Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru.

PERBANDINGAN KETEPATAN ANTARA PEMERIKSAAN SITOLOGI 
SPUTUM INDUKSI  NaCl 3%  DENGAN SITOLOGI SPUTUM POST‐
BRONKOSKOPI  SECARA FIKSASI SACCOMANNO  DALAM 
MEMBANTU PENEGAKAN DIAGNOSIS KANKER PARU 
 
TESIS 
Diajukan untuk Melengkapi Syarat Pendidikan Spesialisasi di Departemen Pulmonologi 
dan Ilmu Kedokteran Respirasi 
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP Haji Adam Malik Medan  

 
       IRENA  LOLU  PUTRIYA  SINAGA 
               
 
     
 
 

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS 
DEPARTEMEN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI 
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS. HAJI ADAM MALIK 
MEDAN 
2011 

Universitas Sumatera Utara

LEMBARAN PERSETUJUAN
Judul Penelitian

: Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum
induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi
secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan
diagnosis kanker paru.

Nama

: Irena Lolu Putriya Sinaga

Program Studi

: Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Pulmonologi &
Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara/RS. Haji Adam Malik Medan
Menyetujui,
Pembimbing I

Dr. Pantas Hasibuan, SpP (K)
NIP. 19581202 199103 1 001
Pembimbing II

Pembimbing III

Pembimbing IV

Dr. Noni N.Soeroso, SpP Dr.Sumondang Pardede, Sp.PA Dr. Arlinda S.Wahyuni,M.Kes
NIP.19781120200501 2002 NIP.19550329 198303 2 002 NIP.19690609 199903 2 001
Koordinator Penelitian
Departemen Pulmonologi &
Ilmu Kedokteran Respirasi

Ketua Program Studi
Departemen Pulmonologi &
Ilmu Kedokteran Respirasi

Ketua Departemen
Pulmonologi &Ilmu
Kedokteran Respirasi

Prof. Dr.Tamsil S, SpP (K) Dr. Amira P.Tarigan, SpP Prof.Dr.H.Luhur Soeroso,SpP(K)
NIP.19521101198003 1 001 NIP. 196911071999032 002 NIP. 19440715 197402 1 001

Universitas Sumatera Utara

TESIS
PPDS DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN
RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA/
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
MEDAN
__________________________________________________________________


Judul Penelitian

: PERBANDINGAN KETEPATAN
ANTARA PEMERIKSAAN SITOLOGI
SPUTUM INDUKSI NaCl 3% DENGAN
SITOLOGI SPUTUM POSTBRONKOSKOPI SECARA FIKSASI
SACCOMANNO DALAM MEMBANTU
PENEGAKAN DIAGNOSIS KANKER

 Nama Peneliti


PARU
: Irena Lolu Putriya Sinaga



NIP



Fakultas

: Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Program Studi

: Pendidikan Dokter Spesialis



: -

Pangkat/Golongan : -

Departemen Pulmonologi dan Ilmu






Kedokteran Respirasi
Jangka Waktu

: 5 Bulan (lima bulan)

Lokasi Penelitian

: RSUP Haji Adam Malik Medan

Pembimbing

: 1. Dr. Pantas Hasibuan, Sp.P (K)
2. Dr. Noni N. Soeroso, Sp.P
3. Dr. Sumondang Pardede, Sp.PA
4. Dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………………

i

LEMBAR TESIS……………………………………...................................

ii

PERNYATAAN ………………………………………………………….

iii

KATA PENGANTAR…………………………………………………….

iv

DAFTAR ISI……………………………………………………………....

ix

DAFTAR SINGKATAN………………………………………………….

xii

DAFTAR TABEL……………………………………………………….. .

xiii

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………..

xiv

BAB 1 PENDAHULUAN………………………………………………..

1

1.1.

Latar Belakang ……………………………………………….

1

1.2.

Perumusan Masalah …………………………………………..

6

1.3.

Hipotesis ……………………………………………………...

7

1.4.

Tujuan Penelitian ……………………………………………..

7

1.4.1. Tujuan Umum ……………………………………………

7

1.4.2. Tujuan Khusus ……………………………………………

7

Manfaat Penelitian ……………………………………………..

8

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………….....

9

2.1. Definisi Kanker Paru ……………………………………………...

9

2.2. Epidemiologi Kanker Paru ……………………………………….

9

2.3. Faktor Risiko dan Etiologi Kanker Paru ………………………….

10

2.4. Diagnosis Kanker Paru ……………………………………………

11

2.4.1. Manifestasi Klinis …………………………………………..

11

2.4.2. Pemeriksaan Fisik …………………………………………..

16

2.4.3. Pemeriksaan Radiologi ……………………………………..

16

2.4.3.1. Foto Toraks …………………………………….....

16

2.4.3.2. CT scan Toraks ……………………………………

18

2.4.3.3. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Scan ……….

18

1.5.

