Hubungan Antara Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dengan Kecerdasan Spiritual Siswa SMP PGRI 2 Ciputat

HUBUNGAN ANTARA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DENGAN KECERDASAN SPIRITUAL
SISWA SMP PGRI 2 CIPUTAT

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:
AHMAD MU’AMMAR
NIM : 104011000126

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011

DEPARTEMEN AGAMA
UIN JAKARTA
FITK

No. Dokumen
FORM Tgl. Terbit
(FR)
No. Revisi
Jl. Ir. H. juanda No. 95 Ciputat 15412 Jakarta
Hal
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

: FITK-FR-LABF-202
: 5 Januari 2009
: 00
:

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama

: AHMAD MU’AMMAR

Tempat/Tgl.Lahir

: Indramayu, 03 Mei 1986

NIM

: 104011000126

Jurusan/Prodi

: Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi

: HUBUNGAN ANTARA PEMBELAJARAN PEDIDIKAN
AGAMA ISLAM DENGAN KECERDASAN SPIRITUAL
SISWA SMP PGRI 2 CIPUTAT

Dosen Pembimbing

: 1. Dr. Sururin, M.Ag
2. Zikri Neni Iska, M.Psi

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri
dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

Jakarta, 22 September 2011

AHMAD MU’AMMAR
NIM. 104011000126

ABSTRAK
Ahmad Mu’ammar, Hubungan Antara Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
dengan Kecerdasan Spiritual Siswa SMP PGRI 2 Ciputat,Skripsi, Jakarta: Jurusan
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011
Pembelajaran adalah usaha membimbing peserta didik dan menciptakan
lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar.
Pendidikan agama Islam adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama (insan kamil).
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persolaan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan
prilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan
untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna
dibandingkan dengan yang lain.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara
pembelajaran pendidikan agama Islam dengan kecerdasan spiritual siswa SMP
PGRI 2 Ciputat.
Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi, yaitu menjelaskan tentang
ada tidaknya hubungan antara variabel X sebagai variabel independent atau bebas
(pembelajaran pendidikan agama Islam) dengan variabel Y sebagai variabel
dependent atau terikat (kecerdasan spiritual).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP PGRI 2 Ciputat,
yang berjumlah 214 siswa. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel
berdasarkan tujuan penelitian, dan sampel yang akan diambil yaitu kelas VIII A
yang berjumlah 35 siswa.
Berdasarkan interpretasi data yang penulis lakukan dengan cara
menggunakan r tabel yaitu pada taraf signifikansi 5% sebesar 0,325 dan pada taraf
signifikansi 1 % sebesar 0,418, Karena rxy pada taraf signifikansi 5 % lebih besar
daripada r tabel (0,334 > 0,325), maka pada taraf signifikansi 5 % Ho (hipotesis
nihil) ditolak, sedangkan Ha (hipotesis alternatif) diterima. Berarti bahwa pada
taraf signifikansi 5 % terdapat korelasi positif yang signifikan antara variabel X
dan variabel Y. Selanjutnya, karena pada taraf signifikansi 1 % rxy lebih kecil
daripada r tabel (0,334 < 0,418), maka pada taraf signifikansi 1 % itu Ho
(hipotesis nihil) diterima, sedangkan Ha (hipotesis alternatif) ditolak. Ini berarti
bahwa untuk taraf signifikansi 1 % tidak terdapat korelasi positif yang signifikan
antara variabel X dan variabel Y.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya rxy ( yaitu = 0,334) berada
dalam kisaran atau skala rendah antara 0,200 – 0,400. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa terdapat korelasi positif antara pembelajaran PAI dengan kecerdasan
spiritual siswa SMP PGRI 2 Ciputat.
Kata kunci: pembelajaran, pendidikan agama Islam, kecerdasan spiritual

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah SWT, atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga
Allah

sampaikan kepada baginda kita Nabi Muhammad SAW, yang telah

membimbing umat manusia untuk mengikuti petunjuk risalah yang dibawanya
yakni agama Islam yang akan menyelamatkan serta menghantarkan pemeluknya
menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat
mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I). Dalam menyelesaikan
penulisan skripsi ini tentunya tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Namun
berkat bantuan dari berbagai pihak alhirnya skripsi ini dapat diselesaikan
meskipun belum sempurna.
Oleh karena itu tiada ungkapan yang lebih pantas diucapakan kecuali rasa
syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dr. Sururin, MA. Pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan
mencurahkan pikirannya untuk memberikan bimbingan, petunujuk,
nasehat dan arahan kepada penulis selama menyusun Skipsi.
5. Zikri Neni Iska, M.Psi. Pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan
mencurahkan pikirannya untuk memberikan bimbingan, petunjuk, nasehat
dan arahan kepada penulis selama menyusun Skipsi.

