Analisis Logam Cr Pada Eye Shadow Yang Teregistrasi Dan Tanpa Registrasi Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM) Secara Spektrofotometri Serapan Atom

ANALISIS LOGAM Cr PADA EYE SHADOW YANG TEREGISTRASI DAN
TANPA REGISTRASI BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
(BPOM) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

SKRIPSI

FENNY RAHMAWINA HARAHAP
090822020

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS LOGAM Cr PADA EYE SHADOW YANG TEREGISTRASI DAN
TANPA REGISTRASI BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
(BPOM) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

FENNY RAHMAWINA HARAHAP
090822020

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERSETUJUAN

Judul

Kategori
Nama
Nomor Induk Mahasiswa
Program Studi
Departemen
Fakultas

: ANALISIS LOGAM Cr PADA EYE SHADOW YANG
TEREGISTRASI DAN TANPA REGISTRASI
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
(BPOM) SECARA SPEKTROFOTOMETRI
SERAPAN ATOM
: SKRIPSI
: FENNY RAHMAWINA HARAHAP
: 090822020
: SARJANA (S1) KIMIA EKSTENSI
: KIMIA
: MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM / FMIPA UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA

Disetujui di
Medan, Agustus 2011
Komisi Pembimbing

:

Pembimbing 2

Pembimbing 1

Prof. Dr. Zul Alfian, M.Sc
NIP.195504051983031002

Prof. Dr. Harry Agusnar, M.Sc., M.Phill
NIP.195308171983031002

Diketahui/Disetujui oleh :
Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua,

DR. Rumondang Bulan Nst, MS
NIP.195408301985032001

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

ANALISIS LOGAM Cr PADA EYESHADOW YANG TEREGISTRASI DAN
TANPA REGISTRASI BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
(BPOM) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa
kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan,

Agustus 2011

FENNY RAHMAWINA HARAHAP
090822020

Universitas Sumatera Utara

PENGHARGAAN

Alhamdulillah, segala puji dan syukur yang teramat besar saya persembahkan kepada
Allah SWT yang dengan curahan rahmat serta cinta-Nya saya dapat menyelesaikan
skripsi ini sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar Sarjana Kimia pada
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Serta
shalawat dan salam saya sampaikan untuk Rasulullah Muhammad SAW sebagai
tauladan umat.
Selanjutnya saya sampaikan penghargaan dan cinta kasih yang terdalam dan
tulus kepada Ayahanda tercinta Ali Mukti Harahap (Alm) dan Ibunda tersayang Dra.
Maryani Lenggana Nasution atas segala doa dan pengorbanan serta motivasi yang
telah diberikan kepada saya juga terima kasih karena sudah menjadi inspirasi saya.
Serta tak lupa pula terima kasih untuk kakak saya Novriyanti Hrp, SH dan
keluarganya, abang saya Moraisyah P Hrp, S.Sos dan adik saya Tama Anggara Nauli
Hrp. Serta seluruh keluarga yang telah memberikan banyak dukungan kepada saya.
Dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :
1. Prof. Dr. Harry Agusnar, M.Sc, M.Phill selaku dosen pembimbing I dan Prof. Dr.
Zul Alfian, M.Sc selaku dosen pembimbing 2 yang telah banyak memberikan
pengarahan dan bimbingan hingga terselesaikannya skripsi ini.
2. Dr. Rumondang Bulan Nst, MS dan Drs. Albert Pasaribu, M.Sc selaku Ketua dan
Sekretaris Departemen Kimia FMIPA USU, serta seluruh staff pegawai
Departemen Kimia.
3. Dra. Yugia Muis, MSi selaku dosen wali saya yang sudah memberikan masukan
kepada saya selama saya belajar di FMIPA USU.
4. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan ilmu selama masa studi saya di
FMIPA USU.
5. Sahabat-sahabat saya, Ayu Srg, Faradilla dan Dhea terima kasih atas dukungan dan
motivasinya selama ini.
6. Teman- teman Kimia Stambuk 2009, Ika , Novi, Tutu, Titis, Nila, Iin, Happy dan
Jashinta. Terima kasih untuk motivasi, semangat, inspirasi, dukungan, doa dan
kerjasamanya selama masa kuliah dan penelitian sampai selesainya skripsi ini.
7. Serta segala pihak yang telah membantu saya menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu
semua, semoga Allah SWT membalasnya dengan segala yang terbaik. Amin.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, karena
keterbatasan pengetahuan saya. Oleh karen itu saya mengharapkan saran dan masukan
yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini, dan semoga skripsi ini bermanfaat
bagi kita semua.

Medan,

Agustus 2011

Fenny Rahmawina Harahap

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian terhadap kandungan logam Cr dari kosmetik perona
kelopak mata. Sampel yang dianalisa adalah perona kelopak mata yang teregistrasi
dan tanpa registrasi BPOM. Pengukuran konsentrasi logam Cr pada perona kelopak
mata dilakukan dengan metode destruksi kering. Pelarut yang digunakan adalah HCl 6
M kemudian dianalisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada λspesifik = 357,9
nm.
Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk sampel yang teregistrasi dan tanpa
registrasi BPOM, untuk logam Cr diperoleh konsentrasi rata-ratanya = 110,9 mg/Kg.
Data kadar Cr yang diperoleh diolah dengan menggunakan kurva standar metode
Least-Square dengan memplotkan nilai absorbansi larutan seri standar logam Cr
terhadap konsentrasi. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat kandungan
logam Cr di dalam sampel yang teregistrasi dan tanpa registrasi BPOM yang
merupakan bahan yang dilarang digunakan dalam pembuatan kosmetik.

Universitas Sumatera Utara

ANALYSIS OF CHROMIUM IN EYE SHADOW WHICH REGISTERED
AND NOT REGISTERED COMMITTEE OVERSEER OF MEDICINE
AND FOOD (BPOM) WITH ATOMIC ABSORPTION
SPECTROPHOTOMETRIC METHOD

ABSTRACT

The research done on the metal content of Cr from the eye shadow cosmetics.
Samples analyzed are registered and not registered eye shadow with BPOM.
Measurement of Cr metal concentration in eye shadow is done by using dry ash
destruction method. Solvent which used is HCl 6 M and then analyzed by Atomic
Absorption Spectrophotometer on λspecific = 357,9 nm.
From the research result have been done for registered and not registered
BPOM, for Cr metal is obtained average concentration = 110,9 mg/Kg. Data of Cr
obtained is processed using the standard curve with Least-Square method which the
absorbance value of the standard series solution is plot with the concentration. From
the research results known that there is Cr metal contents in samples which registered
and not registered BPOM which is that prohibited material used in making cosmetics.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
PERSETUJUAN
PERNYATAAN
PENGHARGAAN
ABSTRAK
ABSTRACT
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR

ii
iii
iv
v
vi
vii
ix
x

Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Pembatasan Masalah
1.4 Tujuan Penelitian
1.5 Manfaat Penelitian
1.6 Lokasi Penelitian
1.7 Metodologi Penelitian