Universitas Sumatera Utara

2.4.3.4. PET (Positron Emission Tomography) Scan………
2.4.4. Sitologi Sputum ……………………………………………...

18 

2.4.5. Bronkoskopi …………………………………………………

19 

2.5. Klasifikasi Kanker Paru …………………………………………….

31 

2.6. Sitologi Kanker Paru ………………………………………………..

39 

2.6.1. Karsinoma Sel Skuamosa ……………………………………
2.6.2. Adenokarsinoma …………………………………………….
2.6.3. Karsinoma Sel Besar ………………………………………...
2.6.4. Karsinoma Sel Kecil ………………………………………...

41 
41 
42 
44 
46 

BAB 3 BAHAN DAN METODA ………………………………………….
3.1. Rancangan Penelitian ……………………………………………...
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………………..
3.3. Subjek Penelitian …………………………………………………..
3.3.1. Populasi ……………………………………………………...
3.3.2. Sampel ……………………………………………………….
3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ………………………………………
3.4.1. Kriteria Inklusi……………………………………………….
3.4.2. Kriteria Eksklusi……………………………………………..
3.5. Teknik Pengambilan Sampel ………………………………………

 
48 
48 
48 
48 
48 
49 
49 
49 
49 
50 

3.6. Jumlah Sampel …………………………………………………….

50 

3.7. Kerangka Konsep…………………………………………………..

52 

3.8. Definisi Operasional ……………………………………………….

53 

3.9. Kerangka Operasional………………………………………………

57 

3.10. Cara Kerja ………………………………………………………...

58 

3.11. Pengukuran dan Analisis Data ……………………………………

59 

3.12. Jadwal Penelitian …………………………………………………

61 

3.13. Biaya Penelitian ………………………………………………….

62 
 

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………….....

63 

4.1. Hasil Penelitian …………………………………………………….

63 

Universitas Sumatera Utara

4.2. Pembahasan ……………………………………………………….

70 
 

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………

77 

5.1. Kesimpulan ………………………………………………………..

77 

5.2. Saran ………………………………………………………………

78 
 

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..

79 
 

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN
ACTH

: Adrenocorticotrophic hormone

ADH

: Anti Diuretic Hormone

BAL

: Broncho Alveolar Lavage

BSOL

: Bronkoskopi Serat Optik Lentur

CT Scan

: Computerized Tomographic Scans

FNAB

: Fine Needle Aspirasion Biopsy

FOB

: Fiber Optic Bronchoscopy

HPOA

: Hypertrophic Pulmonary Osteo-Arthropathy

IASLC

: International Association for The Study of Lung
Cancer

IDT

: Instalasi Diagnostik Terpadu

KGB

: Kelenjar Getah Bening

KPKBSK

: Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel Kecil

KPKSK

: Kanker Paru Karsinoma Sel Kecil

MRI

: Magnetic Resonance Imaging Scans

NSCLC

: Non Small Cell Lung Carcinoma

OAT

: Obat Anti Tuberkulosis

PA

: Postero Anterior

PET

: Positron Emission Tomography Scans

SCLC

: Small Cell Lung Carcinoma

TBNA

: Trans Bronchial Needle Aspiration

TNM

: Tumor-Nodus-Metastasis

WHO

: World Health Organization

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sindroma Paraneoplastik………………………………………..

14

Tabel 2. Gambaran Foto Toraks Berdasarkan Tipe Histologi
Kanker Paru …………………………………………………….
Tabel 3. Karakteristik pasien berdasarkan umur dan jenis kelamin……

17
64

Tabel 4. Distribusi kasus sesuai letak tumor dan pemeriksaan
sitologi sputum induksi NaCl 3%.....................................................

65

Tabel 5. Distribusi kasus berdasarkan letak tumor dan pemeriksaan
sitologi sputum post bronkoskopi……………………………….

66

Tabel 6. Distribusi kasus berdasarkan letak tumor dan pemeriksaan
sitologi BAL dan/atau brushing………………………………….

67

Tabel 7. Tabel 2 x 2 yang menunjukkan hasil sitologi sputum induksi
NaCl 3% dan sitologi BAL dan/atau brushing…………………..
Tabel 8. Tabel 2 x 2 yang menunjukkan hasil sitologi sputum post
bronkoskopi dan/atau brushing………………………………….

