Dinamika Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa FISIP USU dalam Menjaga Harmonisasi

DINAMIKA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA FISIP USU DALAM MENJAGA HARMONISASI
SKRIPSI
FIPIT NOFITA SARI 100904099
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI MEDAN 2014
i Universitas Sumatera Utara

ii
DINAMIKA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA FISIP USU DALAM MENJAGA HARMONISASI
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara FIPIT NOFITA SARI 100904099
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014
Universitas Sumatera Utara

iii

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui dan dipertahankan oleh:

Nama

: Fipit Nofita Sari

NIM

: 100904099

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul

: Dinamika Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa FISIP USU dalam Menjaga Harmonisasi

Dosen Pembimbing

Medan, Juni 2014 Ketua Departemen

Lusiana A. Lubis, M.A, P.hD NIP: 196704051990032002

Dra. Fatmawardy Lubis, M.A NIP: 196208281987012001

Dekan

Prof.Dr.Badaruddin,M.Si. NIP: 19680525 199203 1 002

Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

iv

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika
dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya
bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Fipit Nofita Sari NIM : 100904099
Tanda Tangan : Tanggal : Juni 2014

Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PENGESAHAN

v

Skripsi ini diajukan oleh Nama NIM Departemen Judul Skripsi

: Fipit Nofita Sari : 100904099 : Ilmu Komunikasi : Dinamika Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa
FISIP USU dalam Menjaga Harmonisasi

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji

Ketua Penguji :

()

Penguji

:

()

Penguji Utama :

()

Ditetapkan di : Tanggal

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR & UCAPAN TERIMA KASIH

vi

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU). Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr.Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A selaku ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Lusiana A. Lubis, M.A., Ph.D sebagai dosen pembimbing sekaligus dosen wali penulis yang telah menyediakan waktu, pikiran dan motivasi kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini serta tidak lupa memberikan nasehat-nasehat kepada penulis.
4. Seluruh dosen, staf pengajar, dan staf administrasi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang telah mengajarkan, membimbing dan membantu penulis hingga menyelesaikan perkuliahan ini.
5. Kedua orangtua penulis, yaitu bapak Justianus Sembiring dan ibu Aminah Br Purba yang tidak pernah lelah ikut berjuang, memberikan doa dan dukungan serta bimbingan kepada penulis. Terima kasih dan rasa sayangku dari hati yang paling dalam untuk kalian berdua.
6. Abang dan Adik penulis, Roy Arijhona dan Afandi yang selalu mendukung dan memberikan semangat bagi penulis.

Universitas Sumatera Utara

vii
7. Untuk bibi sekaligus kakak penulis, Novita Juniati yang tidak pernah lelah memberikan semangat dan bimbingan serta pelajaran penting mengenai banyak hal kepada penulis.
8. Keempat sahabat- sahabat saya sejak duduk dibangku SD, SMP, dan SMA Rishe, Nia, Henny, dan Debora, yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada saya. Terkhusus Nia yang selama ini sama-sama berjuang dan saling memberikan semangat dalam pengerjaan skripsi. Aku sayang kalian, dan jangan sampai persahabatan kita terhenti, ok??
9. Susan, Nathalia, dan Olga sahabat saya di Departemen Ilmu Komunikasi, yang berjuang secara luar biasa bersama saya sepanjang menuntut ilmu di Universitas Sumatera Utara, menyelesaikan mata kuliah demi mata kuliah bersama saya. Terima kasih teman-teman.
10. Keluarga besar saya yang tidak pernah lupa memberikan semangat dan doanya sehingga saya mampu menyelesaikan skripsi ini.
11. Kepada seluruh Ilmu Komunikasi Angkatan 2010 yang telah berjuang bersama serta saling memberikan dukungan dan motivasi dalam pengerjaan skripsi ini. Terima kasih teman-teman.
12. Adik-adik kos Abdul Hakim 21 yang tidak pernah lupa memeberikan semangat kepada penulis
13. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas
segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu.
Medan, Juni 2014
Peneliti
Universitas Sumatera Utara

viii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara , saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama

: Fipit Nofita Sari

NIM

: 100904099

Departemen

: Ilmu Komunikasi

Fakultas

: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas

: Sumatera Utara

Jenis Karya

: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-eksklusive Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: Dinamika Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa FISIP USU dalam Menjaga Harmonisasi berserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Universitas Sumatera Utara

ix
Dibuat di : Medan Pada Tanggal : Juni 2014
Yang Menyatakan (Fipit Nofita Sari)
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Skripsi ini berisi penelitian mengenai bagaimana dinamika komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa dalam menjaga harmonisasi. Mahasiswa disini adalah mahasiswa FISIP USU. Penelitian ini memfokuskan pada penelitian deskriptif yang kuantitatif. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengetahui bagaimana dinamika komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa FISIP USU, apa saja yang menjadi hambatan-hambatannya serta upaya apa yang dapat dilakukan dalam menjaga harmonisasi di kalangan mahasiswa FISIP USU tersebut. Setelah melakukan penelitian terhadap 96 orang mahasiswa yang menjadi responden, peneliti mendapati bahwa mahasiswa FISIP USU sudah cukup baik menjalani kehidupan antarbudaya dan menjaga hubungan harmonis dengan teman yang berbeda budaya. Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya sangat penting dipahami di tengah lingkungan yang memiliki berbagai suku bangsa yang berbeda dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda seperti di Indonesia, terkhusus di lingkungan kampus FISIP USU.
Kata kunci:
Dinamika, komunikasi antarbudaya, mahasiswa FISIP USU
ABSTRACT
This thesis contains research on how the dynamics of intercultural communication among students in maintaining harmony. Students here are FISIP USU students. This study focuses on the quantitative descriptive study. In this study, researchers sought to determine how the dynamics of intercultural communication among students FISIP USU, what are the constraints and any attempt to do in maintaining harmony among the students of the Faculty of Social USU. After conducting a study of 96 students who became respondents, the researchers found that students FISIP USU is good enough in intercultural living life and maintain harmonious relationships with friends of different cultures. So it can be concluded that intercultural communication is very important to understand in the middle of a neighborhood that has a variety of different ethnic groups with different habits such as in Indonesia, especially those in the Faculty of Social in USU.
Keyword:
Dynamics, intercultural communication, student of FISIP USU
i
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................ LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................ HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................ HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMA KASIH ............... HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...................................... ABSTRAK ............................................................................................. DAFTAR ISI ......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ DAFTAR TABEL ................................................................................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................

