produktifitas instansional. Beberapa permasalahan tidak efektifnya diklat diantaranya persepsi masyarakat terhadap layanan publik yang diberikan PNS rendah, kurikulum dan materi tidak memuat konsep pemberdayaan masyarakat dan tidak mendukung pekerjaan Instansi PNS, jumlah dan kualifikasi Widyaiswara rendah dan tidak menerapkan participatory training, dan rendahnya koordinasi dan kerjasama dengan lembagapendidikan teknis. Dari beberapa permasalahan tersebut diadakan analisis SWOT terhadap keragaan program diklat UPT dan informasi atau persepsi masyarakat dengan melakukan wawancara dan diskusi. Tujuannya dimaksudkan untuk merumuskan dan menyusun strategi dan rancangan program yang efektif yang akan dijalankan oleh Unit Pelaksana Teknis Pendidikan dan Pelatihan dalam penyelenggaraan diklat bagi PNS sehingga pada gilirannya program kediklatan bermanfaat bagi terciptanya good governance berbasis pelayanan serta pemberdayaan masyarakat. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Kajian 26 Analisis SWOT Wawancara dan diskusi Wawancara dan diskusi UPT PENDIDIKAN DAN LATIHAN PEGAWAI Eksternal Masyarakat, LSM, Lembaga Pendidikan,Media Masa Internal a. UPT Pendidikan dan Pelatihan b. BKD Prov. Riau c. Satuan Kerja d. Peraturan Pemerintah Provinsi Riau dan Peraturan Gubernur Permasalahan 1. Persepsi masyarakat terhadap layanan publik masih rendah 2. Kurikulum dan Materi pendidikan dan pelatihan minim terhadap metodologi pemberdayaan masyarakat 3. Teknis kegiatan Diklat monoton dan tidak menerapkan prinsip partisipatory training. 4. SDM Widyaiswara kerja sama dengan pihak lain yang berkompeten sangat sedikit. Analisis Kegiatan 1. Keragaan dan program kegiatan UPT Pendidikan dan Pelatihan 2. Persepsi Masyarakat terhadap program kegiatan UPT Pendidikan dan Latihan Pegawai STRATEGI DAN RANCANGAN PROGRAM a. Pelayanan Publik dengan penerapan strategi pemberdayaan masyarakat ekonomis, efektif, efisien, dan akuntabel. b. Penyusunan program UPT Pendidikan dan Pelatihan dengan metodologi pemberdayaan berdasarkan kualifikasi - Tangible - Reability - Responsiveness - Assurance - Emphaty OUTPUT 1.Terciptanya good governance Pemerintah Provinsi Riau, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan berbasis pelayanan publik. 2. Peningkatan pengetahuan berbasis metodologi pemberdayaan masyarakat. 2 5

3.2. Lokasi dan Waktu Kajian