68
 
69 
 
 

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Sitologi Sputum ……………………………………………… 26
Gambar 2. Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL)…………………….. 32
Gambar 3. Percabangan Bronkus yang Dapat Dilihat Bronkoskopi
padaPosisi Pasien Telentang (Supine)………………………… 36
Gambar 4. Perubahan Inflamasi pada Bronkitis Kronis ………….……….. 37
Gambar 5. Sitologi Karsinoma Sel Skuamosa……………………….…….. 42
Gambar 6. Sitologi Adenokarsinoma……………………………………….44
Gambar 7. Sitologi Karsinoma Sel Besar (pewarnaan Papanicolaou)……...46
Gambar 8. Kelompok sel dengan sitoplasma yang sedikit, nuclear
molding, dan kromatin bergranular halus, nukleolus tidak ada,
formasi rosette yang baru jadi ………………………………..47
 
 
 
 

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur dan terima kasih saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa, sebab berkat rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan
penelitian ini dengan judul “Perbandingan Ketepatan Antara Pemeriksaan Sitologi
Sputum Induksi NaCl 3% Dengan Sitologi Sputum Post Bronkoskopi Secara
Fiksasi Saccomanno Dalam Membantu Penegakan Diagnosis Kanker Paru” yang
merupakan persyaratan akhir pendidikan spesialisasi di Departemen Pulmonologi
dan Ilmu Kedokteran Respirasi Universitas Sumatera Utara/RSUP Haji Adam
Malik Medan.
Adapun keberhasilan saya dalam menyelesaikan penelitian ini tidaklah
terlepas dari bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak baik semua
supervisor

saya, teman sejawat asisten Departemen Pulmonologi dan Ilmu

Kedokteran Respirasi FK USU, tenaga paramedis dan non medis serta dorongan
dari pihak keluarga. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan
dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Prof. Dr. H. Luhur Soeroso, SpP (K) sebagai Ketua Departemen
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik
Medan, yang dengan penuh kesabaran dan tiada henti-hentinya memberikan
bimbingan ilmu pengetahuan, senantiasa menanamkan disiplin, ketelitian, dan
perilaku yang baik serta pola berpikir dan bertindak ilmiah, yang sangat berguna
bagi saya untuk masa yang akan datang. Begitu juga karena telah membantu saya
dalam melakukan pemeriksaan bronkoskopi terhadap pasien-pasien tumor paru
yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Dr. Pantas Hasibuan, SpP (K) sebagai Sekretaris Bagian Departemen
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik
Medan dan Pembimbing I penulis, yang penuh kesabaran dan kebaikan
memberikan bimbingan dan masukan selama saya menjalani Program Pendidikan
Dokter Spesialis ini dan mengerjakan penelitian ini sampai selesai.
Dr. H. Zainuddin Amir, SpP (K) sebagai Ketua TKP PPDS FK USU dan
sebagai supervisor saya, yang selama ini tidak jemu-jemunya menanamkan

Universitas Sumatera Utara

disiplin, ketelitian, pola berpikir, dan wawasan ilmiah, serta bimbingan kepada
saya, yang sangat berguna untuk menyempurnakan tugas penelitian ini.
Prof. Dr. Tamsil Syafiuddin, SpP (K) sebagai Koordinator Penelitian
Ilmiah di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU dan
Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia cabang Sumatera Utara yang telah
banyak memberikan dorongan, bimbingan, pengarahan, dan masukan dalam
rangka penyusunan dan penyempurnaan penelitian ini.
Dr. Amira Permatasari Tarigan, SpP sebagai Ketua Program Studi
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H.
Adam Malik Medan, yang telah memberikan dukungan moral, semangat,
motivasi, bimbingan, dan masukan kepada saya selama menjalani pendidikan
spesialisasi dan menyelesaikan penelitian ini sampai selesai.
Dr. Noni Novisari Soeroso, SpP sebagai Sekretaris Program Studi
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi dan Pembimbing II
saya, yang telah membimbing, menolong, memberikan masukan, motivasi,
didikan, dan bantuan kepada saya untuk mengerjakan penelitian ini dari awal
sampai akhir, termasuk dalam pengerjaan tindakan bronkoskopi terhadap pasienpasien tumor paru yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Penghargaan dan

ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya

sampaikan kepada supervisor saya Dr. Hilaluddin Sembiring, SpP (K),
DTM&H, Prof. Dr. R.S. Parhusip, SpP (K), (alm) Dr. Sumarli, SpP (K),
(alm) Dr. Sugito, SpP (K), dan Dr. Usman, SpP,

yang telah banyak

memberikan bimbingan, nasihat, ilmu pengetahuan dan pengalaman klinis beliau
selama mengabdi pada Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FK USU yang sangat berguna bagi saya selama menjalani pendidikan spesialisasi
ini.
Penghargaan dan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya saya
sampaikan kepada Dr. Widirahardjo, SpP (K), Dr.PS. Pandia, SpP (K), Dr.
Fajrinur Syarani, SpP (K), Dr. Parluhutan Siagian, SpP, Dr. Bintang YM.
Sinaga, SpP, Dr. Setia Putra Tarigan, SpP, Dr. Ucok Martin, SpP, dan Dr.
Netty Y. Damanik, SpP, yang