i ii iii iv v vii ix x xii xiii xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah................................................................... 1.2 Perumusan Masalah.......................................................................... 1.3 Pembatasan Masalah......................................................................... 1.4 Tujuan Penelitian.............................................................................. 1.5 Manfaat Penelitian............................................................................

1-7 8 8 8 9

BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori.................................................................................
2.1.1 Komunikasi Antarbudaya….................................................... 2.1.2 Dinamika Komunikasi Antarbudaya....................................... 2.1.3 Harmonisasi dalam Komunikasi Antarbudaya........................ 2.1.4 Komunikasi Antarpribadi......................................................... 2.2 Kerangka Konsep.............................................................................. 2.3 Operasional Variabel........................................................................ 2.4 Defenisi Operasional........................................................................ 2.4.1 Variabel Komunikator..............................................................

10 10 13 15 17 21 21 22 22

ii Universitas Sumatera Utara

2.4.2 Variabel Komunikan................................................................ 23 2.4.3 Karakteristik Responden.......................................................... 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian............................................................................. 25 3.2 Lokasi Penelitian............................................................................... 26 3.3 Deskripsi Singkat Lokasi Penelitian ................................................ 26 3.4 Populasi dan Sampel......................................................................... 29
3.3.1 Populasi.................................................................................... 29 3.3.2 Sampel..................................................................................... 31 3.4 Teknik Penarikan Sampel................................................................. 33 3.5 Teknik Pengumpulan Data............................................................... 34 3.6 Teknik Analisis Data........................................................................ 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Penelitian dan Pengumpulan Data ............................
4.1.1 Tahap Awal............................................................................. 4.1.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian.................................................. 4.1.3 Tahap Pengumpulan Data........................................................ 4.2 Analisis Tabel Tunggal..................................................................... 4.2.1 Karakteristik Responden.......................................................... 4.2.2 Komunikasi Antarbudaya......................................................... 4.2.3 Hubungan Harmonis................................................................ 4.3 Analisis Tabel Silang........................................................................ 4.4 Hasil dan Pembahasan......................................................................

36 36 36 37 38 38 42 52 62 64

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan....................................................................................... 5.2 Saran.................................................................................................

70 70

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

iii Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN - Kuesioner - Tabel Fortran Cobol - Surat Keterangan Izin Penelitian dari FISIP USU - Catatan Bimbingan Skripsi - Biodata
iv Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

Tabel 1 Daftar Mahasiswa FISIP USU Angkatan 2010-2012........... 30

Tabel 2 Jumlah Responden per Jurusan............................................. 32

Tabel 3 Usia Responden.................................................................... 38

Tabel 4 Jenis Kelamin....................................................................... 39

Tabel 5 Agama..................................................................................

40

Tabel 6 Suku...................................................................................... 41

Tabel 7 Berbaur dengan Mahasiswa yang Berbeda Budaya.............. 42

Tabel 8 Pemikiran Pertama kali ketika Bertemu Teman yang Berbeda

Budaya.................................................................................

43

Tabel 9 Frekuensi Berkomunikasi dengan Teman yang Berbeda

Budaya................................................................................

44

Tabel 10 Banyak Orang yang Terlibat ketika Berkomunikasi..........

45

Tabel 11 Informasi mengenai Perkuliahan.........................................

46

Tabel 12 Informasi mengenai Teman Dekat......................................

47

Tabel 13 Informasi mengenai Keluarga............................................

47

Tabel 14 Informasi mengenai lain-lain.............................................

48

Tabel 15 Kesalahpahaman dalam Berkomunikasi............................

49

Tabel 16 Tempat Berkomunikasi......................................................

50

Tabel 17 Perasaan ketika Berkomunikasi.........................................

51

v Universitas Sumatera Utara

Tabel 18 Penggunaan Bahasa Daerah............................................... Tabel 19 Keterbukaan........................................................................ Tabel 20 Kejujuran ketika Berkomunikasi........................................ Tabel 21 Tingkat Kepahaman Informasi........................................... Tabel 22 Tingkat Empati................................................................... Tabel 23 Tingkat Toleransi................................................................ Tabel 24 Prasangka ketika Berkomunikasi........................................ Tabel 25 Suasana ketika Berkomunikasi............................................ Tabel 26 Kedudukan ketika Berkomunikasi........................................ Tabel 27 Kesepahaman dalam Berkomunikasi................................... Tabel 28 Kesempatan dalam Berkomunikasi..................................... Tabel 29 Hubungan Antarbudaya di FISIP USU............................... Tabel 30 Analisis tabel silang tingkat keterbukaan terhadap tingkat
kepahaman dalam komunikasi antarbudaya........................ Tabel 31 Analisis tabel silang tingkat penggunaan bahasa daerah
terhadap tingkat kesalahpahaman dalam komunikasi antarbudaya.......................................................................

