Beda Efek Parasetamol (Asetaminofen) Dengan Asam Asetil Salisilat Pada Suhu Tubuh Dan Pengaruhnya Terhadap Outcome Penderita Stroke Iskemik Akut

BEDA EFEK PARASETAMOL (ASETAMINOFEN) DENGAN ASAM
ASETIL SALISILAT PADA SUHU TUBUH DAN PENGARUHNYA
TERHADAP OUTCOME PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT

TESIS

CHAIRIL AMIN BATUBARA
097112003

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK-SPESIALIS ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

BEDA EFEK PARASETAMOL (ASETAMINOFEN) DENGAN ASAM
ASETIL SALISILAT PADA SUHU TUBUH DAN PENGARUHNYA
TERHADAP OUTCOME PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik Spesialis Saraf
Pada Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

Oleh

CHAIRIL AMIN BATUBARA
097112003

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK-SPESIALIS ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: Beda Efek Parasetamol (Asetaminofen)
Dengan Asam Asetil Salisilat Pada
Suhu
Tubuh
Dan
Pengaruhnya
Terhadap Outcome Penderita Stroke
Iskemik Akut

Nama Mahasiswa

: CHAIRIL AMIN BATUBARA

Nomor Induk Mahasiswa

: 097112003

Program Magister

: Magister Kedokteran Klinik

Konsentrasi

: Ilmu Penyakit Saraf

Menyetujui
Komisi Pembimbing

Prof. DR. Dr. Hasan Sjahrir, Sp.S (K)
Ketua

Ketua Program Studi

Dr. Yuneldi Anwar, Sp.S (K)

Ketua TKP PPDS I

Dr. Zainuddin Amir, SpP(K)

Universitas Sumatera Utara

Tanggal Lulus: 20 September 2001

Telah diuji pada
Tanggal: 20 September 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

: Prof. DR. Dr. Hasan Sjahrir, Sp.S (K)

Anggota

: 1. Prof. Dr. Darulkutni Nasution, Sp.S (K)
2. Dr. Darlan Djali Chan, Sp.S
3. Dr. Yuneldi Anwar, Sp.S (K)
4. Dr. Rusli Dhanu, Sp.S (K)
5. Dr. Kiking Ritarwan, MKT, Sp.S (K)
6. Dr. Aldy S. Rambe, Sp.S (K)
7. Dr. Puji Pinta O. Sinurat, Sp.S
8. Dr. Khairul P. Surbakti, Sp.S
9. Dr. Cut Aria Arina, Sp.S
10. Dr. Kiki M. Iqbal, Sp.S
11. Dr. Alfansuri Kadri, Sp.S
12. Dr. Dina Listyaningrum, Sp.S, MSi.Med
13. Dr. Aida Fithrie, Sp.S

PERNYATAAN

Universitas Sumatera Utara

BEDA EFEK PARASETAMOL (ASETAMINOFEN) DENGAN ASAM
ASETIL SALISILAT PADA SUHU TUBUH DAN PENGARUHNYA
TERHADAP OUTCOME PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 20 September 2011

CHAIRIL AMIN BATUBARA

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan segala berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan tesis ini.
Penulisan tesis ini adalah untuk memenuhi persyaratan dan merupakan
tugas akhir Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik–Spesialis Ilmu
Penyakit Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah
Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyatakan penghargaan
dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Rektor

Universitas

Sumatera

Utara,

Dekan

Fakultas

Kedokteran

Universitas Sumatera Utara, dan Ketua TKP PPDS-I Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran KlinikSpesialis Ilmu Penyakit Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
2. Dr. Rusli Dhanu, Sp.S (K), selaku Ketua Departemen Neurologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara / RSUP. H. Adam Malik Medan
dan guru penulis yang tidak pernah bosan dan penuh kesabaran dalam
membimbing, mengoreksi, serta selalu memberikan masukan-masukan

Universitas Sumatera Utara

dan arahan selama penulis mengikuti Program Pendidikan Magister
Kedokteran Klinik–Spesialis Ilmu Penyakit Saraf di Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Yuneldi Anwar, Sp.S (K), Ketua Program Studi PPDS-I Neurologi
Fakultas

Kedokteran

memberikan

Universitas

masukan-masukan

Sumatera

berharga

Utara

kepada

yang

banyak

penulis

selama

mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik-Spesialis Ilmu
Penyakit Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan
penyelesaian tesis ini.
4. Dr. Aldy S. Rambe, Sp.S (K) dan Prof. Dr. Darulkutni Nasution, Sp.S (K),
selaku pembimbing penulis yang dengan sabar dan sepenuh hati dalam
membimbing,

mengoreksi

dan

mengarahkan

penulis

mulai

dari

perencanaan, pembuatan dan penyelesaian tesis ini.
5. Guru-guru penulis: Prof. DR. Dr. Hasan Sjahrir, Sp.S (K); Dr. Darlan Djali
Chan, Sp.S; Dr. Irsan NHN Lubis, Sp.S; Dr. Kiking Ritarwan, MKT,
Sp.S(K); Dr. Puji Pinta O. Sinurat, Sp.S; Dr. Khairul P. Surbakti, Sp.S;
Dr. Cut Aria Arina, Sp.S; Dr. S. Irwansyah, Sp.S; Dr. Kiki M.Iqbal, Sp.S;
Dr. Alfansuri Kadri, Sp.S; Dr. Dina Listyaningrum, Sp.S, MSi.Med;
Dr. Aida Fithrie, Sp.S dan guru-guru lainnya yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, yang telah banyak memberikan masukan selama
mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik.

Universitas Sumatera Utara

6. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan yang telah
memberikan kesempatan, fasilitas dan suasana kerja yang baik sehingga
penulis dapat mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik.
7. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes, selaku pembimbing statistik yang telah
banyak meluangkan waktu untuk membimbing dan berdiskusi dengan
penulis dalam pembuatan tesis ini.
8. Rekan-rekan sejawat peserta PPDS-I Departemen Neurologi FK-USU/
RSUP. H. Adam Malik Medan, yang banyak memberikan masukan
berharga kepada penulis melalui berbagai diskusi dalam beberapa
pertemuan formal maupun informal, serta yang selalu memberikan
dorongan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan Program
Pendidikan Magister Kedokteran Klinik–Spesialis Ilmu Penyakit Saraf.
9. Para perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah
bertugas selama menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran
Klinik ini, serta berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu, yang telah banyak membantu penulis dalam menjalani Program
Pendidikan Magister Kedokteran Klinik–Spesialis Ilmu Penyakit Saraf.
10. Semua pasien stroke iskemik akut yang telah bersedia ikut serta untuk
berpartisipasi secara sukarela dalam penelitian ini.

Universitas Sumatera Utara

11. Kedua orang tua yang sangat penulis hormati dan sayangi (Alm.) Dr.
Achmad Sjukri Batubara, Sp.S (K) dan Dra. Anggreni Lubis yang telah
bersusah payah dengan cinta kasih dan pengorbanannya dalam
membesarkan, mendidik, membimbing, dan memotivasi serta selalu
mendoakan penulis sejak lahir hingga saat ini.