1
2
3
3
3
3
4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kosmetika
2.1.1 Penggolongan Kosmetika
2.1.2 Perona Kelopak Mata (Eye Shadow)
2.1.3 Bahan Baku dalam Pembuatan Kosmetika
2.1.3.1 Pewarna
2.1.4 Keracunan Kosmetika
2.1.5 Manfaat Kosmetika
2.2 Logam Berat
2.2.1 Logam Kromium (Cr)
2.2.1.1 Kegunaan Kromium (Cr)
2.2.1.2 Efek Toksik/Bahaya Kromium
2.2.1.3 Pencegahan Dan Penanggulangan Toksisitas Cr
2.3 Spektrofotometri Serapan Atom
2.3.1 Teori Spektrofotometri Serapan Atom
2.3.2 Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom
2.3.3 Analisis Kuantitatif dengan SSA
2.3.4 Gangguan dalam Spektrofotometri Serapan Atom
2.4 Destruksi
2.4.1 Jenis-jenis Destruksi

11
12
13
14
14
14
18
22
24
25
25

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat-alat
3.2 Bahan-bahan

27
27

5
6
7
8
8
8
10

Universitas Sumatera Utara

3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Pembuatan Reagent
3.3.2 Pembuatan Larutan Standar Kromium 100 mg/L
3.3.3 Pembuatan Larutan Standar Kromium 10 mg/L
3.3.4 Pembuatan Larutan Seri Standar Kromium 0,4; 0,8;
1,2; 1,6; dan 2,0 mg/L
3.3.5 Pembuatan Kurva Standar Kromium
3.3.6 Penentuan Kadar Kadmium dan Kromium Pada Sampel
3.4 Bagan Penelitian
3.4.1 Preparasi Sampel
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Logam Cr
4.2 Pengolahan Data
4.2.1 Logam Cr
4.2.1.1 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square
4.2.1.2 Koefisien Korelasi
4.2.1.3 Penentuan Konsentrasi
4.2.1.4 Penentuan Kadar Kromium (Cr) pada Eye Shadow Dalam
Satuan mg/Kg
4.3 Pembahasan

28
28
28
28
28
29
29
30
30

31
31
32
32
33
34
34
36
37

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

39
39

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

40
42

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 1

Tabel 2
Tabel 3

Tabel 4
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4
Tabel 4.5

Daftar Bahan Pewarna Yang Diizinkan Dalam Kosmetik
Menurut Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia
Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik
Zat Warna Yang Dilarang Digunakan Dalam Obat, Makanan
dan Kosmetika (Permenkes No. 239/Menkes/Per/V/1985)
Daftar Bahan Kosmetik Yang Dilarang Digunakan Dalam
Menurut Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia
Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik
Kondisi SSA untuk Analisis Beberapa Logam
Kondisi Alat SSA Merek Shimadzu Tipe AA-6300 pada
Pengukuran Konsentrasi Logam Cr
Data Absorbansi Larutan Standar Cr
Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least
Square untuk Cr
Data Hasil Pengukuran Absorbansi Logam Cr Pada Eye Shadow
Yang Teregistrasi dan Tanpa Registrasi BPOM
Data Hasil Pengukuran Kadar Kromium pada Eye Shadow
dengan Metode Destruksi Kering Secara SSA

Halaman
43

44
45

46
31
32
33
35
37

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 2.3
Gambar 2.4

Kromium (Cr)
Pengurangan Kekuatan Sinar oleh Larutan Pengabsorbsi
Sistem Peralatan Spektrofotometer Serapan Atom
Diagram Skematik Lampu Katoda Cekung

Halaman
11
16
18
19

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian terhadap kandungan logam Cr dari kosmetik perona
kelopak mata. Sampel yang dianalisa adalah perona kelopak mata yang teregistrasi
dan tanpa registrasi BPOM. Pengukuran konsentrasi logam Cr pada perona kelopak
mata dilakukan dengan metode destruksi kering. Pelarut yang digunakan adalah HCl 6
M kemudian dianalisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada λspesifik = 357,9
nm.
Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk sampel yang teregistrasi dan tanpa
registrasi BPOM, untuk logam Cr diperoleh konsentrasi rata-ratanya = 110,9 mg/Kg.
Data kadar Cr yang diperoleh diolah dengan menggunakan kurva standar metode
Least-Square dengan memplotkan nilai absorbansi larutan seri standar logam Cr
terhadap konsentrasi. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat kandungan
logam Cr di dalam sampel yang teregistrasi dan tanpa registrasi BPOM yang
merupakan bahan yang dilarang digunakan dalam pembuatan kosmetik.

Universitas Sumatera Utara

ANALYSIS OF CHROMIUM IN EYE SHADOW WHICH REGISTERED
AND NOT REGISTERED COMMITTEE OVERSEER OF MEDICINE
AND FOOD (BPOM) WITH ATOMIC ABSORPTION
SPECTROPHOTOMETRIC METHOD

ABSTRACT

The research done on the metal content of Cr from the eye shadow cosmetics.
Samples analyzed are registered and not registered eye shadow with BPOM.
Measurement of Cr metal concentration in eye shadow is done by using dry ash
destruction method. Solvent which used is HCl 6 M and then analyzed by Atomic
Absorption Spectrophotometer on λspecific = 357,9 nm.
From the research result have been done for registered and not registered
BPOM, for Cr metal is obtained average concentration = 110,9 mg/Kg. Data of Cr
obtained is processed using the standard curve with Least-Square method which the
absorbance value of the standard series solution is plot with the concentration. From
the research results known that there is Cr metal contents in samples which registered
and not registered BPOM which is that prohibited material used in making cosmetics.

Universitas Sumatera Utara

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada
bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian
luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan,
mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau memelihara tubuh pada
kondisi baik (BPOM, 2008).

Tujuan awal penggunaan kosmetika adalah untuk mempercantik diri.
Kosmetika pada umumnya bersifat kosmetika rias / dekoratif dan kosmetika
pemeliharaan. Kosmetika rias / dekoratif semata-mata hanya melekat pada bagian
tubuh yang dirias dan dimaksudkan agar terlihat menarik serta dapat menutupi
kekurangan yang ada. Kosmetika ini terbuat dari beberapa komponen termasuk salah
satunya zat warna dalam bahan pembawa.

Salah satu jenis sediaan kosmetika rias adalah perona kelopak mata (eye
shadow) yang merupakan sediaan rias yang berisi pigmen warna yang digunakan pada
kelopak mata untuk memberi latar belakang atau bayangan yang menarik pada mata
sehingga memberi efek berkilau pada mata. Perona kelopak mata umumnya berwarna
biru, merah tua, perak, hijau dan coklat (Wasitaatmadja, 1997).