51 52 53 54 54 55 56 57 58 59 60 61
62
63

vi Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

2.1 Model Teoritis.............................................................

20

vii Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Skripsi ini berisi penelitian mengenai bagaimana dinamika komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa dalam menjaga harmonisasi. Mahasiswa disini adalah mahasiswa FISIP USU. Penelitian ini memfokuskan pada penelitian deskriptif yang kuantitatif. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengetahui bagaimana dinamika komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa FISIP USU, apa saja yang menjadi hambatan-hambatannya serta upaya apa yang dapat dilakukan dalam menjaga harmonisasi di kalangan mahasiswa FISIP USU tersebut. Setelah melakukan penelitian terhadap 96 orang mahasiswa yang menjadi responden, peneliti mendapati bahwa mahasiswa FISIP USU sudah cukup baik menjalani kehidupan antarbudaya dan menjaga hubungan harmonis dengan teman yang berbeda budaya. Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya sangat penting dipahami di tengah lingkungan yang memiliki berbagai suku bangsa yang berbeda dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda seperti di Indonesia, terkhusus di lingkungan kampus FISIP USU.
Kata kunci:
Dinamika, komunikasi antarbudaya, mahasiswa FISIP USU
ABSTRACT
This thesis contains research on how the dynamics of intercultural communication among students in maintaining harmony. Students here are FISIP USU students. This study focuses on the quantitative descriptive study. In this study, researchers sought to determine how the dynamics of intercultural communication among students FISIP USU, what are the constraints and any attempt to do in maintaining harmony among the students of the Faculty of Social USU. After conducting a study of 96 students who became respondents, the researchers found that students FISIP USU is good enough in intercultural living life and maintain harmonious relationships with friends of different cultures. So it can be concluded that intercultural communication is very important to understand in the middle of a neighborhood that has a variety of different ethnic groups with different habits such as in Indonesia, especially those in the Faculty of Social in USU.
Keyword:
Dynamics, intercultural communication, student of FISIP USU
i
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan sebuah negara yang multikultural. Multikulturalisme adalah gejala pada seseorang atau suatu masyarakat yang ditandai oleh kebiasaan menggunakan lebih dari satu kebudayaan (KBBI online). Indonesia sebagai negara yang multikultural terlihat dari perbedaan ras, suku bangsa dan agama yang beragam yang hidup berdampingan. Hal ini menyebabkan karakteristik masyarakat di Indonesia menjadi heterogen di mana pola hubungan sosial antar individu di dalam masyarakat bersifat toleran dan hidup berdampingan secara damai satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada diri setiap individu.
Multikulturalisme yang dimiliki bangsa Indonesia ini merupakan satu faktor yang tidak dapat dihindari. Keberagaman tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam kegiatan berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Inilah yang sering menyebabkan timbulnya konflik di dalam masyarakat yang dapat menyebabkan perpecahan. Untuk menghindarinya, multikulturalisme harus senantiasa dikelola dan dipelihara agar tetap berada pada situasi dan kondisi yang kondusif dan menguntungkan, serta bukan hal yang sebaliknya. Komunikasi sangat dibutuhkan pada situasi seperti ini, karena hubungan antarbudaya dan komunikasi penting dipahami untuk memahami antarbudaya. Inti budaya adalah komunikasi, karena budaya timbul dari komunikasi. Akan tetapi pada gilirannya budaya yang tercipta pun mempengaruhi cara berkomunikasi anggota budaya yang bersangkutan. Dengan kata lain, melalui pengaruh budayalah orang-orang belajar berkomunikasi. Budaya tidak akan eksis tanpa komunikasi dan komunikasi pun tidak akan eksis tanpa budaya (Mulyana, 2004:14).
Ketika individu berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain yang berbeda budaya, maka mereka dikatakan telah melakukan komunikasi
1 Universitas Sumatera Utara

2
antarbudaya. Budaya mencakup keseluruhan sistem komunikasi yang terdiri dari perilaku manusia baik secara verbal maupun nonverbal. Lustig dan Koester (1993) menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah suatu proses komunikasi simbolik, interpretative, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang – yang memiliki perbedaan kepentingan – memberikan interpretasi dan yang berbeda harapan terhadap apa yang disampaikan, dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan (Liliweri, 2004:11).
Menurut Samovar dan Poerter (2003:8-11), ada 5 karakteristik penting dari kebudayaan, yaitu: 1) budaya itu dipelajari, 2) budaya adalah simbol (verbal ataupun nonverbal), 3) budaya tumbuh serta berubah dari generasi ke generasi, 4) budaya dapat dipertukarkan, dan 5) budaya itu etnosentris (Lubis, 2012:13). Apabila multikulturalisme dapat dikelola dengan baik, maka akan menjadikan bangsa ini selalu damai dan stabil dalam segala aspek kehidupannya. Hal ini tentu dapat menjadi kelebihan Indonesia dan dapat menjadi contoh atau panutan bagi bangsa-bangsa lain yang memiliki karakteristik yang serupa dengan Indonesia.
Budaya itu kuat dan stabil, meskipun demikian budaya tidak pernah statis. Kelompok budaya menghadapi tantangan berkesinambungan dari pengaruh kuat, seperti pergolakan lingkungan, tulah, peperangan, migrasi, banjir, imigrasi, dan pertumbuhan teknologi baru. Sebagai akibatnya, budaya berubah dan berkembang dari waktu ke waktu (Samovar dkk, 2010:47). Seiring berkembangnya zaman, hubungan antarbudaya di antara manusia juga mengalami perkembangan dan pergeseran. Saat ini, kehidupan manusia yang semakin dinamis menyebabkan individu lebih mudah untuk mendapatkan informasi dan lebih mudah dalam berpindah tempat sehingga kemungkinan untuk bertemu dengan orang lain yang berbeda ras, suku bangsa dan agama lebih besar. Semakin sering individu dihadapkan kepada perbedaan-perbedaan yang ada mengakibatkan akan semakin besar kemungkinan individu untuk menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghormati perbedaan yang ada. Pergeseran dan perubahan inilah yang disebut dinamika dalam komunikasi antarbudaya.
Saat kebudayaan mengalami perubahan dan pergeseran, perlu ditumbuhkan rasa toleransi dan saling menghargai yang kuat agar kehidupan
Universitas Sumatera Utara