Semoga Allah SWT akan membalas semua jasa-jasa dan perbuatan baik
mereka yang telah membantu penulis dengan tanpa pamrih dalam
mewujudkan cita-cita penulis.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga penelitian dan tulisan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Amin.

Penulis

Dr. Chairil Amin Batubara

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Latar Belakang: Suhu tubuh merupakan prediktor outcome pada penderita
stroke iskemik akut. Pemberian antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh
dan dengan demikian dapat memperbaiki outcome penderita stroke
iskemik akut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efek
parasetamol dan asam asetil salisilat (AAS) terhadap suhu tubuh dan
pengaruhnya terhadap outcome penderita stroke iskemik akut.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan
randomized control-group pretest-post test design. Terdiri dari 2 kelompok,
yang pertama diberikan parasetamol 1000 mg dan yang kedua diberikan
AAS 500 mg, dengan 15 pasien tiap kelompoknya. Pengukuran suhu
tubuh dilakukan 3 kali, pertama sebelum pemberian obat, kemudian 1 dan
3 jam setelahnya. Outcome diukur dengan NIHSS ( ≤ 5 = ringan ; 6-13 =
sedang ; > 13 = berat ) dan mRS ( 1-2 = berat; 3-6 = buruk ).
Hasil: Dari 30 sampel yang diperoleh, 15 (50%) mendapat parasetamol dan
sisanya 15 (50%) AAS. Parasetamol dan AAS menurunkan suhu tubuh
secara bermakna dalam 3 jam pertama (parasetamol p=0,003 dan AAS
p=0,013). Tidak terdapat pengaruh bermakna pada perubahan skor
outcome NIHSS dan mRS hari ke-14 steeled pemberian parasetamol
dan AAS.
Kesimpulan: Hasil studi ini menunjukkan bahwa parasetamol dan AAS
memberikan efek yang sama dalam penurunan suhu tubuh penderita
stroke iskemik akut namun tidak berpengaruh pada outcome.

Kata kunci: stroke iskemik akut, parasetamol, asam asetil salisilat, suhu
tubuh, outcome

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Background: Body temperature is a predictor of outcome in acute ischemic
stroke. Treatment with antipyretic may reduce body temperature, therefore
improve outcome of acute ischemic stroke.
Objective: This study was performed to determine the difference effect of
paracetamol and acetylsalicylic acid (ASA) on body temperature and its
impact to the outcome of ischemic stroke patients.
Methods: Randomized, control-group, pretest-postest design was used in
this study. The subjects was divided into 2 groups, the first was given
paracetamol 1000 mg and the other ASA 500 mg with 15 patients each
groups. The measurement of body temperature was done three times, the
first before giving the drug, then 1 and 3 hours after that. Outcome was
measured by NIHSS ( ≤ 5 = mild ; 6-13 = moderate ; > 13 severe ) and
mRS (1-2 = good ; 3-6 = poor).
Results: From the 30 samples obtained, 15 (50%) got paracetamol and the
other 15 (50%) ASA. Paracetamol and ASA significantly reduced body
temperature in the first 3 hours (p = 0.003 ; p = 0.013). There was no
significant effect in the improvement on outcome score NIHSS and mRS at
14 days after giving paracetamol and ASA.
Conclusions: This study suggested that paracetamol and ASA gave equal
effect in reducing body temperature of acute ischemic stroke patients but
has no effect to the outcome.

Key Words: acute ischemic stroke, paracetamol, asetylsalicylic acid, body
temperature, outcome.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
Lembar Pengesahan Tesis……………………………………………… i
Ucapan Terima Kasih……………………………………..…………….. iv
Abstrak…………………………………………………………………….. viii
Daftar Isi ……………………………………………………….…..……... x
Daftar Singkatan…………………………………………………..…….. xiv
Daftar Gambar………………………………………………...…...…….. xv
Daftar Tabel………………………………………………….…...………. xvi
Daftar Grafik……………………………………………………..……….. xvii
BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………… 1
1. Latar Belakang ………………………………….…………..... 1
2. Perumusan Masalah………………………………………..... 4
3. Tujuan Penelitian…………………………………………...... 4
4. Hipotesis………………………………..………………........... 6

Universitas Sumatera Utara

5. Manfaat Penelitian ………………………………………….. 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA………………..………………………... 7
1. Stroke Iskemik………………………..……………………….. 7
1.1. Definisi……………………………..…………………….. 7
1.2. Epidemiologi……………………….…………………….. 7
1.3. Faktor Risiko……………………….……………………. 9
1.4. Klasifikasi……………………………..………………..… 10
1.5. Patofisiologi……………….……………………….......… 12
2. Suhu Tubuh Normal…………………....…………..………… 13
2.1. Suhu Inti dan Suhu Kulit……………………………...... 13
2.2. Suhu Inti Yang Normal……………….…..…………...... 13
2.3. Pengaturan Suhu Tubuh Oleh Hipotalamus…………. 14
3. Demam Pada Stroke Iskemik….......………………………... 17
4. Parasetamol (Asetaminofen) dan Asam Asetil Salisilat…... 21
5. Kerangka Teori…..…………………….……………………... 28
6. Kerangka Konsep……………………………………………... 29

Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODE PENELITIAN………………………………………... 30
1.

Tempat dan Waktu…………………………………….…….. 30

2.

Subjek Penelitian ………………..…………………………... 30
2.1. Populasi Sasaran …………………………………………... 30
2.2. Populasi Terjangkau……………………………………….. 30
2.3. Besar Sampel…………………………...…………………... 30
2.4. Kriteria Inklusi……………………………………………...... 31
2.5. Kriteria Eksklusi…………………………………………...... 31

3.

Batasan Operasional…………………..…………………..... 32

4.

Instrumen Penelitian……………………..………………….. 34

5.

Rancangan………………………………………………….... 35

6.

Pelaksanaan Penelitian…………………………………....... 35
6.1. Pengambilan Sampel………………………………………. 35
6.2. Kerangka Operasional …………………………………...... 36

7.

Variabel yang Diamati ……………………………………..... 37

8.

Analisa Statistik…………………………………………..…... 37

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………….. 38
1. HASIL PENELITIAN………………………………………..…..... 38

Universitas Sumatera Utara

1.1.

Karakteristik Subjek Penelitian………………………..... 36

1.2.

Pengaruh terhadap Rerata Suhu Tubuh……………..... 40

1.3.

Beda Efek Parasetamol (Asetaminofen) dan
Asam Asetil Salisilat…………………………………….. 43

1.4.

Pengaruh terhadap Outcome…………………………… 44

1.5.

Perbedaan Outcome antar Kedua Kelompok
Perlakuan………....……………………………………... 45

2. PEMBAHASAN…………………………………………………… 46
2.1.

Karakteristik Subjek Penelitian…………………………. 46

2.2.

Pengaruh terhadap Rerata Suhu Tubuh………………. 47

2.3.

Beda Efek Parasetamol (Asetaminofen) dan AAS…… 47

2.4.