Berdasarkan hasil investigasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) masih banyak ditemukan sediaan kosmetik yang tidak memenuhi standar

Universitas Sumatera Utara

yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI. Salah satu persyaratan kosmetik
dalam hal ini perona kelopak mata (eye shadow), adalah kandungan logam-logam
beratnya harus negatif. Logam-logam berat disinyalir mempunyai efek toksik karena
bersifat karsinogen atau penyebab kanker. Logam-logam tersebut antara lain raksa
atau Hg, timbal atau Pb, arsen atau As, kadmium atau Cd, dan kromium atau Cr
(Supriyadi, 2008).

Seperti logam merkuri atau Hg yang sering ditambahkan ke dalam kosmetik
produk pemutih karena merkuri umumnya tampak putih mengkilap. Pemakaian
merkuri dalam krim pemutih wajah bisa menimbulkan perubahan warna kulit, alergi,
hingga bintik hitam (www.news.okezone.com).

Begitu juga dengan penambahan logam lainnya seperti logam Cr, logam
tersebut umumnya digunakan dalam industri tekstil dan cat sebagai pigmen warna.
Bagi produsen yang

hanya mengejar keuntungan semata dengan sengaja

menambahkan logam-logam ini pada kosmetik perona kelopak mata untuk
memantapkan warnanya. Residu logam berat yang terdapat pada perona kelopak mata
juga dapat berasal dari cemaran yang timbul dalam proses pembuatan kosmetik
tersebut, akibat dari kurangnya kesadaran pihak produsen (Fatmawaty dan Sosiyawati,
2008).

Dari uraian di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian terhadap
kosmetika perona kelopak mata (eye shadow), berapa besar kadar logam kromium
(Cr) yang terdapat pada perona kelopak mata (eye shadow) yang berbahaya bagi
manusia.

1.2 Permasalahan

Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Berapakah besar kadar logam Cr yang terdapat di dalam perona

kelopak

mata (eye shadow) yang tidak teregistrasi BPOM.

Universitas Sumatera Utara

1.3 Pembatasan Masalah

1. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah kosmetika perona kelopak
mata (eye shadow) yang teregistrasi dan tidak teregistrasi BPOM.
2. Penentuan besarnya kadar logam Cr dalam perona kelopak mata (eye shadow)
tersebut dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA).

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui besar kadar logam Cr yang terdapat di dalam perona
kelopak mata (eye shadow) yang tidak teregistrasi BPOM.

1.5 Manfaat Penelitian

Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya para ibu dan remaja putri
tentang bahaya yang bisa ditimbulkan oleh kosmetika perona kelopak mata (eye
shadow) yang didalamnya terdapat kandungan logam Cr baik yang teregistrasi
dan tanpa registrasi BPOM sehingga dapat terhindar dari bahaya tersebut.

1.6 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

1.7 Metodologi Penelitian

1. Metode pengambilan sampel dilakukan secara acak di beberapa pasar dan
swalayan di kota Medan.
2. Sampel dipreparasi dengan menggunakan metode destruksi (pengabuan)
kering dan hasil akhir destruksi dilarutkan dengan pelarut HCl 6 M.
3. Penentuan kadar logam Cr dilakukan dengan Spektrofotometer Serapan Atom
dengan panjang gelombang 357,9 nm.
4. Analisis data yang diperoleh diolah dengan cara statistik.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kosmetika

Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti “berhias”. Bahan yang
dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan
alami yang terdapat di sekitarnya. Ketika kemudian terjadi kemajuan dalam segala
bidang kehidupan termasuk bidang sains dan teknologi, kosmetika berubah menjadi
komoditi yang diproduksi secara luas dan diatur oleh berbagai peraturan dan
persyaratan tertentu untuk memenuhi standar mutu dan keamanan bagi konsumen.
Berbagai masalah kosmetika di Indonesia ditangani oleh Direktorat Kosmetika Ditjen
POM Departemen Kesehatan RI (Wasitaatmadja, 1997).

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik yang dimaksud
dengan kosmetik adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada
bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian
luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan,
mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau memelihara tubuh pada
kondisi baik (BPOM, 2008).

Namun sudah menjadi kenyataan bahwa komoditi kosmetika di Indonesia
tidak hanya dibuat oleh pabrik kosmetika yang resmi dan mempunyai legalitas untuk
itu. Berbagai kalangan lain ternyata ikut membuat produk kosmetika, di rumah, salon
kecantikan, maupun di klinik kecantikan atau kesehatan. Tidak setiap orang mampu
membuat produk kosmetika yang baik (memenuhi standar mutu) dan aman. Dengan
demikian, seseorang yang ingin membuat kosmetika harus mempunyai izin produksi

Universitas Sumatera Utara

dari Departemen Perindustrian RI, membuat kosmetika dengan baik dan aman
(memenuhi Kode Etik Kosmetika Indonesia, tidak menggunakan zat yang dilarang
atau melebihi batas maksimum), mendaftarkan produk kosmetikanya untuk diteliti,
dan bila lulus akan diberi nomor registrasi (Wasitaatmadja, 1997).

2.1.1 Penggolongan Kosmetika

Dewasa ini terdapat ribuan kosmetika di pasar bebas. Kosmetika tersebut adalah
produk pabrik kosmetika di dalam dan di luar negeri yang jumlahnya telah mencapai
angka ribuan. Jumlah yang sedemikian banyak memerlukan usaha penyederhanaan
kosmetika, baik untuk tujuan pengaturan maupun pemakaian. Usaha tersebut berupa
penggolongan kosmetika (Wasitaatmadja, 1997).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 045/C/SK/1977
tanggal 22 Januari 1977, menurut kegunaannya kosmetika dikelompokkan dalam 13
golongan yaitu :
a. Sediaan untuk bayi.
b. Sediaan untuk mandi.
c. Sediaan untuk make-up mata.
d. Sediaan wangi-wangian.
e. Sediaan rambut (bukan cat rambut).
f. Sediaan pewarna rambut (cat rambut).
g. Sediaan make-up (bukan untuk mata).
h. Sediaan untuk kebersihan mulut.
i. Sediaan kuku.
j. Sediaan untuk kebersihan badan.
k. Sediaan cukur.
l. Sediaan perawatan kulit.
m. Sediaan suntan dan sunscreen, yaitu losion atau krim yang digunakan dengan
maksud merubah kulit yang putih menjadi berwarna coklat, tanpa kulit terbakar
oleh sinar matahari.

Universitas Sumatera Utara

Dalam hal ini pembahasan tentang kosmetika dikhususkan pada sediaan untuk
make-up mata yaitu perona kelopak mata yang biasa disebut eye shadow (Sartono,
2002).

Tata rias mata atau sediaan make-up mata merupakan sediaan yang digunakan
untuk memperindah penampilan bentuk mata termasuk di dalamnya mascara, eye
shadow, eye brow pencil, dan eye liner (Lesmono, 1985).