3
antarbudaya dapat harmonis. Hubungan harmonis dapat digambarkan sebagai suatu keadaan di mana tidak ada pertengkaran atau ketidaksepahaman, yang ada hanyalah hubungan yang damai dan kesetaraan antar individu. Sedangkan harmonisasi yaitu suatu keadaan yang harmonis dan tidak ada pertentangan dalam kehidupan masyarakat yang berbeda budaya. Sikap saling mengapresiasi antara sistem budaya subkultur yang satu dengan yang lainnya adalah modal utama untuk terjadinya situasi yang harmonis dan kondusif dalam tata pergaulan masyarakat di Indonesia. Dengan adanya sikap tenggang rasa antar sistem budaya subkultur maka akan terjadi toleransi antar budaya yang ujungnya adalah terciptanya sikap dan perilaku budaya antar suku/etnik yang menjunjung asas persatuan dalam keberagaman dan kerjasama dalam perbedaan, sehingga masyarakat yang berbeda budaya dapat hidup saling berdampingan dengan damai.
Masyarakat adalah sebuah sistem di mana terdapat interaksi antar komponen, baik individu, kelompok atau lembaga-lembaga. Mereka hidup saling bergantung, saling pengaruh-mempengaruhi, saling menjaga dan saling menghargai harmonitas sosial yang tersusun berdasarkan suatu ikatan normanorma dan nilai-nilai yang diakui, ditaati dan dianut untuk mengatur jalannya interaksi sosial dan kehidupan sehari-hari (social interaction and everyday life), demi menjaga keseimbangan keberlangsungan hidup masyarakat itu sendiri (Purwasito, 2003:81). Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesadaran yang tinggi di dalam masyarakat, di mana mereka terdiri dari latar belakang yang berbeda. Secara sederhana, mahasiswa dapat diartikan sebagai status yang diberikan kepada pelajar pada tingkat yang paling tinggi dan dianggap sebagai kaum intelektual yang menjadi calon pemimpin nantinya dan mempunyai kedudukan istimewa dalam masyarakat (Effendy, 2004:194).
Di Indonesia, para mahasiswa di suatu universitas berasal dari berbagai daerah sehingga mahasiswa akan lebih banyak bertemu dengan mahasiswa lain yang berbeda kebudayaan. Sebagai individu yang terdidik, mahasiswa akan menjadi orang yang lebih mengerti dan bijaksana dalam menghadapi orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Terkhusus pada mahasiswa jurusan
Universitas Sumatera Utara

4
ilmu-ilmu sosial, mahasiswa dituntut sebagai orang yang lebih mudah berbaur dan saling menerima serta menghormati perbedaan yang ada. Oleh karena itu, lingkungan kampus juga tidak terlepas dari kegiatan komunikasi antarbudaya.
Beberapa penelitian komunikasi antarbudaya yang berkenaan dengan penelitian ini adalah, antara lain penelitian Iswari dan Pawito (2012), yang berjudul “Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa : Studi tentang Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa Etnis Batak dengan Mahasiswa Etnis Jawa di Universitas Sebelas Maret Surakarta” menyatakan bahwa “Pertama, hambatan-hambatan yang ditemukan dalam proses komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa etnis Batak dengan etnis Jawa yang ada di Universitas Sebelas Maret Surakarta adalah stereotipe, keterasingan (strangershood), dan ketidakpastian (uncertainty) yang dialami oleh mahasiswa etnis Batak. Kedua, efektivitas komunikasi di antara mahasiswa etnis Batak dan etnis Jawa dapat dicapai dengan mengatasi hambatan dan perbedaan latar belakang budaya yang ada dengan sikap terbuka, empati dan kemampuan untuk menyesuaikan diri.”
Penelitian Henny, Rochayanti, dan Isbandi (2011) yang berjudul “Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Korea Selatan di Yogyakarta” menyatakan bahwa “Mahasiswa Korea cenderung tertutup terlebih dengan orang asing. Mereka cenderung melindungi diri dari orang asing, pendiam, dan berbicara yang penting-penting saja. Mereka bersedia berkomunikasi dengan orang yang baru jika dikenalkan oleh orang yang sudah dikenal (melalui perantara). Walaupun demikian, komunikasi antarbudaya tidak dapat terhindarkan antara mahasiswa Korea dengan tuan rumah. Keterbatasan bahasa dan segala perbedaan yang mereka rasakan selama tinggal di Yogyakarta menimbulkan rasa ketidakpastian dan kekhawatiran dengan tahap penyesuaian diri dengan keadaan mereka saat ini. Mahasiswa Korea mengalami perbedaan permasalahan dan memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi karena setiap individu memiliki karakteristik tersendiri untuk dapat menyelesaikan masalah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di Yogyakarta”.
Universitas Sumatera Utara