iii

6. Prof. Dr. Armai Arief, MA. Dosen Pembimbing Akademik.
7. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
khususnya dosen-dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah
memberikan ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan, semoga Allah
membalas semuanya dengan pahala dan kebaikan.
8. Pimpinan Perpustakaan Utama, Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan yang telah membantu penulis menyediakan buku-buku yang
penulis butuhkan dalam penulisan skripsi.
9. Bapak Syamsuddin S.Pd Kepala Sekolah SMP PGRI 2 Ciputat, Ibu
Hj.Mulyani selaku guru studi PAI, beserta staff dan seluruh dewan guru
yang telah banyak membantu penulis selama melaksanakan penelitian.
10. Ayahanda dan Ibunda tercinta H. Moh. Ridwan (Alm) dan Hj. Roqiyah
yang selalu mendo’akan dan memberikan nasihat serta bimbingan kepada
penulis untuk selalu semangat meneruskan perjuangan, harapan dan citacita.
11. Kakakku Hj. Ely Anisatul Jalis S.Pd.I (Yu Ely), Ahmad Faozan S.Ag, (Aa
Ozan) Sichah Hadi Amd (Yu Sichah), As’ad Syamsul Arifin S.Sos.I, (Aa
Aad)Isti’anah S.Sos.I (Yu, Iis), Husni Mubarok, S.Pd.I (Aa, Uus), dan
adik-adikku Lailatul Hamidah (Nok Midah), Siti Hajar (Nok Eha), Zaenal
Muttaqin, Fatihaturrahmah (Nok Atik), serta keponakanku yang manis
Fawwaz Ahmaddinejad, Azzah Faheera Kameela dan Fatima Faikha
Jasmine yang selalu memberikan motivasi dan keakraban dari sebuah arti
keluarga.
12. Teman-teman seperjuangan Jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan
2004 khususnya Kelas D (Apunk, Fauzi, Dahlan, Emin, Rahmat, Saeful
Millah, Bejo, Lesly Dll) yang sama-sama merasakan suka dan duka selama
masa kuliah.

iv

13. Keluarga Besar Persatuan Mahasiswa Indramayu PERMAI-AYU DKI
JAKARTA, (Muadz, Sail, Uki, Alfi, Zaenal, Anis, Wildzan, Hasyim,
Muhajir (Udin), Sudedi, Syamsul, Aef, Ade Brother, Jono, Yogi, Wati Dll)
yang senantiasa membantu kepada penulis memberikan semangat,
masukan, ide dan pikiran bahkan tenaga selama penulisan skripsi ini.
14. Teman-teman Kostan Gg H. Koweng Legoso (Mahbub, Fadholi,
Mujahidin, Tirwan, Mas Amat, Misbah, Owi, Rodi, Basir) dan teman
teman lainnya yang yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih
untuk kebersamaannya yang menginspirasi untuk selalu menjadi lebih baik
setiap harinya dan semua keceriaan selama kuliah.
Akhirnya penulis berharap semoga amal baik yang telah mereka
berikan mendapatkan imbalan yang setimpal dari Allah SWT, dan skripsi
ini memberikan manfaat dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya di
bidang pendidikan agama.
Jakarta, 23 Agustus 2011

Ahmad Muammar

v

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ i
ABSTRAK ...................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah ..................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ..................................................................... 4
D. Perumusan Masalah ...................................................................... 4
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................................. 4
1. Tujuan Penelitian .................................................................... 4
2. Manfaat Penelitian .................................................................. 5

BAB II KAJIAN TEORI .............................................................................. 6
A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam......................................... 6
1. Pengertian Pembelajaran .......................................................... 6
2. Pendidikan Agama Islam ......................................................... 10
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam .................................... 10
b. Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama islam ............. 12
c. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam ...................... 15
d. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ............................ 17
B. Kecerdasan Spiritual ...................................................................... 21
1. Definisi Kecerdasan Spiritual ................................................. 21
2. Pembuktian Ilmiah adanya Kecerdasan Spiritual ................... 24
3. Fungsi Kecerdasan Spiritual .................................................... 28
4. Ciri-ciri Kecerdasan Spiritual………………………………... 30

vi

C. Kerangka Berpikir ......................................................................... 30
D. Pengajuan Hipotesis ...................................................................... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................... 32
A. Waktu dan Lokasi Penelitian ........................................................ 32
B. Populasi dan Sampel ..................................................................... 32
C. Metode Penelitian .......................................................................... 32
D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 33
E. Variabel Penelitian ......................................................................... 34
F. Instrumen Penelitian ...................................................................... 34
G. Analisis Instrumen ………………………………………………. 36
H. Teknis Analisis Data ..................................................................... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN .................................................................... 43
A. Gambaran Umum SMP PGRI 2 Ciputat ........................................ 43
1. Sejarah Singkat Berdirinya SMP PGRI 2 Ciputat .................. 43
2. Visi dan Misi ........................................................................... 44
3. Keadaan Guru, Karyawan dan Siswa ..................................... 45
4. Keadaan, Sarana Prasarana dan Struktur Organisasi .............. 46
B. Deskripsi Data ................................................................................ 47
C. Analisis Data ................................................................................. 72
D. Interpretasi Data ............................................................................ 74