2.1.2 Perona Kelopak Mata ( Eye Shadow)

Mata merupakan organ tubuh yang sering dinilai keindahannya dalam penampilan
seseorang. Rias mata merupakan hal yang tidak dapat dilupakan begitu saja apabila
seseorang ingin berpenampilan lebih, tentu dengan selalu mempertimbangkan kondisi,
keperluan dan tujuan yang ingin dicapai.

Perona kelopak mata (eye shadow) ialah rias kelopak mata yang dipakai agar
tampak lebih gelap sehingga kelopak mata terihat lebih cekung ke dalam. Bentuk
sediaan berupa : compact powder, krim anhydrous, emulsi, stick, dan pensil.

Setting cream adalah krim dasar yang berfungsi agar eye shadow melekat lebih
erat sehingga tidak meleleh ke lipatan kelopak mata. Bahan ini berisi lilin lebah,
siklometikon, dan talkum.

Sedangkan eye shadow pada umumnya mengandung lanolin, beeswax, seresin,
kalsium karbonat, minyak mineral, sorbitan oleate dan tepung (Wasitaatmadja, 1997).

Sediaan kosmetika pada umumnya terdiri dari 95 % bahan dasar dan 5 %
bahan aktif. Bahkan, terdapat juga yang sama sekali tidak mengandung bahan aktif.
Dengan demikian, sifat dan efek sediaan kosmetika (khususnya sediaan kosmetika
untuk kulit), terutama ditentukan oleh bahan dasarnya (Sartono, 2002).

Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Bahan Baku dalam Pembuatan Kosmetika

Bahan baku kosmetika sangat bervariasi dan jumlahnya dapat mencapai ribuan jenis.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar produksi kosmetika, ada 5 macam bahan baku yang
penting, yaitu : waxws dan oils, pengawet dan antiseptik, antioksida, pewarna, dan
pewangi/parfum.

2.1.3.1 Pewarna
Pewarna yang digunakan dalam kosmetika umumnya terdiri atas 2 jenis yaitu :
a.

Pewarna yang dapat larut dalam cairan (soluble), air, alkohol atau minyak.
Contohnya adalah pewarna asam, solvent dyes seperti merah DC, merah hijau
No. 17, violet, kuning dan xanthene dyes seperti DC orange, merah dan
kuning.

b.

Pewarna yang tidak dapat larut dalam cairan (insoluble), yang terdiri atas
bahan organik dan inorganik, misalnya lakes dan besi oksida.

Tidak semua zat warna dapat digunakan untuk kosmetika. Kulit di beberapa bagian
tubuh sensitif terhadap warna tertentu sehingga memerlukan warna khusus, seperti
kulit sekitar mata, kulit sekitar mulut, bibir, dan kuku (Wasitaatmadja, 1997).

Di dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor :
HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik yang dimaksud dengan bahan pewarna
adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memberi dan atau
memperbaiki warna pada kosmetik. Daftar bahan pewarna yang diizinkan digunakan
dalam bahan kosmetik tersebut khususnya yang digunakan dalam pembuatan
kosmetik untuk tata rias mata dan membran mukosa dapat dilihat pada tabel 1 dalam
lampiran (BPOM, 2008).

2.1.3 Keracunan Kosmetika

Sediaan kosmetika sendiri bukanlah racun. Akan tetapi, karena dibuat dari bahanbahan kimia, terutama bagi kulit orang-orang tertentu, dapat menyebabkan timbul

Universitas Sumatera Utara

reaksi yang tidak dikehendaki seperti reaksi alergi, dan fotosensitisasi, selain yang
disebabkan oleh kesalahan dalam penggunaannya (Sartono, 2002).

Sedangkan

pada

kelopak

mata,

bahan-bahan

kimia

tersebut

dapat

menyebabkan terjadinya radang pada kelopak mata yang merupakan radang kelopak
dan tepi kelopak. Juga dapat menyebabkan terjadinya alergi pada kelopak mata yang
disebut dengan blefaritis alergi yang disebabkan oleh debu, asap, bahan kimia iritatif,
dan bahan kosmetik (Ilyas, 1997).

Karena bermacam-macam reaksi kulit yang dapat terjadi pada penggunaan
sediaan kosmetika, telah dilakukan usaha untuk membuat sediaan kosmetika yang
disebut “kosmetika hipoalergi”. Kosmetika jenis ini tidak lagi menggunakan bahanbahan yang dapat menimbulkan bermacam-macam reaksi kulit, seperti senyawa arsen,
aluminium sulfat, aluminium klorida, balsam Peru, fenol, formaldehid, lanolin,
senyawa merkuri, senyawa bismuth, minyak bergamot, minyak lavender, asam
salisilat, dan heksaklorofen. Khusus untuk zat warna, dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 239/Men.Kes/Per/V/1985 tanggal 1 Mei 1985, telah ditetapkan zat
warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya dan dilarang digunakan
dalam obat, makanan, dan kosmetika yang terdapat pada tabel 2 dalam lampiran.

Sehubungan dengan kemungkinan timbulnya reaksi kulit yang disebabkan oleh
bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan sediaan kosmetika, maka masalah
yang kita hadapi dalam penggunaan sediaan kosmetika umumnya tidak dicantumkan
kandungan bahan dasar dan bahan aktif pada kemasan dari sediaan kosmetika yang
beredar di Indonesia (Sartono, 2002).

Di dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetika tercantum bahwa
bahan kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang berasal dari alam dan atau
sintetik yang merupakan komponen kosmetika. Juga terdapat daftar bahan kosmetika
yang dilarang digunakan yang tercantum pada tabel 3 dalam lampiran (BPOM, 2008).

Universitas Sumatera Utara

2.1.4 Manfaat Kosmetika

Bila dasar kecantikan adalah kesehatan, maka penampilan kulit yang sehat adalah
bagian yang langsung dapat kita lihat, karena kulit merupakan organ tubuh yang
berada paling luar dan berfungsi sebagai pembungkus tubuh. Dengan demikian
pemakaian kosmetika yang tepat untuk perawatan kulit, rias atau dekoratif akan
bermanfaat bagi kesehatan tubuh (Wasitaatmadja, 1997).

2.2 Logam Berat

Logam merupakan bahan pertama yang dikenal oleh manusia dan digunakan sebagai
alat-alat yang berperan penting dalam sejarah peradaban manusia. Logam berat masih
termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam lain.
Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan
dan atau masuk ke dalam organisme hidup (www.blogspot.com).

Terdapat 80 jenis logam berat dari 109 unsur kimia di muka bumi ini. Logam
berat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu :
1. Logam berat esensial; yakni logam dalam jumlah tertentu yang sangat dibutuhkan
oleh organisme. Dalam jumlah yang berlebihan, logam tersebut menimbulkan efek
toksik. Contohnya adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain sebagainya.
2. Logam berat tidak esensial; yakni logam yang keberadaannya dalam tubuh masih
belum diketahui manfaatnya, bahkan bersifat toksik seperti Hg, Cd, Pb, Cr, dan
lain-lain.