juga telah memberikan bantuan, bimbingan,

Universitas Sumatera Utara

masukan, dan pengarahan selama saya menjalani pendidikan dan mengerjakan
penelitian ini sampai selesai.
Dr. Sumondang Pardede, SpPA sebagai Kepala Instalasi Bagian/SMF
Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik Medan dan pembimbing tesis saya dari
bagian Patologi Anatomi, yang dengan sabar telah memberikan bimbingan,
bantuan, masukan, motivasi, dan pengertian di bidang sitologi sputum, serta
membantu penyelesaian hasil penelitian ini sampai akhirnya penelitian ini dapat
terlaksana dengan baik.
Dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes sebagai pembimbing statistik saya,
yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan, serta
pengetahuan di bidang statistika kepada saya dalam menyelesaikan dan mengolah
hasil yang didapat dalam penelitian ini.
Izinkanlah saya mengucapkan rasa terima kasih kepada Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Direktur RSUP H. Adam Malik Medan,
yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan kepada saya selama menjalani
pendidikan spesialisasi ini.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para teman sejawat saya
residen paru yang terkasih di Program Pendidikan Dokter Spesialis Departemen
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik
Medan, pegawai tata usaha, perawat/petugas poliklinik, ruang IDT/bronkoskopi,
ruang rawat inap Rindu A3 Paru, analis dan pegawai di Instalasi Patologi Anatomi
RSUP H. Adam Malik Medan, perawat RS. Tentara Kesdam I/BB Tk. II dan RS.
Tembakau Deli Medan, yang telah bekerjasama dan membantu saya dalam
menyelesaikan penelitian ini.
Dengan rasa hormat, kasih saying, dan ucapan terima kasih yang tiak
terbalas saya sampaikan kepada kedua orang tua saya tercinta yaitu ayahanda Kol
(Purn). Dr. Jarudi Sinaga, SpP dan ibunda Selli Deliana Herawati Purba, yang
dengan sabar membesarkan, mendidik, memotivasi, mendukung, dan setia
mendoakan saya selama saya menjalani masa pendidikan spesisalisasi ini sampai
sekarang. Demikian juga kepada mertua saya (alm) Drs. B.T. Manurung dan ibu
mertua saya K.R. Sitorus, yang telah setia berdoa dan memberikan motivasi,

Universitas Sumatera Utara

dukungan, semangat, bantuan kepada saya selama saya menjalani pendidikan
spesialisasi ini.
Demikian juga dengan rasa hormat, cinta kasih, dan terima kasih yang
sebesar-besarnya saya ucapkan kepada suami saya yang tercinta, dr. Edward
Sugito Manurung, karena telah setia menemani, membantu, mendorong, dan
mendoakan saya selama saya menjalani pendidikan ini sampai akhirnya
menyelesaikan tugas penelitian ini. Begitu juga saya ucapkan rasa terima kasih
yang tidak terbalas kepada saudara kandung saya yaitu abang saya Jove Meldi
Priyatama, S.T., M.Sc., dan ketiga adik-adik saya Irani Ruth Julita Sinaga, S.T.,
Penta Josua Putra Sinaga, S.T., dan Anggian Heksa Efraim, S.Psi., yang juga telah
memberikan dorongan dan semangat, doa, dan bantuannya kepada saya selama ini
sampai akhirnya dapat menyelesaikan tugas pendidikan ini dengan maksimal.
Akhirnya pada kesempatan ini perkenankanlah saya untuk menyampaikan
permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan, kekhilafan, dan
kesalahan yang saya perbuat selama ini. Semoga ilmu, keterampilan dan
pembinaan kepribadian yang saya dapatkan selama ini dapat bermanfaat bagi
agama, nusa dan bangsa dan mendapat restu dari Tuhan Yang Maha Esa.

Medan, September 2011
Penulis

(Irena Lolu Putriya Sinaga)

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN
PERBANDINGAN KETEPATAN ANTARA PEMERIKSAAN SITOLOGI
SPUTUM INDUKSI NaCl 3% DENGAN SITOLOGI SPUTUM POST
BRONKOSKOPI SECARA FIKSASI SACCOMANNO DALAM
MEMBANTU PENEGAKAN DIAGNOSIS KANKER PARU

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, September 2011
Peneliti

Irena Lolu Putriya Sinaga

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada :
Tanggal 15 September 2011

Panitia Penguji Tesis
Ketua

: Dr. Amira Permatasari Tarigan, Sp.P

Sekretaris

: Dr. Noni Novisari Soeroso, Sp.P

Anggota Penguji

:-

Prof. Dr. Luhur Soeroso, Sp.P (K)

-

Prof. Dr. Tamsil Syafiuddin, Sp.P (K)

-

Dr. Hilaluddin Sembiring, DTM & H, Sp.P (K)

-

Dr. H. Zainuddin Amir, Sp.P (K)

-

Dr. Pandiaman Pandia, Sp.P (K)

-

Dr. Bintang YM. Sinaga, Sp.P

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tujuan : Membandingkan ketepatan pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl
3% dengan sitologi sputum post bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam
membantu penegakan diagnosis kanker paru.