BAB V PENUTUP ......................................................................................... 78
A. Kesimpulan ................................................................................... 78
B. Saran .............................................................................................. 78
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 80
LAMPIRAN .................................................................................................... 83

vii

DAFTAR TABEL
Tabel 3. 1 Kisi – Kisi Pembelajaran ................................................................ 34
Tabel 3. 2 Kisi – Kisi Kecerdasan Spiritual .................................................... 35
Tabel 3. 3 Hasil Perhitungan Uji Validitas Pembelajaran PAI ....................... 37
Tabel 3. 4 Hasil Perhitungan Uji Validitas Kecerdasan Spiritual ................... 37
Tabel 3. 5 Skor Jawaban ................................................................................ 39
Tabel 4. 1 Jumlah Staf Pengajar ...................................................................... 44
Tabel 4. 2 Jumlah Karyawan ........................................................................... 44
Tabel 4. 3 Daftar Keadaan Guru SMP PGRI 2 Ciputat ................................. 44
Tabel 4. 4 Jumlah Siswa................................................................................... 45
Tabel 4. 5 Sarana dan Prasarana ..................................................................... 46
Tabel 4. 6 Guru PAI menghubungkan materi yang akan dipelajari dengan
pengalaman sehari-hari .................................................................... 48
Tabel 4. 7 Guru PAI mendeskripsikan secara singkat topik pembahasan yang
akan dipelajari .................................................................................. 48
Tabel 4. 8 Guru PAI menjelaskan indikator sebelum memulai pelajaran ....... 49
Tabel 4. 9 Guru PAI menyampaikan materi pelajaran yang mudah dipelajari 49
Tabel 4.10 Guru PAI menjelaskan materi pelajaran sesuai dengan topik yang
sedang dibahas ................................................................................ 50
Tabel 4.11 Guru PAI menjelaskan materi pelajaran secara sistematis ........... 50
Tabel 4.12 Guru PAI memberikan contoh tentang tata cara melaksanakan
shalat 5 waktu ................................................................................. 51
Tabel 4.13 Guru PAI memberikan contoh tentang tata cara shalat sunnah
rawatib ............................................................................................ 51
Tabel 4.14 Guru PAI memberikan contoh bacaan qolqalah dalam Al-Qur’an 52
Tabel 4.15 Guru PAI menceritakan hikmah melaksanakan shalat 5 waktu..... 52
Tabel 4.16 Guru PAI menceritakan tentang hukuman bagi orang yang tidak
melaksanakan shalat 5 waktu dan puasa di bulan ramadhan…….

53

Tabel 4.17 Guru PAI menegur siswa yang belum melaksanakan shalat…….

53

viii

Tabel 4.18 Guru PAI mengontrol shalat siswa-siswanya disekolah ................ 54
Tabel 4.19 Guru PAI memberikan ujian praktek dalam pembelajaran PAI..... 54
Tabel 4.20 Guru PAI memberikan ujian praktek shalat sunnah rawatib ........ 55
Tabel 4.21 Guru PAI memberikan ujian bacaan Al-quran ............................... 55
Tabel 4.22 Guru PAI memberikan ulangan harian setelah membahas satu
topik pembahasan.……………………………………………….. 56
Tabel 4.23 Skor Angket Pembelajaran PAI………………………………….

56

Tabel 4.24 Tingkat Pembelajaran PAI Siswa SMP PGRI 2 Ciputat ………… 59
Tabel 4.25 Siswa melaporkan teman yang mencuri kepada guru .................... 59
Tabel 4.26 Siswa segera melaksanakan shalat saat adzan tiba …………….… 60
Tabel 4.27 Siswa sabar menghadapi musibah yang menimpanya ................. 60
Tabel 4.28 Siswa melaksanakan shalat rawatib meskipun sedang sakit .......... 61
Tabel 4.29 Siswa mencari solusi dalam menyelesaikan masalahnya ………… 61
Tabel 4.30 Siswa bermuhasabah setelah melakukan sesuatu ………………..

62

Tabel 4.31 Siswa mengeluarkan keputusan dengan matang ………………… 62
Tabel 4.32 Siswa giat belajar untuk mendapatkan peringkat ………………... 63
Tabel 4.33 Siswa mengambil hikmah dari setiap kejadian .............................. 63
Tabel 4.34 Siwa bersikap sportif dalam meraih prestasi ……………………. 64
Tabel 4.35 Siswa mengerjakan PR dengan baik …………………………….

64

Tabel 4.36 Siswa memberikan setengah uang jajan kepada pengemis ……... 65
Tabel 4.37 Siswa membantu kecelakaan dijalan …………………………….

65

Tabel 4.38 Siswa menerima keputusan rapat ………………………………... 66
Tabel 4.39 Siswa mengikhlaskan keluarga yang meninggal …………………. 66
Tabel 4.40 Siswa aktif berorganisasi ………………………………………... 67
Tabel 4.41 Siswa memberikan solusi kepada teman yang
mendapatkan masalah ……………………………………….......