Logam berat dapat menimbulkan efek gangguan terhadap kesehatan manusia,
tergantung pada bagian mana dari logam berat tersebut yang terikat dalam tubuh serta
besarnya dosis paparan (Widowati, 2008).

Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Logam Kromium (Cr)

Kromium adalah logam kristalin yang putih, tak begitu liat dan tak dapat ditempa
dengan berarti. Ia melebur pada 1765oC. Logam ini larut dalam asam klorida encer
atau pekat. Dalam larutan-larutan air, kromium membentuk tiga jenis ion : kationkation kromium (II) dan kromium (III) dan anion kromat (dan dikromat), dimana
keadaan oksidasi kromium adalah +6 (Vogel, 1985).

Kromium tahan korosi, karenanya digunakan sebagai lapisan pelindung pada
pelapisan elektrolitik. Ia mudah larut dalam HCl, H2SO4, dan HClO4 tetapi menjadi
pasif oleh HNO3 (Cotton, 1989).
Logam berat kromium (Cr) merupakan logam berat dengan berat atom 51,996
g/mol; tahan terhadap oksidasi meskipun pada suhu tinggi, memiliki titik didih
2.672oC, bersifat paramagnetik (sedikit tertarik oleh magnet), membentuk senyawasenyawa berwarna (Gambar 2.2), memiliki beberapa bilangan oksidasi, yaitu +2, +3,
dan +6, dan stabil pada bilangan oksidasi +3. Kromium bisa membentuk berbagai
macam ion kompleks yang berfungsi sebagai katalisator.

Gambar 2.1 Kromium (Cr)

Kromium secara alami bisa ditemukan di batuan, tumbuhan, hewan, tanah dan
gas, serta debu gunung berapi.

Logam Cr murni tidak pernah ditemukan, tetapi biasanya sudah berbentuk
persenyawaan padat atau mineral dengan unsur-unsur lain (Widowati, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Krom merupakan mineral esensial yang berperan dalam metabolisme
karbohidrat dan lipida. Seperti halnya besi, krom berada dalam berbagai bentuk
dengan jumlah muatan berbeda. Konsentrasi krom di dalam jaringan tubuh menurun
dengan umur, kecuali pada jaringan paru-paru yang justru meningkat (Almatsier,
2004).

2.2.1.1 Kegunaan Kromium (Cr)

Kromium terdapat dalam bijih tambang. Logam ini digunakan untuk membuat baja
antikarat, berbagai aloi, dan pigmen (Lu, 1994).

Kromium termasuk logam mineral yang jumlahnya sedikit, baik dalam
makanan maupun pada tubuh manusia, tetapi sangat penting bagi kesehatan. Nutrien
ini tergolong essential trace mineral (mineral penting yang dibutuhkan dalam jumlah
kecil) karena tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan
sehari-hari.

Karena sedikitnya kebutuhan kromium

ini hingga sering

tak

diperhitungkan padahal zat ini sangat diperlukan bagi hampir semua jaringan tubuh
manusia, termasuk kulit, otak, otot, limpa, dan ginjal. Selain itu kromium juga
berfungsi menjaga keseimbangan kadar gula darah dan meningkatkan efisiensi kerja
insulin, menurunkan kolesterol dan trigliserida, dan membantu sintesa kolesterol
(www.lovekimiabanget.blogspot.com).

Berikut berbagai kegunaan kromium :
1. Bidang metalurgi untuk mencegah korosi, mengkilatkan logam, antara lain sebagai
bahan komponen alloy, anodized aluminium, chrome platting, dan wood treatment.
Kromium dalam jumlah kecil digunakan sebagai water treatment, katalisator,
safety matches, copy machine toner, photographic chemical, magnetic tapes,
pelapis pada spare-part kenderaan bermotor, dan stainless steel. Dalam bidang
kesehatan, Cr digunakan sebagai bahan pembuatan alat ortopedi, sebagai radio
isotop kromium yang bisa menghasilkan sinar gamma untuk penandaan sel darah
merah, serta sebagai penjinak sel tumor.

Universitas Sumatera Utara

2. Sebagai pewarna, pencelup, dan cat. Dalam bidang industri kimia, Cr berguna
sebagai bahan dasar pembuatan pigmen cat / warna karena Cr mengandung
komponen warna merah, kuning, orange, dan hijau.
3. Sebagai katalisator.
4. Garam kromium untuk penyamakan kulit.
5. Potasium dikromat sebagai chemical reagent untuk mencuci / membersihkan alat
gelas laboratorium dan titrating agent.
6. Sebagai antikorosi pada alat pengeboran sumur berlumpur. Senyawa ZnCrO4 atau
zinc yellow digunakan untuk mencegah korosi pada spare-part pesawat yang
menggunakan Al dan Mg.

2.2.1.2 Efek Toksik / Bahaya Kromium (Cr)

Logam Cr adalah bahan kimia yang bersifat persisten, biokumulatif, dan toksik yang
tinggi serta tidak mampu terurai di dalam lingkungan, sulit diuraikan, dan akhirnya
diakumulasi di dalam tubuh manusia melalui rantai makanan. Kestabilan kromium
akan mempengaruhi toksisitasnya terhadap manusia secara berurutan, mulai dari
tingkat toksisitas terendah (Widowati, 2008).
Aksi kromium bersifat racun terhadap sel-sel (cytotoxic) dan iritasi umum.
Pengaruh racun kromium antara lain : chromate menyebabkan serangan pada kulit,
debu kromium menimbulkan sakit mata dan borok pada sekitar hidung, infeksi
pharynx dan bronchitis dan dapat menimbulkan kanker paru-paru (Adiwisastra, 1987).

Selain keracunan kronik karena debu krom dan senyawa krom, dapat juga
terjadi keracunan kronik yang disebabkan absorpsi melalui kulit dan keracunan akut
melalui mulut. Dosis fatal senyawa krom yang larut dalam air dan memungkinkan
keracunan melalui mulut, seperti kalium kromat, kalium bikromat, dan asam kromat,
kira-kira 5 g. Pada kematian yang disebabkan oleh keracunan senyawa krom dapat
terjadi nefritis yang disertai oleh pendarahan (Sartono, 2002).

Kelebihan krom karena makanan belum pernah ditemukan. Pekerja yang
terkena limbah industri dan cat yang mengandung krom tinggi dikaitkan dengan

Universitas Sumatera Utara

kejadian penyakit kanker paru-paru. Tubuh tidak dapat mengoksidasi krom makanan
dengan valensi 3 yang tidak toksik menjadi bentuk valensi 6 yang toksik (Almatsier,
2004).

Kromium adalah karsinogen manusia, yang menginduksi kanker paru-paru di
antara pekerja yang terpapar logam ini. Karsinogenitas kromium biasanya disebabkan
oleh Cr heksavalen Cr6+, yang bersifat korosif dan tidak larut dalam air. Secara akut,
Cr6+ menginduksi nekrosis tubulus ginjal (Lu, 1994).