Metode : Studi analitik, yang dilakukan secara observasional, dengan pendekatan
cross-sectional yang bersifat uji diagnostik.

Hasil : Penderita rawat inap yang dicurigai menderita kanker paru dalam
penelitian ini adalah sebanyak 55 orang dengan proporsi pasien laki-laki sebesar
80.0% dan perempuan sebesar 20.0%. Kasus paling banyak ditemukan pada
pasien dengan kelompok umur 41-60 tahun yaitu sebesar 60.0%, baik laki-laki
maupun perempuan, dengan umur yang paling tua adalah 81 tahun dan yang
paling muda adalah 38 tahun. Secara radiologi kasus tumor letak sentral adalah
sebesar 61.8% dan tumor letak perifer sebesar 38.2%. Jumlah kasus yang
menunjukkan hasil sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan fiksasi Saccomanno
sebesar 47.3%, dimana tumor letak sentral sebesar 36.4% dan tumor letak perifer
sebesar 10.9% dengan jenis karsinoma sel skuamosa paling banyak (36.4%) dan
karsinoma sel kecil (10.9%). Sedangkan proporsi sitologi sputum post
bronkoskopi dengan fiksasi Saccomanno sebesar 47.3%, dengan kasus tumor
sentral 34.5% (jenis karsinoma sel skuamosa 23.6%, karsinoma sel kecil 9.1%,
adenokarsinoma 1.8%) dan tumor letak perifer sebesar 12.7% (jenis karsinoma
sel skuamosa). Ketepatan (sensitivitas) pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl
3% dengan fiksasi Saccomanno adalah 42.8%. Ketepatan (sensitivitas)

Universitas Sumatera Utara

pemeriksaan sitologi sputum post bronkoskopi dengan fiksasi Saccomanno adalah
44.1%.

Kesimpulan : Ketepatan (sensitivitas) sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan
fiksasi Saccomanno tidak berbeda secara signifikan dengan ketepatan
(sensitivitas) sitologi sputum post bronkoskopi.

Kata Kunci : sitologi sputum induksi NaCl 3%, sputum post bronkoskopi, kanker
paru

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tujuan : Membandingkan ketepatan pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl
3% dengan sitologi sputum post bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam
membantu penegakan diagnosis kanker paru.

Metode : Studi analitik, yang dilakukan secara observasional, dengan pendekatan
cross-sectional yang bersifat uji diagnostik.

Hasil : Penderita rawat inap yang dicurigai menderita kanker paru dalam
penelitian ini adalah sebanyak 55 orang dengan proporsi pasien laki-laki sebesar
80.0% dan perempuan sebesar 20.0%. Kasus paling banyak ditemukan pada
pasien dengan kelompok umur 41-60 tahun yaitu sebesar 60.0%, baik laki-laki
maupun perempuan, dengan umur yang paling tua adalah 81 tahun dan yang
paling muda adalah 38 tahun. Secara radiologi kasus tumor letak sentral adalah
sebesar 61.8% dan tumor letak perifer sebesar 38.2%. Jumlah kasus yang
menunjukkan hasil sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan fiksasi Saccomanno
sebesar 47.3%, dimana tumor letak sentral sebesar 36.4% dan tumor letak perifer
sebesar 10.9% dengan jenis karsinoma sel skuamosa paling banyak (36.4%) dan
karsinoma sel kecil (10.9%). Sedangkan proporsi sitologi sputum post
bronkoskopi dengan fiksasi Saccomanno sebesar 47.3%, dengan kasus tumor
sentral 34.5% (jenis karsinoma sel skuamosa 23.6%, karsinoma sel kecil 9.1%,
adenokarsinoma 1.8%) dan tumor letak perifer sebesar 12.7% (jenis karsinoma
sel skuamosa). Ketepatan (sensitivitas) pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl
3% dengan fiksasi Saccomanno adalah 42.8%. Ketepatan (sensitivitas)

Universitas Sumatera Utara

pemeriksaan sitologi sputum post bronkoskopi dengan fiksasi Saccomanno adalah
44.1%.

Kesimpulan : Ketepatan (sensitivitas) sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan
fiksasi Saccomanno tidak berbeda secara signifikan dengan ketepatan
(sensitivitas) sitologi sputum post bronkoskopi.