Pengaruh terhadap Outcome dan Perbedaan
Outcome antar Kedua Kelompok Perlakuan………….. 50

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……………….………………..... 52
1. Kesimpulan……………………………………………………….. 52
2. Saran ……………………………………………………………... 53
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………... 54

Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN
1. Lampiran 1: Lembar Penjelasan Kepada Penderita/ Keluarga
2. Lampiran 2: Surat persetujuan Ikut Dalam Penelitian
3. Lampiran 3: Persetujuan Komisi Etik Tentang Pelaksanaan
Penelitian Bidang Kesehatan
4. Lampiran 4: Lembar Pengumpulan Data
5. Lampiran 5: National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS)
6. Lampiran 6: Modified Rankin Scale (mRS)
7. Lampiran 7: Data Karakteristik Sampel Penelitian
8. Lampiran 8: Daftar Riwayat Hidup Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN
cAMP

: cyclic Adenosin Mono Phosphat

COX

: Cyclooxygenase

COX-1

: Cyclooxygenase-1

COX-2

: Cyclooxygenase-2

COX-3

: Cyclooxygenase-3

IFN

: Interferon

IL-1

: Interleukin-1

IL-2

: Interleukin-2

n

: Jumlah sampel

NIHSS

: National Institutes of Health Stroke Scale

mRS

: Modified Rankin Scale

PGE 2

: Prostaglandine E 2

PERDOSSI : Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia
SD

: Standar Deviasi

x

: Rerata suhu tubuh

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Perkiraan Rentang Suhu Inti Tubuh Pada Orang Normal.

14

Gambar 2. Bagian-bagian dari Hipotalamus

17

Gambar 3. Efek Perubahan Set-Point dari Pengaturan Suhu

18

di Hipotalamus

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.

Gambaran karakteristik demografik subjek penelitian

39

Tabel 2.

Pengaruh parasetamol (asetaminofen) dan asam asetil

42

salisilat terhadap rerata suhu tubuh saat 0, 1 dan 3 jam
pada kedua kelompok perlakuan

Tabel 3.

Beda efek parasetamol (asetaminofen) dan asam asetil

43

salisilat terhadap rerata suhu tubuh saat 0, 1 dan 3 jam
Tabel 4.

Tabel 5.

Pengaruh terhadap outcome pada kedua kelompok perlakuan
Perbedaan outcome NIHSS atau mRS antar kedua
kelompok perlakuan

44

45

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Nilai rerata suhu tubuh: a). Kelompok parasetamol 1000 mg,
b). Kelompok asam asetil salisilat 500 mg.......................................41

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Latar Belakang: Suhu tubuh merupakan prediktor outcome pada penderita
stroke iskemik akut. Pemberian antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh
dan dengan demikian dapat memperbaiki outcome penderita stroke
iskemik akut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efek
parasetamol dan asam asetil salisilat (AAS) terhadap suhu tubuh dan
pengaruhnya terhadap outcome penderita stroke iskemik akut.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan
randomized control-group pretest-post test design. Terdiri dari 2 kelompok,
yang pertama diberikan parasetamol 1000 mg dan yang kedua diberikan
AAS 500 mg, dengan 15 pasien tiap kelompoknya. Pengukuran suhu
tubuh dilakukan 3 kali, pertama sebelum pemberian obat, kemudian 1 dan
3 jam setelahnya. Outcome diukur dengan NIHSS ( ≤ 5 = ringan ; 6-13 =
sedang ; > 13 = berat ) dan mRS ( 1-2 = berat; 3-6 = buruk ).
Hasil: Dari 30 sampel yang diperoleh, 15 (50%) mendapat parasetamol dan
sisanya 15 (50%) AAS. Parasetamol dan AAS menurunkan suhu tubuh
secara bermakna dalam 3 jam pertama (parasetamol p=0,003 dan AAS
p=0,013). Tidak terdapat pengaruh bermakna pada perubahan skor
outcome NIHSS dan mRS hari ke-14 steeled pemberian parasetamol
dan AAS.
Kesimpulan: Hasil studi ini menunjukkan bahwa parasetamol dan AAS
memberikan efek yang sama dalam penurunan suhu tubuh penderita
stroke iskemik akut namun tidak berpengaruh pada outcome.

Kata kunci: stroke iskemik akut, parasetamol, asam asetil salisilat, suhu
tubuh, outcome

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Background: Body temperature is a predictor of outcome in acute ischemic
stroke. Treatment with antipyretic may reduce body temperature, therefore
improve outcome of acute ischemic stroke.
Objective: This study was performed to determine the difference effect of
paracetamol and acetylsalicylic acid (ASA) on body temperature and its
impact to the outcome of ischemic stroke patients.
Methods: Randomized, control-group, pretest-postest design was used in
this study. The subjects was divided into 2 groups, the first was given
paracetamol 1000 mg and the other ASA 500 mg with 15 patients each
groups. The measurement of body temperature was done three times, the
first before giving the drug, then 1 and 3 hours after that. Outcome was
measured by NIHSS ( ≤ 5 = mild ; 6-13 = moderate ; > 13 severe ) and
mRS (1-2 = good ; 3-6 = poor).
Results: From the 30 samples obtained, 15 (50%) got paracetamol and the
other 15 (50%) ASA. Paracetamol and ASA significantly reduced body
temperature in the first 3 hours (p = 0.003 ; p = 0.013). There was no
significant effect in the improvement on outcome score NIHSS and mRS at
14 days after giving paracetamol and ASA.
Conclusions: This study suggested that paracetamol and ASA gave equal
effect in reducing body temperature of acute ischemic stroke patients but
has no effect to the outcome.

Key Words: acute ischemic stroke, paracetamol, asetylsalicylic acid, body
temperature, outcome.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada
usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab
kematian sesudah penyakit jantung pada sebagian besar negara di dunia,
sedangkan di negara Barat yang telah maju, stroke menempati urutan ketiga
sebagai penyebab kematian sesudah penyakit jantung dan kanker.
Stroke adalah penyebab kedua kecacatan berat di seluruh dunia pada usia di
atas 60 tahun dan biaya perawatan stroke adalah sangat besar, pada tahun
2004 diperkirakan 53,6 miliar dolar Amerika. (Nasution, 2007)
Di Indonesia, menurut survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun
1995, stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan yang
utama yang harus ditangani segera, tepat dan cermat. (Kelompok Studi
Serebrovaskuler dan Neurogeriatri PERDOSSI, 1999)
Selama hari pertama fase akut stroke, demam atau suhu yang subfebris
dapat terjadi pada sepertiga sampai setengah jumlah pasien. Peningkatan