5
Di kota Medan juga terdapat penelitian komunikasi antarbudaya, antara lain: Lubis (2012) yang berjudul “Komunikasi Antarbudaya Etnis Tionghoa dan Pribumi di Kota Medan” menyatakan bahwa “masyarakat etnis Tionghoa di kota Medan banyak di antaranya masih menganut kepercayaan Sinkretisme yang telah diwariskan turun temurun. Berbeda halnya dengan etnis pribumi yang pada umumnya beragama Islam atau Kristen. Namun disebabkan perkawinan antara etnis maka terjadinya perpindahan agama, khususnya kepada agama islam bukanlah suatu hal yang mudah bagi etnis Tionghoa. Penemuan data wawancara mendapati bahwa etnis Tionghoa mualaf telah dipinggirkan dari keluarga inti maupun keluarga besar karena dianggap sial dan bahkan ada yang tidak dianggap anak lagi setelah bertukar ke agama Islam dan menikah dengan salah satu etnis pribumi. Bahkan kesan yang lebih lagi adalah pengamatan penulis pada etnis Tionghoa yang mualaf di mana hubungan perdagangan terhenti karena perdagangan tersebut umumnya tumbuh dan berkembang dari hubungan perdagangan keluarga. Perpindahan agama atau kepercayaan etnis Tionghoa kepada Islam atau Kristen yang umumnya disebabkan karena perkawinan dengan etnis pribumi memberi sumbangan besar sebagai salah satu aspek budaya yang telah turut berperan dalam mengubah cara pandang antara etnis. Selain itu, dengan meningkatkan frekuensi komunikasi antarbudaya akan meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya di antara etnis Tionghoa dan Pribumi di kota Medan sehingga pandangan dunia terhadap masing-masing etnis bertambah luas dan ini dapat dilihat dari tampilan sikap atau perilaku.”
Lubis dan Pinem (2012) meneliti mengenai “Culture Shock pada Mahasiswa Asal Malaysia di Medan.” Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa “sebagai individu yang berasal dari negara yang berbeda dengan membawa segala bentuk budaya yang sudah tertanam dan melekat dalam diri individu tersebut, maka ketika memasuki kota Medan dan kuliah di USU merupakan suatu pengalaman yang baru dan mereka pun turut mengalami gegar budaya (culture shock). Hal seperti penggunaan bahasa yang keras dan kasar, susah makan, lihat jalan yang macet dan kurang teratur menimbulkan kecemasan pada informan.”
Universitas Sumatera Utara

6
Penelitian Riska Indria (2012) yang berjudul “Efektifitas Komunikasi Antarbudaya di Pasar Tradisional (Studi Kasus Efektifitas Komunikasi Antarbudaya Antar Penjual Dan Pembeli Di Pasar Tradisional Petisah Medan)” menyatakan bahwa “para penjual di sana kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia dengan penjual yang lain terlebih lagi kepada pembeli. Hal ini disebabkan karena banyaknya ragam suku yang terdapat di pasar Petisah, sehingga lebih didominasi pemakaian dengan bahasa Indonesia sebagai salah satu cara/ alat interaksi di antara para penjual dan pembeli. Pada umumnya, suku yang paling sering berkomunikasi dengan bahasa daerah mereka sendiri adalah etnis Tionghoa. Faktanya di lapangan menunjukkan bahwa etnis Tionghoa sangat sering memakai bahasa daerah mereka sendiri karena pada umumnya masyarakat pribumi tidak mengerti bahasa dari etnis Tionghoa itu sendiri, jadi secara tidak langsung bahasa yang mereka pakai dapat menjadi bahasa rahasia mereka dengan masyarakat pribumi. Di sisi lain jika suku Batak, Karo, Jawa, dan Padang menggunakan bahasa daerahnya sendiri, etnis Tionghoa dapat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suku tersebut. Hal ini disebabkan karena, bahasa daerah di antara suku tersebut memiliki kesamaan makna/arti maupun dalam hal segi pengucapannya sehingga mudah dipelajari oleh suku yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa bahasa daerah dari suku Batak, Karo, Jawa dan Padang lebih mudah untuk dimengerti dan dipelajari dibandingkan dengan bahasa dari etnis Tionghoa itu sendiri.”
Penelitian-penelitian di atas menggambarkan dinamika komunikasi antarbudaya dalam beberapa konteks yang berbeda-beda. Seperti halnya bahasa, budaya yang berbeda, gaya hidup yang berbeda, makanan hingga pada hambatanhambatan yang mereka alami ketika berbeda budaya dengan orang lain di sekitarnya. Hal tersebut pastinya pernah dihadapi oleh hampir semua orang tanpa terkecuali, dan cara menghadapi situasi seperti ini pastinya berbeda pada diri satu individu dengan individu lainnya.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti Komunikasi antarbudaya dari aspek dinamika dalam kaitannya dengan menjaga harmonisasi. Penelitian ini akan diadakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara

7
Universitas Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan pada pra survey yang peneliti lakukan menunjukkan banyak mahasiswa yang datang dari latar belakang budaya seperti: suku batak (termasuk toba, karo, mandailing, tapanuli, simalungun, dan pak-pak), suku jawa, suku padang, suku aceh, sunda, melayu, nias dan tionghoa (pra survey dilakukan Desember 2013). Setiap suku bangsa ini memiliki ciri-ciri tersendiri dan tata budaya yang berbeda-beda, sehingga peneliti ingin melihat mahasiswa yang berbeda budaya tersebut dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi serta saling menyelaraskan perbedaan yang ada sebagai mahasiswa yang berkuliah di FISIP USU sehingga tamat.
Universitas Sumatera Utara

8
1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan tersebut, peneliti
merumuskan permasalahan adalah “Bagaimanakah Dinamika Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa FISIP USU dalam Menjaga Harmonisasi?” 1.3 Pembatasan Masalah
Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas yang dapat membuat penelitian menjadi tidak jelas, maka penelitian ini dibatasi sebagai berikut.
1. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yaitu menggambarkan keadaan atau peristiwa komunikasi antar mahasiswa yang berbeda latar belakang budaya di kampus FISIP USU.
2. Objek pada penelitian ini adalah mahasiswa FISIP USU yang masih aktif menjalani perkuliahan, diambil dari angkatan 2010-2012. Hal ini dikarenakan peneliti beranggapan bahwa angkatan 2010-2012 sudah cukup lama menempuh pendidikan di FISIP USU, sehingga kemungkinan untuk lebih memahami komunikasi antarbudaya dengan teman yang berbeda latarbelakang budaya lebih besar.
1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dinamika komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa FISIP USU
2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya yang terjadi di kalangan mahasiswa FISIP USU
3. Untuk mengetahui upaya yang dapat dilakukan dalam menjaga harmonisasi di kalangan mahasiswa FISIP USU
Universitas Sumatera Utara

9
1.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Secara akademis Penelitian ini disumbangkan kepada Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU dalam rangka memperkaya khasanah penelitian dan sumber bacaan
2. Secara teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti terhadap penelitian
3. Secara praktis Hasil penelitian ini dapat memberi masukan-masukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
Universitas Sumatera Utara

BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Kerangka Teori
Wilbur Schramm mengatakan teori merupakan suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar yang tinggi, dan dari padanya proposisi bisa dihasilkan dan diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi perilaku (Effendy, 2004 : 41). Setiap penelitian membutuhkan landasan berpikir dalam memecahkan masalahnya dan menyelesaikannya. Dengan demikian, perlu disusun kerangka teori yang akan menuntun peneliti untuk mengetahui dari sudut mana peneliti akan menyoroti masalah penelitian. Dalam penelitian ini teori yang dianggap relevan adalah Komunikasi Antarbudaya, Dinamika Komunikasi Antarbudaya, Harmonisasi dalam Komunikasi Antarbudaya, dan Komunikasi Antarpribadi.
2.1.1 Komunikasi Antarbudaya Komunikasi Antarbudaya merupakan bentuk kegiatan yang berkaitan erat dengan bagaimana aktivitas kebudayaan dan komunikasi saling berkaitan. Komunikasi mempengaruhi aktivitas kebudayaan dan aktivitas kebudayaan dapat berjalan dengan baik melalui komunikasi. Pada dasarnya kata “budaya” berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, yang berarti “budi” dan “akal”. Secara singkat dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal. Secara formal, budaya didefenisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objekobjek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok (Mulyana dan Rakhmat, 2005:18).
Berdasarkan pengertian tersebut, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah semua kebiasaan, adat istiadat, nilai dan norma,
10 Universitas Sumatera Utara

11
kepercayaan dan pengetahuan yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat yang mungkin berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.
Budaya dan komunikasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang dimilikinya untuk pesan, dan kondisinya untuk mengirim, memperhatikan, dan menafsirkan pesan. Sehingga, bila budaya beraneka ragam, maka praktik-praktik komunikasi juga akan beraneka ragam (Mulyana dan Rakhmat, 2005:19)
Kebudayaan erat kaitannya dengan komunikasi sehingga komunikasi antarbudaya penting dipelajari sebagai acuan ketika berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda budaya dengan kita. Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya, dalam keterlibatan suatu konferensi internasional di mana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan, Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya. Banyak pengertian komunikasi antarbudaya yang dijelaskan oleh para ahli, Liliweri (2003) menjelaskan beberapa pengertian lain komunikasi antarbudaya menurut para ahli (Lubis, 2012:12-13), yaitu:
a. Sitaram (1970) : Komunikasi antarbudaya adalah seni untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan.
b. Stephen Daal dari Luton University : Komunikasi antarbudaya yaitu komunikasi dalam masyarakat yang tidak saja berlangsung dalam dua atau lebih aktor dari kebangsaan yang berbeda (Purwasito, 2003:124).
c. Samovar dan Porter (2003) : Komunikasi antarbudaya terjadi ketika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut membawa serta latar belakang budaya pengalaman yang berbeda yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh kelompoknya.
d. Carley H.Dood (1982) : Komunikasi antarbudaya adalah pengiriman dan penerimaan pesan-pesan dalam konteks perbedaan kebudayaan yang menghasilkan efek-efek yang berbeda.
Universitas Sumatera Utara

12
e. Lustig dan Koester (1993), “Intercultural Communication Competence”, mendefinisikan komunikasi antarbudaya sebagai suatu proses komunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan tertentu memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan (Liliweri, 2003:11).
f. Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss (1983:362), komunikasi antarbudaya terjadi di antara orang-orang yang memiliki budaya yang berbeda (ras, etnik, sosio ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan itu).
Pengertian-pengertian komunikasi antarbudaya yang telah disebutkan sebelumnya menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan kegiatan komunikasi yang berlangsung di antara orang yang berbeda budaya satu dengan lainnya. Pendapat para ahli tersebut juga menekankan perbedaan budaya sebagai faktor penentu dalam kegiatan komunikasi antarbudaya. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan dari komunikator kepada komunikan dengan latarbelakang kebudayaan yang berbeda.
Di dalam komunikasi antarbudaya terdapat beberapa prinsip yang penting untuk dipahami ketika kita berkomunikasi dengan orang lain. Tiga prinsip penting dalam komunikasi antarbudaya yang dikemukakan oleh Sarbaugh (dalam Tubbs dan Moss, 2005:240) , yaitu:
1. Sistem sandi bersama, yang terdiri dari 2 aspek, verbal dan non verbal. Semakin sedikit persamaan sandi yang terbentuk, semakin sedikit komunikasi yang terjalin.
2. Kepercayaan dan perilaku yang berlainan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi merupakan landasan bagi asumsi-asumsi berbeda untuk memberikan respons.
3. Tingkat mengetahui dan menerima kepercayaan dan perilaku orang lain. Cara kita menilai budaya lain berdasarkan nilai-nilai budaya yang kita miliki akan mempengaruhi efektivitas komunikasi yang akan terjadi.
Universitas Sumatera Utara

13
Prinsip komunikasi antarbudaya tersebut menjelaskan apa-apa saja yang menjadi dasar ketika berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Dengan memahami prinsip-prinsip tersebut, akan menjelaskan hal apa saja yang dapat menjadi hambatan ketika berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya dan apa sebabnya. Ketika kita memahami prinsip tersebut, maka kita akan lebih memahami bagaimanakah komunikasi antarbudaya itu dan apa yang dapat dilakukan supaya komunikasi antarbudaya berjalan dengan baik (efektif). Berkaitan dengan hal tersebut, banyak ahli yang memberikan pendapatnya tentang bagaimana suatu komunikasi antarbudaya disebut efektif. Namun untuk mendapatkan satu pengertian agar dapat dipahami bersama, maka dapat dikatakan efektivitas komunikasi antarbudaya (dalam Liliweri, 2004 : 257) , meliputi:
1. Kemampuan seseorang untuk menyampaikan semua maksud atau isi hati secara profesional sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yang dia tampilkan secara prima.
2. Kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara baik, misalnya mampu mengalihbahasakan semua maksud dan isi hatinya secara tepat, jelas dalam suasana yang bersahabat.
3. Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan kebudayaan pribadinya dengan kebudayaan yang sedang diahadapinya meskipun dia harus menghadapi berbagai tekanan dalam proses adaptasi tersebut.
4. Kemampuan seseorang untuk memberikan fasilitas atau jaminan bahwa dia bisa menyesuaikan diri atau bisa mengelola tekanan kebudayaan lain terhadap dirinya.
2.1.2 Dinamika Komunikasi Antarbudaya Di dalam perjalanan waktu dan transformasi multikultur, diibaratkan jika P berinteraksi dengan X dan Q akan lahir kultur dan sub kultur baru yaitu R. Demikian seterusnya komunikan dalam masyarakat multikultur terus berproses tanpa henti untuk menciptakan kultur yang lebih maju dan progresif. Hal inilah yang disebut dinamika multikultur. Itulah sebabnya, kebudayaan berisi tentang cerita perubahan-perubahan, kisah manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada (Purwasito, 2003:138-139)
Universitas Sumatera Utara

14
Komunikasi yang berlangsung di antara individu yang berbeda latar belakang budaya mengalami banyak hambatan yang disadari atau tidak disadari. Dengan demikian terlihat adanya dinamika antara peserta yang berkomunikasi tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa karakter yang perlu diperhatikan (Lubis, 2012:45-52), yaitu:
1. Komunikasi Bersifat Dinamis Komunikasi bersifat dinamis maksudnya ialah komunikasi merupakan aktivitas orang-orang yang berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi dan mengalami perubahan pola-pola, pesan dan saluran. Hal ini disebabkan oleh saling mempengaruhi di antara komunikator dengan komunikan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan ekonomi, situasi harmonis dan disharmonis yang berpengaruh terhadap norma dan nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat.
Dinamika komunikasi yang berlangsung ini menyebabkan munculnya persoalan dalam keberagaman budaya, seperti muncul berbagai konflik antar suku, bangsa, agama maupun status sosial ekonomi. Hal ini menyebabkan dibutuhkannya sebuah pemikiran bagaimana mengakomodasi komunikasi antarbudaya tersebut agar berlangsung dengan efektif.
2. Komunikasi Bersifat Interaktif Komunikasi tidak hanya melibatkan 2 atau 3 orang, melainkan melibatkan beberapa kelompok, organisasi, publik maupun massa. Ketika berkomunikasi, individu maupun kelompok baik ketika menjadi komunikator ataupun komunikan dipengaruhi oleh pengalaman yang berbeda, latar belakang yang berbeda, dan kepribadian yang unik.
3. Komunikasi Bersifat Irreversibel Komunikasi bersifat irreversibel maksudnya pesan tidak dapat ditarik kembali setelah disampaikan. Sekali penerima telah dipengaruhi oleh pesan pertama, pengaruh dari pesan tersebut tidak dapat ditarik kembali meskipun dilakukan koreksi melalui penyampaian pesan yang baru. Oleh karena itu,
Universitas Sumatera Utara