Kata Kunci : sitologi sputum induksi NaCl 3%, sputum post bronkoskopi, kanker
paru

Universitas Sumatera Utara

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kanker paru merupakan kasus keganasan yang paling sering
ditemukan di seluruh dunia dewasa ini (12.6% dari seluruh kasus baru
kanker, 17.8% dari kematian karena kanker).1,2 Diperkirakan sekitar 1.2 juta
kasus baru kanker paru dan 1.1 juta kematian akibat kanker paru terjadi pada
tahun 2000, dengan perbandingan rasio terjadinya antara laki-laki :
perempuan sekitar 2.7.2

Sedangkan pada tahun 2007, secara global

diperkirakan sekitar 1.5 juta kasus baru kanker paru.3 Kanker paru menjadi
penyebab paling sering dari kasus kematian akibat kanker pada laki-laki di
Amerika Utara dan hampir di semua negara-negara Eropa Timur maupun
Eropa Barat, dan semakin sering menjadi penyebab kematian di negaranegara berkembang di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, meskipun data-data
yang berkualitas tinggi untuk perbandingan belum tersedia dari kebanyakan
populasi tersebut.1

Selama berabad-abad, telah diketahui bahwa sel-sel keganasan dapat
ditemukan pada sekresi bronkus pasien kanker paru. Sitologi merupakan
salah satu pendekatan penting selain pemeriksaan histologi dan sering
menjadi metode diagnosis yang baik. Apabila sitologi sputum yang
dibatukkan (ekspektorasi) normal, maka diagnosis keganasan masih mungkin

Universitas Sumatera Utara

ditegakkan dari bahan yang diambil selama tindakan bronkoskopi serat lentur
(fiberoptic bronchoscopy) yaitu dari sitologi sikatan bronkus (bronchial
brushing), bilasan bronkus (bronchial washing), ataupun dari sputum postbronkoskopi.4 Pasien dengan sitologi sputum mencurigakan (atipik berat
atau sel keganasan) sebaiknya dilakukan tindakan bronkoskopi serat lentur
dan pemeriksaan radiologi lainnya. Menurut European Respiratory Journal
2003 sitologi sputum terutama dapat mendeteksi karsinoma skuamosa di
saluran nafas sentral. Sitologi sputum positif untuk adenokarsinoma stadium
≥ IIIA pada 82.4% kasus. Dibandingkan dengan CT scan toraks, kekerapan
“false-positive” sitologi sputum untuk deteksi dini karsinoma skuamosa
sangat rendah.5

Sitologi sputum memiliki spesifitas 99% dan sensitivitas 66%, tetapi
sensitivitas lebih tinggi pada lesi-lesi sentral (71%) dibandingkan dengan lesi
perifer (49%).6 Pada penelitian Siagian (2002) yang dilakukan pada 38 orang
pasien yang dirawat atau berobat jalan di Bagian/SMF Paru RS. Haji Adam
Malik, didapatkan sensitifitas sitologi sputum sebesar 26.3% (10 orang),
dengan jenis skuamosa sebanyak 80% dan adenokarsinoma sebanyak 20%.7

Dengan bantuan inhalasi NaCl 3% untuk merangsang pengeluaran
sputum, kepositifan sitologi sputum dapat ditingkatkan. Tujuan induksi
sputum adalah mengumpulkan sampel yang cukup dari saluran nafas individu
yang tidak dapat mengeluarkan sputum secara spontan. Sputum induksi

Universitas Sumatera Utara

mempunyai korelasi dengan BAL dan kumbah bronkus (bronchial washing)
tetapi lebih kecil dibandingkan dengan biopsi bronkus.8

Sedangkan pengumpulan sputum post-bronkoskopi memerlukan
kerjasama yang baik dari pasien ditambah dengan bantuan dari perawat dan
personil laboratorium. Sputum post-bronkoskopi diekspektorasikan dalam 24
jam setelah bronkoskopi.4

Diagnosis kanker paru dengan sputum induksi dapat menjadi
alternatif dari pemeriksaan bronkoskopi. Dari penelitian Khajotia (2009), 25
pasien dari kelompok sputum induksi didiagnosis menderita kanker paru
primer; sputum induksi positif ditemukan sel-sel keganasan terdapat pada 21
orang (84%), sedangkan bronkoskopi positif pada 23 orang (92%) (tidak
berbeda secara signifikan). Sebagai perbandingan, dari sputum spontan
didapatkan positif pada 15 dari 29 orang (52%) yang didiagnosis menderita
kanker paru primer, sedangkan bronkoskopi positif pada 28 (97%)
(p20% dari berat badan sebelumnya (bulan
sebelumnya) sering mengindikasikan adanya metastasis. Pasien dengan
metastasis ke hepar sering mengeluhkan penurunan berat badan. Kanker paru
umumnya juga bermetastasis ke kelenjar adrenal, tulang, otak, dan kulit.
Keterlibatan organ-organ ini dapat menyebabkan nyeri local. Metastasis ke
tulang dapat terjadi ke tulang mana saja namun cenderung melibatkan tulang
iga, vertebra, humerus, dan tulang femur. Bila terjadi metastasis ke otak, maka
akan

terdapat

gejala-gejala

neurologi,

seperti

confusion,

perubahan

kepribadian, dan kejang. Kelenjar getah bening supraklavikular dan servikal

Universitas Sumatera Utara

anterior dapat terlibat pada 25% pasien dan sebaiknya dinilai secara rutin
dalam mengevaluasi pasien kanker paru.