67

Tabel 4.42 Siswa tidak menyontek saat ujian ……………………………….. 68
Tabel 4.43 Siswa mengerjakan PR sendiri …………………………………... 68
Tabel 4.44 Siswa mengambil makan sendiri ………………………………… 69

ix

Tabel 4.45 Siswa menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri ……………….. 69
Tabel 4.46 Skor Angket Kecerdasan Spiritual Siswa SMP PGRI 2
Ciputat .…………………………………………………………… 70
Tabel 4.47 Kecerdasan Spiritual Siswa SMP PGRI 2 Ciputat ………………. 72
Tabel 4.48 Angka Hasil Perhitungan Antara Variabel X Dan Variabel Y …... 73
Tabel 4.49 Nilai Hasil Perhitungan …………………………………………. 73

x

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa :
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar

dan

proses

pembelajaran

agar

peserta

didik

secara

aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1
Selain pengertian di atas dijelaskan pula tentang tujuan pendidikan
nasional, pada bab II pasal 3 pendidikan nasional bertujuan untuk
“berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”. 2
Dalam usaha mewujudkan tujuan pendidikan tersebut maka diperlukan
adanya suatu proses belajar dan pembelajaran. Proses belajar dan pembelajaran
diselenggarakan pada semua satuan dan jenjang pendidikan yang meliputi
wajib belajar 9 tahun, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional di atas, pentingnya pendidikan
agama diajarkan mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi di
Indonesia, sebagaimana yang ditegaskan dalam pasal 37 undang-undang
Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa: “Kurikulum pendidikan
dasar

dan

menengah

kwarganegaraan,

wajib

bahasa,

memuat

matematika,

pendidikan
ilmu

agama,

pengetahuan

1

pendidikan
alam,

ilmu

Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional, Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
(Bandung: Fokus Media, 2009), h. 2
2

Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional, Tentang Sistem…, h. 6

1

2

pengetahuan sosial, seni budaya, pendidikan jasmani dan olahraga,
keterampilan atau kejuruan, dan muatan lokal”.
Terkait dengan Pendidikan Agama Islam Zakiyah Darajat mengemukakan
bahwa :
Pendidikan Agama Islam adalah pembentukan kepribadian, pendidikan
Islam ini lebih banyak ditujukan kepada perbaikan mental yang akan
terwujud dalam amal perbuatan sesuai dengan petunjuk ajaran Islam,
karena itu pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga bersifat
praktis atau pendidikan Islam adalah sekaligus pendidikan iman dan
pendidikan amal.3
Pendidikan

merupakan

usaha

membimbing

dan

membina

serta

bertanggung jawab untuk mengembangkan intelektual pribadi anak didik
kearah kedewasaan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusiamanusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk
mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai khalifah Allah
SWT, baik kepada Tuhannya, sesama manusia dan sesama makhluk lainnya.4
Dengan belajar pendidikan agama Islam diharapkan dapat menghasilkan
adanya perubahan yang sifatnya menetap sehingga pada tahap akhir akan di
dapat perubahan pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan. Perubahan yang
didapat dari proses belajar dan pembelajaran pendidikan agama Islam bisa
diamalkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan siswa dalam proses belajar dan pembelajaran pendidikan
agama Islam di sekolah akan terlihat dari perubahan tingkah laku siswa,
misalnya sebelum seseorang mengalami proses belajar, ia tidak tahu konsep
tentang “X” tetapi setelah ia mengalami proses pembelajaran, ia jadi paham
tentang konsep “X”.
Sistem Pembelajaran yang saat ini masih berorientasi pada hasil belajar
dengan

hanya

mengoptimalkan

fungsi

kecerdasan

intelegensi

saja.

Konsekuensinya, IQ dijadikan acuan utama dalam menentukan keberhasilan
3

Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996) h. 28
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers,
2002) h. 41
4

3

belajar siswa, padahal menurut Daniel Goleman yang dikutip Richard Bowell,
IQ hanya menyumbangkan 20 % dalam menentukan kesuksesan hidup
seseorang. Lebih jauh Bowell menegaskan, mengevaluasi semua orang dengan
cara berpikir ini gagal mengenali bakat ganda. Dan lebih parah lagi dapat
menanamkan rasa gagal yang abadi dalam diri seseorang yang memiliki IQ
rendah serta perasaan sukses yang semu dalam diri seseorang yang meraih skor
IQ tinggi.5
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami, bahwa tingginya nilai IQ
seseorang tidak dapat dijadikan acuan utama dalam menentukan keberhasilan
belajar siswa. Bahkan kontribusinya hanya 20 % terhadap keberhasilan belajar,
artinya masih ada sekitar 80% faktor lainnya yang dapat mempengaruhi
keberhasilan belajar siswa. Salah satu faktor yang diharapkan dapat berperan
dalam mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa adalah faktor spiritualitas
yang ada pada diri peserta didik.
Menurut Ari Ginanjar, penulis buku best seller ESQ (Emotional Spiritual
Quotient) sekaligus trainer ESQ, bahwa “IQ memang penting kehadirannya
dalam kehidupan manusia, yaitu agar manusia memanfaatkan teknologi demi
efesiensi dan efektifitas, juga peran EQ dalam membangun hubungan antar
manusia yang efektif sekaligus peranan dalam meningkatkan kinerja, namun
tanpa SQ yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran, maka keberhasilan itu
hanyalah akan menghasilkan hitler-hitler baru dan fir’aun-fir’aun kecil dimuka
bumi ini.
Sementara itu, menurut Danah Zohar dan Ian marshall, SQ memberi kita
potensi tumbuh dan berubah, bersikap kreatif, luwes, berwawasan luas serta
memungkinkan kita menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan
interpersonal.
Keberadaan kecerdasan spiritual akan memupuk sikap-sikap positif seperti
kejujuran, semangat motivasi, kepemimpinan kecerdasan emosional dan sikapsikap positif
5

lainnya. Untuk mendalami permasalahan tersebut penulis

Richard Bowell, 7 Langkah Kecerdasan Spiritual, Terj. Dari The Steps of Spiritual
Quotient, (Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2004), Cet, I h. 7