Universitas Sumatera Utara

suhu dapat memberikan efek yang jelek pada outcome penderita stroke
iskemik. (Dippel, dkk, 2001).
Peningkatan suhu dihubungkan dengan volume infark yang luas,
tingginya case fatality dan outcome fungsional yang jelek. (Dippel, 2003).
Penelitian

pada

binatang

yang

mengalami

iskemik

otak

fokal,

hipertermia yang sedang, pada intraiskemik akan memperluas volume infark,
dimana hipotermia yang ringan akan mengurangi ukuran infark. (Dippel, dkk,
2001 ; Meden, dkk, 1994 ; Karibe, dkk, 1994)
Suatu meta-analisis menemukan bahwa peningkatan suhu tubuh
setelah onset stroke iskemik, secara nyata meningkatkan mortalitas dan
morbiditas. (Sulter, dkk, 2004).
Mortalitas yang rendah dan outcome yang lebih baik ditemukan pada
penderita dengan hipotermia ringan pada saat dirawat dan outcome yang
jelek pada penderita yang hipertermia. Pada tiap peningkatan 10C suhu tubuh
maka risiko relatif outcome yang jelek meningkat 2,2 kali. (Reith, dkk, 1996).
Penelitian Saini dkk menyimpulkan bahwa hipertermia pada stroke iskemik
akut berhubungan dengan outcome klinis yang jelek. Semakin lama
hipertermia terjadi dalam minggu pertama, maka semakin jelek prognosisnya.
Tindakan yang agresif untuk mencegah dan mengobati hipertermia dapat
meningkatkan outcome klinis (Saini, dkk, 2009)

Universitas Sumatera Utara

Mekanisme hipertermia dapat menyebabkan kerusakan otak meliputi
peningkatan metabolisme di daerah penumbra, peningkatan pelepasan asam
amino excitatory dan radikal bebas, asidosis dan perubahan permeabilitas
dari sawar darah otak. (Dippel, dkk, 2001 ; Sulter, dkk, 2004.)
Pada binatang percobaan, induksi hipotermia memberikan efek
protektif sampai 1 jam setelah iskemik fokal yang permanen (Hajat, dkk,
2000). Penelitian dari Reith, dkk menunjukkan bahwa mortalitas yang lebih
rendah dan outcome yang lebih baik pada pasien dengan hipotermia ringan (
< 36 0C) pada saat masuk (Schwab, dkk, 1998). Pada penderita cedera
kepala, induksi hipotermia telah menunjukkan secara signifikan memperbaiki
outcome sampai 6 bulan pada pasien dengan skala koma Glasgow saat
masuk 5 – 7. (Hajat, dkk, 2000).
Penelitian Dippel dkk menghasilkan bahwa asetaminofen dengan
dosis harian 6000 mg setelah stroke iskemik menyebabkan penurunan 0,40C
suhu tubuh daripada plasebo pada 12 dan 24 jam, sementara dosis harian
3000 mg tidak memeberikan hasil yang signifikan dalam penurunan suhu
tubuh. Disimpulkan bahwa asetaminofen 6000 mg memberikan manfaat yang
potensial dalam menurunkan suhu tubuh setelah stroke iskemik akut baik
pada pasien normotermia dan subfebris. (Dippel, dkk, 2001 ; Dippel, dkk,
2003).

Universitas Sumatera Utara

Koennecke dan Leistner melakukan penelitian terhadap 44 pasien
yang normotermia dengan stroke iskemik akut, dengan pemberian 4 gram
asetaminofen dan plasebo. Didapatkan hasil bahwa demam terjadi pada
36,4% pasien di grup plasebo dibandingkan

dengan 5% pada grup

asetaminofen. Dan mereka menyarankan pemberian antipiretik profilaksis
asetaminofen

mungkin

efektif

dalam

mencegah

terjadinya

demam.

(Koennecke dan Leistner, 2001 ; Sulter, dkk, 2004).
Penelitian Sulter, dkk

selama 9 bulan terhadap 132 pasien stroke

iskemik akut menunjukkan bahwa setelah 1 jam pemberian asetaminofen
1000 mg didapatkan hasil yang signifikan terhadap penurunan suhu tubuh
dan normotermia dibandingkan dengan asam asetil salisilat 500 mg. Namun
setelah 3 jam pemberian, keduanya memberikan efek yang hampir sama,
dimana normotermia hanya diperoleh pada 37-38% pasien. (Sulter, dkk,
2004).
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian – penelitian terdahulu seperti
yang telah diuraikan di atas dirumuskanlah masalah sebagai berikut :
Bagaimanakah beda efek parasetamol (asetaminofen) dengan asam asetil
salisilat pada suhu tubuh dan pengaruhnya terhadap outcome penderita
stroke iskemik akut ?

Universitas Sumatera Utara

3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui beda efek

parasetamol (asetaminofen) dengan

asam asetil salisilat pada suhu tubuh dan pengaruhnya terhadap
outcome penderita stroke iskemik akut
3.2 Tujuan Khusus
3.2.1 Untuk mengetahui beda efek parasetamol (asetaminofen) dengan
asam asetil salisilat pada suhu tubuh dan pengaruhnya terhadap
outcome penderita stroke iskemik akut yang dirawat di bagian
Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan.
3.2.2 Untuk mengetahui efek parasetamol (asetaminofen) dan asam
asetil salisilat pada suhu tubuh penderita stroke iskemik akut (pada
0 jam, 1 jam dan 3 jam setelah pemberian) yang dirawat di bagian
Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan.
3.2.3 Untuk mengetahui beda efek parasetamol (asetaminofen) dengan
asam asetil salisilat pada suhu tubuh penderita stroke iskemik akut
(pada 0 jam, 1 jam dan 3 jam setelah pemberian) yang dirawat di
bagian Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan.

Universitas Sumatera Utara

3.2.4 Untuk melihat outcome fungsional sesudah diberikan parasetamol
(asetaminofen) dan asam asetil salisilat pada hari ke-14 untuk
masing - masing kelompok pada pasien stroke iskemik akut yang
dirawat di bagian Neurolologi RSUP H. Adam Malik Medan
3.2.5 Untuk melihat gambaran karakteristik demografik dan suhu tubuh
penderita stroke iskemik akut yang dirawat di bagian Neurolologi
RSUP H. Adam Malik Medan.

4. Hipotesis
4.1. Ada beda efek parasetamol (asetaminofen) dengan asam asetil
salisilat pada suhu tubuh penderita stroke iskemik akut.
4.2. Ada beda pengaruh parasetamol (asetaminofen) dengan asam asetil
salisilat pada outcome penderita stroke iskemik akut.

5. Manfaat Penelitian
Dengan mengetahui adanya beda pengaruh parasetamol (asetaminofen)
dengan asam asetil salisilat pada suhu tubuh penderita stroke iskemik
akut, maka dapat dilakukan penatalaksanaan pemberian antipiretik yang
tepat pada pasien stroke iskemik akut, sehingga dapat meningkatkan
outcome fungsional menjadi lebih baik.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.