2.2.1.3 Pencegahan dan Penanggulangan Toksisitas Cr

Berbagai usaha untuk menghindari atau mengurangi risiko terpapar Cr antara lain:
1. Menghindarkan anak-anak bermain tanah yang tercemar limbah.
2. Mengurangi konsumsi suplemen Cr secara berlebihan.
3. Mengetahui kadar Cr pada rambut, urin, dan darah, baik serum, sel darah merah,
maupun whole blood guna mengetahui apakah kadar Cr telah melampaui batas
aman atau telah mengontaminasi meskipun ada kesulitan untuk membedakan kadar
Cr (III) dengan Cr (VI).
4. Menghindari makanan yang kotor dan tidak higienis dan mencuci tangan sebelum
makan (Widowati, 2008).

2.3 Spektrofotometri Serapan Atom
2.3.1 Teori Spektrofotometri Serapan Atom

Spektrofotometri dapat dibayangkan sebagai suatu perpanjangan dari penilikan visual
di mana studi yang lebih terinci mengenai pengabsorpsian energi cahaya oleh spesies
kimia memungkinkan kecermatan yang lebih besar dalam pencirian dan pengukuran
kuantitatif. Dengan mengganti mata manusia dengan detektor-detektor radiasi lain,
dimungkinkan studi absorpsi di luar daerah spektrum tampak, dan seringkali
eksperimen spektrofotometri dilakukan secara automatik (Underwood, 2002).

Universitas Sumatera Utara

Peristiwa serapan atom pertama kali diamati oleh Fraunhofer, ketika
mengamati garis-garis hitam pada spektrum matahari. Spektroskopi serapan atom
pertama kali digunakan pada tahun 1955 oleh Walsh. Spektroskopi serapan atom
digunakan untuk analisis kuantitatif unsur-unsur logam dalam jumlah sekelumit
(trace) dan sangat kelumit (ultratrace). Cara analisis memberikan kadar total unsur
logam dalam suatu sampel dan tidak tergantung pada bentuk molekul dari logam
dalam sampel tersebut. Cara ini cocok untuk analisis kelumit logam karena
mempunyai kepekaan yang tinggi (batas deteksi kurang dari 1 ppm), pelaksanaannya
relatif sederhana, dan interferensinya sedikit. Dalam garis besarnya prinsip
spektroskopi serapan atom sama saja dengan spektrofotometri sinar tampak dan
ultraviolet. Perbedaannya terletak pada bentuk spektrum, cara pengerjaan sampel dan
peralatannya.

Emisi dan Absorpsi

Di dalam kimia analisis yang mendasarkan pada proses interaksi itu antara lain cara
analisis spektrofotometri serapan atom yang bisa berupa cara emisi dan cara absorpsi
(serapan).
Pada cara emisi, interaksi dengan energi menyebabkan eksitasi atom yang
mana keadaan ini tidak berlangsung lama dan akan kembali ke tingkat semula dengan
melepaskan sebagian atau seluruh energi eksitasinya dalam bentuk radiasi. Frekwensi
radiasi yang dipancarkan bersifat karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnya
sebanding dengan jumlah atom yang tereksitasi dan yang mengalami proses deeksitasi. Pemberian energi dalam bentuk nyala merupakan salah cara untuk eksitasi
atom ke tingkat yang lebih tinggi. Cara tersebut dikenal dengan nama spektrofotometri
emisi nyala.

Pada absorpsi, jika pada populasi atom yang berada pada tingkat dasar
dilewatkan suatu berkas radiasi maka akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh
atom-atom tersebut. Frekwensi radiasi yang paling banyak diserap adalah frekwensi
radiasi resonan dan bersifat karakteristik untuk tiap unsur. Pengurangan intensitasnya
sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar.

Universitas Sumatera Utara

Metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) mendasarkan pada prinsip
absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang
gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya (Gandjar, 2007).

Secara mendasar, metode-metode spektroskopi ini didasarkan pada interaksi
antara cahaya dengan materi. Hubungan antara energi dan panjang gelombang (λ)
dilukiskan sebagai :
E = hc
λ
dengan E = energi cahaya (Joule)
h = konstanta Planck (6,63 x 10-34 J.s)
c = kecepatan cahaya (3.108 m/s), dan
λ = panjang gelombang (nm)
Bila materi disinari, kemungkinan cahaya diserap, dihamburkan (nefelometri
dan turbidimetri), diserap dan dipancarkan kembali dengan panjang gelombang yang
sama atau berbeda (spektrofotometri), dibelokkan, dan diubah sudut getarnya.

Transmitansi dan Absorbansi
P
T=
Po
b
Po

P

Gambar 2.2 Pengurangan Kekuatan Sinar oleh Larutan Pengabsorbsi

Gambar 2.2 memperlihatkan kekuatan sinar sebelum (Po) dan sesudah (P) melewati
larutan yang mempunyai ketebalan b cm dan konsentrasi zat penyerap sinar c. Sebagai
akibat interaksi di antara cahaya dan partikel-partikel penyerap (pengabsorbsi) adalah
berkurangnya kekuatan sinar dari Po ke P. Transmitansi larutan T merupakan bagian
dari cahaya yang diteruskan melalui larutan. Jadi,

Universitas Sumatera Utara

P
T=

(1)
Po

Transmitansi (T) sering dinyatakan sebagai persentase (%T). Absorbansi (A)
suatu larutan dinyatakan sebagai persamaan :

Po
A = - log T = log

(2)
P

Berbeda

dengan

transmitansi,

absorbansi

larutan

bertambah

dengan

pengurangan kekuatan sinar. Bila ketebalan benda atau konsentrasi materi yang
dilewati cahaya bertambah, maka cahaya akan lebih banyak diserap. Jadi absorbansi
berbanding lurus dengan ketebalan b dan konsentrasi c,

A=a.b.c

(3)

dimana a adalah konstanta absortivitas “absorptivity”. Harga a bergantung pada satuan
yang digunakan untuk b dan c. Bila konsentrasi dinyatakan dalam mol/liter dan
panjang sel dalam cm, maka absortivitas disebut absortivitas molar (molar
absorptivity) dan diberi simbol ε. Jadi persamaan (3) dapat ditulis :
A=ε.b.c

(4)

dimana ε mempunyai satuan L cm-1 mol-1.
Elektron-elektron dari ion logam diatomisasi ke orbital yang lebih tinggi
dengan cara mengabsorbsi sejumlah energi (misalnya energi cahaya pada panjang
gelombang tertentu). Panjang gelombang ini khusus dan spesifik untuk transisi
elektron bagi unsur logam tertentu, sehingga setiap panjang gelombang hanya
berkaitan dengan satu unsur logam. Jumlah energi yang diaplikasikan pada nyala
dapat diukur, sehingga jumlah energi pada sisi lainnya dapat diketahui. Prinsip ini
berdasarkan Hukum Beer-Lambert, dan energi yang ditransmisikan menjadi signal

Universitas Sumatera Utara

yang terdeteksi pada detektor. Jumlah energi yang ditransmisikan sebanding dengan
konsentrasi logam, seperti digambarkan dalam persamaan (3) dan (4). Hubungan
antara absorbansi A dengan konsentrasi zat pengabsorbsi adalah linier (Hendayana,
1994).

Ditinjau dari hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi, maka hukum
Lambert-Beer dapat digunakan jika sumbernya adalah sinar monokromatis. Pada SSA,
panjang gelombang garis absorpsi resonansi identik dengan garis-garis emisinya. Hal
ini disebabkan karena serasinya proses transisi. Untuk bekerja pada panjang
gelombang ini, diperlukan suatu monokromator celah yang dapat mengahsilkan lebar
puncak sekitar 0,002 – 0,005 nm. Jelaslah bahwa pada SSA diperlukan suatu sumber
radiasi yang mengemisikan sinar pada panjang gelombang yang tepat sama dengan
panjang gelombang emisinya, yakni dengan menggunakan sumber sinar lampu katoda
berongga (Gandjar, 2007).

2.3.2 Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom

Sistem peralatan spektrofotometri serapan atom dapat dilihat pada gambar 2.3, terdiri
atas beberapa bagian, yaitu:

Gambar 2.3 Sistem peralatan spektrofotometer serapan atom
1. Sumber sinar

Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga (hollow cathode
lamp). Lampu ini mengandung gas argon atau neon, berbentuk katoda silindris
yang mengandung logam untuk proses eksitasi, serta sebuah anoda (Gambar 2.4).

Universitas Sumatera Utara

Ketika aliran listrik bervoltase tinggi diaplikasikan sepanjang katoda dan anoda,
partikel gas terionisasi. Kenaikan voltase menyebabkan ion gas memiliki cukup
energi untuk melontarkan atom logam keluar dari katoda. Beberapa dari atom-atom
gas ini berada dalam bentuk yang tereksitasi dan mengemisikan cahaya pada
panjang gelombang yang spesifik sama dengan logam yang akan dianalisis
(Lestari, 2009).

Gambar 2.4 Diagram skematik lampu katoda cekung

Neon biasanya lebih disukai karena memberikan intensitas pancaran lampu
yang lebih rendah.

Salah satu kelemahan penggunaan lampu katoda berongga adalah satu lampu
digunakan untuk satu unsur, akan tetapi saat ini telah banyak dijumpai suatu lampu
katoda berongga kombinasi; yakni salah satu lampu dilapisi dengan beberapa unsur
sehingga dapat digunakan untuk analisis beberapa unsur sekaligus.

2. Tempat sampel

Dalam analisis dengan spektrofotometri serapan atom, sampel yang akan dianalisis
harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam keadaan asas. Ada
berbagai macam alat yang dapat digunakan untuk mengubah suatu sampel menjadi
uap atom-atom yaitu : dengan nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless).

Universitas Sumatera Utara

a. Nyala (Flame)

Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan menjadi
bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi. Pemilihan macam bahan
pembakar dan gas pengoksidasi serta komposisi perbandingannya sangat
mempengaruhi suhu nyala. Sumber nyala yang paling banyak digunakan adalah
campuran asetilen sebagai bahan pembakar dan udara sebagai pengoksidasi.

Nyala yang diperlukan untuk penetapan berbagai unsur, kisaran kerjanya, dan
batas deteksinya dapat dilihat pada tabel 4 dalam lampiran.

Cara Pengatoman Pada Nyala

Pemasukan sampel ke dalam nyala dengan cara yang ajeg dan seragam membutuhkan
suatu alat yang mampu mendispersikan secara seragam di dalam nyala. Ada beberapa
cara atomisasi dengan nyala ini, yaitu:

i. Cara langsung (pembakar konsumsi total atau total consumption burner)

Pada cara ini, sampel dihembuskan (diaspirasikan) secara langsung ke dalam nyala,
dan semua sampel akan dikonsumsi oleh pembakar. Variasi ukuran kabut (droplet)
sangat besar. Diameter partikel rata-rata sebesar 20 mikron, dan sejumlah partikel
ada yang mempunyai diameter lebih besar 40 mikron. Semakin besar kabut yang
melewati nyala (tanpa semuanya diuapkan), maka efisiensinya semakin rendah.

ii. Cara tidak langsung

Pada model ini, larutan sampel dicampur terlebih dahulu dengan bahan pembakar
dan bahan pengoksidasi dalam suatu kamar pencampur sebelum dibakar. Tetesantetesan yang besar akan tertahan dan tidak masuk ke dalam nyala. Dengan cara ini,
ukuran terbesar yang masuk ke dalam nyala ± 10 mikron sehingga nyala lebih s
stabil dibandingkan dengan cara langsung.

Universitas Sumatera Utara

Masalah yang terkait dengan penggunaan cara ini adalah adanya kemungkinan
nyala membakar pencampur dan terjadi ledakan. Akan tetapi, hal ini dapat dihindari
dengan menggunakan lubang sempit atau dengan cara mematuhi aturan yang benar
terkait dengan cara menghidupkan gas.

b. Tanpa nyala (flameless)

Teknik atomisasi dengan nyala dinilai kurang peka karena atom gagal mencapai
nyala, tetesan sampel yang masuk ke dalam nyala terlalu besar, dan proses a
atomisasi kurang sempurna. Oleh karena itu, muncullah suatu teknik atomisasi
yang baru yakni atomisasi tanpa nyala. Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku
dari grafit.
Sejumlah sampel diambil sedikit (untuk sampel cair diambil beberapa µl,
sementara sampel padat diambil beberapa mg), lalu diletakkan dalam tabung grafit,
kemudian tabung dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus
pada grafit. Akibat pemanasan ini, maka zat yang akan dianalisis berubah menjadi
atom-atom netral dan pada fraksi atom ini dilewatkan suatu sinar yang berasal dari
lampu katoda berongga sehingga terjadilah proses penyerapan energi sinar yang
memenuhi kaidah analisis kuantitatif.

Sistem pemanasan dengan tanpa nyala ini dapat melalui 3 tahap yaitu :
pengeringan (drying) yang membutuhkan suhu yang relatif rendah; pengabuan
(ashing) yang membutuhkan suhu yang lebih tinggi karena untuk menghilangkan
matriks kimia dengan mekanisme volatilasi atau pirolisis; dan pengatoman
(atomising) (Gandjar, 2007).

c. Monokromator

Monokromator merupakan alat yang berfungsi untuk memisahkan radiasi yang
tidak diperlukan dari spektrum radiasi lain yang dihasilkan dari Hollow Cathode
Lamp (Khopkar, 1990).

Universitas Sumatera Utara

d. Detektor

Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat
pengatoman. Dalam hal ini, sistem penguat harus cukup selektif untuk dapat
membedakan radiasi.

e. Sistem pembacaan

Sistem pembacaan merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan
sebagai sistem pencatatan hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang
telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. Hasil pembacaan
dapat berupa angka atau berupa kurva (Gandjar, 2007).

2.3.3 Analisis Kuantitatif dengan SSA

Ada beberapa metode kuantifikasi hasil analisis dengan metode SSA yaitu dengan
menggunakan kurva kalibrasi; dengan perbandingan langsung; dengan menggunakan
dua baku; dan dengan menggunakan metode standar adisi (metode penambahan baku).

1. Kuantifikasi dengan kurva baku (kurva kalibrasi)

SSA bukan merupakan metode analisis yang absolute. Suatu perbandingan dengan
baku (biasanya berair) merupakan metode yang umum dalam melakukan metode
analisis kuantitatif. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan
sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan pengukuran.
Selanjutnya dibuat persamaan regresi linier yang menyatakan hubungan antara
konsentrasi larutan (x) dengan absorbansinya (y).

2. Kuantifikasi dengan cara perbandingan langsung

Cara ini hanya boleh dilakukan jika telah diketahui bahwa kurva baku hubungan
antara konsentrasi dengan absorbansi merupakan garis lurus dan melewati titik nol.
Cara yang dikerjakan adalah hanya dengan mengukur absorbansi larutan baku (Ab)

Universitas Sumatera Utara

dengan konsentrasi tertentu (Cb) pada satu konsentrasi saja; lalu dibaca juga
absorbansi larutan sampel (As).
Kadar sampel (Cs) dihitung dengan rumus :
As
Cs =

x Cb ……………………………….. (1)
Ab

Yang mana :
Ab : Absorbansi baku
As : Absorbansi sampel
Cb : Konsentrasi baku
Cs : Konsentrasi sampel

3. Kuantifikasi dengan cara dua baku

Cara ini merupakan adaptasi dari cara (1) dan cara (2). Dibuat masing-masing dua
buah larutan baku yang konsentrasinya sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari
konsentrasi sampel.

4. Cara standar adisi

Kebanyakan analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar
dalam larutan air, karenanya pada kasus ini diperlukan pencampuran matriks
dengan baku. Jika matriks tidak diketahui atau bervariasi dari satu ke yang lain,
maka metode standar adisi seringkali digunakan. Prosedur metode standar adisi
melibatkan pengukuran absorbansi dengan SSA (S); selanjutnya sejumlah kecil s
standar (Sx) ditambahkan pada sampel dan diukur absorbansinya (S + Sx). Langkah
penambahan standar ini diulangi dengan menggunakan konsentrasi baku Sx yang
berbeda (Sx1, Sx2, Sx3, dsb) dan dilanjutkan dengan pembacaan absorbansinya
(Gandjar, 2007).

Universitas Sumatera Utara

2.3.4 Gangguan dalam Spektrofotometri Serapan Atom

Yang dimaksud dengan gangguan-gangguan (interference) pada SSA adalah
peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsure yang dianalisis
menjadi lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya
dalam sampel.

Gangguan-gangguan yang dapat terjadi dalam SSA adalah sebagai berikut:
1. Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang dapat mempengaruhi banyaknya
sampel yang mencapai nyala. Sifat-sifat tertentu matriks sample dapat mengganggu
analisis yakni matriks tersebut dapat berpengaruh terhadap laju aliran bahan bakar /
gas pengoksidasi. Sifat-sifat tersebut adalah viskositas, tegangan permukaan, berat
jenis, dan tekanan uap.

2. Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah / banyaknya atom yang terjadi
di dalam nyala. Terbentuknya atom-atom netral yang masih dalam keadaan azas di
dalam nyala sering terganggu oleh dua peristiwa kimia yaitu : (a) disosiasi
senyawa-senyawa yang tidak sempurna, dan (b) ionisasi atom-atom di dalam nyala.

3. Gangguan oleh absorbansi yang disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang
dianalisis; yakni absorbansi oleh molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di dalam
nyala.

Adanya gangguan-gangguan di atas dapat diatasi dengan menggunakan caracara sebagai berikut:
a. Penggunaan nyala / suhu atomisasi yang lebih tinggi
b. Penambahan senyawa penyangga
c. Pengekstraksian unsur yang akan dianalisis
d. Pengekstraksian ion atau gugus pengganggu

4. Gangguan oleh penyerapan non-atomik (non atomic absorption). Gangguan jenis
ini berarti terjadinya penyerapan cahaya dari sumber sinar yang bukan berasal dari
atom-atom yang akan dianalisis. Penyerapan non-atomik dapat disebabkan adanya

Universitas Sumatera Utara

penyerapan cahaya oleh partikel-partikel padat yang berada di dalam nyala. Cara
mengatasi gangguan penyerapan non atomik ini adalah dengan bekerja pada
panjang gelombang yang lebih besar atau pada suhu yang lebih tinggi. Jika kedua
cara ini masih belum bisa maka satu-satunya cara adalah dengan mengukur
besarnya penyerapan non atomik menggunakan sumber sinar yang memberikan
spektrum kontinyu (Gandjar, 2007).

2.4 Destruksi

Destruksi merupakan suatu cara perlakuan perombakan senyawa menjadi unsurunsurnya sehingga dapat dianalisis, dengan kata lain perombakan bentuk organik dari
logam menjadi bentuk logam-logam anorganik. Pada dasarnya ada dua jenis destruksi
yang dikenal dalam ilmi kimia yaitu destruksi basah (oksidasi basah) dan destruksi
kering (oksidasi kering). Kedua destruksi ini memiliki teknik pengerjaan dan lama
pemanasan atau pendestruksian yang berbeda.

Faktor yang harus diperhatikan dalam hal melakukan metode destruksi adalah :
1. Sifat materi organik dan konstituen-konstituen yang terkandung di dalamnya.
2. Logam yang akan dianalisis
3. Metode yang akan digunakan untuk penentuannya

2.4.1 Jenis-jenis Destruksi

Metode destruksi ada dua, yaitu :
1. Metode destruksi basah
Destruksi basah merupakan perombakan sampel dengan asam-asam kuat baik
tunggal maupun campuran, kemudian dioksidasi dengan menggunakan zat
oksidator.

Universitas Sumatera Utara

Pelarut yang dapat digunakan untuk destruksi basah adalah asam nitrat, asam
sulfat, asam perkhlorat, asam klorida dan dapat digunakan secara tunggal maupun
campuran.

Destruksi basah dengan menggunakan asam nitrat, pertama kalinya digunakan
oleh Cerius untuk penentuan S, P, As dan logam-logam dalam senyawa organik. Suhu
pemanasan mencapai 380oC dan dipanaskan dalam tabung tertutup. Cara selanjutnya
dikembangkan oleh peneliti-peneliti berikutnya.

2. Metode destruksi kering

Destruksi kering merupakan perombakan logam organik dalam samp