4

mencoba

membahas

skripsi

yang

berjudul

:

“Hubungan

Antara

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Kecerdasan Spiritual
Siswa SMP PGRI 2 Ciputat”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis mengidentifikasi
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya lebih berorientasi pada
hasil belajar daripada proses belajar.
2. Pola pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan nasional lebih
menitikberatkan pada pemberdayaan aspek kecerdasan IQ.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini hanya dibatasi pada hubungan pembelajaran pendidikan
agama Islam terhadap kecerdasan spiritual siswa. Pembelajaran PAI yang
dimaksud adalah proses kegiatan pembelajaran PAI yang berlangsung didalam
kelas. Sedangkan kecerdasan spiritual yang dimaksud adalah menurut Zohar
dan Marshall dalam bukunya SQ: Memanfaatkan kecerdasan Spiritual dalam
Berfikir Integralistik dan holistic memaknai kehidupan yang didalamnya

menjelaskan 9 indikator kecerdasan spriritual.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembahasan masalah yang dikemukakan
maka perumusan masalahnya adalah : Adakah hubungan antara pembelajaran
pendidikan agama Islam dengan kecerdasan spiritual siswa SMP PGRI 2
Ciputat?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pembelajaran
pendidikan agama Islam dengan kecerdasan spiritual siswa di SMP PGRI 2
Ciputat.

5

2. Manfaat Penelitian
a. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan kajian ilmu
pengetahuan tentang pembelajaran Pendidikan agama Islam siswa,
khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan spiritual.
b. Secara Praktis
1) Bagi Pendidik
a) Memberikan informasi tentang pengembangan kecerdasan
spiritual siswa SMP PGRI 2 Ciputat Tangerang Selatan guna
mempertinggi efektifitas kegiatan belajar mengajar.
b) Mendorong para pendidik untuk membimbing siswa SMP PGRI
2 Ciputat Tangerang Selatan dalam mengembangkan kecerdasan
spiritual yang tinggi.
2) Bagi Siswa SMP PGRI 2 Ciputat Tangerang Selatan
Mendorong siswa SMP PGRI 2 Ciputat Tangerang Selatan untuk
mengembangkan kecerdasan spiritual yang tinggi dalam upaya
mencapai proses pembelajaran yang optimal.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pembelajaran
Pengertian

pembelajaran dalam Undang-undang RI No. 20 tahun

2003 pasal 1 yaitu : proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.1

Pembelajaran dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kata benda atau nomina yang
berarti “ proses, cara, perbuatan menjadikan orang/makhluk hidup belajar.2
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsurunsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang
saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.3
Pembelajaran merupakan suatu upaya membelajarkan atau suatu
upaya mengarahkan aktivitas siswa kearah aktivitas belajar. Didalam
proses pembelajaran terkandung dua aktivitas sekaligus, yaitu aktivitas
mengajar (guru) dan aktivitas (siswa). Proses pembelajaran merupakan
proses interaksi, yaitu interaksi antara guru dengan siswa dan siswa
dengan siswa.4
Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah usaha
mempengaruhi emosi, intelektual, dan spiritual seseorang agar mau belajar
dengan kehendaknya sendiri. Melalui pembelajaran akan terjadi proses
pengembangan moral keagamaan, aktivitas, kreativitas, peserta didik
melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Pembelajaran berbeda

1

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
(Bandung: Fokus Media, 2009) h. 4
2
3

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003) h. 17
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) Cet, I, h,

57
4

Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT raja Grafindo
Persada, 2006) h. 9

6

7
dengan mengajar yang pada prinsipnya menggambarkan aktivitas guru,
sedangkan pembelajaran menggambarkan aktivitas peserta didik.
Pembelajaran

adalah

usaha

membimbing

peserta

didik

dan

menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar.5
Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar. Kegiatan
pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara
efektif dan efisien.6
Adapun belajar menurut pengertian secara psikologis, adalah
merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek
tingkah laku. Menurut Slameto pengertian belajar dapat didefinisikan
sebagai berikut: Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.7
Menurut Chaplin dalam Dictionary of psicology membatasi belajar
dengan dua macam rumusan, rumusan yang pertama adalah “…
acquisition of any experience” (Belajar adalah perolehan perubahan
tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman).
Rumusan kedua adalah process of acquiring responses as a result of
special practice (Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai
akibat adanya latihan khusus).8

5

Abuddin Nata, Pespektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana,
2009) h. 87
6

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran : Sebagai referensi bagi Pendidikan
dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas (Jakarta: Kencana, 2009), cet. I,
hal, 31
7

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengeruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,
2003), Cet. Ke-4, h. 2.
8

Muhibbudin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010) h. 65

8
Yatim Riyanto mengemukakan beberapa pendapat para tokoh tentang
belajar, antara lain:
a. Menurut Walker belajar adalah suatu perubahan dalam pelaksanaan
tugas yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman dan tidak ada sangkut
pautnya dengan kematangan rohaniah, kelelahan, motivasi, perubahan
dalam situasi stimulus atau faktor-faktor samar-samar lainnya yang
tidak berhubungan lansung dengan kegiatan belajar.
b. Menurut Winkel belajar adalah suatu aktifitas mental / psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan, dan nilai-sikap. Perubahan itu bersifat secara relative
konstan dan berbekas.
c. Cronbach menyatakan bahwa belajar itu merupakan perubahan perilaku
sebagai hasil dari pengalaman.menurut Cronbach bahwa belajar yang
sebaik-baiknya adalah dengan mengalami sesuatu yaitu menggunakan
panca indra. Dengan kata lain bahwa belajar adalah suatu cara
mengamati, membaca, meniru, mengintimasi, mencoba sesuatu,
mendengar, dan mengikuti arah tertentu.9
Ngalim

Purwanto

dalam

bukunya

“Psikologi

Pendidikan”

menguraikan pengertian belajar, menurut beberapa tokoh pendidikan, di
antaranya:
a. Hilgard dan Brower, dalam bukunya “Theories Of Learning” (1975)
mengemukakan “Belajar adalah hubungan dengan tingkah laku
seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh
pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana
perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar
kecendrungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan
sesaat seseorang (misalnya kelelahan pengaruh obat dan sebagainya)
b. Gagne, dalam bukunya “The Condition Of Learning” (1977)
menyatakan bahwa “Belajar terjadi apabila situasi stimulus bersama
dengan isi ingatan mempengaruhi siswi-siswi sedemikian rupa,
sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami
situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.
c. Morgan, dalam bukunya “Introduction to Psychology” (1978)
mengemukakan “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap
dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman.

9

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran : Sebagai referensi bagi Pendidikan
dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas (Jakarta: Kencana, 2009), cet. I,
hal, 5.

9
d. Whiterington,
dalam
bukunya
“Educational
Psychology”
mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu perubahan di dalam
kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi
yang berupa kecakapan, sikap, kepandaian, kebiasaan dan pengertian.10
Menurut Hamalik dalam bukunya Tohirin belajar mengandung
pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga
perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi
secara lebih lengkap. 11
Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan, belajar adalah
penambahan pengetahuan dan perubahan tingkah laku secara sengaja
dengan melalui pengamatan dan penelitian, sehingga memperoleh prilaku
baru atau meningkatkan prilaku yang pernah ada.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan beberapa tokoh di atas, maka
penulis dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku yang merupakan sebagai akibat dari
pengalaman atau latihan.
Pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yakni pembukaan,
pembentukan kompetensi, dan penutup12.
a. Pembukaan
Pembukaan adalah kegiatan awal yang harus dilakukan guru untuk
memulai atau membuka pembelajaran. Membuka pembelajaran
merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan kesiapan mental dan
menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka
memusatkan diri sepenuhnya untuk belajar.
b. Pembentukan kompetensi
Pembentukan kompetensi peserta didik merupakan kegiatan inti
pembelajaran, antara lain mencakup penyampaian informasi
tentang materi pokok atau materi standar, membahas standar untuk

10

M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 2000), h. 84

Tohirin, Psikologi Pembelajaran …, h. 59
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru
dan Kepala Sekolah (Jakarta: Bumi Aksara, 2009) cet 2, h. 181
11

12

10
kompetensi peserta didik, serta melakukan tukar pengalaman atau
pendapat dalam membahas materi standar atau memecahkan
masalah yang diadapi bersama.
Dalam pembelajaran, peserta didik dibantu oleh guru untuk
membentuk kompetensi, serta mengembangkan dan memodifikasi
kegiatan pembelajaran, apabila kegiatan itu menuntut adanya
pengembangan

atau

modifikasi.

Pembentukan

kompetensi

dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat aktif, baik
mental, fisik, maupun sosialnya.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan akhir yang dilakukan guru untuk
mengakhiri pembelajaran. Dalam pembelajaran penutup ini guru
harus

berupaya

mengetahui

pembentukan

kompetensi

dan

pencapaian tujuan pembelajaran, serta pemahaman peserta didik
terhadap materi yang telah dipelajari, sekaligus mengakhiri
kegiatan pembelajaran.
2. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Ahmad D. Marimba mendefinisikan pendidikan agama Islam
adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama (insan kamil).13 Tayar Yusuf mengartikan
pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk
mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan
kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertakwa kepada
Allah SWT.14 Sedangkan Fadhil Al-Jamaly memberikan pengertian
pendidikan sebagai

upaya

mengembangkan,

mendorong serta

13

Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT Al-Ma’arif,
1989) h. 19
14

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi
(Konsep dan Implementasi kurikulum 2004), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), cet III, h.
130

11
mengajak manusia lebih maju dengan berdasarkan nilai-nilai yang
tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang
lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun
perbuatan.15
A. Tafsir mendefinisikan pendidikan agama Islam adalah
bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar
berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.16 Azizy
mengemukakan bahwa esensi pendidikan yaitu adanya proses transfer
nilai, pengetahuan, dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi
muda agar generasi muda mampu hidup. Oleh karena itu ketika kita
menyebut pendidikan Islam, maka akan mencakup dua hal, (a)
mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau
akhlak Islam: (b) mendidik siswa-siswi untuk mempelajari materi
ajaran Islam subjek berupa pengetahuan tentang ajaran Islam.17
M. Arifin mendefinisikan pendidikan Islam adalah usaha sadar
mengarahkan dan membimbing pertumbuhan secara perkembangan
fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam kearah titik
maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.18 Omar Muhammad
al-Toumy al-Syaibany mendefinisikan pendidikan sebagai proses
mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat
dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas
asasi dan profesi diantara berbagai profesi asasi dalam masyarakat.19
Endang Saefuddin Anshori memberikan pengertian pendidikan
Islam adalah proses bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan) oleh
subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan,
kemauan, intuisi) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi
15

Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003) h. 76
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2007) cet, VII, h. 32
16

17
18

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam…, h.130

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994) h. 32
Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan
Bintang 1979) h. 399
19

12
tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya
pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.20
Hasil Konferensi pendidikan Islam se-Dunia kedua tahun 1980 di
Islamabad, Pakistan, merumuskan bahwa pendidikan Islam adalah
suatu usaha untuk mengembangkan manusia dalam semua aspeknya,
baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, dan ilmiah baik
secara individual maupun kolektif menuju kearah pencapaian
kesempurnaan hidup sesuai dengan ajaran Islam.21
Berdasarkan pengertian di atas tentang pendidikan agama Islam,
maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Agama Islam
adalah suatu kegiatan untuk merubah individu kedalam suatu sistem
kepercayaan dan prilaku yang bersumber dari ajaran Allah.
Pendidikan Agama Islam sangat erat hubungannya dengan
kecerdasan

spiritual,

karena

kecerdasan

spritual

merupakan

kemampuan memenuhi kebutuhan ruh manusia, berupa ibadah agar ia
dapat kembali kepada penciptanya dalam keadaan suci. Kecerdasan
spritual merupakan kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan
kualitas batin seseorang.
b. Dasar- dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
Pelaksanaaan pendidikan agama Islam disekolah mempunyai dasar
yang kuat. Dasar tersebut menurut Zuhairini dkk. Dapat ditinjau dari
berbagai segi yaitu:
1) Dasar yuridis/hukum
Dasar pelaksanaan pendidikan agama berasal dari perundangundangan yang secara tidak langsung dapat menjadi pegangan
dalam melaksanakan pendidikan agama disekolah secara formal.
Dasar yuridis formal tersebut terdiri dari tiga macam yaitu:

20

Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim & Pendidikan Islam (Jakarta: Logos
Wacana ilmu, 1999), h. 6
21
A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam (Malang : UIN Malang Press,
2008), h. 24

13
a) Dasar ideal, yaitu dasar falsafah Negara pancasila, sila pertama:
ketuhanan Yang Maha Esa
b) Dasar struktural/konstitusional, yaitu UUD 45 dalam bab XI
pasal 2, yang berbunyi: 1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan
Yang Maha Esa; 2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk

untuk

memeluk

agama

masing-masing

dan

beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.
c) Dasar operasional, yaitu yang terkandung dalam undangundang sistem pendidikan nasional.
2) Segi religius
Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar yang bersumber
dari ajaran Islam. Menurut ajaran Islam pendidikan agama adalah
perintah Tuhan dan merupakan perwujudan ibadah kepadaNya.
Dalam al-Qur’an banyak ayat yang menunjukkan perintah tersebut
antara lain:
a) Q.S. An-Nahl: 125:

        
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik……”22
b) Q.S. Al-Imran: 104:

           

“Dan hendaklah diantara kamu ada golongan umat yang
menyeru kepada kebijakan, meyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar.”23

22
23

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat An-Nahl Ayat 125
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat Al-Imran Ayat 104

14
c) Al-Hadits:

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya,
telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, dari
ibnu Tsauban, yaitu Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, dari
Hasan bin Athiyah, dari Abu Kabsyah as Saluli, dari Abdullah
bin Amru,
dia berkata : Rasulullah SAW bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan
ceritakanlah dari bani Israil, dan tidak ada dosa, barangsiapa
berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah ia
menempati tempat duduknya dari neraka.” Hadits Hasan
Shohih
3) Aspek Psikologis
Psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan
kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasarkan bahwa hidup manusia
baik segi individu maupun sebagai anggota masyarakat dihadapkan
pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak
tenteram sehingga memerlukan pegangan hidup. Sebagaimana
dikemukakan oleh Zuhairini dkk bahwa: semua manusia di dunia
ini selalu membutuhkan adanya pegangan hidup yang disebut
agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu
perasaan yang mengakui adanya Zat yang maha Kuasa, tempat
mereka berlindung dan tempat mereka memohon pertolonganNya.
Hal semacam ini terjadi pada masyarakat yang masih primitive
maupun masyarakat yang sudah modern. Mereka merasa tenang
dan tenteram hatinya kalau mereka dapat mendekat dan mengabdi
kepada zat yang Maha Kuasa.

15
Berdasarkan uraian diatas jelaslah bahwa untuk membuat hati tenang
dan tenteram ialah dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal
ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ra’ad ayat 28 yaitu :

            
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.24
c. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam
1) Tujuan Pendidikan agama Islam
Menurut Ahmad D. Marimba tujuan akhir pendidikan Islam
adalah identik/sejalan dengan tujuan hidup seorang muslim,
sebagaimana yang digariskan alam Al-Qur’an surat Az-Zariyat
ayat 56:

      

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.”25

Surat Al-Bayyinah ayat 5:

              
   

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah

dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)

24
25

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat Ar-Ra’ad Ayat 28
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat Az-Zariyat Ayat 56

16
agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”26
Surat Ali Imron ayat 102:

            
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”27
Inti dari tiga ayat diatas adalah menjadi seorang hamba Allah yang
beriman, bertaqwa dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah
SWT atau berarti terbentuknya kepribadian muslim.28

Menurut Muhammad Fadhil Al-Jamaly, tujuan pendidikan Islam
menurut al-Qur’an meliputi: (1) menjelaskan posisi peserta didik
sebagai manusia diantara makhluk Allah lainnya dan tanggung
jawabnya dalam kehidupan ini. (2) menjelaskan hubungannya
sebagai makhluk sosial dan tanggung jawabnya dalam tatanan
kehidupan bermasyarakat. (3) menjelaskan hubungan manusia
dengan alam dan tugasnya untuk mengetahui hikmah penciptaan
dengan cara memakmurkan alam semesta. (4) menjelaskan
hubungannya dengan Khaliq sebagai pencipta alam semesta.29
Menurut Omar al-Toumy al-Syaibany bahwa tujuan pendidikan

26
27

28
29

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat Al-Bayyinah Ayat 5
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat Al-Imran Ayat 102
Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat …, h. 19

Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (PT.Ciputat Press: Ciputat,
2005), cet II, h.37

17
Islam adalah untuk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga
mencapai tingkat akhlak al-karimah.30
Sedangkan menurut Zakiyah Darajat dkk, tujuan akhir
pendidikan Islam adalah terbentuknya Insan Kamil dengan pola
Taqwa yang terbentuk dapat mengalami perubahan naik turun,
bertambah atau berkurang karena itu, orang yang sudah bertaqwa
dalam bentuk Insan kamil masih perlu pendidikan sepanjang
hayatnya guna pengembangan dan penyempurnaan, sekurangkurangya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang31.
Sedangkan Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, menyimpulkan
bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu: (1)
membentuk akhlak mulia (2) mempersiapkan kehidupan dunia dan
akhirat (3) persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segi
kemanfaatannya (4) menumbuhkan semangat ilmiah dikalangan
peserta didik (5) mempersiapkan tenaga professional yang
terampil.32
2) Fungsi Pendidikan Agama Islam
Abdul Majid dan Dian Andayani memaparkan fungsi pendidikan
agama Islam adalah sebagai berikut:
a) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan
peserta didik kepada allah SWT yang telah ditanamkan dalam
lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama
kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan
oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk
menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui
bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan
ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai
dengan tingkat perkembangannya.
b) Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencapai
hidup didunia dan diakhirat.

30
31

Jalaludin, Teologi…, h. 76
Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara, 1996) cet, III, h.

31
32

Muhammad Athiyah Al-Abrayi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1970) cet, I, h. 15-18

18
c) Penyesuaian mental, yaitu menyesuaikan diri dengan
lingkungannya baik secara fisik maupun lingkungan sosial dan
dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama
Islam. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai
dengan ajaran agama Islam.
d) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta
didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran
dalam kehidupan sehari-hari.
e) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari
lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat
membahayakan dirinya dan menghambat perkembangnnya
menuju manusia Indonesia seutuhnya.
f) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum
(alam nyata dan nir nyata), sistem dan fungsionalnya.
g) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang
memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat
tersebut berkembang secara optimal sehingga dapat
dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.33
Berdasarkan tujuan dan fungsi pendidikan agama Islam di atas sangat
erat kaitannya dengan kecerdasan spritual, karena kecerdasan spritual
dalam pandangan Islam merupakan kemampuan seseorang untuk yakin
dan berpegang teguh terhadap nilai spritual islam, selalu berperilaku sesuai
dengan nilai-nilai islam dalam hidupnya, dan mampu untuk menempatkan
dirinya dalam kebermaknaan diri yaitu ibadah dengan merasakan dirinya
selalu dilihat Tuhan, sehingga ia dapat hidup dengan mempunyai jalan dan
kebermaknaan yang akan membawanya terhadap ke