STROKE ISKEMIK

1.1 Definisi
Stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang
berlangsung selama 24 jam atau lebih atau menyebabkan kematian, tanpa
ada penyebab lain yang jelas selain vaskuler (PERDOSSI, 1999 ; Gofir,
2009). Definisi ini mencakup stroke akibat infark otak (stroke iskemik),
perdarahan intraserebral (PIS) non traumatik, perdarahan intraventrikuler dan
beberapa kasus perdarahan subarakhnoid (PSA) (Gofir, 2009).
Stroke iskemik adalah tanda klinis disfungsi atau kerusakan jaringan
otak yang disebabkan kurangnya aliran darah ke otak sehingga mengganggu
kebutuhan darah dan oksigen di jaringan otak (Sjahrir, 2003)
1.2 Epidemiologi
Insidens terjadinya stroke di Amerika Serikat lebih dari 700.000 orang per
tahun, dimana 20% darinya akan mati pada tahun pertama. Jumlah ini akan
meningkat menjadi 1 juta per tahun pada tahun 2050. Secara internasional
insidens global dari stroke tidak diketahui (Becker, dkk, 2010).

Universitas Sumatera Utara

Di Indonesia, data nasional epidemiologi stroke belum ada. Tetapi dari
data sporadik di rumah sakit terlihat adanya tren kenaikan angka morbiditas
stroke, yang seiring dengan semakin panjangnya life expentancy dan gaya
hidup yang berubah (Modul Neurovaskular PERDOSSI, 2009)
Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia dilaporkan
bahwa proporsi stroke di rumah sakit antara tahun 1984 sampai dengan
tahun 1986 meningkat, yaitu 0,72 per 100 penderita pada tahun 1984 dan
naik menjadi 0,89 per 100 penderita pada tahun 1985 dan 0,96 per 100
penderita pada tahun 1986. Sedangkan di Jogyakarta pada penelitian
Lamsudin dkk (1998) dilaporkan bahwa proporsi morbiditas stroke di rumah
sakit di Jogyakarta tahun 1991 menunjukkan kecendrungan meningkat
hampir 2 kali lipat (1,79 per 100 penderita) dibandingkan dengan laporan
penelitian sebelumnya pada tahun 1989 (0,96 per 100 penderita) (Sjahrir,
2003).
Dari studi rumah sakit yang dilakukan di Medan pada tahun 2001,
ternyata pada 12 rumah sakit di Medan dirawat 1263 kasus stroke terdiri dari
821 stroke iskemik dan 442 stroke hemoragik, dimana meninggal 201 orang
(15,91%) terdiri dari 98 (11,93%) stroke iskemik dan 103 (23,30%) stroke
hemoragik. (Nasution, 2007)

Universitas Sumatera Utara

1.3 Faktor Risiko
Penelitian prospektif stroke telah mengidentifikasi berbagai faktorfaktor yang dipertimbangkan sebagai risiko yang kuat terhadap timbulnya
stroke. Faktor risiko timbulnya stroke : (Sjahrir, 2003 ; Nasution, 2007 ;
Howard, dkk, 2009).
1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi :
a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Ras dan suku bangsa
d. Faktor turunan
e. Berat badan lahir rendah
2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
a. Prilaku:
1. Merokok
2. Diet tidak sehat: lemak, garam berlebihan, asam urat, kolesterol,
kurang buah
3. Alkoholik
4. Obat-obatan: narkoba (kokain), anti koagulansia, antim platelet,
amfetamin, pil kontrasepsi
5. Kurang gerak badan

Universitas Sumatera Utara

b. Fisiologis
1. Penyakit hipertensi
2. Penyakit jantung
3. Diabetes mellitus
4. Infeksi/lues, arthritis, traumatik, AIDS, lupus
5. Gangguan ginjal
6. Kegemukan (obesitas)
7. Polisitemia, viskositas darah meninggi & penyakit perdarahan
8. Kelainan anatomi pembuluh darah
9. Stenosis karotis asimtomatik
1.4 Klasifikasi
Dasar klasifikasi yang berbeda – beda diperlukan, sebab setiap jenis
stroke mempunyai cara pengobatan, pencegahan dan prognosa yang
berbeda, walaupun patogenesisnya sama (Misbach,1999)
I.

Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya :
1. Stroke iskemik
a. Transient Ischemic Attack (TIA)
b. Thrombosis serebri
c. Embolia serebri
2. Stroke Hemoragik
a.

Perdarahan intraserebral

b.

Perdarahan subarachnoid

Universitas Sumatera Utara

II.

Berdasarkan stadium / pertimbangan waktu
1. Transient Ischemic Attack (TIA)
2. Stroke in evolution
3. Completed stroke

III.

Berdasarkan jenis tipe pembuluh darah
1. Sistem karotis
2. Sistem vertebrobasiler

IV.

Berdasarkan tipe infark (Sjahrir, 2003) :
1. Total Anterior Circulation Infarction
2. Partial Anterior Circulation Infarction
3. Posterior Circulation Infarction
4. Lacunar Infarction

V.

Klasifikasi Stroke Iskemik berdasarkan kriteria kelompok peneliti TOAST
(Adams, dkk, 1993 ; Sjahrir, 2003)
1. Aterosklerosis arteri besar (Embolus/ Trombosis)
2. Kardioembolisme (Risiko Tinggi/ Risiko Sedang)
3. Oklusi pembuluh darah kecil (Lakunar)
4. Stroke akibat dari penyebab lain yang menetukan
5. Stroke akibat dari penyebab lain yang tak dapat ditentukan:
a. Dua atau lebih penyebab teridentifikasi
b. Tidak ada evaluasi
c. Evaluasi tidak lengkap

Universitas Sumatera Utara

1.5 Patofisiologi
Pada level makroskopik, stroke iskemik paling sering disebabkan oleh
emboli dari ekstrakranial atau trombosis di intrakranial, tetapi dapat juga
disebabkan oleh berkurangnya aliran darah otak. Pada level seluler, setiap
proses yang mengganggu aliran darah ke otak dapat mencetuskan suatu
kaskade iskemik, yang akan mengakibatkan kematian sel-sel otak dan infark
otak (Becker, dkk, 2010).
Secara umum daerah regional otak yang iskemik terdiri dari bagian inti
(core) dengan tingkat iskemia terberat dan berlokasi di sentral. Daerah ini
akan menjadi nekrotik dalam waktu singkat jika tidak ada reperfusi. Di luar
daerah core iskemik terdapat daerah penumbra iskemik. Sel – sel otak dan
jaringan pendukungnya belum mati akan tetapi sangat berkurang fungsi –
fungsinya dan menyebabkan juga defisit neurologis. Tingkat iskemiknya
makin ke perifer makin ringan. Daerah penumbra iskemik, di luarnya dapat
dikelilingi oleh suatu daerah hiperemik akibat adanya aliran darah kolateral
(luxury perfusion area). Daerah penumbra iskemik inilah yang menjadi
sasaran terapi stroke iskemik akut supaya dapat direperfusi dan sel-sel otak
berfungsi kembali. Reversibilitas tergantung pada faktor waktu dan jika tidak
terjadi reperfusi, daerah penumbra dapat berangsur-angsur mengalami
kematian (Misbach, 2007) .

Universitas Sumatera Utara

Iskemik otak mengakibatkan perubahan dari sel neuron otak secara
bertahap, yaitu (Sjahrir, 2003):
Tahap 1 :
a. Penurunan aliran darah
b. Pengurangan O 2
c. Kegagalan energi
d. Terminal depolarisasi dan kegagalan homeostasis ion
Tahap 2 :
a. Eksitoksisitas dan kegagalan homeostasis ion
b. Spreading depression
Tahap 3 : Inflamasi
Tahap 4 : Apoptosis

2.

SUHU TUBUH NORMAL
2.1.

Suhu inti dan suhu kulit.

Suhu dari jaringan dalam tubuh (inti/ “core” dari tubuh) bertahan dalam
rentang yang stabil 37 ± 0,6 0C, kecuali dalam keadaan demam. Suhu kulit,
berlawanan dengan suhu inti, naik dan turun mengikuti suhu lingkungan.
(Guyton, dkk, 2006)

Universitas Sumatera Utara

2.2.

Suhu inti yang normal.

Tidak ada satu ketetapan tentang suhu inti yang normal, karena
pengukuran pada banyak orang sehat menunjukkan rentang suhu normal.
Rata-rata suhu inti normal secara umum antara 36,6 0C sampai 37 0C jika
diukur secara oral dan lebih tinggi 10C jika diukur secara rektal. Suhu tubuh
meningkat selama latihan dan berubah-ubah pada suhu lingkungan yang
ekstrim. Saat produksi panas berlebih-lebihan dalam tubuh karena latihan
yang berat, suhu dapat meningkat secara temporer mencapai 380C sampai
40 0C. Saat tubuh terpapar dengan dingin yang ekstrim, suhu dapat turun
sampai di bawah 35,5 0C. (Guyton, dkk, 2006)

Gambar 1. Perkiraan Rentang Suhu Inti Tubuh Pada Orang Normal. Dikutip dari: Guyton AC
and Hall JE. Body Temperature, Temperature Regulation, and Fever. In: Schmitt W and
Gruliow R (Ed.). Medical physiology guyton and hall 11th edition. Mississippi: Elsevier
Saunders, 2006. p: 889 – 901.

Universitas Sumatera Utara

2.3.

Pengaturan Suhu Tubuh Oleh Hipotalamus.

Suhu tubuh dikontrol oleh hipotalamus. Sel-sel saraf baik yang berada
di preoptik hipotalamus anterior dan hipotalamus posterior menerima 2
macam sinyal: yang pertama dari nervus perifer yang merefleksikan reseptor
panas/ dingin dan yang lain dari darah yang mengaliri daerah hipotalamus
tersebut. Kedua tipe sinyal ini diintgrasikan oleh pusat termoregulator dari
hipotalamus untuk menjaga suhu tubuh tetap normal. Pada tubuh yang sehat,
suhu tubuh tetap stabil karena pusat termoregulator dari hipotalamus
menyeimbangkan

produksi panas (yang diperoleh dari aktifitas metabolik

dalam otot dan liver) dengan pelepasan panas (dari kulit dan paru-paru).
(Dinarello, dkk, 2005)
Suhu tubuh dikendalikan hampir sepenuhnya oleh mekanisme nervous
feedbeck dan hampir semuanya dilakukan melalui pusat pengaturan suhu
yang terletak di hipotalamus. Area preoptik-hipotalamus anterior ini terdiri dari
sejumlah besar sel-sel saraf yang sensitif terhadap panas dan sepertiganya
terdiri dari sel-sel saraf yang sensitif terhadap dingin. Sel-sel saraf ini
berfungsi sebagai sensor suhu dalam mengontrol suhu tubuh. Saat area
preoptik tersebut dirangsang panas, kulit pada seluruh tubuh akan
mengeluarkan keringat yang banyak, sementara pembuluh darah pada kulit
akan berdilatasi. Hal ini sebagai reaksi cepat agar tubuh dapat melepaskan
panas, sehingga membantu mengembalikan suhu tubuh ke normal. Sebagai

Universitas Sumatera Utara

tambahan, tubuh juga akan menghambat produksi panas yang berlebihan
(Guyton, dkk, 2006). Penurunan suhu tubuh menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh

darah

(untuk

menyimpan

panas)

dan

menggigil

(untuk

menghasilkan panas). (Waxman, 2010).
Meskipun pengaturan hipotalamus terhadap suhu tubuh sangat
berpengaruh, namun reseptor lain juga berperan dalam pengaturan suhu
tubuh (yaitu reseptor yang ada di kulit dan jaringan dalam tubuh). Reseptor di
kulit untuk dingin 10 kali lebih banyak daripada reseptor panas, sehingga
lebih peka terhadap suhu dingin daripada panas. Saat kulit di seluruh tubuh
dirangsang dingin, maka akan terjadi respon untuk meningkatkan suhu tubuh
berupa menggigil, mengurangi produksi keringat dan vasokontriksi pembuluh
darah kulit. Reseptor di jaringan dalam tubuh terutama terdapat di medulla
spinalis, organ-organ visera abdomen dan vena-vena besar dalam abdomen
bagian atas dan toraks. Reseptor ini juga lebih peka terhadap dingin daripada
panas. Kepekaan yang lebih terhadap dingin tersebut

mungkin untuk

mencegah agar tubuh tidak hipotermia (Guyton, dkk, 2006).
Meskipun sinyal sensorik banyak datangnya dari reseptor di perifer,
namun sinyal-sinyal itu akan mempengaruhi suhu tubuh melalui pengaturan
hipotalamus. Area yang distimulasi oleh sinyal-sinyal itu terletak bilateral di
hipotalamus posterior, setentang dengan mammilary body. Sinyal-sinyal
sensorik dari preoptik-hipotalamus anterior juga ditransmisikan ke area

Universitas Sumatera Utara

hipotalamus posterior. Di sinilah sinyal-sinyal itu semua diintegrasikan untuk
mengontrol produksi dan penyimpanan panas dari tubuh (Guyton, dkk, 2006).

Gambar 2. Bagian-bagian dari Hipotalamus. Dikutip dari: Rohkamm R. Color Atlas of
Neurology. Germany: Thieme Varlag, 2004. hal: 143

3.

DEMAM PADA STROKE ISKEMIK
Demam merupakan peningkatan suhu tubuh di atas rentang yang

normal, yang dapat disebabkan oleh abnormalitas dari otak itu sendiri atau
substansi toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu (Guyton, dkk,
2006).

Universitas Sumatera Utara

Demam pada pasien stroke akut merupakan hal yang biasa terjadi dan
kebanyakan disebabkan oleh infeksi. Penelitian Georgilis, dkk tahun 1999
mendapatkan dari 330 pasien stroke akut 37,6% ditemukan demam, 22,7%
disebabkan oleh infeksi dan 14,8% tanpa adanya infeksi . Pada beberapa
kasus, fokus infeksinya tidak dapat ditemukan, demam tersebut tidak respon
dengan terapi antibiotik empiris dan diperkirakan disebabkan lesi pada
susunan saraf pusat. Pada pasien dengan demam tanpa fokus infeksi,
karakteristik satu-satunya yang membedakan dengan adanya infeksi adalah
onset demam yang segera. (Georgilis, dkk, 1999).
Banyak protein, produk sisa dari protein dan substansi-substansi lain,
terutama toksin lipopolisakarida yang dilepaskan dari membrane sel bakteri
dapat menyebabkan set-point dari thermostat hipotalamus meningkat.
Substansi yang menyebabkan efek ini disebut pirogen. Pirogen dilepaskan
dari toksin bakteri atau dari jaringan tubuh yang mengalami degenerasi. Saat
set-point dari pusat pengaturan suhu di hipotalamus meningkat dari normal,
semua mekanisme untuk meningkatkan suhu tubuh akan berjalan, meliputi
penyimpanan suhu dan peningkatan produksi panas. Dalam beberapa jam
setelah set-point meningkat, suhu tubuh juga akan mencapai level tersebut
(Guyton, dkk, 2006).

Universitas Sumatera Utara

Gambar 3. Efek Perubahan Set-Point dari Pengaturan Suhu di Hipotalamus. Dikutip dari:
Guyton AC and Hall JE. Body Temperature, Temperature Regulation, and Fever. In: Schmitt
W and Gruliow R (Ed.). Medical physiology guyton and hall 11th edition. Mississippi: Elsevier
Saunders, 2006. p: 889 – 901.

Sitokin merupakan molekul protein kecil (10.000 – 20.000 Da) yang
mengatur imunitas, inflamasi dan proses hematopoesis. Beberapa sitokin
yang dapat menyebabkan demam disebut sitokin pirogenik (IL-1, IL-6 dan
TNF). Beberapa tipe sel (monosit/makrofag, sel endothelial, dan lain-lain)
dapat memproduksi sitokin pirogenik, yang kemudian akan memasuki
sirkulasi sistemik. Meskipun efek sistemik dari sitokin yang bersirkulasi dapat
menyebabkan demam dengan menginduksi sintesis PGE 2 , sitokin itu juga
dapat menginduksi PGE 2 di jaringan perifer. Peningkatan kadar PGE 2 di
perifer ini akan menyebabkan mialgia dan atralgia yang sering bersamaan
dengan demam. Namun demikian, induksi PGE 2 di otaklah yang memulai
proses peningkatan set-point di hipotalamus.

Universitas Sumatera Utara

Ada 4 reseptor dari PGE 2 , dan reseptor yang ke 3 lah yang berperan
pada terjadinya demam. Meskipun PGE 2 penting pada proses terjadinya
demam, tapi PGE 2 bukanlah neurotransmitter. Adapun demikian, pelepasan
PGE 2 dari endotelium hipotalamus akan merangsang reseptor PGE 2 di sel
glial dan hal ini akan menyebabkan pelepasan yang cepat dari cyclic
adenosine

5

neurotransmitter.

-

monophosphate
Cyclic

AMP

ini

(cyclic
akan

AMP),

yang

menyebabkan

merupakan
peningkatan

termoregulator set-point di hipotalamus.
Perangsangan langsung terhadap hipotalamus oleh toksin mikroba juga
dapat terjadi. Endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri gram negative dan
asam teichoic dari bakteri gram positif akan merangsang reseptor yang ada
di endothelium hipotalamus (disebut reseptor Toll-like).

Aktifasi langsung

reseptor Toll-like ini akan menyebabkan produksi PGE 2 dan demam
(Dinarello, dkk, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Gambar 4. Kronologis Kejadian Yang Diperlukan Untuk Menginduksi Demam. Dikutip dari:
Dinarello CA, Gelfand JA. Fever and Hyperthermia. In: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL,
Braunwald E, Hauser SL and Jameson JL (Ed.). Harrison’s principles of internal medicine.
New York: McGraw-Hill, 2005. p: 106.

Disfungsi dari regio preoptik hipotalamus anterior (misalnya karena
cedera kepala atau perdarahan) dapat menyebabkan central / neurogenic /
hypothalamic

(Baehr

fever

dkk,

2005).

Mekanisme

perdarahan

intraventrikuler dapat mengganggu fungsi hipotalamus dan menyebabkan
demam sentral diperkirakan akibat kerusakan langsung dari hemotoksik pada
thermoregulatory center. Perdarahan subarakhnoid dapat mengganggu
pengaturan suhu berhubungan dengan seringnya muncul cloth yang tebal di
sisterna

supraselar

atau

gangguan

mekanisme

pelepasan

panas

(Commichau dkk, 2003).

Universitas Sumatera Utara

4. PARASETAMOL(ASETAMINOFEN) DAN ASAM ASETIL SALISILAT
4.1.

PARASETAMOL (ASETAMINOFEN)

Asetaminofen

merupakan

obat

analgesik,

antipiretik

dan

non

antiinflamasi. Fenasetin merupakan prodrug yang dapat dimetabolisme
menjadi asetaminofen.
4.1.1. Mekanisme kerja
Cyclooxigenase (COX), enzim yang mengkonversi asam
arakhidonat

menjadi

endoperoksida

(precursor

prostaglandin) mempunyai setidaknya 2 isoform: COX-1 dan
COX-2. COX-1 terutama bekerja dalam sel-sel non inflamasi
sementara

COX-2

polimorfonuklear
antipiretik

dan

bekerja

dalam

limfosit,

sel

sel-sel

inflamasi

lainnya.

Efek

parasetamol

ditimbulkan

oleh

gugus

aminobenzen, dimana obat ini bekerja dengan menghambat
enzim COX, terutama sangat selektif pada COX-2, dengan
demikian mengurangi jumlah prostaglandin E2 di susunan
saraf pusat, maka akan menurunkan set-point di pusat
pengaturan suhu di talamus. Obat ini bekerja sebagai
inhibitor yang lemah terhadap enzim COX-1 dan COX-2 di
jaringan perifer, yang menyebabkan tidak adanya efek
antiinflamasi, hal ini karena parasetamol hanya bekerja pada

Universitas Sumatera Utara

lingkungan yang kadar peroksidnya rendah, sementara pada
lokasi inflamasi (yang biasanya di perifer) mengandung
banyak peroksid yang dihasilkan leukosit. Bukti-bukti lain
menunjukkan obat ini dapat menghambat enzim ketiga,
COX-3, di susunan saraf pusat. (Katzung, dkk, 2005;
Wilmana, dkk, 2007)
4.1.2. Efek
Merupakan

analgesik

dan

antipiretik,

tanpa

efek

antiinflamasi dan antipletelet.
4.1.3. Farmakokinetik dan Penggunaan klinis
Asetaminofen efektif untuk indikasi yang sama pada dosis
intermediet dari asam asetil salisilat (efek analgesik dan
antipiretik: 300 – 2400 mg/ hari). Diserap dengan baik
secara oral dan dimetabolisme di hepar. Konsentrasi
tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam, dengan
masa paruh 2 – 3 jam pada orang dengan fungsi hati yang
normal, dan tidak dipengaruhi oleh penyakit pada ginjal.
Sebagian besar (80%) dikonjugasi dengan asam glukoronat
dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Tersebar di
seluruh cairan tubuh. Dalam plasma 25% terikat protein
plasma. Diekskresikan melalui ginjal, sebagian kecil sebagai

Universitas Sumatera Utara

parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk
terkonjugasi. (Katzung, dkk, 2005 ; Wilmana PF, 2007)
4.1.4. Dosis
Parasetamol tersedia sebagai obat tunggal berbentuk tablet
500 mg atau sirup yang mengandung 120 mg/ 5 ml. Dosis
parasetamol untuk dewasa 300 – 1000 mg per kali beri,
dengan dosis maksimum 4 gram per hari; untuk anak 6-12
tahun 150 – 300 mg/ kali dengan maksimum 1,2 gram/ hari.
Untuk anak 1-6 tahun: 60 – 120 mg/ kali dan bayi di bawah 1
tahun: 60 mg/ kali; pada keduanya diberikan maksimum 6
kali sehari (Wilmana PF, 2007).
4.1.5. Kontraindikasi
Parasetamol

dikontraindikasikan

pada

pasien

dengan

riwayat alergi terhadap obat ini. Perdarahan saluran cerna
(dosis besar (> 2000 mg/ hari)). Efek iritasi, erosi dan
perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini, demikian
juga gangguan pernafasan dan keseimbangan asam basa.
(Wilmana PF, 2007 ; García Rodríguez LA dan HernándezDíaz S, 2000).

Universitas Sumatera Utara

4.1.6. Toksisitas
Dalam dosis terapeutik, toksisitasnya pada kebanyakan
individu tidak ada. Namun pada pemakaian melebihi dosis
atau pasien dengan gangguan fungsi hepar yang berat, obat
ini merupakan hepatotoksin yang berbahaya (Katzung, dkk,
2005).

4.2.

ASAM ASETIL SALISILAT
Asam asetil salisilat merupakan prototipe dari salisilat.
Selain sebagai prototipe, obat ini merupakan standar dalam
menilai efek obat sejenis (Katzung, dkk, 2005 ; Wilmana PF,
2007)
4.2.1. Mekanisme kerja
Asam asetil salisilat bekerja dengan menghambat kedua
bentuk isoform dari enzim COX dan makanya menurunkan
sintesis

prostaglandin

dan

tromboksan

dalam

tubuh.

Perbedaan obat ini dengan obat anti inflamasi nonsteroid
yang lainnya ialah obat ini menghambat COX secara
irreversibel, sementara yang lainnya reversibel (Katzung,
dkk, 2005).

Universitas Sumatera Utara

4.2.2. Efek
Derivat asam arakhidonat merupakan mediator yang penting
dari

inflamasi,

penghambat

COX

akan

mengurangi

manifestasi dari inflamasi, meskipun tidak mempunyai efek
terhadap kerusakan jaringan yang mendasarinya atau reaksi
imunologis. Sintesis prostaglandin di susunan saraf pusat
yang distimulasi oleh pirogen, dihambat oleh obat ini
sehingga menurunkan demam (efek antipiretik). Mekanisme
analgesik obat ini belum sepenuhnya dipahami. Aktifasi
sensor nyeri di perifer mungkin berkurang sebagai akibat
penurunan produksi prostaglandin di jaringan yang cedera.
Obat

ini

juga

mengganggu

fungsi

keseimbangan

prostaglandin, terutama mengurangi prostaglandin-mediated
cytoprotection di saluran gastrointestinal (Katzung, dkk,
2005).
4.2.3. Farmakokinetik dan Penggunaan Klinis
Asam asetil salisilat melalui oral diserap dengan baik di
lambung dan di intestinal dalam 4-10 menit dan mencapai
puncak dalam plasma 30-40 menit. Dihidrolasi di hepar
menghasilkan asam salisilat. Metabolit inaktif diekskresikan
melalui ginjal. Obat ini mempunyai 3 rentang dosis

Universitas Sumatera Utara

terapeutik: Rentang rendah (< 300 mg/hari), efektif dalam
mengurangi agregasi platelet. Dosis intermediet (300-2400
mg/ hari) mempunyai efek antipiretik dan analgesik. Dan
dosis

tinggi

(2400-4000

mg/

hari)

mempunyai

efek

antiinflamasi. (Katzung, dkk, 2005 ; Jacewicz, dkk, 2008)
4.2.4. Dosis
Asam asetil salisilat tersedia dalam bentuk tablet 100 mg
dan 500 mg. Dosis yang digunakan:
-

Sebagai anti platelet: < 300 mg/ hari

-

Sebagai antipiretik dan analgesik: 300 – 2400 mg/ hari
untuk dewasa dan 15 – 20 mg/ kg berat badan per kali
beri tiap 4-6 jam dengan dosis maksimal 3,6 gram per
hari untuk anak.

-

Sebagai antiinflamasi: 2400 – 4000 mg/ hari untuk
dewasa dan 100 – 125 mg/ kg berat badan per hari,
diberikan tiap 4-6 jam untuk anak. (Katzung, dkk, 2005 ;
Wilmana PF, 2007)

Universitas Sumatera Utara

4.2.5. Kontraindikasi
Asam asetil salisilat tidak boleh diberikan pada penderita
dengan

riwayat

alergi

pernafasan,

gangguan

gangguan

hati

terhadap

obat

ini,

keseimbangan

dan

ginjal.

gangguan

asam

Pada

basa,

penderita

hipoprotrombinemia, defisiensi vitamin K dan hemofilia,
sebab

dapat

meinimbulkan

perdarahan.

Juga

pada

penderita gastritis, ulkus gaster dan perdarahan saluran
cerna. (Wilmana PF, 2007)
4.2.6. Toksisitas
Adverse effect yang paling sering pada dosis antiinflamasi
adalah gangguan lambung. Pemakaian yang kronis bisa
menyebabkan ulkus gaster, perdarahan gastrointestinal
bagian atas dan gangguan ginjal. (Katzung, dkk, 2005)

Universitas Sumatera Utara

5. KERANGKA TEORI

STROKE ISKEMIK AKUT
Dippel, dkk, 2001: Selama hari
pertama fase akut stroke, demam
dapat terjadi pada sepertiga sampai
setengah jumlah pasien.

Dippel, dkk, 2003: Peningkatan
suhu dihubungkan dengan volume
infark yang luas, tingginya case
fatality dan outcome fungsional
yang jelek.

PARASETAMOL
(ASETAMINOFEN)

ASAM ASETIL
SALISILAT

SUHU
TUBUH
Dippel, dkk, 2001: asetaminofen 6000
mg memberikan manfaat yang potensial
dalam menurunkan suhu tubuh setelah
stroke iskemik akut baik pada pasien
normotermia dan subfebris.
Koennecke & Leistner, 2001 ; Sulter,
dkk, 2002: menyarankan pemberian
antipiretik profilaksis asetaminofen yang
mungkin efektif dalam mencegah
terjadinya demam.
Reith, dkk, 1996: Tiap peĹ 10C suhu
tubuh maka risiko relatif outcome
yang jelek meningkat 2,2 kali.
Saini, dkk, 2009: Tindakan yang
agresif untuk mencegah dan
mengobati
hipertermia
dapat
meningkatkan outcome klinis.

Sulter, dkk, 2002:




1 jam pemberian: asetaminofen
1000 mg ĺ hasil yang
signifikan Ļ suhu tubuh dan
normo