15
perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain.
Gudykunst dan Kim (1984) menunjukkan bahwa orang-orang yang kita kenal selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian melalui peramalan yang tepat atas relasi antarpribadi. Usaha untuk mengurangi tingkat ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap:
1. Pro kontra atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun non verbal (apakah komunikan suka berkomunikasi atau menghindari komunikasi)
2. Initial contact and impression yakni tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal tersebut.
3. Closure, yaitu mulai membuka diri dari yang semula tertutup melalui atribusi dan pengembangan kepribadian implisit. Teori atribusi menganjurkan agar kita harus lebih mengerti perilaku atau tindakan kita.
4. Komunikasi Selalu Berlangsung dalam Konteks Fisik dan Sosial Faktor lingkungan fisik dianggap mempengaruhi proses komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh konteks sosial menjadi sangat dominan dalam kehidupan paternalistik dan tradisional seperti Jawa dan Asia pada umumnya. Konteks sosial ini agak melemah ketika berada dalam masyarakat egaliter dan demokrasi yang tinggi seperti Amerika Serikat.
2.1.3 Harmonisasi dalam Komunikasi Antarbudaya Secara sederhana, kata Harmonisasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana tercapai keselarasan dan kedamaian tanpa ada perselisihan dan ketidaksepahaman. Dalam sebuah tatanan masyarakat sangat diperlukan sebuah harmonisasi struktur, baik struktur norma maupun struktur lembaga. Dua hal yang menjadi kata kunci adalah faktor suprastruktur dan infrastruktur. Dalam perspektif budaya, kedua faktor ini memiliki relevansi dengan pemaknaan manusia atas karyanya, bahwa manusia mengkonstruksi kebudayaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Benjamin Akzin, (1964) (Attamimi, 1991) dalam struktur norma yang termasuk suprastruktur adalah norma hukum publik, sedangkan yang infrastruktur meliputi norma hukum keperdataan dan hukum perikatan.
Universitas Sumatera Utara

16
Untuk mencapai suatu keadaan yang harmonis, maka dibutuhkan komunikasi antarbudaya yang efektif. Proser dalam Syahra (1983) menyatakan komunikasi antarbudaya juga merupakan komunikasi antarpribadi pada tingkat individu dari anggota kelompok-kelompok budaya yang berbeda, oleh karena itu efektivitas komunikasi antarbudaya pun sama dengan efektivitas komunikasi antarpribadi (Liliweri, 2001:170). DeVito (1978) mengemukakan beberapa faktor yang menjadi penentu efektivitas komunikasi antarpribadi ( dalam Liliweri, 2001:173-174), yakni:
1. Keterbukaan. Secara ringkas, keterbukaan ialah: 1). Sikap seorang komunikator yang membuka semua informasi pribadinya kepada komunikan dan menerima semua informasi yang relevan tentang dan dari komunikan dalam rangka interaksi antarpribadi, 2). Kemauan seseorang sebagai komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap pesan yang datang dari komunikan, dan 3). Memikirkan dan merasakan bahwa apa yang dinyatakan seorang komunikator merupakan tanggung jawabnya terhadap komunikan dalam suatu situasi tertentu.
2. Sikap Empati. Sikap empati ialah kemampuan seorang komunikator untuk menerima dan memahami orang lain seperti ia menerima dirinya sendiri, jadi ia berpikir, berasa, berbuat terhadap orang lain sebagaimana ia berpikir, berasa, dan berbuat terhadap dirinya sendiri.
3. Perasaan Positif. Perasaan positif ialah perasaan seorang komunikator bahwa pribadinya, komunikannya, serta situasi yang melibatkan keduanya sangat mendukung (terbebas dari ancaman, tidak dikritik dan tertantang).
4. Memberikan Dukungan. Memberikan dukungn ialah suatu situasi dan kondisi yang dialami komunikator dan komunikan terbebas dari atmosfir ancaman, tidak dikritik dan ditantang.
Universitas Sumatera Utara

17
5. Memelihara Keseimbangan. Memelihara keseimbangan ialah suatu suasana yang adil antara komunikator dengan komunikan dalam hal kesempatan yang sama untuk berpikir, berasa, dan bertindak
2.1.4 Komunikasi Antar Pribadi Komunikasi antarpribadi merupakan proses komunikasi antarpribadi dengan ciri komunikator dan komunikan berada dalam suasana yang dekat. Dalam komunikasi antarpribadi juga terdapat adanya diskusi atau pembicaraan (discourse) dan terdapat tingkat keterhubungan (relationship). Banyak pengertian komunikasi antarpribadi yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya, yaitu menurut R. Wayne Pace (1979), “interpersonal communication is communication involving two or more in a face setting”, yaitu suatu proses tatap muka yang dilakukan antara dua orang atau lebih (Lubis, 2011:32;138). Everett M Rogers menyatakan bahwa komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi yang berlangsung dari mulut ke mulut yang terjadi di dalam interaksi tatap muka antara beberapa individu (Wiryanto, 2004:35). Menurut Joseph.A. Devito, komunikasi antarpribadi adalah “p

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3864 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1026 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 924 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 616 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 772 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1320 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1213 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 802 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1084 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1315 23