2.4.2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik sangat penting dalam mendiagnosis suatu penyakit.
Tumor paru ukuran kecil dan terletak di perifer dapat memberikan gambaran
normal pada pemeriksaan fisik. Tumor dengan ukuran besar, terlebih bila
disertai atelektasis sebagai akibat kompresi bronkus, efusi pleura atau
penekanan vena kava akan memberikan hasil yang informatif. Pada pasien
kanker paru dapat ditemukan demam, kelainan suara pernafasan pada paru,
pembesaran pada kelenjar getah bening, pembesaran hepar, pembengkakan
pada wajah, tangan, kaki, atau pergelangan kaki, nyeri pada tulang, kelemahan
otot regional atau umum, perubahan kulit seperti rash, daerah kulit
menghitam, atau bibir dan kuku membiru, pemeriksaan fisik lainnya yang
mengindikasikan tumor primer ke organ lain.22

2.4.3. Pemeriksaan Radiologi

2.4.3.1. Foto toraks

Pada pemeriksaan foto toraks PA/lateral, kelainan dapat dilihat bila
massa tumor berukuran >1 cm. Tanda yang mendukung keganasan adalah tepi
yang ireguler, disertai indentasi pleura, tumor satelit, dan lain-lain. Pada foto
toraks juga dapat ditemukan invasi ke dinding dada, efusi pleura, efusi
perikard dan metastasis intrapulmoner.22

Universitas Sumatera Utara

Pemberian OAT pada penderita golongan risiko tinggi yang tidak
menunjukkan perbaikan atau bahkan memburuk setelah 1 bulan harus
menimbulkan

pemikiran

kemungkinan

kanker

paru

dan

melakukan

pemeriksaan penunjang lain sehingga kanker paru dapat disingkirkan.
Pengobatan pneumonia yang tidak berhasil setelah pemberian antibiotik
selama 1 minggu juga harus menimbulkan dugaan kemungkinan tumor di
balik pneumonia tersebut.18
Tabel 2. Gambaran foto toraks berdasarkan tipe histologi kanker paru.2

Gambaran
radiologi

Karsinoma
sel
skuamosa

Adenokar

Karsinoma

Karsinoma

sinoma

sel kecil

sel besar

Nodul ≤4 cm

14%

46%

21%

18%

Lokasi perifer

29%

65%

26%

61%

Lokasi sentral

64%

5%

74%

42%

40%

17%

78%

32%

5%

3%

0%

4%

3%

14%

5%

2%

38%

19%

61%

32%

5%

9%

14%

10%

Massa
hilar/perihilar
Kavitas
Keterlibatan
pleura/dinding
dada
Adenopati hilar
Adenopati
mediastinum

Universitas Sumatera Utara

2.4.3.2. CT scan toraks

CT scan toraks (Computerized Tomographic Scans) dapat mendeteksi
tumor yang berukuran lebih kecil yang belum dapat dilihat dengan foto toraks,
dapat menentukan ukuran, bentuk, dan lokasi yang tepat dari tumor oleh
karena 3 dimensi. CT scan toraks juga dapat mendeteksi pembesaran kelenjar
getah bening regional.22 Tanda-tanda proses keganasan tergambar dengan
baik, bahkan bila terdapat penekanan terhadap bronkus, tumor intrabronkial,
atelektasis, efusi pleura yang tidak massif dan telah terjadi invasi ke
mediastinum dan dinding dada meski tanpa gejala. Demikian juga
ketelitiannya mendeteksi kemungkinan metastasis intrapulmoner. Pemeriksaan
CT scan toraks sebaiknya diminta hingga suprarenal untuk dapat mendeteksi
ada/tidak adanya pembesaran KGB adrenal.18

2.4.3.3. MRI (Magnetic Resonance Imaging Scans)

MRI tidak rutin digunakan untuk penjajakan pasien kanker paru. Pada
keadaan khusus, MRI dapat digunakan untuk mendeteksi area yang sulit
diinterpretasikan pada CT scan toraks seperti diafragma atau bagian apeks
paru (untuk mengevaluasi keterlibatan pleksus brakial atau invasi ke
vertebra).22

2.4.3.4. PET scan (Positron Emission Tomography)

PET scan merupakan teknologi yang relatif baru. Molekul glukosa
yang memiliki komponen radioaktif diinjeksikan ke dalam tubuh kemudian

Universitas Sumatera Utara

scan diambil. Banyaknya radiasi yang digunakan sangat kecil. Sel-sel kanker
mengambil lebih banyak glukosa daripada sel yang normal karena sel-sel
kanker bertumbuh dan bermultiplikasi dengan cepat. Oleh karena itu, jaringan
dengan sel kanker tampak lebih terang daripada jaringan yang normal. Tumor
primer, kelenjar getah bening dengan sel-sel keganasan, dan tumor metastasis
tampak sebagai spot yang terang pada PET scan.22

PET scan tidak rutin digunakan sebagai tes diagnostik lini pertama
untuk kanker paru, kadang digunakan setelah foto toraks atau CT scan toraks
untuk membedakan antara tumor jinak dan ganas. PET scan khusus digunakan
untuk mendeteksi penyebaran tumor ke kelenjar getah bening regional dan
metastasis jauh. Bagaimanapun, terdapat beberapa kondisi yang lain dari
kanker yang juga dapat menyebabkan gambaran positif PET scan. Gambaran
PET scan sebaiknya diinterpretasikan dengan hati-hati dan dikorelasikan
dengan hasil pemeriksaan penunjang lainnya.22

2.4.4. Sitologi Sputum

Sputum adalah sekret abnormal yang berasal/diekspektorasikan dari
sistem bronkopulmoner. Sputum bukanlah air liur (saliva) dan bukan pula
berasal dari nasofaring. Sputum yang dibatukkan oleh seorang pasien
mengindikasikan adanya suatu proses patologis pada sistem bronkopulmoner
yang sedang berlangsung. Sputum terdiri dari material seluler, non seluler,
dan non pulmoner tergantung dari proses patologis yang mendasarinya.
Komponen seluler terdiri dari sel-sel inflamasi atau sel darah merah dari

Universitas Sumatera Utara

saluran nafas, sel-sel bronkial dan alveolar yang dieksfoliasikan, atau sel-sel
keganasan dari tumor paru. Sel-sel non pulmoner seperti sel-sel skuamosa
orofaring atau sisa-sisa makanan yang dapat menjadi bagian dari sputum
apabila mengalami aspirasi ke paru dan kemudian dibatukkan. Air merupakan
komponen utama dari sputum (90%), selebihnya terdiri dari protein, enzim,
karbohidrat, lemak, dan glikoprotein. Yang dapat dievaluasi dari sputum
adalah karakteristik fisiknya, mikroorganismenya, adanya sel-sel keganasan,
proses inflamasi, dan perubahan patologis dari mukosa bronkus.23

Analisa sputum dapat melengkapi pemeriksaan CT scan toraks, oleh
karena sel-sel tumor yang terletak di saluran nafas sentral akan ber-eksfoliatif
ke dalam sputum lebih banyak dibandingkan sel-sel tumor yang berada di
perifer.24 Dasar dari gambaran sitologi sel-sel epitel bronkus mengalami
eksfoliatif ke dalam sputum dapat memprediksikan risiko terjadinya kanker
paru yaitu dari pemikiran bahwa perubahan sitologi sel epitel bronkus karena
sel-sel mengalami progresi melalui tahapan-tahapan dari inflamasi menjadi
kanker paru. Dasar ini dibuktikan dengan sering ditemukannya gambaran
metaplasia skuamosa bronkus dan sel-sel atipik pada kanker paru yang invasif,
dan penemuan dari beberapa kasus bahwa pasien-pasien dengan sitologi
sputum yang jelek atau atipik sedang memiliki risiko yang tinggi untuk
menderita kanker paru.25

Pemeriksaan sitologi sputum saat ini menjadi satu-satunya metode non
invasif yang dapat mendeteksi kanker paru dan lesi-lesi pre-keganasan secara

Universitas Sumatera Utara

dini. Walaupun spesifitas sitologi sputum konvensional sangat tinggi (98%),
namun sensitivitasnya sangat rendah.24 Sitologi sputum memiliki spesifitas
99% dan sensitivitas 66%, tetapi sensitivitas lebih tinggi pada lesi-lesi sentral
(71%) dibandingkan dengan lesi perifer (49%).6,14 Jenis sel tumor, lokasi, dan
ukuran tumor mempengaruhi sensitivitas sitologi sputum. Cakupan diagnostik
paling tinggi pada karsinoma skuamosa dan karsinoma sel kecil, tetapi paling
rendah pada adenokarsinoma. Tumor yang lokasinya di sentral atau berada di
lobus bawah dan berdiameter >2 cm memiliki cakupan yang lebih tinggi.
Sitologi sputum memiliki akurasi 50-80% tergantung dari derajat diferensiasi
sel-sel tumor. Tumor berdiferensiasi buruk akan lebih sulit untuk menentukan
subtipe-nya. Pada pasien-pasien dengan tumor perifer yang berukuran kecil
yang dapat dideteksi dengan CT scan toraks, hanya sekitar 4-11% kasus yang
dapat dideteksi dengan sitologi sputum saja, dan 7-15% kasus dapat terdeteksi
dengan kedua modalitas tersebut.24,26 Pemeriksaan sitologi sputum sangat
bergantung pada kemampuan untuk mengumpulkan sampel sputum yang
adekuat, yang mencakup elem

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru.